Jingga dan Senja

Main Cast : Sehun, Baekhyun, Luhan, Kai

Pairing: Kaihun?or Hanhun?

Genre : Drama, romance, slice of life

Disclaimer : saya repost cerita punyanya kak Esti Kinasih yang judulnya Jingga dan Senja, ada yang tau? Ini versi buat anak exo nya tapi.

Typo bertebaran:v

Part 21

"Ada yang mau aku bicarakan" ucapnya. Pelan tapi tandas, dan tanpa basa-basi. "Kami Cuma bertiga," sambungnya.

Masih sambil menentang tatapan tajam Luhan, Kai menaikkan kembali tudung jaketnya. Dan diikuti tatapan tajam Luhan, diseberanginya kembali jalan raya di depannya menuju tempat kedua temannya menunggu.

Begitu melihat kedatangan Kai, Chanyeol dan Kris langsung siaga. Tak lama Luhan muncul bersama Lay dan dua orang teman mereka yang lain. Keempatnya langsung menghampiri Kai cs. Mereka berhadapan. Tiga lawan empat.

Tak ada satu pun dari keempatnya yang membuka mulut. Namun, empat pasang mata menghujam Kai dan kedua temannya seperti bara yang siap meletup. Tetapi ketiganya tetap tenang, karena mereka memegang kartu As yang bisa menjamin keamanan walaupun berada di kandang lawan. Kai maju dua langkah. Menempatkan diri lurus di depan Luhan dan Lay.

"Kim Yeri. Kelas sepuluh tiga."

Kalimat yang amat singkat, diucapkan Kai dengan intonasi datar cenderung santai, namun sanggup membuat muka Luhan dan Lay seketika memucat. Lay menggeram dan sudah akan menerjang Kai. Luhan buru-buru menahannya dengan mencekal satu bahunya.

Reaksi Lay yang begitu spontan dan jadi reaksi yang pertama, diam-diam mengejutkan Kai. Sepertinya ada dua kepentingan di sini. Persaudaraan milik Luhan, dan hati milik Lay. Kai bersiul keras dalam hati. Si Yeri ini ternyata benar-benar umpan yang multiguna.

"Kau apakan dia!?" desis Lay, yang masih berada dalam cekalan Luhan.

"Aku apain?" Kai mengangkat kedua alisnya. Ditatapnya cowok yang sudah memaksanya berlutut itu, tepat di bola mata. Seketika Lay sadar, mulai detik ini bukan hanya Luhan yang terlibat perang pribadi dengan Kai, dirinya telah berdiri di posisi yang sama. Kai tersenyum tipis. Puas saat mengetahui Lay telah menyadari situasinya.

"Baru diliat aja, kayak apa tampangnya," lanjut Kai, tetap dengan nada santai. "Sayangnya ada lagi yang tahu," tambahnya kemudian. "Mereka menamakan diri The Scissors."

Sepasang mata Luhan dan Lay menyipit, menatap Kai dengan tanya. Tapi Kai tidak ingin bersusah payah menjelaskan, karena itu bukan problemnya.

"Yang perlu diketahui, Aku tidak pernah tertarik untuk ikut campur urusan cewek. Tapi akan aku buat pengecualian. Untuk kalian berdua." Cuma itu. Kemudian Kai balik badan dan berjalan kearah motornya. Sambil menatap Luhan dan Lay bergantian, cowok itu menstater motornya. Bersama Chanyeol dan Kris, dia tinggalkan tempat itu.

Luhan dan ketiga temannya masih berdiri di tempat, bahkan beberapa saat setelah Kai dan kedua temannya hilang di ujung jalan. Kelamnya muka Luhan dan amarah yang tergambar jelas di sana – kondisi yang sama juga melingkupi Lay – membuat kedua teman mereka enggan mengusik.

.

.

.

Yeri memucat di sofa ruang tamunya. Di depannya Luhan dan Lay berdiri dengan muka keruh.

"Kan aku sudah bilang berkali-kali, jangan cerita ke siapapun. Jangan sampe ada yang tau kalo kau itu sepupuku."

Untuk ketiga kalinya Luhan mengatakan kalimat yang sama dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit, sejak dia sampai di rumah Yeri. Kalimat yang sarat ungkapan rasa marah dan kecewa. Dan yang terutama, Luhan merasa dikhianati oleh sepupunya itu.

Yeri masih terdiam. Dia tahu dia sudah melakukan kesalahan. Tapi dia hanya cerita ke satu orang. Joy, teman semejanya. Pertama, karena dia yakin Joy akan menjaga rahasianya. Kedua, Yeri yakin di sinilah letak kesalahannya, dia bangga karena banyak cewek di sekolah yang bilang Luhan itu cakep. Dan mereka menyayangkan statusnya yang sebagai musuh.

Malah Yeri pernah nggak sengaja dengar langsung dari mulut Tzuyu – cewek paling cakep di kelas sepuluh. Tzuyu ngomong kalo dia naksir berat sama Luhan. Sayangnya Tzuyu nggak tahu mesti nyari info tentang Luhan ke mana.

Gara-gara denger Tzuyu ngomong begitu, Yeri nggak bisa lagi menahan diri dan langsung cerita ke Joy. Yeri sama sekali nggak menyangka Joy akan berkhianat.

"Jadi, sekarang aku harus bagaimana?" tanyanya kemudian dengan suara lirih. Kedua matanya menatap Luhan penuh penyesalan. Luhan berdecak, lalu menghela napas dan mengembuskannya kuat-kuat.

"Kau tak bisa apa-apa. Makanya aku melarangmu cerita karena kau itu nggak bisa apa-apa. Yang ada malah bakalan kenapa-napa!" jawabnya dengan nada tinggi.

Lay langsung meletakkan tangan kirinya di satu bahu Luhan untuk menenangkannya. Yeri menundukkan kepalanya.

"Maaf," ucap Yeri dengan suara semakin lirih. Dengan suara terbata diceritakannya kenapa dia sampai nggak bisa menahan diri dan akhirnya cerita ke Joy. Kedua bola mata Luhan kontan melebar, tapi itu tidak menyebabkan kemarahannya jadi berkurang.

"Yang aku incer si Sehun itu, tau!"

"Kai sunbae juga naksir dia."

"Makanya aku jadi kalah gara-gara identitasmu ketauan! Haaahh, sialan!" dengan geram Luhan memukul dinding dengan kepalan tangan. Kembali Lay meletakkan satu tangannya di bahu Luhan, kali ini dengan disertai sedikit tekanan. Luhan menghela napas lalu menjatuhkan diri ke salah satu sofa.

"The Scissors itu apaan sih? Grup musik? Chearleaders?" tanyanya.

"Kok kau tau The Scissors?"

"Kai bilang mereka tau."

"Iya!?" Yeri terenyak. Mukanya kembali memucat. Dengan lemas kemudian dia ceritakan siapa itu The Scissors kepada Luhan dan Lay. Begitu penuturannya selesai, ganti kedua cowok itu yang lemas. Mereka sadar, kini mereka dalam posisi yang membuat mereka tidak bisa memberikan banyak perlawanan.

"Tapi masa iya sih Kai sunbae kayak gitu?" Yeri masih sangsi.

"Kayak gitu gimana? Pengecut, maksudmu?" Luhan menatap sepupunya dengan jengkel. "Nah kau liat aja buktinya. Sekarang dia bawa-bawa cewek untuk mengancamku. Masih juga kau panggil dia Kai sunbae. Di rumah nih."

Yeri menunduk mendapati muka marah Luhan.

"Takutnya nanti di sekolah keceplosan manggil Kai-Kai doang. Aku bisa abis nanti."

"Ck! Fuuuh!" Luhan berdecak lalu menarik napas panjang. "Kau bikin kacau aja, Yer!"

"Maaf. Aku juga bener-bener nggak nyangka Joy bakalan tega kayak gini"

"Lagian orang tuamu itu ada-ada aja. Mentang-mentang mereka alumni Seoul High School, ketemu cinta pertama di sana, nggak nyangka bisa pacaran awet sampe nikah, terus semua anaknya diwajibin sekolah di sana juga" sekarang Luhan menyalahkan orangtua Yeri, yang notebene om dan tantenya. "Padahal ada yang mengharapkan kau masuk sekolahku, lebih daripada aku. Sangat-sangat mengharapkan malah. Sadar nggak sih?"

"Maksudnya?" Yeri menatap Luhan tak mengerti.

Luhan tidak menjawab. Diliriknya Lay. Teman karibnya itu seketika memalingkan muka, menatap halaman lewat pintu yang terbuka. Kemudian cowok itu melangkah keluar.

"Kalo yang mau kau bicarakan sudah selesai, balik deh" ucap Lay tanpa menoleh. Luhan menatap punggung Lay sambil menahan senyum.

"Maksudnya apa sih?" Yeri mengulang pertanyaannya.

"Udahlah, nggak usah dibahas." Luhan bangkit berdiri. "Kami balik dulu."

"Maaf ya, Han?" sekali lagi Yeri meminta maaf.

"Hati-hati di sekolah. Aku tidak bisa menolong" pesan Luhan sebelum pergi, tidak mengcuhkan permintaan maaf itu. Kemudian dia berjalan keluar, menyusul Lay yang saat itu sudah duduk di atas jok motornya.

Yeri mengikuti kepergian kedua cowok itu dengan tatapan mata dan kerut-kerut bingung di keningnya. Satu kalimat Luhan meninggalkan tanda tanya yang menggantung di kepalanya.

.

.

.

.

Begitu Luhan muncul keesokan paginya, Lay memojokkannya di salah satu sudut kelas dan langsung bertanya, "Kau yakin kau bener-bener naksir itu cewek?" Luhan tersentak, tapi buru-buru menetralkan kembali air mukanya sebelum Lay sempat menangkapnya.

"Emangnya kenapa?"

"Kau yakin kau naksir si Sehun itu, atau karena itu cewek diincer

Kai?" Lay mengulang pertanyaannya.

Luhan menentang dua manic hitam yang menatapnya lurus-lurus itu. Milik Lay. Teman terdekat yang diperolehnya saat mereka berdua sama-sama dibantai para senior saat MOS dulu. Namun, ternyata ada yang harus dia sembunyikan dari sahabatnya ini. Bahwa Sehun sama sekali bukan soal hati. Tapi dendam.

Keduanya saling tatap. Lewat sorot mata, Luhan berusaha keras meyakinkan Lay tentang perasaannya pada Sehun. Sengaja dia menghindar untuk membuka mulut, agar tidak perlu dibohonginya Lay dengan terang-terangan.

Lay mengangguk. Percaya kesungguhan sorot kedua mata sahabatnya itu.

"Sementara lepasin dulu dia, Han. Daripada sepupumu kenapa-napa. Sama sekali bukan untuk kepentingan aku nih. Nanti kita pikirin cara lain."

"Aku tau." Luhan mengangguk. Diam-diam merasa lega karena kebohongannya tidak terbaca.

"Nanti aku bantu." Lay menepuk bahu Luhan lalu balik badan, berjalan ke pojok belakang tempat cowok-cowok teman sekelas mereka duduk bergerombol dan mengobrol dengan riuh. Luhan menatap punggung yang menjauh itu. Dihelanya napas diam-diam. Dalam hati dia meminta maaf atas kebohongan yang terpaksa dia lakukan. Karena dia tahu persis sikap Lay yang anti melibatkan cewek dalam urusan cowok. Meskipun Kai melakukannya, itu tidak akan membuat Lay melakukan hal yang sama.

Sebenarnya prinsip yang sama juga dipegang Luhan. Namun khusus untuk Kai, Luhan tidak peduli cara apa pun walau harus melanggar prinsipnya sendiri. Demi seseorang yang pernah menangis di depannya dulu.

.

.

.

.

.

Siang itu Kai mengendarai motornya dengan benak penuh hal-hal yang berhubungan dengan keputusan yang diambilnya, sehingga tidak disadarinya Luhan muncul dari sebuah gang dan menguntit di belakangnya. Ketika Kai berbelok ke sebuah jalan kecil yang relative sepi, Luhan langsung menambah kecepatan dan menjajari. Cowok itu memang sengaja memilih jalan kecil yang lengang untuk mengejar Kai, agar mereka berdua dan apa yang akan dilakukan nanti tidak menjadi perhatian.

Kai kaget saat mendadak muncul sebuah motor yang langsung mengambil posisi merapat di sebelah kanannya. Belum sempat dia berpikir, tiba-tiba pengendara motor itu menendang badan motornya. Seketika motor oleng hebat. Kai yang tidak berhasil menstabilkan motornya tak ayal terpelanting dari jok. Satu kondisi yang lebih baik karena kemudian motornya tetap melaju kencang tapi dengan posisi rebah. Meninggalkan jejak pecahan kaca akibat spion kiri menghantam aspal dengan keras, juga percikan bunga api akibat gesekan logam dengan aspal jalan.

Di tepi jalan tempat tubuhnya mendarat setelah terlempar dari atas motor, Kai tercengang-cengang menatap motornya yang akhirnya berhenti meluncur setelah menabrak sebatang pohon dengan keras. Cowok itu menegakkan punggungnya. Dia mengerang pelan karena benturan tubuhnya dengan tanah keras tadi menyebabkan sakit hebat di sekujur punggungnya.

Luhan menepikan motornya tidak jauh dari tempat Kai terkapar. Dihampirinya cowok itu lalu berdiri tepat di depannya. Kai tidak terlalu kaget saat mengetahui siapa yang telah menghancurkan motornya dan membuatnya celaka.

Keduanya saling tatap. Luhan mengulurkan kedua tangannya. Dicekalnya kerah kemeja Kai lalu dengan paksa ditariknya cowok itu sampai berdiri. Kai tidak berusaha melawan karena kemenangan sudah di tangannya. Di depannya ini Cuma cowok kalah yang sedang kalap. Malah diberinya musuhnya itu sebentuk senyum. Yang pasti senyum mengejek. Bukan di bibir, tapi di kedua mata. Membuat emosi Luhan makin mendidih.

"Jangan bikin aku cedera. Nanti kau yang repot," Kai memperingatkan dengan nada tenang.

"Ini urusan kau denganku. Cuma antara kita berdua!" desis Luhan dengan gigi gemeretak. "Jangan bawa-bawa cewek!"

"Aku juga tidak suka ngelibatin cewek. Info kau punya sepupu di kelas sepuluh bukan karena aku atau temen-temenku yang nyari tau. Ada yang sukarela ngasih tau. Dan si informan ini cewek."

"Aku sudah tau!" potong Luhan. "Temen semeja Yeri. Itu cewek urusanku!"

"Ck" Kai berdecak lalu menarik napas dan mengembuskannya panjang-panjang. "Tadinya aku pikir kau itu pinter lho," ucapnya kemudian, dengan nada dibuat prihatin. "Ternyata! Pake otakmu dong. Jangan emosi doang. Kau pikir kalo kau aniaya temen semejanya yang jadi pengkhianat itu, terus nggak berimbas ke sepupumu, gitu? Kalo merasa terancam, itu cewek jelas tambah 'nyanyi' kemana-mana, lagi."

Luhan agak tersentak begitu disadarkan akan kemungkinan itu.

"Kau pikir aku yang ngegosip ya, jadi cewek-cewek The Scissors itu pada tau?" Kai mengangkat kedua alisnya. "Bukan," ucapnya kemudian dengan nada kalem. "Makanya aku mencarimu, karena The Scissors itu geng cewek yang paling ditakutin di sekolah."

"Waktu itu kau mengacamku" dengan nada tajam Luhan mengingatkan.

"Terserah apa pendapatmu. Yang jelas, itu cewek udah ngomong dan kau udah nggak bisa apa-apa."

Tersadar akan ketidakberdayaannya, dengan geram Luhan mengetatkan cekalan jari-jarinya di kerah kemeja Kai.

"Jangan bikin aku cedera. Nanti kau yang repot." Untuk kedua kalinya Kai mengingatkan, tentu saja dengan maksud mengejek sang lawan. Meskipun sebenarnya dia bisa melepaskan cekalan Luhan itu dengan mudah, karena kedua tangannya bebas. Tapi mengejek musuh tetap lebih menyenangkan.

Luhan melepaskan cekalannya dengan sentakan keras, membuat Kai terdorong mundur beberapa langkah.

Kai tersenyum tipis. Dia melangkah mendekati musuhnya, lalu berdiri tepat di hadapannya. Kali ini sikapnya serius. "Karena sekarang cuma kita berdua, akan aku pertegas." Ditatatapnya Luhan tepat di manic mata. Sesaat keduanya saling tatap tanpa bicara. "Lepasin Sehun!" ucap Kai kemudian. Tandas. "Seberapa aman sepupumu, akan tergantung dari seberapa besar kau bisa ngelepas dia."

Luhan mengatupkan kedua rahangnya. Namun, kemarahan membuat gigi-giginya yang saling beradu itu mengeluarkan bunyi gemeletuk. Tiba-tiba saja Luhan mengulurkan kedua tangannya. Kembali dicekalnya kerah kemeja Kai dengan kesepuluh jari, tapi Kai tetap berusaha tenang.

"Kau… brengsek!" desis Luhan tepat di muka Kai. Kemudian dia lepaskan cekalannya. Dari awal cowok itu sudah tahu, pertemuan satu lawan satu ini tidak akan membuat embusan angin kemenangan berubah arah ke pihaknya. Keberadaan sepupunya di kandang lawan benar-benar sudah membuatnya lumpuh.

Sebelum pergi, Luhan melampiaskan kemarahannya dengan cara memukuli motor Kai dengan sebatang kayu yang tidak sengaja dia temukan di pinggir jalan. Kai mendiamkannya karena kekalahan Luhan sudah cukup telak. Dia nggak mau maruk, soalnya nanti malah kena karma.

Setelah puas menghancurkan spion yang masih utuh hingga sehancur pasangannya, membuat tangki bensin penyok dan beberapa jaruji roda bengkok, Luhan pergi. Kai mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya. Dikontaknya Ten, temannya yang punya bengkel motor.

"Halo, kau sedang sibuk nggak, Ten?"

"Nggak sih."

"Tolong jemput motor ku, man."

"Kenapa emangnya?"

"Udah… jemput aja."

"Oke deh. Dimana posisimu?"

Kai menyebutkan lokasi tempatnya sekarang sedang berdiri.

"Bawakan aku rokok sekalian. Dekat-dekat sini nggak ada warung."

"Oke."

Dua puluh menit kemudian Ten datang dengan mengendarai pick-up. Cowok itu tercengang mendapati kondisi motor Kai.

"Kenapa motor mu?"

"Ditabrak delman," jawab Kai kalem.

"Aku serius." Ten menatapnya, agak kesal. Kai menyeringai geli, tapi tetap tidak berniat menceritakan.

"Bener. Delmannya ngebut, man. Kayaknya kudanya mantan kuda balap. Orang tadi aku sempat lihat, kursinya pake helm, man."

Ten berdecak. Dia tidak bertanya lebih jauh, karena memang bukan sekali-dua kali motor Kai ringsek begini. Berdua mereka gotong motor itu dan meletakannya di bak belakang dengan hati-hati.

"Bisa cepet, kan?" tanya Kai sambil menutup pintu di sebelahnya. Ten mendengus. Diputarnya kunci kontak.

"Selalu!" Ten menggerutu.

Kai menyeringai. Ditepuknya satu bahu Ten. "Thanks."

.

.

.

.

Luhan

Aku otw ke rmh mu. 15 mnt lg smp.

Sehun membaca SMS Luhan itu dengan kening berkerut. Dan nggak sampai lima belas menit kemudian cowok itu sudah sampai di depan rumah Sehun. Raut mukanya keruh.

"Jalan yuk?" ajak Luhan langsung.

"Sekarang?" Sehun menatapnya bingung.

"Iya," Luhan mengangguk. "Ada yang mau aku bicarain. Penting. Aku yang mintain izin ke nyokapmu deh."

"Nggak bisa diomongin di sini?"

"Nggak bisa!" Luhan menggeleng tegas.

"Bentar deh, Aku ganti baju dulu."

"Gitu aja, Hun. Nggak apa. kita nggak pergi jauh kok. Pake jaket aja biar nggak dingin."

Masih dengan sepasang mata yang menatap Luhan dengan sorot tak mengerti, Sehun mengangguk. Kemudian dia balik badan dan berjalan ke dalam. Tak lama dia muncul kembali, kali ini dengan tubuh terbungkus jaket jins.

"Nyokap mana? Mau minta izin."

"Tuh." Sehun menggerakkan dagunya ke belakang. Tak lama kemudian mama Sehun muncul.

"Selamat malam, Tante," Luhan menganggukkan kepala dengan santun. "Mau minta izin ngajak Sehun keluar sebentar."

"Ke mana?" tanya mama Sehun dengan kening sedikit mengerut.

"Cuma deket-deket sini aja kok, Tan."

"Jangan lama-lama ya?"

"Iya, Tante," Luhan mengangguk, kali ini sambil tersenyum. "Ayo, Hun" ajaknya.

"Pergi dulu ya, Ma," sambil mengikuti langkah Luhan, Sehun menoleh sesaat ke arah mamanya. Wanita itu mengangguk.

Mereka memang tidak pergi terlalu jauh. Luhan menghentikan motornya di tepi lapangan rumput tidak jauh dari mulut kompleks tempat tinggal Sehun. Sedikit tempat terbuka yang masih tersisa di Jakarta yang mulai dipenhi hutan beton.

Luhan turun dari motor, setelah sebelumnya dibantunya Sehun turun. Kemudian cowok itu maju beberapa langkah, meninggalkan Sehun di belakang.

Butuh beberapa saat keterdiaman sebelum Luhan sanggup mengatakan, karena ini adalah kekalahannya. Mengatakan terus terang pada seseorang yang harus dia lepaskan akibat kekalahan itu jelas telah membuatnya merasa lebih kalah lagi. Apalagi orang itu adalah satu-satunya pion yang dia miliki.

Luhan mengertakkan giginya tanpa sadar. Satu kemenangan kecil tapi langsung diikuti satu kekalahan telak.

Sehun tidak ingin mengusik. Dia sudah menduga pasti ada apa-apa, karena selama di atas motor tadi Luhan juga cuma diam. Sama sekali nggak ngomong.

Entah berapa menit sudah terlewat, ketika akhirnya Luhan membalikkan badan sambil menarik napas panjang-panjang. Kemudian dihampirinya Sehun, yang masih berdiri diam di sebelah motornya. Berdiri menjulang di hadapannya, Sehun bisa melihat keruhnya wajah Luhan meskipun suasana di sekeliling mereka tidak terlalu terang.

"Mulai besok, aku tidak bisa menjemputmu lagi, Hun. Maaf" ucap Luhan dengan suara berat.

Kedua mata Sehun langsung melebar. Tapi dia tidak membuka mulut. Hanya kedua matanya yang menatap Luhan dengan pertanyaan besar. Melihat ekspresi Sehun, diam-diam Luhan mengertakkan kedua rahangnya kuat-kuat.

"Aku punya sepupu di sekolahmu. Kelas sepuluh juga. Dan Kai tau." Kedua mata Sehun kontan melebar maksimal. Info itu sangat singkat, tapi cewek itu langsung mengerti situasinya.

"Kai sunbae pasti ngancem bakalan ngapa-ngapain sepupumu. Iya, kan?" tanyanya. Luhan tidak menjawab. Sehun mengangguk-angguk. "Ya udah. Mulai besok aku berangkat sendiri aja. Siapa nama sepupumu itu?"

"Yeri. Kelas sepuluh tiga." Ketika mengatakan itu, tanpa sadar Luhan memalingkan sedikit mukanya, tidak ingin menatap Sehun.

Sehun mengangguk-angguk lagi. "Ya udah deh. Daripada dia kenapa-napa, mulai besok mending aku berangkat sendiri aja." Sehun mengulangi keputusannya.

Namun, Luhan tidak saja bisa menangkap nada sedih dalam suara Sehun, tapi itu juga terlihat jelas dalam helaan napas dan kepala Sehun yang kemudian menunduk. Luhan jadi semakin memaki dirinya sendiri atas ketidakberdayannya dan untuk satu-satunya kesempatan balas dendam yang dimilikinya.

Tiba-tiba Luhan meletakkan telapak tangan kanannya di puncak kepala Sehun. Dengan sedikit penekanan, diusap-usapnya rambut cewek itu.

"Jangan kau kira aku akan diem aja…"

.

.

.

.

"Banci banget tu orang!"

"Sst! Jangan kenceng-kenceng!" Baekhyun langsung menempelkan satu telunjuknya di bibir. Dilihatnya sekeliling. Untung kelas sudah sepi. Tinggal tersisa segelintir orang.

"Emangnya apa namanya, bawa-bawa cewek gitu, kalo bukan banci?" Sehun menatap Baekhyun dengan kedua alis terangkat tinggi.

"Iya sih. Tapi jangan kenceng-kenceng. Takutnya ada yang denger terus nyampe ke Kai sunbae."

"Aku nggak takut!" tandas Sehun.

"Mending ke kantin aja yuk. Aku laper." Baekhyun buru-buru mengalihkan pembicaraan. Ditariknya Sehun sampai berdiri lalu digandengnya ke luar kelas.

Sejak Luhan terpaksa mundur karena keberadaan sepupunya terbongkar, Baekhyun sadar Sehun selalu berada dalam keadaan emosi yang siap meledak. Soalnya sejak itu kalimat "Kai banci!" sering banget keluar dari mulutnya. Karena itu Baekhyun sekarang jadi makin melekatkan diri ke Sehun. Bukan apa-apa, takutnya Sehun kelepasan ngomong. Soalnya kalo sampai didenger Kai, yang ada pasti huru-hara lagi. Rame lagi. Heboh lagi.

Baru saja mereka melangkah ke luar kelas, Kyungsoo memanggil.

"Hun, kau dipanggil Jessica Seongsaenim tuh!"

"Ada apa sih?" Sehun mengerutkan kening.

"Yeee, mana aku tau!" sambil meneruskan langkah Kyungsoo menjawab tak acuh.

Sehun dan Baekhyun balik badan, batal ke kantin. Sesampainya di depan ruang guru, Sehun mengetuk pintu lalu masuk, sementara Baekhyun menunggu di luar. Tak lama Sehun keluar dengan tampang bingung.

"Ada apa Jessica seongsaenim memanggilmu?" tanya Baekhyun langsung.

"Itu dia. Jessica seongsaenim nggak manggil aku, tau nggak?"

"Lho kok?" seketika di kening Baekhyun muncul lipatan-lipatan. Keduanya lalu meninggalkan ruang guru, berjalan dalam kebingungan.

"Waktu itu juga ada yang bilang aku dipanggil Yuri Seongsaenim. Terus kapan itu, katanya gue dipanggil Siwon seongsaenim. Dan kau tau? Dua-duanya sama sekali nggak memanggilku. Aneh, kan? Pasti ada yang lagi ngisengin aku nih."

"Apa jangan-jangan Kyungsoo salah tangkap? Jangan-jangan buat Sehun lain?"

"Mungkin." Sehun mengangguk. "Mana guru-guru lagi pada makan siang, lagi. Malu-maluin aja. Aku sampai ditawarin makan tuh tadi."

"Ngomongin makanan, aku jadi inget, aku laper. Yuk ah, ke kantin. Baliknya baru cari Kyungsoo." Baekhyun menggandeng tangan Sehun, mengajaknya berjalan lebih cepat. Saat melewati kelas menuju kantin, Taeyong, yang bersama beberapa anak cowok tetap tinggal di kelas, berseru memanggil Sehun.

"Untung kau nggak ada, Hun. Tadi Krystal sunbae ke sini, mencarimu"

"Hah!?" Sehun terperangah. "Kapan?"

"Tadi. Baru aja pergi."

"Ngapain dia mencariku?" ditatapnya Taeyong dengan cemas.

Taeyong mengangkat bahu. "Nggak tau. Nggak bilang. Cuma mencarimu, terus tanya kau ke mana. Karena nggak tau, ya aku bilang nggak tau."

Sehun menatap Baekhyun. Kecemasan juga ketakutan membayang jelas di kedua matanya.

"Iya nih. Kayaknya ada yang aneh. Thanks ya." Sehun balik badan dan langsung berjalan ke luar kelas. Baekhyun bergegas menyusul.

Sesampainya di kantin, Sehun langsung menghampiri Kyungsoo yang duduk berkelompok bersama teman-teman cewek-cewek sekelas lainnya, asyik menyantap siomay. Tapi baru saja Sehun siap buka mulut, Xiumin sudah lebih dulu meletakkan sendoknya lalu berseru pelan.

"Untung kau tidak ada, Hun. Tadi Krystal sunbae ke sini, mencarimu!" Seketika kedua mata Sehun melebar.

"Dia ngomong apa gitu, nggak? Soalnya tadi Taeyong bilang dia juga mencariku ke kelas."

"Mana kami tau? Dia Cuma nanya-nanya kau di mana. Kyungsoo yang jawab."

"Iya, aku bilang aja kau lagi ke ruang guru, dipanggil Jessica seongsaenim" ucap Kyungsoo yang sama seperti semua teman cewek sekelas yang saat itu duduk berkelompok, menghentikan makannya begit Sehun muncul.

Dicari-cari senior cewek yang paling berkuasa di sekolah jelas bukan masalah kecil. Dan itu membuat mereka jadi ingin tahu apa yang sedang terjadi.

"Aku jadi inget, kenapa aku mencarimu, Kyung" Sehun tersadar.

"Kau dikasih tau siapa sih, aku dicari Jessica seongsaenim?"

"Emang kenapa?" Kyungsoo balik bertanya.

"Jessica seongsaenim nggak manggil aku, tau. Boro-boro manggil. Inget aku juga nggak."

"Masa sih? Kejam banget."

"Maksudnya, hari ini kelas kita kan nggak ada kimia. Jadi dia juga nggak mikirin kelas kita, apalagi aku. Gitu lho. Jadi ngapain juga manggil-manggil?"

"Aku sih nggak ketemu Jessica seongsaenim langsung. Cuma tadi pas abis bayar SPP, aku disamperin cewek. Kayaknya anak kelas dua belas, soalnya datang dari arah gedung selatan. Dia bilang 'Kau temen sekelasnya Sehun? Kasih tau Sehun gih, dia dipanggil Jessica seongsaenim tuh. Sekarang.' Gitu. Ya udah aku sampein."

"Yang dia maksud Sehunie, kali?"

"Bukan. Orang dia bilang Sehun yang rambutnya panjang. Yang suka pake aksesori oranye."

"Tapi Jessica nggak memanggilku tuh." Sehun menatap Kyungsoo dengan bingung.

"Aneh." Kyungsoo ikutan bingung. "Berarti itu cewek bohong dong? Tapi buat apa?"

"Ambil hikmahnya aja kalo gitu" ucap Xiumin. "Gara-gara itu kan kau jadi nggak ketemu Krystal sunbae. Coba kalo ketemu, aku nggak tau deh kau bakalan diapain sama dia, Hun."

"Iya! Bener! Untung kau tidak bertemu dengannya!" serentak seluruh teman Sehun menganggukkan kepala.

Sehun menatap Baekhyun. Kebingungan semakin terlihat jelas di mukanya. Ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.

.

.

.

.

Malamnya, Sehun sedang duduk terdiam di depan meja belajarnya – masih memikirkan keanehan peristiwa siang tadi – saat ponselnya berdering. Seketika itu juga muka serius tapi muramnya berganti ceria saat mendapati nama yang muncul di layar. Luhan.

"Hai, apa kabar?" sapa Luhan begitu Sehun mengangkat telepon.

"Baik"

"Beneran baik?"

"Iya. Emang kenapa?"

"Syukur deh kalo baik. Aku kepikiran kau terus."

"Emang kenapa?"

"Bodoh deh pertanyaannya" Luhan menggerutu, tapi dengan nada lembut. "Takut kau diapa-apain sama Kai dan aku nggak bisa apa-apa."

"Oh, itu. Belom sih."

"Kok belom? Mau?" suara Luhan mendadak jadi tajam. Sehun tersentak.

"Eh, bukan! Bukan!" ralatnya buru-buru. "Maksudnya beberapa hari ini aman-aman aja. Aku juga nggak ngeliat dia. Gitu lho."

Terdengar helaan napas berat di seberang, kemudian hening.

"Han?" panggil Sehun hati-hati. "Aku nggak apa-apa kok. Baik-baik aja."

"Itu baik-baik aja paling juga nggak bakalan lama."

"Iya sih."

"Hun, kau jangan terlalu frontal sama Kai, ya?"

"Ya aku liat-liat lah. Kalo dia kelewatan, ya aku lawan. Enak aja."

Luhan tertawa pelan.

"Janganlah. Sementara tahan diri dulu. Sampe aku dapet cara untuk bisa ngelawan dia lagi."

"Terus aku suruh diem aja, gitu?"

"Jangan terlalu frontal. Bukan diem aja."

"Kalo itu sih aku nggak bisa janji. Kau kan tau sendiri dia suka kelewatan."

"Iya, aku tau" suara Luhan terdengar berat. Sesaat dia terdiam. Ketika kemudian kembali bicara, Sehun menangkap sesal yang jelas dalam suaranya.

"Hun, aku minta maaf. Aku tak bisa melindungimu dari Kai. Dan terpaksa ngebiarin kau kayak gini, ngelawan dia sendirian."

Sehun terdiam. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kalimat Luhan itu membuatnya sedih. Luhan menarik napas lalu mengembuskannya dengan cara seperti ingin melepaskan sesak.

"Kalo inget, aku jadi benci diri sendiri."

"Nggak separah itu kok, Han. Siapa pun yang ada di posisi kau pasti akan ngambil cara yang sama."

"Apa pun alasannya, tetep aja judulnya aku ternyata nggak bisa, nggak mampu…"

Dua-duanya kemudian terdiam. Sampai Luhan kembali buka suara, Sehun tidak berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk menghibur cowok itu, untuk mengatakan bahwa hal itu bukan apa-apa.

"Yeri kirim salam untukmu. Dia juga minta maaf."

"Oh…"

"Udah ketemu?"

"Nggak. Aku sengaja nggak pingin tau yang mana orangnya. Biar dia nggak tambah kenapa-napa."

Luhan menarik napas. "Tambah feeling guilty aku mendengarnya," desahnya. "Baik-baik ya. Inget, kalo bisa hindarin konfrontasi sama Kai. Ya?"

"Iya."

"aku khawatir denganmu."

"Iya," kali ini kata itu keluar dari bibir Sehun dengan suara lirih. Pembicaraan ini membuatnya nelangsa.

"Kalo ada apa-apa, cepet kabari aku. Oke?"

"He-eh"

"Ya udah. Met tidur. Jangan lupa jendela ditutup terus dikunci"

"Iya." Sehun mengangguk lemah.

Luhan menutup telepon. Tapi ternyata Sehun kemudian mendapati pembicaraan itu membebani pikirannya. Yang mulanya hanya rasa nelangsa berubah jadi kemarahan pada keesokan paginya.

.

.

.

.

Keberadaan Yeri dan mundurnya Luhan membuat Kai memutuskan untuk melupakan rencana awalnya. Tapi, niat itu seketika dia urungkan ketika pada suatu pagi, saat ruang kelasnya sudah setengah lebih terisi, Sehun menerjang masuk dengan kemarahan yang memuncak yang membuatnya tidak lagi sadar, atau bisa jadi tidak peduli, di mana dia berada. Area yang didatangi Sehun adalah area yang paling dihindari murid-murid kelas sepuluh.

Cewek itu langsung berjalan kearah Kai dan berdiri tepat di depannya.

"banci! Beraninya ngancem. Beraninya bawa-bawa cewek. Kau nggak berani kan, ngadepin Luhan satu lawan satu? Dasar Banci!"

Setelah berondongan caci maki itu, Sehun langsung balik badan dan berlari keluar, meninggalkan Kai dan semua orang yang berada di ruang kelas itu dalam ketersimaan hebat yang membuat mulut mereka menganga lebar.

"Gila itu cewek. Nyalinya oke juga," suara Bam Bam memecah keheningan. "Yang dia katain banci siapa sih? Kau, Kai?"

Kai menoleh lalu menyeringai. "Yoi, Aku."

"Wah!" Bam Bam menggebrak meja. "Nggak bisa dibiarkan. Buktikan, man. Buktikan sama dia kalo kau bukan banci."

Kai menyeringai lagi lalu kembali menghadapkan tubuhnya ke depan. Kemunculan Sehun dan berondongan caci makinya lalu menjadi bahan pembicaraan seru di kelas.

Tiba-tiba Chanyeol muncul di ambang pintu dan langsung berseru keras, "Kai, si Sehun dicegat Krystal tuh!"

.

.

.

Makasih buat yang masih sempetin reviews, siders kapan2 ikut review juga ya biar lanjutinnya semangat hehehe Ayo review kira2 apa yang bakal krystal lakuin ke sehun hahaha