London?
Bagian depan surat hanya tertera tulisan alamat pengirim surat itu.
Tak ada nama pengirim sama sekali.
Tapi tulisan tangan itu sangat Mingyu kenal.
Mingyu benar-benar mengenal tulisan tangan itu.
Seketika itu Mingyu langsung kembali ke kamarnya, melepar tasnya entah kemana.
Fokusnya saat ini adalah pada surat yang dipegangnya.
Apakah alamat pengirimnya itu salah?
London? London!?
Dengan takut, cemas, gugup Mingyu membuka surat itu.
Tangannya gemetar saat mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop coklat itu.
Mingyu mengambil napas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
Mingyu mencoba menenangkan dirinya.
Banyak kemungkinan yang bisa terjadi.
Mungkin saja apa yang dia pikirkan saat ini, tidak terjadi.
Mingyu duduk di ujung tempat tidurnya seraya menggenggam secarik kertas putih yang dilipat.
Mingyu membuka surat itu.
Perasaannya seketika hancur saat membaca nama pengirim surat tersebut.
Dari : Jeon Won Woo
Sejenak Mingyu memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya.
Kemungkinan yang paling tidak dia inginkan dan bahkan paling Mingyu takutkan, ternyata itu yang terjadi.
Gue tahu hal pertama yang harus gue sampaikan adalah permintaan maaf.
Maafin gue untuk semuanya.
Maafin gue yang berkali-kali nolak telpon dan cuekin puluhan pesan dari lo.
Maafin gue yang gak bisa datang Sabtu itu.
Maafin gue yang bikin lo khawatir.
Dan gue bener-bener minta maaf karena pergi tanpa sempet ngomong bahkan pamitan sama lo.
Meski sudah berusaha tenang, mata Mingyu mulai berkaca-kaca.
Lo udah baca alamat pengirim surat ini kan?
Artinya pertanyaan mengenai keberadaan gue udah terjawab kan?
Gue ada di London sekarang.
Perasaan Mingyu saat ini sangat campur aduk.
Bahkan Mingyu tak yakin apa yang dia rasakan saat ini.
Gue tahu gue harus ngasih lo penjelasan tentang ini.
Yaiyalah lo harus kasih penjelasan ke gue! Tiba-tiba lo ngirim surat dari London, lo sialan!
Sebenernya ini bukan keputusan yang mendadak buat gue.
Gue di sini karena dapet beasiswa untuk kuliah di sini di salah satu kampus impian gue.
Sekedar untuk lo tahu, dari awal tujuan kuliah gue bukan di kampus yang dulu.
Impian gue adalah bisa nerusin kuliah di luar negeri.
Dan gue udah sempet apply ke beberapa kampus, tapi kenyataan pait yang gue terima.
Gue juga sekarang lagi ngadepin kenyataan pait!
Gak ada satu pun dari kampus yang gue daftar, nerima gue.
Akhirnya gue putuskan untuk kuliah di kampus lo sekarang.
Betapa gue berjuang belajar 3 tahun untuk bisa masuk ke kampus impian gue.
Saat gue harus hadapi kenyataan kalo gue harus kuliah di kampus yang bahkan gak pernah gue pikirin, lo bisa bayangin perasaan gue saat itu?
Mingyu terus kata demi kata yang Wonwoo tulis.
Mencoba mengerti setipa kalimat dan cerita yang Wonwoo tuliskan.
Meski hati Mingyu saat ini benar-benar ingin marah karena Wonwoo pergi tanpa mengatakan apapun.
Dan beberapa bulan lalu gue iseng apply beasiswa lagi.
Ternyata gue dapet beasiswa itu.
Ya, selamat atas keberhasilan lo. Pikir Mingyu dengan ironi.
Lo mungkin berpikir betapa senengnya gue waktu tahu gue berhasil dapet beasiswa itu?
Ya, mungkin itu benar seperti apa yang lo pikirin kalo aja gue dapet beasiswa itu waktu awal-awal gue masuk kuliah.
Tapi sekarang enggak.
Dahi Mingyu mengeryit, tak mengerti apa maksud Wonwoo.
Waktu dua bulan lalu gue nerima email kalo gue dapet beasiswa itu.
Jujur, yang pertama terlintas dipikiran gue adalah lo, Mingyu.
Jantung Mingyu seketika bedegup kencang membaca kalimat itu.
Gue pingin dapetin beasiswa itu, tapi di sisi lain banyak hal yang memberatkan gue untuk pergi.
Gue udah nyaman di kampus itu.
Gue udah ketemu Seungkwan dan DK, gue udah nemu tempat ternyaman untuk belajar yaitu taman belakang yang akan selalu jadi tempat favorit gue, dan gue udah ketemu lo.
Tanpa terasa air mata yang sedari tadi menggenap di pelupuk mata Mingyu, menetes jatuh ke pipi Mingyu.
Gue bukannya memutuskan semua ini dengan egois.
Gue juga mempertimbangan hal-hal tadi, terutama lo.
Kalo boleh jujur, lo alasan paling memberatkan gue untuk pergi.
Tapi gue takut lo gak rasain hal yang sama dengan apa yang gue rasain, Mingyu.
Gue takut perasaan ini cuma perasaan sesaat dan yang paling gue takutkan adalah kalo ternyata cuma gue yang merasa ada sesuatu yang istimewa di antara kita.
"LO BEGO BANGET WONWOO!" teriak Mingyu yang pastinya tidak bisa Wonwoo dengar.
"LO PIKIR SEMUA YANG GUE LAKUKAN KE LO ITU GAK ISTIMEWA? HAH!?"
Mingyu kesal menyadari bahwa itulah yang dipikirkan Wonwoo selama ini tentangnya.
Dan akhirnya gue memilih ini.
Maafin gue gak datang Sabtu itu karena pesawat gue juga take off di waktu yang sama.
Gue gak pake nomor HP yang selama ini lo simpan.
Jadi mending lo hapus aja.
Satu hal yang gue minta, tolong lupain gue.
"HAH!?" Mingyu tak percaya dengan apa yang dia baca.
"LO SEENAKNYA MINTA GUE LUPAIN LO SETELAH LO TANPA SADAR BIKIN GUE SAYANG SAMA LO!?"
Mingyu mengusap air matanya.
Menghela napas panjang, mengatur napasnya.
Jika saja Wonwoo ada di hadapannya, Mingyu ingin memukul Wonwoo sekeras mungkin supaya dia menyadari perasaan Mingyu dan arti dari semua perluan Mingyu pada Wonwoo.
Mingyu kembali membaca kalimat berikutnya.
Gue gak tahu di sini sampai kapan.
Mungkin sampai gue selesai kuliah, mungkin juga gue bakalan menetap lama di sini untuk kerja.
Lo semangat kuliahnya. Gue tau lo bisa.
Lo jangan khawatirin gue lagi.
Gue sekarang punya orang yang peduli sama gue di sini.
Maksud lo? Lo udah punya pacar di sana!?
Makasih untuk semuanya, Mingyu.
Lo bikin masa kuliah gue di sana jadi momen yang akan selalu gue ingat.
Thanks lot Mr. Annoying.
My best regard,
Jeon Won Woo.
Hanya segini aja? Setelah lo nyuruh gue lupain lo, terus lo langsung ngilang?
Mingyu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Wonwoo dengan seenaknya memutuskan sesuatu tanpa memberikan kesempatan Mingyu untuk menjelaskan semuanya.
Dan satu hal lagi, Wonwoo sudah punya orang yang perduli dengannya?
Di belahan bumi bagian lain, Wonwoo seperti biasa menatap layar laptopnya depan datar.
Mungkin surat gue udah lo baca. Pikir Wonwoo yang sedari tadi hanya menatap kosong laptopnya tanpa melakukan apa-apa.
Suasana perpustakaan dimana dia berada saat ini, sangat berbeda dengan perpustakaan yang selama ini selalu Wonwoo kunjungi.
Wonwoo rindu taman belakang.
Wonwoo rindu teman-temannya.
Wonwoo rindu wajah menyebalkan Mingyu.
"Lo ngapain bengong? Nih materi yang tadi lo minta tadi pagi."
Wonwoo menoleh lalu tersenyum.
"Makasih, Jun," jawab Wonwoo seraya mengambil kertas yang diberikan Jun padanya.
Maafin bagian ini singkat banget :)
Tunggu terus lanjutannya :)
