21
-Cho Kyuhyun-
Aku tersenyum melihatnya menatapku dengan wajah datar yang entah kenapa sangat aku suka. Dia telah mengambil semua perhatian entah sejak kapan. Aku merasa nyaman dengan keberadaannya yang justru mengancam jiwaku. Ah, kejam aku sebut seperti itu, tapi itulah yang sebenarnya. Gadis berkulit pucat, melebihi pucat kulitku, rambut ikal panjang berwarna hitam legam, dan pkaian yang tak pernah brganti.
Bukan tipeku, tapi aku telah jatuh cinta. Kukatakan sekali lagi. Aku-jatuh-cinta, pada gadis ini. Gadis beraura dingin yang datang dari…..mana? entahlah. Dia utusan Tuhan yang menjemput jiwaku.
"kami tidak mencintai," ucapnya datar. Dan senyumku semakin lebar mendengarnya menegaskan bahwa 'dia' tidak mencintai. Dugaanku benar, dia mendengar apa yang aku bisikkan kepada oemmaku.
"aku tidak peduli. Hey, besok saat matahari muncul aku sudah harus pergi. Tidakkah kau merasa aku boleh melakukan apapun yang aku suka? Termasuk…mencintai?"
Dia tidak langsung menjawab. Wajahnya masih datar tapi aku tahu dia berfikir atau tidak peduli?
"apa yang kau inginkan?"
Aku hampir melompat dari ranjangku dan memeluknya kalau aku tidak merasa sangat lemas. Sungguh untuk duduk saja aku harus dibantu. Untuk bicarapun aku harus menghemat tenagaku. Tapi bagaimana bisa aku tidak mengungkapakan perasaanku padanya. Jika mengingat besok aku akan mati. Mati.
"bisakah kau membuatku sehat dalam sehari ini? Lalu kita lakukan kencan sampai batas waktuku tiba?"
Ekspresinya tidak banyak berubah. Dia hanya mengatupkan mulutnya lebih rapat dan berkedip sekali. Dia tidak mau? Oke ini memang permintaan konyol, sangat konyol. Ah apa aku terlalu kebanyakan menonton drama atau terlalu banyak drakor romance yang aku perankan hingga aku bisa memikirkan hal konyol sekaligus luar biasa di penghujung hidupku pada makhluk yang akan menarik jiwaku keluar?
Tidak perdulu apapun itu, dan kekonyolan apa yang aku harapkan. Aku hanya berusaha menikmati hidup dan mencintai dengan orang yang tepat. Dia bukan gadis yang tepat tapi dia gadis yang telah berhasil merebut seluruh hatiku. Jadi apa salahnya jika aku meminta hal yang mudah untuknya. Dia harus mengabulkan keinginanku. Harus.
Tanpa sadar aku berdo'a terus dalam hati, menunggu jawabannya.
