Racing to Konoha Mountain

Chapter 21 : Anak Shiroi Kiba

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Racing to Konoha Mountain by nawanawachan

Main Character : Naruto. U.

Pairings : (Naruto x Hinata), (Sasuke x Sakura), (Sai x Ino)

Rate : M (bahasa, situasi kehidupan jalanan)

.

WARNING !

FIC INI DIPERUNTUKAN UNTUK READERS YANG BERUSIA 18+. Untuk pembaca yang masih di bawah umur, disarankan untuk tidak melanjutkan membaca.

Setting Dunia Malam dan Dunia Balap Jalanan,

Mengandung Unsur Dewasa dan Kekerasan.

.

.

17 tahun lalu, pusat kota Konoha sedang mengalami pembangunan besar-besaran. Banyak bangunan mall, apartemen, atau hotel yang masih dalam proses konstruksi. Di tengah malam, bangunan yang belum jadi itu menjadi tempat yang sepi dan gelap. Menyeramkan memang, namun itu juga tempat yang sangat cocok untuk sebuah persembunyian.

Seorang anak remaja laki-laki berusia sekitar 15 tahunan berlari tertatih. Nafasnya sudah terengah seolah dirinya sudah berlari ribuan kilometer. Keringat mengucur deras hingga membasahi kaus serta rambut peraknya yang biasa melawan gravitasi itu kini jatuh lepek karena keringat.

'Brukk!'

Kakinya yang sudah lelah membuatnya terjerembab jatuh. Dada dan lututnya menghantam keras tanah yang mana berserakan batu kerikil yang digunakan untuk bangunan. Saat dirinya berusaha berdiri, mulutnya tampak meringis sakit. Namun bukan rasa sakit dari kaki atau dadanya melainkan dari bagian punggung.

Satu tangannya mencoba meraba punggungnya yang terasa nyeri dan perih. Saat ia lihat telapak tangannya yang ia gunakan untuk meraba bagian yang sakit itu, betapa terkejutnya ia, tangannya merah oleh darah yang ternyata mengucur deras di sana. Tampaknya sabetan pedang dari orang yang mencoba menangkapnya tadi benar-benar mengenainya.

Suara derap kaki banyak orang yang berlari kian mendekat membuat anak tersebut dengan cepat mencari tempat bersembunyi di dalam gedung itu. Ada sebuah tumpukan karung semen yang tersusun di pojok ruangan. Anak itu bersembunyi di baliknya.

Lima orang berbadan besar sampai di depan gedung tersebut. Mereka menghentikan langkah tepat di sana.

"Ke mana anak itu pergi?" tanya salah satu dari mereka.

Anak itu mengintip dari balik celah tumpukan karung semen tersebut. Jantungnya berdetak keras. Nafasnya tertahan, berharap dirinya tidak bisa ditemukan.

"Kita harus temukan anak itu," ujar orang yang lain dengan suara yang dalam dan penuh bahaya.

"Tapi, ke mana lagi kita harus mencarinya?" tanya yang lain.

"Ke mana pun, kita harus menangkapnya, hidup atau mati. Bos menginginkannya," kata orang yang tadi.

Anak berambut perak itu membulatkan matanya terkejut. Dirinya benar-benar dalam bahaya. Sekali lagi dia mengintip dari celah dan tampaknya orang-orang tersebut sudah menyebar ke segala arah menjauhi gedung itu. Dia sedikit bisa menghembuskan nafas lega karena merasa tempat persembunyiannya tidak diketahui.

Hening, tidak ada lagi suara orang-orang yang mengejarnya. Anak itu menelungkupkan kepalanya dalam lipatan tangan yang ia sanggahkan pada kedua lututnya yang terangkat. Dirinya ketakutan. Dia tidak tahu lagi harus lari ke mana. Dia tidak memiliki tempat tujuan. Semua orang yang dikenalnya sudah tidak ada lagi di dunia. Ayah, Ibu, bahkan seseorang yang selalu disebutnya sensei, mereka sudah tidak ada.

Dirinya sangat kalut dan air matanya mengalir. Pikirannya sibuk hingga tidak menyadari suara langkah mendekatinya. Sebuah tangan besar terulur hampir meraihnya. Tinggal sedikit lagi orang tersebut dapat menangkap anak itu. Untunglah, mata hitam anak itu langsung terbuka. Saat dia mengangkat wajahnya, dirinya terkejut. Dengan gerakan cepat dia menghindar, berhasil merubuhkan tumpukan karung semen yang tadi dijadikannya sandaran.

Dengan tergopoh-gopoh, anak itu berusaha bangkit untuk lari menjauh dari orang yang berusaha menangkapnya. Anak itu terus berlari mengarah keluar gedung. Dirinya menoleh ke belakang. Orang yang hendak menangkapnya tadi tidak ikut berlari untuk mengejarnya, melainkan hanya berjalan santai seolah yakin bahwa anak tersebut tidak akan bisa lari ke mana pun. Dan saat ia kembali tolehkan kepalanya ke depan ….

'Bukk!'

'Brukk!'

dia menabrak seseorang di depannya dan sukses membuatnya terjerembab jatuh. Mata hitam anak itu menoleh ke segala arah dan melihat orang-orang itu mengepungnya dari berbagai penjuru. Anak berusia 15 tahun yang tubuhnya termasuk kecil dari kebanyakan anak seusianya itu merangkak mundur, namun orang yang tadi hampir menangkapnya juga sudah berdiri di sana menghadangnya. Tidak ada lagi jalan untuknya lari.

"Kau tidak bisa pergi ke mana pun lagi bocah," ucap seseorang bersuara dalam yang berdiri di hadapannya.

Anak itu ketakutan. Dirinya tidak tahu bagaimana persembunyiannya bisa diketahui.

"Aku fikir kau sangat hebat karena bisa dengan mudah merebut pedang Koji dan menikamkannya langsung ke jantung. Tapi selebih dari itu kau tetaplah bocah," ujarnya.

Anak itu memang berhasil membunuh salah satu anggota orang-orang tersebut saat tadi hampir saja menangkapnya. Dia melakukan pembelaan diri karena hidupnya sangat terancam.

"Kau tahu, bagaimana cara kami menemukanmu?" tanya orang tersebut.

Anak itu terperangah. Itulah hal yang membuatnya penasaran. Bagaimana mungkin orang-orang itu bisa mengejarnya sampai sini?

Orang itu menunjuk tempat yang tidak jauh dari sana, tepatnya ke tanah. Mengikuti arah yang ditunjuk, bola mata hitam anak itu membulat saat menemukan bercak darah yang berasal dari punggungnya yang terkena sabetan pedang.

"Kau meninggalkan jejak," kata orang itu dingin.

Tubuh anak itu semakin bergetar. Dirinya tidak menemukan celah untuk lari.

'Trek!'

Sebuah pistol ditodongkan padanya.

"Kau tahu, sejujurnya aku tidak peduli anak bodoh sepertimu. Tapi bos kami menginginkanmu mati,"

Anak itu semakin membeku di tempat. Dirinya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa saat banyak pistol ditodongkan padanya.

"Matilah!"

'DOR!'

..

"TIDAAAAAAAAAK …!"

Tubuh atletisnya yang tadi hanya tertutupi selimut kini terlihat basah oleh keringat dingin. Nafasnya memburu dilengkapi dengan ekspresi di wajah yang sehari-harinya selalu tertutupi masker bila di luar rumah itu, kini tampak terlihat horor. Dia terbangun karena sebuah mimpi buruk, bukan, itu bukan mimpi, melainkan sebuah memori dari kenangan yang mengerikan 17 tahun lalu.

"Kakashi-kun?"

Panggilan lembut seorang wanita menyentak pria yang tidak lain adalah Kakashi itu. Kakashi menoleh masih dengan menunjukkan wajah penuh kengerian membuat wanita yang sejak tadi tidur disampingnya itu bernajak bangun karena khawatir.

"Ada apa?" tanyanya penuh kekhawatiran.

"Hanare," ucap Kakashi menyebut nama wanita itu dengan suaranya yang bergetar. "Mereka mengejarku. Mereka ingin membunuhku. Mereka ingin aku mati," racaunya tidak jelas seolah dia masih terjebak dalam memori itu.

"Kakashi-kun, tenanglah …,"

Wanita itu menggeser duduknya di ranjang untuk dapat menenangkan Kakashi tanpa menghiraukan selimut yang menutupi tubuhnya merosot hingga menampilkan tubuh polosnya.

"Tidak!" Kakashi menggelengkan kepalanya. "Tidak Hanare, kau tidak mengerti, mereka ingin aku mati. Mereka menginginkan kematianku. Mereka ingin membunuhku," racaunya lagi penuh ketakutan.

Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya pun mulai mengalir. Tidak ada lagi Kakashi yang gagah seperti saat berdiri di depan murid-muridnya, yang ada hanya Kakashi yang rapuh, seperti anak kecil yang butuh perlindungan.

"Tenanglah Kakashi-kun, tenanglah … ada aku di sini. Kau baik-baik saja, ok," ujar Hanare mencoba menenangkan.

Wanita itu mengelus-elus punggung telanjang Kakashi, punggung yang mana masih tampak jelas terdapat sebuah luka sayatan pedang di sana.

"Aku takut … Aku sangat takut, Hanare," ucapnya dengan air mata yang masih terus mengalir.

Hanare membawa kepala dengan rambut perak itu ke dalam dekapannya. Membiarkan kepala itu bersandar di dada telanjangnya. Hanare memeluknya erat dan Kakashi menangis tersedu dalam pelukan itu. Seolah menumpahkan semua air mata yang tidak dapat dia keluarkan 17 tahun lalu.

Wanita cantik itu membelai Kakashi lembut. Dia usap rambut perak kakashi dan sesekali dikecupnya puncak kepala pria itu, berusaha terus memberikan kenyamanan pada pria dalam dekapannya. Lambat laun Kakashi mulai tenang dan ia pun kembali tertidur dalam pelukan Hanare.

Bagi Hanare hal seperti itu sudah biasa. Setiap malam Kakashi pasti selalu mendapat mimpi buruk. Dan tugasnyalah untuk dapat membuat Kakashi tenang. Tidak, bukan tugas, melainkan sebuah keinginan. Baginya Kakashi adalah laki-laki yang begitu diinginkannya. Dan dirinya berharap dapat melihat wajah yang selalu disukainya itu tertidur dengan senyum. Berharap suatu hari dapat melihat Kakashi tertidur dengan tenang tanpa terus-terusan dilanda mimpi buruk. Namun, mungkin saat itu benar-benar terjadi, maka dirinya tidak akan memiliki kesempatan untuk melihatnya. Karena saat semua itu terjadi artinya semuanya telah berakhir dan Kakashi pasti akan langsung membuangnya. Karena dirinya tahu, bagi pria itu, dia hanyalah wanita murahan, hanya wanita bodoh yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai tujuannya.

.

.

Hentakan musik menggema ke seluruh sudut sebuah klub malam di daerah Mizu. Manusia-manusia yang kini berada dalam klub tersebut semua menggila di lantai dansa menikmati malam yang menggairahkan bagi mereka. Klub Mizu sendiri bukanlah termasuk klub besar di Konoha mengingat banyak sekali tempat hiburan malam yang lebih besar dan elit di sana. Namun tidak membuat tempat tersebut sepi pengunjung. Nyatanya ada begitu banyak orang yang datang dan menikmati kemeriahan dalam klub tersebut. Ditambah lagi tempat itu dijadikan markas bagi para anggota Yakuza yang loyal pada seseorang bernama Mizuki. Para Yakuza itu bukanlah yang berpangkat tinggi, tapi mereka adalah orang-orang yang memiliki motivasi sama seperti Mizuki yaitu, menggulingkan kedudukan Sai sebagai salah satu eksekutif.

Lalu, para Yakuza inilah yang berpesta di lantai dua klub dan menyewa beberapa penari striptis untuk menghibur mereka. Dari kaca transparan yang menghiasi lantai dua klub, tampak tiga orang wanita yang menari tanpa busana. Salah satunya adalah wanita itu, wanita cantik berambut hitam panjang dengan sebuah tahi lalat yang menghiasi tepat di bawah mata kanannya. Wanita itu adalah madonanya klub malam Mizu. Dia adalah penari favorit para Yakuza termasuk Mizuki. Dan seperti halnya semua penari striptis di klub malam itu, selain menari, wanita itu pun melakukan pekerjaan tambahan lainnya bila diminta.

Dengan gerakan yang erotis dan merangsang, wanita cantik tersebut bergelayut di sebuah tiang yang menjulang tepat di depan pelanggannya. Sudah hampir sejam ia menari, sangat melelahkan memang, namun bagaimana lagi, dirinya dibayar mahal. Maka ia harus memberikan kepuasan bagi pelanggannya. Bahkan setelah ini pun dirinya yakin bahwa ia tidak akan bisa langsung istirahat karena harus memberikan kepuasan lain di ranjang.

Wanita itu menjauhi tiang, bergerak berputar beberapa kali sampai berhenti tepat di depan kaca transparan. Dirinya membelakangi tempat pelanggannya duduk dan malah menempelkan tubuh telanjangnya pada kaca tersebut hingga tercetak jelas dada dan perut ratanya di kaca itu. Sang pelanggan yang berfikir bahwa hal itu sengaja dilakukan sebagai salah satu godaan yang ditunjukkan si penari, menyeringai senang melihat jelas punggung mulus si wanita.

Sementara itu sang wanita melakukan hal tersebut karena memiliki maksud lain. Nafasnya yang terengah-engah menimbulkan uap di kaca yang bening itu. Dia usap uap nafasnya tersebut sebelum kemudian ikut menempelkan dahinya pada kaca. Mata cokelatnya menatap ke lantai bawah klub tepatnya lurus pada seorang pria berambut perak yang tengah duduk di meja bar. Pandangannya begitu mendamba pada sang pria yang jauh di sana tengah digoda beberapa kali oleh para wanita seksi.

Tatapannya menyayu. Hal inilah yang membuatnya bisa terus menari dan bahkan melakukan hal gila dengan para pelanggannya. Pria itu adalah objeknya, pria itu adalah imajinasinya. Walau hanya sebentar melihatnya di kejauhan, dirinya sudah mampu membayangkan semua dalam kepalanya. Dirinya berfantasi bahwa mata pelanggannya yang menyaksikan tubuh telanjangnya menari adalah mata hitam pria itu yang selalu mampu membuatnya luluh. Dirinya membayangkan tangan nakal pelanggannya yang seenak hati menyentuh tubuhnya adalah tangan hangat pria itu yang mampu memberikan sentuhan memabukan. Mungkin dirinya sudah gila, tapi hanya dengan begitu dia bisa melakukan pekerjaannya, hanya dengan membayangkan wajah pria itu.

Entah seolah fikiran keduanya terhubung, sang pria berambut perak yang setengah wajahnya tertutupi masker itu tiba-tiba menoleh ke atas, menatap lurus kaca transparan yang menampakkan pemandangan lantai dua. Pria itu melihat kepadanya dan wanita itu tersenyum seolah mengirimkan pesan penuh damba padanya. Namun sayang, pesan itu tidak sampai. Pria itu tidak membalas senyuman tersebut dan malah menatap tajam sang wanita seraya mengedikkan kepalanya seolah memerintahkan sang wanita untuk kembali pada tugasnya. Wanita penari itu pun mengerti, kepalanya mengangguk kecil sebelum kemudian berbalik untuk melanjutkan meladeni si pelanggan.

Pria yang tadi ditatap wanita penari itu yang tidak lain adalah Kakashi masih setia memicing tajam ke lantai dua. Beberapa wanita seksi yang melewatinya terkikik, bukan karena merasa lucu pada seorang pria yang memakai masker, melainkan karena ingin menggoda pria tampan berambut perak yang selalu acuh itu. Dan benar saja, Kakashi tidak memperdulikannya. Dia masih terus menatap lurus pada kaca transparan yang tadi menampilkan jelas sosok wanita seksi di sana.

Dirinya tidak mengerti Hanare, wanita itu, entah mengapa setiap kali ia datang ke klub Mizu dan menyaksikan wanita itu menari – dari kejauhan tentunya – Hanare akan melihat ke arahnya. Sungguh itu bukanlah suatu hal yang bagus karena bisa saja seseorang memergoki hal itu dan kemudian terbongkarlah fakta bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan wanita tersebut. Sebenarnya dia tahu bahwa Hanare menyimpan perasaan padanya, tapi dia tidak ingin menanggapi serius perasaan itu. Karena baginya Hanare hanya alat, alat untuk memuaskan nafsunya dan alat untuk mendapatkan informasi dari para Yakuza.

Kakashi masih terus fokus menatap ke tempat wanita itu menari. Mengabaikan semua godaan menggiurkan dari banyak wanita yang lewat di depannya. Juga mengabaikan tatapan bingung bartender yang sebenarnya sudah cukup sering dan maklum karena tahu bahwa pria Hatake itu akan lama duduk membelakangi bar tanpa memesan minuman apapun. Dirinya terus mengabaikan semua itu hingga suara menginterupsinya.

"Menikmati malammu, sensei?"

Kakashi tersentak mendengar seseorang di sampingnya memanggilnya sensei. Dia pun menoleh dan mendapati seorang muridnya duduk di kursi di sebelah kirinya menghadap ke bar.

"Shikamaru?"

Shikamaru tersenyum miring, mengangguk dan mengayunkan botol bir yang digenggamnya seolah mengucapkan salam pada sang sensei.

Kakashi mengerjapkan matanya sekali, tidak menyangka akan mendapati muridnya di sana.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya pada si bocah Nara.

"Seharusnya kami juga menanyakan hal yang sama padamu, sensei,"

Bukan Shikamaru yang menjawab melainkan orang lain yang kini duduk di sebelah kanannya. Kakashi menoleh.

"Sasuke?"

Sasuke menatap datar, tapi bibir tipisnya tersenyum penuh arti.

Kakashi menoleh ke kanan dan ke kiri pada dua orang muridnya yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat sangat menghakimi. Sebelum kemudian pria Hatake itu menghela nafas panjang.

"Kenapa murid-muridku ada di tempat seperti ini? Kalian ini siswa kelasku. Apa yang harus aku laporkan kepada kepala sekolah bila dia tahu murid KMS berkeliaran di klub malam?" keluhnya tidak habis fikir.

"Tenang saja sensei, kami tidak melakukan hal yang macam-macam di sini," jawab Shikamaru sambil akan menenggak birnya.

Kakashi merebut botol bir yang sudah seinci lagi sampai di mulut Shikamaru.

"Dan ini bukan termasuk hal yang macam-macam itu?" ujarnya sambil menunjuk botol bir tersebut.

"Ayolah sensei, ini hanya sebotol. Aku tidak akan mabuk," sanggah si pemuda berambut nanas itu seraya hendak merebut kembali botol birnya dari tangan Kakashi.

"Tidak," tolak Kakashi sambil menjauhkan botol tersebut dari jangkauan Shikamaru. "Kau masih di bawah umur. Kau tidak boleh minum-minuman seperti ini,"

"Ck, Mendokusei …," keluh Shikamaru sambil membuang wajahnya ke samping.

"Jadi, bisa jelaskan sekarang apa yang dilakukan siswa seperti kalian di klub malam?" tanya Kakashi dengan nada penuh wibawa seperti saat mengajar di sekolah.

"Sudahlah sensei, seperti kata Shikamaru, kami tidak melakukan hal yang macam-macam," jawab Sasuke santai.

"Jadi?" tanya Kakashi lagi penuh selidik.

"Kami hanya sedang dalam misi," jawab Sasuke lagi.

Kakashi mengernyitkan keningnya tidak paham.

"Misi? Misi apa?"

"Misi memata-matai," jawab Shikamaru seenaknya.

"Mata-mata? Hei, apa ini, kalian sedang bermain detektif-detektifan?" Kakashi terkekeh geli.

Shikamaru dan Sasuke hanya mengedikkan bahu acuh.

Kakashi kembali melirik keduanya ingin tahu.

"Lalu di mana orang yang kalian mata-matai itu? Harusnya kalau memang dalam misi kalian tidak boleh lengah," kata Kakashi, berfikir bahwa kedua siswanya itu memang sedang main-main.

Sasuke terkekeh membuat sang sensei mengangkat sebelah alisnya.

"Tenang saja sensei, kami bahkan sudah menangkap langsung target kami," ujar Shikamaru sedikit teler.

Kakashi menoleh pada muridnya itu, yang sudah dilarangnya untuk minum namun tidak mendengarkan dan sekarang tengah menenggak isi botol kedua.

"Jadi siapa target kalian itu?" tanya Kakashi lagi merasa ada sesuatu yang janggal.

Shikamaru menoleh, menatap sang sensei dengan matanya yang sudah sayu. Sudut bibirnya terangkat, tersenyum miring sebelum kemudian berkata,

"Kau, sensei," ungkapnya.

Kakashi melebarkan matanya, terkejut dengan yang dikatakan Shikamaru. Seolah tidak percaya dengan si pemuda Nara, dia menoleh pada Sasuke. Dan tidak jauh berbeda, Sasuke juga menatapnya tajam dengan bibirnya yang tersenyum menang.

"Hoi, hoi, hoi, apa-apaan ini. Kenapa kalian memata-mataiku? Aku tidak merasa melakukan hal yang mencurigakan," ujar Kakashi.

"Hal yang selalu kau lakukan di sini, apa itu tidak termasuk dalam hal yang mencurigakan, sensei?"

Suara orang lainnya yang juga memanggilnya sensei membuat Kakashi menoleh ke asal suara. Dirinya kembali terkejut ketika mendapati tiga orang muridnya yang lain sudah berdiri di sana.

"Naruto, Kiba, dan Neji juga?" pekiknya tidak percaya. "Hei, apa-apaan sih, kenapa semua siswaku berkeliaran jam segini di klub malam?"

"Aku sendiri tidak menyangka sensei, jadi benar saat mobilmu melaju menuju jalan Mizu, klub inilah yang jadi tujuanmu itu," ujar Kiba.

Kakashi menutup wajahnya dengan telapak tangan kanannya, merasa frustasi dan merasa gagal menjadi seorang guru setelah mendapati para anak didiknya berdiri menghadapnya kini. Dengan gaya santai mereka saat memasuki klub malam, sudah menunjukkan bahwa mereka sering mengunjungi tempat seperti itu. Kakashi menghela nafas dalam sebelum kemudian di sela oleh Naruto yang berbicara padanya dengan ekspresi yang teramat serius.

"Bisakah kita keluar dari tempat ini, sensei? Ada banyak hal yang ingin kami bicarakan denganmu," kata Naruto.

Kakashi melirik muridnya itu dari sudut matanya. Alisnya terangkat, jelas bahwa dia tengah penasaran dengan hal yang diucapkan Naruto.

.

.

Mereka kembali ke jalan Raiton, mencoba mengambil jarak dari klub malam Mizu yang letaknya tepat di jalan Mizu setelah perempatan Raiton. Kelima mobil mewah mereka (minus Naruto) terparkir berjajar di sisian jalan raya. Kakashi bersandar pada mobil Ford GT nya dan kelima muridnya kini berdiri menghadapnya membuat sang sensei merasa dirinya seperti tersangka yang tengah dihakimi.

Dengan santai Kakashi menatap muridnya itu satu-persatu, menunggu salah satu dari mereka mengambil inisiatif untuk memulai pembicaraan. Udara dingin yang berhembus karena waktu sudah akan memasuki musim dingin, membuat sang sensei mengeratkan syal dan mantel hijau lumutnya. Dia lipat tangannya di depan dada, selain untuk membuat tubuhnya agar lebih hangat, juga sebagai deklarasi untuk murid-muridnya bahwa sang sensei masih tetap santai dan tidak termakan intimidasi mereka.

"Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan denganku?" tanya Kakashi membuka konversasi.

Kelima muridnya itu tidak menjawab dan memilih setia untuk menatap tajam sang sensei lebih lama lagi.

Naruto maju satu langkah. Kedua tangannya ia sembunyikan dibalik saku jaket hitam yang ia kenakan hari itu mencoba membuat telapak tangannya tetap hangat. Mata birunya masih menatap lurus sang sensei.

"Siapa kau sebenarnya?" ucapnya to the point, namun hal itu tidak mampu ditangkap Kakashi.

Pria Hatake itu memiringkan kepalanya berusaha mengerti maksud dari pertanyaan itu.

"Aku?" tunjuknya pada diri sendiri.

Tidak ada yang menanggapi, kelima muridnya terus menatapnya menuntut jawaban.

Kakashi menghela nafas sebelum kemudian menjawab dengan pasti.

"Aku adalah Hatake Kakashi, guru di KMS, wali kelas A level Advanced, instrukur mengemudi tingkat level tiga teratas, dan aku masih bujangan,"

Semua mendengus mendengar jawaban seperti itu.

"Ah, satu lagi," tambah Kakashi. "Aku pernah menjadi pelatih drifting Naruto di bukit Tsuki,"

Hening, murid-muridnya terdiam seperti patung seolah tidak puas dengan jawabannya.

"Aku sudah menjawabnya, kenapa kalian terlihat tidak puas? Apa perlu aku tambahkan bahwa aku adalah guru tertampan di KMS yang sangat digilai para siswinya dan banyak dari mereka yang memberiku surat cinta dan – ,"

"Cukup sensei," Naruto menyela dengan dingin. Kakashi langsung terdiam.

"Kami tidak tertarik dengan leluconmu," kata Naruto lagi.

Manik hitam Kakashi menatap penuh selidik pada si pemuda Uzumaki.

"Kau hanya mengatakan tentang siapa dirimu sekarang dan bukan tentang jati dirimu yang sebenarnya," ucap Sasuke tidak kalah dingin.

"Ayolah … aku sudah menjawabnya dengan benar dan kenapa kalian tidak bisa menerimanya?" keluh Kakashi lelah menghadapi para siswanya yang tiba-tiba sok serius itu.

"Karena seperti kata Sasuke, itu bukan jawaban yang sebenarnya," sahut Kiba.

"Haaah, apa lagi sih. Jawaban sebenarnya apa? Aku tidak merasa memiliki rahasia apapun," jawab Kakashi kesal.

"Kau mungkin memang tidak merasa memiliki rahasia, tapi kami tahu bahwa kau menyimpan rahasia," Shikamaru berkata sambil melangkah maju dan kemudian ikut bersandar menyamping pada mobil Kakashi.

"Salah satunya adalah tentang alasanmu yang secara rutin mengunjungi klub Mizu. Apa kau sedang mencari informasi tertentu di sana?" lanjut Shikamaru sambil melayangkan tatapan intelnya pada Kakashi.

Kakashi melirikan matanya pada pemuda Nara yang kini berdiri tepat di sampingnya sambil terus menatap menyelidik padanya. Pria 30 tahunan itu terkekeh.

"Khe … aku masih tidak paham dengan yang kalian maksud. Kalau kau ingin tahu kenapa aku sering ke klub Mizu, jelas karena aku butuh hiburan. Kalian tahu, hiburan orang dewasa. Dan usiaku sudah matang, hal wajar kalau aku keluar-masuk klub. Tidak seperti kalian yang masih kecil dan tidak pantas berkeliaran di tempat seper – ,"

"Kalau begitu jawab pertanyaanku," kata Neji tiba-tiba memotong ucapan nasihat dari sang sensei. "Apa kau kenal seseorang bernama Shiroi Kiba?"

Kakashi diam sejenak, meski begitu air wajahnya tetap tenang tidak terlihat ada guncangan di sana.

"Huh, apa itu? Sebuah nama? Kedengarannya aneh. Lebih terdengar seperti sebuah julukan," jawab Kakashi.

"Ya, aku juga yakin itu hanyalah sebuah julukan. Jadi, apa kau kenal?" tanya Neji lagi.

"Tentu saja tidak," jawab Kakashi santai.

Kelima orang muridnya membuang nafas kesal. Mereka sudah tahu Kakashi pasti tidak akan berkata jujur. Tidak akan mudah membuat seorang Hatake Kakashi bicara kecuali ada sebuah serangan telak yang bisa membuat sang senseinya itu bungkam.

Naruto kembali menatap Kakashi.

"Kalau begitu apa kau mengenal seseorang bernama Namikaze Minato?" tanya Naruto.

"Namikaze Minato?" ucapnya. "Tunggu, tunggu, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Namikaze Minato … Namikaze Minato …,"

Kakashi membuat ekspresi seolah dirinya tengah berusaha keras untuk mengingat. Kelima pemuda di sana menahan nafas berharap Kakashi akan mengungkapkan kebenarannya.

"Ah, aku ingat Namikaze Minato," ujarnya tiba-tiba. Semua penasaran dengan kalimat yang selanjutnya akan diucapkan Kakashi.

"Namikaze Minato, aku tahu nama itu dari arsip berkas sekolahmu, Naruto. Di sana tercatat dia ayahmu kan?" ucapnya.

Naruto dan yang lain berdecak kesal sambil membuang wajah mereka ke samping. Lelah karena harus menghadapi semua keterpura-puraan itu.

"Sensei, berhentilah berpura-pura bahwa kau tidak tahu apapun," ujar Naruto mencoba tetap merendahkan nada bicaranya karena merasa dirinya harus tetap sopan kepada sang guru. "Aku yakin, Namikaze Minato bagimu pastilah bukan hanya sekedar nama yang kau temukan di arsip sekolahku, tapi dia lebih dari itu,"

Kakashi terdiam, termangu, pancaran sorot mata biru Naruto membuatnya ingin mengucapkan semua kejujuran. Manik biru yang sama dengan milik senseinya yang selalu membuatnya hanyut. Mata itu seolah menelusup masuk lebih dalam dan berusaha merobek semua dinding kebohongan yang sengaja ia bangun untuk menutupi jati dirinya. Tapi tidak, dia tidak akan kalah. Tidak akan dia biarkan Naruto dan murid-muridnya yang lain terlibat seperti dirinya. Biarlah, bila ada seseorang yang harus mendendam, maka hanya dialah orangnya.

"Aku tetap tidak mengerti maksud perkataanmu," bohongnya lagi.

Naruto tetap setia menatap tajam sang sensei.

"Asal kau tahu saja sensei, Shiroi Kiba dan Namikaze Minato saling mengenal. Jadi aku yakin kau tahu sesuatu," kata Naruto kekeuh tidak mau menyerah.

"Haaah .. sudah aku katakan aku tidak mengenal Shiroi Kiba. Dan Namikaze Minato itu ayahmu. Jadi jika seperti yang kau katakan bahwa keduanya saling mengenal, bukankah harusnya kau, sebagai anaknya, yang akan lebih mengenal Shiroi Kiba," jelas Kakashi.

"Tepat sekali, sensei," Shikamaru kembali membuka suara membuat Kakashi menoleh padanya. "Itulah mengapa Naruto berkata bahwa kau pastilah mengenal ayahnya,"

"Ck, apa lagi ini," Kakashi merasa hilang kesabarannya.

"Seperti katamu, sensei, bila anak dari salah satu orang yang disebutkan tadi, mungkin saja dia mengenal salah satu yang lainnya," kata Shikamaru.

"Jadi? Maksudmu aku ini anak Shiroi Kiba? Heh, jangan bercanda. Aku bahkan tidak mengenalnya. Sudah jelas aku tidak memiliki hubungan apapun dengan orang itu," sanggah Kakashi.

"Tidak mungkin kau tidak memiliki hubungan apapun dengannya, karena Shiroi Kiba …..," Naruto menggantungkan ucapannya.

"Neji!" dirinya memberi isyarat pada Neji yang dibalas anggukan pemuda Hyuga itu.

Neji melangkah maju hingga kini dia berdiri tepat di depan Kakashi. Dengan cepat dia ambil selembar foto dari saku jaketnya dan kemudian dia pampangkan tepat di depan wajah sang sensei.

"Shiroi Kiba, orang yang berdiri di tengah. Memiliki warna rambut yang sama dan wajah yang mirip dengamu. Dari sini saja sudah terlihat bahwa kalian memiliki hubungan darah. Jadi sekarang bagaimana, apakah kau sudah bisa mengatakan tentang siapa dirimu?" ujar Neji.

Kakashi kembali ke sikap santainya semula. Dia terkekeh pelan sambil melirik foto yang ditampilkan Neji dengan tatapan geli.

"Khehe ,,, aku benar-benar tidak paham dengan kalian anak-anak. Apa sebegininya bermain detektif-detektifan itu? Sebenarnya apa yang kalian cari?"

"Ayahku," jawab Naruto langsung.

"Apa?"

Kakashi menatap Naruto bingung.

"Kami mencari ayahku," kata Naruto lagi.

Kakashi semakin mengernyitkan dahinya dalam.

"Naruto," ucapnya pelan. "Bukankah dalam arsip sudah dikatakan bahwa ayahmu sudah lama meninggal dunia,"

"Ayahku masih hidup," jawab Naruto datar.

Sang sensei mengerjapkan matanya sebelum kemudian dia seperti menyadari sesuatu yang mengerikan.

"Oh tidak! Ini buruk," racaunya tidak jelas dan sukses berbalik membuat kening murid-muridnya mengernyit.

Seraya menegakkan berdirinya, Kakashi melayangkan tatapan memelas dan prihatin pada Naruto.

"Apa kau begitu frustasinya Naruto?" ucapnya yang semakin membuat kelima muridnya bingung.

"Apa maksudnya sensei?" tanya Naruto heran.

"Ya, kau frustasi karena dirimu yang kini tengah sebatang kara sehingga kau berkhayal bahwa ayahmu masih hidup. Ya Tuhan, kasihan sekali kau, nak," kata Kakashi sok memelas.

Keempat lainnya saling berpandangan heran dengan apa yang dikatakan Kakashi, tapi tidak dengan Naruto. Pemuda Uzumaki itu tetap memasang ekspresi datar mencoba mengabaikan racauan sang sensei.

"Tidak, ayahku memang masih hidup,"

"Naruto – ,"

"Namikaze Minato, Masih Hidup," ucap Naruto tegas penuh penekanan.

Kakashi terdiam. Langkahnya saat dirinya akan mencoba menenangkan Naruto yang dikiranya frustasi itu pun berhenti. Naruto melanjutkan ucapannya.

"Inilah alasan aku datang ke Konoha. Inilah mengapa aku ikut serta dalam balap jalanan di Konoha. Inilah tujuanku untuk bisa sampai pada puncak Konoha. Karena aku mendapat bukti, fakta bahwa ayahku, Namikaze Minato, kemungkinan masih hidup," ujarnya.

Seperti ditampar keras, Kakashi terbelalak. Dinding yang menutupi kebenaran tentang dirinya seolah hancur. Wajah stoic yang sengaja dipasangnya untuk menjaga rapat rahasianya seolah musnah. Telak sudah, Kakashi telah menunjukkan semuanya melalui ekspresi terkejut di wajahnya.

"Sensei …," bisiknya lemah namun dapat didengar oleh Naruto dan yang lain.

Sasuke dan Shikamaru saling melempar senyum merasa berhasil memukul telak sang sensei. Begitupun dengan Kiba dan Neji. Sedangkan Naruto masih setia menatap lurus Kakashi, menantikan reaksi selanjutnya dari senseinya itu.

Kakashi mengangkat wajahnya yang tadi sempat tertunduk. Langsung ditatapnya Naruto dengan tatapan seolah dirinya tidak bisa percaya pada pemuda itu.

"Bukti apa yang membuatmu percaya bahwa ayahmu masih hidup?" tanyanya.

"Surat yang ditulis tangan ayahku yang kemudian dikirimkannya sejak dua tahun lalu pada seseorang yang bernama Jiraiya,"

"Jiraiya-san?!" ucap Kakashi terkejut.

Naruto mengangkat sebelah alisnya.

"Jadi kau mengenal orang itu?" tanya Naruto.

Kakashi tersentak, dirinya baru sadar bahwa ia kelepasan mengakui bahwa ia memang mengetahui sesuatu.

Terdengar tawa kemenangan Shikamaru, Kakashi menoleh ke belakang, melihat pada si pemuda Nara yang dengan santai masih bersandar nyaman pada mobilnya.

"Sepertinya memang banyak yang perlu kita bicarakan na, sensei," ucap Shikamaru sambil menyeringai senang.

.

.

Akhirnya Kakashi mengalah dan nyatanya memang dia sudah kalah. Dengan perasaan penasaran akan cerita Naruto atas bukti Namikaze Minato masih hidup dan juga dengan perasaan was-was karena khawatir ini bukan hal bijak dengan menyeret murid-muridnya pada masalah, Kakashi membawa kelima muridnya itu ke apartemennya. Baginya tidak ada tempat yang lebih aman untuk bicara tentang hal tersebut dari tempat di mana dia biasa berlindung selama ini.

Mereka pun sampai di sebuah gedung apartemen mewah di distrik C. Gedung 50 lantai yang menjulang seolah akan menerobos langit. Kakashi tinggal di lantai 37 di mana lantai tersebut sudah masuk dalam jajaran suit room. Meski tidak sebanding dengan yang berada di lantai 45 sampai 50, namun itu benar-benar apartemen yang mewah dan mahal yang mungkin harganya bisa bermiliyar-miliyar Yen. Yah, bagi Sasuke dan Neji sih itu biasa karena mereka berasal dari keluarga berada, tapi bagi Naruto dan yang lain itu istimewa.

Saat mereka memasuki apartemen tersebut dan dibawa ke ruang tamu, mata mereka langsung dimanjakan dengan pemandangan malam kota Konoha yang terpampang jelas dari jendela kaca besar yang menghiasi sebagian sisi ruangan. Apartemen itu begitu luas. Bahkan ruang tamunya saja bisa dibilang terlalu over untuk sebuah ruang tamu. Kakashi mempersilahkan murid-muridnya itu masuk.

"Aku tidak menyangka kalau menjadi guru di KMS bisa sekaya ini," celetuk Shikamaru.

Kakashi terkekeh meski terdengar agak masam.

"Duduklah dulu. Akan aku ambilkan minuman untuk kalian," katanya sambil melepas mantel dan syalnya kemudian menaruhnya asal.

Sementara Kakashi menuju dapur yang ada di balik ruang tamu, Naruto dan yang lain mengambil tempat duduk di sofa. Shikamaru dan Kiba yang masih antusias dengan apartemen mewah itu berjalan berkeliling, melihat-lihat isi dan benda-benda yang menghiasi tempat tersebut.

Semua bingkai foto yang berjejer di lemari kaca hanya dipenuhi oleh potret sendiri seorang wanita yang Shikamaru tahu itu adalah Hanare. Sisanya adalah foto-foto kebersamaan Kakashi dengan wanita itu. Shikamaru sedikit menunjukkan ekspresi geli saat dia menyadari bahwa pastilah yang mendekorasi ruangan itu adalah Hanare. Bukti semua frame foto diisi oleh foto wanita itu pasti karena wanita itu yang sengaja meletakkannya di sana. Wanita memang mengerikan, begitulah fikir Shikamaru.

"Lihat, dia bahkan tidak memajang foto ayahnya. Jelas kalau kita mengikuti strategimu Kiba, untuk mencari bukti di rumahnya, pasti kita tidak akan mendapatkan apapun," ujar Shikamaru.

"Ya, ya, ya, strategimu memang yang terbaik, Tuan Jenius …," ucap Kiba sedikit kesal sambil berpura-pura memberi hormat.

Shikamaru nyengir lebar.

'Cklek!'

Suara pintu apartemen dibuka kasar. Tidak lama kemudian terdengar langkah terburu seseorang memasuki ruang tamu.

"Kakashi-kun!"

Seorang wanita dalam balutan pakaian seksi menyentak kelima pemuda yang tengah menunggu sang tuan rumah kembali. Lima orang yang memiliki gejolak darah muda itu hanya bisa meneguk ludah melihat betapa menggairahkannya wanita itu. Lihat saja dirinya sangat berantakan seolah pakaian yang pada dasarnya memang sudah terbuka itu dipakainya asal. Rambut hitamnya tidak digelung rapih sehingga menyisakan anak rambut yang lepek oleh keringat. Bagian atas tubuhnya serta leher yang tidak berhasil ditutupi oleh dress ketat berwarna putih gading dengan corak bunga sakura yang dipakainya, tampak menunjukkan banyak bercak kemerahan, menandakan bahwa orang itu habis melakukan suatu hal yang tidak pantas disebutkan. Belum lagi nafasnya yang terengah akibat berlari untuk segera sampai di tempat itu, berhasil membuat dadanya yang diatas ukuran rata-rata itu naik turun dengan keringat yang menetes melewatinya.

"Hanare?!"

Suara Shikamaru yang menyapanya membuat manik cokelat wanita itu melihat padanya, terdapat sedikit pancaran kebingungan dari tatapan itu. Sementara pemuda yang dilihatnya, bukan memandang wajah ayunya, dia malah menatap ke tubuh moleknya. Membuat Hanare hanya dapat menggeleng tidak habis fikir.

Kakashi keluar dari dapur dengan senampan minuman dan makanan untuk tamunya. Mengabaikan bocah-bocah yang terpesona padanya, Hanare langsung berlari menghampiri Kakashi.

"Kakashi-kun …" panggilnya dengan nada penuh kekhawatiran.

Sang pria Hatake telah melepas maskernya dan menunjukkan wajah utuhnya pada kelima muridnya itu. Bagi Naruto dan yang lain – meski itu pertama kalinya mereka melihat langsung – tapi jelas mereka sudah tahu perihal wajah asli sang sensei dari foto yang pernah mereka ambil diam-diam. Tapi bagi Neji, dia baru mengetahui hal itu dan dia begitu tercengang mendapati senseinya itu tampak tampan dan berbeda.

"Kenapa kau melepas maskermu? Dan ada apa? Kenapa tiba-tiba kau mengirimkan sinyal darurat padaku?" tanyanya begitu penasaran dan khawatir.

"Maaf, tapi aku membutuhkanmu di sini," ujar Kakashi.

Hanare menoleh, melihat pada Naruto dan yang lain, dan menyimpulkan bahwa semua itu berhubungan dengan murid-murid Kakashi yang duduk di sana.

"Kau tahu," kata Hanare. "Aku tadi sedang melayani Yamaguchi-san. Dan saat melihat sinyal darurat di gelangku ini aku langsung lari ke sini,"

Kakashi mendengus.

"Jadi kau menyesal menyudahi permainanmu dengan pria itu di tengah-tengah? Apa kau begitu menikmati disentuh olehnya?" ucap Kakashi dengan suara rendah agar ucapannnya tidak didengar murid-muridnya.

Namun jelas terdengar nada marah dalam ucapannya dan itu membuat Hanare tersenyum senang.

"Tentu saja tidak, aku malah senang karena kau menyelamatkanku dari pria gendut mesum itu. Dan asal kau tahu saja, aku lebih menikmati disentuh olehmu," bisik Hanare tepat di telinga Kakashi sambil mengelus sisi wajah pria itu untuk menggodanya.

"Ck," Kakashi berdecak kesal sambil menolak sentuhan Hanare. "Sudahlah! Cepat ganti pakaianmu dan kemudian ikut dalam pembicaraan kami!" perintah Kakashi sambil melangkah ke tempat murid-muridnya duduk sambil membawa nampan penuh gelas minuman.

"Baiklah," ucap Hanare lemah, mengerti bahwa Kakashi sedang dalam mood buruk.

Tidak ingin membuat pria itu semakin kesal, dengan segera dia melangkah menuju kamar untuk berganti pakaian.

"Kenapa dia harus ikut dalam pembicaraan kita?" tanya Shikamaru yang sudah ikut duduk di sofa.

"Dia asetku," jawab Kakashi singkat.

"Aset?" ulang Kiba tidak mengerti.

"Sudah, kalian nikmati dulu minuman dan makanan ini. Aku akan segera kembali," katanya sambil berlalu pergi menyusul Hanare ke kamar.

Shikamaru hanya mengedikkan bahu merespon tatapan bertanya teman-temannya, bahwa pemuda jenius itu juga tidak mengerti apa yang dimaksud sang sensei tadi.

Lima belas menit setelahnya, Kakashi dan Hanare telah kembali bergabung dengan kelima anak muda itu. Keduanya duduk menghadap lima remaja yang duduk berdesakan di satu sofa panjang. Sesungguhnya penampilan wanita itu sungguh mengganggu bagi kelima remaja itu. Meski dia telah mengganti pakaian seksinya tadi, tapi sungguh penampilannya sekarang tidak kalah menggairahkan dari yang tadi. Wanita itu mengenakan piyama tipis berbahan satin berwarna peach. Tali piyama yang terikat di sekitar perut rampingnya membuat bagian dadanya jadi lebih tercetak jelas. Terdapat tonjolan kecil di kanan-kiri masing-masing dada besar itu. Para pemuda itu sedikit menghela nafas sambil mengalihkan pandangan ke arah lain untuk bisa mengusir pikiran kotor di otak mereka. Kelima remaja itu sadar bahwa ternyata Hanare tidak mengenakan bra atau apapun lagi dibalik piyama itu. Wanita itu duduk dengan menyilangkan kakinya membuat paha putih salah satu kakinya merengsek keluar melalui belahan panjang piyama tersebut. Ditambah lagi dengan rambut hitam yang sudah lebih rapih dari sebelumnya, kini dikuncir kuda tinggi memperlihatkan jelas bekas kiss mark di leher jenjangnya. Sekali lagi para pemuda itu meneguk ludah ketika Hanare mulai menyalakan rokok dan menghisapnya dengan bibir softpink seksinya.

"Fuuuh ...!"

Hanare menghembuskan asap rokok yang baru dihisapnya membuat kepulan putih itu memenuhi udara.

"Sebenarnya aku terkejut melihat kalian semua ada di sini. Tetapi Kakashi-kun sudah menceritakan detail situasinya," ucap Hanare sambil menyodorkan kotak berisi rokok pada para remaja laki-laki itu yang kemudian ditolak ringan oleh mereka, minus Shikamaru yang sudah menjulurkan tangan untuk mulai mengambil satu batangan putih itu, sayang Kakashi dengan segera mencegahnya dengan menarik tangan Hanare.

"Hanare! Matikan rokokmu dan jangan coba-coba menawari hal yang aneh-aneh pada muridku terutama Shikamaru," hardiknya dingin.

Hanare sempat terdiam, tertegun, melihat sisi yang lain lagi dari Kakashi hari ini. Jadi, seperti ini saat Kakashi sedang berperan menjadi guru? Sungguh selama ini dia penasaran bagaimana sikap Kakashi di sekolah dan kali ini dia berkesempatan melihatnya.

Mata hitam Kakashi menatap tajam Hanare memperingatkan. Wanita itu pun mengangguk mengerti. Dengan cepat ia tarik tangannya yang tadi menyodori rokok dan setelah itu ia ambil asbak untuk segera mematikan rokoknya.

Sedangkan Shikamaru, pemuda itu terkekeh namun terdengar kesal. Sambil kembali menyandarkan punggung ke sandaran sofa, dia menggerutu pelan terdengar seperti dia merutuki senseinya itu.

"Jadi ...," Neji membuka suara. "Sebenarnya apa hubungan kalian?" tanyanya.

Naruto dan yang lain sebenarnya sudah tidak heran dengan hubungan antara Kakashi dengan Hanare, meski mereka pun juga tidak begitu mengerti detailnya.

"Maksudku ...," Neji melanjutkan, mencoba memperjelas pertanyaannya. "Hubungan kalian selain sebagai teman kencan atau ... teman sex,"

Hanare terkikik mendengar pertanyaan Neji.

"Anak muda jaman sekarang ...," ucapnya. "Mereka bahkan mengerti istilah teman sex, hum? Hahaha ...,"

Neji membuang wajahnya kesal. Dia tidak suka diperlakukan seperti anak kecil.

"Yaaaah ... aku dan Kakashi-kun itu – ,"

"Dia alatku," jawab Kakashi memotong begitu saja ucapan Hanare dan sukses membuat wanita itu terdiam.

Hanare merasa tertohok hatinya saat Kakashi mengatakan hal itu dengan mudahnya bahkan tanpa melihat padanya. Mata cokelat Hanare memandang wajah samping Kakashi dengan keningnya yang terlihat mengernyit dalam.

"Dia alatku untuk mendapatkan informasi dari para Yakuza," tambah sang sensei.

Hanare semakin tertohok. Sambil tersenyum kecut, ia tundukkan wajahnya dalam.

"Maksudmu sensei, Yakuza di klub Mizu?" tanya Naruto. "Kalau tidak salah ...," mata sapphire nya melirik Hanare yang balas ditatap balik oleh wanita itu. "Klub Mizu adalah tempat di mana Hanare-san berprofesi sebagai penari kan ... 'eee ... Shikamaru?"

Naruto langsung menoleh pada Shikamaru karena merasa Hanare telah menatapnya tajam. Dengan santai si nanas hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Huh, kalian sudah jauh menyelidikiku, hum?" ujar Hanare terdengar tidak suka.

"Maaf," ucap Naruto tidak enak.

Hanare mengibaskan tangannya dalam artian 'sudahlah tidak usah minta maaf'.

Naruto terdiam sebelum kemudian kembali berucap, kini beralih menatap sang sensei.

"Jadi, sensei sengaja menyusupkan Hanare-san ke klub Mizu untuk berpura-pura sebagai penari?" tanyanya.

Kakashi sudah membuka mulutnya siap menjawab sebelum dipotong oleh kekehan Hanare.

"Hmph ... menyusup? Yang benar saja ...," ucapnya.

Semua kini memfokuskan diri mereka pada Hanare. Begitupun dengan Kakashi yang langsung menjatuhkan diri menyandar pada sandaran sofa sambil melipat tangannya di depan dada. Mata hitamnya memandang datar Hanare, namun jelas mengisyaratkan bahwa dia ingin mendengar apa yang akan dikatakan wanita itu selanjutnya.

"Menari striptis memanglah profesiku yang sudah aku lakoni sejak 10 tahun lalu," ujarnya.

Semua kini menaikkan alisnya mendengar pernyataan tersebut.

"Dan kebetulan saja aku bertemu Kakashi di sana. Serta dia yang meminta bantuanku, aku pun membantunya," Hanare menoleh pada Kakashi dan tersenyum meski senyuman itu tidak mendapat sambutan.

"Aku sudah mengenal Kakashi-kun sejak kecil," ujar Hanare lagi yang mendapat sambutan keterkejutan dari kelima remaja itu.

"Usia kami terpaut enam tahun. Dulu keluarga Kakashi-kun adalah tetangga keluargaku. Saat itu Konoha belumlah seperti sekarang ini, masih banyak bukit-bukit kecil yang biasa dijadikan tempat bermain. Saat usia Kakashi 12 tahun dan aku enam tahun, kami sering berlomba untuk mendaki bukit bersama teman-teman. Ketika aku kelelahan dan tidak mampu melanjutkan, Kakashi akan menggendongku di punggungnya untuk membawaku sampai ke atas bukit. Saat aku berusia empat tahun, ibuku meninggal dan membuat diriku menjadi yatim piatu, setiap malam aku menangis dan tidak bisa tidur karena mengingat ibu, Kakashi rela datang ke rumahku untuk menemaniku tidur. Dia berkata, 'Peganglah tanganku dan bayangkan bahwa tangan itu adalah tangan ibumu'. Saat aku mulai bersekolah dan aku tidak memiliki teman karena semuanya membuliku, Kakashi lah satu-satunya orang yang duduk di sampingku dan menghiburku. Dia berkata, 'Saat kau merasa sendiri, lihatlah awan. Karena awan selalu berubah bentuknya, sehingga kau dapat membayangkan hal yang kau inginkan'. Saat itu aku melihatnya sebagai sosok seorang kakak,"

Hanare memandang ke arah Kakashi, namun pria itu seolah tidak menyadarinya dan seolah tidak menyimak semua hal yang dikatakan Hanare tentangnya, dia menyanggahkan sikunya disandaran sofa sambil tangannya menopang dagunya. Manik hitam miliknya melihat ke arah lain seperti tidak peduli. Hanare tersenyum kecut dan menunduk untuk menyembunyikan perasaan terdalamnya. Namun sayang semua itu terlambat untuk disembunyikan karena kelima pemuda yang setia mendengarkan sejak tadi itu, sudah semakin paham dengan situasi rumit yang dialami wanita itu.

"Kakashi-kun selalu menjadi teman bagiku, sahabatku," lanjut Hanare meski harus memaksakan hatinya untuk menyebutkan kata 'teman'. "Namun saat aku berusia sembilan tahun, beberapa waktu setelah kematian ayah Kakashi-kun, dia menghilang. Kakashi-kun menghilang. Aku tidak pernah bertemu lagi dengannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya saat itu, tapi semua orang berkata bahwa ia telah mati. Aku tidak ingin mempercayainya, tapi kenyataannya aku pun tidak menemukan di mana pun jejak bahwa Kakashi-kun masih hidup.

"Hingga saat aku berusia 16 tahun, sepeninggalan kakekku yang telah merawatku sejak kecil, aku meninggalkan bangku sekolah karena tidak memiliki biaya. Aku mulai bekerja sebagai penari di klub malam. Dan tiga tahun setelahnya, entah itu sebuah keajaiban atau memang benar Tuhan masih mau mendengar doa dari orang hina sepertiku, malam itu kami dipertemukan. Sejak saat itulah kami kembali berhubungan,"

Hanare menutup ceritanya dengan mengangkat wajahnya yang sejak tadi ia tundukkan. Mata cokelatnya menatap kelima anak muda yang masih menunjukkan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.

"Hmmm … kalau begitu, sejak hari itu kau menari di klub sambil mencari informasi?" tanya Shikamaru.

"Aku baru melakukannya beberapa tahun belakangan. Lagi pula, sebelum klub itu dibawah kepemilikan Mizuki, klub Mizu hanyalah klub kecil. Tidak banyak Yakuza yang berkumpul di sana,"

"Jadi, informasi apa yang kalian cari di sana?" tanya Shikamaru lagi, penasaran.

"Tunggu Shika," sela Naruto tiba-tiba membuat Shikamaru menoleh bingung padanya.

"Sebelum kita menanyakan itu, aku ingin mendengar lebih dulu penjelasan darimu, sensei," ucap Naruto sambil menatap tajam Kakashi yang sejak tadi terlihat menatap kosong seolah jiwanya tidak ada di sana.

Dari sudut matanya Kakashi melirik sang murid sejenak sebelum kemudian ia mengangkat wajahnya dan melayangkan senyuman biasa khas Kakashi sensei dengan menyipitkan matanya. Senyuman yang selalu ia tunjukkan saat di sekolah yang sekarang murid-muridnya tahu bahwa senyuman itu hanyalah topeng untuk membuatnya terlihat baik-baik saja. Di balik itu semua, Kakashi bukanlah orang sehangat itu. Terbukti bagaiman sorot matanya tadi saat mendengarkan cerita Hanare. Bola mata hitamnya itu terlihat dingin dan tanpa emosi.

"Aku baru tahu kalau kau bisa seserius itu, Naruto," ucapnya basa-basi. "Aku masih ingat saat pertama kali kau datang ke KMS dan kau terlihat begitu kekanakan. Tapi sekarang, lihatlah, hanya dalam beberapa bulan dan kau sudah semakin dewasa,"

Naruto sedikit memberengut, tidak suka bila dirinyalah yang dibahas.

"Tapi yaaah …," lanjut Kakashi kembali menarik perhatian si Uzumaki. "Bila dia melihat bagaimana dewasanya anaknya kini, aku yakin Minato sensei akan tersenyum bahagia,"

Naruto menekuk alisnya.

"'Sensei'? Bagaimana bisa kau sebut ayahku 'Sensei'?"

Kakashi menarik nafas dalam. Dia mengusap wajahnya dalam tangkupan kedua telapak tangannya. Dia remas kasar helaian rambut peraknya sambil menghembuskan nafas panjang. Hanare melihat itu merasa sedikit khawatir. Wanita itu tahu bahwa Kakashi tidak akan mampu mengendalikan dirinya bila dipaksa mengingat masa lalu. Itulah mengapa dia harus ikut duduk di sana. Tugasnya adalah untuk membantu Kakashi agar pria itu bisa tetap tenang.

Kakashi bangkit dari duduknya. Dia berjalan dan berdiri di depan kaca besar apartemen yang menampilkan pemandangan malam Konoha yang begitu gemerlap. Tangannya ia lipat di depan dada. Mata hitamnya menatap lurus jalanan Konoha yang jauh di bawah sana. Lampu-lampu jalan dan kendaraan menerangi setiap jengkalnya. Waktu sudah menunjukkan dini hari dan jalanan masih tetap ramai.

"Balapan jalanan, huh?"

Suara Kakashi kembali terdengar. Naruto dan yang lain hanya dapat menatap punggung sang sensei yang masih setia membelakangi.

"Aku benci," ucapnya dengan penekanan yang jelas. "Aku sangat benci balapan jalanan. Aku benar-benar membencinya. Itulah kenapa aku bersi keras menolak saat kau memintaku mengajari drifting, Naruto, karena aku membenci jalanan. Tempat itu telah merenggut segalanya dariku. Jalanan telah membawa pergi semua yang aku cintai,"

Tidak dapat menebak seperti apa ekspresi sang sensei kini karena Kakashi tampaknya enggan berbalik, namun para murid Kakashi itu dapat merasakan dalamnya emosi guru mereka saat itu.

"Ibuku meninggalkanku saat aku masih kecil, itu semua karena ayahku yang tergila-gila dengan balapan jalanan. Keduanya yang selalu bertengkar karena ayah yang tidak mau berhenti balapan, taruhan, dan menghabiskan uangnya hanya untuk membangun mobilnya. Dan begitu saja ibu meninggalkan kami,"

Semua menunduk, merasa iba dengan cerita hidup sang sensei. Kakashi menjeda beberapa saat membiarkan keheningan merayapi sebelum ia melanjutkan.

"Begitu pun dengan ayahku," ujarnya lagi. "Dia tewas karena balapan jalanan. Dia tewas dan hilang karena balapan. Dia tidak pernah kembali, dia meninggalkan aku sendiri. Kalian dengar? Dia – Meninggalkan – Aku – Hanya – Untuk – Balapan,"

Kakashi menaikkan volum suaranya. Dan saat dia berbalik, betapa terkejutnya mereka saat mendapati wajah Kakashi yang telah basah oleh air mata.

"DIA MENJADIKAN AKU SEBATANG KARA HANYA UNTUK MEMENUHI AMBISINYA MENJADI PEMENANG. BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MEMBENCI BALAPAN? BAGAIMANA MUNGKIN AKU TIDAK MEMBENCINYA? SEMUA TERENGGUT DARIKU. SEMUA HILANG DAN AKU SENDIRIAN!"

"Kakashi-kun!"

Pekikan dan guncangan yang dilakukan Hanare di bahu Kakashi seolah menyadarkan pria itu. Kakashi terdiam dengan matanya yang terbelalak lebar. Dirinya hilang kendali. Hanare langsung menarik Kakashi dalam pelukannya, mencoba menenangkan prianya itu.

"Se-sensei …," gumam kelima muridnya dalam hati.

Semua menatap tidak percaya. Betapa terkejutnya mereka melihat sang sensei yang biasa tenang dan ramah itu tiba-tiba terlihat semenyedihkan ini. Mereka tidak dapat berkata apa-apa. Kelima pemuda itu merasa bersalah karena telah berusaha memojokkan Kakashi.

Kakashi masih dalam dekapan Hanare. Wanita itu mengelus punggung lebar pria Hatake itu dengan lembut seraya membisikan kata-kata penenang.

"Tenanglah Kakashi-kun, kau tidak sendiri. Ada aku. Tenanglah … hum?"

Merasakan kepala berambut perak itu mengangguk di bahunya, pertanda bahwa Kakashi sudah tenang dan dapat memberikan respon dengan benar.

"Sudah, kalau kau tidak sanggup, kita bisa menyudahi ini. kau tidak perlu melanjutkan," kata Hanare lagi.

Tiba-tiba Kakashi mengangkat wajahnya membuat Hanare sedikit tersentak kaget.

"Tidak," ucap Kakashi parau. "Aku akan tetap melanjutkan. Mereka perlu tahu apa yang sedang mereka hadapi,"

Hanare menatap wajah Kakashi penuh kebimbangan, namun pria itu membalas tatapan itu dengan keyakinan. Hanare menganggu mengerti.

"Baiklah, ayo duduk dulu Kakashi-kun," ajak Hanare sambil menggiring Kakashi kembali duduk di sofa.

"Sens …,"

Ucapan Kiba terhenti oleh gerakan tangan Kakashi yang menyuruhnya diam. Sang sensei tahu apa kiranya ingin disampaikan Kiba pastilah tidak jauh dengan kata-kata Hanare sebelumnya dan Kakashi sudah memutuskan untuk meneruskan ceritanya.

"Maaf," ucap Kakashi yang sukses membuat kelima muridnya menatap tidak mengerti. "Maaf karena aku menunjukkan sisi lemahku ini di hadapan kalian. Tapi apa yang aku katakan tadi memang begitu adanya. Setidaknya itulah yang aku rasakan setelah kematian ayahku. Aku sangat membenci balap jalanan. Aku bakar semua hal tentang ayahku yang berhubungan dengan mobil dan balapan. Aku mengutuk semua itu. Sampai suatu hari Minato sensei datang padaku,"

Kakashi menatap lembut pada Naruto seolah dirinya tengah menatap Minato.

"Aku sudah lama mengenal Minato sensei. Saat aku masih kecil, ia sering datang ke rumah kami. Mengajakku jalan-jalan dengan mobilnya, mengajari aku tentang mobil, dan menceritakan banyak hal menarik tentang balapan. Dulu sering kali ibu terlihat membenci Minato sensei setiap kali ia datang berkunjung, aku tidak bisa mengerti, kenapa orang sebaik itu harus dibenci. Aku sangat menyayangi Minato sensei seperti aku menyayangi ayahku.

"Dan hari itu saat Minato sensei mendatangiku, dia menangis di depanku sambil mencium tanganku. Dia ucapkan maaf berkali-kali dalam isakannya. Aku luluh. Aku tidak bisa melihat orang yang begitu aku sayangi memohon ampunan padaku. Sejak hari itu Minato sensei mengambilku. Dia berkata akan menjagaku untuk beberapa waktu sementara dirinya dan teman-temannya sedang merencanakan suatu hal yang saat itu aku tidak tahu apa gerangan hal itu. Minato sensei juga yang menyarankanku untuk mengenakan masker untuk menutupi jati diriku. Saat itu aku tidak begitu paham maksudnya, tapi dia berkata bahwa menghilangnya ayahku tidak wajar, masih banyak misteri yang belum terungkap dan akan lebih baik bila tidak ada satu orang pun yang tahu tentang keberadaanku sebagai anak dari Sakumo Hatake alias Shiroi Kiba,"

"Sakumo Hatake?" Shikamaru mengangkat sebelah alisnya. "Jadi itu nama asli Shiroi Kiba?" tanyanya.

"Hn, itu nama ayaku. Dan aku bisa tenang memakai nama Hatake karena sedikit orang yang mengetahui nama asli ayah," jawab Kakashi.

Sekarang kelima pemuda itu tahu siapa Shiroi Kiba sebenarnya karena dari cerita Hiashi sebelumnya, kepala keluarga Hyuga itu tidak sekali pun menyebutkan nama asli Shiroi Kiba.

"Lalu ... apa yang terjadi setelah kau bertemu ayahku? Dan apa karena kedekatan kalian sehingga kau memanggilnya sensei?" tanya Naruto ingin tahu lebih banyak tentang ayah yang tidak pernah ditemuinya.

Kakashi tersenyum mengingat seseorang yang begitu ia sayangi dan hormati. Tampaknya mengingat tentang Minato malah membuat hatinya lebih ringan dibanding saat dia mengingat tentang ayahnya.

"Dia mengajariku banyak hal termasuk teknik drifting yang dulu pernah aku ajarkan padamu. Dia menunjukkan banyak teknik balapan. Dan sebagai seseorang yang memiliki trauma besar pada mobil dan begitu membenci balapan, aku akan berubah menjadi kelinci kecil ketika Minato sensei menunjukkan kehebatannya di belakang kemudi. Dia juga mengajariku menghadapi hidup. Sebagai seorang yang sama yatim piatu sepertiku, Minato sensei memberikanku banyak dukungan moral. Sungguh aku sangat bersyukur karena pernah mengenalnya. Dia adalah sosok ayah yang baik bahkan melebihi ayahku,"

Naruto menggemerletukan gigi-giginya. Tangannya mengepal di atas pangkuannya. Kakashi tersenyum kecut melihat itu.

"Aku mengerti, kau pasti tidak setuju dengaku," ucap Kakashi dan berhasil membuat Naruto mengangkat wajahnya yang tadi menunduk dalam.

"Sama sepertiku yang membenci ayahku karena merasa ia telah meninggalkan aku hanya untuk sebuah balapan, kau juga pasti berpikir bahwa Minato sensei telah berbuat tidak adil padamu dan ibumu kan? Kau pasti masih belum bisa menerima alasan Minato sensei meninggalkanmu begitu saja kan? Aku sangat mengerti perasaanmu. Kita ini sama, Naruto, kita ini korban dari keegoisan orang tua kita, korban dari suatu hal yang disebut balapan.

"Tapi bagiku, Minato sensei tidak seperti ayahku. Dia tidak mungkin meninggalkanmu dan ibumu bila itu bukan karena suatu hal yang mendesak. Dan bukti kau sekarang berusaha keras mencarinya, itu menunjukkan kalau kau berbeda dariku. Kau begitu menyayangi ayahmu. Jujur saja, selama ini aku mencari informasi tentang balapan maut dan tentang semua yang berhubungan dengan Puncak Konoha, bukanlah untuk mencari tahu tentang kematian ayahku, tapi untuk Minato sensei,"

Naruto tersentak, dia baru tahu bahwa selama ini Kakashi juga tengah mencari tahu tentang menghilangnya ayahnya. Tapi apa itu karena Kakashi begitu menyayangi ayahnya atau karena hal lain?

"Aku tidak begitu peduli dengan kematian ayahku. Rasa sakit karena kehilangannya telah terobati bertahun-tahun lalu. Tapi waktu setelah menghilangnya Minato sensei setelah malam balapan itu, suatu hal terjadi pada hidupku," ujar Kakashi serius dan kalimat terakhirnya sukses membuat kelima pemuda itu terperangah.

"Suatu hal? Apa?" tanya Naruto penasaran.

"Sekelompok orang berusaha membunuhku,"

Seolah mendengar suara petir yang menyambar, betapa terkejutnya mereka mendengar ucapan terakhir Kakashi. Tidak percaya dengan apa yang mereka dengar, detak jantung mereka memburu seolah adrenalin mereka tengah dipacu.

"Berusaha membunuhmu? Maksudnya ... kau ... diburu?" tanya Kiba sedikit bergidik ngeri.

"Hn, beberapa hari setelah balapan yang tidak pernah membawa Minato sensei kembali, sekelompok orang menyerang tempat tinggal yang sempat aku dan Minato sensei tinggali. Mereka berusaha menangkapku untuk dibawa kemudian dibunuh. Bahkan mereka tidak peduli akan menangkapku hidup atau mati. Mereka hanya diperintahkan untuk menghabisiku,"

"Diperintah? Oleh siapa?" tanya Sasuke penasaran.

Kakashi menggeleng.

"Aku tidak tahu siapa mereka dan siapa yang memperintahkan mereka. Yang pasti mereka bersenjata,"

Kakashi mengelus pundak sebelah kirinya di mana di balik kaos lengan panjang berwarna biru dongker itu, terdapat luka tembak yang meleset. Untunglah tembakan waktu itu tidak mengenai organ vitalnya. Punggungnya juga terasa berdenyut merasakan luka bekas sabetan pedang yang sudah memudar. Serta sayatan panjang vertikal di mata sebelah kiri yang disebabkan serangan pisau salah seorang penyerangnya.

"Apa mungkin Yakuza?" ucap Neji berspekulasi.

"Mungkin saja, setahuku selain para penegak hukum, hanya Yakuzalah yang bebas menggunakan senjata di Konoha. Selain itu mereka juga yang menguasai perdagangan senjata ilegal. Dan setiap penggunaan senjata, terutama senjata api, harus atas sepengetahuan mereka. Tentu saja semua asumsi akan mengarah pada kelompok Yakuza," ujar Shikamaru.

"Atau bisa juga ada orang-orang yang diam-diam menyelundupkan senjata dan menggunakannya," kata Hanare tiba-tiba.

"Apa?"

Kelima pemuda itu terkejut mendengar asumsi yang disampaikan Hanare.

"Ya, beberapa kasus pernah terjadi dan itu sedikit membuat keributan di lingkungan Yakuza. Hal itu disebabkan penyelundupan senjata yang berhasil memberikan begitu banyak kerugian di pihak mereka. Aku mendengar percakapan mereka saat bekerja di klub," ungkap Hanare.

Kelima pemuda itu memikirkan ucapan Hanare, mereka baru tahu hal seperti itu pernah terjadi. Shikamaru sudah gatal ingin menanyakan lebih banyak informasi pada wanita itu, sebelum Naruto mendahuluinya bicara.

"Lalu ... apa yang terjadi padamu setelah penyerangan itu, sensei?" tanya Naruto ingin tahu kelanjutan ceritanya.

Kakashi menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya.

"Aku sempat terpojok dan menerima beberapa luka. Mereka hampir menangkapku dan menghabisiku. Bila saja orang itu tidak datang menolongku tepat waktu, aku yakin aku tidak akan ada di sini hari ini," jawabnya.

"Orang itu?"

"Jiraiya-san,"

Naruto melebarkan matanya kala mendengar nama orang yang pernah sekali ditemuinya. Orang itu juga yang sudah membawanya sejauh ini. Orang itu juga yang sudah memberikan harapan dan tujuan hidup baru bagi Naruto yang saat itu sudah kehilangan arah hidupnya.

"Jiraiya ... san?" ucapnya tidak percaya.

"Hn, aku sendiri tidak tahu bagaimana saat itu dia bisa menemukanku, tapi dia datang memang untuk menolongku. Dengan sangat cepat dia menembaki kelima orang yang menyergapku saat itu. Dia membunuhnya begitu saja,"

"Membunuh? Bagaimana orang itu ...," Kiba tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Dia sungguh tidak mengira laki-laki tua yang dia temui sebelumnya adalah orang seberbahaya itu.

"Sebenarnya siapa dia? Apa kau mengenalnya?" tanya Naruto ingin tahu.

Kakashi menggelengkan kepalanya pertanda dia juga tidak tahu.

"Aku tidak mengenalnya dan aku juga tidak mengetahui jati dirinya. Saat itu pun aku ketakutan saat bertemu dengannya. Tapi dia berkata padaku bahwa Minato sensei yang memintanya menemuiku. Dia berkata bahwa sebelum Minato sensei mengikuti balapan menuju Puncak Konoha, dia pernah berpesan pada Jiraiya-san untuk menggantikannya menjagaku bila dirinya tidak pernah kembali. Dan begitulah dia membawaku pergi," jelas Kakashi.

"Bagaimana mungkin kau tidak mengenalnya? Bukankah setelah itu dialah orang yang menjagamu?" tanya Neji penasaran.

Kakashi menggeleng lagi dan menuai kernyitan di dahi murid-muridnya.

"Aku memang tidak mengenalnya. Yang aku tahu dia adalah kenalan Tsunade-sama," jawabnya.

"Eh?! Tsunade?! Maksudmu, Tsunade-sama kepala sekolah KMS?" pekik Shikamaru terkejut.

"Ya," jawab Kakashi. "Setelah hari dia menyelamatkanku, dia membawaku pada Tsunade-sama dan meminta padanya untuk menjagaku sementara orang itu kemudian menghilang dan aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Tsunade-sama mengangkatku sebagai anak. Dia mengirimku ke luar negeri untuk sekolah sekaligus untuk menyembunyikanku. Apartemen ini juga hadiah darinya saat aku kembali pulang ke Konoha. Dan setelah mendapatkan terapi psikis juga di luar negeri, Tsunade-sama memintaku untuk mengajar di sekolahnya. Seperti inilah aku sekarang. Kakashi Hatake, seorang guru KMS,"

Naruto dan yang lain merasa tidak percaya. Kakashi adalah anak angkat Tsunade dan Tsunade juga mengenal orang bernama Jiraiya. Kini mereka saling melempar pandangan dan lirikan. Sedikit banyak mereka mendapatkan sesuatu.

"Lalu bagaimana dengamu, Naruto?" Kakashi kembali berucap dan menarik kembali atensi si pemuda kuning.

"Aku sudah menceritakan tentangku. Jadi, bisakah kau jelaskan semua ini?"

Naruto semakin mengernyitkan dahinya, merasa tidak paham maksud sang sensei.

"Bisakah kau jelaskan, bagaimana kau bisa berasumsi bahwa ayahmu kemungkinan masih hidup?" tanya Kakashi penuh dengan rasa penasaran dan emosi yang begitu meluap. Entah karena dia merasa senang atau khawatir.

Naruto menatap lurus sang sensei yang kini juga memandangnya tajam. Pemuda Uzumaki itu seolah paham bahwa kata-kata yang menyatakan bahwa ayahnya masih hidup telah menyalakan api harapan baru bagi sang sensei. Dapat terlihat di mata hitam gurunya yang biasa sayu kini tampak lebih berbinar. Dan Naruto menarik nafas panjang sebelum kemudian ia memulai ceritanya.

.

.

Di trotoar jalan depan sebuah mini market 24 jam, lima orang pemuda itu kembali berkumpul di sana. Waktu sudah bukan lagi menunjukkan malam, tapi pagi hari, tepatnya pukul tiga dini hari. Naruto, Kiba, dan Sasuke tengah menikmati ramen cup yang mereka beli di mini market sambil begitu saja duduk di pinggiran trotoar jalan. Sementara Shikamaru dan Neji berdiri di depan ketiga orang itu sambil bersandar pada mobil si rambut nanas. Sambil meminum cola, kedua orang itu menatap tanpa minat ketiga orang yang begitu menikmati makanan instan dengan produk dan rasa yang sama.

Neji menggelengkan kepalanya ketika melihat betapa kekanakannya Sasuke yang merebut cup ramen milik Kiba hanya untuk menuangkan kuah ramen itu ke dalam miliknya yang alhasil membuat si pemuda Inuzuka itu mencak-mencak sambil berusaha merebut kembali cup ramennya sebelum kuahnya dituang habis oleh si bungsu Uchiha. Neji tidak menyangka, bagaimana seorang Uchiha yang keluarganya bahkan lebih kaya dari pada Hyuga, bisa sesantai itu memakan makanan murah dan duduk di pinggir jalan ketika cuaca dingin seperti ini. Bagi pemuda Hyuga itu, ini baru pertama kali dirinya berkumpul dan duduk-duduk di pinggiran jalan seperti ini. Biasanya bila ia dan kawan-kawannya harus berkumpul, mereka lebih memilih berkumpul di rumahnya atau mungkin di kafe yang sedikit lebih elegan. Bukannya di tempat umum seperti ini. Tapi merasakannya sesekali ternyata tidak buruk juga. Serta mendengar orang-orang itu berceloteh, entah mengapa dia jadi merasa sedikit iri.

"Hoi Shika, kau dengar tadi, Hanare bilang beberapa hari yang lalu dia lihat Mizuki terlihat babak belur. Dan dari informasi yang dia dapat katanya pihak Mizuki habis bentrok dengan pihak musuhnya. Aku yakin itu Sai. Apa aku bilang, pasti Ino melapor pada si pucat itu," kata Kiba sambil tertawa puas.

Shikamaru terkekeh sambil pandangannya melihat ke arah lain di mana ada dua wanita seksi berdiri menunggu tumpangan. Tampaknya dua wanita itu baru pulang dari klub dan setengah mabuk. Ketika Shikamaru mengerling pada mereka, keduanya terkikik girang. Pemuda Nara itu kembali menatap teman-temannya.

"Yah, tampaknya Hanare itu memang sungguh-sungguh mencari informasi tentang Yakuza," ujarnya.

Naruto meminum kuah ramennya dan merasakan kehangatan merasuk ke dalam tubuhnya. Mata biru itu menatap Shikamaru di depannya.

"Jadi, menurutmu informasi yang itu juga benar adanya?" tanya Naruto pada Shikamaru.

"Tentang Yakuza yang sedang mengalami krisis?"

Naruto mengangguk sekali. Kiba, Sasuke, dan Neji pun kini memfokuskan diri mereka untuk mendengar pendapat si jenius Nara.

"Mungkin saja benar. Kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam organisasi itu karena kita hanya bisa melihatnya dari luar. Dan menurut informasi Hanare, Yakuza mengalami krisis besar selama puluhan tahun yang mana juga memberikan kerugian besar untuk mereka. Meski kita tidak mendapat petunjuk tentang krisis apa itu dan hal apa yang membuat mereka mengalami kerugian, tapi fakta bahwa krisis ini masih berlangsung hingga saat ini, pastilah itu suatu hal yang besar yang bahkan para Yakuza itu tidak bisa menyelesaikannya. Aku sendiri ingin tahu, tapi tampaknya akan sulit mendapatkan informasi itu,"

"Lalu, apa menurutmu ini berhubungan dengan diadakannya balapan maut?" tanya Sasuke.

Shikamaru terdiam sejenak, dirinya pun tidak yakin.

"Aku rasa terlalu jauh bila kita harus menghubungkannya. Bagaimanapun, balapan adalah balapan. Dan aku fikir, meski para Yakuza juga yang meguasai balap liar di Konoha, bagiku selama ini tidak banyak biaya yang dihabiskan untuk itu juga tidak banyak yang bisa didapat dari itu. Jadi bagaimana bisa kita menghubungkan krisis internal Yakuza dengan balapan?" ujar Shikamaru.

Keempat yang lain pun setuju dengan pandangan Shikamaru. Bagi mereka ini memang tidak ada hubungannya dengan misteri puncak Konoha.

"Yah, sepertinya kau benar," ucap Naruto setuju sambil menenggak air mineral dari botol.

"Dari pada itu, aku lebih penasaran dengan ini," kata Shikamaru lagi yang kembali mendapat fokus teman-temannya.

"Apa?" tanya Kiba ingin tahu.

"Bila semua yang pernah berhubungan dengan balapan di puncak Konoha tewas, lalu kenapa aku dan Choji masih hidup?"

" ...,"

" ...,"

" ...,"

"HAH?! ..."

Serentak semuanya tidak mengerti perkataan orang jenius itu. Berkali-kali mereka melihat kaleng yang digenggam Shikamaru dan mata mereka masih jelas melihat itu kaleng cola dan bukannya bir.

"Shika, kau tidak mabuk kan?" tanya Naruto, curiga temannya itu memasukkan sesuatu ke dalam kaleng colanya yang mungkin memabukan.

Shikamaru menghela nafas lelah begitu melihat tatapan bingung yang lainnya juga. Pemuda yang terkenal selalu mengatakan kata 'Merepotkan' itu, bahkan sampai tidak sanggup untuk mengatakan kata itu kali ini karena yang ini lebih dari merepotkan.

"Dengar! Aku tidak sedang mabuk. Dan yang aku maksud di sini adalah Kakashi sensei pernah diburu untuk di bunuh karena ayahnya pernah ikut serta dalam balapan maut dan dia juga berhubungan dengan ayahmu, Namikaze Minato. Ayah Neji juga dibunuh karena ikut dalam tim yang ikut serta ke puncak Konoha dan begitu juga dengan Sabaku Rasa yang tewas dalam kecelakaan yang sebenarnya itu adalah pembunuhan terencana. Lalu, kenapa aku dan Choji masih hidup?" ujar Shikamaru.

Bukannya wajah keempat temannya itu menjadi lebih cerah setelah mendapat penjelsana, malah tampak lebih kusut dari sebelumnya. Hal ini menandakan bahwa mereka tidak mengerti maksud si pemuda Nara.

"Haaaah ... Mendokusei ...!"

Akhirnya keluar juga kata itu dari mulutnya. Sambil mengusap wajahnya kasar, Shikamaru benar-benar malas bila harus bicara panjang lebar.

"Oke, jadi begini," ucapnya lagi setelah menarik nafas panjang. "Maksudku, aku dan Choji juga pernah tergabung dalam tim yang mana tim kami sampai ke final yang menuju puncak Konoha. Ashura dan Indra bahkan juga ikut menghilang di puncak itu. Tapi, nyatanya tidak ada orang yang meneror atau menyerang kami, apalagi membunuh kami. Dan apa kalian pernah dengar ada anggota tim lain yang mana timnya sampai ke final, dan mereka tewas dibunuh setelahnya?"

Keempat orang itu saling melempar pandangan seolah bertanya satu sama lain.

"Tidak ada kan?" jawab Shikamaru sendiri saat tidak ada dari mereka yang menjawab. "Lalu sekarang, apa alasan ayah Neji dan Sabaku Rasa yang menjadi anggota dari tim yang sampai ke final puncak Konoha bisa sampai dibunuh? Dan Kakashi sensei juga diserang padahal dia bukan anggota tim tersebut?"

"itu ...,"

Neji tampaknya telah mendapatkan jawabannya.

"Iya, mereka yang terancam bahaya hanyalah orang-orang yang berhubungan dengan Tim Minato," jawab Shikamaru.

Naruto membelalakan matanya tidak percaya. Dirinya juga baru menyadari, hanya anggota tim ayahnya saja yang seolah mendapat hukuman dari puncak Konoha sementara mungkin ada puluhan bahkan ratusan orang yang juga pernah terlibat dalam balapan itu. Lalu, kenapa itu bisa terjadi?

"Jadi ... apa maksudnya ini, Shika?" tanya Naruto sementara otaknya sibuk berspekulasi.

"Ini membuktikan sesuatu," ujarnya.

Naruto dan yang lain menatap pemuda Nara itu waspada.

"Hal ini menguatkan dugaan kita bahwa ayahmu memang benar masih hidup, Naruto," jawab Shikamaru.

"Apa?" Naruto reflek berdiri dari duduknya. Ditatapnya penuh tanya pemuda di depannya itu. "Apa maskudmu?" tanyanya.

"Iya, ini jelas membuktikan bahwa Namikaze Minato memang masih hidup," ulang Shikamaru dengan menekankan ucapannya.

"Kenapa ... kenapa kau bisa berkata seperti itu?" Naruto masih tidak percaya. Detak jantungnya menggila, sebuah rasa hangat merayapi setiap sisi hatinya.

Shikamaru terdiam sejenak, dia angkat satu tangannya untuk kemudian dia letakkan di dagu.

"Kenapa aku bisa berkata begitu ... Ini hanya dugaanku, mungkin saja Namikaze Minato melihat suatu hal di puncak bukit itu. Suatu hal yang mungkin sebuah rahasia besar. Para pembalap lain tidak bisa lolos dari sana, tapi dia bisa. Dia bisa lolos dan kemudian bersembunyi di suatu tempat. Dan suatu pihak yang berhubungan dengan rahasia besar itu mengetahui bahwa ayahmu lolos dari puncak Konoha. Mereka berfikir, mungkin ayahmu kembali ke teman-temannya dan bisa saja membocorkan informasi penting itu. Oleh karena itu, selagi mereka mencari Namikaze Minato, mereka juga membunuh semua orang yang mereka ketahui berhubungan dengannya karena khawatir orang-orang itu bisa mewakilkan Minato untuk mengungkap rahasia besar itu. Mereka musnahkan semua untuk menutup kemugkinan rahasia tersebut diketahui publik. Aku yakin mereka tidak akan melakukan semua kekacauan itu bila mereka sudah menggenggam mayat ayahmu," jelas Shikamaru.

"Jadi benar, bahwa ayahku bersembunyi dari sesuatu?" ujar Naruto.

"Lalu, bagaimana dengan ayah Sasuke? Bukankah bisa saja dia juga masih hidup?" tanya Kiba.

"Tidak," bukan Shikamaru yang menjawab melainkan Sasuke. "Aku yakin ayahku memang benar telah tewas," ujarnya.

Kiba menatap Sasuke tidak percaya, kenapa juga orang itu malah pesimis? Pikirnya.

"Benar kata Sasuke," kata Shikamaru. "Untuk Uchiha Fugaku, aku yakin dia mungkin tidak selamat karena bila dia selamat, dia kan seorang Uchiha, dia memiliki kekuasaan juga di Konoha. Bila dia selamat, aku yakin dia akan pulang dan langsung membongkar semua rahasia itu ke publik. Meskipun yang dilawannya Yakuza sekalipun, aku yakin Uchiha tidak akan takut untuk memberitakannya ke media. Mereka punya uang, jadi tidak akan ada yang bisa macam-macam dengan mereka. Sedangkan ayah Naruto, dia tidak punya pilihan lain selain bersembunyi dan mencoba mengungkapnya dari balik bayangan," jelas Shikamaru.

Kiba terdiam sebentar, berfikir dan mencoba mencari celah dari penjelasan itu.

"Kalau begitu ...," ungkapnya setelah mendapatkan sesuatu. "Kenapa keluarga Uchiha tidak ada yang dibunuh? Maksudku, salah satu dari mereka ikut terlibat di balapan itu, dan ayah Naruto adalah teman Uchiha Fugaku, bisa saja kan ayah Naruto mendatangi keluarga Uchiha dan mengatakan semua rahasia itu?"

Shikamaru menggelengkan kepalanya.

"Itu tidak mungkin," jawabnya. "Aku yakin pihak yang memiliki rahasia besar itu adalah orang-orang cerdas, terbukti mereka bisa melenyapkan para pembalap tanpa bukti apa pun. Jadi wajar kalau mereka memiliki pemikiran yang logis bahwa Namikaze Minato tidak akan pernah mendatangi Uchiha. Aku yakin mereka tahu bahwa Uchiha Fugaku mengikuti ajang balap jalanan pun dengan tanpa sepengetahuan keluarganya. Jadi jelas mereka berfikir pasti tidak akan mungkin seorang Namikaza Minato akan mendatangi Uchiha. Dan ayah Naruto juga pasti berfikir demikian, keluarga Uchiha tidak akan mau menyampaikan apa pun ke publik yang bisa menjatuhkan mereka,"

"Kau benar, buktinya saja berita kematian Uchiha Fugaku disamarkan menjadi kecelakaan dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan balapan. Jelas bahwa keluarga Uchiha tidak ingin dilibatkan. Malah akan semakin menyulitkan Namikaze Minato bila dia mendatangi Uchiha," tambah Neji setuju.

Kiba mengangguk paham.

Naruto terus diam sambil mendengarkan penjelasan itu. Dirinya terus bertanya-tanya, jadi siapa gerangan dibalik insiden ini.

"Jadi ... siapa sebenarnya mereka? dan rahasia besar apa itu?" tanya Naruto menyuarakan pikirannya.

Shikamaru menghela nafas.

"Jelas mereka orang yang berbahaya. Bila mereka bukan Yakuza, tapi mereka memiliki senjata dan bisa dengan mudahnya membunuh orang, sudah pasti mereka bukan orang biasa," ungkapnya.

Semua kini diam menunduk, tampaknya ini akan menjadi semakin rumit.

"Dan satu hal lagi ...," Shikamaru kembali berucap membuat teman-temannya kembali melihat padanya. "Setelah mengetahui ini, aku rasa kita tidak sebaiknya menyelidiki secara terang-terangan lagi," katanya yang menimbulkan kembali banyak pertanyaan di otak semuanya.

"Maksudmu?"

"Sudah ku katakan tadi, mereka orang-orang yang berbahaya, bila kita gegabah menyelidiki, aku tidak bisa jamin apa yang akan terjadi. Ditambah lagi dengan keberadaanmu Naruto. Bila mereka tahu siapa kau, itu akan membahayakanmu dan kami semua. Itulah, aku ingin untuk sementara kau menjauh dari penyelidikan ini,"

"Apa?! Shika, apa yang kau katakan?! Tidak bisa begitu, ini masalahku!" ucap Naruto tidak terima.

"Aku tahu, aku memintamu menjauh bukan berarti penyelidikan ini berhenti. Hanya saja, kita tidak bisa lagi melakukan hal yang mencolok seperti ini. Kita harus lebih hati-hati dan lebih licin dalam mencari tahu semuanya. Untukmu dan Sasuke, aku ingin kalian fokus pada balapan. Biar aku yang mencoba mencari informasi dengan caraku," jelas Shikamaru.

"Dan aku akan membantu,"

Ucapan tiba-tiba Neji menyentak semuanya. Kini mereka menatap tidak percaya pada si pemuda Hyuga.

Neji mengangkat bahunya,

"Aku free. Aku sudah tidak bisa ikut serta sampai ke puncak Konoha. Jadi, mungkin aku bisa membantu dari balik layar," tuturnya.

Semua terperangah, termasuk Shikamaru yang ternganga tidak elit. Sungguh keajaiban seorang Hyuga Neji mau berendah hati dan siap membantu mereka. Lalu kemudian pemuda nanas itu tertawa dan mengacak surai cokelat panjang Neji membuat pemuda Hyuga itu kelabakan.

"Yosh! Jadi semua sudah clear kan?" ucap si Nara semangat.

Meski begitu tampaknya Naruto masih tetap tidak puas.

.

.

Suara gemericik shower sudah menjadi alunan khas yang bisa menenangkan jiwa yang lelah. Seperti wanita itu yang kini tengah meratapi nasibnya. Menghela nafas berkali-kali untuk dapat melawan derasnya air yang turun atau mungkin untuk melawan semua rasa sakit yang berkali-kali diterima hatinya. Hanare, wanita itu, hari ini kembali seperti ditampar keras oleh yang disebut kenyataan. Dirinya seolah dileparkan pada tempat yang disebut realita. Jiwanya kembali dibangunkan dari mimpi-mimpi indah.

Tadi, sebelum kelima pemuda yang banyak tanya itu pulang, mereka sempat berbincang dengan Kakashi di depan pintu apartemen dan Hanare mendengar pembicaraan yang telah menyadarkannya. Hanare mengintip mereka dari balik pintu ruang tamu. Satu hal yang dibahas, tapi itu begitu menyakitkan.

Flashback

"Ne, sensei," ucap Shikamaru kala itu. "Aku sedikit terkejut karena ternyata kau tinggal satu atap dengan Hanare,"

Hanare dapat melihat Kakashi sedikit tersenyum dan entah mengapa jantungnya berdebar, menantikan tanggapan Kakashi yang tidak juga datang malah suara Shikamarulah yang kembali terdengar.

"Aku fikir selama ini kau mengincar Yugao sensei, perawat di gedung kesehatan KMS, tapi ternyata kau malah menyimpan wanita seksei di rumahmu,"

Yugao, nama itu mengingatkan Hanare pada suatu waktu saat Kakashi tiba-tiba pulang dari sekolah dengan marah dan dengan cepat menyeretnya ke tempat tidur untuk kemudian menidurinya. Waktu itu Kakashi sempat salah menyebut namanya, Yugao, atau mungkin memang wanita itulah yang tengah dibayangkan olehnya saat bercinta. Jadi, wanita bernama Yugao itu adalah perawat di KMS dan Kakashi menyukainya. Tapi benarkah begitu?

"Apa sih kau ini ...,"

Terlihat olehnya dari balik pintu, Kakashi menjitak kepala nanas Shikamaru dan pemuda itu malah cengengesan.

"Hehehe ... tapi benar kan, kau memang mengincar Yugao sensei? Semua murid KMS juga tahu itu. Kalian selalu makan siang bersama dan kau pernah memberikan Yugao senseibunga saat ulang tahunnya," ungkap Shikamaru.

Hanare membulatkan matanya mendengar itu. Bunga? Bahkan Kakashi tidak pernah memberikannya bunga atau hadiah lainnya. Pria itu tidak akan memberikan apa pun padanya bila ia tidak meminta. Dan betapa menyedihkannya ia karena ia sudah terlalu banyak meminta pada pria Hatake itu.

Dari jarak tempat ia berdiri, dia bisa melihat sebagian wajah Kakashi dan tampak di sana sedikit memerah seolah pria itu tengah merona malu. Jelas bahwa yang dikatakan Shikamaru bukanlah mengada-ada.

"Oh iya," pemuda berambut cokelat jabrik yang kalau Hanare tidak salah ingat bernama Kiba juga turut menanggapi. "Waktu itu saat Yugao sensei dijemput seseorang juga sensei sampai menghentikan kelas dan pulang lebih cepat. Semua teman sekelas kami berfikir sensei cemburu," ujar Kiba.

Hah, ternyata itu harinya saat Kakashi pulang cepat dan marah. Jadi karena pria itu cemburu melihat wanita yang ditaksirnya dijemput pria lain. Hanare semakin merasakan perutnya melilit sakit, hatinya berdenyut hebat.

"Dan besoknya Yugao sensei menjelaskan bahwa itu adalah sepupunya. Dan kalian pun berbaikan dan kembali terlihat mesra," lanjut Shikamaru menambahkan.

"Cih, apanya yang mesra sih ...," Kakashi mencoba menyangkal.

"Lho, kau tidak tahu sensei? Kalian itu pasangan favorit kedua setelah Asuma sensei dan Kurenai sensei lho. Para siswi banyak yang bergosip dan berharap dapat melihat kalian menikah," tambah Kiba semangat.

Kakashi hanya terkekeh mendengar komentar para muridnya.

"Benar lho, kenapa kau tidak lamar saja Yugao sensei? Atau ... kau tidak bisa memilih salah satu dari dua wanita seksi ini ya?" ledek Shikamaru yang semakin menjadi.

Kakashi menjitak kepala nanas itu sekali lagi.

"Dasar kau ini ...," katanya. "Aku sudah memilih kok ...,"

Mendengar perkataan terakhir Kakashi membuat Hanare terperanjat ingin tahu, jadi apa pilihan Kakashi? Apa Kakashi memilihnya? Tapi, melihat bahwa Kakashi masih memperbolehkannya tinggal bersamanya dan mengingat Kakashi begitu membutuhkannya, pastilah ia yang dipilih. Bolehkah dia berharap?

"Aku akan melamar Yugao," jawabnya pasti.

Halilintar menyambar Hanare, membangunkannya dari mimpi. Inikah kenyataan? Fikirnya.

"Heh? Benarkah?" tanya para pemuda itu tidak percaya.

"Hn,"

"Jadi kapan kau akan melamar Yugao sensei?" tanya Kiba semangat.

Kakashi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh, tampak dirinya yang malu-malu.

"Secepatnya. Kalian akan segera tahu," ucapnya.

"Tunggu, jadi benar kalian sudah pacaran ya?" bahkan Neji yang sejak tadi hanya mendengarkan jadi ikut antusias.

Kakashi hanya tersenyum menanggapi, namun itu sudah menjadi jawaban yang jelas untuk Hanare. Dan wanita itu akhirnya tahu di mana posisinya. Di mana seharusnya dia berdiri dan ke mana sebaiknya dia melangkah.

End Flashback

Hanare memejamkan matanya sambil wajahnya mendangak menyambut setiap siraman air yang turun. Begitu dirinya terhanyut hingga tidak mendengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dan langkah seseorang yang mendekat. Dirinya baru menyadari tat kala dua tangan kekar mulai menggerayangi kulit telanjangnya dari belakang mulai dari pinggulnya hingga ke dada. Dengan lembut dua tangan itu meremas dua gundukan milik Hanare. Wanita itu pun menurunkan pandangannya menatap pada dua tangan milik seseorang yang mana sentuhannya begitu ia kenal yang kini tengah memainkan buah dadanya dengan gemas. Sesekali dia memijat gundukan itu sebelum kemudian mencubit ujungnya dengan keras. Hanare menegang, namun dia tidak terangsang. Bibirnya tidak juga mendesah sehingga membuat si punya tangan sedikit tidak sabar. Hingga akhirnya ia turunkan satu tangannya menuju ke selangkangan wanita itu. Diusapnya sekali untuk kemudian mulai menjelajah mencari rongga kenikmatan wanita itu sebelum kemudian tangan tersebut dihentikan oleh tangan Hanare.

Wanita itu berbalik untuk menghadapi seseorang yang tadi mempermainkan tubuhnya dan mendapati Kakashi yang tersenyum padanya. Sungguh, itu senyuman yang bahagia dan Hanare tidak pernah mendapatkan senyuman tulus penuh kebahagiaan itu dari orang ini. Air matanya mangalir, untunglah tersamarkan oleh air dari aliran shower. Tidak lama Hanare bisa memandang wajah tampan itu karena Kakashi langsung menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hanare memberikan pelukan hangat untuk wanita itu. Hanare berusaha meredam isakannya. Dia elus punggung tegap Kakashi seolah memberi kenyamanan pada pria itu.

"Kau terlihat tenang," ucap Hanare.

"Ya,"

Hanya satu kata itu jawaban Kakashi, namun dapat terdengar jelas suaranya yang begitu lega.

"Apa kau sedang senang?" tanya Hanare lagi.

"Ya,"

"Apa ini semua karena kau tahu bahwa gurumu masih hidup?"

"Hmmm ... Mungkin,"

Hanare terdiam sejenak, dia letakkan dagunya di pundak Kakashi.

"Apa ada yang lain?" tanyanya lagi.

Kakashi mengurai pelukannya dan masih dengan senyuman langkanya itu dia memandang Hanare.

"Hn," jawabnya. "Aku senang karena murid-muridku ternyata sangat hebat,"

Hanare mengangguk paham. Jemari lentik wanita itu mengelus dada bidang pria dihadapannya itu dengan lembut.

"Kau gurunya, jadi wajar mereka hebat," pujinya pada Kakashi.

Pria itu menggeleng menciptakan cipratan air dari rambut peraknya.

"Tidak, mereka tidak sepertiku. Mereka hebat, mereka kuat. Sedangkan aku begitu lemah," ujarnya.

Hanare menengadah, menatap lurus sang pria Hatake. Dia tangkup wajah tampan itu dengan dua telapak tangan lembutnya. Mata Kakashi terpejam sebenatar, meresapi betapa lembutnya tangan itu.

"Kalau begitu kau juga harus kuat, ne? Jangan menyerah pada kehidupanmu. Aku yakin kau pasti bisa," ujar wanita itu.

Kakashi mengangguk,

"Hm, ya ...," jawabnya.

Lalu kemudian dia cium telapak tangan kanan Hanare. Meresapi setiap harum dari wangi sabun khas wanita itu. Kakashi menyukainya. Wangi inilah yang mungkin bisa membuatnya dapat tertidur dengan tenang setiap malam. Wangi wanita yang selalu di sampingnya.

Baru beberapa detik Kakashi menikmati kelembutan telapak tangan itu, tangan tersebut segera ditarik oleh sang empunya. Membuat dirinya tersadar dari terlena. Dengan cepat Hanare melewati begitu saja Kakashi.

"Aku sudah selesai, kau teruskan saja mandimu," ucapnya seraya melangkah pergi.

Tidak ingin diabaikan, dengan segera ia tarik tangan mungil Hanare membuat wanita itu tersentak dan menoleh padanya. Dengan tatapan sayu dan senyuman menggoda, Kakashi merayu Hanare.

"Ayolah, temani aku mandi seperti biasanya," rayunya.

"Kyaaaaa ...!"

Sekali tarikan, Hanare kini telah berada dalam dekapan pria Hatake itu.

"Mandi denganku, hum ... kita juga bisa bercinta di sini," ujar Kakashi dengan suara seksinya.

Pria berambut perak itu mulai menjamah tubuh Hanare dengan memberikan kecupan-kecupan di leher jenjangnya. Namun dengan segenap tenaga, wanita itu mendorong kasar Kakashi hingga pria itu menabrak dinding kamar mandi di belakangnya.

Kakashi terbelalak, terkejut akan penolakan yang diberikan Hanare. Bagaimana mungkin wanita itu menolak sementara biasanya ia meyodorkan begitu saja tubuhnya untuk Kakashi.

"Maaf, aku ada urusan," ujarnya tanpa berbalik menghadap Kakashi dan kemudian begitu saja melangkah keluar kamar mandi.

Mendapati keanehan Hanare, membuat Kakashi cepat-cepat mematikan shower dan memakai jubah mandinya. Kakashi memasuki kamarnya untuk kemudian mendapati wanita itu tengah bersiap-siap mengenakan pakaian.

"Kau mau ke mana? Ada urusan apa?" tanyanya heran.

"Aku ada pekerjaan," jawab Hanare sambil terus sibuk mengenakan pakaiannya.

"Pekerjaan apa? Ini jam tiga pagi," kata Kakashi lagi tidak habis fikir.

Hanare menghentikan kegiatannya sejenak. Dia menghembuskan nafas kasar.

"Kau tahu," ucapnya, terdengar nada dingin di sana. "Aku ini wanita tidak benar. Aku ini hanya alat untuk memuaskan nafsu para pria. Wajar kan kalau aku ada pekerjaan jam segini?"

Kakashi menatap tidak percaya pada wanita yang bicara tanpa mau melihat ke arahnya itu. Apa maksud kata-kata dingin itu? Si pria Hatake merasakan perasaan tidak suka saat Hanare mengatai dirinya sendiri seperti itu. Ya, Kakashi memang sering mengatakan hal menyakitkan seperti itu pada Hanare, tapi itu dirinya yang mengatakan hal tersebut. Kakashi tidak suka mendengar kata-kata itu keluar dari bibir yang rasanya selalu manis setiap kali lidahnya mengecapnya.

Kakashi terus berdiri di tempat mengawasi Hanare yang sibuk menata diri. Pria itu sesekali mengernyitkan dahinya, heran, ke mana kiranya wanita itu akan pergi. Dia memakai pakaiannya yang tadi seolah tidak ada pakaian lain dan tanpa riasan – jangankan riasan, bahkan rambutnya tidak ia sisir dan malah digulung meski jelas rambut itu masih basah.

Hanare celingukan, mencari di mana sepatu hak tingginya yang tadi ia pakai untuk sampai ke apartemen itu. Kakashi melihatnya lebih dulu dan beranjak untuk mengambilkannya. Baru tangan itu terulur, tiba-tiba tangan Hanare dengan cepat menyambarnya mendahului Kakashi. Pria itu kembali menoleh, memandang wanita itu yang terlihat terburu.

"Hanare,"

Panggilan Kakashi menghentikan pergerakan tangan Hanare yang tengah memakai sapatunya.

"Kau tidak sedang menghindariku, kan?" tanya Kakashi yang sukses membuat Hanare tersentak.

Wanita itu terdiam untuk beberapa waktu, sebelum kembali melanjutkan memakai sepatunya. Dan setelah siap dengan cepat dia menyambar tas tangannya untuk kemudian beranjak pergi.

"Hanare," panggilnya lagi, Hanare menghentikan langkahnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Kau tidak sedang menghindariku, kan?"

Hanare tidak menjawab, dia bahkan tidak berbalik untuk sekedar memberikan senyuman yang selalu berhasil membuatnya tenang.

"Kau tahu, aku tidak bisa tanpamu. Kau lihat tadi kan, bagaimana aku semudah itu hilang kendali. Kalau sekarang kau pergi bagaimana bisa aku tidur malam ini? Aku pasti tidak bisa memejamkan mata barang sedetik pun," ujarnya memelas.

Hanare menoleh dan kali ini dia memberikan senyumannya.

"Kau akan terbiasa," ucapnya lembut.

Namun Kakashi tidak bisa menerimanya. Dia tidak paham apa maksud Hanare dengan terbiasa.

"Hanare ... apa maksudmu? Apa maksudmu dengan terbiasa hah?"

Wanita cantik itu tidak menggubrisnya dan terus saja berjalan menuju ruang depan. Kakashi terus membuntut dan menanyakan hal yang sama.

Hanare tidak peduli. Bukankah Yugao adalah perawat? Maka mungkin wanita itu punya cara lebih baik untuk memberikan ketenangan bagi Kakashi. Mungkin dia punya cara lebih jitu yang berhubungan dengan medis untuk mengobati trauma Kakashi. Yugao adalah seseorang yang berpendidikan dan wanita baik-baik, jadi Hanare merasa tenang bila harus menyerahkan Kakashi padanya.

Dan setelah langkahnya menginjak lantai luar apartemen, wanita itu pun pergi. Kakashi terdiam melihat pintu apartemennya tertutup. Dirinya menghela nafas dan berbalik dengan lunglai menuju kamarnya. Mungkin dirinya harus mencoba tidur sendiri malam itu. Yah, hanya malam ini saja pasti dia bisa.

Kakashi berbaring di tempat tidur king size yang terasa begitu luas bila harus ia tiduri sendiri. Tidak apa hanya malam ini. Matanya menatap ke langit-langit ruangan, menerawang menikmati kesenyapan. Sunyi, ruangan yang besar itu ditempatinya sendiri. Tidak apa hanya malam ini. Kakashi berguling ke samping, mencoba mencari kenyamanan dan kehangatan, namun yang ditemukannya hanya guling. Tidak apa hanya malam ini.

Terus Kakashi mencoba menenangkan dirinya dengan memikirkan hal-hal yang baik, namun bukannya tenang, dia semakin tidak bisa tidur. Hingga tanpa terasa waktu sudah berlalu dan langit di timur telah memerah menandakan sang surya siap memulai harinya. Kakashi membuang nafas, fix, dirinya tidak tidur barang sedetik pun malam itu.

Pria Hatake itu turun dari tempat tidurnya untuk segera bersiap bekerja. Meskipun tubuhnya sedikit kurang fit, tapi dia tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya apalagi membuat waktu murid-muridnya terbuang sia-sia karena dirinya yang tidak hadir. Maka dengan segera ia mandi dan membersihkan dirinya.

Setelah selesai dengan ritual paginya, dia langsung beranjak mengambil pakaian di lemari besarnya. Dibukanya dua pintu lemari itu secara bersamaan ...

Ya Tuhan ...

Kakashi merutuki dirinya. Sudah berapa lama dia tidak mengecek isi lemarinya? Tentu sudah sangat lama karena biasanya Hanare sudah menyiapkan pakaian dan sepatunya. Sekarang dirinya baru sadar bahwa dalam lemari besar itu hanya berisi pakaiannya. Tidak ada lagi pakaian milik Hanare bahkan satu helai pun. Juga tidak ada barang-barang lain milik wanita itu seperti sepatu, tas, bahkan alat make up.

Tubuh Kakashi menjadi lemas. Dirinya jatuh berlutut. Kepalanya menunduk. Kalau begini artinya Hanare tidak akan kembali malam nanti. Tidak, mungkin dia tidak akan pernah kembali lagi. Jadi, wanita itu sudah mengambil keputusannya sejak jauh-jauh hari.

.

.

Angin musim dingin berhembus perlahan. Seorang gadis memejamkan matanya menikmati hembusan angin menerpa wajahnya. Dirinya duduk bersandar pada dinding gedung belakang sekolah dengan kotak bekal berada di pangkuan. Syal dan jaket sedikit menghangatkan tubuhnya.

"Hoi!"

Sapaan suara bariton seseorang menyentaknya. Mata bulan itu terbuka dan menoleh pada si pemilik suara yang kini berdiri di sampingnya.

"Sasuke-kun?" ucapnya lembut.

Sasuke mengangguk sedikit menanggapi sapaan balik gadis yang tidak lain adalah Hinata.

"Apa-apaan kau ini, bukannya makan malah tidur," kata Sasuke.

Hinata tersenyum.

"Aku tidak tidur, aku sedang menunggu Naruto-kun," jawab Hinata santai.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Menunggu Dobe? Memang ke mana dia?" tanya Sasuke.

"Dia harus menemui Sakura-chan dulu. Katanya ada yang perlu dibicarakan. Lalu setelah itu kita akan makan bekal bersama," ujar Hinata dengan senyuman bahagia.

Sasuke mendengus kesal.

"Dan kau percaya?"

Hinata menoleh begitu mendengar pertanyaan sinis Sasuke.

"Kenapa kau berkata begitu?" tanya Hinata balik.

"Sudah berapa lama kau menunggu? Waktu istirahat sudah hampir habis. Aku bahkan sudah menghabiskan bekalku sejak tadi. Sebentar lagi sudah akan masuk," ujar Sasuke.

Hinata tersenyum lagi seolah tidak terpengaruh apa pun.

"Aku akan menunggunya sebentar lagi," jawabnya tetap tenang.

Sasuke menghembuskan nafas lelah. Dasar keras kepala, begitu fikirnya.

"Aku temani," ucap si pemuda Uchiha seraya ikut duduk bersandar di samping Hinata.

Keheningan terjadi dan gadis itu mulai membuka kotak bekalnya. Mungkin dia akan memakannya sedikit untuk mengganjal perutnya agar tidak berisik. Sasuke melirikan matanya mengawasi setiap pergerakan Hinata.

"Hinata," panggilnya.

Gadis itu menoleh sambil mulutnya penuh mengunyah sosis bakar. Sasuke tertawa lirih melihat pipi tembam itu sekarang tambah tembam. Hinata memiringkan kepalanya ingin tahu, membuat dirinya bertambah imut.

"Sebaiknya ...," Sasuke menjeda ucapannya membuat Hinata semakin penasaran.

Pemuda itu menoleh.

"Sebaiknya kau tidak perlu membuatkanku bekal lagi," ujarnya.

Bola mata keunguan itu berkedip beberapa kali, tidak percaya mendengar kalimat Sasuke.

"Kenapa?" tanyanya bingung. "Apa bekalku hari ini tidak enak?"

Sasuke menggeleng.

"Tidak, rasanya selalu sama, tidak pernah berubah, selalu enak," ujar Sasuke.

"Lalu apa karena rasanya selalu sama mangkanya kau bosan?" tanya Hinata sedikit merasa kecewa.

"Bosan?"

Sasuke segera membalik tubuhnya menghadap Hinata.

"Kau fikir aku bisa bosan merasakan rasa masakan itu? Kau yang paling tahu Hinata kenapa aku begitu menyukai bekal buatanmu. Aku sudah memberitahumu sebelumnya bukan? Alasan mengapa aku menyukai bekal buatanmu itu karena ...,"

Tanpa sadar Sasuke telah memajukan dirinya dan kini jarak antara keduanya begitu dekat. Onyx dan amethys itu saling memandang.

"Karena ...,"

"Hinata!"

Suara maskulin seseorang menyentak keduanya. Hinata mengalihkan pandangannya, Sasuke menoleh, dan keduanya mendapati Naruto berdiri di sana. Pemuda itu langsung membuang wajahnya begitu menyadari bagaimana posisi Sasuke yang begitu dekat dengan Hinata.

"Ada kau juga Teme," ujarnya terdengar nada tidak suka di sana.

Sasuke menarik dirinya dan segera bangkit dari duduknya.

"Aku ke kelas dulu," pamitnya, entah pada keduanya atau hanya pada gadis itu saja.

Hinata mengangguk. Sementara Naruto menampilkan ekspresi kesal.

Pemuda Uchiha itu sempat menepuk pundak Naruto sebelum meninggalkan dua orang itu di sana.

Setelah kepergian Sasuke, Naruto mencoba tersenyum pada gadis itu.

"Maaf Hinata, aku sudah membuatmu menunggu," ujarnya.

"Tidak apa-apa. Jadi apa sudah selesai?" tanyanya.

"Ya, sudah," jawab Naruto singkat.

Hinata berdiri dari duduknya untuk mendekat pada sang kekasih.

"Mungkin sebaiknya kita ke kelas. Sebentar lagi masuk. Ayo!" ajaknya.

"Ah, Tunggu!"

Dengan cepat Naruto menarik tangan Hinata membuat gadis itu bertanya-tanya. Naruto menarik kembali tangannya. Pemuda itu seperti tengah memikirkan suatu hal.

"Ada apa Naruto-kun?" tanya Hinata.

"Hmmm ... ano, apa ... sepulang sekolah ini ... hmmm ... kita bisa per-gi ber-sa-ma ...?" tanyanya ragu-ragu.

Hinata menaikkan alisnya, tidak percaya dengan permintaan itu.

"Apa tidak apa-apa? Bukankah biasanya setelah pulang sekolah Naruto-kun sibuk?" tanyanya balik.

Seingat gadis itu, Naruto selalu menolak untuk pulang bersama dengan alasan dia sibuk membantu renovasi kedai milik Iruka.

"Err ... hari ini tidak," jawab pemuda itu.

Hinata sedikit menimbang sebelum kemudian dia mengangguk setuju.

Naruto tersenyum senang mendapat persetujuan dari sang gadis.

"Bagus kalau begitu," ujarnya senang dan lega.

Hinata melirik kotak bekal yang digenggamnya. Dia buka kembali kotak yang tadi telah ditutupnya dan masih menyisakan banyak makanan di sana. Dia ambil satu sosis bakar untuk kemudian dia sodorkan pada Naruto.

"Mau?" tawarnya.

Naruto terdiam sebentar sebelum kemudian dia tersenyum dan langsung menuntun tangan mungil Hinata untuk menyuapinya langsung. Gadis itu sedikit tersentak, termasuk saat pemuda itu menjilati jemari lentik milik Hinata yang berlumur sedikit saus dan mayonaise, Hinata langsung menarik tangannya. Entah, kenapa dirinya merasa hal tersebut tidak benar.

Naruto menyeringai senang melihat wajah Hinata yang memerah malu.

"Enak ...," ucapnya yang semakin membuat Hinata merona.

.

.

"Apa? Kau meninggalkan Hinata dan datang ke sini?"

Masih teringat difikirannya saat Sakura memandangnya tidak percaya.

"Aku tidak meninggalkannya. Aku meminta dia menunggu sebentar. Setelah aku menyelesaikan ini, aku akan kembali padanya," ujarnya seraya berbalik membelakangi Sakura untuk mulai mengecek mobil yang sedang dikerjakan gadis itu sebagai projeknya.

"Tunggu!"

Sakura menarik bahunya untuk membuat dirinya kembali menghadap gadis itu.

"Kau itu tahu tidak sih, Hinata ingin makan bekal bersamamu," ujar Sakura dengan nada kesal.

"Iya, aku akan makan bekal bersamanya setelah selesai membantumu," ujar Naruto.

"Seharusnya kau tidak usah ke sini dan temani Hinata makan bekal. Dia selalu ingin menghabiskan waktu istirahat bersamamu,"

Sakura menurunkan volum suaranya, namun terdengar nada kecewa di sana.

"Tapi kau kan butuh bantuanku," ujar Naruto lagi.

"Kan sudah aku bilang sebelumnya. Aku tidak sepenuhnya butuh bantuanmu, Naruto. Aku hanya minta saranmu. Dan kau tidak perlu membantuku mengerjakan projekku," kata Sakura marah.

Dirinya terdiam. Dia tidak paham kenapa Sakura semarah itu. Padahal dia kan hanya ingin memabantu, tapi kenapa gadis musim semi itu malah marah padanya.

"Kau harus minta maaf pada Hinata," ucap Sakura lagi.

"Tentu, aku pasti akan minta maaf nanti,"

"Bukan! Bukan minta maaf yang seperti itu. Kau harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Hinata senang,"

"Aku tidak paham maksudmu,"

"Maksudku, kau harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu. Ya… seperti mengajaknya jalan-jalan mungkin,"

.

Lalu di sinilah dia sekarang, duduk di bangku bioskop menonton sebuah film action bersama gadis Hyuga itu di sampingnya. Naruto mencoba mengikuti saran Sakura untuk menebus kesalahannya tadi yang sudah meninggalkan Hinata saat waktu istirahat dengan mengajak gadis itu jalan-jalan. Tampaknya sangat berhasil karena gadis berambut indigo itu terlihat senang. Hinata tampak begitu antusias melihat semua adegan yang ditampilkan sang tokoh utama dalam film. Mungkin karena itu adalah film favorit gadis itu.

Naruto mencatat dalam fikirannya, Hinata menyukai film bergenre action. Sebenarnya dirinya sedikit terkejut saat Hinata menolak mentah-mentah saat Naruto menawarinya menonton film drama percintaan. Saat itu dirinya langsung bisa bernafas lega, untunglah genre film kesukaan keduanya sama.

"Terima kasih Naruto-kun sudah mengajakku menonton film ini," ucap Hinata senang saat keduanya baru keluar dari gedung bioskop.

"Kau senang?" tanya Naruto sambil melihat pada kekasih manisnya itu.

"Tentu, aku sudah menonton film ini dua kali bersama Neji-nii, tapi baru kali ini aku merasa sesenang ini," ungkap Hinata jujur.

Naruto tersenyum, dirinya dapat bernafas lega karena tujuannya untuk membuat Hinata senang akhirnya berhasil.

Kini keduanya tengah berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Meskipun keduanya berjalan berdampingan, namun tidak ada tanda-tanda kemesraan antara keduanya. Tidak saling bergandengan tangan layaknya kekasih kebanyakan. Keduanya juga tidak banyak bicara selama jalan berdua. Hanya sesekali mereka akan saling melempar senyum bila pandangan keduanya dipertemukan, seperti tampak canggung satu sama lain.

"Naruto-kun, kemarilah! Lihat ini!" panggil Hinata riang saat keduanya mampir di sebuah toko aksesoris.

"Lihat, bukankah ini indah?"

Tunjuk gadis itu pada sepasang gelang perak dengan bandul bintang dan bulan.

Naruto sempat menaikan alisnya melihat benda sepasang yang bagi gadis itu terlihat indah. Pemuda itu hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi.

"Bagaimana kalau kita beli ini dan memakainya bersama?" tawar Hinata antusias.

"Eh?" Naruto sedikit terkejut mendengar keinginan bersemangat itu. "Eh, tapi Hinata, gelang itu kan untuk perempuan. Tidak pantas bila dipakai laki-laki sepertiku," tolak Naruto halus.

"Ah, eumm … benar juga ya …,"

Hinata terdiam dan menunduk, tampak sedikit kecewa. Melihat kekecewaan di wajah Hinata, membuat Naruto merasa tidak enak.

"Ah, tapi kalau kau ingin membelinya tidak apa-apa. Kalau kau yang pakai pasti bagus," ucap Naruto mencoba menyenangkan.

Hinata tersenyum.

"Tapi ini kan sepasang, Naruto-kun," katanya ringan. "Sudahlah, tidak usah. Ayo kita pergi saja," ajak Hinata beranjak meninggalkan toko aksesoris tersebut.

Naruto melihat sebentar pada sepasang gelang tadi yang tampak berkilauan. Namun kemudian dia hanya mengangkat bahunya sebelum ikut beranjak menyusul langkah Hinata.

Keduanya kembali berjalan. Sekarang Hinata berjalan sedikit di depan sedangkan Naruto mengikuti di belakang. Gadis itu sesekali menoleh pada pemuda kekasihnya itu sambil memberikan senyuman manisnya yang dibalas senyuman yang tampak sedikit canggung. Manik keunguan itu sempat menangkap sebuah mesin foto instan yang begitu disukai banyak para remaja seumuran mereka. Hal itu membuat dirinya kembali merasa antusias.

"Naruto-kun!" panggil gadis itu lagi pada kekasihnya.

Pemuda Uzumaki itu pun melangkah mendekati sang gadis.

"Lihat! Ada mesin foto instan, bukankah itu bagus untuk dicoba?" katanya semangat.

Naruto melihat sebentar pada tempat di mana terdapat mesin foto instan yang kini tengah ramai oleh para remaja seumuran mereka.

"Hmmm, aku tidak begitu suka difoto," ujar Naruto jujur. "Lagipula, kita kan punya ponsel, kalau kita ingin berfoto, kita bisa pakai kamera ponsel,"

Hinata sempat mematung sejenak mendengar penuturan yang mengandung kata-kata penolakan di dalamnya sebelum kemudian ia paksakan dirinya tersenyum.

"Kau benar," ucapnya sambil tersenyum, menutupi segala perasaan di hatinya. "Kalau begitu Naruto-kun, bagaimana kalau kita keluar dari sini? Aku ingin menghirup udara segar,"

Mendengar ajakan Hinata, Naruto pun mengangguk setuju. Lagipula dirinya tidak begitu suka berjalan-jalan di tempat ramai seperti itu.

.

"Kau tunggu sebentar di sini ya, aku akan belikan minuman," kata Naruto saat mereka di taman dekat pusat perbelanjaan.

Hinata mengangguk. Gadis itu pun kemudian duduk di atas ayunan sambil atensinya mengikuti langkah kaki Naruto yang berlari ke pinggiran taman di mana terdapat mesin penjual otomatis di sana.

Hinata mengeratkan mantel cokelat serta syalnya, rasanya udara semakin dingin saja. Manik amethyst nya menatap lurus pada langit yang kian memerah menggambarkan senja.

"Haaah, mungkin di sini lebih baik," gumamnya sambil menghembuskan nafas lelah.

Beberapa detik kemudian, dirinya dikejutkan dengan sentuhan hangat di pipinya.

"Kyaaa!"

Hinata menoleh, ternyata Narutolah pelakunya yang menempelkan kaleng minuman hangat di pipi gembilnya.

"Naruto-kun, kau mengagetkanku," keluhnya sambil memajukan bibir tipisnya.

"Hehehe … maaf. Ini aku belikan teh hangat," ujar Naruto sambil menyerahkan satu kaleng teh olong.

"Terima kasih,"

Pemuda berambut cerah itu pun ikut duduk di satu ayunan tersisa di samping Hinata. Setelah meminum sedikit tehnya, gadis Hyuga itu kembali menengadah menatap langit dan itu tidak luput dari mata biru shappire Naruto.

"Kau tahu kenapa langit itu indah?" tanya Naruto tiba-tiba pada gadis itu.

Hinata tersentak dan menoleh. Tampak di wajahnya ekspresi tidak mengerti dan penasaran. Naruto tersenyum sebelum menjawab.

"Itu karena kita melihatnya dari bawah," ujarnya asal.

Hinata semakin tidak paham.

"Naruto-kun …," panggil Hinata lirih. Naruto menoleh, "Bukankah kalau kita dari atas, artinya kita sudah ada di langit? Lalu untuk apa kita coba melihat langit lagi?" tanya gadis itu bingung.

"Eh?!"

Naruto terkejut dengan kata-kata Hinata, sebelum akhirnya dia menyadari bahwa alasannya tadi memang tidak logis.

"Hahaha… kau benar Hinata. Aku tadi hanya ingin bercanda, habis kau serius sekali melihat langitnya. Hehehe …," Naruto garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Hinata tersenyum, senang karena Naruto kembali bersikap biasa padanya. Seharusnya dia seperti itu sejak tadi atau sejak kemarin-kemarin dan berhenti membuat Hinata cemas.

"Kau tahu," ucap Hinata. "Menurutku kenapa langit itu indah, itu karena langit tidak sombong,"

Naruto terdiam, mencoba mencerna ucapan Hinata. Lagi-lagi gadis itu membuat kalimat yang sulit dimengerti.

"Hah? Maksudmu?" tanya Naruto bingung.

Hinata kembali menunjukkan senyuman khasnya sebelum mata seindah bulan purnama itu kembali menatap langit yang kian berubah nila.

"Langit itu tidak sombong. Meskipun dia jauh, tinggi, dan mustahil untuk digapai, tapi langit menunjukkan pada kita yang melihatnya bahwa ia dekat,"

Naruto terdiam, tertegun meresapi setiap kata-kata yang terucap dari bibir pink Hinata.

"Meskipun langit menyimpan ratusan, ribuan, bahkan bermilyar benda langit, tapi dia menunjukkan pada kita kesederhanaannya. Dia hanya memperlihatkan bahwa dirinya hanya biru yang dihiasi kuning matahari dan seberkas awan putih di siang hari serta cahaya redup bulan dan bintang di malam hari. Langit selalu menunduk ke bawah, membuat kita yang melihatnya sangat nyaman. Langit tidak pernah menunjukkan kehebatannya, meski sebenarnya dia sangat agung. Itulah yang membuat langit sangat indah,"

"Seperti dirimu,"

"Eh?!"

Ucapan tambahan yang datang tiba-tiba dari Naruto membuat Hinata tersentak tidak percaya. Pemuda itu menatapnya lurus membuat mata keunguan Hinata sedikit membulat terkejut.

"Kau seperti langit, tidak pernah sombong meskipun begitu banyak hal istimewa ada dalam dirimu. Meskipun kau memiliki kehebatan, tapi kau selalu menunjukkan kesederhanaan. Itulah yang membuatmu indah seperti langit, Hinata,"

Wajah gadis berambut indigo itu memerah, panas. Dirinya menunduk malu, tidak percaya akan mendengar pujian yang datang langsung dari pemuda itu.

"A-aku, tidak … tidak se-in-dah la-ngit ….," ujarnya malu-malu.

Naruto tertawa lirih, membuat Hinata melirik sedikit padanya.

"Kau memang tidak seindah langit, tapi kau manusia paling indah," kata Naruto yang membuat wajah Hinata semakin memerah padam. "Aku yakin banyak orang mengagumimu,"

Dengan cepat gadis itu menoleh. Amethyst itu memandang tajam ke arah shappire.

"Tapi kau bukan salah satunya kan, Naruto-kun?" ucap batinnya.

Namun kemudian dia mencoba untuk tersenyum. Menampilkan senyuman terbaik seperti halnya langit yang selalu berusaha menampilkan warna terbaik di setiap waktunya. Hinata menutupinya dengan senyuman lebar.

"Aku tidak sehebat itu. Hehehe …" katanya sambil terkekeh.

Naruto ikut tertawa.

Keduanya tidak lagi membicarakan langit. Untuk beberapa waktu keheningan sempat menyergap kedua insan yang masih duduk di ayunan taman sambil menatap senja yang hampir berakhir. Hingga Hinata kembali membuka konversasi.

"Aku dengar dari Neji-nii, beberapa hari lalu kalian menemui Kakashi-sensei?" tanyanya.

"Ya, begitulah. Aku sendiri terkejut, ternyata dia adalah anak dari Shiroi Kiba. Dunia terasa sempit sekali bila aku mengingat itu," jawab Naruto.

Hinata mengangguk. Dirinya juga berfikir demikian saat pertama kali mengetahui bahwa ayah Naruto dan Sasuke adalah teman ayahnya saat muda. Betapa dunia sangat sempit.

"Hihihi… aku teringat Neji-nii yang katanya sangat terkejut saat melihat wajah Kakashi-sensei yang tanpa masker. Dia bilang sensei sangat tampan. Aku jadi penasaran," kata Hinata lagi sambil terkikik geli.

"Kau ingin lihat?" tawar Naruto sambil segera mengeluarkan ponselnya dari tas.

"Kau punya fotonya?"

"Uhm, aku punya satu fotonya,"

Naruto menunjukkan pada Hinata foto Kakashi yang pernah diambil Shikamaru diam-diam dulu, foto Kakashi yang berciuman dengan Hanare.

Wajah Hinata kembali memerah melihat foto itu. Tapi gadis Hyuga tersebut begitu ingin tahu wajah utuh sang sensei.

"Eh, siapa wanita ini?" tanya Hinata menunjuk gambar Hanare.

"Oh, ini Hanare-san,"

"Ooh… jadi ini wanita yang diceritakan Neji-nii,"

Naruto sedikit mengangkat alisnya terkejut, tidak percaya Neji akan bercerita banyak hal tentang pertemuan malam itu.

"Iya, Neji-nii bercerita, katanya kasihan sekali wanita bernama Hanare itu. Dia terlihat menyukai sensei," cerita Hinata.

"Hah? Suka? Tidak mungkin. Hahaha ….,"

Naruto tertawa, membuat Hinata semakin heran.

"Maksudnya?"

"Ya, tidak mungkin. Hanare-san itu wanita penghibur. Paling dia hanya mencari kepuasan bersama sensei. Lagipula Kakashi-sensei hanya menjadikannya sebagai alat untuk mencari informasi. Sudah jelas kan, kalau wanita yang disukai Kakashi-sensei adalah Yugao-sensei, bukan Hanare-san," ujar Naruto.

Hinata terdiam. Kepalanya menunduk, terlihat ekspresi sendu di wajahnya.

"Begitu ya … Kalau begitu Hanare-san sangat hebat," ucapnya.

"Apa? Hanare-san hebat?" Naruto tidak mengerti. "Hinata, tentu saja yang hebat itu Yugao-sensei. Dia itu perawat, yah meskipun dia bekerjanya di sekolah sih. Sedangkan Hanare-san hanyalah penari di kl – ,"

Hinata menggeleng cepat, membuat Naruto menghentikan ucapannya.

"Maksudku bukan hebat yang seperti itu," jawab sang gadis Hyuga.

Hinata kembali menunduk menatap rumput taman yang layu di musim dingin.

"Maksudku … dia hebat bisa tetap bertahan di samping sensei, meski sebenarnya dia tahu bahwa dia tidak akan pernah jadi siapa-siapa untuk sensei. Aku tidak tahu, tapi … bila aku jadi dia … mungkin aku sudah menyerah,"

Naruto terdiam. Dinginnya angin musim dingin tidak mampu membekukannya. Tapi kata-kata sendu gadis itu telah mampu membuatnya mematung.

"Tapi kau … kau tidak akan pernah ada di posisi seperti dia kan?"

Hinata menoleh kala mendengar kalimat itu dari Naruto.

"Maksudku … kau itu hebat, semua orang menyayangimu, jadi kau tidak akan mungkin merasakan seperti yang Hanare-san rasakan," ujar Naruto lagi.

Hinata memalingkan wajahnya. Kembali ia menunduk menatap ujung sepatunya. Dirinya tidak mengerti. Mungkin keadaannya tidaklah seburuk Hanare, tapi dia juga tidak bisa berkata bahwa ia tengah baik-baik saja.

Naruto memandang wajah Hinata dari samping. Pemuda itu tidak paham kenapa gadis itu bisa seemosional ini saat membahas tentang Hanare. Dirinya menghela nafas sebelum mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

"Kau tahu, ada hal yang membuatku sedikit kesal setelah pertemuan itu," ujar si Uzumaki mencoba mencairkan kembali suasana.

"Kesal? Kenapa?"

Hinata merespon, Naruto kembali bernafas lega.

"Iya, jadi …..,"

Naruto menceritakan semua hal yang anggota tim mereka serta Neji diskusikan setelah pulang dari rumah Kakashi. Dia masih tidak terima dengan keputusan Shikamaru.

"Tapi menurutku itu keputusan yang bijak,"

Naruto menunjukkan ekspresi tidak percaya mendengar Hinata yang setuju dengan Shikamaru.

"Shikamaru-kun benar, kita tidak tahu musuh seperti apa yang kita hadapi. Dan itu akan sangat berbahaya bila identitasmu ketahuan. Kau pasti belum lupa kan dengan apa yang pernah terjadi padaku?" jelas Hinata.

Naruto terdiam, tidak jadi membantah setelah kalimat terakhir Hinta. Tentu dirinya tidak lupa, tapi ….

"Tapi setidaknya biarkan aku bertanya pada Sabaku. Mereka kan juga anak-anak yang jadi korban sama sepertiku. Aku fikir itu tidak terlalu berbahaya," ucap Naruto sedikit tidak terima.

"Hmmm … ngomong-ngomong soal Sabaku, seingatku malam ini Kamaitachi akan balapan," ujar Hinata dan sukses menuai keantusiasan dari pemuda itu.

"Balapan?"

"Iya. Yaaah, balapan biasa sih, tapi kalau Temari-san yang balapan pasti akan ramai," kata Hinata lagi.

"Di mana balapannya?" tanya Naruto tidak sabar.

"Sebentar, aku cek dulu arenanya,"

Hinata mengeluarkan ponselnya dan mencari di internet lokasi yang menjadi arena balapan Kamaitachi alias Temari malam ini.

"Ah, ternyata dekat sini," pekik Hinata semangat.

"Benarkah?"

"Uhm, di arena 23. Mau ke sana? Aku fikir, meski tidak bisa mendekati Temari-san secara terang-terangan, mungkin kita bisa dapat sesuatu dari melihat balapannya,"

Naruto berfikir sejenak sebelum kemudian dia mengangguk setuju.

"Baiklah, ayo kita ke sana," ujarnya seraya bangkit berdiri.

'Kruyuuukk …'

'Kruyuuukk …'

Hinata terdiam.

Naruto terdiam.

Suara perut keduanya yang berbunyi bersamaan, membuat dua muda-mudi itu menunduk malu.

"Hehehe … kita ke sana setelah makan malam saja deh, Hinata,"

Hinata mengangguk malu-malu.

"Baiklah, ayo kita makan. Di mana?"

"Bagaimana kalau ramen," tawar Naruto.

"Aku suka ramen," jawab Hinata.

"Bagus kalau begitu. Ayo!"

Keduanya pun berjalan menuju kedai ramen terdekat untuk makan malam berdua untuk pertama kalinya. Meskipun itu bukan makan malam romantis, tapi setidaknya bisa membuat perut mereka kenyang dan berhenti berbunyi.

.

.

Seperti yang dikatakan Hinata, bila Kamaitachi yang ikut serta dalam balapan, maka akan sangat ramai. Buktinya arena 23 kini sudah dipadati oleh para penonton yang ingin melihat kehebatan seorang Temari. Ditambah lagi arena tersebut terletak di daerah yang katanya sudah menjadi rumah bagi tim Sabaku. Beberapa orang bermotor tampak hadir di tempat tersebut. Juga banyak dari mereka yang melakukan akrobatik motor, juga drag race dengan sepeda motor. Ini jelas membuktikan semua rumor yang beredar bahwa sebelum menjadi pembalap, Temari juga pernah menjadi ketua geng motor yang terkenal di distrik B. Dia juga yang mencetuskan bike racing beberapa tahun lalu di daerah tersebut.

Naruto dan Hinata sudah hadir di tempat tersebut. Keduanya masih mengenakan seragam KMS lengkap. Hanya saja mereka menutupinya dengan mantel untuk menghindari cuaca yang semakin dingin. Tidak nyaman sebenarnya, karena biasanya mereka memakai pakaian biasa bila di tempat seperti itu. Dan bila memakai seragam seperti saat ini, mereka akan dipandang sebelah mata karena dianggap masih anak sekolahan, anak kecil.

Tempat itu begitu padat dan bising dengan suara kendaraan dan sorak sorai para penonton atraksi. Naruto dan Hinata tidak bisa masuk ke dalam kerumunan itu. Mata biru Naruto menelusur ke setiap sudut tempat itu. Hingga ia menemukan di luar kerumunan dan letaknya cukup jauh dari sana, Shikamaru dan yang lainnya tengah berkumpul di bawah pohon rindang di mana mobil-mobil mereka diparkir. Tempat mereka berkumpul sangat gelap karena tertutupi bayang-bayang pohon rindang sehingga Naruto perlu menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas.

Tampak Shikamaru yang tengah tertawa-tawa sambil menghisap rokoknya. Di sampingnya, Sasuke yang duduk di atas kap mobil miliknya sambil memegang botol yang Naruto tahu itu pasti minuman keras. Di depan pemuda Uchiha itu, berdiri Sakura yang tampaknya sedang bercerita sangat heboh dan apa-apaan itu, gadis musim semi itu ikut-ikutan menghisap lintingan putih seperti Shikamaru. Naruto sebenarnya sudah tahu, kalau Sakura dan Ino, dua sekawan itu sudah biasa merokok dan minum-minuman keras. Hanya bedanya, Sakura belum pernah melakukan seks dengan siapa pun sedangkan Ino sudah. Tapi yang membuat Naruto semakin tidak percaya adalah, saat mata birunya melihat seseorang yang bersandar di pohon, Kiba, dia juga ikut-ikutan merokok. Ini pasti karena jerumusan Shikamaru. Dasar, si pemuda nanas itu memang tidak bisa dipercaya, fikirnya. Dan benar saja, di sana tidak ada Choji, jadi tidak ada yang membatasi si Nara. Setidaknya bila ada Choji, Shikamaru tidak akan berani melakukan hal yang berlebihan karena takut pemuda tambun itu melapor pada ayahnya.

Naruto menepuk jidanya dan menggeleng tidak percaya. Hinata menatap heran pada si pemuda yang berdiri di sampingnya.

"Ada apa Naruto-kun?" tanya Hinata.

"Ah, tidak. Aku melihat Shikamaru dan yang lain di sana,"

"Eh? Di mana?"

Sedikit lagi gadis Hyuga itu sudah akan menoleh ke tempat yang ditunjuk Naruto sebelum telapak tangan tan Naruto merangkum pipi gembilnya untuk kemudian menggiring wajahnya agar kembali menatap Naruto. Dan hal itu sukses membuat mata ungu Hinata membulat terkejut.

"Aku akan panggil mereka ke sini. Kau mau menunggu sebentar di sini kan, Hinata?" pinta Naruto agak sedikit terburu.

"Ah … I-iya …," jawab Hinata gugup karena dua telapak tangan Naruto masih menangkup pipinya.

"Baiklah, tunggu sebentar di sini ya, aku tidak akan lama," ujar Naruto sambil kemudian berlari.

Fikir pemuda itu, sebaiknya dia seret semua teman-temannya ke sana dan menyuruh mereka menghentikan semua kegiatan yang tidak baik itu. Dia juga tidak ingin Hinata melihat hal yang tidak-tidak yang dilakukan teman-temannya.

Manik amethyst Hinata mengikuti langkah Naruto yang berlari menghampiri anggota setimnya. Terlihat pemuda itu yang menyapa riang semuanya. Apalagi saat dia mencoba menggoda Sakura dengan menutup mata gadis itu dari belakang membuat Sakura kelabakan. Naruto tertawa cerah saat Sakura mencak-mencak marah padanya. Pemuda itu selalu terlihat ceria setiap kali berjalan ke arah gadis berambut pink tersebut. Tapi, setiap kali pemuda itu melangkah ke arahnya, dia terlihat seperti …. terpaksa?

Hinata tersenyum kecut. Ia alihkan kembali pandangannya ke depan di mana para pengendara motor itu masih melakukan atraksi. Matanya tertuju ke sana, tapi pikiran dan hatinya melayang jauh entah ke mana. Hingga dirinya dikejutkan oleh sebuah tangan seseorang yang tiba-tiba menarik pinggulnya.

"Kyaaaa!"

Hinata terpekik terkejut ketika dirinya dibawa ke dalam dekapan seseorang. Saat tatapannya tertuju untuk melihat siapa gerangan orang yang seenaknya menyentuh tubuhnya, Hinata semakin tidak sanggup lagi menahan keterkejutannya. Wajah penuh tindikan Pain lah yang berada begitu dekat dengan wajahnya.

"Kau ….,"

Pain menyeringai menang. Mata cokelat pria itu menelusuri setiap inci wajah putih mulus Hinata.

"Aku tidak percaya," Pain berucap dengan suara maskulinnya yang khas. "Aku tidak percaya akan bertemu denganmu di sini, Hinata … Oh tidak, maksudku … yang mulia Pangeran Byakugan,"

Pria berambut orange itu semakin melebarkan seringaiannya kala melihat Hinata yang menunjukkan wajah ketakutan.

"Aaaah!"

Hinata kembali terpekik ketika Pain semakin menariknya ke dalam dekapannya membuat tubuh keduanya semakin menempel.

Mata bulan Hinata melirik ke kanan, kiri, dan belakang tubuh Pain, semua anggota Akatsuki sudah berdiri mengepungnya. Tampaknya ia kembali dalam situasi yang tidak menguntungkan.

Pain memajukan wajahnya semakin dekat dengan wajah Hinata. Gadis itu berusaha memundurkan kepalanya untuk menghindar. Namun lagi-lagi Pain menariknya membuat Hinata kini dalam pelukan sang ketua Akatsuki. Wajah Pain kini berada di samping telinga Hinata. Dia berbisik dengan suara serak seksinya.

"Kau tahu, Hinata …," bisiknya. "Aku sangat takut saat melihatmu terluka waktu itu. Aku sangat takut saat … saat melihat dirimu yang berlumuran darah. Aku takut kalau aku tidak bisa lagi melihat wajah cantikmu, sayang. Aku takut aku tidak bisa menyentuh tubuhmu seperti ini lagi. Aku takut … Aku ….,"

Pain terus meracaukan hal yang tidak-tidak yang bagi Hinata sangat menjijikan.

"Aku menginginkanmu Hinata. Aku ingin kau jadi milikku. Aku menginginkan tubuh indahmu. Aku ingin menguncimu dalam kamarku, mengikatmu di atas tempat tidurku, dan membuatmu melayaniku, memuaskanku setiap hari sepanjang waktu,"

Hinata tersentak kala dirinya menyadari satu dari dua tangan Pain yang tadi melingkar dipinggangnya kini sudah turun ke bawah dan mulai menjamah bagian tubuh miliknya yang tidak pantas untuk disentuh. Dirinya juga terkejut ketika merasakan dingin di telinganya yang ternyata tengah dijilat beberapa kali oleh lidah Pain yang juga bertindik.

Hinata memberontak minta dilepaskan. Dirinya merasa kotor dan jijik. Sekuat tenaga ia coba dorong Pain dengan dua tangan mungilnya, namun pria itu mendekapnya dengan erat dan tidak ada niatan untuk melepaskan. Bahkan ia semakin gencar menjamah tubuh Hinata membuat gadis itu semakin brutal memberontak namun sia-sia.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU!" bentak Hinata sambil terus memukul-mukul dada Pain sekuat tenaga.

Anggota Akatsuki yang lain malah semakin senang melihat aksi ketua mereka. Semuanya menunjukkan seringaian mesum, kecuali Konan yang hanya memberikan tatapan datar. Sementara orang-orang lain di sekeliling mereka yang melihat kejadian itu hanya melihat sekilas tanpa ada niatan menolong atau ikut campur. Apalagi saat mereka melihat jaket seragam yang dikenakan anggota Akatsuki, tidak ada dari mereka yang ingin terlibat.

"LEPASKAN! LEPASKAN AKU, PAIN!"

Pain menghentikan kegiatannya. Terdiam sejenak sebelum pria itu dengan tiba-tiba mengurai pelukannya meski belum juga melepas Hinata. Satu tangannya masih melingkar di pinggang gadis Hyuga itu sementara satu tangannya lagi dia letakan di bahu mungil si gadis. Wajah Pain terlihat terkejut. Matanya menatap lurus Hinata di depannya.

"Kau bilang apa tadi?" tanyanya.

Hinata mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dimaksud orang itu.

"Apa yang kau katakan tadi?" ulang Pain.

Hinata terdiam, mencoba mencerna pertanyaan itu.

"Lepaskan aku," kata Hinata menjawab pertanyaan pria itu.

"Bukan itu," Pain menggeleng. "Kau sebut aku apa tadi?" tanya Pain lagi.

Hinata semakin tidak mengerti. Dia coba mengingat sebelum menjawab.

"Pain?" jawabnya ragu-ragu.

Tampaknya jawaban itu benar. Ketua Akatsuki itu tersenyum sambil sedikit memajukan wajahnya.

"Bisa kau ulangi?" pintanya dengan sangat.

Hinata membuang wajahnya ke samping mencoba menghindari tatapan Pain.

"Pa-Pain," ucapnya lirih.

Pain semakin melebarkan senyumannya.

"Ulangi lagi, Hinata. Ulangi …," pinta Pain lagi dengan suaranya yang semakin lirih dan serak.

Hinata menoleh, untuk kembali menatap Pain. Wajah pria itu sudah sangat dekat dengan wajahnya. Pandangan mata cokelat Pain menyayu dan entah mengapa Hinata merasa terhanyut ke dalamnya. Wajah gadis itu memerah entah karena tidak mampu menahan malu karena merasa direndahkan atau tidak mampu menahan gairah yang diberikan seorang pria dewasa seperti Pain. Apalagi saat satu tangan Pain yang bebas itu kini kembali mulai menjamah tubuh Hinata. Dada besar yang tidak seukuran dengan remaja kebanyakan milik gadis itulah yang menjadi sasaran utama. Tangan pria itu mengelusnya beberapa kali sebelum kemudian memutarnya dan meremas gundukan yang masih tertutupi pakaian lengkap itu.

Hinata menahan nafasnya kala menerima semua pelecehan itu. Dirinya tidak sanggup lagi. Tubuhnya panas, kakinya lemas, dan sudah tidak ada lagi tenaga untuk memberontak. Jantungnya berdegup kencang. Apalagi saat Pain kembali bersuara untuk kembali menggodanya.

"Hinata … Ulangi!" tuntutnya.

Dia memejamkan erat matanya, tidak sanggup lagi melihat wajah menjijikan Pain. Namun satu sentakan, saat Pain meremas dadanya kuat, membuat Hinata kembali membuka matanya dan dengan terpaksa dia menuruti permintaan Pain.

"Pa – akh ~!"

Suara Hinata tercekat ketika merasakan tangan Pain berpindah dari dadanya menuju bagian bawah tubuhnya. Dengan nakal tangan itu meremas-remas bagian itu dari balik rok sekolahnya.

"Ayo, katakan!" perintahnya sambil menyeringai mesum.

Nafas Hinata memburu. Tubuhnya benar-benar panas. Dia tidak ingin menuruti Pain, tapi bila begitu, orang itu pasti akan semakin mempermainkan tubuhnya.

"Pa-Pain … akh ~"

Pain semakin melebarkan seringaiannya. Melihat Hinata yang sudah tergoda olehnya, membuat dia tidak bisa lagi menahan diri.

"Bagus Hinata …," ucapnya. "Terus sebut namaku seperti itu. Sebut namaku setiap hari, setiap waktu. Dan aku berjanji, segera kau akan meneriakan namaku berkali-kali di bawah kukungan tubuhku saat kau terpuaskan …,"

Hinata mendangak menatap Pain dengan matanya yang sayu. Tampak di mata Pain, gadis itu menginginkan sentuhan lebih. Wajahnya yang semakin memerah dan pandangannya yang tidak fokus, membuat pria itu semakin bergairah. Pain semakin mendekatkan wajahnya.

Hinata ingin memberontak, tapi anehnya tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia tidak berdaya dibawah semua sentuhan Pain yang membuat dirinya jatuh dalam genggaman pria itu. Tangan mungilnya yang sejak tadi ia gunakan untuk memukul-mukul dada Pain, kini malah bertengger lemah di sana. Dirinya seperti dihipnotis. Dalam hati dan fikirannya dia hanya bisa berharap bahwa ada seseorang yang akan datang menyelamatkannya. Siapa saja, meski bukan Naruto sekalipun tidak masalah. Asal orang itu bisa membantunya lepas dari iblis bernama Pain ini.

Wajah pria itu sudah sangat dekat. Hanya tinggal seinci lagi dia sukses menyatukan bibirnya dengan bibir mungil Hinata. Gadis Hyuga itu sudah menutup mata bulannya rapat, tidak sanggup menyaksikan apa yang akan terjadi padanya selanjutnya. Tapi tiba-tiba dalam satu gerakan cepat, gadis itu terpekik terkejut ketika sebuah tangan menariknya menjauh dari Pain. Dan tangan itu menggantikan tangan Pain melingkar di pinggangnya.

Dengan segera Hinata menoleh ke samping dan mendapati Naruto berdiri di sana. Tangan kanan pemuda itu melingkari pinggangnya. Sedang tangan kirinya terentang menahan tubuh Pain.

"Bisa kau jauhi KEKASIHKU, Pain?" ucapnya dengan menekankan kata 'kekasih'.

Pain terkejut saat tiba-tiba Hinata ditarik darinya, tapi dia lebih terkejut lagi saat mendengar kalimat Naruto barusan. Dalam hatinya merutuk, mengumpat, pada si pemuda Uzumaki yang selalu merusak kesenangannya. Anggota Akatsuki siap maju untuk menghajar Naruto yang sudah dengan seenaknya mengacaukan usaha bos mereka untuk mendapatkan Hinata sebelum langkah mereka harus terhenti karena Shikamaru, Kiba dan Sasuke yang bagaikan benteng langsung melindungi sepasang kekasih tersebut.

Naruto dan Pain masih saling berhadapan. Keduanya melancarkan tatapan benci satu sama lain.

"Kekasih?" Pain bertanya seolah menginginkan penegasan.

Naruto tersenyum menang.

"Ya, Hinata adalah kekasihku," katanya sambil menarik Hinata lebih dekat ke dalam dekapannya.

Gadis itu sampai terkejut karena sebelumnya Naruto tidak pernah melakukan kontak fisik seintim ini padanya. Bahkan pegangan tangan pun mereka tidak pernah.

"Cih, jadi itu jawabanmu untuk pernyataannya saat di puncak jalur rahasia?" tanya Pain dengan nada sedikit remeh.

"Ya, itu jawabanku. Dan sekarang kami pacaran," ungkap Naruto penuh percaya diri.

Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali melihat sisi wajah pemuda itu. Dia mencoba menyadarkan dirinya sendiri bahwa itu bukan mimpi atau halusinasi efek dari sentuhan Pain tadi.

Pain tertawa. Tawa yang terdengar sekali mengejek. Naruto mengerutkan dahinya tidak mengerti akan tingkah ketua Akatsuki itu. Pemuda Uzumaki itu tidak paham, apanya yang lucu hingga patut ditertawakan.

"Kau seharusnya tidak perlu memaksakan diri," ucap sang ketua Akatsuki yang membuat Naruto semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Memaksakan diri? Apa maksudmu?" tanyanya.

Pain semakin terkekeh.

"Ya, kau seharusnya tidak perlu memaksakan dirimu untuk menerima Hinata bila kau memang tidak suka,"

Hinata terperangah, mata ungunya menatap Pain tidak percaya.

Pai tersenyum miring mendapati ekspresi itu dari gadis yang sangat digilainya tersebut.

"Kenapa kau harus susah-susah berpura-pura menerima Hinata, hum? Apa kau ingin ikut tenar setelah tahu bahwa Hinata adalah Pangeran Byakugan? Hmmm… ku rasa tidak, karena dari apa yang aku lihat di puncak jalur rahasia, jelas kau sudah mengetahui perihal itu jauh sebelumnya. Kalau kau hanya ingin pacaran dengan seorang Pangeran Byakugan, maka seharusnya kau lakukan itu sejak dulu. Tapi nyatanya tidak kau lakukan. Jadi artinya bukan itu alasannya,"

Tangan kiri Naruto mengepal erat dan Hinata juga merasakan dekapan tangan kanan Naruto di pinggangnya semakin mengetat. Pemuda itu mencengkeramnya. Dia tolehkan wajahnya untuk menatap Naruto dan dilihatnya rahang pemuda itu mengeras, tatapan matanya menunjukkan amarah.

"Kalau begitu alasan yang jelas lainnya adalah ….," Pain melanjutkan, sengaja membuat Naruto semakin geram. "Karena kau merasa kasihan pada Hinata. Kau kasihan pada gadis itu yang terluka saat kecelakaan yang juga hampir mencelakaimu. Kau merasa bersalah hingga akhirnya dengan terpaksa kau menerimanya, kan?"

Pain melebarkan senyuman penuh ejekannya, memberikan lebih banyak provokasi pada pemuda itu.

Naruto tetap mencoba tenang, tidak ingin termakan provokasi Pain.

"Kau tidak tahu apa-apa, jadi sebaiknya kau diam saja. Aku sudah menerima Hinata dan aku menyukai Hinata," ujarnya dengan suara tenang.

Hinata terus memperhatikan pemuda itu dan Pain bergantian. Dia tidak tahu yang mana yang harus ia percayai. Meski jauh di dalam hatinya dia sudah menduga-duga.

Pain terkekeh lagi.

"Tidak tahu apa-apa? HAHAHA …," Pain tertawa keras, membuat semua perhatian tertuju padanya.

"Tidak tahu apa-apa ya … Hahaha … ya, ya, ya, terserah kau saja mau berkata seperti apa, Uzumaki," ujar Pain lagi yang membuat emosi Naruto semakin memuncak. "Tapi sayangnya aku tahu SATU hal yang pasti,"

Hinata menegang. Naruto terperangah, penasaran maksud dari perkataan Pain.

"Satu hal? Apa?" tanyanya.

Pain semakin tersenyum menang.

"Aku tahu satu hal," Pain mengacungkan satu jari telunjuknya. "Yaitu, bahwa …. Perasaanmu – Belum – Berubah,"

Naruto terdiam. Pain semakin yakin akan kemenangannya.

"Jadi," lanjutnya. "Kalau kau mengatakan bahwa kau menyukai Hinata, maka ….,"

Pain menjeda ucapannya hanya untuk melihat ekspresi gadis yang tampak membeku didepannya.

" …. rasa suka itu hanyalah rasa suka sebagai …. Teman,"

Telak. Naruto kalah. Dirinya terdiam tanpa mampu menjawab. Rangkulan di pinggang Hinata terlepas begitu saja membuat gadis itu tersentak dan dengan cepat menoleh ke sampingnya. Pain tersenyum miring. Dirinya berhasil memukul telak musuhnya. Dia menang.

Hinata membulatkan matanya lebar, tidak percaya karena Naruto membeku, terdiam seribu bahasa. Pemuda itu tidak lagi menyangkal, tidak lagi menjawab, bahkan dia tidak berusaha berbohong. Hinata merasakan lemas di kakinya, bukan lemas seperti tadi saat dirinya disentuh Pain, tapi lemas karena kecewa. Semua bahasa tubuh Naruto, sikap Naruto, ekspresi di wajah Naruto, seolah menjawab semua dugaan di hatinya.

Sasuke dan Kiba, dua pemuda itu melihat lurus pada Hinata yang tampak shock menerima sikap si pemuda Uzumaki. Kedua orang itu hanya bisa ikut diam. Mereka tidak punya hak untuk ikut campur urusan Naruto dan Hinata. Sementara Shikamaru, sudah gatal tangannya ingin menghajar Pain. Seharusnya sudah cukup, jangan dikatakan di depan Hinata. Si jenius Nara itu juga sudah tahu semuanya, tapi kan tidak harus menyakiti gadis baik hati itu dengan mengungkap semuanya. Sedangkan Sakura yang berdiri di belakang Shikamaru, gadis itu tidak paham apa maksud Pain. Baginya hubungan Naruto dan Hinata baik-baik saja.

Gadis Hyuga itu masih menunggu, berharap Naruto akan mengatakan sesuatu. Tapi pemuda berambut kuning cerah itu malah menunduk dan masih tetap bungkam. Bahkan pemuda itu masih tidak mau menoleh dan melihat padanya.

"Hey! Ada keributan apa ini?!"

Suara melengking perempuan membelah keramaian yang entah sejak kapan sudah menjadikan tempat mereka berdiri sebagai pusatnya.

Temari berjalan ke arah mereka dalam balutan pakaiannya yang selalu berani. Hari ini dia mengenakan sweater rajut berwarna ungu yang panjangnya menutupi setengah paha. Selain itu dia tidak lagi mengenakan apa pun sebagai bawahan selain hot pants yang pendeknya bahkan sampai tidak bisa melewati panjang sweaternya. Melangkah dengan gaya angkuh. Menghentakkan sepatu boot hitamnya ke tanah. Rambut kuningnya ia kuncir empat seperti biasa.

"Uwaaah! Temari …,"

Mata cokelat Shikamaru sudah berbinar senang kala melihat sang pujaannya datang, sebelum sebuah tangan menutupi kedua matanya itu. Dengan kasar Shikamaru menghempaskan tangan tersebut yang ternyata milik Sakura. Dengan kesal dia menatap pada gadis musim semi itu.

"Berhenti berfikiran mesum di saat seperti ini, nanas!" bentak Sakura kesal.

"Iya, iya, iya," jawab si pemuda Nara malas.

Pain maju ke depan, dengan gaya seperti memberi hormat kepada seorang ratu, dia pun berkata.

"Maafkan aku Temari-sama, karena membuat keributan di wilayahmu. Di sini sedang ada sedikit masalah … Percintaan," ujarnya sambil memberikan senyuman menyebalkan.

Temari menaikkan sebelah alisnya dan saat mata tajam miliknya melihat pada seorang gadis yang berdiri di sana, dia sedikit menunjukkan perhatian.

"Waah …," ucapnya. "Betapa mengejutkannya, mendapati Pangeran Byakugan di sini,"

"Eh? Pangeran Byakugan? Benarkah?"

"Apa? Dia bilang Pangeran Byakugan?"

"Benarkah? Yang mana?"

"Bukankah itu? Gadis Hyuga itu,"

"He? Benarkah? Aku tidak menyangka dia seorang perempuan,"

"Ya, dan dia adalah gadis kecil,"

"Mengejutkan sekali,"

Dengungan suara orang-orang di sekitar yang mulai heboh membicarakannya. Beberapa ada yang menunjuk-nunjuk dirinya. Hinata tidak suka ini, dirinya jadi pusat perhatian. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Sekarang semua pandangan tertuju padanya dan itu membuatnya tidak nyaman. Identitas dirinya sebagai Pangeran Byakugan yang terungkap, benar-benar hal yang paling menyebalkan baginya.

"Jadi, apakah tujuanmu ke sini adalah untuk menantangku balapan?"

Ucapan Temari selanjutnya membuat orang-orang semakin heboh. Hinata hanya bisa menggeleng kecil menyanggah pernyataan sang puteri Sabaku itu.

"Tidak,"

Kiba maju ke depan Hinata, mencoba melindungi gadis itu dari tatapan semua orang yang tertuju padanya. Dan sebagai wakil gadis itu dia menggantikannya menjawab pertanyaan Temari.

"Maaf saja," ucapnya. "Kami datang ke sini hanya untuk melihat pertandinganmu dan bukannya ingin menantangmu,"

Temari tidak menanggapi. Perempuan itu terus memicing pada Hinata yang juga menatapnya balik.

"Terserah," kata Temari dan sukses menimbulkan banyak pertanyaan di otak mereka.

"Kalau Pangeran Byakugan tidak mau menantangku lebih dulu, maka akulah yang akan menantangnya," ujar Temari.

Hinata dan yang lain terbelalak. Gadis itu tidak ada niat balapan malam itu. Meski tidak dipungkiri dirinya masih mencintai hal tersebut. Dan apa maksud si sulung Sabaku menantangnya?

"Aku menantangmu balapan sekarang. Kita buktikan siapa di antara kau dan aku yang pantas menyandang gelar 'Wanita yang Tak Terkalahkan',"

Semua orang bersorak mendengar deklarasi Temari. Tapi tidak dengan Shikamaru dan yang lain. Mereka saling melemparkan tatapan bingung. Sementara si pemuda Uzumaki, dirinya berdiri agak di belakang Hinata. Pemuda bermata biru itu terkejut, melihat Hinata yang tampak tidak seperti biasanya. Gadis itu seperti berada dalam zona yang lain.

.

.

TBC.