Empat hari setelah Hinata mendapatkan teman e-mail, Hinata kembali dikejutkan oleh teriakan Ino.

"Hei, kalian lihat! Sepertinya lampionku sudah ditemukan oleh seseorang! Ada e-mail masuk nih!"

Bukannya ingin merahasiakannya, hanya saja Hinata tidak ingin mereka tahu kalau teman e-mailnya adalah Naruto. Hinata hanya ingin menyimpan rahasia ini sendiri tanpa ada yang mengetahuinya. Salah satunya, supaya harinya tidak dipenuhi keributan akan berbagai pertanyaan yang sudah pasti dikeluarkan oleh Ino.

Menatap ke arah Ino, Sakura bertanya. "Benarkah?" serunya dan meminum jus kotaknya. Baru balik ke kelas karena baru saja ke toilet, Ino telah dihebohkan oleh e-mail masuk tersebut.

"Dia e-mail apa?" tanya Hinata penasaran. Kalau Naruto 'kan, yang dituliskannya dahulu adalah kata 'halo' dengan tanda tanya disampingnya. Jadi Hinata penasaran apakah setiap orang yang baru memulai percakapan akan berkata halo atau tidak.

"Kamu yang menulis surat itu? Kenapa menuliskan alamat e-mail ke benda seperti itu? Kalau orang jahat yang menemukannya 'kan bisa berbahaya, bisa disalahgunakan..." wajah ceria Ino langsung murung seketika dikala membaca e-mail tersebut. Padahal tadi Ino sudah sangat bersemangat di toilet sejak ada e-mail masuk yang tidak dikenalnya dan sengaja mau membacanya bersama dengan temannya.

Tapi tahunya, dikiranya Ino akan berbunga-bunga, ternyata malah menurunkan sudut bibirnya. "Jangan-jangan orangtua yang e-mail, semisal orangtua yang peduli pada anaknya." Ino menutup ponselnya dan menghela napasnya. Ia tidak peduli juga dengan siapa yang e-mail, tapi memang benar sih tidak seharusnya Ino menyebarkan alamat e-mailnya dengan sembarangan seperti itu. Tapi untungnya yang menemukannya adalah orang yang sepertinya baik hati mau memberitahukan kesalahan yang Ino lakukan.

"Tidak dibalas?" tanya Hinata kembali. Kalau Hinata sih pasti sudah akan langsung membalasnya karena dirinya terpengaruh oleh Ino yang dengan semangatnya berkata kalau hal ini akan menjadi hal yang menyenangkan.

"Benar juga ya. Aku akan balas terima kasih karena sudah mengingatkan." seru Ino kembali menyalakan ponselnya dan membalas e-mail orang tersebut.

"Sekalian berkenalan saja, tanya jenis kelamin, umur, dan tinggal di daerah mana. Biar tahu lampionmu sudah berkelana berapa jauh." usul Sakura. Mereka tidak boleh mengira bahwa orang tersebut adalah orang tua sebelum menanyakannya secara langsung.

Ino mengangguk dan menuliskan apa yang dikatakan oleh Sakura. Selesai mengetik, Ino meletakan ponselnya di atas meja dan menatapnya menunggu balasan yang datang. Hinata jadi teringat saat pertama kali ia mulai terbiasa balas kirim e-mail. Sampai-sampai Hinata melakukan hal yang sama seperti Ino, yaitu tidak melakukan apapun sampai balasannya tiba.

Lima menit berlalu, akhirnya datang juga balasan yang ditunggu-tunggu. "Katanya, dari Suna, laki-laki, tujuh belas tahun." wajah Ino kembali berseri dikala mengetahui jenis kelamin dan umurnya. Jangan-jangan kisah cinta Ino baru saja akan dimulai!

"Sesuai yang kau harapkan sih. Tapi Suna 'kan jauh. Hebat juga lampionmu bisa terbang sejauh itu." komentar Sakura. Jarak antara Konoha dan Suna memang lumayan jauh, jika menggunakan kereta, bisa membutuhkan waktu dua setengah jam.

"Iya ya. Kalau punyaku saja bisa sampai disana, bagaimana denganmu Hinata? Sudah ada yang e-mail kamu?" sembari meng'iya'kan kata-kata Sakura, Ino juga teringat kalau Hinata juga menuliskan alamat e-mailnya di lampion.

"Belum ada." Hinata memohon maaf dalam hatinya, bukan maksudnya berbohong, tapi Hinata hanya merahasiakannya saja. "Mungkin terjatuh di sungai atau mendarat di atas pohon." serunya lagi supaya tidak ada komentar berkepanjangan yang akan diterima olehnya.

"Begitu ya. Oh ya! Lalu ini harus kubalas apa?" tanya Ino setelah ia teringat bahwa e-mail barusan belum dibalas olehnya. Ino menatap layar ponselnya yang sudah pada tempat untuk membalas tapi belum tertulis kata apapun disana.

"Itu sih terserah kau." jawab Sakura. Ino yang sedang melakukan aktivitas e-mail jadi seharusnya dia yang memikirkan akan membalas apa jika mendapat balasannya.

"Baiklah, tapi aku tak mau cerita ke kalian ah kalau e-mailnya rahasia." Ino tersenyum singkat. Karena ini teman e-mail rahasia, jadi semua rahasia yang tidak bisa diceritakan, dapat diceritakan pada teman itu.

"Maaf saja ya, aku punya banyak rahasia yang tidak dapat kuceritakan pada kalian."

v(•o• My Baby Blue :

Second Life •o•)v

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

My Baby Blue : Second Life © Haruta

Genre : Romance & Friendship

Pairing : Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga

Rated : Teen

::

::

"Hinata, kenapa kau tidak pernah menghubungiku menggunakan e-mail? Aku jadi tidak tahu alamat e-mailmu 'kan?" saat istirahat, Naruto yang mampir ke kelas Hinata langsung membuat Hinata terkejut.

Setelah dipikir-pikir, benar juga ya. Pantas saja Naruto menanyakan alamat e-mailnya Hinata. Tapi jika diberitahukan, maka identitas Hinata akan ketahuan. Masa baru empat hari berjalan, tapi dirinya sudah tertebak? Oleh sebab itu, dengan seadanya Hinata menjawab "Lebih mudah menggunakan sms?" serunya dan diberikan anggukan oleh Naruto.

"Begitu ya, gunakan saja yang menurutmu mudah." serunya kemudian. Kebetulan pula Sakura dan Ino sedang ke kantin untuk membeli roti karena kebetulan mereka berdua tidak membawa bekal. Hinata yang diajak pun hanya menolak dan menunggu mereka di dalam kelas. Kebetulan lagi beberapa detik setelah itu Naruto datang dan menghampiri Hinata.

"Kenapa Naruto-kun menanyakan hal ini?" tidak biasanya Naruto bertanya hal seperti itu, oleh sebabnya itu membuat Hinata jadi penasaran. Kalau sudah bisa menghubungi menggunakan sms, untuk apa lagi menggunakan aplikasi lain seperti e-mail atau semacamnya? Hal itu malah akan membuat repot dan juga pusing.

"Ah tidak, sebenarnya tidak ada yang ingin kusembunyikan darimu." Naruto menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Hinata. "Baru-baru ini aku mendapat teman e-mail, dan sudah pasti itu e-mail dari anak sekolah ini karena aku mendapatkan alamatnya dari lampion yang saat valentine diterbangkan itu." jelasnya pada Hinata.

"Oh begitu.. Lalu?" walaupun sebenarnya tahu, tapi Hinata pura-pura tidak tahu. Seperti yang disepakatinya pada awal mendapat e-mail dari Naruto, ia tidak akan memberitahukan identitasnya kepada Naruto. Tapi jika secara tidak sengaja dirinya diketahui, mungkin itu diluar perkiraan.

"Lalu kami menjadi teman e-mail. Kami sering sekali kirim balas e-mail, kamu tidak keberatan 'kan?" Naruto menatap Hinata dengan tatapan lebih serius. Karena ini adalah masalah perasaan, oleh sebab itu Naruto lebih overprotektif pada Hinata. Mungkin maksud Naruto, ia hanya ingin mengetes perasaan Hinata padanya. Setelah menyadari perasaannya sendiri, Naruto sendiri tidak tahu bagaimana hal itu terjadi, ia jadi ingin lebih menunjukkan rasa sukanya walau dengan cara-cara yang kurang dipahami.

"Kenapa aku harus keberatan?"

Mendengar kata-kata itu, bukankah itu seakan Hinata mengatakan bahwa ia tidak menyukai Naruto? Naruto terkejut mendengarnya karena sepertinya Hinata biasa saja jika dirinya disibukkan oleh hal lain dan hal itu bisa membuang waktunya bersama dengan Hinata.

"Ka.. Kau mengizinkanku, Hinata?" Naruto membulatkan matanya, menggerakkan kepalanya kaku karena kata-kata itu terlalu mengejutkan baginya.

"Kenapa aku harus melarangmu?" Hinata bertanya dengan penuh tanda tanya. "Itu hak Naruto-kun untuk bersosialisasi dengan siapapun." serunya. Orang ingin bergaul dengan siapapun, itu hak milik diri sendiri. Tidak bisa orang lain melarang orang itu untuk berbicara ataupun berteman dengan seseorang. Tidak ada aturan yang mengatur bahwa berteman itu dilarang.

"Tapi teman e-mail ku perempuan lho! Panggilannya Laven, katanya sih singkatan dari lavender." lebih memberitahukan informasi tentang teman e-mailnya, Naruto berusaha supaya di wajah Hinata terlihat wajah cemburu walaupun hanya sedikit. Sedikit saja, tunjukkan rasa sukanya pada Naruto, Naruto hanya ingin melihat wajah bersemu merah Hinata.

"Begitu ya, tapi untuk apa Naruto-kun ceritakan padaku?"

Mendengar hal itu lagi, Naruto mulai merasa kesal. Masa Hinata tidak mengerti maksud dari Naruto menceritakan hal itu padanya? Naruto menghela napasnya. Kenapa Hinata harus polos seperti ini? Bukan polos, tapi kelewat polos! "Aa... Aku hanya ingin kamu tahu." Naruto benar-benar merasa kecewa setelahnya. Mungkin helaan napas sudah beberapa kali dihelakan olehnya.

"Begitu.."

Hinata yang seakan tidak peduli padanya itu membuat Naruto sedikit sedih. Setidaknya, seharusnya Hinata melarangnya untuk berhubungan dengan wanita lain. "Apa kamu tidak marah?" tanya Naruto. Menatap Hinata, Naruto ingin Hinata berkata 'jangan dekat dengan perempuan lain selain aku.' Tapi tidak mungkin ya Hinata mengatakan hal egois seperti itu.

"Untuk apa?" kalau ditanya seperti itu, hak apa yang dimiliki oleh Hinata untuk marah? Sepertinya tidak ada..

"Memangnya kamu tidak merasakan sesuatu?" Naruto bangkit dari kursinya, kini ia benar-benar merasa kesal. Ini benar-benar Hinata sama sekali tidak peka terhadap perasaannya.

"Merasakan apa?"

Semakin merasa kesal, rasanya urat Naruto sedikit terlihat. "Aku dapat teman e-mail seorang perempuan lho!" sedikit berteriak, emosi Naruto benar-benar terkuras.

"Lalu?"

"Ah..!" Naruto menggebrak meja Hinata. Tentu saja itu membuat Hinata terkejut. Baru kali ini Hinata melihat Naruto seperti itu. "Baiklah! Kau ini memang tidak mengerti aku Hinata! Lain kali pasti akan kubuat kau merasakan sesuatu karena aku berbuat begini!" dengan segera, Naruto berjalan dengan kecepatan tinggi keluar kelas. Meninggalkan Hinata yang sudah tersenyum-senyum kecil karenanya.

"Untuk apa aku merasakan sesuatu, teman e-mailnya 'kan aku." Hinata tertawa pelan. Melihat Naruto yang bertingkah seperti anak kecil, cukup membuat Hinata bahagia.

Sedangkan Sakura dan Ino yang baru kembali dari kantin hanya berjalan dengan bingung ke kursinya. Melihat Naruto yang keluar dari kelas dengan wajah kesal dan juga ngambek seperti tadi tentu membuat mereka berdua penasaran.

"Ada apa sih?" seru mereka berdua. Kalau Naruto sudah ke kelas mereka, sudah pasti tujuannya adalah bertemu dengan Hinata.

"Dia berbicara apa padamu sampai kesal seperti itu?" tanya Sakura dan duduk di kursinya. Begitu pula dengan Ino yang juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Sakura.

"Kesal? Kok aku melihatnya seperti ngambek ya?" seru Ino membuka plastik yang membungkus beberapa makanan yang ia beli di kantin dan mulai memakannya.

"Masa sih?" Sakura pun juga memulai memakan makanannya disusul Hinata yang sudah membuka kotak bekalnya.

"Memangnya kalian berbicara apa sih?" seru keduanya dan menatap Hinata secara bersamaan. Sepertinya mereka sudah tidak dapat menebak dan membuat mereka harus menanyakan hal itu langsung kepada orangnya.

"Um.. Tidak berbicara apapun kok." jawab Hinata dan terus melanjutkan aktivitas makannya dengan sangat santai.

Melihat itu, sudah jelas Sakura dan Ino tidak percaya. Naruto tidak biasanya seperti itu, jadi sudah pasti terjadi sesuatu antara Naruto dan Hinata. Tapi sayangnya Hinata tidak mau menceritakannya, ya apa boleh buat. Tidak mungkin mereka memaksa Hinata untuk mengatakannya.

"Ya sudahlah, aku makan saja." seru Ino tidak mau ambil pusing dan makan dengan tenang.

Cring..

"Eh? Suara apa itu? Kau dengar sesuatu?" tanya Sakura pada Ino. Sepertinya tadi ia mendengar suara seperti tongkat sihir yang diayunkan.

"Suara apa? Tidak tuh." jawab Ino tetap mengunyah makanannya dengan lahap.

"Maaf, itu ponselku." seru Hinata menghentikan makannya dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia membuka ponselnya dan melihat ternyata ada e-mail dari Naruto!

Hinata menatap Sakura dan Ino kemudian kembali menatap ponselnya. Berharap semoga mereka tidak penasaran akan apa yang baru saja mendatangi ponsel Hinata.

"Sms? Dari siapa?" tanya Ino. Belum sempat Hinata mencari alasan, Ino sudah bertanya duluan. Hinata jadi bingung harus menjawab apa.

"Kau jangan terlalu penasaran Ino. Paling dari ayahnya, benar tidak Hinata?" ucap Sakura dan bertanya pada Hinata untuk memastikan apakah kata-katanya benar atau tidak.

"Aa.. Iya! Dari ayah." seru Hinata meng'iya'kannya supaya masalah cepat terselesaikan dan tidak perlu bingung harus menjawab apa.

"Oh.. Sms apa memangnya?" tanya Ino kemudian. Tidak berhenti dengan menanyakan siapa orangnya, Ino kembali bertanya apa isi dari sms tersebut.

"Aa.. Jangan pulang terlalu malam, pulang sekolah langsung pulang ke rumah." jawab Hinata berbohong. Sebenarnya Hinata tidak tahan harus berbohong seperti ini, tapi apa boleh buat. Hinata tidak dapat melakukan hal yang lainnya supaya tidak ketahuan.

"Oh.. Memang sudah biasa sih." seru Sakura tidak mengherankan hal tersebut.

"Tapi tak terasa ya," menatap keluar jendela, Sakura sedikit menopang dagunya. "sebentar lagi kita akan menjadi kelas tiga." seru Sakura kemudian.

"Iya ya. Tidak terasa." Ino pun juga merasakan apa yang dirasakan oleh Sakura. Tidak menyangka, ya, tidak menyangka karena mereka sudah melewati waktu sebanyak ini untuk mencapai tingkat ini.

"Tapi.. Aku sedikit khawatir." kata-kata Hinata membuat Sakura dan Ino mengalihkan pandangannya pada Hinata. Menatap Hinata seakan bertanya apa yang dikhawatirkan oleh Hinata. "Kira-kira, apa aku akan sekelas dengan kalian lagi ya?" menutup bekalnya, Hinata sedikit merasa takut. Takut apabila jika ia berpisah dengan Sakura dan Ino, kira-kira akan jadi bagaimana kisah sekolahnya..?

"Hm.." Sakura dan Ino saling berpandangan. Jadi itu hal yang dikhawatirkan oleh Hinata? Beberapa detik kemudian mereka pun tersenyum. "Kalau sudah takdir, pasti kita akan sekelas." seru Ino memegang pundak Hinata.

"Iya, sudah pasti begitu." ucap Sakura setelahnya. Kalau sudah ditakdirkan, itu pasti bukan kebetulan 'kan?

"Takdir ya.. Baiklah, aku mengerti." seru Hinata tersenyum. Alangkah baiknya jika takdir tetap menyatukan mereka.

::

::

Hari demi hari berlalu, valenine, white day, dan musim dingin pun telah berganti dengan musim semi. Hari ini, tepat dengan hari kenaikan kelas, para murid baru tengah berdiri di aula untuk menunggu pengumuman dari guru.

"Wah~ Banyak murid baru!" Ino melihat sekelilingnya dengan penuh semangat. Hari ini adalah hari pertama dimana mereka menjadi murid kelas tiga.

Dan disini, dimana semuanya bermula, Hinata tengah menatap papan pengumuman pembagian kelas. "Sekelas lagi dengan Sakura-chan dan Ino-chan. Syukurlah.." pikir Hinata bahagia. Sebelum masuk sekolah, Hinata sudah berdebar soal pembagian kelas. Hinata takut kalau tidak sekelas lagi dengan mereka. Tapi syukurlah apa yang Hinata khawatirkan tidak terjadi. Hinata jadi mengingat pembicaraan mereka tentang pembagian kelas.

"Hinata~." mendengar namanya dipanggil, Hinata menengokkan kepalanya. Disana ia melihat Sakura dan Ino yang sedang berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan mereka.

"Tahun ini, mohon bantuannya." Hinata membungkukkan badannya. Semoga saja mereka masih tetap mau bersama dengan Hinata yang selalu merepotkan mereka.

"Mohon bantuannya?" tanya Ino terbingung-bingung.

"Tahun ini kita bertiga sekelas lagi." Hinata mengangkat badannya dan tersenyum setelahnya.

"Benarkah?" mata Ino membulat. "Asyik! Takdir kita bagus nih!" serunya dan memeluk Hinata. Sedangkan Sakura yang sedang asyik melihat papan pengumuman, hanya membiarkan Ino melakukan hal sesukanya.

"Sekelas dengan Suke-chan." selain senang karena sekelas dengan Hinata dan Ino, Sakura juga senang karena dirinya bisa sekelas dengan Sasuke.

"Lalu, sekelas dengan Naruto tidak?" tanya Ino pada Hinata. Kalau sekelas, Hinata dan Naruto 'kan bisa menjadi semakin dekat, apalagi jika mereka duduk bersebelahan.

"Tidak tahu, aku hanya melihat nama kalian saja." jawab Hinata. Tapi jika benar-benar sekelas, kebahagiaan Hinata akan bertambah karena semakin dekat dengan orang yang disukainya.

"Ada, Naruto juga di kelas 3-1." Sakura yang baru saja selesai melihat papan pengumuman, memberitahukan hal tersebut kepada Hinata.

Hal itu tentu membuat Hinata bahagia, Hinata jadi tidak sabar dapat berbincang setiap saat dengan Naruto. Tidak seperti disaat mereka pisah kelas dan hanya di waktu tertentu saja Hinata dapat melakukan hal itu.

"Bagus dong Hinata!" Ino menatap Hinata dan ikut bahagia karenanya. Hinata pun hanya mengangguk membalas kata-kata dari Ino.

"Ya sudah, kita langsung masuk ke kelas saja yuk." ajak Sakura dan diberi anggukan oleh mereka berdua.

"Oh ya, ngomong-ngomong sepupumu lulus ya." seru Ino kemudian. Sepupu Hinata, Neji Hyuuga tahun lalu sudah lulus dan keluar dari sekolah mereka. Memang Ino jarang melihatnya, tapi ia tahu mengenai hal itu karena terkadang Hinata menceritakan soal sepupunya.

"Iya, sekarang dia sedang kuliah sambil bekerja membantu ayahku." jawab Hinata.

"Enak ya sudah lulus. Aku juga mau cepat-cepat lulus dan bekerja deh." Ino menatap langit dengan tatapan penuh harap. Ino ingin sekali lepas dari belenggu sekolah yang selama ini sudah mengurungnya. Tapi bukan berarti Ino harus bermalas-malasan karena perasaan bosannya.

"Iya, aku juga." ucap Sakura menyetujui kata-kata Ino. Tapi waktu yang harus ditempuh oleh mereka masih lama, satu tahun lagi maka dunia persekolahan mereka akan berakhir. Tapi setelah lulus, barulah perjalanan yang sebenarnya dari kehidupan akan mereka tempuh.

"Tapi aku jadi takut kalau sudah lulus." mendengar penuturan Ino, Hinata dan Sakura menengok ke arah Ino secara bersamaan.

"Kalian tidak tahu ya? Setelah lulus, kita harus berjuang sendiri lho. Tidak boleh bergantung pada orangtua lagi. Sedikit mengerikan ya. Tapi aku akan berusaha." dan setelahnya, pembicaraan antara mereka berakhir.

Sesaat kemudian, sampailah mereka pada kelas barunya. Membuka pintu kelas tersebut, mengucapkan selamat pagi pada anak-anak yang lainnya, dan memilih tempat duduk sendiri karena belum ada rotasi tempat duduk.

"Duduk dekat jendela lagi~ Asyik~." Ino meletakan tasnya dan segera duduk di tempat barunya yang kebetulan belum ada yang menempati. Menatap kelas barunya dan tersenyum. "Senangnya sekelas dengan kalian lagi." serunya kemudian dan merenggangkan badannya.

"Iya, aku juga senang." seru Hinata dan duduk di bangku belakang Ino. Tempat kesukaan Hinata adalah dekat dengan jendela, jadi bisa merasakan angin sejuk yang kapan saja dapat melewati jendela.

"Kalau begitu aku sebelah Ino atau sebelah Hinata ya." ucap Sakura kemudian. Sakura berpikir sebentar sebelum akhirnya memutuskan. "Baiklah! Aku akan duduk di sebelah Hi.." serunya dan bersiap meletakan tasnya.

"Aku disini." dan duduklah dia di tempat yang dia inginkan.

Disaat ingin meletakan tasnya, tiba-tiba ada yang mengambil kursi yang ingin diduduki Sakura. "Naruto! Jangan rebut kursi pilihanku!" Sakura sedikit berteriak karena kesal tiba-tiba Naruto datang dan langsung menduduki kursi yang tepat bersebelahan dengan Hinata.

"Siapa cepat, dia dapat." seru Naruto kemudian.

"Huh. Ya sudah. Aku sebelah Ino saja! Dasar tukang rebut posisi!" Sakura pun meletakan tasnya di meja depan Naruto dan duduk dengan perasaan kesal.

"Hinata.." panggil Naruto dikala keadaan sudah kembali normal.

"Ya?" Hinata yang baru terkejut karena tiba-tiba Naruto datang pun hanya menjawab panggilan Naruto secara singkat.

"Tahun ini.." Naruto berbalik menghadap Hinata. "Mohon bantuannya ya." serunya dan tersenyum lebar. Hinata hanya mengangguk dan tersenyum kecil melihatnya, Hinata sangat senang.

"Ehem.. Jangan lupakan kami." Ino yang kesal karena sepertinya mereka berdua melupakan Ino dan Sakura langsung berbalik badan dan berkata pada Naruto.

"Hm.." sedikit berpikir. "Baiklah." Naruto membalas kata-kata Ino.

"Kau ini bikin kesal ya." kembali berbalik badan, Ino membisikan sepatah kata pada Sakura.

"Ya, ayo." seru Sakura dan bangkit dari kursinya.

"Mau kemana?" Hinata yang melihat Sakura dan Ino berdiri langsung menanyakan kemana mereka akan pergi. Kenapa mereka tidak mengajak Hinata dan sebelumnya mereka berbisik? Hinata jadi merasa tersingkirkan.

"Mau ke toilet. Kalian berbincang dulu saja." jawab Ino dan segera menarik tangan Sakura supaya mereka segera keluar dari kelas tersebut dan dapat meninggalkan mereka bersama.

"Berjuanglah Hinata." seru Sakura pelan sebelum meninggalkan Hinata.

Beberapa waktu kemudian, Sakura dan Ino sudah tidak terlihat lagi. "Um.." sambil menatap ke depan, Naruto bingung mau berbicara apa dengan Hinata. Ditinggal berdua saja kok Naruto merasa malu ya? Padahal sebelumnya dengan jarak seperti ini, Naruto tidak merasakan malu seperti sekarang.

Apa karena sekarang mereka sudah menjadi satu kelas? Jadi yang awalnya terhalang oleh kelas, jarak mereka telah dipersempit dari sebelumnya. Tidak ada penghalang lagi yang menghalangi, apalagi sekarang mereka dapat duduk bersebelahan.

"Um.. Naruto-kun." seru Hinata.

"Ya?" tanggap Naruto dan menghadap ke arah Hinata.

"Aa.. Tidak jadi." seru Hinata dan berbalik menghadap ke arah jendela.

Naruto hanya terheran karena melihat tingkah Hinata. Akhirnya Naruto memutuskan untuk mencari bahan pembicaraan yang baru. Sambil berpikir, Naruto memanggil Hinata. "Hinata." serunya dan membuat Hinata berbalik menghadap Naruto.

"Kenapa Naruto-kun?" tanya Hinata. Ditinggal berdua seperti ini membuat Hinata malu. Apalagi jika sudah sekelas, mereka akan lebih sering berbicara. Seharusnya Hinata merasa senang, tapi sekarang Hinata malah bingung apa yang harus dilakukan olehnya.

"Daripada berdiam diri di kelas, bagaimana kalau kita keliling sekolah melihat murid-murid baru? Kebetulan masih ada setengah jam lagi, teme sepertinya juga belum tiba." Naruto bangkit dari duduknya dan menatap Hinata. Berharap Hinata menganggukkan kepalanya dan mau berkeliling bersama dengan Naruto.

"Baiklah." seru Hinata dan berdiri.

"Bagus. Kalau begitu kita mulai dari gerbang sekolah." usul Naruto.

"Gerbang sekolah? Kenapa tidak aula sekolah?" tanya Hinata. Memang sih gerbang sekolah merupakan salah satu tempat murid-murid untuk masuk, tapi bukankah di aula merupakan tempat berkumpulnya murid baru? Dari pada ke gerbang, akan lebih baik ke aula jika ingin berkenalan dengan murid baru.

"Hm.. Benar juga ya. Baiklah, kita jalan ke aula saja." seru Naruto menyetujui usul dari Hinata dan segera mengajak Hinata keluar dari kelas tersebut.

"Tapi bagaimana dengan Sakura-chan dan Ino-chan? Nanti mereka bingung kita pergi kemana." sergah Hinata khawatir. Memang benar sebelumnya ia sudah menyetujui usul Naruto untuk berkeliling, tapi ia juga harus memikirkan teman-temannya yang akan bingung jika mereka menghilang secara tiba-tiba.

"Sms saja mereka." jawab Naruto singkat.

"Benar juga ya. Baiklah." Hinata pun mengeluarkan ponselnya dan segera memberitahukan kepada Sakura dan Ino. Setelah selesai, mereka pun akhirnya keluar dari kelas tersebut.

"Kita langsung saja ke aula yuk." ajak Naruto.

"Iya."

"Hm.. Sudah musim semi nih Hinata. Bunganya cantik ya." Naruto menatap taman sekolah disaat mereka ingin berjalan menuju aula.

"Iya." jawab Hinata singkat.

"Bagaimana jika kamu melukisnya?" seru Naruto lagi. Saat pertama kali bertemu, pasti yang dilukis Hinata selalu saja langit dan awan.

"Aku hanya ingin melukis langit." jawab Hinata. Entah kenapa Hinata hanya ingin melukis langit, tidak yang lain, maupun manusia. Sejak dulu Naruto selalu bingung kenapa hanya itu. Walaupun sudah mendengar katanya bentuknya berbeda, tapi setidaknya, tidak harus selalu itu 'kan?

"Karena apa?" Naruto bertanya kembali. Sudah tahu alasannya, tetapi Naruto hanya ingin menerima jawaban yang lebih pasti lagi.

"Bentuknya selalu berbeda."

"Bukan karena itu. Ada alasan lain 'kan?" Naruto menatap Hinata. Pasti bukan itu saja alasannya, pasti ada alasan lain disana. Selain karena bentuknya.. Pasti ada yang lain. "Ada sesuatu dengan langit 'kan?" Naruto memegang pundak Hinata dengan kedua tangannya. Menatap Hinata dengan tatapan serius. Tidak mau melukis manusia ataupun yang lainnya selain langit, pasti ada yang disembunyikan.

"Apa alasannya?"

"Aa.." Hinata menatap Naruto dengan tatapan tidak enak. Melihat Naruto yang seperti itu, Hinata jadi takut. Cengkraman tangan Naruto, terasa sedikit sakit.

"Aku.. Aku.." Hinata menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa suasana yang awalnya nyaman menjadi seperti ini?

"Jawab aku Hinata."

Kehidupan itu memang selalu tidak terduga, apa yang terjadi, pasti tidak pernah disangka-sangka.

"Menyingkirlah darinya dasar orang mesum!"

Ya, pertemuan itu memang selalu mengejutkan.

BRUAK!

Dengan tendangan yang luar biasa, Naruto merasa dirinya terpental dari suatu sisi ke sisi lainnya. Dengan terkejut, Naruto berdiri dari jatuhnya. "Se.. Sebenarnya apa yang terjadih sih?" sedikit memegang kepalanya yang sakit, Naruto menatap Hinata yang khawatir akan suatu hal. Kemudian Naruto menyadari keberadaan anak yang berada di samping Hinata.

'Anak baru kah?' pikirnya. 'Tapi, kok rasanya.. Sedikit mirip dengan Hinata.'

"Na.. Naruto-kun.. Kau baik-baik saja?" mau mendekat ke arah Naruto, Hinata malah sudah ditahan oleh anak itu untuk mendekatinya. Sebenarnya, siapa sih anak yang memberikan salam perkenalan pada Naruto dengan cara seperti itu?

"NARUTO UZUMAKI!" menunjuk Naruto, anak itu menatap Naruto dengan tatapan penuh kesal. Sedangkan Naruto, ia hanya bingung dan seharusnya ia yang merasa kesal karena diperlakukan seperti itu oleh adik kelas.

"Pokoknya aku tak akan merestui hubunganmu dengan kakakku!"

Terkejut, Naruto menatap anak yang menendangnya. 'Jadi.. Ini Hanabi?' sepertinya, akan ada berbagai macam hal yang terjadi.

To Be Continue

(Ch. 21, end)

Yosha! Diriku sekarang banyak waktu senggang nih. Sekolah sekarang seminggu tiga hari saja.. Jadi, diriku membuat keputusan akan update seminggu sekali. Tapi kalau telat sedikit, itu berarti diriku tak memiliki kouta ya~ #plak

Akhir-akhir ini diriku sedang bingung. Kalau diriku sudah lulus, diriku mau kerja, tapi masih bingung mau dimana~ Doakan semoga diriku cepat mendapatkan tempat kerja ya~ Kemudian, setelah benar-benar lulus, kehidupanku yang sebenarnya baru saja akan dimulai.

Kalau sudah menapaki masa-masa seperti itu, rasanya mengerikan ya. Banyak pikiran yang melanda bagaimana kita akan melanjutkan kehidupan. Tapi yah.. Semoga saja jalan yang kulalui akan menjadi jalan yang baik.

Cerita sedikit tentang impianku, aku ingin kuliah jurusan sastra Jepang. Dan jika sudah lulus, aku ingin pergi merantau ke Jepang untuk menempuh hidup dan bekerja disana. Keinginan yang susah ya? Tapi kalau aku berusaha, kuharap aku dapat mencapainya dan benar-benar dapat pergi ke sana. Semoga saja tercapai, doakan saja ya..

Kemudian membahas soal chapter ini, aku sedikit bingung bagaimana cara mendeskripsikan pertemuan Hanabi dengan Naruto. Yah.. Jadi terasa janggal deh saat bagian itu. Lalu kenapa kubuat Hanabi mengikuti karate? Kalian ingat saat kehidupan pertama? Naruto ikut bela diri itu juga 'kan? Kalau perempuan dengan tenaga kuat itu menyenangkan ya, aku ingin punya tenaga yang besar deh #ngaco

Bukan tenaga besar sih, tapi lebih tepatnya kekuatan atau kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Keinginan lainku, aku ingin ikut bela diri. Pernah sih sekali ikut, tapi baru satu kali naik sabuk, berhenti. Alasannya? Aku tidak tahu #plak

Alasan lainnya, punya sedikit anemia itu tidak menyenangkan ya. Baru duduk pada posisi tertentu, saat berdiri kepala langsung pusing dan pandangan menghitam. Pernah baca komik, anemia bisa diatasi dengan meminum minuman hangat. Mungkin bagi pembaca sekalian yang memiliki anemia, silahkan dicoba cara itu. Kalau berhasil, katakan padaku ya, soalnya diriku tak pernah mencobanya #jduk

Jadi kebanyakan bicara nih. Kalau begitu, diriku balas review dulu saja ya..

::

::

virgo shaka mia : pada dasarnya Naruto emang orang yang tak peka~ Yah.. Begitulah.. Iya, arigatou..

Melda Heartfillia : haha, pada dasarnya diriku memang sedikit jahat.. #plak arigatou, diriku juga tak bisa berkata apa-apa lagi #jduk

Sena Ayuki : iya, dapat dikatakan begitu.. Iya, diriku saja baca komenmu tentang SasuSaku juga membuat diriku senyum sendiri.. Hoho, arigatou.. Ya, ini sudah berjumpa~

DrunKenMist99, azarya. arya. 7, flame. arms : arigatou, ini udah kok..

rzkamalia1102 : arigatou~ nanti ada cerita sendiri buat Ino.. Tapi settingnya tetap setting cerita ini~ Jadi intinya, Setelah NaruHina selesai, berikutnya giliran Ino tapi di cerita yang berbeda~ #plak

yogi. sbatanghari : ini udah, arigatou~ diriku semangat kok~

Haruna Hajime : ya, Naruto beruntung.. Nanti akan ada ff tersendirinya. SaIno juga akan ada ff sendirinya, arigatou..

::

Oh ya, sebelum berpisah, diriku ingin bercerita. Kemarin diriku dan saudaraku berbicara. Jadi begini kalau di deskripsikan dengan tulisan..

"Kehidupan itu sulit ya." seru Haruta menatap langit-langit ruangan dan berbaring pada sofa. Memikirkan soal kehidupan, Haruta pun hanya menghela napas.

"Iya." dengan cepat, saudara dari Haruta berkomentar. Dengan memeluk erat hewan yang berspesies sama seperti 'Akamaru', pembicaraan di antara mereka berakhir.

Yah.. Lupakan saja yang diatas. Kalau begitu berjumpa di chapter berikutnya ya~ Dah~

::

Spesial Thanks To :

dylanNHL, virgo shaka mia, Melda Heartfillia, Sena Ayuki, DrunKenMist99, azarya. arya. 7, rzkamalia1102, yogi. sbatanghari, Haruna Hajime, flame. arms

Haruta Hajime

My Baby Blue : Second Life Ch. 21

Jumat, 24 April 2015