A/N : AKHIRNYAA! CHAPTER TERAKHIR, CEMAN-CEMIN! XD Gak kerasa, ya, Dewa Ayah udah tamat aje. Hahaha! Jadi mau sedih... Sedih apa nggak, ya? Itu si Bang Flippy udah lambe-lambe di seberang. Iya, abang! Aye pasti kesana! Jagain dulu tanahnya, ya, bang! Mau eike bangun rumah dengan gaya psychedelic! XD #plak Dan sekarang ditambah Bang Anakin sama Om Obi-Wan ikutan ngajak ke rumah mereka. Aduuuhh! Saya dilemma! Mau Star Wars, atau HTF, ya? SplendidxFlippy oke. Tapi AnakinxObi-Wan juga oke. Aaaaahh!

Sebelum kita mulai ke ceritanya, saya mau ngucapin banyak-banyak terima kasih buat kalian yang udah rajin baca, rajin nge-fave, rajin alert, apalagi yang rajin review. Makasih banyak semuanya! Cini caya peyuuukk! #bearhug Kalo bukan karena review-review sinting nan galau nan gamang kalian, pasti Dewa Ayah gak bakalan kelar-kelar. Beneran! Semua pertanyaan kalian di review membuka cakrawala (HOOOEEEKKK!) saya buat nerusin chapter-chapter selanjutnya. Ma'acyiih! XD

... Beneran, deh! Sini kalian saya kecup satu-satu, ah! Saya gemes! XD

Disclaimer : Tetep kepunyaannya Bang Hidekazu Himaruya. Kalo Flippy kepunyaannya Fliqpy, Splendid, sama Splendont. Nah, kalo Obi-Wan itu yang agak susah. Sama Anakin bisa, Qui-Gon juga bisa #disambitlightsabre

Warning : CHAPTER PAMUNGKAS, CEMAN-CEMIN! XD Dan... BEWARE! PEMBANTAIAN MASSAL DI CHAPTER INI! GORE! PELURU BETERBANGAN! SAPPY ROMANCE! SHO-AI! ... Dan kalo kalian udah nonton 'Black Swan' atau '127 Hours' pasti ngerti kira-kira feel epilog-nya bakal kayak gimana. Semoga mencapai target feel-nya! Amin! Oiya. CHARACTERS DEATH! INGET! CHARACTERSSSSSSS! CHARACTERSSSSSS BUKAN CHARACTER! Jadi, banyak yang mati. BANYAK YANG MATI, SEKALI SAYA ULANGI.

Dan sekali lagi ini panjang sekali, boy. Siapkan diri kalian.

Listening to : semua soundtrack "Despicable Me". Sumpaaaahh! Ini lagu-lagunya lucu sekali! Apalagi pas The Minions-nya nyanyi! Mau minion-nya satuuuu! Mereka lucu bangeeet! XD Sama diselingin sama lagunya Glen Fredly yang "Kisah Romantis" OST "Cinta Silver". Astagaaa... Kalo ada seorang cowok ngelamar saya pake lagu ini, nyanyi sendiri, main gitarnya sendiri pula, ditambah bonus ganteng dan baik, saya terimaaa! I do, I do, I dooo! XD Aduh, lagu terakhir itu bikin saya pengen cepet nikah aja, kan? Kapan ini temen saya bagi-bagi undangan nikah pas perancangan? #plak

Watching to : "Star Wars" semua episode. Makanya saya tiba-tiba nge-ship AnakinxObi-Wan gitu (lebih tepatnya siapapunituxObi-Wan) Dan saya masih yakin kalo Luke itu anak haramnya Anakin sama Obi-Wan #dibantaiPadme #disabetlightsabre #dilemparkekawahMustafar Lagian dirimu pake bilang cinta segala ke Anakin pas di Mustafar, adegan terakhir-akhir di RotS (towel-towel Obi-Wan) "I loved you!" Ciieee Obi-Waaaannn! Eh, inget. Jedi gak boleh jatoh cintrong, bo. Melanggar kode dirimu kalo sampe dihamili Padawan sendiri. Ohohoho. #plak Inget Qui-Gon-mu, Obi. #lho #lebihsalah


Di sisi lain markas, Berwald Oxsentierna sibuk menembaki musuh-musuhnya. Ia berusaha untuk tidak mengenai bagian vital mereka. Meskipun perintah dari atasan kepolisian adalah untuk menghabisi seluruh anggota Commedia dell'Arte, ia tak sampai hati untuk membunuh mereka begitu saja. Biarkan mereka terluka parah sampai tak bisa kabur, lalu giring mereka ke meja interogasi.

Berwald terus menembak dan menembak tanpa memperhatikan siapa targetnya. Selama orang itu tidak mengenakan rompi anti peluru milik kepolisian, itulah targetnya.

Termasuk saat ia melihat Mathias Kohler di depannya.

Mata biru Berwald menyipit ketika melihat sosok pemuda Denmark yang dulu begitu ia kenal. Pemuda yang telah membuat sepupunya berjalan di jalan yang salah.

Tanpa ragu, Berwald melepaskan satu tembakan telak ke tangan Mathias, membuat senjata yang digenggam oleh sang Scaramuccia terlepas. Tembakan berikutnya mengenai pinggul Mathias, membuatnya jatuh ke atas lantai diiringi erangan kesakitan.

Tersenyum kecil, Berwald berjalan menghampiri Mathias yang masih jatuh terduduk di atas lantai. Senjata sang inspektur terarah lurus ke kepala Mathias. "Hei, Kohler. Kita bertemu lagi. Kapan terakhir kali kita bertemu? Di rumah Tino?"

Mathias mendengus. Matanya menatap penuh kebencian ke arah Berwald. "Kau rupanya. Ya. Terakhir kali kita bertemu di rumah Tino. Aku ingin menjemput Norge, kau lupa?"

"Ah. Norge. Bagaimana kabar sepupu kesayanganku itu?"

"Baik. Apalagi setelah berhasil lepas dari sepupunya yang terlalu mengekang bernama Berwald. Ups. Itu kau."

Berwald menyipitkan matanya, tak senang. "Jangan kau membuat alasan bagiku untuk meledakkan kepalamu, Mathias. Aku serius."

"Kalau begitu," Mathias mendongak, menatap Berwald dengan tatapan terdinginnya. "Kenapa kau tidak membunuhku sekarang selagi kau sempat, hm?"

Berwald masih terdiam. Pistolnya teracung lurus ke arah Mathias, tapi tak ada sedikit pun niat darinya untuk menghabisi Mathias. Entah kenapa, wajah Norge terus terbayang di benaknya, tak sanggup ia singgirkan.

Perlahan-lahan, pistol yang terarah pada Mathias terangkat, tak lagi diarahkan ke kepalanya. Mathias menatap sosok Berwald yang berjalan menjauh, tak jadi membunuhnya. "Hei! Kau tak ingin membunuhku?"

"Lain kali saja." balas Berwald. "Membunuhmu hanya akan membuang-buang peluruku."

Dan ia pun pergi meninggalkan Mathias yang masih tersungkur di atas lantai, bingung dengan tindakan sang inspektur.


"Berhenti kau, brengsek!" seru Razak sambil terus menembaki sosok Willem yang berlari di depannya. Ia sudah tidak peduli kalau beberapa koleksi berharga milik Il Dottore seperti lukisan ataupun tapestry mahal menjadi korban pelurunya.

Willem tidak menggubris perkataan Razak. Ia terus berlari dan berlari sambil terkadang menembak ke belakangnya, berharap mengenai Razak. Tapi, sepertinya tidak mengenai targetnya sama sekali. Terbukti dari seruan-seruan dan tembakan yang semakin sering dikeluarkan oleh Razak.

Akhirnya mereka sampai di ruang rapat mingguan Commedia dell'Arte dimana sebuah meja panjang besar berdiri di tengah-tengah ruangan dengan kursi-kursi bersandaran tinggi mengitarinya. Willem berlari ke sisi lain meja, namun sayang ia tak menemukan jalan keluar. Ia terjebak.

"Hah!" seru Razak penuh kemenangan. Pistolnya ia acungkan dengan penuh rasa bangga ke arah Willem, siap untuk membunuh pemuda Belanda tersebut. "Kau tak akan bisa kabur lagi sekarang, kepala tulip!"

Willem mengerang kesal ketika julukan bodoh itu terlontar dari mulut Razak. Ia membalikkan tubuhnya dan mengarahkan pistolnya ke arah Razak. "Kalau memang ini yang kau inginkan, baiklah. Kita saling membunuh di sini, sekarang."

Keduanya berjalan mengitari meja dengan pistol masih terangkat tinggi, mengarah ke kepala masing-masing lawan. Tak satu pun dari mereka ingin mengalah dan raut kebencian terlihat jelas di bola mata keduanya. Mereka saling berjalan mendekat hingga akhirnya mulut senjata masing-masing nyaris beradu. Keduanya berdiri berhadap-hadapan, saling melemparkan pandangan membunuh ke lawannya. Suasana begitu hening, hingga Razak mengeluarkan suatu pertanyaan.

"... Berapa sisa pelurumu?"

"Eh?" Willem mengedip-ngedip bingung. "Uhh... Sepertinya satu. Kau?"

"Aku juga satu."

Kembali kesunyian menghinggapi keduanya.

"Ini menggelikan." gumam Razak. Pemuda berambut hitam itu menurunkan pistolnya dan tertunduk lesu. "Kenapa aku begitu bersemangat untuk membunuhmu? Hanya karena kau telah membunuh kakakku..."

Willem menggeram kesal sambil memutar bola matanya ketika ia kembali disebut-sebut sebagai pembunuh Rangga. "Berapa kali harus kukatakan kalau aku bukan—"

"Untuk apa aku membunuhmu?" seru Razak lantang. "Membunuhmu hanya akan membuatmu bisa bersatu kembali dan bertemu dengan kakak lebih cepat!"

"Apa maksud—"

"Lebih baik peluru terakhir ini kugunakan untuk suatu hal yang lebih baik daripada membunuhmu. Daripada aku mempertemukan kembali dirimu dengan kakak."

Di luar dugaan Willem, Razak mengarahkan moncong senjatanya ke pelipisnya sendiri. Mata cokelat sang polisi membelalak lebar, tak percaya. "Apa yang kau lakukan, bodoh? Kau mau bunuh diri?" bentaknya, panik.

Razak tersenyum kecil. "Bukankah dengan begini aku bisa bertemu dengan kakak?" bisiknya sedih. "Bila aku tak bisa bersatu dengannya di dunia ini, biarkan aku dan dia bersama di dunia sana. Entah itu surga atau neraka, aku tak peduli. Aku tak pernah peduli dengan urusan seperti itu sebenarnya..."

"Untuk apa kau bunuh diri seperti ini, hah! Hentikan kebodohan ini!"seru Willem. Ia membidik pistolnya sendiri ke arah pistol yang digenggam Razak. Ia berniat untuk menghancurkan senjata api tersebut, tapi itu terlalu beresiko. Masih untung kalau ia hanya mengenai tangan Razak, tapi bagaimana bila ia mengenai kepalanya? Bisa gawat. "Turunkan senjatamu sekarang juga! Kau, kan, mau membunuhku! Kenapa sekarang kau malah ingin bunuh diri?"

"Karena aku tak rela melihatmu mati." geram Razak. "Bila kau mati, kau tidak perlu merasakan kehilangan lagi. Kau akan bisa bertemu dengan kakakku, hidup bahagia bersamanya, atau bereinkarnasi bersama dengannya. Apapun itu, aku tidak mau! Aku tidak mau kau bertemu lagi dengan kakakku, di dunia ataupun di akhirat!" jeritnya frustrasi. Setetes air mata jatuh menuruni pipinya yang memerah karena menahan amarah.

Willem hanya bisa terpaku, tak sanggup bicara. Bocah di depannya ini sungguh aneh pikirannya...

Razak menarik napas panjang, menempatkan pistolnya lebih mantap di pelipis. "Apa kau punya pesan yang ingin kau sampaikan pada kakakku? Berhubung aku akan bertemu dengannya sebentar lagi..."

"Ya." gumam Willem di antara gertakan giginya. "Katakan padanya kalau adik tololnya ini masih akan hidup untuk beberapa waktu lagi."

Sebelum Razak sempat bereaksi, Willem segera menembakkan peluru terakhirnya tepat ke badan pistol yang digenggam oleh Razak. Dalam sekejap, benda itu rusak dan terlempar dari genggaman tangan Razak ke sudut ruangan. Willem segera berlari dan merengkuh Razak yang akan berlari mengambil lagi pistolnya. Dengan segenap tenaga yang ia miliki, Willem menahan tubuh Razak yang memberontak sambil menangis.

"Lepaskan aku! Lepaskan!" jerit Razak. Air mata turun dengan derasnya dari lautan cokelat milik sang pemuda berambut hitam. "Aku mau mati! Aku mau mati! Biarkan aku kembali pada Rangga! Aku mau bertemu dengannya!"

"Hentikan semua omong kosong ini, Razak!" bentak Willem. Pemuda berambut pirang itu masih berusaha sekuat tenaga untuk menahan tubuh Razak yang terus memberontak. "Kau pikir hanya kau saja yang sedih, hah! Aku juga! Aku juga ingin bertemu dengannya, tapi bukan begini caranya!"

Perlahan-lahan gerakan memberontak Razak mulai melambat, hingga akhirnya pemuda Asia itu betul-betul berhenti memberontak. Punggungnya bergetar hebat karena menahan tangis. Terkadang nama sang kakak terdengar dari bibir pemuda tersebut, diucapkan dengan penuh penyesalan dan kesedihan.

"Razak..." gumam Willem pelan. Ia kemudian memeluk Razak erat sambil mengusap-usap helaian rambut hitam milik pemuda Asia di dalam pelukannya. Isak tangis masih terdengar dari Razak. "Sudahlah, Raz. Bukan hanya kau yang kehilangan. Aku juga merasakan kehilangan yang sama sepertimu. Kita harus bisa kuat untuk Rangga. Aku yakin ia pasti akan menangis bila melihat kita berdua saling bunuh dan saling membenci seperti sekarang ini."

Hanya isak tangis yang menjadi balasan atas perkataan Willem.

"Rangga pasti ingin melihat orang-orang yang ia sayangi hidup bahagia, tanpa dendam, tanpa rasa—"

Tiba-tiba saja Razak mendorongnya ke samping, membuat tubuh tinggi tegap Willem jatuh ke dinginnya lantai granit ruang rapat Commedia dell'Arte. Willem hampir saja memarahi Razak yang mendorongnya dengan semena-mena seperti itu apabila ia tak mendengar bunyi letusan senjata sebanyak tiga kali. Mata cokelat sang mantan polisi membelalak lebar ketika melihat tiga titik noda merah menyebar di kaus berwarna oranye milik Razak.

"RAZAK!" seru Willem panik. Ia segera menangkap tubuh limbung Razak dan mendekapnya erat. Mata cokelatnya menatap tak percaya pada tiga buah luka tembakan di dada dan perut Razak. Darah mulai merembes, membasahi pakaian yang dikenakan sang pemuda berambut hitam.

"Sudah kuduga kalau aku harus turun tangan sendiri."

Nada suara dingin dan kejam tersebut membuat Willem mendongakkan kepalanya serta mengalihkan perhatiannya dari wajah pucat Razak. Di sana, di ambang pintu, berdirilah seorang pemuda berambut pirang memegang pistol. Moncong senjatanya masih mengeluarkan asap setelah tiga kali memuntahkan peluru. Mata hijau sang penembak menatap dengan sorot mata begitu tajam dan dingin. Ujung bibirnya tersungging sedikit, menampilkan sebuah senyuman sinis penuh kemenangan.

Mata cokelat Razak menyipit penuh benci. "K... Kau... Il Capitano..."

Willem menatap Razak dan Arthur bergantian dengan penuh kebingungan. Il Capitano? Orang yang semula kepolisian pikir sebagai pemimpin utama Commedia dell'Arte? Pemuda berambut pirang dengan mata hijau cemerlang ini adalah sang tangan kanan Il Dottore?

"Terlalu lama kau kubiarkan hidup, Scapino." desis Arthur. Kegembiraan dan kepuasan tampak jelas di wajah sang Il Capitano. "Gara-gara kau dan kakakmu itu, aku harus kehilangan Arlecchino. Gara-gara kalian berdua dan juga Il Dottore, aku harus kehilangan dia! Sekarang, demi membalaskan dendam Arlecchino, aku akan menghabisi kalian." Mata hijau Arthur menatap dingin sosok Razak yang sekarat dalam dekapan Willem. "Kalau begini, tinggal satu ekor lagi yang harus kubereskan."

Dahi Willem mengerenyit ketika mendengar perkataan Arthur. Kedua mata cokelatnya menatap tak percaya ke sosok Il Capitano yang mulai berjalan menjauh. "... Apa maksudmu tinggal satu ekor lagi?"

Langkah kaki sang pemuda Inggris terhenti ketika mendengar pertanyaan Willem. Ia kembali memutar tubuhnya dan mendengus pelan. "Tentu saja aku tinggal membunuh Il Dottore." jawabnya datar, seolah-olah membunuh seseorang adalah kegiatan yang wajar. "Aku sudah menghabisi Brighella secara tidak langsung. Tadinya aku berharap kau bisa membunuh Scapino, sehingga aku bisa langsung bergerak ke targetku berikutnya. Sayang, kalian berdua tak punya cukup nyali untuk saling membunuh. Lalu, aku sempat senang juga ketika melihatmu akan bunuh diri, tapi lagi-lagi harapanku pupus ketika kau, wahai polisi bodoh, melindunginya. Makanya aku memutuskan untuk turun tangan sebelum bergerak ke target berikutnya."

Pandangan penuh kebencian dan amarah terpancar jelas dari empat pasang mata berwarna cokelat. Orang brengsek yang sudah merenggut nyawa orang yang mereka cintai berdiri di depan mereka, mengakui semuanya sambil tertawa lebar. Orang brengsek yang sudah membuat Willem dan juga Razak tersiksa harus hidup tanpa Rangga.

Orang brengsek yang harus diberi pelajaran.

Orang brengsek yang harus dibunuh.

Dengan susah payah, Razak mendorong Willem menjauh dan berusaha berdiri dengan kedua kakinya yang sedikit gemetar. Mengabaikan luka-luka pada tubuhnya, Razak menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati Arthur. Mata cokelatnya memancarkan kebencian yang begitu dalam dan berbahaya.

"Kau..." desisnya. "Kau bedebah yang sudah membuatku kehilangan Rangga." Ia berjalan pelan menuju salah satu laci meja dan mengambil sepucuk pistol. Sepertinya memang sengaja diletakkan di ruangan tersebut untuk berjaga-jaga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di saat rapat.

Willem memperhatikan sosok Razak yang sedang mengambil pistol dengan sedikit takjub. Ia baru saja terkena tembakan sebanyak tiga kali di dada dan perutnya, namun masih sanggup berdiri tegak, bahkan berjalan mengambil senjata.

"Kubunuh kau." desis Razak penuh benci sambil mengacungkan senjatanya ke arah Arthur. Yang terdengar berikutnya adalah bunyi tembakan sebanyak tiga kali dari moncong senjata api di tangan Razak. Sayang, ketiganya gagal mengenai sasaran karena Arthur menghindar lebih cepat dan kabur. "Jangan lari, brengsek!" seru Razak. Mengabaikan luka di sekujur tubuhnya, pemuda berambut hitam itu mengejar Arthur yang semakin menjauh.

Didorong oleh rasa benci serta keinginan kuat untuk membalas dendam, Willem juga berlari mengejar Arthur dan Razak yang sudah pergi lebih dulu. Pemuda berambut pirang itu bisa mendengar bunyi tembakan serta sumpah serapah dan seruan mengejek. Mata cokelatnya menangkap sosok Razak dan Arthur yang berbelok di satu sudut lorong, membawa mereka bertiga ke dalam garasi mobil markas Commedia dell'Arte.

Razak menghentikan langkahnya tepat setelah memasuki garasi. Mata cokelatnya menatap galak ke sekeliling ruangan dimana Arthur menyembunyikan diri. Napas Scapino tersengal-sengal, lelah karena berlarian dan juga karena rasa sakit yang mulai menyergapinya lagi. "KELUAR KAU, DASAR PENGECUT!" Jeritannya begitu keras sampai-sampai bergaung di dalam ruangan yang luas tersebut.

Garasi markas Commedia dell'Arte begitu besar dengan mobil-mobil mewah berjejer rapi di dalamnya. Beberapa tampak masih ditutupi dengan kain terpal berwarna hitam, sementara beberapa mobil lainnya yang sering digunakan tampak dibiarkan tanpa penutup. Merek-merek ternama dan berkelas seperti Mercedes Benz, Ferarri, Lamborghini, bahkan Bentley dan Rolls Royce terlihat di dalam garasi tersebut. Beberapa tangki bensin untuk mobil-mobil tersebut juga disimpan dengan sangat apik di dalam garasi. Salah satu sisi garasi dipenuhi dengan bertumpuk-tumpuk rak penuh dengan peralatan untuk memperbaiki mobil. Sebutkan segala jenis alat yang dimiliki oleh bengkel mobil terbaik, garasi itu pasti punya. Sisi dinding lain dari garasi tersebut merupakan pintu keluar berbahan metal yang digerakan secara otomatis.

Willem menghentikan langkahnya tepat sebelum ia menabrak Razak. Napasnya tersengal-sengal karena lelah berlarian. "Dimana?" tanyanya singkat pada Razak yang sudah lebih dulu sampai. "Dimana bedebah satu itu?"

Razak tidak membalas perkataan Willem. Ia menggertakkan giginya, geram dengan sosok yang ia kejar. "Kita berpencar. Kau sebelah kanan, aku ke kiri." perintahnya secara sepihak. Dan sebelum Willem sempat memprotesnya, Razak sudah berjalan ke sebelah kiri, mencari-cari Arthur. Sambil berjalan, ia mengambil satu drum penuh berisi minyak, entah untuk apa, dan kembali melanjutkan pencariannya.

Willem menarik napas sebelum memulai pencariannya. Langkahnya begitu teratur dan hati-hati dalam tiap menjejakkan kaki. Pistol tergenggam erat di tangannya, siap untuk menembak.

DOR!

Satu tembakan yang berasal entah darimana nyaris saja mengenai kepalanya. Beruntung ia segera menunduk, sehingga terhindar dari maut. Peluru yang tadinya ditujukan untuknya malah mengenai kaca salah satu mobil, menciptakan lubang pada tempered glass tersebut. Di tengah kepanikan sang polisi untuk menghindar serangan mendadak tersebut, ia sempat melihat sekelebat warna pirang dari balik Mercedes Benz warna hitam. Sosok tersebut muncul hanya sejekap dan kembali bersembunyi di balik mobil.

DOR! DOR!

Kali ini dua tembakan terdengar menggema di dalam garasi. Penghasil tembakan tersebut bukan Arthur, melainkan Razak yang berhasil mengejar Arthur dari sudut lain garasi. Pistol terangkat tinggi dan terarah lurus ke sosok Il Capitano yang masih bersembunyi. "Keluar kau, bedebah!" seru Razak lantang. Ia kembali menembak, membuat lubang kedua pada badan mobil berkelas tersebut. Tembakan pertamanya berhasil melubangi kaca jendela.

Arthur tidak bergerak. Ia malah sibuk merangkak dari mobil ke mobil, menghindari tembakan Razak yang semakin membabi-buta. Begitu banyak peluru ia buang dan hanya kaca-kaca mobil yang ia kenai. Sayang sekali mobil menggunakan tempered glass, membuat pecahannya bagaikan butiran-butiran kecil dan bukannya pecahan kaca ukuran besar nan tajam seperti cermin atau kaca rumah.

Il Capitano terus merangkak, menghindari serangan Razak. Situasi semakin memburuk ketika Willem memutuskan untuk ambil bagian dan ikut menembakinya, membuat serpihan kaca semakin banyak. Awalnya Arthur berencana untuk melawan balik, namun tembakan beruntun yang dilepaskan Razak ataupun Willem sangat membahayakan jiwanya. Melongokkan kepala sedikit saja dari atas kap mobil bisa membuat kepalanya berlubang karena desakan peluru. Tidak. Lebih baik ia terus merangkak, menghindar.

Nyawanya lebih penting daripada harga diri untuk saat ini.

Namun, pelarian Arthur telah berakhir. Mobil jeep yang masih ditutupi kain terpal warna hitam itu merupakan mobil terakhir di deretannya. Di depannya adalah deretan rak-rak yang penuh berisi peralatan dan perlengkapan bengkel. Sialnya, mobil tempat ia bersembunyi dengan rak tersebut terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh. Dengan dua orang sebagai pemburunya dan pistol di tangan masing-masing, sudah pasti Arthur yang akan kalah. Apalagi dua-duanya sekarang dikenal sebagai penembak handal.

DOR!

"Kau sudah tak bisa kemana-mana lagi, Il Capitano." kata Willem dengan suaranya yang paling dingin. Begitu tak berperasaan dan tak kenal belas kasih. Moncong senjatanya masih berasap setelah memuntahkan peluru terakhir yang mengenai badan depan mobil.

Tidak akan. Arthur tidak akan menyerah begitu saja kepada dua orang ini.

Panik, Arthur mencari-cari solusi untuk kabur dari keadaan terdesak seperti itu. Jantungnya berdetak semakin kencang, memompa adrenalin semakin deras ke seluruh tubuhnya. Matanya membelalak lebar, panik, ketika ia melihat sosok Razak dan juga Willem mendekat ke tempatnya bersembunyi secara perlahan-lahan. Pistol siap untuk memuntahkan kembali timah-timah panasnya. Kali ini, tubuhnya yang menjadi incaran.

Di tengah-tengah kepanikan tersebut, Arthur menemukan satu cara untuk kabur. Dengan gerakan yang cepat, ia merayap ke bawah mobil dan membidik kaki yang ada pada jangkauan matanya.

DOR!

"ARGH!" Willem menjerit kesakitan ketika tembakan tersebut mengenai kakinya. Rasa sakit yang amat sangat membuatnya jatuh terduduk di atas lantai beton garasi, tak sanggup berdiri.

Razak segera menembaki kolong mobil dimana Arthur bersembunyi. Sayang, orang yang ia incar sudah berlari menuju salah satu mobil terdepan, siap untuk kabur. "Berhenti kau, brengsek! Masih ada aku yang harus kau bunuh!" seru Razak sambil menembaki Lamborghini berwarna kuning yang akan dinaiki oleh Arthur.

Arthur dengan sigap membuka kunci mobil dan duduk di kursi supir. Tawa nyaring terdengar dari mulut Il Capitano, menertawakan musuhnya yang telah gagal membunuhnya. "Sayang sekali, Scapino! Bagaimana kalau kau saja yang mati menggantikanku!"

Razak tidak menghiraukan seruan Arthur. Ia terus menembaki mobil tersebut hingga akhirnya...

BLAARR!

Mobil itu meledak, diselimuti oleh api berwarna merah menyala. Bukan hanya mobil itu, api segera melalap mobil-mobil yang satu deret dengan Lamborghini tersebut.

Di tengah suara dentuman dan ledakan mobil-mobil tersebut terdengar suara jerit kesakitan. Di samping mobil-mobil yang terbakar tersebut tampak Arthur keluar dengan susah payah dari dalam mobil dan jatuh ke atas lantai beton. Pakaiannya sudah terbakar dan beberapa bagian tubuhnya mulai melepuh karena api. Pemuda Inggris itu berteriak panik sambil berguling-guling di lantai, berusaha memadamkan api yang menjilati pakaiannya dan juga tubuhnya. Merasa bahwa menggulingkan diri di lantai dingin itu tak berguna, Arthur berdiri dari posisi telentangnya dan berlari panik mencari air.

"Air... Air..." jeritnya panik sambil berlari ke arah rak persediaan peralatan perbaikan mobil. Ia telah melupakan sama sekali keberadaan Willem dan Razak.

Pistol terarah pasti ke sosok yang masih terbalut api itu. Tanpa ragu, ditariknya pelatuk pistol, memuntahkan timah panas yang meluncur lurus menuju targetnya.

DOR!

Tembakan kali ini tepat mengenai punggung Arthur, membuatnya hilang keseimbangan. Tak sengaja, tubuhnya menabrak rak-rak berisi peralatan perbaikan mobil. Suara gaduh terjadi ketika rak kayu yang tak sanggup menahan berat tubuh Arthur patah, menjatuhkan sebagian besar isi yang ia tampung. Satu buah dongkrak mobil jatuh menimpa kepala Il Capitano, meremukkan tempurung kepalanya. Tangkai dari dongkrak tersebut menusuk tajam ke dalam kepalanya, merusak organ intim di balik tempurung. Beberapa linggis juga jatuh menimpa tubuh sang Il Capitano. Satu linggis jatuh tepat di atas matanya dan menancap dengan begitu mengerikan pada organ optik tersebut.

Razak mengamati sosok Il Capitano yang masih terbalut api dan sudah tidak bergerak lagi. Di belakangnya, api mulai merambat ke mobil-mobil di deretan belakang, semakin mendekati dirinya dan Willem.

Tiba-tiba, kaki Razak goyah dan hampir jatuh ke lantai. Beruntung Willem—meskipun kakinya luar biasa sakit—berhasil menangkap pemuda berambut hitam itu untuk yang kedua kalinya. Rasa sakit yang semula berhasil Razak pendam kembali ke permukaan dan lebih sakit.

"Razak. Razak, kau tidak apa-apa?" tanya Willem, khawatir. Ia mengusap peluh yang membanjiri kening Razak. "Aku akan membawamu keluar dari sini. Bertahanlah sedikit lagi."

Dengan susah payah, Willem membopong Razak keluar dari garasi. Cukup sulit, mengingat kaki kanan sang pemuda Belanda juga cedera. Willem baru menurunkan Razak setelah berada cukup jauh dari garasi. Sayup-sayup, keduanya bisa mendengar seruan-seruan panik dari arah garasi. Sepertinya polisi atau Commedia dell'Arte telah menemukan garasi yang terbakar tersebut.

"Apa yang kau lakukan tadi, Raz?" tanya Willem.

"Aku menyiramkan bensin ke mobil-mobil di deretan depan..." gumam Razak. "Aku tahu kalau ia pasti akan mencoba kabur dengan mobil deretan paling depan. Makanya, kusiram bensin saja dan terus kutembaki sampai terjadi percikan api..."

"Kenapa kau lakukan itu, hah?" desis Willem, kesal. "Kau bisa saja menyerahkan dia padaku! Aku akan membawanya ke polisi dan dia akan diberi hukuman yang pantas!"

Razak mendengus, menertawakan perkataan Willem. "Orang seperti dia paling pantas... Untuk mati seperti itu..." bisiknya pelan. Ia mengerang pelan sambil memegangi perutnya yang terluka. "... Orang seperti dia harus mati... Dan aku berharap lebih sadis... Dari yang tadi..."

"Tapi tetap saja—"

"Aku menang."

Willem mengangkat kedua alis matanya, bingung dengan perkataan yang baru saja diucapkan oleh Razak. Bukan hanya itu. Mantan polisi berambut pirang ini juga tidak mengerti dengan senyum puas yang terukir di bibir Razak. Apa bocah ini menganggap pembunuhan Il Capitano tadi sebagai pertarungan? Adu ketangkasan atau semacamnya?

"Apa maksud—"

"Aku menang, Willem." Kembali Razak membisikkan kalimat tersebut. Kali ini terdengar lebih lemah dari yang pertama. "Aku menang. Aku yang akan bertemu dengan kakak terlebih dulu."

Kedua bola mata Willem membelalak lebar ketika mendengar perkataan Razak. Ekspresi terkejutnya itu segera tergantikan dengan ekspresi gusar. Willem lalu mencengkeram pundak Razak dan mengguncang-guncangkan tubuh pemuda Asia tersebut seraya berkata, "Kau ini bicara apa, hah? Kau pasti akan hidup! Kau pasti hidup! Buktinya, kau bisa mengejar Il Capitano dan membunuhnya sampai seperti itu. Kau pasti bisa bertahan dari tiga peluru seperti ini!"

Razak tidak merespon apa-apa. Ia hanya memejamkan matanya, terdiam.

"Ayolah, Razak!" desak Willem. "Kau pasti bisa! Kalau kau tewas, siapa yang akan merawat adik-adikmu, hah?"

Mendengar kedua adiknya disinggung, Razak membuka matanya perlahan-lahan. Ia melirik Willem yang masih mencengkeram pundaknya. Raut kekhawatiran dan juga ketakutan tampak jelas di wajah pemuda Belanda tersebut. Entah kenapa, melihat ekspresi itu pada wajah Willem membuat Razak tersenyum kecil.

Tapi, satu ide terpikirkan di kepala Razak.

Satu ide yang ia yakin akan sangat disetujui kakaknya. Ia bahkan curiga kalau Rangga pasti akan membunuhnya berulang kali di dunia sana apabila Razak melupakan hal ini.

Sekarang. Ia harus mengucapkannya sekarang, sebelum semuanya terlambat.

"Willem..." bisik Razak pelan. "... Aku... Aku mau kau... rawat Rachel dan Raihan. Berikan kepada mereka berdua kehi... dupan yang menyenangkan. Kehidupan yang... jauh dari kesedihan seperti ini...

"Gantikan aku dan Rangga... Gantikan kami... rawat mereka... berdua..."

Willem tak sanggup berkata apa-apa. Ia terdiam, terpaku di tempatnya. Apa ini? Salam perpisahan? Wasiat terakhir?

Willem mengeluarkan suara tercekat ketika sebuah tangan meraih belakang kepalanya, meremas helaian rambut pirang. Detik berikutnya, tangan tersebut sudah menarik Willem mendekat hingga keningnya menyentuh kening Razak. Ia bisa merasakan tiap tarikan dan hembusan napas pemuda berambut hitam di depannya.

"Berjanji padaku... Kau akan menemukan mereka!" geram Razak. "Rawat mereka... Beri mereka kehidupan normal yang Rangga dan aku... gagal berikan. Berikan... berikan kebahagiaan..."

"Dimana—"

"Apartemen..." kata Razak sebelum Willem sempat menyelesaikan pertanyaannya. "... Rachel dan... Raihan sudah ku... kupindahkan ke apartemen. Kau tahu, kan? Aparte... men Rangga dan aku..."

Willem mengangguk mengerti. "Aku akan segera ke sana. Aku berjanji akan menjaga mereka."

Razak tersenyum simpul sebelum melepaskan cengkeramannya pada rambut Willem. Matanya terpejam dan raut kesakitan terlihat jelas di wajahnya. Pemuda berambut hitam itu menghela napas panjang sebelum kembali berbisik,

"... Katakan pada mereka... aku... dan Rangga... menyayangi mereka.

"Katakan... Katakan pada mereka... aku... minta maaf atas... semuanya..."

Jantung sudah berhenti memompa darah ke seluruh tubuh, meninggalkan tubuh itu menjadi dingin.

Tangan yang semula kokoh mencengkeram lengan pakaian Willem sekarang terkulai lemas di atas lantai marmer.

Jiwa sudah meninggalkan raga.

Meninggalkan seonggok manusia yang dulu dikenal sebagai Razak.


DOR!

Antonio merasakan rasa nyeri yang luar biasa pada dada kirinya. Dengan mata membelalak lebar, Antonio menunduk, memperhatikan apa yang telah menciptakan rasa sakit tersebut. Tangannya dengan ragu menyentuh noda merah yang perlahan-lahan mengotori kemeja biru mudanya.

Darah merah yang masih segar, mengucur dari lubang hasil tembakan pada dada kiri Antonio.

Antonio mengerang pelan dan jatuh pada lututnya. Rasa sakit menyebar dengan cepatnya ke sekujur tubuhnya. Mata hijaunya menatap tak percaya ke arah Lovino yang ternyata sama bingungnya dengan Antonio. "L... Lovi..." bisik Antonio lemah sebelum ambruk ke tanah, tak bergerak.

Lovino menatap tak percaya sosok Antonio yang ambruk di tanah, tak bergerak. Mata cokelatnya menatap ngeri saat melihat noda merah darah semakin melebar dari satu titik luka yang ada di dada kiri Antonio. "Siapa..."

"Anda tak apa-apa, Il Dottore?"

Lovino membalikkan tubuhnya dan melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam. Tangan kanannya menggenggam sebuah senapan laras panjang dengan scope. Topeng berwarna cokelat tembaga terpasang, menutupi setengah wajah dari laki-laki itu.

"Mezzetino?" bisik Lovino, ragu. "Apa yang kau lakukan disini?"

"Saya mengikutinya, Il Dottore." jawab Mezzetino. Ia melepaskan topengnya dan mengambil kacamata dari saku bajunya. Ia membersihkan kacamatanya dan mengenakannya. "Ketika ia bicara tak akan datang penyergapan saat penutupan rapat, saya tahu ada tidak beres dengannya. Biasanya ia bersemangat sekali untuk ikut—apalagi memimpin—suatu penyergapan. Apalagi ini adalah Commedia dell'Arte."

Lovino melirik tubuh Antonio yang masih tergeletak tak bergerak di samping danau. Kembali mata hijaunya menatap Mezzetino yang sudah menyimpan kembali topeng keramiknya ke dalam tas pinggang warna hitamnya. "Jadi, kau mengikutinya sampai kesini?"

"Ya. Saya khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada Anda, Il Dottore. Makanya, saya membuntuti Antonio sampai kemari dan menunggu saat yang tepat untuk menghabisinya. Supaya ia tak bisa melukai Anda."

Raut khawatir dan panik masih membayang di wajah Lovino. "... Lalu, kalau kau disini, siapa yang memimpin penyergapan?"

"Saya sudah menyerahkannya pada Gilbert. Bukan masalah."

"Dan mereka tidak bermasalah dengan itu? Bagaimanapun juga kau kan... Inspekstur mereka, Roderich."

Roderich tersenyum singkat sebelum membungkuk penuh hormat. "Keselamatan Anda lebih penting daripada itu semua, Il Dottore."

Lovino mendengus pelan ketika mendengar perkataan Roderich. Mata cokelatnya mengerling ke Antonio yang masih terbaring lemah di atas rerumputan. Tubuh detektif tersebut masih tidak bergerak sedikit pun. Benar-benar terlihat seperti mati.

Sang Il Dottore berjalan mendekati tubuh kaku Antonio dan menendang perutnya pelan hanya untuk melihat apakah detektif itu benar-benar sudah mati atau belum. Antonio masih terbaring kaku meskipun sudah tiga kali Lovino menendangnya pelan. Melihat tak ada reaksi dari pemuda Spanyol tersebut, Lovino mendongak dan kembali menatap lurus Roderich. Ekspresi tak percaya terlukis jelas di wajahnya. "... Kau membunuhnya?" tanyanya, tak yakin. "Dia mati?"

"Siapapun juga akan tewas bila ditembak tepat di dada kirinya, Il Dottore." sahut Roderich enteng. "Il Dottore, akan lebih baik bila kita segera kembali ke markas. Berdasarkan pemberitahuan dari pihak kepolisian, mereka sudah berhasil membunuh Tartaglia dan Pulcinella. Bahkan mereka berhasil menangkap Sandrone."

Lovino masih tak percaya. Mata cokelatnya berkali-kali mengerling ke arah Antonio. Ia tak sanggup mempercayai bahwa Antonio tewas dengan mudahnya. Ini tidak sesuai dengan apa yang ia rencanakan. Tidak seharusnya Antonio tewas. Tidak seharusnya Mezzetino berada di sini. Tempat ini seharusnya menjadi kuburan baginya. Atau bagi Antonio.

Mungkin, dengan kematian Antonio ini merupakan pertanda bahwa Lovino masih harus merawat dua anak itu sebagai penebusan atas apa yang telah ia lakukan pada Rangga...

"Baiklah." kata Lovino. Ia menegakkan tubuhnya dan menyarungkan kembali pistol ke sela sabuk. "Aku akan mengambil mantel dan kunci mobilku dulu. Setelah itu, kita segera menuju markas."

Mezzetino mengangguk patuh dan mengikuti Lovino kembali ke rumah kayu tersebut. Keduanya meninggalkan tubuh Antonio, terkapar di atas rumput yang dingin di tepi danau.

Mereka berdua tak menyadari ketika jemari berwarna kecokelatan berkedut dari sela-sela rerumputan.

Mereka tak menyadari sama sekali saat sebuah tangan menyelinap pelan tanpa suara, meraih pistol yang terjatuh di rumput.

Mereka tak menyadari sama sekali ketika sesosok tubuh yang semula terkulai lemas tak bergerak di tanah mulai bangkit. Pistol teracung lurus ke targetnya.

DOR!

Lovino memutar tubuhnya cepat, terkejut dengan bunyi tembakan yang menggema, membelah keheningan danau. Di belakangnya, Roderich jatuh tersungkur di atas tanah sambil memegangi perutnya yang tertembak. Darah mulai merembes, membasahi kain katun berwarna hitam tersebut. Erangan kesakitan keluar dari mulut sang sniper sebelum ia jatuh ke tanah, pingsan.

Mata cokelat Lovino menatap bingung sosok anak buahnya yang tumbang. Siapa yang bisa menembaknya seperti ini? Satu-satunya orang yang berada di area tersebut selain dirinya dan Roderich adalah...

"Beruntung aku memakai rompi anti peluru di balik kemejaku." ucap sebuah suara, bangga. "Dan aku tak percaya kalian berdua bisa terjebak oleh bungkus saos tomat yang kusimpan di saku ini. Padahal, rencananya saos tomatnya mau kubawa pulang ke rumah sebagai persediaan."

Di sana, di tepi danau, berdiri Antonio Carriedo dengan gagahnya. Pistol di tangan kanan dan teracung lurus ke arah Lovino. Wajahnya menampilkan seulas senyum penuh rasa bangga dan kepercayaan. Noda merah yang semula Lovino sangka sebagai noda darah masih terlihat begitu nyata di dada kiri sang pemuda Spanyol itu.

Lovino terkekeh pelan setelah beberapa lama terdiam. "Ternyata kebiasaan lamamu untuk membawa pulang bungkus tomat dari kantor ke rumah masih berlaku hingga sekarang, ya."

"Old habbits die hard." ucap Antonio sambil mengangkat kedua pundaknya, enteng. Sepasang bibirnya masih membentuk satu lengkungan di kedua sudutnya. "Sewaktu aku merasakan nyeri di dada karena peluru, aku sempat curiga ada sesuatu yang salah. Aku sempat terkejut juga melihat noda merah di dadaku. Kukira pelurunya berhasil menembus rompi anti peluru yang kukenakan, tapi ternyata itu hanya merobek bungkus tomat yang kusimpan di kantung dada."

"Lalu, kalau kau memang tidak mati, kenapa kau sengaja ambruk ke tanah seperti itu?"

"Karena kalau aku tidak terlihat mati seperti itu, aku tak akan pernah tahu seperti apa sosok Mezzetino. Dan ternyata..." Antonio melirik sedih sosok Roderich yang tergeletak pingsan tak jauh dari tempat Lovino berdiri. "Ternyata dia adalah atasanku sendiri. Tak heran kenapa Commedia dell'Arte selalu bisa meloloskan diri, bagaimanapun kami para polisi berusaha mengepung kalian."

Lovino mendengus kesal. Kedua mata cokelatnya menatap Antonio dengan tatapan yang begitu tajam dan dalam. Seolah-olah pemuda berambut cokelat tua itu ingin menciptakan sebuah lubang besar di kepala Antonio hanya dengan pandangan matanya. "Sekarang, kau mau apa? Mau membunuhku?"

Tak ada reaksi balasan apapun dari Antonio. Detektif bermata zamrud itu hanya terdiam dengan senjata terangkat tinggi, siap menembak. Tubuhnya sendiri berdiri kaku, tak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak kemanapun. Bukan hanya Antonio yang terpaku di tempatnya, tapi juga Lovino. Pemimpin Commedia dell'Arte itu hanya berdiri di tepi tangga menuju teras pondok, menanti balasan dari Antonio. Tak sedikitpun jemarinya bergesekan dengan pistol yang masih tersemat di sabuknya.

"Ambil senjatamu, Lovi." kata Antonio. "Mari kita lanjutkan lagi duel yang sempat tertunda."

"Kalau itu maumu."

Perlahan-lahan, Lovino meraih pistolnya, mencabut senjata berbahan metal tersebut dari lingkar pinggangnya. Tangan kanannya dengan pasti dan yakin terangkat, membidik sasarannya. Ia hanya melihat satu titik. Satu titik fatal yang akan membuat musuhnya jatuh tersungkur, darah mengucur deras dari kepala, dan nyawa meninggalkan raga.

Hanya butuh satu tembakan untuk mengakhiri duel ini.

Satu tembakan pamungkas yang dulu Lovino ajarkan pada Rangga.

Tembakan telak tepat di antara mata korban.

"Kau sudah siap, Lovi?" tanya Antonio lembut. Pistolnya juga diarahkan ke titik yang sama dengan Lovino.

Lovino terdiam sesaat sebelum menyahut dengan yakin, "Ya."

"Pada hitungan ketiga."

Dua orang saling berdiri berhadapan, pistol teracung pada musuh.

Peluru siap dimuntahkan, melubangi kepala sang mantan terkasih.

"Satu."

Penuh keyakinan dan percaya diri kedua membidik.

Hanya butuh satu tembakan.

"Dua."

Satu, dan semuanya akan berarkhir.

Satu tembakan yang akan mengakhiri penderitaan mereka.

"Ti—"

DOR!

Antonio menjauhkan pistolnya dari sasaran. Kedua mata hijaunya membalalak terkejut ketika mendengar suara letusan senjata. Ia belum selesai menghitung sampai tiga. Lagipula, tembakan yang barusan terjadi bukan berasal darinya ataupun dari Lovino. Tembakan barusan berasal dari tempat lain. Tepatnya dari dalam sebuah mobil sedan berwarna merah marun yang baru saja berhenti. Kaca rayban diturunkan hingga batas maksimal, menampilkan seorang pemuda berambut putih keperakan dengan mata rubi bersinar terang di tengah malam. Handgun tergenggam erat di kedua tangannya dengan kepulan asap keluar dari moncongnya.

Pemuda itulah yang baru saja menembak. Ia begitu terburu-buru untuk menembak, bahkan mesin mobil tak sempat ia matikan terlebih dulu. Suara gerung mesin terdengar jelas dari mobil sport tersebut.

Antonio menatap ke arah pemuda itu dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung. "... Gilbert?" desisnya. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya, bingung.

"Membantumu." balas Gilbert. Pemuda Jerman itu keluar dari mobilnya, tergesa-gesa, dengan pistol masih tergenggam erat di tangan kanannya. Mata rubinya menatap Antonio dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari-cari luka pada tubuh Antonio barang sedikitpun. Matanya membelalak lebar ketika melihat noda merah di dada kiri Antonio. Panik, Gilbert merengkuh pundak Antonio dan memperhatikan noda merah seperti darah tersebut. "Kau... Kau terluka? Dia menembakmu?" tanyanya panik.

Antonio menggeleng pelan dan mendorong Gilbert menjauh. "Tidak. Aku menggunakan rompi anti peluru. Noda merah ini tomat bungkusan yang kuambil saat makan siang di kantin tadi siang."

Sebelum Gilbert memaksa Antonio masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit, sang detektif Spanyol mendorong Gilbert menjauh. "Lovi." bisik Antonio. Mata hijaunya yang tampak penuh kekhawatiran terus terarah pada Lovino yang berlutut sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah. Sepertinya tembakan yang dilontarkan oleh Gilbert berhasil mengenai tangan Lovino.

Antonio berjalan menghampiri Lovino perlahan-lahan dan penuh kewaspadaan. Siapa tahu pemimpin Commedia dell'Arte ini mempunyai senjata tersembunyi yang bisa ia gunakan sewaktu-waktu musuh berada di dekatnya. "Lovi, kau tidak apa-apa?" tanya Antonio dengan nada suara lembut. Ia mengulurkan tangannya, ingin menyentuh pundak Lovino dan menenangkan pemuda Italia tersebut.

"Jangan sentuh aku!" bentak Lovino kasar. Mata cokelatnya mendelik tajam dan tangan kirinya masih menggenggam tangan kanannya yang terluka berdarah-darah. Sepertinya peluru yang dimuntahkan oleh handgun Gilbert hanya menyerempet tangan Lovino dan bukannya bersarang di dalam daging. "Kau sudah menang. Kenapa kau tidak pergi saja dengan Gilbert, hah!"

"Aku hanya ingin membantumu, Lovino. Tanganmu butuh perawatan med—"

"SUDAH KUBILANG, BIARKAN AKU SENDIRI!"

Suara bentakan Lovino terdengar begitu keras di tengah-tengah kesunyian, mengagetkan Antonio dan juga Gilbert yang berada di dekatnya.

Lovino menarik napas panjang untuk menenangkan sedikit perasaannya yang sedang berkecamuk. "Biarkan aku sendiri. Biarkan aku tewas di tempat ini karena kehabisan darah. Biarkan aku membusuk di sini, dimakan oleh waktu. Biarkan aku sendiri."

Nada suara Lovino terdengar begitu sedih. Terlalu sedih sampai-sampai Antonio tergerak untuk merendahkan tubuh dan memeluk Lovino erat. Disandarkannya kepala Lovino ke pundaknya dan dengan gerakan tangan yang lembut, Antonio mengelus-elus rambut cokelat tua tersebut. "Jangan berkata seperti itu, Lovi... Kumohon, jangan berkata seperti itu lagi..." bisiknya lirih, masih mengelus rambut cokelat Lovino.

Beberapa saat Lovino terdiam hingga akhirnya ia membuka mulutnya dan berbisik, "Ini yang aku inginkan, Antonio. Ini yang kuinginkan."

"Tidak. Jangan bicara seperti itu, Lovino. Kumohon, jangan..." pinta Antonio. Nada suaranya sedikit tertahan. "Kau tidak akan kubiarkan mati di sini. Gilbert." Antonio mendongak, menatap sahabat yang sekarang sudah berubah menjadi kekasihnya. Dengan sorot mata memohon, Antonio berkata, "Gilbert, kita harus mengantarkan Lovino ke rumah sakit terdekat. Kumohon."

"Lalu Roderich bagaimana?" tanya Gilbert sambil menunjuk Roderich yang masih terbaring pingsan di tanah.

Antonio mengerang pelan, kesal karena ia melupakan Roderich yang masih pingsan di samping mereka. Ia ingin membiarkan mata-mata itu di tempat ini, mati karena kehabisan darah. Toh, Antonio yakin pemuda berambut hitam berkacamata itu pasti sudah kehilangan cukup darah. "Umm... Bawa saja. Kumohon, kita harus segera membawa Lovi ke rumah sakit terdekat."

Gilbert mengangguk mengerti. Meskipun berat hati, ia berjalan menuju mobilnya dan membuka pintu belakang. Beberapa barang yang tergeletak berantakan di kursi belakang ia bereskan terlebih dahulu. Sebenarnya ia agak keberatan karena harus mengantar Lovino, apalagi setelah melihat sikap Antonio yang sangat perhatian kalau menyangkut Lovino. Tapi, ia sendiri tak mungkin membiarkan Lovino, sang anggota inti dan paling penting Commedia dell'Arte tewas begitu saja. Memang perintah langsung dari Inspektur Jendral untuk menghabisi mereka, tapi ada catatan khusus yaitu apabila mereka melawan. Akan lebih baik kalau melumpuhkan mereka seperti ini dan membawa mereka ke kepolisian untuk diinterogasi.

Demi kepolisian, Gilbert harus mau mengantar Lovino ke rumah sakit.

Tapi...

"Aku tak mau." gumam Lovino lemah sambil mendorong tubuh Antonio menjauh. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari cengkeraman tangan Antonio yang terus mengajaknya masuk ke dalam mobil sport berwarna merah yang dikendarai Gilbert. "Biarkan aku sendiri di sini. Aku mau di sini saja..."

"Tapi, Lovino, lukamu tidak akan sembuh kalau kau biarkan begitu saja..." kata Antonio. Sorot matanya menggambarkan kekhawatiran dan ketakutan yang sangat jelas. "Ayolah. Ikut aku dan Gilbert ke rumah sakit. Kami juga akan membawa Roderich."

"Hah. Rumah sakit." dengus Lovino, mengejek. "Setelah rumah sakit, apa? Kau mau menjebloskanku ke penjara, kan? Maaf, aku lebih memilih mati mengenaskan daripada harus menghabiskan seumur hidupku di penjara. Lebih baik akuk mati dengan cara paling sadis yang pernah diketahui umat manusia daripada harus menerima hukuman mati dari pengadilan."

"Tapi..."

"Inilah tujuanku memanggilmu kemari, Antonio." ucap Lovino pelan. Ia mendongakkan kepalanya dan menatap Antonio pada kedua matanya. Seulas senyum kecil terukir di bibir tipis sang pemuda Italia. Senyum tulus pertama yang Lovino berikan di malam itu. Senyum indah yang sudah lama tak terlihat oleh Antonio. "Ini adalah balasan atas kesalahan-kesalahan yang telah kubuat."

"Lovi—"

"Aku ingin mati, Antonio."

"Lovi, jangan bicara begitu... Kumohon..."

"Biarkan aku mati."

"Lovino, hentikan omong kosong ini dan ikut aku ke rumah sakit..."

"Biarkan aku menyelesaikan hidupku di chapter ini, Antonio." gumam Lovino. Pemuda Italia itu berhasil mendorong Antonio menjauh lalu berjalan mundur, semakin menghindari Antonio. "Ceritaku sudah tamat. Selesai. Sejarah."

"Lovino, jangan berbuat bodoh. Kumohon..."

Lovino mendongakkan kepalanya, menatap sendu langit malam di musim gugur. Bintang-bintang berkelap-kelip, sahut menyahut. "Biarkan aku mati dan memperoleh kebahagianku.

"Biarkan aku bertemu dengannya lagi, entah di surga ataupun neraka."

Dengan gerakan tangan yang begitu cepat, Lovino membungkuk dan mengambil pistol yang sempat ia jatuhkan. Ia segera menempatkan moncong senjata tepat di bawah dagunya, menatap sedih Antonio yang berteriak panik, memaksanya untuk menjauhkan benda berbahaya itu dari tubuhnya.

"Gantikan aku merawat dua anak itu." bisik Lovino lirih. "Katakan pada mereka, aku minta maaf.

"Maaf, karena sudah membuat hidup mereka bagaikan di neraka.

"Dan katakan pada mereka, aku tak pernah membenci mereka. Aku tak pernah membenci Rangga. Perintah untuk membunuhnya adalah kesalahan terbesar yang pernah kulakukan dan aku menyesal. Aku sangat menyesal.

"Aku menyesal sudah membunuh orang yang kucintai."

Dan Lovino pun menarik pelatuk pistol. Timah panas menghujam dari bawah kepalanya, menembus melalui rahang bawah dan melewati rongga mulut untuk kemudian bersarang di otak besarnya. Sinar pucat rembulan menyorot cipratan darah yang menodai hijaunya rerumputan. Noda darah juga tampak pada beberapa tiang penyangga atap pondok yang berwarna cokelat muda. Sebagaian lantai beranda pondok juga mulai berubah warna dari cokelat muda menjadi merah darah.

Darah segar yang masih hangat.

"Lovino, kau ingat apa yang Papa ajarkan padamu mengenai teknik menembak?"

"Ya. Aku masih ingat."

"Dimana kita harus menembak sehingga musuh cepat tewas dan kau tak perlu mendengarkan jerit kesakitan atau permohonan ampunnya?"

"Di kepala. Tepat di tengah-tengah antara mata kiri dan kanan. Peluru akan langsung menembus tengkorak dan bersarang di otak besar, merusak sistem saraf pada tubuh korban."

"Dan bila kau menginginkan kematian yang cepat untuk dirimu sendiri? Dimana kau harus menembak?"

"Tepat di kepala. Bisa melalui pelipis, kening, atau melalui rahang bawah."

"Kalau kau harus memilih dari tiga opsi tersebut, mana yang kau pilih?"

"Rahang bawah."

"Kenapa?"

"Karena dengan meletakkan senjata di bawah rahang, kepala kita akan mendongak. Tatapan mata kita tajam, lurus ke depan. Posisi ini membuat kita terlihat begitu berani dan gagah. Tak takut mati. Siap untuk mati.

"Kelak, bila aku harus mati, aku ingin mati dengan tembakan seperti ini.

"Tembakan yang dilakukan dengan penuh rasa bangga.

"Tembakan yang dilakukan atas dasar keinginan sendiri yang sudah muak dengan dunia.

"Tembakan terakhir yang begitu membanggakan, penuh rasa percaya diri.

"Aku ingin mati dengan penuh kebanggaan, dengan dagu terangkat tinggi

"Aku ingin mati terhormat."

Dan itulah yang ia lakukan. Mati terhormat dengan dagu terangkat tinggi. Tangan memegang pistol dengan yakin.

Kematian sempurna bagi pemipin yang sempurna.

The End


Epilogue

Willem van der Plast mengerjapkan matanya berkali-kali ketika berkas matahari menerpa kedua matanya. Suara erangan pelan menandakan pemuda berambut pirang itu mulai tersadar dari tidur pulasnya. Mimpi yang ia lihat perlahan-lahan mulai menipis dan akhirnya menghilang.

Mimpi...

Berkali-kali ia selalu memimpikan hal yang sama. Tentang seorang pemuda berambut hitam ikal dengan mata abu-abu yang begitu menarik namun penuh misteri. Senyum lebar merekah di bibirnya yang berwarna merah muda dan begitu menggoda. Pemuda itu berdiri di tepi pantai, memunggungi matahari terbenam. Tangan kanannya terulur ke arah Willem, seperti mengajaknya untuk pergi ke suatu tempat.

Willem tak pernah bisa mendengar apa yang dibisikan oleh pemuda itu. Rentetan kata yang terjalin dalam kalimat singkat hanya diucapkan tanpa suara.

Betapa Willem merindukan suaranya. Suara lembut yang biasanya melontarkan kalimat mengejek dan sindiran tajam kepadanya.

Betapa Willem merindukan Rangga.

Sudah lewat dari seminggu sejak kepolisian menyergap markas Commedia dell'Arte. Beberapa anggotanya berhasil ditangkap, namun sayangnya mereka tak tahu banyak mengenai pemimpin-pemimpinnya yang melarikan diri. Sandrone, salah satu anggota teratas dari Commedia dell'Arte yang berhasil mereka tangkap tak pernah berhasil mereka interogasi. Perempuan Belarus itu langsung menggigit lidahnya sampai putus ketika digiring masuk ke dalam mobil patroli. Ia dinyatakan tewas karena kekurangan darah ketika sampai di rumah sakit. Pemimpin-pemimpin lainnya seperti Scaramuccia ataupun Burrattino tidak ditemukan dimanapun. Berdasarkan arsip keanggotaan yang ditemukan oleh kepolisian di ruang kerja Il Dottore, sebanyak 12 jajaran tiinggi Commedia tak ada satupun yang berhasil masuk ke ruang interogasi.

Pulcinella. Tewas dalam baku tembak bersama Francis di atap rumah.

Tartaglia. Tewas.

Sandrone. Bunuh diri ketika akan ditangkap.

Arlecchino. Berdasarkan data yang ditemukan polisi, ia dibunuh oleh Il Dottore atas kelalaiannya.

Scaramuccia. Menghilang entah kemana.

Pantalone. Menghilang.

Il Capitano. Ditemukan tewas di garasi mobil dengan keadaan mengenaskan. Tempurung kepala pecah, mata tertusuk, dan luka bakar parah di sekujur tubuhnya.

Burrattino. Hilang.

Scapino. Tewas dengan tiga luka tembakan di dada dan perutnya.

Mezzetino. Tewas bunuh diri dengan menembak kepalanya, tepat ketika polisi datang untuk menangkapnya.

Brighella. Tewas dibunuh oleh Mezzetino, tepat setelah keluar dari gedung pengadilan.

Il Dottore. Tewas bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.

Entah Willem harus bahagia atau tidak dengan apa yang diceritakan oleh Francis padanya. Tak satupun dari anggota tertinggi Commedia dell'Arte berhasil mereka tangkap. Memang penyergapan tersebut tidak rugi sama sekali. Polisi berhasil mendapatkan berkas-berkas penting mengenai perdagangan serta kontak-kontak yang dimiliki oleh Commedia. Dengan mudah, polisi melacak keberadaan supplier dan pengedar serta pembelinya, lalu menjebloskan mereka semua ke penjara.

Tapi, tak satupun pemimpinnya tertangkap.

Berdasarkan apa yang Willem dengar baru-baru ini dari Francis, kepolisian sedang berusaha untuk menemukan para anggota Commedia dell'Arte yang kabur, menghilang entah kemana. Meskipun pemuda Perancis itu ragu kalau mereka akan bisa menemukan Burrattino, Pantalone, dan juga Scaramuccia.

"Broer?" Suara lembut seorang perempuan terdengar dari balik pintu kamar tidur Willem, diikuti dua ketukan lembut. "Broer, kau sudah bangun?"

Tanpa menunggu jawaban dari Willem, perempuan itu membuka pintu dan mengintip ke dalam kamar. Rambut pirang yang serupa dengan Willem tampak melingkari wajah manisnya dengan pita berwarna hijau cemerlang terikat di kepalanya. Mata hijaunya tampak begitu gembira dan antusias. "Ah, kau sudah bangun rupanya. Kukira kau masih tidur. Ayo, bantu aku menyiapkan makan siang!"

Willem mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapan adik perempuannya itu. "Makan siang? Bukannya ini masih pagi?"

Bela berkacak pinggang dan mendengus kesal. "Masih pagi, katamu?" Dengan langkah-langkah panjang, perempuan itu berjalan menuju jendela besar yang masih tertutupi tirai. Tangannya dengan cepat menyingkapkan tirai-tirai tersebut, membiarkan cahaya matahari terik memasuki ruangan. "Ini sudah siang, tahu!" kata Bela, merengut. "Kau sudah melewatkan sarapan. Kau tidak boleh melewatkan makan siang kali ini!"

Willem mendengus pelan dan terkekeh. "Aku tak masalah kalau harus melewatkan poffertjes-mu yang tidak enak itu."

Bela menjulurkan lidah mengejek ke arah kakaknya. "Kau rugi. Yang memasak sarapan tadi pagi adalah Nando. Sekarang, giliranku untuk memasak makan siang." Bela kemudian mengeluarkan sepucuk surat dari saku apronnya. "Ngomong-ngomong, kau mendapat surat dari Antonio."

"Oh, ya? Mana?" kata Willem seraya mengulurkan tangannya, meminta surat tersebut dari Bela.

Sebelum Willem sempat menyentuh sedikitpun surat tersebut, Bela menjauhkan amplop surat dari jangkauan tangan Willem. Perempuan berambut pirang itu malah melemparkan handuk berwarna biru tua ke kepala Willem sambil berkata, "Kau baru boleh membaca surat ini setelah mandi. Dan kalau sudah mandi, segera ke dapur dan bantu aku memasak."

Willem hanya bisa mengerang pelan sambil berjalan malas ke arah kamar mandi.

Tak butuh waktu lama bagi Willem untuk membersihkan tubuhnya. Ia bukan tipe orang yang sanggup berlama-lama di dalam kamar mandi. Ia sibuk mengeringkan rambut pirangnya dengan handuk seraya berjalan menuju dapur untuk menemani sang adik memasak. Willem kemudian merobohkan tubuhnya ke atas kursi bar, menghadap langsung pada sosok Bela yang sedang memotong-motong bahan makanan di counter dapur. Bunyi pisau beradu dengan talenan terdengar nyaring.

"Mana suratku?" tanya Willem, masih sibuk mengeringkan rambutnya.

"Itu, di atas koran." sahut Bela sambil mengedikkan kepalanya ke sisi sebelah kanan Willem dimana koran dan surat itu berada.

Willem mengambil surat tersebut. Penasaran, dibukanya surat tersebut.

¡Hola, Willem!

Bagaimana kabarmu? Masih di Lisbon mengunjungi adikmu, kan? Katakan kalau kau masih di situ dan belum pulang ke Amsterdam. Kalau iya, berarti aku salah kirim, dong?

Ah, apapun.

Aku hanya ingin mengabarkan kalau semuanya berjalan baik-baik saja di sini. Aku dan Gilbert baru saja sampai di Madrid untuk berlibur. Setelah apa yang kita alami seminggu ini, akhirnya kepolisian memberiku libur dua minggu. Otakku terlalu lelah kalau harus dipaksa mencari para anggota yang tersisa.

Cukup tentangku. Bagaimana dengan kau, Will? Terakhir kita bertemu, kau terlihat begitu sedih dan semakin pendiam. Kau bahkan menjauh dariku, Gilbert, dan juga Francis. Kita masih berteman, kan? Kau jarang membalas email dariku. Kau tidak apa-apa, kan? Jangan membuatku khawatir begini... Tidak baik kalau kau terus berduka selama ini. Dia juga pasti tidak akan senang melihatmu terus sedih.

Ah, maaf kalau suratku ini malah mengingatkanmu pada kejadian yang kurang menyenangkan. Tujuan utamaku mengirim ini hanya untuk memberikan kabar tentangku dan menanyakan kabarmu. Kalau kau ada waktu, berkunjunglah kemari! Akan kuajak kau keliling Madrid!

Antonio C.

P.S.: Bilang pada kakakku untuk pulang ke Madrid. Dia terlalu lama di Lisbon.

P.P.S.: Bagaimana kabar anak-anak?

Willem melipat kembali surat tersebut dan memasukkannya ke dalam amplop. Wajahnya tampak begitu sedih sepanjang surat. Memang benar apa yang dituliskan Antonio di surat. Willem jarang sekali berkumpul bersama dengan The Bad Touch Trio. Willem tak pernah bertemu dengan mereka bertiga, bahkan setelah penyergapan. Ditambah lagi, kontak terakhir yang dilakukan oleh Willem pada Antonio ketika ia menjemput Rachel dan Raihan dari apartemen Rangga.

"Jadi," Bela berjalan ke samping Willem dengan sepiring penuh pancake di tangan kanannya. Senyum kecil mengembang di bibir. "Apa isi suratnya?"

"Antonio hanya mengabarkan kalau dia dan Gilbert sedang berada di Madrid." sahut Willem. Ia kemudian mengambil garpu dan pisau, siap untuk memakan hidangannya.

"Wah, berarti dekat, dong!" ucap Bela, senang. "Bagaimana kalau kita minta dia untuk mengunjungi kita suatu hari nanti? Lisbon dan Madrid tidak terlalu jauh, kan?"

Sebelum Willem sempat merespon apapun atas pernyataan Bela, terdengar suara pintu depan terbuka dan derap kaki terdengar semakin mendekat ke dapur. Suara-suara anak kecil tertawa-tawa riang terdengar jelas.

"Mama Bela!" Suara seorang anak laki-laki dan perempuan terdengar begitu ceria, disambung dengan tawa riang serta lompatan penuh semangat dua orang anak kecil ke pelukan Bela. Rambut hitam keduanya tampak bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuh mereka yang dinamis.

Seorang laki-laki berambut cokelat tua berjalan santai memasuki dapur sambil tertawa. Ia meletakkan mantelnya ke atas meja dapur dan berjalan mendekati Bela. Mata hijaunya menatap penuh kasih perempuan berambut pirang sebahu itu sebelum merunduk dan mengecup bibir lembut Bela. "Hai." sapanya lembut dengan suaranya yang berat. Senyuman tersungging di bibirnya.

Bela tertawa pelan sebelum mendekatkan diri dan mencium laki-laki itu di bibir.

Wilem mengerang kesal ketika melihat tingkah laku dua orang itu. "Aku tidak peduli kalian berdua baru menikah beberapa bulan yang lalu, tapi tolong jangan mesra-mesraan di depan mataku." keluhnya sambil memasukkan sepotong pancake ke dalam mulutnya dengan sangar.

"Om Willem!" seru dua anak kecil sambil tertawa senang dan berlari ke arah Willem. Sebelum Willem sempat menghindar, keduanya sudah melompat dan memeluk erat Willem. "Om Willem sudah bangun!"

"Oi, oi, oi!" gumam Willem. Ia berusaha melepaskan lingkaran tangan dua orang anak itu dari lehernya. "Berapa kali kukatakan untuk memanggilku dengan sebuatan 'Kakak' saja, kan? Rachel? Raihan?"

Rachel dan Raihan hanya tertawa riang. Keduanya masih bergelayutan di leher dan tangan Willem, memberatkan sang pemuda Belanda itu.

"Habis, Om kakaknya Mama Bela, sih." kata Rachel sambil tersenyum lebar. Mata abu-abunya tampak begitu cerah dan berkilau oleh kebahagiaan. "Jadi, harus dipanggil Om, dong!"

'Tapi, aku dulu pacar kakakmu, tahu...' gerutu Willem dalam hati. Entah kenapa, panggilan 'Om' itu membuatnya merasa seperti om-om senang yang memacari bocah yang jauh lebih muda darinya.

Tapi, kalau diingat-ingat lagi, Rangga memang beberapa tahun lebih muda darinya...

"Sudah, sudah." kata sang laki-laki berambut cokelat sambil tertawa. "Ayo, kalian berdua ke kamar dan ganti pakaian. Setelah itu, kita makan siang, ya."

"Baik, Papa Nando!" ucap Rachel dan Raihan, kompak. Tanpa perlu dikomadoi dua kali, dua orang anak itu segera melompat turun dari pangkuan Willem dan berlari-lari riang menuju kamar masing-masing. Tawa ceria terdengar dari keduanya.

Mata cokelat Willem menatap kepergian dua anak itu dengan wajah sedih.

Tepat setelah Razak menghembuskan napas terakhirnya, Willem segera pergi menuju apartemen yang telah disebutkan oleh Razak, tempat dimana Rachel dan Raihan berada. Willem ingat betul bagaimana ekspresi penuh harap yang terpasang jelas di wajah keduanya sewaktu pemuda berambut pirang itu datang. Ia juga ingat betul ketika raut kekecewaan di wajah mereka ketika mendapati orang yang datang tidak sesuai dengan harapan.

"Mana kakak? Mana?"

Willem ingat betul pertanyaan yang pertama kali keluar dari mulut dua anak itu. Keduanya menanyakan langsung dengan penuh kekhawatiran keberadaan kakak mereka. Sulit sekali bagi Willem untuk pura-pura tersenyum dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa Razak sedang ada urusan penting dan harus pergi dalam jangka waktu yang cukup panjang.

"Menyusul ke tempat Kak Rangga, ya?"

Lagi, Willem hanya bisa mengangguk dalam bisu ketika dua anak itu menanyakan hal tersebut. Tenggorokannya tercekat dan suara enggan keluar dari mulutnya. Yang ingin keluar malah air mata yang mulai menggenangi bola mata cokelatnya. Dengan suara yang bergetar, Willem membujuk keduanya untuk ikut dengannya.

Demi sumpah dan janjinya pada Rangga serta Razak, Willem membawa pergi dua anak tersebut jauh dari masa lalu mereka. Tapi, satu pertanyaan besar muncul.

Siapa yang bisa merawat mereka? Jelas Willem tak sanggup membesarkan dua orang anak seorang diri. Selain itu, tak pantas rasanya kalau dua orang anak kecil tak pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Selama ini, mereka tak pernah memiliki keluarga seperti apa adanya. Tak ada sosok ibu, tak ada sosok ayah. Satu-satunya sosok yang menjadi panutan mereka adalah kakak-kakak mereka yang sekarang juga sudah tak ada.

Bukankah hidup normal bagi dua orang anak kecil adalah hidup bahagia di tengah hangatnya keluarga yang lengkap, dengan ayah dan ibu yang menyayangi mereka?

Itulah sebabnya mengapa Rachel dan Raihan bisa berada di rumah Bela dan Fernando. Dua orang kasmaran yang baru saja menikah beberapa bulan lalu itu adalah pilihan yang terbaik. Keduanya segera mengiyakan tawaran Willem untuk merawat Rachel dan Raihan dengan begitu antusias. Tentu saja. Beberapa hari sebelum Willem menghubungi keduanya, Bela mengalami keguguran karena rahimnya yang lemah. Dokter kandungan sudah memvonisnya tidak akan bisa mempunyai anak dengan kondisi rahim seperti itu. Dan ketika Willem menawari mereka untuk merawat dua orang anak, Bela dan Fernando langsung menyatakan kesanggupan mereka dengan begitu bersemangat.

Itulah alasan mengapa Rachel dan Raihan sekarang bisa berada di Lisbon, di rumah Fernando dan Bela.

Willem sendiri berada di Lisbon untuk mengawasi apakah dua anak yang dititipkan kepadanya itu benar-benar bahagia. Pertama kali Willem membawa Rachel dan Raihan ke rumah Bela, mereka tampak ketakutan. Keduanya menyembunyikan tubuh mungil mereka di balik tubuh tinggi besar Willem, menatap takut dan was-was ke arah Bela maupun Fernando. Khawatir kalau Rachel dan juga Raihan tidak betah di rumah itu, Willem memutuskan untuk menginap beberapa hari. Hanya untuk memastikan bahwa keduanya betah untuk tinggal di sana. Tadinya, bila dalam jangka waktu sebulan mereka masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan kehidupan baru mereka, Willem akan membawa mereka pulang ke rumahnya lalu merawat keduanya dengan tangannya sendiri. Itu sudah janjinya kepada Rangga dan Razak bahwa ia akan memberikan kehidupan dan rumah yang nyaman bagi keduanya. Ia tak mungkin meninggalkan Rachel dan Raihan di tempat yang tak nyaman bagi keduanya. Bila iya, Willem akan melanggar janjinya pada Rangga dan juga Razak.

Tapi ternyata kebaikan hati Bela dan juga Fernando berhasil menarik dua anak itu dari benteng ketakutan mereka. Belum ada seminggu, keduanya sudah begitu akrab dengan Bela dan Fernando. Mereka bahkan sudah mulai nyaman memanggil dua orang tua angkatnya itu Papa dan Mama. Mereka selalu tertawa dan tersenyum ceria sekarang. Tak ada lagi raut khawatir, takut, dan juga kesedihan di wajah mereka.

Mereka sudah bahagia.

Willem sudah menyelesaikan tugasnya.

"Hei, Nando." Suara manis Bela memecahkan lamunan Willem. Pemuda Belanda itu mendongak dan melihat Bela tersenyum antusias ke arah suaminya. "Adikmu ada di Madrid sekarang bersama Gilbert. Bagaimana kalo kita undang dia kemari? Lagipula, dia belum pernah bertemu dengan Rachel dan Raihan, kan?"

Fernando menaikkan sebelah alis matanya. "Antonio di Madrid? Sedang apa dia?"

"Katanya, sih, liburan. Atau kita saja yang menyusul mereka ke Madrid? Sudah lama kita tidak mengunjungi orang tuamu. Sekalian kita ajak Rachel dan Raihan! Biarkan mereka bertemu dengan kakek dan nenek mereka! Ya?" ucap Bela semangat. Ia menggamit lengan kanan Fernando dan bergelayutan manja.

Fernando hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu. "Iya, iya. Nanti kita ke Madrid. Kebetulan, akhir minggu ini ada libur tiga hari. Sampai kapan Antonio di Madrid?"

"Entahlah. Broer," panggil Bela. Mata hijaunya menatap Willem yang masih duduk santai di counter dapur. "Berapa lama Antonio di Madrid?"

"Dia bilang, sih, dia dan Gilbert mendapat libur selama dua minggu dari kepolisian. Entah berapa lama dia mau menghabiskan liburannya di Madrid. Kalian berdua tahu Antonio, kan. Tak bisa lepas dari pekerjaan." sahut Willem sambil tersenyum simpul. Ia kemudian menyesap teh yang tadi dihidangkan oleh Bela.

"Kalau begitu, kita pasti sempat menyusulnya!" seru Bela gembira. Mata hijaunya kembali menatap suaminya dengan penuh harap. "Aku yakin Rachel dan Raihan pasti akan senang untuk bertemu dengan orang tuamu. Antonio juga!"

Willem tersenyum kecil ketika melihat Bela yang sibuk merencanakan perjalanan mereka ke Madrid serta siapa saja yang harus mereka kunjungi di sana. Berkali-kali perempuan manis berambut pirang itu mengucapkan betapa ia tak sabar memperkenalkan anak-anak angkatnya kepada keluarga Carriedo dan berharap penyambutan yang hangat dari keluarga suaminya itu.

Melihat itu semua membuat Willem semakin yakin bahwa ia telah menyerahkan Rachel dan Raihan ke tangan yang tepat.

Tugasnya sudah selesai. Benar-benar selesai.

Tanpa suara, Willem beranjak dari stool-nya dan berjalan kembali ke kamarnya. Pelan-pelan, tanpa mau mengganggu obrolan seru Bela dan Fernando, ia berjalan ke pintu depan. Di luar, udara bertiup dingin mengingat ini adalah bulan yang mengawali musim dingin. Dirapatkannya jaket berwarna cokelat susu yang ia kenakan. Tak lupa syal bercorak garis-garis putih dan biru ia lilitkan ke sekitar lehernya.

Willem berjalan santai, menikmati suasana yang begitu tenang. Seulas senyum tersungging di bibirnya ketika kalimat itu kembali terucap pelan dari bibirnya.

"Tugasku sudah selesai."

Ya. Tugasnya sudah selesai. Tak ada lagi yang patut ia perjuangkan lagi di dunia ini. Semuanya sudah beres. Hutang-hutangnya sudah terbayarkan.

'Ayo, pulang.'

Langkah kaki Willem terhenti ketika suara sayup-sayup terdengar memanggilnya, mengajaknya pulang. Kembali ia teringat akan mimpinya tentang seorang pemuda berambut hitam legam, mengulurkan tangannya kepada Willem sambil tersenyum manis.

'Ayo, pulang.'

"Pulang..." gumam Willem pelan lalu mendengus pelan. Ia kembali melanjutkan perjalanannya hingga kedua kakinya membawanya ke taman. Tempat itu sepi, sedikit sekali orang yang berjalan-jalan di taman. Mungkin udara terlalu dingin bagi orang-orang Lisbon untuk berjalan-jalan di taman, meskipun matahari bersinar cukup cerah.

'Ayo, pulang.'

Lagi, suara itu berbisik dengan begitu lembut di telinganya, membuat Willem tersenyum.

Sebuah bangku kosong dari kayu menjadi tempat peristirahatan Willem setelah berjalan cukup jauh ke dalam taman. Mata cokelatnya menatap berkeliling pohon-pohon yang sudah tak berdaun. Ranting-rantingnya bergoyang ke kiri dan kanan, mengikuti tiupan angin. Tampak beberapa orang—meski tak banyak—berjalan-jalan di taman.

Willem hanya duduk di bangku taman sambil memandangi gedung-gedung tua dan bersejarah yang berdiri gagah mengitari taman, mengagumi keindahan arsitkturalnya. Namun, dinginnya angin membuat tangan Willem gemetaran. Sialnya, ia lupa untuk membawa sarung tangan sebelum keluar untuk berjalan-jalan tadi. Akhirnya, ia menyelipkan kedua tangannya ke saku mantelnya.

Dan di saat itulah ia merasakan sebuah benda keras nan dingin di dalam sakunya.

'Ayo, pulang.'

Willem mengeluarkan pelan-pelan benda yang ada di dalam sakunya itu. Diliriknya dengan tatapan datar handgun yang sudah menemaninya sekian lama. Handgun yang sudah membantunya di segala kesempatan.

'Ayo, pulang.'

"Pulang..." Kembali kata itu terucap dari mulutnya. Mata cokelatnya menatap dengan begitu intens senjata api tersebut. "Pulang ya..."

'Ayo, pulang.'

Willem memperhatikan pistol di tangannya dengan penuh rasa penasaran.

Tugas-tugasnya sudah beres.

Tak ada lagi yang harus ia perjuangkan di dunia ini.

Semuanya sudah beres.

'Ayo, pulang. Aku merindukanmu.'

"Aku juga, Rangga..." gumam Willem sambil tersenyum. "Aku juga."

'Kalau begitu, ayo pulang.'

Kembali Willem menatap senjata api yang ada di dalam genggaman tangannya. Mata cokelatnya tampak menimbang-nibang apa yang harus ia lakukan sekarang.

'Pulang.'

Ah, pulang ke pelukan orang yang ia cintai terdengar menyenangkan.

Pulang. Ia mau pulang.

Semua urusannya sudah beres, tak ada yang harus ia pikirkan lagi.

Sekarang, ia bisa pulang.

Pulang.

Sekarang.

'Ayo, pulang, Willem.'

Sebuah senyum kecil terukir di bibir Willem sebelum ia berkata, "Aku pulang, Rangga."

DOR!

'Selamat datang, Willem.'

The End


A/N : Akhirnya, tamat juga. Makasih banyak buat yang udah baca dan juga review. Maaf, kalo review yang kemaren gak bisa saya bales, soalnya modem internet saya lagi membangke. Jadi, maaf banget gak bisa dibales satu-satu. Uhuhuuu... ini juga saya lagi cepet-cepet ngetik sebelom kelompok saya pada dateng. Soalnya, abis ini mau bikin presentasi. Tapi, saya baca satu-satu review kalian, kok. Makasiiiihhh banget buat reviewnya. #bearhug

Oiya. Entah kenapa saya jadi pengen cerita tentang asal muasal nama ngasal yang ada di fanfic ini. Berhubung ini udah chapter terakhir. Hehehe. Oke. Yang pertama...

Rangga (soalnya saya gak pernah punya temen cowok namanya Rangga. Jadi, kalo ngetik ini saya gak kepikiran muka temen saya. Hahah!) Wicaksono (nama belakang temen saya waktu SD-SMP. Maaf, ya, boy, namanya dipake. Heheh)

Razak (kalo gak salah, ini nama PM Malaysia waktu pembuatan ASEAN. Kalo gak salah... Tapi ternyata PM Malaysia sekarang juga namanya Razak. Kayaknya yang namanya Razak emang dikutuk harus kudu MESTI jadi PM Malaysia, deh...)

Raihan (ini nama murid piano nyokap saya yang pinter banget. Cita-citanya aja pengen jadi orang kaya. Raja minyak. Cocok, lah, jadi Brunei. Hohoho)

Rachel (sebenernya saya suka sama nama ini. Ehehe. Tapi, emang nama orang Singapur itu campuran English sama Chinnese, kan? O.o)

Willem (nama paling pasaran sejagat Belanda. Sumpah, ini nama pasaran banget...) van der Plast (ini saya jujur GAK TAU SIAPA ITU VAN DER PLAST! Saya sering denger nenek dan nyokap saya cerita ke saya tentang kawinan anggota keluarga, "Iya. Jadi, dia waktu itu mau nikah sama temen dari kecilnya. Itu pesta gede-gedean sampe ngundang Van Der Plast" HEEEI! SIAPA ITU VAN DER PLAST? Sampe sekarang aja tu orang gak jelas siapa dan dimana dan bagaimana bisa terdampar di kawinan sodara nenek saya. Yang bikin penasaran tu nenek saya ceritanya bangga banget soalnya! SIAPA ITU, SIAPAAA? SELINGKUHANNYA? APAAA!)

Fernando (FERNANDO TORRES! XD Beneran, ini nyari nama si Portugal waktu itu lagi rame temen saya ngomongin si Torres pindah ke Chelsea dari Liverpool. Dan kemaren katanya Chelsea kalah 1-0 dari Liverpool, ya? Hahahaha! #plak Sama saya juga pengen nyari nama yang belakangnya kayak Antonio, ada O-nya gitu. Tadinya mau Sergio, tapi jatohnya jadi pengen nambahin kata Ramos. Pemain bola lagi, kan =3=)

Oiya, buat yang gak ngeh, si Fernando itu maksud saya itu Portugal. Hehehe. Sama buat yang mau ngeliat hasil fanart yang udah dikirimin ke saya bisa diliat lagi di tumblr saya. Linknya ada, kok, di profile saya. Silakan dicek, ya. Udah ada banyak gambar baru, tuh. Hehehe.

Akhir kata, makasih banyak (lagi!) buat review dan dukungan kalian semua! Kalo bukan karena kalian, ini cerita gak bakalan kelar. Hehehe. Makasiiih! XD