Chanyeol mengabaikannya dan mendobrak masuk melewati serambi. Mengikuti di belakangnya, Baekhyun berusaha menangkapnya sebelum dia mulai berteriak dan menjerit pada pria khayalan untuk menyuruhnya keluar dari sana, paling tidak sebelum dia membangunkan Bayi.
Baekhyun menyaksikan bagaimana Chanyeol tiba-tiba langsung berhenti dan membeku di mana Bayi tidur.
Dia berbalik. "Bayi. Maksudmu aku baru saja mengeluarkan amarahku untuk seorang bayi?"
Dia terkikik. "Ya."
Chanyeol menghembus napas dengan mendesah, dan membungkuk, sikunya bertumpu pada lututnya. "Aku tidak percaya kau melakukan itu padaku! Aku menyangka aku harus melempar pria untuk keluar dari sini."
Chanyeol merengut padanya dan mengusapkan satu tangannya ke dadanya. "Sial, kupikir aku mengalami serangan jantung atau sesuatu."
Baekhyun menghampirinya dan menekan tangannya di atas jantung Chanyeol. "Bayi yang malang, apakah kau menginginkan aku menciumnya supaya membuatnya menjadi lebih baik?"
Chanyeol menjulurkan bibir bawahnya dan menampilkan tampang imut kemudian Baekhyun membungkuk dan mencium jantungnya di atas kemejanya.
"Terima kasih." Chanyeol mengalihkan pandangannya dari balik bahunya ke arah Mason.
"Jadi apa sebenarnya yang dia lakukan di sini?"
Baekhyun melingkarkan lengannya ke leher Chanyeol dan menekan tubuhnya menempel pada Chanyeol.
"Apa yang bisa kukatakan? Aku memiliki sesuatu dengan para pria dari keluarga Park."
Sudut bibir Chanyeol sedikit menyeringai mendengar pernyataannya. "Apakah itu benar?"
"Itu karena Sunny kewalahan dengan ujiannya sekarang, jadi aku menawarkan untuk menjaganya dan membiarkan dia menyelesaikan pekerjaan yang harus dilakukan tanpa gangguan. Ditambah ini praktek yang baik bagiku."
"Tunggu, jadi dia bermalam di sini?"
Baekhyun menyandarkan tubuhnya lalu menggodanya dengan menggigit bibir Chanyeol dengan lidahnya.
"Tapi dia tidur di kasurnya sendiri, dan kau bisa berada di tempat tidur. Denganku."
"Aku suka skenario itu." Dia mencium dengan liar sambil membimbingnya mundur ke belakang menuju sofa.
"Tunggu dulu. Aku tidak bermaksud untuk memulainya sekarang," gumamnya di antara bibir Chanyeol.
"Kapan waktunya yang lebih tepat?"
Baekhyun membiarkan Chanyeol mendorongnya turun ke bantalan. "Kita sebenarnya harus menunggu sampai Mason bangun nanti malam. Dia akan membutuhkan botol susu dan mandi."
"Dia baik-baik saja." Dia bergerak perlahan di atas tubuh Baekhyun, masih berhati-hati agar tidak terlalu banyak menanggung berat badannya.
Sementara satu tangan menyusup di bawah tanktopnya, yang lain menuju ke ban pinggang celana piyama kemudian berhenti.
"Sial, apakah ini gambar scooby doo?"
Baekhyun terkikik. "Aku tidak mengharapkan kedatangan seseorang, dan aku memiliki sedikit obsesi yang mulai meningkat pada kartun lama."
"Mereka hampir membunuh gairahku."
.
.
Baekhyun menyelipkan tangannya di antara tubuh mereka kemudian melengkungkan alisnya.
"Tampaknya yang kurasakan ini baik-baik saja."
"Terus lakukan itu, dan aku pikir ini akan lebih dari baik-baik saja."
Baekhyun terus mengusap-usap milik Chanyeol yang terhalang oleh celananya sementara dia menjilati Baekhyun dengan meninggalkan jejak panas dari leher menuju dadanya.
Saat Chanyeol menurunkan tali tanktopnya untuk menelanjangi payudaranya, suara jeritan datang dari sisi lain ruangan.
Selama satu menit hal itu belum menyadarkannya, tapi kemudian Mason mulai meratap dengan suara nyaring.
Baekhyun segera memutuskan ciuman mereka dan menyentakkan tangannya dari kemaluan Chanyeol.
"Hentikan sayang," katanya terengah-engah.
"Tidak, rasanya begitu nikmat," gumamnya masih menciumi tulang selangka Baekhyun.
Baekhyun memutar matanya dan memukul dadanya. "Chanyeol, apakah kau tuli? Mason menangis."
"Sial." Sambil mengerang karena tersiksa, Chanyeol menjauh darinya. Baekhyun bergeser keluar dari bawah Chanyeol dan bergegas menuju Mason mengangkat tangannya ke arah Baekhyun saat air mata mengalir di pipinya.
"Tidak apa-apa, anak manis," katanya, sambil meraihnya. Tangisannya sedikit tenang ketika dia berada dalam pelukannya.
"Apakah ada masalah angel? Apakah kau lapar?"
Baekhyun mencium pipinya dan mengusap punggungnya secara melingkar sementara Mason menyeringai pada Chanyeol di balik bahu Baekhyun.
"Dasar anak kecil penggangu seks." gerutu Chanyeol.
Baekhyun tersentak dan berbalik. "Kau baru saja memanggilnya apa?"
"Seorang penggangu seks, persis apa yang sedang dia lakukan saat ini."
Mason menjerit menangis, dan Baekhyun memeluknya dengan erat. "Jangan dengarkan Paman Chanyeol, sayang. Dia tidak bersungguh-sungguh."
Chanyeol menunjuk Mason. "Lihatlah. Dia baik-baik saja selama kau memeluknya."
Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Kau memang benar-benar seorang bajingan."
"Kau tidak boleh memaki di depan bayi," tegurnya sambil menyeringai.
Baekhyun melebarkan matanya. Dengan gusar, dia berjalan ke Chanyeol. "Sekarang sudah hampir waktunya dia makan. Gendong dia sementara aku akan menyiapkan botolnya."
Anehnya Chanyeol tidak protes ketika Baekhyun mendorong Mason ke dalam pelukannya. Mason segera menghentikan isakannya dan menatap dengan mata terbelalak ke Chanyeol.
"Ya, benar. Kau terjebak denganku sekarang, dan aku tidak punya payudara yang indah supaya kau bisa meringkuk."
Baekhyun memukul lengannya. "Jangan berani-berani bicara seperti itu padanya. Dia hanya seorang bayi. Payudara hanya makanan baginya, dasar mesum!"
"Sialan, Baekhyun, kapan kau mulai melakukan kekerasan?" candanya.
Mason yang masih ompong tersenyum pada Chanyeol ketika Baekhyun bergegas pergi. Chanyeol tertawa kecil.
"Kurasa dia benar, tapi suatu hari nanti kau akan memahami seperti apa rasanya ditinggal setengah ereksi oleh wanita."
"Aku mendengarnya!" Baekhyun berseru padanya sambil membanting pintu kulkas. Setelah memanasi susu formula, dia kembali ke ruang tamu tepat saat Mason mulai rewel lagi.
Chanyeol akan menyerahkan dia kembali kepadanya, tapi Baekhyun menggelengkan kepalanya.
"Bisakah kau memberikan susu ini kepadanya sementara aku akan menyiapkan air untuk mandinya?"
Chanyeol memberinya seringai menggoda. "Dan jika aku menolak, apakah itu berarti aku tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan kembali piyama scooby doo malam ini?"
"Aku akan mengatakan kemungkinannya sangat tipis bahkan mungkin tak ada."
Chanyeol mengambil botol dari Baekhyun. "Aku rasa tidak ada salahnya untuk memberinya susu. Sudah lama sekali sejak salah satu kakakku memaksaku untuk melakukan hal ini, jadi aku sedikit lupa. Tapi kau yang harus menggantikan popoknya."
Baekhyun menempatkan tangannya ke pinggulnya. "Jadi aku akan meluruskan hal ini. Kau pada dasarnya memberi makan Mason bukan untuk membantuku, tapi untuk memastikan agar mendapatkan seks malam ini?"
"Aku menganggap hal itu sebagai situasi yang menguntungkan bagi kita berdua." Dia menunduk menatap Mason yang sedang menghisap botol di bawahnya.
"Dan untuk dia, juga."
"Baru saja aku berpikir kau telah berubah menjadi seorang bajingan gila seks, kau bertindak seperti ini."
Chanyeol memiringkan alisnya. "Semua teman-temanku yang sudah menikah telah memperingatkan aku tentang betapa buruknya kehidupan seksmu yang akan tersingkir setelah kau memiliki anak-anak. Aku kira kau sedang memberiku peringatan dini."
"Tidak mungkin." Dia berjalan ke kamar tidurnya. Setelah berada di dalam kamar mandi, dia menyalakan keran dan menguji suhunya.
Setelah cukup terisi, dia mematikan air dan kembali ke ruang tamu. Dengan Mason di lekukan satu tangannya, Chanyeol menggunakan tangan satunya memegang remote untuk memindahkan saluran.
"Apakah kau sudah membuatnya bersendawa?"
Dia mengalihkan pandangannya dari tv. Chanyeol mengeryit
Baekhyun memutar matanya dan mengambil botol kosong dari Chanyeol. "Aku menyimpulkan bahwa kau tidak pernah memiliki banyak waktu tentang apa yang harus dilakukan dengan keponakan laki-laki dan keponakan perempuan ketika mereka masih bayi?"
"Tidak banyak. Kenapa?"
"Karena setelah kau memberi minum botol pada bayi, kau harus membuatnya bersendawa, atau gas akan menyebabkan mereka sakit."
"Baik, aku akan membuatnya bersendawa." Chanyeol membawa Mason ke dada dan menepuk punggungnya.
"Sedikit lebih keras." Baekhyun mengarahkan.
Setelah Chanyeol memberikan dua tepukan cepat, Mason bersendawa keras lalu langsung muntah sedikit di seluruh bahunya.
"Ya Tuhan!" teriak Chanyeol, menatap ngeri ke arah kemejanya.
"Tenang. Ini hanya sedikit muntahan."
"Ini kemeja seratus dolar, Baekhyun."
"Kau bertindak seperti dia melakukannya dengan sengaja." Dia menyerahkan kotak tisu basah dari meja pada Chanyeol kemudian menggendong Mason.
"Sementara aku memandikannya, bisakah kau membantuku menempatkan di kamarku?"
"Ya, aku akan melakukannya."
"Terima kasih."
Saat Baekhyun menyusuri lorong, dia mendengar Chanyeol menggerutu sendiri sambil mencuci bajunya.
Setelah dia memandikan Mason dan memakaikan piyama, mata Mason mulai terlihat mengantuk.
Mengintip keluar melalui pintu kamar mandi, dia melihat Mason sudah berada di sana dan menyadari Chanyeol telah melakukan apa yang dia pinta.
Itu sedikit memulihkan reputasi Chanyeol dari sudut pandangnya. Dia menggoyang-goyangkan Mason selama beberapa menit di kursi goyang sampai dia tahu Mason tertidur pulas.
Ketika Baekhyun akan keluar dari kamar tidur, dia berpikir tentang komentar sarkastik Chanyeol tentang bayi dan seks.
Baekhyun masih kesal dengannya karena bersikap egois, tapi dia sepenuhnya tidak ingin mengubah Chanyeol tentang ide pernikahan dan anak-anak ketika semuanya sudah berjalan sangat baik di antara mereka.
Perang hebat sedang berkecamuk di dalam batinnya, akhirnya dia membiarkan iblis yang menang, bukannya malaikat. Bagaimanapun juga, dia mencintai orang yang tepat, dan dia akan membuktikan bahwa Chanyeol salah jika itu adalah hal terakhir yang Baekhyun lakukan.
Dia berjingkat menuju lemari dan membuka laci paling bawah. Tertimbun di bawah bra dan celana dalamnya ada sebuah korset hitam dengan tali tipis dan garter yang Irene belikan untuknya saat dia memutuskan ingin membuat bayi.
Pada saat terakhir dia tidak membutuhkannya. Dengan celana dalam hitam berenda, tentu saja model lingerie paling berani yang dia miliki. Untungnya, dia bisa melepaskannya setelah membuka beberapa kancing di perutnya yang membesar.
"Ini perlu trik." bisiknya. Meraih lingerienya lalu dia bergegas ke kamar mandi lalu berganti pakaian dengan mengenakan pakaian dalam itu.
Ketika dia menatap di cermin, dia tidak terlihat seperti ibu hamil yang memamerkan benjolan bayi mungil. Dia benar-benar tampak seperti wanita penggoda.
Baekhyun menyusuri lorong. Ketika dia masuk ke dapur, dia bisa mendengar suara keras dan lantang dari seorang reporter olahraga yang bergema di seluruh ruang tamu.
"Mason sudah tidur," katanya.
"Dia tidak banyak membuatmu kesulitan?" tanya Chanyeol, tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Tidak, dia tidur seperti malaikat."
"Itu bagus."
"Ingin bir?"
"Ya. Sepertinya menyenangkan."
Dia mengambil satu dari lemari es dan berjalan perlahan ke sofa.
Chanyeol bahkan tidak melihat ketika Baekhyun menyerahkan kepadanya.
Dia membuka tutupnya dan menenggaknya.
"Apa yang kamu tonton?"
"Game."
"Kau ingin bermain game bukan?" tanyanya malu-malu.
Chanyeol meneguk bir sebelum berbalik menatapnya. Saat tatapannya menyapu seluruh tubuh Baekhyun, dia memuntahkan cairan bir keluar dari mulutnya.
"Ya Tuhan, Baekhyun, apa sih yang kau kenakan?"
Dia melihat ke bawah ke pakaiannya seperti itu adalah sesuatu yang biasa dia kenakan.
"Hanya kejutan untukmu. Apakah kau tidak menyukainya?"
"Aku sangat menyukainya." Chanyeol menjilat bibirnya, matanya melekat pada belahan dadanya yang hampir meluap keluar dari korset itu.
.
.
TBC
