Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Salam hangat untuk Fujita Hoshiko, Kongming the Fierce, Tsubasa, Kaka, Airin Aizawa, Nami-chan Sun Flowers, Amu-san, Hikari Hattori, Ohjack, 3aboOorah, Sakura-chaNoRuffie-chan, shinichi kudo-san, Lady Spain, Phantom, Ralilac dan shirayuki nao.
Fujita-san : Ya iya dong. Kalau ngalah terus, kapan dapetnya. He he he. Jadi gimana? Keterima di SMA mana?
Kongming-san : Oalah, itu toh cenderawasihnya. Jadi ngepet itu, orangnya jadi hewan? Kayaknya bukan Densus 88 deh yang ngurusi satwa langka.
Tsubasa-san : Begitulah. Lemari Sapu? Hmm...
Kaka-san : Aku suka happy ending. Kalau Demi Waktu Jilid Dua, itu cuma one-shot jadi nggak ada lanjutannya.
Airin-san : I'll do my best. Karena konfliknya banyak, ceritanya jadi panjang. Jangan lupa update fic-mu juga.
Nami-chan : Sepertinya pernah, Menghapus Jejakmu kayaknya bisa masuk hitungan Ai Only. Aku belum punya gambaran buat fic Ai Only soalnya aku paling suka nulis cerita romance. Atau jangan-jangan ceritaku romance semua? XD
Amu-san : AiCon pernah, tapi cuma one-shot. Susahnya nulis AiCon adalah soalnya aku yakin Ai bakal nemu antidotnya terus dia bakal balik jadi Shiho dengan Shinichi. Udah gitu, Ai yang masih dalam bentuk anak SD tidak akan bisa menarik perhatian Conan. Memang penampilan bukan segalanya, tapi penampilan merupakan salah satu faktor yang paling penting.
Hikari-san : Wah, aku juga nggak tahu. Aku nggak cerita sampai situ jadi silahkan dibayangkan sendiri. He he he.
Ohjack-san : *give tissue*
3aboOorah : Yes, they should get married after all that happened.
Sakura-chaNoRuffie-chan : Yah, namanya juga cinta. Dan cinta itu buta. He he he. Yah, cerita ini memang harus berakhir soalnya semua konfliknya sudah selesai. Aku juga sudah gatal mau nulis ShinShi lagi. Itu adalah OTP-ku.
Shinichi kudo-san : Nggak apa. Ya, selanjutnya Rye x Sherry.
Lady Spain : Heiji jadi mesum karena Shiho membuatnya jadi seperti itu. He he he. Tapi memang setelah cerita ini pindah rating, aku jadi bisa lebih bold nulisnya. Jangan sebel terus. Kazuha hanyalah seorang gadis yang sedang jatuh cinta dan cinta itu buta, katanya.
Phantom : Kalau menurutmu Subaru itu siapa? Kalau menurutku, Subaru itu Akai jadi ceritaku yang selanjutnya bisa diperhitungkan sebagai Subaru x Shiho.
Ralilac-san : Lho, kenapa nggak bisa komen? XD
Shirayuki-san : Nggak, soalnya yang jadi penjahat Heiji. He he he. Tentang Shuichi, aku nggak bisa ngasih dia dialog di chapter ini, cuma deskripsi aja. Semoga kamu nggak kecewa.
Chapter 21 sudah datang! Akhirnya sampai juga di chapter terakhir. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pembaca dan komentator yang sudah mendukung cerita ini dan memberi penulis banyak inspirasi. Komentar dari para pembaca sekalian benar-benar memberi penulis motivasi untuk menyelesaikan cerita yang panjang ini.
Penulis juga memberi peringatan bahwa omake chapter ini benar-benar M, jadi untuk para pembaca yang tidak nyaman dengan konten eksplisit, watch out the omake.
Lalu fic selanjutnya setelah ini adalah tentang Rye x Sherry, two-shot dengan chapter pertama berupa prolog dan chapter kedua berupa epilog dan rating M. Rencananya chapter pertama merupakan dark fic, sedangkan chapter dua merupakan sweet fic.
Baiklah, tanpa banyak curcol lagi, selamat membaca dan berkomentar!
Semalam Bersamamu
By Enji86
Penyelesaian
Setelah melalui pembicaraan antara kedua keluarga, tanggal pernikahan Heiji dan Shiho pun ditetapkan. Profesor Agasa menelepon Yukiko untuk membantunya mempersiapkan pernikahan Shiho sehingga Yusaku dan Yukiko kembali ke Jepang. Shiho mengirimkan undangan pernikahannya melalui e-mail pada Shuichi dan meminta Shuichi mengundang agen FBI yang mengenal Shiho.
Pernikahan Heiji dan Shiho akan digelar di Tokyo lalu seminggu setelahnya mereka juga akan menggelar pesta di Osaka. Sebenarnya Shiho tidak ingin menghamburkan uang Profesor Agasa untuk pernikahannya tapi Profesor Agasa terus memaksanya karena sebagai ayah, dia ingin memberikan pernikahan yang meriah untuk putrinya. Yusaku dan Yukiko juga memaksa ingin menyumbang biaya pernikahan Shiho karena Shiho sudah berjasa besar membantu Shinichi. Shiho sendiri juga sudah mulai dekat dengan Shizuka karena mereka berdua ternyata menyukai banyak hal yang sama.
Shiho sebenarnya merasa berat meninggalkan Profesor Agasa sendirian karena dia harus mengikuti Heiji ke Osaka. Oleh karena itu, selain sibuk mempersiapkan pernikahannya, dia juga sibuk mencarikan jodoh untuk Profesor Agasa melalui jasa makcomblang. Profesor Agasa hanya bisa sweatdrop melihatnya. Selain itu, Shiho juga sudah mengundurkan diri dari pekerjaannya di butik.
Di sela-sela persiapan pernikahan, Shinichi mulai membicarakan rencananya bergabung dengan FBI kepada orang tuanya. Orang tuanya merasa senang karena Shinichi akan tinggal di Amerika juga dan mendukungnya walaupun mereka juga sedikit khawatir. Shinichi kemudian membicarakan hal ini dengan Heiji dan Shiho yang merupakan sahabat-sahabat baiknya dan mereka berdua sangat sedih mendengarnya karena mereka tidak akan bisa sering-sering menjumpai Shinichi. Meskipun begitu, mereka tetap mendukungnya karena mereka tahu kualitas Shinichi sebagai detektif. Lalu tinggal satu orang lagi yang harus dia beritahu.
XXX
Shinichi duduk di sebuah restoran sambil merenung. Dia sedang menunggu teman kencannya yang belum datang. Ini adalah kencan pertamanya dengan Ran setelah mereka bertengkar dan tidak bicara satu sama lain selama beberapa bulan dan ini juga mungkin kencan mereka yang terakhir karena dia akan bergabung dengan FBI. Senyum ironis pun muncul di bibirnya. Lalu dia melihat Ran menghampiri mejanya dan dia pun tersenyum kepada Ran.
"Hai, Ran," sapa Shinichi ketika Ran sudah duduk di hadapannya.
"Hai," Ran membalas sapaannya dengan agak canggung.
Shinichi pun memanggil pelayan untuk memesan makanan.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Kazuha-chan," ucap Ran pelan setelah pelayan itu pergi.
"Ya, aku sudah menduganya," ucap Shinichi.
"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku, Shinichi? Kalau kau cerita padaku, hubungan kita pasti tidak akan seperti ini," ucap Ran.
"Ran, mereka itu sahabatku, jadi aku harus menjaga rahasia mereka. Lagipula kau tidak ada hubungannya dengan mereka. Aku sudah bilang kan kalau aku melarangmu mencampuri urusan mereka?" ucap Shinichi.
"Bagaimana bisa kau bilang aku tidak ada hubungannya dengan mereka? Hattori-kun dan Kazuha-chan adalah temanku dan kau adalah pacarku. Semua yang ada hubungannya denganmu tentu ada hubungannya denganku juga. Apa kau tidak mengerti itu? Aku ingin kau membagi semuanya padaku, Shinichi, SEMUANYA," ucap Ran dengan penekanan.
Ketika Shinichi akan menyahut ucapan Ran, makanan pesanan mereka telah tiba sehingga Shinichi tidak jadi melakukannya. Dia dan Ran mengucapkan terima kasih pada pelayan itu kemudian pelayan itu meninggalkan mereka.
"Lebih baik kita makan dulu," ucap Shinichi.
Ran sudah akan membantah tapi kemudian dia mengurungkan niatnya dan menuruti kata-kata Shinichi. Mereka pun makan dalam diam.
"Ran, aku minta maaf karena aku tidak bisa membagi semuanya denganmu," ucap Shinichi setelah mereka selesai makan.
"Kalau begitu jangan minta maaf. Bagilah semuanya denganku. Kau tahu kan, aku pasti akan mendengarkanmu," ucap Ran.
"Aku tahu tapi aku tidak bisa," ucap Shinichi.
"Kenapa?" tanya Ran.
"Karena aku tidak bisa menyerahkan hatiku seluruhnya padamu," jawab Shinichi.
"Shinichi...," ucap Ran dengan terpana.
"Aku sudah berusaha mengembalikan hatiku seperti dulu, hatiku yang hanya untukmu. Tapi aku tidak bisa. Seseorang sudah membawa sebagian hatiku bersamanya dan aku tidak bisa mengambilnya kembali. Karena itu aku tidak bisa membagi semuanya denganmu," ucap Shinichi.
"Ja-jadi maksudmu ada wanita lain di hatimu, begitu? A-apa wanita itu Miyano-san?" tanya Ran dengan suara bergetar.
"Aku tidak bisa bilang," ucap Shinichi sambil tersenyum tipis.
"Baiklah," ucap Ran kemudian hening sejenak sebelum Ran melanjutkan ucapannya. "Shinichi, aku sangat mencintaimu. Aku tidak mau berpisah denganmu. Karena itu, meskipun hanya sebagian, aku akan menerimanya," ucap Ran.
"Ran, kau pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik daripada aku," ucap Shinichi.
"Tapi aku tidak mau. Yang kuinginkan hanya kau," seru Ran.
Shinichi menghela nafas.
"Ran, aku tidak bisa memberikan cintaku yang cacat padamu sementara kau memberiku cinta yang sempurna. Aku benar-benar tidak bisa," ucap Shinichi.
"Shinichi...," ucap Ran sambil mulai menangis.
"Aku akan bergabung dengan FBI dan pindah ke Amerika," ucap Shinichi sambil menahan perih di hatinya karena melihat Ran menangis lagi gara-gara dirinya. Tapi dia harus melakukan ini agar Ran tidak menangis lagi karena dirinya. Dia pun sudah lelah menanggung beban air mata Ran yang jatuh untuk dirinya. Dia bukan lagi Shinichi yang dulu, Shinichi yang egois dan angkuh, yang tidak ambil pusing walaupun Ran menangis karena dirinya. Sekarang dia menjadi lebih sensitif dan air mata Ran adalah sesuatu yang sangat membebani hatinya. Jika dia terus bersama dengan Ran dengan cintanya yang hanya setengah hati itu, dia akan terus membuat Ran menangis dan dia tidak mau itu terjadi.
"Tidak, kau tidak boleh pergi," seru Ran.
"Aku harus pergi. Maafkan aku, Ran. Aku harap kau bisa menemukan laki-laki yang bisa memberikan seluruh hatinya padamu. Selamat tinggal," ucap Shinichi kemudian dia berdiri dari kursinya dan melangkah pergi.
"Shinichi!" panggil Ran yang juga sudah berdiri dari kursinya tapi Shinichi tidak menoleh dan terus melangkah. Ran pun terduduk kembali ke kursinya dan menangis terisak-isak.
XXX
Pernikahan Shiho berlangsung sangat meriah. Shuichi datang dari Amerika sehari sebelumnya bersama Jodie dan James. Shuichi juga masih belum kehilangan hobinya mengerjai Heiji. Dia memeluk Shiho dan mencium pipi Shiho lalu memuji penampilan Shiho yang cantik dan seksi dalam gaun pengantin di depan Heiji sehingga Heiji menatapnya dengan tatapan membunuh yang hanya ditanggapinya dengan cengiran. Shinichi pun tertawa melihatnya. Perasaan Shinichi memang terasa lebih ringan setelah merelakan dua orang wanita yang sudah mengisi hatinya. Setelah ini, dia akan menjalani lembaran baru dalam hidupnya dan mungkin dia bisa bertemu dengan cinta yang baru.
Sampai hari pernikahannya, Shiho belum bisa menemukan jodoh untuk Profesor Agasa dan itu membuatnya cemas. Namun dia jadi lebih tenang ketika Profesor Agasa berjanji padanya akan mengajak Fusae kencan saat mereka bertemu lagi di bawah pohon gingko untuk yang kedua kalinya.
Keesokan harinya, orang tua Heiji yang semalam menginap di rumah Profesor Agasa pulang ke Osaka. Heiji dan Shiho akan menyusul mereka kembali ke Osaka sehari sebelum resepsi pernikahan mereka di Osaka karena mereka ingin bulan madu ke laut. Shuichi, Jodie, James, Yusaku dan Yukiko juga kembali ke Amerika hari itu dengan tambahan satu orang yaitu Shinichi. Ran pun akhirnya menerima keputusan Shinichi dan ikut mengantar Shinichi ke bandara. Bisa dibilang, semuanya berakhir dengan baik.
Tamat.
Omake
Shiho memandangi kamar pengantinnya dengan senyum puas di bibirnya. Dia berhasil mengubah basemen rumah Profesor Agasa yang berantakan menjadi kamar pengantin yang sangat bagus. Dia memilih basemen sebagai kamar pengantin karena dia tidak mau menganggu tidur Profesor Agasa dan orang tua Heiji dengan keributan yang akan dia dan Heiji buat saat malam pertama mereka sebagai suami-istri. Dia lalu naik ke tempat tidur dan meraih majalah fashion yang ditaruhnya di atas meja di samping tempat tidur. Dia melihat-lihat isi majalah tersebut untuk menghabiskan waktu menunggu Heiji yang masih mandi.
Beberapa saat kemudian, Heiji pun masuk ke dalam kamar pengantinnya dengan perasaan nervous. Dia tahu ini bukan pertama kalinya dia bercinta dengan Shiho, tapi sebelumnya dia selalu melakukannya dalam keadaan mabuk dan sekarang dia sedang tidak mabuk. Heiji menghampiri tempat tidur dan melihat Shiho yang sangat seksi dalam gaun tidurnya yang berwarna merah sedang berbaring menyamping dan menyangga kepalanya dengan satu tangan sementara tangan lainnya sibuk membalik halaman majalah di tempat tidur sehingga Heiji semakin gugup dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain selain Shiho. Heiji mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sehingga punggungnya menghadap Shiho.
Shiho menaikkan alisnya ke punggung Heiji lalu dia tertawa geli tanpa suara karena tebakannya tidak meleset. Dia menaruh majalahnya kembali di atas meja di samping tempat tidur lalu membuka laci pertama meja itu dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Shiho meletakkan barang itu di dekat kepala tempat tidur lalu menghampiri Heiji dan memeluk leher Heiji dari belakang. Tubuh Heiji langsung menjadi kaku ketika Shiho memeluknya dari belakang.
"Apa kau mau melakukannya malam ini?" tanya Shiho dengan lembut.
"Tentu saja," jawab Heiji dengan cepat sehingga wajahnya langsung memerah.
"Lalu kenapa kau memberikan punggungmu padaku?" tanya Shiho.
"Aku hanya sedikit gugup," gumam Heiji.
"Baiklah, kalau begitu aku akan membuatmu rileks sebelum kita melakukannya," ucap Shiho sambil menyeringai sadis.
Shiho kemudian menarik Heiji agar Heiji berbaring telentang di tempat tidur lalu dia meraih barang yang diambilnya dari laci tadi yaitu borgol dan memborgol tangan Heiji ke kepala tempat tidur sehingga membuat Heiji merinding.
"Err, Shiho, kenapa kau memborgol tanganku?" tanya Heiji dengan agak takut.
"Sshh. Kau berbaring saja dengan rileks," ucap Shiho sambil bergerak ke atas tubuh Heiji. Lalu dia mengklaim bibir Heiji dengan bibirnya sambil membuka kancing piyama Heiji. Dia mencium Heiji dengan sangat agresif sehingga membuat tubuh Heiji agak gemetar dan membuat Heiji tidak punya pilihan lain selain meleleh dalam ciumannya.
Tiba-tiba Shiho menghentikan ciumannya sehingga Heiji mengerang kecewa tapi dia langsung tersentak kaget ketika Shiho memberikan ciuman panas dan basah di rahangnya. Tubuhnya langsung menggeliat ketika ciuman Shiho sampai di lehernya dan dia terus mengerang ketika ciuman Shiho sampai di dadanya. Tubuhnya menjadi panas dan nafasnya semakin memburu. Tanpa sadar, dia beberapa kali menarik borgol yang menahan tangannya karena dia ingin sekali memegang Shiho. Celananya pun juga terasa semakin tidak nyaman.
"Kau seksi sekali, Sayang. Melihatmu seperti ini saja sudah mampu membuatku merasa panas," ucap Shiho dengan suara seperti kehabisan nafas saat dia bangkit sejenak untuk melihat reaksi tubuh Heiji terhadap aksinya barusan. Lalu dia kembali mengklaim bibir Heiji.
"Shiho, aku tidak tahan lagi," desah Heiji setelah Shiho mengakhiri ciumannya.
"Benarkah?" tanya Shiho dengan nada menggoda sambil kembali menciumi leher Heiji dan mengusap dada Heiji.
"Shiho, aku mohon," ucap Heiji di sela-sela erangannya.
"Baiklah, biar kuperiksa dulu," ucap Shiho sambil menyeringai lalu dia membelai kejantanan Heiji yang sudah mengeras di balik celana Heiji.
"Shiho," desis Heiji sementara tubuhnya gemetar hebat.
"Baiklah, Sayang. Aku rasa kau sudah rileks sekarang," ucap Shiho dengan riang. Dia melepaskan borgol Heiji dan detik berikutnya punggungnya langsung terbanting ke tempat tidur dengan Heiji di atasnya.
Heiji menatap Shiho yang ada di bawahnya dengan tatapan seorang predator yang sedang menatap mangsanya sambil melepas piyama dan celananya dengan cepat dan kasar sehingga membuat Shiho merinding. Setelah kejantanannya bebas, dia langsung menyibakkan gaun tidur Shiho dan memasuki Shiho dengan kasar dan berapi-api sambil menindih tubuh Shiho.
Kepala Shiho langsung tersentak ke belakang dan dia harus menggigit bibirnya untuk menahan teriakannya ketika Heiji memasukinya dengan agresif. Lalu dia meraih dan memeluk leher Heiji, mengubur wajahnya di leher Heiji.
"Pelan-pelan, Sayang. Pelan-pelan," rintih Shiho. "Aku akan berada di sini semalaman."
Seperti tersadar, Heiji langsung menghentikan gerakannya dan mengusap-usap lengan Shiho yang memeluk lehernya dengan erat sambil menenangkan diri. Dia menciumi bahu Shiho sebagai tanda permintaan maaf.
"Maafkan aku. Apa aku menyakitimu?" tanya Heiji dengan cemas dan bahkan mungkin agak panik sehingga Shiho tidak bisa menahan tawanya.
"Hei, aku bilang pelan-pelan. Bukannya berhenti," ucap Shiho kemudian dia mencium dan menjilat leher Heiji. "Jangan berhenti, aku sangat menginginkanmu," desah Shiho dengan suara sensual sehingga tubuh Heiji kembali terbakar gairah.
Heiji kembali memasuki Shiho, tapi kali ini gerakannya lebih lembut dan penuh cinta sehingga Shiho menyebut namanya di setiap gerakannya, membuatnya sangat senang dan semakin bersemangat.
"Shiho, aku rasa aku...," erang Heiji saat tubuhnya mencapai batasnya.
"Tidak apa. Aku bersamamu, Sayang," desah Shiho. Lalu dengan satu gerakan terakhir, mereka berdua mencapai klimaks dan saling meneriakkan nama satu sama lain.
Heiji menjatuhkan dirinya di sebelah Shiho dengan nafas terengah-engah. Setelah nafasnya kembali teratur, dia menarik Shiho untuk berbaring tengkurap di atas tubuhnya. Shiho membaringkan kepalanya di dada Heiji, mendengarkan detak jantung Heiji sementara Heiji membelai punggungnya dan rambutnya. Heiji merasa sangat nyaman merasakan tubuh Shiho menekan tubuhnya sehingga dia menghela nafas penuh kepuasan.
"Aku rasa aku tidak akan memborgolmu lagi, Heiji," gumam Shiho dengan suara mengantuk sehingga Heiji kembali merasa bersalah.
"Maaf kalau aku terlalu kasar," ucap Heiji dengan lirih sehingga Shiho tersenyum.
Shiho pun mengangkat kepalanya dan bergerak ke atas sehingga dia bisa menatap wajah Heiji lalu dia mencium bibir Heiji dengan lembut.
"Kau memang buas tapi kau tidak pernah terlalu kasar bagiku," ucap Shiho sambil nyengir setelah dia mengakhiri ciumannya sehingga wajah Heiji menjadi merah.
"Lalu kenapa kau bilang kau tidak akan memborgolku lagi?" tanya Heiji.
"Karena mulai sekarang, kalau kau menginginkanku di tempat tidur, kaulah yang harus merayuku. Bukan sebaliknya seperti tadi, kau mengerti?" jawab Shiho dengan nada menggoda sehingga wajah Heiji semakin merah karena malu.
"Baiklah. Aku mengerti," gumam Heiji. Kemudian dia melihat Shiho menguap lebar sehingga dia membuka mulutnya lagi. "Tidurlah sekarang."
Shiho pun mengangguk lalu mengecup bibir Heiji dan mengucapkan selamat tidur. Heiji memeluk Shiho lalu mengubah posisi mereka sehingga mereka berbaring menyamping. Kemudian Heiji melepaskan Shiho sebentar untuk memakai celana piyamanya kembali dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Lalu dia kembali mendekap tubuh Shiho.
Heiji mengamati wajah istrinya yang mulai terlelap sambil membelai punggung dan rambut istrinya itu. Lalu dia tersenyum sendiri. Istrinya begitu cantik, begitu seksi dan begitu menyukainya, tapi tadi dia malah bertingkah seperti orang impoten karena gugup sebelum istrinya merangsangnya dan bertingkah seperti orang yang kasar setelah istrinya merangsangnya, padahal dia tahu bahwa dirinya adalah orang yang berdarah panas dan penuh gairah namun juga orang yang lembut dan penyayang.
"Aku memang aho, Shiho. Tapi tenang saja, karena mulai besok pagi aku akan menunjukkan padamu betapa aku mencintaimu dan menginginkanmu," ucap Heiji dalam hati. Lalu dia menguap lebar sehingga dia memutuskan untuk tidur.
Keesokan paginya, Shiho bangun dan menemukan suaminya tersenyum lembut kepadanya. Dia pun membalas senyuman suaminya, mencium pipi suaminya lalu mengucapkan selamat pagi. Setelah suaminya membalas salamnya, dia melepaskan diri dari dekapan suaminya dan bangkit dari tempat tidur namun suaminya yang sudah duduk di tempat tidur meraih pergelangan tangannya sebelum dia melangkah sehingga dia kembali menoleh ke suaminya.
"Kau mau kemana?" tanya Heiji.
"Aku mau mandi. Badanku lengket semua," jawab Shiho.
"Kalau begitu aku akan mandi bersamamu," ucap Heiji.
Mata Shiho langsung membesar lalu dia tersenyum geli.
"Wah, wah, suamiku yang manis dan polos ternyata sudah berubah menjadi anak nakal ya?" ucap Shiho untuk menggoda Heiji.
Wajah Heiji langsung memerah dan dia menatap Shiho dengan kesal namun dia segera mengendalikan dirinya lalu bangkit dari tempat tidur, menarik Shiho ke dalam pelukannya dan mencium bibir Shiho dengan lembut namun kemudian ciuman mereka segera berubah menjadi ciuman penuh gairah.
"Aku akan mandi bersamamu," ucap Heiji dengan suara kehabisan nafas setelah dia mengakhiri ciumannya. Lengannya masih melingkar di pinggang Shiho dan lengan Shiho juga masih melingkar di lehernya.
Shiho tersenyum manis kepada Heiji kemudian berbisik di telinganya.
"Kalau begitu ayo kita ke kamar mandi sekarang, karena selain lengket, aku juga merasa sangat panas," bisik Shiho dengan suara merayu sehingga Heiji merasa hasratnya bisa meledak kapan saja. Bibir dan mulut Shiho yang 'terkutuk' itu memang selalu bisa membuat tubuh Heiji bereaksi baik ketika sedang bicara dengan nada sensual maupun ketika sedang melakukan hal lain di tubuh Heiji.
Tanpa banyak bicara, Heiji menarik Shiho keluar dari basemen menuju kamar mandi. Dia menutup pintu kamar mandi dengan agak keras sehingga orang tuanya dan Profesor Agasa yang sedang menikmati kopi di ruang makan menjadi kaget. Lalu terdengar suara shower yang dihidupkan yang disusul dengan suara-suara lain yang membuat ketiga orang di ruang makan itu membeku.
"B-bagaimana kalau kita sarapan di luar?" tanya Profesor Agasa dengan sedikit gugup. Dalam hati dia berniat memasang peredam suara untuk kamar mandi nanti.
"Aku setuju. Ayo kita berangkat sekarang," jawab Heizo. Dalam hati dia juga berniat memasang peredam suara di kamar mandi rumahnya nanti.
Mereka bertiga bergegas keluar dari rumah Profesor Agasa dan tanpa sadar menghela nafas lega ketika mereka sudah berada di luar pagar.
"Padahal ini sudah pagi. Mereka berdua benar-benar gila," pikir mereka bertiga.
