SOTUS The Series – GMM TV Ltd / BitterSweet
BTS – Big Hit Entertainment
Seventeen | EXO – Respective Agencies
Penulis tidak mengklaim apapun selain penulisan kalimat dalam bahasa Indonesia dan perubahan seperlunya.
.
.
.
.
"Makan siang duluan saja, nanti aku menyusul," Yoongi mengalihkan ponsel dari telinga kiri ke kanan karena harus menerima lembaran fotokopi dari Jungkook, "Ya, kopi. Ng? Ayolah, aku belum minum segelaspun hari ini. Tidak, tidak, aku tak suka latte atau sejenisnya. Halo? Halo? Hei! Jangan ditutup seenaknya! Hei! Park Jimin!"
Yoongi menjauhkan ponsel dengan muka masam, desahnya meluncur panjang meski sudut bibirnya terangkat. Namjoon mengawasi dari sisi bangku, memutar-mutar bolpoin sambil meringis geli, "Dimarahi lagi, hyung?"
"Dilarang minum kopi sebelum makan siang," geleng Yoongi, mengantongi ponselnya pasrah, "Sampai mana tadi? Jungkook-ah, pengumuman hasil ujian kalkulus sudah keluar kan? Gantikan aku melihat ke lorong."
Mingyu menepuk dahi, "Cuma mampir melihat pengumuman saja minta digantikan, hyung?"
"Malas."
"Tak usah repot-repot pergi, bisa diunduh di laman khusus jurusan. Kalian hidup di jaman apa sih? Joseon?" Wonwoo, seperti biasa, menampar mereka dengan cibiran dan goyangan ponsel yang menyebalkan, "Aku mau makan di teras depan. Gyu, belikan sesuatu."
Tak membantah dan tak menyahut layaknya terbiasa, Mingyu beranjak meraih ransel beserta buku-buku dari hamparan bangku, kiranya bersiap pergi ketika serombongan mahasiswa muncul dari belokan. Yoongi sengaja acuh meski mendengar derap langkah familiar. Sementara Jungkook, walau enggan, masih berusaha berdiri tegak mengikuti ketiga rekannya dan membungkuk hormat pada para senior yang kali ini lengkap berlima.
"Sudah, sudah, lain kali kalau bertemu cukup mengangguk saja," Hoseok menyahut gembira melihat junior-juniornya berjajar, naluri bungsu tak punya adik, "Kebetulan aku mau bagi-bagi cokelat nih, mana yang lain?"
"Kantin. Ini juga mau disusul, tapi aku mau kalau diberi," Jungkook sigap menadahkan tangan tanpa sungkan. Tak ada yang namanya harga diri jika menyangkut makanan, "Ngomong-ngomong ini dalam rangka apa, hyung? Valentine kan masih tahun depan."
Chanyeol menyahut setelah menelan kunyahan keripik, satu tangan ditumpangkan di pundak Taehyung yang melirik sebal, "Hobi selalu berkeliling menyebar makanan manis tiap ada anggota tim yang jadian, katanya buat selamatan supaya langgeng dan didoakan banyak orang," ujarnya, cekatan mengambil balik sebatang Ghirardelli yang sudah mendarat di telapak tangan Jungkook, "Dan karena kau termasuk salah satu dari dua orang yang diselamati, sebaiknya jangan ikut makan cokelat ini."
"Lho?"
"Hyung," delik Taehyung tak suka, "Jangan iseng."
"Aduh, pacarnya marah."
Hoseok terbahak selagi berkeliling mengitari meja untuk membagikan sisa cokelat ke anggota tim basket, juga menyepak pelan tungkai Mingyu yang jahil menagih lebih. Hilir mudik mahasiswa dari beragam tingkat jurusan yang lewat menyapa mereka juga diberi bungkusan permen jeruk, beberapa diantaranya terkikik-kikik ketika diberitahu maksud dari pemberian tersebut dan Taehyung hanya bisa berdecak sambil melipat tangan.
"Aku kurang suka makanan manis, boleh kuberikan ke Jimin?"
"Tentu, ambil satu lagi."
Dua batang cokelat digenggam Yoongi yang berucap terima kasih, Mingyu ikut membawakan bagian Bambam dan Minki. Sepasang mata mengintai agak iri sambil mengamati cokelatnya sendiri.
"Pulang kuliah nanti kutraktir fondue, tak usah cemberut," Taehyung mencubit gumpalan pipi yang menggoda iman sedari tadi, "Perlu kutanyakan pada Hoseok-hyung kalau kau ingin satu lagi?"
Jungkook menggeleng gusar, cokelatnya digoyangkan di depan hidung Taehyung, "Ini sudah cukup kok, tidak perlu fondue segala. Aku bukan anak kecil."
"Kalau es krim?"
"...itu boleh."
Dinding mulut Taehyung dikulum kuat, rasanya ingin lompat lalu mendekap Jungkook seerat-eratnya karena—demi tentakel gurita korban Megalodon, junior berbadan bongsor itu lucu sekali. Tak segan menolak sesuatu, namun tak sungkan pula membuang malu. Ditahannya rasa gemas dengan mengacak-acak rambut Jungkook hingga mencuat ke segala arah lalu berkelit saat kakinya ditendang.
"Selamat berdoa untuk hasil ujian selanjutnya," Chanyeol mengacungkan ibu jari tinggi-tinggi ke udara, "Dulu aku asal-asalan mengerjakan ujian, lalu mencoba membawa sekeranjang kubis untuk merayu dosen pengayaan kimia dan dia menyuruhku menarikan lagu Shinwa selama setengah jam."
Sepasang mata Yoongi menyipit maksimum, "Lalu? Dapat nilai A?"
"Tentu saja E."
Ken menoyor kepala Chanyeol yang terkekeh jumawa, "Kukira hurufnya akan berubah kalau aku menari sedikit lebih seksi, ternyata sama saja. Jadinya rugi lima kubis dan dimarahi ibuku sampai rumah."
"Tenang saja. Kami tidak setolol itu kok, minimal punya trik untuk mencontek lembar jawaban Namjoon-hyung," Mingyu berceloteh sekenanya dan sontak menjerit-jerit kesakitan karena rambutnya dijambak Wonwoo, "Ka, kami pergi dulu ya, hyung! Keburu tak dapat antrian di kantin!"
Tiga senior melambaikan tangan disertai tawa penuh simpati, Yoongi ikut menyeret ranselnya ogah-ogahan dan Jungkook menghabiskan delapan belas detik lebih lama untuk melepaskan diri dari gelitikan Taehyung, "Aish! Enyah! Oi! Mingyu! Tunggu aku!"
Bunyi langkah berat Jungkook bergema menapaki turunan selagi pelaku kejahatannya sibuk meringis, bersiul tentang bagaimana dia ingin mengusili pemuda itu menggunakan sekotak kelabang, namun urung setelah mempertimbangkan bila tindakan tersebut hanya akan membuatnya dimutilasi oleh Min Yoongi.
"Kalau begitu kita juga pergi yuk, aku ada kelas jam satu," Hoseok mengaba-aba. Pengawas lainnya segera mengiyakan, menepuk punggung satu sama lain serta melangkah beriringan melewati petak belajar, termasuk Seokjin yang sedari tadi bungkam tak berkomentar. Lengan masuk saku, tak banyak mengedarkan pandangan selain ke jajaran mahasiswa yang berkerumun mengecek nilai ujian. Pipi tembamnya menggelembung akibat sudut-sudut bibir yang sengaja ditekan kuat ke dalam, entah memikirkan apa. Pun hampir terlonjak ketika seseorang meraih pergelangannya, mencegah Seokjin pergi dan memaksanya tertinggal di belakang selagi tim pengawas asyik bercakap-cakap di seberang.
"Buru-buru sekali, hyung?" suara berat yang terakhir didengarnya kemarin lusa kini bergaung di sisi telinga, senyum miring terulas jahil, "Tak ingin menanyakan kabarku?"
"Kabar?" bola mata Seokjin melipir sinis, "Kau tampak sehat-sehat saja, lepaskan ta..."
"Ssst."
Namjoon menaruh telunjuk di depan hidung menyuruh diam, dan Seokjin dibuat mengangkat dagu karena tinggi Namjoon masih sedikit lebih unggul di atas kepala. Matanya membulat menyadari bahwa jarak diantara mereka kian terpangkas akibat Namjoon yang semakin mendekat. Satu lengan Namjoon menahannya di tempat, sementara wajahnya bergerak menutupi sudut penglihatan Seokjin yang mulai berkedip-kedip bingung. Mereka sedang berada di ruang terbuka yang bisa dilintasi siapa saja, bukan ide bagus untuk melakukan hal tak senonoh di tempat seperti ini. Apalagi bersama junior.
"H, hei!"
"Apa sih?" pucuk hidung Namjoon berhenti tepat satu senti di depan pipi kanan Seokjin. Ada nada geli dalam kalimatnya yang terlontar lugas, "Aku hanya ingin mengucapkan sampai jumpa. Atau jangan-jangan hyung berpikir akan dicium?"
Atas bisikan setannya, Namjoon langsung terdorong ke belakang setelah dua tangan Seokjin menyentakkan dadanya dengan dahi berkerut, "Tentu saja tidak! Kau pikir aku anak SMA yang hobi pamer di depan umum? Minggir!"
Seokjin melesat sembari bersungut-sungut, tanpa permisi apalagi berpamitan. Meninggalkan Namjoon yang terkekeh menikmati dampak perbuatannya pada sang senior barusan. Wajah merona, telinga memerah, namun masih terikat harga diri untuk tetap menyumpah-nyumpah. Pemberi energi terkuat yang selalu sukses memompa hasrat Namjoon ke titik tertinggi, sekaligus menerbitkan sekian banyak tanda tanya tentang seluk beluk yang belum diketahui dari wujud seorang Seokjin. Tantangan yang ingin ditaklukkan Namjoon dengan perlahan dan tanpa tergesa-gesa demi meraba hatinya.
Menarik, sangat menarik.
.
.
"Tiga puluh Desember."
"Ha?"
"Ulang tahunku, tiga puluh Desember..." ulang Taehyung santai, mengunyah gigitan pertama dari burger daging pedas yang baru dibuka. Tangan kirinya memegang gelas soda bersemat sedotan dari restoran cepat saji, terarah pada Jungkook yang segera menyesap dua kali, "Kau bisa menabung mulai sekarang, aku tak keberatan menerima monitor baru."
"Daripada membelikanmu barang mahal, lebih baik uangnya kupakai untuk jatah makan lima bulan, hyung," tolak Jungkook mentah-mentah. Keduanya tengah duduk di tepi jalan menuju asrama, beralas trotoar dan dinaungi pohon pakis besar. Kantong-kantong kertas bekas burger dan tiga gelas soda tergolek diantara paha, ditambah plastik berisi sejumlah roti krim pisang yang diminta Jungkook sebagai pelunasan tagihan hutang Taehyung setelah kalah taruhan adu tetris. Pukul lima sore dan langit masih berwarna oranye, jauh dari jam makan malam. Namun dua pemuda itu tampak tak peduli. Motor terparkir di sebelah dan duduk sekenanya bak piknik ala taman kanak-kanak. Jaket Taeyung tertangkup menutupi bahu Jungkook yang hanya mengenakan selembar kemeja putih sejak pagi, sementara dirinya terbungkus kaus beraroma keringat usai berlatih basket sesorean.
"Betul tidak jadi pindah jurusan?" ujar Taehyung berganti topik, "Atau mau selesai lebih cepat seperti waktu sekolah?"
"Entahlah, capek," Jungkook menisik gigi tak malu-malu, ada serat daging terselip di geraham, "Aku ingin menjalani kuliah dengan santai, tapi kita tak bisa menebak apa yang akan terjadi di tengah jalan. Apalagi usiaku baru enam belas, kalau lulus kurang dari tiga tahun pasti disangka yang bukan-bukan. Lagipula tak ada yang memaksaku belajar terus menerus, hyung lihat sendiri bagaimana ibu menelepon dan menyuruhku lebih banyak berlibur. Pindah jurusan berarti dua kali kerja, lalu didorong supaya ikut orientasi. LAGI."
Taehyung melengos, saus burgernya muncrat dari mulut, "Kau benci pelatihan ya?"
"Sudah kubilang aku tak suka senioritas."
"Aku suka."
"Hyung, opini orang berbeda-be..."
"Untuk kasus tertentu," ujar Taehyung menyela kalimatnya, pangkal jari menyeka bekas saus sambil setengah menyeringai, "Setidaknya aku bisa mengerti kalau ada bocah keras kepala bermuka bayi yang bisa ditaklukkan dengan sepotong roti."
Tersinggung, Jungkook sigap menjejalkan seluruh burgernya dalam mulut hanya agar kedua lengannya bebas bergerak. Satu tangan diangkat membentuk sudut sembilan puluh derajat dan satu tangan lagi menepuk gumpalan otot yang terbentuk akibat gerakan tersebut. Dahi berkerut, mata ikut menyipit. Seolah berisyarat bila dirinya sanggup membuang Taehyung ke seberang jalan dalam satu lemparan.
Bukannya terancam, Taehyung justru tergelak mengamati bagaimana juniornya ganti melotot galak sambil terus menunjuk lekuk-lekuk bisep super mencolok di balik kain kemeja yang kini melekat ketat. Dan mungkin mengira jika opsi sombongnya gagal, Jungkook secepatnya menurunkan lengan sembari mengambil burger dari gigitan lalu meninju bahu Taehyung, "Jangan tertawa!"
"Kau pikir otot-otot itu akan membuatku takut? Yang benar saja," lawan bicaranya mengibas-kibaskan telapak tangan bak mengusir lalat, "Kita tidak hidup di era kuno. Menunjukkan dominasi tak selamanya ditentukan oleh bentuk tubuh."
"Lantas?"
Tak menjawab. Taehyung menyesap sodanya di dua kali tegukan, mengusap dagu memakai pergelangan, kemudian perlahan, amat perlahan, mencondongkan badannya ke arah Jungkook yang mengerjap tak paham. Paha beserta kaki Taehyung tertanam di trotoar, namun tubuh bagian atasnya bergerak semakin dekat, menatap Jungkook lekat-lekat dengan sorot mata tajam di bawah sepasang alis tebal. Yang diamati tak memiliki pilihan selain bergerak mundur, bertumpu pada satu lengan yang menopang berat, punggung terdorong ke belakang selagi lawan bicaranya terus mendesak, menusuk titik fokus Jungkook lewat pandangan mata. Sekelilingnya kabur, buram, terhisap oleh wajah rupawan yang kini terpampang berani. Hidung dan hidung terpisah oleh satu ruas jari, membuat bola matanya melebar di ukuran maksimum dan berharap agar ekspresinya masih berada di kadar minimum. Tidak ada yang mangkir dari kenyataan bahwa Taehyung begitu mempesona, dan Jungkook seakan tersihir hingga lupa bagaimana harus bereaksi selain menelan ludah.
Tersenyum geli melihat sang junior salah tingkah, Taehyung mengakhiri kejahilannya dengan satu kecupan di pucuk hidung Jungkook yang sontak terperangah. Jari-jari menelisik, meraba dimana bibir Taehyung mendarat, sementara mata besarnya berkedip-kedip lucu seolah berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
"L, lain kali jangan tiba-tiba mendekat begitu! Hyung beruntung aku tak punya riwayat lemah jantung."
"Oh, jadi wajahku melemahkan jantung? Wah, wah..." cengir Taehyung puas, "Sepertinya tak perlu perawakan mencolok untuk membuat dadamu berdebar, Jungkookie."
Sadar disindir terang-terangan, yang bersangkutan membuang muka sambil meremas kertas burger. Kiranya ingin balas dendam dengan ikut memajukan kepala seperti apa yang telah dilakukan Taehyung. Sayangnya, jebakan serupa bisa jadi tak berguna bila dikerjakan pada pencetus, terutama jika pelakunya adalah harimau licik seperti seniornya.
"Aku belum pernah pacaran, mana tahu teknik seperti itu!"
Taehyung meringis lagi, "Ini tidak ada hubungannya dengan pengalaman pacaran, tahu. Kau memang terlalu polos."
Tawa sarkastis Jungkook meluncur datar, "Bilang saja hyung berniat pamer soal cara merayu mantan-mantan terdahulu."
"Aduh jahatnya. Mantan pacarku cuma dua dan sama-sama kutinggalkan waktu lulus SMA," telapak tangan Taehyung tertangkup di dada, berakting tersakiti oleh tuduhan Jungkook yang sedikit menunduk. Mulut terkatup, kunyahan berhenti, antara hendak menarik ucapan barusan atau merutuk kelancangannya mengejek Taehyung.
Tak kuat melihat raut bimbang juniornya yang luar biasa menggemaskan, lengan Taehyung terjulur meraih tengkuk Jungkook, sejenak memainkan helaian anak rambut yang terasa begitu halus, kemudian merengkuh leher pemuda itu agar perhatiannya tertuju pada sumber suara.
"Jangan merasa perlu membatasi apa yang ingin kau katakan, Jungkookie. Topik yang kaku hanya akan menyisakan kecanggungan dan aku tak mau interaksi kita kembali kosong seperti di awal pelatihan. Aku tak keberatan meladeni sindiran dan kritikanmu tentang segala hal yang terjadi selama ini, daripada harus menahan diri dan menyembunyikan sesuatu," dicubitnya cuping telinga Jungkook yang menggulirkan lidah ke dinding mulut sembari mengangguk-angguk, "Dan bicara soal status, apa kau yakin tidak pernah diajak kencan sebelumnya?
"Oh, kalau itu banyak, tapi semuanya kutolak karena mereka minta ditemani nonton, ke toko buku, jalan ke taman, berenang, dan belanja baju," Jungkook menjelaskan dengan lugas, telunjuknya menuding Taehyung yang mengerenyit, "Hyung adalah orang yang pertama kali mengajakku kencan ke restoran, jadi langsung kuterima."
Kali ini Taehyung tak lekas merespon, melainkan memandang Jungkook dengan tercenung—mulut terbuka namun tak bersuara, ingin berkomentar tapi diurungkan seraya mengacak-acak rambut sendiri. Kekehnya keluar dibarengi desis dan decak bersamaan, tak paham lagi apa yang seharusnya dilakukan.
"Aku kehabisan kata-kata untuk menggambarkan penilaianku padamu, Jungkookie," sergah si tampan bermata kehijauan, terbahak menutupi separuh wajahnya dan menggeleng pasrah, "Kalau awalnya kuusulkan pergi ke akuarium dan bukan makan dimsum, apa kau juga akan menolak?"
Mengunyah makin lambat, Jungkook menepikan hasil gerusan selada ke salah satu pipi, bola matanya bergulir bergantian. Meski terkadang polos, otaknya masih sanggup menganalisa mengapa ajakan penggemarnya semasa sekolah terkesan seperti hal yang patut dijauhi demi ketenangan. Dan alasan utamanya, tentu saja, bukan semata-mata karena makanan. Dia tak suka keramaian, tak suka dikerumuni, kurang senang bila jarak pribadinya dijajah tanpa permisi oleh kaki-kaki asing, juga benci diganggu saat sedang mendengarkan musik. Singkatnya, Jungkook tidak tertarik.
Berbeda dengan yang lain, Taehyung tidak sekonyong-konyong masuk pada ruang kosong di sebelahnya maupun lancang menyapa bak teman lama. Taehyung memilih untuk berteriak, berseru, dan menggedor tak tahu malu di pintu hati Jeon Jungkook. Pemuda itu terang-terangan memancing emosinya bertameng norma kesopanan, menyuruhnya menghormati tanpa mengayomi, memerintah seenaknya dan berkicau paling nyaring begitu ada yang membantah. Dendam diantara keduanya tak semata-mata omong kosong. Jungkook ingin menginjak wajah menyebalkan itu memakai sol sepatu dan Taehyung ingin membekap mulut kurang ajarnya agar mengerti tata krama.
Jika akhirnya Taehyung menyadari bila juniornya terlihat manis saat tertawa, atau Jungkook yang berpikir bahwa suara seniornya mulai terdengar menggoda, maka perubahan tersebut bukanlah cerita cinta pandangan pertama, melainkan pergeseran rasa dari benci menjadi suka.
"Tidak masalah," Jungkook bergumam pendek, "Toh masih bisa beli dimsum setelah pulang dari akuarium."
"Pffftt..." pemuda di sampingnya menyembunyikan tawa di punggung tangan, "Tak mau jujur kalau kau ketagihan dibonceng sejak kutawari di dekat apotik?"
"Enak saja! Aku cuma naksir motormu, hyung. Bukan pemiliknya. Lagipula ini masalah selera, mau dipesankan restoran paling bagus di ujung menara pun, kalau aku tidak suka, mau diapakan?"
"Ah," Taehyung menjentikkan jari gembira, "Karena kau menerima ajakanku, apa ini termasuk pengakuan jika Kim Taehyung masuk dalam daftar seleramu?"
Sialan.
Kena.
"Tak perlu segan. Kau juga tipeku lho? Padat, berisi, empuk. Enak dipeluk."
"Tutup mulut, hyung. Atau kutenggelamkan kau ke kolam biawak kedokteran hewan," gerutu yang bersangkutan, siap menyemprotkan isi sachet saus sebagai senjata pengurang malu, "Mentang-mentang lebih tua, sok intimidatif."
Taehyung berkedik acuh, "Tak ada maksud kesana. Tapi kalau kau merasa terintimidasi, itu bukan salahku."
"Lalu kenapa hidungku dicium?"
"Hm?" Taehyung berpaling santai sembari menyedot soda, burger pertamanya habis dilahap, "Mukamu lucu dan aku gemas."
"Cuma gara-gara itu?"
"Insting, Jungkookie, insting," timpal Taehyung, memasang kembali sarung tangannya sambil tersenyum maklum. Tali sepatunya dieratkan selagi menguraikan lebih jauh, "Ada sejuta alasan untuk memegang tangan, berpelukan, atau kontak fisik lain yang terjadi tanpa kesengajaan. Apa namanya? Impulsif? Ah, entahlah. Anggap saja pengaruh hormon usia belasan yang sering lupa keadaan sekitar. Maaf, kau tidak suka ya? Lain kali aku akan minta ijin."
Seraya membereskan remah-remah makanan mereka dan memasukkan sampahnya dalam plastik, Jungkook menanggapi ucapan tersebut dengan sebuah gelengan disertai dengus samar.
"Bukannya tidak suka," keluhnya, telinga memerah, "Aku cuma...uh, tidak suka diperhatikan orang lewat."
Mengangkat kepala, Taehyung mengedarkan pandangan ke sekeliling dan menyaksikan tiga-empat mahasiswa menyempatkan diri melirik mereka sambil terkikik, terutama gadis-gadis yang baru saja melintas dengan berjinjit-jinjit cepat seolah takut mengganggu. Paham, Taehyung meringis lebar dan bergeser menyamping menghadap Jungkook yang masih sibuk merapikan bawaan.
"Maunya kalau sedang berdua saja, Jungkookie?"
Berhenti bergerak, pemuda itu menatap Taehyung sekilas dan mendengus lebih keras.
"Tetap harus minta ijin!"
"Perintah diterima, Jenderal!" telapak tangan Taehyung memberi hormat, sejurus kemudian kaki panjangnya beranjak dari tepi trotoar dan berjalan menghampiri motor dibarengi Jungkook yang berjingkat gontai, mengabaikan kenyataan bila pelapis kemejanya masih berstatus pinjaman.
"Pulang, aku mau tidur."
"Nanti kuturunkan di pintu masuk, susah kalau harus memutar di tempat parkir."
"Lho? Hyung masih ada latihan?"
"Tidak sih, tapi aku kehabisan plester kinesio dan tokonya tutup jam enam. Lagipula masih ada misi membelikan es krim untuk bocah yang cemberut karena porsi cokelatnya kurang," ujar Taehyung, menyodorkan helmet ke belakang dan diterima Jungkook dengan kening terlipat tak setuju, "Kenapa? Kekenyangan?"
Adik tingkatnya bergegas naik sambil menggerung ribut, "Aku malas buka jaket."
"Lalu?"
"Hyung bisa masuk angin kalau perginya cuma pakai kaus, tokonya kan jauh dari kampus."
Tawa persegi Taehyung terpampang cerah, "Khawatir ya?"
"Hanya berjaga-jaga supaya aku tak dituduh macam-macam kalau performa hyung menurun di pertandingan," lengos Jungkook cuek, mengunci pengait helmet dan merapatkan tali ransel, "Belok kanan lurus, tak perlu balik ke asrama. Aku ikut."
"Katanya ngantuk."
"Sudah kubilang aku malas buka jaket," seloroh pemuda itu sembari beringsut lebih ke depan. Absennya tas olahraga Taehyung yang menghuni bagasi motor seharusnya menyediakan ruang lebih untuk duduk nyaman. Namun alih-alih menempati posisi boncengan dengan leluasa, yang dilakukan Jungkook justru merapat pada pengemudi. Dadanya menempel di punggung bidang Taehyung yang sukses dibuat heran di sela-sela usaha memanaskan mesin, ditambah sepasang lengan yang terjulur melewati ketiak dan melingkar mantap dari bawah dada ke arah pinggang, mendekap Taehyung erat-erat seperti besok akan kiamat. Gestur yang terlalu intim untuk sekedar cari aman, terlampau posesif untuk disebut berpegangan.
Mengamati dari spion, alis Taehyung terangkat sebelah mendapati dagu Jungkook bertumpu di bahu kirinya. Kaca helmet terbuka, mata membola jernih. Bibir pemuda itu bergumam ragu, nyaris tak terdengar, "Masih dingin, hyung?"
Mengerti setelah dua detik mematung, Taehyung balas mengedikkan kepala sembari menata ekspresi. Beruntung dirinya bukan tipe yang mudah merona atau tersipu-sipu, meski gagal menahan seringai yang spontan menyembul akibat efek sentuhan serta banjir degup menyenangkan. Brengsek. Bisa-bisa dia mabuk serotonin di tengah jalan.
"Ambil jaketnya, tak usah dikembalikan," bisik Taehyung dari balik bahu, memandangi mimik Jungkook tepat di samping pelipis. Seringainya menjalar makin tinggi, "...asal dipeluk seperti ini tiap kita pergi."
"Shush!"
"Ih, galak."
Jungkook reflek mendesis, "Tak usah banyak berharap, hyung. Jalan!"
"Siap."
.
.
"Susu dingin yang biasa, Jin-ah?"
Pegawai konter menyambut kedatangannya di depan meja kasir. Jajaran gelas pesanan para mahasiswa berderet warna-warni memenuhi nampan, dibawa bergantian oleh dua pelayan lain yang tampak sibuk meladeni teriakan dan suara-suara menagih dari kini-kanan. Jam makan malam adalah perang terbuka antara mulut-mulut lapar mahasiswa versus barisan penjaga kantin yang harus siap mental melayani mereka. Suasana yang mencegah Seokjin mampir di bawah pukul delapan, enggan menghadapi keramaian yang lebih brutal dibanding kerumunan ibu-ibu pemburu diskon akhir bulan.
"Cuma bisa pesan bawa, tidak ada tempat kosong."
"Tak masalah, tapi sebentar," Seokjin termangu meneliti menu, dibolak-baliknya lembar kaku di permukaan meja sambil menggaruk dagu. Perutnya belum terisi makanan berat sejak sore, namun Seokjin sedang tak berminat menunggu antrian. Masih tersisa enam cangkir mi instan di lemari kamar, cukup untuk hari ini dan besok pagi.
"Aku minta es kopi, tambah gula dan susu."
"Kopi?" kerut kening pegawai konter bak memastikan jika dirinya tak salah dengar. Tiga tahun menjadi langganan setia, tak sekalipun Seokjin berpaling dari sumber kalsium berwana merah muda yang senantiasa tertulis di daftar menu terlaris. Ujian semester macam apa yang membuatnya begitu frustasi sampai harus memesan kafein malam-malam begini?
"Kenapa aku dipelototi?"
Si pegawai segera mengibaskan-kibaskan tangan, "Ah, tidak. Es kopi kan? Biar kucatat dulu. Kebetulan tinggal seporsi."
"Kalau begitu aku pesan susu stroberi."
Dua kepala menoleh bersamaan menuju asal suara. Seorang pemuda jangkung menghampiri meja sambil merogoh kantong celana, berbalut kaus lengan pendek serta celana katun, sangat santai dan segar. Tubuhnya menjulang menjajari Seokjin yang melongo terpana, kemudian mengulang kata-katanya karena mengira tak ditanggapi, "Satu susu stroberi. Masih ada, kan?"
"Eh? Masih, masih ada! Banyak! Silakan tunggu. Kau juga, Jin-ah."
Mengangguk, Seokjin memainkan tali tudung baju selagi bergeser ke tepi. Kepala menunduk menghitung jumlah petak porselen di bawah sendal sambil pura-pura bergeming ketika Namjoon turut berdiri di sebelah, tangan dilipat dan sengaja berdehem agak keras.
"Suka kopi, hyung?"
Seokjin mendongak, memergoki senyum nakal yang menyilaukan, "Tidak juga. Kau sendiri?"
"Aku? Sedang ingin yang manis-manis," Namjoon sedikit merendahkan tubuh supaya bisa melihat ekspresi Seokjin lebih jelas. Poni lebat seniornya menutupi sebagian mata. Teduh, bening, berbinar. Sepertinya perlu ada penelitian khusus untuk menggali alasan mengapa Kim Seokjin begitu menawan, perpaduan sempurna paras cantik dan tampan. Namjoon sanggup menulis esai sepanjang jarak bolak-balik kampus-asrama mengenai pesona yang tak pernah bosan dikaguminya. Mulai dari raut muka hingga caranya tertawa, kepribadian maupun jalan pikiran. Segalanya indah. Entah karena wujudnya dipahat lebih lama oleh pemilik semesta, atau hanya karena Namjoon sedang jatuh cinta.
"Kalau butuh gula, pesan saja seporsi pencuci mulut."
"Benar juga ya," Namjoon sok terperangah, nada bicaranya turun di oktaf terendah, "Tapi aku tetap ingin susu stroberi."
"Ngotot sekali, kenapa sih?"
"Karena rasa manisnya pas, seperti bibir ketua tim pengawas."
Seokjin langsung tersedak ludah sendiri.
"Aku tak keberatan mengulang adegannya, kalau hyung lupa."
"Diam! Hish!" gerutu Seokjin, wajahnya mendadak panas begitu diingatkan, merah total mirip kulit tomat dan Namjoon menganggap reaksi tersebut sangat menggemaskan, "Kau selalu punya ide untuk membuatku terpojok, 0082. Jangan berlagak seperti tak pernah berciuman."
"Namjoon, Jin-hyung. Namaku Namjoon, tapi tak masalah jika huruf awalnya dipangkas untuk panggilan sayang," timpal juniornya tanpa dosa, pun menjawab lugas, "Aku bukan manusia suci dan konservatif, ciuman juga bukan topik baru yang perlu diistimewakan. Tapi untuk Jin-hyung, tentu saja ada pengecualian."
Seokjin menyipit curiga, "Maksudmu?"
"Aku belum pernah menyukai laki-laki sebelumnya," sergah Namjoon, mengulum bibir agak lama, "I'm not gay."
"Oh?"
Keduanya terdiam. Namjoon mengalihkan fokus ke arah kelompok mahasiswa tahun pertama yang berkerumun di meja ujung, sementara Seokjin memilih menjalin temali tudungnya disertai delik heran. Pernyataan berbumbu pengakuan tak pernah gagal menerbitkan kecurigaan.
"Kalau bukan gay, kenapa ka..."
"Pengecualian, sudah kubilang kan?" Namjoon menekankan, taring kecil menyembul lantang, "Ada istilah dari Yoongi-hyung untuk preferensi yang kuciptakan berdasar argumen semalam suntuk. Ingin tahu?"
"Apa?"
"Jinseoksual."
"Kau gila."
Namjoon nyengir menerima lirikan sengit, "Saat diberitahu kalau aku tak tertarik dengan lelaki selain Jin-hyung, dia memberiku julukan tadi."
"Tidak tertarik? Yakin? Mungkin saja penyebabnya karena kau belum menemukan yang lain," ledek Seokjin, mengangkat bahu jumawa, "Uji ulang preferensimu dengan berpatroli di kampus ilmu politik atau matematika, siapa tahu bertemu yang lebih memukau dan ramah. Walau kurasa tidak ada yang setampan Kim Seokjin di luar sana."
"BHAHAHAHAHAHA!"
"Oi."
"BHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Tergelak, Namjoon terbungkuk-bungkuk menyelesaikan tawa, tak peduli dirinya diamati oleh berpasang-pasang mata yang lewat membawa pesanan. Seokjin berdiri sewot. Apa salah memuji diri sendiri?
"See?" dekik Namjoon masih terdengar nyaring, susah payah menegakkan tubuh agar sejajar lagi. Perut dipegang geli sembari berpegangan di salah satu pilar kantin, "Kau tak pernah setengah-setengah berkelakar dan sangat percaya diri tiap mengatakan sesuatu. Sumpah demi apapun, hyung. Sepertinya aku akan awet muda jika terus berdekatan denganmu."
Alis Seokjin menukik bingung, "Taehyung dan Chanyeol biasanya langsung mundur dan berlagak tak kenal jika aku mulai melucu. Kau tidak malu?"
"Tidak," jawab Namjoon seketika, "Aku jatuh cinta pada orang yang tepat."
Baiklah. Telak.
Seokjin menelan balik kalimat yang sekiranya ingin dipakai berkilah, terkutuklah Namjoon dan mulut pujangganya yang menyebalkan. Bohong besar bila Seokjin mengaku tak tergerak. Dicobanya berbalik menuju meja kasir untuk mengambil minuman begitu jenis pesanan mereka diserukan keras-keras, sekaligus menarik-narik rambut menutupi rahang sebagai aksi menyembunyikan telinga yang berasap. Namjoon menyusul di belakang, menanyakan jumlah, lantas menahan lengan Seokjin yang hendak mengeluarkan dompet dan berujar agar diijinkan membayar.
Keduanya berjalan menyusuri koridor menuju pelataran sambil menyesap minuman masing-masing, ditemani pepohonan di tiap sisi serta gemerisik semak berlatar riuh-rendah mahasiswa yang masih hilir-mudik mencari kegiatan sebelum dibatasi jam malam.
"Cuma dibelikan kopi, murah sekali."
"Hyung mau dibawa ke kafe?" sahut Namjoon menimpali, peka terhadap sindiran, "Aku bukan jutawan, tapi kalau sekedar memesan tempat untuk dua orang sih kurasa bukan masalah. Jin-hyung suka daging panggang? Shabu-shabu?"
"Carbonara."
"Kita kan sudah pernah ke restoran Italia."
"Undang-undang mana yang merinci kalau restorannya cuma boleh dikunjungi satu kali?"
Kali ini Namjoon terpaksa berhenti melangkah untuk, lagi-lagi, berpegangan di tiang koridor dan terpingkal-pingkal sepuasnya sampai Seokjin harus berjongkok menemani. Khawatir kalau-kalau juniornya kerasukan roh penunggu asrama atau sejenisnya. Yoongi dan Jimin yang melintas pun tak luput mengamati, walau mengiyakan untuk berlalu pergi usai Seokjin menjamin bila Namjoon hanya terserang bakteri yakult basi.
"Puas tertawanya?"
"Pffft," kikik Namjoon tak dapat ditahan, "Maaf. Tapi caramu mengomel itu lucu sekali, aduh, perutku..."
"Aku benar kan?"
"Tentu, tentu, tak ada peraturan tertulis soal frekuensi kunjungan. Aku akan menemani hyung makan di sana sesering mungkin, tiga kali sehari kalau perlu," celetuk Namjoon seraya menyeka dagu yang belepotan cairan susu, "Lagipula kita belum berkencan sama sekali, terakhir cuma pergi ke toko boneka dan makan pasta."
Seokjin mengaduk minuman sambil melanjutkan langkah, gelasnya diacungkan ke udara lalu berujar setengah hati, "Sejujurnya aku kurang suka berbaur dengan keramaian. Lebih baik menonton televisi di kamar dan menelepon pizza sekenyangnya, menghemat tenaga dan bahan bakar, juga tak perlu antri."
Di sebelahnya, Namjoon mengangguk samar, sibuk membiasakan lidah dengan rasa asing di wadah transparan yang masih tersisa banyak. Jauh dari selera, namun tidak buruk sebagai selingan pembuka.
"Jangan memaksakan diri," tukas Seokjin seolah menyadari, lengan terjulur menggapai gelas dari tangan Namjoon yang tak sempat berkelit, "Aku tahu kau bukan penggemar minuman manis."
"Aku hanya..."
"Sekali lagi berkomentar soal rasa bibirku, akan kutendang kejantananmu sampai membiru."
"Jahatnya."
"Memang! Siapa bilang aku orang baik?" tantang Seokjin dengan dagu mendongak, "Kau tak akan tahan menghadapiku lebih dari seminggu. Sebaiknya balik kucing dan lapor pada anak-anak itu kalau senior Seokjin sudah menyakiti hatimu."
Mengerjap menikmati bagaimana bibir Seokjin berceloteh sinis dalam kondisi lembap, merah jambu, dan berlapis bekas lelehan kopi yang menggelitik untuk dicicipi—Namjoon memilih memarkir tungkai di tempat tanpa perlawanan. Persetan dikatai budak oleh Yoongi, dirinya sudah terpikat dari ujung kepala menuju kaki.
"Dengar tidak?!"
"Dengar, on point, sangat jelas," Namjoon menghela napas panjang penuh puja. Cantik sekali, sialan, "Sayangnya, aku tak bisa diusir berbekal ancaman kosong. Baru sekitar tiga hari, tak ada bukti jika hyung berani menyusun rencana buruk pada junior sendiri."
Bola mata Seokjin melebar tersinggung, "Kau pikir aku tak tega?"
"Oh, silakan, lakukan di sini. Lagipula..." Namjoon menyeringai buas, mimiknya menyiratkan bahaya dibarengi kepala yang condong menghampiri, "Aku suka disakiti."
"Masokis."
"Hyung juga sadis," sambar Namjoon cepat, "Bukankah itu artinya kita saling melengkapi?"
"Dalam mimpi."
Sang junior terkekeh penuh kemenangan selagi Seokjin melesakkan es kopi miliknya ke dada Namjoon. Sudah minta sendok gula ganda ditambah susu kental manis sejagat raya, tapi kesan pahit dari minuman itu masih terasa pekat di tiap tegukan. Lebih baik bersikap spontan dengan minta tukar dibanding menutupi fakta bila tindakannya juga didasari penasaran.
"Ini namanya ciuman tidak langsung, kan?" Namjoon iseng memancing amarah, tampaknya hobi memantik perseteruan sudah mengalir dalam darahnya, "Atau jangan-jangan hyung juga kangen dengan bibirku?"
"Kim Namjoon."
"Ya?"
"Kau mau kubunuh lalu kukubur sembarangan di semak-semak dekat taman?" umpat Seokjin kesal, tinjunya terkepal menuding hidung Namjoon yang malah terlihat santai diladeni terus menerus, "Kemarikan tanganmu."
"Ha?"
"Cepat!"
Bingung, yang diminta segera menyodorkan telapak tangan terbuka dan menunggu perintah. Seuntai tali biru tua bersemat gerigi keemasan diletakkan di atasnya dan Namjoon reflek membelalak, mulutnya menganga bak menerima tongkat warisan dari pangeran berdarah campuran.
"Hyung..."
"Kuserahkan padamu," tukas Seokjin singkat, memalingkan muka sambil pura-pura terbatuk, "Jangan dikecewakan."
Tersenyum gembira hingga lesung pipinya melekuk dalam, Namjoon menggenggam hadiah tersebut sambil mengangguk patuh. Bukan lagi masa pelatihan dan tak dinaungi acara senioritas, tapi untuk titah yang satu ini, Namjoon akan melaksanakannya sepenuh hati tanpa banyak negoisasi.
"Akan kujaga baik-baik," gumamnya, mengiyakan, "Aku janji."
Seokjin ikut manggut-manggut, canggung. Rambut digaruk selagi gelas susunya diremas tak jelas. Toleh samping, kanan, kiri, hampir tak ada lagi mahasiswa yang melintasi koridor dan suasana berubah hening. Ditatapnya sejenak Namjoon yang masih tersenyum, menautkan kembali tudungnya, kemudian menimbang-nimbang gamang seraya menuding ke belakang.
"Ada yang ketinggalan di kamar Hoseok, harus diambil sekarang..." kepalan tangannya maju mundur ragu, hanya untuk direnggangkan memberi lambaian sekilas, "Ka, kalau begitu aku pergi dulu. Selamat malam."
Punggung berlapis sweater tebal itu menjauh setengah berlari, meninggalkan Namjoon yang bergeming dikelilingi tiang dan hembusan angin. Rautnya pasti terlihat begitu bodoh dan memalukan, namun garis melengkung yang terukir di wajah Namjoon belum akan hilang untuk beberapa saat ke depan.
"Selamat malam juga," bisiknya, lirih, "Jin-hyung."
.
.
.
.
