UNCONDITIONALLY

EXO Fanfiction

Warning: BL

Pairing: HunKai, Sehun X Kai (Kim Jongin)

Cast: Lay, Suho, Kris, Xiumin, Chen, others

Rating: T-M

Halo ini sekuel RING yang ketiga, selamat membaca maaf atas segala kesalahan, happy reading all….

PREVIOUS

"Baiklah spageti dua porsi. Aku akan memesannya." Sehun menggenggam tangan kanan Jongin dan menariknya. "Kita ke ruang makan sekarang, jika aku membiarkanmu masuk ke dalam kamar aku tahu kau pasti akan menangis."

"Sehun…," rengek Jongin.

"Tidak ada protes." Putus Sehun dan pada akhirnya Jongin membiarkan Sehun menariknya ke meja makan. Keduanya duduk berhadapan, Sehun meletakkan ponselnya di atas meja makan setelah selesai memesan makanan.

"Apa—hal ini akan kita katakan pada keluarga kita?"

"Tentu saja Jongin, mereka semua berhak tahu kondisimu." Sehun menggenggam lembut telapak tangan kanan Jongin. "Saat kau siap, kau bisa mengatakannya. Jika kau merasa belum siap, jangan memaksakan diri."

"Terimakasih banyak Sehun. Aku merasa benar-benar beruntung kau hadir di dalam hidupku."

"Aku juga merasakan hal yang sama."

BAB TIGA

BUMPING ROAD

Jongin duduk di meja makan dengan kedua orangtuanya untuk sarapan, setelah mereka pulang dari rumah Suho.

"Sehun tidak datang?"

"Dia datang jika semua persiapan sudah selesai, pernikahan bisa dilakukan di rumah kan?"

"Tentu sayang, tapi kenapa kau ingin melangsungkan pernikahan di rumah?"

"Hmm…, aku tidak suka keributan dan agar Lay hyung bisa datang."

"Ide yang bagus Sayang, dan bagaimana hasil pemeriksaan kemarin?"

Jongin cukup terkejut dengan pertanyaan dari ibunya. "Semua—semua baik-baik saja."

Nyonya Kim terdiam selama beberapa saat menatap putranya lekat seolah merasa ada sesuatu yang salah. Beliau menunggu hingga Jongin membuka mulutnya mengatakan hal lain, namun rupanya Jongin memilih untuk diam. "Semua baik-baik saja." Tegas Jongin.

"Ah syukurlah kalau begitu. Apa acaramu hari ini Jongin?"

"Tidak ada."

"Bertemu dengan penerbit?"

"Masih Minggu depan, aku bisa mengirimkan naskah lewat email."

"Baguslah kalau begitu, sebaiknya kau lebih banyak istirahat sebelum pernikahan."

"Tentu." Jongin menjawab singkat kemudian dia kembali sibuk memotongi roti lapisnya, meski masih banyak potongan roti yang belum dia nikmati.

"Ada yang mengganggumu?"

"Ah!" Jongin tersentak dan mengangkat wajahnya cepat. "Tidak ada Ibu, tidak ada yang menggangguku. Aku hanya memikirkan buku yang akan terbit itu saja."

"Hmm seperti itu."

"Ya." Jongin kembali menundukkan kepalanya, memperhatikan piring sarapan yang hampir tak tersentuh. Tidak ingin menatap wajah ibunya, dan merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran.

"Jongin kau sudah menyiapkan hadiah untuk Hyungmu kan?"

"Tentu Ibu, aku tidak mungkin melupakan hal sepenting itu."

"Baguslah Sayang. Setelah Suho semoga kau dan Sehun cepat diberi keturunan secepat mungkin."

"Te—terimakasih atas harapan indahnya Ibu." Jongin menghentikan sarapannya kala ponselnya bergetar. Ia meminta izin untuk meninggalkan meja makan untuk menjawab panggilan dari Sehun. "Halo Sehun, ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu keluar sebentar, apa kau ada waktu?"

"Untuk apa?"

"Perlu alasan agar aku bisa mengajakmu keluar."

"Tentu saja aku butuh alasan untuk bisa keluar."

"Agar kau bisa melihat cincin pernikahan dan jas kita, bagaimana? Lalu ada banyak hal juga yang ingin aku tunjukkan."

"Tentu. Aku akan pergi ke rumahmu kau tidak perlu menjemputku."

"Baiklah kalau begitu, aku di kantor kau datang saja ke kantorku dari sana kita pergi bersama nanti."

"Baiklah, aku akan bersiap-siap dan langsung berangkat. Aku akan menghubungimu setelah aku sampai di depan gedung kantormu."

"Tentu Sayang, aku mencintaimu."

"Aku juga." Jongin menghembuskan napas kasar, ia menatap layar ponselnya selama beberapa detik sebelum melangkah kembali ke ruang makan. "Ayah, Ibu, aku akan pergi menemui Sehun."

"Tentu Sayang, hati-hati di jalan dan sampaikan salam kami kepada Sehun."

"Ya." Jongin tersenyum lebar sebelum bergegas ke kamar untuk berganti pakaian.

.

.

.

Jongin berdiri di depan sebuah bangunan kafe, kafe yang diinginkan Sehun menjadi tempat untuk mereka bertemu. Tangan kanan Jongin mendorong pintu dengan mantap ia berjalan pelan menuju anak tangga. Sehun menunggunya di lantai dua. Jongin hanya bisa menghembuskan napas kasar, melihat lantai dua yang nyaris kosong dengan satu orang pengunjung, siapa lagi jika bukan Sehun.

"Apa kau memesan khusus?" Jongin langsung bertanya bahkan sebelum dirinya benar-benar duduk di kursinya.

"Kau tidak bahagia melihatku?"

"Kenapa tidak jadi bertemu di kantor?" Bibir tipis Sehun sedikit mengerucut, bukannya menjawab, Jongin justru memberinya pertanyaan yang lain.

"Jawaban pertama aku tidak memesan khusus, aku meminta tolong Kris hyung, dan jawaban kedua kenapa kita tidak bertemu di kantor karena pekerjaanku ternyata selesai lebih cepat."

"Hmmm." Jongin menggumam pelan sementara tangan kanannya memainkan kain lap warna putih gading yang dilipat membentuk kipas.

"Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman."

"Bukannya tidak nyaman, hanya saja aku merasa ini terlalu berlebihan Sehun lain kali tidak perlu seperti ini."

"Baiklah, akan aku katakan pada Kris, Xiumin, dan Chen hyung. Sudah berhenti merajuk sekarang juga Kim Jongin." Sehun mengulurkan tangan kanannya kemudian menarik hidung Jongin.

"Kau ini." Keluh Jongin sambil menyingkirkan tangan Sehun dari hidungnya.

"Biar hidungmu lebih mancung."

"Apa?!" Jongin memekik kesal sementara Sehun hanya tertawa santai. "Dasar! Mentang-mentang punya hidung mancung seenaknya saja mengatai hidungku," gerutu Jongin.

"Jangan menggerutu!" Bentakan Sehun membuat Jongin terperanjat. Sehun tersenyum lebar. "Kau semakin manis jika menggerutu, jangan salahkan aku jika aku gigit pipimu."

Jongin mengangkat sendok dari atas meja dan bersiap memukul kepala Sehun, Sehun menarik tubuhnya dengan cepat ke belakang menghindari pukulan Jongin. "Aku memujimu Sayang."

"Itu pujian yang menjijikkan."

"Oh ya?" Sehun bertanya dengan nada menggoda dan jangan lupakan ekspresi wajahnya yang juga menyebalkan. "Baiklah, sebaiknya kita pesan sesuatu sekarang."

"Aku tidak ingin makan berat." Ucap Jongin memberi petunjuk kepada Sehun. Sehun sendiri sudah cukup tahu jika Jongin malas membuka buku menu.

"Brownies dan macaron, bagaimana menurutmu?"

"Baiklah." Jongin membalas singkat karena perhatiannya sedang tertuju pada vas-vas besar berisi mawar merah. "Tempat yang indah," Jongin berucap tanpa sadar.

"Jadi aku tidak salah memilih tempat bukan?"

"Hmmm." Jongin hanya menggumam karena perhatiannya masih tertuju pada vas dan mawar merah. "Ah!" Jongin tersentak karena Sehun menggenggam tangan kanannya tiba-tiba.

"Aku membawa sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu." Jongin tak memberi tanggapan karena ia sudah tahu apa yang Sehun bawa dan ingin tunjukkan.

Tangan kanan Sehun yang bebas melesak masuk ke dalam saku jasnya, menarik kotak beludru berisi contoh cincin pernikahan yang akan ia tunjukkan kepada Jongin. "Jong!" Sehun terkejut karena Jongin melepaskan genggaman tangannya, Sehun semakin kesal karena Jongin justru menjawab ponselnya. "Aku diacuhkan," Sehunpun menggerutu. Perubahan raut wajah Jongin membuat Sehun cemas. Apalagi saat Jongin tiba-tiba berdiri dan berlari pergi meninggalkan dirinya. "Jongin!" Sehun memekik kemudian mengejar Jongin mengabaikan pelayan yang datang hendak mengambil pesanan mereka.

"Jongin!" Sehun berhasil menarik bahu kanan belakang Jongin. Menghentikan langkah kaki Jongin.

"Rumah sakit Seoul." Jongin menjawab singkat dengan raut wajah cemas dan kedua bola mata yang bergerak gelisah.

"Apa Lay hyung sudah melahirkan?"

"Kurasa iya, tapi Sehun ada sesuatu yang salah. Sehun aku tidak tahu! Ayo pergi sekarang!" Sehun mengangguk cepat, ia meraih tangan kanan Jongin menarik Jongin untuk berlari bersamanya ke tempat parkir.

Sesampainya di rumah sakit Jongin bahkan tak menunggu Sehun, ia berlari cepat menyusuri lorong rumah sakit sesekali melirik ponselnya mengikuti petunjuk dari pesan yang dikirimkan oleh ibunya. "Ruang operasi," Jongin menggumam tanpa sadar sementara kedua kakinya terus berlari cepat. Sehun berlari di belakang Jongin.

"Tidak! Jangan katakan!" Jongin dengan gugup berlari menghampiri keluarganya yang terlihat menenangkan Suho. "Ibu." Jongin memanggil ibunya yang menjadi orang pertama yang menghampirinya.

"Lay dia tidak selamat, bayinya selamat. Dokter mengatakan ini semua karena hemophilia. Pendarahan hebat." Bibir Jongin terbuka namun ia tak mampu mengeluarkan suara, semuanya seolah tercekat di tenggorokan.

"Ibu akan menenangkan kakakmu." Jongin hanya mengangguk pelan tak mampu berkata apa-apa.

Jongin memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Sehun. Sehun menatapnya dengan kedua mata merah sembab. Jongin melangkah pelan mendekati Sehun. "Lay hyung—tidak mengatakan apa-apa," bisik Jongin dengan sisa ketegaran yang ia kumpulkan.

"Lay hyung benar-benar pergi?" Jongin mengangguk lemah menjawab pertanyaan Sehun. Jongin mendengar hembusan napas berat Sehun dia juga melihat bagaimana Sehun menyandarkan tubuhnya pada dinding.

"Apa kau tidak tahu tentang hemophilia ini Sehun?"

"Tidak. Aku tidak tahu Jongin." Jongin menelan ludah kasar, dadanya terasa terhimpit sekarang. "Bayinya, bagaimana dengan putri mereka?"

"Bayinya selamat aku dengar sudah dilakukan tes, bayinya tidak menderita hemophilia."

"Pergilah, Suho hyung membutuhkanmu."

"Kita pergi bersama, ini sesuatu yang berat, kita hadapi bersama Sehun."

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, ia tidak tahu harus melakukan apa sementara kedua orangtuanya berusaha menenangkan Suho yang tengah histeris. "Jongin." Jongin memutar tubuhnya cepat menatap Sehun.

"Apa Lay hyung—pernah menceritakan tentang hemophilia itu padamu?" Jongin mengulang kembali pertanyaannya karena ia benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk memperbaiki keadaan. Sehun menggeleng pelan. "Aku tidak menyangka Lay hyung merahasiakan semuanya."

"Dia pasti menginginkan putrinya."

"Tapi dia pergi meninggalkan Suho hyung. Suho hyung hancur tanpa kehadiran Lay hyung."

Suara keributan membuat Jongin bergegas menghampiri keluarganya kembali. Ia melihat tuan Zhang yang berteriak histeris di depan kakaknya. "Kau pembunuh Suho, kenapa kau menyembunyikan semua ini?!"

"Saya sungguh tidak tahu apa-apa soal penyakit Lay, sungguh dia tidak memberitahu apa-apa kepada saya. Ayah." Suho bahkan berlutut dan memeluk kaki kanan ayah mertuanya.

"Jangan memanggilku Ayah!" tuan Zhang menendang tubuh Suho. Jongin berlari cepat dan berdiri di antara tuan Zhang dan Suho. "Apa kau akan membela seorang pembunuh?! Tentu saja kau akan membela kakakmu!"

"Kakakku bukan pembunuh, dokter yang menangani Lay hyung juga berkata jika Lay hyung menginginkan bayinya melebihi nyawanya sendiri. Sekarang yang bisa kita lakukan adalah membesarkan putri Lay hyung dengan baik." Suara Jongin seolah tertelan tidak ada yang mendengarkan dirinya.

Tuan Zhang pergi sementara Suho masih berlutut di atas lantai rumah sakit yang dingin, Jongin bergegas menghampiri kakak laki-lakinya itu dan berlutut di hadapan Suho. Suho mengangkat wajahnya, kedua mata merahnya bertatapan dengan Jongin.

Jongin menelan ludahnya kasar, ia harus kuat, ia tahu Suho benar-benar hancur sekarang. Suho pernah menjadi sandaran hidupnya dan sekarang Jongin tahu, sekarang dia harus menjadi tempat untuk Suho bersandar.

"Jongin aku ingin mati." Bisik Suho.

"Tidak, Suho hyung tidak boleh mati. Pikirkan putrimu Hyung. Suho hyung tidak sendiri, percayalah aku akan selalu ada untuk Suho hyung dan putri Suho hyung selamanya."

"Terimakasih Jongin." Bisik Suho kemudian memeluk tubuh Jongin dengan erat.

TBC

Terimakasih kepada para pembaca sekalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca fic aneh saya. Terimakasih pada nandaXLSK9094, ohkim9488, youngimongi, Ovieee, BabyCevy67, laxyvords, Oh Titan, Narundana, HK, Bellasafir48ExoL, sejin kimkai, htyoung, cute, milkylove0000170000, ucinaze, NishiMala, Grey378, Kaisyaa, fitrysukma39, Park Byun Soo, Flowerinyou, Yessi94esy, rhenaaakifa, vivikim406, ulfahcuittybeams, Tikha Semuel RyeoLhyun, nabilapermatahati, Wendybiblu, KaiNieris, ParkJitta, Devia494, utsukushii02, jjong86, geash, novisaputri09. Terimakasih atas review kalian, see you soon.