PART 21
(MAAF)
Sebelumnya…
"hei hei, sepertinya suasana malam ini sangat dramatis ya,…" sapa pria bertopi vedora malam itu diatas podium Aula.
"Yoo, Sora-chan sudah cukup kau bermain- main dengan cinta hari ini. Untuk saat ini cobalah focus pada tugasmu sebagai pimpinan Deathfather…"
Pandanganku langsung teralihkan ke podium Aula. Dan melihat sosok yang sangat ku kenal.
"Sasori" ucapku Lirih.
"Yooo, Sora-san, atau lebih pantas kau ku panggil saja dengan pembunuh" ucap Sasori dengan senyum evilnya.
-XxX-
Sora POV
"Wah, kau menikmati pesta malam ini ya ? oh, lihatlah ternyata ada adik tiriku rupanya, selamat malam Gaara-chan" sapa Sasori diatas podium dengan menggunakan microfon.
"Hah, dia kakak tiri Gaara" ucap salah satu siswa KHS yang merasa terkejut.
"Wah, iya pantasan saja rambut mereka mirip" sambung yang lain.
"Aku tak menyangkanya ya, pria tampan itu adalah kakak tirinya" ucap Ino dengan kagum.
"Aku merasakan ada yang aneh disini" resah Sai.
"Iya, aku pun begitu" sambung Shikamaru. " sepertinya akan ada pertarungan "
"Dari mana kau bisa tau?" sergah Kiba
"Kau lihat saja Sora saat ini" Shikamaru menunjuk Sora untuk memberitahu Kiba."Kau lihat hanya penampilan Sora lah yang berbeda malam ini. Kau bandingkan dengan gadis lain, rata-rata mereka memakai gaun yang indah. Sedangkan Sora dia memakai pakaian seragam kebangsaan Deathfather"
"Dari mana kau tau Sora memakai seragam kebangsaan Deathfather ?" Tanya Lee yang berada di samping Kiba.
"Lambang disebelah dadanya" Tunjuk Shikamaru. "Aku mengetahuinya, saat kita liburan dipantai beberapa waktu lalu. Saat Sora diserang oleh beberapa mafia lain. Dan saat para mafia itu berhasil diringkus, Sora menghubungi anggotanya untuk mengamankan mafia tersebut. Dan aku melihat anggota mereka memiliki lambang yang sama persis yang ada di jaket sora saat ini." Jelas Shikamaru.
-XxX-
"Ah, kenapa kau diam Sora-chan, kau terkejut aku disni ?" Tanya Sasori dengan melepaskan topi Vedora."Ayo kita nikmati acara ini sayang" ucap Sasori dengan nada yang terdengar menjijikan di telingaku.
"Aku tahu, sejak awal pasti kau sudah curiga mengenai kedatangan ku disini sebagai siswa KHS-kan ? ayoo mengaku lah. Mungkin tampang baby face ku ini yang membuat orang percaya bahwa aku masih terlihat masih belasan tahun. Iya kan ?" ucap Sasori dengan bangganya.
"SASORI" hardik Fugaku."Hentikan semua niat balas dendam mu terhadap putriku"
"Ayah" gumam ku.
"Hentikan, ah bagaimana bisa aku menghentikannya? Sementara …" Sasori memberi jeda pada perkataannya, dan tangan kirinya merogoh saku didalam jasnya untuk mengambil sesuatu benda. Dan ternyata benda itu adalah "Pistol" batinku.
"Sementara dia telah membunuh AYAH KU sekaligus Ayah Gaara" sambung Sasori.
Kontan saja itu membuat para siswa menjadi ribut dengan apa yang telah mereka dengar. Kemudian Sasori menarik pelatuk pistolnya dan mulai mengarahkannya ke arah ayah ku. Dengan sigap kuraih pistol yang berada di saku dan,
.
.
DORRR
.
.
Menembak kearah pistol Sasori yang sudah bersiap-siap ingin menembak ayah ku. Saat itu juga pistol Sasori terlepas dari genggamannya.
Kejadian itu membuat seluruh siswa panik dan mulai keluar Aula. Namun itu semua tidak berhasil, karena pintu Aula telah di jaga oleh belasan Bodygoard Sasori. Mereka berpakaian dan bersenjata lengkap.
"DIAAAMMMM, BAGI SIAPA SAJA YANG INGIN KELUAR DARI RUANGAN INI, MAKA NYAWANYA AKAN MELAYANG. DIAM DAN TIARAPP ! " Perintah salah seorang Bodyguard, yang sepertinya aku mengenalnya. "Kabuto" gumamku. "Semuanya, tiarap SEGERA".sontak saja suara menggelegar milik Kabuto membuat nyali siswa yang ingin kabur menjadi ciut dan segera tiarap di tempat.
"Kau, masih jeli dan penglihatanmu masih tajam juga ternyata " Puji Sasori kepadaku yang telah berhasil menggagalkan niat buruknya untuk membunuh ayahku.
"Sora, kau kah yang membunuh ayah ku" Saat itu juga Gaara yang berdiri di belakang ku, mulai mendekati ku dan menatapku dengan tatapan tak percaya dan penuh kecewa.
"Gaara, sebenarnya…." Ucapku terbata, kemudian aku kembali terdiam.
"JAWAB AKU SORA !" Ucap Gaara dengan emosi yang memuncak. Itu ditandai dengan urat-urat yang mulai keluar disekitar pelipis matanya.
"DIAM KAU, BERANINYA KAU BERKATA SEPERTI ITU DENGAN ADIK KU" bela Sasuke.
"Dia, kau Sasuke, kau tidak tahu apa-apa sebaiknya kau diam" Sambung Gaara dengan emosi.
"Sial" ucap Sasuke. Langsung saja Sasuke menyerang Gaara. Dan terjadilah perkelahian antara Gaara dan Sasuke malam itu.
Saat itu aku tak mampu berkata apa-apa kepada Gaara. Dan aku juga tak menghentikan pertarungan mereka. Semua orang dalam itu merasa ketakutan. Dan tak sedikit juga siswi KHS saling berbisik-bisik menyalahkan ku.
"HENTIKAN" teriak Naruto yang kemudian ikut membantu meleraikan Gaara dan Sasuke."Kalian Gila, bisakah kalian berfikir dengan kepala dingin hah"
"Gaara" panggilku. Kemudian Gaara mengalihkan pandanganya kepadaku." Sebenarnya tak ada niat ku, untuk membunuh ayah mu saat itu. Saat itu, aku fikir aku telah menembak Sasori, tapi aku salah. Ayah mullah yang tertembak dengan niat melindungi Sasori" ucap ku.
"Tetap saja kau membunuh" tiba-tiba saja Sasori ikut berbicara.
"KAU" ucap ku kesal kepada Sasori.
"Lantas mengapa kau ingin membunuh kakak ku Sasori hah " ucap Gaara dengan mengguncang-guncang tubuhku. "Apa salahnya padamu, apa dia telah menyakiti mu, apakah dia mengganggu keluarga mu, apakah dia membunuh ayah mu. Tidak kan Sora, tidak kan lalu kenapa, apa alasanmu" teriak Gaara
PLAK
Sontak saja tangan ku melayangkan tamparan tepat pada pipinya. Bulir mata ku mulai mengalir disetiap sudut mataku. Dan kutatap Gaara dengan rasa amarah.
"Sudah ku katakan berapa kali pada mu Gaara-kun, kau tidak tahu apa-apa tentang ku, kau dan Sasuke tidak tahu mengenai kehidupan ku, kalian juga tidak tahu apa alasan kalian mencintaiku. Dan kau juga tidak tahu kenapa aku ingin membunuh Sasori. Sasori telah membunuh sebagian Klan Uchiha, dan dia juga lah yang mengadu domba Klan Uzumaki dan Uchiha. Dan membuat hubungan kedua Klan pecah. Dan kau juga tidak tahu betapa banyak korban berjatuhan karenanya" Jelasku pada Gaara.
"Maaf Gaara, Maaf tapi jujur, aku tidak ada niat untuk membunuh ayah mu" ucapku lirih.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Terdengar suara tepuk tangan dari Sasori. "Sungguh drama yang luar biasa menegangkan, saya suka saya suka" ucap Sasori menggunakan logat Mei-mei di upin ipin.
"Lagi pula, aku sudah memperingatkan mu, Gaara. Untuk tidak jatuh cinta kepada Sora. Karena nanti kau akan kecewa seperti malam ini " sambung Sasori.
"Ayo keluarkan sanderanyanya" perintah Sasori kepada para bodyguard di sampingnya.
"Sandera" ucap ku. Langsung saja, para bodyguard itu membawa sanderanya. Dan ternyata sandera itu adalah Karura.
"IBU" ucap Temari, Kankuro dan Gaara.
"Lagi pula, malam ini aku tidak akan membiarkan Sora dimakamkan sendirian. Aku ingin Sora mempunyai teman di kuburnya nanti."
"Lepaskan ibu ku brengsek"Teriak Kankuro dengan Emosi, kemudian berlari menuju Sasori membawa kursi penonton dengan niat untuk menimpuknya. Namun niatnya gagal, salah satu penjaga menghantam pundak Kankuro dengan kuat, sehingga Kankuro tersungkur kelantai.
"Kankuro" teriak Temari khawatir, dan lari menuju ketempat Kankuro jatuh.
"Kau, kenapa kau menyandera ibu ku" Tanya Gaara.
"HAhahhahahahah, kau terlalu kelewat polos Gaara, ya jelas membunuhnya lah, karena ibu mu, ibu ku jadi MATI" ucap Sasori dengan mengarahkan pistol ke kepala Karura.
"Gaara-chan" ucap Karura seraya meneteskan air mata.
"Ohh, tunggu tunggu, ada satu lagi… ayo keluarkan sandera satu lagi" perintah Sasori.
Kemudian para bodyguard membawa sandera satu lagi keluar, dan ternyata
"Sakura" ucap ku dan Sasuke bersamaan,
"Ah, pertunjukan pesta kali ini pasti tambah menyenangkan, karena apa karena kita akan menyaksikan kematian pimpinan Sora, Karura, dan Sakura. Beri tepuk tangan" ucap Sasori seperti orang gila.
Seluruh pengunjung bergidik ngeri melihat tingakah aneh yang dilakukan Sasori, semuanya pada terdiam, dan tidak ada satu pun diantara mereka yang berani untuk membuka mulutnya.
"Lepaskan Sakura dan bibi Karura" ucap Ku, kemudian aku berjalan menuju podium untuk menghampiri Sasori.
"Sora, apa yang kau lakukan" ucap Minato.
"jangan khawatir paman, aku akan membawakan anak mu kembali kepadamu" ucapku. Langsung saja aku naik keatas podium dan mendekati Sasori.
"Lepaskan mereka semua, dan seluruh siswa yang berada disini. Jika kau menginginkan ku, bawa aku bersama mu. Dan jika kau ingin membunuh ku, aku pinta kau untuk tidak lakukan dihadapan kedua orang tua ku" mohon ku kepada Sasori.
"HAhahahaahhahaha, kau… kau bercanda Sora kau bercanda. Sadarlah hahhhahha" gelak Sasori.
"tidak ada yang lucu, aku mohon segera lepaskan mereka" pintaku.
"bisa saja,tapi kau harus berdiri tepat dibawah lampu hias itu" perintah Sasori kepadaku.
"baiklah jika itu yang kau inginkan" kataku, seraya turun dari podium dan menuruti perintah Sasori.
"Sora jangan nak, jangan" teriak ibu ku
"Hei diam kau ibuk tua" hardik salah satu bodyguard. Dengan menodongkan pisau tepat ke mulut ibuku. " atau peluru ini akan menembus ke kerongkonganmu"
"Diam kau brengsek atau kau yang akan mati" teriak ku dengan menodongkan pistol ke kepala bodyguard tersebut. "peluru ini akan dengan mudah menembus otak dangkalmu"
"lepaskan pistol mu Sora, dan segera berdiri dibawah lampu itu" perintah Sasori.
Langsung saja aku meletakan pistolku kelantai, dan kemudian bodyguard brengsek itu memungutnya. Kemudian aku berjalan menuju lampu hias.
Kini aku berdiri tepat di bawah lampu hias. Kulihat disekelilingku menatapku dengan tampang khawatir, kuliahat raut wajah Sasuke yang cemas meliahat Sakura di sandera dan melihatku tengah di perintah seenaknya oleh Sasori.
Tiba-tiba saja, Gaara mengampiriku dan meraih tangan ku dan menggenggamnya.
"Kau ingin membunuh Sora dengan menimpanya dengan lampu hias besar ini, melumpuhkannya dan setelah itu baru membunuhnya kan. Kalau memang ia itu tujuanmu, lakukan juga dengan ku. Kalau memang ia ibuku yang membunuh ibu mu. Bisakah aku menggantikannya untuk membalaskan dendam mu. Dan juga lepaskan Sakura" perintah Gaara dengan mantapnya.
"Tcih, seenaknya sekali kau memerintahkan ku, memangnya siapa dirimu?" ucap Sasori dengan tampang kesal.
"Itu bukan perintah, itu negoisasi" jelas Gaara.
"Baiklah kalau itu mau mu akan aku turuti" ujar Sasori.
"Gaara jangan" teriak Karura dan Sakura bersamaan.
Suasana saat itu terlihat sangat menegangkan, aku tidak bisa berbuat apa-apa entah kenapa pikiran ku buntu saat ini. Aku sangat ingin menyelamatkan mereka. Tapi aku takut akan membahayakan nyawa mereka.
"Gaara aku mohon jangan , jangan lakukan itu, aku..aku tidak ingin kau mati, Gaara" ucap sakura seraya menangis. "Aku mohon, Gaara aku mohon. Aku mohon, aku tidak bisa hidup tanpa mu, aku…aku masih menyukai mu, aku tidak ingin kau mati" sambung Sakura. Sontak saja membuat sasuke merasa terkejut mendengar pengakuan Sakura kepada Gaara..
.
.
.
"Wow, wow wow, mentang-mentang ini malam valentine , semuanya pada saling unjuk perasaan masing-masing" ejek Sasori. "Ayo, body guard bawa Itachi keluar" perintah Sasori.
"Hah, Itachi" ucap ku." Apa yang kau lakukan pada kakak ku" bentak ku pada Sasori.
Kemudian Itachi keluar dengan mata tertutup dan tangan terikat kebelakang badannya.
"Sial kau Sasori, kau mengkhianati ku, apa yang kau lakukan kepadaku, kenapa kau perlakukan aku seperti ini" rutuk Itachi.
"Tidak ada, hanya sekedar memberi Supprise kepada mu" ucap Sasori." Yooo, penjaga lepaskan pentup matanya, agar dia bisa melihat siapa sasaran snippernya" perintah Sasori.
Seketika itu juga penutup mata Itachi terbuka. Dan saat dibuka betapa terkejutnya ia melihat keadaan Aula beserta pengunjungnya saat itu.
"Kau, apa yang kau lakukan kepada orang tua ku dan adik ku, dan yang lainnya" ucap Itachi yang merasa kesal melihat situasi di tempat ia berdiri saat ini.
"Kau llihat gadis di bawah lampu sana ?" tunjuk Sasori. " Dialah sasaran yang harus kau musnahkan" Ujar Sasori.
Kemudian Itachi mengalihkan pandangannya ."Hah, Sora" ucap Itachi terkejut, melihat bahwa aku lah yang akan dijadikan sasaran snippernya oleh Sasori.
"Lakukan atau ku bunuh mereka" perintah sasori seraya menatap kedua orang tua ku dan juga orang tua Naruto serta sanderanya.
Saat itu kakak ku Itachi berada di dalam posisi yang pelik, dimana ia harus memilih antara seisi aula ini atau aku. Aku yang kala itu merasa kesal, dan ingin rasanya aku mencabik cabik tubuh Sasori malam itu.
"Sasori…"ucapku. "sudah cukup main-mainnya, sudah cukup sandiwaranya. Aku lelah,"
"Ohh, kau lelah..baiklah akan segera ku kirimkan kau ke surge " ucap Sasori.
"Diam kau, seharusnya aku yang berkata seperti itu" kemudian kulepaskan genggaman tangan Gaara sejak tadi. Dan mengeluarkan pistol Snipper cadangan yang berada di Saku ku.
"Kau seharusnya Sadar Sasori, aku tidak mungkin akan bertindak bodoh malam ini, datang tampa membawa persiapan" ucap ku. " kau lihatlah keluar sana apa yang terjadi pada seluruh Vodo-mu." Perintah ku.
Dan apa yang terjadi ?...
To be continued
