GOOD MORNING, VAMPIRE
Chapter 21 : Like Snow Fall
Balasan Review
Nabilla Damayanti : Maaf, lama update. Semoga dua chapter akhir ini berkesan.
Ifa Dragneel92 : Lisanna yang mengirimnya. Gak bisa banyak komen, yang jelas silahkan temukan jawabannya di dalam cerita.
Dragneel77 : Ya, memang cerita ini memicu jantung, Nao saja deg-degan kalau nulis sambil ngebayanginnya. Tapi maaf karena ini sampai 22.
Mihawk607 : Ini silahkan tissunya, gratis. Dan ini dia dua chapter terakhir, selamat membaca.
Lusy Jaegar Ackerman : Dia masih merasa kalau Lucy masih bisa diperjuangkan. Namanya saja cinta buta. Rogue dan Jellal adalah titik meledaknya kasus Acnologia. Natsu? cinta atau tidak, hanya dia yang jawab. Silahkan temukan jawabannya di dua chapter dan semoga menikmati.
Dragonfirenatsu : okey
Akano Tsuki : Gak apa, nanti Natsu juga mendapatkan balasan yang lebih dari itu kok.
Liz Heartville : Iya, selamat datang di fic Nao. Makasih, dan di chapter ini Lui akan terungkap.
Allen Walker : Ya, kalau tidak begitu pasti tidak seru lah. Akan ada scene dimana Natsu tahu dan pokoknya gitulah. Zeref tak akan mati, dia kan salah satu tokoh penting disini. Tentu Happy Ending, meski tak semudah itu keduanya bersama.
Luca Kazuka : Sudah update dan selamat membaca.
Aquamarines x : amplop pink itu adalah sertfikat panti asuhan.
Akayuki1479 : Tenang, Zeref baik-baik saja. Sting akan bungkam, Lucy akan tahu dari sang empunya. Silahkan menebak-nebak dan semoga mereka tidak bercerai, ya . . .
Cemilan : Okey, makasih banyak.
Serly Scarlet : Iya, semoga berhasil tapi maaf Nao belum baca dikarenakan kesibukan dunia kerja. Makasih atas dukungannya dan selamat membaca.
Hendy.x : Sama-sama dan doakan saja semoga berikutnya Nao bisa membuat ceria yang tak kalah bagusnya
Pricilia Audrey : Iya, iya, maaf terlambat. Tapi ini langsung two shoot dan selesai.
Samaheda : Tentu ada, dan masih berkecambung dengan Hurt/Comfort. Natsu? oh tentu ia akan gila. Pokoknya tunggu saja
Kouyaafuku : Makasih, padahal Nao nggak merasa sehebat itu. Iya, ini akan tamat di chapter 22. Terimakasih sudah mengikuti ya.
Aliifahgm : Tentu dia akan sangat menyesal. Dan kamu harus rela, semua akan dikuak oleh yang namanya tidak boleh disebutkan.
Anonymous2 : namanya , bisa download di playstore
Kikoylogia : Iya, tinggal 2 chapter lagi kok.
Azura Kuchiki : Makasih sudah mau baca fanfic Nao yang memusingkan. Makasih, Nao akan berusaha sebaik mungkin membangun alurnya. Dan untuk pembatas, entahlah karena kadang bingung mau kasih batas atau enggak.
Guest : Okey, selamat membaca dua chapter akhir ya.
Kuromizukou Ryuuki : Iya, Nao sudah sembuh kok. Dan baru sempat menyelesaikan dikarenakan banyaknya kesibukan. Akan diusahakan Natsu menyesal teramat sangat. Dan semoga kamu menyukainya. Terimakasih.
Zashiiy G : Iya ini sudah update. Selamat membaca.
.
.
.
Rate : T+
Genre : Drama, Fantasy, Mystery, Hurt/Comfort
Pair : [Natsu D, Lucy H] Sting E, Lisanna S
.
.
Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei
.
.
.
"Bagaimana aku tahu kalau kau tidak berbohong?" tanya Lucy
Mata Natsu membulat. Ia tidak pernah menyangka Lucy akan menanyakan ini, atau lebih tepatnya mencurigainya. Selama ini pula gadis itu selalu mengikuti skenarionya. Semua berada dalam jalur dan kendalinya. Namun kini Lucy mulai memberontak, dan ini tidak boleh dibiarkan. Natsu mendekatkan wajahnya, mengikis jaraknya dari Lucy. Wajah keduanya sudah sangat dekat, bahkan deru nafas tak beraturan Lucy bisa Natsu rasakan. Semakin dekat dan dekat, mata Lucy pun bergetar. Namun ketika tinggal beberapa centi lagi . . .
SETTT
Lucy memalingkan wajahnya, membuat Natsu mematung ditempat. Baru kali ini Lucy menolaknya.
Sedangkan disisi lain, Lucy mengingat kembali surat yang ia terima tadi. Surat yang membuatnya berfikir ulang. Surat yang membuatnya meragukan Natsu juga hatinya sendiri.
...
Kedua bola mata caramel itu berkaca-kaca. Jantungnya tak mau diajak kompromi. Memalukan, fikirnya. Lucy meremas tangannya pelan, berharap jika sang suami peka dan menjauhkan diri, namun mustahil. Natsu tak sepeka itu. Pemuda itu berusaha menatap mata Lucy, namun wajah itu semakin berpaling. Menolaknya untuk yang kedua kali. Lucy menggigit bibirnya pelan. Menahan diri untuk tidak menangis, hal yang paling ia benci. Dan sejak bertemu Natsu, ia sudah sangat sering bertegur sapa dengan tetesan bening itu.
Mata Lucy terbelalak, ketika Natsu meninggalkannya tanpa satu katapun. Dipeganginya dadanya yang mendadak sakit. Dan dimalam sunyi itu, lagi-lagi seorang Lucy kembali menangis.
Di balik tangga darurat, Natsu berhenti, matanya mengkilat-kilat dan ditinjunya dinding disampingnya hingga tembok itu sedikit retak. Tangannya melemas, tidak lebih tepatnya kakinya lemas. Ia terduduk ditangga seraya mencengkeram surainya.
"Brengsek, dia menolakku" umpat Natsu
Esoknya. Lucy sudah berkemas dan bersiap pulang. Ia juga sudah mengabari sang kakak untuk menjemputnya karena tidak ingin merepotkan Macao tentu dengan ponsel baru pemberian Natsu. Ultear datang, ia membantu sang adik untuk membawa barang-barangnya.
"Dimana Natsu?" tanya Ultear yang dijawab senyuman manis Lucy
Tak mendapat jawaban pasti, Ultearpun mengernyit. Ada yang tidak beres. Ah, ia lupa kalau persetujuan Natsu atas pernikahan serta penobatan juga sudah mencurigakan.
Keduanya berada di dalam taxi. Lucy melamun, dipandanginya salju yang menghiasi pemandangan di luar sana. Bulir-bulir putih itu mengingatkannya pada kejadian kemarin. Saat dirinya bertanya pada Natsu, saat dimana pemuda itu mengatakan akan jatuh cinta terlebih dahulu sebelum Lucy sendiri jatuh cinta padanya. Mata caramel itu terpejam, meredam segala perasaan ngilu yang menjeratnya.
Ultear melirik Lucy, sejak tadi adiknya itu terus diam, bahkan tak ada senyum diwajahnya. Senyum yang ditunjukkannya tadi hanyalah kedok belaka. Bibirnya sudah bergerak, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun suara ponselnya memecah niatannya.
"Halo, APA?" pekik Ultear
"Baik, aku akan kesana" jawab Ultear mematikan telfon
"Lucy, maaf, kau harus pulang sendiri. Kakak harus kediaman Zeref-sama sekarang. Sekali lagi maafkan kakak" kata Ultear panik
"Ah, aku akan menghubungi Macao-san atau Invel" kata Ultear menekan-nekan layar ponselnya namun tangan Lucy menghentikannya
"Tidak, kakak. Aku bisa pulang sendiri" jawab Lucy
"Kau yakin? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" tanya Ultear
"Kakak meragukanku?" tanya Lucy disertai senyum palsunya
Ultear memeluk Lucy sejenak sebelum benar-benar turun dari Taxi. Sedangkan Lucy, ia tak benar-benar pulang. Gadis itu meminta supir untuk mengantarkanya ke suatu tempat. Awalnya sang supir menolak karena cuaca hari ini terlalu dingin, namun melihat mata Lucy akhirnya ia tak tega.
Kediaman Zeref Dragneel. Kesepuluh anggota Dewan Vampire sudah berada di meja rapat, dengan Igneel yang memimpin. Sementara Mavis dan Natsu mereka berada di singgasana masing-masing. Dan diantara mereka, Rogue duduk disamping Jellal. Jura yang melihat merasa sedikit terganggu, namun tatapan tajam Jellal seolah membungkamnya.
"Sebelumnya maaf karena mengadakan rapat mendadak dan mengganggu aktivitas kalian semua" kata Igneel membua rapat
"Langsung saja. Semalam, Zeref-sama telah diculik" lanjut Igneel sontak membuat berbelas pasang mata melotot
"Bagaimana bisa?" tanya Mirajane
"Zeref-sama menghilang dari restoran tempat ia janji makan malam" jelas Igneel
Jude dan Ultear memutar otak. Keduanya terbelalak dan saling pandang.
"Semalam, Zeref-sama mengatakan pada kami ia ada janji. Apa jangan-jangan . . ." kata Ultear
"Anehnya, tak ada CCTV, dan atau pelayan yang mengingat Zeref-sama membuat janji disana seolah sudah dirancang dengan sempurna" kata Skyadrum menjelaskan
"Siapa yang berani melakukan itu?" tanya Natsu geram
"Pangeran kegelapan" jawab Rogue pasti, semua mata sontak menatapnya
"APA YANG KAU KATAKAN!" bentak Elfman
"Elfman, duduk" perintah Igneel yang langsung dituriti meski terlihat jelas dimata sang Strauss tengah kalau ia masih emosi karena Rogue dengan beraninya menyebut yang tidak boleh disebut
"Apa maksudmu nak? Bisakah kau jelaskan?" tanya Skyadrum tak mengerti
"Pangeran kegelapan telah bangkit" kata Rogue
"Dia tak punya tubuh" sela Elfman
"Aku bilang bangkit, Elfman-san. Bisakah anda berfikir dulu sebelum bicara? Dan ya. Dia sudah menemukan, tidak dia berhasil menguasai tubuh yang sudah sejak lama ia rasuki" jelas Rogue sontak membuat semua menegang
Natsu menggenggam tangannya. Larva yang disebut amarah mendadak merambat ke permukaan hatinya. Kilasan saat dimana sang pangeran kegelapan menyayat tubuh Lui mulai terbayang.
"Menurut kalian, kenapa banyak vampire kelas atas terbunuh?" tanya Rogue
"Untuk . . . memperkuat diri?" terka Ultear
"Lalu, siapa yang dia rasuki?" tanya Makarov
Rogue gemetar, ia masih belum sanggup mengatakannya. Ditatapnya sang paman, Weisslogia sedari tadi belum buka suara. Tatapan penasaran sang paman, benar-benar membuatnya tak berdaya. Jellal menepuk pundaknya, pemuda itu mengangguk pelan meminta persetujuan.
"Sting Eucliffe" kata Jellal tegas
Bagai disambar petir. Weisslogia shock ditempat. Pasokan oksigen ke paru-parunya seakan dipaksa berhenti. Semua mata menuju padanya, meminta penjelasan. Hening, ruangan itu hening. Mavis tak sanggup berkata-kata, selama ini Sting adalah anak baik juga pribadi yang mengagumkan. Jadi hal seperti ini tidak pernah terbayangkan olehnya. Hingga sebuah suara berhasil menyadarkan semuanya.
"Jangan bercanda!" bentak Natsu seraya berdiri memecah keheningan
"Kau fikir aku bercanda, Natsu? Kalau aku bercanda untuk apa aku berada disini?" balas Rogue sinis
Rogue berdiri, ia mengeluarkan karton berukuran sedang. Dibongkarnya isi karton tersebut. Puluhan rekaman CCTV, buku pelajaran, rapor, kartu pelajar, seragam Sabertooth Gakuen, foto, juga sebuah album. Semua memandangnya tak mengerti, minus Weisslogia yang masih terdiam ditempat. Tak lupa Rogue merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah flashdisk.
"Semua ini buktinya" kata Rogue
"Lalu, kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Igneel
"Maaf, Igneel-san aku tidak bermaksud menyembunyikannya, karena aku perlu bukti. Anda tahu bukan kalau aku pernah dituduh mencuri buku terlarang? Dan ya, aku melakukannya. Tanpa sadar. Sting menghipnotisku dan memanipulasi ingatanku. Dengan buku itu, ia melakukan salah satu larangan Dewan, Cloning. Aku tidak akan pernah menyadari ini kalau Zeref-sama tidak menata ulang ingatanku meski tak seluruhnya" jelas Rogue
"Putraku, sejak kapan? Bagaimana dia bisa?" racau Weisslogia dengan suara serak
"Menurut prediksiku, sejak 10 tahun lalu, atau bisa kusebut tepat setelah Natsu melenyapkan tubuhnya" jawab Rogue
"Bohong. Jika Sting dirasuki selama itu aku pasti akan merasakannya" bantah Natsu
"Kau merasakannya tapi tidak menyadarinya, Natsu" kata Jellal
"Malam dimana kau berkelahi dengan Sting, malam itulah semuanya terjadi. Karena malam itu, pange . . . maksudku Acnologia terbangun dari tidur panjangnya" jelas Jellal
Jellal mengambil album foto di meja, ia mengambil semua foto seorang gadis dengan berbagai macam ekspresi, riasan juga pakaian. Atau lebih tepatnya foto hasil jepretannya. Dibantingnya semua foto itu di meja, Natsu melirik foto itu dan otaknya mulai mencernanya. Tak butuh waktu lama bagi sang raja muda itu mengetahui siapa gadis di foto itu.
"Aku tanya, menurutmu kenapa seorang Sting Eucliffe yang tidak pernah sekalipun melirik seseorang disekitarnya tiba-tiba tergila-gila terhadap seorang gadis? Dan kurasa kau tahu kalau gadis itu bukan gadis biasa, bukan begitu?" tanya Jellal kemudian
"Luce" gumam Natsu
"Kau benar. Malam itu, Sting menghisap darah Lucy, oleh karena itu ia bisa selamat. Dan setelah itu, ia . . . tak bisa minum darah meski disisi lain Acnologia bangkit dan mulai membantai" jelas Rogue
"Tunggu! Kau bilang tadi Sting melakukan Cloning. Lalu apa yang terjadi pada Cloningnya dan bagaimana ia menjadi seperti sekarang? Aku masih bingung" tanya Mirajane
"Dengan Cloningnya, ia bersekolah di Sabertooth dan bertemu dengan Lucy tentu setelah menghapus ingatannya tentang dirinya. Mereka bersahabat. Sting sungguh menjadi pribadi yang menarik saat itu. Namun suatu saat ia terlibat perkelahian hingga membuatnya harus melenyapkan sang cloning agar selamat" jelas
"Dan, ia mulai terobsesi dengan Lucy?" tanya Ultear
Dan, Rogue menjelaskan semuanya. Mengupas satu demi satu misteri tentang pengeran kegelapan dan wadahnya. Namun diantara semua penjelasannya, ia tidak menyebutkan bagaimana Lucy masuk ke Fairy Tail dan siapa yang membully-nya. Ia bahkan memutar CCTV dan rekaman suara Sting yang susah payah ia dapatkan dengan meretas komputer pribadi Sting di rumah singgahnya.
Tak ada yang sanggup berkomentar, mulut mereka seakan membisu. Tak percaya juga tak menduga kalau semuanya sudah dirancang apik dan berjalan sebagaimana yang diinginkan sang pangeran kegelapan.
Sedangkan sosok yang menjadi peran utama, tak hanya membisu. Bahkan tubuhnya seakan dipahat dengan kursi, kaku. Otak briliantnya memutar kembali seperti kilasan-kilasan cepat, mengumpulkan serpihan-serpihan kejanggalan yang pernah ia abaikan. Kepalanya pening tak kala sebuah dentuman menghajar kepalanya. Menyadarkannya kalau semuanya benar dan jawabannya adalah iya.
Merasa bodoh, sudah pasti. Ia yang dielu-elukan sebagai The King of Vampire tidak mampu menyadari kehadiran sang pangeran kegelapan. Bahkan saking bodohnya, ia malah membuat taruhan dengan sang wadah.
Lucy
Mata Natsu membulat, pahatan di kursi seakan lepas seketika begitu pula dengan kuncian di bibirnya.
"Dimana Lucy?" tanya Natsu di sela-sela kebisuan
Satu kalimat pertanyaannya bagai sebuah daya kejut. Menyadarkan berbelas orang yang sempat mengalami hal serupa dengannya.
"Dia sedang dalam perjalanan pulang" jawab Ultear
BRAKH
Tak banyak bicara, setelah mendengar jawaban Milkovich sulung, ia pergi. Melesat keluar tanpa mengindahkan sopan santun dan tata krama. Siapa juga yang akan memarahi atau memakinya, jawabannya tidak ada.
Sedangkan di dalam, Mavis menyusun siasat untuk segera menyelamatkan Zeref, menangkap Sting juga melenyapkan sang raja kegelapan.
...
Di sebuah bangunan tak berpenghuni di pinggiran kota Crocus, Sting keluar. Ia memandang sejenak bangunan tersebut dengan pandangan sulit diartikan.
Di parking area, ia menekan tombol, dan berkediplah mobil Jaguar Blackjag miliknya yang terparkir disamping Lamborghini Huracan merah. Matanya memicing, mengedar ke kanan, kiri memastikan bahwa tak ada mata atau tikus yang mengintainya. Entah insting dari mana, ia tak segera pergi. Diliriknya rekaman CCTV yang tergeletak di jok sampingnya dengan seringai puas, layaknya pencuri yang menatap emas hasil curiannya. Dengan bukti itu, dunia akan berpihak padanya, gadis pujaan hatinya akan segera berada dalam pelukannya. Tak ada yang lebih membahagiakan dari semua itu. Namun, tiba-tiba dadanya sesak, denyut jantungnya berubah menjadi cepat. Pukulan keras menyerang kepalanya hingga berdenyut dan berkunang-kunang. Suara itupun kembali menghampirinya, mengiang di kepalanya layaknya sebuah delusi.
'Sudah cukup, sekarang giliranku'
"Tidak, aku belum selesai" kata Sting seraya menahan sakit
'Menyingkirlah, aku akan membereskan semuanya'
"Tidak" elak Sting
"Aku sudah memberikan tubuh terbaik, jadi menyingkirlah dari tubuhku" usir Sting sarkatis
'Kau fikir aku butuh tubuh tua itu? bodoh sekali. Asal kau tahu, tuan Eucliffe, tak semua tubuh cocok denganku meski itu tubuh sang raja sekalipun. Mencari tubuh yang cocok laksana mencari jarum dalam tumpukan jerami. Satu banding seribu. Dan setelah aku berhasil merasukimu, kau fikir aku mau melepaskanmu? Jangan mimpi!'
"Apa?" Sting tidak percaya
"Bukankah kita sudah sepak . . . khat?" tanya Sting tersendat
'Ya, aku memang sepakat. Karena dengan begitu aku tidak perlu repot-repot membunuh Zeref si pelindung Natsu'
"Apa sebe . . . nar-nya tu. . . juanmu?" tanya Sting
'Sangat simple. Aku hanya menginginkan dunia yang sesuai dengan kehendakku'
Sting memutar otak, ia meraih sebuah belati dari sakunya, dan tanpa aba-aba menancapkannya ke pahanya. Membuat rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat sang pangeran kegelapan meronta-ronta dan meneriakinya. Ya, mereka satu tubuh. Jika tubuhnya terluka maka sang raja kegelapan akan terluka pula. Dengan sekuat tenaga, ia mengusirnya.
"Sial, dia tak boleh mengambil alih sampai aku berhadapan dengan Natsu" gumam Sting
Bunyi ponsel menyita perhatiannya, ia membaca notifikasi di layar touchscreennya. Dan saphire itupun melebar. Dilepasnya baterai ponsel miliknya, nafasnya terengah-engah, pun matanya gusar.
"Brengsek. Keparat mana yang sudah menguaknya?" racau Sting, matanyapun memerah, taringpun keluar dari bibirnya
Sementara itu, Di pinggir sungai yang setengah membeku, Lucy berdiam diri. Mata Caramelnya menatap riakan air yang bercampur bongkahan es. Otaknya memutar kembali kilasan tentang isi surat yang mengatakan kalau sikap Natsu adalah fana. Perlahan, semua kebersamaannya dengan Natsu selama ini mulai berebut memasuki kepalanya, berdesakan, karena setiap momentnya ingin menampakkan diri terlebih dulu. Lucy memejamkan matanya, mengatur segala kerumitan yang menjejali otaknya. Ia memang tak cukup pintar, tapi ia tidak bodoh untuk tidak menyadari kejanggalan itu. Bukannya ia tidak tahu, hanya selama ini ia tidak mau curiga. Ia percaya jika Natsu perlu waktu, perlu diberi kepercayaan, perlu di beri kesempatan untuk mengubah diri.
.
.
.
Dia berbohong. Dia tidak pernah mencintaimu.
.
.
.
Dia tidak pernah ingin jatuh cinta padamu,
.
.
.
Semua fana
.
.
.
Lucy menutup matanya dengan lengan kanan, menutupi matanya yang siap menumpahkan kembali liquidnya. Kalimat itu pukulan telak baginya. Ia ingin tidak percaya, namun disisi lain hatinya membenarkan kalimat itu. Diusapnya matanya kasar, membuat cincin yang bertengger di jari manisnya perlahan terlepas dan terpental masuk ke sungai.
Merasa sudah baikan, ia menyingkirkan tangannya, membenahi letak poninya yang berantakan akibat ulahnya. Dan disitulah matanya menyipit, cincinya menghilang.
"Cincinku" teriak Lucy
Matanya mengedar, mencari dimana jatuhnya cincin pernikahannya. Tak ada. Lucypun mulai berjongkok, menyingkirkan gundukan salju yang menutupi rumput, menelusuri tempat sekitar ia berdiri dengan seksama. Tak mempedulikan rasa dingin yang menyerang tangannya.
"Dimana, dimana" racau Lucy dengan mata berkaca-kaca
Tak membuahkan hasil, Lucy mulai melirik ke sungai. Kini ia mencoba mencelupkan salah satu kakinya ke sungai, tapi dengan segera ia menariknya. Kilasan saat dirinya tenggelam dalam air kembali menghantuinya. Nafasnya pun mulai memburu, ia gemetaran dan menjauh dari sungai.
"Tidak" racau Lucy
Dengan mengumpulkan puing-puing keberanian, akhirnya gadis itu nekat menceburkan dirinya. Ia harus membunuh rasa takutnya kalau ingin cincinnya ketemu. Meski setiap langkah ia merasakan sesak dan kehilangan keseimbangan, ia tetap tak mundur. Tangan mungilnya mulai mencari ke sungai yang dalamnya hanya sebatas lutut orang dewasa. Normalnya, tak akan ada yang berani uji nyali dengan air sungai di musim dingin, namun seorang Lucy Milkovich melakukannya.
"Dimana, dimana" racau Lucy lagi seraya mencari cincinnya
"Cincinku, dimana" racau Lucy
Pakaian, wajah dan rambut Lucy mulai basah dikarenakan brutalnya gadis itu mencari. Ia bagai orang gila yang mencari makan di tempat pembuangan. Sesekali langkahnya terseok dan iapun ambruk, namun ia segera bangkit. Baginya, cincin itu tak lain adalah sebuah tanda kalau semuanya tak se-fana itu. Bukti kalau Natsu pernah mencoba untuk mencintainya meski itu bohong, mungkin. Meski dunia berkata tidakpun, nyatanya cincin itu disematkan dijarinya. Menjadikannya istri sah dari seorang Natsu Dragneel juga permaisurinya.
"Kumohon, dimana" isak Lucy
Di lain tempat, Natsu tiba rumahnya. Ia mendobrak kamar Lucy tapi tidak menemukan gadis itu disana, dan ketika Macao mengatakan kalau sang Ratu Muda belum tiba, Natsu langsung kalap. Di hubunginya ponsel Lucy namun tak kunjung diangkat. Ia segera memacu Aventadornya keluar, bahkan ia tak peduli sudah menabrak sebagian tanaman di depan kediamannya.
"Dimana dia? Jangan bilang Sting juga menculiknya" racau Natsu
Natsu tak bodoh, dengan segera tentu ia bisa menemukan dimana istrinya. GPS di ponsel gadis itu menunjukkan dimana ia berada. Dan betapa tercengangnya Natsu melihat apa yang dilakukan Lucy di sana.
"Dimana, kumohon dimana" isak Lucy
Didekatinya Lucy, tanpa banyak kata ia ikut menceburkan diri ke sungai dan menarik gadis itu.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Natsu
Mata Lucy memicing menatap Natsu, ia menggibaskan tangannya tak ingin disentuh. Ia kembali mencari namun Natsu menarik tangannya lagi.
"Aku tanya, apa yang kau lakukan!" teriak Natsu
"Lepaskan aku!" kata Lucy mencoba menggibaskan tangannya namun ditahan oleh Natsu
"Jawab aku, Luce" pinta Natsu melembut
"Lepaskan aku!" kata Lucy seraya menarik tangannya kasar dan berhasil
"Luce" panggil Natsu lembut
"Hilang, cincinnya hilang" jawab Lucy kemudian dan kembali mencari cincinnya namun Natsu lagi-lagi menarik tangannya
"Apa kau bodoh? Cincin seperti itu aku bisa membelikannya lagi" tanya Natsu
"Beli katamu? Ya aku percaya kau bahkan bisa membeli yang lebih mahal dari itu. Jadi beli saja sana dan lepaskan aku!" jawab Lucy merasa tersinggung, didorongnya Natsu namun pemuda itu mencekal kedua tangannya hingga akhirnya mereka melakukan aksi dorong mendorong. Lucy yang mencoba melepaskan diri, dan Natsu dengan segala keegoisannya.
Sungguh dalam hati Natsu tidak bermaksud menyinggung Lucy, ia mengatakan hal itu agar Lucy tidak bertindak bodoh. Tapi apapun yang keluar dari mulutnya akan dikembalikan lagi oleh gadis itu. Ia tidak mengerti dimana letak kesalahannya hingga sejak semalam Lucy mulai memberontak. Ia sudah bersikap sebaik mungkin pada gadis itu. Setulus mungkin.
"Kubilang lepaskan aku!" ronta Lucy
"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya sampai kau berhenti mencari cincin bodoh itu" balas Natsu
Kesalahan terbesar Natsu. Memang ia tidak berniat menyinggung. Namun bagi Lucy, ini sudah cukup membuktikan kalau Natsu tidak pernah menganggap serius pernikahan mereka. Kalimat Natsu bagaikan toba yang menetes dua kali ke dalam air susu. Hanya dua tetes namun sanggup menggelapkan hati seorang Lucy.
Sementara Natsu, ia sudah habis kesabaran. Kakinya sudah hampir tak berasa akibat dinginnya air yang menusuk ke sarafnya. Dengan sekali tarikan ia mendekap Lucy, mengunci gadis itu kedalam pelukannya. Lucy meronta, memukulnya mencoba melepaskan diri, namun Natsu malah memperkuat pelukannya. Hingga pada akhirnya Lucy menyerah. Ia begitu lelah, dan merelakan tubuhnya di dekap Natsu. Pemuda brengsek yang sudah menjerat hatinya.
Kediaman Dragneel. Natsu menggandeng Lucy yang selalu di tepis oleh gadis itu. Setibanya di dalam rumah, Lucy segera melenggang menuju kamarnya. Meninggalkan Natsu seorang. Pemuda itu menghela nafas.
"Macao, kirim orang ke sungai segera" perintah Natsu mutlak
"Dan, jangan biarkan Lucy keluar rumah tanpa seizinku" lanjut Natsu ikut pergi
Malamnya. Para anak buah Skyadrum dikerahkan ke segala penjuru Crocus untuk melacak Zeref. Pasalnya bau darah sang Raja Vampire Senior itu tidak tercium sama sekali. Sedangkan Skyadrum sendiri tengah menonton black box yang berhasil di dapatkannya dari kediaman Dragneel dengan izin Igneel tentu tanpa sepengetahuan Natsu. Black box itu dilepas oleh Natsu dihari yang sama dengan kecelakaan Lucy. Merasa aneh, ia mulai memutar kembali isi dari black box tersebut dan terlihatlah saat dimana Natsu mengajari Lucy mengendarai mobil.
"Apa Natsu yang sengaja merencanakannya?" gumam Skyadrum
"Aku perlu bukti lagi, tapi tak ada waktu. Zeref-sama adalah prioritas utama" lanjut Skyadrum kemudian memberesi kotak hitam tersebut dan menyimpannya
Beralih kembali ke kediaman Dragneel. Natsu duduk di pinggir ranjang seraya menatap sebuah cincin yang tersemat di kotak. Tidak sia-sia ia mengerahkan anak buahnya untuk mencari cincin itu. Diingatnya lagi kejadian tadi, saat Lucy dengan brutalnya mencari cincin tersebut di sungai yang suhunya hampir mendekati nol. Orang gila mana yang mau berkecibung dengan air dingin hanya demi sebuah cincin yang bahkan bisa dibeli lagi? Natsu tersenyum kecut karenanya. Menertawakan sebetapa bodohnya Lucy yang menganggap pernikahan mereka serius diasaskan janji suci. Bah, Natsu bahkan mau muntah mengingatnya. Pernikahan mereka tak lain diasaskan dusta, kebohongan dan dendam. Semua hanya skenarionya dimana ia menjadi sang penulis, sutradara juga aktornya.
Makan malam keluarga Dragneel, kini berjalan kembali dengan hening. Tak ada celoteh dan protes dari sang pembuat ulah. Hanya ada Igneel dan sang putra serta suara dentingan alat makan.
"Lucy baik-baik saja?" tanya Igneel kemudian
"Hmm" jawab Natsu
"Kau sudah melarangnya agar tak keluar rumah sampai semuanya mereda?" tanya Igneel lagi
"Hmm" jawab Natsu
"Kau terlalu pendiam malam ini. Apa terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Igneel
"Aku sudah selesai ayah. Akan kubawakan makan malam untuknya" kata Natsu seraya pergi dengan membawa senampan makan malam
Pintu kamar Lucy diketuk. Tentu Lucy tahu siapa yang mengetuk pintunya, menjadi vampire cukup menguntungkan karena ia bisa mencium bau darah seseorang dan mengenalinya. Begitu pula dengan Natsu. Ingin rasanya berlari dan menghambur kepelukannya layaknya remaja dimabuk cinta, namun Lucy masih waras untuk tidak melakukan semua itu. Ia masih perlu merenungkan semuanya, memikirkan dan menata ulang hati serta fikirannya.
Tak mendapat jawaban, Natsu masuk begitu saja, meletakkan nampan di nakas dan mengguncang tubuh Lucy pelan. Gadis itu diam saja, ia sebenarnya tidak tidur, tapi ia tak mau membuka matanya.
"Makanlah, kau belum makan sejak tadi, dan aku juga membawakanmu obat agar tidak flu" kata Natsu lembut
"Apa mau aku suapi?" tawar Natsu namun diabaikan
Tak ada jawaban sama sekali. Bergerak saja tidak, ingin rasanya Natsu memaki dan menyeret tubuh itu keluar sana kemudian menginjaknya layaknya makhluk rendah namun ia tidak akan melakukannya atau semuanya akan hancur begitu saja. Logikanya masih berjalan melawan hati busuknya.
Sepeninggalan Natsu, Lucy bangun. Ditatapnya makanan lezat yang tersaji di nakas lengkap dengan obat pencegah flu. Dengan wajah datar ia mengambil nampan itu dan mendekati kotak sampah. Dibuangnya semua makanan dan obat itu.
...
Paginya, Natsu turun dari kamarnya dengan mengenakan setelan rapi, di belakangnya Macao menenteng tas dan jas kerjanya. Hari ini ia ditugaskan mengurus kantor pusat karena sang ayah akan pergi dalam penyelidikan. Di ruang makan, ia berhenti. Tak ada sang ayah, juga sang istri. Selera makannya hilang seketika.
"Mana jasku, aku akan sarapan di kantor saja" kata Natsu menyambar jas juga tasnya
"Dan satu lagi, pastikan Lucy makan dengan baik" kata Natsu datar kemudian pergi
Tanpa mereka sadari, sepasang mata caramel memperhatikan. Mata itu memperhatikan setiap langkah Natsu hingga pemuda itu keluar dari rumah yang menjadi istananya. Macao yang merasa ada yang memperhatikan menoleh ke lantai dua, tapi tidak menemukan siapapun. Sementara di balik pintu kamarnya, Lucy meremas pakaian depannya.
Dragneel Corp. Natsu duduk di kursi sang Presdir. Di hadapannya sudah ada banyak sekali dokumen yang harus ia tangani. Ia melonggarkan dasi yang mencekik lehernya, apalagi saat ia merasakan tatapan dari lantai dua pagi ini. Dihelanya nafas secara kasar dan mengambil satu dokumen, berusaha mengalihkan fokusnya. Diingatnya lagi pesan yang ia dapat dari Mavis pagi ini.
'Untuk sementara waktu, jangan bertindak gegabah. Beradalah disisi Lucy sampai keadaan aman. Kita tidak tahu kapan Sting akan menyerangmu selama Zeref tidak ada dan merebut Lucy darimu. Kami menempatkan banyak orang di sekitar kalian dan kami pastikan akan segera menemukan Zeref jadi jangan paksakan dirimu dan tunggu saja'
"Bagaimana aku bisa berada disisinya kalau dia saja tak ingin aku mendekatinya" gumam Natsu
"Cih, permaisuri sialan" umpat Natsu membanting dokumennya
"Tak akan kubiarkan dia merebutmu, tenang saja. Karena ketika dia merebutmu, kau hanyalah seonggok tubuh tak bernyawa" gumam Natsu dengan seringai iblisnya
Di rumah, Lucy yang tidak diizinkan keluarpun memilih bersih-bersih rumah meski sudah di larang oleh Macao. Dengan perdebatan panjang, akhirnya sang kepala pelayanpun mengalah. Gadis itu memakai celemek, mengikat ponytail rambut panjangnya dan mengenakan slayer di kepala. Lucy mulai bersih-bersih lantai satu sedangkan Macao di lantai dua. Hingga setelah beberapa jam berkutat di sekitar lantai satu, Lucy tiba di depan sebuah ruangan yang sebelumnya belum pernah ia lihat, lebih seperti gudang. Dengan hati-hati gadis itu masuk ke dalam gudang yang pengap. Ia batuk-batuk, namun dengan segera ia membuka jendela yang engselnya sudah macet, mengizinkan cahaya matahari memasuki gudang. Ia membuka kain-kain putih yang menutupi barang-barang disana dan tersenyum samar. Ada sepeda dan mainan anak-anak yang jumlahnya tidak sedikit disana. Lucy tersenyum, semua itu pasti milik Natsu ketika kecil. Ia mulai membersihkan gudang itu, setiap sudutnya dan memastikan tak ada yang terlewat sedikitpun. Hingga tak sengaja ia menyenggol sebuah kotak dan menumpahkan isi kotak tersebut.
Lucy sedikit panik, ia memunguti isi kotak tersebut yang merupakan kumpulan kertas-kertas dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. Namun langkahnya terhenti tak kala melihat lipatan kertas yang cukup aneh. Kertas itu direkatkan kembali dengan solatip. Penasaran, Lucy-pun membukanya.
11 Januari 2007
Dear Natsu
Ketika salju turun dari langit, ketika butiran putih bagai kapas itu jatuh ke telapak tanganku,
Aku bertanya, apakah kau berada di sana?
Di tempat yang sama denganku?
Menatap kapas dingin ini?
...
"Apa ini?" tanya Lucy, penasaran Lucy mengambil kertas yang lain dan membukanya
30 Januari 2007
Dear Natsu
Aku masih bertanya, apa kau berada disana?
Dan aku tahu kau pasti disana,
Apa kau juga menunggu?
Bolehkah aku memintamu menungguku?
Dan kuharap suatu hari nanti kita bisa bermain bersama di bawah kapas putih ini
...
02 Februari 2007
Dear Natsu
Hari semakin dingin, kuharap kau tidak kedinginan dan sehat selalu
Coklat panas bisa menghangatkanmu,
Seperti kehangatan seorang ibu,
Kehangatan yang selalu mendampingimu,
...
15 Februari 2007
Dear Natsu
Apa kau suka valentine?
Dengan surat ini kuberikan coklat buatanku, meski hanya gambar kuharap kau menyukainya, meski sudah terlewat semoga belum terlambat
Happy Valentine
...
18 Maret 2007
Dear Natsu
Musim semi telah datang, bunga sakura sudah bermekaran.
Menunjukkan betapa cantiknya ia, betapa eloknya ia
Seperti seseorang yang selalu bagai musim semi bagiku,
...
01 April 2007
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan,
Tapi aku tahu pasti apa yang aku inginkan,
Meski kutahu mungkin seseorang tidak menginginkannya,
Maafkan aku
...
21 Mei 2007
Apa kata maaf sudah tak ada artinya?
Apa semua sia-sia?
Tapi kutahu kalau didunia ini tak ada yang sia-sia,
...
02 Juni 2007
Dear Natsu
Tidak bolehkah aku menyukaimu?
...
BRAKH
Lucy menjatuhkan semua surat yang ia pegang. Tangannya seakan tak bertulang, matanya menerawang, otaknya mencerna setiap untaian kata yang ia baca. Surat itu, tertulis sepuluh tahun lalu. Menjelaskan bahwa seorang Natsu Dragneel pernah jatuh cinta. Seorang Natsu Dragneel yang terkenal sadis dan tak berperi kemanusiaan bertukar surat dengan seseorang yang entah tidak ia ketahui. Selama ini Natsu tak pernah mengatakannya bahkan menyinggungnya sedikitpun. Seakan semuanya ia tutupi, seakan tidak ingin kalau Lucy mengetahui semua itu. Lucy memandang nanar surat itu. Derapan langkah seseorang ia dengar mendekati gudang.
"Lucy-sama?" panggil Macao seraya membuka pintu
"Aku sudah selesai, hehe" kata Lucy disertai senyum palsunya, menyembunyikan kedua tangannya di balik punggung
"Sungguh?" tanya Macao sedikit curiga
"Sungguh. Aku akan keluar sebentar lagi" jawab Lucy berdalih
"Itu . . ." tunjuk Macao pada sebuah kotak yang jatuh
"Aku akan membereskannya, tenang saja" dalih Lucy
Sementara itu, pihak Skyadrum mulai menyusuri pinggiran kota. Sedangkan Rogue membantu Jellal dan Jura menggeledah persembunyian Acnologia yang ternyata sudah ditinggalkan.
Di ruangannya, Natsu sudah menyelesaikan seluruh pekerjaannya. Disampingnya, Hibiki Latis tersenyum karena sang bos muda bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Sekedar informasi, Hibiki Latis adalah murid Fairy Tail dengan otak brilian yang juga merupakan tangan kanan atau intel pribadi Natsu. Sedangkan Natsu sendiri, ia menyandarkan bahunya dan memijit pangkal hidungnya, lelah. Sudah banyak dokumen yang ia tangani namun fikirannya tentang Sting yang akan merebut Lucy terus saja menghantuinya. Lucy hanya miliknya, Lucy harus mati ditangannya dengan begitu ia bisa bernafas dengan lega, hidup dengan tenang tanpa bayang-bayang dendam.
"Saya permisi" kata Hibiki pamit
"Hn" jawab Natsu
Ponsel Natsu berdering, pemuda itu melirik sekilas nomor tidak dikenal. Di reject-nya panggilan tidak penting itu, namun sang penelfon rupanya tak jera karena terus menghubungi lagi dan lagi. Geram, Natsupun mengangkat telfon itu.
Natsu : Siapa?
Sting : Kau fikir siapa?
Seketika Natsu menegakkan tubuhnya. Kedua Onyx hitamnya menajam.
Natsu : Kau! Apa maumu! Dimana Zeref!
Sting : Aku? Tentu kau yang paling tahu apa mauku, Natsu. Aku akan mengembalikannya asal kau menyerahkan apa yang menjadi mauku.
Natsu : Itu bukan perjanjian kita! Lepaskan Zeref dan hadapi aku dengan gentle, Sting!
Sting : Gentle? Siapa yang tidak gentle disini? Bukankah itu kau? Kau bahkan menipu Lucy dengan segala rayuan dan sikap manismu, membuainya sampai langit ke tujuh padahal kau hanya ingin membunuhnya. Kau menyiksa lahir dan batinnya. Apa itu disebut gentle?
Natsu : Cih! Kalau Lucy tujuanmu, kenapa kau harus menculik Zeref! Bangsat!
Sting : Karena dia selalu melindungimu
Rahang Natsu mengeras, nafasnya naik turun diikuti matanya yang mulai memerah.
Natsu : Jangan melakukan hal gila hanya demi seorang gadis, Sting. Aku tahu kau tidak seperti itu. Aku tahu kalau pangeran kegelapan yang menghasutmu.
Sting : Pantaskah kau bicara seperti itu padaku? Kau tidak tahu aku Natsu. Tanpa dia mungkin aku sudah lama mati, tanpa dia mungkin aku tetap akan menjadi pangeran es. Dia segalanya bagiku. Dia yang berhasil mengubah seorang Eucliffe menjadi seperti ini. Pangeran kegelapan tidak menghasutku asal kau tahu. Dia menyelamatkanku darimu berkali-kali.
Natsu : Apa maksudmu?
Sting : Aku tidak dikuasai pangeran kegelapan karena aku yang akan menguasainya.
Natsu : Jangan gila, Sting! Kau tidak tahu apa yang bisa diperbuatnya!
Sting : Why? Apa kau punya dendam kesumat juga padanya?
Natsu : ...
Sting : Apa karena dia telah membunuh seseorang yang kau cintai?
DEGH
Natsu terbelalak. Ia tidak pernah menceritakannya pada Sting soal cinta pertamanya.
Sting : Darimana aku tahu? Tentu aku tahu, Natsu. Kubilang pangeran kegelapan akan kukuasai bukan?
Natsu : KAU MAU MATI!
Sting : Kau yang mau mati. Karena kalau kau tahu 'semuanya' aku yakin kau akan lebih memilih mati
Natsu : Apa maksudmu?
Sting : Aku punya buktinya, Natsu. Besok malam, temui aku di gubuk itu. Bawa Lucy untukku maka aku akan mengembalikan kakek Zeref padamu.
BEEP
Sambungan telfon dimatikan. Natsu menggenggam erat ponselnya, mata merahnya berkilat-kilat. Digigitnya bibirnya dengan kedua taring miliknya, menyebabkan setetes cairan merah menetes dari bibirnya. Namun ia sama sekali tidak merasakan sakit.
Natsu pulang ke rumah. Pakaiannya berantakan begitu pula dengan surainya. Ia bahkan tak mengindahkan sapaan sang kepala pelayan. Dengan langkah seribu dan amarah yang masih menggelayutinya ia naik ke lantai tiga. Berendam mungkin akan menyegarkan otaknya. Sting sudah merencanakan semuanya, penculikan Zeref juga barang buktinya. Pemuda Eucliffe itu menginginkan Lucy yang tak lain adalah tanda dari tahta seorang raja Vampire. Dibukanya pintu kamarnya, dan ketika ia menekan tombol lampu di kanan pintu, terlihatlah sosok yang sehari ini menghantui fikirannya dan menggerogoti egonya tengah duduk tertunduk di pinggir ranjangnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Natsu seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Pasalnya kamarnya sangat berantakan, origami yang dilipatnya berhamburan dan banyak yang sudah di bedah dari lipatannya.
"Bisa kau jelaskan apa ini?" tanya Lucy seraya mengacungkan sebuah surat, Natsu melirik surat itu, begitu tahu apa itu, ia segera merampasnya dan meremasnya dengan geram
"Darimana kau dapatkan ini?" tanya Natsu geram
"Apa itu penting?" tanya Lucy balik
"Seingatku aku sudah membuang ini dan memusnahkannya, jadi katakan dimana kau menemukan ini?" tanya Natsu sarkastik
"Jawab dulu pertanyaanku, darimana surat itu berasal? Apa surat itu dari seseorang yang mengajarimu membuat semua origami itu?" tanya Lucy tak kalah sarkastik
"Buang surat itu" perintah Natsu dengan amarah tertahan
"Tidak, jelaskan dulu apa ini" tuntut Lucy
"Buang!" Natsu meninggikan suaranya
"Tch, kau membentakku layaknya aku seorang budak" gumam Lucy menyulut amarah Natsu
"Tutup mulutmu!" bentak Natsu
"Aku tidak akan menutupnya sampai kau menjawabnya!" bentak Lucy
PLAK
Natsu menampar Lucy keras. Gadis itu terbelalak, tidak percaya kalau Natsu main kekerasan lagi dengannya. Belum sempat Lucy bergerak, Natsu sudah menjambak rambutnya ke atas, membuat gadis yang menjad istrinya itu merintih kesakitan.
"Kau lancang nona. Apa karena kita telah menikah kau benar-benar menganggap dirimu adalah istriku? Jangan mimpi!" bisik Natsu sarkastik
"Kau mem-bohongiku?" tanya Lucy dengan nanar
"Kau fikir aku bersikap tulus padamu? Kau fikir aku benar-benar jatuh cinta padamu?" tanya Natsu
"Kau sudah berjanji" kata Lucy, setetes liquid lagi-lagi lolos dari mata caramelnya
"Dan kau percaya?" tanya Natsu
"Kau bahkan menciumku" kata Lucy
"Dan kau menerimanya dengan suka rela, apa ini salahku? Kau yang memulainya nona, aku hanya mengikuti arus saja dan melakukan apa yang kau impikan" jawab Natsu
Tangan Lucy sudah berada diudara, bersiap menampar Natsu, namun pemuda itu dengan mudahnya menangkap tangannya. Lucy berusaha menarik tangannya, Natsu malah tersenyum miring dan mendorong tubuhnya ke kasur. Lucy semakin meronta, namun Natsu langsung mengunci kedua tanganya diatas kepala.
"Kau mempermainkanku?" tanya Lucy disertai derai air mata
"Kau menyukainya?" kata Natsu membuat pernyataan bernada pertanyaan
"Brengsek!" umpat Lucy
"Aku memang brengsek" jawab Natsu
"Bajingan!" umpat Lucy
"Kau lebih bajingan dariku, nona" balas Natsu sinis
"Apa?" tanya Lucy tak percaya
Natsu mendekatkan wajahnya, membuat Lucy memalingkan wajahnya. Pemuda itu tersenyum iblis dan membisikkan sesuatu ke telinga Lucy dengan nada sensual khas seorang psycho.
"Asal kau tahu, kau yang mengirim semua surat menjijikkan itu padaku. Berharap aku akan membalasnya dan menemuimu. Cih! Jangan mimpi. Orang dengan dosa besar sepertimu tak pantas bersanding denganku. Meski aku bajingan, kau lebih bajingan dariku. Jadi sadarlah siapa dirimu" bisik Natsu
"Apa maksudmu?" tanya Lucy dengan nada gemetar
"Jangan pura-pura tidak mengingatnya. Kau yang sudah membunuh orang yang paling kucintai. Kau menghancurkan hidupku!" kata Natsu mulai berteriak, tubuh Lucy gemetaran, ia tidak tahu Natsu bisa semenyeramkan ini. Ia bersumpah inilah wujud paling menyeramkan seorang Natsu Dragneel.
"Jangan salahkan aku kalau aku bersikap seperti ini padamu. Sejak awal kau yang membuatku menjadi seperti ini" kata Natsu dengan suara seraknya
Natsu mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah Lucy yang terdiam di bawahnya. Gadis itu begitu terkejut dengan apa yang baru didengarnya. Tubuhnya bahkan sudah menggigil ketakutan, membuat seringaian di wajah Natsu semakin melebar. Diraihnya dagu Lucy dan ia pun mendekatkan kembali wajahnya, mengarahkan sang empunya untuk menatap matanya. Tak punya pilihan, Lucy-pun menatap mata Natsu.
"Jika kau tak pernah lahir di dunia ini, hidupku akan sempurna" bisik Natsu
"Jangan pernah berharap cinta dariku karena aku hanya akan memberimu derita. Karena hanya satu orang yang kucintai seumur hidupku" bisik Natsu
"Seseorang yang menarikku dari kekelaman yang kau ciptakan, dari jurang kau buat" bisik Natsu
"Lui?" tanya Lucy mengkonfirmasi
"Benar, hanya dia yang kucintai dan akan kucintai. Bukan kau atau siapapun" jawab Natsu sarkatis
Lucy tak sanggup berkata-kata lagi. Hanya tetes demi tetes liquid bening yang membasahi wajahnya. Tapi jangan harap kalau sang aktor utama akan bersimpati. Tanpa belas kasihan pemuda itu menarik Lucy dan menggiringnya menuju kamar mandi. Ditariknya ikat pinggang kulitnya dan diikatnya kedua tangan Lucy di besi tirai kamar mandi. Gadis itu diam saja, entah pasrah atau sudah mati rasa, tak ada yang tahu. Belum puas, Natsu membungkam mulut Lucy dengan dasi miliknya, mencegah gadis itu berteriak. Ditinggalkannya Lucy begitu saja tanpa seucap katapun. Suara kuncian bahkan sudah tak didengar oleh Lucy.
Ya, gadis itu terlalu shock dengan apa yang baru saja Natsu katakan. Dirinya yang menulis semua surat itu, dirinya yang mengharapkan Natsu, dirinya yang menghancurkan hidup Natsu, membuatnya menjadi sosok bengis. Semua salahnya, hanya salahnya. Air mata Lucy semakin deras, ia menggigit kain yang membekap mulutnya dengan kuat, berusaha tidak berteriak dan meraung.
"Apa Semuanya salahku? Apa semua karena kehadiranku? Keberadaanku?" tanya Lucy dalam hati
"Apa kelahiranku adalah dosa? Apa aku pendosa? Apa benar aku yang menhancurkan hidupnya? Apa benar aku yang membuatnya menjadi seperti itu?" tanya Lucy lagi
"Tapi kenapa? Kenapa? Kenapa aku tidak mengingatnya? Kenapa aku tidak memiliki ingatan akan semua dosaku? Apa tuhan sedang menghukumku? Apa ini semua hukumanku?" tanya Lucy lagi dalam hati
...
Hari H. Hari perjanjian dimana Natsu dan Sting akan bertemu. Bertepatan dengan hari dimana Lisanna dan Lucy akan bertemu pula. Malam kesepuluh bulan Februari.
Di malam sunyi tak berbintang, Natsu berjalan menyusuri hutan, tentu setelah mengalihkan perhatian para pasukan Skyadrum yang berjaga. Hingga kini hanya ia seorang, tak ada yang akan menganggunya berduel dengan Sting. Membunuh Pangeran kegelapan untuk yang kedua kali dan membunuh Lucy. Kedua orang yang membuat hidupnya menderita.
Di dalam gubuk, Sting tengah duduk seraya memangku sang permaisuri yang tidak sadarkan diri. Ia tersenyum sinis tak kala merasakan tekanan udara mulai berat, pertanda bahwa sang raja tengah mendekat.
Natsu datang dengan mendobrak pintu, mata merahnya mengedar mencari sosok yang sudah menantangnya. Sayup-sayup, ia melihat bayangan hitam di kursi singgasana dekat jendela. Sosok itu terhalang oleh kegelapan.
"Kau datang rupanya" sapa Sting
"Tentu aku akan datang demi mencabut nyawamu" jawab Natsu
Sting menggoyangkan tangannya, seketika lilin-lilin di sekitarnya menyala secara beriringan, dan disitulah mata Natsu mampu menangkap sosok lain disana. Onyx merahnya membulat tak kala melihat siapa yang tengah Sting dekap.
"Luce" gumam Natsu
"Kau masih mengenalnya?" tanya Sting
Natsu menggenggam tangannya. Seingatnya ia mengikat Lucy di kamar mandi sejak kemarin malam. Mustahil bagi gadis itu pergi kalau tidak ada yang membantunya.
"Brengsek" umpat Natsu
"Pantaskah seorang brengsek menyebutku brengsek? Kau harusnya senang karena gadis ini tak mati di tangan orang lain" jawab Sting
"Apa maksudmu?" tanya Natsu
"Kalau aku tak datang, nyawa gadis ini sudah melayang" jawab Sting
Flashback
Sejak diikatnya Lucy, gadis itu menangis hingga terlelap. Namun ketika malam kesepuluh bulan februari menyapa, perlahan iapun membuka matanya. Ia ingat kalau hari ini adalah hari dimana si pengirim surat minta bertemu dengannya. Namun dengan keadaannya yang sekarang mustahil untuk pergi, ia mencoba menarik tangannya tapi percuma, ikatan Natsu sangat kuat. Bingung, akhirnya ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan tenaganya dan ketika ia membuka mata, bola caramelnya berubah menjadi merah. Dan dengan sekali tarikan, ikatan Natsupun terlepas. Ia melepaskan pengikat mulutnya dengan brutal. Di dobraknya pintu kamar mandi Natsu dan dengan secepat kilat melesat keluar melalui jendela balkon.
Lucy vampire mode on melompat-lompat diantara atap rumah, tiang listrik dan bangunan. Ia menuju tempat pinggiran kota, tempat dimana ia harus bertemu seseorang.
Di pinggir hutan, Lisanna sudah menunggu. Gadis bersurai perak itu mengenakan gaun biru dongker selutut dengan sarung tangan hitam dan sepatu boot. Lucy datang, gadis itu turun dari pohon tempat ia berpijak. Malam ini, langit tak berbintang, membuat sang malam gelap gulita. Namun Lucy dapat merasakan bahwa ada orang lain di sekitarnya.
"Keluarlah" kata Lucy
Lisanna masih bersembunyi. Ia berada dalam jarak aman, karena tidak mengira Lucy akan menemuinya dalam vampire mode on.
"Kenapa? Kau sudah menemukan buktinya?" tanya Lisanna
"Jangan main-main denganku, keluarlah jalang!" teriak Lucy
"Tidak bisakah kau santai? Kita sama-sama korban, jadi jangan meneriakiku seperti itu, permaisuri" jawab Lisanna
"Sama? Cih! Tentu tidak, bagaimanapun aku istrinya, permaisurinya! Kau hanyalah serangga pengganggu yang berdenging mengusikku!" teriak Lucy
"Kau fikir ia mencintaimu?" tanya Lisanna sarkatis
"Aku tidak memimpikan hal bodoh macam itu" jawab Lucy tak kalah sarkatis
"BOHONG!" bentak Lisanna keluar dari tempat persembunyian
Lucy menoleh, sayup-sayup ia melihat bayang-bayang hitam mendekat ke arahnya. Dan bau darahnya, ia cukup mengenalnya. Bau yang tidak asing. Dan ketika Lisanna sudah berada di hadapannya dengan jarak 5 meter, barulah mata Lucy membulat.
"Lisanna?" panggil Lucy
"Why? Kau terkejut?" tanya Lisanna
"Bagaimana mungkin" Lucy tak percaya
"Bagaimana mungkin, tentu mungkin. Justru aku yang harusnya bertanya padamu. Bagaimana mungkin gadis rendah seperti dirimu berubah menjadi seorang permaisuri. Itu tidak masuk akal" kata Lisanna
"Tidak, jadi . . . teror itu, ka- kau" Lucy masih tak percaya
"Ya, aku yang melakukannya" aku Lisanna
"Kenapa?" tanya Lucy tak mengerti
"Karena aku mencintainya. Tapi gara-gara kau! Natsu berubah, ia menjauh dariku, bahkan ia bersedia menikahimu yang jelas-jelas sudah menghancurkan hidupnya!" jawab Lisanna menohok Lucy
Mendengar kalimat Lisanna, mata merah Lucy berangsur-angsur pulih. Gadis itu kembali terngiang perkataan Natsu yang mengatakan hal serupa. Tentang menghancurkan hidup. Lucy tertunduk, perasaan bersalah kembali mematuk hatinya. Bagai racun kobra, keberaniannya seakan tertelan seketika.
"Why? Kau merasa bersalah?" tanya Lisanna sinis
"Aku . . . apa benar aku yang menghancurkan hidupnya?" tanya Lucy masih tertunduk
"Apa jika aku mengatakannya kau akan meninggalkannya? Tidak, apa jika aku mengatakannya kau bersedia menghukum dirimu sendiri?" tanya Lisanna
Perlahan Lucy mengangkat kepalanya, menatap mata merah Lisanna yang juga kembali seperti semula. Lucy menggigit bibir bawahnya, rasa ingin tahunya benar-benar mengalahkan logikanya. Setelah terdiam untuk waktu yang cukup lama, Lucy-pun mengangguk, bersedia menerima konsekuensi. Toh itu juga bayaran atas dosanya. Dosa yang membuat seorang Natsu berubah menjadi iblis keji.
"Kau membunuh ibunya" kata Lisanna tegas sukses membuat Lucy menegakkan kepalanya dengan mata melebar
"A...aku?" tanya Lucy
"Ya, Dan gara-gara kau juga ia harus menjadi setengah vampire. Menghabiskan banyak waktunya untuk meminum kapsul yang membuatnya selalu merasa sakit dan diluar kendali" lanjut Lisanna
Lucy shock. Kalimat Lisanna bagai genderang yang memukulnya. Jadi alasan kenapa ia tidak mengingat masa kecilnya, adalah karena ia memang adalah pendosa. Ia seorang pembunuh. Hidupnya salah. Takdirnya adalah kutukan. Lutut Lucy lemas, kakinya serasa tak bertulang. Ia menatap tanah yang tertutupi salju putih dengan pandangan kosong.
"Tapi seorang gadis menyelamatkannya, gadis yang menjadi cinta pertamanya. Lui. Begitulah Natsu menyebutnya. Tapi lagi-lagi takdir tak berpihak padanya. Gara-gara kau juga, gadis kecil itu terbunuh, dan Natsu kehilangan orang yang dicintainya sekali lagi" lanjut Lisanna mengganti cerita
"Dan tak tahukah kau? Aku berterimakasih padamu, kalau tidak karenamu mungkin Natsu tak akan melirikku. Sejak saat itu Natsu selalu berada disisiku hingga kau kembali muncul dengan kedokmu, dan aku membencinya!" lanjut Lisanna seraya melangkah mendekat
"Natsu bahkan sudah berusaha membunuhmu, namun kau malah hidup lagi seolah mengejek perjuangannya. Kecelakaan itu, dia yang merencanakannya" papar Lisanna
"Tapi kau masih tak tahu dan malah mengharapkan cinta yang mustahil darinya?" tanya Lisanna terus mendekat
Lucy tak bergeming, karena kalimat demi kalimat Lisanna menyayatnya semakin dalam dan dalam. Menebasnya hingga ke akar-akar. Dadanya serasa sakit, sesak dan ngilu. Namun itu tak sebanding dengan dosa yang telah ia perbuat pada Natsu. Lisanna terus mendekat, bahkan bungu Strauss itu sudah mengeluarkan sebilah pedang yang siap menebas kepala Lucy. Menghukumnya sesuai janji, memusnahkannya sesuai dendam dan sumpahnya.
"Jadi bersiaplah karena aku akan menghukummu atas segala dosamu, dan mengakhiri takdir kutukan yang menjerat kita. Benang merah itu, aku yang akan memutuskannya. Aku, Lisanna Strauss" kata Lisanna tepat berada di depan Lucy yang terduduk
Lisanna mengayunkan pedangnya, sementara Lucy tetap diam.
SRASH
Cipratan darah membasahi wajah, rambut dan pakaian Lucy. Gadis blonde itu mendongakkan kepalanya perlahan, yang ia lihat adalah . . . Lisanna tertusuk pedang dan ambruk di hadapannya. Mata Lucy membulat.
"Tidak" racau Lucy seraya memengangi wajahnya dan menggeleng
"Tidak boleh" racau Lucy
"Tidak!" racau Lucy lagi
"Tidak!" Teriak Lucy memegangi kepalanya erat kemudian pingsan
Tepat sebelum tubuh Lucy menghantam dinginnya tanah bersalju, sebuah tangan kekas sudah berhasil menangkapnya. Ya, dia adalah Sting Eucliffe.
"Lucy" gumam Sting
Flashback End
Natsu menganga. Ia tidak percaya Sting sudah menghabisi Lisanna. Terlebih pemuda itu mendapatkan Lucy dengan begitu mudahnya sebelum ia membunuhnya. Dilihatnya wajah, rambut dan gaun selutut Lucy yang sudah compang-camping berlumuran darah. Miris. Hati Natsu teriris melihatnya. Sebuah perasaan aneh yang seharusnya tidak ada di hatinya.
Sting melemparkan sebuah rekaman CCTV yang berhasil ia dapatkan di jalur alternatif ke hadapan Natsu. Natsu melirik rekaman tersebut dengan nanar, ia tidak menyangka semua berada diluar kendalinya. Ia tidak menyangka bahwa seorang Dragneel sepertinya bisa kalah dengan Eucliffe macam Sting.
"Aku pemenangnya" kata Sting seraya tersenyum penuh kemenangan. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke leher Lucy, menyiapkan kedua belah taringnya bersiap menghisap darah Lucy.
"Berani kau menyentuhnya, kubunuh kau!" kecam Natsu
"Kau lupa? Dia milikku sekarang" jawab Sting santai
"Brengsek" umpat Natsu menyerang Sting
Dengan secepat kilat Sting menghindar. Ia meninggalkan Lucy di kursi begitu saja. Natsu terus menyerangnya dengan brutal, namun tak ada satupun serangannya yang mengenai Sting. Pemuda itu kalap, marah tanpa alasan yang jelas.
Natsu begitu marah ketika dengan tidak tahu dirinya Sting menyentuh tubuh Lucy, memeluknya mesra dan hampir menghisap darahnya. Lucy hanya miliknya. Ia sudah menandainya sebagai pengantinnya, istrinya juga permaisurinya. Sekali lagi Lucy hanya miliknya. Menurutnya tak ada yang berhak menyentuh Lucy kecuali dirinya.
Keduanya terlibat perkelahian untuk yang kesekian kalinya, namun kali ini berbeda. Natsu begitu ambisius, ia bahkan tak peduli meski tajamnya taringnya mengoyak semua barang-barang yang berada dalam gubuk tua itu. Sting menendang perut Natsu, pemuda itu terpental jauh menabrak dinding. Tapi Natsu dengan segera bangkit dan kembali menyerang Sting. Mata Natsu memerah pekat, wajahnya sebagian mengelupas dan cakarnya semakin memanjang. Sting terbelalak, vampire king mode Natsu akan segera aktif. Sting menarik pedang yang terpajang di dekat kursi, ia kembali menyerang Natsu. Dihunuskannya pedang pembunuh vampire itu ke arah Natsu namun Natsu menariknya dengan tangan kosong dan menyayat dada Sting dengan cakarnya. Bekas cakaran Natsu bagai racun, bekas itu melepuh, Sting-pun merintih kesakitan. Ia menarik diri dengan sedikit terhuyung.
Natsu masih berdiri tegak, tak merasa sakit sedikitpun meski telapak tangannya meneteskan darah segar. Sting kesakitan, ia mulai roboh tapi berhasil menjaga keseimbangan dengan menahan diri menggunakan pedangnya. Acnologia yang sedari tadi ditekannya mengambil alih, pemuda itu meraung kesakitan. Acnologia terus memberontak hingga Sting ambruk.
Detik berikutnya, Sting mulai bergerak bangkit. Bekas cakaran Natsu berangsur-angsur pulih, matanya menyorot nyalang. Mata yang berbeda iris. Shine Blue dan Dark Red. Acnologia bangkit. Sang pangeran kegelapan meregangkan otot-ototnya yang serasa kaku. Ia meludah meremehkan Natsu.
"Akhirnya kita berhadapan lagi, Natsu" kata Acnologia namun Natsu tak menjawab
"Kita lihat, kau atau aku yang akan menang kali ini" kata Acnologia
Acnologia menyerang Natsu dengan kecepatan kilat. Tubuh Natsu terkoyak sana-sini, darah merahpun bercipratan. Acnologia terus menebas Natsu. Tak ada perlawanan, Natsu sudah hampir tumbang.
"Why? Apa kau sepengecut ini?" tanya Acnologia
"Kalau kau tak melawan, aku yang akan menang. Dan dengan begitu aku bisa membangkitkan lagi Grandine" kata Acnologia
SETTT
Mata merah kelam Natsu berubah. Nama sang ibu yang disebut oleh Acnologia menyadarkannya. Ia melihat tubuhnya yang sudah banyak terluka. Dengan cepat ia mengambil belati dan melemparkannya.
SETTT
Belati kecil itu sukses menyayat pipi Acnologia. Acnologia-pun berhenti menyerang Natsu. Kesempatan itu Natsu gunakan untuk menyembuhkan diri. Setelah kiranya lukanya sudah hampir pulih barulah ia angkat bicara.
"Apa maksudmu dengan membangkitkan ibuku?" tanya Natsu
"Jangan pura-pura bodoh, Natsu. Aku mencintai ibumu" kata Acnologia mengejutkan Natsu
"Aku begitu mencintainya hingga kau membunuhnya. Kalau kau tak lahir, Grandine tak akan mati!" tuding Acnologia keras
"Aku tidak membunuh ibu!" bantah Natsu
"Kau membunuhnya, kalau kau tidak menerima donor jantung dari Grandine, kalau kau yang mati waktu itu maka Grandine akan tetap hidup" kata Acnologia
"AKU BILANG AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!" bentak Natsu
"Lalu, siapa? Permaisuri? Jangan mengada-ngada Natsu. Kau menyalahkannya karena kau tak siap menerima kenyataan kalau kau yang membunuh ibumu. Karena jika kau menerimanya maka kau akan memilih mati. Dengan menyalahkan orang lain, kau punya alasan untuk terus hidup. Kau bersembunyi dari kenyataan, kau bersembunyi di balik dendammu" jelas Acnologia
DEGH
Mata Natsu membulat.
"Apa aku salah?" tanya Acnologia
SETT
Natsu menghunuskan kukunya tepat di leher Acnologia.
"Jaga bicaramu, atau aku akan benar-benar membunuhmu" ancam Natsu
"Apa kau ragu membunuhku karena wadahku adalah mantan sahabatmu?" tanya Acnologia membuat tangan Natsu gemetar
"Kau masih lemah seperti dulu Natsu. Lemah dan bodoh" kata Acnologia
Natsu menghunuskan kukunya, namun Acnologia dengan cepat menghindar. Mereka terus saling menyerang, saling menebas dan tak ada yang mau mengalah. Pedang beradu dengan kuku.
"Dengan tubuh permaisurimu, Grandine akan kembali hidup. Dia adalah wadah yang sempurna. Dan kau tumbal yang sempurna pula" kata Acnologia
"Brengsek! Tutup mulutmu!" umpat Natsu
Dalam pertarungan sengit itu, tak ada yang mau mengalah. Hingga setelah menghancurkan semua barang-barang di gubuk itu keduanya melesat keluar. Bertarung di bawah hujan salju. Mengiasi tanah putih dengan warna merah. Acnologia unggul, Natsu sudah terluka dimana-mana. Pemuda itu batuk darah, namun ia masih bisa tertawa dan menyeringai. Baginya ia tidak akan mati sebelum Acnologia dan permaisuri. Ia harus membunuh keduanya terlebih dulu. Dengan sisa kekuatannya ia kembali menyerang Acnologia, namun serangan tanpa pola dan pertahanan sama saja menyerahkan nyawa. Dengan sekali tebas, Acnologia berhasil menyayat dada Natsu. Natsu jatuh terkapar, ia berusaha bangkit namun sulit. Seluruh tubuhnya sudah hampir mati rasa. Lagi-lagi ia batuk darah, nyawanya sudah berada diujung tanduk.
"Aku benci lemah. Aku benci yang namanya tidak berdaya. Aku sudah berjuang demi menjadi kuat, demi menghilangkan jiwa lemahku yang tidak bisa melindungi apa yang berharga bagiku. Namun apa ini akhirnya? Apa aku akan benar-benar berakhir? Apa aku akan segera menyusulmu, ibu?" tanya Natsu dalam hati
Acnologia bersiap menebas Natsu, ia sudah mengayunkan pedangnya. Natsu memejamkan matanya, bersiap menerima hunusan pedang itu.
SRASHHHH
Wajah Natsu terkena cipratan darah. Pemuda itu membuka matanya pelan.
"Uhuk"
Natsu membuka kedua matanya lebar. Dihadapannya, Lucy menghalangi pedang itu. Dihadapannya, Lucy tertusuk pedang dari punggung hingga menembus dada depan. Gadis itu terbatuk, darah segarpun keluar dari mulutnya.
"Ka . . . Kau" Natsu tidak percaya
Lucy ambruk namun kedua tangan kekar Natsu menahannya.
Dejavu
Ini pernah terjadi, ini bukan pertama kalinya ia dilindungi seseorang. Kilasan ingatan dimana Lui tertusuk memasuki kepalanya. Saat Lui batuk darah dan tersenyum padanya untuk yang terakhir kali. Natsu tak bergerak, dipandanginya darah segar yang terus mengalir dari dada Lucy. Otak briliantnya seakan menjadi tumpul, relfeknya seakan berjalan selambat siput memproses dan menyadari apa yang terjadi. Tubuhnya bagai patung es yang membeku.
"Bodoh sekali" kata Acnologia
"Gadis itu sangat bodoh, mau-maunya dia mati untuk yang kedua kali hanya demi orang sepertimu" kata Acnologia
Patah-patah, Natsu menggerakkan kepalanya, menatap iris Acnologia dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ap . . . apa mak . . . sudmu?" tanya Natsu terbata
"Dia rela mati demi seseorang yang bahkan tidak mencintainya. Demi seseorang yang hidup hanya untuk membunuhnya. Miris sekali" jawab Acnologia
"Jangan bergurau" racau Natsu
TES
Setetes air mata turun membasahi pipi Natsu. Dadanya bagaikan teriris, ingatan tentang Lui semakin nyata. Keadaan ini seperti kejadian 10 tahun lalu, dimana ia tidak berdaya dan mengakibatkan Lui terbunuh.
"Dia . . ." kata Acnologia seraya menyeringai
"Adalah Lui" ungkap Acnologia
DEGH
"Cinta pertamamu, istrimu, juga permaisurimu. Seseorang yang menarikmu dari kegelapan juga seseorang yang selalu ingin kau bunuh" lanjut Acnologia seraya mendekat
"Tidak, tidak mungkin. Lui sudah lama mati" elak Natsu
"Tapi kenyataannya ia hidup, hanya untuk kembali padamu. Kembali ke kematian" hasut Acnologia
"Tidak. Lui bukan dia. Dia bukan Lui." racau Natsu
Acnologia terus menghasut Natsu dengan berbagai kenyataan. Bagaikan sapuan ombak tsunami di karang yang rapuh. Menghantam dengan keras hingga karang itu hancur tak tersisa, kemudian di tenggelamkan ke laut terdalam. Licik dan cerdik, itulah sang pangeran kegelapan.
Natsu terus meracau. Ia terus berteriak, mengelak kenyataan yang terus diucapkan kata demi kata. Hatinya di sayat, di iris, dan di gilas menjadi puing-puing dan serpihan debu. Liquid bening terus menemaninya. Wajahnya yang tertunduk pilu, membuat tetesan demi tetesan cairan bening itu ikut membasahi wajah Lucy. Gadis itu ingin sekali berucap, namun rasa sakit yang menyerangnya mengalahkan segala alat geraknya. Ia terbatuk dengan air mata yang tak henti membasahi wajahnya kemudian mulai memejamkan mata.
Natsu terus mengelak, meski bibirnya meracau tidak jelas bahkan berteriak, nyatanya kedua tangannya mendekap erat tubuh Lucy. Di peluknya tubuh Lucy yang mulai dingin. Gadis itu perlahan membuka mata, menyadari bahwa dirinya tengah dipeluk, sekelumit hatinya merasa senang teramat sangat.
"Hangat, ini adalah pelukan Natsu" kata Lucy dalam hati
"Tidak, tidak" racau Natsu
"Jangan pergi" gumam Natsu diluar kontrol egonya, dipeluknya Lucy dengan erat lagi dan lagi
"A . . . Ak-ku baik-baik sa . . .ja" jawab Lucy lirih dan terbata
Melihat melodrama melankolis antara raja dan permaisuri, Acnologia mendengus. Ia merasa sudah terlalu berbaik hati pada putra Grandine dengan mengungkapkan segalanya. Kali ini ia tidak akan main-main lagi. Habisi Natsu dengan segera, dapatkan permaisuri. Diangkatnya pedang miliknya tinggi. Natsu yang masih shock belum berkutik. Sementara Lucy yang menyadari tanda bahaya segera mendorong Natsu, melepaskan pelukan hangat itu dan membentangkan tubuhnya.
SRASH
Pedang Acnologia kembali menyayatnya. Detik berikutnya, Lucy kembali tumbang. Tanah bersalju yang semula berwarna putih kini menjadi merah. Lucy terkulai tak berdaya di hadapan Natsu.
Natsu shock. Onyx merah darah Natsu berubah menjadi kelam. Wajahnya terkelupas, taring tajam menyembul dari bibirnya, buku jemarinya memanjang, sangat panjang. Natsu menghilang, Acnologia-pun kalap, ia menoleh kesana kemari namun tiba-tiba wajah, lengan, perut, bahkan kakinya sudah di koyak. Ia menajamkan penglihatannya, tapi percuma. Ia tak bisa melihat gerakan Natsu. Acnologia mengayunkan pedangnya sembarang arah, tapi pedang itu ditebas oleh kuku Natsu hingga terbelah menjadi dua dan meleleh. Tak punya pilihan, Acnologia mencoba menyerang Natsu dengan tangan kosong, ia mengayunkan kukunya namun lagi-lagi tubuhnya dikoyak. Hingga . . .
SRASH
"Uhuk" Acnologia batuk darah
Natsu menghentikan gerakannya. Tangannya berhasil menembus tubuh Acnologia untuk yang kedua kalinya. Natsu mencengkeram jantung Acnologia yang tak lain jantung Sting. Jantung itu berdetak kencang. Acnologia meraung, lebih tepatnya sosok Acnologia dalam tubuh Sting meraung, Natsu menyedot daya hidupnya. Acnologia mencoba melepaskan diri dengan berusaha keluar dari tubuh Sting, namun Natsu mencengkeram erat jantungnya.
"AKHHHHH" raung Acnologia
Natsu menghisap daya hidup Acnologia demi memusnahkannya. Acnologia terus meraung. Raungan yang sanggup membuat semua makhluk penghuni malam beterbangan dari sarangnya. Ketakutan akan kedua aura dua sosok yang tengah berperang.
Sementara di Bangunan tempat Zeref disekap, Jellal, Jura, Rogue, Igneel dan Skyadrum menyerbu. Kelimanya berpencar mencari sang raja senior. Kelompok satu Jellal, Jura dan Rogue sedangkan kelompok kedua Igneel dan Skyadrum. Kelompok pertama dihadang Neinhart, mereka bertarung, saling beradu taring dan kekuatan. Di tempat lain, Kelompok dua dihadang August, kakek tua yang mengabdikan dirinya sebagai kaki tangan Acnologia. Igneel dan Skyadrum harus menguras tenaga mereka demi mengalahkannya. Setelah peperangan sengit di dua tempat, akhirnya pasukan Dewan Vampire-lah yang menang. Neinhart dan August dimusnahkan untuk selamanya.
Jura mendobrak ruangan yang kesekian kalinya. Didalam ruangan itu gelap, banyak sekali lilin-lilin dan sobekan perkamen, juga sebuah peti. Jellal mendekat, ia dan Rogue membuka peti tersebut, dan terbelalaklah mereka melihat Zeref tertidur dengan wajah pucat pasi. Tanpa fikir panjang, Jellal menggeores lengannya dan meneteskan darahnya agar diminum oleh Zeref. Tak lama kemudian, Zeref mulai membuka mata, sang raja senior itu sayu-sayup melihat sosok yang sudah tak asing. Ia bangun dibantu Rogue. Zeref bangun, ia memegangi kepalanya yang masih terasa pening.
"Apa yang terjadi? Dimana aku?" tanya Zeref
"Anda tak ingat kalau Sting tidak maksudku ya . . . mereka menculik anda?" tanya Jellal
"Ah, Sting" gumam Zeref santai
"Tunggu, anak itu, dimana dia? Frekuensi tubuhnya cocok dengan Acnologia, jika Acnologia berhasil mendapatkan darah Lucy maka ia akan mengusai tubuhnya. Lucy, Lucy dimana dia?" Zeref panik
"Sting menghilang, Lucy berada di kediaman Dragneel, anda tenanglah" kata Jellal
Tiba-tiba ponsel Jura berdering, ia mengangkat ponselnya dan mengernyit. Ditutupnya telfon dengan lunglai, matanya mendadak kosong.
"Lucy-sama menghilang" kata Jura lemah
"APA? DIMANA NATSU!" Zeref berusaha berdiri namun terhuyung, Rogue memegangi pundaknya, menenangkan
"Natsu-sama juga menghilang" kata Jura
Di medan tempur utama, Natsu masih berusaha menghisap daya hidup Acnologia. Ia memendekkan kukunya dan memutuskan urat nadi tak kasat mata yang menghubungkan Acnologia dan Sting. Saat itu juga . . .
"AKKKKKKHHHHHHHHH, TIDAAAAAKKKKK!" teriak Acnologia mulai keluar dari tubuh Sting
Acnologia keluar dari tubuh Sting, menjadi gumpalan hitam, semakin menggumpal dan menggumpal. Teriakan nyaring masih terdengar, namun tindakan Natsu benar-benar fatal. Gumpalan hitam itu membesar, terus membesar hingga pada puncaknya, gumpalan itu meletus. Acnologia berteriak dan tepat saat letusan, ia benar-benar lenyap. Letusan dari gumpalan itu menjadi abu, beterbangan seiring hujan salju. Turun ke tanah dan menyatu kembali ke tanah.
Natsu menarik tangannya dari dada Sting, darah segar keluar namun Natsu menggigit jempolnya, mengusapkan darahnya pada dada Sting hingga luka di tubuh Sting berangsung-angsur menutup meski tidak sepenuhnya. Setidaknya, nyawa Sting akan terselamatkan dengan itu. Sting tumbang. Kini, hanya Natsu yang berdiri, kacau dan berlumur darah. Malam itu, akhirnya sang raja kegelapan musnah.
Kini, mata Natsu yang berwarna merah kelam menghitam, ia menoleh. Melihat sosok seorang gadis yang sudah tidak berdaya. Persendiannya mendadak ngilu, ia hampir ambruk karenanya, namun ia berusaha untuk tetap berdiri dan mendekati Lucy. Tepat di hadapan tubuh sang gadis, sendinya sudah tak sanggup menahan beban dirinya. Ia ambruk. Di raihnya tangan Lucy yang dingin.
TES
Natsu mulai menangis lagi. Dadanya sesak, oksigen yang ia hirup serasa karbon beracun. Mencengkeram paru-parunya dan menghentikan pernafasannya. Hatinya sudah tidak bisa diterjemahkan lagi bagaimana rasanya. Dengan sangat hati-hati, ia merengkuh tubuh Lucy, mendekapnya dan mengguncangnya. Namun tubuh itu hanya diam, tak bergerak juga tak merespon.
"Bangun, kumohon bangunlah" pinta Natsu seraya menangis
"Luce, jangan seperti ini, bangunlah" pinta Natsu tapi tak ada jawaban
"Maafkan aku, maafkan aku" rapal Natsu
"Kumohon maafkan aku dan bangunlah, jangan buat aku seperti ini. Pukul aku dan cacilah aku seperti biasanya. Jangan seperti ini" pinta Natsu
Percuma, Lucy sudah tak berdaya. Tak hilang akal, Natsu menggigit kembali ibu jarinya dan mengusap bekas sayatan Lucy dengan darahnya, namun percuma, sayatan itu sudah terlalu dalam. Natsu menggigit bibir bawahnya, ia mencium Lucy, menyalurkan darahnya kedalam mulut gadis itu. Ia menangis. Skenarionya hancur. Lebih tepatnya semuanya hancur. Ia tidak pernah tahu kalau Lucy adalah Lui. Harusnya ia menyelidiki kenapa Lucy bisa kehilangan ingatannya, namun dendam sudah membutakannya. Dendam sudah menghasutnya, mengikis hati nurani dan akal sehatnya. Dendam dan bunuh. Hanya dua kata itu setiap ia mendengar nama permaisuri, setiap ia menatap Lucy. Bersanding dengannya adalah malapetaka. Namun baginya cinta itu sendiri adalah malapetaka, itu semua bagai kutukan yang menjeratnya lagi dan lagi.
Takdir sangatlah kejam. Mempermainkannya hingga seperti ini, membuatnya lagi-lagi kembali ke titik tidak berdaya.
"Tuhan, masih bolehkah aku memohon? Masih bisakah orang sepertiku memohon padamu? Jika boleh, izinkan aku meminta, sekali ini saja. Jangan biarkan aku kehilangannya. Izinkan ia hidup, karena aku . . ." kata Natsu dalam hati
"Mencintainya" kata Natsu dalam hati
Salju yang semula turun di sekitar Natsu, berhenti. Mengambang diudara bagaikan kapas di dunia fantasi. Namun Natsu masih menangis. Perlahan langit malam menjadi semakin gelap. Gumpalan awan mengumpul di seantero kota Crocus. Detik berikutnya, tetes demi tetes hujan mulai turun, membasahi bumi, mencairkan gundukan salju di jalan. Di kota, orang-orang panik. Pasalnya ini bukan hal biasa.
Sementara di tempatnya, Natsu memeluk tubuh Lucy erat. Merapalkan segala apapun yang bisa ia rapalkan, dengan doa dan segala harapan. Tangisnya semakin menjadi-jadi, bahkan udara dingin-pun tak terasa lagi baginya.
"TIDAAAKKKKK" raung Natsu menengadahkan kepalanya
.
.
.
.
.
Sebelum aku merengkuhmu, aku tak tahu
Bahwa dunia yang kutempati secerah ini
.
Aku menyentuhmu dengan nafas kehidupan,
Dengan cinta
Cinta yang memanggilku tanpa rasa takut
.
.
.
Dalam kegelapan abadi,
Dalam penantian panjang,
Kau menyinariku bagai sinar mentari
.
Bunga-bunga bermekaranpun menjadi layu
Musim mu takkan datang lagi
.
Namun semua itu hanyalah sebuah anugrah
Setelah pertemuan yang singkat itu
Aku menangis bagaikan hujan
.
Kumohon . . .
Lupakan segalanya, melangkahlah kedepan
Karena aku akan datang padamu
Ketika nafasmu memanggilku lagi
.
.
Dengan cinta
.
Dengan doa
.
Dengan harapan
.
(By : Ailee – I will go to you like first snow –with some edit by Nao)
.
.
.
Weisslogia Hospital. Di depan ruang operasi, Natsu terduduk lunglai di lantai. Menyandarkan punggung lelahnya pada tembok dingin, berharap tembok itu mampu sedikit saja membantu memikul dosanya. Wajah, tubuh dan pakaiannya berlumuran darah. Disampingnya ada Jellal, Rogue, Jura, Zeref juga sang ayah dan Skyadrum.
Tak lama kemudian, Jude, Layla, Mavis, dan Ultear datang. Melihat Natsu, amarah Ultear sudah diujung tanduk. Semenjak bersama Natsu, semenjak mengenal Natsu, adiknya, Lucynya selalu berada dalam bahaya. Ia mendekati Natsu, menarik kerah pemuda itu yang berlumuran darah. Belum sempat ia melayangkan tinjunya, tiba-tiba Jude sudah menarik Natsu dan memukul wajahnya. Orang-orang-pun histeris, Igneel ingin membela putranya, namun lengan Zeref mencegahnya.
Natsu mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah, ia bangun dengan terseok-seok. Lagi-lagi belum sempat ia bangun sepenuhnya, bogem mentah sudah Jude layangkan padanya. Jude bagai kesetanan, kepala keluarga Heartfilia itu memukul Natsu lagi dan lagi.
"Inikah yang bisa kau perbuat!" bentak Jude
"Menyakitinya lagi dan lagi! tak cukupkah kau membunuhnya sekali! tidak cukupkah kau menyiksa batinnya!" bentak Jude seraya terus memukul Natsu
"Apa kau puas jika Lucy mati! Huh! Itu yang kau inginkan!" bentak Jude seraya mencengkeram kerah Natsu, wajah pemuda itu sudah babak belur
Layla yang tak tega namun juga tak berani menyela hanya menangis. Mavis menenangkannya, meski matanya melirik sang suami, bertanya apa yang terjadi. Ultear hanya menggenggam erat kedua tangannya, bersabar untuk tidak memukul sang raja.
TES
Jude meneteskan air mata. Kedua tangannya gemetar, begitu pula dengan bibirnya.
"Tidak bisakah kau memaafkan putriku?" pinta Jude kemudian
Disitulah Natsu bagai di sambar petir setelah tsunami.
"Hukum saja aku, bunuh saja aku jika kau ingin membalas kepergian Grandine. Yang meminta Grandine menemui Lucy adalah aku, semua berawal dariku. Aku yang salah, jadi silahkan bunuh aku dan biarkan Lucy tetap hidup" pinta Jude, tangannya menjadi lemas. Akhirnya pria paruh baya itu terduduk di hadapan Natsu, menangis seraya menundukkan kepala, memohon ampun dan belas kasihan demi putrinya
Tak ada jawaban dari Natsu, pemuda itu diam saja dengan pandangan mata kosong, namun air matanya terus menetes, membasahi wajahnya yang sudah babak belur. Ia bak mayat hidup sekarang. Jude menangis tersedu-sedu, sementara Natsu tetap tak bereaksi. Melihat semua itu, akhirnya Zeref turun tangan. Ia mendekati Natsu dan membantunya berdiri, namun Natsu tak mau, ia melemaskan tangannya seakan tidak pantas untuk berdiri disaat Lucy tengah berjuang antara hidup dan mati akibat ulahnya. Igneel membantu Jude berdiri, menggiring sang teman untuk duduk menenangkan diri.
"Natsu, lukamu perlu dirawat" bujuk Zeref
Tak ada jawaban.
"Natsu, dia akan selamat, tanda di lehermu membuktikannya" lanjut Zeref sukses menyedot perhatian Natsu. Pemuda itu memegang lehernya dan tanda sang rajapun muncul, yang dikatakan Zeref benar.
"Ayo bangun dan kita obati lukamu. Lucy pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini" bujuk Zeref lagi
"Ini bahkan belum sebanding dengan apa yang dia terima" gumam Natsu
"Natsu" panggil Zeref mencoba membangunkan lengan Natsu namun kerahnya malah ditarik, matanya beradu pandang dengan Onyx kelam Natsu
"Bunuh aku" pinta Natsu tegas
PLAK
Zeref menampar Natsu.
"Kau sudah melakukan banyak hal gila dan kini kau meminta hal gila pula! Kau kemanakan attitudemu sebagai seorang raja vampire? Huh?" bentak Zeref
"Aku tahu kau terguncang, tapi ini bukan hal benar untuk menebus segala kesalahanmu" kata Zeref
"Karena jika ia sadar nanti, kau akan menerima semuanya" tegas Zeref
Setelah operasi selama kurang lebih 5 jam, akhirnya Weisslogia memberi kabar bahwa Lucy selamat namum perawatan intensif sampai siuman dan benar-benar pulih. Namun tepat setelah mengatakan semua itu, dokter kebesaran bangsa vampire itu berlutut. Memohon ampun pada Zeref dan Natsu atas perbuatan putranya. Sementara diruang lain, Sting masih menjalani operasi, begitu pula dengan Lisanna. Zeref menghela nafas, ia masih belum bisa berfikir jernih, tapi yang jelas ia akan menangani semua kasus Sting, Lisanna, Natsu setelah keadaan semuanya membaik. Weisslogia menangis, tak henti-hentinya ia berterimakasih pada Zeref karena kebaikan hatinya. Skyadrum membantunya berdiri, keduanya melemparkan senyum tipis karena semuanya sudah berakhir. Weisslogia mendekati Natsu, dipandanginya sang raja egois nan aristokrat itu yang berubah menjadi mengenaskan sebelum bicara.
"Terimakasih karena kau tidak membunuh Sting. Terimakasih karena menyelamatkannya. Aku tahu kau tidak benar-benar membencinya" kata Weisslogia yang dihadiahi tolehan acuh Natsu
...
Hari demi hari berlalu, para korban dari pertarungan sang raja dan pangeran kegelapan sudah mulai menunjukkan kondisi membaik. Selama mereka tak sadarkan diri, bodyguard kelas atas utusan Dewan menjaga kamar mereka. Apa lagi kamar Lucy, keamanannya ketat. Terlebih Ultear yang siap siaga 24 jam demi sang adik.
Dari ketiganya, Lisanna-lah yang sadar terlebih dulu. Ia langsung diproses, atas teror, ancaman dan percobaan pembunuhan terhadap permaisuri. Sang kakak, Mirajane dan Elfman tak mampu membela karena bukti Dewan sudah kuat. Lisanna juga tak mengelak, ia sadar betul kesalahannya. Ia menggenggam tangan kedua kakaknya, meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki semuanya. Ia juga berjanji kelak jika sudah menebus segala dosanya, ia akan kembali, menjadi Lisanna yang baru dan membanggakan kedua kakaknya. Ketiga Strauss bersaudara itu berpelukan haru, saling menyalurkan kasih sayang dan menguatkan.
Di kamar Lucy, Natsu tak berani masuk. Pemuda itu selalu mengunjungi Lucy membawa rangkaian bunga tulip putih, Lilac ungu, mawar putih dan bunga soba. Rangkaian bunga itu dititipkannya pada bodyguard yang berjaga di depan. Ultear yang awalnya acuh tak acuh, mulai menaruh rasa iba padanya. Pasalnya sudah lebih dari sebulan, namun Natsu tetap melakukan hal serupa. Bahkan kini tak ada lagi pancaran kehidupan dimatanya, ia bagai bunga yang layu yang tak tahu kapan matinya. Bagai mayat hidup yang tak tahu kapan hidupnya. Ia terus datang dan pergi, tanpa sepatah katapun.
Satu bulan telah berlalu, Sting-pun sadar. Sang ibu histeris, Clara memeluk putra semata wayangnya erat. Namun baru sehari ia memanjakan sang putra di rumah sakit, utusan Dewan datang dan mengintrogasinya ditempat.
"Sting Eucliffe, benarkah anda menggandakan diri demi kepentingan pribadi?" tanya utusan dewan
"Ya" jawab Sting
"Benarkah anda yang melakukan pembunuhan pada vampire bangsawan?" tanya utusan dewan lagi
"Ya, itu saya" jawab Sting
"Anda bisa menyangkal jika itu bukan anda" kata utusan dewan memberi allowance
"Bagaimana saya menjawab tidak jika pembunuhan itu dilakukan dengan tubuh saya?" tanya Sting nanar membungkam utusan dewan
"Benarkah anda melakukan tindak kekerasan pada Lisanna Strauss juga Natsu Dragneel-sama?"
"Ya, saya melakukannya" jawab Sting
"Dengan sadar?" tanya utusan dewan
"Ya, dengan sadar. Saya seratus persen sadar saat itu" jawab Sting
"Kami harap anda tidak berbohong karena itu bisa memperberat hukuman anda" kata utusan dewan menutup bukunya
Sting digiring, kedua tangannya diborgol dengan borgol khusus. Clara hanya mampu menguatkan dan mensupport sang putra, meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja, meyakinkan kalau dirinya tidak membenci karena bagaimanapun Sting putranya. Ketika mereka berada di koridor menuju lift, mereka berpapasan dengan Natsu.
Kini, Natsu dan Sting berhadapan berdua di koridor yang kosong karena sengaja dikosongkan atas permintaan Natsu tentunya. Sting tersenyum samar, ia menunduk tak sanggup menatap Natsu.
"Angkat kepalamu kalau kau pria" kata Natsu, ditiruti Sting meski dengan sedikit mendengus sebal
"Aku . . ." kata Natsu
"Terimakasih" potong Sting
"Terimakasih karena tidak membunuhku dan memaafkanku" kata Sting
"Aku belum memaafkanmu, bodoh" kata Natsu membuat Sting lagi-lagi tersenyum tipis
"Aku kalah, Natsu. Kau berhak atas Lucy, aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku" kata Sting kemudian
"Kau ingat perjanjian kita? Kubilang kau harus menuruti perintahku" kata Natsu
"Apa itu? Akan kulakukan asal masih dalam jangkauanku" jawab Sting bijak
"Kembalilah menjadi temanku" pinta Natsu lembut dan suara parau
Sting terbelalak. Ia tidak menyangka seorang Natsu Dragneel bisa mengatakan kalimat sakral itu.
"Aku ingin kita bisa menjadi seperti dulu lagi. Dimana belum ada dendam, amarah dan kebohongan" lanjut Natsu
"Baiklah, tapi aku tidak janji. Karena aku rasa aku tidak pantas menjadi temanmu lagi atas semua yang sudah terjadi. Kelak kalau aku sudah menebus segala dosaku, aku akan memikirkannya. Jadi selama itu, bisakah kau menungguku? Sebagai seorang calon teman?" tawar Sting, Natsu hanya tersenyum, senyum yang Sting akui hambar dan dibuat-buat.
"Jangan bohongi dirimu sendiri, Natsu. Aku tahu kau terluka, jadi jangan tersenyum karena aku sangat tahu kalau itu palsu. Menangislah kalau kau ingin menangis. Kau tahu . . . menangis juga perlu keberanian. Jadi jangan lagi menganggap kalau menangis itu lemah. Menangis banyak sekali definisinya. Orang yang berani menangis adalah orang yang berani mengakui kalau dirinya perlu memperjuangkan lagi apa yang perlu diperjuangkannya, atau berterimakasih atas perjuangannya. Jadilah berani, dan hadapi kenyataannya, jangan bersembunyi lagi atau menjadi seorang pengecut" kata Sting panjang lebar
Disela-sela senyumnya, Natsu kembali menangis. Ia tidak pernah tahu kalau menangis perlu keberanian seperti yang Sting katakan. Disekanya air mata itu, namun hatinya tak bisa dibohongi. Lukanya menganga lebar, teramat sakit bahkan menghirup udarapun rasanya sakit. Sungguh menyiksa, kalau boleh memilih ia lebih memilih mati daripada menghadapi segala siksaan seperti ini. Menyalahkan takdirpun percuma, karena semuanya memang berawal dari kesalahannya.
Keduanya berpisah, Sting meninggalkan Natsu dengan senyuman tipisnya, sementara Natsu, ia menangis tanpa suara.
Hari berikutnya dan berikutnya, Natsu kembali mengunjungi Lucy, namun kali ini bertepatan dengan Ultear yang keluar dari kamar Lucy. Sang kakak angkat Lucy itu menatap Natsu sejenak dan menatap karangan bunga yang lagi-lagi sama seperti sebelumnya.
Di Cafe rumah sakit, keduanya duduk berhadapan. Memesan segelas kopi hangat, Ultear sudah meneguk kopinya berkali-kali, namun Natsu hanya tertunduk. Sang Milkovich menghela nafas, dipandanginya salju diluar dari balik jendela kaca transparan.
"Kau tahu, Lucy adalah gadis yang kuat" kata Ultear buka suara
"Kami menemukannya sepuluh tahun lalu, di hilir sungai Oak Town dalam keadaan . . ." kata Ultear memberi jeda
"Tidak bernyawa" lanjutnya
DEGH
Natsu mendongak, menatap Ultear dengan pandangan nanar dan penuh luka serta rasa bersalah. Onyx hitam kelamnya seakan meminta penjelasan lebih.
"Aku dan ibuku, Ur menghidupkannya dengan mengorbankan ingatannya. Dan kau tahu? Ia hidup. Gadis kecil itu hidup, tapi ia bahkan tak bisa menggerakkan bibir dan anggota tubuhnya. Persis seperti seorang bayi yang baru dilahirkan, hanya menangis dan menangis" jelas Ultear
"Seiring berjalannya waktu, ia bisa kembali normal tapi ibu mulai bertindak. Ia memangkas rambut Lucy, memakaikannya kacamata dan pakaian laki-laki. Bahkan memaksanya menguasai segala ilmu bela diri. Dan semua itu hanya demi satu hal" kata Ultear
"Menyembunyikan diri . . . dariku" lanjut Natsu dengan suara paraunya
"Kau benar, ibu menemukan fakta kalau kau tidak menginginkannya. Ibuku sudah memprediksi bahwa jika kalian dewasa, ada kemungkinan kalian bertemu. Ada kemungkinan kau akan bertindak lebih selain hanya membenci. Ibu ingin melindungi Lucy" kata Ultear mulai serak, matanya sudah berkaca-kaca
"Tapi prediksi ibuku meleset. Ibu tak pernah tahu kenyataan sebenarnya dibalik terbunuhnya Lucy. Dia menipumu hanya demi bertemu denganmu, menyiksa batinnya sendiri hingga mengorbankan dirinya. Bukan begitu?" lanjut Ultear
NYUT
Natsu memegang dadanya yang kembali serasa terlilit.
"Hal lain yang tidak terprediksi adalah . . . Lucy . . . Gadis itu, jatuh cinta padamu sekali sekali lagi" papar Ultear
JDEAR
Natsu bagai ditimpa guntur dengan tegangan seribu volt. Kedua Onyxnya membulat, lilitan di hatinya berubah menjadi sebuah tusukan dan sayatan. Sebagian hatinya merapal, mengatakan Ultear untuk berhenti namun lidahnya kelu, ia bahkan lupa cara kerja sebuah bibir. Ultear berpaling, menatap Natsu tajam seolah pandangannya bisa membunuh Natsu saat itu juga.
"Dan itu hal yang paling tidak kuharapkan. Karena jika ia jatuh cinta lagi padamu, ia akan tersakiti, menyalahkan dirinya, menghancurkan dirinya sendiri secara perlahan. Memaksa otaknya untuk mengingat apa yang sudah dialaminya dan diperbuatnya padamu. Dan jika semua itu terjadi . . ." kata Ultear menahan gejolak emosinya
"Ia akan mati" kata Ultear tegas
Natsu memegang dadanya yang mendadak sakit, sangat sakit. Pandangannya kabur, ia bahkan sudah terkulai lemas di meja. Namun mata sang Milkovich tak sedikitpun merasakan iba. Baginya ini belum seberapa daripada yang dialami Lucy. Ultear masih menikmati saat-saat menyiksa Natsu, kebenaran yang ia ungkap membuat pemuda yang sah menjadi suami Lucy itu kesakitan, wajahnya pucat pasi, keringat dingin bercucuran, namun ia tak berteriak atau memohon untuk berhenti. Seolah memang ia sengaja, sengaja menyiksa diri, sengaja melukai diri. Hati Ultear lama-lama gemetar, badannya menggigil melihat keadaan mengenaskan Natsu.
"Harusnya kau bilang berhenti jika tak sanggup mendengarnya" kata Ultear dengan tangisnya
Tak ada jawaban, Natsu masih menahan rasa sakit di dadanya. Ultear mulai panik, Natsu benar-benar dalam keadaan gawat. Ia segera menghubungi Weisslogia, meminta sang dokter kepala menangani Natsu.
Sementara itu, di kamarnya, Lucy terbaring tak berdaya. Selang infus dan oksigen melekat pada tubuhnya. Kulitnya yang semula cerah menjadi sedikit pucat, namun wajah cantiknya seakan tak luntur meski sudah sebulan lebih terbaring. Dalam tidur komanya, gadis itu meneteskan air mata.
Lucy's Dream
Lucy dewasa berdiri di depan halaman rumah yang terletak di dalam hutan, dengan pagar yang menjulang tinggi. Langkah kakinya menggiringnya menuju sebuah kamar. Kamar yang pernah ia impikan sekali. Didengarnya sebuah senandung indah, suara gadis kecil mengalun merdu dari dalam sana, ia mencoba membuka pintu, mengintip apa yang tengah dilakukan gadis kecil di dalam sana. Dilihatnya bayangan hitam gadis kecil tengah melipat-lipat origami bangau, senandungnya tak pernah berhenti. Kamar itu sudah dipenuhi banyak sekali origami.
"Lui-kah?" tanya Lucy
Kemudian Lucy tersenyum nanar. Gadis kecil itu begitu ceria, suaranya indah, pasti parasnya juga cantik.
"Lucy?" panggil sebuah suara
Lucy dewasa dan gadis kecilpun menoleh, mata Lucy dewasa terbelalak melihat sosok dihadapannya. Jude Heartfilia berdiri disampingnya, mengetuk kamar gadis kecil. Lucy memiringkan kepalanya, mengerutkan kedua alisnya tak paham.
"Lucy, kau didalam?" panggil Jude
"Iya ayah" sahut gadis kecil
"Lucy?" tanya Lucy dewasa lagi
Gadis kecil itu membuka pintu. Tepat saat gadis kecil itu membuka pintu, sebuah sinar menyilaukan mata Lucy, ia menghalau sinar itu, ketika ia membuka matanya, dilihatnya seorang gadis kecil bersurai blonde, dengan iris caramel memeluk Jude. Lucy terbelalak, ia membungkam mulutnya dan terduduk dilantai. Tetesan demi tetesan air mata tanpa komando membasahi wajahnya.
"Aku?" tanya Lucy lagi
"Ayah, aku merindukanmu" kata Lucy kecil
"Ayah?" tanya Lucy lagi nanar
"Paman ayahku?" tanya Lucy tak percaya
Kini, Lucy Dewasa berada dikiamar Natsu. Dilihatnya dirinya yang memegang sepucuk surat. Surat yang kini ia tahu ternyata dari dirinya sendiri, meski ia tidak ingat kapan menulisnya. Tak lama kemudian, ia melihat Natsu masuk. Dirinya disana beradu mulut dengan Natsu hingga sebuah kalimat laknat terucap, menampar diri Lucy keras. Dari jauh mata Lucy menyipit, ia memegangi dadanya melihat dirinya disana tengah ditiban Natsu. Pemuda itu berteriak, mengancam bahkan menariknya ke kamar mandi, mengikat mulutnya dan tangannya.
"Kau bilang kau hanya mencintainya, Lui" gumam Lucy dengan nanar
"Kau mencintai diriku yang dulu, tapi kau membenci diriku yang sekarang. Bohong kalau kau mengatakan akan mencintaiku esok dan nanti. Kau hanya mencintai sosok Lui, bukan Lucy" lanjutnya disertai suara serak
End of Lucy's Dream
Dilain ruang, Natsu siuman, ia melihat langit-langit putih, diedarkannya pandangannya, disampingnya sudah ada sang ayah dan Mavis. Tak mengerti apa yang terjadi, Natsu segera bangkit, selang infuspun ia cabut dengan paksa. Ia turun dari ranjang, namun sedikit terhuyung. Igneel mencegah putranya untuk bergerak, karena keadaan Natsu belum seimbang, guncangan terhadap mentalnya mempengaruhinya.
"Istirahatlah, jangan paksakan dirimu" kata Mavis
"Lucy, bagaimana dengannya?" tanya Natsu
"Kau baru saja siuman, tenangkan dirimu dulu" jawab Mavis
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Natsu
"Kau pingsan selama tiga hari, Weisslogia bilang kau kelelahan, jadi kau harus istirahat" bujuk Mavis
"Ini bukan waktunya untuk istirahat disaat dia tengah berjuang" kata Natsu
"Dia sudah siuman" kata Igneel menyentak Natsu
"Be-benarkah?" tanya Natsu tak percaya, namun selang beberapa detik ia malah kembali duduk diatas ranjang, menundukkan kepalanya
"Kenapa? Kau tidak ingin menemuinya?" tanya Igneel namun tak ada jawaban
"Natsu, dengarkan ayah. Jangan seperti ini terus, ayah tahu kau menahan diri untuk tidak masuk ke kamarnya selama ia tak sadarkan diri. Namun dengan begitu kau menyiksa dirimu sendiri. Hadapilah, dan percayalah kalau takdir akan memihak kalian" kata sang ayah menasihati
Setelah mengumpulkan puing-puing keberanian, Natsu memutuskan untuk mencoba menuruti perkataan sang ayah, selama ia menjadi anak baru kali ini rasanya ia mendengarkan ayahnya. Ia juga mendapat penjelasan sebelum pergi menemui Lucy kalau gadis itu sudah siuman sejak dua hari lalu.
Hingga tak terasa langkahnya sudah berhenti tepat di pintu kamar Lucy. Lagi, ia ragu, tak tahu harus bicara apa dan darimana. Setelah perbuatannya malam itu pada Lucy, ia yakin Lucy akan memakinya, mencacinya bahkan yang paling ia takutkan adalah Lucy membencinya. Ia hendak memutar knop pintu ketika knop tersebut terputar, seseorang keluar dari sana, Ultear tersentak meliha Natsu, namun pandangannya melembut. Bagaimanapun ia merasa bersalah karena sudah menyebabkan pemuda itu terguncang bahkan down. Ditepuknya pundak Natsu, mengisyaratkannya untuk masuk. Ultear juga mengusir para bodyguard yang berjaga, membiarkan kedua sejoli itu bicara.
Natsu masuk. Dengan langkah sangat berat, ia mencoba mendekat, semakin mendekat, dilihatnya sedikit punggung Lucy, gadis itu tengah membelakanginya. Menatap butiran salju dalam diam. Tepat saat Natsu sudah berada dibelakangnya, gadis itu perlahan menoleh. Natsu memejamkan matanya.
"Aku sudah membunuhnya sekali, bahkan mencoba membunuhnya lagi dan lagi" kata Natsu dalam hati
"Bolehkah orang sepertiku berada disini? Menghampirimu? Bahkan sekedar menanyakan bagaimana keadaanmu? Akankah kau memakiku? Kau pasti akan melakukannya, kau pasti akan mengatakan kalau aku datang hanya untuk mendoakan kematianmu" racau Natsu dalam hati
Lucy beringsut mendekati Natsu, ia meraih tangan pemuda itu lembut kemudian berujar seraya tersenyum.
"Okaeri, Natsu" sapanya
Terhenyaklah batin Natsu, pemuda itu segera membuka matanya. Bagai deja vu, ia pernah mengalaminya. Setelah kecelakaan itu, Lucy juga tersenyum, namun kali ini berbeda, senyum Lucy bukan senyum tulus seperti waktu itu. Senyum itu hanyalah sebuah . . .
Topeng
Natsu menggigit bibir bawahnya. Ia tidak segera merespon. Ia tahu kalau Lucy pura-pura tersenyum entah atas dasar dan alasan apa. Karena Lucy telah mengetahui segalanya.
"Kenapa kau diam? Apa kau baik-baik saja?" tanya Lucy lembut
"Bukan, bukan seperti ini seharusnya!" umpat Natsu dalam hati tanpa di dengar siapapun
Namun yang terucap –
"Hn"
Suasana berubah menjadi canggung, atmosfer-pun memberat. Tak ada lagi yang bicara. Keduanya sibuk dengan fikiran masing-masing. Hingga . . .
"Kenapa? kenapa kau seperti ini?" tanya Natsu kemudian
"Apa maksudmu?" tanya Lucy pura-pura bodoh
Natsu meraih tangan Lucy yang menggenggam tangannya, dilepaskannya genggaman hangat itu pelan.
"Kau-" kata Natsu yang langsung dipotong
"HENTIKAN!" potong Lucy menyentak Natsu
"Mengetahui-" lanjut Natsu
"AKU BILANG HENTIKAN!" teriak Lucy
"Jangan katakan, aku tak mau mendengar apapun" lanjut Lucy
Natsu hendak membuka suaranya namun lagi-lagi kalimatnya terhenti diujung bibir tak kala Lucy kembali menyelanya.
"Semua ini tak pernah terjadi" tegas Lucy
"Luce" panggil Natsu nanar
"Kau tidak membohongiku, ne?" tanya Lucy nanar
"Luce" panggil Natsu lagi
"Tidak, kumohon" sangkal Lucy
"Luce" panggil Natsu untuk yang kesekian kalinya dengan pandangan terluka
"Tidak bisakah kau menganggap ini tidak pernah terjadi? Tidak bisakah kau melanjutkan sandiwara ini?" pinta Lucy dengan mata berkaca-kaca
Natsu terdiam, ia membisu. Cukup lama keduanya kembali diam, yang terdengar hanya suara jarum jam seolah menjadi pengiring, bahkan tembokpun membisu. Lucy terisak, gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan isakan yang mulai menjadi-jadi. Sangat pilu, gadisnya menangis karena dirinya. Tangan Natsu terulur, ingin sekali ia merengkuhnya, memeluknya serta menciumnya, mengatakan kalau ia mencintainya, namun tangannya berhenti begitu saja. Ia tak sanggup, tangannya kotor. Baginya haram jika ia menyentuh Lucy dalam situasi ini.
Hingga . . .
"Tidak bisakah . . . kau mencintaiku?" tanya Lucy
"Aku tahu ini egois, tapi . . ." lanjutnya
"Tidak bisakah kau mencintaiku, sehari saja?" tanya Lucy kemudian
Natsu menggigit bibir bawahnya. Gadis itu mulai menengadah, menantang Onyxnya untuk beradu dengan caramelnya. Ketika kedua mata itu bertemu, hati Natsu meraung, Namun bibir itu malah berucap –
"Jika itu maumu"
...
Setelah dipastikan sembuh, Lucy akhirnya diizinkan keluar. Selama itu, Natsu selalu memantaunya dari jauh. Pemuda itu hanya menemui sesekali, tak ada yang bicara hanya bertemu dan saling menundukkan kepala.
Di kamar Lucy, semua orang sudah hadir. Mulai dari Zeref, Mavis, Igneel, Ultear, Jude dan Layla. Layla mengemas barang-barang Lucy, kemudian ia menyisir rambut Lucy lembut dan mengepangnya ke samping. Gadis itu tersenyum.
"Terimakasih, bi- maksudku" kata Lucy sulit
"Tak perlu dipaksakan" kata Layla mengusap rambut sang putri
"Zeref-sama, hari ini Lucy akan pulang ke rumah. Mohon izinnya" kata Jude
"Baiklah" jawab Zeref pasrah
"Tapi . . . a-ayah, aku ada janji" sanggah Lucy
"Janji?" semua mengernyit
Tepat saat itu, seseorang datang, ia melangkah dengan penuh percaya diri, Lucy tersenyum melihatnya. Hari ini adalah harinya, hari dimana ia akan dicintai oleh orang yang ia cintai.
Natsu datang membawa serangkai bunga yang lagi-lagi sama seperti sebelumnya. Namun kali ini ia memberikannya langsung pada Lucy. Senyum tipis mengembang di wajah tampannya, membuat semua orang terpana dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Namun, ada sepasang mata yang bisa melihat arti dibalik semua itu. Zeref Dragneel tahu kalau senyum keduanya itu hanya sandiwara. Sandiwara yang mereka ciptakan untuk diri mereka sendiri.
"Izinkan aku membawanya" kata Natsu menghadap pada Jude
"Tap-" sanggah Jude
"Pergilah" jawab Layla
Dengan perhatian Natsu mengulurkan tangannya pada Lucy, mengkodekan pada gadis itu untuk mengulurkan tangannya. Keduanya saling melempar senyum tipis, Natsu menggandeng Lucy mesra keluar kamar.
Hari ini, Lucy mengenakan dress brukat tosca selutut dengan mantel berwarna putih serta sepatu flat senada dengan dressnya. Sementara Natsu mengenakan kemeja putih dilapisi sweater hijau tua kotak-kotak serta mantel hitam berhoodie. Di dalam lift, Natsu menggenggam erat tangan Lucy yang dibalas hal serupa. Berbagi kehangatan untuk satu hari ini, sesuai janji mereka. Karena setelah ini, keduanya tak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka. Natsu harus menerima hukumannya sesuai perkataan Zeref. Ia tidak mau memikirkannya, karena hari ini ia hanya akan berfokus pada Lucy.
"Kita mau kemana?" tanya Lucy
"Ketempat dimana pasangan biasanya pergi" jawab Natsu membuat Lucy tersenyum
Sesuai perkataan Natsu, mereka pergi ke bioskop, menonton film romantis, kemudian game centre. Semua permainan mereka coba, bahkan Natsu mendapatkan sebuah boneka naga merah untuk Lucy. Keduanya saling menautkan jari, tak ada barang sedetikpun tautan itu putus. Natsu bahkan menarik Lucy ke kaki lima untuk mencicipi okonomiyaki. Mengelap bibir Lucy yang belepotan dan menyampirkan anak rambutnya ke telinga.
Setelah seharian jalan-jalan, keduanya berjalan santai di trotoar. Untungnya hari ini salju tidak turun, namun udara dingin tetap masih menusuk. Lucy menyandarkan kepalanya di lengan Natsu, ia terus tersenyum mengingat apa yang sudah mereka lakukan seharian ini.
"Hah, senangnya" kata Lucy
"Kau senang?" tanya Natsu
"Sangat sangat senang" jawab Lucy
"Ah, tunggu kita berhenti didepan. Ada sesuatu yang bagus disana" kata Natsu
Mereka berhenti di depan seniman jalan yang menjual pernak-pernik accesories manis. Mata Lucy berbinar melihatnya. Natsu mengambil sebuah kalung dengan liontin kunci yang ujungnya seperti kristal salju, kecil namun manis.
"Wuah, pasangan muda, kalian serasi sekali" kata sang penjual
"Kami suami istri" bisik Natsu
"Benarkah? Wuah, istri anda cantik sekali" puji sang penjual membuat Lucy tersipu
"Aku ambil ini" kata Natsu
"25,000 jewel tuan" kata sang penjual, Natsu-pun membayarnya. Ia menghadap Lucy dan mengalungkan kalung tersebut, ia tersenyum puas, cocok sekali dengan Lucy
Sepeninggalan mereka, sang penjual-pun tersenyum nanar, ia mengakui kalau kalaung pilihan Natsu memang bagus, namun arti dibalik kalung itu tak sebagus kelihatannya.
"Kunci kristal surgawi. Kunci yang berarti takdir untuk cinta yang tragis" lanjut sang penjual
Tak terasa, hari sudah malam, namun kedua pasangan King and Queen of Vampire itu masih melangkahkan kaki mereka di trotoar jalan. Lampu-lampu malam tampak sangat indah, berkedip-kedip seolah menjadi background keduanya. Suara kendaraan, klakson, papan iklan, serta orang bercaka-cakappun menjadi backsound pengiring. Hingga tak terasa hari semakin malam, jam sudah menunjukkan pukul 10:00 PM waktu setempat.
"Kau tidak lelah?" tanya Natsu
"Tidak, karena jika aku memejamkan mata maka semua ini akan segera berakhir" jawab Lucy
"Kau baru keluar dari rumah sakit, aku tak ingin kau terserang hipotermia karena terlalu lama diluar" kata Natsu menasihati lembut
"Kau bahkan sangat perhatian padaku" sindir Lucy tak sengaja
"Luce" panggil Natsu
"Baiklah, kita pulang" kata Lucy kemudian
"Tapi, bolehkah aku minta satu hal lagi padamu?" pinta Lucy
"Apa?" tanya Natsu
"Izinkan malam ini aku tetap berada disisimu" lanjut Lucy
Mata Natsu membulat, ditatapnya mata caramel Lucy yang menatapnya dengan pandangan memohon. Diam-diam ia menggigit bibir bawahnya, menelan mentah-mentah segala kewarasannya.
"Tuhan, Izinkan aku untuk egois. Izinkan aku memilikinya, hanya untuk malam ini saja" rapal Natsu dalam hati
...
Di sebuah kamar remang-remang, keduanya menempelkan bibir mereka, hanya menempel. Keduanya memejamkan mata, meresapi segala perasaan campur aduk yang melanda mereka, Lucy meneteskan air mata. Natsu yang menyadari kalau Lucy menangis, malah memagut bibir gadis itu, mengecapnya dalam, membungkam suara tangisannya. Dan, iapun ikut menangis.
Malam itu, dibawah langit malam, di bawah salju yang kembali turun, keduanya menyalurkan kehangatan, saling menyalurkan cinta dan segala rasa sakit. Dan untuk pertama kalinya, untuk segala keegoisannya, Natsu memiliki Lucy seutuhnya. Meski gadis itu menangis, nyatanya gadis itu tidak memberontak, ia malah mendekap punggung Natsu erat. Seolah tak rela jika kehangatan yang diterimanya akan berakhir.
Matahari muncul di ufuk timur, menyinari segala yang ada di muka bumi. Cahayanya masuk kesetiap celah rumah, menghangatkan siapapun yang berada di bawah cahayanya.
Di dalam kamarnya, Natsu menggeliat, sinar matahari nan menyilaukan membuanya mengernyit. Ia bangun seraya memegangi kepalanya yang berdenyut. Diingatnya lagi kejadian selamam, sadar apa yang telah ia lakukan ia-pun segera menyingkap selimut. Matanya terbelalak. Kemudian ia menoleh kesana kemari, mencari sosok gadis yang kini telah menjadi wanita di sisinya, namun tak ada seorangpun.
"Luce" panggil Natsu
Ia hendak berdiri, namun deringan ponsel menghentikannya. Ketika ia menempelkan benda hitam itu ke telinga. Matanya membulat, tangannya lemas dan ponsel di genggamannya-pun terjatuh.
Meja utama Dewan. Kesepuluh anggota Dewan, Igneel Dragneel, Weisslogia Eucliffe, Skyadrum Cheney, Mirajane Strauss, Elfman Strauss, Jellal Fernandes, Jura, Makarov Dreyar, Jude Heartfilia dan terakhir Ultear Milkovich sudah duduk di bangku masing-masing. Diujung mereka ada Zeref Dragneel yang sudah menghadap dokumen berisi hukuman untuk Natsu. Natsu datang dengan mendobrak pintu, ia berada diujung meja berseberangan dengan Zeref. Nafasnya masih terengah-engah, matanya sudah memerah akibat adrenalin yang sudah dipicu dipagi hari.
"Apa maksudnya ini?" tanya Natsu marah
Zeref mengedikkan pandangannya, memerintahkan Invel untuk memberikan berkas pada Natsu. Pemuda itu mensabet dokumen pemberian Invel, Onyx hitamnya bergerak cepat menelusuri setiap kalimat yang tertuang disana. Ia meremas dokumen itu, matanya menatap tajam Jude Heartfilia yang duduk tenang di bangkunya.
"Kau yang melakukan ini? Jude Heartfilia?" tanya Natsu
"Kurasa sudah cukup bermain-mainnya, Natsu Dragneel-sama. Lucy sudah berada pada batasnya. Aku tidak sanggup jika harus melihatnya tersiksa lebih dari ini" jawab Jude
"Natsu-sama, anda telah mengancam, memperalat serta mencoba melakukan pembunuhan pada Lucy Mi, maksudku Lucy Heartfilia" papar Skyadrum
"Harusnya anda ditahan dan direhabilitasi sesuai peraturan yang ada, namun Zeref-sama masih berbaik hati dengan mengganti hukumannya. Karena meski anda ditahan, ada kemungkinan anda akan tetap melakukan percobaan lagi dan lagi hingga keselamatan Lucy-sama terancam. Maka Dengan sangat bijak, Zeref-sama serta para dewan memutuskan" lanjut Skyadrum
"Kalian berdua harus bercerai" tegas Skyadrum
Natsu menahan nafasnya, remasannya pada dokumen ditangannya semakin kuat. Ditatapnya Zeref dan Jude dengan pandangan benci. Jelas mereka berdua yang merencanakan semua ini, diliriknya Ultear mencoba meminta pembelaan namun sang Milkovich itu hanya menggeleng lemah.
"Haruskah kalian setega ini padaku?" tanya Natsu kemudian
"Kesalahanmu terlalu banyak, Natsu. Kau bahkan mengikat dan menyandera Lucy di kamar mandi selama dua hari. Ah jangan lupa, kau juga menyiksanya selama ia sekolah di Fairy Tail, menghakiminya layaknya ia kriminal, mempermalukannya, menindasnya dan memperlakukannya layaknya binatang" papar Zeref berkilat-kilat
"Kau juga membantai, membunuh manusia yang tidak berdaya dengan dalih mencari permaisuri. Bisakah kau mengitung berapa kesalahanmu? Tidakkah kau berfikir kami sudah terlalu baik padamu dengan membiarkanmu selama ini?" lanjut Zeref dengan nada mengerikan
BRUKH
Natsu berlutut, menumpukan tubuhnya dengan lutut dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tahu aku pantas dihukum, tapi . . ." kata Natsu tersendat
"Haruskah begini?" tanya Natsu nanar
"Hukum aku, penjarakan aku, siksa aku" kata Natsu berusaha untuk tergar namun air matanya malah membuatnya terlihat semakin mengenaskan
Mata Zeref menyipit, mengintimidasi Natsu.
"Apapun itu . . ." isak Natsu
"Kumohon jangan dia, karena . . ." lanjut Natsu namun –
BRAKH
"KARENA KAU MEMBENCINYA! IYA!" bentak Zeref
"Gara-gara dendammu, semua orang terluka. Gara-gara keegoisanmu, banyak nyawa yang harus dikorbankan, banyak perasaan yang tersakiti. Tidakkah ini cukup? Biarkan, biarkan Lucy bahagia" kata Zeref melembut
Natsu meneteskan air mata, tak sanggup mengelak dan membela diri, karena semua yang dikatakan Zeref adalah benar.
"Kalian akan bercerai secara hukum, karena bagaimanapun pernikahan antara raja dan permaisuri tetap tidak bisa diputuskan begitu saja kecuali maut. Meski begitu, kau dilarang menemuinya meskipun kau ingin. Baik dimasa kini ataupun dimasa depan" tukas Zeref final
Sementara itu, kini Lucy bersiap untuk segera meninggalkan Fiore. Barang-barangnya sudah dikemas. Layla sang ibu, memintanya untuk cepat karena pesawat mereka akan segera lepas landas. Gadis itu memeluk boneka naga pemberian Natsu erat, kalungnya bersinar, seolah memberitahu kalau sosok jauh disana tengah menangis. Sesekali Lucy menoleh ke belakang, berharap Natsu akan mengejarnya, namun itu mustahil. Nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa diputar, semuanya sudah terjadi. Buah dari segala cinta yang disalah artikan, berakhir pada penderitaan.
Cinta Acnologia pada Grandine, membuatnya membenci sosok Natsu. Cinta Natsu pada sang ibunda, membuatnya membenci orang lain yang sebenarnya tidak patut disalahkan. Sekali lagi, semua hanyalah kesalahpahaman. Cinta yang berlebihan akan menghancurkan diri sendiri. Seperti keduanya, Acnologia dan Natsu. Korban dari cinta yang tragis.
Dan begitulah bagaimana sang raja dan permaisurinya berpisah, untuk yang kedua kalinya. Dengan sekali lagi meninggalkan dua hati yang saling tersakiti. Takdir surgawi begitu kejam, begitu tragis, mempertemukan mereka kembali namun dengan cepat memisahkan mereka. Mempermainkan keduanya diatas benang yang bernama takdir. Menguji keduanya didalam jurang bernamakan dendam, dan berujung penyesalan. Saling menyakiti lagi dan lagi hingga kini luka mereka yang sempat menutup malah menganga lebar. Dan, sang langit yang ikut berserihpun kembali meneteskan bulir putihnya.
.
.
.
"Luce, kelak jika kita bertemu, aku yang akan lebih dulu mengenalimu entah bagaimanapun rupamu. Aku yang akan lebih dulu jatuh cinta padamu dan mengatakan aku mencintaimu. Meski kau menolakku ratusan kali, aku akan berusaha ribuan kali, kalau kau menolak jutaan kali aku akan berusaha milyaran kali hingga kau tak punya alasan untuk menolakku. Aku akan menunjukkan seberapa dalam aku mencintaimu dan aku akan kembali meminangmu. Sekali lagi, dengan cinta, doa dan harapan"
To Be Continue
Mina-san, maaf baru sempat update. Nao sakit dan nggak masuk kerja selama dua minggu pada awal bulan maret kemarin bahkan dirawat inap beberapa hari lantaran maagh.
Setelah kembali kerja, juga banyak sekali project yang bikin pusing dan capek jadi nulisnya nyicil dikit-dikit. Sebenarnya chapter 21 sudah selesai sejak lama, tapi dipending untuk upload.
Maaf jika ceritanya tidak memuaskan atau kekurangan lain seperti feel kurang, ketidaknyambungan atau typos bertebaran. Sungguh tidak sengaja. Karena terlalu banyak word, Nao jadi sering kelewatan kalau revisi.
Terimakasih sudah bersedia menungu Good Morning, Vampire. Selamat membaca final chapter. Dan mohon sediakan tissu bagi yang gampang *maaf* baperan.
Best Regards
Nao Vermillion
