Please, Don't Leave Me Baby

Main cast :

Park Chanyeol and Byun Baekhyun

Other cast :

Find your self

...

..

.

By :

-Byunnami-

...

..

.

Awas typo bertebaran

Happy Reading and Enjoy My Story

...

..

.

JENNIE

Jennie memang masih anak kecil namun perasaannya sangatlah peka. Dia menyimpan apa yang menjadi keluhannya, apa yang selama ini ingin ia ucapkan, apa yang selalu menjadi sebuah pertanyaan. Semuanya Jennie pendam sendiri tak ingin mengatakannya. Semua itu karna ibunya.

Jennie selalu mendapati ibunya menangis setiap malam saat masih di Amerika dulu, Jennie tak tau apa yang membuat ibu nya menangis karna selama ini Baekhyun selalu terlihat baik baik saja,mengajak Jennie bercanda, bermain dan jalan jalan. Maka ketakutan Jennie muncul. Takut membuat ibunya sedih dan berakhir dengan menangis sendirian lagi ketika malam menjemput. Tak ingin membuat Baekhyun sedih dan berjanji pada diri sendiri untuk menjadi anak yang baik dan tak membangkang.

Maka ketika guru Jennie mengatakan untuk mengundang kedua orangtuanya Jennie memilih untuk tidak datang meskipun hatinya meneriakkan keinginannya untuk tampil di atas panggung membawakan lagu di depan ibunya. Jennie tak mau Baekhyun duduk bersama orang tua teman temannya yang berpasangan sedangkan ibunya hanya datang sendiri. Jennie tidak ingin ibunya bersedih lagi.

"Jennie ingin es krim, nak?" Baekhyun menawarkan apa yang menjadi kesukaan anaknya, tadi setelah mereka berpelukan dan menangis —hanya Baekhyun— Jennie lebih banyak diam duduk tenang dipangkuan Baekhyun. Maka Baekhyun mencoba untuk memecah keheningan dengan menawarkan es krim pada anaknya, Jennie menggeleng pelan dan beringsut kedalam pelukan Baekhyun. "Jennie kenapa sayang?" tanyanya karna penolakan tak biasa Jennie.

"Jennie mengantuk Mom, bisakah Mommy menggendongku?"

Mata kecil Jennie menatap milik Baekhyun menimbulkan getaran menyesakkan ketika sipit milik Baekhyun menatap Jennie. Ada tatapan yang sulit untuk Baekhyun mengerti juga permintaan Jennie yang tiba tiba muncul. Meski begitu Baekhyun tetap mengangguk tanda mengiyakan. Digendongnya Jennie dengan menepuk nepuk pelan pantat Jennie agar segera tidur, Baekhyun berjalan pelan diruangannya dengan lullaby yang selalu dia nyanyikan untuk menidurkan putrinya.

Hela nafas hangat yang teratur membuat Baekhyun berhenti berjalan dan tersenyum tenang. Anaknya sudah lelap. Baekhyun membaringkan tubuh tidur anaknya di sofa kemudian menyelimutinya. Meninggalkan kecupan di kening sebelum kembali duduk dikursi untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertinggal. Namun harapan untuk menghabiskan sisa waktunya hilang ketika suara pintu terbuka, memaksanya untuk menoleh dan mendapati seseorang dibalik pintu.

Chanyeol.

Baekhyun terkejut tentu saja namun begitu dia mampu untuk mengontrol ekspresi wajahnya. Chanyeol yang jelas melihat Baekhyun terkejut tersenyum miris karna setelahnya Baekhyun menampakkan wajah tak sukanya, lagi. Chanyeol menoleh untuk mendapati putrinya yang tertidur nyenyak di sofa. Sesak kembali dia rasakan ketika wajah terlelap itu begitu nampak rapuh dimata Chanyeol.

"Aku merindukan Jennie" Chanyeol tak berbohong tentang rasa rindunya pada Jennie. Dia berjalan mendekati jennie dan berjongkok untuk lebih dekat dengan Jennie.

"Dia baru tidur, jangan membangunkannya" Baekhyun tau Chanyeol tidak mungkin melakukannya hanya saja mulutnya menyuruh untuk berbicara begitu saja saat Chanyeol mengusap lembut pipi putrinya. Chanyeol berdiri kemudian mendekati Baekhyun, menarik kursi lain untuk duduk tepat dihadapan Baekhyun.
"Mari kita berbicara, tentang Jennie"

Baekhyun mendelik tak suka, kembali ketakutan dirinya muncul, wajahnya berubah mulai memucat jemarinya yang berubah dingin saling menggenggam dalam getaran. Chanyeol melihatnya, mengerti jika Baekhyun masih membenci dirinya, berfikir buruk tentangnya maka digenggamnya jemari Baekhyun dengan sedikit merematnya untuk sedikit menenangkan. Namun gagal, Baekhyun justru menunduk tak ingin menatap Chanyeol yang begitu dekat dengannya. Menarik kasar tangannya dari genggaman Chanyeol.

"Dengarkan aku Baek. Tenanglah aku tak bermaksud buruk. Percayalah" meyakinkah Baekhyun adalah yang paling penting.

"Apa lagi yang kau mau Chanyeol." Suaranya bergetar dalam isakan "Aku menyuruhmu untuk tak mengusikku dan putriku tapi kau melanggar dan diam diam menemuinya, mendekatinya dan membuat Jennie tak mau berpisah denganmu. Bahkan aku harus rela meskipun berat membiarkan Jennie memiliki waktu siangnya bersamamu." Chanyeol kembali menggengga tangan Baekhyun. "Sekarang apalagi yang kau mau, Chanyeol!?"

Baekhyun berteriak dan menarik tangannya dari genggaman Chanyeol untuk kedua kalinya. Tubuhnya bergetar, Baekhyun menangis tak lagi ingin memendamnya dan Chanyeol semakin merasa dirinya penjahat yang memang haruss dimusnahkan karna lagi lagi membuat Baekhyunnya menangis karna dirinya.

"Maafkan aku Baek. Aku terlalu serakah dengan apa yang tak seharusnya aku dapatkan. Aku tau. Aku sangat berterima kasih padamu karna memberikan kesempatan untukku bisa bermain dengan Jennie dalam waktu yang lebih lama. Padahal orang tak tau diri ini sudah sangat menyakitimu." Chanyeol sadar betul atas sikap tak tau malunya, mengingkari sebuah janji untuk kesekian kalinya.

"Aku merindukan Jennie beberapa hari ini karna sepertinya Jennie terus menghindar. Aku tak tau apa yang terjadi, apa aku membuat kesalahan sampai Jennie tak lagi menemuiku. Aku mencarimu kesini karna aku tau Jennie pasti bersamamu, dan benar Jennie bersamamu. Dan juga..." Chanyeol menjeda kalimatnya, menimbang haruskah dia mengatakannya? Mengatakan tujuannya yang tiba tiba muncul?

"aku mendengar semuanya." Baekhyun mendongak, menaikkan satu alisnya dalam pandangannya tepat mengarah ke Chanyeol.

"Apa...yang kau dengar?" Pelan suara Baekhyun adalah sebuah kekhawatiran akan opsi opsi yang tak diinginkan Baekhyun bakal Chanyeol katakan.

"Semuanya, percakapanmu dengan Jennie dan bagaimana kau menangis. Saat kau menina bobokkan Jennie. Aku mendengarnya"

Baekhyun tersentak dengan apa yang baru saja Chanyeol katakan. Chanyeol menguping. Itulah yang dapat Baekhyun simpulkan saat ini. Bagaimana Jennie memulai ceritanya, keinginannya, dan juga bagaimana Jennie menenangkan ibunya yang menangis.

"Lalu?" Baekhyun kembali bertanya, sedang Chanyeol dengan apa yang dia inginkan berucap dengan tenang membuat Baekhyun kembali tak dapat mengontrol emosinya.

"Bisakah kita tidak egois?"

"Siapa yang kau bilang egois Park Chanyeol!?"

"Baekhyun, dengarkan aku dulu, Baek"

"Bagaimana aku bisa tenang? Gunakan otakmu sebelum berbicara!"

Baekhyun tengah emosi, batinnya yang belum juga sembuh ditambah lagi dengan kepalanya yang kembali berdenyut kini semakin terasa sakit dengan kalimat enteng yang Chanyeol ucapkan. Baekhyun hanya tidak tau bagaimana Chanyeol meyakinkan dirinya sendiri untuk bisa mengucapkan hal itu. Baekhyun mengusap kasar wajahnya, menunduk dengan jemarinya yang meremat rambutnya acak sambil terus terisak dengan tubuh yang bergetar.

"Aku mengerti ini sangat berat untukmu, bukan hal mudah bukan? Tapi ayo kita berfikir dan menempatkan diri kita diposisi Jennie, Baek."

Chanyeol menarik semakin dekat kursinya dengan Baekhyun, Baekhyun tak berucap apapun dia hanya diam dengan buraian air mata yang masih mengalir. Chanyeol menyentuh dagunya, menaikkan sedikit agar Baekhyun dapat melihat wajahnya.

"Kau pasti tau Jennie sangat suka menyanyi, aku sangat malu untuk mengatakan ini. Tapi melihat bagaimana dia yang begitu antusias bernyanyi bersama Jongdae membuat ku tak bisa membiarkan Jennie untuk melepas keinginannya bernyanyi di atas panggung. Mungkin hanya panggung kecil anak TK tapi bukankah akan sangat terlihat begitu besar jika kau ada disana? Bertepuk tangan dengan senyum lebar?" Chanyeol menjeda, menunggu Baekhyun menanggapinya.

"Tapi Jennie sendiri yang tidak menginginkan itu"

"Karna Jennie tidak ingin kau bersedih, duduk sendiri disana, diantara orangg tua yang berpasangan. Jennie mengkhawatirkanmu, Baek."

Baekhyun termenung, memikirkan perkataan Chanyeol barusan. Benarkah jika putrinya berfikir sejauh itu?

"Bisakah kita mengabulkan keinginan Jennie?" Satu permintaan dengan sejuta harapan Chanyeol nantikan. Chanyeol menangkup tangan Baekhyun, memberikan keyakinan untuk Baekhyun.

"Apa itu?" Dan senyuman yang secerah pagi itu terulas indah di bibir Chanyeol, seperti sebuah oksigen yang dia dapatkan untuk bernafas bebas. Melega dengan pertanyaan Baekhyun.

"Ayo kita datang sebagai sebagaimana mestinya. Duduk ditempat yang harus kita tempati."

"Apa!? Kenapa harus denganmu?"

"Karna aku dadynya"

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkataan Chanyeol. Itu benar. Chanyeol adalah ayah Jennie. Hanya saja Chanyeol tak sadar kembali menghentak perasaan Baekhyun. Membangkitkan emosi yang sempat terpendam.

"Kenapa? Kenapa kau baru mengakui dirimu sebagai daddy nya Yeol? Kau bahkan menyuruhku untuk mmpphh..."

Chanyeol tak akan membiarkan Baekhyun mengatakannya, dia tau kesalahannya dulu, kalimatnya yang menjadi boomerang baginya. Dan pukulan Baekhyun pun tak Chanyeol hiraukan. Chanyeol hanya menempelkan lunak bibirnya pada milik Baekhyun tanpa nafsu, tanpa lumatan. Ia hanya tak ingin Baekhyun kembali membuatnya terjatuh dengan penyesalan karna yang akan Chanyeol lakukan sekarang adalah perjuangan.

"Chanyeol apa yang kau lakukan!?" Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol setelah sadar apa yang dilakukan Chanyeol.

"Bisakah kau tak mengungkitnya?"

"Apa kau bilang?"

"Itu...itu bisa membunuhku Baek." Lirih suaranya membuat Baekhyun terdiam, mata yang sempat melebar dengan sorot kemarahan itu perlahan menghilang. "Aku tak benar benar mengatakannya, ada banyak hal yang harus kukatakan padamu dan jika aku mengatakan semuanya apa kau akan mendengarkanku, Baek?." Baekhyun berpaling, tidak perlu mengatakannya Chanyeol pun tau Baekhyun untuk saat ini masihlah tak ingin alasan apapun. "Aku percaya padamu dan aku akan menunggumu ketika hatimu benar benar siap mendengarkan. Jadi..."

Baekhyun kembali mendongak, melihat Chanyeol.

"Jadi bisakah besok kita datang untuk Jennie? Sebagai orangtua. Benar benar orangtua Jennie." Itu sukses membekukan Baekhyun, berada dalam kebinguang.

"Apa yang harus kukatakan padanya. Ini sangat sulit untukku"

Pikirannya kacau, tidak tau apa yang harus dia lakukan, Jennie, siapa orang tua yang tidak ingin melihat anaknya bahagia? Tentu saja Baekhyun ingin, karna kebahagiaan Jennie adalah tujuannya. Tapi kenapa harus dengan Chanyeol lagi? Sebenarnya apa yang tuhan rencanakan untuknya?

Kenapa aku tak bisa lepas dari pria ini? Bahkan ketika aku tak lagi di negara ku sendiri aku harus bekerja untuk karir Park Chanyeol. Dan sekarang apa aku juga harus kembali mengalah? Kembali harus bekerjasama dengan Chanyeol lagi?

Aku lelah

Sangat lelah.

Tubuhnya terasa lemas, mata sabitnya bahkan sudah lelah untuk mengeluarkan air mata lagi. Dan sesuatu yang menghangatkan tengah melingkupi tubuhnya. Baekhyun pasrah tak memberikan penolakan. Chanyeol merengkuhnya dalam pelukan yang begitu erat. Baekhyun sangat pusit, mata sakit dan tenaganya seperti telah hilang. Dia diam dan membiarkan Chanyeol terus mengusap punggungnya, kepalanya ia sandarkan di dada Chanyeol. Dan Baekhyun mampu merasakan bagaimana kecupan kecupan berulang itu Chanyeol berikan di pucuk kepalanya, juga kalimat maaf yang terus Chanyeol lontarkan.

Baekhyun memejamkan matanya.

"Aku lelah, Chanyeol"

Ada senyum lain yang terkembang di balik dua orang yang tengah berpelukan.

e)(o

Luhan melihat kebawah kemudian senyumnya ikut terkembang kemudian tangan kanannya meletakkan alat memasaknya hanya untuk mengusap gemas kepala Jennie. Sejak pagi, sejak bangun tidur gadis itu terus bergelayut manja dengan Luhan. Tentu saja Luhan tak menolaknya, bahkan Luhan senang Jennie melakukan hal itu.

"Kau sangat senang sekali kan?"

"Sure, thanks auntie i look so beautiful. Like a princess "

"Tentu, kau akan menjadi yang paling cantik hari ini baby jadi tunjukkan pada mommy nanti, okey"

"Yep!"

"Dan satu lagi" Luhan menarik lebih dekat tubuh Jennie mendekatkan bibirnya dengan telinga Jennie kemudian berbisik. "Kontrol ekpresimu, kau terlalu terlihat jelas sayang"

Jennie menutup mulut dengan kedua tangannya dengan kekehan yang tetap saja tak bisa di tahan membuat Luhan ikut tertawa dan menyentil pelan hidung mungil Jennie.

"Aku bahagia bibi"

"Aku mengerti, sekarang duduk dan biarkan aku menyelesaikan masakanku untuk sarapanmu. Sebentar lagi mommy mu akan turun"

Dan benar saja, tidak lama Baekhyun turun dengan pakaian yang sangat rapi juga terlihat begitu menawan dan cantik.

"Aku nanti siang akan pergi ke Busan dengan Key oppa dan baru besok lusa, Baek." Luhan ikut bergabung di meja makan bersama Baekhyun dan Jennie yang sudah mulai menyuapkan beberapa sendok kedalam mulut mereka. Baekhyun mengangguk mengerti. "Jika kau butuh sesuatu mungkin kau bisa menghubungi seseorang" Baekhyun berkerut. "Yaaa...mungkin Chan...Yeol?"

"Tidak. Kau hanya pergi semalam aku baik baik saja, Lu"

"Mom, jadi Paman Chanyeol akan menjemput kita?"

"Iya, sayang"

Ting tong

"Itu Paman Chanyeol!?"

Jennie terlalu senang sehingga melupakan apa yang selalu Baekhyun katakan untuk tak meninggalkan meja makan sebelum makanan selesai. Semangatnya pagi ini benar merubah mood siapa saja. Luhan dan Chanyeol. Jennie kembali ke meja makan dengan tubuhnya yang berada dalam gendongan Chanyeol.

"Jennie habiskan sarapanmu, nak"

"Paman sudah makan?"

"Paman sudah"

"Kalau begitu suapi aku, paman"

Luhan yang tak berhenti tersenyum kini berdiri meninggalkan meja makan dengan setelah melihat mata Baekhyun yang menyuruhnya untuk tetap tinggal "Aku buatkan kopi, Yeol." Kemudian berlalu meninggalkan dua orang dewasa disana bersama satu putrinya.

e)(o

Sepanjang perjalanan menuju sekolah Jennie tak berhenti bernyanyi, berceloteh bahkan bertanya hal hal random yang tentu saja Chanyeol tanggapi dengan sama cerianya. Semalam setelah pulang dari tempat kerja Jennie terbangun dari tidurnya ketika tubuhnya diangkat Chanyeol dari kursi penumpang di belakang. Jennie sedikit terkejut karna melihat Chanyeol saat matanya terbuka.

Tapi Chanyeol tak mengatakan apapun dan membawa Jennie ke apartment Luhan dengan Baekhyun disampingnya. Ketika Chanyeol ingin menidurkan kembali tubuh Jennie di ranjang empuk miliknya, gadis bermata serupa miliknya itu justru duduk dan mau tidur lagi. Bertanya kenapa ada paman Chanyeol dirumah? Kenapa Jennie bisa digendong paman Chanyeol dan banyak lagi.

Baekhyun tidak tau bagaimana memulai untuk mengatakan ajakan Chanyeol dan juga keinginan terpendam Jennie yang tidak Baekhyun sadari. Jadi, Chanyeol lah yang melakukan semuanya. Mengatakan akan datang ke acara dan menemani Baekhyun agar orang lain dan teman teman Jennie tak lagi mengejeknya. Hingga satu kalimat pendek Jennie mampu menghentikan tarikan nafas dua orang disana.

"Kalau begitu besok paman Chanyeol Jennie panggil daddy?"

Chanyeol dan Baekhyun mematung, namun sesaat kemudian Chanyeol mengangguk dengan cepat bahkan mengangkat tubuh Jennie untuk ia dudukkan dipangkuannya dan memeluknya erat.

"Tentu saja kau harus memanggil daddy"

Mungkin Jennie tak akan mengerti kenapa, mungkin Jennie pikir untuk menyempurnakan sebuah bagi Chanyeol itu adalah panggilan paling ia tunggu, paling ia harapkan dari mulut Jennie, tak peduli bagaimana Jennie mengasumsikannya. Karna saat itulah semangat seorang Park Chanyeol semakin membara bagaimana dia harus membawa hidupnya, dunianya kembali.

"Jennie, coba panggil daddy, sayang"

"DADDY!"

Dan teriakan lantang gadis kecilnya mampu menggetarkan seluruh sel selnya, dadanya menggemuruh bahagia, saraf sarafnya seperti menyatu memperkuat jaringannya dan tawa yang menggema milik Jennie adalah oksigen baru untuk pria yang kini semakin erat mendekap tubuh Jennie.

"Bisa kau ulangi lagi lagi dan lagi?"

"Daddy daddy daddy daddy"

"Cium daddy"

Tanpa menunggu apapun Jennie mencium pipi kanan dan kiri Chanyeol yang sedang menutup matanya, tersenyum kemudian dengan mata yang sudah siap meneteskan air mata. Tak sadar seseorang lain disana tengah berpaling dan membekap bibirnya setelah melihat bagaimana Chanyeol tersenyum lebar dengan airmata yang turut jatuh dipipinya.

Ini sakit, tapi kenapa hatiku menghangat melihat mereka?

e)(o

Baekhyun dan Chanyeol masuk ke dalam aula yang sudah dipenuhi dengan kursi kursi juga orangtua murid yang sudah banyak yang datang. Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun, Baekhyun yang tak menyadarinya karna sibuk mencari tempat duduknya hanya diam dan berjalan disamping Chanyeol.

"Orangtua murid dengan nama?"

"Jennie." Jawab Chanyeol. Kemudian wanita itu menunjukkan tempat duduk Chanyeol dan Baekhyun.

Mereka mendapat tempat paling depan tepat di depan panggung. Setengah kemudian aula sudah penuh dan dan acara segera dimulai. Bayak pertunjukkan yang mampu menggelitik perut penghuni aula dengan tinkah lucu anak anak yang menggemaskan. Ada drama, tari, bernyanyi grup juga solo. Baekhyun dan Chanyeol sangat menanti dengan pertunjukan Jennie, apa yang akan gadis kecilnya tampilkan.

Dan ketika suara seorang mc memanggil nama Jennie jantung Baekhyun berdebar, tangannya meremat pakainnya sedang pandangan tak henti menatap gadisnya yang berjalan menuju grand piano dengan lampu sorot mengarah hanya ke Jennie. Etah apa yang Baekhyun rasakan, Jennie belum memulai tapi bibir Baekhyun ia gigit agar tak terisak. Dan sebuah tangan besar kembali menggemgamnya sedang tangan lainnya menarik bahu Baekhyun, Baekhyun menoleh dan tak ada niatan untuk melepas apa yang Chanyeol lakukan karna kembali keduanya menghadap ke depan.

Baekhyun tak pernah sekalipun mengajari Jennie bermain alat musik, apapun itu. Baekhyun tau Jennie suka bernyanyi tapi Baekhyun tak pernah berfikir jika Jennie ingin tampil diatas panggung. Dan semua ketidaktahuan itu membuat Baekhyun merasa gagal dalam memperhatikan Jennie. Didepan sana, Jennie tengah bernyanyi dengan iringan musik piano yang gdis kecil itu mainkan sendiri. Lampu sorot hanya berpusat pada Jennie. Putrinya bermain dengan sangat apik, alunan musiknya mampu membius seluruh tamu di aula ditambah dengan suara Jennie yang merdu.

Baekhyun tau lagu yang Jennie nyanyikan adalah miliknya, lagu yang Baekhyun ciptakan saat mereka masih tinggal di Amerika ketika Baekhyun masih mengandung Jennie dalam usia kandungan tujuh bulan. Itu lagu Baekhyun buat memang khusus Jennie, Baekhyun selalu menyanyikan lagu itu ketika Jennie ingin tidur. Tapi Baekhyun tak pernah menunjukkan kepada Jennie bagaiman lagu itu beriringan dengan musik.

Musik berhenti, dan tepuk tangan yang menggema adalah pengiring terakhir sebagai penutup penampilan Jennie malam itu. Baekhyun berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat, menarik perhatian Chanyeol yang juga bangga terhadap Jennie. Jennie melihatnya, gadis kecil itu tersenyum lebar dan menunjukkan dua love sigh dari tangannya tepat kearah Chanyeol dan Baekhyun.

...

..

.

"Mom! Dad!"

Mereka ada diluar ruangan setelah acara selesai. Baekhyun dan Chanyeol duduk di dekat tempat bermain murid taman kanak kanak sambil menunggu Jennie keluar. Dan teriakan yang cukup nyaring itu mampu membuat Chanyeol dan Baekhyun menoleh mencari sosok kecil yang melambaikan tangannya.

Dibelakang Jennie ada banyak teman temannya yang hanya menatap Jennie tak percaya. Mengikuti arah pandang Jennie.

"Itu orangtuamu?"

"Emh,. Mommy and daddy."

"Jadi kau punya daddy?"

"Tentu saja, Junhoe" sebuah senyum menyeringai nampak terlihat di bibir kecil Jennie setelah melihat bagaimana tampang terkejut milik temannya.

Setelah memberikan seringai nya Jennie berlari menuju Chanyeol dan Baekhyun, menubrukkan tubuhnya dikaki Baekhyun dan meminta sebuah gendongan terhadap Chanyeol.

Jennie mendapatkannya.

"Mom, Jennie lapar" kepalanya bersender di bahu Chanyeol, Baekhyun tersenyum mengerti.

"Ayo kita beli makan"

Dan Chanyeol segera meraih tangan Baekhyun untuk ia genggam sedang tangan lainnya menyangga tubuh Jennie, tak ia pedulikan tatapan Baekhyun pada maniknya yang kemudian menatap tangan Chanyeol Yang menggenggam miliknya.

Mereka makan tidak jauh dari sekolah Jennie karna Jennie terlihat begitu lapar jadi keduanya tak ingin mencari restoran yang jauh, lagipula itu adalah restoran yang sering Baekhyun dan Jennie datangi yang menyediakan makanan sehat khusus anak anak.

Jennie yang nampak senang terus bermanja manja ke Chanyeol, seperti saat makan pun Jennie meminta Chanyeol untuk menyuapinya meskipun Baekhyun menawarkan diri tetap saja gadis kecil itu menolak. Chanyeol? Tentu saja dengan senang hati melakukannya.

Selesai makan mereka kembali ke mobil. "Daddy?"

"Hm.?"

"Apa kita akan pulang?"

"Tidak"

Tidak? Baekhyun menoleh menghadap Chanyeol dengan tatapan penuh tanya begitu juga dengan Jennie yang memajukan tubuhnya agar lebih dekat melihat Chanyeol yang tetap melajukan mobilnya sambil tersenyum senang tak ingin menjawab apapun.

"Chanyeol. Memangnya kita akan kemana?" pada akhirnya Baekhyun bertanya setelah menunggu beberapa menit masih saja taka da jawaban.

"Yang jelas kita akan bersenang senang bertiga. Sekarang nikmati perjalanan kita"

"Yeeeee kita jalan jalan? Benarkan?"

"Huh? Menikmati katanya" Baekhyun mengguman kecil sambil memalingkan wajahnya kearah jalanan, Chanyeol mendengarnya meski begitu Chanyeol hanya mengangkat bahunya kemudian yang terdengar selajutnya adalah percakapan antara Chanyeol dan Jennie membiarkan Baekhyun tetidur dalam perjalanan yang Chanyeol janjikan.

"Baek. Baekhyuna…"

Baekhyun mengerjapkan matanya saat sebuah panggilan dia dengar.

"Mom, kta sudah sampai mom. Ayo turunlah" Baekyun menoleh dan mendapati pintu sampingnya sudah terbuka dengan Jennie yang berada di gendongan Chanyeol tengah berdiri di sampingnya menunggunya keluar.

Baekhyun turun dan menatap sekelilngnya mencoba memahami keberadaan mereka saat ini.

LOTTE WORLD!

Baekhyun menoleh kearah Chanyeol. "Kenapa kesini?"

"Apanya yang kenapa? Tentu saja untuk bersenang senang"

"Chanyeol itu tidak mungkin!"

Chanyeol mengerutkan keningnya, takmengerti dengan Baekhyun kenapa tidak mungkin. Apa yang membuat tidak mungkin?. Terlebih wanitanya tiba tiba mendekatinya dan berbicara dengan berbisik.

Chanyeol menegang.

"Apa yang kita tunggu daddy?"

"Baek, Jennie sudah tak sabar ayolah"

"Tunggu,"

"Kenapa? Apa kau tak suka kita keluar bertiga?"

"TENTU SAJA…..Chanyeol kau ingin mereka melihatmu disini?"

Chanyel kecewa tentu saja dengan jawaban Baekhyun yang entah kenapa begitu mudah untuk menjawab, seolah meyakinkan jika dirinya masih belum Baekhyun terima. Disisi lain Chanyeol tak mengerti dengan kalimat terakhir Baekhyun.

"Kalau kau tak suka tidak apa. Biarkan aku dan Jennie saja…"

"Tunggu!"

Chanyeol tersenyum saat dirinya mulai berjalan beberapa langkah dan Baekhyun meghentikannya dengan menarik lengannya. Chanyeol tetap menjaga ekspresinya agar tak tersenyum. Chanyeol tak menatap Baekhyun dan hanya diam mematung sedang Baekhyun melihat bagaimana Chanyeol yang terlihat kecewa akhirnya menghela nafas kemudian menarik tangan Chanyeol, lagi.

"Kita lakukan penyamaran"

"Kenapa harus?" Chanyeol menghentikan langkahnya membuat Baekhyun pun ikut berhenti. Hal yang terjadi kemudian mereka saling menatap, Chanyeol yang tak mengerti sedang Baekhyun yang merasa Chanyeol bodoh membuatnya semakin merutuki kebodohan Chanyeol, Baekhyun jengah.

"Mom! Dad!.. ayo masuuuuuk~~"

Jennie yang sudah tak sabar untuk menaiki berbagai wahana cukup kesal melihat dua orang dewasa di depannya yang bermain main dengan menarik tangan. Jennie sungguh tak mengerti ada apa dengan dua orang itu.

"Tunggu sebentar sayang. Chanyeol turuti saja apa yang aku lakukan kalau kau masih ingin kita tetap masuk kedalam"

Apa itu sebuah ancaman Baekhyun?!

Mereka bertiga tengah mengantri untuk sebuah wahana untuk anak anak yang sejak masuk kedalam membuat Jennie merengek ingin menaikinya. Baekhyun ikut menikmati meskipun hanya Jennie yang menaiki wahananya, melihat bagaimana tawa Jennie yang mengembang dari jauhan membuat Baekhyun tersenyum lebar dengan mata yang berkaca kaca sambil tangannya melambai lambai.

Chanyeol memperhatikannya. Dan rasa bersalah itu kembali menampakkan wujud transparannya. Dilepasnya masker dan topi yang Baekhyun belikan tadi sebelum masuk. Konyol menurut Chanyeol bagaimana Baekhyun masih saja khawatir jika orang orang akan mengenalinya, namun kekonyolan itulah yang membuat Chanyeol tak ingin melepaskan genggamannya meskipun Baekhyun sempat mendelik kepadanya.

Dan melihat bagaimana Baekhyun yang memperhatikan Jennie dari jauh seperti saat ini membuatnya menarik tubuh kecil itu untuk dipeluknya.

"Chanyeol….." Baekhyun mencoba mendorong tubuh yang lebih besar darinya itu dengan kedua tangannya namun yang Baekhyun rasakan justru Chanyeol yang semakin menariknya semakin erat.

"Biarkan begini. Hanya sebentar"

Baekhyun tak mengerti dengan tubuhnya yang tak menolak Chanyeol seperti biasanya. Bahkan saat ini Chanyeol MEMELUKNYA? Bukankah bahkan hanya menyentuh sedikit saja dirinya selalu menolak pria jangkung itu? Kenapa sekarang seakan tubuhnya mengkhianati dirinya sendiri dengan membalas pelukan itu?

Apa yang kulakukan? Kenapa aku justru sangat ingin memeluknya?

"Aku tak akan menyerah. Tidak akan"

Bisikan yang terdengar lembut di telinga Baekhyun. Baekhyun mengerti namun juga tak ingin berharap, bagaimanapun pengalaman di masa lalu mengajarkannya untuk tak semudah itu untuk jatuh terlalu mudah. Jika Chanyeol memang benar bersungguh sungguh dengan yang diucapkannya maka Baekhyun akan melihat seberapa besar usaha pria yang masih saja memeluknya erat, ini.

Larut dalam pelukan hangat di dinginnya malam membuat mereka tak menyadari hal lain di kejauhan. Sepasang mata yang tengah memperhatikan sepasang manusia yang saling berbagi kehangatan, itu yang dia pikirkan - mengulas senyum lebar tanda rasa bahagianya.

Tuhan, aku menyayangi mommy and daddy.

Kaki kecilnya berlari mendatangi Chanyeol dan Baekhyun. Sebenarnya gadis kecil itu tidak ingin mengganggu tapi bagaimana lagi, Jennie masih ingin melanjukan ke wahana lain sampai lelah kemudian makan gula gula kapas atau es krim. Jika menunggu dua orang tua disana menyelesaikan pelukannya bisa saja Jennie tak akan menaiki wahana lagi karna terlalu malam. Huuffttt.

Apa yang Jennie inginkan dia dapatkan dan setelahnya mereka pulang dengan keadaan dimana kebisuan adalah teman mereka di mobil. Ya, Baekhyun dan Chanyeol tak lagi berbicara setelah Jennie menginterupsi keduanya hingga Chaneol merasakan tubuhnya di dorong Baekhyun hingga elukan itu telepas. Dan Chanyeol juga Baekhyun hanya menanggapi ketika Jennie menanyakan sesuatu atau menginginkan sesuatu.

Canggung

Mungkin hanya Baekhyun saja yang merasa canggung. Chanyeol sedikitpun tidak merasakannya namun melihat bagaimana wanitanya terus berusaha menghindarinya membuat Chanyeol lebih banyak diam dan cukup menikmati kebersamaan mereka bertiga.

"Sudah sampai"

"Heh? Oh ya. Ehm terimakasih untuk hari ini" Baekhyun masih tak ingin menatap pria disampingnya langsung membuat Chanyeol sedikit memiringkan wajahnya untuk melihatnya.

Jennie ada dipangkuan Baekhyun tertidur pulas. Chanyeol melihat bagaimana Baekhyun yang harus membawa tas dan juga menggendong Jennie. Tentu saja badan mungil milik Baekhyun akan sedikit kesulitan terlebih anaknya yangtengah tertidur.

"Diam disitu"

"Apa?"

Tak menghiraukan kebingungan Baekhyun, Chanyeol segera keluar dari mobil dan membuka pintu lain mengulurkan tangannya.

"Biar aku yang menggendong Jennie"

Baekhyun menatap Chanyeol disampingnya yang mengulurkan tangannya meminta Jennie. Baekhyun sadar dirinya memiliki batas untuk system tubuhnya yang akhir akhir ini terkuras untuk banyak hal. Dia lelah. Fisik juga psikisnya. Jadi Baekhyun tak lagi menolak tawaran yang Chanyeol ujarkan dan hanya mengangguk kemudian dirasakannya tubuh Jennie sudah terangkat dari pangkuannya.

Mereka menaiki lift dan karna waktu memang sudah malam jadi hanya mereka bertiga saja yang ada didalam lift. Masih dalam suasana yang sama. Hanya hembusan nafas yang menjadi pengirng suara disana hingga mereka tiba tepat didepan pintu apartment Luhan. Chanyeol meletakkan Jennie di atas Kasur kemudian menyelimutinya.

"Terimakasih, Yeol"

"Kau tidak perlu mengatakannya Baek….."

"Oh…kalian sudah pulang? Hai Chanyeol?"

Itu Luhan yang juga baru datang dan melihat bagaimana pakaian mereka yang masih rapi mebuat Luhan berfikir jika keduanya jga baru saja datang.

"Kpikir kau tidak pulang, Lu"

"Yaa tadinya aku memang tidak pulang tapi ternyata pekerjaanku selesai jadi aku meminta ijin untuk pulang. Ah ya. Bagaimana acara kalian bertiga? Apa acaranya baru selesai? Aaaaahh mana mungkin, itu acara anak tk jadi tidak seharusnya sampai malam bukan? Tapi kalian….."

"Kami jalan jalan setelahnya"

Tentu saja itu Park Chanyeol yang memotong kalimat Luhan, Chanyeol yang mulai tak suka bagaimana Luhan terus bicara dan seolah sengaja. Chanyeol tau untuk beberapa tahun terakhir Luhan sangat membencinya bagaimana sorot mata rusa itu memancarkan kebencian setiap kali mereka bertemu sengaja ataupun tidak. Dan saat itu Chanyeol tak menyadari jika Luhan sudah tau siapa yang menghancurkan sahabatnya.

Baekhyun menggaruk tengkuknya merasa tak nyaman saat hanyeol mengatakan itu. Jelas Luhan akan membiarkan Baekhyun tidur malam ini. Telebih saat Baekhyun mendapati bagaimana mata rusa itu meliriknya dengan sunggingan senyum dengan arti lain.

"Jadi? Kalian keluar untuk jalan jalan?"

"Hm"

"Bertiga?"

"Hm"

"Oh! Tanpa pelindung untuk wajahmu tuan Park?"

"Ya"

"Tidak! Chanyeol menggunakan topi dan masker" benar Chanyeol mengunakannya karna Baekhyun yang membelikan juga memasangkannya, tadi.

Tapi kenapa aku merasa ada sesuatu yang aku lewatkan?!

"Aku melepasnya"

"Apa?" Baekhyun berkerut kening dan mulai merasakan sesuatu tak baik.

"Apa kau lupa, Baek? Aku sudah tak memakainya lagi saat kita berpelukan tadi juga hhhmmmpp"

Baekhyun reflek membekap mulut Chanyeol yang dengan entengnya mengatakan itu didepan Luhan tanpa beban sedikitpun dimulutnya. Disisi lain Baekhyun juga merutuki kebodohannya yang takmenyadari jika Chanyeol melepas topi juga maskernya. Jadi itu yang membuat Baekhyun merasakan ada sesuatu yang dia lewatkan. Dan juga…

Kenapa Chanyeol mengatakan kita berpelukan?!

Padahal dia yang memelukku.!

Aku tidak!

"Pulanglah, sudah malam dan sekali lagi terimakasih sudah membantuku hari ini."

Chanyeol mendengus dan tanpa sengaja melihat Luhan yang menatapnya seolah mengejeknya. Apa apaan itu? Dan Chanyeol berpamitan dengan Baekhyun yang mengantarnya didepan pintu. Baekhyun menarik nafas, entah kenapa hari ini perasaannya sungguh campur aduk. Ada rasa senang yang memiliki persentasi cukup tinggi yang Baekhyun tidak tau darimana kesenangan itu. Ingin mengatakannya namun juga ingin menyangkalnya. Yang Baekhyun takutkan adalah perasaannya yang mengharap sesuatu yang belum nampak itu. Ya, harapan.

Baekhyun segera menuju kamarnya untuk bersih diri kemudian tidur. Hingga saat ia sudah masuk kamar dan menemukan Luhan masih saja disana tengah duduk di pinggir ranjang dengan kedua tangannya dibelakang untuk menyangga tubuhnya.

"Jadi?"

Oh Tuhan aku ingatkan aku untuk membekap mulut sialan Chanyeol itu agar bebas dari Luhan.

e)(o

Seminggu terlewati dan tidak ada sesuatu yang Baekhyun takutkan terjadi, tidak ada Jennie yang telihat sedih lagi seperti sebelumnya, tidak ada lagi Luhan yang terus terusan menggodanya. Pekerjaannya pun juga berjalan baik baik saja. Hanya beberapa hari lalu saja Baekhyun sedikit berdebat dengan CEO JMEnt yang berusaha membujuk Baekhyun untuk memperpanjang kontraknya.

"Maafkan saya. Ini sudah keputusan saya untuk tidak memperpanjang kontrak, dan anda tenang saja karna saya tidak akan meninggalkan tanggungjawab yang perusahaan berikan sebelum saya keluar dari Jm."

Baekhyun mempertahankan senyumnya. Dia tau ketika sajangnim-nya memanggilnya untuk datang keruangnnya adalah untuk membahas kontrak yang akan Baekhyun akhiri. Baekhyun mendengar Junmyeon si pemilik gedung pencakar langit yang ditempatinya saat ini tengah menarik nafas cukup panjang.

"Baekhyun. Kau tidak ingin memperpanjang kontrak karena kau membenciku. Benar?"

Sebuah kejutan tersendiri bagi Baekhyun mengetahui bagaimana CEO itu menyadarinya.

"Maafkan saya, tapi saya tidak akan berbohong untuk itu. Tapi sungguh saya berterimakasih untuk semua kebaikan yang anda berikan, kepercayaan yang anda berikan. Juga jalan kesuksesan yang anda berikan. Bagaimanapun tanpa anda saya tidak bisa menyalurkan hobi saya sejauh ini."

Itu benar. Daripada membenci Junmyeon Baekhyun lebih banyak berterimakasih padanya. Meskipun rasa marah Baekhyun masih belum pulih namun Baekhyun lebih memilih untuk mengingat kebaikan kebaikan yang dia dapatkan dari orang yang duduk di singgasananya daripada mengingat kesakitan yang dia dapatkan. Baekhyun tidak ingin hidupnya diliputi kebencian, karna Baekhyun ingin ketenangan hati dan pikirannya.

"Aku mengerti. Kau adalah kebanggaanku yang aku sia siakan. Maafkan aku Baekhyun. Jika suatu saat kau ingin kembali datanglah."

Baekhyun tersenyum. Dia ingat saat itu Baekhyun melihat ada rasa menyesal yang terpancar dibalik kelopak mata Junmyeon. Dan Baekhyun tau jika dia tak akan pernah kembali lagi ke tempat ini. Baekhyun melihat jam tangannya dan bergegas mengambil tas juga kunci mobilnya karna sudah waktunya untuk menjemput Jennie. Menyapa beberapa orang yang berpapasan dengannya ketika di lobi hingga Baekhyun keluar dari gedung hingga sebuah mobil SUV berhenti di depannya membuat Baekhyun terlonjak kaget.

"Masuklah"

PARK CHANYEOL

"…."

"Apa yang kau tunggu? Cepat masuk. Jennie akan marah jika telat dijemput"

"Aku membawa mobil sendiri"

"Apa aku perlu keluar dan orang orang akan melihat?"

Baekhyun menatap sekeliling dan benar saja, ini jam makan siang jadi banyak orang yang keluar dan berseliweran di sekitarnya membuatnya terburu melangkah memasuki mobil Chanyeol. Tak sadar Chanyeol tersenyum lebar hingga gigi giginya terlihat dengan kepalan tangan senang sambil berseru 'YES!'.

Baekhyun mendengus karna merutuki kebodohannya yang menurut saja Chanyeol suruh masuk kedalam mobil pria disampingnya yang menyetir dengan satu tangan juga kaca mata hitam yang terlihat keren di wajahnya. Pakaian yang pas ditubuhnya yang nampak santai hingga Baekhyun melihat betapa rahang itu terlihat tegas, aura seorang idola.

"Begitu merindukanku, hm?" Chanyeol menoleh padanya dengan senyuman menggoda saat lampu merah menyala. "Atau sedang mengagumi wajahku?"

Apa apaan ini? Siapa yang mengagumi wajahnya!

Dasar Park Sombong Chanyeol sialan.

Kenapa juga aku harus melihat wajahnya?!

Baekhyun mendengus tak mau membalas ucapan Chanyeol dan berpaling menghadap ke kaca disampingnya. Lagi pula ini pertemuan pertama mereka setelah seminggu karna jadwal xoxo yang harus ke luar negeri. Jongin dan Luhan yang memberitahunya.

Ah ya, ngomong ngomong soal Jongin, Baekhyun sangat merindukan sahabatnya itu. Sudah sangat lama mereka tidak bertemu membuat Baekhyun mengambil ponselnya berencana mengirim pesan untuk Jongin sebelum namanya dipanggil membuatnya reflek menolah dan…..

Wajah Chanyeol yang sangat dekat membuat jantungnya tak sehat tiba tiba.

"Aku merindukanmu…."

"…."

"Sangat"

Dan bibirnya merasakan sentuhan dari bibir lain, itu milik Park Chanyeol. Hanya kecupan yang menempel cukup lama tanpa adanya lumatan. Pipinya juga merasakan usapan lembut dari ibu jari milik Chanyeol. Mata mereka saling bertemu memancarkan perasaan berbeda. Jika Chanyeol sarat akan kerinduan yang benar dia katakana maka yang Baekhyun rasakan ada bermacam macam perasaan. Hanya saja jika sebelumnya Baekhyun merasakan marah maka tidak untuk kali ini. Chanyeol melihat tidak adanya penolakan maka ia tarik tengkuk si mungil untuk lebih matanya memejam diikuti Baekhyun yang juga terpejam.

Digigitnya bibir bawah milik Baekhyun dengan lembut, sangat lembut hingga lidahnya mulai terjulur untuk merasakan yang lebih dalam. Tubuh saling mendekat dan perasaan yang menggebu semakin Chanyeol rasakan sebelum dadanya di dorong cukup keras. Membuatnya mengerang kesal.

"Mobilmu" Baekhyun segera berpaling, sungguh panas diwajahnya dia rasakan sampai ke ubun ubunnya. Dan suara suara klakson di belakang mobil Chanyeol semakin mengganggu. Menyadarkan Chanyeol untuk segera melajukan mobilnya. SIAL!

e)(o

Chanyeol memukul mukul kecil stirnya menunggu dua wanitanya segera masuk. Tadi Baekhyun melarangnya untuk ikut turun dari mobil agar tidak ada yang melihatnya. Dan Baekhyun melarang dengan keras hingga mengancam Chanyeol agar tak bertemu dengan Jennie.

Chanyeol ingat dalam perjalan tadi setelah kejadian dia mencium Baekhyun keduanya saling terdiam membuat Chanyeol tak tahan untuk memecah keheningan. Hingga Chanyeol membahas bagaimana seminggu yang lalu saat mereka menghadiri acara Jennie hingga jalan jalan mereka ke Lotte World. Dan seperti sebuah alarm Baekhyun seperti diingatkan dengan kebodohan pria bertubuh tinggi disampingnya.

"Kau itu bodoh atau bagaimana Chanyeol? Aku sudah dengan susah payah membelikanmu topi dan masker untuk keamananmu tapi kau melepasnya begitu saja. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?!"

"Aku tidak suka Baek. Aku terlihat lebih seperti penguntit" protesnya masih santai menjawab.

"Jadi kenapa tidak dari dulu saja kau tidak menggunakan alat penyamaran kalau takut dibilang penguntit?"

"Dulu karna masih rookie"

"Justru masih rookie kau tak perlu khawatir karna kau tidak tenar"

"Siapa bilang aku dulu tidak tenar?"

Park Chanyeol tidak terima jika dirinya dibilang tidak tenar. Bagaimanapun semasa sekolah dirinya adalah pria yang banyak dikagumi gadis gadis yang selalu meneriakkan namanya saat dirinya melewati gadis gadis itu. Dan Baekhyun seenaknya mengatakan dirinya tidak tenar?

Baekhyun tidak menjawabnya karna entah bagaimana itu mengingatkannya saat dirinya di ajak Jongin untuk datang kerumah Chanyeol saat mereka masih menjadi trainee. Dan Baekhyun mengagumi Chanyeol saat itu juga.

Sedang Chanyeol diam diam merasa senang dengan celotehan Baekhyun yang meskipun raut tidak suka Baekhyun masih saja bertahan tetapi disisi lain Chanyeol merasakan bagaimana sebuah perhatian itu ia rasakan dari wanitanya.

Setidaknya Chanyeol tau jika Baekhyun masih mempedulikannya. Itu membuatnya semakin semangat untuk terus berusaha mendapatkan hati wanitanya, kembali.

"Terimakasih, Baek"

Membuat Baekhyun menoleh tak mengerti kenapa Chanyeol tiba tiba berterimakasih sambil mengusap kepalanya.

Pintu sampingnya terbuka setelah pintu belakang bagian penumpang tertutup dengan Jennie duduk dibelakangnya.

"Paman menjemputku dengan Mommy ?"

"Iya sayang."

Sejujurnya Chanyeol masih ingin Jennie memanggilnya Daddy bahkan dirinya sudah mengijinkan Jennie untuk terus memanggilnya Daddy karna memang itu yang harusnya Jennie lakukan. Namun seminggu ia meninggalkan Korea untuk pekerjaannya dan kembali lagi kesini panggilan 'paman' itu kembali dia dengarkan. Mungkin Baekhyun yang melarangnya dan Chnayeol tidak akan menyalahkannya.

Ini proses. Proses yang harus Chanyeol jalani untuk mencapai tujuannya.

"Jadi paman Chanyeol sudah libur? Tidak kerja jauh lagi?" mereka saat ini berada di sebuah restoran yang memiliki ruang privasi. Tadinya Baekhyun lagi lagi menolaknya namun Chanyeol yang memohon dengan meminta bantuan Jennie akhirnya membuatnya mengiyakan makan siang bersama.

"Iya untuk tiga hari kedepan paman free apa Jennie ingin jalan jalan, sayang?"

"Benarkah?"

"Tidak Jennie" Baekhyun yang menjawabnya membuat Jennie segera menoleh untuk sebuah protesan. "Besok kita akan berkunjung ke rumah Kakek Kim" lanjutnya yang seketika merubah raut kesal Jennie menjadi senyuman senang juga sebuah kejutan.

Berbeda dengan Chanyeol yang menatap Baekhyun penuh tanya. Kakek Kim? Setahu Chanyeol orangtua Baekhyun sudah meninggal dan marganya adalah Byun. Lalu siapa kakek Kim itu?.

"Siapa kakek Kim?" pada akhirnya dia bertanya dengan kerutan di dahinya.

"Kakek Kim. Ayah paman Jonginie."

"JONGINIE?!"

Kenapa dia memanggil Jongin dengan Jonginie?

Itu terlalu imut tidak cocok dengan wajah mesumnya.

"Iya. Mommy bilang kakek Jennie adalah ayah paman Jonginie karna itu juga ayah Mommy"

Kenapa Chanyeol merasa cemburu? Iya Chanyeol sangat cemburu dan ingin protes juga mengatakan dengan lantang jika ayah Chanyeol, tuan Park adalah kakek Jennie yang sesungguhnya. Kenapa begitu sulit untuk melakukannya? Dan Baekhyun….

Wanita itu hanya diam tak menatapnya sama sekali, Chanyeol tau dia kembali menghindar entah untuk alasan apa. Karna sesunguhnya Baekhyun juga merasakan aura tak baik dari Chanyeol mendengar bagaimana nada bicaranya barusan yang terkejut mendengar pernyataan Jennie. Sedangkan Jennie hanya sibuk menguyah daging yang Baekhyun suapkan. Tidak lama Baekhyun dan Jennie mendengar dentingan sendok dan piring yang cukup berisik yang mampu mengusik telinga mereka.

Chanyeol yang merasa diabaikan telihat kesal, kesal dengan Baekhyun namun lebih kesal lagi dengan Jongin. Lagi lagi dia kalah dengan adik tan-nya itu. Seberapa besar Chanyeol mencoba untuk menggeser posisi Jongin tetap saja dia akan kalah. Bagaimanapun Jongin memiliki banyak masa lalu dengan Baekhyun membuat dua orang berbeda jenis itu sudah seperti saudar kandung.

"Mom?" Jennie menarik lengan Baekhyun pelan meminta untuk mendekatkan telinganya sambil melirik Chanyeol di seberangnya.

"Hm?"

"Ada apa dengan paman Chanyel?" bisiknya yang sebenarnya dapat didengar Chanyeol dengan cukup jelas. "Apa paman sangat lapar sampai memukulkan sendoknya keras keras?"

Hhhhh….ini memalukan!

e)(o

Sesuai yang Baekhyun janjikan pagi pagi sekali keduanya sudah bersiap siap untuk seseorang menjemputnya. Jennie yang terlihat antusias membuat Baekhyun ikut merasakan atusias yang tinggi juga. Baekhyun merindukannya, sangat. Dan rasa ingin segera bertemu itu sangat besar.

"Baek, dia sudah datang!" Luhan berteriak dari dapur membuat Jennie segera turun dari ranjang dengan menggendong ransel kecilnya dan berlari keluar meninggalkan Baekhyun.

Sepertinya Jennie yang paling antusias dianding dirinya.

"Waaaah Jennie sangat cantik" puji pria yang sudah duduk di ruang tamu menyambut kedatangan Jennie yang menghambur kedalam pelukannya.

"Paman ayo berangkat paman…..berangkat sekarang~~"

"Baiklah baiklah, tapi dimana Mommy-mu?"

Dan kebetulan saat itu Baekhyun keluar dan berjalan mendekat kearah dua orang dimana dengan beberapa barang di dua tangannya.

"Berikan itu padaku, Baek. Jennie sepertinya sudah tidak sabar."

"Benar kau harus tau tadi dia sempat menggerutu waktu menunggumu dan bagaimana senangnya dia saat Luhan mengatakan kau datang, Jongin"

Baekhyun menyerahka barang yang akan dibawanya ke Jongin kemudian mereka bertiga berpamitan dengan Luhan yang berpura pura sedih karna akan ditinggal beberapa hari kedepan. Baekhyun mengatakan bagaimana rindunya dia dengan orangtua Jongin dan ingin menghabiskan beberapa hari kedepan untuk menginap disana. Lagipula ini pertama untuk Jennie bertemu dengan orang terdekat Baekhyun selain Jongin. Rumah Jongin dengan apartment Luhan cukup jauh menghabiskan beberapa puluh menit untuk sampai disana.

"Jennie-ah…..apa yang kau bawa di dalam ranselmu itu, sayang?" Jongin melihat ransel yang sejak tadi ada di angkuan Jennie yang duduk disampingnya. Jadi, tadi ketika Jongin membuka pintu belakang untuk Jennie, gadis kecil itu menolak dan mengatakan ingin duduk didepan sendiri. Jadi Baekhyun yang tau bagaimana anaknya sangat menyukai paman berkulit tan itu tanpa kata langsung masuk dan duduk dibagian belakang.

"Hadiah"

"Hadiah?"

"Iya. Untuk nenek dan kakek"

"Benarkah? Lalu untuk paman?"

"ehmm…..Mommy tidak menyuruhku untuk membeli sesuatu untuk paman. Kata Mommy uang paman sudah banyak jadi bisa beli sendiri"

Ingatkan aku untuk memukul Baekhyun yang mengajarkan anaknya menjadi pelit.!

Baekhyun menggulirkan bola matanya seolah tak tau apa apa dan memposisikan duduknya lebih nyaman kemudian menutup mata. Dari kaca spion dilihatnya Jongin sempat mendelik padanya membuat Baekhyun menutup mulutnya saat tertawa geli melihat Jongin.

…..

(AKU NGETIK BAGIAN INI SAMBIL DENGERIN LAGU EXO : FOR LIFE YANG KU ULANG ULANG TERUS)

Kedatangan Baekhyun dan Jennie yang dijemput Jongin disambut dengan pelukan hangat dari ibu Jongin, nyonya Kim yang berhasil membuat Baekhyun berkaca kaca. Bagaimana tidak jika nyonya Kim yang membuka pintu langsung Berhampur memeluk Baekhyun yang sudah dia anggap putrinya dengan tangisan membuat Baekhyun tak kuasa untuk menahan airmatanya.

"Eomma merindukanmu nak. Oh! Apa ini si cantik Jennie?"

"Halo nenek, namaku Byun Jennie"

"Astagaaa….manis sekali kemari sayang"

Mungkin tubuhnya memang sudah tua tapi nyonya Kim masihlah kuat jika untuk menggendong Jennie. Mereka masuk kedalam dengan Jongin yang merangkul pundak Baekhyun sedang Baekhyun melingkarkan tangannya di pinggang Jongin.

Melihat bagaimana banyaknya hidangan makanan di meja makan Baekhyun mengerti jika Jongin memang sudah mengatakan akan kedatangannya yang akan menginap beberapa hari ini. Sungguh Baekhyun merindukan sekali rasa masakan nyonya Kim yang selalu enak. Baekhyun mendudukkan pantatnya di kursi tepat di depan pudding Strawberry kesukaannya.

"Makan nasi dulu Baekhyun, baru makan pudingmu"

"Tapi aku ingin segera memakannya…pudding buatan Eomma kan yang terbaik."

"Tetap saja makan nasi dulu. Kalian pasti lapar kan?"

"Baiklaaaah….Jennie kemari nak"

"Tidak, biar Eomma yang menyuapi cucu cantikku"

"Yeeeaaayy. Nenek dimana kakek?"

"Kakek? Kakekmu belum pulang. Nanti malam baru pulang"

"Eomma kita tunggu Jongin dulu"

Tadi Jongin bilang akan menaruh dulu barang barang Baekhyun ke kamarnya jadi Baekhyun, Jennie dan nyonya Kim ke meja makan duluan. Sambil menunggu Jongin mereka bercanda mendengar bagaimana Jennie begitu semangat untuk bercerita membuat dua orang dewasa disana ikut tertawa sampai mata Jennie melihat ke belakang Baekhyun dengan teriakan senang. "Yes makaaaan!" ternyata dia melihat Jongin yang berjalan kearah meja makan dan duduk di sebelah Baekhyun.

Baekhyun membantu mencuci piring sedang Jongin pergi ke belakang rumah dengan ponselnya. Jennie bliang mala mini dia ingin tidur dengan nenek dan kakek dan sekarang sedang bermain dengan nyonya Kim di depan tv. Baekhyun meyelesaikan cuciannya dan mencari keberadaan sahabatnya. Itu Jongin!. Baekhyun ikut mendudukkan dirinya di teras belakang disamping Jongin.

"Apa yang kau lakukan? Dari tadi kulihat kau sibuk terus dengan ponselmu"

"Seseorang terus menghubungiku"

"Apa itu sasaeng?"

"Entahlah. Sepertinya, benar benar mengganggu. Dimana Jennie?"

"Bermain dengan Eomma."

"Baek…"

"Apa?"

"Kudengar beberapa hari yang lalu kau menemui sajangnim?"

"Benar. Dia memanggilku, hehehe urusan kontrak kerja"

"Sudah kuduga. Kau tidak akan memperpanjangnya, kan?"

"Seperti yang kukatakan nini-ah….aku tidak akan melakukannya. Aku sudah memutuskannya bukan, dan aku sudah mengatakannya padamu"

"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"

"Aku belum memikirkannya hehehe….aku hanya ingin bersenang senang dulu dengan Jennie."

Jongin memandangnya, ada sendu didalam sorot matanya yang Baekhyun tangkap. Baekhyun tau bagaimana Jongin juga memikirkan dirinya dan Baekhyun tak ingin menjadi beban lagi untuk sahabatnya.

"Jangan memandangku seperti itu. Aku akan terlihat menyedihkan padahal aku sama sekali tidak begitu" Jongin menarik lengan Baekhyun untuk lebih mendekat kemudian memeluknya. Menyalurkan perasaan kasih sayangnya dan Baekhyun membalas pelukan itu. Baekhyun benar benar bersyukur memiliki Jongin.

"Jongin-ah?"

"Hm…"

"Bagaimana kabarmu dengan Kyungsoo-ssi?" mendengar pertanyaan yang tiba tiba itu Jongin melepaskan pelukannya dan kembali menghadap kedepan dengan bersandar.

"Kenapa menanyakan itu?"

"Bukan apa apa hanya saja bagaimana bisa kau tetap bertahan sendiri begini paahal kalian sama sama tau jika kalian masih sama sama menyayangi. Apa kau tidak berniat untuk kembali? Aku percaya Do Kyungsoo akan menerimamu. Dia yang mengatakan jika masih sangat menyukaimu"

"Aku tidak akan kembali"

"Kenapa?"

Jongin menoleh untuk mendapati bagaimana raut penasaran Baekhyun yang justru terlihat lucu dan menggemaskan. Sebenarnya berapa usiamu Baek?. Cukup lama Jongin terdiam kemudian kembali wajahnya menghadap kedepan dan memainkan ponselnya.

"Aku tidak akan mengatakannya" jawab Jongin yang membuat Baekhyun mencubit lengannya sampai Jongin berteriak karna percayalah Baekhyun mencubit kecil namun sakit luar biasa.

"Kenapa kau menyebalkan Kim Jongin! Ayolaaaah…ceritakan padaku. Apa alasanmu, huh? Jongin-aaaaah… kenapa kau tidak mau terbuka padaku. Kau benar benar tidak asik"

Dan Jongin tak bisa menahan tawanya, bagaimana bisa Baekhyun sahabat itu bersikap seperti ketika mereka masih SMA dulu? Apa Baekhyun lupa kalau dia sudah menjadi ibu satu anak yang harus terlihat dewasa untuk anaknya? Tapi apa ini? Baekhyun benar benar kekanakan namun menggemaskan membuat Jongin tak bisa menahannya untuk tidak mencubit gemas pipinya.

Dan satu ide terlintas dibenak Jongin. Jongin melepaskan cubitannya dan kembali wajahnya ia atur seserius mungkin.

"Aku suka keadilan Baek. Kau bilang aku tidak terbuka lagi denganmu, lalu bagaimana jika begini. Aku akan bercerita apapun yang ingin kau ketahui tapi berjanjilah, katakan apa yang aku tanyakan. Kau juga harus terbuka bukan?"

"Kau mengancamku?"

"Apa itu sebuah ancaman? Aku hanya ingin kita seperti dulu. Apapun yang membuatku tak enak, membuatku resah, apa yang menggangguku aku akan mengeluarkannya di depanmu, mengatakannya padamu begitu juga denganmu. Aku sebenarnya tak ingin memaksamu Baek tapi aku merasa sekarang memang aku tidaklah berguna lagi untukmu…."

"Itu tidak benar! Kau juga segalanya untukku Kim Jongin!"

"Lalu?"

Baekhyun sedikit menundukkan kepalanya tak berani menatap Jongin."A-aku hanya belum bisa" lirihnya

"Benar, kau belum atau mungkin tidak bisa." Jongin menekuk lututnya untuk menumpu kedua tangannya yang memutar mutar ponselnya dengan wajah sedikit merunduk dengan senyuman menyedihkan. "Kau tidak tau kan, Baek"

"…."

"Saat tiba tiba kau memintaku untuk menginap di apartmentmu yang tidak biasanya kau lakukan. Aku senang….sangat senang. Tapi ketika aku pergi dan kau memelukku sambil mengatakan hal random yang membuatku bingung saat itu kupikir tidak ada hal yang aneh sampai saat aku mengetahui kau pergi tanpa pamit. Mulai saat itu aku menyadari seberapa penting diriku bagimu. Bahkan kau mengatakan pada sajangnim orang yang memberimu posisi di perusahaan. Luhan, Taemin dan Yixing noona bahkan tau kau akan pergi. Heh."

Baekhyun meremat mantel yang masih membungkus tubuh kecilnya mendengar Jongin bicara seolah mengingatkan betapa jahatnya dia sebagai seorang yang dianggap sahabat bagi Jongin, saudara bagi Jongin tapi bahkan untuk mengabari, menceritakan masalahnya pun Baekhyun tak mau.

"Aku mencarimu, kemanapun yang bisa aku datangi. Tapi apa? Aku tetap tidak tau harus bagaimana mencarimu. Siapapun tidak ada yang mau memberitahuku apa yang membuatmu pergi. Dan kau dengan mudahnya memberikan lagu lagu buatanmu untuk ku nyanyikan? Kau tahu apa yang kurasakan? Aku ingin merobek kertas kertas itu karna aku tidak butuh! Aku butuh dirimu bukan kertas sialan itu! Aku benar benar tidak berguna!" Jongin meremat ponselnya dengan emosi yang Baekhyun mengerti bagaimana kecewanya Jongin terhadapnya.

Maafkan aku Jongin.

"Aku ingat bagaimana aku berjanji pada orangtuamu untuk menjagamu, appa eomma bahkan aku buat kecewa. Haaah…bodoh memang. Dan kau tiba tiba kembali dengan seorang anak yang baru aku tau alasan kau pergi. Bahkan aku menyakiti seseorang, memanfaatkannya sebagai pelampiasan….."

"Kau mencintainya!"

Baekhyun tau bagaimana sorot mata Jongin berbicara saat melihat Kyungsoo, tatapan cinta yang sangat Baekhyun mengerti. Baekhyun menyesal sangat menyesal tapi percuma menyesalinya karna yang Baekhyun harus lakukan adalah memperbaikinya.

Baekhyun tak bisa membayangkan betapa kacaunya Jongin saat dia meninggalkannya. Mementingkan egonya demi keselamatan dirinya. Baekhyun sadar betul akan kebodohannya yang larut dalam buaian kata cinta hingga melupakan Jongin, sahabatnya. Bertahun tahun dia membiarkan Jongin terus merasa bersalah padahal yang sebenarnya harus merasa bersalah adalah dirinya bukan Jongin.

Baekhyun mengambil satu telapak tangan Jongin untuk dia genggam. Air mata yang sedari tadi jatuh kini dapat Jongin lihat betapa rapuhnya Baekhyun. Baekhyun bersandar di pundak Jongin masih tetap menggenggam tangan Jongin.

"Berjanjilah. Saat aku mengatakannya jangan marah marah."

Jongin menoleh kearah Baekhyun tapi Baekhyun tetap menatap ke depan. Waktu semakin sore dan saat matahari mulai tenggelam sedikit demi sedikit entah bagaimana suasana semakin nampak menyedihkan.

"Aku tau apa yang ingin kau ketahui adalah siapa pemilik Jennie" Baekhyun merasakan reaksi Jongin yang seakan membenarkan kalimat Baekhyun membuatnya tersenyum getir. Apapun nanti yang dia katakan Baekhyun hanya berharap Jongin tak akan membencinya, tidak akan melakukan hal yang mengkhawatirkan. Dan Baekhyun akan menerima apapun akibat yang akan Jongin lakukan untuknya. Seberapa lama Baekhyun menutupinya pada akhirnya dia memang harus membukanya.

"Chanyeol. Park Chanyeol"

"BAEK?!"

Baekhyun segera menggenggam tangan Jongin kembali saat tubuhnya terlepas dari Jongin tanpa sadar pria tan itu sedikit mendorong tubuh mungil Baekhyun. Wajah memerah Jongin yang menahan amarah sedikit banyak membuat Baekhyun takut.

"APA KAU GILA BAEK?! BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKANNYA?!"

"Maaf" cicitnya

"DAN BAGAIMANA BISA BRENGSEK ITU DENGAN….."

"Jongin kumohon dengarkan aku dulu" Baekhyun segera berdiri dan memotong ucapan Jongin saat melihat Jongin mengepalkan tangannya dan mengusap wajahnya kasar sambil berteriak.

"AAAARRGGGHHH!"

Baekhyun takut, sangat takut namun kesedihannya lebih tinggi saat melihat Jongin yang frustasi setelah mendengar kenyataan yang selama ini selalu Baekhyun sembunyikan. Baekhyun hanya menangis dan terus menangis. Jongin menghadap Baekhyun dan mencengkran pundaknya dengan sorot mata yang menakutkan.

"Katakan.! KATAKAN BAEK BAGAIMANA BISA ITU TERJADI?!"

Baekhyun mendongakkan wajahnya menatap tepat dimata tajam Jongin dengan buraian air mata yang seolah tak ingin berhenti untuk jatuh dari kelopak matanya.

"Kau lupa?! Aku bahkan sangat sering, berkali kali aku mengingatkanmu untuk tak mengagumi BAJINGAN ITU!. Dan kau….KAU….menjalin hubungan dengannya sampai kau dibuang! APA KAU SUDAH DIBUTAKANNYA?!"

Baekhyun semakin tersedu dalam tangisannya. Tubuhnya bergetar hebat sedang cengkraman Jongin masih belum terlepas. Baekhyun tak berdaya, tak mampu menyangkalnya karna Jongin memang benar. Baekhyun bahkan sangat ingat bagaimana Jongin yang selalu mendapatinya mengagumi seorang Park Chanyeol akan selalu mengiangatkannya untuk tak berlebihan dan tidak dekat dekat dengan Chanyeol karna Jongin tidak ingin Baekhyun nantinya akan merasakan sakit hati di akhir. Jongin selalu tau bagaimana cara Chanyeol yang memandang Baekhyun seperti memuja.

Yang Baekhyun sesali adalah dirinya yang tak mendengarkan Jongin dan justru bersembunyi sembunyi dalam menjalin hubungan atas permintaan Chanyeol. Namun setiap kali mengingat hal itu Baekhyun akan selalu teringat dengan Jennie. Mungkin Jennie memang terlahir dari kesalahannya dengan Chanyeol tapi Baekhyun tak pernah sedikitpun menyesali adanya Jennie karna saat ini malaikatnya, orang yang menjadi prioritasnya, orang yang akan Baekhyun perjuangkan adalah Jennie.

Cengkraman Jongin melemah dan saat itu Baekhyun mendapati kepala Jongin yang menunduk dalam dengan tubuh bergetarnya. Isakan yang coba Jongin sembunyikan terdengar di telinga Baekhyun membuatnya tak kuasa melihatnya. Baekhyun sedih, dia sedih karna lagi lagi menyakiti sahabatnya maka yang bisa wanita mungil itu lakukan sekarang adalah membawa tubuh Jongin kedalam pelukannya.

Jongin-ah, maafkan aku….MAAF.

Keduanya menangis bersama dan….seseorang yang sejak tadi berdiri dibalik jendela mendengarkan semuanya juga tengah menutup mulutnya erat menahan tangisannyaagar tak keluar yang tidak Baekhyun dan Jongin sadari keberadaannya.

e)(o

Setelah makan malam Jongin duduk di depan tv dengan Jennie juga tuan Kim yang pulang teppat saat makan malam. Selama makan malam berlangsung suasana benar benar diam membuat tuan Kim merasa ada yang janggal, mencoba mencari tau dari nyonya Kim usai makan dan jawaban yang dia dapatkan adalah "Nanti saja". Sedangkan Jennie yang tak menyadari apapun masih suka berceloteh menanyakan hal random ke tuan Kim.

Dua pria dewasa yang menemani Jennie di depan tv kini sibuk diajak bermain gadis yang selalu ceria itu. Sedang Baekhyun dan nyonya Kim berada di dapur untuk memberesi alat yang digunakan makan malam barusan. Baekhyun juga hanya terus diam saat Jogin mendiaminya, Baekhyun tak berani untuk berbicara dengan Jongin karna Baekhyun tau pria itu masih sangatlah marah padanya. Nyonya Kim yang melihatnya merasa sedih maka didekatinya Baekhyun dengan menyentuh lengannya dan mengajaknya untuk duduk di kursi meja makan.

"Maafkan eomma Baekhyun-ah."

"…." Baekhyun tak mengerti kenapa ibunya tiba tiba meminta maaf.

"Tadi eomma mendengar pembicaraan kalian di teras belakang. Maafkan eomma sayang."

"Maafkan aku eomma maafkan aku"

Dipeluknya Baekhyun yang kembali menangis. Wanita yang nyonya Kim anggap sebagai anak gadisnya sudah melalui banyak hal dalam hidupnya yang masih sangat muda. Bagaimana bisa nyonya Kim akan marah jika saat kesedihan yang dialami Baekhyun dirinya tak sedikitpun berada disampingnya. Sedikitpun nyonya Kim tidak pernah menyalahkan Baekhyun.

"Tidak sayang. Eomma sama sekali tidak menyalahkanmu dan eomma juga tidak marah. Eomma hanya sedih melihat kalian berdua saling diam begini. Aku tau kau sedih karna Jongin mendiamimu, bukan?" Baekhyun mengangguk, dia sangat sedih melihat Jongin mendiaminya. Baekhyun rindu keluarga Kim dan tujuannya datang kemari ingin melepas rindunya bukan justru terlihat seperti anak kecil yang bertengkar mendiami seperti ini. "Eomma akan membantumu, tunggulah nanti Jongin pasti hilang marahnya. Sekarang tidurlah. Kau pasti lelah, Jennie biar tidur denganku"

Baekhyun sekali lagi memeluk nyonya Kim sambil bilang "Terimakasih…" kemudian beranjak untuk naik kelantai atas dan masuk ke kamarnya. Sedangkan nyonya Kim memanggil Jongin yang terlihat melamun di depan tv sendirian. Jennie sudah tidur dan dibawa ke kamar oleh tuan Kim. Jongin sedikit tersentak mendengar namanya dipanggil dan melihat ibunya duduk disebelahnya.

"Kau tau Baekhyun sudah kuanggap sebagai putriku jadi, kalian berdua adalah anak anakku."

"Eomma…"

"Eomma tadi mendengar semuanya. Maaf bukannya bermaksud menguping nak. Jangan mendiami Baekhyun. Kau sendiri yang memintanya untuk terbuka, kau tau eomma tidak bisa membayangkan jika eomma berada di posisi Baekhyun. Sendiri, masih muda namun harus melalui banyak hal. Menanggung banyak beban sendiri tanpa ada seseorang yang dapat disandarinya. Eomma bersyukur Baekhyun sudah mau terbuka padamu. Harusnya kau tidak mendiaminya, eomma tidak melarangmu untuk marah karna eomma mengerti perasaanmu. Tidakkah kau berfikir seberapa banyak beban Baekhyun? Apa kau tega menambah beban pikirannya dengan mendiaminya saat seharusnya kau memeluknya dan mengatakan 'Aku akan tetap disisimu'?"

"Eomma…."

"Minta maaflah padanya. Jangan kembali membuatnya terlarut dan merasa tak memiliki siapapun"

Dan disinilah Jongin sekarang, berdiri di depan pintu kamar Baekhyun. Mengetuk pelan pintunya menunggu seseorang didalam sana akan membukanya.

"Jongin-ah…"

Baekhyun mendapati seseorang mengetuk pintunya pelan, dia pikir itu adalah nyonya Kim dan ternyata saat dia membukanya ternyata itu adalah Jongin yang tersenyum dengan gigi gigi yang pria tan itu perlihatkan membuatnya tak mengerti. Itu sangat tiba tiba. Baekhyun masih bingung melihat Jongin yang kembali meringis dengan merentangkan tangannya cukup lebar.

"Tidak ingin memelukku, Baek?"

Baekhyun masih saja diam menatap Jongin hingga Jongin yang menunggunya tak sabar dan melangkah maju untuk memeluk terlebih dahulu Baekhyun membuat Baekhyun sedikit terkejut karna tubuhnya ditarik dan tiba tiba dipeluk erat begitu.

Apa Jongin sudah tida marah lagi?

"Maafkan aku, Baek. Aku tidak marah lagi padamu jadi jangan marah juga padaku yaa?"

"Jongin…."

"Aku akan selalu disisi kalian, tidak hanya aku tapi appa dan eomma juga. Kau adalah keluargaku"

"Jongin-aaaah….."

"Hei jangan menangis lagi. Kau jelek tau"

Baekhyun tak peduli bahkan jika Jongin akan mengatainya wanita terjelek di muka bumi sekalipun asal Jongin tak lagi marah padanya. Baekhyun membalas pelukan Jongin dengan erat pula.

"Hei, Baek.."

"Hm"

"Tapi kau harus tetap cerita awal mula kau bisa sejauh itu dengan bajingan itu"

Baekhyun mengangguk dalam pelukan Jongin. "Janji kau tidak akan marah."

"Baiklah aku janji, anak cengeng"

"Kau tadi juga menangis"

"YAAA…."

e)(o

Paginya setelah sarapan nyonya Kim memanggil Jongin dan Baekhyun untuk melakukan sesuatu setidaknya bergerak bukannya malah sejak bangun tidur tadi hanya bermalas malasan di depan tv, dan sekarang kembali lagi dua orang yang semalam baru saja berbaikan itu berada di depan tv. Sedangkan tuan Kim sedang menemani Jennie bermain dengan Jonggu anjing milik Jongin di halaman belakang.

Akhirnya nyonya Kim ikut duduk disebelah Baekhyun menikmati berita pagi sambil menyeduh teh hangat sedang Baekhyun minum susu milik Jennie yang tidak habis.

["Seorang idol pria dari agensi besar tertangkap sedang berkencan di Lotte World sehari sebelum kepergiannya ke luar negeri. Diduga pria yang berinisial P.C ini diam diam menjalin hubungan dengan karyawan dari agensi yang manaungi keduanya sudah sejak lama. Tidak hanya itu dari video yang tersebar terlihat seorang anak gadis diantara keduanya. Banyak yang mengatakan jika anak itu adalah hasil dari hubungan diluar nikah sang idol dan karyawan yang di duga memiliki posisi cukup baik di perusahaan, dilihat dari wajah yang mirip dengan keduanya. Pihak agensi sampai sekarang belum memberikan komfirmasi apapun terkait video yang tersebar begitu juga sang idol yang sampai saat ini belum bisa ditemui…..]

Baekhyun menegang di tempat duduknya begitu juga dengan nyonya Kim. Berbeda dengan Jongin yang menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras ketika berita itu terdengar di kuping mereka bertiga. Pasalnya berita yang disuguhkan menampilkan wajah Chanyeol dan Baekhyun sedang berpelukan yang tidak di buramkan sama sekali, hanya wajah Jennie yang diburamkan. Jadi, percuma saja mereka memberikan inisial untuk Chanyeol jika wajah idol papan atas itu jelas terlihat.

"Baekhyun, sayang…."

"E-eomma….J-Jennie… di-dimana Jennie?"

Baekhyun yang terlihat shock segera nyonya Kim peluk karna Baekhyun bergetar dengan hebat dengan pandangan kosong tengah memanggil Jennie berulang ulang.

Ddddrrtt Ddddrrtt…..

Tiba tiba ada telp masuk terdengar dari ponsel milik Baekhyun. Jongin melihatnya nama yang tertera disana….

Luhan…

Jongin mengangkatnya.

"Baekhyun-ah…dengarkan aku, tetap dirumah Jongin dan jangan keluar kemana mana. Kau mengerti Baek?"

"Ini aku"

"Jongin? Dimana Baekhyun?!"

"…"

Setelah Jongin berbicara dengan Luhan pria tan itu bergegas mengambil kunci mobilnya meinta nyonya Kim ibunya untuk tetap menjaga Baekhyun dan menghindarkan Baekhyun dari ponsel dan tidak membiarkan Baekhyun menyalakan tv, radio, apapun itu yang berujung Baekhyun mendengar berita itu. Bagaimanapun Jongin tau hal apa yang selanjutnya akan terjadi dan itu tak baik untuk Baekhyun dan Jennie.

"Paman Jongin?! Paman mau kemana?"

"Jennie-ah, kemari sayang" Jennie turun dari gendongan tuan Kim dan berdiri di depan Jongin yang berjongkok dan memegang pundaknya. "Sayang, dengarkan paman. Paman akan kembali bekerja jadi Jennie harus tetap disini menjaga Mommy, Jennie mengerti?"

Jennie tidak tau kenapa pamannya itu menyuruhnya untuk menjaga ibunya jika biasanya dirinyalah yang dijaga. Namun begitu Jennie tetap mengangguk kemudian Jongin memberikan kecupan sayang di keningnya.

"Apa terjadi sesuatu?" tanya tuan Kim yang melihat raut anaknya.

"Iya appa. Aku titip Baekhyun dan Jennie. Jika ada media yang datang kemari jangan membukanya dan tolong kalian berempat tetap tinggal didalam rumah. Aku harus pergi" Tuan Park mengangguk tak menanyakan lebih detail.

e)(o

Jongin buru buru kembali ke dorm setelah menghubungi Sehun dan Jongdae. Dalam perjalanan Jongin menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal tak peduli dengan pengguna jalan lainnya. Saat ini yang terlintas di pikiran Jongin adalah menghajar Park Chanyeol. Kemarahannya yang semalam untuk pria yang menyandang sebagai leadernya itu belum mereda kini Jongin dibuat geram dengan kabar berita tadi pagi yang lagi lagi mengusik ketenangan Baekhyun.

"DIMANA BAJINGAN ITU?!"

"Jongin-ah tenangkan dirimu"

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG HYUNG?! BAJINGAN HARUS KUBERI PELAJARAN!"

Benar Jongin ingin menemui Chanyeol di dorm karna terakhir setahunya Chanyeol disana dan saat Luhan menghubunginya tadi wanita kekasih Sehun itu mengatakan Chanyeol ada di dorm. Namun sesampainya di dorm pria jangkung yang dicarinya itu tidak ada dan hanya menemukan Jongdae, Sehun dengan Luhan yang terllihat khawatir dalam pelukan Sehun.

Ternyata Chanyeol bersama sang manager pergi ke agensi setelah mendapat panggilan dari Junmyeon. Dari mereka bertiga tidak bisa keluar untuk saat ini karna banyak media yang akan mencari tau soal hubungan Chanyeol dan Baekhyun melalui member xoxo juga Luhan yang diketahui salh satu seseorang terdekat dari Baekhyun.

"Jongin, bagaimana Baekhyun?" Luhan adalah yang paling mengkhawatirkan Baekhyun setelah Jongin. Jongin menebak gadis itu juga menangis cukup lama bagaimana Jongin mendapati mata memerah dan bengkak milik Luhan.

"Dia tidak baik baik saja."

"Lalu Jennie?"

"Kuharap gadis kecil itu tak mendengar apapun. Dia terlalu kecil untuk mengerti situasi yang terjadi" Jongin sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan Jennie. Bagaimanapun anak kecil kesayangannya itu terlibat.

Mereka berempat tetap berada di dorm hingga malam tiba. Jongin berlang kali menghubungi orangtuanya memastkan keadaan Baekhyun an Jennie. Bersyukurnya Jennie masih tetap sama seperti biasa banyak bercerita dan bermain, sedangkan Baekhyun tanpa ibu dan ayah Jongin melarangnya untuk tidak menyalakan media apapun tidak melakukannya dan hanya menemani Jennie bermain meskipun terlihat seperti jiwa Baekhyun tidak ada dalam raganya.

Baekhyun dikabarkan nyonya Kim lebih banya diam, melamun dan hanya menanggapi jika itu Jennie. Hanya Jennie membuat Jongin ingin segera pulang ke rumah teapi untuk saat ini tak bisa dia lakukan.

Pukul sepuluh malam ruang tamu dorm masih menyala dengan kesunyian yang memang sejak tadi terlihat tidak ada yang membuka mulut. Sehun bersandar di sofa dengan Luhan yang meletakkan kepalanya di pangkuan Sehun. Jongdae berada di meja makan dengan sinar yang berasal dari ponselnya. Jongin duduk di kursi tunggal dekat dengan Sehun dengan menyanga kepalanya dengan kedua tangannya yang sesekali mengecek ponselnya. Jongin tengah merenung….

Yang tidak Jongin mengerti adalah bagaimana bisa Baekhyun kembali berjalan dengan Chanyeol setelah dirinya disakiti oleh pria bajingan itu hingga ketahuan media? Dan memorinya berputar ke belakang semenjak Baekhyun hilang tidak hanya dirinya yang terlihat berubah drastic tetapi Chanyeol juga. Dan ketika Baekhyun kembali dirnya melihat bagaimana dekatnya Park Chanyeol dengan Jennie hingga gadis kecil itu tak mau pisah dengan Chanyeol.

Apa Jennie mengetahui siapa ayahnya?

Hingga terdengar tombol sandi yang ditekan membuat penghuni didalamnya mengangkat wajah masing masing tertuju kea rah pintu. Entah itu Chanyeol atau manager, mereka tidak tau. Hingga satu sosok yang melangkah melepas sepatunya mulai terlihat jelas membuat Jongin berdiri dan tanpa memberi kesempatan untuk orang yang baru datang itu Jongin sudah melayangkan bogemannya teman di sisi kanan wajah pria dengan tubuh jangkung.

BUGH!

"JONGIN!"

"DASAR BAJINGAN! APA KAU TIDAK PUAS SUDAH MENGHANCURKAN BAEKHYUN?! APA LAGI YANG INGIN KAU HANCURKAN HYUNG? APA?!"

"Jongin hentikan?!"

"LEPASKAN AKU SEHUN. BIARKAN AKU AKAN MEMBUNUHNYA"

Sehun dan Jongdae menjauhkan Jongin dari Chanyeol yang tidak berhenti terus melayangkan pukulanya di tubuh dan wajah Chanyeol hingga darah mengalir keluar dari mulut juga hidung Chanyeol. Sedangkan Chanyeol yang terus dipukuli dengan lontaran umpatan itu hanya diam saja tidak sedikitpun melawannya. Sehun dan Jongdae membwa Jongin ke ruang makan sedangkan Luhan membantu Chanyeol untuk bangun.

"Chanyeol-ah…."

"Aku tidak apa Lu, terimakasih"

"Jongin…dia sudah mengetahuinya"

Chanyeol menutup matanya bukan karna rasa sakit dari pukulan Jongin yang diterimanya, tapi bayangan bagaimana nantinya Jongin akan memisahkannya dengan dua wanitanya?

Baekhyun-ah….

TBC

Sudah panjang jadi jangan minta panjang lagi yaaa…..udah 9k+ soalnya kkkkkkk

Jadi kenapa aku update lama?

Begini…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku mengalami yang namanya 'kesulitan nulis GS'

Saat itu aku kehilangan feel buat nulis GS dan ketika aku memaksapun akan jadi cerita yang gak sesuai sama yang aku harapkan. Kana kalimatku bakal gak karuan. Jalan cerita ada tapi ya itu td karna gak ngefeel jadi aku gak bisa lanjut.

Wkwkwkwk mianheeee

Dan tadi aq kobaaaaaam CHANBAEEEEK! SIAPA YANG LIAT LIVE IG BAEKHYUN? KOBAM GAK KALIAN

Dan cukup dengan dua hari chapter 19 bisa selesei ku ketik. Dan lagi olong maklumi typo nya wkwkwwk

Selamat malam minggu buat kalian yg jomblo :

Mind to review?