Chapter 21: To Evoke The End
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~
Nggak terasa udah tanggal 6, tanggal 13 saya mohon diri untuk libur dulu, selain tanggal 14-16 saya UAMBN, tanggal 13 nya sendiri saya ada acara, udah beli tiket nih XD #PLAK
Chapter ini adalah chapter akhir dan awal, kalian pasti akan mengerti nanti ^^
Enjoy~
~Phantasm~
Main Character: Kagamine Len, VY2 Yuuma, IA, Kagamine Rin
Main Pair:
Len X Rin
Yuuma X IA
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Summary :
"'Tragedi berdarah dari kedua dunia tersembunyi dalam kutukan abadi keegoisan manusia'/"Harus ada orang yang memainkan peran jahat demi kedamaian dunia yang sebenarnya! Dan akulah orang yang akan melakukannya!"/'Dan… Mereka bahkan tidak tahu, tragedi yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang…'"
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING!
XOXOX
-Normal POV-
Langit menjadi saksi bisu dari pertarungan dahsyat antara dua orang yang tidak diketahui asal-usulnya dengan jelas. Petir menari mengiringi tarian mereka di angkasa, gemuruh mewarnai musik seperti pesta.
Ini bukan lagi pertarungan sihir dan sains yang selama ini mereka semua alami, ini sudah melebihi batas kewajaran dari sihir dan sains yang dikenal selama ini.
Tidak ada satupun dari mereka berdua— Orang yang bertarung, mengeluarkan satu lingkaran sihir untuk melakukan suatu sihir, seakan-akan seluruh tubuh mereka sendiri adalah sihir.
Len adalah orang yang sangat agresif dalam pertarungan ini, setiap langkahnya diiringi daya ledak yang sangat luar biasa. Tangannya terus menembakkan semacam proyektil kepada lawannya. Dia tidak mengambil inisiatif untuk pertarungan jarak dekat.
Sedangkan lawannya, pemuda berambut pink yang tidak bisa ditebak sedang menunjukan raut wajah seperti apa, hanya terus menghidar dan menghindar, orang yang melihat pertarungan ini pasti akan mengira kalau dia sedang terdesak.
Tombak kembali diputar di tangan sang pemuda, segmen-segmen yang ada di tombak itu membesar dan mulai membentuk bentuk yang runcing, segmennya terpisah satu sama lain dan mulai berputar ke arah yang berlawanan di tiap segmennya. Tombak aneh itu sekarang seperti bor yang siap menusuk segalanya hingga berlubang dan terkoyak dari dalam.
Leon yang tertatih-tatih di bawah hanya bisa melihat ke atas dengan pandangan terbatas, karena lubang yang menunjukkan langit yang terbentuk karena Len dan si pemuda misterius tersebut hanya bisa membentuk sebuah garis lurus yang tidak terlalu luas. Leon terus melihat apa yang bisa dia lihat, hingga dia sendiri akhirnya menyadari sesuatu.
"Pemuda itu… Tombaknya… Bukankah itu seperti milik Yuuma?" Ucap Leon pelan.
Leon mencoba mengangkat seluruh tubuhnya yang seakan sudah remuk ditelan monster, organ dalamnya serasa sudah lepas dan teraduk-aduk dari dalam, dia tidak sanggup untuk berjalan dengan cepat, jadi dia hanya bisa menyeret tubuhnya di atas kakinya perlahan dengan terus memeluk benda-benda di sekitarnya sebagai sanggahan. Puing-puing yang berantakan tersebar tidak karuan, sekarang Leon hanya harus mencari dimana Kaito berada, dia pasti sadar kalau guncangan tadi adalah guncangan yang tidak biasa.
"Aku harus segera bertemu dengan yang lain, sebelum aku mengalami Mana Down."
Leon yang tidak tahu harus berjalan kemana, sedang menghadapi pilihan sulit. Jika dia tidak menyembuhkan tubuhnya, dia bisa pingsan di tengah jalan dengan semua luka tumbuk dan sayat yang terus menyerang syaraf rasa sakitnya. Jika dia menggunakan sihir untuk menyembuhkan diri, dia bisa saja kehabisan stamina dan Mana karena mental dan fisiknya tidak dalam kondisi kuat untuk mengeluarkan sebuah sihir dengan sempurna. Mana Down adalah suatu kondisi dimana tubuh tidak ingin lagi mengekstrak Mana dengan paksa, kinerja penyaluran Mana di dalam tubuh dan inisialisasi nya tidak bisa dilakukan. Jika si pengguna terus memaksa untuk mengeluarkan sihir dalam kondisi ini, dia akan mengalami Mind Out, atau kondisi koma karena kejang otot dan kontraksi tubuh yang dipaksakan untuk menggunakan sihir, si penyihir bisa berakhir pingsan dan jatuh dalam keadaan koma.
Penyihir jugalah manusia, walau tubuh mereka terus mengeluarkan dan memproduksi Mana tanpa batas, ada batasan tertentu yang membuat mereka harus berhati-hati dalam menggunakan Mana tersebut, batasan tersebut disebabkan kinerja tubuh yang juga memiliki limit sampai kapan Mana bisa digunakan untuk membuat sebuah output.
Kembali dimana Len dan si pemuda misterius sedang bertarung di atas langit tanpa menggunakan satu lembarpun bulu sebagai penyanggah sayap mereka untuk terbang.
"GRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAA!"
Auman Len yang tidak jelas mulai terdengar lagi, kuku tangannya memanjang hingga batas yang tidak wajar, taringnya menyembul keluar bersamaan dengan saliva yang terus menetes, meninggalkan pesan ganas yang tidak bisa ditahan.
Tidak memberikan waktu bagi lawannya untuk diam, si pemuda misterius menghilang dan muncul di belakang Len, Len juga tidak mau kalah, dia terus mengungguli si pemuda dengan kecepatannya yang luar biasa.
Tombak bertemu dengan tangan, entah terbuat dari apa, tapi tangan Len bahkan tidak sobek sedikitpun saat memegang tombak yang berputar seperti bor itu. Len balik melihat lawannya, tubuhnya yang sekarang seperti setengah monster itu kembali mengejang, dengan satu hentakan, kerangka sayap yang sudah ada di punggung Len langsung membuat sebuah gerakan aneh.
Bola raksasa terbuat di udara, angin berputar membuat sebuah pilinan tanpa berhenti, bentuk bola tersebut semakin besar dan besar. Tidak ada yang menyangka kalau kekuatan Len yang seharusnya tidak ada dalam hal sihir, bisa sebesar ini hanya dengan satu sentuhan di dahi.
Sebuah kompresi plasma yang lain terbentuk di udara, kali ini skalanya sangat besar, cukup besar untuk mengikis bunker di bawahnya hingga rata seperti tanah yang tandus. Tapi bukan itu yang terjadi. Bola raksasa itu berkontraksi dan menembakan plasma ke segala arah. Satu saja dari tembakan itu mengenai sesuatu, maka sesuatu itu akan berlubang seperti donat dalam sekejap. Entah apa yang dipikirkan si pemuda, dia tidak menghindar, tapi dia malah menunggu ke datangan semua plasma yang seperti hujan laser tersebut.
Tanpa bergerak, rantai-rantai muncul menangkap setiap plasma yang ada di udara, Len sempat tersentak karena tidak mengerti apa yang terjadi. Bagaimana sebuah rantai bisa menangkap hal semu seperti plasma?
Plasma adalah kompresi udara dengan tambahan elektron yang tersebar, jika menyentuh benda padat, seharusnya benda tersebut akan meleleh dan berlubang tanpa meninggalkan jejak.
Len mundur sedikit dari tempatnya, plasma-plasma yang tertangkap sudah menghilang, sama sepert peristiwa oksidasi dalam sebuah senyawa kimia. Len kembali menggebu-gebu, melihat serangannya dihilangkan dengan mudah, wajahnya semakin kesal dan kesal, membuat dirinya geram dan menghampiri si pemuda tanpa mempedulikan resiko pertarungan jarak dekat, tapi…
"Jangan mengabaikan… Aku!"
BLARRRR!
Seseorang datang dan menendang punggung Len yang sedang dalam posisi horizontal di udara dari atas, membuat sebuah debuman besar di atas daratan bersalju.
.
.
.
Daratan yang tadinya putih bersih, kini sudah ternodai darah dan menghitam, Len mengeluarkan banyak darah berwarna hitam pekat dari serangan tiba-tiba tersebut. Tapi, tanpa Len sendiri sadari, darah tersebut terserap kembali dan lukanya tertutup dengan cepat.
"GRRRRAAAAAAAAAAA!"
"Dia benar-benar monster… Aku jadi ingin membuatmu ada di dalam koleksi mayat hidupku." Ucap Orang yang baru datang.
Si Pemuda misterius tidak bergeming, dia hanya menatap dengan datar si pendatang baru yang mengganggu pertarungan antara dirinya dan Len.
Hiyama Kiyoteru.
Dia datang dari langit dan menginterupsi pertarungan Len dengan si pemuda misterius.
"Hei, aku kesini bukan untuk membantumu. Lakukan saja tugasmu." Ucap Kiyoteru, sebelum dia melesat ke tanah dengan senyuman yang mengerikan.
XOXOX
SPLASH!
"Aku tidak ada waktu lagi untuk meladenimu, Mikuo."
Kaito berdiri dengan membawa Miku di pelukannya, dia menggendong Miku dan berniat pergi, tapi…
"Kau pikir kau sudah membunuhku?"
Kaito ingin muntah ketika melihat ke belakang.
Sebuah sulur yang tidak jelas darimana asalnya menarik kepala Mikuo yang semulanya sudah putus dengan satu serangan dari Kaito, kepala itu tersambung kembali dengan lehernya, dan semuanya kembali seperti semula.
"Apa ini caramu memperlakukan adik dari orang yang kau cintai?"
"Mikuo… Kau…"
"Aku selalu memikirkannya semenjak hari itu, aku dibuang ke Afrika oleh nenek ku yang aku kira menyayangiku, aku mengisi hari ku dengan dendam dan dendam. Tidak peduli berapa lama waktu berlalu, hatiku sudah tidak pernah lepas dari amarah. Saat dengan cerobohnya, kau membiarkan orang tuaku terbunuh dan mengambil kakak ku. Dendam itu tidak pernah mereda walaupun sedikit. Saat Albert mengambilku, aku sudah memutuskan untuk membalas semua dendam ini… Lihat, bahkan aku sudah memodifikasi tubuhku, berbeda dengan para Elf yang hanya bisa beregenerasi, tubuhku sekarang benar-benar abadi!" Ucap Mikuo dengan lantang.
"Apa kau… Apa kau ada hubungan dengan percobaan yang dilakukan oleh Neru?"
"Neru?" Ucap Mikuo.
"Maksudmu teman vampire mu itu?" Lanjutnya
Mikuo terkekeh, kemudian dia tertawa keras.
"HUAHAHAHAHAHAHA!"
"Apa…?"
"Jangan samakan aku dengan makhluk rendahan seperti itu!" Teriak Mikuo.
Sebuah sulur keluar dari tangan Mikuo, menghadap langsung ke arah Kaito dengan arah yang lurus, Kaito yang terkejut langsung menghindar, tapi pendaratannya tidak sempurna sehingga membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh ke lantai sambil menahan beban Miku di tangannya.
"Vampire masih bisa mati." Ucap Mikuo.
"Apa?" Kaito menggumam dengan pelan.
"Mereka memang tidak bisa dibunuh ataupun menua, tapi mereka bisa mati." Lanjut Mikuo.
"Bagaimana…"
"Apa kau tidak pernah belajar? Ada sebuah metode kuno dari Erda-Orthe yang bernama Cuth, jika diartikan dalam bahasa latin, mungkin sama dengan Nova atau 'baru'. Itu adalah cara seseorang untuk menyerap Mana seseorang dan mengambil jiwanya secara keseluruhan, tapi si penyerap akan menjadi wadah segala kondisi orang yang diserap kecuali kesadaran orang yang diserap. Vampire bukanlah pengecualian, tapi teknik aneh itu sudah lama hilang, teknik tersebut hanya ada di dalam catatan sastra sihir lama para penduduk, dan ada kemungkinan itu hanya mitos. Aku berbeda, aku tidak memiliki Mana dan aku murni abadi, aku tidak bisa dibunuh." Ucap Mikuo dengan senyuman yang mengerikan.
Kaito terdiam sebentar.
"Apa ada kata terakhir?" Tanya Mikuo.
Kaito meletakkan tubuh Miku dengan perlahan, dan tanpa basa-basi, Artemis sudah ada di tangan Kaito.
"Apa kau ingin aku menyerah tanpa perlawanan?" Ucap Kaito.
"Jika mungkin."
Tangan Kaito langsung menarik busur yang ada di tangannya, puluhan panah langsung melesat ke arah Mikuo dengan cepat, tapi jangankan menghindar, dia menerima semua serangan itu dengan telak. Tubuh Mikuo berlubang dimana-mana, tapi tidak ada lubang yang tidak sembuh.
"Aku juga sudah tidak merasakan rasa sakit."
Mikuo mengeluarkan sulur-sulurnya sekali lagi, sulur tersebut langsung menarget Kaito dan mengganggu pergerakannya, Mikuo terus tertawa dan tertawa, Kaito terlihat kesusahan menghindari semua sulur-sulur itu.
"ADA APA?! ADA APA?! KEMANA WAJAH SOMBONGMU TADI?!"
"Tch!"
Kaito terus lompat mundur ke belakang, sampai dia melewati tubuh Miku.
Waktu terasa lambat, hingga Kaito menyadari kalau tubuh Miku lah yang diincar oleh sulur-sulur tersebut, terlambat untuk sadar dan bertindak, Kaito tidak punya pilihan untuk menembak ke arah Miku.
"Slash!"
Panah Kaito meledak-ledak di udara di sekitar Miku, untung saja, Kaito berhasil dengan akurat menahan semua sulur yang tertuju ke arah Miku dan membuat Mikuo menarik mundur sulurnya.
Mikuo tidak berhenti, tangannya terus terpelintir kesana-kemari seperti lilin, sulur-sulur aneh itu terus berdatangan dan terus menyerang Kaito seperti tidak ada hari esok bagi Kaito. Kaito sendiri adalah penyerang garis belakang, jadi pertarungan satu lawan satu, apalagi tanpa partnernya, Miku… Sama saja dengan mengirim dirinya sendiri ke kuburan.
Tempat yang sempit juga membatasi ruang gerak Kaito, tempat sempit seperti ini malah menjadi keuntungan bagi Mikuo karena dia bisa dengan bebas mengendalikan seluruh sulurnya, sedangkan Kaito butuh membidik sebelum bisa menembak. Kaito terus mencoba menyerang sambil terus bergerak, tapi kebanyakan serangan itu tidak berguna karena tubuh Mikuo hanya harus terus beregenerasi untuk mengungguli Kaito.
Luka sayatan dan luka lebam mulai terlihat di tubuh Kaito, dia akhirnya terpaksa mengambil Miku dan melakukan taktik hit & run sambil membawa Miku. Walau sulit karena harus menggendong Miku sambil menyelaraskan serangan, dia bisa bertahan lebih lama sampai bantuan tiba daripada berdiam di satu tempat selama tidak ada pintu tertutup yang menghalangi jalannya.
"TERUSLAH BERLARI! LARILAH SEPERTI KECOAK YANG TAKUT DENGAN KORAN!"
XOXOX
Pertarungan Len dan musuhnya masih belum juga berakhir.
Dengan datangnya Kiyoteru, semua keadaan malah menjadi buruk, semuanya memburuk…
Len, walau tidak kelihatan terdesak, kini dia sedang terdesak. Walau kekuatannya luar biasa, staminanya tidak luar biasa, apalagi dia sedang ada di dalam kondisi dimana dia sendiri tidak bisa mengendalikannya.
Kiyoteru terus memperburuk keadaan dengan menyerang Len dari jarak jauh dan menggunakan mayat untuk menyerang dari jarak dekat, sedangkan si pemuda misterius hanya terus menyerang Len ketika ada celah. Semua luka Len tidak perlu dikhawatirkan, yang perlu dikhawatirkan sekarang adalah, sampai kapan Len ada di dalam kondisi mengamuk dan tidak terkendali dan sampai kapan dia bisa terus menahan serangan musuhnya.
Walau Len kelihatan unggul, itu tidak berguna kalau pergerakannya sudah dikendalikan. Dia akan kalah dalam waktu singkat.
Si pemuda misterius dengan topengnya tidak berhenti menghilang dari satu tempat ke tempat yang lain yang sudah disiapkan para mayat hidup ketika menggiring pergerakan Len. Len akan terus digempuri serakan dadakan lagi dan lagi.
"TERUSLAH MENARI!" Teriak Kiyoteru.
Wajahnya yang menakutkan dengan dihiasi ekspresi senang malah membuat semuanya makin buruk.
Si pemuda misterius mendapati momentumnya dalam waktu yang sempurna ketika Len berhenti untuk mengeluarkan serangan besar guna menyerang semua mayat hidup yang ada di hadapannya.
Pemuda misterius itu menghilang dengan hanya menyisakan bayangan, tombaknya berubah bentuk lagi, lebih tipis dan lebih kuat, dia menusuk Len langsung dari belakang dan menghilang lagi menyisakan bayangan yang masih dalam posisi menusuk Len.
Len memuntahkan banyak darah.
Lalu, si pemuda muncul di atas Len, ketika tombak sudah dekat dengan kepala Len, kerangka sayap melindungi kepala Len dari tertembus tombak. Pemuda tersebut hilang lagi sambil menyisakan bayangan di tempat yang sama.
Serangan bayangan itu terus berlanjut terus menerus, membuat Len seperti dikelilingi puluhan orang yang sedang menyerangnya secara bersama-sama.
Tapi….
"GRRRRAAAAAAAAAAA!"
Teriakan itu terdengar lagi.
Saat si pemuda misterius sudah siap datang dari sudut yang tidak diduga dan menusuk Len dengan telak, Len menghilang dari hadapan si pemuda dan menyisakan bayangan di tempatnya semula. Tubuh Len beserta kerangka sayapnya muncul di belakang si pemuda, si pemuda terlambat bereaksi dan dengan cepat, sebuah pukulan telak menyambari tengkuk si pemuda itu.
BLARRRR!
Suara dentuman dan tanah retak langsung terdengar berkilo-kilo jauhnya. Para mayat hidup yang kehilangan pijakannya, kehilangan keseimbangan juga dan tidak bisa mempertahankan postur.
Alih-alih menggunakan sihir massiv seperti bola plasma sebelumnya, Len malah menghampiri mayat hidup yang tidak terhitung jumlahnya tersebut. Dia menggunakan serangan yang sama seperti si pemuda misterius dengan cara menyayat satu persatu mayat hidup dengan kukunya dan melakukan gerakan bayangan dengan cepat, serangan Len terlihat seperti ada ratusan Len yang secara bersamaan membentuk bayangan dan muncul di hadapan para mayat tersebut.
"Apa?!"
Kiyoteru terkejut karena Len muncul di depannya juga, tangan Len sudah siap menghantam Kiyoteru, sedangkan Kiyoteru hanya bisa melindungi dirinya dengan kedua pistolnya.
BLAM!
Tubuh Kiyoteru terpelanting ke udara dan terpental berkali-kali di dataran bersalju.
"GRRRRAAAAAAAAAA!"
"A—apa itu?! Dia mempelajari gerakan musuhnya?!" Ucap Kiyoteru terkejut.
Kiyoteru tidak mengerti apa yang sedang dia lawan, sepertinya keadaan musuh adalah hal yang harus dikhawatirkan saat ini.
Len melesat dengan cepat lagi ke arah Kiyoteru, merasa pelurunya bisa menyambangi gerakan Len, Kiyoteru menembak membabi buta ke segala arah untuk menghentikan gerakan cepat Len, paling tidak menghambatnya.
Tapi gerakan bayangan itu sangat tidak bisa diprediksi. Hingga ada satu momen dimana Len muncul tempat di depan lintasan peluru yang sangat banyak.
"KENA!" Ucap Kiyoteru.
Len memasang pose bertahan dengan kerangka sayapnya, merasa serangannya berhasil, Kiyoteru langsung melesat maju dan siap menembakan railgun dari jarak dekat tepat di hadapan Len.
"MATI!"
BLAAARRR!
Railgun sudah mewarnai daratan, percikan listrik langsung menyambari daratan. Seluruh tanah menghitam dan salju sudah menguap.
Tapi…
BUAAK!
Kiyoteru adalah orang yang mencium tanah untuk kedua kalinya.
.
.
.
"Menyerah?"
Miku sudah tidak ada di tangan Kaito lagi, Kaito sudah terbaring tidak bertenaga di lantai.
"Khh… Miku…"
"Apa kau sudah ingin melepaskan Miku? Kalau iya, aku akan mengampuni nyawamu. Aku adalah orang yang dermawan dan berbelas kasih walau kepada musuh, kau tahu?" Ucap Mikuo dengan wajah meremehkan.
Semua serangan tidak mempan, baik fisik ataupun sihir. Kaito hanya melawan kehampaan, tidak ada serangan berarti yang berhasil dia lancarkan. Jika dia terus mendapat luka, Kaito hanya memberikan kesempatan untuk musuhnya yang tidak bisa terluka dengan diam dan menembak, membuat musuhnya mudah untuk menyerangnya.
Ini semua sia-sia.
Tidak ada yang bisa Kaito lakukan untuk menyelamatkan Miku.
"Katakan, apa kau menyerah?"
Kaito tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi.
Apa yang masih bisa dia usahakan? Jawabannya tidak ada…
Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk menyerah…
Tapi…
"Tidak…" Gumam Kaito.
"Apa?"
"Aku belum menyerah…"
Kaito berdiri dengan kedua kakinya.
"Aku masih bisa memperjuangkan takdirku."
BLARRR! BLARRR! BLARRR!
Puluhan tinju dari sulur menghantam Kaito dan menghancurkan tembok alloy di belakang Kaito.
"Apa kau masih ingin membantahku? Apa kau ingin cepat mati?!" Tanya Mikuo dengan tidak sabaran, wajahnya penuh dengan rasa kesal.
Kaito seharusnya sudah menyerah, lagipula dia terkadang risih jika dengan Miku. Lantas, buat apa terus memperjuangkan Miku?
"Karena cinta…" Ucap Kaito lemah.
BLAARRR! BLAAARR! BLAAARR!
Serangan sulur tersebut terus menghantam Kaito tanpa henti, seluruh tubuh Kaito babak belur, organ dalamnya seakan teracak-acak dan otak dan syarafnya tidak kuat lagi menahan impuls rasa sakit.
"CINTA MIKU HANYA UNTUKKU!" Mikuo teriak dengan amarah
"HANYA AKU YANG BOLEH MENCINTAI MIKU!"
"HANYA AKU SEORANG!"
Serangan itu tidak berhenti dan terus menghantam Kaito.
"Aku… Tidak…"
"DIAM! DIAM! DIAM! DIAM!"
BLARR! BLARR! BLARR!
Guncangan demi guncangan mulai terasa semakin berat di bunker tersebut, tidak lama lagi sudut bunker tersebut akan runtuh.
Tapi…
"Aku… Belum mau… Menyerah…"
.
.
.
"KENAPA?! KENAPA AKU TIDAK BISA MENANG MELAWANMU?!"
Kiyoteru terus mengeluarkan mayat hidup lagi dan lagi, tapi semuanya terus dimusnahkan Len tanpa sisa.
"ENTAH SAAT KAU MASIH LEMAH!"
"ATAUPUN SAAT KAU KUAT!"
"AKU TIDAK PERNAH BISA MELAWANMU!"
Kiyoteru tidak berhenti, dia hanya bisa terus berteriak di belakang segala tumpukan mayat hidup yang tidak berhenti keluar. Tidak lama lagi, dia akan mengalami Mana Down.
"Yuki…" Isakan Kiyoteru terdengar.
"AAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!"
Mayat hidup yang ada terus menjadi ganas dan ganas, seakan tidak ada hari esok yang tersisa bagi Kiyoteru. Dia pergi ke tempat ini dengan harapan bisa mengalahkan Len yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Tapi, jika begini, ini sama saja dengan berhenti di tengah harapan kosong sejak awal. Di tengah keputus asaan yang dirasakan Kiyoteru, dia hanya bisa berkata dengan pedih...
"Yuki… Kenapa kita tidak bisa hidup bahagia?" Ucapan pelan itu keluar dari mulut Kiyoteru.
Semuanya sama saja. Baik yang ini dan yang itu, yang manapun tidak ada bedanya. Mata Kiyoteru sudah tidak bisa menangkap cahaya, semua usahanya sia-sia, dia sudah tidak mau menerima cahaya. Sebagaimana nasib seorang Necromancer yang mengendalikan hajad mayat yang sudah mati, hatinya juga sudah lama mati. Dia tidak bisa hidup dengan cahaya… Cahaya adalah musuhnya.
Kiyoteru putus asa dengan terus menyerang Len tanpa melihat arah tembakannya. Sedangkan si pemuda misterius, dia sudah berhenti menyerang. Dia hanya melihat semuanya dari kejauhan.
"PERSETAN DENGAN SEMUA—
JLEB!
"Eh?"
"Maaf, tapi tidak ada gunanya mempertahankan boneka yang sudah rusak."
Kiyoteru memuntahkan darah, dia tidak memasang pertahanan apapun, dan dia tidak menyangka… Si pemuda bertopeng adalah orang yang menusuknya dari belakang. Tombak itu dibiarkan tertancap, kemudian berubah bentuk lagi seperti bor dan berputar dengan kencang.
"GRAA! GRRAA! GRAAA!"
"AAAH! AAAH!"
Suara itu keluar dari mulut Kiyoteru yang sudah bersimbah darah, rasanya seperti ditumbuk dari dalam perut. Kini seluruh perutnya sudah hancur…
"Yuki…" Ucap Kiyoteru dalam keadaan sekarat.
"Kalian… Ka… Ka…"
Kiyoteru menatap langit, mata dan mulutnya bersimbah darah, dengan mata yang menajam, dia masih menatap langit. Dia hanya bisa terkekeh pelan, hidup sudah membencinya, takdirpun membencinya, Tuhan sudah lama berpaling darinya. Kiyoteru tidak bisa melakukan hal lain selain terus terkekeh dan lama-lama tertawa keras.
"SIALAN KALIAN!"
Dengan tenaga terakhirnya, dia berteriak dengan kencang.
"AKU MENGUTUK SEMUANYA! DUNIA BESERTA ISINYA! ALAM SEMESTA BESERTA TUHANNYA! AKU TIDAK AKAN PERNAH PUAS MEMBALAS DENDAMKU UNTUK KALIAN!"
Hingga akhirnya Kiyoteru mati, tapi… Senyuman masih menghiasi wajahnya, dengan air mata darah yang tidak berhenti mengalir.
Air mata itu meresap ke dalam salju… Kini semua salju sudah berwarna merah pekat kehitaman…
"GRAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Len tidak mengubris kejadian di depannya, dia malah menjadi ganas dengan para mayat hidup yang ada di sekitarnya. Tubuh Kiyoteru menghilang tapi para mayat hidup tetap keluar, semakin banyak dan banyak, ratusan, ribuan, puluh ribu, ratus ribu…
Seluruh daratan itu ditutupi mayat hidup.
"Apa Necromancer akan melepas kekuatannya saat mati?" Si pemuda menyingkir ke tempat yang lebih tinggi karena para mayat hidup itu hanya mengincar Len.
Di saat yang sama, Len membumbung tinggi ke udara. Langit kembali menghitam dan berputar di atas Len, membuat sebuah lubang di tengah awan yang memancarkan cahaya kebiruan. Plasma kembali terbentuk, tapi kali ini itu bukan bola plasma.
Sebuah guratan besar dari langit jatuh ke bumi, seperti laser yang dikirim dari luar angkasa, ledakan dahsyat bersamaan dengan hancurnya para mayat hidup di bawah diwarnai dengan warna biru dan juga bau anyir darah.
Serangan itu adalah serangan terdahsyat yang pernah Len keluarkan dalam wujudnya sekarang, tanah menjadi magma dan lautan magma itu membelah bunker menjadi dua area, entah berapa banyak manusia yang mati. Tapi tempat dimana Mikuo dan Kaito berada tidak terkena plasma itu, karena bunker bawah tanah itu benar-benar luas.
Suara gemuruh kembali terdengar dan langit terus berputar mengerikan dengan Len sebagai pusatnya. Hingga akhirnya...
"GRAAAAAAAAAAAAAA!"
Cahaya merah berkedip di langit, dan Len jatuh dari sana tepat ke arah lubang magma. Tubuhnya kembali menjadi semula dan kerangka sayap aneh yang hanya sebelah di punggungnya sudah tidak tampak. Dia jatuh dengan tenang tepat ke bawahnya, luapan magma sudah siap menyambutnya turun.
Tapi…
Wush!
Si pemuda misterius menangkap Len dan membawanya ke daratan.
"Apa dengan begini semuanya berakhir?"
Ucap si pemuda itu.
Tangannya siap menarik tombak dan menusuk Len.
"Aku bisa membiarkanmu jatuh ke magma, tapi, aku tidak akan bisa terima jika kau mati karena hal itu… Len… Entah aku harus berkata apa… Tapi… Aku tahu, aku tidak pantas meminta maaf."
Tombak itu berakhir dengan menancap di tanah.
.
.
.
"KENAPA?! KENAPA?! KENAPA KAU TIDAK MATI, PANGERAN SIALAN!"
Mikuo terus menghantam Kaito, hingga Miku bangun dan melihat ke sekelilingnya.
"Kaito?"
Saat Miku melihat helaian rambut biru yang terhantam di tembok, Miku langsung berlari dan mencoba menarik sulur yang menghantam Kaito.
"HENTIKAN!"
Tangan Miku lecet, Mikuo sudah tidak lagi mengenali Miku.
BUAK!
Miku hanya terus terhempas lagi dan lagi.
"Mikuo! Hentikan! Kumohon! Hentikan!"
Tangisan Miku tidak lagi berharga di mata Mikuo.
Hingga salah satu sulur itu berhenti dan terpotong.
Kaito ada di sana, setengah tubuhnya tertutupi oleh zirah aneh, dan dia memegang pedang. Dengan kekuatannya yang terakhir, dia melepas potensi sebenarnya dari busur yang selama ini bersama dirinya. Overdrive, fungsi baru yang ditambahkan ke dalam Arc Relic belum lama ini, menjadi senjta terakhir Kaito untuk bisa menandingi musuhnya sekarang.
"Overdrive."
Artemis yang menjadi miliknya telah berubah menjadi pedang.
"Orion."
Dan seluruh tubuh Mikuo terbakar.
"GYAAA!"
Satu tebasan, satu bagian tubuh yang terbakar lepas dan hangus.
Begitu juga dengan tebasan-tebasan selanjutnya.
Akan kututup mataku dan mengingat janji
Yang kita buat bersama
Dan kusingkirkan kegelapan di diriku, 'tuk maju
"GYAAAAAAAAAA!"
"Kaito?"
Kaito terus menyerang Mikuo, api demi api mengelilingi pedangnya dan dia tidak berhenti menyerang.
"Ini untuk Miku!"
Kapankah aku bisa melihatlagi
Masa depan yang sudah diriku hilangkan?
"Kau kira bagiamana perasaanku?! Apa hanya kau yang peduli dengannya?!" Teriak Kaito.
"Aku tahu, aku memang tidak berbuat baik kepadanya! Aku tahu! Tapi, dia adalah melodi di dalam hidupku! Walau dia tidak beraturan! Dia tetap melodi yang mengiringi hidupku!"
Kaito terus berteriak di tengah serangannya.
Lagi dan lagi, ku hancurkan bayangan
keraguan yang tumpah dan berjalan di dunia ini
"HENTIKAN!" Mikuo tidak bisa lepas dari api tersebut.
Api itu sama dengan api penyucian, sihir tingkat tinggi yang bisa melenyapkan apapun, tapi tidak dengan vampire.
"Kau tidaklah abadi! Kau bukan Tuhan! Tidak ada yang abadi di dunia ini!"
Kaito tidak berhenti menebas Mikuo dan menggerogotinya sedikit demi sedikit.
"BAHKAN CINTA PUN TIDAK ABADI! ITULAH ALASAN KENAPA KITA MEMPERJUANGKANNYA!"
Waktu yang berjalan tanpa berhenti
Sekarang menandakan permulaan
Dengan menahan emosi di dadaku
Aku membuka pintu yang tertutup
Kaito tidak berhenti.
"Miku adalah harmoni yang sudah terbentuk! Dia tidak akan berhenti, dia akan terus terlantun walau tidak beraturan! Itulah arti sebenarnya dari kehidupan!"
Kaito menghancurkan seluruhnya— Termasuk atap bunker yang ada di atasnya. Langit yang gelap terlihat dan dia sudah melihat Mikuo yang setengah sekarat, tanpa tangan dan kaki serta sebagian dari perutnya, tapi Mikuo masih hidup dan bernafas.
"Aku akan membunuhmu, dan mengembalikan semuanya seperti semula."
Pedang itu ditarik kebelakang, satu tusukan saja, maka Mikuo akan menjadi murni dan hilang untuk selamanya.
Hatiku bangun dan menuju masa depan dimana ku bisa berlari
Walaupun nanti ku akan terhenti di tengah jalan
Langit yang biru akan tetap menungguku
Jadi aku tidak takut
Apapun yang terjadi, ku tak akan ragu
Dan…
JLEB!
"Ke—napa…?"
Kaito…
Melepaskan gagang pedangnya…
Dan mundur perlahan…
Berkelana di dalam dunia yang sudah hancur
Ku menuju kesana seakan tertarik
Tapi, menunggu selamanya tidak membawa hasil
Walau begitu...
Aku tetap menunggu janji itu selamanya
Walau jiwa tidak lagi ada bersama
Dalam kebohongan, dan juga dalam kesedihan
"Kenapa…?"
"Ma—afkan… Aku… Ini semua… Karena… Lemah… Aku… Lemah…"
Kaito dan Mikuo tidak bisa lagi mengedipkan mata mereka.
Miku mencoba menyelematkan Mikuo dan berakhir dengan tertusuk bersama Mikuo.
Keduanya mulai berkobaran api.
"Maafkan… Aku… Karena… Tidak… Bisa…"
Tangan Kaito menghampiri tangan Miku di dalam api tersebut, tidak peduli seberapa panasnya. Miku hanya bisa tersenyum menanggapi Kaito, tangannya memeluknya dengan lembut, di tengah neraka yang sedang membara.
"Kenapa… Miku?" Tanya Kaito, matanya sudah tidak bisa lagi terbendung.
"KENAPA KAU MENYELAMATKAN ORANG ITU?!" Teriak Kaito.
"Dia… Adikku… Jadi…"
Kaito tersentak, dia tidak bisa membalasnya.
"Tapi... Tapi!"
Sebuah senyuman terakhir terhias di wajah itu.
"Maafkan… Aku…"
Dan akhirnya mereka berdua— Miku dan Mikuo, menghilang dari hadapan Kaito.
Mata Kaito tidak bisa berkedip, pupilnya mengecil dan air matanya sudah terjatuh tidak karuan. Akhirnya seluruh matanya menjadi putih, dan kepalanya menengadah ke langit, mulutnya terbuka lebar, dan...
"UWOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!"
Teriakan itu adalah teriakan terakhir yang memegang kewarasan seorang Kaito.
Pangeran terakhir dari kerajaan Britania.
.
.
.
"Yuuma, apa maksud semua ini?"
Seseorang yang tidak kita kenal melindungi Len dan menghempaskan tombak Yuuma. Sayap putih ada di punggungnya, dia dengan tenang berdiri di hadapan Yuuma.
"Oliver?"
Prak!
Topeng itu pecah dan wajah Yuuma yang dialiri keringat dingin terlihat dengan jelas.
"Bukankah kita berjanji untuk melindungi Len? Apa begitu susahnya mengendalikan jati diri seorang Iblis? Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau tidak bisa menahan hasratmu?"
"Bukan begitu, Oliver… Aku hanya…"
Yuuma berjalan mundur sambil memegangi kepalanya.
"Apa itu caramu membalas budi Rinto yang sudah menyelamatkanmu?"
Yuuma menghilang tiba-tiba dengan tangisan di wajahnya.
Orang dengan sayap tersebut menyentuh Len, dan cahaya kecil tercipta di sentuhan tersebut. Wajah Len kembali segar, seakan dia sudah menghilangkan segala kelelahan Len.
Orang dengan sayap itu pergi dan menghilang ke langit.
"Bohong… Bukankah itu… Ras Malaikat?"
Leon yang melihat segalanya dari balik gundukan salju tidak mengira kalau apa yang dia lihat adalah kenyataan.
Hingga akhirnya dia pingsan… Dan anggota regu yang lain datang untuk menyelamatkan Len dan yang lain.
XOXOX
Di Jepang, 2 minggu setelah operasi.
"Aku tidak tahu kalau aku mengamuk lagi…" Ucap Len.
"Maafkan aku karena tidak segera menolongmu…" Balas Rin.
"Tidak, itu perintahku karena menyuruhmu untuk mengawasi keadaan dan tidak perlu mengkhawatirkan kami saat itu. Tapi, ini adalah bencana terbesar yang pernah kita alami..." Jawab Len.
Keduanya hening untuk sementara.
"Bagaimana kondisi Aria?"
"Dia belum bangun. Terlebih Yuuma juga belum kembali..." Jawab Rin dengan sedikit isakan.
"Jangan salahkan dirimu." Ucap Len.
"Tapi aku ada hubungannya dengan ini, karena aku... Yuuma... Yuuma..." Len teridiam dan memegang tangan Rin.
"Tenanglah, dalam situasi seperti ini kita harus tenang. Bagaimana dengan Leon?"
"Dia masih bungkam mulut." Jawab Rin dengan sedikit isakan.
Mereka berdua berjalan ke sebuah ruangan. Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan.
"Kaito, kami berkunjung."
Itu adalah kamar rawat Kaito. Dia sudah kehilangan akalnya, fakta bahwa dia sendiri yang membunuh Miku sudah menghilangkan semua kemampuannya menerima kenyataan.
"Miku? Itukah kau?" Ucap Kaito.
Kaito bercakap-cakap dengan bangku kosong di sebelahnya. Dia terlihat sangat senang, tapi tidak ada lagi pancaran cahaya di matanya…
Dia sudah gila…
"Rin…" Ucap Len.
"?"
"Mungkin sudah saatnya kita mengakhiri semuanya…" Ucap Len.
.
.
.
Di suatu tempat entah dimana.
"Kiyoteru mati?" Tanya Ritsu.
"Dia hilang kendali." Jawab Yuuma.
"Biarlah, toh cepat atau lambat dia akan mati. Tapi, siapa sangka kalau ras malaikat akan ikut turut campur?" Ucap Ritsu.
Yuuma tidak menanggapi pertanyaan itu.
"Yuuma, tugas kita sebagai True Braves belum selesai. Kita adalah orang terpilih yang menerima lambang ini dan ada untuk membasmi kejahatan yang mungkin akan mengacaukan dunia. Kerjamu sudah bagus."
Yuuma tidak berkata apapun lagi.
Yuuma adalah seseorang dari ras Iblis, begitu pula juga Len… Tapi Len berbeda…
Ryuto yang mendengar semua itu tidak berani berbicara apapun.
Yuuma adalah iblis, sekaligus pahlawan terpilih dari Erda-Orthe… Dia berjanji untuk melindungi Len kepada seseorang, tapi dia mendapat firasat bahwa Len adalah ancaman yang harus dibasmi.
Yuuma hidup di dalam sebuah dilemma.
Inilah takdirnya.
.
.
.
"Oliver, bukannya aku sudah menyuruhmu untuk diam dan tidak melakukan apapun?"
Seseorang dengan sayap yang putih bersih seperti Oliver terdengar marah di atas singgasananya.
"Tapi, Len akan mati jika aku diam!"
"Kita ras Malaikat dan para Iblis dilarang untuk mencampuri kehidupan manusia dan demi-human! Kau tahu hukumnya!"
"Tapi Len adalah salah satu dari kita!"
BRAK!
"Aku tidak membicarakan itu!" Ucap Orang dari singgasana tersebut.
"Aku tidak peduli lagi Mikita, orang yang menyuruhku melindunginya adalah ratu ras sebelumnya sekaligus kakak ku… Aku akan mematuhimu, tapi aku juga punya privasi dan tugas tersendiri untuk dilakukan."
Oliver meninggalkan ruangan besar tersebut.
Cerita mereka telah sampai pada babak baru, guratan takdir sudah menunjukkan wujudnya… Dan, akhir akan berjalan sebagaimana mestinya...
XOXOX
-Kaito's POV-
Miku sekarang ada di bawah kepengasuhan kerajaan. Ada fakta bahwa orang dalam lah yang merencanakan pembunuhan orang tua Miku, sehingga kerajaan mengambil hak asuh Miku dan Mikuo sebagai rasa tanggung jawab.
Tapi, Mikuo diambil oleh neneknya dan tidak bisa lagi bersama dengan Miku.
"Kaito, apa tidak apa-apa aku bersamamu?"
"Aku akan melindungimu, walau kau adalah orang yang terakhir bersalah di muka bumi ini."
Saat itu, untuk yang pertama kalinya, Miku menunjukan tangisannya padaku.
Sehingga aku bertekad, bahwa aku akan membuat dirinya terus tersenyum.
Ya, terus tersenyum selamanya…
Di dunia…
Juga di dalam hatiku…
Sebelum akhirnya aku meninggalkan senyuman itu, dan…
Membiarkan dirinya jatuh dari pelukanku
Aku…
Aku…
Kenapa semuanya berakhir seperti ini?
XOXOX
"Humans Are Simple"
"They Choosing Pleasing Sin"
"Because They Left A Lot Lust Than Others"
XOXOX
Chapter 21 selesai~
Gila…
Saya sendiri kaget setelah ngetik chapter ini, dan ini adalah chapter terlama yang pernah saya ketik (karena cukup bingung juga mau diakhiri kayak apa)
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
