R&R Reply~
Ruuya : Ehehe.. eto..*headbang* *waduh* Huaaa! AMPUN! DX *sweat drops* OKE! XDD
Amu-senpai : X3 Karena..*stare Len* ngapa Len? Wha? Ma-makasih.. CX mm.. mungkin kl sempet.. ^^"" *dihajar* YOSH! XDD
Kurara-san : Eh? HUE! O..O Gak kok.. (nb : saia bahkan ampe sembah sujud pas nulis ini, sa-saia.. mau pingsan pula *fainted*) Thanks! YOSH! XDD
Hikari-chan : Ehehe.. iya nih..TTATT , eheheh.. ma-makasih.. saia jadi tersadjung~ (baca : tersajung / tersandung[plesetan]) Yaaa~ YOSH! CX
AkaiChouNoKoe : Eh? A-ampun! X33 gpp.. OKE! XDD
Cozartcz : Makasih! Sama-sama! XD YOSH! XDD
Byaku-chan : Sama-sama! Maaf yah lama… abis nempatinnya itu lho.. TTATT ,Arigatou~ ^^.. UPDATE! XDD
Aka-chan : Eh? Makasih! X33 saia tersandjuuuung sekalliii~! XD terharu nih.. TTATT YOSH!UPDATE! XD
Seseorang (saia g tw.. soalnya namanya 'Lanjutin lagi dong fic nya' jd gini aja yah? :D) : Makasih?
[Len : Eh? Apa salahku? Tak berdosa yang disini! Tuh author sarap yg bikin nih crita salahin!*kabur*
Saia : Eh? Maksud loe LEN! BALIK KAGAK LU!*ngejar pake traktor*]
Miracle : Makasih! Ehehehe.. iya sih.. makanya Len berhenti ditengah jalan~ X33 YOSH! UPDATEEE! XDD
-Thanks for the supports-
In-Chan : Sa—saia-...
Len : Ngomong apa sih tuh anak?
Rin : Teong..
In-Chan : LenLen! Rinrin! Saia-sa-asaia-a—a- telah menu-nu-lis.. a—
Len : Patah-patah mulu kata-kata lu! Gagap?
Rin : Goyang patah-patah?
In-Chan : *Face palm* SHOT ME!
Len : ...?
Rin : Um..
In-Chan : DISCLAIMER!
Disclaimer : In-Chan tak memiliki Vocaloid tapi~~Ia memiliki cerita yang sedang kalian baca ini~
Vocaloid © Yamaha
.
.
.
Way For Love © In-Chan Sakura
Rin's POV
Kasur yang berantakan, udara yang lembab, bau sake dan juga punggung seseorang. Itulah hal yang pertama kali kulihat dan kucium.
Perlahan mataku terbuka dengan lemas. Badanku terasa tak bertenaga dan lunglai.
Aku menatap apa yang ada didepanku. Sebuah punggung. Akupun menyadari punggung milik siapa itu.
Ya, hanya satu dan satu, Len.
Eh?
Itulah kata pertama yang muncul dari diriku saat aku menyadari kalo aku ada dikamar hotelku. Bukan di bar lagi.
Apa yang terjadi?
Aku pikir aku ada di bar bersama Yukina-chan, Hotori-chan dan Hinamori-kun..
Tapi kenapa aku sudah disini?
Aku kan belum memberitahu mereka hotel yang ku jadikan tempat inap..
Banyak pertanyaan berlalu lalang dikepalaku dan akupun memutar otak untuk mencari jawabannya.
Bagaimana aku bisa disini?
.
.
.
.
.
Apa aku memberitahu mereka tanpa sadar?
.
.
.
.
.
Atau Teto bertemu dengan mereka?
Atau... atau.. atau.. mmmm...
Terlalu banyak jawaban untuk satu pertanyaan. Dan karena itu aku memutuskan untuk berhenti memikirkan itu.
Aku merenggangkan tubuhku dan kemudian bangkit dari kasur dengan badan masih lunglai.
Mengusap kedua mataku untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas. Segera pandanganku secara reflek tertuju pada Len yang tertidur.
Waktunya untuk mandi!
Kataku pada diri sendiri.
Kemudian aku mengambil handuk dan alat mandiku dan melesat ke kamar mandi. Aku tak mau keluar dan bertemu dengan anak SHOTA ini hanya dibalut handuk. Bisa-bisa aku diapa-apakan nanti. (Kalo saja kau tau apa yang hampir kau lakukan Rinrin... *face palm*)
Len's POV
"Ri-rin?"
Aku menatap Rin dengan wajah ketakutan. Rin hanya memakai kemeja putih sebatas pahanya dan ia duduk dipangkuanku.
Ia semakin mendekat.. semakin dekat.. dan...
THUD!
"OW!" Seruku saat aku merasakan permukaan lantai yang dingin dan tentunya keras. Perlahan aku membuka mataku dan bangkit dari posisi kurang enak tadi. Sambil mengelus-elus kepalaku yang berharga pakai sekali ini, aku meneliti kamar hotel ini.
Hmm.. gordennya sudah terbuka yah?
Terus kasur bagian sana sudah kosong juga..
Aku berhenti sejenak.
Eh? Sebentar? APA!
Dengan cepat aku merangkak naik ke kasur lagi untuk memastikan bahwa tempat itu kosong atau tidak. Dan.. kosong..
Kemana Rin?
Tanyaku pada diri sendiri sembari mencoba mengobrak-abrik kasur tak berdosa itu, tapi aku berhenti saat aku mendengar suara pintu terbuka.
Bau jeruk..
Itulah yang terlintas dikepalaku saat itu.
Akupun memutar kepalaku dan mendapati.. Rin. Hanya dibalut handuk dan juga... tampang yang.. se-seram?
MATI AKU!
Habis sudah riwayatku sebagai seorang player.. oh, salah.. maksudku sebagai seorang manusia.. kalo player memang hampir usai..
"Uh.. hi?" Kataku dengan gugup. "Kalo kau mau aku bisa menganggap ini tidak pernah terjadi da-"
"LEN KAGAMINE!"
Rin's POV
Aku sudah selesai mandi dan akan memakai bajuku sampai,
"Akh! Aku bodoh! Kenapa aku lupa bawa bajuku?" Kataku pada diri sendiri.
Dengan terpaksa dan kurang (baca : sangat GAK ) Ikhlas.., akupun membalut diriku dengan handuk dan berjalan ke kamar lagi untuk mengambil bajuku didalam koper.
Aku harap anak itu belum bangun..
Harapku di dalam hati.
Aku tak mau dilihat oleh player SHOTA dalam keadaan hanya dibalut handuk.
Perlahan aku melangkah keluar dari kamar mandi, berjalan dengan hati-hati supaya kalo si Len masih tidur, ia tak akan mendengar langkah kakiku ini.
Tapi kawan, nasib berkata lain, dan aku benci itu!
Len duduk di atas kasur, dalam keadaan bangun! BANGUN!
OH. BAGUS. SE. KALI.
Dan pakaiannya juga acak-acakan. Apa dia habis berkencan lagi? Mungkin iya.
Aku menatap Len dengan pandangan death glare ku. Dan sepertinya ia sudah bisa membacanya, bagus~..
"Uh.. hi?" Ucap Len yang sepertinya agak takut. HA!
"Kalo kau mau aku bisa menganggap ini tidak pernah terjadi da-"
"LEN KAGAMINE!"
Day : 3
Title : Apologize DENIED!
Event : Onsen? Nu-uh Don't wanna! Teto!
Len's POV
"Hmmm... stiker yang bagus Len.." Kata Ted sambil memperhatikan dahiku yang ada cap berbentuk telapak tangannya.
Kau tau telapak tangan siapa? Ya, Rin..
Ia menamparku lagi, tapi bukan di pipi. Dan ini sama sakitnya.
Tapi kali ini bukan salahku! Aku hanya KORBAN! KORBAAAN!
"Ha..ha..ha.. lucu sekali Teddy." Balasku pada Ted.
"Itu memang lucu Len." Kata Teto tiba-tiba dengan mulut penuh makanan. Wajahnya menatapku dengan serius dan tajam... ouch.
Ada apa dengan Teto?
Apa ia masih marah tentang kejadian kemarin? Mungkin ...
"Er..."
"Oh, Len?" Seru Ted. Akupun memutar kepalaku dan menatap Ted yang duduknya disebelahku.
"Ya?"
"Dimana Rin?" Tanyanya padaku.
Aku kemudian berkata, "Ia marah padaku.." Dan Tetopun menatapku lebih tajam lagi.. ouch..ouch..ouc.. h..
"Oh,.. kau penyebabnya lagi..? Aku kasian pada Rin, ya'kan Teto?"
"Wha—aku tidak melakukan ap-" Aku menghentikan kata-kataku dan menatap Teto.
Ia menganggukan kepalanya. "Ya.. tuan SHOTA selalu membuat Rin menangis.."
Ou-oh..
"Itu sakit.." Kataku pada mereka.
"Tapi tak se sakit Rin yang sudah kau lupakan lebih dari 7 tahun.. dan ia bahkan selalu 1 sekolah denganmu.." Ucap Teto dengan nada yang sebal kepadaku.
Aku tersentak. "Hah? Ia selalu?"
"Ya, shota.. walaupun aku dan Rin terpisah jarak, kami selalu meng e-mail satu sama lain atau meng sms satu sama lain.." Balas Teto.
Aku menatap Ted. "Itu benar.." Kata Ted.
Aku menundukan kepalaku.
Tiba-tiba aku merasa sangat bersalah...
"Oh, ayolah kawan!" Kata Ted sembari menepuk punggungku.
Aku mengangkat kepalaku dan menatap Teto.
"Kau tau, Teto?"
"Apa?" Sahut Teto dengan alis terangkat.
"Aku ingin tau.."
"Tentang?"
"Semua..." Aku tersenyum tipis, "Tentang Rin.."
Ya, aku ingin tau..
Aku ingin tau seperti apa kami dulu... sahabat seperti apa kami dulu..
Kenangan apa saja yang kami miliki dulu? Sedih? Manis?
Aku ingin tau..
Rin's POV
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject : Re : Apa kabar ?
Aku baik-baik saja Rin! Dan jika kau bilang kalau kau akan pergi bersama Teto sebelumnya, aku tidak perlu panik seperti ibu yang kehilangan anaknya, kau tau? ;P
Dan kau tidur sekamar dengan Teto'kan?
Aku tertawa saat membaca sms dari Luka.
Ia panik sebegitunya? Pfftt! Hahahah!
Yap! Yap! Aku sedang ber sms an dengan Luka. Sudah lama aku tak memberinya kabar apapun, dan aku juga belum mendengar apapun dari Luka.
Waktunya menggali! 8D
Hah? Oh? Ah~ aku belum lapaaar~
Lagipula.., ada anak itu, jadi tidak. Akh! Kenapa aku memikirkan anak itu? Lebih baik aku membalas Sms dari Luka saja!
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : Psstt~ ada apa?
Haha! Yang benar? Ou.. kalo benar aku tersanjung~ ;P
Ya! XD
Hei, Luka~ jawab dengan jujur, kay? ;)
Kau suka dengan siapa? Apakah Natsu? Atau Ted mungkin? Atau Sora? Atau... siapa? C8
Baik, aku harus berbohong di bagian 1 kamar dengan Teto. Apa? Ini lebih baik daripada jujur.
Ya, ya aku tau. Berbohong itu salah. Jadi? Tapi kawan~, kali ini aku memang harus BER BO HO NG!
Jika aku berkata, Oh, tidak.. aku sekamar dengan Len, si player sekolah~ 8 DDD
Maka Luka akan langsung kena serangan jantung..
Atau.. ia akan cepat-cepat terbang ke sini dan membawaku pulang, layaknya ibu yang overprotective kepada anaknya~
"Dan.. send." Kataku sembari menekan tombol send.
Aku memutar badanku dan berguling ke arah bagian kasur yang lainnya. Ke bagian kasur Len.
Kepalaku merasa nyaman di bantal yang di pakai Len.
Bau pisang..?
Pfft..
Aku tertawa kecil.
Sama seperti dulu.. bau anak itu memang seperti pisang.. entah mengapa... tapi..
Aku tersenyum tipis.
Aku menyukainya..
Dan mulai memeluk bantal itu. Oke, aku tau.. tapi ah! Mumpung orangnya tidak ada jadi sst!
Tapi yah.., takdir dan situasi kadang memang kejam, momenku di rusak oleh suara ponselku yang berdering.
Dengan malas, aku membuka flap ponselku dengan jempolku dan membaca pesan yang masuk. Tentunya tanpa berpindah posisi.
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject : Ha?
Ah.. aku sudah bilang tidak jadi :P
Syukurlah.. kupikir kau tidur 1 kamar dengan laki-laki..
Eh?Emm.. tidak ada.. kenapa kau bertanya?
Aku langsung sweatdrops saat membaca kalimat kedua dari pesan yang kuterima.
Untung.. untung.. ini Cuma sms ...
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : Bha!
Oh... ya sudah :'(
Aha! Luka! Kau pasti suka dengan seseorang! DAN ITU PASTI GAKUPO –SENSEI KAN!
Akupun mengirim pesan itu.
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject :...?
...
...
Dari mana kau tau?
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : Benar?
Aku benar?
...
...
APA! LUKA!
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject :
...
Kau hanya menebak?
...
...
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : none
Well, duh!
Tapi masa' kau suka dengan GURU FREAK ITU!
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject : none
Oh..
Jangan panggil dia seperti itu! Aku mungkin tak menunjukkannya Rinny, tapi aku itu sayang dengannya, dan ia juga..
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : none
:o
Tsundere?
Wha—what? Jangan bilang hubunganmu itu Murid dan guru! Kau tau dia bisa dikeluarkan jika sampai ketauan kan?
Dan itu tak bagus..
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject : none
:\
Yap. Karena itu aku tak menunjukkannya..
Dan soal selama ini aku di perpustakaan terus em.. itu untuk..
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : none
Ohhh
Dia selamat. Bah! Guru! :p
Menemuinya? itu kejam.. selama ini aku digantikan samurai Freak pula..
From : Megurine Luka
To : Kamine Rin
Subject : none
==""
Ya, Rinny..
From : Kamine Rin
To : Megurine Luka
Subject : none
[=...=] beepp.. beeep..
Yaya. Ya.. maaf : (
"Rin?" Seru seseorang kepadaku.
Dengan cepat aku memutar kepalaku dan mendapati Teto berdiri di ambang pintu kamar hotelku.
"Teto?" Sahutku sembari menutup flap ponselku dan bangkit dari tempat tidur.
"Malam ini kita ke Onsen yang ada di hotel ini."
"Eh?"
"Jam 7, ok?"
Akupun mengangguk. "Oh, dan onsen itu sudah ku sewa untuk kita berempat."
Aku mengangkat alisku.
"Ber empat?" Kataku mengulangi kata-kata Teto barusan.
"Ya, berempat. Kau, aku, Ted dan Len. Bukannya itu jelas?" Balasnya sembari kedua tangannya mengepal di samping pinggulnya.
"Uh.. ya?"
"Bagus, kalo begitu aku tinggal dulu.." Kata Teto sebelum membalikkan badannya ke arah pintu, tapi ia berhenti sebentar dan menatapku lagi.
"Dan oh, Rin? Siapkan baju renang untuk onsen nanti malam." Tambah Teto. Aku makin bingung.
"Hah? Lha?" Seruku dengan nada yang bingung.
"Onsennya campuran.."
Mataku melebar seketika.
WHAT THE HELL!
19.27 p.m.
Teto menyebalkan! Aku benci dia!
Yo! Apa kabar? Ya, aku disini.., berganti baju di ruang ganti onsen yang sudah di sewa Teto untuk malam ini saja.
Ya, aku memang seharusnya senang, tapi.. jika kau sudah tau situasi yang akan kuhadapi, maka jawabannya TIDAK. AKU TIDAK SENANG. SAMA SEKALI.
"Rin?"
Aku memutar kepalaku dan menatap Teto yang sepertinya gelisah.
"Ya?"
"Aku harus ke kamar kecil dulu.. jadi kau bisa masuk duluan oke?"
Akupun mengangguk. "Baiklah, tapi cepat kembali oke?"
"Oke! Aku ke kamar kecil dulu!" Kata Teto sebelum keluar dari ruang ganti, meninggalkan aku sendiri.
Aku menghela nafas dan melepas potongan bajuku yang terakhir, memasukkannya ke dalam loker yang ada. Aku sudah memakai baju renang sebelum ke sini, yah jadi tinggal masuk saja sekarang.
Oh, yeah! AIR HANGAT! XD
Ted's POV
"Fiuh.." Aku menghela nafas. Misi ini akan berjalan sukses!
Tiba-tiba saja ponselku bergetar. Dengan cepat aku mengambil ponsel yang berada di dalam saku celana panjangku dan mengangkatnya.
"Halo?"
"Ted! Cepat ke toilet! Dan kau sudah memastikan Len masuk ke sana kan?" Ujar Teto diseberang sana.
"Tenang saja Teto.., semuanya lancar." Kataku dengan senyum puas. Len dan Rin akan bersama lagi, dan aku bisa menghabiskan waktu bersama Teto. 1 batu membunuh 2 burung! Yes! :D
"BAGUS! Sekarang ke toilet!" Perintah Teto dari seberang sana. Senyumku makin lebar.
"Baik, manis.."
Dan akupun menutup ponselku. Segera, aku berlari.
Len's POV
Perlahan aku menyusuri pinggir kolam air hangat ini.
Ah? Hah? Oh.. aku sedang mencari tempat yang nyaman itu saja.
Nah, ini tempat ya-
Apa yang dalam pikiranku terhenti sejenak saat aku melihat sekilas bayangan berwarna kuning.
Disini banyak uap, jadi susah melihatnya.
Wha? Apa itu?
Karena penasaran aku bangkit dari posisi PW~ ku dan berjalan secara perlahan dan hati-hati, mendekati bayangan tadi.
Dan saat aku dapat melihat jelas bayangan itu, aku langsung berkata, "Rin?"
Bagus sekali diriku! BAGUS!
Segera setelah aku memanggil nama Rin, ia membalikkan badannya dan menatapku dengan shock?
"Wha? Kau!" Seru Rin yang kelihatannya kaget mendapatiku dibelakangnya. Sekilas aku mengamati Rin. Ia memakai bikini, Hua? Berwarna oranye,
Kawan.., tolong.. aku bisa kena nosebles- eh, bukan maksudku nosebleed lagi kalo begini..
Pikirku sembari mengalihkan pandanganku dari badan Rin dan menatap wajah Rin. Kalo aku nekat menatap badan Rin, aku bisa nosebleed lagi, ukh..
Aku mengangkat tanganku. "Whoa.., ampun! Jangan hajar aku atau mem*cough*per*cough*kosa*cough* aku... *cough**cough**cough**cough*"
Rin menatapku lebih heran lagi.
"Aku memang akan menghajarmu jika kau melakukan sesuatu yang menyebalkan lagi, tapi melakukan itu denganmu? Nu-uh!" Katanya dengan nada sangat amat menolak di akhir.
Ouch..
Sakit... hiks..
Oh..., ayolah aku laki-laki atau bukan?
Kenapa menangis hanya karena ini..? Lagipula yang kemarin mau melakukan itu padaku kan kau Rin!
"Apanya yang akan kulakukan padamu kemarin?" Tanyanya dengan nada penasaran. Apa dia tidak ingat?
Facepalm! Orang mabuk tak akan ingat apapun. Aku bodoh!
"Jadi..?"
Aku menatap Rin dengan gugup sambil berharap, tolong jangan bunuh aku.. jangan bunuh aku.., jangan bunuh aku.., jangan bunuh aku.., jangan bunuh aku.. jangan bunuh aku!
"Err... tidak ada?" Jawabku, berusaha menghindari kontak mata dengan Rin. Tapi kawaaaann! Rin malah berjalan ke arahku dan menatapku lebih aneh lagi.
"Yang benar?" Ucapnya dengan nada tidak percaya.
"Ya.. aku'kan dapat dipercaya~?"
Lalu Rin mengeluarkan suara 'hmph!' dan berkata, "Kau tak dapat dipercaya, karena kau PLAYER."
"Ouch.. itu sakit.. aku bukan player kau tau.." Kataku pada Rin. Dan itu benar.., bukannya aku sudah bilang pada kau? Tapi Rin belum.
"Hah? Mana mungkin? Di rumah mungkin kau punya 10 pa—"
Aku menghentikan kata-kata Rin dengan membungkam mulutnya menggunakan tangan kananku.
Aku menatapnya dengan serius, supaya ia percaya apa yang akan ku katakan.
"Aku sudah memutuskan mereka semua.." Mata Rin melebar, aku dapat melihat itu. Perlahan aku melepas bungkamanku pada Rin.
"Untukmu.."
Rin's POV
"Untukmu.."
Aku tak percaya ini.. Tidak, aku memang tidak percaya!
Ia memutuskan semua gadis yang mengejar-ngejarnya untukku?
Hah! Mana mungkin!
Kau berubah.. kau tak mengingatku lagi...
"Rin?" Seru Len dengan nada penuh kekhawatiran.
Aku tersentak. "Kau menangis lagi?" Lanjutnya
"Aku?" Perlahan aku merasakan kedua pipiku basah. Air mata bodoh! Kenapa kau harus mengalir, sekarang?
"Aku.. ak-" tangannya menyentuh kedua pipiku.
Dan tiba-tiba saja Len mencondongkan badannya dan menjilat pipiku. Menghapus air mataku.
"Ssst..."
Akupun menatap Len yang menatapku. Matanya amat... aku tak bisa membacanya.
"L-"
Kata-kataku terpotong oleh bibir Len yang menempel di bibirku. Len menciumku lagi. Tapi kali ini ia tidak menjilat bibir bawahku atau apa, ia hanya menciumku sejenak dan kemudian melepaskannya.
"Aku cinta denganmu.."
Seketika mukaku memerah dan tanpa sadar aku berkata 2 kata taboo -menurutku- itu.. "Aku.. juga.."
Lalu aku mencium Len.
In-Chan : Hayayahahahahha~ XDD
Len : ..?
Rin : Uh...
In-Chan : Mwah~ akhirnya saia update! :D
Len : Yap.. kau update bocah..
In-Chan : Yayaya, kau 17 saia mau 14~ :P
Rin : R&R~ please!
Len : Yo! R&R please~ :D
In-Chan : R&R! Dan kalian akan segera melihat epilog cerita ini.. hiks.. sayonaraa~ sayonaraaa *nyanyi*
Len : Cielah, malah nyanyi pula..==""
In-Chan : bssstt! Kembali ke Pr deh.. udah tengah malem pula dan ada yang lari-lari di langit-langit kamar saia.. brr.. atutt~ see ya all! ;D *broouuumm*
R&R! XD
