Author's Note: Sumimasen!

Author lagi-lagi terpaksa meninggalkan HNY karena tidak lain dan tidak bukan urusan kuliah, huweee! Di sisi lain, writer's block juga melanda author, jadi lengkaplah penderitaan (dan dosa) author. Untuk chapter ini juga berkali-kali author edit, dan beginilah jadinya. Bagi para readers yang mau ngasih masukan ide yang sekiranya menarik, jangan ragu untuk kasih tahu lewat review ya!


"Dia masih belum sadarkan diri, tapi ia akan baik-baik saja sekarang."

Suara Juu...go?

"Syukurlah."

...ini di mana?

"Apa kata dokter?"

"Ia hanya shock ringan. Penyebab pingsannya karena pengaruh psikologis. Ini bukan yang kali pertama, tapi tidak berbahaya."

"Kami serahkan Tenten-sama padamu, Juugo-san."

Sai? Ino?

"Maaf sudah merepotkan kalian berdua."

Aaa...apa yang terjadi?

Isakan Ino teredam usaha Sai yang mencoba menenangkan istrinya. Beberapa saat kemudian tinggal hawa keberadaan satu orang saja yang dapat kurasakan.

Juugo.

"Nona..."

Aku dapat mendengarnya, namun pengelihatanku masih tertutup erat.

"...maafkan saya."

Ha?

"Ini semua salah saya, kalau saja saya tidak memberikan pada nona surat-surat dan buku harian itu, nona pasti tidak akan kembali jadi seperti ini."

...terakhir kali aku membuka mata...aku sedang di kamar di Okinawa bersama Sai. Membaca surat dari Sasuke dan sobekan buku harian Itachi.

Telapak tangan hangat dan besar menggenggam tanganku lembut.

"Maafkan saya."

Tanggal xx bulan xx.

Musim panas.

Akhir pekan ini aku mengunjungi Ayah di villa milik Uchiha di Liechtenstein.

Orang tua itu memintaku datang setelah sekian lama menyendiri di kabin kayu mewah terpencil itu. Apa maunya kali ini? Selagi aku berpikir begitu, supir mobil membawa kami melewati kebun bunga matahari yang menghiasi rute perjalanan ke villa.

Bunga matahari yang cantik.

Secantik Tenten-ku.

Senyumnya selalu secerah matahari, kepolosannya menyerupai anak kecil, dan daya tariknya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Aku ingin memilikinya.

Keindahan tanpa nama itu harus jadi milikku.

Tentu saja, segera setelah aku memikirkannya aku hanya menggeleng sambil tertawa.

Kami saudara.

Aku tidak akan bisa memilikinya.

Apa dia membenciku sekarang karena jarang pulang?

Pikiranku dipenuhi oleh Tenten ketika pemandangan teras villa menyambutku. Bangunan ini megah, dengan gaya arsitektur khas Liechtenstein. Tapi tetap saja terlalu luas untuk ditinggali hanya satu orang. Ketamakan Fugaku kuakui tidak mengenal batas.

Jujur, aku tidak menyangka rasa penyesalan telah menjelek-jelekkan ayah sendiri akan menghinggapiku. Terutama segera setelah pikiran tersebut terbentuk, dan aku menyaksikan sosok arogan itu menggantung dari langit-langit villa.

Aku tidak histeris. Aku tidak bergetar dengan rasa kaget dan ngeri. Penyesalan ada, tapi kebanyakan aku merasa hampa.

Orang tua itu lagi-lagi bertindak seenaknya.

Apa yang harus kukatakan pada Tenten?

Bunga matahariku itu adalah sosok yang pemaaf, dan meskipun orang tua itu telah mengacaukan hidupnya yang bisa saja sempurna penuh kebahagiaan, ia akan tetap menangisi kepergian manusia ini.

Di bawah siluet sosoknya yang menggantung, surat lecek berisi pesan kematiannya tergeletak. Tanpa emosi tertentu aku membacanya dengan tenang.

'Mikoto, tunggu aku.'

Itu saja. Aku agak berharap lebih, tapi cukup satu kalimat itu saja dan aku sudah paham apa arti dari sikap otoriternya selama beberapa tahun terakhir.

Lelaki bodoh ini kehilangan arah tanpa istrinya. Ia bersikeras menyembunyikan kekacauan hatinya dengan bersikap tangan besi. Mengalihkan perhatiannya pada urusan korporasi, ia mencoba untuk melupakan bayang-bayang Mikoto. Tapi ia tidak bisa.

Tidak akan bisa.

Aku membuang surat itu ke tungku perapian yang masih menyala.

Menyedihkan.

Keluarga ini menyedihkan.

Semua kepedihan ini akan membuat bunga matahariku layu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia satu-satunya yang membuatku bertahan di tengah pusaran kegilaan ini. Aku akan melindunginya.

Aku akan melindunginya.

Aku akan melindunginya.

Aku akan melindunginya.

Bunga matahari milikku.

Air mata menuruni pipi kiriku. Itu benar...Ayah sudah meninggal, dan aku tidak ada di saat ia dikuburkan. Bahkan di mana Itachi menguburkannya pun aku tidak tahu.

Tahun lalu? Atau dua tahun yang lalu? Waktu pastinya pun aku tidak tahu.

Mengingatnya, tubuhku bertambah lemas di atas kasur.

Tenten.

Hari ini Itachi menyeretku ke kebun bunga matahari di Liechtenstein.

Ia tidak mengatakan apapun selama di sana. Akupun tidak keberatan, karena aku sungguh tidak ingin berurusan dengannya.

Aku terus mengacuhkannya bahkan saat ia mulai bicara tentang sejarah villa. Fokusku terpusat pada hamparan bunga matahari keemasan. Ingat waktu kita ke Hokkaido dulu? Warna kuning dan mahkota bunga matahari yang kau pakai cocok denganmu. Tunggulah, aku akan mewujudkan mimpimu

ーmimpi kita, menikah di tengah karpet bunga matahari.

Aku menikmati lamunanku, tapi Itachi tidak. Ia menjatuhkan sikap kasualnya dan mulai bercerita tentang delusi gilanya.

Ia bilang Ayah bunuh diri di ruang tamu villa.

Aku terdiam. Kemudian aku tertawa mengejek, menghina trik murahannya agar aku memberi perhatian pada ceriteranya.

Ekspresi Itachi sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia bercanda.

Saat itulah aku menyadari kalau koran yang dipegang Itachi adalah terbitan lama yang memuat tentang kasus bunuh diri Ayah. Korporasi sudah membayar pihak-pihak yang bertanggung jawab akan media massa Liechtenstein, dan tepat sebelum koran-koran berhasil dijual ke perantara, mereka membungkam perusahaan percetakannya.

Ayah sudah tidak ada.

Berapa kalipun aku mencoba mencernanya, aku tetap kesulitan. Tapi sekarang aku mengerti mengapa Itachi tidak pernah berbicara tentang Ayah.

Tidak ada gunanya membicarakan orang yang sudah tidak ada.

Ia membawaku ke kuburannya

ーaku tidak tahu pasti di negara mana, ia hanya menutup mataku dan membawaku ke padang rumput luas.

Aku tidak yakin memberitahumu tentang ini adalah hal tepat, karena bahkan Itachi tidak boleh memberitahu lokasi asli dari makam orang penting bagi korporasi.

Yang aku tahu, kau pasti menangis setelah membaca ini.

Jangan menangis.

Air matamu terlalu berharga untuk dibuang demi orang itu.

Bunga matahariku.

Tetaplah tersenyum. Tegarlah. Bertahan. Karena kau adalah hal yang membuatku rela menjalankan perintah-perintah Fugaku dan Itachi. Kau jangkar-ku yang mencegah hilangnya akal sehatku karena tidak bisa berada di sisimu. Tapi aku akan menemuimu. Itu pasti.

Tunggu aku.

Tunggu aku.

Tunggu aku.

Kau bunga matahari-ku.

Bunga matahari, katanya.

Bunga matahari apanya.

Perlahan aku mencoba membuka kelopak mataku. Kemudian bibirku. Aku sudah bisa membayangkan ekspresi lega Juugo jika ia melihatku siuman. Tepat sebelum namanya meluncur dari mulutku, sapuan lembut di dahi memicu senyum di sudut bibirku. Sejak kapan Juugo suka menciumku?

"Juuー"

"Tenten."

Deg.

Kabut di pandanganku memudar. Itu dia, Juugo. Dengan ekspresi leganya sesuai perkiraanku. Tapi ia tengah berdiri beberapa meter dari kasur. Kedua tangannya berada di sisinya, menyadarkanku remasan pelan di tanganku bukan berasal darinya.

Mataku bergulir ke kanan. Aku berharap indera pendengaranku salah. Tapi aku tidak mungkin melupakan karakteristik vokal bariton itu.

"I...itachi...?"

Bola mata onyx miliknya terasa menusuk. Tubuh tegapnya menunduk di atas tubuhku, membuat bayangan. Aroma khas Itachi mulai memenuhi paru-paruku. Aku menahan nafas. Mataku memburu sosok Juugo.

"Keluar."

Jantungku melompat. Tanpa babibu, Juugo menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan. Aku berusaha bangkit dan menghentikannya, tapi tangan Itachi yang bergesekan dengan kulit leherku membuat perhatianku teralihkan.

Tangan Itachi terasa panas. Suhu tubuhnya berbeda jauh dengan suhu ruangan berpendingin. Aku menatapnya penuh takut, hanya untuk mendapati perhatiannya terpusat pada masker oksigenku. Benar saja, jemari jenjangnya melepaskan alat bantu nafasku.

"Itaーmnn?!"

Apa iniーkenapa Itachi di siniーini di manaーkenapa ia menciumku?

"Fhwa! Itachi!" seruku berhasil mendorongnya jauh dari tubuhku. Bukan karena aku sudah mendapatkan kembali tenagaku, tapi karena Itachi sengaja melonggarkan genggamannya.

Tik.

Eh?

Setetes air jatuh di pipiku. Tidak usah kutanyakan, aku tahu ia berasal dari bola mata Itachi. Meskipun begitu, pupilku tetap melebar melihatnya.

Itachi menangis lagi.

Setelah menghilang selama berbulan-bulan, dan sekarang muncul tanpa peringatan...

"...kau membuatku khawatir."

Bibirnya melumat bibirku lagi, kali ini terasa putus asa. Satu, dua, tiga kali. Tapi aku tidak mendorongnya menjauh. Mataku memejam kalut, tanpa dikomando aku mulai membalas ciumannya.

Air mata Itachi berhenti mengalir.

Itachi menarik kepalanya menjauh, membawa bibirku bersamanya. Saat ciuman kami terputus, aku menghindari tatapannya.

"Sasuke yang mengajarimu berciuman seperti itu?"

Aku tidak menjawab.

"Tatap kakakmu saat diajak bicara, Tenten."

Ha.

"...seorang kakak tidak akan mencium adiknya seperti yang kau lakukan, Itachi."

Sekarang giliran Itachi terdiam. Desahan nafasnya nyaris tidak terdengar ketika ia memutuskan untuk duduk di kursi sebelah kasur. Ia menutupi wajah menggunakan jemari jenjang miliknya.

"Ini di mana?"

Itachi tidak segera menjawab. Matanya menatapku lekat-lekat.

"Okinawa."

Pemahaman menyelimutiku. Ia tidak menyebutkan nama rumah sakit, tapi menyebutkan nama daerah.

"Dengar, aku bisa jelaskanー"

"Aku memecatnya."

Nafasku tersendat. Apa?

"Juugo sudah kupecat."

Ekspresi tidak percaya tercetak di wajahku. Bisa kurasakan amarah merangkak naik ke tenggorokan.

"Tunggu dulu! Juugo tidak melakukan apapunー"

Itachi bangkit. Tinggi badannya mengintimidasi. Tidak ada ruangan bagi argumen apapun. Tidak dengan adanya tatapan penuh otoritas seperti terpampang di pelupuk mata Itachi.

"Dengarkan aku!" seruku sekuat tenaga. Aku sampai harus mengambil ancang-ancang karena tidak menyangka akan bisa berteriak sekuat itu di keadaan lemah seperti sekarang.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." ujarnya dingin, langkahnya membawanya kembali ke posisi menerkam diriku. "Meninggalkanmu di Okinawa di properti pribadinyaーia harusnya bersyukur aku tidak menuntutnya atas penculikan."

"Aku yang memintanya melakukan ini semua! Juugo tidak punya pilihan selain menuruti permintaanku!"

Tatapan dingin Itachi tidak berubah sama sekali. Rasanya seolah semua yang kukatakan tidak akan membuat perubahan apa-apa.

"Selalu ada pilihan, Tenten."

Alisku bertaut mendengarnya. "Apa?"

"Ia tahu akibatnya jika mencari masalah denganku. Tapi dengan bodohnya ia tetap melakukannya."

Aku mendesah, Itachi berbisik kasar di telingaku.

"Why?"

Why, indeed?

Kain seragam pasien rumah sakit terasa kasar di genggamanku. "Juugo kasihan padaku."

Desahan Itachi terdengar mengejek. Wajahnya ia posisikan agar dapat menatapku bulat-bulat.

"Kau sungguh naif."

"...kau pikir ia suka padaku? Beritahu aku mana yang naif, Itachi; aku yang berpikir rasional atau cemburu butamu?"

Dinginnya tatapan Itachi masih mengintimidasiku. Aku meneguk ludah.

"Kau percaya diri sekali."

"Terima kasih, aku sadar aku berhak sombong semenjak kedua kakakku yang tampan menciumku."

Itachi mendecak. "Untuk ukuran orang sakit, kau terlalu banyak bicara."

"...untuk ukuran sumber 'penyakit'-ku, bicaramu terlalu angkuh."

Rasa terkejut terbersit di wajahnya. "Aku?"

Lagi, aku menolak untuk membalas tatapannya. Sejujurnya, akupun tidak tahu. Tapi hal terakhir yang kuingat adalah membaca surat darinya dan Sasuke. Satu-satunya penyebab yang masuk akal adalah mereka.

Tatapan Itachi membuatku mawas diri. Aku meneguk ludah. Baru beberapa bulan berlalu, tapi aku sungguh bahagia ia datang karena mengkhawatirkanku. Sangat bahagia, aku bisa menangis sekarang.

Tanpa peringatan, kedua tangan Itachi menekan permukaan bantal di kedua sisiku.

"Itachi?"

"Scoot."

Bingung, aku memberinya ruang di atas kasur seperti yang diminta. Masih terbalut kemeja mahal bermerk dan sepatu kerja buatan desainer miliknya, tubuh jenjang Itachi melompat ke atas kasur. Aku memekik kecil saat lengan kekarnya menarikku mendekat.

Cup.

Eh?

"There. A kiss on the forehead."

Aku melongo. Detakan jantung Itachi terdengar jelas. Ketukannya sangat cepat, hal itu membuatku ikut merasa deg-degan.

Ia sungguh menyukaiku...

Senyuman tipis. "Apa? Waktu kecil kan kau sering minta dicium."

Aku tertegun.

"Ku...kira kau marah padaku."

"...aku masih marah."

"Lalu kenapa..."

Itachi melirikku. Tatapannya tidak lagi dingin.

"Kau sendiri yang bilang aku penyebab sakitmu."

Jadi dia merasa bersalah?

Itachi meremas surai hitamnya gemas. Desahan melarikan diri dari bibirnya.

Air mataku berlinang. Kukira ia sudah tidak peduli lagi padaku. Itu salah? Lalu mengapa ia tidak mau melihatku setiap ia berkunjung ke Jepang? Kenapa ia bisa ada di sini? Juugo memberitahunya?

"Kuーkukira kau tidak akan mau kembaliー"

Itachi bertumpu pada sisi kirinya, menatapku dalam-dalam. "Aku berencana begitu."

Mulutku membuka dalam ekspresi tidak percaya. Air mata yang sudah menggenang tidak bisa kuhentikan.

"Kenapa..."

"Kita saudara."

Ah.

Lagi-lagi alasan itu.

"Kalau...kita saudara, adalah hal wajar mengunjungi saudara sendiri, bukan?"

"Kau tahu pasti aku mencintaimu lebih dari saudara."

Aku tidak bisa menyangkal itu.

Di saat seperti ini, apa yang harus kukatakan?

Apapun itu, yang bisa membuatnya tinggal lebih lama.

"Apa-apaan ekspresimu itu?"

Aku menggigit bibir. Mimik wajahku pasti tidak beraturan sekarang. Rasa senang Itachi ada di sini, dan sedih karena ia akan menghilang sebentar lagi bercampur menjadi satu.

"Akuー"

juga mencintaimu lebih dari saudara.

Tidak mungkin, bukan?

Tidak akan bisa. Itachi tidak akan mempercayai perkataanku. Rayuan manis tidak akan berhasil. Bahkan meskipun itu adalah hal yang sebenarnya kurasakan.

Aku mencintai Itachi melebihi saudara.

Seperti yang kurasakan untuk Sasuke.

Aku tidak dapat menjelaskannya dengan kata-kata.

Andaikan mereka dimiliki orang lain, aku tidak dapat membayangkannya.

Aku tidak mau membayangkannya.

Aku sadar bahwa aku ini egois.

Aku terus berharap agar kami bisa kembali seperti dulu padahal itu tidak mungkin.

Kami bertiga tidak akan bisa kembali menjadi tiga bersaudara lagi. Tidak dengan adanya rasa sayang yang bercampur nafsu.

"Kau kenapa?"

Pertanyaan Itachi membawaku kembali ke kenyataan.

Aku menggeleng. "Aku cuma..."

Air mataku menetes. Aaah...ini buang-buang waktu saja. Itachi tetap akan pergi meninggalkanku lagi.

Aku akan sendiri lagi.

Kali ini tanpa Juugo.

"Tenten?"

Nada khawatir Itachi membuatku mengangkat kepala. Tanganku meremas lengan kekarnya.

"...sayang Itachi-nii..."

Sial. Ekspresiku pasti campur aduk antara memaksakan senyum dan menangis.

"Aku sangat sayang Itachi-nii..."

Itachi tampak terfokus padaku seorang selama beberapa saat sebelum akhirnya dua bola mata itu ditutup paksa. Itachi duduk di pinggir kasur, punggung lebarnya menghadap padaku.

"Aku harus segera kembali."

Aku mengangguk, meski Itachi tidak dapat melihatnya. Ia berusaha keras mengacuhkanku.

"Aku akan merindukanmu-"

Itachi sudah berdiri, mengambil jas yang entah kapan ia letakkan di kursi pengunjung dan berjalan menuju pintu keluar.

Aku tersenyum pahit.

Sekalian kukatakan saja. Toh, dia tidak menyimak, bukan?

"I love you."

Langkah Itachi terhenti.

"Aku juga mencintai Itachi-nii."

Aku menutup kedua mataku.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang.

Kalau Itachi pergi, hidupku berakhir. Kalau ia kembaliー

"...kau tidak sungguh-sungguh mengatakannya."

"Aku serius."

Mataku masih tertutup rapat, air mata mengalir dari pelupuknya. Aku sangat takut kehilangan Itachi. Takut di saat ia begitu dekat, namun tidak ada yang bisa kulakukan untuk membuatnya tinggal dan justru hilang selamanya.

Aku rela melakukan apa saja agar ia tetap tinggal.

"Akuー"

"Diamlah."

Deg.

Hal berikutnya yang kutahu, ciuman Itachi menghujani bibirku. Antara terprovokasi oleh perkataanku atau karena kesal, aku tidak tahu lagi. Di tengah semua kebingungan itu aku hanya bisa memintanya berhenti karena jemarinya mulai menginvasi bagian dalam kain seragam pasien rumah sakit di tubuhku dan ciumannya berpindah ke kulitku yang terekspos.

Nafasku tersendat. "Iーitachiー"

Ciuman. Gigitan. Remasan.

Semuanya pernah dilakukan Sasuke.

Tapi tidak sesensual ini.

Ya Tuhanーapa Itachi baru sajaーdi dadakuー

"Itachi-niiーah...!"

Itachi berhenti.

Nafas tersengal kami saling bergumul satu sama lain di udara. Cengkraman Itachi membuat pergelangan tanganku sakit, tapi aku tidak melawan. Meski aku benci mengakuinya, cara Itachi mendominasikuーakuーaku menikmatinya.

Fisik kami kompatibel.

Bulu romaku meremang. Begitu juga denganku dan Sasuke. Saat ia mulai menciumi bagian lain tubuhku, semuanya mengalir begitu saja. Seolah itu adalah hal yang normal.

Aku tidak keberatan disentuh oleh kakakku sendiri.

Keduanya.

"...maaf."

Itachi tampak terluka. Bukan karena pintaku untuk berhenti, tapi karena kecewa pada perbuatannya sendiri. Ia melepaskanku, lengannya bergetar.

"...akuーsudah menahannya selama bertahun-tahun. Ini sebabnya aku harus menjauh darimu."

Bertahun-tahun.

Itachi menuruni kasur, wajahnya terhalang rambut hitamnya.

"Kau membuatku kehilangan kendali."

Mencoba mengendalikan diri.

"Aku paham kalau kau membenciku."

Demi kebaikanku?

Bekas gigitan Itachi di tubuhku menggelitik. Mereka pasti akan meninggalkan bekas.

Anehnya, aku tidak merasa keberatan.

Kedua lenganku melingkar di pinggang ramping Itachi, membuatnya terlonjak kaget.

"...tidak apa-apa."

...apa ini?

"Kau boleh menciumku. Atau memelukku."

Jantungku berdebar keras berada di dekat Itachi.

"Tetaplah di dekatku."

Tidak apa-apa.

Semua akan baik-baik saja.

Telapak tangan lebar Itachi menyelimuti tanganku di pinggangnya. Sesuai dugaanku, tidak ada penyesalan muncul.

"...Tenten, aku sudah mencapai batasku. Lepaskan atau kita berdua akan menyesalinya."

Aku tidak bisa menolak Itachi.

Tapi seperti yang kubilang sebelumnya, tidak apa-apa.

Perasaan ini tulus.

Jemariku melesak masuk celah kemeja mahal Itachi, panas tubuhnya mengalir melalui ujung-ujungnya. Wangi khas Itachi memenuhi paru-paruku saat aku membenamkan wajah di punggung lebarnya.

Itachi ada di sini.

Untuk kupeluk.

Untuk kucium.

Hanya untukku.

It feels so wrong, but it feels so right.

Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku mengulangi dosa yang sama.

"I won't regret anything."

But who can actually blame this so-called love?

"Karena aku mencintai Itachi-nii."