Previous
"Aku tahu ini sulit untukmu. Jadi pergilah sebelum pernikahan Sehun. Aku tidak ingin kau terluka Lu."
Dan saat tangan besar Kai mengusak tengkuknya maka pertahanan Luhan untuk merasa tenang menjadi sia-sia. Karena usapan Kai seolah mengingatkan Luhan untuk menjadi kuat setelah perjuangan empat tahunnya terbayar dengan kehilangan satu-satunya pria yang begitu ia cintai hingga detik ini.
"Dan jika kau memutuskan untuk tinggal. Berjanjilah untuk tidak terluka-…Demi Sehun hmm.." ujarnya merasa menyesal memberitahu kenyataan ini pada Luhan.
Kai sangat menyayangi Luhan tapi dia lebih menyayangi Sehun. Bukan karena dia membedakan teman kecilnya. Hanya saja setiap kali mengingat bagaimana hancurnya Sehun setelah ditinggal Luhan membuat Kai dan Chanyeol bersumpah untuk tidak membuat Sehun jatuh cinta kepada orang yang salah-..tidak lagi.
.
.
.
.
.
.
Triplet794 Present new story :
My Forever Crush
Main Pair : Sehun-Luhan
Support pair : Kim Jongin-Do Kyungsoo, Park Chanyeol-Byun Baekhyun
Genre : Romance, Friendship
Rate : T & M
.
.
.
.
"Jadi kau masih tinggal disini?"
"Hmmm..."
"Dengan mereka?"
"Hmmhh.."
Berada dalam mobil Kai pada kondisi seperti ini adalah hal yang begitu sulit untuk Luhan. Tubuhnya lemas pikirannya kosong. Dan satu-satunya yang bisa terdengar adalah ucapan Kai mengenai pernikahan Sehun.
Jujur saja dari semua luka yang ia rasakan, Kabar mengenai pernikahan Sehun adalah hal yang paling membunuhnya. Dia bahkan tidak menerima kenyataan menyakitkan ini. Kenyataan dimana Sehun begitu mudah melupakannya sementara dia begitu tersiksa dengan perasaan cinta yang ia miliki.
Empat tahun memang telah berlalu. Tapi Luhan berani bersumpah bahwa perasaannya pada Sehun tidak pernah berkurang sedikitpun. Sebaliknya dia bahkan harus menangis dalam diam saat perasaan cinta untuk Sehunnya semakin dalam seiring jarak yang memisahkan mereka.
Jantungnya memukul pilu, nafasnya menderu hebat dengan pikiran kosong yang hanya berisi suara-suara seperti Sehun akan menikah, dia mencintai seseorang dan Sehun telah melupakanmu Lu. Membuat tangannya mengepal erat sementara kepalanya terasa pening tak tahan mendengar seluruh ucapan Kai beberapa saat lalu.
"Kalau begitu aku rasa cukup sampai disini pertemuan kita Lu."
"Hmmmhh..."
Sedari tadi Luhan hanya bergumam hmmh di sepanjang perjalanan mereka. Dia bahkan tak mengucapkan satu kalimat pun selain hmm untuk menjawab pertanyaan Kai. Membuat si pria tampan berkulit tan itu mengetahui bahwa apapun yang sedang Luhan pikirkan pastilah sesuatu yang sangat mengganggunya. Dan untuk itu ia berani bertaruh bahwa segala kekosongan yang sedang dirasakan pria mungilnya hanya ditujukan untuk satu orang-...Sehun.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Huh?"
Barulah saat Kai mengusak tengkuknya, Luhan menunjukkan tanda kehidupan. Bergeliat resah di tempatnya dan begitu kosong tak tahu apa yang dikatakan Kai saat ini.
"Kau bicara apa Kai? Aku kenapa?"
Kai merasakan sayatan kecil di setiap raut bingung yang Luhan tunjukkan. Karena percaya atau tidak Luhan sudah mengalami banyak perubahan selama mereka berpisah. Salah satunya adalah ketenangan luar biasa yang tak pernah dimiliki Luhannya. Lalu management emosi yang nyaris tak ia perlihatkan saat semua hal berharga untuknya telah direbut.
Harusnya Kai senang karena Luhan telah banyak mengalami perubahan. Tapi untuk alasan tertentu dia merasa ini adalah kesalahan. Dia mengenal Luhan melebihi Luhan mengenal dirinya sendiri, dan satu-satunya cara agar Luhan merasa lebih baik adalah menjerit kencang atau berteriak menyalahkan siapapun. Bukan diam dan hanya pasrah seolah mengijinkan siapapun untuk mengambil nyawanya. "Kau terlihat menyedihkan Lu." Katanya begitu iba mengusap wajah cantik Luhan. Membuat si pemilik wajah mengelak halus dan mulai memalingkan wajahnya
"Benarkah?"
Luhan tersenyum pahit mendengarnya. Karena sebanyak apapun dia bersikap seolah semua baik dan tak mengusiknya maka sebanyak itu pula dia terlihat semakin menyedihkan di depan pria yang selalu menjadi tempatnya bersandar jika Sehun dan Chanyeol terus menghukumnya.
"Aku juga tidak ingin terlihat menyedihkan." Luhan menghapus cepat air matanya. Kembali mengambil nafas sebanyak mungkin sebelum menatap Kai begitu kelelahan. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja / -Aku tidak baik Kai-."
Jeritan berbeda itu di teriakan Luhan di hatinya. Ingin sekali dia meminta Kai untuk menemaninya sepanjang malam yang begitu melelahkan ini. Menceritakan semua kesedihannya pada Kai. Mengatakan bahwa dia rindu merasakan hidup tenang tanpa harus memikirkan banyak hal. Rindu bersikap rapuh dan tak menganggap semua baik-baik saja.
Yeah.... Andai saja Luhan bisa mengatakan semua itu. Andai dia bisa menjadi Luhan yang egois dan sesuka hati mengatakan apa yang dia inginkan. ck omong kosong! Rasanya tak pantas meminta mereka memelukmu lagi saat kau meninggalkan mereka dengan keyakinan bahwa hidupmu akan jauh lebih baik. Dan rasanya tak pantas saat kau melangkah pergi dengan sombong lalu berakhir merangkak kesakitan karena tak mendapatkan apapun.
"Apa kau yakin?"
Luhan terkesiap saat suara Kai kembali bertanya padanya. Melepas seatbelt yang ia gunakan adalah hal terakhir yang Luhan lakukan untuk mengakhiri kecanggungan sialan yang begitu menyiksanya "Tentu saja Kai. Terimakasih sudah mengantarku."
Luhan berniat membuka pintu dan keluar dari mobil Kai sebelum Kai menahan lengannya. Membuat Luhan kembali menoleh dan bertanya -tanya kali ini "Ada apa?"
"Aku tahu kau akan marah padaku karena mengatakan ini. Tapi kau tumbuh sangat cantik Lu. Jika tidak ingat kau teman kecilku. Mungkin aku sudah menyukaimu dan akan melamarmu saat ini."
Dan dari semua ketegangan sialan ini. Kalimat cantik yang dilontarkan Kai begitu membuatnya bahagia. Karena untuk kali pertamanya Luhan bersyukur tumbuh menjadi cantik hingga mereka memiliki alasan untuk tertawa walau hanya beberapa detik.
"Banyak yang ingin melamarku. Jadi pastikan kau melakukannya dengan cepat." Katanya tertawa renyah sebelum benar-benar keluar dari mobil Kai kali ini.
"Terimakasih untuk malam ini Kai."
Kai membuka jendela kaca mobilnya mengerling Luhan dan melambai kecil pada pria mungilnya. "Sampai bertemu lagi Lu. Itu pun jika kau tidak melarikan diri lagi."
Luhan dibuat diam dengan sindirian Kai. Memperhatikan bagaimana mobil Kai pergi hingga butiran salju mulai memenuhi seluruh jaket dan tangannya "Perasaanku saja atau ucapanmu lebih dingin dari salju ini Kai?" Katanya tertawa pahit menggenggam butirang salju yang jatuh ditangannya. Kembali menghapus air matanya dan mulai berjalan menuju basecamp tempat tinggalnya.
Walau basecampnya kosong setidaknya itu adalah satu-satunya tempat untuk Luhan menetap malam ini. Tahun lalu VKook berbaik hati merenovasi basecamp yang dihancurkan Irene. Setidaknya karena hal itupula dirinya memiliki tempat untuk menetap malam ini.
Basecampnya mungkin tak layak menjadi tempat tinggal setelah empat tahun ditinggalkan. Tapi apa Luhan memiliki tempat lain untuk tinggal? Ya-... Mungkin dia memiliki tempat yang lebih layak untuk ditinggali.
Seluruh keluarganya berada di Seoul saat ini. Dia memiliki Rumah kedua orang tuanya, rumah yang menjadi tempat tinggal bersama ketiga prianya, rumah Kakek Kim bahkan rumah dari masing-masing orang tua Sehun, Kai dan Chanyeol. Tapi apakah pantas dia datang setelah pergi menghilang? Jawabannya tidak. Sama sekali tidak pantas, membuat Luhan memilih tempat tak layak untuknya daripada harus menetap di tempat yang kini menjadi asing untuknya.
Drrrrt...drrrtt
Dan saat suara ponsel memecah keheningannya. Maka saat itu pula Luhan tersenyum mendapati nama Myungsoo muncul di layar ponselnya. Setidaknya Myungsoo adalah satu-satunya pria yang mengerti dirinya selama empat tahun ini. Mantan rivalnya itu bahkan tahu kapan harus menghubungi Luhan, karena setiap dia membutuhkan seseorang untuk bicara maka Myungsoo selalu datang disaat yang tepat.
Sret...
Luhan menggeser slide ponselnya dan menjawab panggilan Myungsoo
"Luhan..."
"Mmmmh ada apa?"
"Kau dimana?"
Luhan terus melangkah menuju Basecamp. Tak ingin membuat pria yang kini menjadi leader timnya khawatir dengan mengatakan kebohongan konyol pada Myungsoo.
"Aku? Tentu saja aku sedang berbaring di kamar yang hangat. Aku mungkin sudah tidur sampai kau menghubungiku. Ada apa?"
"Tidak apa. Hanya ingin menghubungimu."
"ck. Aku bukan anak kecil jika kau mengkhawatirkan aku."
"Aku tahu."
"Kau dimana?"
"Aku? Aku tepat di depanmu Lu."
"Huh?"
Bersamaan dengan jawaban Myungsoo. Kaki Luhan berhenti melangkah. Dia merasakan seseorang memang berdiri di depannya, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika pria yang berdiri di depannya adalah pria yang sama yang sedang berbicara di ponsel dengannya.
"L?"
"Hey Lu."
Pip
Myungsoo mematikan ponselnya. Mengagumi wajah Luhan yang sedang berbohong tetap sempurna walau raut canggung dan lelah jelas terlihat di wajahnya "Kenapa hanya diam?"
"apa yang-…Apa yang kau lakukan disini?"
"Sama sepertimu-…Kami juga pulang."
"Kami?"
"Mmmhh.... Kami."
"LUHAAAN!"
Kakinya secara refleks mundur saat seorang gadis melompat ke pelukannya. Tak hanya melompat gadis itu bahkan menangis tersedu memeluk dirinya sangat erat. Seolah ingin mengatakan kami sudah disini dan kau tak sendiri lagi. Membuat antara perasaan senang dan sedih seketika Luhan rasakan menyadari bahwa keluarga menjadi orang asing dan orang asing menjadi keluarga untuknya.
"Aku turut berduka Lu. Aku tahu kau sangat dekat dengan nenek. Aku-...hkss"
"Aku baik Jiyeonna."
"Bohong. Kau terlihat berantakan dan menyedihkan."
Luhan tersenyum kecil. Membalas pelukan satu-satunya wanita di timnya sebelum menatap langsung calon istri dari orang nomor dua di NFS "Aku sudah lebih baik. Sungguh." Katanya mengusak lembut kepala Jiyeon. Masih tak menyangka bahwa gadis yang dulu sangat dibencinya diam-diam telah memiliki tempat dihati Luhan. Dan terimakasih pada Taecyeon karena kebencian Luhan pada Jiyeon hilang seiring berjalannya waktu yang telah mereka lalui bersama.
"Kau tidak bohong Lu?"
"Tentu saja tidak. Aku senang melihat kalian datang, tapi kenapa kalian datang? Bukankah minggu depan kita mengikuti turnament?"
"Tidak ada turmament Lu. Kami membatalkannya."
Kali ini suara Baekhyun yang terdengar. Membuat Luhan nyaris memekik senang mengetahui seluruh timnya benar telah datang untuk menemaninya "Baek..."
"Kerugiannya sepuluh juta won. Tapi siapa peduli jika itu keinginan keponakan kita?" Timpal Kyungsoo yang kini berjalan mendekati Baekhyun.
"Keponakan? Kau membicarakan siapa soo?"
"Kyungsoo membicarakan tentang calon bayiku dan Jiyeon."
"Calon apa?"
Luhan menatap bingung pada Taecyeon. Kekasih Jiyeon itu bahkan hanya tersenyum bersandar di pintu masuk dengan tangan terlipat dan tak henti mengerling calon istrinya,
"Mmhhh... Calon bayiku dan Taecyeon Lu."
"Bayi?"
"Aku hamil."
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik..
Luhan benar-benar dibuat tercengang saat ini. Rasanya baru kemarin Taecyeon dan Jiyeon mengumumkan pernikahan mereka, dan seolah tak sampai situ kedua pasangan gila di timnya bahkan dengan bangga mengumumkan kabar kehamilan Jiyeon dengan bangga dan tak merasa bersalah. Membuat Luhan secara refleks menatap Taecyeon kesal dan berniat memukulnya saat ini.
"Ok Taecyeon kau benar-benar-...!"
Luhan berlari kesal mendekati Taecyeon. Mencoba memukul si pria nomor dua sebelum Jiyeon berlari menduluinya dan merentangkan tangan melindungi calon suaminya.
"YAK! Kenapa kau ingin memukul kekasihku? Apa kau mau membuat calon suamiku terluka? Calon ayah dari keponakanmu huh?!"
Mata rusa Luhan berkedip lucu saat drama terjadi di depannya. Rasa sedih dan lelahnya seolah hilang digantikan dengan rasa bahagia namun jengah melihat percintaan Taecyeon dan Jiyeon yang semakin berlebihan setiap harinya.
"Hey L..." katanya menoleh memanggil Myungsoo yang tengah menatap malas drama di depannya "Ada apa?"
"Jika nyonya ini sudah tidur, ingatkan aku untuk memukul kepala suaminya."
"Oke."
"Ish! Awas kalau kau menyakiti cintaku. Aku akan membalasmu Tuan Xi. Aku pergi tidur dulu, kamarmu sudah siap dan sampai besok!" Katanya melenggang pergi sebelum
"Oia Lu!"
"Apa lagi?"
"Besok temani aku ke rumah sakit. Aku akan memeriksa calon bayiku denganmu."
"Dia yang membuat kenapa aku yang mengantarmu ke rumah sakit?" Katanya mencibir Taecyeon. Membuat Taecyeon terkekeh dan mengangguk setuju dengan ucapan Luhan.
"Percayalah Lu. Aku juga tidak mengerti kenapa dia bersikeras pergi bersamamu." Katanya mencium dalam bibir Jiyeon membuat Luhan kembali harus mendengus melihat tingkah kedua temannya saat ini.
"Itu karena aku masih sangat menyukai Luhan. Jadi aku berharap bayiku kelak mirip Luhan."
"Dia bayiku jadi dia akan mirip dengan ayahnya." Gumam Taecyeon mencibir membuat Jiyeon tertawa melihatnya.
"Jangan cemburu sayangku. Aku hanya ingin bersama Luhan besok pagi. Jadi Lu-... Jangan menolak dan hanya temani aku. Oke?"
"Apa aku terlihat memiliki pilihan lain?"
"Tidak."
"Jadi kau tahu jawabannya kan?"
"Ara!-... Selamat malam sayang dan selamat malam kalian semua." Katanya mencium Taecyeon sebelum bergegas memasuki kamar Taecyeon yang secara otomatis menjadi kamarnya juga.
"Haaah-... Akhirnya si betina tidur juga. Ayo Lu kita masuk. Kami sudah membersihkannya untukmu."
Baekhyun menarik lengan Luhan. Membawa Luhan masuk ke dalam rumah dengan tangan yang terus memegang lengan sahabatnya. "Bagaimana menurutmu? Membutuhkan waktu yang lama untuk membuat gudang tua ini kembali menjadi basecamp kita Lu."
Luhan terdiam di tempat. Memandang ke segala arah basecamp dan mengagumi kemampuan teman-temannya dalam memdekorasi dan menyulap gudang tua menjadi tempat yang begitu indah.
Tak ayal hal itu membuat senyum di wajah Luhan begitu mempesona. Bahkan disaat raut lelah dan duka yang masih terlihat, pesona Luhan tak pernah bisa diungkiri.
"Ini terlihat seperti basecamp NFS." Katanya menatap Baekhyun penuh arti sebelum suara Myungsoo terdengar mengelak dan tak suka.
"Kecuali bagian lantai dua. Kami sepakat membuatnya seperti Basecamp BTR. Mau bagaimanapun kita satu tim sekarang."
Luhan terkekeh pelan sebelum memutar malas bola matanya "Ya ya.. terserahmu saja leader-ssi!" Katanya menjawab sang leader dan melihat pasangan kekasih nomor dua di timnya -vkook menuruni tangga.
"Hey Lu.. Kau benar-benar datang?"
Luhan hanya tersenyum saat Jungkook menyapanya. Kekasih Taehyung itu bahkan terlihat berjalan menghampirinya dan
Grep…!
"Aku turut berduka atas meninggalnya nenekmu." Katanya memeluk Luhan sekilas dan menyampaikan rasa duka mendalam atas kehilangan yang Luhan rasakan.
Hanya senyuman kecil yang Luhan perlihatkan tak ingin menerima kalimat duka lagi karena bukan dirinya yang pantas menerima ucapan menghibur untuk kepergian neneknya "Gomawo Kook. Tapi kenapa kalian ada disini?"
"Seperti yang aku katakan Lu. Sudah saatnya kita kembali ke rumah. Ini rumah kita sebenarnya dan tak ada alasan untuk terus berlari menjauh dari tempat yang bisa membuatmu hidup kan?"
Baekhyun kembali berbicara. Membuat Luhan yang baru menyadari keputusan sepihak ini sedikit tertohok dan menatap tak yakin pada teman-temannya "Jadi maksud kalian kita akan kembali menetap disini?"
"hmm.. Ini sudah keputusan bersama. Lagipula Jaehyun, Yuta dan yang adik-adik kita yang lain terlihat lelah jika terus berpergian dan berpindah tempat."
"Tapi kita sudah melakukannya selama empat tahun. "
"Tapi kami lebih suka menetap disini hyung. Ini lebih terasa seperti rumah untuk kami."
"Jaehyun…"
Luhan dibuat diam saat sang adik berbicara, ada sedikit perasaan bersalah mengingat alasan mengapa mereka terus berpindah tempat adalah karena Luhan terlalu takut untuk tinggal di negara yang sama dengan Sehun, Kai dan Chanyeol atau siapapun yang telah ia sakiti.
"Kau dengar Lu? Aku pribadi juga merasa kau lebih hidup jika kita kembali ke Seoul."
"omong kosong...!"
"Suka atau tidak, aku rasa kalah suara Lu. Atau kau mau mengadakan vote? Baiklah-..Siapa yang bersedia kembali-…"
"Tidak perlu. Aku jelas kalah suara." Katanya menghentikan Kyungsoo dan mulai memandang satu persatu keluarga keduanya. Merasa begitu bersalah karena membuat mereka meninggalkan "rumah" disaat dia terlalu takut untuk menetap ditempat dia dibesarkan.
Luhan mengira bisa segera meninggalkan Seoul disaat berita pernikahan Sehun begitu membuatnya takut untuk kembali menetap. Namun permintaan seluruh timnya adalah hal mustahil yang bisa Luhan tolak. Membuatnya hanya mendesah pasrah masih menatap lirih pada teman-temannya.
"Baiklah…Kita kembali ke rumah."
"yey! / Kau membuat keputusan tepat Lu."
Satu persatu dari mereka memeluk Luhan. Mengucapkan rasa terimakasih tanpa mengetahui mungkin keputusan mereka untuk kembali tinggal di Seoul bukanlah pilihan terbaik untuk Luhan-..untuk mereka semua.
"Istirahatlah Lu, kau kelelahan. Kami sudah menyiapkan kamarmu."
Dan ini adalah kalimat yang sangat ingin Luhan dengar malam ini. Membuatnya menatap Jungkook dan secara tak langsung menyampaikan rasa terimakasihnya si pembuat rencana yang kerap kali terlihat sangat kompak dengan Kyungsoo "Aku memang lelah." Katanya membenarkan seraya berjalan menuju kamarnya. "Kita bicara lagi setelah aku merasa lebih baik. Selamat malam."
Dan tak ada hitungan detik Luhan menutup pintunya. Tersenyum namun jelas terluka, membuat keenam yang lain hanya saling menatap menyayangkan tak bisa melakukan apapun untuk menghibur leader tetap dari tim gabungan yang telah mereka bentuk empat tahun yang lalu.
"Hyungku terlihat sedih." Gumam Jaehyun berniat mengetuk pintu Luhan sebelum Myungsoo menarik Jaehyun menjauh "Dia akan semakin sedih jika terus kita ganggu. Beri hyungmu waktu."
"Tapi hyung."
"Jae dengarkan L."
Kali ini Baekhyun memperingatkan. Membuat Jaehyun tak memiliki pilihan lain selain pergi menuju kamarnya sendiri.
Dan setelahnya satu persatu memasuki kamar yang telah mereka buat sendiri. Mencoba mencari ketenangan di hari panjang yang begitu melelahkan dan menguras seluruh tenaga serta pikiran mereka.
.
.
.
.
.
Jika Luhan bisa istirahat mungkin Luhan akan tetap berada di kamarnya untuk tidur. Tidak seperti saat ini, dia terbangun pukul 2 dinihari dan memutuskan untuk menenggak alkohol dengan alasan ingin melupakan semua kejadian hari ini. Terutama bagian yang mengatakan Sehun akan menikah adalah hal yang paling membuatnya tersiksa.
"Ssshhh..."
Rasa panas dan sensasi menyenangkan saat kadar alkohol tinggi itu masuk melalui kerongkongannya sedang Luhan rasakan saat ini. Sesekali rasanya terlalu pahit, sesekali kepalanya juga sangat sakit namun satu-satunya yang bisa membuatnya tenang hanyalah minum tanpa seorang pun yang menceramahinya.
Luhan sudah kembali menenggak botol ketiganya, berniat menenggak botol keempat sebelum suara langkah kaki mendekatinya "Aku tahu kau tidak akan tidur."
Luhan menoleh sesaat. Sedikit tersenyum asal dengan tangan yang menuang bir ke dalam dua gelas "Kebetulan kau bangun. Temani aku minum." Katanya menyerahkan gelas kecil pada Myungsoo untuk membuat tos ringan. Dan saat tak ada tanggapan dari Myungsoo, Luhan mengangkat asal bahunya. Tak mempedulikan pria yang selalu bersikap peduli padanya dan menenggak habis gelas kecil yang entah sudah ke berapa kalinya malam ini
"Ssshhh... Aku benar-benar butuh minum." Katanya meracau menuang bir ke dalam gelasnya lagi. Berniat kembali meminum sebelum
Sret….
Myungsoo mengambilnya dan
Glup…
"Aku rasa kau butuh bicara. Bukan minum." Katanya menyindir Luhan dan menjauhkan semua botol dan gelas dari jangkauan Luhan. Membuat sang leader begitu putus asa dan memilih menyembunyikan wajahnya di atas meja.
"Sial! Kenapa kau suka sekali mengambil minumanku."
Myungsoo hanya mendengarkan dengan sabar racauan Luhan. Tidak berniat membalas tidak pula merespon. Hanya diam sampai nafasnya terdengar normal dan kembali memanggil namanya "L…"
"Ada apa?"
"Aku sedih."
"Aku tahu."
"Aku hancur."
"Aku tahu."
"Hatiku sakit L. Apa kau juga tahu?"
Myungsoo terdiam sejenak sebelum menarik kursinya mendekat pada Luhan "Dan kenapa hatimu merasa sakit?"
"Karena dia akan menikah."
"Siapa yang akan menikah?"
Sesaat Luhan hanya diam. Bibirnya tak sanggup menyebut nama Sehun, dia bahkan berniat tak menjawab pertanyaan Myungsoo sampai tangan pria itu mengusap lembut tengkuknya "Lu…"
Luhan mengangkat wajahnya. Menatap Myungsoo seolah dia tak memiliki tempat untuk bercerita selain dirinya. Seolah hanya Myungsoo yang akan mengetahui betapa hancurnya Luhan dengan apa yang akan ia katakan pada rival nya "Sehun…"
"huh?"
"Sehun yang akan menikah."
Gerakan tangan Myungsoo berhenti mendengar ucapan Luhan yang terdengar sangat menyakitkan untuknya. Entah kesalahan apa yang telah Luhan perbuat. Entah hal jahat apa yang telah Luhan lakukan. Karena hampir empat tahun Myungsoo mengenal Luhan. Tak pernah sekalipun Luhan benar-benar bahagia karena dia bahagia. Karena selama empat tahun Myungsoo mengenal Luhan. Luhan hanya bahagia karena dia merasa harus bahagia bukan bahagia dalam artian sesungguhnya.
Dia mengira keputusan untuk kembali menetap di Seoul adalah yang paling benar untuk kesehatan mental Luhan. Tapi nyatanya semua awal keputusan mereka sudah menyakiti pria cantik di depannya. Terkadang ingin Myungsoo mengatakan relakan mereka. Lupakan mereka dan hanya hidup bersama kami tanpa rasa bersalah namun jika dia mengatakan hal itu maka bisa dipastikan Luhan akan pergi dalam hitungan detik dan tak akan berbalik lagi setelahnya.
Membuat hanya diam, diam dan diam adalah satu-satunya hal yang bisa Myungsoo lakukan disaat pria cantiknya sedang merasakan sakit. "Aku harus bagaimana L? Aku masih sangat mencintai Sehun. Aku-..."
Suaranya jelas ingin menangis. Tapi Luhan sedang menahannya sekuat tenaga agar tak ada isakan malam ini. Semakin lama suaranya semakin terdengar samar dengan isak tertahan yang coba ia sembunyikan
"Aku tidak bisa menerima kabar ini. Kai bahkan memintaku pergi agar aku tidak mengacaukan hidup Sehun lagi. Mereka terus memintaku untuk tidak menyakiti mereka tanpa tahu aku juga merasakan sakit yang sama. Bahkan lebih sakit. Aku tahu ini semua salahku tapi kenapa sulit menerima ini semua. Katakan aku harus melakukan apa L?"
Yang ditanya hanya bisa diam tak berkata. Ingin rasanya dia memeluk Luhan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi dia tahu adalah sebuah kebohongan jika dia mengatakan baik sementara keadaan disini sangat berantakan.
Rasa kesal bahkan dirasakan pria yang diam-diam sangat menyukai Luhan, merasa tidak berguna karena tak bisa menenangkan mantan rivalnya disaat Luhan benar-benar membutuhkan sandaran. "Kau tidak harus melakukan apapun Lu. Hanya jalani yang sudah dan apa yang akan terjadi. Aku sendiri yang akan memastikan kau baik-baik saja."
Tangan Myungsoo kembali mengusap tengkuk Luhan, berharap si pria cantik merasa lebih baik walau pada akhirnya Luhan hanya kembali tertunduk tak mengatakan apapun "Jika ingin menangis, lakukanlah."
Luhan tersenyum lirih dan hanya menggelengkan lemah kepalanya "Aku lelah."
"Aku tahu."
Dan menjadi kebiasaan Myungsoo untuk meminjamkan pundaknya pada Luhan. Dia membalikan tubuhnya membelakangi Luhan, tangannya dibuat menepuk pundaknya seolah meminta Luhan untuk segera menggunakannya agar bisa merasa sedikit lebih baik "Luhan.."
Dan saat Myungsoo memanggil namanya, dia begitu tergoda untuk bersandar di pundak yang selalu dipinjamkan Myungsoo untuknya, namun tekadnya untuk tidak menangis sangat besar malam ini. Setidaknya selama ini dia selalu menangis saat merindukan ketiga teman kecilnya. Hal itu sama sekali tidak memalukan untuk Luhan.
Namun lain cerita jika dia menangis karena hatinya begitu hancur. Hancur berkeping karena berita pernikahan Sehun. Itu membuatnya sangat lelah dan sangat memalukan jika menangisi hal yang sudah kau sia-sia kan empat tahun yang lalu "Malam ini aku tidak butuh pundakmu."
"Bersandarlah sejenak. Aku tahu kau ingin menangis."
"Aku tidak!"
"Luhan…."
"brengsek! Aku bilang aku tidak membutuhkan-…"
Sret…!
Myungsoo menarik cepat lengan Luhan. Membuat secara otomatis dahi Luhan bersandar di pundak kokoh Myungsoo. Dan untuk alasan konyol dia berharap pundak Sehunlah tempatnya bersandar saat ini.
Masih jelas teringat di ingatan Luhan tentang bagaimana Sehun tumbuh secara sempurna. Bentuk badannya yang tinggi menjulang, ketegasan wajahnya yang terksesan dingin namun mengeluarkan aura sangat tampan, dadanya yang bidang serta pundaknya yang kokoh seolah menambah kesempurnaan dari pria yang pernah menjadi miliknya. Luhan bahkan berani bertaruh bahwa pundak Myungsoo tidak selebar dan senyaman pundak Sehunnya jika Luhan bisa bersandar.
Membayangkannya saja bisa membuat Luhan tersenyum, namun tak lama senyumannya berubah menjadi raut dingin yang begitu menyedihkan mengingat semua harapannya seolah hanya mimpi indah di malam hari.
Dahinya semakin dalam bersandar di pundak Myungsoo. Dia bahkan menggunakan tangannya untuk mencengkram erat pinggang Myungsoo, seolah meminta Myungsoo untuk tetap berada disana dan tak meninggalkannya dalam keadaan menyedihkan "hksss…Myungsoo aku-hkss- Sehun…hkkssskk..haaah..kenapa rasanya sangat sakit hkssss..Aku masih sangat mencintainya. Mencintai Sehun-hkss…Sehunku..hhkkss"
Adalah benar jika Myungsoo sangat menyukai Luhan. Adalah benar jika mungkin rasa suka itu sudah tumbuh menjadi benih cinta. Namun bagaimana bisa kau mencintai seseorang yang tak melihatmu? Seseorang yang masih mencintai cinta pertamanya? Apa yang bisa kau lakukan? Jawabannya kau tidak bisa melakukan apapun. Karena selain ikut merasakan sakit kau hanya bisa diam tanpa melakukan apapun "hkssss…..hkssss.."
Dan setelahnya isakan Luhan terdengar semakin memilukan. Yang bisa Luhan lakukan hanya menangis di pundak Myungsoo sementara Myungsoo memejamkan matanya erat merasakan sayatan di hatinya seiring isakan Luhan yang begitu menyedihkan.
.
.
.
.
Keesokan harinya
.
.
"Lihat wajahmu sembab dan terlihat pucat. Kau bahkan terus memakai kacamata hitam. Kau pasti tidak baik-baik saja kan?"
Blam...!
Ini sudah satu jam sejak Luhan mengantar Jiyeon memeriksakan bayinya. Dan selama satu jam itu pula calon istri dari Taecyeon itu bahkan tak bisa menutup mulutnya. Terus bertanya banyak hal yang membuat Luhan nyaris berteriak kalau tidak ingat ada calon keponakannya di dalam sana.
"Luhan! Jangan tinggalkan aku!"
Bahkan saat sampai di rumah sakit, Jiyeon masih berteriak. Membuat Luhan yang sedari awal ingin bersabar tiba-tiba berhenti berjalan dan menoleh cepat memperingatkan calon istri sekaligus gadis kecil yang tumbuh besar bersamanya.
"Wae?!"
Jiyeon sedikit memekik saat Luhan tiba-tiba berbalik. Pria yang tumbuh menjadi cantik melebihi dirinya tersebut bahkan melepas kacamata hitamnya dan menatap menyeramkan padanya.
"Sekali lagi kau berteriak memanggilku. Aku akan memukul Taecyeon sangat kencang selesai kita pulang darisini!"
"Ck! Bercandamu tidak lucu Lu!"
"Ini serius!"
"Omo! YAK! Kenapa kau menyebalkan sekali."
Luhan terpaksa menutup telinganya saat Jiyeon berteriak, berniat menjadikan ucapannya sebagai kenyataan jika Jiyeon tak kembali berbicara saat ini "Jika kau sudah sangat menyebalkan. Itu artinya kau adalah Luhan. Ayo masuk" katanya mengerling Luhan sebelum
"Y-YAK!"
Kali ini Luhan yang berteriak. Membuat beberapa pengunjung menoleh sementara Jiyeon tersenyum menang saat ini. "Ish! Perempuan itu benar-benar mengerikan." Katanya menggerutu dan mulai mendekati Jiyeon yang sedang berada di bagian pendaftaran.
"Ayo Lu. Kita naik."
Luhan memutar malas bola matanya. Dia hanya mengikuti Jiyeon dan tidak berniat mengeluarkan sedikit suara pun. Ya-.. Niat awal memang seperti itu. Tapi saat pintu lift terbuka dan mereka berada di poli jantung maka hanya ada rasa gemas karena Jiyeon bahkan tidak menyadari mereka berada di poli yang salah.
"Jiyeonna."
"hmmmh.."
"Aku rasa kita berada di poli yang salah. Poli kandungan masih berada satu lantai di atas poli jantung."
Jiyeon menoleh sekilas ke belakang. Memperhatikan Luhan yang mengoreksi dirinya sebelum tersenyum lirih terpaksa memberitahu pria yang begitu dijaga calon suaminya "Ani… Kita berada di poli yang tepat Lu."
"huh? Apa maksudmu?"
Jiyeon duduk di kursi tunggu yang disediakan. Diikuti Luhan yang masih bertanya bingung dan terlihat tak suka tentang kenyataan mereka berada di tempat asing untuknya "Jiyeon…" katanya memanggil calon istri Taecyeon yang terlihat diam.
Membuat Jiyeon menoleh dan menatap sendu pada Luhan "Alasan mengapa aku bersikeras memintamu untuk menemaniku ke rumah sakit adalah karena aku ingin memeriksakan jantungku bukan kandunganku."
"Jiyeonna."
"Aku tidak ingin Taecyeon merasa khawatir."
"Tapi kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku? Pada kami?"
Jiyeon tersenyum kecil dengan membuat gerakan di perutnya. Berharap bayinya dan Taecyeon akan baik-baik saja sebelum kembali menatap Luhan "Aku baik Lu. Hanya saja rasa sakit dan sesaknya semakin terasa setiap malam. Dan aku membaca dari artikel bahwa seseorang yang tertekan dan mempunyai kelainan jantung akan mengalami pendarahan pada arteri selama masa kehamilannya. Aku hanya takut tidak bertahan dan tak bisa melahirkan bayiku. Aku takut membuat Taecyeon menangis."
"Dan jika kau membuat Taecyeon menangis. Aku bersumpah akan kembali membencimu!"
"Luhan…"
"Aku serius. Jadi persetan dengan artikel yang kau baca! Kau bilang kau akan baik-baik saja jika kau tenang dan bahagia. Kau akan segera menikah dan memiliki malaikat kecil kalian, jadi tidak ada alasan kau tertekan? Mengerti?"
"hkss…"
"Jiyeon jawab aku dan jangan menangis."
"araseo! Aku mengerti. Aku hanya terharu karena kau benar-benar peduli padaku Lu."
"huh?"
"Aku mengenalmu saat usia kita lima tahun. Dan selama tiga belas tahun aku hidup kau hanya sibuk membenciku dan tak pernah sekalipun peduli padaku. Tapi baru empat tahun aku bersama Taecyeon kau sangat peduli padaku. Aku sedikit menyesal karena tidak bertemu Taecyeon lebih cepat."
"Ya benar harusnya kau bertemu Taecyeon lebih cepat."
"Aku tahu. Jadi kemungkinan kau akan menyukaiku menjadi lebih besar."
"Park Jiyeon kau benar-benar-…!"
"Nona Park. Silahkan masuk."
"ah…namaku dipanggil. Tunggu aku sebentar."
Jiyeon berdiri dari tempat duduknya. Berniat masuk ke dalam ruangan dokter sebelum tangan Luhan menahan lengannya "Ada apa Lu?"
"Apa aku harus ikut ke dalam?"
"aniya. Tidak perlu. Tunggulah disini. Atau kau bisa pergi ke kafe selama aku konsultasi."
"Jiyeon."
Jiyeon tersenyum haru melihat Luhan yang benar-benar mengkhawatirkannya. Membuatnya tak ragu untuk memeluk pria yang pernah sangat ia sukai sebelum kembali menatap kedua mata cantik yang dulu selalu menatap benci padanya "Aku akan baik-baik saja Lu."
"Aku tahu."
"Kalau begitu aku masuk ke dalam." Katanya memberitahu Luhan sebelum tangan Luhan kembali menarik lengannya. Mata Jiyeon kembali bertanya dan seolah mengerti Luhan hanya mengatakan hal yang sangat ingin ia katakan "Pastikan keponakanku akan baik-baik saja di dalam sana."
Jiyeon tersenyum cantik sebelum mengangguk tanpa ragu "Kau dengar nak? Kau harus baik-baik saja atau Lulu akan memarahi Mama." Katanya berbicara mengusap perutnya sebelum kembali menatap Luhan "Aku dan bayiku akan baik-baik saja Lu."
Luhan mengangguk puas sebelum melepas tangannya dari lengan Jiyeon. Memperhatikan calon istri Taecyeon memasuki ruang konsultasi dan berdoa agar tida ada satu hal mengerikan yang bisa terjadi pada Jiyeon atau calon bayinya.
"haah~… Aku benar-benar butuh minum."
Minum yang Luhan maksud adalah sejenis bir ringan atau minuman keras lainnya. Namun dia sadar berada di lingkungan rumah sakit. Membuatnya memutuskan untuk turun menggunakan lift dan menunggu Jiyeon di kafe yang berada di rumah sakit.
.
.
.
.
.
.
Hampir satu jam membosankan Luhan lalui di kafe kecil yang disediakan di rumah sakit. Terhitung dua cup americano masuk ke dalam perutnya namun tak ada tanda-tanda Jiyeon selesai dan turung menghampirinya.
"Ini terlalu lama."
Luhan melihat arlojinya dan memutuskan keluar dari kafe untuk kembali menemui Jiyeon sebelum matanya dibuat takjub melihat dekorasi pohon natal yang tak ia sadari sebelumnya. Beberapa anak bahkan bermain di bawah pohon natal dengan baju pasien yang mereka kenakan. Dan saat beberapa anak kecil tersebut membuka hadiah maka senyum sangat terlihat di wajah Luhan. Senyum yang begitu lepas begitu iri melihat semua anak kecil yang terlihat seperti dirinya di usia yang sama dengan mereka. Hanya tahu bagaimana tertawa tanpa harus tertekan.
Membuatnya rela berlama-lama melihat pemandangan di depannya sampai tak sengaja matanya melihat sosok pria paruh baya yang terlihat berlari menerobos kerumunan rumah sakit. Luhan terus mengikuti sosok pria paruh baya itu berlari, sedikit merasa tidak yakin namun entah mengapa matanya tak mau berhenti menatap sosok yang sudah tak terlihat di jangkauan matanya.
"Papa.."
"Luhaan"
Dan bersamaan dengan gumaman Luhan. Terdengar suara Jiyeon memanggilnya. Membuat Luhan terpaksa meninggalkan rasa ingin tahunya dan lebih memilih melihat Jiyeon saat ini "Jiyeon."
"Wae? Kenapa dahimu berkerut?"
"ani-…Kenapa dahiku berkerut? Maksudku-…Kenapa kau lama sekali? Apa yang dikatakan dokter."
"Tepat seperti ucapanmu. Aku baik-baik saja selama aku tidak tertekan. Dokter bilang ring di jantungku masih berfungsi sangat baik dan selama aku baik maka calon bayiku juga baik."
Luhan mau tak mau tersenyum lega mendengarnya. Tidak ingin membuat Jiyeon bertanya walau pikirannya sangat terganggu meyakini bahwa sosok yang tak lama ia lihat benar ayahnya "Syukurlah jika kau dan bayimu baik-baik saja."
"Apa kau baik-baik saja Lu?"
"mmhh.. Tentu saja. Kau ingin pergi kemana setelah ini?"
"Aku ingin pulang."
"Baiklah kita pulang." Katanya berjalan beriringan bersama Jiyeon. Berusaha melupakan apa yang baru ia lihat sebelum
BRAK….
"arghhh…"
Jiyeon memekik saat seseorang menabraknya begitu kencang. Membuat Luhan tersadar dari lamunannya sebelum membantu Jiyeon segera berdiri "Jiyeonna. Kau baik-baik saja?"
"umhh.. Aku baik." Katanya memberitahu Luhan sebelum si penabrak yang Luhan tebak adalah pasien berkali-kali membungkuk padanya dan Jiyeon "Maafkan aku tuan… Maafkan aku nyonya." Kata si pasien yang terlihat kesakitan sebelum kembali berlari gontai entah karena apa.
"Hey…!"
"Lu sudahlah. Dia sepertinya sakit."
Luhan masih melihat pasien yang ia tebak berusia sama dengan Jaehyun itu berlari dan tak lama kembali terjatuh. Terus seperti itu membuatnya mau tak mau menyetujui ucapan Jiyeon bahwa pasien remaja yang menabraknya memang sakit "Baiklah. Ayo kita pulang." Katanya membantu Jiyeon berjalan. Berniat meninggalkan rumah sakit sampai terdengar suara yang begitu mengganggu Luhan.
"Nona Xi….Anda harus menjalani kemoterapi."
Terlihat beberapa perawat mengejar pasien remaja yang baru saja menabrak Jiyeon. Kakinya berhenti melangkah dan terus melihat beberapa perawat mengejar si pasien yang terlihat berjongkok ketakutan tak jauh darinya.
"Luhan? Ada apa?"
Luhan menatap sekilasi pada Jiyeon sebelum menggeleng tersenyum "Tidak ada apa-apa. Ayo kita pulang." Katanya berusaha mengabaikan perasaan buruknya sampai
"NONA XI BERHENTI BERLARI! KONDISI ANDA SANGAT LEMAH!"
"NONA XI LANA!"
"Lana?"
Luhan kembali mengelak saat nama marga dan nama pasien terlalu sama dengan nama adiknya. Bahkan ini bisa dikatakan kebetulan konyol mengingat usia si pasien ia tebak sama dengan Lana adiknya. Membuat perasaan buruknya semakin menjadi sampai kali ini terdengar suara yang begitu familiar memanggi nama pasien remaja yang sedang menangis dan meronta tak jauh dari pandangan Luhan.
"LANA…ANAKKU JANGAN SEPERTI INI NAK. MAMA MOHON!"
"Mama?"
Luhan merasa semua kejadian ini menjelaskan kenapa sang ayah berlari menerobos kerumunan beberapa saat yang lalu. Sosok yang ia pikir mirip ayah dan adiknya ternyata benar adalah ayah dan adiknya. Seperti ada bom di dada Luhan. Rasanya begitu sesak tak berani menebak apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
Bom itu bahkan bisa meleak kapan saja jika dia terus mencari tahu, namun rasa sesaknya akan berkali-kali lebih sakit jika dia terus berpura-pura tidak tahu.
"Luhan? Kau mau pergi kemana?"
Luhan melepas pegangan tangannya di lengan Jiyeon. Berlari setengah gontai menghampiri gadis mungil yang sedang meringkuk ketakutan disana. Matanya memanas saat melihat dia terus menangis dengan pakaian pasien dan beany hat yang dipakaikan di kepalanya. Sosok yang tengah berjongkok di depannya ini terlihat begitu kurus dan kesakitan berbeda dengan sosok yang kemarin ia lihat di pemakaman. Begitu cantik namun terlihat tertekan.
Dan semua pertanyaan ini seolah terjawab untuk Luhan. Pertanyaan mengapa si kembar tak terlihat bersama di pemakaman adalah karena Lana sedang sakit dan harus menjalani entah kemoterapi apa yang dimaksud.
"PERGI! AKU TIDAK MAU DIOBATI LAGI! HANYA BIARKAN AKU MATI! AKU TIDAK MEMILIKI PELUANG UNTUK BERTAHAN HIDUP! PERGI!"
Deg!
Luhan sama sekali tidak tahu apa yang Lana teriakkan saat ini. Tapi rasanya begitu sakit dan memilukan melihat wajah adiknya sangat pucat. Lana bahkan membuang beany hat nya sehingga terlihatlah kepalanya yang tak lagi memiliki rambut. Hati Luhan berkali-kali dipukul kencang menyadari apapun yang terjadi pada adiknya pastilah itu sesuatu yang sangat buruk.
"LANA… MAMA MOHON NAK. KAU AKAN SEMBUH SAYANG!"
"BOHONG! MAMA BOHONG PADAKU!"
Luhan tidak mempedulikan bagaimana reaksi kedua orang tuanya nanti, yang ia pedulikan hanya membuat adiknya tenang dan tak terlihat hancur seperti saat ini. Matanya yang memanas bahkan sudah menitikkan air mata. Dia begitu terluka melihat keluarganya sangat menyedihkan di depan kedua matanya.
Dengan cepat Luhan mengusap air matanya. Memungut beany hat yang dibuang Lana sebelum menerobos kerumunan yang masih terus membuat adik kandungnya menjerit ketakutan "PERGI KALIAN SEMUAAA arrghhh KEPALAKU SAKIT!"
Lana menjerit menekan kencang kepalanya. Dia bahkan sengaja menekannya terlampau kencang sampai tangan seseorang memaksanya untuk berhenti menekan kepalanya sendiri. Lana bahkan sudah akan berteriak sebelum melihat sosok pria cantik yang begitu asing namun terasa sangat familiar tengah menatap sendu padanya.
"Lana…. Ini Luhan."
Suara Luhan tercekat di kerongkongannya. Awalnya dia ingin menyebut dirinya sebagai oppa namun tak memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya pada Lana mengingat betapa kejinya dia pada si kembar yang menjadi korban keegoisan seorang Xi Luhan hampir di seumur hidup si kembar.
Jika Luhan merasa takut membuat Lana semakin marah maka perasaan luar biasa senang tengah Lana rasakan saat ini. Perasaan dimana dia melihat sosok kakaknya setelah sekian lama adalah hal yang membuatnya sedikit tenang bahkan sangat bahagia entah untuk alasan apa "Lu-…Luhan oppa?"
Luhan memejamkan erat matanya, rasanya tak pantas saat Lana memanggilnya oppa. Rasanya begitu jahat mengingat dia hampir tidak mempedulikan adiknya di sepanjang hidupnya. "hmmh… Luhan oppa." Katanya membenarkan dengan air mata yang ia biarkan terjatuh begitu saja. Rasanya begitu memilukan melihat adiknya yang cantik terlihat sangat pucat dan kurus. Lana bahkan tidak lagi memiliki rambut namun tak menyembunyikan kecantikan dari semua kekurangan yang ia alami saat ini.
Luhan mengangkat tangannya. Mengusap lembut pipi adiknya sebelum
"Oppa!"
Lana melompat ke pelukan Luhan. Memeluk kakaknya begitu erat dan terisak sekuatnya di depan kedua orang tuanya, Jiyeon bahkan Sehun yang diam-diam memperhatikan semua adegan memilukan ini dari awal. "Oppaaaa hksss.. Jangan pergi lagi. Aku tahu kau membenciku dan Luna, tapi kau tidak boleh pergi lagi oppa. Aku-hkssss- Aku mohon oppa."
"Lana…"
Luhan membalas pelukan adiknya, mencium berkali-kali kepala Lana yang tak lagi bermahkota tanpa rasa canggung sedikit pun. Penyesalan membunuh Luhan secara pelan namun pasti. Semua terasa salah sejak dirinya membuat keputusan, awalnya Sehun lalu sekarang Lana entah apalagi kehilangan yang ia rasakan jika dia pergi untuk waktu yang lebih lama.
Adegan memilukan kakak adik ini pun membuat Jihyo sebagai ibu kandung menangis tersedu di pelukan Garry. Menatap rindu pada sosok putra sulung mereka yang telah lama pergi. Putra kecilnya yang benar-benar telah menjelma menjadi pangeran tampan saat ini. Luhan bahkan terlihat tak lagi menjauhi adiknya membuat semacam perasan lega dan bahagia dirasakan Jihyo saat melihat putra dan putrinya begitu saling menyayangi.
Sementara Jihyo menangis bahagia maka Jiyeon dan Sehun memalingkan wajah mereka. Adegan ini terlihat seperti bukan Luhan. Keduanya tahu siapa Luhan sejak kecil, dia nyaris tak pernah menyebut nama Luna atau Lana sekalipun. Dan saat Luhan menangis untuk Lana -tidak- bukan hanya menangis. Luhan bahkan memeluk dan tanpa rasa jijik menciumi kepala Lana yang polos adalah hal yang sangat memilukan untuk Sehun dan Jihyo.
Dan tak sengaja Jihyo bertemu pandang dengan Sehun, melontarkan pandangan yang sulit di jelaskan sampai Sehun berjalan mendekat ke arah Luhan dan Lana.
"Oppa…"
Lana melepas pelukannya pada Luhan. Sedikt merasa lebih tenang dan berniat menceritakan kesakitannya pada Luhan "hmm…" gumam Luhan kembali mengusap wajah dan kepala Lana dengan lembut.
"Aku kira kau tidak akan kembali."
"Aku sudah kembali adik kecil."
"Kau tidak akan pergi lagi?"
Luhan menggeleng lemah mengusap wajah adiknya "Tidak akan pergi lagi."
"Oppa…"
"Ada apa? Kenapa terus memanggilku?"
"Aku sakit."
"huh?"
"Dokter bilang aku tidak akan bertahan lebih dari tiga bulan lagi. Aku mendengar dokter bicara pada Mama hksss.. Aku tidak mau mati oppa. Aku tidak mau meninggalkan Luna hksss Aku- hkkss. Aku ingin menikahi pria tampan. Tapi aku tidak memiliki rambut lagi, aku yakin tidak akan ada yang ingin menikahi wanita botak sepertiku."
"Lana…"
"Aku benci di rumah sakit. Aku tidak ingin menjalani pengobatan lagi. Mereka terus menyakitiku tanpa menyembuhkan aku. Mereka membuatku terlihat seperti monster setiap harinya. Tidak akan ada yang mau menikah denganku oppa. Tidak-…hkksss.."
"Jika tidak ada yang mau menikahimu. Maka oppa yang akan menikahi Lana. Kau tenang saja cantik."
Luhan menoleh saat suara yang begitu ia sukai terdengar. Pria yang sedari awal ia tebak adalah Sehun mengambil beany hat milik Lana dari tangannya. Mereka berpandang sesaat sebelum Sehun memakaikan kembali beany hat milik Lana di kepalanya "Kau bahkan terlihat seksi dengan penampilan saat ini." Katanya mengerling Lana yang tertawa mendengar ucapan Sehun.
"Sehun oppa.."
"Oppa dengar kau tidak ingin menjalani kemoterapi? Kenapa?"
"Karena percuma. Alat itu hanya menyakitiku oppa."
"ani-… Alat itu membuatmu bertahan hidup. Kau terus mengatakan ingin menikah. Tapi kenapa kau membuat Mama dan Papa terus menangis? Jangan lakukan itu sayang. Kedua orang tuamu sudah sangat kesulitan untuk waktu yang lama."
Lana menatap kedua orang tuanya sementara Luhan tertunduk semakin dalam. Kalimat Sehun secara tak langsung menyindirnya secara halus, membuat hanya senyuman lirih yang bisa ia keluarkan sementara tangannya mengepal erat karena tak bisa membuat Lana menjadi lebih baik seperti yang Sehun lakukan saat ini.
"Tapi aku mendengar ucapan dokter pada mama."
"Oppa janji kau akan menikah dan terus bertahan hidup. Jadi jangan dengarkan dokter atau siapapun. Berpura-puralah untuk tidak mendengar apapun yang mengerikan. Lana akan bertahan tidak hanya tiga bulan. Tapi tiga tahun. Tiga puluh tahun bahkan tiga ratus tahun. Mengerti?"
Secara menakjubkan Lana mengangguk. Ucapan Sehun seolah menjadi hipnotis untuknya. Dia bahkan benar-benar tenang berbeda sekali dengan beberapa menit yang lalu.
"Jadi? Apakah kita akan melakukan kemoterapi lagi hari ini?"
Lana mengangguk bersemangat dan menjawab "Ya… Tentu saja. Lana harus sembuh karena Luhan oppa sudah kembali. Jadi oppa…Kau harus menungguku selesai menjalani terapi. Berjanjilah untuk tidak pergi lagi." Katanya mengangkat jari kelingkingnya mengikat janji pada Luhan.
Luhan sedikit salah tingkah saat ini. Dia menatap Sehun namun Sehun mengabaikannya, dan seolah tak memiliki pilihan lain Luhan juga mengangkat jaru kelingkingnya. Menautkan dengan milik Lana hingga terbuatlah janji di antara mereka "Oppa janji tidak akan pergi lagi."
Luhan bersumpah melihat Sehun tertawa sinis mendengar janjinya pada Lana. Namun seolah tak ingin berlama-lama dengannya, Sehun mulai menggengam tangan Lana. Membawanya pergi ke ruang terapi meninggalkan Luhan bersama kedua orang tuanya.
"Jiyeonna."
"hmmmh…"
"Pulanglah dan katakan pada yang lain aku tidak akan pulang malam ini." Katanya berbicara pada Jiyeon namun matanya terus memandang rindu pada sosok cantik yang masih bersembunyi di dekapan suaminya.
"Aku bisa menemanimu Luhan."
Luhan menghela dalam nafasnya sebelum menatap memohon pada Jiyeon "Aku mohon."
Jiyeon menggigit kencang bibirnya. Dia tidak rela meninggalkan Luhan seorang diri di lingkup keluarga yang telah menjadi orang asing untuknya. Namun seolah tak memiliki pilhan lain Jiyeon mengangguk. Memutuskan untuk pergi dan membiarkan Luhan bersama keluarganya.
"Segera pulang jika kau sudah selesai."
"Aku akan segera pulang."
Dan setelahnya Jiyeon membungkuk berpamitan pada kedua orang tua Luhan. Menatap lama pria cantik di depannya sebelum dengan berat hati meninggalkan Luhan bersama keluarganya.
Kali ini Luhan kembali menatap kedua orang tuanya. Tidak mengerti apa yang terjadi membuatnya memberanikan diri berjalan mendekati ayah ibunya yang terlihat semakin menua seiring berlalunya hari. Luhan ingin tahu apa yang terjadi dan karena alasan itu pula dia mengabaikan rasa rindu dan lebih memilih mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Lana.
"Ma… Pa… Kita harus bicara."
.
.
.
.
"Apa maksudmu ma? Leukimia? Stadium empat?"
Jika Lana sedang menjalani terapinya dengan Sehun yang mendampingi. Maka kembali ke kafe di rumah sakit terlihat Luhan bersama kedua orang tuanya tengah berbicara. Banyak hal yang tidak Luhan ketahui. Terlalu banyak sampai kenyataan adiknya mengidap kanker yang begitu ganas baru ia ketahui setelah sekian lama.
"mmhh…. Adikmu sakit."
"Tapi sejak kapan?"
"Dari kecil Lana sudah mengalami kelainan pada sel darahnya. Hanya saja kami baru mengetahui lima tahun yang lalu. Dan saat Mama dan papa mengetahuinya, kami memutuskan untuk pindah ke Beijing berharap Lana mendapat pengobatan yang lebih baik. Namun sayang kankernya telah menyebar dengan ganas ke organ vital dan memasuki stadium tiga. Terus bertambah hingga akhirnya dokter mengatakan bahwa kondisi Lana kian memburuk."
"Jadi alasan kepindahan kalian yang begitu mendadak adalah karena Lana sakit?"
"Nak…"
Jihyo berusaha mengusap wajah tampan putranya sebelum Luhan mengelak. Luhan tidak ingin merasakan kenyamanan dari ketidak tahuannya sebagai keluarga.
"Dan aku tidak diberitahu? Sama sekali tidak diberitahu?"
"Kau membenci kedua adikmu nak."
"BAGAIMANA BISA AKU MEMBENCI ADIKKU SENDIRI MA!"
Nada suara Luhan mulai meninggi, dia tahu dia tidak pernah peduli pada si kembar selama masa hidupnya. Tapi bukankah ini sudah melewati batas ketidaktahuannya sebagai keluarga? Entah seberapa banyak orang tuanya menganggap dia hanya sebagai orang asing. Tapi yang jelas ini sudah keterlaluan. Luhan sekarang tahu darimana prasangka buruk selalu menjadi sifat yang tak pernah bisa hilang dari dirinya. Dia tidak perlu bertanya-tanya darimana dia mendapatkan sifatnya itu karena dua orang di depannya adalah bukti nyata dari semua sifat yang ia miliki.
"Jangan berteriak pada mamamu Lu."
Kali ini Garry memperingatkan Luhan. Jujur hati Luhan juga tersayat berteriak pada sosok cantik yang terlihat sangat kelelahan di depannya. Tapi semua alasan yang diucapkan mamanya begitu tidak masuk akal, membuat hanya rasa marah dan emosi yang menguasai Luhan sementara dirinya tidak bisa melakukan apapun untuk adik perempuannya.
"Kau tahu pa? Alasan mengapa aku pergi selama ini adalah karena aku mengangkat seseorang yang memiliki usia sama dengan Lana sebagai adik. Dia sakit parah dan aku melakukan segalanya termasuk meninggalkan kehidupanku sebagai Xi Luhan. Aku bahkan kehilangan Sehun untuk membuatnya sembuh. Jadi katakan padaku bagaimana bisa aku membenci adik kandungku sendiri jika orang yang hanya aku anggap sebagai adik sangat aku jaga? Bagaimana bisa aku tidak peduli jika gadis yang memiliki darah yang sama denganku sekarat? Apa aku akan diam saja? Tidak pa..ma.. Aku tidak akan diam saja. Aku akan melakukan apapun agar Lana sembuh. Kalian dengar?"
Satu-satunya yang masih tak bisa Luhan kendalikan adalah amarahnya. Dia bisa menahan sifat egois dan bersedia di caci asal itu tidak menyangkut orang-orang yang begitu ia pedulikan. Luhan berusaha keras untuk tidak berteriak, rasanya belum hilang sayatan di hatinya karena berita pernikahan Sehun. Dan saat ini dia harus menambah sayatan di hatinya karena berita tentang bagaimana adiknya mengalami sakit parah hampir seumur hidupnya.
"Dan bagaimana kalau aku mengatakan tidak ada kesempatan adikku untuk bertahan?"
Kali ini suara datang dari belakang Luhan. Membuatnya menoleh dan mendapati adiknya yang lain terdengar marah berbicara padanya. Adalah Luna kakak dari si kembar yang terlihat tak suka melihat Luhan. Dari caranya menatap persis sama seperti Luhan saat dirinya berusia tujuh belas tahun.
"Luna… Jaga bicaramu nak. Luhan kakakmu."
"AKU TIDAK MEMILIK KAKAK MA! AKU HANYA MEMILIKI ADIK DAN ITU LANA-.. LANA YANG MUNGKIN SEBENTAR LAGI AKAN MENINGGALKAN AKU MA-..Hksssss"
Gary secara refleks memeluk sulung dari si kembar. Membawanya untuk duduk dan membiarkan Luna menangis tersedu di pelukan ayahnya "Dia bukan kakakku. Dia hidup hanya untuk membenciku dan Lana. Dia tidak ada saat Lana ingin bertemu. DIA HANYA ORANG ASING PA!"
"Luna sayangku…tenanglah sayang."
Luhan hanya bisa tersenyum pahit mendengar kemarahan Luna. Dia pikir jika seseorang terlahir kembar maka sifat mereka tak jauh berbeda. Jauh didasar hatinya dia begitu bahagia saat Lana menerimanya dengan mudah, membuatnya berfikir Luna juga akan menerimanya. Namun tebakannya meleset. Luna bahkan lebih mirip dengannya sewaktu remaja daripada mirip dengan Lana. Karena berbanding terbalik dengan si bungsu yang baik hati dan menerima semua orang maka Si sulung adalah semua ketidakmungkinan yang dimiliki Lana padanya. Luna terlihat sangat marah dan mengutuk kedatangan Luhan saat ini.
"PERGI KAU!"
Jika bukan karena Lana, mungkin Luhan sudah pergi. Tapi nyatanya dia memilih tinggal dan berusaha keras mengabaikan teriakan Luna untuknya. Hanya menatap sang mama yang terlihat semakin lelah dengan teriakan Luna dan keberadaannya saat ini.
"Aku tahu mama menderita dengan kedatanganku. Tapi maaf Ma. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan Lana baik-baik saja. Jadi katakan padaku apa yang bisa aku lakukan."
Jihyo tersenyum lirih. Memberanikan dirinya untuk menggenggam tangan putra sulungnya. Tangan mungil yang dulu tak pernah ia lepas kini telah berubah menjadi tangan hangat yang bisa menjaga seseorang dalam hidupnya "Mama juga minta maaf padamu nak. Tapi tak ada yang bisa kita lakukan untuk Lana."
Sejenak Luhan menikmati genggaman tangan ibunya. Terasa begitu hangat dan menguatkan, namun saat mamanya mengatakan bahwa dia menyerah untuk melakukan sesuatu maka disaat yang sama Luhan perlahan melepas genggaman tangan ibunya "Apa maksud mama?"
"Satu-satunya harapan kita adalah pendonor untuk Lana. Lana bisa bertahan jika mendapatkan pendonor yang tepat. Mereka mengatakan donor sumsum tulang belakang akan membuat jaringan baru di tubuh Lana, jaringan yang bisa menggantikan jaringan rusak dan membentuk jaringan baru untuk adikmu. Tapi sayangnya sudah lima tahun kami mencari namun tak ada satupun pendonor yang cocok untuk adikmu." Katanya berujar lirih dan terdengar begitu putus asa. Sedikit menenangkan diri sebelum kembali berbicara pada putranya.
"Kami semua bahkan sudah mencobanya. Mama, Papa, Sehun Kai bahkan Chanyeol. kami semua sudah mencobanya. Namun tak ada satupun dari jaringan kami memiliki struktur yang sama dengan Lana. Tidak satupun temasuk Luna nak."
"Tapi aku belum mencobanya Ma."
"Dokter mengatakan hanya satu dari empat orang yang memiliki kemiripan struktur jaringan sumsum tulang belakang. Jika itu tidak ada pada Luna, maka kemungkinan untukmu sangat kecil nak."
Luhan tertawa getir mendengarnya. Dia menggeser kursi sebelum berdiri menatap kedua orang tuanya serta Luna "Jika Lana mengatakan dia ingin menikah. Maka dia akan menikah, tidak satu pun dari kita, dokter atau Tuhan sekalipun yang akan membuat keinginan Lana tidak terpenuhi. Jika susunan jaringanku juga tidak cocok. Maka aku akan mencari siapapun di luar sana yang bersedia mendonorkan jaringan sumsum tulang belakangnya untuk adikku. Aku akan melakukan apapun untuk menemukan pendonor yang cocok untuk adikku."
Luhan berjalan pergi menjauh dari keluarganya, berniat untuk melakukan usaha pertamanya sebelum kembali menoleh memberitahu kedua orang tuanya "Suka atau tidak aku akan tetap melakukan tesnya. Berdoalah agar setidaknya orang asing ini adalah harapan terakhir untuk putri Mama." Katanya begitu terluka menatap Jihyo. Kembali berjalan meninggalkan kafe sebelum seseorang berdiri tepat di depannya. Menghalangi jalan Luhan dengan wajah dingin khas miliknya.
"Sehun…"
"Aku perlu bicara denganmu."
.
.
.
.
.
.
Dan disinilah mereka. Di taman yang berada di rumah sakit, sedikit bersyukur karena cuaca begitu dingin hingga membuat taman itu terlihat sepi. Sehun sengaja membawa Luhan untuk bicara berdua dengannya. Karena entah kapan lagi dia bisa berbicara dengan pria yang pernah menjadi kekasihnya. Pria yang mungkin hingga saat ini masih menempati tempat khusus di hatinya.
Dan untuk Luhan dia begitu mengutuk rasa dingin yang ia rasakan. Bukan karena cuaca namun karena duduk disamping Sehun setelah empat tahun berlalu terasa sangat canggung dan asing untuknya. Ini bahkan terlihat seperti pertama kali keduanya bertemu di rumah sakit untuk mendapatkan vaksin beberapa tahun lalu.
Tak ada yang berbicara pada awalnya, sampai terdengar suara Sehun menghela dalam nafasnya dan mulai mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Bagaimana kabarmu?"
Luhan sangat menikmati suara lembut pria yang masih sangat ia cintai. Rasa hangatnya menjalar begitu cepat sampai ke hati Luhan, dia tidak berani menoleh tidak pula bergerak, hanya terus menyatukan kedua tangannya erat dan bersiap memberi jawaban untuk Sehun "Aku baik."
Kali ini Sehun tertawa kecil, sekilas menatap Luhan sebelum kembali menatap kosong pada fasilitas taman yang mulai tertutup salju "Syukurlah." Katanya begitu tulus. Membuat Luhan sedikit merasa tenang karena kecanggungan perlahan menghilang di antara mereka.
"Bagaimana kabarmu Sehun. Apa kau-…"
"Aku tidak ingin membuang waktu Lu. Aku hanya ingin mengatakan apa yang harus aku katakan."
"huh?"
"Aku mendengar semua percakapan yang kau lakukan dengan keluargamu. Aku mendengar sejak Luna memasuki kafe, aku yang memberitahunya bahwa kau kembali. Tapi diluar dugaan dia berteriak marah. Lana bahkan memintaku untuk memastikan Luna tidak berbicara kasar dan membuatmu pergi lagi."
"yeah… Luna terlihat marah dan kecewa padaku."
"Aku juga."
Luhan tertohok mendengar jawaban Sehun. Rasanya begitu sakit mengetahui bahwa Sehun sama sekali tidak melupakan kejadian empat tahun lalu. Dia bahkan berani menebak bahwa rasa kecewa Sehun lebih besar seiring berlalunya waktu "Sehunna."
"Lupakanlah. Aku hanya ingin kau memaklumi sikap Luna padamu. Dia sudah kehilangan kakak laki-lakinya. Dan tepat dua minggu yang lalu dokter juga mengatakan bahwa dia akan kehilangan saudara kembarnya dalam waktu tiga bulan."
Sehun mengusak kasar wajahnya sebelum sekilas menatap Luhan "Keluargamu sudah banyak menangis. Mereka sudah sangat kelelahan karena kondisi Lana. Terkadang Luna yang paling menderita. Dia sehat-..Tapi setiap Lana merasakan sakit dia juga ikut merasakan sakitnya. Sampai beberapa kali Lana mengatakan lelah dan tak mau berjuang jika Luna juga merasakan sakit. Ikatan batin mereka terlalu kuat."
"Kapan kau tahu adikku sakit?"
"Tepat saat mereka kembali ke Seoul. Dan bersamaan dengan kembalinya keluargamu. Kau yang menghilang. Aku bahkan tidak menyangka kau begitu tega melakukan ini semua padaku. Pada kami. Apa kau sangat membenci kami?"
"Sehun…"
"Sudahlah. Semuanya sudah berlalu."
"mhhh…"
Sehun diam-diam melihat Luhan kembali tertunduk. Entah sudah berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk menjadi orang asing. Entah sudah berapa lama dia tidak melihat wajah cantik pria mungilnya yang terlihat semakin sempurna seiring berlalunya waktu.
Bulu matanya yang lentik, mata rusanya yang selalu terlihat menggemaskan, bibir mungilnya serta semua yang berada pada Luhan-…Sehun merindukannya.
Namun setiap kali dia merindukan Luhan, maka disaat yang sama semua keputusan Luhan selalu mengingatkannya bahwa Luhan telah memutuskan untuk pergi. Memutuskan untuk menjadi orang asing untuknya dan semua keluarganya.
Keputusan yang paling menyakitkan adalah saat Luhan tak hanya memilih teman-temannya. Dia bahkan memutuskan untuk angkat kaki dari Seoul dan setelahnya-….Sehun benar-benar kehilangan pria mungilnya-..Luhannya.
Luhan yang tengah terisak di sampingnya bukan Luhan yang sama dengan Luhannya. Luhannya telah lama pergi dan Sehun harus kembali menerima kenyataan pahit. Diam-diam pula dia memalingkan wajahnya, menghapus air mata yang begitu berani keluar karena terlalu merindukan pria disampingnya. "ekhm…Jadi kau ingin melakukan tes donor untuk Lana?"
Sehun mencoba kembali pada topik. Membuat Luhan mengangguk namun tetap tak berniat menatap Sehun. "mhhh…"
"Baiklah. Aku yang akan mengurusnya. Kau hanya perlu melakukan tes darah sederhana. Hasilnya akan keluar setelah tiga jam. Jika hasilnya cocok dan aku sangat berharap hasilnya cocok. Kau akan melakukan tes lanjutan untuk memastikan jaringanmu cocok dengan jaringan Lana. Dokter harus memastikan bahwa saat pencangkokan, jaringanmu akan tumbuh menjadi jaringan baru di tubuh Lana. Apa kau siap?"
Luhan hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia bukannya tidak ingin bersuara, tapi seluruh suaranya tercekat di kerongkongan. Membuat hanya anggota tubuhnya yang bereaksi namun tidak suaranya.
Dan merasa Luhan sudah siap. Sehun tersenyum sekilas, berharap Luhan adalah keajaiban yang dicari Lana selama ini. Dia pun berdiri dari tempatnya kembali menatap Luhan sebelum menatap iba pada sosok mungilnya "Kami akan berada disana saat kau menjalani tes. Sampai nanti." Katanya berjalan pergi meninggalkan Luhan. Berniat mempersiapkan semuanya untuk tes yang akan dijalani Luhan sebelum suara Luhan kembali memanggilnya.
"Sehunna."
Sehun memejamkan matanya menyadari suara Luhan benar-benar tercekat nyaris tak bersuara. Luhan hanya akan seperti itu jika dia merasa kesakitan, jadi saat dia memanggilnya dengan tercekat itu artinya Luhan sedang kesakitan. "Ada apa?"
Sehun berusaha tidak terlalu menunjukkan rasa pedulinya, hanya menatap sosok yang kini memandangnya sendu seolah ingin menangis dan tidak ingin ditinggalkan.
"aku tahu-…ekhm..Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan hal ini. Tapi Kai bilang kau akan menikah. Benarkah?-…Maksudku apa kau-…"
"hmm… Aku akan menikah. Dia seorang gadis yang kini aku cintai."
Luhan terdiam saat Sehun dengan jelas mengatakan kebenarannya. Matanya begitu panas namun buru-buru ia memalingkan wajahnya. Tidak sanggup melihat Sehun namun tetap memberikan jawabannya "ah-… Jadi benar. Baiklah. Sampai nanti."
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana rasanya saat pisau dihujam tajam tepat di dadamu. Rasanya sangat menyakitkan, seluruh tubuhnya lemas dengan pandangan yang begitu kabur. Dia tidak lagi menatap Sehun hanya kembali menunduk dan menahan sekuat tenaga untuk tidak terisak.
"Sampai nanti."
Luhan menutup kencang mulutnya. Semua ini terlalu banyak untuk ia ketahui, terlalu menyakitkan untuk ia rasakan. Seolah hukuman ini akhirnya ia rasakan. Hukuman saat mengabaikan keluarga yang kau miliki kini telah ia rasakan.
Dan saat sosok Sehun semakin menghilang, maka saat itu pula dia membuka mulutnya. Mengeluarkan rasa sesak yang begitu membuatnya kesulitan bernafas.
"haaaah~….akhh…sial kenapa sakit sekali? Aku-…Akhhh..argghh!..hksss."
Luhan terisak kencang di tengah turunnya salju, berharap tak ada satupun orang yang melihat betapa menyedihkan dia saat ini. Dari semua hal yang terjadi. Sehun yang paling banyak membuatnya begitu menderita, entah doa macam apa yang Sehun ucapkan pada Tuhan. Yang jelas Luhan seperti mendapatkan balasannya. Rasanya begitu sakit sampai rasanya kau memohon untuk mati dalam keadaan seperti ini.
"Sehun kenapa kau-…hkssss! Argghhh!"
Dan tak jauh dari tempatnya. Sehun melihat bagaimana Luhan mengatasi rasa sakitnya disana, dia harusnya senang saat melihat Luhan terluka. Senang karena pada akhirnya dia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri betapa hancur Luhan setelah membuatnya hancur tak tersisa. Dia memaksakan senyun namun hanya air mata yang terus membasahi pipinya. Entah kenapa hatinya terus menjerit untuk berhenti memberikan Luhan rasa sakit. Dia ingin tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa Sehun lakukan hanya membiarkan Luhan merasakan betapa pedih hidupnya selama ini.
"Rasa sakit yang kita rasakan kini sama besar Lu."
Sehun menatap pedih pada Luhan. Menghapus cepat air matanya sebelum melangkah pergi tak tahan melihat seseorang yang dulu sangat ia cintai sedang kesakitan di depan kedua matanya. Bukan dia yang memulai semua mimpi buruk ini. Luhan yang memulainya. Luhan yang memutuskan meninggalkan dirinya lebih dulu. Tapi kenapa dia baru merasakan sakitnya sekarang sementara rasa sakit yang lebih buruk Sehun rasakan setiap hari.
Mungkin memang benar akhirnya akan seperti ini. Akhir terbaik untuk teman kecil yang saling mencintai adalah menjadi orang asing yang tidak mungkin bisa bersama-...selamanya. .
.
.
tobecontinued…
.
.
Terlalu banyak yang harus di selesaikan T,T.
klo udah gini pasti banyak yang minta end yg tragis / gue juga tergoda bgt buat end yang ngeselin /
.
eennnnnnn
.
Yesss…gue belum rela ngeluarin cewe yang kalian bilang Irene. Bisa aja Sehun canda doang yekaan…
.
Btw ini sebenernya 16 k. Tapi suer kepanjangan dan kepala gue mulai panas. Jadi sisanya hari rabu ya? RABU? Iya rabu ini kok. Gue tinggal nulis klosing dan biar ga enam belas K juga.
.
Key…happy reading review….
Ketemu di rabu. Di note ya ;p
