Remake dari Abbi Glines "Fallen Too Far"
Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.
Aku harap alur cerita akan cukup masuk akal ^^
Sekuel dari FF "The Virgin And The Playboy"
This sekuel is for you all!
OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin
MinYoon
Rate M!
Romance, Drama, Hurt/Comfort
Yaoi, boyXboy
DON'T LIKE DON'T READ!
Chapter 21
Yoongi POV
Meninggalkan Jimin di tempat tidur pagi ini sangat sulit. Ia tidur begitu damai aku tidak ingin membangunkannya. Aku menahan diri untuk tidak menciumi wajahnya sebelum aku pergi. Tidur membuatnya terlihat tidak khawatir. Aku tidak menyadari betapa intens dan waspadanya ia sampai aku memperhatikan ia tertidur dan melihat ia benar-benar damai.
Membuka pintu menuju ruangan staff aku disambut dengan bau donat baru dan Jokwon yang tersenyum.
"Selamat pagi sayang," ia berkata riang seperti biasanya.
"Itu masih belum diberikan gula tabur? Jadi kau akan memberiku donat yang sudah jadi atau tidak?"
Ia lalu memegang sebuah kotak kepadaku.
"Aku sudah menyiapkan dua ekstra hanya untukmu sayang. Aku tahu kau datang bekerja hari ini dan aku tidak ingin menjadi tangan kosong."
Aku duduk didepannya dan meraih donatku.
"Kau sangat baik, aku akan mencium wajahmu," godaku.
Jokwon menggoyangkan alisnya,
"Aku terima. Wajah sepertimu bisa menyebabkan seorang pria tersesat."
Sambil tertawa, aku menggigit donat itu. Ini tidak sehat tapi donat ini sangat enak.
"Makanlah karena kita mempunyai hari yang sangat panjang. Pesta adult ceremony malam ini dan kita tidak akan berada di ruang makan. Kita semua akan dikirim ke ruangan pesta dan dipaksa untuk berjalan dengan nampan makanan kemudian melayani mereka semua pada makan malam."
"Pesta adult ceremony? Apa sih itu? Apakah itu sebabnya ada begitu banyak mobil di luar dengan bunga dan dekorasi?"
Jokwon mengangguk dan meraih donat lain yang dilapisi coklat.
"Ya. Terjadi setiap tahun selama minggu ini. Ibu kaya yang gila mendampingi anak mereka dan mengenalkannya kepada masyarakat. Setelah malam ini, pria-pria berusia dua puluh yang berhasil melewati dua puluh satu umur mereka akan dianggap sebagai pria dewasa dan diperlakukan sebagai anggota club dewasa. Mereka bisa berada di komite dan sejenisnya. Ini adalah omong kosong gila."
Taehyung seorang yang termasuk dalam daftar mengingat dia merayakan ulangtahunnya yang ke dua puluh satu beberapa minggu yang lalu. Itu menarik. Ibunya tidak ada di sini.
Apakah ini berarti dia kembali?
Jantungku berdegup kencang. Aku harus segera pergi. Jimin tidak mengatakan kepadaku bahwa sesuatu telah berubah tentang kepindahanku. Ketika aku pergi akankan dia masih mau mengunjungiku?
"Tarik napas, Yoongi. Itu hanya sebuah pesta sialan," kata Jokwon.
Aku mengambil napas dalam-dalam. Aku tak menyadari bahwa aku mulai panik. Inilah sebabnya mengapa aku mau menjaga jarak. Aku tahu hari ini akan datang. Apakah ayahku ada di rumah hari ini?
"Jam berapa mulainya?" Aku berhasil bertanya tanpa ada hambatan di suaraku.
"Jam tujuh tapi mereka akan menutup ruang makan jam lima supaya kita bisa bersiap-siap."
Aku mengangguk dan meletakkan sisa donatku. Aku tidak bisa menghabiskannya. Hari ini menjadi permainan menunggu. Aku merasakan HP dikantongku tapi aku tidak bisa meng-sms Jimin. Aku tidak mau ia memberitahu kabar buruk melalui sms. Aku hanya akan menunggu.
"Yoongi, aku perlu menemuimu sebentar di ruanganku."
Suara Jungkook masuk ke pikiranku. Mataku tertuju ke mata Jokwon yang melebar dengan keprihatinan.
Bagus.
Apa yang sudah kulakukan?
Aku berdiri dan berbalik menghadap Jungkook. Ia tidak terlihat marah. Ia tersenyum ke arahku dan itu memberikan keberanian yang kubutuhkan untuk berjalan ke arahnya. Ia membukakan pintu untukku dan aku melangkah keluar ke koridor.
"Santai, Yoongi. Kau tidak dalam masalah. Kita hanya perlu membahas tentang malam ini."
Oh. Whew.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mengangguk lalu mengikutinya ke pintu di ujung lorong.
"Aku tidak mendapatkan apapun dengan mewah. Ayah percaya bahwa aku harus bekerja dari bawah sampai pada posisi saat ini. Bahkan jika aku juga lah yang akan mewarisi club suatu hari nanti."
Jungkook memutar matanya saat membuka pintu kantornya dan menyuruhku masuk. Ruangannya sebesar kamarku di rumah Jimin. Ada dua jendela besar yang menghadap ke lapangan golf. Jungkook berjalan memutar untuk duduk di pinggir mejanya daripada di bangku dibelakangnya. Aku menghargai ia mencoba untuk tidak membuatnya sangat formal. Itu akan membuatku gugup.
"Pesta adult ceremony nanti malam. Ini adalah kegiatan tahunan di sekitar sini. Kami mengadakan acara untuk pria kaya yang manja menjadi dewasa. Ini sesuatu yang menjengkelkan yang menjadikan club ini memperoleh keuntungan lebih dari lima puluh juta won dari biaya, sumbangan dan sejenisnya. Jadi kita tidak bisa menghentikan omong-kosong ini. Ayahku juga tidak mampu menghentikannya meski ia bisa. Dulu dia juga seorang anggota dan kau akan berpikir seakan dia telah dinobatkan menjadi raja saat mendengar ayahku membicarakannya."
Aku tidak merasa lebih baik tentang malam ini. Penjelasan ini membuatku merasa bertambah buruk.
"Taehyung sekarang dua puluh satu. Jadi, ia akan menjadi seorang anggota. Aku melihat daftarnya dan Jimin akan menjadi pendampingnya, hal ini tradisional untuk ayah sang pria atau hyung-nya untuk mendampinginya. Pendamping pun harus dari anggota club. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi antara kau dan Jimin tapi aku tahu bahwa Taehyung membencimu. Aku tidak membutuhkan drama malam ini. Namun aku membutuhkanmu. Kau salah satu dari yang terbaik. Pertanyaannya adalah, bisakah kau melakukannya tanpa adanya suatu pertengkaran? Karena Taehyung akan melakukan yang terbaik untuk menutup mulutmu. Ini semua kembali padamu untuk mengabaikannya. Kau mungkin berkencan dengan seorang anggota club tapi kau tetap seorang pelayan. Tidak mengubah itu. Anggota selalu benar. Club harus memihak Taehyung jika pertengkaran itu terjadi."
Apa yang dia harapkan? Ini bukan SMA. Kita semua orang dewasa. Aku bisa mengabaikan Taehyung dan Jimin semalaman jika perlu.
"Aku bisa melakukannya. Tidak masalah."
Jungkook mengangguk cepat.
"Bagus, karena bayarannya sangat bagus dan kau butuh pengalamannya."
"Aku bisa melakukannya," aku menenangkannya.
Jungkook berdiri.
"Aku percaya kau bisa. Kau bisa membantu Jokwon dengan sarapan sekarang. Ia mungkin sedang mengutuk kita berdua."
.
.
.
Sisa hari ini berjalan dengan cepat dan aku begitu sibuk dengan persiapannya yang membuatku tidak mempunyai waktu untuk memikirkan Taehyung atau kembalinya ayahku. Atau Jimin.
Sekarang aku berdiri di dapur dengan staff pelayan lain. Aku menggunakan baju pelayan putih dan hitam dengan rambut yang disisir kebelakang rapi. Aku mulai merasa kecemasan muncul di perutku.
Ini adalah pertama kalinya aku harus menghadapi perbedaan antara Jimin dan aku. Dunianya dibandingkan duniaku. Mereka akan bertumbukan malam ini. Aku sudah mempersiapkan diri untuk setiap komentar yang Taehyung akan buat tentangku.
Aku bahkan sudah berbicara dengan Jokwon agar menjadi penyekat dan menahanku dari keharusan berdekatan dengan Taehyung. Aku ingin melihat Jimin atau mungkin berbicara padanya tapi aku punya perasaan itu tidak akan disetujui.
"Waktunya beraksi. Cemilan dan minuman. Kalian tahu tugas kalian. Ayo."
Woori menjalankan pertunjukan malam ini di belakang panggung. Aku mengambil nampan martini dan menuju antrian di pintu. Semua orang pergi dengan cepat dan kami semua membuat jalan yang berbeda melalui kerumunan. Punyaku setengah lingkaran searah jarum jam.
Kecuali aku melihat Taehyung, lalu aku berbalik berlawanan dan Jokwon pergi searah jarum jam. Ini adalah ide yang bagus. Aku hanya berharap itu berhasil. Pasangan pertama yang aku tuju bahkan tidak memedulikanku saat mereka mengobrol dan mengambil minuman dari nampan. Itu cukup mudah.
Aku berhasil melewati beberapa kelompok lagi. Beberapa orang yang kukenal dari lapangan golf. Mereka akan selalu mengangguk dan tersenyum ketika mereka mengenaliku tapi hanya itu.
Setengah jalan melalui ruangan, nampanku kosong dan aku mengingat dalam hati di mana terakhir kali aku berhenti. Aku bergegas kembali ke dapur untuk minuman lainnya. Woori sedang menungguku. Ia mendorong nampan martini baru kearahku dan mengusirku pergi. Aku berhasil kembali ke tempat semula, hanya harus berhenti dua kali dan memungkinkan seseorang untuk mendapatkan minuman dari nampan.
Mr. Kang memanggil namaku dan melambaikan tangan. Aku tersenyum kembali kearahnya. Ia memainkan delapan belas lubang golf setiap jumat dan sabtu. Itu membuatku takjub bahwa seorang pria Sembilan puluh tahun bisa berkeliling sebaik itu. Ia juga datang untuk minum kopi dan dua telur rebus Senin sampai Jumat pagi.
Saat aku berbalik dari tersenyum, mataku terkunci dengan mata Jimin. Aku sudah berusaha keras untuk tidak melihat kearahnya meskipun aku tahu ia disini. Itu adalah malam besar bagi Taehyung. Jimin tidak akan melewatkannya. Tidak ada alasan ia harus. Dia jahat tapi ia adik Jimin. Itu aku yang dia benci. Bukan Jimin.
Wajahnya terlihat sedih dan senyum kecilnya terlihat dipaksakan. Aku tersenyum kearahnya berusaha keras untuk tidak memikirkan ucapan anehnya. Paling tidak ia melihat ke arahku. Aku tidak tahu apa yang aku harapkan darinya.
Dokter dan Mrs. Lee menyapa dan memberitahuku mereka merindukan melihatku di lapangan golf. Aku berbohong dan mengatakan aku merindukannya juga. Lalu aku kembali ke dapur untuk nampan lain. Woori mendorong sebuah nampan dengan sampanye ke arahku,
"Ayo, ayo, cepat," ia membentak.
Aku berjalan secepat yang aku bisa dengan nampan penuh gelas sampanye. Setelah di ruangan pesta aku mulai ke jalan yang sama melalui anggota yang tenggelam dalam percakapan dan aku hanya membawa sebuah nampan minuman. Aku lebih menyukai ini. Aku tidak merasa gelisah.
Tawa familiar Jin menarik perhatianku dan aku berbalik untuk mencarinya. Aku tidak melihat ia di dapur sebelumnya. Aku mengira Woori tidak menginginkan dia bekerja. Atau ayah Jungkook tidak mau pekerja dengan masalah suka menempeli anggota club hadir di acara besar ini.
Jin tidak berpakaian seperti kami. Ia menggunakan kemeja cokelat dan rambut cokelatnya yang lurus dibuat sedikit keriting dan ditata rapi. Ia menoleh dan menatap mataku, dan ia menyeringai lebar. Aku melihat ia bergegas kearahku.
"Bisakah kau percaya kalau aku di sini sebagai tamu?" Jin bertanya, melihat ke sekeliling kami dengan kagum kemudian kembali melihatku.
Aku menggeleng karena aku tidak bisa percaya.
"Saat Namjoon datang ke apartemenku berlutut dan memohon padaku semalam, aku memberitahunya kalau ia menginginkanku sebagai pacarnya ia harus memperlihatkannya di depan umum. Ia setuju dan ya, kau mendapatkan gambarannya. Segala sesuatunya menjadi benar-benar panas di apartemenku. Tapi bagaimanapun juga, disinilah aku," desahnya.
Namjoon telah bersikap jantan. Bagus untuknya. Aku menoleh ke belakang untuk melihat Namjoon mengawasi kami. Aku tersenyum kearahnya dan mengangguk menyetujui. Ia memberiku seringai kecil sambil mengangkat bahu.
"Aku senang bisa tahu akhirnya ia mendapat akal sehatnya," balasku.
Jin meremas lenganku.
"Terima kasih," ia berbisik.
Ia tidak punya apa-apa untuk berterima kasih padaku tapi aku tersenyum.
"Pergilah bersenang-senang. Aku harus mengantar habis ini semua sebelum imo-mu datang kesini dan mendapatiku sedang mengobrol."
"Oke. Aku akan, meskipun aku berharap kau dapat menikmatinya denganku."
Matanya melirik melewati bahuku. Aku tahu ia sedang melihat Jimin. Ia disini dan ia mengabaikanku di depan semua orang ini. Ia melakukannya demi Taehyung tapi apakah itu membuatnya lebih baik?
Perlahan-lahan aku tersadar. Aku akan menjadi seperti Jin yang membutuhkan sebuah 'pengakuan'.
"Aku butuh uang jadi aku bisa mendapatkan tempat tinggalku sendiri,"
Aku memberitahunya dengan sebuah senyuman terpaksa.
"Pergilah berbaur," aku mendorongnya dan berjalan pergi ke kelompok orang berikutnya.
Matanya mengikutiku mengirimkan sensasi membakar ke leherku. Aku tahu Jimin memperhatikanku. Aku tidak harus berbalik dan melihat Jimin untuk membuktikan. Apakah ia baru saja menyadari situasi kami seperti yang kualami? Aku meragukannya.
Aku sudah bersikap gampangan. Aku juga seorang munafik terbesar di dunia. Sekarang aku merasa bersalah memarahi dan mengasihani Jin.
Sampanye terakhir meninggalkan nampanku dan aku berjalan kembali melalui kerumunan, berhati-hati untuk tidak mendekati Jimin atau Taehyung. Aku bahkan tidak melirik ke arah mereka. Aku masih punya harga diri. Aku hanya harus berhenti tiga kali pada tamu untuk meletakkan gelas kosong mereka pada nampanku saat aku bergegas kembali ke dapur dengan selamat.
"Bagus kau kembali. Ambil nampan ini. Kita butuh makanan di luar sana sebelum mereka minum terlalu banyak dan kita punya pemabuk mengacau di tangan kita," kata Woori, menyodorkan nampan yang aku tidak tahu isinya.
Mereka juga bau. Aku mengernyitkan hidungku dan menjauhkan nampan itu dariku. Woori terkekeh dengan tawa.
"Itu escargot, siput. Mereka menjijikkan tapi orang-orang ini berpikir mereka makanan yang lezat. Tahan baunya dan pergilah."
Aku merasa perutku berputar. Aku bisa melakukannya tanpa penjelasan itu. Escargot akan menjadi deskripsi yang memadai.
Ketika aku sampai di pintu masuk ballroom aku memantapkan diri dan mencoba untuk tidak berpikir tentang siput yang aku berikan untuk dimakan orang-orang atau fakta bahwa Jimin ada di sana berpura-pura ia tidak mengenalku sama sekali. Setelah aku menghabiskan dua malam terakhir di tempat tidurnya.
"Kau baik-baik saja?" Jungkook bertanya saat aku berjalan ke dalam ruangan.
Ia berada disampingku terlihat khawatir.
"Ya. Kecuali kenyataan bahwa aku memberi orang-orang siput untuk dimakan," jawabku.
Jungkook terkekeh, mengambil satu dari nampanku dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Kau harus mencoba satu. Ini benar-benar enak. Apalagi direndam di bawang putih dan mentega."
Perutku berputar lagi dan aku menggeleng. Jungkook tertawa keras saat ini.
"Kau selalu membuat sesuatu menjadi lebih menarik, Yoongi," ia berkata, sambil membungkuk kearah telingaku.
"Aku minta maaf tentang Jimin. Sekedar catatan, jika kau memilihku kau tidak akan bekerja malam ini. Kau akan berada di lenganku."
Aku merasa wajahku merona. Sudah cukup mengetahui bahwa aku adalah rahasia kecil seorang Jimin, tapi bahwa orang lain yang mengetahuinya itu memalukan. Bagaimanapun, aku menginginkan Jimin. Sangat menginginkannya. Memang aku mendapat apa yang kuharapkan, walaupun hanya dibalik kamarnya.
"Aku butuh uang. Aku sebentar lagi mampu mendapat tempat tinggalku sendiri," aku berterus terang memberitahu Jungkook.
Jungkook memberiku anggukan singkat dan senyum simpatik sebelum berbalik untuk menyambut tamu yang lebih tua yang kebetulan lewat. Aku mengambil momen itu untuk pergi. Aku punya siput untuk memberi makan orang-orang.
Jokwon menangkap mataku dan ia mengedip meyakinkan padaku. Ia sibuk mengurus sisi ruangan Jimin dengan cerdas. Aku bahkan tidak mendekat kearahnya. Jin tersenyum cerah padaku saat aku datang di kelompoknya. Senyumnya hilang saat ia melihat ke makanan dalam nampanku.
"Apa itu?" ia bertanya ketakutan.
"Kau tidak ingin tahu," aku memberitahunya, membuat Namjoon dan seorang pria yang tidak begitu kukenal tertawa.
"Mungkin lebih baik kau melewatkannya," Namjoon memberitahu Jin sambil menyelipkan tangannya di pinggangnya dan menariknya lebih dekat ke sisinya dengan mesra.
Jin berseri-seri kearah Namjoon dan segala kemesraan manis itu yang mampu kuterima. Aku bergegas ke kelompok berikutnya. Rambut merah itu terlihat akrab.
Aku butuh satu detik untuk mendatanginya. Racun jahat di senyumnya mengingatkanku persis di mana aku pernah melihatnya sebelumnya. Ia sudah mengejar Jungkook di rumah Jimin pada malam pesta Taehyung. Ya, aku mengingatnya dan sudah terlambat.
"Bukankah ini menyenangkan?" katanya, mengalihkan perhatiannya menjauh dari pasangan yang berbicara padanya dan fokus padaku.
"Aku tebak Jungkook memutuskan kau lebih cocok bekerja padanya daripada berkencan dengannya." Ia terkikik dan menggelengkan kepalanya sehingga rambut merahnya memantul.
"Aku bersumpah, ini membuat malamku menyenangkan." Ia mengulurkan tangan dan membalikkan nampanku.
Siput-siput turun ke depan bajuku diikuti dengan nampan yang terjatuh keras di lantai. Aku terlalu tercengang untuk bergerak atau bicara.
"Oh dan lihat dia sangat kikuk. Jungkook harus pilih-pilih tentang karyawannya," pria itu mendesis penuh kebencian.
"Oh Tuhanku! Yoongi, kau baik-baik saja?"
Suara Jin datang dari belakangku menyadarkanku dari keterkejutan. Aku berhasil menyingkirkan siput yang masih menempel di pakaianku.
"Minggir," perintah suara parau yang langsung kukenali.
Kepalaku terangkat untuk menemukan Jimin mendorong melewati beberapa orang dengan rambut merah yang tampaknya menertawakan kekacauan yang kubuat. Dia marah. Tidak salah lagi. Jimin mencengkeram pinggangku dan mengamati wajahku sesaat. Aku tidak yakin untuk apa.
"Kau baik-baik saja?" ia bertanya pelan.
Aku mengangguk, tidak yakin bagaimana harus bereaksi. Pembuluh darah di lehernya sekali lagi menegang dibalik kulitnya saat menelan ludah. Ia nyaris tidak memutar kepalanya memandang pada si rambut merah.
"Jangan mendekati aku dan dia lagi. Mengerti?" ia berkata dengan tenang yang mematikan.
Mata pria itu melebar.
"Buat apa kau marah padaku? Dia yang kikuk. Ia menumpahkan seisi nampan ke dirinya sendiri."
Tangan Jimin mencengkeram erat pinggangku.
"Jika kau mengucapkan satu kata lagi aku akan mengancam untuk mencabut semua sumbanganku dari club ini sampai kau dikawal keluar. Secara permanen."
Pria itu terkesiap,
"Tapi aku teman Taehyung, Jimin. Teman terlamanya. Kau tidak akan melakukannya padaku. Apalagi untuk pelayan sewaan."
"Coba saja," balasnya.
Dia menatap kembali ke arahku.
"Kau ikut denganku."
Aku tidak punya waktu untuk merespon sebelum ia membalikkan kepalanya untuk melihat ke belakang bahuku.
"Aku bersamanya Jin. Ia baik-baik saja. Kembalilah ke Namjoon."
Jimin menyelipkan tangannya di sekitar pinggangku.
"Hati-hati siputnya, mereka licin."
Dua orang pelayan bergegas masuk ke ruangan dengan perlengkapan untuk memberihkan kekacauan. Musik tidak berhenti tapi tempat ini menjadi tenang. Perlahan-lahan, orang-orang mulai berbicara lagi. Aku tetap mengarahkan mataku ke pintu menunggu sampai aku bisa keluar dari ballroom ini dan melepaskan diri dari pelukan Jimin.
Jika orang-orang di sini tidak tahu kami sudah berhubungan seks, mereka tahu sekarang. Dia baru saja menunjukkan pada semua orang bahwa ia peduli padaku tapi ia tidak benar-benar ingin berjalan denganku di lengannya. Dadaku terasa sakit. Aku butuh jarak dari dia.
Sudah waktunya aku belajar untuk merangkak kembali ke dunia kecilku di mana aku mempercayai diriku dan hanya aku. Tidak ada orang lain. Setelah kami keluar dari ballroom dan jauh dari mata yang ingin tahu, aku melangkah menjauh dari Jimin dan menjaga jarak diantara kami.
Aku menyilangkan lenganku di depan dada dan menatap kakiku. Aku tidak yakin apakah memandangnya merupakan sesuatu yang baik atau bukan. Aku tidak mengambil waktu untuk menikmati betapa indah ia terlihat dalam tuksedo hitam. Aku sudah melakukan yang terbaik untuk tidak melihat ke arahnya.
Sekarang ia berdiri disini di depanku berpakaian seperti seharusnya di mana aku dengan pakaian pelayan yang berlumur minyak siput, perbedaan besar diantara dunia kami sangat jelas.
"Yoongi, Aku minta maaf. Aku tidak mengira sesuatu seperti itu akan terjadi. Aku bahkan tak tahu dia punya masalah denganmu. Aku akan berbicara dengan Taehyung tentang hal ini. Aku punya perasaan Taehyung ada hubungannya dengan ini..."
"Si rambut merah itu membenciku karena Jungkook tertarik padaku. Taehyung tidak ada hubungannya dengan ini dan begitu pula dirimu."
Jimin tidak langsung membalas. Aku bertanya-tanya apakah aku harus berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
"Apakah Jungkook masih merayumu?"
Apakah ia baru saja menanyakan itu padaku? Aku berdiri di sana berlumur siput dan mentega dan ia bertanya padaku apakah beberapa pria menggodaku? Aku bahkan tidak tahu apakah aku masih punya pekerjaan. Itu saja.
Sudah cukup. Aku berbalik dan kembali ke dapur. Jimin tidak membiarkanku menjauh. Tangannya terulur dan meraih lenganku.
"Yoongi, tunggu. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menanyakan itu. Itu bukan masalah sekarang. Aku mau memastikan kau baik-baik saja dan membantumu membersihkan diri."
Suaranya terdengar sedih. Aku mendesah dan berbalik dan bertemu tatapannya saat ini.
"Aku baik-baik saja. Aku harus pergi ke dapur dan melihat apakah aku masih punya pekerjaan. Aku sudah diperingatkan oleh Jungkook pagi ini bahwa sesuatu seperti ini mungkin terjadi dan itu akan menjadi kesalahanku. Jadi, saat ini aku punya masalah yang lebih besar daripada kau yang tiba-tiba merasa perlu bersikap posesif padaku. Yang mana ini konyol. Karena kau sedang melakukan yang terbaik untuk mengabaikanku sampai peristiwa ini terjadi. Kau seakan tidak mengenalku di dalam sana Jimin, lalu kau tiba-tiba muncul dihadapanku. Pilih salah satu pihak."
Luka pada suaraku tidak mudah untuk disembunyikan. Aku menyentak lenganku lepas dari tangannya dan berjalan kembali menuju dapur.
"Kau sedang bekerja. Apa yang kau ingin aku lakukan?" panggilnya dan aku berhenti.
"Mengakuimu akan memberikan alasan Taehyung untuk menyerangmu. Aku melindungimu Yoongi."
Fakta bahwa ia mengakuinya memberitahuku begitu banyak hal. Taehyung diprioritaskan. Ia mengabaikanku untuk membuat Taehyung senang. Aku menduganya tentu saja. Aku hanya cowok panggilannya. Taehyung adiknya.
Ia benar lebih memilih Taehyung daripada aku.
Bagaimana ia bisa melihatku sebagai sesuatu yang lebih saat aku pergi ke tempat tidurnya dengan mudah?
"Kau benar, Jimin. Kau mengabaikanku akan mencegah Taehyung menyerangku. Aku hanya seorang pria yang kau tiduri dua malam terakhir. Segala sesuatunya menjelaskan bahwa aku tidak spesial. Aku satu dari banyak pria yang lain."
Aku tidak menunggunya untuk mengatakan lagi. Aku berlari ke pintu dapur membantingnya sebelum air mata yang menggenangi mataku terjatuh.
-TBC-
Preview: Next Chapter
Aku memutar dan membuka pintu yang menuju keluar.
"Yoongi, tunggu," Jimin berseru.
"Biarkan dia pergi, Jimin," ujar Taehyung.
Aku...
.
"Katakan bahwa ini milikku," ulangnya.
"Itu milikmu, sekarang kumohon Jimin, setubuhi aku."
