Storyline by SKY614

Park Chanyeol | Byun Baekhyun

in

LOVE UNCONDITIONALLY


Chapter 21: Of Hatred and Jealousy


Baekhyun mengantar Chanyeol ke stasiun dan baru sampai ketika masih tersisa kurang lebih 15 menit sebelum kereta tujuan Seoul diberangkatkan. Keretanya sudah tiba sejak setengah jam yang lalu dan sekarang keduanya hendak berpisah di peron stasiun sebelum Chanyeol menaiki kereta.

"Chanlie dan Hyechan menitipkan salam lagi, mereka bilang ingin bertemu jika urusanmu disini sudah selesai" ucap Chanyeol yang kini sudah berdiri berhadapan dengan sekrearisnya.

"Oh, salam kembali untuk Chanlie dan Hyechan, ibu saya juga menitipkan salam untuk sajangnim"

"Semoga ibumu bisa segera pulih. Kabari kalau sudah kembali ke Seoul, masih banyak yang perlu kita diskusikan mengenai proposal kemarin"

"Ne, sajangnim. Saya akan kembali secepatnya" Baekhyun mengangguk yakin, meninggalkan tanggung jawab terlalu lama bukanlah hal yang seharusnya dilakukan seorang bawahan terhadap atasan.

"Kalau begitu aku pamit, terima kasih sudah mengantar kesini"

"Ya sama-sama sajangnim, hati-hati"

Chanyeol berbalik dan berjalan menuju pintu gerbong terdekat sementara Baekhyun tidak berniat beranjak dari sana sebelum sajangnimnya menaiki kereta. Namun baru beberapa langkah Chanyeol malah berhenti, diam sebentar sebelum memutar badannya dan berjalan mendekati Baekhun yang menatapnya dengan raut wajah bingung.

Baekhyun hendak bertanya apakah ada sesuatu yang tertinggal atau apa namun pada akhirnya ia mencoba mengartikan tatapan Chanyeol yang ditujukan padanya seiring menipisnya jarak diantara mereka. Baekhyun perlu sedikit mendongakan kepala saat kembali berhadapan dengan atasannya dan menyadari jarak ini terlampau dekat dari yang diperlukan.

Baekhyun semakin dibuat sport jantung ketika pria dihadapannya ini sedikit menurunkan posisi sehingga wajah keduanya berada di level yang sama.

T-tunggu..

Bagaimana mungkin hanya dengan sorotan intens dari atasannya ini membuat ia sulit bergerak, seperti di hipnotis. Bukan, ini bukan pandangan mengintimidasi atau sejenisnya. Entahlah, Baekhyun menyerah untuk mencari tahu karena semakin ia mencoba maka semakin dalam pula ia terhanyut dalam sepasang obsidian itu. Posisi ini membuat nalar Baekhyun berkesimpulan, apa jangan-jangan Chanyeol ingin—

Inner Baekhyun seolah langsung menampar keras dirinya. Mana mungkin melakukan hal itu di tempat umum meski tidak ada yang memperhatikan tapi tetap saja. Dan yang paling perlu diingat, hubungan mereka tidak lebih dari sekedar atasan dan bawahan dalam hal pekerjaan, maka tidak ada landasan kuat untuk berasumsi bahwa Chanyeol akan melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan oleh sepasang manusia yang tidak terikat hubungan perasaan.

Sayangnya apa yang diperkirakan berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Chanyeol malah semakin mencondongkan wajahnya bersamaan dengan Baekhyun memundurkan kepalanya dengan maksud menjaga jarak agar tetap aman demi kesehatan jantungnya yang sejak tadi memompa dengan kecepatan diatas rata-rata.

Baekhyun memperhatikan gerakan bola mata Chanyeol yang perlahan turun ke bawah dan berhenti tepat di bibirnya.

"S-sajangnim.." Baekhyun meletakkan tangan kirinya di dada Chanyeol sementara tangan kanannya membekap mulutnya sendiri.

"Apa?"

Baekhyun menggelengkan kepala, "Andwae"

Sekarang giliran Chanyeol yang bertingkah seolah tidak mengerti maksud lawan bicaranya. Lalu merasa ada kesalahpahaman disini, Chanyeol kembali berdiri ke posisi normal.

"Hanya ingin memastikan sesuatu" ucapnya enteng sembari menurunkan tangan Baekhyun dari dadanya.

Seketika Baekhyun merasa dipermainkan. Atau hanya dirinya saja yang terlalu berpikiran aneh-aneh?

Kemudian terdengar pemberitahuan kereta ekspres tujuan Seoul diharapkan akan segera diberangkatkan.

"Sampai bertemu di Seoul" Chanyeol pamit untuk yang kedua kalinya dan ketika sudah membelakangi Baekhyun ia menyeringai tipis.

Baekhyun tidak yakin apa ia masih memiliki muka untuk bertemu dengan sajangnimnya lagi.


~L.U~


Baekhyun masih memikirkan maksud pernyataan Chanyeol di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Memangnya apa yang perlu dipastikan sampai harus bertindak menjurus seperti itu tanpa bertanya langsung? Pria seperti sajangnimnya itu tipikal yang sulit diterka dan Baekhyun rasanya ingin marah karena tidak bisa menghindari fakta bahwa disitulah letak daya tariknya.

Baekhyun telah sampai dirumah sakit dan langsung menuju ruangan dokter yang menangani ibu Byun setelah diberitahu Taehyung dimana letak ruangannya. Baekhyun mengetuk pintu,

"Masuk" sahut si dokter dari dalam

"Permisi" Baekhyun memasuki ruangan dan mendapati si dokter muda sedang mencatat sesuatu dalam sebuah map.

"Oh, nona Byun ya? Silahkan duduk" sapanya ramah setelah melihat siapa yang berkunjung.

"Iya dok, terima kasih"

Lalu dokter tersebut mengambil salah satu dari tumpukan map yang berisi beberapa lembar keterangan medis pasien dan mulai menjelaskan kepada Baekhyun kondisi kesehatan nyonya Byun serta penanganan seperti apa yang perlu dilakukan serta butuh perawatan berapa hari lagi agar penyakitnya dapat segera disembuhkan.

"Apa ada yang ingin ditanyakan, nona Byun?" tanya si dokter di akhir penjelasannya

"Hmm untuk saat ini tidak ada, saya sudah mengerti kondisnya. Saya harap dokter bersedia memberikan penanganan yang terbaik untuk ibu saya"

"Tentu saja, iItu sudah menjadi tugas saya" jawabnya sambil tersenyum sopan

"Baiklah, kalau begitu saya permi—"

"Tunggu sebentar, nona Byun"

"Ya?"

"Sebenarnya saya sudah ingin menanyakan ini sejak pertama kali bertemu dengan anda di ruang rawat inap nyonya Byun tadi pagi, maaf kalau boleh saya tahu apakah Anda kuliah di Universitas Nasional Busan?"

Baekhyun mengernyit, "Bagaimana dokter bisa.. tahu?"

"Berarti benar. Kalau saja masih ingat dengan acara amal yang diadakan kampus anda di sebuah rumah sakit waktu itu, kebetulan saya sedang magang disana dan saya melihat anda menjadi salah satu volunteer"

"Aah, padahal itu sudah 4 tahun yang lalu tapi anda masih mengingatnya, tapi maaf saya tidak melihat dokter..."

Lagi-lagi si dokter tersenyum menawan, "Tidak apa-apa, saya tahu saat itu anda sedang sibuk bersama dengan mahasiswa lain yang turut menjadi volunteer. Umm, boleh kita berkenalan, nona Byun? Saya Oh Sehun," si dokter dengan eyesmile itu mengulurkan tangan dan Baekhyun menyambutnya,

"Baekhyun,"


~L.U~


Siang itu Seohyun memasuki gedung Park Inc. dengan maksud menemui Chanyeol untuk mengajaknya pergi makan bersama karena sebentar lagi jam istirahat kantor. Tanpa perlu mampir ke meja resepsionis ia langsung menaiki lift menuju ruangan CEO yang berada di lantai paling atas dan berpapasan dengan sekretaris Kang yang kebetulan baru saja meminta laporan harian dari divisi marketing.

"Selamat siang nona"

"Siang, apa Chanyeol masih sibuk?"

"Ah, sayang sekali tuan muda sedang tidak berada ditempat"

"Memangnya dia kemana?"

"Sedang ke luar kota untuk menemani sekretaris Byun menemui keluarganya yang sedang sakit"

"Apa?!"

Amarah Seohyun langsung memuncak sampai ke ubun-ubun.

'Kurang ajar! Sudah kubilang untuk berhenti kenapa dia tidak mau mendengarkan.'

"Maaf masih ada yang perlu saya kerjakan, saya permisi dulu nona" sekretaris Kang undur diri

Seohyun tidak menyahut apa-apa, sudah terlanjur dibuat kesal mengeahui Chanyeol pergi bersama Baekhyun diluar urusan pekerjaan. Dengan langkah cepat Seohyun menuju restroom untuk meluapkan amarahnya disana.

"Sialan! Apa yang dilakukan wanita itu sampai Chanyeol rela meninggalkan pekerjaan hanya untuk menemaninya pergi?!" geram Seohyun sambil membanting clutch bag miliknya didekat wastafel.

Peduli setan kalau ada orang lain yang berada didalam bilik toilet yang mendengar sumpah serapahnya. Emosinya sudah tidak bisa ditahan. Seohyun menatap pantulan dirinya di cermin besar diatas deretan wastafel.

"Apa kurangnya diriku dibandingkan dengan dia?" tanyanya dengan nada retoris.

Lalu pintu restroom terbuka dan memunculkan dua orang karyawati sedang bercengkarama.

"Bukankah tim mu sedang sibuk menggarap proposal kegiatan marketing, divisi kalian sudah merapatkannya dengan sajangnim kan?" si perempuan berambut panjang

"Memang sudah, tapi Luna bilang kalau proposalnya diserahkan ke Baekhyun—sekretaris sajangnim yang baru—untuk finalisasi"

Mendengar nama Baekhyun disebut, Seohyun langsung ikut mendengarkan.

"Lho, itu kan bukan tugasnya, kenapa kalian terima saja kalau lahan kalian direbut olehnya?"

"Park sajangnim sendiri yang meminta. Menurutku sih wajar, mungkin karena Baekhyun awalnya berasal dari divisi marketing, jadi sajangnim mempercayainya. Lagipula katanya usulan Baekhyun cukup efektif jika diterapkan. Kau tahu sendiri kan Park Inc. sedang berkompetisi ketat dengan ShinHan Group dalam hal pemasaran, kalau sampai proposal itu diserahkan ke Baekhyun berarti memang gagasannya bagus"

"Tetap saja aku tidak setuju. Harusnya dia menolak, jangan karena sekarang menjadi sekretaris presdir dia jadi bertindak seperti itu"

"Haha kenapa jadi kau yang marah, Irene? Masih kesal karena tidak terpilih menjadi sekretaris sajangnim?"

Seohyun tidak mendengarkan percakapan mereka selanjutnya, dalam benaknya mulai tersusun sebuah rencana.

Baekhyun. Proposal. ShinHan Group. Seohyun tersenyum menyeringai .

Dua perempuan tadi hanya membasuh tangan dan sedikit merapikan penampilan mereka lalu keluar, dengan tergesa Seohyun mengambil tasnya dan menyusul.

"Tunggu!""

Keduanya menoleh.

"Siapa?" tanya salah satu diantara mereka, kalau Seohyun tadi tidak salah dengar namanya Irene, atau Ahrin? Entahlah, toh dia akan mengajaknya berkenalan juga.

"Maaf memanggil tiba-tiba. Aku Seohyun. Bolehkah aku berbicara dengan anda ..." Seohyun langsung mengarah ke orang yang ia maksud

"Irene"

"Ne, Irene-ssi. Bisa minta waktunya sebentar?"


~L.U~


Sembari menemai ibunya yang sedang menonton tv, di ruang rawat, Baekhyun mengeluarkan ponselnya yang semalam tidak aktif karena kehabisan baterai dan baru sempat dinyalakan sekarang setelah di charge tadi pagi.

Banyak pesan dan panggilan tak terjawab. Kebanyakan dari Kyungsoo dan Minseok yang menanyakan kabar ibunya serta Kangjoon yang menanyakan keberadaannya. Baekhyun memutuskan untuk mengetik pesan untuk Kangjoon terlebih dahulu ketika ada panggilan masuk, dari Luhan.

Baekhyun izin keluar ruangan untuk menerima telpon.

"Yobose—"

"Baekhyuuuuunnn" Luhan memekik kencang sampai Baekhyun harus menjauhkan ponsel dari telinganya selama beberapa saat.

"Ne, eonni. Ada apa?" tanya Baekhyun sumringah, menanti kabar gembira dari eonninya di seberang sana.

"Aku sedang berbahagia disini tapi mereka bilang ibumu sedang sakit. Bagaimana keadaan Byun ahjumma?"

"Eommaku sudah mendingan, tidak perlu khawatir. Ngomong-ngomong lamarannya diterima kan?"

"Ah, syukurlah. Heol, menurutmu apa jawabannya kalau aku sampai merelakan hidup dan matiku ketika dipaksa naik bianglala yang membuatku hampir mati ketakutan? Bayangkan saja, dia menyatakannya tepat saat bianglala berhenti di titik tertinggi, lututku sampai lemas entah karena terharu atau karena acrophobia ku yang kambuh tsk si tiang bodoh itu benar-benar"

"Biar tiang begitu eonni tetap cinta kan? Hehe selamat ya eonni ku sayang, aku turut senang"

"Hihi iya sih, terima kasih, B. Oh ya, kudengar Chanyeol ikut menemanimu kesana ya"

Baekhyun langsung tersipu, "Ah itu... iya. Tapi sajangnim sekarang sudah dalam perjalanan kembali ke Seoul"

"Yifan bilang Chanyeol melakukannya atas inisiatif sendiri, hmmm kemajuan besar. Kalian sudah melakukan apa saja disana?"

"Aniyo!" Baekhyun langsung membantah keras, tidak sadar kalau reaksinya barusan malah mengundang curiga dari lawan bicaranya

"Ahahaha responmu berlebihan, berarti memang terjadi sesuatu ya, kau tidak mau memberitahu eonnimu ini, hm?"

Sekarang mau menghindar bagaimana kalau Luhan sudah beranggapan demikian pasti ia akan terus mendesak sampai Baekhyun mau bercerita. Apa ia harus bilang 'aku hampir ketahuan mencium sajangnimku di kening saat ia sedang tertidur dan mengira ia akan memberiku ciuman perpisahan saat aku mengantarnya ke stasiun'? Baekhyun akan sangat terdengar bodoh dan tidak tahu malu.

"B? Kau masih disana?"

"E-eh..ngg..sudah ya eonni, aku harus menemani eomma makan siang. Sampaikan salamku untuk Minseok eonni, Kyungsoo dan Yifan oppa. Nanti kalau ada waktu aku hubungi. Annyeong~"

Pip.

Fiuh. Baekhyun mendekap ponselnya ke dada. Setidaknya untuk saat ini ia bisa menghindar. Urusan Luhan akan terus menagih ceritanya saat Baekhyun kembali ke Seoul akan dipikirkan nanti.

.

.

"Sayang, bisa kau tanyakan pada Chanyeol apa yang terjadi selama ia di Busan? Aku penasaran tapi sepertinya Baekhyun masih malu" pinta Luhan pada Yifan sesaat setelah sambungan dengan Baekhyun terputus.


~L.U~


Seohyun melangkah dengan ringan setelah pembicaraannya bersama Irene, salah satu karyawan Park Inc. yang turut akan mempermudah jalannya rencana yang ia susun dalam waktu singkat. Mengerikan bagaimana rasa benci bisa membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk menghancurkan orang lain.

Seohyun tidak peduli selama apa yang akan ia terapkan tidak akan merugikan dirinya, yang jelas ia telah menemukan cara bagaimana Baekhyun bisa disingkirkan tanpa perlu dicurigai karena nanti pada akhirnya Baekhyun sendiri yang akan mundur dengan sendirinya.

Seohyun baru saja mengeluarkan mobilnya dari area parkir kantor dan melewati depan gedung ketika ia melihat sosok pria yang pernah ia temui. Perempuan itu menepikan mobilnya lalu turun untuk menghampiri pia tersebut.

"Kau mencari Baekhyun?"

Pria itu menoleh, "Ya..?" jawabnya ragu karena ditanya oleh seseorang yang tak dikenal.

"Percuma mau ditunggu sampai malam pun kau tidak akan bertemu dengannya, setidaknya dalam waktu dekat"

"Tahu dari mana? Kau.. teman kantor Baekhyun?"

"Bukan. Aku Seohyun. Aku pernah melihatmu bersama Baekhyun di sebuah restoran waktu itu, apa kau temannya? Atau kekasihnya?"

Pria itu hanya menatap Seohyun curiga, kalau bukan teman kenapa bisa tahu Baekhyun?

"Aku tahu Baekhyun karena ia bekerja untuk kekasihku, Chanyeol" bohongnya

"Oh, maksudmu presdir Park Inc. Aku Kangjoon, teman Baekhyun"

"Hoo, ternyata hanya teman. Pantas saja dia berani merebut kekasih orang" sindir Seohyun

Kedua alis Kangjoon bertaut, "Maaf?"

"Tolong beritahu teman wanitamu itu untuk berhenti mendekati Chanyeol, dia pikir dia siapa sampai beraninya membawa kekasihku pergi ke luar kota hanya untuk menemui keluarganya yang sedang sakit? Dasar pencari perhatian, harusnya ia minta tolong padamu sebagai temannya."

"Maaf Seohyun-ssi aku tidak mengerti—"

"Mereka berdua sedang berada diluar kota dan itu bukan untuk urusan pekerjaan. Apa Baekhyun tidak memberitahumu? Heh, bagus sekali, dia benar-benar tidak mau diganggu rupanya"

Kangjoon terdiam sesaat sebelum merespon, "Baekhyun.. tidak memberitahu apa-apa, dia memang sulit kuhubungi sejak kemarin, bahkan semalam dia tidak pulang ke apartementnya. Tapi aku benar-benar tidak tahu kalau dia pergi bersama..." Kangjoon menggantung kalimatnya, terbesit rasa kecewa kenapa Baekhyun tidak memberitahunya langsung sekaligus sakit hati mengetahui Baekhyun pergi bersama lelaki lain.

Seohyun yang dapat membaca dengan jelas ekspresi lawan bicaranya dengan lantang bertanya,

"Kau.. menyukai Baekhyun?"

Kangjoon memilih tidak menjawab.

"Sayang sekali, bagaimana kalau Baekhyun malah menyukai Chanyeol?"

Ucapan Seohyun kali ini membuat Kangjoon balas menatap lawan bicaranya dengan tangan terkepal. Mudah sekali terprovokasi, pikir Seohyun.

"Permisi aku harus kembali ke kantor"

Seohyun hanya memperhatikan Kangjoon yang mulai membuka pintu mobil namun sejurus kemudian dalam benaknya terlintas sesuatu.

"Tunggu Kangjoon-ssi!"

Kangjoon menyahut dengan tidak minat, "Apa?"

"Boleh kapan-kapan kita bertemu lagi?" Siapa tahu dia bisa membantuku.

Kangjoon sedang malas untuk meladeni, jadi ia menjawab sekedarnya, "Terserah, kantorku di ShinHan, temui aku disana kalau mau"

Seohyun terperanjat, "Kau bekerja di ShinHan?"

"Ya"

Bahkan semesta seperti mengirim bantuan tak terduga untuk melancarkan rencanaku.

"Baiklah, kurasa kita perlu bicara sekarang, Kangjoon-ssi. Kuharap kau mau mendengarkan penjelasanku sebelum membantuku untuk melakukan sesuatu"

.

.


To be continued


A/N

Hello? *ngintip dibalik tembok* ini akan panjang jadi kalo mau skip silahkan :)

Ngeri gak tuh updatenya pas Jumat malem tanggal 13 (Friday the 13th aka Black Friday)? *krik* oke gak baik percaya sama takhayul, lanjut. Maaf sebelumnya karena ninggalin LU, yang waktu itu sempat baca ff baru yang aku hapus dan nanya secara personal mungkin tau alasan kenapa aku gak update selama beberapa waktu.

Tapi seneng banget masih ada yang nanyain kapan update LU walaupun hampir 3 bulan dianggurin, serius deh kaya gitu aja bisa bikin mood boosted up dan semangat buat ngetik meski terkadang suka down lagi karena hal yang gak penting namun cukup mengganggu ketenangan hidup *ini ngomong apa*

Alhamdulillah akhirnya chapter 21 bisa kelar. Dipersembahkan buat semuanya yang udah berpartisipasi dengan meninggalkan jejak melalui fav/follow/review. Selamat datang buat readers baru dan yang ngasih review dari chapter 1 awal sampe terakhir chapter 20. You guys are jjang!

Mungkin ini 3 chapter terakhir, atau 2 chapter terakhir? Ya pokoknya ini udah mendekati end dan chapter ini sekaligus jadi update terakhir LU ditahun ini. Mengenai bagaimana endingnya silahkan tebak sendiri hohoho

Oh ya waktu itu ada salah satu reviewer yang nanyain ig. Hmm.. ada sih, tapi postingannya baru foto baekhyun yang aku manip jadi cewe hmpfff habis dia lagi cantik banget. Pengen ngasih tau lewat PM tapi dia dalam mode 'Guest', jadi maaf ya 'Guest' gak bisa dikasih tau disini.

Kalo ada yang mau ditanyain, bisa PM atau hubungi contact yang ada di bio. Terakhir dan gak pernah bosen aku ucapin, terima kasih buat yang sudah ninggalin jejak melalui fav/follow/review. Keep anticipating the upcoming chapters!

Sooo see you on next year's update! Have a nice Friday night, yeorobun!


November, 13th

© Riri 2016