Vocallone, G. Kyou dan Dino akan dibahas di chapter ini. Semoga aja mereka nggak kenapa-napa, ya? ^_^ dan, yes. Daniella dan Tsuna masih menghilang dari peradaban ^_^ Sparkling Cloudy Day's Wah, author dengan senang hati mengizinkan kamu untuk nge-fave ceritanya. Terima kasih udah baca yaa ^_^ Reine CavalloneMungkin kalo boleh dibilang Kyoya lagi apes, makanya dia ikutan kena getahnya pas Alaude diserang. Dan seperti yang sudah dibahas di chapter sebelumnya, Kyoya kan dihipnotis ^_^ Cozart dan ucapan Dino, ya? Hmm, Author khawatir belum bisa ngebahas masalah itu di chapter ini ^_^ oh iya, author juga penasaran loh apa isi kamar G. haha. Lalalu, Wah, seneng kalo tau kamu terhibur sama kehadiran Lampo. Itu sudah keinginan Author sih untuk memunculkan si guardian muda itu ^_^ Queen of the Deathauthor juga penasaran loh sama wajah para guardian dan bandana kelinci mereka ^_^ pasti mereka menggemaskan banget ya? Haha.ShinYuu-tachiWah, terima kasih banyak loh sudah mau membaca cerita ini, sunggu sebuah kehormatan ^_^ Iya nih, karakter KHR banyak banget, sampe author sendiri bingung mau masukin siapa aja ke dalam cerita, lagi terima kasih ya ^_^
Wow! Finally an update after 2 days I burnt the midnite oil in order to finish this chapter. I hope you guys like this ^_^
By the way, I'm giving you a warning. In this story, the Arcobaleno take their adult form. No specific reason, though. I just wanna make the story as realistic as I can.
And please read the Author's Note below! If you don't, I'll make sure you won't get any kiss from Baby!Tsunayoshi ! [Oh, hey! I want a kiss too~xD]
Okay, so this chapter might be a bit longer than the other. Since I couldn't stop my hand and ended up in a big mess and mountain of typos. Forgive me, will you?
Byakuran, Giotto, Fran and Bel will make their appearance in this chapter. So do Fon, Lucio and Nagi [remember? It's NAGI!]. And maybe some of you won't believe that Kyoya will, well, doing something that you've never expected him to do. And too bad, Tsuna and Daniella will not make their appearance in this chapter. Maybe next chapter?
Oh, by the way, Just noticed that this is the 18th chapter. I thought It was the 19th one. Oh, boy… And this story will be the longest I've ever made, with 18 chapters, above 60000 words, 91 reviews, 14 faves and 9 alerts. And also more than 4000 hits ? WOW! Thank you so much guys, I don't think A major Thanks will show you how I feel right now .
Disclaimer: I'm tired, so can you open the first chapter and READ the disclaimer? Yes? Thank you ^_^
Chapter 18: Jack, Queen and Snowman
"At least my P.E score is better than you Math score, Baka-senpai"
- Fran -
o0o
Byakuran.
Begitulah orang-orang disekitarnya mengenal dirinya.
Terlahir dengan rambut seputih salju dan kulit secerah mentari, sebuah tanda lahir berwarna keunguan terukir di bawah salah satu matanya.
"Byakuran-sama, apa yang harus kita lakukan dengan jasad pria ini?" Seorang pria berseragam putih menunduk dihadapannya. Byakuran terdiam ditempatnya, ia mendongak, menatap bohlam lampu jalanan yang menyinari tubuhnya. "Kirim jasadnya ke kediaman keluarganya, dan jangan lupa untuk menghapus semua sidik jari yang ada"
"Baiklah tuan" Pria itu menunduk lalu berbalik, berjalan menuju tubuh dingin seorang pria yang berlumuran darah.
"Oy!"
Pria tadi menoleh saat Byakuran memanggilnya.
"Jangan lupa kirimkan gadis bodoh itu juga" Ujung jari telunjuk Byakuran menunjuk ke arah dimana seorang gadis terbaring tak berdaya. Pria tadi mengangguk lemah lalu mencoba mengangkat gadis itu dan memasukannya ke dalam sebuah peti yang sudah dipakai untuk meletakan jasad Kyou.
Byakuran menarik ujung bibirnya dan menyunggingkan seulas senyuman.
"Bukankah ini jahat, Giotto? Ah, menurutku ini belum seberapa," Byakuran mengangkat kedua tangannya, meletakannya ke belakang lehernya dan bersandar pada tiang lampu jalanan. "Jika dibandingkan dengan perlakuanmu padaku"
Byakuran terdiam sejenak saat ponselnya mulai berbunyi. Tanpa mengubah posisinya ia mengambil ponsel itu dari sakunya dan menatap nama yang tertera di layar. Satu alisnya tertarik ke atas.
Ricardo?
"Ciao, Ri-chan" Ujar Byakuran dengan nada riang. "Tumben sekali kau menelponku, apa kau rindu padaku?"
"Kudengar kau sudah maju lebih dulu, apa itu benar?"
Byakuran menggeleng pelan saat mendengar suara dingin Ricardo menggema di telinganya.
"Si, Will it be okay? It takes you forever to take a step forward, Ri-chan"
"Jadi siapa korbanmu?"
Byakuran mengangkat bahunya acuh lalu berjalan menuju pembatas jalan dan mendudukinya. Untunglah jalanan sekitar sudah sangat gelap dan sepi, hal ini memudahkan pemusnahan lawannya.
"Hmm," Byakuran melirik ke arah peti mati yang kini disegel dengan rantai. "One of the skylarks breed, the one who work for Fondation"
"Hibari Kyou?"
Byakuran mengangguk pelan, "Kau tidak akan keberatan, bukan? Lagipula bukan aku yang membunuhnya, she did. That dirty little girl"
Byakuran menarik satu alisnya saat mendengar Ricardo terkikik pelan. "What's so funny, Ri-chan?"
"Nulla. Kau mempermudah jalanku"
"Prego" Ucap Byakuran pelan sebelum menutup ponselnya dan berjalan menuju sebuah mobil yang berhenti sekitar beberapa meter di depannya. Seorang pria keluar dari mobil tersebut dan membuka pintu belakang mobil, Byakuran tersenyum, "Pastikan mayat mereka sampai dengan utuh"
"Yes, sir"
.
o0o
.
"Ugh!"
Fon menoleh, menatap anak semata wayangnya yang tiba-tiba saja mengaduh dari tempat tidurnya. Setelah selesai menuangkan segelas air minum, Fon berjalan menuju tempat tidur Kyoya dan memberikan segelas air padanya.
"Kau baik-baik saja, Kyoya?"
Remaja pria itu mengangguk pelan lalu menenggak habis air yang diberikan ayahnya.
Fon memiringkan kepalanya, mencoba mengukur panas badan anaknya dengan satu tangan menempel pada keningnya. Fon mengangkat satu alisnya. "Kau demam, Kyoya"
"Beristirahatlah, aku akan mencoba meminta obat pada perawat"
Kyoya hanya diam dan berusaha merebahkan dirinya pada permukaan tempat tidur yang putih.
Perasaan apa ini?
Kyoya mencoba memejamkan matanya, mencoba menghilangkan rasa mencekam yang mengganggunya. Namun gagal.
Perlahan rasa cemas menyelimutinya, seiring dengan semakin tipisnya udara yang dapat dihirupnya dan penat yang menyerang kepalanya.
"A-Alaude? Alaude!"
Kyoya menoleh saat suara Fon membuyarkan konsentrasinya, Fon terlihat sedikit panik dan berusaha menggerakan tubuh Alaude yang terbaring lemah diatas temmpat tidurnya. Kyoya mencoba bangun dari posisinya dengan satu tangan menopang tubuhnya.
"Ada apa?" Tanyanya pelan.
Fon menoleh lalu menggeleng. "Aku tak tahu, tiba-tiba saja mulutnya mengeluarkan darah". Sambil berusaha mengelap darah yang terus mengalir dari sudut bibir pucat adiknya, Fon terus menekan tombol pemanggil perawat yang berada di bawah tempat tidur Alaude.
"Kh…."
Kyoya mencoba membetulkan posisi duduknya. Dengan satu alis terangkat ia menatap pamannya yang tiba-tiba saja seperti kesulitan bernafas dan dadanya melengkung ke atas seolah menahan sakit yang amat sangat.
"..Ngh….. AHK!"
Kedua mata Kyoya melebar seketika saat ia melihat darah menyembur keluar dari mulut pria yang merupakan pamannya itu. Kyoya mundur dia atas tempat tidurnya, menyaksikan bagaimana Fon berusaha menenangkan sosok Alaude yang, dalam sudut pandangnya, seolah mendekati kematiannya.
.
o0o
.
"Fon-san!"
Fon menoleh ke arah sumber suara, disana, seorang pria berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. Knuckle. Pendeta berambut hitam itu sampai di hadapan Fon dengan terengah-engah. Ia melirik ke arah Kyoya yang duduk disamping Fon lalu kembali menatap Fon.
"Tadi aku mendengar dari perawat, apa sesuatu terjadi pada Alaude?" Knuckle bertanya pelan sambil mengatur nafasnya. Dilihatnya ekspresi wajah Fon yang tiba-tiba saja berubah menjadi kelam. "Alaude tiba-tiba saja memuntahkan darah dalam jumlah yang tidak sedikit," Fon menunduk, "dan saat ini dokter sedang memeriksanya"
Knuckle menggumamkan doanya pelan sambil mengangguk. Itulah alasan mengapa Kyoya ada diluar ruangan….
Fon mengangkat wajahnya untuk menatap Knuckle, dan memaksakan seulas senyum dibalik kekhawatirannya. "Apa tidak masalah kau berada di sini, Knuckle-san?"
Pendeta itu menggeleng pelan lalu menoleh ke arah Kyoya. "Belum ada kabar pasti juga dari pihak—Hey! Apa itu darah?" Knuckle mencoba menunjuk ke arah sudut bibir Kyoya yang terlihat sedikit memar dan ada bekas darah yang mulai membeku. Kyoya menunduk dan menyentuh bagian yang ditunjuk oleh knuckle. "Ah ini—"
"—kau baik-baik saja, Kyoya—"
"Hn," Kyoya mengangguk pelan, "Aku menggigit bibirku sendiri tadi"
Knuckle dan Fon menaikan satu alis secara bersamaan dan segera menghelakan nafas pelan mendengarnya.
"Ah, maaf, aku permisi sebentar" Knuckle menunduk sebentar lalu sedikit menjauh setelah berhasil menemukan ponselnya dari saku celananya, "Ada apa, Asari?"
"…"
"Apa maksudmu?"
"…"
"Tapi ia baik-baik saja, bukan? Maksudku-"
"…."
" – ah, baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi Lucio dan Gio—"
"…."
"Mengapa? Tidak maksudku… ah, aku mengerti. Baiklah, sampai nanti"
Begitu pembicaraan Asari dan Knuckle selesai berbicara melalui ponsel, Knuckle kembali pada Fond an Kyoya yang terlihat mengangkat satu alisnya menanti penjelasan.
"Kau menyebut nama ayah herbivore itu," Kyoya memicingkan matanya, "Apa yang terjadi?"
Knuckle menggumamkan kata 'herbivore' pelan dengan nada bingung lalu menoleh ke arah Fon yang terlihat mengerutkan keningnya. Apa itu? Apakah Knuckle baru saja melihat sebersit kekhawatiran besar dari cara pandang Fon?
"ayah Herbivore, ah, maksudku Lucio. Aku harus segera menghubunginya, karena baru saja Asari mengatakan bahwa dokter yang menangani Dino baru saja keluar dari ruang operasi dan-"
"APA YANG TERJADI?"
Knuckle tersentak saat tangan Kyoya menarik kerah bajunya dan menghentikan kalimatnya begitu saja. Fon yang melihatnya berusaha menenangkan Kyoya dengan mencoba melepaskan cengkraman remaja itu pada kerah baju Knuckle. "Kyoya!"
"Katakan padaku apa yang terjadi, herbivore!" Ujar Kyoya tajam.
Knuckle menarik nafas sesaat lalu menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti doa lalu membetulkan kerahnya lagi. Ia berdehem pelan, "Dino Cavallone diserang oleh seseorang dikamarnya dan dibawa ke rumah sakit ini untuk mendapat perawatan. Lukanya cukup serius dan dokter yang menanganinya, menurut Asari, mengatakan bahwa Dino membutuhkan darah secepatnya karena ia kehilangan cukup banyak darah"
Seperti terhantam besi, Kyoya menggertakan giginya saat mendengar penuturan Knuckle dan mengepalkan tangannya hingga permukaan tangannya memutih. "Dimana dia sekarang? Aku akan memastikan jasadnya tersiksa jika ia berani mati sekarang!" Desisnya pelan namun tajam.
"Maaf,"
Fon kedua pria disampingnya menoleh saat seorang wanita berpakaian perawat menghampiri mereka.
"Apakah anda, ehm, Fon-san? Dan Kyoya-san?" Tanya perawat itu berhati-hati sambil mencoba membaca selembar catatan kecil di tangannya. Fon mengangguk pelan, "Ya, benar. Ada apa, suster?"
"Seseorang menitipkan pesan pada bagian resepsionis, dan meminta anda berdua untuk menemui mereka di tempat parkir sekarang juga"
Fon mengangkat satu alisnya, "Dan boleh saya tahu siapa seseorang ini?"
Perawat itu menggeleng pelan dan menyerahkan catatan yang dibawanya. Hanyalah selembar kertas kecil dengan isi pesan yang baru saja disampaikannya. "Maaf, saya kurang tahu. Saya hanya diminta untuk menyampaikan dari bagian resepsionis"
Fon mengangguk pelan dan berterima kasih sebelum perawat itu meninggalkan mereka dan meneruskan pekerjaannya.
"Biarkan aku yang menjaga disini, kalian berdua pergilah." Ujar Knuckle pelan seolah tahu apa yang dipikirkan Fon. Pria berambut hitam itu mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan Knuckle di tempatnya.
Karena perjalanan yang cukup jauh menuju tempat parkir –mereka harus keluar gedung lalu memutar dan masuk melalui pintu lain- Fon memutuskan untuk menggunakan lift terdekat yang menuju ke tempat parkir di lantai basement.
Kira-kira 5 menit setelah perjalanan, Fond an Kyoya akhirnya sampai pada tempat parkir yang dimaksud. Dan dikejutkan dengan keramaian di area parkir.
"Tch! Herbivore" umpat Kyoya pelan saat melihat kerumunan manusia disana. Fon hanya diam, walaupun ia bisa mendengar dengan jelas kalimat Kyoya, namun ia memilih mendekati salah seorang petugas keamanan yang ada. "Maaf, apa yang-"
"Apakah anda Tuan Fon?"
Merasa terkejut dengan pertanyaan dari pihak keamanan, Fon menemukan dirinya mengangguk pelan. "Kalau begitu ikuti saya"
Fon menatap pihak kemanan itu dengan tatapan bingung, namun ia memilih mengikuti pria didepannya dan mengajak Kyoya menembus kerumunan. Tidak begitu sulit berjalan menembus kerumunan orang, karena pihak keamanan itu menyerukan kalimat agar para manusia yang berkerumun mau menyingkir dan memberikan jalan.
"Peti ini ditemukan sekitar 30 menit yang lalu oleh seorang pengemudi dan sepertinya ditujukan pada anda" Ujar pihak keamanan begitu mereka sampai pada tempat tujuan. Fon mengangguk bingung menatap peti mati hitam dengan taburan bunga lily diatasnya.
Sesuatu dalam dirinya mengatakan ini bukanlah hal baik….
"Boleh kubuka peti itu?" Ujar Fon pelan. Petugas disampingnya mengangguk dan mempersilahkan dirinya untuk mendekat. Kyoya mengikuti dari belakang.
Fon dengan sangat berhati-hati menyentuh tepi peti itu, selembar kertas tertempel dan bertuliskan 'Untuk Fon dan Kyoya-kun'. Fon menelan ludahnya kelu dan mencoba mengangkat tutup peti itu perlahan dengan bantuan Kyoya di sisi bawah peti.
Saat tutup mulai bergeser, Fon bisa merasakan hidungnya seperti diserang oleh bau menyengat yang menyeruak. Bau amis darah.
Detik berikutnya terasa begitu cepat bagi Kyoya maupun Fon, saat setengah dari peti itu terbuka keduanya membelalakan mata menatap dua sosok yang berada di dalam peti itu.
Disana, seorang pria berambut hitam dan kulit putih pucat yang mulai membiru dan seorang gadis berambut ungu yang kira-kira seusia dengan Kyoya. Gadis itu diposisikan berada diatas tubuh pria itu dan kedua tangannya berada diatas dada bidang pria dibawahnya
Semuanya berlalu begitu cepat bagi Fon untuk mencerna semua yang ia lihat, sesaat setelah ia berhasil mengumpulkan kembali kesadarannya, ia hanya bisa diam mendengar jeritan keras Kyoya yang membahana di area parkir itu.
.
o0o
.
"Dino Cavallone ditemukan dalam posisi terluka oleh Asari Ugetsu di kamarnya setelah 4 orang saksi mendengar suara tembakan. Menurut saksi mata, pelaku hanya seorang diri dan berhasil kabur dari kejaran G."
"Dan beberapa jam setelahnya, Fon serta Kyoya menerima sebuah pesan untuk menemui seseorang di lobi parkir. Dan sebuah peti yang berisi jasad Kyou Hibari serta seorang gadis berusia 14 tahun ditemukan di posisi yang seharusnya menjadi tempat pertemuan. Kyou Hibari ditemukan sudah tewas sementara gadis itu kini menjalani perawatan medis"
G. menutup matanya begitu laporan selesia dibacakan oleh Coyote yang menggantikan Knuckle karena pendeta muda itu harus mengurus urusannya disuatu tempat. Pria berambut merah itu menarik nafas pelan lalu menghembuskannya, berusaha menepis fakta bahwa ia saat ini bisa mendengar gertakan gigi sosok disampingnya.
"Ini kasus serius" Ujar Asari pelan dari tempat duduknya.
"Che! Kau tidak mengubah keadaan dengan komentar payahmu itu, Flute-Freak!" Sahut G. dari tempatnya.
"Coyote," mendengar suara dingin dan datar yang mencekam ini, G. menoleh kearah Giotto yang sejak tadi terdiam di kursinya. "Bisakah kau urutkan kembali semua peristiwa yang pernah terjadi? Semuanya!"
"Apakah—"
"Sejak kedua orang tua Tsuna terbunuh!" Desis Giotto pelan.
Coyote menatap Giotto ragu beberapa saat, namun akhirnya ia mengangguk pelan.
"Seperti yang kita ketahui bahwa keluarga Sawada terbunuh, dan korban selamat adalah Tsuna Sawada. Sekitar 5 tahun yang lalu, istri dari Giotto Vongola, Tsuna, diculik oleh famiglia Estraneo dan tewas ditempat. Sesaat setelahnya, keluarga Estraneo terbunuh oleh seorang pria misterius yang kemudian meninggalkan barang bukti ditangan Giotto dan membuat Giotto Vongola dijatuhi hukuman penjara seumur hidup,"
Coyote menarik nafasnya pelan, "Kira-kira 3 tahun setelah jatuhnya hukuman pengadilan, Daemon Spade dijebloskan ke dalam penjara, kurang lebih satu tahun setelahnya 3 orang terbunuh secara misterius. Ketiga orang ini adalah Leonardo Lippi, Huzimori Mitsuru dan Manny."
Begitu Coyote berhenti untuk beristirahat, sunyi mengisi seisi ruangan seketika. Menanti pria tua itu untuk meneruskan ceritanya.
"Dan pada tahun ini, beberapa kejadian besar terjadi. Yakni, kebakaran yang meratakan kediaman Cavallone di Venesia, dan menewaskan pihak keluarga dari istri Lucio Cavallone. Penembakan Alaude di kantor CEDEF serta ditemukannya tubuh Kyoya Hibari dalam keadaan terluka parah, tewasnya Daemon Spade ditangan Giotto Vongola, serta penyerangan terhadap Dino Cavallone."
"Dan tumbangnya satu dari duo-skylark, serta seorang gadis misterius yang kebetulan kenal dengan Daemon Spade dan keluarga Skylark." Ucap G. pelan menambahkan kekosongan cerita Coyote. Coyote mengangguk pelan lalu menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya.
"Apa ada barang bukti yang ditinggalkan?"
Coyote mengerutkan keningnya sesaat lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada barang bukti pasti yang ditinggalkan yang bisa merujukkan kita pada pelaku. Dan sepertinya kali ini pelakunya berbeda dengan yang sebelumnya, karena tidak ditemukan Vongola Crest pada tubuh korban"
"Ah! Bicara tentang barang bukti," Asari dari tempatnya tiba-tiba saja menyeruak keheningan, pria itu merogoh saku celananya lalu mengeluarkan 3 buah amplop kecil. "Ini 3 amplop yang kutemukan dan kuterima sebelum menuju ke sini."
Giotto, G. dan Coyote serentak menatap dingin amplop-amplop kecil itu. Amplop yang sama dengan yang sebelumnya dikumpulkan oleh Kyou, Lal, Reborn dan Lucio serta Cozart.
Asari perlahan mengeluarkan isinya,sebuah kartu hitam dengan lambing Vongola dan sebuah kartu remi dengan symbol sekop.
"5 sekop milik Dino, 9 sekop milik Nana-san, dan 6 sekop milik Verde. Sebelum kesini, Nana menemuiku untuk memberikan dua amplop ini padaku, ia bilang saat membersihkan kamar Dino ia menemukan sebuah amplop yang sama seperti yang ia terima dari sebuah took beberapa minggu lalu. Dan Verde, ia baru menemukannya kemarin dan menitipkannya padaku untuk diserahkan tim penyelidik." Asari kembali duduk di kursinya.
"Dengan ini berarti sudah 8 kartu yang terkumpul?" Tanya G. dengan satu alis terangkat menatap ketiga kertu remi diatas meja kecil itu dengan seksama. "Entah apa maksudnya si Spade-Freak itu dengan mengirimkan kartu seperti ini," G. mendengus kesal. "Bahkan setelah mati pun ia tetap saja menyulitkan kita"
"Semuanya ada 10 kartu,"
G. dengan pandangan bingung lagi-lagi menoleh saat suara dingin dan kelam Giotto terdengar di telinganya. "Apa maksudmu, Primo?"
Giotto merogoh saku yang berada di dalam jas hitamnya lalu mengeluarkan dua buah amplop seukuran dengan warna hitam. "Dua amplop ini kutemukan di kamar Tsuna, saat aku mencarinya"
Berbeda dengan yang lainnya, saat Giotto mengeluarkan isinya, sebuah kartu emas dengan ukiran Vongola Crest terselip diantara 3 kartu lainnya di masing-masing amplop.
Jack and Queen.
"Jack dan Queen of Spades, huh?" G. berkata dengan nada sarkastik. Daemon would never see heaven! Umpatnya dalam hati.
"Bukan hanya itu," Coyote memicingkan matanya saat tangan putih Giotto mengeluarkan 2 buah kartu lain dengan sebuah tulisan disana. Kartu itu adalah kartu putih biasa, dengan tulisan berwarna hitam di tengahnya, tulisan tangan Daemon.
"HE dan IS," G. kembali berkomentar, "Oh, C'mon! That fuckin bastard knows we're not a kind who love to play trick!"
"Kurasa itu bukan trik, G."
"Apa maksudmu, Flute-Freak"
Asari mengerutkan keningnya, mencoba mengingat apa yang diucapkan Dino saat ia menemukannya tergeletak di atas tempat tidur dengan keadaan terluka.
"Sepertinya dengan adanya dua kartu yang dipegang Giotto, kita dapat menyimpulkan bahwa Daemon mencoba memberitahu kita," Asari menarik nafasnya pelan. "Siapa pelaku dibalik semua ini"
.
o0o
.
Fon hanya bisa mendesah pelan saat ia menutup pintu ruangan yang baru saja dimasukinya. Dengan tatapan sedih, ia menduduki sebuah kursi didepan ruangan yang dibuat sengaja untuk para pihak keluarga yang menjenguk dan sedang menunggu.
Ruangan itu cukup luas, ada sekitar 20 bangku disana dan sebuah TV besar menempel pada salah satu dinding.
Dengan satu tangan, Fon mencoba mengusap lengannya yang merasa kedinginan akibat suhu udara yang memang sedang sangat dingin. Dan ditambah dengan suasana hatinya, semuanya semakin dingin.
"Mau kopi?" Ujar sebuah suara yang datang dari sebuah lorong. Fon mendongak lalu tersenyum dan menerima segelas kopi panas yang diberikan oleh pria dihadapannya. "Xie xie, Lucio"
Lucio mengangguk lalu menduduki kursi disebelah Fon. Ia mengangkat satu kakinya dan menyilangkannya lalu bersandar pada kursi. "Bagaimana keadaan Kyoya?"
Fon terdiam sejenak, lalu memejamkan matanya.
"Dia masih sangat syok dan menolak keluar dari kamar Nagi," Fon menghembuskan nafasnya yang terasa berat lalu kembali menatap deretan kursi didepannya. Untunglah suasana sangat sepi, karena area itu telah dikosongkan dari orang awam demi kepentingan pekerjaan. Sekali lagi, Vongola Giotto bersama CEDEF menggunakan kekuasaannya disini. "Ia tak mau makan dan tak mau beranjak dari tempatnya. Yang ia lakukan hanyalah duduk diam dan menantikan Nagi untuk membuka matanya"
"Tak kuduga ia bisa seterkejut itu" Ujar Lucio pelan, "Namun jika aku ada di posisinya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama"
Lucio meniup permukaan kopi di gelasnya, lalu perlahan-lahan menyeruput cairan kental hitam itu. "Bagaimana dengan Alaude, apakah ia sudah membaik?"
Fon mengangguk pelan dan berusaha menutupi kegelisahan serta kesedihannya, namun Lucio berhasil menangkap ekspresi itu dengan kedua bola matanya. Lucio menggaruk lehernya, berusaha mengganti topik lain.
"Alaude sudah tahu tentang Kyou" Ucap Fon pelan.
"As expected from the CEDEF leader" gumam Lucio tak kalah pelan. Pria itu menengguk lagi kopinya. "Lalu apa reaksinya?"
"Ia syok, walaupun ia mencoba menutupinya, aku tahu dia merasakan kehilangan yang amat sangat. Sama halnya dengan Kyoya, Alaude juga sama sekali tak mau makan dan tak berbicara apapun. Yang ia lakukan seharian belakangan ini hanyalah mengetik sesuatu pada ponselnya"
"Bisa dimengerti. Biar bagaimana pun Kyou adalah saudara kembarnya, bukan? Mereka, tanpa mereka sadari, telah menghabiskan waktu bersama dalam ikatan batin yang kuat. Walaupun kuakui keduanya tak bisa berhenti menghancurkan barang-barang sekitar"
Fon tertawa samar mendengar penuturan Lucio.
"Bagaimana dengan Dino-kun? Apa dia sudah sadar?"
Lucio terhenyak. Sambil membetulkan posisi duduknya ia mendongakan kepala menatap langit-langit. "Untunglah masa kritisnya sudah berlalu. Hanya tinggal menunggu waktu sampai ia bangun dan mengeluh sakit pada perutnya"
"Kau dan Dino pasti sangat dekat, bukan?"
Lucio menarik satu alisnya lalu mengangkat bahunya, "Kurang lebih seperti Alaude dan Kyou. Kami bertengkar setiap saat, dank arena pertengkaranlah kami semakin dekat- ah! Fon, aku tidak bermaksud—"
Fon tersenyum.
"Tak apa. Aku harus terbiasa dengan hal ini, bukan? Biar bagaimana pun, Kyou sudah tak ada. Fan itulah fakta yang berlaku saat ini"
Lucio menggaruk pipinya, merasa tak enak hati mendengar ucapan Fon. "Tapi aku salut padamu, Fon." Lucio kembali menegakan tubuhnya, menatap Fon dengan kedua tangan menempel pada lututnya. "Kau seorang diri-secara teori- namun kau bisa setegar ini saat anakmu dan adikmu sedang dirawat. Pastilah berat menjadi dirimu"
"Hmm, kau benar juga. Bagaimana jika kau mencoba menjadi diriku?"
Lucio menatap horror ke arah Fon yang sibuk tertawa hingga tak menyadari bahwa Lucio baru saja menghelakan nafas pendek. Syukurlah…..
"Ngomong-ngomong, Fon. Apakah kau tahu bagaimana mencegah kantuk berlebih? Sejak aku mendonorkan darahku untuk Dino, aku jadi mudah lelah dan mengantuk"
.
o0o
.
"Senpai, apa kau yakin itu buku yang benar?" Fran menatap sebuah buku yang dipegang Bel saat keduanya berjalan menuju kasir. Bel menghentikan langkahnya, lalu berputar menatap Fran yang menatapnya kembali dengan ekspresi datar. Che! Wanita ini harus belajar mengenal ekspresi wajah….
"Tentu saja aku benar, seorang pangeran tidak pernah salah" Ujar Bel bangga.
"Tapi, Senpai," Fran merebut buku yang dipegang oleh Bel, mengangkatnya dan mencondongkannya ke arah wajah Bel. "—bukankah ini matematika? Kau tidak pernah belajar matematika sebelumnya, bukan?"
Dengan satu gerakan cepat, Bel merebut kembali buku itu dan menyerahkannya pada penjaga kasir. "Salahkan guru matematika bodoh itu, dia menyita pisauku." Ujar Bel mengeluarkan selembar uang. Begitu menerima buku yang dibelinya dalam bungkusan dan kembalian, Bel berjalan menuju salah satu rak buku, Fran mengikuti di belakangnya. "Ah, pasti Sensei menyitanya karena kau bodoh matematika"
"Tch! Tutup mulutmu, Fran!"
"Tapi itu kenyataan, Senpfwah—"
"Tutup mulutmu atau kucium kau sekarang!" ancam Bel dengan tangan menggenggam topi yang dipakainya dan menutup wajah Fran agar ia mau berhenti bicara. Fran mengangguk pelan dan topi Bel-pun menghilang dari wajahnya.
"Giotto-san, apakah kau sudah selesai?" Ujar Fran saat melihat sosok berambut pirang yang sibuk membaca sinopsis sebuah novel. Giotto menoleh, lalu mengangguk pelan. "Apa kalian sudah selesai?" Tanya Giotto mengembalikan novel itu pada raknya. Dan ketiganya berjalan menuju pintu keluar.
"Kau tidak membelinya?"
Giotto menoleh kearah Fran lalu menggeleng, "Aku sudah membacanya, dalam bahasa Italia. Tak kusangka mereka juga menerbitkannya dalam bahasa Jepang"
"Hei, tampan!"
Giotto menarik alisnya saat suara Bel terdengar dari samping kirinya.
"Apakah tidak masalah kau keluar rumah bersama kami?," Bel meneruskan, "Kudengar kau sedang banyak masalah dari Mama"
Giotto kehilangan senyumannya sesaat, namun dengan cepat ia memasang kembali wajah cerianya. "Mungkin karena aku butuh sedikit hiburan" Ujarnya pelan tanpa menoleh pada kedua remaja di sisi kanan dan kirinya.
"Bagaimana dengan anakmu? Bisa-bisanya kau santai disaat kau tak tahu ia dimana"
"Bel-Senpai, kau merusak suasana senang Giotto-san"
"Che! Aku berkata jujur disini, Fran!"
Giotto terdiam.
Bel benar, mengapa aku dengan santainya berjalan-jalan sementara aku tak tahu bagaimana nasib Tsuna? Dimana ia berada dan bagaimana keadaannya?
Haha…
Sudah kuduga, aku adalah ayah terbodoh yang pernah ada di dunia.
"Giotto-san"
Giotto menghentikan langkahnya saat suara datar Fran kembali terdengar. Ia menoleh ke arah Fran yang ikut berhenti dan menunjuk ke depan dengan satu telunjuknya. "Apa mereka temanmu?"
Giotto menarik satu alisnya lalu menoleh ke arah dimana Fran menunjuk. Disana berdiri seorang pria berambut putih, seputih salju dengan tato dibawah matanya. Apakah saat ini menato wajah sedang in?
Sosok itu maju selangkah dan menunjukan kedua bola mata berwarna cerah di kegelapan yang menatap Giotto tajam. Seulas senyum licik terukir diwajahnya yang pucat, "Yo, Come stai, Giotto?"
Giotto memicingkan matanya, "Byakuran" Desisnya pelan.
"It's been a long time, right, Giotto? So, you live in Japan now?"
Fran menarik lengan baju Giotto, "Giotto-san, apakah pria yang mirip boneka salju kurus berjalan itu temanmu?"
"Fran…."
"Eh, Bukankah kau juga berpikir seperti itu, Senpai?"
Giotto hanya diam. Pandangannya terpaku pada sesuatu ditangan Byakuran yang tak bisa dilihatnya dengan jelas karena gelapnya malam.
"Ah, You've got nice buddies there. Mi permettera che mi presenti, sono Byakuran. Giotto's oldfriend"
Fran menepuk telapak tangannya dengan tangan lainnya dan membulatkan mulutnya, seolah paham dengan apa yang dibicarakan oleh pria bernama Byakuran itu.
"Jadi Giotto-san berteman dengan boneka salju? Hebat!"
Bel yang mendengarnya hanya bisa menepuk keningnya karena keluguan adik kelasnya.
"Temanmu sangat lucu, Giotto. Pantas saja kau mengkhianatiku"
"Aku tak pernah mengkhianati siapapun, Byakuran"
Pria berambut putih itu mengangkat satu alisnya, dilipatnya kedua tangannya didepan dadanya, "Are you sure, Giotto?"
Giotto memicingkan matanya, "Katakan apa maumu"
Pria itu tidak menjawab dan menolehkan kepalanya kearah sebuah drum besar yang ada di sisi kirinya. Dengan tenang ia berjalan menghampirinya dan menduduki drum besar itu, satu kakinya terangkat keatas, menopang kepalanya.
"Hmm, How should I put it? Aku datang hanya untuk satu keperluan penting, aku ingin membayarmu," pria itu melempar benda kecil yang dipegangnya ke udara lalu menangkapnya lagi, "For what you've done"
"Remember? Saat kau berkata bahwa kau akan mendukungku, namun ternyata kau merebut gadis yang kucintai dari tanganku. I remember you've said that a friend will never betray, but you actually did. " Byakuran tertawa pelan, "Oh! And let me fix that. You actually DO!"
"Aku tak pernah merebut Tsuna dari siapapun. Aku bahkan tidak—"
"-kalau aku mengincar Tsu-chan? You will never know, Gio-chan. Karena selama ini yang kau lakukan hanyalah memperdulikan pekerjaanmu. Aku berani bertaruh kau bahkan tidak tahu kalau temanmu, Cozart Shimon adalah mantan kekasih Tsu-chan, bukan?"
Mantan kekasih….
Dengan dua kata singkat itu, kedua bola mata Giotto melebar seiring dengan terbukanya mulutnya akibat rasa syok yang menghantam pikirannya.
"Ah, melihat dari ekspresimu, aku yakin kau tidak tahu. Saying sekali, kalau aku jadi Cozart, mungkin saat ini aku sudah membayar pihak pengadilan untuk memenggal kepalamu. Walaupun dengan begitu kau jadi punya kesempatan untuk hidup bahagia bersama Tsu-chan" Byakuran sekali lagi melempar benda kecil yang ada di tangannya ke udara dan menangkapnya kembali. "Tangkap ini, Gio-chan"
Giotto tetap diam ditempatnya saat Byakuran melemparkan sesuatu yang sejak tadi digenggamnya kearah wajahnya, namun satu tangannya berhasil menangkap benda itu sebelum sempat menyentuh wajahnya.
Byakuran bersiul senang, "Wow, Nice catch"
Tanpa menghiraukan ocehan Byakuran, Giotto menunduk, meneliti benda yang dikenalnya sebagai sebuah lencana. Kedua mata Giotto lagi-lagi membelalak saat menatap lencana ditangannya. Sebuah lencana berlumur darah kering yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini. Giotto mengerang pelan dan mecengkram lencana itu dengan satu kepalan tangan. "Byakuran, kau—"
"—Killed Kyou Hibari? Yes. Oh, wait, No, but actually yes. Ah, maybe No"
"Muppet-snowman-Ojiisan" Desis Fran pelan.
"I killed him, theoretically. But that stupid-girl did it, Technically." Byakuran menghela nafas pelan lalu berdiri dari posisinya. Ia tersenyum kearah Giotto, "Aku bosan, Gio-chan. Bagaimana kalau kita bermain sebentar? Kejar-kejaran misalnya?"
"Ah! Kita terkepung"
Bel berjalan ke arah Fran lalu menjitak kepala juniornya dengan cukup keras, "Berhenti memberi komentar dengan ekspresi bodohmu itu, Fran!"
Fran memajukan bibirnya sambil mengelus kepalanya yang sedikit berdenyut.
Byakuran tertawa pelan mendengar keributan dua remaja didepannya yang saling menyalahkan. "So, bagaimana Gio-chan? Kebetulan aku hanya membawa orang-orang ini bersamaku, kuharap ini bisa menolongmu pemanasan setelah cukup lama terkurung di tangki air"
Giotto tak menjawab dan hanya suara gertakan gigi yang terdengar dari dirinya. Tanpa menggerakan tubuhnya, pria berambut pirang itu mencoba menghitung jumlah pria berbaju putih yang kini mengepungnya dan dua remaja di sebelahnya.
11 orang…
"Sembilan, sepuluh dan ah, sebelas orang bersenjata" Ujar Fran kembali dengan nada datarnya. "Bel-senpai, kurasa mereka bisa kau jadikan alat latihan"
"Ushishishi,"
"Bel, apa kau menguasai ilmu bela diri?" Ujar Giotto pelan saat ketiganya menempelkan pundak masing-masing, jarak diantara mereka pun hilang seiring dengan melangkahnya kesebelas pria berbaju putih itu.
"Apakah melempar pisau termasuk ilmu bela diri? Kuanggap jawabannya positif"
"Bagaimana denganmu, Fran?"
"Dia bodoh dalam hal olahraga"
"Setidaknya nilai atletikku masih lebih tinggi dibanding nilai matematikamu, Baka-Bel-senpai"
"Diam kau, KODOK!"
Byakuran menghela nafas pelan melihat kedua remaja di depannya kembali beradu argumen yang dianggapnya membosankan. Ia mengangkat satu tangannya dan melihat ke arah kukunya, "Serang mereka" Ujarnya dengan nada malas sambil melangkah mundur.
Begitu perintah diturunkan oleh Byakuran, salah satu dari kesebelas pria itu berlari menerjang ke arah Giotto dengan sebuah pukulan bisbol ditangannya. Satu ayunan keras diarahkannya pada kepala Giotto namun Giotto dengan cepat menangkap pukulan bisbol itu dan memutar pria itu hingga kini posisi Giotto berada di belakangnya.
"Y-you!" Pria itu mendesis saat mencoba menoleh ke arah Giotto, dan seulas senyum muncul di wajahnya saat ia sadar salah seorang temannya dengan sebuah pisau berlari menerjang. "Tamat riwaya-GAH!"
Fran menutup telinganya dengan cepat saat pria yang tangannya dipelintir oleh Giotto berteriak kesakitan karena Giotto menendangnya sambil menarik tangannya kebelakang dan dengan cepat memukul tangan pria yang membawa pisau dengan pukulan bisbol yang direbutnya dari pria sebelumnya.
"Pasti sangat sakit" Ujarnya pelan.
"Bel!" Giotto memanggil remaja berambut pirang lalu melemparkan pisau lipat yang didapatnya dari dua pria yang kini tumbang di tanah. "Kuharap ini bisa membantu"
"Ushishishi," Bel dengan cepat menangkap pisau itu dan memainkannya di tangan seolah tengah bermain dengan sebuah pensil. "Pisau murah, tapi ini bisa dipakai. Kodok, dimana senjatamu?"
Fran terdiam sesaat, "Senjata? OH!" Fran berujar senang saat mengingat bahwa ia membawa sesuatu di sakunya. Sambil merogoh sakunya, Fran mengeluarkan alat-alat yang tersimpan disana. "Penghapus? Tidak. Karet gelang? Bukan. Permen lollipop? Apakah ini masih bisa dimakan?"
"Cepatlah, bodoh!" Bel berucap geram melihat aksi lambat dan santai juniornya. "Ah! Ini dia!"
Bel melirik ke arah Fran saat gadis itu mengeluarkan sebuah stik pendek berukuran kurang lebih 15 sentimeter. "Sumpit?"
"Nah-ah-ah! Ini adalah stik golf yang diciptakan Giannini seminggu lalu, karena lucu jadi kuambil" Fran mengangguk puas dan mencoba mengibaskan stik yang dipegangnya di udara. "Aneh, seharusnya ini bisa memanjang- "
"O-Oi! DIBELAKANGMU!"
"-Ah! Ini dia tombol-"
"GHUAAHK!"
"—nya.. Ah, maaf. Sepertinya stik golf ini berbahaya untuk pria"
Bel kembali menepuk keningnya menahan emosinya. Namun untunglah pria yang berusaha menyerang Fran kini tumbang karena stik yang dipegang Fran tiba-tiba memanjang dan berubah menjadi stik golf dan berhasil mengenai selangkangan pria itu.
Ingatkan aku untuk menjauh dari kodok bodoh ini….
"Bel-senpai! Pria itu sedang mengarahkan besinya—"
"Ushishishi"
"—padamu."
Fran, dengan ekspresi datarnya, bertepuk tangan saat melihat pria yang mengarahkan besinya pada Bel tiba-tiba saja memegangi perutnya dan mundur perlahan. "Three… two…. One—"
"BWHAAK!"
"—zero. I am the winner!" Ucap Bel bangga saat darah menyeruak keluar dari leher pria itu.
Dari tempatnya, Giotto menggelengkan kepalanya pelan saat melihat keluguan dua remaja itu menumbangkan pria-pria yang lebih tua beberapa tahun dari mereka dengan cara keji.
"Lawanmu adalah kami, Vongola-muda!"
Giotto dengan sigap memasang kuda-kuda saat 4 orang pria mengepungnya. Salah satu dari mereka, yang mengenakan topeng, adalah yang baru saja mengucapkan kalimatnya. Ditangannya terdapat rantai baja yang mengikat kuat sebuah gear, sebuah benda bergerigi yang diketahui Giotto biasa dipakai untuk mesin kendaraan bermotor.
"Che! Lebih baik jangan melawan" Ujar salah seorang dari mereka yang berambut panjang sebahu. "Jangan sampai kami melukai wajah halusmu, bung!" Seseorang dengan bandana merah menyeringai.
"Menyerahlah, bos kami adalah seorang pemaaf" Kali ini giliran pria dengan luka bakar diwajahnya yang berkomentar.
"Siapa yang mau menyerang duluan?" Tanya si pria bertopeng pada ketiga temannya yang tersebar ke 3 penjuru berbeda. Ketiga temannya tertawa puas, "Bagaimana jika kau duluan, Jack?" Si bandana merah menunjuk pada pria dengan luka bakar diwajahnya.
Jack, tertawa meledek. Diayunkannya keras cambuk berduri yang dibawanya dan diarahkan pada wajah Giotto.
Kenapa mereka semua mengincar wajahku….?
Giotto meloncat mundur saat cambuk itu mengarah padanya namun gerakannya kurang cepat karena pada akhirnya cambuk itu melilit di tangannya. Duri-duri tajam pun menekan permukaan kulitnya yang berlapis jas hitamnya.
"Ngh!"
"Percuma melawan, tampan! 4 lawan 1 hanya akan berakhir oleh kemenangan mutlak pihak kami!" Jack menarik cambuknya yang terlilit di lengan Giotto dengan keras, hingga Giotto terhuyung ke depan dan lengan jasnya sobek. "Lihat? Aku melukai kulit mulusmu!"
Giotto mencoba berdiri dari posisinya yang setengah berjongkok, ia menatap tajam pria bernama Jack dan cambuknya yang melilit di lengannya.
"Kau ini berisik, Jack" Ucap Giotto dengan nada tenang, sama sekali tak terdengar suara kepanikan dalam setiap kata-katanya.
"DON'T 'JACK' ME, ASSHOLE!"
Jack bersiap menarik keras cambuknya, namun badannya terhuyung ke depan saat Tangan Giotto meraih sisa cambuknya dan menarik pria itu hingga tak ada jarak diantara mereka, Giotto tertawa pelan. "Kuharap duri pada cambukmu tidak beracun,"
Dan dengan satu kaki yang melangkah ke depan, melebihi badan Jack, Giotto berputar diujung kakinya dan membanting pria itu ke tumpukan sampah yang ada di belakangnya.
"Ternyata teknik yang diajarkan Asari cukup berguna" Desisnya pelan mencoba membuka ikatan cambuk di lengannya.
Melihat Jack yang merintih kesakitan karena menghantam permukaan aspal keras, ketiga temannya menjadi geram.
Robin, pria dengan bandana merah dan tombak runcing ditangannya berlari menerjang. "HABIS KAU, VONGOLA!"
Giotto menggeser badannya ke kanan saat ujung tombak itu tinggal beberapa sentimeter dari perutnya dan berhasil merobek sisi pinggir jasnya dibagian perut. Namun tampaknya Robin belum puas dengan aksi merobek baju Giotto dan segera mengarahkan tombaknya menuju kepala Giotto.
"MATI KA—"
Giotto membelalakan matanya saat ujung mata tombak milik Robin berhenti tepat sejajar dengan bahunya. Dan Robin jatuh tersungkur ke tanah. Darah segar pun mulai meresap melalui lubang kapiler baju putih pria itu dan membasahi bagian belakang bajunya.
Giotto mendongak setelah menatap Robin yang tumbang, dan menatap sosok yang bediri kira-kira setengah kilo meter dari posisinya berada. Sosok itu terlihat sangat hitam di gelapnya malam.
"Si-SIAPA KAU!" Si rambut panjang dari dua yang tersisa berteriak dari tempatnya saat sosok itu perlahan berjalan mendekat dengan langkah panjangnya.
Samar, Giotto bisa mendengar bunyi gerakan memasang peluru dan dentingan logam jatuh ke tanah dari sosok itu.
"Self-Proclaimed Right-Hand-Man, G." Sosok itu kini memasukan 4 butir peluru ke dalam revolver hitamnya. "Sudah lama aku tak menembak sejauh ini, Grazie, Primo"
"Y-YOU!" Pria dengan rantai panjang yang berdiri di arah timur laut Giotto melemparkan gear tajam ke arah G. yang kini berjarak semakin dekat. G. tak hanya diam dan menanti gear itu untuk memotong kepalanya, pria berambut merah itu berlari ke depan dengan kecepatan tinggi dan melompat saat melihat sebuah drum besar dihadapannya. G. menjadikan drum itu sebagai starter dan menembakan dua peluru ke arah pria yang mengincar kepalanya dengan sebuah gear berkarat.
"U—UGH!"
Dan pria itu pun tumbang ditemani oleh cairan merah kental yang keluar dari tubuhnya.
Bel dari tempatnya bersiul pelan melihat aksi G. dan tersenyum puas. "Ushishishi. Tak kusangka pria itu bisa sehebat itu"
Fran yang berjongkok di samping Bel menatap dua pria yang baru saja tumbang hanya bisa diam. "Kau harus mengganti penggarisku yang kau pakai untuk menjatuhkan pria jelek ini, Senpai"
Bel menoleh, "Dan kau harus mengganti kesenanganku yang hilang karena kau memukul pria bau itu dengan stik golfmu!"
"Itu salahnya karena mencoba menyentuhku"
"Kalau begitu sama. Pria jelek itu mencoba membunuhku"
"Seharusnya aku membantu pria jelek ini"
"APA MAKSUDMU, KODOK!"
"Hei!"
Fran dan Bel menoleh bersamaan saat suara serak seorang pria memanggil mereka. Keduanya menelan ludah kelu saat menyadari pria dihadapan mereka memegang sebuah senapan yang diarahkan ke arah kepala mereka.
"Jangan lupakan aku disini, bocah-bocah manis" Pria dibalik senapan itu tersenyum licik melihat ekspresi kedua remaja didepannya dan bersiap menarik pelatuknya dan melesatkan peluru-peluru kecil yang mematikan.
"Belum waktunya mereka untuk mati, Kora!"
"GWAAAAH!"
Fran lagi-lagi bertepuk tangan sementara Bel hanya diam menatap jatuhnya pria bersenapan dihadapannya. Saat pria itu jatuh ke tanah, sosok bersenjata lainnya berdiri menggantikannya dengan sebuah riffle ditangannya.
"Bukankah membawa senjata api itu dilarang oleh pemerintah, Riffle-man-san?"
Pria itu tertawa mendengarnya lalu menepuk kepala Fran dan mengacak rambut hijau emerald gadis itu, "Tidak jika Alaude mengeluarkan izin pemakaian senjata apinya, Kora"
"Jadi, mau kita apakan pria malang ini?" Colonello berujar dari tempatnya, satu tangannya yang memegang riffle dan meletakannya dibahunya. Matanya tertuju lurus pada pria berambut sebahu yang kini terkepung oleh dirinya, Giotto dan G.
G. meludah sambil memainkan revolvernya, sebuah senyuman jahat mengembang pada bibirnya yang tersumpal oleh sebatang rokok. "Aku tak keberatan jika harus memakai jasadnya untuk latihan menembak. Kau tahu, bukan? Papan tembak di Vongola HQ sudah sangat tua"
"Atau kita bisa memakainya untuk member makan buaya yang dipelihara Verde."
G. menoleh cepat ke arah sumber suara, "For Heaven's sake, Giotto! Kau benar-benar terdengar jahat dengan kalimatmu!"
Giotto menggedikan bahunya pelan, "Hanya itu yang terlintas dipikiranku"
"Ushishishi," Bel menarik tangannya keatas lalu meletakannya ke belakang kepalanya. "Ini menarik bukan, Kodok?"
"Hei, Fran?" Bel menoleh saat tak mendengar jawaban dari gadis berekspresi datar di sebelahnya dan menemukan Fran tengah berdoa di samping pria yang tumbang akibat tembakan Colonello. "A-apa yang kau—"
"Berdoa. Dia sudah memujiku 'manis' sebelum ia mati, Senpai. Bukankah dia sangat baik?"
.
o0o
.
Translation [Ah! I kinda miss this section]
Nulla : Nothing
Xie xie: Thank you [Chinese]
Come Stai: How are you [Informal]
Mi permettera che mi presenti, sono Byakuran: Let me introduce myself, I'm Byakuran
.
.
.
Can you believe it?
There will be no Kyou Hibari? NOOOOOEEESSS! *hit the wall* *throw my phone away* *cry*
Okay, so I'm wondering If i did a good job during the fighting-scenes. It's a bit hard though, Since I make Fran and Bel joined Giotto's action-scenes.
And for your information, Italian is not my native. I just, coincidence-ly, have learnt it once during my junior-high. And because it's been a long time, I kind need translation's help. So, there will be some mistakes both in grammar and spelling.
And for those who has been wondering 'Why did you mix english and indonesian?' It's easy, the reason is because I have no idea how to find a good translator, so I made those who are originally come from Italy speak english. Just assumed the English part is Italian, 'kay? Deal!
Okay, for your informaaaation again. I'm doing a vote. Go to my profile and vote!
I'll start a new fanfic about First Generation's rooms in couple of days. And I need you to Vote. or maybe you can check the fanfic I publish under the name 'Vongola Room: First Generation' and leave some reviews.
I also has made some TYL!18x18 fanfic. Go check it on my profile!
but don't forget to leave some review after you read this, and another fanfic of mine, 'kay?
Oh, btw...
If I could get 100 reviews in this chapter, the 100th reviewer will get a prize. Hmm, Wondering what can I give, but It's absolutely gonna be awesome!
Okay, then...
See you later... ^_^
P.S: Can I get some remission? I've typed this all night long, so typos and grammar errors will be found here, there and everywhere. I'm just a mere human who can't get away from those 2 things, aren't I ?
~Okuri Soji
