Author : Yuta Uke
Chapter : 21 – Sakura's Feeling
Genre : Romance, Angst, Hurt, Comfort
Disclaimer : All character belongs to Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku, KakaSaku, NaruSaku
Warning : Unbetaed fic, Semi-Canon. Tulisan miring tebal adalah ingatan tokoh. Mulai chapter 10, alur waktu di dalam cerita ini akan sedikit berputar lebih cepat.
douzo...
Kau telah kembali,
Sosokmu yang selalu kutunggu.
Kau telah kembali,
Sosokmu yang perlahan membunuhku.
Kelabu yang senantiasa memeluk atap bumi perlahan-lahan pudar oleh derai sinar hangat keemasan yang bersinar seakan menyambut sebuah harapan baru hari ini. Para penduduk pun bersukacita mengucapkan 'selamat datang' pada kilau musim panas.
Hari berganti begitu cepat, bergulir menyisakan kenangan dingin di musim dingin dan meleleh di musim panas. Dunia telah kembali pada kenyataan yang ada, mengugurkan fana dulu yang telah terserak tanpa arah. Pelakon yang hanya sanggup mengepalkan tangan menikmati tiap siksaan dalam hari-hari palsu mereka dulu, telah mengembangkan senyuman.
Sang pencipta dunia yang selalu terlihat lemah perlahan kembali bangkit, mengokohkan raganya yang sempat remuk. Senyum tulus merupakan hal yang akhirnya kembali ia kuasai setelah beberapa bulan silam ia pelajari.
"Pagi, Naruto!"
Suara khas perempuan merah muda tersebut menggema di setiap sudut ruangan seorang pemuda oranye bekerja—melindungi ketentraman para penduduk yang berbinar-binar. Biru permata yang sejak tadi terfokus pada setumpuk lembaran di hadapannya teralihkan pada senyuman cerah sang sahabat.
"Kau mengangetkanku, Sakura-chan!" Protes pemuda itu. Sedangkan yang dilempari oleh protesan hanya acuh.
"Salah mu sendiri yang terlalu—ah! Lagi-lagi kau sarapan ramen instan di pagi hari!" Sakura dengan cepat berjalan menuju meja kayu disana dan meraih ramen cup yang sudah kosong seraya melemparkan tatapan kesal pada Hokage pecinta ramen tersebut. "Jangan datang mengeluh kepadaku jika perutmu sakit!"
Dan detik selanjutnya, ruangan berjendela besar tersebut dipenuhi oleh omelan-omelan sang medic nin mengenai pola makan yang benar, keseimbangan gizi, serta kesehatan, membuat Naruto hanya mengerutkan dahi—tak mengerti dengan celotehan tersebut.
Namun, kerutan dahi tersebut perlahan memudar, wajahnya melembut, nada halus pada tiap detak jantungnya kembali memeluk hatinya yang dulu selalu terasa perih. Ditatapnya perempuan yang sangat ia sayangi—yang tentunya masih mengomel—dengan lekat.
Tak ada lagi sosok menyedihkan,
Tak ada lagi binar kepalsuan,
Tak ada lagi untaian kata penuh kebohongan.
Ia merasa hari-hari suram yang sempat memayunginya dulu bagai sebuah angin lalu, yang terhembus dengan cepat dan hilang begitu saja. Dunia menyeramkan yang tercipta akibat kerapuhan sahabatnya tersebut sudah sepenuhnya runtuh dan kemudian mengembalikan sosok seorang Haruno Sakura pada semula. Tegar, penuh cinta kasih, dan…menyeramkan.
"Kau dengar tidak, Naruto?!"
Benar kan dia menyeramkan?
"Y-ya…" Jawab pemuda tersebut sekenanya.
"Kau pasti tidak—"
"Kalian ini pagi-pagi bersemangat sekali."
Belum sempat Sakura kembali menghujani Naruto dengan protesannya—ia tahu Naruto tak mendengarkannya—, suara berat milik seorang pria menginterupsi. Kedua shinobi yang tumbuh dalam naungan tim 7 tersebut menoleh dan mendapati guru perak mereka telah berada di ambang pintu dengan gaya khasnya.
"Suaramu kederangan sampai keluar." Tambah pria perak tersebut seraya menunjuk asal keluar pintu.
"Ka-Kakashi-sensei…"
Perempuan merah muda tersebut merasakan tubuhnya menegang ketika mendapati sosok pria yang selalu melindunginya telah berada di dalam satu ruangan yang sama dengannya. Hijau dan kelabu disana bersirobok singkat sebelum akhirnya sang hijau melemparkan pandangan dengan cepat—tak sanggup bertemu pandang lebih lama.
Sudah hampir beberapa bulan ia tak bertemu dengan pria tersebut—setelah ia diperbolehkan keluar dari rumah sakit—membuat sebuah perasaan canggung datang menghampiri. Jika sebelumnya perasaan aneh tersebut tak akan menghampiri dirinya sekalipun ia sudah lama tak melihat Kakashi, kini hal tersebut sangat berbeda.
Canggung, tak enak, bersalah, malu, melebur satu, menguarkan perasaan tak nyaman sehingga sanggup membuat sang pemilik merasa sulit untuk bersikap wajar. Terlebih ia masih berhutang jawaban pada si penyuka Icha Icha Series. Ia akhirnya memilih untuk bungkam sejenak, menggantungkan omelannya yang tak sempat selesai begitu saja.
Dalam diam, Hatake malas disana memerhatikan perubahan wajah murid merah mudanya—oh ya, tentu saja ia akan paham mengenai perubahan sekecil apapun dalam diri Sakura dan disaat yang bersamaan pula dirinya sedikit merasa bahwa kedatangannya pagi ini merupakan sebuah kesalahan. Suasana yang memang telah sedikit panas tersebut menjadi membeku dan canggung karena dirinya.
Menghela nafas dengan begitu pelan, ia berdehem kecil. "Kau akan cepat keriput jika terus mengomel."
Sakura tersentak kaget ketika pria yang hampir menjabat sebagai Hokage ke-6 tersebut mengatakan hal yang seharusnya sangat tabu jika diperuntukan kepada seorang anak perempuan. Seharusnya saat ini sikap cepat marahnya akan tersulut karena hal itu, namun, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Sakura hanya menanggapinya dengan kekehan kecil.
Perasaan canggung yang sejak tadi memeluk tubuhnya perlahan memudar dan membuatnya menjadi lebih nyaman. Kurang lebihnya ia terus mengucapkan kata terima kasih dalam hati karena guru peraknya masih mengerti dirinya…dan tampaknya akan selalu mengerti melebihi dirinya sendiri.
"Tsunade-sama tak keriput sekalipun terus memarahi Naruto." Balas Sakura. Berusaha ikut mencairkan suasana tak enak yang masih sedikit terasa—yang sejujurnya tercipta karena dirinya sendiri.
Untungnya kalimat asal yang terucap begitu saja itu sanggup membuat Kakashi mendengus geli dan mengundang dengusan kesal Naruto.
Perempuan merah muda tersebut menahan nafasnya sesaat sebelum akhirnya mencoba untuk ikut tersenyum mengimbangi sang guru dan tanpa disadarinya permata miliknya menilik baik-baik sosok hangat dihadapannya.
Cara pria tersebut tersenyum dibalik maskernya,
Cara pria tersebut berdiri dengan gayanya yang khas,
Cara pria tersebut menatapnya dengan lembut dan lurus.
Sakura mengigit bagian dalam bibir bawahnya. Padahal baru semenit lalu ia merasa canggung dan tak enak, tapi nyatanya ia baru saja memikirkan Kakashi tidak-tidak. Wajahnya kembali terasa panas, ia pun merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Berdebar…lagi.
"Sakura-chan?"
Sakura tersentak ketika Naruto memanggilnya dengan penuh tanda tanya. Gugup kembali datang dan menjadi lebih menyesakkan dari sebelumnya. Ia berbalik—mencoba menatap Naruto—dan sekilas mendapati Kakashi yang ternyata ikut menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"A-ahaha…" Tawa canggungnya pecah. Ia bagai seorang pencuri yang tertangkap basah saat menatap tajam harta yang ingin dicuri. Permatanya menari, mencoba mencari objek yang dapat ia gunakan sebagai pengalih topik. "Ah! Na-Naruto, ini data yang kujanjikan dan…vitamin. La-lalu, aku duluan ya."
Ia segera meletakkan setumpuk data berisikan daftar obat-obatan terbaru penemuan para medic nin Konoha dan suplemen makanan dengan cepat. Setelahnya ia melambai kecil dan segera melesat begitu saja menuju pintu. Bahkan ia tak lagi mengingat apa itu tata krama mohon pamit pada seseorang yang lebih dewasa karena ia pergi tanpa repot-repot menatap Kakashi kembali.
Bunyi halus pintu tertutup menyadarkan Kakashi bahwa memang murid merah mudanya merasa canggung saat melihatnya. Detik selanjutnya bahunya yang sempat menegang—sesaat setelah ia masuk ke ruangan Naruto ini—mengendur teratur, membuat postur tubuhnya terlihat lebih santai dari sebelumnya. Ia pun menghela nafas kecil.
"Ada apa dengannya?"
Dan pertanyaan penuh ketidakmengertian dari Uzumaki oranye tersebut dijawab Kakashi dengan gendikkan bahu singkat.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Sosok yang tengah terbalut baju santai merah dengan rok berwarna sepadan tersebut melangkahkan kakinya ringan menuju tempat yang selalu menjadi arah tujuannya sebelum ia kembali bekerja pada pukul setengah 10 pagi nanti.
Wajah manisnya masih belum melembut, jelas sekali binar kegelisahan terpancar disana. Tangan kanannya terkepal kuat, mati-matian menahan perasaan yang sejak tadi masih saja berkecamuk seolah mengejeknya.
Udara pagi hari yang masih terbilang cukup sejuk tampaknya tak mampu membuat hangat wajahnya menghilang—terlihat dari semburat merah yang terus menorehkan warnanya di kedua pipi halus tersebut.
Ia menghembuskan nafas cepat untuk yang kesekian kalinya setelah melenggang pergi dari ruang Hokage, berusaha menetralkan degup jantung yang masih membuat dadanya sedikit sesak. Pikirannya melayang-layang kepada sosok pria yang sanggup menyita seperempat perhatiannya selama 6 bulan silam ini.
Pria yang begitu sabar menghadapi tingkah konyolnya,
Pria yang selalu menatapnya dengan lembut,
Pria yang selalu menenangkan hatinya,
Pria yang melamarnya 6 bulan lalu.
"Aaaaargh!"
Mendadak langkahnya terhenti. Surai merah mudanya—yang telah kembali pendek—ia acak dengan kasar, membuatnya seperti sosok perempuan gila di pagi hari. Kemudian dirinya berjongkok, menyembunyikan wajah merahnya pada kedua lututnya.
Tenanglah, Sakura…
Kegiatan mengacak surainya masih terus berlanjut seolah dengan melakukan hal tersebut ia dapat menjernihkan dan menenangkan dirinya…tentu saja hasilnya nihil. Dalam hati ia merutuki kebodohan yang penah ia perbuat. Kebodohan yang nyatanya membuat pria dewasa tersebut memerankan peran yang begitu penting dan menyakitkan.
Maniknya terpejam, ia kembali teringat-ingat akan hari-hari memalukannya yang ia jalani cukup lama.
Saat dirinya menangis pilu,
Saat dirinya dengan lancar melupakan Sasuke,
Saat dirinya dengan begitu lancar memutarbalikkan fakta,
Saat dirinya tersenyum bangga di depan Ino dan mengatakan bahwa ia telah menjadi kekasih Kakashi.
Lamunannya kembali terhenti seiring dengan membelalaknya kedua permata tersebut kala nama sang pria terngiang singkat, membuat dirinya kembali larut dalam kegelisahan, kecanggungan, keresahan, ketidakberdayaan, dan perasaan memuakkan lainnya.
Ia yakin bahwa kecerdasan otaknya patut dipertanyakan karena ia begitu mudahnya memutarbalikkan kenyataan yang ada dan mengemasnya menjadi dunia ideal penuh kebahagiaan fana. Oh ataukah ia memang benar cerdas sehingga sanggup melakukannya?
"Hei dahi lebar, apa yang kau lakukan?"
Sakura tersentak dan kemudian melepaskan remasan pada mahkotanya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati sosok perempuan cantik yang begitu dikenalinya memandangnya dengan dahi berkerut.
"I-Ino…" Lirihnya.
"Kau! Wajahmu merah sekali! Kau kambuh lagi?! Tu-Tunggu, aku akan membawakan obat penenangmu. Tunggu disini, Sakura—"
"Diamlah Ino gendut, aku baik-baik saja!"
Perempuan merah muda tersebut dengan sigap menarik lengan Ino yang telah bersiap berlari menuju rumah sakit—demi mengambil obat penenang yang selalu di konsumsi Sakura dulu. Bibir merah mudanya mengerucut kesal. Ino masih saja berbicara dengan satu tarikan nafas!
"Habisnya wajahmu—kau kenapa?" Tanya Ino penuh selidik. Bayangkan, sahabat yang beberapa tahun lalu sempat menjadi pasiennya dan telah dinyatakan sembuh tengah berjongkok sembari meremas surainya sendiri. Belum lagi wajah manis tersebut sungguh sangat merah. Tentulah ia khawatir.
"Haaaah…"
Ino menaikkan satu alisnya, memandang tak suka pada Sakura yang menjawabnya dengan asal. "Aku bertanya dengan serius dan kau malah membalasnya dengan helaan nafas." Cibirnya.
Yang dilempari oleh sindiran memilih untuk tetap bungkam, menyesapi ketidaknyamanan yang masih membalut raganya karena bayang-bayang pria dewasa tersebut tetap menari-nari dalam benaknya.
"Aku…tidak apa, Ino."
Lagi-lagi Yamanaka pirang tersebut mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. Itu bukan jawaban, bukan?
Sebelum sempat ia melanjutkan pertanyaan-pertanyaan lain, biru transparan cerah miliknya memandang lekat pada sebuah keranjang rotan yang kini tengah terkalung manis di lengan kiri Sakura.
"Kau…ingin ke tempat Sasuke-kun?" Tanyanya dengan nada yang sangat pelan. Seolah terlalu takut untuk membuka topik tersebut, namun, rasa penasarannya lebih unggul.
Sahabat merah muda sang Yamanaka tersebut tak menjawab. Ia lebih memilih untuk menenggelamkan perhatiannya pada tanah berdebu tempat mereka berdua berpijak kini. Sebenarnya, jika Sakura memang tak ingin menjawabnya, Ino telah mendapatkan jawaban tersebut.
Ya.
Tentu ia mengetahui jawabannya. Ia masih menjadi penanggung jawab Sakura sampai beberapa bulan kedepan dan ia tahu bahwa setelah perempuan musim semi tersebut kembali pada dunia nyata, pasiennya mulai menghabiskan hari-hari dengan mengunjungi Sasuke setiap hari.
Tentu saja awalnya dirinya menentang hal tersebut. Sakura belum genap 1 bulan 'kembali' dan akan pergi menemui penyebab kejadian yang sanggup menyiksa sebagian orang yang ikut terseret. Dan…Haruno tersebut begitu cerdas dalam hal meyakinkan bahwa kegiatan mengunjungi ini semata-mata ia lakukan sebagai bentuk terapi. Ino tampaknya lupa bahwa sang merah muda adalah medic nin yang bahkan kemampuannya melebihi dirinya. Tentu saja murid Tsunade tersebut mampu meyakinkannya dengan beribu alasan masuk akal. Maka dari itulah Ino akhirnya harus pasrah dan membiarkan Sakura melakukan apa yang kata hatinya inginkan.
Beberapa menit keheningan menjadi satu-satunya jawaban yang Ino dapatkan. Perempuan penyuka bunga tersebut menghela nafasnya kecil…Sakura enggan membahasnya.
"Sakura." Alih-alih menekan Sakura pada pertanyaan sebelumnya, Ino memilih untuk memilih topik lain yang nyatanya sanggup menggerogoti hatinya dengan rasa penasaran akut—serta gemas. Sahabat merah mudanya kembali menatap permata birunya dengan penuh tanda tanya. "Kau—belum memberi jawaban pada Kakashi-sensei, kan?"
DHEG
Jantung Sakura seolah akan melompat keluar saat Ino melontarkan pertanyaan yang sangat telak hingga hampir menembus pertahanan hatinya. Awalnya Sakura menduga bahwa Ino akan menceramahinya dengan kata-kata 'jangan memaksakan diri' atau 'lupakan dia' yang dimana topiknya jelas-jelas ditujukan untuk pemuda yang akan ia kunjungi. Nyatanya, ia salah! Ino membelokkan topik!
Sial!
Haruno tersebut menggeram dalam hati dan bergegas membalikkan tubuhnya, hendak melenggang pergi. Detik itu pula tindakannya terhenti karena Ino mencengkram lengannya, menandakan bahwa dirinya memang harus menjawab pertanyaan tersebut.
Ia akhirnya mengalah. "Ya. Belum." Jawabnya dengan nada yang sebisa mungkin dibuat datar.
"Haaaaah—sudah kuduga." Salah satu anggota tim 8 tersebut segera melepaskan cengkramannya dan mendesah panjang. Tak lupa ia menggeleng-geleng kecil. "Cepatlah katakan jawabanmu padanya, dahi lebar."
"Jangan ikut campur urusanku, buta!"
Mendengar Sakura meninggikan nada bicaranya, Ino merasakan emosinya tersulut. "Hee—berani sekali kau mengatakan hal itu padaku…apa kau lupa siapa yang pertama kali kau datangi ketika kalian menjadi sepasang kekasih?" Papar Ino dengan penekanan pada kalimat kalian menjadi sepasang kekasih.
"Ugh…"
Telak!
Yamanaka muda tersebut menyeringai lebar ketika lawan bicaranya terlihat tak berkutik. "Lalu…siapa pula ya yang mengatakan 'mengapa sensei belum melamarku' dihadapanku?"
"Baik, Ino. Baik! Kau menang!"
Tak ingin merasakan hati kecilnya terinjak-injak oleh paparan kenyataan tersebut, Sakura memilih untuk menyatakan gencatan senjata seraya mendengus kesal.
"Hahaha! Kau berhutang banyak padaku, Sakura. Karenanya, kau harus menuruti kata-kataku." Titah Ino setelah benar-benar merasa puas karena ia menang.
"Khusus untuk ini aku tak bisa. Aku masih memikirkannya."
"Astaga, kau mau membuat Kakashi-sensei menunggu seberapa lama lagi? Kau tahu sendiri bagaimana rasanya digantungkan, jangan melakukan hal tersebut padanya, Sakura. Ia telah berkorban banyak sekali untukmu."
"Aku…tahu."
Perempuan yang disukai oleh Lee dan Naruto tersebut kembali menekuk wajahnya, tampaknya agak sedikit memikirkan bahwa dirinya terus saja melukai Kakashi sekalipun ia tak berniat melakukannya. Jemarinya yang sejak tadi bebas tertaut satu, begitu erat seolah menggambarkan betapa sulit posisinya saat ini.
Bagaimana perasaan Kakashi?
Bagaimana perasaannya?
Bagaimana perasaan—
"Haah—aku mengatakan ini karena mencemaskanmu."
Lamunan miliknya terhenti oleh tambahan celoteh Ino. Ia menatap sahabat sejak kecilnya dalam diam, melihat kilau penuh kekhawatiran dalam mutiara biru transparan yang selalu dikaguminya. Ino begitu memikirkannya, begitu peduli padanya.
Terima kasih, Ino.
"Ino…"
"Tentunya karena mencemaskan Kakashi-sensei juga. Rasanya tak sabar melihat Hatake kecil memanggilku dengan—aduh! Hei!"
Sakura baru saja menghadiahi pukulan ringan pada kepala sahabat pirangnya. Wajahnya benar-benar memanas. Apa yang baru saja Ino katakan?! Dalam hati ia menyesali rasa terima kasih yang baru saja ia ucapkan dalam hati. Ino nyatanya sangat menyebalkan!
"Kau berisik!" Pekiknya kesal. "Arrgh! Sudahlah kau menggangguku! Aku duluan!"
Setelahnya, Sakura benar-benar melenggang pergi begitu saja tanpa repot-repot menoleh kebelakang. Jika saja ia kembali menoleh pada Ino, dirinya akan terkejut melihat raut wajah jahil tadi telah berubah sendu, begitu pilu dan menyakitkan untuk dipandang.
.
.
.
Perjalanan singkat tersebut ditemani oleh deretan umpatan kesal yang tentunya masih ditujukan untuk Ino. Sakura tak habis pikir kenapa sosok perempuan yang sempat dikaguminya saat ia masih kecil dulu berubah menjadi begitu menyebalkan?
Helaan nafaspun terdengar beberapa kali disaat dirinya tengah berusaha untuk menguasai emosinya. Sungguh, ia bersyukur jam kerjanya dimundurkan hingga jam setengah 10 nanti sehingga ia tak akan bertemu Ino hingga jam pulang. Setidaknya hal tersebut sangat bagus bagi seseorang yang ingin menghindari seorang Yamanaka Ino.
Setelah bersungut-sungut dan berusaha menetralkan emosinya, tanpa diinginkannya, benaknya kembali melayang-layang pada kegiatan yang telah ia lakukan dalam kurun waktu 6 bulan ini.
Permatanya bersinar redup diselingi dengan kata-kata 'bodoh' yang terus meluncur bebas dari sela-sela katupan bibirnya yang tak rapat sempurna. Setengah berbisik ia menyesali tindakannya yang begitu bodoh, tindakan yang mampu membuat orang-orang yang terlibat, turut merasakan imbasnya—bahkan setelah dunia tersebut hancur sekalipun.
Mengapa ia menciptakan dunia penuh duri?
Mengapa ia mencoba memenuhi dunianya dengan kebahagiaan palsu?
Mengapa ia menyeret orang-orang yang sangat berharga baginya?
Nafasnya sedikit memburu. Sekalipun segalanya telah kembali pada kenyataan beberapa bulan lalu, lubang menganga pada hatinya bertambah satu. Lubang yang tak dapat tertutup dan selalu perih ketika ia mengingat kegilaannya dulu—lubang bernama penyesalan.
Dunia tersebut memang hancur, senyuman palsunya hilang, rapuh tersebut telah mengokoh, namun, penyesalan akan selalu ada mengikis ketenangan hatinya, membuatnya selalu meremas jemari kala mengingat hal-hal bodoh dulu.
"Sakura?"
Sakura terhenyak. Surainya menari kecil kala ia menolehkan kepala, berusaha melihat siapakah gerangan seseorang yang baru saja memanggil namanya. Kemudian tatapannya tertumbuk pada sosok pria berpakaian khas ANBU Konoha yang memerhatikannya—dibalik topeng khusus. Mengerjapkan mata beberapa kali, dirinya baru menyadari jika sekelilingnya telah berubahmenjadi tempat suram yang dikelilingi tembok kokoh seolah menjadi penghalang dunia ini dan dunia luar.
Ia telah sampai di tempat tujuannya.
"Pa-pagi."
Sapa perempuan itu pelan yang dibalas dengan anggukan kecil dari kedua ANBU yang berjaga disana. Ia menghirup nafas dalam-dalam, sebisa mungkin berusaha untuk menenangkan degup jantungnya yang mulai tak terkendali.
Ia telah sampai dan hal tersebut selalu sukses membuatnya kehilangan kontrol diri.
Helaan nafasnya kembali terdengar. Tangan kanannya meremas ujung roknya dengan kuat, menciptakan kerutan kasat mata seolah kerutan tersebut menggambarkan nyalinya yang ciut. Dalam diam ia masih membeku sembari terus menatap lekat pintu kayu milik rumah kokoh dihadapannya.
Ya, rumah.
Tak ada lagi ruangan berudara lembab nan sesak, tak ada lagi ruangan berpenerangan minim dengan hawa dingin tak mengenakkan. Semuanya telah berganti dengan rumah yang telah bertahun-tahun ditinggal pergi penghuninya, rumah yang menjadi saksi bisu tangisan dua bersaudara Uchiha.
Rumah milik Uchiha Sasuke.
6 bulan yang lalu, sang Hokage oranye memutuskan untuk memindahkan Sasuke ke distrik Uchiha yang memang letaknya tak cukup jauh dari penjara dengan alasan yang sangat begitu simpel.
"Sakura-chan memutuskan untuk mengunjungi Sasuke setiap hari, tak mungkin ia kubiarkan berkunjung ke tempat tak sehat seperti itu."
Sakura mendengus, ia masih hapal kata-kata milik Naruto saat Tsunade dengan geram menanyakan keputusan sepihak tersebut. Sepertinya Naruto tak ingat bahwa sebelum Ino menggantikan tugasnya, ia lah yang menjadi penanggung jawab kesehatan para narapidana. Tentu saja keadaan penjara sudah tak asing lagi baginya—meskipun ia tak berkunjung setiap hari.
Sejujurnya Sakura tahu bahwa keputusan bodoh dengan alasan simpel yang sempat ditolak mentah-mentah oleh Tsunade dan beberapa tetua Konoha tersebut merupakan sebuah bentuk permintaan maaf sang pemuda jinchuuriki atas apa yang telah ia perbuat. Maka Haruno tersebut tak berusaha membantah dan hanya menerima kebaikan hati Naruto yang terlampau polos.
Dan setelahnya, distrik tak berpenghuni selama bertahun-tahun tersebut mendapatkan penduduknya kembali, seorang Uchiha yang kini tengah menebus dosa-dosanya, seorang diri.
Berpindahnya Sasuke pada sebuah distrik besar tentu membutuhkan penjagaan ekstra dari pihak Konoha, maka dari itu, Naruto meningkatkan penjagaan di sekitar distrik—6 orang disetiap sisi, 2 orang pada gerbang utama, serta 2 orang di depan pintu rumah Sasuke.
Menghela nafasnya kembali, Sakura sempat merasa tak enak kepada dua ANBU di gerbang utama yang ia lewati begitu saja. Sebegitu tenggelamnya kah ia dalam kekalutan sehingga tak sadar jika kakinya telah melangkah memasuki area penjara ini?
"Sa-Sasuke-kun…aku datang berkunjung."
Setelah tenggelam dalam pikirannya selama sekian detik, katupan kedua bibirnya kembali terbuka, meluncurkan kata-kata singkat dengan nada bergetar. Kalimat singkat yang selalu ia lontarkan setiap harinya. Suaranya masih sama, bergetar takut serta gelisah, raut wajahnya pun tetap tak tenang, remasan jari pun masih setia ia lakukan.
Mengunjungi Sasuke lebih sulit daripada misi tingkat S!
Detik selanjutnya, Sakura merasa ia telah melupakan caranya bernafas. Tenggorokannya tercekat, jantungnya seakan melompat keluar kala mendapati sosok tampan yang selalu mengisi separuh hatinya telah membuka pintu geser kayu. Remasan tangannya semakin kuat saat mata hitam legam milik Sasuke memandangnya dengan begitu lekat. Maka dengan terpaksa ia mengulum senyum tipis untuk menghilangkan raut wajahnya yang pastilah tampak begitu kaku.
"Masuklah."
"Pe-permisi."
Setelah mendapatkan izin—dari kalimat singkat yang sama—Sakura mulai memasuki penjara khusus tersebut, kemudian ia melepas sepatu miliknya lalu menyusun dengan rapi, tak seperti kebiasaannya di apartemennya. Ia melirik pemuda tersebut singkat sebelum akhirnya turut mengekori Sasuke menuju ruangan yang diyakininya sebagai ruang tamu.
Perjalanan singkat tersebut begitu sepi sehingga derit lantai kayu dibawah sana tampak seperti menggema, ujung bajunya kembali kusut oleh ulahnya, ia kembali merasa tak nyaman. Sekalipun keheningan tersebut selalu menyapanya di dalam rumah ini, tetap saja ia tak terbiasa.
Menghembuskan nafasnya kasar, Sakura mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang selalu menjadi tempatnya duduk dalam diam. Dengan perlahan ia memosisikan dirinya duduk di salah satu sisi meja kayu yang selalu ia gunakan untuk menaruh apel-apel segar tersebut. Hijaunya terpaku pada sisi meja di depannya, sisi yang selalu dibiarkan kosong begitu saja.
Sasuke tak pernah duduk dihadapannya, pemuda tersebut selalu duduk di dekat pintu geser kayu lain yang berfungsi sebagai pemisah ruangan tersebut dan pekarangan rumah Uchiha yang tak terurus.
Selalu seperti itu, duduk tanpa saling berhadapan dan tak pernah berbicara satu sama lain. Hanya terdiam, membisu, seolah menikmati keheningan yang menyeret ke dalam pemikiran tak berujung, seperti menciptakan anggapan bahwa keduanya enggan untuk saling bercakap-cakap barang sedikit.
Sosok dingin yang semenit lalu luput dari pandangan sang perempuan telah kembali memasuki ruangan seraya membawa sebuah nampan hitam. Wajah tampannya tetap datar, seolah-olah berusaha menyembunyikan apa yang sedang ia pikirkan. Hal tersebut kembali membuat Sakura mengigit bagian dalam bibir bawahnya.
Hijau permatanya menari mengikuti pergerakan tanpa suara bungsu Uchiha tersebut. Jemari panjang sang pemuda bergerak lihai menyusun 2 buah gelas dan 1 teko coklat yang terbuat dari tanah liat serta piring putih kecil dan pisau. Sedetik kemudian ia menyambar gelas tehnya dan mulai duduk di dekat pintu geser tanpa sedikitpun memandang tamu merah mudanya.
Tanpa disadari Haruno muda tersebut, senyuman tipis terlukis mempercantik wajahnya yang sejak tadi kaku. Pisau, piring dan gelas tanah liat yang sejujurnya merupakan benda biasa kini menjadi begitu istimewa dalam hidupnya. Setidaknya sekalipun Sasuke tak pernah mengucapkan kata lain selain 'masuklah' dan 'hn', pemuda tersebut tetap menyuguhkannya teh. Bukankah hal tersebut menjelaskan bahwa Sasuke tak menolak kehadirannya?
Dengan cekatan ia mengambil pisau dan mengupas apel-apel manis yang selalu dibawanya ketika berkunjung. Mendadak dadanya tergelitik. Meskipun ia selalu datang setiap hari, kenyataan bahwa Sasuke selalu menyuguhkannya teh dan dirinya yang dengan santai mengupas kulit apel masih membuatnya ragu apakah kegiatannya ini adalah berkunjung ke penjara atau berkunjung ke rumah teman.
Kecanggungan yang tercipta mendadak memudar seiring dengan terdengarnya senandung pelan asal Sakura. Bola kaca hitam pekat yang beberapa detik lalu masih terpaku pada rumput liar yang tumbuh disekitar pekarangan rumahnya telah berpindah pada sosok merah muda disana; sosok yang beberapa bulan ini selalu datang mewarnai hari kelabunya, yang kini tengah sibuk dengan para apel.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya, rasa tak nyaman kembali hadir memeluk dirinya. Genggaman pada gelasnya menguat. Ia sedikit ragu apa yang sebenarnya telah terjadi? 6 bulan lalu perempuan tersebut 'hancur' dihadapannya dan kini kehancuran yang sempat ia saksikan seolah hanya sebuah mimpi yang begitu nyata karena yang berada didepannya kini adalah Sakura yang ia kenali.
"Sasuke-kun, silahkan apelnya."
Sasuke tersentak dan dengan cepat menghilangkan lamunan yang sejak tadi memenuhi benaknya. Ia yang sejak tadi duduk membelakangi Sakura menoleh kecil dan mendapati beberapa potong apel telah tersusun rapi diatas piring.
Dadanya mendadak berdenyut nyeri, sepintas bayangan kejadian di rumah sakit saat dirinya menepis kasar piring yang berisikan potongan buah dari tangan Sakura kembali menyerang. Bayangan yang sama, muncul dalam waktu yang sama, seakan-akan terus mengejek dirinya untuk tenggelam dalam penyesalan dan rasa bersalah.
Dengan kesal ia menusuk apel segar tersebut dengan tusuk gigi—yang telah ia persiapkan pula—dan segera mengunyahnya kasar. Ia kesal, ia tak suka jika perasaan-perasaan memuakkan tersebut masih saja mendominasi raganya.
Sakura tak menatap pemuda tersebut sehingga wajah kesal Sasuke luput dari penglihatannya. Perempuan musim semi itu lebih memilih memandangi riak tenang teh gandum dalam gelasnya. Begitu tenang, seperti keadaan ruangan ini.
Dalam hati, ia sibuk memertanyakan mengapa dirinya tahan menghabiskan hari-harinya—mengunjungi penjara Sasuke—hanya untuk melebur dalam keheningan. Ia yakin bahwa siapapun gadis yang berada dalam posisinya, tak akanlah sanggup terus menerus berdiam diri seperti ini. Ataukah mungkin, separuh dari dirinya menikmati keseharian monoton yang tak pernah berubah ini?
Ya,
Mungkin saja.
Ia menghela nafas kecil dan segera menyesap teh tersebut, berusaha membuat dirinya lebih baik. Hangat adalah yang ia rasakan setelah teh tersebut mengalir, membasahi tenggorokannya. Setiap kali ia meminum teh tersebut, perasaan gundahnya selalu hilang, larut bersama kehangatan yang ia dapatkan. Senyap memuakkan yang selalu membuat dirinya gelisah mendadak menjadi ketenangan yang lembut. Ia melirik sosok pemuda yang telah lama ia rindukan, yang sanggup merenggut seluruh hatinya.
Merasa diperhatikan, Sasuke tak berusaha untuk repot-repot melirik perempuan ramping disana. Ia masih sibuk mengunyah apel-apel tersebut dalam diam.
"Sa-Sasuke-kun, apelmu sudah habis." Sakura berusaha untuk tidak mengerutkan dahi saat mendapati Sasuke menusuk-nusuk piring kosong. Mungkinkah pemuda tersebut tengah memikirkan sesuatu? "Biar ku kupaskan lagi." Tambahnya dan dengan cepat meraih piring putih tersebut.
Sasuke mencoba untuk tetap tenang. Ia seperti bukan dirinya sendiri saat ini. Perlahan, ditolehkannya kepalanya kebelakang dan mendapati Sakura tengah tersenyum simpul sembari mengupas apel kembali.
Ia memandangi perempuan tersebut lekat, berusaha mencari-cari suatu hal yang masih tak ia mengerti sampai sekarang. Mendadak dadanya terasa penuh, sesak, seolah ada suatu perasaan aneh yang mendesak untuk ia curahkan. Ia kesal, pedih, tak mengerti. Dan perasaan tersebut selalu mengiris hatinya jika Sakura berada di dekatnya.
Mengepalkan tangannya, ia merasa harus memerjelas semuanya.
"Sakura…"
"Aduh!"
Sakura mengaduh ketika merasakan pisau yang ia gunakan untuk mengupas apel tiba-tiba saja mengupas telunjuknya sendiri. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika hari ini Sasuke memanggil namanya setelah selama 6 bulan silam ia hanya disambut dengan kata 'masuklah' dan 'hn'.
Pemuda dingin tersebut terkejut saat mendapati darah mengalir perlahan dari telunjuk mantan rekan tim 7nya dulu. Dengan sigap ia menarik tangan Sakura dan menyeretnya menuju dapur—ia telah melupakan seluruh pertanyaan dalam benaknya.
Mimik wajah perempuan tersebut terlihat sangat terkejut. Tangan besar milik Sasuke kini tengah mencengkram pergelangan tangannya.
DHEG!
Seketika tubuhnya menegang, keringat dingin mulai membanjiri wajahnya yang masih menunjukkan raut terkejut, merah muda pada bibirnya memudar. Dalam kepalanya sebuah kepingan memori terbesit cepat, memori dimana Sasuke mencekik lehernya sembari memajukan tangan berlapis chidori kehadapannya.
Chidori,
Mata berselimutkan kebencian,
Takut!
"Tidaak!"
Sakura dengan cepat melepaskan cengkraman tangan Sasuke dan hal itu membuat sang pemuda Uchiha terkejut. Ia membalikkan tubuh dan mendapati Sakura tengah tertunduk sembari memeluk diri sendiri dengan tubuh bergetar. Pemuda tersebut mengerutkan dahi.
"Ma-maaf Sasuke-kun—aku hanya terkejut."
Haruno merah muda itu tampaknya telah kembali menguasai dirinya dan segera meminta maaf dengan nada yang begitu lirih. Ia menautkan jemarinya, berusaha mengatasi gemetar yang masih tampak kasat mata. Kepalanya tetap tertunduk, sungguh, ia tak berani menatap Sasuke.
Adik Uchiha Itachi disana membisu dan pada detik selanjutnya ia melihat pergelangan tangan sang perempuan yang memerah karena cengkraman kuatnya. Sasuke mengerti, sangat mengerti. Pada kenyataannya, Sakura takut padanya.
"Basuhlah lukamu disana."
Pemuda tersebut bergumam singkat seraya menunjuk ke arah wastafel di dapur rumahnya. Namun perempuan bersurai pendek tersebut masih tak bergeming dalam pijakannya. Lama mereka berdua terdiam, darah yang menetes dari telunjuk Sakura membuat sang pemilik tersadar. Gemetar pada tubuhnya telah hilang tapi sayangnya jantungnya masih belum berdetak normal.
Menghembuskan nafasnya kecil, ia mulai melangkah dengan ragu menuju dapur dan membasuh lukanya disana.
Sasuke yang semula masih terdiam pada tempatnya berpijak memutuskan untuk kembali ke ruangan tempatnya menghabiskan waktu untuk memandangi pekarangan rumahnya, meninggalkan tamunya seorang diri.
"Haaah…"
Sakura menghela nafas panjang saat mendengar langkah kaki milik Sasuke semakin menjauhi dapur. Ia lega karena pemuda tersebut lebih memilih meninggalkannya daripada menungguinya.
Takut.
Itulah satu kata yang sejak tadi menjerit-jerit dalam raganya. Sekalipun beberapa tahun telah berlalu, nyatanya, perasaan takut itu masih diingatnya. Ia sekali lagi menghela nafas panjang, ia tahu hal tersebut terbilang wajar karena dirinya kembali merasakan tenaga dari pembunuhnya.
Menutup keran kembali, ia mulai mengalirkan cakra hijau untuk menutup luka yang memang terbilang cukup besar untuk teriris. Permatanya mengeruh, ia menatap lekat sinar tersebut dalam diam sebelum akhirnya cahaya itu meredup dan hilang. Jika saja luka tak kasat mata dapat tertutup semudah ini.
Menggelengkan kepalanya, ia mulai melangkahkan kakinya kembali menuju ruang tempat apel-apel segarnya terbengkalai. Detik selanjutnya ia membeku ketika mendapati Sasuke tengah sibuk mengupas apel-apel tersebut. Yang membuatnya lebih membeku adalah Sasuke kini terduduk manis di sisi lain meja—yang selalu dibiarkan kosong begitu saja.
Ia masih terdiam di ambang pintu. Ragu untuk melangkah masuk karena jika ia melakukan hal tersebut, ia akan duduk berhadap-hadapan dengan Sasuke, bukan?
"Makanlah."
Paparan singkat yang baru saja merambat masuk ke dalam indra pendengaran perempuan tersebut membuatnya menoleh untuk sekedar mendapati apel-apel yang sepersekian menit lalu masih utuh telah terpotong dan tersusun rapi di atas piring.
Ia mengepalkan tangan, ia tahu jika pemuda tersebut menyuruhnya untuk duduk dan memakan apel tersebut. Dengan ragu, akhirnya ia memilih untuk menuruti dan duduk di sisi meja yang selalu ia tempati. Mengerutkan dahinya sejenak, ia menimbang-nimbang apakah perintah Sasuke untuknya—memakan apel—tersebut ia lakukan atau tidak.
"Sa—"
"Makanlah."
Perempuan tersebut harus rela ketika kata-katanya terpotong. Menyerah, akhirnya ia menusuk apel tersebut dan mulai memakannya. Rasa manis dan sedikit asam mulai terasa di lidahnya. Tanpa disadarinya, tangannya terkepal erat seiring dengan membuncahnya perasaan-perasaan aneh yang mendadak terus menerus merasuk, membanjiri raga rapuhnya.
Hatinya berdenyut aneh. Sudah lama sekali ia tak berinteraksi dengan pemuda tersebut. Meskipun interaksi ini begitu singkat dan tak bermakna, baginya sudah lebih dari cukup. Mungkinkah perasaan penuh ini adalah wujud kebahagiaan kecilnya ketika dapat kembali berinteraksi dengan pemuda tersebut?
Memberanikan diri, ia mulai mengangkat wajahnya dan pada detik yang sama, tubuhnya kembali kaku saat mendapati sepasang hitam yang berkilau dingin bertemu dengan mutiara hijaunya, Sasuke menatapnya.
Mata yang selalu memancarkan dendam,
Mata yang tidak pernah memandangnya,
Mata yang sempat kehilangan cahayanya.
Nafasnya tercekat. Dengan susah payah apel yang telah terlumat dalam mulutnya ia telan. Ia menununduk cepat, matanya terpejam lama. Ia dapat merasakan ada sesuatu yang terobrak-abrik dan hampir runtuh dalam hatinya. Itu adalah tatanan hati yang telah ia susun dengan rapi.
Pada awalnya ia melakukan ini semua—mengunjungi Sasuke setiap hari—untuk membuat dirinya menjadi lebih kuat dengan emosi yang terkontrol. Ia tak ingin menjadi hancur dan menghancurkan orang-orang terkasihnya untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup!
Karenanya, ia mulai memikirkan cara bagaimana agar benteng dalam hatinya kembali terbangun kokoh dan ia mendapatkan jawabannya, menghadapi Sasuke. Ia ingin menjadi lebih kuat, lebih pantas bersanding dengan Naruto dan Kakashi yang sangat kuat, ia ingin menjadi seorang perempuan yang tak lagi menangis, pun ia tak lagi ingin melarikan diri. Maka ia harus melawan kelemahannya. Melenyapkan Sasuke dalam otaknya menandakan bahwa ia melarikan diri, bukan?
Tapi, selain hal tersebut, ada alasan kuat lainnya mengapa ia melakukan semua ini. Ia ingin menetralkan perasaannya pada Sasuke secara perlahan dan satu-satunya cara adalah dengan menghadapinya. Sayangnya, semua tak semudah yang ia bayangkan. Ia memang cukup berhasil merangkai kembali tatanan hatinya yang sempat terserak, namun, hari ini segalanya kembali hancur begitu saja.
Jantungnya semakin berdegup cepat, perasaan menggelitik yang ia kenal baik kembali menyelimuti jiwa raganya. Ia sungguh kenal perasaan ini.
Perasaan yang telah ada bahkan sebelum dirinya menjadi genin,
Perasaan yang selalu ia pendam selama bertahun-tahun,
Perasaan yang membuatnya hancur berkeping-keping,
Perasaan yang nyatanya sampai detik ini tak bisa dan tak pernah pudar sedikitpun.
Sakura meremas jemarinya sendiri. Hancur sudah seluruh usahanya untuk menyambut lembaran baru yang dapat membuatnya merasa terlahir kembali sebagai pribadi baru, hancur sudah segala usaha yang ia lakukan selama 6 bulan ini karena kini ia sadar, sebagaimanapun ia mencoba, sebagaimanapun ia terjatuh, ia tak akan dapat membunuhnya.
Ia tak dapat.
Tak dapat menghancurkan…
Perasaan cintanya pada Sasuke.
To be Continued
A/N : Gyaaaaak! Sayah kembaaaali! Orz . Yeay! Libur telah tiba! UAS telah beres dan…LIBUUUR! *plaak*
Ehem…apakah kalian merindukan fic ini? Semoga ada yang rindu :'D
Sejujurnya, chap ini cukup sulit untuk sayah buat. Lebih tepatnya sulit di adegan SasuSakunya. Sakura sudah kembali, dunia palsunya telah runtuh, saya masih ragu 'apa yang selanjutnya Sakura lakukan?' . Maka dari itu saya mencoba membuat Sakura memikirkan mengenai "melupakan Sasuke dengan cara menghadapinya". Yah, melupakan seseorang dengan cara menampik perasaan yang ada itu ga efektif karena hanya akan membuat lubang dihatimu lebih menganga, jadi saya membuat Sakura mencoba menghadapi Sasuke. :))
Sebelumnya maaf kalau penjabaran perasaan Sakura rumit. Awalnya gelisah, takut, dan kembali tersadar sama cintanya. Menurut saya, hal tersebut wajar. Dia pernah ditinggalkan Sasuke dan kini Sasuke kembali. Tentunya dia gelisah. Belum lagi dia pernah hampir dibunuh Sasuke dan akhirnya ia juga punya sedikit perasaan takut yang tersisa.
Hahaha…kok A/Nnya malah jadi penjabaran gini?
Ya sudahlah, pokoknya, saya mohon maaf jika chap ini tak memuaskan. Dan maaf kalau update telat, kalau boleh jujur, perasaan saya sama pair SasuSaku sedikit goyah sehingga menyulitkan untuk mendapat feel yang pas untuk menulis. Tapi, hal tersebut tak akan memengaruhi ending menjadi tak adil (karena ending akan tetap seperti awal fic ini dibuat) apalagi mendadak discontinue. Sebenarnya fic ini sudah tamat diketik. Cuma, masih harus diperbaiki. :3
Aaa~ pokoknya begitulah. Baru kembali jadi pengen ngobrol panjang lebar sama readers. Haha
Yang terakhir, semoga di tahun 2015 fic KakaSaku makin ramai! (Apa deh)
Oh, semoga Sarada cepat dapat adik *plaak*
Okai! Terima kasih buat yang sudah follow, favorite, sama review fic ini. Saya masih menunggu review kalian ya! Biar makin semangat! (Jangan lupa review juga di fic sayah yang lain ya.) :DD Sampai jumpa di chap 22!
Mari balas review-review yang sudah masuk :3
Taskia Hatake46-san, Chapter 20
J : Yeei ini juga udah update lagi!
Haha iya, suara serak sensei lagi yang membangunkan.
Iya, mudah-mudahan diterima ya :p
Ah begitukah? Syukurlah…
Ku kira bakal OOC. Sensei memang sulit dimaklumi :3
Gapapa, aku senang dapat review panjang. Itu berarti dirimu antusias dengan ficku. Aku senaaang~ *plaak*
Shukaku-san, Chapter 20
J : Iyaaah! Aku juga mau dilamar sensei XD
Hahahaha…iya, sensei bujang forever! :P
Eh? Mungkin Pakkun sudah 'nikah' ya?
KYUbii-san, Chapter 20
J : Arrgh syukurlah kalau nyesek! XD
Judul? Ehm…mungkin mengarah ke KakaSaku? Kakashi ke Sakura, Sakura ke Sasuke.
Semoga kamu bisa tidur malam ini :3
Nada-chan-san, Chapter 20
J : Yei juga :D
Iya aku juga senang. Akhirnya sensei berani mengambil tindakan lebih.
Sampai sekarang juga belum dijawab. Semoga sebentar lagi sensei dapat jawabannya
Haha like master like pet :P
ChintyaMalfoy-san, Chapter 20
J : Haha…sayangnya Sakura ga langsung peluk. Nanti ceritanya langsung end. XD
Sasuke ya? Dia itu…susah untuk ditebak! Doakan saja semoga dia cepat sadar sama kesalahannya.
Tak apa, syukurlah kamu sudah mau review.
Hanazono Yuri-san, Chapter 20
J : Hahaha… ini aku lanjut~
Tifanyzahra3-san, Chapter 20
J : Semoga pair kesukaanmu yang nanti jadi pair akhir ya
JunShiKyu-san, Chapter 20
J : Iya, aku setuju denganmu. Ini sakit sekali buat sensei. Tapi, kalau tak sakit bukan Hurt Me nanti. :'D
Chaa-san, Chapter 20
J : Haha. Semoga pair kesukaanmu yang jadi pair akhir ya.
Haruka smile-san, Chapter 20
J : Kita tunggu akhir cerita :3
Shindymajid-san, Chapter 20
J : Hayoo apa ya? XD
6934soraoi-san, Chapter 20
J : Waah…meleset dari perkiraanmu ya?
Waah…meskipun kurang dapet semoga kamu ga membenci pair itu ya.
Membuat Sasuke menderita? SIAAAP! XDDD
SummerChoi1212-san, Chapter 20
J : Sensei egois disini? ;A;
Masa sih? :"(
Padahal kalau dirimu mencoba menyesapi, sensei itu perannya menyedihkan banget disini. Tapi, kalau itu yang kamu pikirkan gapapa sih, beda kepala beda pemikiran soalnya. Haha.
Pair?
Kalau diperhatikan baik-baik jelas sekali SasuSaku. Sakura cinta dengan Sasuke, bukan? Sakura 'rusak' karena Sasuke bukan? :3
Cuma kalau untuk SasuSaku moment ya baru mulai chap ini. :P
Iya, sensei tipe yang pas banget untuk itu /w/
Kristianawirastri-san, Chapter 20
J : Waah…syukurlah.
Ditunggu juga review selanjutnya.
Zeedezlyclalucindtha-san, Chapter 20
J : Semoga :3
