Hanya cahaya bulan yang menerangi ruang baca pribadi milik Sehun malam ini. Sang pemilik enggan menggunakan penerangan apapun. Seperti gelap adalah persembunyian yang paling tepat. Tae Oh sudah tertidur berjam-jam lalu, sedangkan sekarang sudah lewat dari tengah malam. Kris berada di Jerman untuk kerjasama baru dengan brand fashion Roulette. Sehun memiliki waktu sendirian yang aneh.
Niat membacanya sudah menguap sejak buku pertama selesai terbaca dua halaman. Sehun malas. Ia hanya ingin tempat sepi. Kris jenius dalam memilih lokasi tempat tinggal. Masih di tengah kota, namun terletak sedikit lebih jauh dari keramaian. Komplek perumahan ini baru di buka dua tahun lalu. Hanya ada beberapa rumah yang sudah memiliki penghuni.
Sepi.
Sehun membenci itu dulu. Kini mereka berteman baik.
Hanya dengan celana piyama tanpa atasan, Sehun terpekur di depan jendela luas yang langsung menghadap halaman belakang rumah. Musim panas tahun ini sungguh buruk. Karena nyatanya Sehun lebih menyukai hujan di Montreal atau cuaca berawan lembab di Onewhero. Helaan nafas nya bahkan seperti mengeluarkan asap panas.
Delapan tahun meninggalkan tanah kelahiran, Sehun tidak merasa asing sama sekali. Ketika beberapa hari lalu ia berkeliling untuk melihat perubahan yang terjadi, tidak begitu banyak yang membuatnya terkejut. Mungkin karena matanya terbiasa pada bangunan-bangunan kuno di Cathedral st.
Seharusnya ia merasa puas untuk tetap berada di rumah dan melanjutkan penyembunyian diri. Karena Seoul tidak seluas itu. Kota ini sesempit kotak bekal makan siang Tae Oh.
"Jongin" gumamannya bertali dengan ingatan beberapa hari lalu.
Pertemuan pertamanya dengan Jongin setelah delapan tahun terasa sangat tiba-tiba. Ia tidak menyangka secepat ini. Bahkan belum satu bulan sejak kepindahan.
Sehun tidak tau apakah itu buruk atau sebaliknya. Karena kecepatan kakinya ketika itu lebih cepat dari moment yang terlewat. Dari sudut matanya,Sehun bisa melihat setelan hitam-hitam dari pria itu. Dia sedang berkabung atau apa?
Ketika berhadapan dengan Kris, mulut tipis Sehun terkunci untuk tidak mengatakan apapun. Dan hal itu kini membuatnya merasa seperti seseorang yang menyembunyikan selingkuhan. Kris mengetahui segalanya. Tidak ada yang perlu ia sembunyikan. Seharusnya.
Helaan nafas nya kembali terdengar. Sunyi sekali malam ini. Bulan purnama pun sendirian diatas sana. Sehun kembali meneguk sisa wine di dalam gelas. Sehun juga tidak tau apa yang membuatnya begitu stress sampai menyentuh botol wine milik Kris yang mahal itu.
Mungkin kekhawatirannya untuk pertemuan lain dengan Kim Jongin. Jujur saja, dia belum siap. Dari sekian banyak teman lama, kenapa harus pria itu yang pertama? Atau memang karena dia yang pertama?
Pemikiran itu membuat Sehun mengigit lidahnya sendiri. Rasa anyir darah menyatu dengan nikmatnya wine. Sehun berdesis. Ia membutuhkan Kris. Tidur dengan memeluk baju suaminya memang tidak bisa membuat nyenyak. Tapi itu cukup.
"Jongin. Jika alam mengijinkan, kita akan bertemu lagi di tempat dan waktu yang tepat"
.
.
.
.
Sudah dua hari dan Kris belum kembali. Tae Oh menjadi rewel karena merindukan daddynya dan lingkungan baru yang membuat anak itu tidak nyaman. Sehun sudah mencarikan sekolah baru untuk Tae Oh, dan ia sukses membuat keributan di kalangan ibu muda. Hot Papa.
Rambutnya sedikit ia rapikan dengan warna hitam dan potongan yang lebih pendek. Rumah sakit di Seoul lebih ketat daripada di Kanada. Di musim panas, Sehun lebih sering mengenakan kaos longgar dengan celana pendek. Kadang ibu-ibu muda lebih setuju ia menjadi kakaknya Tae Oh. Kenyataan tuan Wu itu sudah berkeluarga tidak bisa mereka terima.
Hari ini dan hari-hari berikutnya, Sehun terpaksa mempercayakan Tae Oh pada kakak ipar. Ia sudah mulai bekerja di rumah sakit. Lebih menyenangkan karena ia bukan sebagai dokter magang lagi. Beberapa teman baru bisa Sehun atasi. Dan itu mengingatkannya pada Jena. Wanita cantik itu merengut seharian padanya di hari terakhir nya magang.
"Semoga kau betah bekerja disini, dokter Wu"
"Tentu sunbae"
Untuk sekarang. Sehun menikmati perannya.
.
.
.
"Aku bertemu dengannya beberapa hari lalu"
Chanyeol meninggikan pandangannya. Menatap Jongin yang sudah beberapa menit duduk di sofa. Ia sangat sibuk hari ini untuk brand baru yang akan perusahaan keluarkan musim panas ini. Tapi Jongin seenak dengkul masuk keruangannya dan berkata tanpa basa-basi.
"Bertemu siapa?" Tanya Chanyeol. Ia sedikit mengantisipasi ekspresi Jongin.
"Sehun"
Berkas tertutup. Chanyeol berdiri dari singgasananya dan duduk di samping Jongin dengan kerutan di wajah.
"Kau mengigau?"
Jongin berdecak, menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.
"Sehun di Seoul, hyung"
Chanyeol tentu percaya dengan ucapan Jongin. Setelah delapan tahun, mungkin anak itu merindukan tempat asal. Hanya saja, pertemuan Sehun dengan Jongin sedikit aneh. Takdir?
"Kalian mengobrol?" Chanyeol kebingungan ketika Jongin menatapnya serius.
"Kami bersebalahan. Tapi kami tidak mengobrol"
"Dia tidak mengenalimu?"
"Ya, kurasa... entahlah."
Giliran Chanyeol yang berdecak. "Jangan berputar-putar"
Jongin menghela nafas. Nyatanya hal ini juga entah kenapa bisa membuatnya stresa beberapa hari. Seharusnya kemarin ia sudah mengajar di sekolah baru, tapi karena alasan 'pertemua singkat dengan Sehun', ia malas melangkah keluar kamar. Sedikitnya, ia menyesali tindakan diamnya ketika bertemu pria itu.
"Kami bersebelahan. Tapi tidak saling menoleh. Tidak bicara"
"Kau bodoh?"
"Aku gugup" sentak Jongin, melotot pada Chanyeol. "Aku ingin menegurnya, tapi kalau tiba-tiba dia bertanya, "kau siapa?", menurutmu apa baiknya yang harus aku lakukan?"
Chanyeol mengalah. Ruangan sunyi tiba-tiba. Chanyeol iri. Ia begitu lama merindukan Sehun. Setiap hari, keinginan untuk bertemu membuatnya sakit kepala. Ia penasaran dengan sosok itu sekarang. Bagaimana ia tumbuh? Dimana ia berada selama ini? Kadang hal-hal kecil seperti wajah tersenyum Sehun mampu merusak konsentrasinya.
Selama ini diam-diam, Chanyeol selalu mencari tau. Banyak orang yang telah ia perintah untuk menemukan Sehun. Setidaknya, ia hanya ingin tau bahwa adiknya itu baik-baik saja. Nihil. Dunia begitu luas untuk seorang Oh Sehun.
"Bagaimana Sehun? Dia semakin tampan?" Tanya Chanyeol, menatap pada miniatur kota di balik kaca.
"Aku hanya melihat punggungnya" sahut Jongin nelangsa. "Tapi, dia tidak kurus lagi"
Tipis nya senyum Chanyeol mampu dilihat oleh sudut mata Jongin. Mereka sama. Merasa lega.
"Syukurlah. Dimana kau bertemu dengannya?"
"Kenapa?"
"Siapa tau aku juga akan bertemu dengannya di tempat itu"
Chanyeol mengernyit tidak suka saat Jongin berdecih dengan wajah menyebalkan. Meliriknya remeh.
"Hyung fikir pertemuan kami itu kebetulan?" sengit Jongin, Chanyeol semakin sangsi. "Itu takdir hyung"
.
.
.
Sehun menyambut Kris saat baru saja kaki pria itu menapak pelataran rumah mereka. Perjalanan dari Jerman yang jauh membuatnya tiba pada tengah malam. Tae Oh seperti biasa sudah tertidur.
"Sangat merindukanku?" Kris menyeringai dengan wajah lelah.
"Sangat. Sangat" sahut Sehun bergumam pada pelukan Kris.
"Aku juga. Sangat... sangat lelah"
Sehun mendongak, membiarkan ujung hidung nya di kecupi oleh Kris.
"Ingin teh hangat?"
Kris menggeleng, mengecup bibir Sehun satu kali sebelum melemparkan tubuhnya pada kasur.
"Aku ingin tidur saja"
Rasa iba melihat wajah dan tubuh kelelahan Kris selalu Sehun rasakan di saat seperti ini. Pria itu bekerja dengan sangat keras. Ia tidak memiliki saudara laki-laki yang bisa membantu. Kris anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya adalah perempuan. Saudara tertuanya seorang dosen yang hingga saat ini belum memiliki keinginan untuk menikah. Sedangkan adiknya, gadis pembangkang yang bepergian dari negara satu ke negara lain dengan alasan mencari jati diri. Dia lebih muda satu tahun dari Sehun.
Dengan telaten, Sehun melepaskan sepatu dan kaus kaki Kris, setelah itu merapikan jas dan koper yang di letakkan sembarangan oleh suaminya.
"I love you"
Gumaman Kris membuat Sehun tersenyum. Ia ikut berbaring di sebelah Kris. Mengusap wajah itu sebentar. Malam semakin meninggi. Ia merasa sakit untuk satu dan beberapa hal. Wajah lelah Kris salah satunya. Pria ini, sangat banyak yang ia lakukan untuk keluarga kecil mereka. Untuk kebahagiaan Sehun.
"Aku tau"
Cinta milik Kris dan cinta miliknya, sejak awal berada pada rasa yang berbeda.
.
.
.
"Dokter Wu, ini diagnosa tuan Park. Hari ini beliau mengeluh sakit lagi di bagian perut"
"Setelah sarapan?"
"Sebelum"
Sehun mengangguk, matanya awas menatap tiap kata dalam kertas. Pasien bermarga Park adalah pasien pertama yang ia tangani langsung. Seorang pria paruh baya. Tapi Sehun belum pernah bertemu dengannya.
"Seberapa parah asam lambungnya? Makannya terjaga?"
Si perawat mengikuti langkah kaki Sehun yang panjang-panjang.
"Tuan Park sedikit sulit diatur. Beliau sangat suka nanas"
Sehun menggaruk pelipisnya. Di Montreal, ada seorang pasien wanita yang bertengkar dengan perawat setiap hari karena ia tidak suka makanan rumah sakit. Darah tinggi yang di derita nya membuat makanan yang ia konsumsi harus rendah garam. Wanita itu mengomel sepanjang pagi dan sore tentang makanan yang hambar.
"Yaa, pasien yang sudah berumur memang sedikit sulit ditangani. Itu tantangannya bukan?" Sehun menoleh bertanya pada si perawat yang kini wajahnya semerah tomat. Di berikan senyuman setampan itu, siapa yang tahan?
"Ah, ini kamarnya"
Sehun membaca papan nama di samping pintu sekilas. Pasien VIP. Mungkin seorang pejabat atau pengusaha. Ketika akan mencapai gagang pintu, tangan lain membuat Sehun menarik kembali tangannya.
"Dokter Wu?"
Suara familiar itu..
Kepala Sehun menoleh tanpa di komando. Seorang pria jangkung dengan setelan jas formal. Seperti de javu. Ia bertemu Jongin beberapa hari lalu. Dan malam ini, hyung kesayangannya.
Sehun kembali membaca papan nama di samping pintu. Mungkin dia lupa, atau merasa bahwa setiap orang berhak memiliki nama yang sama.
Park Chansung.
Gugup itu tidak bisa ia sembunyikan. Dengan sedikit dipaksa, Sehun tersenyum menatap orang di depannya.
"Iya. Aku dokter yang akan menangani ayahmu mulai sekarang-"
Bibirnya beku di musim panas.
"-Chanyeol hyung"
.
.
.
.
Sebenarnya banyak hal yang akan Sehun peringatkan pada tuan Park. Tentang pola makan dan lain hal. Tapi sambutan hangat yang ia terima, membuatnya lupa dan beralasan bahwa ada pasien lain yang menunggu. Tuan Park masih sebaik dulu. Sehun pergi secepat yang ia bisa dari kamar itu. Melepaskan diri dari tatapan diam Chanyeol yang tak lepas sedetikpun darinya.
Sekarang, sudah hampir jam sepuluh. Sebentar lagi shift nya berakhir dan ia bisa bertemu Tae Oh juga Kris. Sekaleng kopi dingin menemaninya di bangku taman samping rumah sakit. Kris menelpon beberapa saat lalu. Menanyakan apakah ia harus menjemput Sehun atau tidak. Sehun ingin naik bus. Mengingat masa dulu.
Angin malam masih saja membuat gerah. Sehun melepas jas putih miliknya dan menggulung lengan kemeja yang ia kenakan.
"Apa kau terkejut sepertiku?"
Chanyeol datang dari arah belakang. Pria itu juga sudah menanggalkan jas kerjanya. Sehun menggeser sedikit posisi duduknya untuk membiarkan Chanyeol bergabung.
"Sepertinya, iya"
Jika saja jantung nya buatan tangan manusia. Mungkin sudah dua kali berhenti dalam waktu seminggu ini. Pertemua tidak terduganya dengan Jongin dan Chanyeol tentu saja mengejutkan.
Seoul memang sangat sempit.
"Itu bagus karena berarti aku masih ada di dalam ingatanmu"
Sehun tertawa mendecih. "Hyung berlebihan"
"Ku dengar, kau tidak menegur Jongin saat di cafe itu"
Chanyeol sangat tidak bisa berbasa-basi. Sehun fikir, ia akan mendapati suasana yang lebih mendayu. Mengingat bagaimana Chanyeol dulu selalu bersikap lembut padanya. Tidak ada yang berubah. Chanyeol hanya sedang memilih suasana.
"Hm" gumam Sehun mengangguk. Tidak menemukan jawaban yang tepat. Jongin pasti sudah menceritakan ihwal pertemuan mereka waktu itu. Tapi memang benar. Ia juga tidak tau kenapa memilih melarikan diri ketimbang berucap "hai" pada Jongin.
"Kenapa?"
"Entah. Mungkin karena terkejut juga"
Kesunyian terasa aneh. Sehun menenggak habis kopi dingin dari kaleng. Dia tidak menyiapkan apa-apa untuk pertemuan dengan orang-orang dekat ini.
"Bagaimana keadaanmu, Sehun?"
Bahkan sekedar apa kabar.
Sehun mengedikkan bahu, menatap sekilas pada Chanyeol yang tersenyum padanya.
"Aku sangat sehat untuk mengomeli pasien tentang hidup sehat"
Chanyeol terkekeh. Suaranya tidak berubah di pendengaran Sehun.
"Itu bagus. Tapi aku menanyakan keadaanmu Sehun" tekan Chanyeol. "Keadaanmu"
Banyak hal yang telah berusaha Sehun lupakan selama delapan tahun terakhir. Tapi beberapa hal seperti benalu yang menyedot isi kepalanya untuk tetap menempel pada ingatan itu. Kadang hal yang tidak penting bisa ia ingat dengan mudah. Seperti kenapa nilai bahasa inggris nya saat di kelas satu turun.
Dan Sehun lupa satu hal penting bahwa Chanyeol tidak sesederhana itu.
Bulan purnama lagi malam ini. Seolah ia memiliki hal magis yang sekarang menarik Sehun untuk bertemu Jongin dan Chanyeol. Ataukah memang seperti itu? Samar, ia bisa mendengar nyanyian alam. Tentang sebuah rasa yang tercecer sejauh ia melarikan diri selama ini. Bulan memanggilnya.
Senyumnya merekah tanpa sebab. Chanyeol tidak memiliki kata untuk melawan.
"Senang bertemu denganmu, hyung"
Itu cukup untuk menegaskan kata bahagia yang terselip.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
