Chapter 21
warn: typos/ gaje/woman rape man/ rate: M for language and lemon/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe). Newbie author/NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc
Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"
Perubahan usia chara:
Naruto: 20 tahun
Konan: 22 tahun
Yugao: 23 tahun
Tayuya: 20 tahun
Shizuka: 20 tahun
Guren: 22 tahun
Hinata: 20 tahun
Hanabi: 18 tahun
Kaguya: 22 tahun
Sara: 20 tahun
The owner of Naruto is Masashi Kishimoto
Semoga kalian tidak kecewa membaca fic ini.
Let the story begin...
Pagi hari di desa Konoha...
Di dalam kamaer sebuah rumah yang terlihat besar nan megah, terlihat seorang perempuan cantik bersurai merah mulai membuka kedua kelopak matanya. Perempuan cantik tersebut terlihat mengucek matanya selama beberapa saat sebelum ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya.
"Kau sudah bangun, Sara chan?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai putih yang saat ini terlihat sedang duduk di depan sebuah meja rias dengan cermin berukuran besar. Perempuan cantik tersebut terlihat sedang mensisir surai putih lurusnya yang terbilang cukup panjang.
"Apakah aku bangun kesiangan, Kaguya san?" Tanya balik perempuan bersurai merah tadi yang tidak lain adalah Sara.
"Tidak." Jawab perempuan cantik bersurai putih yang sedang mensisir rambutnya yang tidak lain adalah Kaguya. "Ini masih pukul 06:51 pagi, Sara chan." Lanjut Kaguya sambil menunjuk jam yang berada di dinding di dalam kamar yang mereka tempati.
Sara langsung mengalihkan pandangannya pada arah tangan Kaguya menunjuk saat ini. Iris indahnya bisa melihat jam dinding yang berada di dalam kamar tersebut sedang menunjukkan waktu seperti yang dibilang Kaguya barusan.
Setelah beberapa saat memandang jam yang ada di dinding kamar, perempuan cantik bersurai merah tersebut tiba-tiba menundukkan kepalanya. Ekspresi di wajah cantiknya tiba-tiba terlihat murung tanpa sebab.
"Ada apa, Sara chan?" Tanya Kaguya yang melihat perubahan di wajah cantik Sara dari cermin besar yang ada di depannya. "Kau baik-baik saja kan?" Lanjut perempuan cantik bersurai putih panjang tersebut.
Akan tetapi, Sara tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Jika dilihat dari dekat, perempuan cantik bersurai merah tersebut sedang terlihat murung.
"Kaguya san..." Panggil Sara dengan suara getir dan parau tanpa mengangkat wajah cantiknya yang sedang menunduk.
Kaguya langsung menghentikan gerakan menyisirnya setelah ia mendengar suara Sara yang memanggilnya barusan. Perempuan cantik bersurai putih panjang tersebut langsung membalikkan dirinya untuk melihat keadaan Sara yang notabene masih berada di atas kasur di belakangnya.
"Ada apa, Sara chan?" Tanya Kaguya dengan nada khawatir.
"Apakah kita tidak bisa membantu Naruto kun untuk menyelamatkan dunia ini?" Tanya Sara dengan nada suara yang mulai terdengar sesenggukan. Bahu perempuan cantik tersebut terlihat bergerak naik turun tidak teratur sebagai tanda bahwa perempuan cantik bersurai merah tersebut saat ini sedang menangis.
Kaguya langsung bungkam setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Sara padanya. Sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Sara saat ini. Perempuan cantik bersurai putih tersebut tidak tahu mesti berkata apa untuk menenangkan atau sekedar meringankan beban pikiran perempuan bersurai merah tersebut.
"Sara chan, tenanglah..." Setelah beberapa saat berpikir, perempuan cantik bersurai putih tersebut hanya bisa mengucapkan kalimat tersebut. Itu karena ia sendiri bingung harus berbuat apa untuk membantu Naruto.
Kaguya semakin merasa Iba setelah iris putih indahnya melihat beberapa tetes air mata yang terjatuh ke atas kasur dari wajah Sara yang sedang tertunduk saat ini.
Pada akhirnya, kedua perempuan berparas cantik tersebut hanya bisa membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua. Suasana di dalam kamar tempat kedua perempuan cantik tersebut berubah menjadi sedikit suram akibat keheningan tidak nyaman yang menyelimuti.
Beberapa saat telah berlalu, Sara dan Kaguya terlihat mulai menguasai diri mereka masing-masing. Hal itu terbukti dari ekspresi di wajah cantik mereka yang sudah sedikit cerah.
"Sara chan..." Panggil Kaguya dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh Sara.
"Ya?" Jawab Sara sambil mengalihkan pandangannya dari atas kasur tempatnya duduk ke arah Kaguya yang masih berada di depan meja rias yang ada di dalam kamar.
Wajah cantik Sara saat ini terlihat dipenuhi dengan bekas air mata yang mengering di kedua pipinya. Paras cantiknya masih menunjukkan rasa kecewa yang luar biasa yang menghinggapi hatinya.
Saat melihat hal tersebut, Kaguya langsung berdiri dari kursi yang ia duduki saat ini dan melangkahkan sepasang kaki jenjangnya untuk mendekati tempat perempuan cantik bersurai merah tersebut.
Setelah sampai di dekat Sara, Kaguya langsung mendudukkan dirinya di dekat perempuan tersebut. Setelah itu, perempuan cantik bersurai putih tersebut langsung menarik Sara kedalam pelukan hangat menggunakan kedua tangannya.
Iris indah Sara langsung membelalak saat ia merasakan tubuhnya sedang dipeluk oleh Kaguya. Entah mengapa ingatannya malah mengingatkannya pada pelukan hangat ibundanya yang telah tiada.
"Mungkin saat ini kita memang tidak bisa membantu Naruto kun, Sara chan." Ucap Kaguya dengan nada lembut sambil mengelus surai merah indah milik Sara.
Sara yang diperlakukan seperti itu oleh Kaguya lebih memilih diam dan mendengarkan apa yang akan disampaikan Kaguya padanya. Sedikit banyak rasa gundah di hati Sara mulai terkikis secara perlahan.
"Akan tetapi aku yakin, suatu saat nanti kita pasti bisa membantu Naruto kun dengan kekuatan yang kita miliki." Lanjut Kaguya dengan lembut khas seorang ibu pada anaknya.
Kegundahan yang menyelimuti hati Sara seketika menghilang setelah mendengar ucapan Kaguya barusan. Entah mengapa ia melihat sosok seorang ibu dari perempuan cantik bersurai putih panjang tersebut.
Setelah beberapa saat diam, Sara malah menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan Kaguya. Sepertinya perempuan cantik bersurai merah tersebut benar-benar nyaman dengan pelukan hangat Kaguya yang entah bagaimana mengingatkannya pada pelukan mendiang ibunya.
Sementara Kaguya yang melihat sedikit tingkah kekanakan dari Sara hanya bisa mengulas sebuah senyuman kecil di wajah cantiknya. Ia juga mengeratkan pelukannya untuk memberikan rasa nyaman pada perempuan cantik berssurai merah tersebut.
Setelah Kaguya merasakan bahwa Sara sudah cukup tenang, akhirnya perempuan cantik bersurai putih tersebut mulai melepaskan pelukannya dengan perlahan.
Sara pun juga melakukan hal yang sama dengan Kaguya. Perempuan cantik bersurai merah tersebut mulai melepaskan pelukannya dari tubuh ramping Kaguya. Setelah itu, perempuan cantik bersurai merah tersebut mengusap wajahnya yang dipenuhi dengan bekas air mata menggunakan lengan bajunya.
"Sebaiknya kau mandi dulu, Sara chan." Ucap Kaguya dengan nada lembut. "Setelah itu, kita bantu para istri Naruto untuk menyiapkan sarapan pagi. Itupun jika mereka sudah bangun." Lanjut perempuan cantik bersurai putih tersebut dengan nada sedikit bercanda.
"Hai', Kaguya san." Jawab Sara dengan senyuman yang terpatri di wajah cantiknya. Lalu, perempuan cantik bersurai merah tersebut langsung turun dari kasur dan melangkahkan kakinya untuk menuju kamar mandi yang menjadi satu dengan kamar yang ia dan Kaguya tempati.
Kaguya hanya bisa tersenyum saat ia berhasil mengembalikan semangat perempuan cantik bersurai merah tersebut. Setelah itu, perempuan cantik bersurai putih tersebut terlihat berjalan menuju depan meja rias dan mengambil sisir yang sempat ia taruh di atas meja tersebut.
"Sara chan, jangan lama-lama ya." Ucap Kaguya agak keras karena jarak meja rias dengan kamar mandi memang terletak lumayan jauh.
"Hai'." Jawab Sara singkat.
Sementara itu di dalam kamar yang lain...
Terlihat seorang pemuda bersurai kuning jabrik masih bergumul dengan bantal dan gulingnya. Pemuda tersebut sebenarnya sudah bangun dari tidurnya, akan tetapi, ia terlihat enggan untuk beranjak dari kasur king size tempatnya berbaring saat ini.
Pemuda tersebut hanya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong dan tidak tertarik. Sepertinya pikiran pemuda tampan bersurai kuning jabrik tersebut sedang dipenuhi dengan kekalutan.
'Apa yang sedang kau pikirkan, Naruto?' Tanya sebuah suara berat yang berasal dari alam bawah sadar pemuda tersebut yang tidak lain adalah Naruto.
'Aku hanya sedang bingung, Kurama.' Jawab Naruto jujur tanpa mengalihkan pandangannya dari atas langit-langit kamarnya. Iris biru Naruto saat ini terlihat sedikit lebih redup daripada biasanya. Sepertinya pikirannya yang sedang kacau mempengaruhi pandangan pemuda bersurai kuning jabrik tersebut.
Setelah itu tidak ada sahutan dari dalam hati Naruto. Sepertinya sang pemilik suara benar-benar mengerti dengan apa yang sedang mengganggu pikiran Naruto saat ini.
'Jangan terlalu memikirkan tentang hal itu, Naruto.' Ucap Kurama dengan nada yang tiba-tiba terdengar khawatir setelah diam beberapa saat. 'Jika para istrimu melihat keadaanmu saat ini, pasti mereka akan menjadi sedih.' Lanjut Kurama menyampaikan opininya.
Setelah mendengar apa yang diucapkan sang partner, Naruto langsung menutup kedua kelopak matanya dan menyembunyikan iris biru indah di baliknya. Lelaki tersebut terlihat berkonsentrasi untuk memasuki alam bawah sadarnya dan menemui rubah besar ber ekor 9 yang bersemayam di dalam tubuhnya.
Mindscape
Di dalam sebuah ruangan berbentuk yang lantainya berupa genangan air...
Terlihat seekor rubah besar ber ekor 9 sedang tiduran sambil menutup kedua matanya yang seindah ruby. Rubah itu tidak lain adalah Kurama yang sejak tadi mengajak ngobrol Naruto.
Puk
Kurama langsung membuka kedua matanya yang tertutup dan menampilkan iris merahnya yang seperti ruby saat ia merasakan sesuatu jatuh ke atas kepalanya. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya pada sesuatu yang berada di atasnya yang tidak lain adalah pemuda yang ia ajak ngobrol tadi aka Naruto.
"Rasanya seperti sudah lama sekali sejak aku terakhir datang kesini." Ucap pemuda yang berada di atas kepala rubah tersebut sambil tiduran di atas bulu lembut berwarna orange milik sang rubah yang ada di bawahnya.
"Baru beberapa hari saja, kau sudah bilang lama sekali?" Tanya Kurama dengan nada yang terdengar mengejek. "Kukira selama ini kau lupa cara untuk masuk kedalam tempat ini."Lanjut rubah besar berwarna orange tersebut dengan nada yang sama.
"Setidaknya aku tidak melupakan keberadaanmu di tempat ini, Kurama." Balas Naruto sambil merubah posisi berbaringnya menjadi duduk setelah mendengar apa yang diucapkan Kurama barusan.
"Hm." Kurama hanya mendengus setelah mendengar jawaban dari pemuda yang berada di atas kepalanya.
Setelah itu, Naruto dan Kurama terhanyut dalam keheningan yang ada di dalam ruangan berair tersebut. Sepertinya kedua makhluk berbeda jenis tersebut tidak tahu harus membuka topik pembicaraan apa lagi.
Itu dikarenakan pikiran sang pemuda yang masih sibuk memikirkan keputusan apa yang harus ia buat, dan Kurama sendiri juga terlihat bingung mau membuka topik apa lagi untuk mencairkan suasana hening yang berkesan tidak nyaman tersebut.
"Kurama, menurutmu dari kedua pilihan yang diberikan Jun san padaku, manakah yang kau anggap paling cocok untu kujalani?" Tanya Naruto panjang lebar setelah diam cukup lama.
"Hah..." Kurama hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Naruto padanya. Sepertinya rubah besar tersebut juga bingung harus memberi jawaban seperti apa pada pemuda tampan bersurai kuning tersebut.
"Jika aku ikut dengan Jun san ke alam para dewa, berarti aku harus mempersiapkan diriku untuk berlatih dengan sangat keras dengan para dewa elemen." Ucap Naruto yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. "Dan aku bisa menghadapi resiko kematian sewaktu-waktu." Lanjut pemuda tersebut sambil memejamkan kedua matanya.
"Tapi jika kau melawan raja iblis, kurasa itu juga bukan pilihan yang bagus, Naruto." Ucap Kurama yang memberikan opininya. "Kau tahu sendiri kan, jika kekuatan seorang iblis biasa itu bisa setara dengan 10 orang sannin." Lanjut Kurama memberitahu Naruto tentang betapa kuatnya raja iblis.
"Hm..." Gumam Naruto sambil menganggukkan kepalanya. "Apakah menurutmu bila kita bekerja sama melawan raja iblis, kita masih belum bisa mengalahkannya, Kurama?" Lanjut Naruto bertanya sambil merubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersila.
"Kau kira raja iblis itu sama seperti lawan-lawan yang pernah kita kalahkan di masa lalu?!" Tanya Kurama dengan nada yang berubah kesal. "Pedang raja iblis yang dikatakan Jun bisa membelah sebuah gunung jika keluar dari sarungnya, itu hanya sebagian kecil dari kekuatan pedang itu. Belum lagi kekuatan fisik yang dimiliki raja iblis. Mungkin dia bisa membunuh kita dengan satu tebasan saja." Lanjut Kurama menjelaskan panjang lebar kepada pemuda bersurai kuning jabrik yang ada di atasnya.
"Kau benar." Ucap Naruto dengan nada yang terdengar putus asa dan kehilangan harapan. "Sepertinya kedua pilihan yang diberikan Jun padaku memiliki kemungkinan untuk merenggut nyawaku." Lanjut pemuda tampan bersurai kuning jabrik tersebut.
"Akan tetapi, meskipun kedua pilihan tersebut memiliki resiko yang sama, aku harap kau memikirkannya dengan pikiran yang tenang, Naruto." Ucap Kurama.
"Hai'." Ucap Naruto singkat. "Terima kasih atas saran dan peringatannya Kurama." Lanjut Naruto dan setelah itu, pemuda bersurai kuning jabrik tersebut langsung menghilang dari tempat itu meninggalkan Kurama sendirian.
"Apapun keputusan yang akan kau ambil, aku akan membantumu dengan semua yang kumiliki, Naruto." Ucap Kurama yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. Setelah itu, rubah besar berwarna orange tersebut terlihat memposisikan dirinya untuk kembali tidur.
Alam nyata...
Di dalam kamar Naruto...
Kelopak mata Naruto yang awalnya tertutup terlihat mulai bergetar sebelum akhirnya terbuka dan menampilkan iris blue ocean yang ada di baliknya. Pemuda bersurai kuning tersebut langsung merubah posisi berbaringnya menjadi duduk, lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat jam yang ada di dinding kamarnya.
'Ternyata sudah jam segini.' Ucap Naruto dalam hati saat iris birunya melihat jam di dinding kamarnya yang menunjukkan angka 07:30 waktu setempat.
"Lebih baik aku mandi setelah itu, sarapan dengan para istriku serta Kaguya dan Sara." Ucap Naruto pada dirinya sendiri sambil turun dari kasur king size tempatnya beristirahat.
Setelah itu, pemuda berparas tampan tersebut langsung melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya.
Tok tok tok
"Naruto kun, kau sudah bangun?" Tanya suara seorang perempuan setelah terdengar bunyi ketukan di pintu kamar Naruto.
"Hai', Yuya chan." Jawab Naruto setelah ia menghentikan langkah kakinya. "Aku akan mandi dulu, Yuya chan. Setelah itu, aku akan segera keluar." Lanjut Naruto memberitahu perempuan yang berada di depan pintu yang tidak lain adalah Tayuya.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Tayuya. "Kami semua akan menunggumu di ruang makan untuk sarapan bersama, Naruto kun." Lanjut perempuan bersurai merah pucat tersebut sebelum ia melangkahkan kakinya meninggalkan pintu kamar Naruto untuk pergi ke dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.
Naruto tidak menjawab ucapan Tayuya. Pemuda berparas tampan tersebut langsung melepaskan baju yang ia kenakan serta celananya lalu melemparkannya dengan asal. Lalu pemuda tersebut mengambil handuk yang ia taruh di dekat pintu kamar mandi dan langsung membuka pintu kamar mandinya.
Cklek Cklek
Pemuda tersebut langsung menyalakan shower kamar mandinya dan langsung mengguyur seluruh tubuhnya. Pemuda tersebut terdiam agak lama di dalam kamar mandi. Sepertinya ia masih saja memikirkan keputusan apa yang harus ia berikan pada Jun.
Sementara itu di tempat lain...
Di sebuah tempat yang dipenuhi dengan cahaya yang hangat, terlihat 7 orang dengan berbeda gender sedang berdiri saling berhadapan. Lebih tepatnya 6 orang yang berdiri di depan seorang gadis cantik bersurai hitam dengan kisaran usia sekitar 20 tahunan.
"Apa jawaban yang ia berikan, Jun san?" Tanya seorang lelaki dengan kisaran usia sekitar 40 tahun atau lebih dengan suaranya yang terdengar tenang.
Lelaki tersebut memiliki tinggi badan sekitar 180 cm, berkulit coklat agak gelap, memiliki surai lurus yang mencapai belakang lehernya berwarna biru dan iris mata yang berwarna senada dengan rambutnya. Tubuhnya yang kekar dan terlihat atletis menambah kesan keren baginya. Lelaki tersebut terlihat bersidekap dada dan wajahnya yang tampan terlihat menunjukkan ekspresi yang sangat tenang, setenang suaranya barusan. Lelaki tersebut terlihat mengenakan baju tanpa lengan dan celana panjang berwarna biru laut.
"Dia belum memberikan keputusannya, Suijin san." Jawab perempuan bersurai hitam yang berdiri di depan 6 orang yang ada di depannya.
"Kalau begitu kita paksa saja dia untuk segera memberikan jawabannya." Ucap seorang lelaki bersurai orange dengan gaya ala samurai jaman dulu dengan nada yang suara yang terdengar tidak sabaran. "Jika dia memang tidak mau memberikan jawabannya saat ini, biar aku bakar dia sampai dia mau memberikan jawabannya." Lanjut lelaki tersebut.
Lelaki kedua memiliki tubuh yang sedikit lebih pendek dari lelaki pertama yang berdiri di sebelahnya. Jika dilihat dari wajahnya, usia lelaki tersebut berkisar 25 tahunan. Lelaki itu memiliki iris mata berwarna merah yang terlihat tajam, tinggi badan sekitar 178 cm, berkulit putih bersih, dan memiliki paras yang tampan tapi menunjukkan kesan sangar. Di tubuh kekar nan atletis lelaki tersebut , terlihat seperti ada sebuah rompi yang terbuat dari api. Dan untuk bagian bawahnya, lelaki tersebut menggunakan celana pendek selutut berwarna merah.
"Kau kira kekerasan akan menyelesaikan segalanya, Kaijin?" Tanya seorang lelaki yang terlihat paling tinggi diantara 6 orang yang berdiri di depan Jun. Lelaki ini memiliki ciri-ciri tinggi badan mencapai 220 cm atau lebih, tubuhnya terlihat lebih kekar daripada 2 lelaki yang tadi berbicara. Lelaki ketiga ini memiliki kulit berwarna coklat gelap, dan kepalanya tidak memiliki rambut yang tumbuh di kepalanya atau biasa disebut botak. Dia memiliki iris mata berwarna coklat. Lelaki ketiga ini tidak mengenakan sehelai benangpun untuk bagian pinggang ke atas. Dia hanya mengenakan celana panjang berwarna coklat yang robek di bagian dekat mata kakinya. "Mungkin melemparmu kedalam lorong dimensi bisa membuat kepalamu menjadi lebih dingin." Lanjut lelaki tersebut.
"APA KAU BILANG, DOJIN?!" Tanya lelaki kedua dengan nada marah sambil menatap lelaki yang tadi berbicara dengan tatapan membunuh. "KAU INGIN AKU MEMBUAT KULIT TUBUHMU MENJADI LEBIH HITAM, HAH?!" Lanjut lelaki kedua yang bernama Kaijin tersebut.
"Kaijin, tenanglah..." Ucap lelaki pertama yang bernama suijin. "Jika kau melakukan hal tersebut pada Naruto kun, itu sama saja kau ingin membunuhnya." Lanjut lelaki bersrurai biru tersebut dengan nada tenang.
"CIH!" Lelaki yang bernama Kaijin tersebut hanya bisa mendecih setelah mendengar apa yang dikatakan Suijin.
Setelah keadaan cukup tenang, perempuan cantik bersurai hitam yang saat ini sedang berdiri di depan 6 orang di depannya aka Jun terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Jika dia memang memutuskan untuk ikut denganku kemari dan meminta kepada kalian untuk melatihnya..." Ucap Jun setelah ia menghembuskan nafas panjangnya.
Semua perhatian yang sempat teralihkan dari 6 orang yang berdiri di depan Jun langsung berpusat pada Jun seperti awal saat mereka bertemu.
"... Aku harap kalian tidak akan setengah-setengah dalam melatihnya. Karena musuh yang akan ia hadapi juga tidak akan bertindak setengah-setengah. Akan tetapi, aku mohon pada kalian untuk jangan terlalu berlebihan dalam melatihnya." Lanjut Jun panjang lebar. Saat ia mengucapkan kalimat terkahirnya, perempuan cantik bersurai hitam sepunggung tersebut terlihat membungkukkan badannya 90 derajat di depan 6 orang di depannya.
"Tapi apakah aku juga akan ikut melatihnya, Jun san?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai hitam sebahu dengan pakaian yang terlihat tomboy. Perempuan tersebut memiliki usia sekitar 20 tahunan, memiliki dada kecil bahkan mungkin bisa dibilang hampir rata, akan tetapi wajahnya sangat cantik. Tubuhnya memiliki tinggi sekitar 170 cm dan memiliki tubuh yang langsing. Perempuan ini terlihat hanya memakai tangtop yang hanya bisa menutupi bagian dadanya. Sehingga perutnya yang sixpack bisa terlihat dengan jelas. Dan untuk bagian bawahnya, perempuan tersebut mengenakan celana panjang berwarna putih.
"Tentu saja, Aoi san." Jawab Jun dengan nada spontan setelah ia menegakkan tubuhnya. "Kau adalah dewi dengan taijutsu terkuat. Meskipun kau tidak memiliki elemen seperti 5 dewa yang lain, tapi kekuatan taijutsumu pasti akan sangat berguna untuk Naruto kun." Ucap Jun panjang lebar dan diakhiri dengan senyuman positif.
"Tapi, itupun jika ia memutuskan untuk ikut denganmu bukan, Jun san." Ucap seorang perempuan cantik dengan nada suara yang terdengar dingin. Perempuan tersebut terlihat memiliki surai panjang berwarna abu-abu sepunggung dengan gaya dikepang dan memiliki iris mata berwarna ungu. Paras cantik perempuan tersebut terlihat sangat dingin. Perempuan tersebut terlihat memiliki tinggi sekitar 170 cm, usianya sekitar 30 tahunan, tubuhnya langsing, dan juga ia memiliki payudara yang sangat proporsional. Perempuan ini terlihat mengenakan sebuah kain yang diliitkan pada tubuhnya seperti perban yang mencapai bagian pinggangnya dan sebuah jubah tanpa lengan berwarna ungu dengan panjang mencapai mata kakinya.
"Perkataanmu tetap saja dingin dan menusuk seperti biasanya, Rei san." Ucap seorang perempuan lain dengan nada sok akrab sambil memeluk bahu kanan perempuan yang baru saja berbicara.
Perempuan terakhir ini memiliki surai berwarna hijau sepinggang dan pony yang menutup mata kirinya yang memiliki warna hijau seperti rambutnya. Perempuan tersebut memilki tubuh tinggi dan langsing seperti perempuan sebelumnya. Akan tetapi ukuran buah dadanya bisa terbilang besar untuk tubuhnya yang mungkin memiliki tinggi sekitar 169 cm. Perempuan tersebut terlihat mengenakan pakaian berwarna hijau dengan motif tribal berwarna hijau di bagian bahu kiri sampai dada kirinya. Dan untuk bagian bawah perempuan tersebut mengenakan sebuah celana pendek di atas paha dan sebuah stocking polos berwarna hitam.
"Harus kubilang berapa kali..." Ucap perempuan yang dipanggil Rei tersebut dengan nada dingin.
BZZZZTTT
"... Jangan bertingkah sok akrab denganku, Fuujin." Lanjut Rei sambil mengeluarkan petir berwarna ungu dari seluruh tubuhnya dengan tiba-tiba.
Akan tetapi perempuan bersurai hijau yang dipanggil dengan sebutan Fuujin barusan sudah tidak berada di samping Rei. Perempuan tersebut kini sudah berada di samping lelaki bernama Suijin.
"Janganlah bersikap dingin begitu, Rei san." Ucap Fuujin dengan nada santai. "Lagipula kau ini kan perempuan. Setidaknya tunjukkanlah sedikit sisi lembutmu." Lanjut perempuan cantik bersurai hijau tersebut yang tiba-tiba sudah berada di samping Rei.
"Mungkin yang kau katakan ada benarnya, Rei san." Ucap Jun setelah diam selama beberapa saat. "Akan tetapi, semuanya kembali pada keputusan Naruto kun." Lanjut perempuan bersurai hitam tersebut.
"Jadi yang saat ini bisa kita lakukan hanyalah diam dan menunggu jawaban darinya. Benar begitu, Jun san?" Tanya Suijin dengan nada tenangnya.
"Yang anda katakan benar, Suijin san." Jawab Jun.
Dan setelah itu Jun terlihat mengobrol dengan ke 6 orang tersebut sebelum akhirnya ia berlutut lalu menghilang dari hadapan 6 orang tersebut.
Kembali ke Konoha...
Di dalam sebuah rumah megah yang terletak di pusat desa Konoha...
Terlihat 9 orang perempuan berparas cantik dan seorang lelaki berparas tampan sedang menikmati sarapan pagi di dalam ruang makan rumah megah tersebut.
"Ano minna, kenapa anak-anak tidak ikut sarapan bersama kita?" Tanya satu-satunya laki-laki yang ada di ruang makan tersebut yang tidak lain adalah Naruto sang kepala keluarga di dalam rumah megah tersebut.
"Reiji, Reiga, dan Tatsuki mereka sudah berangkat latihan sejak pagi-pagi sekali, Naruto kun." Jawab seorang perempuan cantik bersurai coklat dengan iris lavender aka Hanabi. "Sementara Shin dan Boruto, masih tidur di kamar mereka." Lanjut perempuan tersebut sambil memasukkan sesuap nasi kedalam mulutnya.
"Kurasa Shin dan Boruto sangat kelelahan akibat mereka ikut patroli bersama para anbu semalam." Ucap Konan yang menjelaskan tentang keadaan dua anak Naruto yang bergender laki-laki tersebut.
"Hah, dasar mereka berdua." Ucap Naruto sambil menggelengkan kepalanya setelah mendengar penjelasan Konan. "Lalu bagaimana dengan anak-anak perempuan?" Lanjut Naruto yang melontarkan pertanyaan lagi.
"Ryuuki, Rin, dan Yuki sedang berlatih di halaman belakang rumah." Kali ini seorang perempuan bersurai merah pucat yang membuka suara untuk menjawab pertanyaan Naruto. "Sementara Yuki dan Naruko pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari." Lanjut perempuan cantik tersebut yang tidak lain adalah Tayuya.
"Oh..." Naruto hanya ber 'oh' saja setelah mendengar jawaban dari Tayuya. "Lalu apakah kalian sudah menjelaskan pada mereka tentang kondisiku saat ini?" Tanya Naruto lagi.
"Kami sudah menjelaskan semuanya pada mereka, Naruto kun." Jawab seorang perempuan lain yang memiliki surai sepunggung berwarna ungu. "Yang belum mengetahui hal ini hanyalah Shin dan Boruto. Itu karena mereka masih tidur di kamar dan kami tidak tega untuk membangunkan mereka." Lanjut perempuan cantik bernama Yugao tersebut.
"Kalau begitu, setelah mereka bangun kalian jelaskan kepada mereka ya." Ucap Naruto sambil berdiri dari kursinya dan melangkahkan kakinya menuju wastafel dan menaruh mangkuk yang ia gunakan untuk sarapan paginya barusan.
"Ka-kau sudah se-selesai sarapannya, Na-Naruto kun?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai indigo dan iris mata berwarna lavender yang indah aka Hinata.
"Hai', Hinata chan." Jawab Naruto singkat sambil tersenyum.
"Apa rencanamu setelah ini, Naruto kun?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai putih panjang dan iris mata berwarna putih. "Apakah kau akan langsung kembali bekerja sebagai Hokage?" Lanjut perempuan tersebut yang tidak lain adalah Kaguya.
Semua mata yang sedang berada di ruang makan langsung memandang Naruto dengan tatapan penasaran setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kaguya barusan. Sepertinya mereka juga ingin menanyakan hal yang sama pada Naruto.
"Kurasa, aku tidak akan langsung kembali pada pekerjaanku sebagai hokage, Kaguya chan. Mungkin aku akan mengambil cuti selama beberapa hari." Jawab Naruto sambil melangkahkan kakinya untuk kembali ke ruang makan. "Dan untuk rencanaku hari ini, kurasa aku akan pergi ke tempat Shikamaru dan memberitahunya keadaanku saat ini." Lanjut Naruto memberitahu perempuan berparas cantik tersebut.
"Apakah tidak apa-apa jika kau langsung memberitahu Shikamaru tentang keadaanmu saat ini, Naruto kun?" Ucap Guren yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Kurasa tidak apa-apa, Guren chan." Jawab Naruto santai. "Lagipula harus ada seseorang yang mengetahui tentang kembalinya keadaanku saat ini meskipun hanya Shikamaru." Lanjut Naruto menjelaskan.
"Lalu setelah dari tempat Shikamaru, apa rencanamu selanjutnya, Naruto kun?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai hitam pony tail aka Shizuka yang juga baru membuka suaranya.
"Untuk itu..." Naruto terlihat menaruh kedua jari di dagunya untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan perempuan cantik beriris hijau tersebut. "Kurasa aku tidak bisa memberitahu kalian, minna." Lanjut Naruto sambil memamerkan sebuah senyuman jahil pada semua perempuan disana.
Para perempuan cantik tersebut langsung sweetdrop setelah melihat senyuman yang menurut mereka aneh terukir di wajah tampan Naruto. Akan tetapi, sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh tentang rencana Naruto, pemuda berparas tampan dengan surai kuning jabrik tersebut sudah terlebih dahulu menghilang dari tempat tersebut dengan menggunakan hiraishinnya.
"Dasar Naruto..." Ucap Konan sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan terlalu dipikirkan, Konan chan." Ucap Hinata dengan nada yang terdengar biasa dan tidak gugup. Sebenarnya perempuan cantik bersurai indigo ini bisa berbicara biasa di depan para istri Naruto. Akan tetapi, perempuan tersebut langsung berubah gugup jika ia berada di dekat Naruto. "Bagaimanapun juga Naruto kun mungkin butuh hiburan. Kita semua juga tahu bahwa akhir-akhir ini dia terus-terusan mendapatkan tekanan mental dari berbagai arah." Lanjut perempuan cantik bersurai indigo tersebut panjang lebar.
"Kau benar, Hinata chan." Ucap Konan dengan nada yang terdengar murung. "Entah mengapa aku merasa kecewa pada diriku sendiri karena tidak bisa berbuat apapun saat ini untuk membantu Naruto kun." Lanjut perempuan tersebut yang lebih mengarah pada dirinya sendiri.
Semua perempuan disana langsung ikutan murung dan langsung menundukkan kepala mereka setelah mendengar ucapan Konan barusan. Sepertinya mereka juga merasakan sesuatu yang sama dengan perempuan cantik bersurai biru tersebut. Hanya saja mereka lebih memilih menyembunyikannya.
"Jangan murung begitu, minna." Ucap seorang perempuan cantik bersurai merah yang sejak tadi hanya diam dan menjadi pendengar semua pembicaraan aka Sara. "Mungkin ini adalah cobaan dari Kami sama yang mungkin hanya Naruto saja yang bisa menyelesaikannya." Lanjut perempuan berparas cantik tersebut.
"Aku setuju dengan pendapat Sara chan." Ucap Kaguya yang mendukung opini Sara. "Mungkin saat ini kita tidak bisa membantu Naruto kun. Akan tetapi, suatu saat kita pasti bisa membantunya dengan segala yang kita miliki. Mungkin itulah alasan Kami sama mempertemukan kita semua dengan Naruto kun." Lanjut perempuan cantik bersurai putih tersebut dengan nada bijaksana.
Semua istri Naruto langsung mengangkat wajah mereka setelah mendengar ucapan Kaguya barusan. Sepertinya mereka bisa kembali merasakan semangat di dalam hati mereka setelah mendengar ucapan dari perempuan cantik bersurai putih tersebut.
Dan setelah itu, semua perempuan cantik tersebut langsung melanjutkan acara sarapan pagi mereka dengan canda tawa di antara mereka.
Sementara itu di tempat Naruto...
Lelaki tampan bersurai kuning tersebut saat ini terlihat menulusuri jalan setapak di bagian lain desa yang jauh dari keramaian para penduduk ataupun shinobi desa.
Saat ini Naruto terlihat mengenakan pakaian santainya yang berupa kaos orange lengan pendek dan celana panjang berwarna hitam. Lelaki tersebut terus menyusuri jalan di depannya dengan keheningan yang bersamanya.
Setelah beberapa saat berjalan menapaki jalanan yang ada di depannya, pemuda tampan bersurai kuning jabrik tersebut terlihat melangkahkan kakinya untuk menuju jalan yang terbilang ramai. Dia langsung menerobos orang-orang yang saat itu sedang beraktifitas sambil menundukkan kepalanya.
Dan setelah berjalan cukup lama, Naruto terlihat menghentikan langkah kakinya di depan sebuah rumah berukuran sedang yang terletak tidak jauh dari gedung Hokage tempatnya bekerja.
Tok tok tok
Tidak menunggu lama, Naruto langsung mengetuk pintu di depannya menggunakan salah satu tangannya. Setelah mengetuk pintu, pemuda bersurai kuning jabrik tersebut hanya diam dan menunggu respon dari orang yang berada di dalam rumah.
Tok tok tok
Setelah menunggu cukup lama dan tidak mendapatkan respon apapun, Naruto kembali mengetuk pintu rumah yang ada di depannya.
"Hai', tunggu sebentar..." Jawab suara seorang perempuan yang terdengar dari dalam rumah yang ada di depan Naruto saat ini.
'Aku pikir semua orang sedang keluar.' Ucap Naruto dalam hati. 'Syukurlah jika ada seseorang yang masih ada di dalam.' Lanjut Naruto yang bersyukur dalam hati karena ia tidak membuang waktunya sia-sia.
"Siapa?" Tanya suara seorang lelaki dari dalam rumah yang ada di depan Naruto.
"Ini Hokage sama, Shikadai chan." Ucap Naruto dengan nada suara tegasnya.
Cklek
Pintu di depan Naruto seketika terbuka dan menampilkan seorang remaja laki-laki dengan kisaran usia sekitar 13 tahunan sedang berdiri di dalam rumah sambil memegang gagang pintu.
"Silahkan masuk, Hokage sama." Ucap remaja bergender laki-laki tersebut sambil memberi jalan untuk Naruto dan membungkuk hormat.
"Jangan terlalu formal begitu, Shikadai chan." Ucap Naruto sambil mengelus surai hitam berkuncir ke atas milik sang pemuda tersebut. "Apakah tou sanmu ada di rumah?" Lanjut Naruto bertanya pada remaja berusia 13 tahun tersebut sambil menghentikan gerakan tangannya.
"Tou san ada di rumah, Hokage sama." Ucap pemuda tersebut sambil menegakkan tubuhnya. "Mari silahkan masuk dulu." Lanjut pemuda tersebut mempersilahkan Naruto untuk masuk kedalam rumahnya dengan nada sopan.
Naruto langsung melangkahkan kakinya untuk memasuki bagian dalam rumah keluarga Nara tersebut. Setelah itu, sang pemuda langsung menuntun Naruto untuk menuju bagian ruang tamu rumah tersebut.
"Shikadai chan, bisa tolong panggilkan tou sanmu?" Tanya Naruto setelah ia mendudukkan dirinya di sofa yang ada di dalam rumah keluarga Nara tersebut. "Aku ada sebuah keperluan penting yang harus segera aku bicarakan dengannya." Lanjut Naruto sambil tersenyum ramah.
"Tunggu sebentar, Hokage sama." Jawab pemuda tersebut singkat. Setelah itu, pemuda berusia 13 tahunan tersebut terlihat berjalan menuju dapur.
"Siapa yang datang bertamu pagi-pagi begini, Shikadai chan?" Tanya seorang perempuan cantik bersurai kuning pucat yang saat ini terlihat sedang membereskan dapur.
"Hokage sama, kaa san." Jawab pemuda tersebut singkat. "Beliau bilang ingin bertemu dengan tou chan." Lanjut pemuda tersebut memberitahu wanita cantik bersurai kuning pucat tersebut.
"Hokage sama?" Ucap wanita cantik tersebut sambil mengangkat sebelah alisnya. 'Ada apa Naruto kun datang kemari? Bukankah jika memang ada keperluan dengan Shikamaru, mereka bisa membicarakannya saat sudah berada di gedung Hokage ya?' Lanjut wanita cantik berusia 30 tahunan tersebut dalam hati.
"Hai', kaa san." Jawab pemuda remaja tersebut singkat. "Ngomong-ngomong, dimana tou san?" Tanya pemuda tersebut dengan nada penasaran sambil mencari keberadaan lelaki yang ia panggil dengan sebutan tou san di sekitarnya.
"Pasti dia kembali tidur." Ucap sang wanita cantik bersurai kuning tersebut yang lebih mengarah pada dirinya sendiri. Aura wanita tersebut yang awalnya terlihat biasa saja langsung berubah angker setelah ia mengucapkan kalimat tersebut.
Sang pemuda terlihat cuek dan tidak begitu peduli dengan aura angker yang dipancarkan ibunya saat ini. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan hal tersebut.
"Kaa san, aku mau pergi untuk latihan bersama sensei dan teman-teman se team ku." Ucap pemuda tersebut berpamitan pada wanita cantik yang saat ini terlihat sudah selesai membereskan pekerjaan dapurnya.
"Hai', hati-hati di jalan ya." Ucap wanita cantik tersebut dengan nada lembut.
Setelah mendapatkan izin dari wanita cantik tersebut, pemuda dengan usia 13 tahunan tersebut terlihat berjalan meninggalkan dapur lalu menghampiri ruang tamu.
Setelah beberapa saat berbincang dengan Naruto yang berada di ruang tamu, pemuda tersebut baru terlihat melangkahkan kakinya untuk menuju pintu depan rumah tersebut lalu membukanya. Selanjutnya, terlihat pemuda tersebut berjalan dengan langkah santai sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepalanya.
"Hoammm... Semoga okaa san tidak berlebihan kali ini." Ucap pemuda bergaya rambut seperti nanas tersebut dengan nada malasnya.
Dan setelah itu remaja tersebut terlihat terus melanjutkan perjalanannya menuju tujuannya.
Kembali ke kediamaan Nara...
"Ap-apa yang baru saja terjadi padamu, Shikamaru?" Tanya Naruto dengan nada takut-takut sambil berkeringat dingin saat iris birunya melihat sang kepala keluarga Nara yang saat ini duduk diepannya dengan kepala yang benjol.
"Hah... Merepotkan..." Ucap lelaki yang saat ini berada di depan Naruto yang tidak lain adalah Shikamaru. "Ini semua salahmu karena tiba-tiba datang kemari dan menganggu istirahatku." Lanjut Shikamaru menjawab pertanyaan yang dilontarkan Naruto.
Setelah itu, Naruto terlihat tertawa nerves sambil menggaruk belakang kepalanya.
'Sepertinya nasib kami tidak berbeda jauh.' Ucap Naruto dalam hati saat melihat keadaan Shikamaru saat ini.
"Ngomong-ngomong, ada keperluan apa hingga kau datang kemari, Naruto?" Tanya Shikamaru dengan nada malasnya sambil menggosok benjolan di kepalanya menggunakan salah satu tangannya. "Dan sejak kapan tubuhmu sudah kembali menjadi laki-laki? Ini bukan henge saja kan?" Lanjut Shikamaru sambil mengangkat sebelah alisnya.
Naruto langsung menghentikan tingkahnya setelah mendengar ucapan Shikamaru barusan. Setelah itu, pemuda tampan bersurai kuning tersebut langsung memasang ekspresi seriusnya.
Shikamaru yang melihat perubahan pada ekspresi Naruto langsung ikut memasang wajah seriusnya. Ia tahu jika Naruto langsung menunjukkan ekspresi seriusnya seperti saat ini, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia bicarakan.
"Untuk masalah tentang perubahan fisikku akan aku ceritakan lain waktu saja, Shikamaru." Jawab Naruto. "Aku datang kemari, untuk meminta bantuanmu untuk membuat sebuah keputusan." Lanjut pemuda tampan bersurai kuning tersebut.
"Membuat sebuah keputusan?" Ucap Shikamaru sambil mengangkat sebelah alisnya untuk yang kedua kalinya. "Memangnya keputusan seperti apa yang harus kau buat hingga kau membutuhkan bantuanku, Naruto?" Tanya Shikamaru.
"Hah... Jadi begini, Shikamaru..." Ucap Naruto setelah menghembuskan nafas panjang. Setelah itu, Naruto menceritakan tentang pilihan yang diberikan Jun padanya saat ia masih berada di atas atap gedung Hokage.
Sementara Shikamaru hanya bisa mendengarkan cerita Naruto dengan serius. Beberapa pertanyaan juga dilontarkan lelaki berusia 30 tahunan tersebut pada Naruto saat pemuda tersebut masih bercerita.
"Begitulah, Shikamaru." Ucap Naruto dengan nada lesu saat ia sudah selesai menceritakan apa yang telah terjadi saat ia berada di atas atap gedung Hokage.
"Jika memang masalahnya seperti itu, pastinya akan sangat sulit untuk membuat sebuah keputusan." Ucap Shikamaru sambil memegang dagunya.
Beberapa saat berlalu dalam keheningan. Kedua manusia bergender laki-laki tersebut sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Jika kau memilih ikut dengannya, kau akan berlatih dengan para dewa,pastinya akan membutuhkan waktu yang sedikit lama. Ditambah lagi, ada kemungkinan kau akan terbunuh saat berlatih bersama mereka. Tapi, jika kau melawan raja iblis, kurasa itupun juga bukan pilihan yang akan menguntungkan dirimu." Ucap Shikamaru setelah beberapa saat berpikir.
"Hai'." Ucap Naruto dengan nada yang terdengar pasrah. "Saat ini aku tidak bisa berpikir dengan jernih. Waktu terus berjalan. Akan tetapi, aku tidak bisa membuat keputusan yang tepat untuk masalah yang satu ini." Lanjut Naruto dengan nada frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
"Semua orang pasti akan merasakan hal yang sama jika mereka berada di posisimu, Naruto." Ucap Shikamaru dengan nada tenang. "Karena dari sinilah nasib hancur atau tidaknya dunia ini ditentukan." Lanjut Shikamaru menyampaikan opininya.
Naruto langsung terdiam setelah mendengar ucapan Shikamaru barusan. Dalam hati ia membenarkan apa yang baru saja disampaikan Shikamaru.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Temari datang sambil membawa sebuah nampan dengan dua cangkir yang berada di atasnya. Wanita cantik berusia 30 tahunan tersebut langsung membeku di depan ruang tamu saat iris biru indahnya melihat penampilan Naruto saat ini.
"Ho-Hokage sama?" Ucap Temari dengan nada tergagap saat ia sudah berada di depan ruang tamu. "A-aku tidak salah lihat kan?" Tanya wanita cantik tersebut yang lebih mengarah pada dirinya sendiri.
"Kau tidak sedang bermimpi, Temari." Ucap Shikamaru yang menjawab pertanyaan wanita berparas cantik tersebut. "Ini buktinya." Lanjut lelaki berambut ala nanas tersebut sambil menunjuk benjolan bertumpuk yang ada di atas kepalanya.
Twitch
Sebuah perempatan langsung muncul di dahi Temari setelah mendengar ucapan Shikamaru yang notabene adalah suaminya sendiri. Wanita cantik tersebut langsung menundukkan wajahnya dengan aura angker yang menguar dari punggungnya.
"Oh begitu ya." Ucap Temari sambil mengukir sebuah senyuman manis di wajah cantiknya. Setelah itu, wanita tersebut terlihat berjalan memasuki ruang tamu dan menaruh kedua cangkir yang ada di atas nampan yang ia bawa dihadapan Naruto dan Shikamaru.
Selanjutnya, wanita cantik tersebut langsung berjalan meninggalkan ruang tamu dengan senyuman manis di wajah cantiknya dan aura angker yang masih menguar di punggungnya.
"Shikamaru, apa istrimu baik-baik saja?" Tanya Naruto yang sepertinya merasakan firasat buruk akan terjadi pada lelaki yang ada di depannya.
"Hah... Entahlah, Naruto." Jawab Shikamaru sekenanya.
Setelah itu, kedua lelaki berparas tampan tersebut terlihat menikmati teh masing-masing dengan keheningan yang menyelimuti mereka berdua.
"Jadi bagaimana, Shikamaru?" Tanya Naruto setelah meneguk teh yang ada di cangkirnya. "Apakah kau sudah menemukan jawaban yang tepat?" Lanjut pemuda berparas tampan tersebut bertanya pada laki-laki di depannya.
"Maafkan aku, Naruto." Ucap Shikamaru dengan nada menyesal. "Tapi sepertinya untuk kali ini aku tidak bisa membantumu untuk membuat keputusan." Lanjut lelaki tampan tersebut dengan nada yang terdengar sangat menyesal.
"Jadi begitu ya..." Ucap Naruto setelah mendengar ucapan Shikamaru barusan.
Setelah itu, pemuda berparas tampan tersebut langsung menenggak minuman yang telah disuguhkan sampai habis lalu berdiri dari sofa yang ia duduki saat ini.
"Kalau begitu, aku langsung pamit undur diri dulu, Shikamaru." Ucap Naruto setelah ia berdiri dari sofa yang ia duduki saat ini.
"Heh? Jadi kau mau langsung berangkat ke kantor, Hokage?" Tanya Shikamaru sambil ikut berdiri dari sofa ruang tamu rumahnya.
"Oh ya, hampir saja aku lupa." Ucap Naruto sambil menepuk tangannya.
Entah mengapa, Shikamaru langsung merasakan firasat buruk setelah mendengar nada bicara Naruto barusan.
'Kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak ya?' Tanya Shikamaru dalam hati saat ia melihat Naruto.
"Shikamaru, aku minta tolong padamu, mulai hari ini dan untuk beberapa hari kedepan, aku tidak akan berangkat ke kantor untuk bekerja." Ucap Naruto. "Jadi aku semua tanggung jawabku akan aku serahkan padamu untuk sementara waktu." Lanjut Naruto sambil menepuk pundak Shikamaru.
"Hah... Merepotkan." Ucap Shikamaru dengan nada malas khas dirinya. "Tapi apa boleh buat." Lanjut lelaki berusia 30 tahunan tersebut dengan nada yang terdengar pasrah.
"Arigatou, Shikamaru." Ucap Naruto dengan nada yang terdengar tulus. "Kalau begitu aku mau pamit dulu." Lanjut Naruto sambil berjalan menuju pintu depan rumah Shikamaru diikuti lelaki berambut nanas tersebut.
"Baiklah, sampai jumpa, Shikamaru." Ucap Naruto saat ia sudah berada di luar rumah Shikamaru. Kemudian pemuda tampan bersurai kuning tersebut langsung menghilang dari hadapan sang pemilik rumah dalam sekejap mata.
"Dasar." Ucap Shikamaru sambil menutup pintu rumahnya. "Semoga kau bisa cepat untuk mengambil keputusan, Naruto." Lanjut lelaki bersurai hitam tersebut sambil melangkahkan kakinya untuk memasuki bagian dalam rumahnya.
Sementara itu dengan Naruto...
Di sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah lapangan yang sangat luas, terlihat seorang pemuda berparas tampan dengan surai kuning jabrik muncul tepat di tengah-tengah tempat tersebut.
"Yosh, kurasa ini adalah tempat yang tepat." Ucap pemuda tersebut yang tidak lain adalah Naruto pada dirinya sendiri. "Aku harap mereka tidak kecewa dengan apa yang akan aku berikan pada mereka." Lanjut pemuda berparas tampan tersebut sambil tersenyum dan mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
TBC
