Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Bayi itu, ada tidaknya... akan selalu menjadi benang merah di antara kita."
Chapter 19
.
"Byun Baekhyun..., benar aku pernah berkencan dengannya. Dan benar, aku yang menghamilinya. Aku... aku adalah ayah dari bayi itu, dan bayi itu adalah darah dagingku."
(+244, -32) Cih, menjijikkan sendiri orang ini. Apa dia benar-benar tidak tahu malu?
(+92, -2) Sejak Sixey pertama debut, aku sudah memilihmu sebagai biasku, Oppa. Aku sudah setia menjadi fans selama bertahun-tahun, dan ini yang kudapatkan? Aku benar-benar kecewa.
(+192) Jujur, aku benar-benar kaget dan kecewa mendengar kalimat itu dari mulut Oppa sendiri. Tapi aku juga bangga, Oppa mengakui kesalahannya dan mau bertanggung jawab. Dan jujur saja, pengakuannya manis sekali. Aku berharap Chanyeol Oppa dan Baekhyun eonni bisa bahagia bersama.
(+23) Idola sampah!
'ㅅ'
BAMMM!
Kim Yonghwan, sang wakil CEO melempar kasar majalah dengan headline yang menampilkan wajah Chanyeol di sampulnya ke atas meja dan mengusap wajah. Pria yang dimaksud duduk di seberang meja, menatapnya menunggu dan seolah tanpa rasa bersalah.
"Kau tahu kesalahan besar apa yang telah kau perbuat?!" Geramnya, tidak mampu menahan amarah.
"Aku tahu, Sajangnim. Aku telah memikirkannya dengan matang."
Ada tawa sumbang, penuh sarkasme yang keluar dari bibir pria empat puluh delapan tahun tersebut. "Kau pikir kau sudah memikirkannya dengan matang? Chanyeol, kau itu benar-benar bodoh! Sangat bodoh! Kau sudah kehilangan karirmu dan aku bahkan tidak bisa membantu lagi!"
"Aku tahu. Dan aku tidak menyesalinya." Kalimat Chanyeol, ototmatis membuat sang wakil CEO menatapnya terperangah. Pria itu menatap Yonghwan tepat di mata, tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Ia melanjutkan ucapannya dengan mantap. "Satu-satunya hal yang kusesali adalah kenapa aku tidak melakukannya sejak awal. Jika saja aku lebih berani, aku tidak akan kehilangan sebanyak ini."
"Apa kau mengerti bahkan kau mungkin kehilangan karirmu sekarang, Park?"
"Ya."
Ada jeda. Chanyeol menghela napas berat, seolah paru-parunya sesak dan kerongkongannya tersumbat.
"Sajangnim, aku amat sangat menghormatimu. Aku mencintai musik dan karirku, sangat. Lebih dari separuh hidup, aku bermimpi dan berjuang untuk berada dalam posisiku sekarang. Tapi Byun Baekhyun hadir. Dan aku tidak menyadarinya, tapi, impianku berubah. Aku mencintai musik, tapi, terkenal atau tidak, menjadi Park Chanyeol dari grup Sixey di bawah naungan agensi besar milikmu atau tidak, aku masih bisa melakukannya. Aku masih bisa memulai semuanya dari awal, dari titik nol. Sixey akan bertahan tanpaku. Agensi ini akan terus berkembang tanpaku. Seiring waktu, masyarakat akan lupa soal ini dan semua orang akan baik-baik saja tanpaku. Tapi Byun Baekhyun, hanya ada satu di dunia ini. Dan aku tidak mungkin menggantikannya dengan siapapun."
Hening. Lalu terdengar bunyi kursi yang ditarik, dan Chanyeol sudah berdiri di sana. Sambil tersenyum seolah tanpa beban, ia membungkuk pada sang wakil CEO.
"Terimakasih telah membantuku dan bersabar denganku selama ini, Hyung. Aku sangat berterimakasih dan tidak akan melupakan kebaikanmu."
Dengan itu, ia meninggalkan ruangan. Meninggalkan sang wakil CEO yang dibekap kebingungan, serta ketakjuban.
'ㅅ'
"Kau tidak pergi, kan?"
Jongin menyambut. Chanyeol bahkan belum menapakkan kaki di dalam asrama, tapi semua anggota Sixey telah berkumpul di ruang depan. Semuanya menatap Chanyeol, dan tiba-tiba saja, atmosfir hangat yang selalu ia rasakan tiap kali berada di asrama menguap. Ada begitu banyak kenangan di tempat itu. Ada kesedihan yang menggantung di udara.
"Hyung," pria berkulit kecokelatan itu mendesak lagi, mendapati kediaman sang rapper. "Kau tidak akan pergi, kan? Kau masih anggota Sixey!"
"Maaf, Jongin. Tapi aku harus."
"Hyung! Kita sudah bersama selama enam tahun! Kau mau meninggalkan kami begitu saja?! Kau lupa bahwa kita ini saudara?! Kita ini keluarga! Kau mau meninggalkan keluargamu begitu saja!"
Jongin berteriak, tepat di wajah Chanyeol. Matanya memerah dan kabur, dan mungkin saja ia sudah menghambur pada pria itu, menonjoknya, memeluknya, entah, karena Sehun telah lebih dulu mencegat, mencegah pria itu melakukan apa-apa.
"Jongin," Kris menegur. Sang leader bangkit dari sofa, diikuti setiap pasang mata yang mengawasi setiap pergerakannya. Ia menepuk Jongin di pundak, mencoba menenangkan dancer utama mereka sementara matanya terkunci pada Chanyeol.
Tinggi mereka yang hampir sama membuat keduanya seimbang. Saling menatap. Dan Sehun, atau siapapun yang berada di dekat situ berani bersumpah betapa intens atmosfir yang tercipta.
Lalu, Kris angkat bicara lebih dahulu. "Kau sudah memikirkannya? Kau tahu, kami marah. Kami marah sekali pada apa yang kau lakukan. Tapi, kau adalah Chanyeol kami. Chanyeol, tinggallah."
"Kami mencintaimu," Yixing menambahkan di belakang, dan beberapa suara lain menimpali. "Kita adalah keluarga. Jangan pergi."
"Ya, Hyung. Jangan pergi."
Tahu-tahu, Chanyeol merasakan matanya panas. Airmata yang berusaha ia tahan sekuat tenaga merebak begitu saja, seperti bendugan yang pecah. Ia ingin kuat. Ia ingin menjadi lebih kuat demi dirinya sendiri dan saudara-saudaranya yang lain, pria-pria ini, anak-anak yang ia sayangi seperti saudara kandung. Namun tidak bisa, detik berikutnya, ia sudah menemukan dirinya menangis di pelukan para member.
"Aku tahu... aku juga sangat mencintai kalian. Tapi aku harus melakukan ini. Demi Sixey. Demi semua orang."
"Chanyeol..."
"Aku mencintai kalian... sangat..."
Kehilangan itu sakit. Dan Chanyeol tidak pernah membayangkan dirinya dalam posisi ini. Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan meninggalkan Sixey, tidak secepat ini. Tapi ia harus.
'ㅅ'
Seakan mengurung diri di kamar adalah hobinya, atau semacam kebutuhan baru dalam hidupnya, Chanyeol melakukannya lagi. Kali ini bukan hanya karena ia sedang ingin mengasingkan diri, tapi ia juga perlu menyembunyikan wajahnya yang sudah hampir tak berbentuk—terimakasih untuk Zhang Yizing.
Sekarang benar bahwa ia perlu istirahat. Setelah dipanggil untuk bicara oleh sang CEO sendiri, dimaki-maki, dan terancam di keluarkan dari Sixey, Chanyeol bahkan tidak lagi dapat memedulikannya. Ia lelah. Ia tidak sanggup melihat kekecewaan di wajah para member yang lain. Ia tidak bisa bertemu fans atau mendengarkan komentar mereka. Ia menutup akun instagram dan semua sosial medianya.
Mungkin karirnya berakhir di sini. Mungkin segala mimpinya lebur di titik ini. Tapi, ada satu hal yang hilang, yang baru ia sadari lebih berharga dari semuanya. Ada rasa kosong yang kentara di dadanya setiap kali ia mengingat gadis itu. sialnya, ia mengingat Baekhyun setiap saat, setiap waktu.
Sekarang, berhari-hari tanpa berinteraksi dengan manusia lainnya, Chanyeol mulai merasa mati rasa. Dan mungkin itu lebih baik. Jadi ketika ketukan di pintu terdengar dan tidak berhenti bahkan ketika Chanyeol mengabaikannya, pria itu itu mulai mengumpat. Itu pasti Yoora, ia menetap di apartemennya sendiri, tapi demi menyiapkan acara perniakahan, ia sering menginap dan pergi bersama Ibunya.
"Hei, Nenek Sihir! Dokter mengatakan aku harus banyak istirahat jadi jangan coba-coba menggang—"
Ucapannya terhenti sampai di situ. Mulutnya menganga dan tidak bisa ia tutup. Karena yang berdiri di sana bukan Yoora. Ada ibunya, dan seorang gadis lain di sampingnya.
"Ibu akan pergi dulu." Kim Ha Na memberikan tatapan pengertiannya pada Chanyeol sebelum ia berputar pada tumitnya dan pergi, meninggalkan Chanyeol bersama tamunya.
"Hai," gadis itu memaksakan sebuah senyum tipis yang amat canggung.
Dan Chanyeol, tidak bisa menahan diri untuk tidak mengamatinya. Bibirnya pucat, pipinya menjadi lebih tirus, dan tubuhnya... jauh lebih kurus. Tidak ada yang tahu betapa rasa bersalah kembali dapat berkumpul di perut Chanyeol dengan mudahnya.
"Baekhyun?" ucapnya terbata sebagai pengganti sapaan 'hai'.
Chanyeol tidak pernah menyangka akan datang hari dimana Byun Baekhyun berdiri di depan pintu kamarnya. Kalau saja tidak pernah terjadi skandal dan semua masalah ini di belakang mereka, kalau saja semua itu hanya mimpi buruk semalam, ia pasti akan tersenyum dengan lebar sekali saat itu. Tapi semua terjadi, dan ia tahu ia tidak berhak tersenyum.
"Chanyeol-ah. Aku... ingin mengatakan sesuatu."
'ㅅ'
Park Chanyeol hampir tidak menyadarinya. Ia tidak pernah lagi memperhatikan cuaca belakangan. Tapi pohon-pohon sakura yang mulai bertunas dan sebagian sudah bermekaran membentuk hujan salju berwarna pink yang masih sedikit namun cantik, memberitahunya bahwa ternyata sekarang musim dingin sudah berakhir, digantikan musim semi. Di bawah pohon-pohon yang memagari sisi jalan lebar itu, mereka berjalan berdua. Berdampingan. Dengan tangan di saku mantel masing-masing.
Setelah jeda-jeda yang panjang dalam diam, Chanyeol berdeham dan memutuskan untuk membuka obrolan.
"Kau ada yang ingin dikatakan padaku?"
"Hm," jawab Baekhyun, hanya itu sambil mengangguk. Chanyeol menunggu, namn kalimat berikutnya tidak pernah datang sehingga ia berpikir lagi untuk membuka obrolan yang lain.
"Kau... apa kabarmu?"
"Apanya?"
Chanyeol nyaris terhenti. Ia tidak bisa menjawab lagi pertanyaan balik itu. Apa sebenarnya yang ia tanyakan? Ia benar-benar ingin tahu, tentu saja. Tapi itu tetap saja pertanyaan bodoh. Baekhyun mungkin baru saja keluar dari rumah sakit setelah kegugurannya? Ini berarti ia menyinggung kembali soal bayi itu, mengorek luka barunya yang barusaja diobati. Mengorek lukanya sendiri. Ia selalu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap ke perut Baekhyun dan berpikir... berpikir bahwa seandainya masih ada bayi itu di sana.
Berpikir bahwa ia bisa melihatnya membesar dalam kandungan Baekhyun. Melihatnya lahir ke dunia dengan mata yang mirip dengan mata gadis itu, kesukaannya. Melihatnya tumbuh... Melihatnya tumbuh cukup besar sampai ia bisa memanggil Chanyeol dengan sebutan 'Papa'.
"Papa!"
Chanyeol tersentak, dan menoleh. Teriakan itu terasa begitu nyata. Dan apa yang ia temukan... Ada seorang anak kecil di sana, empat tahun atau sekitarnya, tersenyum begitu manis sambil melambai ke arah pria itu. Untuk sesaat Chanyeol membeku. Hingga seseorang datang pada anak itu dan memeluknya. "Papa!" Tawa kecilnya pada pria yang mengangkatnya tinggi-tinggi.
Ia berharap bahwa pria itu adalah dirinya.
"Buruk," jawaban dingin Baekhyun menarik perhatian Chanyeol kembali, yang kemudian menatap gadis itu seolah berusaha membacanya. "Kabarku buruk, Chanyeol-ah."
Ya, itu jawaban yang jelas. Hanya saja... Baekhyun tidak pernah mengatakan hal semacam itu. Ia adalah tipe gadis yang akan tersenyum lebar dan mengatakan 'aku baik-baik saja' apapun situasinya. Kecuali hal itu mungkin sudah terlalu buruk. Dan yang satu ini... entah sudah seburuk apa.
Yang jelas, Chanyeol tidak punya amunisi apapun saat ini untuk sekedar memberikan balasan kalimat sederhana.
"Aku minta maaf," kata Chanyeol akhirnya.
"Aku sudah melihatnya," potong Baekhyun dengan cepat. "Kau mncul di tivi dan di mana-mana, hampir setiap saat. Mereka terus memutarnya ulang."
Perlu sekitar dua detik untuk kemudian mendengar bunyi klik di kepala tentang arah pembicaraan ini. Ini soal permintaan maaf tidak tahu malunya tempo hari.
"Entah bagaimana... itu kadang terasa lucu." Baekhyun tertawa sambil menatap kejauhan. Namun di kuping Chanyeol, itu tidak terdengar seperti tawa. Ia terlalu memaksakan diri. Itu... lebih terdengar seperti ia akan menangis. Langkah mereka berhenti tepat di bawah pohon sakura besar yang perlahan-lahan meniupkan kelopak merah muda sakura di atas kepala. "Kau tidak salah, tapi...," sekarang tatapannya beralih, gadis itu mencoba menatap Chanyeol dan bertahan, "aku masih tidak bisa memaafkanmu, Chanyeol. Aku belum bisa memaafkanmu dan diriku sendiri."
Ada desau pelan angin diiringi suara rintik bunga-bunga kecil yang berjatuhan mengisi pendengaran Chanyeol setelahnya. Pria itu terpaku, kesulitan mencerna kalimat sesederhana itu. Kemudian, ketika ia berhasil memahaminya, ia berharap ia tidak pernah melakukannya, tidak tahu rasa sakitnya adalah pilihan yang lebih aman. Tentu saja, ia tahu ia tidak dapat mengharapkan permintaan maafnya diterima setelah semua yang terjadi. Tapi menatap gadis itu dan mendengarnya langsung berbicara demikian rasanya seakan sesuatu yang besar dan berat melindas kepalanya.
Sebagian dirinya dengan tidak tahu diri berharap melihat gadis itu kembali tersenyum, untuknya. Sebagian dirinya yang tidak tahu malu itu masih mengharapkan Baekhyun untuk berada di sisinya. Namun sekarang sudah jelas. Gadis itu menolaknya.
"A-aku mengerti," kata Chanyeol terbata. Ia menunduk, tidak bisa lama-lama menatap gadis ituu.
"Aku akan pergi, Oppa."
Chanyeol tersentak dan mendongak. Aksinya terlalu cepat hingga lehernya mendadak sakit. "Ke... mana?"
"Sebuah tempat yang bisa membuatku merasa lebih damai," Baekhyun tersenyum tipis. "Kurasa aku perlu istirahat. Mereka tidak jadi mengeluarkanku. Tapi, aku ingin istirahat selama beberapa waktu sampai aku bisa menyanyi dan menari dengan perasaan nyaman lagi."
"B-berapa lama?"
Baekhyun hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. "Mungkin sebulan... dua bulan... setahun? Sampai aku dapat menyanyi dan menari tanpa merasa buruk lagi."
"Oh..."
"Yang ingin kukatakan adalah...," Baekhyun bergerak, mengambil sat langkah maju agar berada lebih dkeat dengan pria itu. Ia melepaskan syal merah yang melingkari lehernya dan memeindahkannya ke leher Chanyeol. Berjinjit saat melakukannya karena perbedaan tinggi mereka. "Suatu hari, jika aku kembali...," Baekhyun menggigit bibirnya sementara merapikan syal di leher Chanyeol, "kuharap kau masih memegang janjimu, Park Chanyeol. Suatu hari, jika aku kembali, aku akan menagihnya."
Chanyeol hanya menatap gadis itu hampir tanpa kedip. Tubuhnya hampir tidak bisa memberikan respon apa-apa lagi terhadap semua tindakan gadis itu, dan apa-apa yang ia ucapkan. Ia mendengarnya, dan berusaha merekam dengan benar setiap katanya, setiap nadanya, dan keseluruhan momen itu dengan benar di otaknya. Ia hanya tidak tahu bagaimana harus merespon. Ia bahkan tidak bisa menyimpulkan itu artinya apa. Masih ada jejak kesedihan yang memenuhi udara di sekitar mereka.
Baekhyun memberikan sentuhannya yang terakhir untuk lipatan syal Chanyeol agar menjadi sempurna, sebelum menaruh kembali tumitnya di tanah dan mengambil satu langkah mundur, kembali ke posisinya semula.
"Nah, kurasa ini saatnya kita berpisah. Kau pulanglah. Aku juga akan langsung pulang."
"Aku akan mengantar—"
"Aku sudah memanggil taksi. Akan tiba sebentar lagi, kurasa."
Tidak ada sanggahan. Keduanya terdiam dalam suasana canggung sampai akhirnya, Baekhyun bergerak lebih dulu.
"Selamat tinggal, Chanyeol-ah."
Lalu Chanyeol melihat gadis itu memutar tumit dan memunggunginya. Mengambil satu langkah pertamanya untuk menjauh. Chanyeol meraihnya kembali detik itu juga. Ia mencengkeram lengan Baekhyun, memaksanya untuk berbalik menghadapnya kembali. Dan gadis itu kembali di hadapannya sekarang. Menatapnya bingung, putus asa... dan semua ekspresi yang tidak Chanyeol mengerti. Chanyeol mengambil satu langkah maju yang pendek untuk memotong jarak di antara mereka. Hingga tidak ada jarak, hingga kedua ujung sepatu mereka saling bersentuhan. Ia mengulurkan jemari panjangnya untuk menyentuh rambut gadis itu, mengambil sebuah kelopak sakura yang tersangkut di rambut Baekhyun.
Mereka bertatapan lama setelahnya. Saling bertukar perasaan lewat sorotan mata. Ada kerinduan, keputus asaan, keinginan, hasrat... di samping kesedihan yang mendominasi semuanya. Lalu, Chanyeol menyentuhkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Bibir mereka yang sama-sama dingin. Sebelum mulai melumatnya pelan—sangat pelan. Sebuah ciuman yang terasa asin.
Segala yang terjadi setelah itu menjadi kabur bagi Chanyeol. Baekhyun yang akhirnya tetap berbalik pergi. Punggung sempit yang menjauhinya. Sosok yang... pada akhirnya tidak pernah ia lihat lagi setelahnya.
Hingga sebulan. Dua bulan. Semusim. Dua musim. Tiga musim. Hingga musim dingin berikutnya. Chanyeol tidak pernah bisa menemukannya lagi di manapun.
'ㅅ'
A/N: Maaf telat update. Sibuk banget! Sampe hari minggu aja sibuk acara keluarga dll. Dan aku juga pengen bikin yang beda dari original versionnya.
Anyway ini udah ending, next chap bakal jadi last chapter [happy ending kok]. Endingnya, menurut kalian lebih baik Chanyeol keluar dan mulai solo karir atau tetep di Sixey? Thank you!
