Naruto selamanya milik Bapak Masashi Kishimoto.

*Semi collab with Hanaruppi*

.

.

Kepulan asap hitam itu perlahan naik, ikut terbang bersama angin lalu menghilang di kejauhan. Sebagian beterbangan di sekitar, menjadi penghalang bagi berpasang-pasang mata para prajurit yang masih saling mempertahankan tujuan mereka.

Ayunan pedang dan letusan senjata masih menjadi hidangan utama bagi tubuh pasukan kedua kubu. Sebagian besar masih berjuang, sebagian kecil sudah tergeletak tak bernyawa. Diabaikan dan tidak juga dikenang.

Namun di sisi kecil dari peperangan itu, menyisakan beberapa orang yang tengah terdiam. Antara terkejut dan tak percaya pada adegan di depan mereka. Adegan dari dua orang bersaudara yang saling beradu dan berakhir dengan sang kakak jatuh sebagai pemegang kendalinya.

Sasuke jelas tidak bisa berkutik. Tidak bisa bergerak ke mana pun karena pedang yang seolah memaku tangannya, membuatnya menyatu dengan tanah. Mata sang kakak pun tidak lagi menatap padanya. Mata hitam itu beralih pada sosok lain yang ia juga anggap sebagai pengganggu. Sama seperti adiknya. Itachi menengakkan tubuhnya lalu melesat cepat menuju kedua sosok yang bahkan tidak menyangka akan menjadi target Itachi berikutnya.

Sai, yang tanpa persiapan apapun berakhir dengan mendapat satu tusukan di perutnya. Serangan itu tidak sempat ia halau. Kedua tangannya yang memegang wakizashi baru sempat terangkat, namun Itachi sudah terlebih dahulu menghunuskan pedangnya. Melukai sisi kanan perut Sai, di mana satu tangan mencengkram bahu Sai kuat. Menunggu hingga Sai benar-benar tidak mampu untuk berkutik.

Satu buah wakizashi yang berada di tangan kiri Sai pun terlepas dari genggaman. Mata kanannya menyipit akibat rasa perih yang timbul dari lukanya. Barulah Itachi menarik cepat katana-nya sehingga tubuh Sai jatuh. Ia berlutut sembari memegangi perutnya yang terluka. Kepalanya menunduk, napasnya terengah, Sai mengerang pelan. Darah dari perutnya mengalir cukup deras.

Tatapan datar Itachi kini berpindah. Wajahnya sedikit terangkat untuk menatap satu sosok yang sedari tadi berlindung di balik punggung pria yang baru saja ia lumpuhkan. Sosok perempuan dengan kedua mata yang terbelalak menyaksikan kejadian yang menimpa Sai.

"Hentikan! Itachi!" teriak Sasuke. Namun baru sedikit saja ia bergerak. Perih dan sakit segera menyambar dari telapak tangannya, merambat cepat, menghasilkan erangan keras meluncur dari mulutnya. Sampai-sampai kedua matanya terpejam erat.

Saat mata hitam itu kembali terbuka, tampaklah Sakura yang terlihat jelas ketakutan. Bahkan ketika Itachi bergerak maju dengan perlahan, Sakura masih terdiam di tempatnya. Matanya terus terpaku menatap pria di depannya. Sepertinya rasa takut itu melemahkan semua sendi-sendi tubuhnya. Mungkin juga telah merenggut seluruh tenaganya.

Sakura menelan ludahnya saat mata hijaunya menangkap katana Itachi yang berlumuran darah. Lalu terbesit bayangan mengerikan di benaknya. Bagaimana jika benda tajam itu mendarat di tubuhnya?

"Itachi!" Teriakan itu kembali terdengar semakin keras dan membuyarkan lamunan Sakura. Menyadarkannya kembali pada kenyataan yang harus ia hadapi. Namun tidak berlaku bagi sang pemilik nama, yang tidak menghiraukan suara keras itu.

Kini jarak keduanya semakin menipis. Sasuke yang terbakar kepanikan tanpa ragu segera menggenggam katana-nya. Berniat untuk mencabutnya. Tidak peduli jari-jarinya akan putus karena sisi tajam besi yang ia tekan kuat-kuat. Karenanya, darah pun mengalir deras disertai deru napas yang menggebu. Matanya memicing, menahan perih. Tapi Sasuke tidak peduli.

Fokusnya hanya satu, yaitu menyelamatkan Sakura.

Sai—yang meski terluka, mencoba semampunya untuk menghalangi Itachi dan menyelamatkan Sakura. Sayangnya harus rela tertahan oleh pasukan Itachi. Dirinya terkepung oleh belasan musuh. Sepertinya memang dari awal Sakura-lah yang menjadi incaran Itachi.

Belati yang digenggam kuat oleh tangan Sakura ikut bergetar seiring rasa takutnya yang ikut membesar. Meski kini ia mencoba sekuat tenaga untuk menutupinya. Tapi sepertinya hal itu sia-sia saja. Terbukti dengan Itachi yang tertawa pelan saat Sakura mengangkat belatinya. Menodongkan senjata kecil itu dengan tangannya yang masih juga bergetar. Ketakutan itu rupanya tidak bisa ia sembunyikan.

"Apa kau takut?" tanya Itachi.

Sakura menghela napas sebelum menjawab pertanyaan barusan. Mencoba untuk menetralisir ketakutannya, "Tidak hanya takut. Ada rasa benci, kesal, marah, jijik. Perlukah aku memberitahu semuanya padamu?"

Bahkan tatapan matanya saja terasa begitu mencekam, kala Itachi lebih memilih untuk diam. Tidak menggubris pertanyaan Sakura.

Katana Itachi terangkat. Dipertemukan ujung pedang itu dengan belati milik Sakura, "Kau pikir bisa membunuhku dengan benda ini?" ejeknya.

Lalu dengan pedangnya, Itachi menggeser todongan belati Sakura. Perlahan katana Itachi bergerak hingga berada di samping leher Sakura. Ia putar katana-nya. Mempertemukan sisi tajam pedang itu dengan kulit leher Sakura.

"ITACHI!"

Dan suara lantang Sasuke pun membuat Itachi melirik sejenak padanya. Sosok yang tengah mati-matian melepas pedangnya. Tidak pernah ia melihat wajah Sasuke sepanik ini. Keangkuhan yang biasa ia perlihatkan telah hilang tidak bersisa.

"Hentikan … kumohon …."

Sudut bibir Itachi sedikit tertarik. Menampilkan seringai kecilnya atas ucapan permohonan yang baru saja ia dengar. Adik kecilnya baru saja memohon padanya. Bukankah itu sungguh menarik?

"Menurutmu itu lucu?" tanya Sakura lantang seolah menantang. Bahkan Sakura melupakan besi tajam yang mengancamnya. Kemarahannya tiba-tiba saja memuncak kala ia menemukan seringai remeh itu di wajah Itachi. Apa menurutnya semua yang ia lakukan sekarang seperti sebuah permainan? Apa permohonan seseorang terlihat seperti sebuah pertunjukan?

Mata hitamnya kembali tertuju pada Sakura. Perempuan yang baru saja melemparkan pertanyaan padanya. Mata hijaunya tengah menatap garang, walau ketakutan itu masih tak jua hilang.

"Kalian memang tidak sama. Tentu saja … karena kau tidak memiliki hati," ucap Sakura tegas. Matanya berkilat penuh keyakinan. Namun ekspresi Itachi tidak berubah. Garis-garis wajahnya tetap keras. Sepertinya perkataan Sakura tidak berpengaruh apapun padanya.

"Hiashi Hyuuga, dialah pemilik ide untuk membunuh Kizashi Haruno. Bukankah menurutmu pria itu juga pantas mati?" tanya Itachi tajam.

"Bukan kau yang menentukan seseorang itu pantas atau tidak," jawab Sakura tak kalah tajam. Diturunkan todongan belati miliknya kemudian ia tegakkan kepalanya.

"Lakukan. Bukankah ini yang juga dulu dilakukan Tou-san-mu pada Tou-san-ku? Inikah yang kausebut kebahagiaan?" tantangnya. Ketakutan yang sempat menderanya seolah menguap.

Genggaman pada pegangan katana-nya mengerat. Itachi terlihat enggan untuk menjawabnya. Dihabiskan waktu hanya dengan menatap mata hijau di depannya. Tatapan itu bertahan dalam waktu yang sedikit lebih lama. Seolah meneliti, menimbang dan berpikir, sebelum akhirnya memutuskan.

Dengan perlahan Itachi menarik katana-nya. Hawa dingin dari besi panjang terasa menggesek leher Sakura, anehnya tidak ada perih yang mendera hingga hawa dingin itu lenyap. Menandakan bahwa pedang itu tidak lagi menawannya.

Itachi melepaskan leher putih itu tanpa luka. Tentunya hal itu membuat Sakura tercengang. Hal yang sama juga dialami Sasuke. Sebelumnya, saat melihat pedang itu bergerak mengiris leher Sakura. Ia merasa pedang itu juga mengiris jantungnya. Sakit di seluruh tubuhnya tidak mampu menandingi sakit pada hatinya. Sasuke bahkan lupa caranya untuk bernapas. Namun kini Sasuke tidak memercayai apa yang dilihatnya. Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Itachi? Mungkinkah ia memutuskan untuk menyetujui idenya?

Tak perlu waktu lama bagi Sasuke untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu, karena kalimat yang keluar dari mulut Itachi menegaskan semuanya.

"Akan kutunjukkan padamu, apa yang menjadi kebahagiaan untukku."

Setelahnya Itachi pun berbalik pergi. Berjalan dengan tenang, seperti para pasukannya yang kini diam. Berdiri dengan siaga sesuai perintahnya. Tidak lagi melancarkan serangan pada Sai. Pria yang dikelilingi oleh belasan pasukan. Mereka mengurungnya sesuai perintah Itachi.

Itachi bahkan tidak melirik sedikit pun pada Sasuke. Ditulikan pendengarannya meskipun Sasuke memanggil namanya dengan lantang. Tak dihiraukannya, bagaikan embusan angin yang ia biarkan berlalu begitu saja. Lagi pula urusan mereka sudah selesai jadi tidak perlu ada pembicaraan lagi.

Dengan mudahnya Itachi mampu melewati kerumunan para pasukan Zabuza dan pasukannya yang tengah beradu. Saling mempertahankan perintah yang diberikan oleh pemimpin mereka. Kakinya melangkah dengan santai saat memasuki kerumunan itu. Pedangnya kembali bergerak, menebas cepat pada siapa saja yang menghalanginya. Tidak ada kesulitan yang berarti.

Itachi terus melangkah maju dan segera menghampiri Hashirama, pria yang kini memasang wajah kebingungan dan juga ketakutan. Bahkan ia sendiri menyiagakan diri dari Itachi.

Langkah kakinya terhenti saat todongan senjata menyapa kedatangannya, "Kau mau membunuhku?" tanya Itachi tenang. Tidak seperti pria di depannya yang kini gemetaran.

"Mengapa kau tidak membunuh mereka? Apa karena dia adalah adikmu?" tanya Hashirama takut. Terlebih saat ia menatap mata hitam pria di depannya. Terlalu kelam, dan warna hitam itu terlalu sulit untuk ia baca.

Seringai kecil terpasang di wajah Itachi, "Aku hanya ingin dia menyaksikan jalan yang aku pilih. Aku ingin dia merasakan kekalahan sebelum kematian datang padanya."

Tidak ada sedikit pun rasa takut pada nada ucapan Itachi. Pria itu menjawab dengan tenang. Seolah todongan senjata mengerikan itu bukanlah masalah besar untuknya.

"Lalu yang lainnya?"

Kali ini mata Itachi menajam, "Mereka hanya sampah yang tidak berguna. Tidak perlu mengurusinya, jika sudah tiba saatnya mereka juga akan ikut mati."

Kepercayaan Hashirama kembali. Pria itu mengangguk cepat, menyetujui jawaban Itachi. Senyuman kebahagiaan juga kembali di wajahnya. Karenanya tangannya tidak lagi memegang kendali galting gun, "Kau benar. Sudah seharusnya kita terfokus pada rencana kita."

Itachi hanya bergumam rendah sembari berdiri di samping Hashirama.

"Tidak perlu mendengarkan omong kosong adik kecilmu itu. Dia tidak mengerti apapun. Terlebih mengenai dirimu. Dia tidak mengerti bahwa jalan yang kaulalui adalah jalan yang benar. Pria itu memang pantas mati, Itachi. Kau tidak salah," ucap Hashirama yang kini menepuk bahu kiri Itachi.

"Aku tahu," sahut Itachi tenang.

Senyuman Hasirama pun melebar, "Tentu. Memang hanya ini yang pantas diterima oleh Hiashi. Pria itu pantas membayarnya. Jadi sekarang saatnya bagi kita untuk mewujudkan impian— "

"Aku tahu," potong Itachi cepat. Secepat gerakan tangannya.

Kedua mata Hiashirama melebar. Mata yang kini bergerak turun, menatap sebuah benda tajam menusuk tubuhnya. Kemudian ia kembali menatap Itachi dengan pandangan tak percaya, "—A-ap-pa …"

"Aku tahu bahwa kau tidak layak mendapatkan posisi itu," ucap Itachi yang kini menarik pedangnya. Beberapa tetes darah menciprat dan mengotori pakaiannya, terlebih pada tangannya.

"K-kau … be-berengsek!"

"Aku tahu."

Tubuh Hashirama pun terjatuh. Tergeletak dengan tangan kanannya menekan kuat luka di dadanya. Menahan aliran darah itu, yang sayangnya hanya berakhir percuma. Cairan merah itu mulai menggenang di sekitar tubuhnya.

Matanya menatap murka pada Itachi. Tidak pernah ia menyangka bahwa Itachi akan mengkhianatinya. Jadi, apakah pria itu memilih untuk berdiri di pihak Sasuke? Karena itukah ia tidak membunuh mereka?

Seolah mengerti, Itachi lantas berucap, "Aku hanya menyetujui bahwa kau memang tidak pantas duduk di kursi itu. Pria sepertimu tidak pantas memimpin negeri ini. Selebihnya, aku tetap pada jalanku. Hiashi Hyuuga harus mati. Itulah tujuanku hidup hingga saat ini."

Dengan wajah datar, bahkan tanpa adanya perasaan bersalah. Itachi melangkah pergi, berjalan dengan santai menuju gerbang utama istana, meninggalkan Hashirama yang masih menatap murka kepergiaannya.

Pria itu baru saja mengkhianatinya!

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Hashirama mencoba bangkit. Amarah yang membara di dalam dirinya seolah memberi energi. Tangannya meraba-raba mencari tumpuan dan senjata galting gun yang berada di dekatnya menjadi alat bantunya. Akhirnya ia pun bangkit, meski dengan susah payah. Mata yang penuh kemarahan menatap ke sekitar, lalu seringai licik muncul ketika tatapan mata itu jatuh pada seseorang. Seseorang yang kini menjadi incaran Hashirama.

Diubahnya arah serangan senjata itu. Usahanya tersebut membuat napasnya semakin berat, dan keringat kini membasahi tubuhnya. Namun hal itu tidak jua menghalangi niatannya untuk segera menghabisi orang itu. Orang yang tidak akan mampu untuk menghindari serangannya. Pria dengan pedang yang menancap di telapak tangannya. Ya, dialah Sasuke Uchiha. Adik laki-laki Itachi yang menjadi sasaran galting gun.

Hashirama sadar, semua yang diucapkan Itachi tadi hanyalah bualan belaka. Ia yakin bahwa itachi memang tidak akan pernah bisa membunuh adiknya. Apalah arti keberhasilan misinya jika ia akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki? Dan pastinya kematian Sasuke akan membuat Itachi menderita.

Itulah tujuan Hashirama sekarang.

Dari jarak yang cukup jauh, Sasuke tahu Hashirama sedang menatap dirinya. Terlebih dengan senjata yang juga kini mengarah padanya. Sasuke sendiri belum bisa melepas pedangnya. Kondisinya saat ini tidak memungkinkan baginya untuk menghindari serbuan peluru yang akan datang.

Apakah ini akhir dari hidupnya?

Beberapa menit sebelum Hashirama menarik pelatuk senjatanya. Sakura sudah terlebih dahulu menggerakkan kedua kakinya, berlari sekencang-kencangnya. Sai yang semula berniat untuk mencegahnya, sekali lagi harus rela tertahan oleh kepungan musuh. Hanya teriakan kencang meluncur dari mulutnya. Memanggil dan memerintahkan pemilik nama itu untuk berhenti.

Sontak pandangan Sasuke berubah. Matanya menangkap sosok Sakura kini berlari menghampirinya. Tidak adanya penjagaan dari pasukan Itachi semakin mempermudah dirinya.

"Tetap di sana!" perintah Sasuke. Matanya melebar, menyadari bahwa perintahnya diabakan begitu saja oleh Sakura.

Perasaan tak mengenakkan mulai menyeruak dan bayang-bayang masa lalu yang menyedihkan kembali muncul. Dalam hati, Sasuke sudah mengutuk Sai yang tidak bisa menahan Sakura. Mengumpat kesal karena tidak bisa berkutik dari kepungan lawan. Sepertinya perasaan tak mengenakkan itu menelan logikanya. Jelasnya, Sasuke ketakutan. Bukan takut akan kematian yang menghampirinya, tapi takut akan kehilangan.

"Berhenti, Sakura!" perintahnya lagi, namun hasilnya tetap sama.

Perempuan itu kini berlutut di depannya. Kedua tangannya memegang erat handle pedang itu, lalu menariknya sekuat tenaga. Pedang yang ternyata cukup dalam menancap ke tanah.

"Pergi!"

"Tidak!" teriak Sakura di sela-sela kegiatannya, menolak tegas perintah Sasuke.

"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," sambungnya dengan menatap dalam pria yang kini mendongak. Mempertemukan kedua mata mereka.

"Pergi. Kubilang pergi, Sakura!"

Perintah itu kembali terabaikan. Sakura lebih memilih terfokus untuk melepaskan besi panjang itu. Ia juga mengabaikan tatapan tajam Sasuke. Kedua matanya terpejam saat menarik katana itu, namun tidak ada yang berubah. Pedang itu masih kokoh, bahkan bergerak pun tidak.

Mengetahui bahwa pedang itu tidak bisa ia cabut. Kepala Sakura tertunduk lemas, bersandar pada handle pedang Sasuke. Ia menghela napas berat. Sepertinya tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Sasuke. Hanya itu jalan keluar satu-satunya.

Lalu satu tangannya turun, melepaskan cengkaram Sasuke pada batang besi tajam itu. Tangan yang selalu melindunginya. Tangan yang sudah menolongnya. Tangan yang kini berlumuran darah, dan itu juga karena dirinya kemudian digenggamnya erat, tak peduli darah itu ikut menodainya.

"Maafkan aku," ucap Sakura dalam.

Mata hitam itu bergetar, ketakutan. Kepanikan kembali melandanya. Begitu besar hingga mendesaknya. Genggaman tangan itu pun semakin mengerat. Tidak peduli hal itu menimbulkan perih pada Sasuke. Tangan itu bereaksi tanpa sadar, bentuk dari ungkapan perasaan karena tidak ingin kehilangan. Keduanya saling menggenggam seolah enggan untuk melepaskan.

"Tidak, kumohon, Sakura. Jangan lakukan ini padaku."

Dan akhirnya desingan peluru itu terdengar karena Hashirama telah menarik pelatuk senjatanya. Terdengar seperti suara panggilan kematian bagi keduanya.

"PERGI, SAKURA!" teriak Sasuke panik.

Namun perempuan itu memilih memasang senyum di wajahnya sebelum memutuskan untuk memejamkan kedua matanya. Bersiap menerima hujaman peluru yang datang. Menggunakan tubuhnya untuk melindungi Sasuke.

Desingan peluru itu masih terdengar, namun tidak ada satu butir pun peluru yang bersarang di tubuh Sakura. Menyadari keanehan itu segera Sakura menolehkan wajahnya dan mendapati tubuh Itachi berdiri, menerima hujaman peluru itu sebagai penganti dirinya.

Mendapati keterkejutan pada perempuan di depannya, mata hitam itu kini menatap lurus. Memandang ke arah yang sama. Seiring dengan tubuh Sakura yang bergeser, maka tampaklah sosok Itachi yang berlumuran darah.

Tubuh Itachi dipenuhi lubang, dan darah mengalir dari sana. Membungkus tubuh itu dengan warna merah. Peluru bahkan menembus dahinya. Cairan merah itu pun mengalir melewati hidung lalu ikut menetes dari ujungnya. Jatuh ke tanah bersamaan dengan tubuhnya. Menimbulkan bunyi berdebam yang cukup kencang tepat saat Sasuke meloloskan sebuah suara dari mulutnya.

"Nii-san …" panggil Sasuke lirih. Dengan mata terbelalak, tak percaya.

Semua terjadi begitu cepat.

Peluru itu masih terlontar dari senjata yang kini sudah mengarah entah ke mana. Zabuza yang juga menyadari niatan Hashirama, segera melesat dan menghabisi nyawanya. Karenanya saat tubuh Hashirama terjatuh dan membuat arah senjata itu juga ikut berubah. Meski begitu, lontaran peluru sebelumnya telah menewaskan Itachi Uchiha. Butir-butir logam itu seketika merenggut nyawanya.

Lantas senangkah Sasuke? Harus bahagiakah dirinya karena Sakura selamat?

Nyatanya tetap ada kepedihan dan rasa sakit di dalam hatinya saat menyaksikan tubuh itu roboh menghantam tanah tanpa daya. Memancing kembali rasa sakit yang dulu pernah menyerangnya.

"Sasuke harus pergi dan mencari Onii-chan. Dia adalah Itachi Uchiha, pergi dan hiduplah dengan rukun bersama dengannya."

"Dia adalah laki-laki yang sangat baik jadi dia pasti akan melindungi Sasuke dari apapun karena Itachi sangat menyayangi Sasuke."

Dan kepingan masa lalunya kembali datang menyapanya. Ucapan terakhir yang keluar dari mulut Mikoto—ibunya, memacu seketika air di pelupuk matanya. Meremas kuat hatinya. Sasuke benci menangis, namun rasa sakitnya tidak sanggup ia tahan lagi.

Ibunya benar. Itachi baru saja melindunginya dan Sasuke tersadar, perasaannya yang ia miliki untuk Itachi, dimiliki sama besarnya oleh pria itu. Sebesar apapun rasa dendamnya, tidak bisa menandingi besarnya rasa kasih sayang Itachi pada Sasuke.

Kepala Sasuke menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya. Permintaan terakhir ibunya tidak dapat ia wujudkan. Dari awal rencana yang telah ia susun sedemikian rupa telah hancur berantakan. Di mana salah satu rencana terakhirnya adalah untuk hidup bersama Itachi, keluarga yang ia miliki satu-satunya. Pria yang akhirnya juga pergi meninggalkannya.

Di tanah yang sama. Tubuh kedua pria itu berada dalam posisi yang sama. Membujur dengan satu tangan terulur. Sayangnya jarak menjadi pemisah sehingga kedua tangan itu tidak bisa saling berpegangan.

Tanpa kata. Itulah akhir dari seorang Itachi Uchiha. Pria yang memilih mati mengorbankan diri untuk melindungi adik laki-lakinya. Mengabaikan misi seumur hidupnya demi melindungi apa yang menjadi kebahagian Sasuke, karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Hanya itu yang bisa ia berikan sebagai seorang kakak dari Sasuke Uchiha. Adik yang sangat ia sayangi.

Tewasnya Itachi dan Hashirama dalam jangka waktu yang hampir bersamaan membuat seluruh pasukan mereka terdiam. Bagaikan kapal yang kehilangan nahkodanya. Mereka tidak lagi mengerti apa yang harus mereka lakukan.

Sai memanfaatkan keadaan itu. Dengan langkah yang terseret-seret, ia segera menghampiri Sasuke dan juga Sakura. Segera dicabutnya pedang yang menahan tubuh Sasuke. Katana yang kini tergeletak di tanah. Membebaskan tubuh pemiliknya. Sasuke yang mulai bangkit langsung mendapat terjangan dari Sakura. Kedua tangan itu melingkari bahu Sasuke. Dipeluknya erat tubuh penuh luka itu. Tak peduli pria itu merasakan sakit atau tidak karena tindakannya.

Sasuke sendiri tidak berusaha untuk melepaskan pelukan itu. Malah dibenamkan seluruh wajahnya di bahu Sakura, menyandarkan seluruh kesedihannya. Karena saat ini, Sasuke merasakan kelegaan dan kepedihan secara bersamaan. Perasaan yang membuatnya kalut.

Dan pelukan ini, serta belaian lembut pada punggungnya. Terasa bagai obat penawar rasa sakitnya. Memang tidak seketika menyembuhkan. Namun mampu memberi kekuatan.

Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya. Hanya keheningan dan kebisuan hingga pelukan itu terlepas. Sasuke-lah yang melepaskannya, merasa telah cukup bisa membenahi emosi yang sempat menguasainya. Bahkan jejak-jejak penginggalan air mata tidak tampak di wajahnya.

Sasuke pun bangkit dengan dibantu Sakura. Tangan kirinya melingkar di bahunya. Sakura kini menopang tubuh Sasuke yang penuh dengan luka. Mereka pun berjalan perlahan menghampiri jasad Itachi.

Setiap langkah yang ia jejakkan semakin mengeraskan guratan pada wajah Sasuke. Sekuatnya ia mencoba menahan kesedihan. Namun mata hitam itu meloloskan tekadnya. Terlihat jelas luka itu terpancar di matanya, dan juga pada sepasang mata hijau di sampingnya.

Bagai bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Sasuke. Sakura pun meneteskan air matanya. Seolah mewakili pria di sampingnya yang mencoba tenang menatap tubuh kakaknya.

"Apa inikah jalanmu, Itachi?" tanya Sasuke lirih. Pertanyaan yang ia tahu tidak akan pernah mendapatkan jawaban. Sesak kembali menghantam dadanya. Helaan napas berat menjadi satu-satunya cara Sasuke untuk mengusir perasaan itu. Dipalingkan sejenak pandangannya, diikuti oleh tarikan napas kencang.

Sakura melirik, menatap upaya yang sedang dilakukan Sasuke untuk menahan kesedihannya. Dan wajah penuh luka itu semakin menambah deras air mata yang turun, seakan Sakura benar-benar merasakan perasaan sakit itu. Lalu, ia genggam kuat tangan Sasuke, mencoba menyadarkan pria itu bahwa ia tidaklah sendiri. Ada dirinya. Di sisinya.

Hal itu sukses membuat Sasuke menoleh, mendapati Sakura yang tengah terisak—tanpa melepaskan tatapannya dari jasad Itachi. Wajah cantiknya dipenuhi air mata. Kedua sudut bibirnya tertekuk ke bawah. Anehnya pemandangan itu malah membuat satu sudut bibir Sasuke tertarik. Ia tersenyum tipis. Tangisan pilu Sakura seakan mengangkat sedikit beban berat di pundaknya.

Diulurkan tangannya tepat di depan wajah Sakura, dengan punggung tangan yang mengarah pada sepasang mata hijaunya. Menutupi pengelihatan Sakura yang masih terfokus pada jasad Itachi. Saat itu juga isakan Sakura terhenti, terkejut karena uluran tangan Sasuke yang perlahan bergerak semakin mendekati wajahnya.

Tangan itu terhenti saat sudah menyentuh wajah Sakura, dan dengan perlahan Sasuke menggerakkan punggung tangannya untuk menyeka air mata Sakura. Isyarat agar Sakura menyudahi tangisannya.

Karena bukan tangisan yang akan menjadi pengantar perpisahan mereka. Bukan ini yang seharusnya Sasuke berikan pada Itachi setelah apa yang telah Itachi berikan padanya.

"Terima kasih, Nii-san," ucap Sasuke dalam. Sedalam tatapan matanya. Inilah yang seharusnya menjadi pengantar perpisahan mereka sehingga apa yang telah Itachi berikan padanya tidaklah menjadi sia-sia. Yaitu, kebahagiaan.

Pandangan itu pun terputus kala mendapati sesosok pria berdiri di depannya. Namikaze Naruto, diikuti oleh Hinata di belakangnya kini memberi penghormatan terakhir pada jasad Itachi. Bagaimanapun juga pria itu adalah kakak dari sahabat terbaiknya.

Ada satu hal yang Sasuke sadari dari kemunculan dua orang itu. Kedatangan mereka menandakan bahwa Naruto telah berhasil menyelesaikan tugasnya, yang mana itu berarti Kaisar Hyuuga telah berhasil dikalahkannya. Lebih tepatnya telah tiada.

Ada luka yang sama besarnya yang terpancar jelas pada mata Naruto, namun pria kuning itu sepertinya juga enggan untuk menjelaskan. Hinata-lah yang lebih dulu memecah keheningan di antara mereka. Ia melangkah maju, menyamakan posisinya dengan Naruto lalu membungkuk dalam.

"Hinata," gumam Sakura yang tidak menduganya. Bahkan ia sempat melirik sesaat pada Naruto, yang ternyata memilih berdiam diri. Sama sekali tidak berniat mencegah Hinata.

"Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai permintaan maafku ... untuk mewakilinya—Tou-san-ku," ucap Hinata sebelum menegakkan tubuhnya kembali.

Kini barulah Sakura mengerti tujuan tindakan Hinata barusan. Ia memilih diam, begitu pun Sasuke. Tidak perlu lagi ada penjelasan. Tindakan Hinata telah menegaskan keyakinan mereka bahwa Kaisar Hyuuga telah tewas. Dan hal itu juga menandakan bahwa semua telah selesai.

"Peperangan ini telah berakhir," ucap Naruto sembari menjulurkan tangannya. Mengajak pria di hadapannya untuk menjabat tangannya.

Tanpa perlu berpikir dua kali, Sasuke balas menjabat tangan Naruto. Simbol akhir dari peperangan ini.

Tidak ada senyuman di wajah keduanya, selayaknya kebahagian yang akan terpancar ketika memenangkan peperangan. Tidak ada suka-cita. Tidak ada ucapan selamat, meski ujung rencana mereka telah berhasil tercapai. Karena di hari yang sama, mereka juga telah kehilangan sesuatu yang berharga. Sebentuk pelajaran dari keegoisan manusia. Ambisi yang membenarkan segala emosi.

.

.

Banyak hal yang terjadi setelahnya, meski perang telah berlalu setahun yang lalu. Salah satunya adalah mengenai tahta kekaisaran. Satu hari setelah peperangan usai, semua pejabat termasuk para divisi berkumpul untuk menentukan pengisi kursi tertinggi itu. Berdasarkan atas perbuatan yang telah dilakukan oleh Hiashi Hyuuga terdahulu, semua menyepakati untuk tidak meneruskan kedudukan itu pada semua keturunan Hyuuga.

Lalu Sakura sebagai satu-satunya keturuan Haruno yang masih tersisa juga memilih untuk menolak saat beberapa pejabat Kaisar menyebut-nyebut namanya sebagai penerus tahta. Dan entah bagaimana semua itu bermula, tiba-tiba seluruh pejabat dan para divisi menyatukan suara mereka untuk mengangkat Namikaze Naruto sebagai pemegang tahta berikutnya.

Atas dorongan berbagai pihak dan desakan yang terus menerus ia terima. Naruto pun menyetujui usulan tersebut karena memang kursi kekaisaran tidak bisa dibiarkan kosong lebih lama lagi. Negara ini membutuhkan pemimpin secepatnya untuk memperbaiki semua kerusakan akibat peperangan itu.

Pembenahan pun mulai dilakukan. Naruto mulai membentuk sistem pemerintahan baru. Di kepemimpinannya, zaman ke-shogun-an pun berakhir, lalu berikutnya ia memerintah semua daimyo agar menghadapnya dan meminta mereka untuk mengembalikan wilayah kekuasan mereka. Sebagai gantinya, para daimyo tersebut direkrut menjadi gurbernur yang dibayar secara berkala oleh pemerintah pusat.

Tak hanya itu, Naruto juga memodernisasikan sistem militer dengan membentuk kesatuan tentara, akibatnya secara otomatis golongan samurai pun dihapuskan disertai oleh peraturan yang melarang para samurai membawa katana mereka. Tak hanya dari segi militer, tapi juga dari segi ekonomi, pendidikan serta banyak bidang lainnya tersentuh oleh kepemimpinan Naruto.

Semua itu tidak juga dilalui dengan mulus. Banyak pro dan kontra yang terjadi dan yang terparah, banyak juga pemberontakan yang muncul akibat peraturan yang ia buat. Namun semua itu bisa diselesaikan dengan baik oleh Naruto, salah satunya karena bantuan yang ia terima dari sahabat baiknya. Dialah Sasuke Uchiha.

Setelah peperangan berakhir Sasuke memutuskan untuk meneruskan hidupnya di sebuah desa. Desa yang memiliki banyak kenangan milik perempuan yang juga memutuskan untuk hidup bersamanya. Mereka—Sasuke dan Sakura memilih hidup di desa yang dulu porak-poranda akibat pembantaian yang terjadi. Tempat di mana pertama kali dalam hidupnya Sasuke memutuskan pembantaian itu sebagai urusannya. Tempat yang telah mempertemukan keduanya. Tempat di mana semua kisah mereka berawal.

Seiring dengan berjalannya waktu, desa itu mulai kembali pulih. Sedikit demi sedikit penduduk mulai berdatangan dan mulai tinggal di desa itu.

Kini ia bukan lagi seorang rounin. Bukan lagi orang yang bebas pergi ke mana pun ia ingin. Bukan lagi orang yang menganggap semua hal—selain rasa dendamnya, bukanlah menjadi urusannya karena kini secara diam-diam Sasuke juga membantu Naruto untuk mendukung kemajuan negeri ini. Negeri yang sangat dicintai oleh ayahnya. Dari kejauhan Sasuke mengawasi, memantau, mencari informasi dari luar pemerintahan. Ia bagaikan seorang pahlawan yang bersembunyi bersama angin. Tak terlihat namun sangat jelas terasa.

Karena itu juga, Sasuke mengikuti peraturan yang dibuat oleh Naruto, yaitu melepas benda yang selama ini selalu bersamanya. Katana itu ia simpan rapi di salah satu ruangan, di dalam rumahnya. Benar, Sasuke kini memiliki sebuah tempat yang bisa ia sebut rumah. Sebuah bangunan sederhana yang ia tinggali bersama dengan seseorang wanita yang telah menyandang marganya.

Sasuke telah memiliki tempat yang bisa ia tuju. Hidupnya benar-benar telah berubah.

Pertemuannya dengan Sakura telah mencairkan hatinya yang beku. Menghangatkannya dari rasa dingin yang selama ini membelenggunya hingga mampu meluluhkan rasa benci yang selama ini menyelimutinya. Ia bukan lagi bagian dari kekejaman layaknya seorang pembunuh keji, dan karena Sakura-lah Sasuke bisa menentukan isi hatinya dan memutuskan jalan hidupnya. Menemukan kebahagiaannya.

Sasuke bukan lagi seseorang yang mengembara entah ke mana karena kini ia memiliki tempat untuk pulang, dan akan selalu ada kebahagiaan yang menyambutnya di setiap ia membuka—menggeser pintu rumahnya. Sambutan yang akan selalu ia terima dari wanita yang dicintainya. Wanita yang selalu menyambutnya dengan wajah penuh senyuman.

"Okaeri, Sasuke-kun."

"Tadaima, Sakura."

Selesai

Curcul :

Hai ^^

Maaf ya aku telat apdet, mohon dimengerti banyak hal yang terjadi baik di aku maupun Hana sendiri.

Inilah chap terakhir Samurai Heart *Yeeeaaaayyyy* Hayoo siapa yang cenat-cenut pas bagian pedang Itachi ada di leher Sakura? Siapa yang deg-degan pas Sakura ngak bisa cabut pedang Sasuke? hayo ngaku hayo hahaha, tapi yg tewas adalah Itachi, yak kayanya udah banyak yang pada nebak Itachi kan haha..

Untuk di chap akhir ini, aku ingin mengucapkan terima kasih yang segede-gedenya sama Hanaruppi. Ngak pernah terbayangkan sama sekali, aku bisa buat Fic bareng sm author lain di FFN. Apa lagi authornya keceh badai dan salah satu author terkenal di FFN. Mungkin banyak yang mikir aku nyelipin (?) nama Hanaruppi di summary biar banyak yang baca (Sebenarnya ia juga sih hahahahaha) tapi aslinya karena aku emang ngak bisa menyembunyikan kebenarannya kalau Hana juga ikut andil di Fic ini, terlebih ide awal cerita ini milik Hana.

Lebay Nih. Aku mah apa, Cuma author baper yang hobinya galau XD Aku juga berterima kasih sekali ide cerita ini bisa dibuatin dengan begini bagusnya, well done, ngak mengecewakan. Akhirnya dia ngak tersia-siakan dilaptopku (Apalagi waktu itu aku udah ngundurin diri dari FFN). Ngak kebayang cerita ini dipublish juga. Diakhiri dengan ending yang manis pula. Kalo aku yang buat, reader pasti mencak-mencak karena memang aku berencana menamatkan ceritanya dengan angst (Like my only Favorit ending) XD *disiram saus tar tar*.

Jadi terima kasihku spesial kudedikasikan buat Dian :*

Sejujurnya itu malah jadi beban tersendiri buat aku karena aku tahu banyak banget kekurangan pada penulisanku. Tapi aku beruntung bisa ketemu Hana di FFN, aku jadi nemu guru yang ngasih tau banyak hal soal penulisan (Dan masih sering ngulangin kesalahan disitu2 aja ya han wkwkwkwk).

Hahaa... iya sih jujur aku sebel juga kalo pas ngebeta, nemu kesalahan yang itu-itu aja. Rasanya pengen nyubit pipi Dian biar tembem kaya Sinchan XD. Tapi melihat perkembangan penulisannya dari chapter ke chapter aku ngerasa amat sangat puas. Senang bisa berbagi, Dian. Jadi jangan ngerasa beban atau apa. Justru aku senang bisa sharing ilmu. Karena di sini aku pun belajar ^^

Aku bener2 makasih Han buat semua yang udah kita lalui selama ngerjain Fic ini (Ceileh) Makasih udah memercayakan aku buat ngerjain cerita ini smpe selesai, maaf karena udah bikin Itachi mati wkwkwkwk..

Seperti yang udah aku sampaikan tadi. Bukan Cuma Dian. Aku juga berterima kasih ke Dian karena udah mau bersusah payah nulis ide yang hampir jamuran di laptopku ini. Bahkan dengan ending yang memuaskan pembaca. Kalo aku belum tentu hahaha.

Karena ngejain FF ini bareng-bareng sama Dian bikin kami jadi deket. Yang tadinya ngebahas chapter tau-tau jadi curhat masalah di luar FF XD

Kayanya aku yang sering curhat kegalauan ya, Han? Apalagi pas Taka ngak bisa konser di Indonesia huhuhu

Hahahaa iya nih dikit-dikit Taka, dikit-dikit Taka. Taka kok dikit-dikit XD *Apa*

Iya dikit Taka soalnya klo banyak jadi Itachi Hayolohh wkwkwkwk

Tidaaak suamiku satu-satunya T-T

Wkwkwkwkw, Tenang Han, Itachi ngak masuk daftar selingkuhanku kok XD.

Iya, jangan deh. Itachi mukanya keriput, ngak ada mirip-miripnya sama woobin XD

Woobin *lopelope* maaf Taka, aku selingkuh dikit XD. Akhirnya Fic ini berakhir, han ^^ lega kan udah ngak direpotin sama Istri Taka yang manis ini? Apa jgn2 kamu ngerasa sedih, pengennya direpotin aku terus wkwk...

Rasanya bakal kehilangan banget. Sengerepotin apapun si Dian ini *Plak XD setelah SH tamat aku kayanya bakal merindukan diteror beta olehmu, Yan XD. Mudah-mudahan suatu hari nanti bisa collab bareng Dian lagi. I Wish ;)

Me too, Han ^^ trus trus maksudnya karena kau manis ya, Han makanya gpp kalo ngerepotin juga kan :p

Wkwkwkw abis gimana, aku kan pingin jadi istri yang sholehah buat Itachi, jadi ngak bisa nolak sengerepotin apapun permintaan orang lain XD *apa urusannya*

-,- iya aja deh, biar Istri Itachi seneng :p

Dan buat semua pembaca Samurai Heart, terima kasih dari saya, terima kasih yang banyak atas waktunya untuk membaca cerita ini, terima kasih untuk ripiunya, dan terima kasih untuk following dan favoritenya. Terima kasih telah menjadi bagian dari proyek collab Ucul World dan Hanaruppi :))

Ucul Note :

Dinda Adr : Hihi, maaf telat apdet, makasih udah betah baca SH ^^ *hug*

Herocyn Akko : Akkooooo maaf chap kali ini lebih ngaret lagi huhuhu... raketnya udah aku simpen kok malah mau kasih pelukan ah... makasih banyak ya akko udah setia baca SH meski bingung sm konfliknya,, beneran makasih *hug*

KuroNeko10 : Makasih banyak ya kuro chan (?) buat ngak pernah absen ngikutin SH *peluukkkk* makasih buat semua semangat dan dukungannya.. ughh sedih deh huhuhu

Luchaai : Makasih banyak lulu yang meski sibuk banget masih inget sm Fic ini dan ngasih ripiu hehe *hug* semoga chap ini bikin baper juga hehe

Sachaan05 : Salam kenal ^^ maaf ya aku apdetnya telat, makasih ya ripiunya *hug*

Nurulita as Lita-san : iya udah end nih huhuhu makasih banyak ya buat ripiunya *hug*

Na : Makasih ya ripiunya ^^

Guest : Itachi jahat ngak? Hayoo hehe makasih ya buat dukungannya slama ini (aku gtw kamu guest yg sm atau enggak hehe) *hug*

Berry Uchiha : Udah ketawan kan death charanya ^^ makasih ya buat dukungannya selama ini huhuhu *hug*

Vanny chan : Halooo Vanny ^^ makasih ya buat dukungannya huhuhu sedih deh *peluk*

BaekhyunsaranghaeHeni : Masa cepet? Lama tauuuu hehehe makasih ya Heni buat dukungannya selama ini *peluuukkk*

Thasya Rafika Winata : Udah berakhir kok perangnya sekalian sm ceritanya juga haha.. hmm klo lemong ngak ada tapi chap bonus sih ada hehehe.. makasih ya ripiunya *hug*

Pink Tomato : Udah kejawab tuh siapa hehe makasih ya buat dukungannya selama ini *peluk*

Yuliita : Masa sih Itachi kejam? Hehe makasih ya buat dukungannya huhuhu *hug*

Hikaru Sora 14 : Yap tebakanmu benar loh hehe, makasih ya Hika buat semua dukungannya selama ini huhuhuhu *peluukkk*

Hanazono yuri : Maaf ngak kilat, makasih ya Hana yang selalu dukung ceritaku ^^ *Pelluukkkk*

Fansanime : Semua pertanyaanmu terjawab sudah di chap ini haha.. makasih banyak ya buat dukungannya *hug*

Ciheelight : Sama-sama loh, makasih banya juga buat semua semangat dan dukungannya selama ini huhuhu *peluk* semoga cerita ini bisa meninggalkan kesan ^^

Dauddolmayan : Ini udah ending kok ^^ makasih ya buat ripiunya selama ini *hug*

Yuuto Tamano : Makasih ya buat ripiunya ^^ semoga puas sm ceritanya *peluk*

Wowwoh geegee : Hahaha maksdnya double janda? Satunya lagi karena ditingal Hiashi yak hahhaa makasih ya buat ripiunya selama ini huhuh *hug*

Rina 442 : Masih gregetan sama Itachi :p makasih ya buat ripiunya selama ini *hug*

Hyemi761 : Maaf ya, yang ini juga ngak banyak hehe makasih ya buat semua dukungannya selama ini *hug*

Suket alang-alang : Jahat ngak ya Itachi haha sialkan nilai sendiri aja deh hoho makasih ya buat ripiunya selama ini *hug*

Kagaaika Uchiha : Wkwkwk gpp kok, makasih loh tetep mampir meski gak suka sm si itu (Si Hiashi kan wkkw *digeplak*) aku ngak pernah nerima requestan Fic hahha maaf ya hehe... makasih loh buat ripiunya selama ini ^^ *Hug*

Arisahagiwara chan : Menurutku kalo udah ambil setting AU memang udah ngak bisa di compare ke sifatnya yang di canon ^^ karena emang ngak pasti sama banget hehe makasih ya buat semua dukungannya selama ini *peluk*

Lhylia Kiryu : Harapanmu terkabul sudah hehe makasih ya buat ripiunya selama ini ^^ *hug*

Kura cakun : Yap tebakanmu benar hehe makasih ya buat dukungannya selama ini *peluk*

Hyderyuki : Kamu ganti akun lagi? Udah ngak jadi istri Saga nih? Haha... makasih loh buat semangatnya selama ini *pellukkkk*

Cherry Philein : Udh kejawabkan pertanyaannya hehe.. makasih ya buat ripiunya selama ini ^^ *hug*

Guest : Ngak kok bukan Sasuke hehe makasih banyak ya buat dukungannya ^^ *hug*

Yoktf : Abang Itachi emang gt dia mah huhuhu.. makasih ya buat dukungannya selama ini *pelukk*

Gita Zahra : Iya, ripiumu chap kmrn ngak masuk tuh huhuhu udah kejawab kan pertanyaannya,, makasih ya buat semua dukungannya selama ini *pelukk*

Dianandraha : Itachi masih kejam ngak? Hayoo.. makasih ya buat dukungannya selama ini *peluk*

Neko : Udah kejawab kan hehe makasih ya buat ripiunya selama ini ^^ *hug*

Ferrish0407 : Hehehe kan satu-satu nyelesainya makanya naruhina duluan hehe semoga puas sm chap akhirnya ^^ makasih ya buat ripiunya selama ini ^^ *hug*

East Robo : hehe nanti ada ekstranya kok.. makasih ya buat semua dukungannya ^^ *hug*

Istri Sasuke : Haha aku bilangin ahhh hehe, tebakanmu benar kok.. ke depannya masih blom tau hehe liat aja nanti haha makasih banyak ya buat dukungannya selama ini *peluk*

Nikechaaan : Hehehe kakak macam apa hayo Itachi.. makasih ya buat dukungannya selama ini ^^ *peluk*

Teeneji : Udah rela kan Itachinya mati haha, ya sama-sama loh aku jg mau bilang makasih udah ningalin jejaknya selama ini ^^ *peluk*

Druella Wood : Yup, benar. Makasih ya buat ripiunya selama ini *Peluk*

Hotarubi-chan : Aku jg telat apdet nih huhu maaf ya, dan makasih juga buat semangat Hota selama ini huhuhu sedih *peluk*

Misa Safitri : Ngak kok, aku milihnya happy ending ^^ makasih ya buat ripiunya selama ini *hug*

6934soraoi : Hehe udah kejawab kan siapa death charanya haha makasih banyak ya buat dukunganya selama ini huhu sedih * peluukkk*

Eysha Cherryblossoms : Ini chap akhir kok, makasih buat dukungannya selama ini ya huhu sedih deh *pelukk*

Cilay'S Smile : Kamu ganti nama lagi ckck :D iya nih udah ending huhu makasih ya buat semua ripiunya *hug*

Darkcrowds : Hehe Hiashi ngak masuk itungan ah haha makasih ya buat dukungannya selama ini *hug*

Annisa Alzedy : Cup,,cup jgn nangis lagi udah happy ending kok hehe.. makasih ya buat dukungannya selama ini huhuhu *peluukkk*

DivXI : Hai salam kenal juga ^^ udah ngak penasaran lagi kan sm endingnya hehe makasih banyak ya buat ripiunya ^^

Dan makasih juga saya ucapkan buat semua Favorit dan follow yang kalian berikan ^^ juga buat semua yang baca dari yang nyata smpe yang ngak (?) hihi becanda deng. Hmm,, sebagai tanda terima kasih dariku buat kalian. Aku udah buatkan ekstra chap yang berisi cerita singkat dari masing-masing pairing. Jadi, siapa yang mau bonus chapnya dipublish cepet?

Aku kasih spoilernya dulu deh :P

"Tidakkah kau sadar tentang perasaanku padamu … selama ini?" tanya Naruto dengan menatap dalam mata Hinata. Sontak wajah Hinata memerah dan ia tidak bisa menyembunyikannya. Naruto yang menyadari itu pun tersenyum bangga.

"Lagi pula jika kau memang tidak bisa ikut bersamaku karena pandangan mereka pada marga Hyuuga yang ada pada namamu, kita ubah saja menjadi Namikaze. Tidak sulit, bukan?" sambung Naruto dengan seringai di wajahnya. Membuat Hinata benar-benar tidak mampu berkutik.

.

"Tidurlah lagi," perintah Sasuke lembut. Selembut tatapan matanya, yang makin menambah rona merah di wajah Sakura.

Untuk sesaat Sakura mengalihkan pandangannya. Mencoba mengurangi debaran pada jantungnya. Sekaligus memberi tanggapan pada perintah Sasuke barusan.

Pandangan mereka masih terpaku. Ada hasrat yang terpancar dalam pandangan dua pasang mata berbeda warna itu, sama besarnya.

"Jadi … " Sasuke sengaja mengantungkan kalimatnya dan kali ini bukan hanya senyuman tipis yang muncul di wajahnya, melainkan seringai.