Setelah pulih dari sakitnya, beberapa hari kemudian ia bersama Michelle pergi ke Crocus untuk menjalani perawatan untuk cedera bahunya. Natsu merengek-rengek untuk ikut, tetapi ditolak mentah-mentah oleh Lucy karena Natsu akan menjadi merepotkan. Belum lagi, Sting juga yang merengek-rengek meminta ikut oleh Ayah Lucy yang sengaja menjemput kedua putrinya di Magnolia. Bernasib sama seperti Natsu, Sting ditolak oleh Ayah Lucy.
Lucy yang sedang berada diperjalanan pulang dari rumah sakit bersama dengan Michelle pun hanya bisa tertawa mengingat kejadian itu. Hari ini, ia memakai setelan santainya yang terdiri dari t-shirt dan juga shortpants. Dia juga memakai sepatu sandal yang beraksen pita, menambah kesan manis.
"Nee-chan" panggil Michelle.
"Hmm?" sahut Lucy sambil menoleh kearah Adiknya yang duduk disampingnya. Ya, mereka berdua pulang dengan naik taksi.
"Bagaimana kalau kita ketaman bunga dulu? Tamannya indah sekali loh, Nee-chan!" seru Michelle.
"Mou..aku lelah, Michelle. Dan lagipula, matahari benar-benar terik hari ini. Dan kau seharusnya ingat kenapa kita bisa naik taksi kali ini" jawab Lucy sambil menyandarkan tubuhnya.
Michelle merengut kesal, "Benar juga~"
Alasan mereka pulang bisa naik taksi adalah karena Michelle mengeluh bahwa hari ini benar-benar sangat panas dan merengek kalau bisa pulang sore saja dari rumah sakit, dan Lucy tidak mau berlama-lama dirumah sakit. Mau tidak mau, Lucy mengusulkan pulang naik taksi saja.
Tiba-tiba ponsel Michelle berbunyi dan ia merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya.
"Moshi-moshi? Yoshino-san? Ah, tidak. Aku sedang dijalan pulang bersama dengan Lucy-neechan. Hmm..besok ya? Tidak ada rencana sih. Kenapa? Hmm..boleh..boleh..oke..besok akan aku kabari lagi..Hmm Jaa nee"
Lucy mendengarkan percakapan Michelle yang berada ditelepon. Ia tersenyum dan menoleh untuk melihat keluar jendela.
'Apa kabarnya Natsu ya..' pikirnya.
Fairy Tail © Hiro Mashima
A Fairy Tail Fanfiction
Between Us
By Yusa-kun
Warning : AU, Typo(s), OOC.
.
.
.
.
.
Tok..tok..tok
"Lucy?"
Lucy yang sedang membaca novel dikamarnya pun menoleh kearah pintu saat mendengar suara Ayahnya yang memanggil namanya.
"Ya..masuk saja Yah, tidak dikunci.."
Pintu kamar Lucy pun terbuka dan menampakkan Ayah Lucy. "Apa Ayah mengganggumu?" tanyanya
Lucy melipat kertas halaman novelnya untuk menandakan sampai disitulah ia membaca, kemudian menutup novelnya dan meletakkannya di tempat tidurnya. "Tidak, aku juga sedang bersantai" jawab Lucy
"Boleh aku duduk?" tanya Ayahnya. Lucy mengangguk. "Silahkan"
Jude berjalan menghampiri kursi yang berada didekat jendela dan duduk disana. Lucy memandanginya dan kemudian ia memutar tubuhnya hingga menghadap Ayahnya.
"Jadi? Ada apa Ayah kekamarku? Tak biasanya, nee" tanya Lucy
"Ah, tidak. Tidak ada pembicaraan khusus. Aku hanya ingin menengok putri sulungku" jawab sang Ayah sambil tersenyum.
Lucy tersenyum tipis. "Begitukah?"
"Aku sangat khawatir, kau selalu saja terlibat masalah disana. Maaf kan Ayah ya, tak bisa berada disampingmu saat kau kesulitan" jawab Jude—Ayahnya.
Lucy terkekeh, "Tak apa" jawabnya.
Jude bangkit berdiri dan berjongkok dihadapan Lucy. Jude meraih tangan Lucy dan menggenggamnya. "Hontouni..gomenasai..Lucy.." ucapnya dengan lembut, tatapan matanya begitu lembut kepada Lucy.
"Stop untuk meminta maaf. Ini bukan dirimu sekali" sahut Lucy sambil memalingkan wajahnya, tak ingin menatap Ayahnya.
"Maafkan Ayah, Untuk semuanya, selama ini..untuk penderitaan yang kau alami bersama dengan Layla, untuk cedera dibahumu, untuk semua kesalahanku.." sahut Jude dengan nada penyesalan yang begitu dalam.
Lucy menggenggam tangan Ayahnya. "Ayah..jangan seperti ini..hmm—Ini begitu terasa canggung untukku"
"Lucy..aku merasa bersalah setiap melihat dirimu. Setiap aku melihat dirimu, aku seperti melihat Layla. Aku..aku menyesal dengan perbuatanku.." ucapnya dengan lirih.
Lucy tersenyum lirih, "Yang seharusnya meminta maaf adalah aku. Bukan dirimu. Maafkan aku..aku tak bisa menjaga Ibu..aku alasan kenapa Michelle selalu menangis, aku adalah alasan kenapa Ayah dan Ibu berpisah..aku—aku minta maaf.." ucapnya dengan suara yang bergetar. Mungin gadis itu menahan tangisnya.
Jude menarik Lucy masuk kedalam pelukannya. Jude menggeleng, "Tidak..aku yang salah..maaf..maafkan aku…" ucapnya
Lucy membalas pelukan Ayahnya, "Ba—bagaimana kalau kita saling memaafkan? Kalau kita sama-sama salah, kita juga harus saling memaafkan bukan?"
Ayahnya melepas pelukannya dan memandang putrinya yang tersenyum manis padanya. "Nee?"
Jude mengangguk, "Kau benar"
Lucy dan Jude pun saling tersenyum. Melihat senyuman bahagia dari Lucy, Jude meletakkan tangannya keatas kepala Lucy dan mengelusnya. "Kau sudah dewasa ya, Lucy.."
Lucy memandang wajah Ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca dan mengangguk, "Hnn!"
"Kau dan Michelle adalah putri-putri dan juga kebanggaan kami. Semua yang kami inginkan adalah kalian hidup dengan kuat, tegar apapun jalan yang kalian pilih dan percayai. Aku berharap kalian bisa bahagia, terutama kau, Lucy. Aku berharap semoga kau bahagia setelah melewati beberapa penderitaan dan kepedihan kemarin.." Jude terdiam. Ia mengambil jeda untuk melanjutkan kalimatnya.
"Lucy..I've always.. Loved you and Michelle..always.." Lanjut Jude sambil menarik putrinya kedalam pelukannya.
Lucy pun membalas pelukan Ayahnya. Sudah lama rasanya ia tidak merasakan pelukan seorang Ayah. Mata karamel Lucy berkaca-kaca dan tersenyum.
"Arigatou, Ayah.. We always love you too. Aku—aku akan bahagia, karena aku memiliki orang-orang yang menyayangiku, yang selalu mendukungku dengan tulus. Aku akan bahagia, Yah..Pasti..aku janji.."
Jude tersenyum. "Hnn, aku akan pegang janji itu"
XXX
Keesokkan harinya, Natsu sedang bermain video game bersama dengan Gajeel dan Gray dirumah Gray. Tepatnya dikamar Gray. Disana sudah banyak beberapa komik yang bertebaran, cemilan-cemilan, dan juga beberapa DVD game yang berserakan.
"Hey, Bunny-girl kapan kembali? Ku dengar dia menjalani terapi ya?" tanya Gajeel tanpa mengalihkan pandangannya pada layar game didepannya.
"Hmm entahlah, dia tak memberitahuku kapan pulang. Padahal aku sangat rindu padanya, eh tapi selain itu aku berharap ia bisa sembuh total. Jadi aku bisa mengajaknya bermain basket lagi" jawab Natsu
"Ah, hubungan kalian benar-benar baik ya.." timpal Gray yang sedang sibuk membaca komik.
"Begitulah hehe" sahut Natsu
"Lalu bagaimana dengan Lisanna? Apa dia masih mengganggumu?" tanya Gajeel sambil mem-pause game yang dimainkannya. Natsu pun menoleh.
"Ha? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan dia? Dia tak pernah lagi menghubungiku sejak kita kerumahnya itu" jawab Natsu
"Benarkah? Wah kemajuan yang sangat fantastis dong" sahut Gray.
"Apa Lucy tahu yang sebenarnya? Tentang Lisanna yang mendorongnya" Tanya Gray sambil menutup komiknya dan meraih colanya.
Natsu mem-pause gamenya dan membalikkan tubuhnya menghadap Gray yang berada dibelakangnya. "Tahu. Dan kau tahu dia bilang apa?"
Gajeel pun mengambil cemilan yang berada dekat dengannya dan memasukkannya kedalam mulutnya. "Apwa?" tanyanya sambil mengunyah makanan itu.
Gray dan Natsu menatap sinis Gajeel, "Habiskan makan yang ada dimulutmu itu, Muka besi! Aku jijik lihatnya!" protes Natsu.
"Ehmm" jawab Gajeel.
"Oh ya, Lucy bilang apa tentang hal itu?" Tanya Gray.
"Dia bilang, kalau dia yakin Lisanna melakukan itu secara tak sengaja. Dan kau tahu? Dia menutupi kesalahan Lisanna. Hmm pada awalnya dia bilang kalau dia tergelincir dan jatuh terguling, haaahh sepertinya dia tidak tahu kalau ada CCTV disekolah" jelas Natsu
"Wah..Lucy baik juga ya, walaupun terkadang sangat dingin" ucap Gajeel. Natsu melipat kedua tangannya didadanya, "Dia seperti malaikat kan, itu pacar Natsu Dragneel loh!"
"Ya, malaikat kematian" timpal Gajeel.
Bletak!
Gajeel sukses mendapatkan jitakan keras dari Natsu yang duduk tak jauh darinya. "Enak saja!"
Gray pun tertawa, "Rasakan itu, Gajeel"
"Uruseeee! Dan kau, Salamander. Beraninya kau memukulku seperti itu haaahhhh?!" seru Gajeel.
Natsu membalikkan tubuhnya lagi dan mengambil stick gamenya. "Itu menjitak, bukan memukul. Muka besi goblok!"
"Ap—apaaaa!"
Saat Gajeel ingin memukul Natsu, ponsel miliknya berbunyi. Ia melihat ke layar ponselnya. 'Ha? Rogue?' pikirnya.
Gajeel mengangkat panggilan itu, "Ada apa?!"
"Wow. Galak sekali. Aku ingin memberitahumu kalau aku akan mengajak liburan Levy-san bersama dengan diriku dan Ayah. Kau tak keberatan kan?" terdengar suara Rogue ditelepon itu.
Gajeel bangkit berdiri, "Ap—Apa maksudmu dengan liburan bersama si udang dan Ayah? Haaa? Aku tak tahu apapun!"
"Makanya, sesekali pulanglah saat liburan begini. Ayah mengajakku untuk ikut bersamanya..hmm sekitar tiga hari kami baru pulang. Dan Ayah bilang boleh mengajak teman dekatmu. Begitu" jelas Rogue.
"Memangnya kau tak punya teman disini? Hah?! Jangan bawa-bawa udang!" bentak Rogue.
"Loh, bukankah kalau Levy-san ikut, kau akan ikut? Dan kau juga akan senang bukan kalau ada dia?"
"Jangan meledekku, bocah!" sahut Gajeel.
"Eeeehhh?! Ya sudah, aku hanya ingin memberitahumu begitu, kalau kau tidak mau ketinggalan dengan liburan ini ya. Jaa!" telepon pun terputus. Gajeel mendecih dan menggenggam erat ponselnya.
"Aaaarrrggghhhh bocah sialaaaannn!" teriak Gajeel dengan frustasi.
Natsu dan Gray saling menatap, "Pasti Rogue. Dia membuat ulah lagi?" Tanya Gray.
Gajeel membereskan barang-barangnya yang ada dikamar Gray dan memasukkannya dalam tas ransel miliknya. "Dia ingin mengajak liburan si udang bersamanya. Tidak bisa aku biarkan!" omel Gajeel.
"Eh? Berani juga dia" sahut Natsu.
"Iya berani, ingin mendapat tinju dan tendangan maut dari kakak—eh maksudku dari Gajeel" timpal Gray.
"Matte yo..kenapa kau begitu marah kalau tentang Levy?" Tanya Natsu dengan polos.
Gajeel menoleh, "A—aku…"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Gray sudah memotongnya, "Heh otak api. Gajeel itu suka sama Levy"
"Ap—apa?! Suka dengan si udang itu? Ti—tidak mungkin Ha..hahaha..ha-ha" jawab Gajeel dengan gugup.
Gray menyipitkan matanya dan berniat mengganggu Gajeel. "Kau yakin tidak menyukainya? Aku dengar, Levy itu orang ke empat termanis seantero sekolah. Dan dengar-dengar, ia juga mempunyai fans loh!"
"Ah benarkah? Aku tidak tahu itu, Ice-head" sahut Natsu
"Ya aku mendengar gosip-gosip saja. Fans club itu dipimpin oleh dua orang yang begitu tergila-gila dengan Levy" jelas Gray sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Siapa dua orang itu?" Gajeel merasa penasaran dengan penjelasan Gray.
"Hmm kalau tidak salah namanya itu, Jet dan Droy" jawab Gray.
"AAAHHH?! BENARKAH! AWASSSS SAJA MEREKA!" ujar Gajeel yang tiba-tiba menjadi kesal.
Gray pun terkikik. Natsu hanya memiringkan kepalanya, ia tidak mengerti dengan keadaan teman-temannya sekarang.
"Kenapa kau jadi kesal seperti itu, Gajeel? Kau takut kehilangan Levy ya? Hahaha" ledek Gray.
Natsu pun akhirnya tersadar saat mendengar ledekan Gray. "Jadi..kau benar-benar menyukai, Levy? HAAAHH SERIUSS? SUMPEH LOOOO?!" tiba-tiba Natsu menjadi antusias.
"Ba~ka" ujar Gray sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah ya benar ya, kalau dipikir-pikir, kau melarang mati-matian Levy dekat-dekat dengan Rogue. Hmm masuk akal juga. Muka besi, saingan mu untuk mendapatkan Levy banyak loh. Ganbatte yo!" ucap Natsu sambil melambaikan tangannya.
"AARRGGHHH, sudah jangan membahas itu lagi! Aku akan pulang sekarang, oke? Jaa" Gajeel keluar dari kamar Gray dengan terburu-buru sambil membawa tas ranselnya di bahunya.
Natsu menoleh kearah Gray, "Dan kau? Apa kau menyukai Juvia?"
Gray yang sedang meminum colanya pun reflek menyemburkan cola yang diminumnya dan terbatuk. "Ap—apa-apaan pertanyaanmu itu, baka!" omelnya.
"Juvia jelas-jelas menyukaimu, loh" sahut Natsu sambil memakan cemilannya.
Gray meraih komik yang sedang ia baca dan membukanya, "Ia itu tak suka padaku, dia itu hanya ingin menggangguku saja"
"Hmm, benarkah? Aku melihat kalau Juvia benar-benar tergila-gila padamu..tapi perasaannya tergambarkan tulus, loh" jelas Natsu.
"Sudahlah, jangan membahas para gadis. Itu membuat kepalaku pening" jawab Gray.
Natsu mengangkat bahunya, "Paling satu atau beberapa bulan lagi, kau dan Juvia akan menjadi sepasang kekasih. Hoy Gray! Ayo temani aku main game ini"
XXX
Lucy sedang berada di Rumah sakit. Ia duduk berhadapan dengan Dokter yang merawatnya. Sudah seminggu lebih ia melakukan terapi di Rumah Sakit pusat di Crocus ini. Ia berdo'a semoga hari ini lah hari terakhirnya.
"Otsukare, Lucy-san" ucap Dokter itu sambil tersenyum dan menuliskan sesuatu, mungkin sebuah resep obat.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?" tanya Lucy
"Baik, sangat baik. Mungkin cederamu itu terbilang sudah pulih" jelas sang Dokter.
Lucy mengangguk mengerti. "Lalu bagaimana dengan hasil CT-scan, MRI-scan? Apa ada yang aneh?"
"Gegar otak yang dialami olehmu sudah sepenuhnya hilang, jadi sakit kepala yang mungkin masih sering kau rasakan sudah menghilang. Tetapi aku akan menuliskan obat untuk penghilang rasa sakitnya. Jaga-jaga kalau sakit itu timbul" jelas sang Dokter sambil menulis resep tambahan.
"Lalu untuk hasil MRI-scan, semuanya baik-baik saja, termasuk tulang belakangmu dan jaringan lunakmu. Semua baik-baik saja" tambah sang Dokter.
"Ini hari terakhirmu untuk melakukan terapi disini, ini resep vitamin untuk tulangmu dan juga resep obat penghilang rasa sakit kepalamu" lanjut Dokter itu.
"Baiklah, arigatou untuk beberapa hari kemarin" ucap Lucy dengan ramah.
Dokter itu tersenyum, "Salam untuk Ayahmu ya, Lucy-san"
Dokter tersebut merupakan kenalan dari Ayah Lucy, Jude Heartfilia. Ayah Lucy memiliki beberapa kerabat yang tersebar dikota-kota besar. Bukan hanya pembisnis, tetapi seperti Dokter, Fotografer, Dosen, Pelukis, dan berbagai profesi lainnya.
"Akan aku sampaikan salammu untuknya" sahut Lucy sambil bangkit berdiri dan merundukkan tubuhnya untuk memberi hormat pada Dokter itu sekaligus untuk pamit pergi.
Lucy membuka pintu dan segera keluar dari ruangan Dokter dan tersenyum.
'Aku bisa kembali ke Magnolia, yattaa..' pikir Lucy
XXX
"Heeee? Apa benar? Yokatta kalau kau sudah dinyatakan pulih.." terdengar seruan Natsu dari dalam telepon. Ya, Lucy sedang menelepon Natsu. Lebih tepatnya, Natsu meneleponnya.
"Begitulah hehe " sahut Lucy sambil membaringkan tubuhnya ditempat tidur dan memandang langit kamarnya. Senyum tidak lepas dari wajahnya.
Untuk sejenak mereka hanya diam, tidak ada percakapan.
"Aku merindukanmu, Luce" ucap Natsu
"Aku juga, Natsu" Lucy tersenyum tipis.
"Kapan kau kembali ke sini?"
"Mungkin lusa. Aku ingin menghabiskan waktuku bersama dengan Ayah disini. Dia juga mengajakku pergi berkeliling kota besok" jelas Lucy.
"Coba saja aku diperbolehkan ikut, kita bisa liburan disana~" rengek Natsu
Lucy tertawa pelan, "Baka~ jika kau ada disini, yang ada aku akan berjalan-jalan denganmu dan melupakan terapinya"
"Loh? Kenapa bisa begitu?"
"Karena pasti kau akan merengek minta jalan-jalan denganku, ya kan?"
"Hah? Kau ini sok tahu sekali, Luce!" tukas Natsu.
Lucy pun tertawa, "Aku tidak ingin kau ikut denganku karena kau akan khawatir berlebihan jika terjadi sesuatu padaku saat terapi"
"He? Memangnya ada sesuatu yang terjadi saat terapi? Apa itu?" suara Natsu terdengar begitu penasaran.
Lucy terkekeh, "Hmm, kau tahu..ada pemuda Crocus yang mengajakku kenalan saat aku pulang dari Rumah Sakit. Dia sangat kereeenn~~" goda Lucy.
"Hmm..lalu?"
"Lalu kami pulang bersama dari rumah sakit dan ketaman bunga setelah itu..haaahh.." ungkap Lucy. Lucy sengaja berbohong untuk menggoda Natsu.
"Haha pemuda itu mungkin sakit-sakitan. Hmm keren ya? Tetap saja jika kau bertemu seorang pemuda di sebuah rumah sakit, dia itu sebenarnya memiliki penyakit yang kronis loh~" jawab Natsu yang tampaknya biasa saja.
Lucy merengut kesal karena ia tak berhasil membuat Natsu kesal.
"Nee, Luce..kalau ingin menggodaku harusnya yang agak normal sedikit. Oke?" terdengar tawa Natsu disana.
"Mouuuu, Naaattttsssuuuuu"
Natsu pun akhirnya tertawa, dan Lucy pun ikut tertawa.
"Hmm..Natsu?"
"Ya?" Natsu sudah berhenti tertawa.
"Saat aku tidak ada, kau melakukan apa saja disana?" tanya Lucy dengan suara yang agak pelan. Sejujurnya, Lucy agak malu untuk bertanya seperti itu. Ia tidak ingin dianggap oleh Natsu sebagai kekasih yang begitu posesif.
"Aku? Hmm, bermain game bersama Gajeel dan Gray. Lalu setelah itu mengganggu sepupuku yang datang kesini untuk menginap. Kau kenal Wendy kan? Dia sudah besar sekarang dan manisss sekali!" seru Natsu.
Lucy tersenyum tipis, "Oh souka..lalu..lalu ba—bagaimana dengan Lisanna? Apa dia masih menghubungimu?"
Natsu tertawa, "Apa itu inti dari pertanyaanmu tadi?"
Lucy pun bangkit duduk, wajahnya sudah terlihat memerah. "Ah..ah—tidak, bukan begitu—"
"Dia tidak menghubungiku" potong Natsu
"Eh?"
"Mungkin dia merasa bersalah setelah melakukan itu padamu, Luce..jadi biarkan saja dia.." jelas Natsu.
"Ah, begitu ya.."
Lucy mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali, "Dia begitu mencintaimu, Natsu. Cinta bisa membuatmu tidak mengerti apapun. Kau pernah mendengar kata-kata yang mengatakan kalau cinta itu buta kan? Cinta akan membuat seseorang—seseorang berubah.." jelas Lucy sambil merentangkan satu tangannya yang bebas kearah luar jendela.
"Luce.." panggil Natsu.
"Hnn?"
"Aku mencintaimu..sangaaaatttt mencintaimu!" ucap Natsu.
Lucy yang mendengar itu pun tersenyum tipis, semburat merah tipis pun terlihat dikedua pipinya,"Aku juga, Natsu"
"Baiklah, kita sudahi saja telepon kita. Aku dipanggil untuk turun makan malam, kau juga jangan lupa untuk makan ya!"
"Hnn, Jaa.."
"Jaa nee.." Sambungan telepon pun terputus. Lucy menutup ponsel flipnya dan meletakkan ke meja kecil dekat tempat tidurnya. Lucy pun tersenyum.
"Lucy-neechan, makan malam sudah siap loooohhh!" teriak Michelle dari luar kamar Lucy.
Lucy menoleh kearah pintu dan bangkit berdiri, "Haaaaa'iiii"
Lucy berlari kecil untuk membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju ruang makan untuk makan bersama dengan keluarga kecilnya.
XXX
Dirumah Lisanna, Lisanna duduk berhadapan dengan kakak-kakaknya. Mirajane dan sosok pemuda besar yang duduk disebelah Mira.
"Elfman kesini untuk menjemputmu, Lis" ucap Mira
Lisanna mengangkat wajahnya dan menggeleng, "Aku tak ingin pindah ke Edolas lagi. Aku ingin tetap berada disini..tolonglah Mira-nee..Elf-niichan.." rengeknya.
"Lisanna, aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu saat nanti kau masuk sekolah. Setelah kejadian itu.." jelas Mira sambil tertunduk.
"Iya benar, Lis. Ini untuk kebaikanmu. Lagipula sekolahmu yang sebelumnya masih mau menerimamu, dan beasiswamu masih berlaku disana. Ayolah.." ajak Elfman.
Lisanna menggeleng, "Tidak! Aku ingin bersama Natsu disini!"
Mira memukul meja dengan keras, membuat Elfman dan Lisanna terlonjak. "Cukup, Lisanna! Natsu lagi..Natsu lagi…apa kau tak menyesal atas peristiwa kemarin? Hah?!" bentak Mira.
Lisanna menatap Mira, "Mira-nee, dengarkan aku..aku tak—"
"Sudah cukup! Aku tak ingin mendengar alasanmu, Lis. Masuk kekamarmu sekarang! Aku akan mengurusi surat kepindahanmu" ucap Mira
Lisanna bangkit berdiri, "Mira-nee..kau—kau tak pernah mengerti bagaimana perasaanku!"
Setelah mengatakan itu, Lisanna pun segera berlari masuk kedalam kamarnya dan mengunci dirinya.
Elfman dan Mira pun menghela nafas. "Kenapa dia bisa berubah begitu drastic, Nee-chan?" Tanya Elfman.
"Entahlah.." jawab Mira dengan pelan.
"Apa sebaiknya kita tak turuti saja kemauan Lisanna untuk tetap disini?" Tanya Elfman lagi.
Mira menggeleng, "Tidak. Jika ia terus berada disini, kita akan semakin kehilangan Lisanna—Lisanna akan terus berubah"
Elfman tertunduk, "Baiklah.."
"Daijoubu, Elfman. Lisanna akan baik-baik saja..ini jalan terbaik untuk dirinya" ucap Mira sambil menggenggam tangannya.
Elfman mengangguk.
XXX
"Apa ayah tidak ingin ikut ke Magnolia bersamaku?" tanya Lucy yang sekarang sedang memakan es krim yang dibelikan oleh Ayahnya.
Jude menggeleng. "Kau tahu, mau bagaimanapun pekerjaan Ayah ini tak bisa ditinggal. Apalagi ditinggalkan dan diurusi oleh asistenku. Semua akan berantakan, Gomenne"
"Ah..sou..Aku mengerti.." jawab Lucy sambil memandang Michelle yang sedag membuat istana pasir di depannya.
Ya, hari ini. Michelle, Lucy, Yoshino dan Jude sedang piknik di pantai. Kenapa ada Yoshino? Michelle mengajaknya untuk ikut. Dan Lucy tahu, kalau tujuan Michelle mengajak Yoshino adalah untuk bisa bertemu. Dasar, Michelle curang.
Sedangkan Michelle sendiri bersama dengan Yoshino sedang bertarung membuat sebuah istana pasir. "Lucy-neechan..Ayah..mooouuu ayo bantu aku~~~" rengeknya
"Bertarunglah yang adil, Michelle-san. Aku saja tak ada yang membantu" protes Yoshino.
"Mouu.." Michelle merengut kesal.
Lucy dan Jude tersenyum melihat Michelle, "Kau akan kembali sendiri besok, bukan? Apa kau sudah membeli tiketnya?" Tanya Jude
Lucy menggeleng, "Belum, mungkin setelah pulang dari sini, aku akan membeli tiket keretanya"
"Michelle belum mau pulang, kenapa kau harus pulang cepat?" Tanya Jude
"Teman-temanku menungguku, Yah" jawab Lucy.
Jude melirik dan tersenyum tipis pada putrinya, "Natsu atau teman-temanmu yang menunggumu? Hmm?" ledeknya.
"Ap—apa sih yang Ayah katakan?! Teman-temanku lah!" jawab Lucy, wajahnya sudah memerah karena ledekan Ayahnya.
"Hmm..Jadi teman-temanmu lebih penting ya? Daripada Natsu?"
"Ayah, jangan meledekku ya" ancam Lucy.
Jude pun tertawa, "Baiklah..baiklah.."
Lucy pun tersenyum dan memandang kearah pantai lagi. 'Ibu..lihat kami..kami bahagia..sangat bahagia..' batin Lucy.
XXX
Sting sedang berjalan menyusuri pertokoan. Sting pun menoleh kesana kemari. Entah apa yang ia cari tapi ia tertarik dengan sebuah toko yang menjual aksesoris wanita. Sting tersenyum dan berlari untuk menghampiri toko itu.
Sting membuka pintu dan disambut oleh karyawati yang berdiri disana. "Irrashaimase.."
Sting menoleh kesana kemari dan akhirnya memutuskan untuk melihat kearah bagian penjepit rambut. Sting melihat-lihat, sesekali ia menyentuhnya dan mengangkatnya. Ia menduga-duga apakah aksesoris itu akan cocok bila dipakai oleh seseorang yang akan dia beri hadiah.
Ya, dia membeli hadiah untuk Lucy. Sudah lewat beberapa hari, tetapi entah kenapa ia ingin memeri gadis itu sebuah hadiah. Setidaknya, hadiah itu bisa mengingatkan gadis itu padanya. Sting tersenyum saat melihat jepit rambut dengan bentuk bintang berwarna bronze. Manis sekali.
"Ah tuan, apa kau mencari sebuah hadiah?" tanya sang karyawati.
Sting menoleh dan tersenyum. "Ya begitulah"
"Mungkin bisa saya bantu untuk memilih" tawar sang karyawati dengan ramah.
"Dengan senang hati" jawab Sting.
"Hmm kalau boleh tahu, gadis yang ingin tuan berikan hadiah, seperti apa?" tanya karyawati itu.
"Dia..Dia sangat cantik..ia memiliki rambut pirang yang panjang dan indah. Ia memiliki mata karamel yang indah dan meneduhkan.." terang Sting, senyum terpampang diwajahnya.
"Eh? Kalau begitu, jepit rambut yang tuan pegang itu juga cocok untuknya" ujar karyawati itu sambil menunjuk kearah jepit rambut yang telah dipegang Sting.
"Ah benarkah? Baiklah, aku ambil ini saja. Hmm aku juga akan membeli kotak hadiah dan masukan jepit rambut itu didalam sana ya" ujar Sting.
Karyawati itu mengangguk. "Wakatta"
Sting berjalan menuju kekasir dan membayar barang yang telah ia beli. Ia pun tersenyum saat sudah mendapatkan hadiah yang cocok untuk Lucy.
XXX
Tiba dimana hari Lucy untuk pulang ke Magnolia. Lucy diantar oleh Ayahnya dan juga Michelle.
"Aku pergi ya" pamit Lucy
Michelle melambaikan tangannya dan mengerlingkan matanya, "Aku akan segera menyusul~" ucapnya
Lucy tersenyum dan mengangguk, "Salam untuk Yoshino, oke?"
Michelle mengangguk, "Roger"
Lucy memandang Ayahnya sambil tersenyum. "Aku pulang ya, Ayah. Jaga dirimu baik-baik. Minum vitaminmu, jangan terlalu menforsir tenagamu untuk bekerja, oke?"
Ayahnya mengangguk, "Iya. Terima kasih atas perhatianmu"
"Baiklah, sampai jumpa.." pamitnya lagi.
"Jaa nee"
Lucy mengeret kopernya dan masuk kedalam kereta. Sebelum ia mencari tempat duduk, ia membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya. "Daahh…"
Jude dan Michelle melambaikan tangan mereka. "Daaaahhh.."
Lucy pun luput dari penglihatan Jude dan Michelle. Mungkin sekarang Lucy sudah berada ditempat duduknya.
"Ayo kita kembali" ajak Jude sambil merangkul Michelle. Michelle mengangguk.
Kereta yang dinaiki oleh Lucy pun mulai berjalan meninggalkan Stasiun Crocus.
XXX
Natsu baru saja masuk kedalam mobilnya, tetapi ponselnya mulai berbunyi. Menandakan panggilan masuk. Ia merogoh saku celananya dengan susah payah untuk mendapatkan ponselnya, setelah ia memegang ponselnya, ia melihat kontak yang meneleponnya.
'Lisanna?!'
Ia menghela nafas, "Padahal aku akan bertemu dengan Lucy hari ini, kenapa Lisanna harus meneleponku..merusak mood ku saja" gerutunya
Setelah menggerutu, ia pun mengangkat telepon itu.
"Moshi-moshi? Natsu? Kau ada dimana?" Terdengar suara Lisanna diseberang telepon.
"Aku sedang berada didalam perjalanan, kenapa? Ada apa kau meneleponku?" tanya Natsu ditelepon.
"Aku ingin bertemu dirimu, Natsu. Ada—ada yang ingin aku bicarakan.." jawab Lisanna.
"Tidak bisa. Maaf Lis, jangan ganggu aku lagi, nee?"
"Sebentar saja..oke?" pinta Lisanna.
Natsu menghela nafas, "Baiklah, tetapi setelah aku menjemput Lucy dan mengantarkannya pulang kerumah. Aku akan kabari jika aku sudah selesai urusanku, hmm?"
"Baiklah..Arigatou, Natsu"
"Hmm" Natsu pun langsung memutuskan telepon tersebut. Ia menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya. "Apa lagi yang ingin ia bicarakan.." gumamnya.
Tanpa memikirkan hal apapun, Natsu memasukkan kunci mobilnya kedalam kontaknya dan memutarnya. Terdengar mesin mobil yang menyala, Natsu segera menginjak gas dan pergi untuk menjemput Lucy di stasiun.
XXX
"Haaaahhhh?! Kau akan kembali hari ini? Kenapa kau tak menghubungiku!" omel Sting didalam telepon.
"Memangnya aku harus melapor padamu ya?" tukas Lucy.
Sting sedang santai dikamarnya sambil menelepon Lucy, ia baru berencana untuk menyusul Lucy ke Crocus, tetapi ia malah mendapat kabar kalau Lucy sudah berada diperjalanan pulang.
"Ah..kau kejam sekali, Lucy~" rengek Sting
"Jadi? Kenapa kau meneleponku? Aku sedang didalam kereta" Tanya Lucy
"Sebenarnya aku ingin mengabarimu kalau aku akan menyusulmu ke Crocus, tapi sayang sekali, kau sudah dalam perjalanan pulang" jelas Sting.
Terdengar Lucy yang tertawa didalam telepon, "Baka..sebegitu rindunya kau padaku hingga ingin menyusulku ke Crocus? Bahkan Natsu tak ada pemikiran seperti itu loh!"
"Tuh! Terbukti kan kalau aku lebih merindukanmu daripada Natsu-san. Huuu"
Lucy kembali tertawa, "Ya..yaa…sudah ah, sampai bertemu nanti. Jaa nee"
Sambungan telepon pun terputus. Sting tertawa. "Dasar Lucy"
XXX
Lucy melepaskan earphonenya dan sadar kalau kereta sebentar lagi sampai di stasiun Magnolia. Lucy mulai membereskan barang-barangnya dan meraih ponselnya. Ia memutuskan menelepon Natsu.
"Moshi-moshi? Luce? Kau sudah sampai?" ucap Natsu
"Iya, mungkin 20 menit lagi aku akan sampai" jawab Lucy.
"Ah begitu, Aku sudah sampai di stasiun kok"
"Ha? Cepat sekali~" ujar Lucy
Natsu tertawa, "Jelas cepat, agar aku bisa bertemu cepat denganmu, Luce"
"Hmm..oke oke..aku akan tutup telepon ini. Aku harus bersiap-siap turun, oke?"
"Baiklah..Jaa"
Lucy pun memutuskan teleponnya dan tersenyum ceria.
XXX
Natsu segera turun dari mobil dan masuk kedalam stasiun dan mencari sosok yang ia rindukan.
'Dimana dia..' pikir Natsu.
Dari kejauhan, Natsu bisa melihat sekilas surai panjang milik Lucy yang melambai. Natsu tersenyum dan berlari menghampirinya. Natsu memegang bahu Lucy, Lucy pun menoleh dan tersenyum.
"Hai.." sapa Lucy sambil tersenyum manis.
Natsu terperangah saat melihat Lucy. Senyuman Lucy sukses membuat Natsu blushing. Lucy yang mengenakan gaun musim panas berwarna putih tanpa lengan dengan panjang selutut. Natsu tersenyum dan memeluk pinggang Lucy. Lucy membulatkan bibirnya, sedangkan Natsu mendekatkan bibirnya ketelinga Lucy.
"Begitu mempesona.." bisiknya.
Semburat merah jelas menghiasi pipi mulus Lucy. Lucy pun memukul Natsu. "Hey, disini banyak orang tahu, lepas" ucap Lucy.
"Tidak mau, kau tidak tahu kalau aku merindukanmu, Luce..ugh" sahut Natsu sambil merengut kesal.
Lucy pun terkikik dan meraih wajah Natsu dan mengecup pipi kanan Natsu. "Nah bagaimana? Bisakah kau lepaskan aku, Natsu?" tanya Lucy
Natsu tersenyum dan melepaskan pelukannya. Dan meraih koper Lucy dan menyeretnya. Mereka berjalan menuju kedalam mobil dengan beriringan. "Aku akan meminta lebih didalam mobil" bisik Natsu
Lucy memukul bahu Natsu, "Dasar mesum"
"Hey hey, kenapa kau malah mengejekku?" tukas Natsu
"Memang kau seperti itu" timpal Lucy.
"Enak saja!"
Lucy tertawa dan diikuti oleh Natsu yang tertawa. Tanpa disadari oleh mereka, mereka sudah sampai didepan mobil Natsu. Natsu membuka bagasi dan meletakkan koper milik Lucy disana.
Lucy masuk kedalam mobil lalu diikuti oleh Natsu. Sebelum menyalakan mobilnya, Natsu memandang Lucy yang sedang sibuk memasang sabuk pengaman dan tersenyum. Lucy yang sadar telah diperhatikan oleh Natsu pun menoleh. "Apa?" tanya Lucy dengan polos
"Kau tidak ingin menciumku, Luce? Kau tidak rindu padaku?" Rengek Natsu.
"Tadi kan sudah" sahut Lucy.
"Ah masa dipipi doang" seru Natsu. "Lalu?" Tanya Lucy
"Disini nih" Natsu menunjuk kearah bibirnya.
Lucy pun tertawa, "Kenapa kau menjadi mesum seperti ini sih"
"Aku tidak mesum, aku meminta hak ku sebagai kekasihmu. Itu saja." sahut Natsu.
Lucy tertawa, "Baiklah..baiklah.. "
Cup!
Lucy mengecup bibir Natsu. Setelah itu, Lucy tersenyum. "Kena deh..hihi"
Natsu tertawa dan menarik tangan Lucy untuk mendekat. Natsu membelai wajah Lucy, Lucy memejamkan matanya. Natsu mendekatkan wajahnya, Lucy bisa merasakan nafas hangat Natsu menerpa wajahnya. Semakin dekat, dan akhirnya bibir mereka pun bersentuhan, ciuman yang begitu lembut. Menit pun berselang, Lucy pun melepaskan ciumannya.
Natsu memamerkan cengiran khasnya pada Lucy. Lucy pun tersenyum padanya.
"Ayo kita pulang" ucap Natsu sambil menyalakan mesin mobilnya. Lucy mengangguk.
XXX
Lucy merogoh tas kecilnya untuk mendapatkan kunci rumahnya. Dan setelah ketemu, Lucy membuka pintunya dan mempersilahkan Natsu masuk.
"Aku ada urusan lagi, Luce. Gomen tak bisa menemanimu dirumah" ucap Natsu
Lucy merengut kesal, tetapi setelah itu tersenyum, "Baiklah.."
Natsu pun pamit dan berjalan keluar dari gang rumah Lucy menuju temoat dimana mobilnya terparkir. Sedangkan Lucy sudah masuk kedalam rumahnya.
XXX
Natsu membuka pintu café, dimana tempat itu adalah tempat dimana ia dan Lisanna membuat janji untuk bertemu. Natsu menoleh, mencari-cari keberadaan sosok Lisanna. Saat ia menemukannya, ia pun berjalan menghampiri Lisanna.
"Hey, sudah menunggu lama ya?" Tanya Natsu sambil duduk dikursi yang berada dihadapan Lisanna.
Lisanna menggeleng, "Tidak. Aku saja yang datang terlalu awal" ucapnya sambil tersenyum.
Lisanna menyodorkan menu café pada Natsu, "Aku sudah pesan minuman, kau mau pesan?"
Natsu menggeleng. "Langsung saja, kau mau bicara apa?"
"Kau tahu, aku mencintaimu Natsu" ucap Lisanna.
Natsu memejamkan matanya, "Lis.."
Lisanna menggeleng. "Didalam ingatanku, terputar jelas setiap kenangan kita. Dimana awal aku mengenalmu, mengobrol denganmu, bermain denganmu."
Natsu diam. Mendengarkan. Ya, hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Lucy Heartfilia. Aku membenci gadis itu—gadis yang kau cintai itu. Aku benci karena dia, aku tidak dapat mendekatimu lagi seperti dulu. Keadaan kita, hubungan kita berubah karenanya!"
Natsu membulatkan matanya. Saat ia membuka mulut, Lisanna pun memotongnya.
"Itu yang selalu aku pikirkan selama ini. Padahal memang awalnya hanya ada dirimu dan dia bukan? Aku hanya pengganti bukan? Aku hanya pengganggu bukan?" lanjutnya.
Natsu menghela nafas dan membetulkan syalnya. "Lalu? Apa yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku berkencan denganmu?"
Lisanna tersentak dan memandang Natsu yang sedari tadi memandangnya serius.
"Aku..Aku.."
.
.
.
.
.
.
To be continued
Hai minna~~~ Author balik lagi sama dua chapter baru loh yuhuuu XD.. lama update? iya lama ya~ abisnya tugas tiba-tiba bejibun, jadi gak sempet buat update cepet huhuhu XC tapi..tapi..bagaimana chapter 20 sebelumnya dan chapter ini? makin penasaran gak kira-kira? hoho
Kira-kira Lisanna mau ngomong apa tuh ya ama Natsu? Kira-kira, Lisanna bakalan tetep jahat apa gimana? hayooo hayooo!
Yaudah ah, Author mau bales review yang masuk dari dua chapter kemarin~
desty dragfilia : Hoho arigatou~ Lisanna harus jahat pokoknya! biar rame ceritanya HOHOHO *ketawaalaiblisz* Aduuh maaf yaa baru bisa update, dikarenakan guru-guru yang kejam, author dilimpahkan tugas yang bejibun huhuhu XC
LRCN : Urwell! XD
Nazu-kun : Kenape jadi salam olahraga haha XD Iya kejam banget, biar seru ceritanya yoho #plak! Gomen, baru bisa update nih. huhuhu tapi bagaimana dua chapter ini? hehe XD
dsakura2 : Yahhh, namanya juga cinta, cinta itu bisa membuat orang buta *katanya* hoho XD ini udah update dan bukan update kilat, gomenne XD
K.C. Dragfilia : Hohoho, Ini udah lanjut loh, bagaimana? hehe XD
KelvinKLR : Belum membunuh kok, Lucynya kan masih idup tuh hihi XD ini udah lanjut chapternya, gimana? XD
Annataillie : Siksa ya? Hmm gimana ya~~ XD
wotakuchanlagigregetan : Hahaha setuju deh sama kamu XD Hehe arigatou, ini udah update, gimana? haha XD
renji dragnell : Hehe gomen gomen. Tugas banyak banget huhu jadi baru sempet update deh~ XC
Oke deh, udeh semua di bales reviewnya. sekarang pengumuman buat para readers yang setia baca fanfic ini~ Hmm gini, Author berencana mau bikin season 2 nya untuk judul fanfic ini *haha kaya sinetron aja pake season-season-an*. Alesannya? Pertama, biar kalian yang baca juga makin penasaran. yang kedua, alur ceritanya ini masih panjang. Author pernah bilang kan kalau author pengen ceritain bukan kisahnya Natsu, Lucy, Lisanna dan Sting? nah begitulah, kalian pasti mengerti kan? hehe
Jadi Author ingin saran dari kalian, para readers. Gimana? apakah kalian setuju dengan adanya season 2? atau kalian punya saran lainnya? Mohon tinggalkan saran kalian di kotak review yaa dan ah, jangan lupa tunggu dua chapter berikutnya XD
Yusa-kun XD
