Kau bilang kau merindukannya, maka aku bisa menggantikannya.
I Could Be Him
Enjoy!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menyapukan helaian poni Hoseok kebelakang telinganya. Menatap wajah tenang Hoseok yang sudah terlelap adalah kesenangan tersendiri untuknya. Karena wajahnya terlihat sangat damai dan polos, seakan tidak memikirkan dunia yang kejam dan keras.
Yoongi tersenyum lalu memberikan sebuah kecupan singkat di keningnya. Lalu berdiri untuk meninggalkan kamar room mate-nya ini dengan perlahan. Tidak ingin membuat Hoseok terganggu.
Setelah Yoongi sampai di dalam kamarnya, ia mendudukkan dirinya di meja belajarnya. Mengambil sebuah buku yang selalu ia baca setiap malam, setiap Hoseok sudah terlelap.
Yoongi selalu membuka buku itu dengan hati yang terenyuh sakit. Membaca setiap deretan kata per kata dengan susah payah menahan air matanya untuk tidak menetes. Menyimak baik-baik pesan yang dititipkan oleh orang yang paling disayanginya untuk selalu ia lakukan.
Hoseok menyukai nasi goreng dengan Kimchi di dalamnya. Kupikir kau harus membuatnya setiap sarapan, Hoseok akan sangat menyukainya, Hyung
.
.
.
.
.
"Woah, kau sakit, Min Yoongi?"
Yoongi berdecak malas sambil terus memotong Kimchi menjadi bagian-bagian kecil. Hoseok berdiri disampingnya dengan mata melebar dan mulut menganga. Tidak bisa dipungkiri, Yoongi memang jarang bangun pagi dan sekarang apa yang dilihatnya pagi ini benar-benar sesuatu yang langka.
"Aku sedang dalam keadaan yang baik hari ini. sebaiknya kau tutup mulutmu dan nikmati hasilnya."
Hoseok menurut untuk menutup mulutnya dan ia menunggu Yoongi selesai dengan masakannya di kursi meja makan. Keningnya sedari tadi bertaut bingung dengan keanehan Yoongi pagi ini. tapi Hoseok sendiri tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
"Lalu, kau sedang membuat apa, Hyung?"
Yoongi terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Hoseok dengan suara yang pelan. "nasi goreng dengan Kimchi."
Walaupun tidak menatap Hoseok, Yoongi dapat merasakan bagaimana senyuman Hoseok luntur dan dirinya termenung setelahnya. Yoongi menghela nafasnya, rasanya ia ingin menarik perkataannya karena telah membuat Hoseok mengingat beberapa kejadian yang mungkin bisa menyayat hatinya.
Tapi Yoongi berusaha untuk membuat Hoseok melupakannya. "Jangan protes dengan rasanya, oke? Kau harusnya bersyukur karena aku dengan suka rela membuatkan sarapan untukmu."
Yoongi menaruh sepiring sarapan pagi mereka di meja makan. Hoseok tersentak dari lamunannya dan ia memberikan Yoongi sebuah senyuman. Senyuman yang terlihat sangat palsu.
"Terima kasih, Hyung. Ini adalah makanan kesukaanku."
.
.
.
.
.
Hoseok sangat menyukai menonton film di malam hari, Hyung! Aku harap kau bisa menemaninya menonton film saat ini juga. Jangan membuat Hoseok kesepian.
Seperti itulah deretan kata yang tertulis di buku itu. Seperti sebuah perintah mutlak, Yoongi langsung menutup buku itu untuk mencari beberapa film koleksinya yang menurutnya bisa ditonton Hoseok. Mengingat ia tidak menyukai film Horror.
Dan Yoongi berakhir di kamar Hoseok. Membiarkan Hoseok menyiapkan karpet senyaman mungkin dan Yoongi masih sibuk memilih film apa yang harus mereka tonton malam ini.
"Semua sudah siap, Yoongi-hyung! Nah, kau sudah memilih filmnya?" Hoseok mengambil sebuah bantal dari atas ranjangnya. Memeluknya dengan erat sambil menunggu jawaban Yoongi.
"Eum," Yoongi menimang dua buah kaset film Disney di tangannya. "Bagaimana dengan Finding Nemo?"
Merasa tidak ada jawaban dari Hoseok, Yoongi menoleh kebelakang dan menemukan Hoseok tengah menatapnya dengan pandangan yang kosong.
"Hoseok?"
"Oh! Tentu saja, sudah lama aku tidak menonton film itu." Dan diakhiri dengan tawa yang terdengar dipaksakan.
Yoongi sempat berpikir untuk mengganti tontonan mereka ini. Tetapi suara Hoseok yang sudah memanggilnya untuk segera memulai filmnya membuat Yoongi mengurungkan niatnya. Ia memasukan kaset itu kedalam DVD Player terlebih dahulu setelah itu merangkak untuk mendudukkan dirinya disamping Hoseok.
.
Yoongi menatap Hoseok, walaupun pemuda ini sedang tertawa, tapi Yoongi bisa melihat kesedihan di sorot matanya. Membuat Yoongi berpikir mengapa dirinya itu sangat bodoh? Kenapa Hoseok tidak mau terbuka padanya? Kenapa Hoseok tidak mau menangis di hadapannya? Kenapa Hoseok selalu tersenyum untuk menyembunyikan kesedihannya?
Kenapa Hoseok tidak pernah melihatnya?
Yoongi dapat mendengar suara helaan nafas Hoseok disampingnya. "Aku ingin menjadi Dory."
Yoongi mengerjapkan matanya. "Kenapa?"
Hoseok tersenyum tipis, memainkan botol cola yang berada di genggamannya. "Agar aku dengan mudah melupakan segala sesuatu yang kuingat."
Setelah itu keadaan menjadi hening. Hanya terdengar suara Dory yang meneriaki nama Nemo di layar kaca. Yoongi mengerti maksud dari perkataan Hoseok. Ia ingin melupakan segalanya, Hoseok ingin melupakan lukanya. Yoongi mengerti.
"Tapi coba kau lihat lagi. Selupa apa pun dia, pada akhirnya Dory mengingatnya lagi, dengan sangat detail."
Hoseok tertawa. "Kau benar."
Dan Yoongi ingin sekali merengkuh tubuh itu kedalam pelukannya. Berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa masih ada Yoongi yang akan selalu disisnya, menemaninya.
.
.
.
.
.
Aku mohon, jangan membuat Hoseok kesepian. Biarkan dia menangis, biarkan dia menangis dipelukanmu, Hyung. Beritahu Hoseok bahwa aku sangat mencintainya.
Yoongi menemukan Hoseok duduk termenung di balkon kamarnya. Sudah waktunya makan malam dan Hoseok belum juga turun sedari tadi Yoongi memanggilnya. Jadi Yoongi berjalan dengan perlahan mendekati Hoseok dan hanya berdiri disampingnya. Tidak berani untuk membuka pembicaraan.
Hoseok menengok kearah Yoongi, tersenyum simpul dan setelahnya kembali menatap hamparan bintang yang berserakan di langit malam.
"Hyung,"
Yoongi bergumam sebagai jawabannya.
"Apa kau pikir, Taehyung sedang mengawasiku dari atas sana?"
Genggaman Yoongi pada besi pembatas mengerat. Nafasnya tercekat, ini pertama kalinya Hoseok menyebutkan nama Taehyung semenjak kejadian setahun yang lalu. Sejak Taehyung, kekasih Hoseok meninggal karena penyakit yang berserang ditubuhnya.
Yoongi menundukkan kepalanya. Pikirannya kacau, ia tidak bisa berkata apa-apa. Yoongi tidak ingin bersedih, tetapi ia mengingat tulisan tangan Taehyung pada buku yang selalu dibacanya itu. Untuk selalu menemani Hoseok, untuk selalu berada disisi Hoseok disaat ia bersedih.
Yoongi menarik lengan Hoseok, memeluk tubuh yang lebih tinggi dengan erat. Mengusapkan kepal Hoseok dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Jika kau ingin menangis, lebih baik kau lakukan sekarang."
Awalnya Hoseok hanya terdiam, tertawa pelan dengan berkata bahwa ia tidak akan menangis. Tapi disaat Hoseok merasakan bahu Yoongi yang bergetar, dan juga kausnya yang basah, saat itulah pertahanan Hoseok hancur. Ia membalas pelukan Yoongi, meneyembunyikan wajahnya di bahu Yoongi.
"Aku.. aku sangat merindukannya, Hyung."
Yoongi-hyung, tolong buat Hoseok kembali bahagia.
"Kenapa Taehyung meninggalkanku secepat itu?"
Aku sudah tiada, aku tidak bisa menemaninya lagi.
"Bahkan di hembusan nafas terakhirnya aku tidak berada disisinya. Bodoh!"
Hilangkan semua luka di hatinya, Hyung.
"Hoseok, hentikan.."
Jangan buat Hoseok menangisiku lagi.
"Aku merindukannya- hiks."
Hyung, cintailah Hoseok seperti aku mencintainya.
"Hoseok, Taehyung sangat mencintaimu. Pasti dia tidak ingin melihatmu seperti ini."
Aku titipkan Hoseok padamu.
"Dan, aku juga mencintaimu.. kumohon jangan menangis lagi."
Tertanda, Kim Taehyung.
.
.
.
.
.
"Yoongi-Hyung! Astaga, kenapa lama sekali?"
Yoongi mendengus dengan tangan yang masih sibuk mencari sepatunya diantara rak yang tersusun rapi. Hoseok sudah menunggunya di depan pintu utama, dengan berkacak pinggang. Setelah beberapa menit berlalu, Yoongi datang dengan sebuah syal rajut ditangannya.
"Kau cerewet sekali, syalmu sampai tertinggal." Yoongi melemparnya dan dengan refleks bagus Hoseok mengambilnya. Hoseok terkekeh lalu mengusak rambut Yoongi dengan gemas.
"Terima kasih."
Diam-diam Yoongi tersenyum di balik syalnya. Dengan langkah beriringan, mereka berjalan menuju pemakaman kota di akhir bulan Desember. Sekarang ulang tahun Taehyung, dan tentu saja mereka akan mengunjunginya.
"Tanganmu tidak dingin? Kau tidak memakai sarung tangan, Hyung."
Yoongi menggelengkan kepalanya. "Tidak apa, lagipula aku bisa menghangatkannya." kedua tangannya bertemu dan Yoongi menggesekkannya.
"Jangan keras kepala," Hoseok dengan segera menarik pergelangan tangan Yoongi, memakaikan satu sarung tangannya untuk Yoongi. Dengan tangan yang tidak diselimuti sarung tangan, Hoseok menggenggam tangan Yoongi dengan erat.
Yoongi hanya bisa terdiam, mencoba untuk terlihat biasa saja padahal jantungnya terpompa dengan kencang. "Begini lebih baik 'kan?" dan Yoongi mengutuk senyuman penuh Hoseok yang berbentuk hati itu.
"Aku, mencintaimu Hoseok,"
Tidak apa, Yoongi pikir ini lebih dari cukup.
"Maafkan aku, Hyung. Aku tidak bisa, aku masih mencintai Taehyung."
Tidak apa, Hoseok bukan miliknya.
"Aku mengerti. Tapi biarkan aku selalu berada disisimu."
Karena Yoongi masih bisa menjaganya setiap saat. Yoongi masih bisa melihat senyumannya setiap hari. Mendengar tawanya. Walaupun Hoseok bukan miliknya, dan tidak akan pernah menjadi miliknya. Tidak apa.
Yoongi tersenyum, mengeratkan genggamannya tangannya.
Yoongi ingin memberitahu Taehyung bahwa ia akan selalu berada disisi Hoseok. Seperti permintaannya.
.
.
.
.
.
.
The End
.
.
.
.
.
In the mood for angst/?
Ini sad ending lho ya, mereka ga jadian/?
Mood-ku lagi naik turun dan sekarang berada di posisi pms/? Bawaannya pengen marah-marah tapi gatau mau marahin apa. Apasih -_-
Oke ini ga penting..
Thank you for reading, I love you all and review please?
- minyunghei
