Dua minggu menjelang UNAS...

Sodara, plis sodara doakan saya, wokey? Soalnya beberapa try out saya entah kenapa hasilnya hancur2an... Kayaknya kok UNASnya bakal susah lagi... Wew... T-T

BTW, sekedar pemberitahuan saja, JUDUL CHAPTER INI SAMA SEKALI NGGAK ADA HUBUNGANNYA SAMA KINGDOM HEARTS: CHAIN OF MEMORY BUATAN SQUARE ENIX! Yah... saya milih judul ini soalnya kok kayaknya cocok aja sama ceritanya... XD

Yah... nothing special today... silahkan membaca!



Lu Xun berjalan mengikuti Yangmei. Sebenarnya ia masih bertanya-tanya sendiri akan dituntun kemana ia oleh putri itu. Setelah keluar dari ruang tahta, ia diajak Yangmei pergi ke suatu tempat yang ia sendiri belum diberi tahu. "Meimei, kita mau kemana?"

Yangmei menoleh kebelakang, kemudian memberikan sebuah senyum nakal. "Kamu tidak perlu banyak bertanya..." Ia menjulurkan lidahnya. "...jamur."

Jawaban yang mengecewakan, ditambah ejekannya yang terakhir itu membuat Lu Xun kesal. Tetapi tawa Yangmei yang telah berhasil mengerjainya itu membuatnya senang. Dengan suara cuek, Lu Xun memutar tubuhnya. "Baik kalau begitu. Silakan Gong Zhu pergi sendiri saja."

"Wah! Jangan begitu, tuan jamur! Aku kan hanya bercanda!" Balas Yangmei sambil segera menarik tangan Lu Xun.

"Kalau begitu..." Lu Xun menepuk dahi Yangmei. "Jangan panggil aku jamur lagi. Mulai sekarang panggillah aku dengan nama yang benar." Katanya.

Wajah Yangmei langsung cemberut. "Iya..iya..." Ia menghela nafas. "Aku ini susah menghafal nama orang, apalagi kalau namanya tidak aku mengerti. Dulu pada saat namamu Lu Yi, aku masih lebih mudah menghafalnya. Sekarang kalau namamu berubah, bagaimana bisa begitu mudah kuhafalkan?" Katanya sambil mencari-cari alasan. "Bahkan Jendral Lü Meng saja kupanggil bos besar karena kadang aku tidak ingat, dan Jendral Gan Ning kupanggil tuan bajak laut. Tapi mereka tidak pernah marah, hanya kau saja yang marah."

"Sebab memang panggilanmu itu berhubungan." Balas Lu Xun. "Jendral Lü Meng itu seorang jenral yang hebat, tak heran kalau kamu memanggilnya bos besar. Sementara Jendral Gan Ning memang dulunya seorang bajak laut. Makanya mereka tidak marah." Kemudian ia melanjutkan dengan nada kesal. "Tapi apa hubungannya namaku sekarang dengan jamur? Hanya karena cara pengucapannya sama saja kamu sampai memanggilku begitu."

Lagi-lagi Yangmei menghela nafas. "Kenapa semua orang namanya begitu susah? Kenapa tidak yang gampang seperti namaku saja, sih?" Keluhnya. Lu Xun yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah gedung lain. Letakknya agak jauh dari istana utama. Di sanalah keduanya berhenti.

Yangmei berbalik dan mengacungkan jarinya sambil menunjuk-nunjuk bangunan itu pada Lu Xun. "Lu Xun tidak pernah kemari sebelumnya kan?" Ia bertanya. "Tempat ini adalah para penjahit istana bekerja. Mereka pandai membuat gaun pesta sampai ke baju perang. Berhubung sekarang kita akan pergi berperang, kita akan minta tolong mereka untuk membuatkan kita baju. Bagaimana?"

"Untuk apa?" Tanyanya balik. "Tidak perlu begitu banyak baju, merepotkan saja. Bajuku masih banyak, kok."

Putri yang keras kepala itu mendengus kesal. "Bajumu itu seperti baju seorang ahli strategi yang bisanya cuma ongkang-ongkang kaki di istana sementara tentara yang lain berperang. Kalau kena pedang sedikit saja, bisa membahayakanmu juga." Ia beradu argumen. "Selain itu bajumu tidak ada yang bagus."

"Begitu, ya?" Lu Xun tersenyum simpul. "Percuma saja memakai baju yang bagus-bagus saat perang, tetapi kalau nanti terkena pedang sedikit saja langsung ketakutan. Yang penting itu kebolehan seoarang jendral, bukan pakaiannya." Kata-katanya itu digunakan untuk menyindir Yangmei, tetapi dasar memang gadis itu sama sekali tidak peka.

"Justru karena itulah!" Balas Yangmei. "Lu Xun kan tidak pandai bertarung dan bisanya cuma ongkang-ongkang kaki sambil berpikir. Sudah begitu, tidak punya baju perang yang bagus pula! Bisa-bisa kamu terluka nanti, dan lagi-lagi harus aku yang menyembuhkanmu..." Dilihatnya Lu Xun sudah berbalik, lalu berjalan meninggalkannya. Yangmei menjadi kesal bukan main. Ia berseru keras-keras. "Ya sudah kalau begitu, mulai sekarang kamu akan kupanggil tuan jamur!" Ancamnya.

Rupanya ancaman itu berhasil. Lu Xun akhirnya berhenti, kemudian berbalik lagi. Yangmei yang kegirangan pun tertawa juga.

"Sudah cepat! Jangan buang-buang waktu lagi!" Katanya tidak sabar.

Lu Xun dan Yangmei memasuki gedung itu, kemudian berjalan melalui beberapa koridor sampai akhirnya tiba ke suatu ruangan besar yang bentuknya seperti aula yang luas. Di dalamnya terdapat beberapa orang yang sedang berlari kesana-kemari sambil membawa gulungan-gulungan kain. Kelihatannya mereka sibuk sekali. Melihat kedatangan Yangmei dan Lu Xun, seisi ruangan itu langsung berhenti dari pekerjaan mereka. Seorang wanita yang cukup tua usianya menghampiri mereka.

"Aduh, Gong Zhu..." Kata wanita itu sambil membungkuk. "Kenapa putri bersusah-payah datang jauh-jauh kemari? Kan bisa saja Gong Zhu menyuruh orang lain jika perlu sesuatu?"

Wanita itu sebenarnya bermaksud sopan, tetapi Yangmei keliru menafsirkan kata-kata itu. "Apa maksudnya itu?" Kata Yangmei dengan perasaan sedikit terhina. "Apa aku hanya membuat keributan saja di sini?"

Lu Xun memukul kepalanya sendiri. "Maksudnya, Meimei, kamu kan putri, jadi seharusnya kamu di istana saja, jangan pergi jauh-jauh dari istana. Mengerti?" Yangmei mengangguk mengerti. "Kamu ini, orang bermaksud baik-baik, malah kamu berprasangka buruk."

Yangmei yang menyadari kesalahannya langsung membungkuk berkali-kali, membuat wanita itu jadi bingung harus berbuat apa. "Aduh, maaf! Maaf! Aku benar-benar tidak tahu!" Kemudian ia berhenti. "Aku datang kemari karena ingin kau buatkan kami baju. Kalau bisa, bolehkah aku melihat cara membuatnya juga? Sekaligus desainnya nanti?"

Wanita itu mengangguk. "Tentu saja boleh, putri." Lalu ia menoleh pada Lu Xun. "Apa tuan muda juga ingin dibuatkan baju?"

Sebelum Lu Xun berkata apa-apa, Yangmei sudah terlebih dahulu menjawab untuknya. "Benar! Aku dan Lu Xun minta tolong ingin dibuatkan baju untuk perang sebentar lagi. Bisa tidak?" Ia segera memulai penjelasannya. "Aku ingin baju yang warnanya cerah seperti baju perang milik Bibi Shang Xiang! Oh, dan aku juga ingin yang warnanya merah!" Katanya bersemangat.

Wanita tua itu mengangguk sambil tersenyum kecil melihat kelakuan Yangmei. "Sebelumnya, putri, tubuh anda harus diukur dulu. Tuan muda juga." Kemudian ia memanggil dua orang yang sepertinya masih sibuk. Keduanya meninggalkan pekerjaannya dan dengan tergopoh-gopoh membawa beberapa tali ukuran.

Saat mulai akan mengukur, Lu Xun mengambil tali ukuran itu, membuat para penjahit itu kaget. "Sepertinya anda semua sedang sibuk. Kami di sini untuk minta tolong, bukan bermaksud menganggu kalian. Silahkan anda kembali ke pekerjaan anda. Saya dan putri akan mengukur sendiri." Katanya sopan. Sebelumnya penjahit-penjahit itu ragu-ragu, tetapi melihat Lu Xun yang ternyata bisa melakukannya sendiri, mereka akhirnya kembali pada pekerjaannya.

Yangmei memandang kagum sementara Lu Xun mengukur tubuhnya sendiri dengan tali ukuran itu. Sebenarnya itu adalah hal yang biasa, tetapi karena memang Yangmei sudah menganggap Lu Xun seseorang yang begitu hebat, ia jadi kagum sendiri. Mulai dari pergelangan tangan, pergelangan kaki, sampai semuanya sudah selesai.

Dengan bodohnya Yangmei bertanya. "Lu Xun ternyata tahu semua yang harus diukur, ya? Apa Lu Xun dulu pernah menjadi seorang penjahit?"

Lu Xun menatapnya dengan tatapan kesal, kemudian berbisik pelan sebagai jawaban. "Ben de hao xiang yi zhi zhu." Kata-kata itu langsung mendiamkan Yangmei. Putri itu mendengus kesal, kemudian membalikkan badannya sambil cemberut. Lu Xun hanya tertawa kecil melihatnya, tetapi tetap saja menyembunyikan ekspresinya. Sayang sekali Yangmei tidak tahu, semakin ia jengkel pada Lu Xun, semakin Lu Xun menyukainya.

Tiba-tiba bahu Yangmei ditepuk, kemudian ia dipaksa menoleh kebelakang, dan orang yang membalik tubuhnya tentu saja Lu Xun. Yangmei yang masih dongkol hatinya membuang muka. "Sini, biar kuukurkan tubuhmu." Kata Lu Xun dengan sebuah senyum iseng.

"Biar aku sendiri saja!" Bentaknya kesal seraya merebut tali ukuran di tangan Lu Xun. "Kamu bilang aku bodoh seperti babi! Jadi, buat apa kamu mengukur tubuh seorang bodoh? Apalagi tubuh seorang babi! Nanti malah ketularan penyakit bodohku!"

"Justru karena kamu bodoh seperti babi," Balas Lu Xun dengan santai. "Aku yakin kamu tidak bisa mengukur tubuhmu sendiri."

Yangmei jadi gemas sekali. Ingin rasanya ia menginjak-injak Lu Xun saat itu juga sangking jengkelnya. Kenapa di dunia ini ada orang yang begitu tampan, lembut pada orang lain, pintar dan berbakat, tetapi begitu menyebalkan terhadapnya? Di depan orang lain Lu Xun selalu terlihat sopan dan baik hati, tetapi kenapa di depannya yang adalah calon istrinya sendiri ia begitu cuek dan selalu menjengkelkan? Yang lebih aneh, ketika dulu kecil, Lu Xun sangat baik hati dan perhatian seperti malaikat, sekarang dia seperti iblis saja...

"Aku memang putri paling bodoh di kerajaan Wu, bahkan mungkin di seluruh sejarah China! Tapi setidak-tidaknya untuk mengukur tubuhku sendiri aku bisa, tidak perlu bantuanmu itu!" Ia mencak-mencak dengan marah, sambil dalam hati berharap supaya Lu Xun takut melihatnya. "Kamu itu katanya saja niatnya membantu, tapi sebenarnya cuma mau mengejekku, kan?" Katanya sambil menuding.

Lu Xun ekspresinya datar-datar saja, tidak menunjukkan perubahan apa-apa. Tetapi tiba-tiba saja ia menutup mulutnya dengan satu tangannya, dan terlihat dengan jelas sekali bahwa ia sedang setengah mati menahan tawa. "Aduh, Gong Zhu..." Tawanya akhirnya tidak tertahankan lagi. "Baru kali ini Gong Zhu bisa berpikir dengan benar, ya? Memang itu tujuanku." Yangmei yang mendengarnya jadi merah mukanya karena malu dan kesal yang bercampur aduk. "Apalagi, siapa sih yang mau mengukur tubuh Gong Zhu?"

Setiap kali Lu Xun ingin membuat Yangmei marah, ia selalu memanggilnya dengan sebutan 'Gong Zhu', dan cara itu selalu saja berhasil. Dengan marah Yangmei menerjang Lu Xun untuk memberinya sebuah pukulan jitu. Sayangnya, seperti biasa, Lu Xun selalu berhasil menghindar, dan kali ini menyebabkan putri itu hampir jatuh terjembab.

"AIYA!" Dengan satu jeritan kontan seluruh mata memandangnya dengan terkejut. Baru kali ini mereka mendengar suara Yangmei yang begitu keras. Dalam waktu sepersekian detik saat orang-orang hanya sempat menoleh saja, tubuh Yangmei yang terjatuh ditopang oleh tangan yang kuat, yang akhirnya menyebabkannya tidak jatuh.

Yangmei langsung bisa menebak itu siapa. Pastilah dengan 'kekalahannya' kali ini, ia lagi-lagi akan diejek oleh Lu Xun yang memang sudah terlalu sering menang darinya. Yangmei cepat-cepat membetulkan posisi tubuhnya dengan segera, sekaligus mempersiapkan diri untuk menebalkan muka saat melihat Lu Xun yang melihatnya dengan pandangan santai tapi mengejek.

"Kamu tidak apa-apa?"

"Sudahlah! Kamu jangan sok perhatian..." Kata-katanya terhenti saat ia menoleh. Yang ia tatap ternyata bukan wajah Lu Xun yang tersenyum puas karena berhasil mengerjainya, tetapi wajah yang khawatir, yang tidak pernah ia tunjukkan untuk waktu yang lama sekali. Yangmei hanya bisa menatapnya dengan pandangan terkejut, tetapi juga senang.

Sayangnya, ekspresinya begitu cepat berubah.

Tangannya yang tadinya menopang Yangmei langsung ia lepaskan dari gadis itu sesaat sesudah ia berdiri dengan benar. Dengan cepat ia membuang muka. "Terserah kamu sajalah. Aku hanya tidak mau kamu sampai jatuh." Suaranya terdengar datar dan tidak mengandung perasaan apapun, begitulah yang dipikirkan oleh Yangmei, tetapi arti yang terkandung pada kata-kata Lu Xun adalah bahwa sebenarnya ia kecewa dikatai sok perhatian.

Yangmei juga membuang muka, kemudian segera mengukur tubuhnya seolah kejadian yang barusan itu tidak pernah terjadi. Seperti yang sudah Lu Xun duga, ternyata memang putri itu tidak bisa mengukur tubuhnya sendiri. Setiap kali mengukur, tali ukuran itu pasti terlepas dari tangannya atau tidak tepat saja. Yang paling susah adalah pada saat mengukur panjang punggung. Tangan kiri Yangmei menahan agar ujung tali ukuran tetap di bawah lehernya, sementara tangannya yang digunakan untuk menandai. Sayang sekali usahanya itu selalu gagal.

"Kamu butuh bantuan?" Tanya sebuah suara di belakangnya yang tak lain dan tak bukan adalah suara Lu Xun sendiri.

Dengan keras kepala Yangmei menjawab. "Tidak! Aku bisa sendiri, kok!" Meskipun ia berkata begitu, kenyataanya ia tidak pernah berhasil, sampai Lu Xun tiba-tiba membantunya dari belakang. Jarinya menyentuh leher bawah Yangmei, dan perlahan menyingkirkan tangan kirinya.

"Kalau kamu memang tidak bisa, bilang saja." Katanya. Entah sentuhan itu memang mengandung sesuatu yang aneh, atau memang ia sendiri yang aneh, tiba-tiba saja Yangmei jadi tegang sekali. Tubuhnya kaku saat mendapat sentuhan Lu Xun, khususnya pada saat ia merasakan nafas Lu Xun yang hangat menyentuh tengkuknya saat ia membungkuk. Satu lagi tangan Lu Xun mengikuti panjang punggungnya sampai serendah pinggul. Selama itu terjadi, Yangmei hanya bisa terbujur kaku, seolah-olah ia adalah patung kayu.

"Selesai!" Lu Xun melepaskan sentuhannya. Dalam hati, Yangmei merasa begitu lega, tetapi ia juga tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa ia sebenarnya kecewa. Tanpa berkata apa-apa, Lu Xun segera mengembalikan tali ukuran itu pada wanita tua tadi, sekaligus memberi tahu ukuran tubuh mereka berdua. Ketika kembali kepada Yangmei, ia hanya melihat gadis itu menatapnya dengan tatapan kosong seperti orang bodoh. "Kamu ini kenapa lagi?"

"Anu..." Akhirnya Yangmei menemukan suaranya untuk berbicara. "Aku boleh bertanya satu hal, Lu Xun? Pertanyaannya mudah, kok! Pasti kamu bisa menjawab." Kemudian ia menunduk dalam-dalam. "Tapi aku malu untuk menanyakannya."

"Kamu ini mau menguji atau mau bertanya?" Tanya Lu Xun dengan skeptis.

"Tentu saja bertanya!" Balas Yangmei. "Pertanyaanku itu... Apa kamu pernah belajar ilmu silat melumpuhkan tubuh musuh? Kamu tahu, kan? Ilmu yang hanya dengan sentuhan jari saja bisa melumpuhkan lawan?"

Pertanyaan bodoh itu lagi-lagi ingin membuat Lu Xun mengatakan ben de hao xiang yi zhi zhu, tetapi akhirnya ia mengurungkan niatnya itu. "Tentu saja tidak. Apa kamu pernah lihat aku belajar ilmu silat seperti itu selain ilmu perang saja?" Dengan tetap menunduk Yangmei menggelengkan kepalanya. "Memangnya kenapa?"

"Habis..." Yangmei menghela nafas. "Tadi waktu Lu Xun mengukur tubuhku, kok aku tidak bisa bergerak, ya?" Tanyanya. Sebelum ia mendapat jawabannya, ternyata Lu Xun sudah meninggalkannya terlebih dahulu. Yangmei hanya bisa mengikutinya dari belakang saja sambil memanggil-manggil, tetapi ia hanya pura-pura tidak mendengar saja. Begitulah seterusnya sampai mereka hampir sampai di istana utama, dan hebatnya Yangmei tidak capek sama sekali.

"Lu Xun..." Ia berkata memelas. "Kamu jangan marah lagi, aku kan cuma ingin tahu?"

Melihat wajah Yangmei seperti itu, akhirnya Lu Xun hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman tulus saja, satu hal yang sangat dirindukan Yangmei. "Sudahlah... kita jangan bicarakan hal itu lagi. Sebenarnya memang aku tidak boleh melakukan itu padamu. Maaf, ya?"

Dengan sebuah gerakan cepat, tiba-tiba saja tanpa sebab yang jelas, Yangmei mengambil Feng-jian yang terselip di pinggang Lu Xun. Yangmei tertawa menang sambil melihat Lu Xun yang begitu kaget dan bingung dengan tingkahnya. "Wah! Wah! Wah! Ternyata ahli strategi sehebat kamu juga bisa kalah dari putri bodoh sepertiku, ya? Lihat ini! Pedangmu ada di sini! Coba ambil!" Kemudian ia bermain-main dengan pedang itu. "Wah, ternyata kalau Lu Xun sedang jadi malaikat, mudah sekali mengerjainya. Tapi kalau sedang jadi iblis, bisa-bisa aku yang terus dikerjai!"

Saat akhirnya tahu bahwa ia sedang dikerjai, Lu Xun hanya bisa menatapnya sambil berjalan dengan langkah pendek dan pelan mendekatinya. Tetapi, tatapan itu begitu tajam dan menakutkan, sampai-sampai Yangmei melihat ada aura pembunuh yang melingkupi Lu Xun. Saat benar-benar dekat dengannya, Lu Xun berhenti hanya beberapa senti dari Yangmei sementara Yangmei sendiri menyembunyikan pedang itu ke balik punggungnya. "Mau apa kamu? Aku tidak takut sama kamu!" Meskipun memasang tampang berani, sebenarnya tubuhnya merinding sangking takutnya.

Lu Xun yang melihat Yangmei tetap saja bersih keras tidak mau mengembalikan pedang berharga miliknya itu akhirnya berbalik dan berjalan menjauhinya. "Kalau begitu, pedang itu untukmu saja." Katanya santai. Yangmei sampai jadi bingung sendiri. "Tapi Huang-piao ini untukku."

Yangmei benar-benar kaget sekali ketika melihat Lu Xun berbalik, dengan delapan pisau kecil itu terselip di setiap jarinya. Ia kelihatan sangat puas telah berhasil menjahili Yangmei, sekaligus bisa melihat ekspresi bengong putri itu. "Bagaimana bisa...?" Barulah ia sadar, sebenarnya ketika Lu Xun mendekatinya, seperti berusaha mengancamnya, ia sedang mengambil piaonya dengan perlahan dan hati-hati hingga Yangmei tidak sadar sama sekali, apalgi dengan ketegangannya itu. Karena hal itulah Yangmei jadi dongkol sekali. Lagi-lagi ia kalah! "Kembalikan piaoku!"

"Kembalikan juga pedangku." Katanya. Karena tidak ada yang mau mengalah, mereka akhirnya menyerahkannya bersamaan. Lu Xun menyerahkan piao Yangmei dengan cara menyodorkan pisau-pisau kecil itu, sementara Yangmei memegang ujungnya dengan hati-hati. Begitu juga dengan Yangmei, ia menyerahkan pedang itu dengan memegang pegangannya, kemudian Lu Xun memegang ujungnya dengan hati-hati. Pada saat itulah tangan mereka terhubung melalui kedua senjata itu, dan menyebabkan senjata itu bersinar keemasan.

"Apa ini?" Tanya Yangmei terkejut. Lu Xun tanpa banyak bicara langsung menutupi matanya dari cahaya yang membutakan itu dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain digunakan untuk menarik kepala Yangmei dalam pelukannya agar tidak terkena cahaya itu...

Sampai cahaya itu benar-benar hilang sepenuhnya, mereka tidak berani membuka mata. Ketika mereka mencoba melihat, rupanya cahaya itu sudah tidak ada, begitu juga kedua senjata mereka, begitu juga istana utama, dan bahkan seluruh istana Jian Ye! Barulah mereka sadar mereka sekarang sedang berada di tempat lain.

Seperti sebuah gerakan refleks, Yangmei langsung bertanya. "Dimana ini?"

"Entahlah." Balas Lu Xun.

Mereka sekarang benar-benar di sebuah tempat yang asing. Waktu di Jian Ye sudah malam, begitu juga di tempat dimana mereka berada ini. Ada sebuah api unggun yang membubung tinggi, tetapi tidak ada seorangpun yang mengitarinya. Tempat itu tertutup oleh sebuah tembok yang hanya terbuat dari kayu-kayu, tetapi cukup kuat. Di dalamnya terdapat banyak sekali tenda-tenda. Barulah keduanya tahu mereka sedang berada di suatu perkemahan! Perkemahan angkatan perang apa, mereka berdua juga tidak tahu. Satu-satunya yang menjadi petunjuk adalah sebuah panji-panji bertuliskan 'Angkatan Perang Han'.

"Sudah pasti ini pada masa pemberontakan Sorban Kuning." Lu Xun menyimpulkan. "Kenapa kita bisa ada di sini?"

Seperti yang banyak anak perempuan lakukan kalau hilang atau berada di tempat yang tidak dikenal, Yangmei menangis. "Aku mau pulang! Aku tidak mau di sini!" Katanya merengek-rengek.

Lu Xun merasa kasihan, tetapi juga jadi tidak sabar karena melihat Yangmei yang cengeng sekali. "Aku juga ingin pulang! Sekarang sebaiknya kamu jangan menangis saja." Ia berusaha bicara dengan kata-kata yang lembut. "Ayo kita lihat-lihat dulu."

Yangmei melihat Lu Xun begitu saja beranjak dari tempat ia berdiri tanpa mempedulikannya. Putri itu jadi kecewa sekali, biasanya kalau ia menangis, Lu Xun akan berusaha menghiburnya sampai ia tersenyum lagi, tetapi karena sikap cueknya itu sekarang, ia jadi sama sekali tidak peduli. Satu hal yang membuatnya berhenti menangis adalah... Lu Xun itu sendiri. Saat bersama Lu Xun, ia tahu bahwa ia pasti akan aman. Dengan langkah pelan, Yangmei menyusul Lu Xun, kemudian berjalan rapat-rapat padanya. Lu Xun sampai menjadi tidak nyaman.

"Tenda itu masih terang." Kata Lu Xun sambil menunjuk pada suatu tenda yang terletak di tengah, ukurannya lebih besar dari tenda lain. "Mungkin kita bisa bertanya pada orang di sana."

Saat keduanya semakin mendekat, mereka mendengar dua orang laki-laki sedang berbicara. Kedua suara itu terdengar asing bagi keduanya, tetapi seolah begitu dekat. Karena takut mengganggu, dan juga karena penasaran, keduanya memutuskan untuk mendengarkan percakapan mereka dari luar.

"Meimei, kamu jangan sampai ribut. Kalau ketahuan, kita bisa celaka!" Lu Xun memperingatkan. Yangmei mengangguk mantap. Keduanya kemudian membuka pintu tenda itu dan mengintip ke dalam dengan perasaan takut-takut. Seperti yang sudah mereka perkirakan, ada dua orang sedang berbincang-bincang di dalam. Mereka duduk saling berhadapan dengan sebuah meja di antara mereka. Dari jauh mereka melihat di atas meja itu terdapat dua buah kotak yang familiar bagi mereka.

"Jadi," Kata orang pertama. "Kenapa kau memberikan ini padaku? Bukankah ini pusaka keluaragmu yang harus kau jaga?"

"Jendral Sun Jian, kau adalah satu-satunya teman yang bisa dipercaya. Jika sampai senjata ini kuserahkan pada anakku yang tertua, bisa-bisa pedang ini tidak akan sampai pada orang yang punya kekuatan Feng itu! Tapi jika kuserahkan pada anakku yang kedua, pasti akan terjadi perang saudara!" Kata orang kedua dengan suara memohon.

Orang pertama membalas lagi. "Tenang. Kau harus berkepala dingin memikirkan masalah ini, Jendral Lu Yu. Ceritakan masalahnya pelan-pelan dan kita akan cari solusinya bersama."

Sampai disini kedua pengintip itu tercengang-cengang. Yangmei sampai hampir berteriak sangking kagetnya. Akhirnya, dengan susah payah ia mengendalikan keterkejutannya dan dengan suara berbisik ia berkata pada Lu Xun. "Sun Jian itu nama kakekku."

"Dan Lu Yu itu nama kakekku juga." Sambung Lu Xun dengan sama terkejutnya.

"Kau jangan bercanda."

"Untuk apa aku bercanda, apa lagi di saat penting begini." Balas Lu Xun kesal. Kemudian keduanya kembali melanjutkan pengintaian mereka. Sepertinya mereka telah melewatkan beberapa percakapan penting.

Laki-laki kedua, yaitu jendral yang bernama Lu Yu itu mulai menceritakan masalahnya. "Aku punya dua orang anak. Seharusnya memang senjata ini telah diwariskan turun temurun kepada anak tertua. Tetapi aku mendapat suatu perasaan, seperti aku bisa menebak masa depan. Istri dari anakku yang kedua sedang mengandung, dan beberapa bulan lagi akan melahirkan. Aku hanya berpikir jangan-jangan..." Sampai di situ mereka berdua hanya mendengar desahan panjang.

"Cucumu yang sebentar lagi akan lahir?" Tanya Jendral bernama Sun Jian itu dengan penasaran. "Memangnya ada apa dengannya?"

"Sebenarnya sebelum bergabung dalam perang ini, aku sudah berpikir untuk menyerahkan benda pusaka ini pada anakku yang pertama." Jelas Lu Yu. "Tetapi ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan agar aku memberikannya pada anakku yang kedua. Suatu hari aku melihat seekor burung Phoenix terbang, tetapi hanya aku saja yang melihatnya. Beberapa saat kemudian, aku mendapat kabar bahwa menantuku dari anakku yang kedua hamil. Aku rasa jangan-jangan anak yang dikandungnya, cucuku itu..."

"Memiliki kekuatan Feng?" Potong Sun Jian dengan perasaan takjub yang berusaha dipendamnya. "Kalau begitu sebaiknya kau berikan pada anakmu yang kedua."

"Tidak bisa begitu." Balas Lu Yu lesu. "Jika itu kulakukan, bisa-bisa anakku yang pertama marah dan iri, pertengkaran antar saudara tidak bisa dihindari lagi." Kemudian ia berhenti sejenak. "Maka dari itu, Jendral Sun Jian, aku berharap kau bisa sementara waktu membawa pedang ini. Dalam pertempuran berikutnya aku akan memimpin di garis depan, dan sepertinya kematian begitu dekat. Sebelum senjata ini jadi tidak bertuan, tolong bawalah senjata ini. Jika kau bertemu dengan cucuku itu, barulah serahkan pedang ini. Dengan begitu kau sudah sangat membantuku." Katanya memohon.

"Tapi..." Sun Jian masih terlihat tidak yakin. "Bagaimana seandainya jika kedua anakmu itu mengira aku telah mencuri pedang ini darimu?"

"Hal seperti itu tidak mungkin terjadi!" Balas Lu Yu mencoba meyakinkan. "Tidak ada yang tahu aku telah menitipkan pedang ini padamu. Pedang itu anggap saja hilang. Masalah selesai. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Sun Jian mengangguk-angguk pelan, sebelum akhirnya mengambil kotak panjang itu. "Baiklah. Pedang ini akan kubawa dan akan kuserahkan pada cucumu jika ia sudah dewasa, dan jika aku bisa bertemu dengannya. Jika tidak, maka anakku atau cucukulah yang akan menyerahkannya..."

Sampai saat itulah tiba-tiba terdengar seruan dari luar kemah. Panah-panah api terbang melewati pagar, kemudian membakar kemah-kemah. Tentara-tentara bangun dan berlari kalang-kabut, begitu juga dengan kedua jendral yang ada di dalam kemah. Tentara-tentara itu saling injak sehingga banyak yang terjatuh dan mati. Lu Xun dan Yangmei yang takut dan kebingungan cepat-cepat menyingkir.

"Menyerahlah pasukan Han, kalian orang sesat!" Seruan itu terdengar bersahutan saat pasukan dengan sorban berwarna kuning di kepalanya menyerbu di dalam kekacauan itu, kemudian membunuh siapapun tentara yang terlihat. Pertempuran itu terasa mudah karena para tentara Han belum siap untuk melakukan serang balik. Lu Xun dan Yangmei semakin kalut melihatnya.

"Hei, nak!" Lu Xun dan Yangmei menoleh ke sumber suara itu. Ternyata dari Lu Yu dan Sun Jian, yang sebenarnya adalah kakek mereka sendiri. "Pakai senjata ini! Cepat!" Sebuah pedang dan beberapa pisau dilempar dengan cepat ke arah mereka. Untung saja keduanya dengan sigap mengambil keduanya. Lu Xun mengambil sebilah pedang itu, sementara Yangmei mengambil pisau-pisau itu. Betapa terkejutnya mereka karena ternyata kedua senjata itu adalah Feng-jian dan Huang-piao.

Yangmei menatapnya dengan mulut terbuka lebar, kemudian dengan tanpa pikir panjang ia berteriak sekeras-kerasnya. "Terima kasih banyak, kek!" Kata-kata itu langsung membuat Sun Jian kaget, tetapi tidak sempat berbuat apa-apa karena banyaknya musuh yang mengelilinginya. Lu Xun hanya bisa menghela nafas sambil memulai perlawanannya. Baik Lu Xun maupun Yangmei sekarang sedang dalam bahaya besar. Dibandingkan dengan jendral-jendral Wu seperti Ling Tong, Gan Ning, dan Lü Meng, ia masih payah, tetapi rupanya Yangmei jauh lebih payah lagi. Gerakannya asal, kadang seperti mencakar-cakar, kadang ia memukul-mukul orang saja. Setidakmahir apapun Lu Xun dalam ilmu perang, setidaknya gerakannya masih punya teknik, tidak seperti Yangmei. Saat memukul, menusuk, menyambar para pasukan itu, keduanya mulai merasakan bagaimana rasanya membunuh orang. Sungguh mengerikan! Darah orang-orang yang mereka bunuh itu tersembur keluar, sebagian mewarnai tanah kering itu menjadi merah, sementara ada yang cipratannya mengenai baju dan bahkan wajah mereka.

Tiba-tiba terdengar sebuah seruan dari jauh yang membuat Lu Xun dan Yangmei menoleh. Dari sudut mata mereka, mereka melihat seorang prajurit menusukkan pedangnya ke arah Sun Jian, tetapi Lu Yu langsung berdiri di antara pedang itu dan rekannya sehingga ia yang terkena tusukan itu.

"KAKEK!" Lu Xun melihatnya dengan mata lebar karena takut dan kaget. Dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk menolong kakeknya.

"Lu Xun! Jangan sembarangan!" Teriak Yangmei. Saat itulah baru Lu Xun sadar, seekor kuda yang ditunggangi pasukan sorban kuning berlari ke arahnya dari samping. Sudah tidak ada saat lagi untuknya menghindar, sampai akhirnya ia merasakan tubuh Yangmei jatuh menimpanya untuk melindunginya dari terjangan kuda itu. Saat tubuhnya dan tubuh Yangmei terdorong oleh kuda itu, ia menutup matanya rapat-rapat, dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi. Percakapan itu, pertemuan kedua jendral yang ternyata adalah kakeknya dan kakek Yangmei, serangan mendadak itu, kematian kakeknya, seruan Sun Jian karena rekannya tewas karena melindunginya, sepertinya semua itu hanya mimpi saja...

... sebab ia menemukan dirinya terbaring di taman istana utama, dan Yangmei tepat di atasnya.

"AIYA!!! KUDA GILA! KUDA GILA!" Yangmei menjerit ketakutan. Saat ia membuka matanya, ia kembali ke dunianya yang asli. Lu Xun tepat ada di bawahnya, di antara tanah berumput itu dan tubuhnya. Pada saat matanya terbuka lebar, ia sadar wajahnya begitu dekat dengan Lu Xun. Cepat-cepat ia beranjak dengan detak jantung yang masih tak karuan.

Lu Xun memegang kepalanya yang terasa pening sambil berusaha duduk. Ia masih tidak kuat jika harus berdiri setelah 'mimpi' yang melelahkan itu. Pedang yang digunakannya untuk melawan pasukan sorban kuning masih ada di tangannya. Sebelum ia sendiri sadar apa yang terjadi, Yangmei sudah menghujaninya dengan pertanyaan.

"Lu Xun, apa it tadi? Tadi itu kakekmu dan kakekku, ya? Mereka sedang melawan pasukan sorban kuning, ya? Senjata apa itu tadi? Memangnya tadi kita juga ikut melawan pasukan sorban kuning? Apa mereka tahu kalau kita adalah cucu mereka? Kenapa kita tidak mati sesudah diseruduk kuda itu, ya? Kenapa kita sekarang tiba-tiba kembali disini?"... dan masih banyak pertanyaan lainnya.

"Sudahlah!" Bentak Lu Xun kesal, sangking sakitnya kepalanya sekarang. "Anggap saja tadi itu cuma mimpi." Perlahan-lahan Lu Xun mencoba berdiri, sebelum kemudian membantu Yangmei juga. Walaupun itu hanya mimpi, keduanya merasa begitu kelelahan, seolah-olah mereka telah menjalani perang itu.

Rasa kelelahan yang amat sangat itulah yang membuat mereka cepat-cepat kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Untuk sementara mereka tidak mau mengingat apapun tentang itu. Jika tidak, kepala mereka pasti akan pecah saat itu juga.


Yah... Yangmei dan Lu Xun masuk lorong waktu... XD

Saya nggak punya waktu buat ngomong panjang, sodara... harus belajar...

(Nggak penting mode ON) BTW, apa ada yang sudah nyadar kenapa Lu Xun nggak mau dia sama Yangmei diukurkan sama penjahit2 itu? Alasan pertama ya emang supaya nggak merepotkan orang2 itu. Dan alasan kedunya adalah karena Lu Xun nggak mau badannya dipegang sama cewe yang bukan Yangmei, sama juga dia nggak mau Yangmei badannya dipegang sama cowo yang bukan dia sendiri. Jadi intinya, bisa dibilang sebenarnya Lu Xun tuh juga overprotective plus cemburuan banget... XD *langsung di musou rage Lu Xun*

Dan... inilah secuplik adegan berikutnya...

Yangmei memeluk ibunya dan tanpa disuruh dua kali ia segera menceritakan keseluruhan cerita itu. Setiap bagian yang telah ia ceritakan membuat ibunya itu semakin kaget saja, tetapi Yangmei masih merasa tindakannya itu sebenarnya wajar-wajar saja. Saat pertama kali Yangmei bercerita ia masuk ke kemar Lu Xun saja Da Qiao sudah begitu kaget seperti tersambar petir, apalagi saat ia mendengar kelanjutan-kelanjutan ceritanya. Sampai terakhir Yangmei mengakhirinya dengan satu dengusan kesal. "...Lalu, dia bilang 'mei you li mao'. Aku bingung apa maksudnya, jadi aku bilang saja kalau aku punya kucing, maka kucing itu berarti dia sendiri."

Barulah setelah Yangmei selesai bercerita, Da Qiao mulai bicara padanya. "Apa kamu tahu artinya 'mei you li mao'?"

"Kupikir artinya tidak punya aturan..." Jawab Yangmei sambil mengerutkan keningnya. "Tapi, apa mungkin Lu Xun sampai bilang begitu padaku? Makanya kukira dia bilang Meimei punya kucing cantik." Ia menyimpulkan.

Da Qiao menggeleng. "Memang Lu Xun ingin bilang kau tidak punya aturan." Kata permaisuri itu dengan nada kecewa. Ia mulai mengomeli putrinya itu. "Lu Xun memang benar. Kau ini putri, tetapi benar-benar tidak punya aturan lagi. Apa pantas seorang putri masuk ke kamar laki-laki?"

Itu juga sekaligus hint kenapa di gambarku yang ada Yangmei, Lu Xun, Zhou Ying, sama Zhao Yun itu Lu Xun punya telinga kucing... Tapi tentu saja yang berbau kucing2 itu nggak cuma di chap berikutnya aja... hehehe... *anti-spoiler mode ON*

Wokey! Next updatenya hari Senin! Seperti biasa...