Chapter 21 : Raven

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna?

Halo semuanya! Judulnya agak aneh ya? Ada yang tahu arti Raven di sini? Kalau tahu silahkan berkoar #PLAk di kotak review jika berkenan :3
Oh iya, ternyata jadwal selesai lebih cepat satu minggu, jadi dengan fict ini hanya sampai chapter 23, semoga tidak kecewa ya ^^ #PLAK #JanganKePDan

Langsung mulai ya!

A Fantasy Fict from me

~Heart and Soul~

Main pair : Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Special thanks to : Square-Enix and Tecmo

Summary :

"Aku melihat dunia baru, sebuah masa depan yang baru. Aku masuk ke dalam dunia ini hanya untuk satu hal, sebuah kenangan, sebuah kenangan yang pernah aku buang, aku akan mengembalikannya walau aku akan menjadi abu sekalipun."

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic) : Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING & RELEASE YOUR MIND!

Chapter 21 : Raven


XOXOX


"Halo?" Oliver mengangkat telepon dari nomor telepon umum di ponselnya, dia berharap Len yang menelpon, dan nyatanya benar.

"Ini Len, Oliver, bisa kau bantu aku?"

"Len?! Kemana saja kau?! Situasi menjadi buruk semenjak kau pergi! Kembalilah, kita bisa membicarakan semuanya baik-baik, dan kenapa kau tidak menjawab telepon dariku dan malah menggunakan telepon umum?!" Ucap Oliver sambil membentak Len, Len hanya menjawabnya dengan tawa.

"Pfft… Jangan naif Oliver, sudah sekian banyak aku melihat orang naif, tapi baru kali ini aku tertawa karenanya. Begini, aku tidak mau kembali, bagaimanapun semuanya pasti akan terungkap walau sekarang semuanya masih baik-baik saja… Suatu saat aku akan menjadi buronan, aku ingin meminta yang terakhir kali padamu, jangan ada yang masuk ke dalam LoW. Aku akan mencari Ring dan menanyainya sendiri, aku berjanji akan mendapatkan Rin dan Miku kembali, aku janji…"

Psskkk…. Tut… Tut… Tut…

Sambungan telepon terputus begitu saja, Oliver mengerti jika semuanya tidak akan kembali menjadi semula, tapi bukan keinginan Oliver menahan Len. Oliver hanya ingin bertemu Len untuk yang terakhir kalinya, membuat perpisahan Len dengan teman-temannya terlihat begitu berarti… Walau Oliver sadar, jika seperti itu, Len bisa saja malah tidak ingin meninggalkan mereka.

"Telepon dari siapa Oliver? Dari Gumi?" Tanya Yukari.

"Bukan, barusan dari Len."

"Ap- Dari Len?! Apa yang kalian bicarakan?!" Yukari mengguncang pundak Oliver dengan kasar, tapi Oliver mengalihkan pandangannya.

"Dia menginginkan kita untuk tidak mencampuri urusannya lagi, baik itu di dunia nyata maupun di dalam game, dia ingin kita merahasiakan kalau kita mengetahui sisi Len yang sebenarnya, tapi dia berjanji dia akan membawa Rin dan Miku kembali…" Ucap Oliver.

"Kenapa… Kenapa kalian semua laki-laki sangat egois?!" Ucap Yukari membanting pintu dan pergi.

"Bukan… Kami tidak egois, ini semua demi kebaikan kalian juga… Aku dan Len sudah sadar dari lama, kalau kita tidak bisa terus bersama…" Gumam Oliver.

.

.

.

Sementara itu di sisi Mikuo, di rumah sakit, Mikuo ada di atas atap rumah sakit, merasakan hembusan angin.

"Siapa sebenarnya yang salah, siapa yang egois di sini, siapa yang naif?"

"Tidak ada…" Jawab seseorang, membuat Mikuo langsung menghadap ke arah pintu melihat siapa yang menginterupsi monolognya.

"Kau… Kalau tidak salah, Kanon? Kemana yang lain?" Tanya Mikuo.

"Mereka sudah pulang, Meiko dan Anon sedang dalam perjalanan, sedangkan Yukari dan Oliver sudah pulang dan ada di rumah dari tadi. Maafkan kami ya, walau kami semua datang ke rumah sakit, akhirnya hanya aku yang memberanikan diri melihat wajahmu." Ucap Kanon.

"Darimana kau tahu aku di sini?"

"Intuisi perempuan? Mungkin?" Ucap Kanon, membuat Mikuo tertawa kecil.

"Jadi, bagaimana menurutmu? Bagaimana rasanya, dan apa maksudnya melawan diri sendiri?" Tanya Mikuo.

"Seperti kau melihat cermin, melawan dirimu sendiri bukanlah langkah memperbaiki diri, tapi menerima diri… Kau tidak mengganti sifat yang salah darimu, tapi menekannya dan percaya bahwa sifat itu tidak selalu berdampak buruk sehingga bisa digunakan suatu saat nanti." Ucap Kanon.

"Jadi, maksudmu, ketika aku merenungkan diriku. Aku sama sekali tidak ada niat untuk mengubah diriku, tapi berniat untuk mempercayai segala kekuranganku dan menerimanya tetapi tidak membuangnya?"

"Tepat."

"Bagaimana dengan Len? Apa dia sama?" Tanya Mikuo.

"Yup, dia sama… Dia punya pengalaman, melebihi kita semua, kita hanya harus percaya bahwa sifatnya tidak selalu bersifat negatif." Ucap Kanon lagi.

"Jadi, apa yang harus kulakukan? Percaya jika Len melakukan yang terbaik? Walau dia pernah membunuh? Apa kau tidak takut, jika nantinya kita semua membuat Len tidak nyaman dan akhirnya dia membunuh kita?" Mikuo bertanya dengan nada remeh, membuat Len terdengar serendah mungkin, tapi Kanon tidak berkutik sedikitpun dengan senyumannya.

"Siapa yang harus kita percayai? Jangan bercanda, apa Len terlihat seperti monster pembunuh setelah yang ia lakukan? Memang dia terlihat agak seperti itu, tapi apa kau tidak berpikir, jika Len tidak memikirkan hal yang sama sepertimu, apa dia tidak memikirkan apa yang dimaksud 'melawan diri sendiri'?"

Mikuo masih tidak bergeming dari posisinya, begitu juga Kanon. Mereka tidak menyangka, pembicaraan ini akan menjadi sangat serius.

"Apa kau tidak berpikir, kalau Len tidak memiliki penyesalan sama sekali? Jangan bercanda, buat apa Len kabur dan tidak menemui kita kalau dia bahkan tidak berpikir tentang apa yang ia perbuat sama sekali." Ucap Kanon dengan senyum.

Mikuo yang memasang wajah datar, akhirnya menunduk, membuat rambutnya teruntai jatuh, tanpa sadar dia memasang senyum di wajahnya.

"Pfft… Hahahahaha! Aku kalah berbicara! Kau memang hebat senpai!" Mikuo tertawa terbahak-bahak, membuat Kanon bingung.

"Baiklah, baiklah, aku mengerti, kau memang hebat, kau bisa membuat orang keras kepala sepertiku mengatakan kata 'mengerti'!" Ucap Mikuo lagi.

"Kau tidak bercanda bukan?" Ucap Kanon masih dengan senyum, yang lama kelamaan membuat Mikuo bergidik ngeri.

"Ba-bagaimana mungkin aku berbohong?! Te-tenang saja! Lagipula aku juga sudah lelah menjadi antagonis, masih ada tempatkan untuk diriku menjadi tritagonis di dalam cerita ini?" Tanya Mikuo.

"Tentu!" Ucap Kanon dengan senyuman lebar.

DEG!

Wajah Mikuo memerah, dia menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya.

"Baiklah, aku akan pergi ke kamarku lagi, jika kau mencariku, kau tahu aku dimana." Mikuo melenggang pergi dengan senyuman manis yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya, bahkan kepada Rin yang dia anggap orang yang paling baik kepadanya setelah kakaknya.

Kanon mendadak wajahnya ikutan memerah, ketika mereka berpapasan, mereka saling menatap satu sama lain, membuat mereka berdua saling memasang wajah canggung. Mikuo langsung berlari dengan cepat ke tangga hingga tanpa sadar dia belum membuka pintu dan menabrak pintu tersebut. Membuat Kanon tertawa kecil melihat tingkah Mikuo yang dibalas senyuman aneh oleh Mikuo. Setelahnya Mikuo kembali berlari dengan wajah yang menahan malu.

Kanon masih memegang dadanya, wajahnya masih memerah.

"Apa ini yang mereka bilang… 'cinta pada pandangan pertama'?"


XOXOX


"Lihat itu Death Seraph! Dia kembali!"

Berbagai bisikan dan gossip tentang Len kembali terdengar di sana-sini, yup benar, Len kembali ke dalam LoW dengan akun lamanya. Len bermain di sebuah hotel, dia menidurkan tubuhnya di tempat yang tidak akan diketahui teman-temannya, dia tidak ingin nantinya ada yang mencarinya lagi dan melunturkan tekadnya yang sudah bulat.

"Eh, bukannya dia menghancurkan field daerah Gnoma?"

"Katanya dia membuat masalah dan banyak bug di daerah hutan Elf!"

"Banyak yang bilang dia bertarung dengan Gilgamesh, apa memang dia sekuat itu?"

Begitu banyak bisikan-bisikan tidak perlu yang di dengar Len ketika dia berjalan menyusuri kota. Len akhirnya menemui jasa teleport dan pergi langsung ke ibukota Gnoma, Narekkh. Tanpa basa-basi, Len langsung pergi ke field dimana dia pernah melawan Gilgamesh sebelumnya.

"Miku! Gil! Aku tahu kalian mendengarku! Keluarlah!"

Len berkali-kali memanggil Miku dan Gilgamesh, tapi tidak ada tanggapan.

"Miku! Apa kau tidak mau mengetahui apa yang terjadi dengan Mikuo?!"

Setelah Len berkata demikian, angin yang sangat kencang berhembus di sekitar Len, memperlihatkan menara yang sangat tinggi yang tidak terlihat puncaknya. Di gerbangnya ada dua sosok yang sudah tidak asing bagi Len.

"Akhirnya kalian keluar."

"Apa yang kau inginkan, bukannya aku sudah katakana jangan menemuiku lagi?" Tanya Miku geram.

"Huh? Bukannya kau yang datang dan menemuiku, Miku?" Len menjawabnya dengan pertanyaan satu arah, membuat Miku geram.

"Apa kau… APA KAU TIDAK MENGERTI MENGAPA AKU MELAKUKAN INI SEMUA?!"

Miku berteriak dengan kencang, Gilgamesh langsung mengarah dengan cepat menghampiri Len setelah teriakan itu selesai.

"Jangan kira, ini sama seperti yang sudah berlalu."

.

.

.

"Dengan sinar Jibril, biarkan cahaya Tuhan menyinari semua dosamu, Sun!"

Len menembakan sebuah proyektil dari senjatanya, proyektil itu menyebar tapi arahnya terkendali seperti peluru kendali, Gilgamesh tidak menghindarinya, tapi sia mengeluarkan sebuah perisai besar dari gudang senjatanya.

"Rhasta."

BLAM BLAM BLAM!

Semua serangan itu dimakan mentah-mentah oleh Gilgamesh, tapi tidak ada sedikitpun serangan itu yang bisa melukai Gilgamesh maupun menggores perisainya.

"Jangan kira ini sudah selesai."

Len memutar senjatanya, menjadikannya bentuk pedang, dia berlari cepat ke arah Gilgamesh dengan gerakan bayangan, membuat dirinya terlihat ada banyak.

"Sihir Arcane tidak hanya bisa digunakan dalam mode senjata api! The Sun!"

Len kembali memuntahkan api dari senjatanya, tapi kali ini berbeda, apinya tidak lepas dari senjatanya, tapi menyelimuti senjatanya, Len menarik pedangnya ke samping dan melakukan gerakan menebas dua kali secara menyilang.

"Cross-sickle!"

Serangan api Len membentuk silangan yang sangat banyak tetapi bentuknya kecil dengan posisi sejalur, menggempur tameng Gilgamesh berkali-kali, dengan cepat, tameng Gilgamesh mulai penyok dari luar berbentuk silang, penyok itu semakin dalam hingga akhirnya tameng itu tertembus. Gilgamesh masih sempat menggunakan pedangnya untuk menahan, membuat asap yang sangat tebal di sekitar mereka.

"Heaaa!"

Len mengambil kesempatan dari dalam asap, dia mengajak Gilgamesh duel pedang, delapan pedang melawan satu pedang. Tapi entah kenapa Len tidak kalah kecepatan, yang ada Len yang mendesak Gilgamesh.

"Ashura Sword!"

Gilgamesh memutar kedua dari delapan pedangnya, dan melemparnya seperti boomerang, Len menyadarinya dan menghindar tapi bukan itu yang dimaksud dari serangan Gilgamesh. Ketika kedua pedang Gilgamesh ada di belakang Len, Gilgamesh langsung muncul di tempat kedua pedang itu dengan cepat, dengan kata lain di belakang Len.

CRASSH!

"HOEEEK!"

Tubuh Len di tebas dari belakang, membuat banyak darah bermuncratan termasuk dari mulut Len, walau akhirnya darah itu menghilang.

"Habisi dia Gilgamesh!" Teriak Miku geram.

Gilgamesh mengeluarkan pedang andalannya, pedang dengan bilah besi yang berputar, dia memposisikan pedang itu di depan dada Len, mengulang serangan sama yang pernah mengoyak tubuh Len.

"Enuma… Elish!"

CRAASHH! CRASSH! CRAT!

Darah seperti air hujan, tubuh Len terkoyak di bagian dada hingga pedang Gilgamesh menembus tubuhnya, Gilgamesh menghilangkan pedangnya dan membelakangi tubuh Len.

"Kau lengah, jangan membelakangi lawanmu."

DUARR!

"Ukh!"

Tubuh Gilgamesh terjatuh di tanah, dia tidak bisa berdiri seperti ditahan gaya gravitasi yang sangat kuat.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Gilgamesh dengan wajah mengerikan.

"Salah satu kemampuan pasif Necrofiend, Reincarnation, membuatku hidup sekali lagi setelah mati, hanya bisa digunakan satu kali di field atau dungeon dan bisa digunakan lagi setelah aku memasuki daerah netral seperti kota atau desa."

"Kau…"

"Oh iya, kemampuan 'Emperor' akan langsung aktif untuk semua yang ada di radius seratus meter persegi dari tubuhku ketika aku hidup lagi, aku bisa memanipulasi gerakan musuh selama 10 detik, hmm 8 detik lagi, itu cukup."

Len menarik pedangnya, mengeluarkan asap hitam darinya, Gilgamesh yang melihatnya tidak percaya, langit menghitam dan seakan berlubang, dari dalamnya keluar sebuah monster yang sangat besar.

"Ap-Aku tidak tahu kelasmu bisa memanggil Familiar! Kau bukan kelas Summoner!" Teriak Gilgamesh.

Len menunjukan sebuah batu, permata lebih tepatnya.. Ark's Jewel.

"Batu itu…"

"Hancurkan, Oedipus!"

Dari Familiar tersebut, keluar ratusan proyektil hitam yang berbentuk panah, dalam hitungan detik semua serangan itu mengarah ke Gilgamesh. Tubuh Gilgamesh tertusuk panah hitam yang sangat banyak hingga panahnya menumpuk dan menjulan tinggi ke atas.

"Dia akan tenang sekarang…" Ucap Len.

Tubuh Gilgamesh menghilang bagaikan abu, membuat Miku menggigit jarinya.

"Barusan itu…"

"Iya, ini batu yang merupakan item langka Ark's Jewel, sebuah batu yang bisa membuatku memanggil sebuah Familiar untuk ku panggil, walau hanya sekali pakai." Batu itu pecah ketika Len menekannya sedikit dan cahayanya menghilang.

"Aku tahu, Gilgamesh sama sepertimu, dia orang yang menjadi percobaan Ring… Dia sama sepertimu, Miku." Ucap Len lagi, membuat Miku membelalakan matanya.

"Kemarilah Miku, aku akan menyelamatkanmu, jadi, kembalilah bersamaku…"

Air mata Miku mengalir dengan perlahan, dengan keraguan, Miku ingin menyambut tangan Len, tapi entah kenapa dia menarik tangannya lagi.

"Kenapa, Miku?" Len menunjukan kekecewaan dari wajahnya, kekecewaan dengan keputusan Miku.

"Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Ring.."

Ring? Pikir Len.

"Aku tidak bisa meninggalkan orang yang berharga bagiku… Dia adalah orang yang ada untuk ku sejak aku kecil… Bersama dengan kita, Ring, Suzune Ring… Aku tidak tega meninggalkannya sendiri." Kata Miku.

"Apa.. Apa yang kau katakan?! Kita tidak mengenalnya! Jangan bercanda!"

"Aku tidak bercanda Len! Dia juga teman kita!"

Apa maksud semua ini?! Pikir Len…

"Tapi kita benar-benar tidak mengenalnya! Pasti itu, iya! Pasti itu! Ingatanmu telah ditanamkan kenangan palsu oleh Ring! Jangan mempercayainya!" Teriak Len.

"Apa… Apa katamu?! Jangan menghina Ring!" Balas Miku tidak kalah geram.

Ketika mereka saling mencaci maki dan berusaha menyadarkan satu sama lain, tiba-tiba mata Miku kehilangan cahaya, dia tersungkur lemah kemudian menghilang, digantikan oleh sosok Lotus yang memakai jubah, digantikan oleh Ring.

"Kau kemana'kan Miku?!"

"Oops, maaf, jika dia terlalu lama di sini, bisa saja ingatannya kembali, jadi aku menghilangkannya untuk sementara. Oh iya, kau pasti akan suka dengan ini." Ring menepuk tangannya dua kali, dari balik tubuhnya, muncul Rin dengan sebuah panahm tapi anehnya matanya kosong walaupun Rin berdiri dan bernafas.

"Rin, apa itu kau?"

Rin tidak menghiraukan Len, dia mengubah panahnya menjadi sebuah pedang dengan menyatukan kedua ujun busurnya, dan dalam sekejap dia sudah ada di depan Len.

BUAK!

Len terpental jauh dengan serangan mendadak Rin, sedangkan Rin tetap pada posisi bertarungnya.

"Lihatlah kekuatan kelas keempat dari Archer! Sagittarius! Aku sudah sepenuhnya mengendalikannya, dia tidak akan mengenalmu lagi!" Teriak Ring dengan nada gila.

"Apa, apa yang kau lakukan?!" Len kembali menerjang ke arah Ring, tapi kembali, Rin menghalangi jalan Len.

"Kenapa… Kenapa Rin?" Ucap Len.

"Jangan kecewa dulu, pestanya baru dimulai!" Ring seperti melepaskan sebuah segel dari tubuh Rin, membuat sayap Elf Rin yang semulai hijau menjadi putih di atas kepalanya keluar lingkaran halo, dengan satu kedipan, sayap Rin menjadi 3 pasang, dia berubah.

"Ras yang hilang! TETRA!" Teriak Ring.

"Apa yang kau lakukan terhadap tubuh Rin?" Tanya Len dengan nada dingin.

"Selagi kau kebingungan di sini, dunia nyata juga mengalami masalah loh…" Ucap Ring.

"Apa maksudmu?!"

"Kau akan tahu nanti." Jawab Ring dengan senyum licik.

.

.

.

Sementara itu di sisi Oliver.

"Yukari, berikan aku kubis itu!" Oliver berteriak menyuruh Yukari untuk mengambilkan kubis, mereka ada di dapur, sedang memasak, ketika Oliver ingin mengambil pisau, tiba-tiba pisau di samping tangannya menghilang.

"Jangan bercanda Yukari! Aku sedang tidak ingin bercanda!"

"Heh? Kenapa? Aku baru juga datang." Yukari baru datang dari pintu dapur, membawa kubis.

'Kalau begitu, kemana pisau ku?' Pikir Oliver.

"Yah sudahlah, mana kubisnya." Ketika Oliver mengambil kubis itu, kubis itu tidak sengaja terjatuh, tapi ketika sebelum menyentuh tanah, kubis itu menghilang.

"?!" Yukari dan Oliver terkejut, dalam sekali kedipan mata tiba-tiba terjadi gempa kecil.

"Apa yang sedang terjadi?!" Teriak Yukari.

"Sebentar!" Oliver menelpon yang lain, tapi tidak diangkat.

Ketika gempa mereda, tiba-tiba benda-benda lain di dapur ikutan menghilang, dan kubis serta pisau yang tadi muncul di atas kepala Yukari.

"Awas!"

BRUUK!

Tanpa pikir panjang, Oliver mendorong Yukari, sedangkan kubis tadi hancur dan pisaunya menancap ketika sampai di lantai. Oliver menarik tangan Yukari dan melihat keadaan sekitarnya, banyak benda yang hilang-muncul di sejauh mata memandang, membuat kepanikan di seluruh tempat.

"Apa yang sebenarnya terjadi?!"


XOXOX


Chapter 21 selesai~~

Tinggal 2 chapter, dan semuanya akan selesai dua minggu lagi, kemudian saya akan membuat fict sekuel dari Dreamy Cherry Blossom dengan main pair YuumaXIA, serta beberapa one/threeshot fict lain yang mungkin bukan fandom vocaloid ^^

Oh iya, Arcane Magick adalah sihir random yang bisa digunakan Len dengan senjatanya, namanya menurut kartu tarrot. Sedangkan Oedipus, itu sebenarnya nama dari orang yang ada di dalam mitos Yunani, silahkan cari jika berkenan ^^

Saatnya balas anonym review~


-To reviewer named Guest :


Ya, kan gak enak serius terus ^^ (chapter lalu itu sebenarnya inspirasi dari seseorang yang terus PM saya, walau kadang kasar, tapi dia baik kok XDD #PLAK)

Makasih ya udah review!


Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,

Aprian