Disclaimer : I do own nothing, but sure i want to own Bleach
THE HATRED OF BETRAYAL
An IchiRuki's Fanfiction
Author: Brainless Creation
.
.
Chapter 20: Clueless Maze
.
.
Esok harinya seorang perawat masuk dan membangunkanku, mengatakan bahwa sudah waktunya pasien diperiksa dan mengganti botol infus yang menggantung di tiang. Aku beranjak ke kamar mandi dan mencuci muka. Tampangku benar-benar kacau, bahkan rambutku mencuat kemana-mana, wajahku lebih parah dari pada saat bangun tidur setelah pesta alkohol.
Berkali-kali aku membasahi muka, berharap seperti iklan sabun cuci muka di tv, begitu selesai cuci muka langsung jadi ganteng lagi, tapi boro-boro, mukaku tetap saja sama. Kumal, lingkaran hitam di bawah mata, rambut berantakan. Berarti itu iklan sabun cuci muka bohong 100%!
Aku keluar dari kamar mandi, dan perawat sudah tidak ada lagi. Cepat sekali mereka menyelesaikan perawatan?
"Kau onani di kamar mandi?"
Aku tersentak dan mengambil langkah lebar-lebar mendekati Rukia, setiap langkahku terasa begitu ringan, seperti habis menelan gas balon dan badanku ikut melayang. Mata Rukia yang sengit minta ampun menatapku tajam, dia bahkan mendengus menyeringai padaku. Tanpa aku sadari bibirku tertarik ke kedua sisi, senyum lebar-lebar. Ini pertama kalinya aku begitu senang mendengar kata-kata tajam Rukia, seolah aku merindukan makiannya merobek telingaku, menabuh-nabuh gendang telingaku layaknya bedug lebaran.
"Kenapa mukamu senang begitu? Perawat tadi memang cantik, tapi aku tidak sangka kau sampai onani. Apa karena semalam kau batal bermalam dengan model mantan pacarmu itu?" cerocos Rukia seraya bergerak, berusaha bangun, tapi yang ada malah erangan kesakitan dan dia kembali terhempas ke bantal.
"Setelah dihantam mobil, ini kalimat pertama yang perlu kau ucapkan?" balasku seraya membetulkan letak bantalnya, membuat dia kembali terbaring dengan posisi nyaman.
Rukia tidak menjawabnya dan melihat seluruh tubuhnya, memeriksa kondisi badannya dan sepertinya dia berusaha menggerakkan kedua tangannya, tapi tidak banyak berhasil karena hanya menimbulkan erangan meleset dari mulutnya, akhirnya dia hanya bisa menggerakkan kedua kakinya dengan normal.
"Memangnya aku harus bicara seperti sinetron? Bertanya 'dimana aku?' atau bilang, 'apakah ini rumah sakit?' Begitu?! Otakmu drama sekali! Seharusnya kau menggantikan teman yang homomu itu!" selorohnya tanpa sedikitpun indikasi kehilangan tenaga, karena nada dalam suaranya masih tinggi dan sewot seperti biasa.
"Ya, ya, ya… terserah mulutmu mau bicara apa, Monster Kerdil!" potongku sebelum dia melontarkan kalimat lain yang jauh lebih menusuk. Kalau ada sinar x seperti di film-film aksi Batman, atau Mission Impossible, mungkin badanku sudah bolong-bolong karena kata-kata Rukia yang luar biasa tajam.
"Kau belum pulang? Kau masih pakai baju yang sama?" tanyanya dengan hidung mengendus, lalu menyeringai jijik padaku. "Kau bau darah!" tandasnya seraya memalingkan wajah.
Sontak aku mencubit hidungnya yang hanya sebesar jagung, membuatnya meronta dan kembali meringis kesakitan karena terpaksa menghindari tanganku.
"Apa-apaan kau?! Aku ini sakit!" protesnya luar biasa marah.
"Memangnya salah siapa aku tidak bisa pulang? Lalu badanku bau darah siapa memangnya? Kau tidak pernah bisa membuat hidupku tenang barang sedetik, Rukia!" balasku tidak mau kalah. Bisa-bisanya anak bawang sepertinya menceramahiku. "Terus kau bilang kau sakit?! Orang sakit mana yang masih bisa berteriak dan bicara kasar tepat setelah tidak bangun semalaman?! Bilang aku onani segala! Kebetulan aku belum onani, sepertinya ada bagusnya juga onani di depanmu, hah?! Mungkin dengan kau tonton aku jadi semakin terpacu, semakin cepat dan nikmat mencapai klimaks," aku mengangkat kaos dan menarik kait ikat pinggangku, dan di detik yang sama Rukia memalingkan wajahnya sambil menutup mata rapat-rapat, dan aku mendapati telinganya berubah warna jadi merah matang.
"Kenapa? Kau sudah pernah melihatnya, bahkan pernah menyentuhnya, apa ada yang aneh melihatku onani? Kau paling tau itu hobiku, kan? Gara-gara kau, aku tidak bisa lagi menebar sperma seperti katamu, bahkan buat nonton film porno saja tidak bisa. Bukan saatnya lagi kau merasa mal-"
"Buka saja!, Buka!"
Rukia mengembalikan wajahnya ke arahku, kolam kebiruan itu tidak lagi menunjukkan reaksi malu, malah seperti sedang menantangku, sekalipun telinganya masih merah, tetap saja reaksi ini tidak seperti harapanku. Aku cuma mau menggertak, masa' aku harus beneran menunjukkan si junior ku di sini? Apa di ruangan ini tidak dipasang kamera cctv? Kalau iya, apa tidak jadi bahan tertawaan nantinya? Sekalipun aku cukup percaya diri dengan ukuran batangan di pangkal pahaku ini tidak dalam kategori ukuran standar. Yah… sedikit di atas standar lah. Tetap saja aku bisa masuk dalam laporan Komnas HAM, sebagai pelaku pelecehan seksual, pada pasien rumah sakit pula!
"Kenapa? Kau tidak berani? Apa otak mesummu sudah dimasuki mantra pemurnian nafsu? Lagipula salah siapa aku tertabrak mobil?" semburnya murka, matanya memicing, menudingku terang-terangan. Saat itu juga aku sebuah pedang tak terlihat (mungkin ini pedang punya almarhumah pejuang kemerdekaan, sampai tak terlihat) menembus dadaku, sakitnya bukan minta ampun lagi, tapi minta digampar. Sakit beneran, karena aku sadar kalau Rukia seperti ini karena kebodohanku, karena aku yang tidak bisa mengalahkan trauma setiap kali ingatan buruk itu menyerangku. Senjata macam apa yang bisa aku pakai agar bisa melawannya, aku selalu menjadi tidak berdaya setiap kali mengingat genangan darah itu…
"Kau tidak apa-apa, kan?" bisik Rukia pelan, tangannya sedikit bergerak seolah berusaha memperpendek jarak tangannya dengan tanganku, tapi tidak bisa karena dia menyerah dan membiarkan tangannya kembali ke posisi semula, atau tidak berpindah sedikitpun?!
Mataku bergerak tidak tenang menekuri lantai, seperti hatiku yang bergemuruh hebat mengingat darah yang mengalir dari kepala Rukia, kulit di lengannya yang terkoyak. Tidak seharusnya aku mendengar pertanyaan ini darinya, yang seharusnya perlu perhatian itu dirinya sendiri, dia yang terluka, dia yang mengalirkan darah dan menerima beberapa jahitan, terpaksa dipasang infus dan terbaring lemah. Kenapa masih mengkhawatirkan diriku? Perhatiannya malah membuatku semakin merasa bersalah. Sial! Sial! Sialan…! Tanganku terkepal kuat, dan bisa aku rasakan sakit dari kulit-kulit yang tertusuk kukuku sendiri.
"Kan?!" ulangku dan mengangkat wajah, memberikan seringaiku pada Rukia. "Apa maksud pertanyaanmu? 'Kau tidak apa-apa, kan?!' Apa kau memaksa kondisiku baik-baik saja? Pertanyaanmu benar-benar tidak menunjukkan perhatian sama sekali!" cerocosku sambil melipat tangan di dada.
"Kau memang baik-baik saja! Hah…" Rukia menghembuskan napas panjang, kelihatan lega tapi juga menyesal. Apa-apaan sikapnya itu? Minta dihajar beneran nih anak bawang! Sabar…. Ichigo, kau harus sabar… Kau perlu mengumpulkan sabar sebanyak-banyaknya, overstock juga tidak masalah, sekalipun Pak Urahara sering mengeluhkan keteledoran Szayel yang sering kelebihan stock oli, tapi aku yakin kali ini Pak Urahara tidak akan protes kalau aku punya banyak kelebihan stock sabar!
"Siapa yang mengurus administrasi rumah sakit?" Rukia melirik obat yang tergeletak di meja sebelah tempat tidurnya.
"SungSun!" jawabku cepat, dan sekejap mata wajah menyeringai si bangsat Gin masuk ke otakku, membuat perutku diaduk-aduk dan siap untuk muntah. Aku tidak bisa menalarkan kata-kata Gin semalam, aku tidak bisa tenang jika belum mengetahui maksud dari semua kata-katanya. Benarkah semua konspirasi dengan Rukia ini bukan untuk memanfaatkan Rukia, justru untuk menjeratku. Bukan karena Rukia, justru karena aku. Seperti yang dia katakan, Rukia hanya bonus…
"Apa yang terjadi?" gumam Rukia, dan aku merasakan sebuah sentuhan di tanganku. Jelas aku kaget dan terharu, bukannya Rukia tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali? Lalu hanya demi menyadarkanku dari lamunan, dia memaksa diri dan menggerakan ta- Hah?!
"Kampret!" umpatku yang seketika menghentakkan kaki Rukia yang tengah menyodok-nyodok tenganku. "Kalau tidak bisa pakai tangan, jangan pakai kaki, Kerdil!" aku mengamuk dan memencet jempolnya kuat-kuat.
"Sakit! Sakit! Sakit! Ampun!" pekiknya dan menendang tanganku dengan kakinya yang lain.
"Itu buah sikap sopanmu!" kataku puas, tapi sakit juga tendangannya. Dia kecil, tapi tenaganya masih sebesar gajah. Aku membetulkan selimutnya yang terbuka, menutup kakinya dan dengan sangat hati-hati merapatkan kakinya ke posisi manis. Dari sudut mataku, bisa terlihat wajah salah tingkahnya karena menghadapi sikapku yang melembut. Hah… Ichigo, kau memang bukan manusia biasa… Caramu menaklukan hati perempuan sungguh sudah tingkat dewa.
"Habisnya kau mendadak bengong begitu…" Rukia memberikan wajah bersalahnya yang setengah-setengah, tapi itu sudah lebih dari cukup untukku, dan aku membalasnya dengan senyum tipis.
"Kenapa kau jadi tukang bengong begitu?" ucapnya lagi, seolah tidak ingin melepaskan bahasan ini begitu saja. Aku yang mendadak jadi tukang bengong, terlihat aneh luar biasa mungkin.
"Apa yang akan kau lakukan jika Gin bilang, dia sebenarnya ingin menjeratku dalam jaring yang dia sebar, tapi tidak sengaja ada kau hingga kau ikut tertangkap dalam jaringnya," gumamku seraya menarik kursi dan duduk di samping ranjang Rukia. Kegelapan itu menyelimutiku dalam seketika dan ketakutan yang bercampur amarah itu membanjiri dadaku.
Rukia bungkam untuk beberapa saat, aku mendapati air mukanya berubah, tidak ada lagi emosi yang menggebu-gebu seperti saat kami beradu mulut tadi. Ketenangan kembali menyelimutinya, dan wajah tenangnya ini yang membuatku takut. Seolah dia sedang membangun tembok lain di antara kami, setelah aku berhasil menerobos satu tembok, dia kembali mendirikan tembok yang lain. Lama kelamaan aku akan berpikir kalau Rukia ini anak tukang bangunan, bukan anak bangsawan!
"Kau percaya ucapannya?" desis Rukia pelan. Aku berusaha membaca sorot matanya yang sedatar air di wadah penampungan di apartemen lamaku, datar karena sudah penuh dan tidak ada yang mengalirinya lagi, tapi ketika kran kembali dibuka, maka dia akan bergolak. Apa hati Rukia juga akan sama seperti itu?
"Bukankah kau tidak percaya apapun yang dikatakan dari mulut orang yang terus-terusan memancing emosimu itu? Apa yang membuatmu ragu pada keyakinanmu sekarang?" tanya Rukia, dengan perlahan dia menuturkan tiap kata-katanya.
Gelombang keraguan yang begitu besar melanda hatiku. "Karena dia berkata mengenaliku sebagai Kurosaki Ichigo sejak pertama kali melihatku. Bukankah itu berarti dia sudah mengincarku sejak lama?" tuturku dengan keraguan yang sama.
"Untuk apa?" Rukia menatapku lekat-lekat, aku tertarik ke kolam kebiruan yang menarikku untuk menyelam semakin dalam, namun seketika aku tersadar.
"Kenapa kau selalu bertanya sih? Bukannya memberi solusi malah bertanya terus!" protesku kesal.
Rukia tersenyum sinis. "Itulah bukti kebodohanmu!" tembaknya tetap dengan senyum mencemooh yang sama. Apa maksudnya sih? Rukia kalau sudah pasang tembok, dan memberikan wajah tenang plus sorot mata tajam begini ini yang membuatku tidak bisa membaca pikirannya, seolah dia itu alien, atau sudah dirasuki roh halus penghuni kuburan tua! Kepribadiannya berubah jauh. Memang bukan hal baru, tapi tetap saja aku terkejut tiap kali dia berubah begini. "Aku bertanya agar logikamu bekerja! Atau di otakmu hanya ada cara onani, doggy style, gaya 69, atau satu bab buku kamasutra?!"
Aku merasa tidak harus menanggapi Rukia kali ini, jadi aku biarkan dia menyindirku sesuka udelnya. Memang Rukia yang ini bisa berkata halus? Rukia versi sinis begini akan mengeluarkan kata-kata paling tajam dari kamus di bagian terdalam otaknya. Jadi biarkan saja dulu, aku sudah cukup capek menghadapinya dari tadi, adu kalimat dengan Rukia bukan aku ahlinya, kalau Ulqui mungkin bisa. Tapi kalau aku yang melawan, kalian pasti tau akan seperti apa jadinya nanti. Jadi dari pada ditelan hidup-hidup, lebih baik aku persiapkan diriku untuk bisa menelan Rukia hidup-hidup… itu pun nanti, entah kapan, he he he
"Aku tanya lagi padamu. Apa alasan Gin mengincarmu?"
Itu yang belum aku temukan jawabannya. Dimana aku harus cari? Karena teori macam apapun yang aku gunakan, sepertinya tidak akan bisa menjelaskan bagaimana aksi mengincarku akan menguntungkan bagi bajingan itu.
"Satu-satunya alasan yang tepat adalah…"
Aku menegakkan badan, menatap mata Rukia dan menunggunya melanjutkan kata-katanya. Tapi sepertinya Rukia juga menunggu aku mengucapkan sesuatu, karena dia sedikit mengangkat alisnya seolah berharap aku akan melanjutkan kalimatnya, dan setelah beberapa detik dia mengerjap.
"Dia hanya ingin memancing emosimu. Karena kau begitu mudah dipermainkan, sementara peranmu bisa jadi mengancam rencananya. Mungkin dia ingin kau angkat kaki, sehingga resiko strategi gagal semakin kecil. Tapi asal kau tau, aku tidak akan melepaskanmu sekalipun kau berlutut memintaku melepaskanmu dari rencana balas dendam ini," lanjut Rukia penuh keyakinan.
"Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri." Aku menanggapinya datar, karena aku sadar akulah yang menyetujui untuk membantunya, dan aku sudah bersumpah akan melindunginya. Seperti yang pernah aku katakan, ini pertama kalinya aku ingin melihat seseorang hidup, selain hidupku sendiri. Tapi kemudian aku mengingat ucapan SungSun semalam.
"Semalam aku hampir mencekik bajingan itu sampai mati, ada SungSun juga di sana, dan sebelum pergi dia memberikan sebuah saran aneh padaku," jelasku sambil memutar otak, berusaha mengingat apa yang SungSun katakan semalam.
"Apa?" sahut Rukia pendek.
"Awalnya dia bilang, entah nasib yang terlalu buruk atau karena terlalu bodoh. Tapi terlibat dengan bajingan itu tidak akan bisa selesai cepat," kataku dan Rukia terlihat datar-datar saja.
"Bukankah hal itu sangat jelas? Apanya yang aneh?" responnya.
"Aku belum selesai! Lalu dia memberi saran…" seketika otakku mampet. Rukia mendesakku lewat sorot matanya, sementara aku berusaha keras memutar otak, menggali ingatan semalam. Apa yang dikatakan SungSun semalam? Dia berkata tentang singa dan kancil, eh… kancil atau kelinci sih dia bilang? Arghhh… bego! Bukan itu yang penting, yang penting justru apa yang dilakukan si Singa dan si Kelinci.
"Memangnya apa yang dilakukan singa dan kelinci?"
"Hah?!" aku terbengong mendengar ucapan Rukia. "Kok kau bisa tau kalau singa dan kelinci…"
"Kau komat kamit terlalu keras, Bodoh!" maki Rukia sadis.
Hah… mungkin sangking putus asanya, aku sampai tidak sadar sudah menyuarakan isi kepalaku terlalu keras.
"SungSun bilang… Singa yang akan makan bisa…" apa kelanjutan dari kalimat ini? Aduh buntu!
"Bisa apa? Bisa kenyang?!"
"Aku tidak sedang bercanda, Rukia!" sentakku agak keras, dan Rukia mengerutkan alis, seolah berkata 'Terserah kau!'
"Singa yang akan makan kelinci bisa kenyang?" lagi-lagi Rukia bicara, dan kali ini aku menyerah untuk mengingat, karena wajah menyebalkan Rukia sekarang, jelas-jelas sedang mencemoohku, meledekku seolah aku ini anak TK yang sedang berusaha menceritakan dongeng yang kemarin dikatakan guru SungSun padaku. Aku menggaruk kepalaku keras-keras, menunjukkan betapa frustasinya aku kalau sudah disuruh mengingat hal yang tidak bisa lagi aku tarik keluar dari dasar otak.
"Arghh! Nanti saja kalau aku ingat! Lagipula kenapa juga SungSun harus menggunakan ibarat binatang, memangnya dia melihat kebun binatang di wajahku?!" aku menghembuskan kemarahan sambil mengacak-acak rambutku.
"Mungkin dia ingin menyederhanakannya, berhubung otakmu tidak bisa diharapkan."
"Ya, ya, aku memang bodoh! Salahkan otak cerdasmu yang bergantung pada manusia bodoh sepertiku!" sahutku tidak sabar.
"Bergantung pada seseorang bukan diukur dari kemampuan berpikir, tapi sejauh mana hati bisa menerima keberadaan seseorang yang lebih lemah darinya," gumam Rukia yang tiba-tiba mengganti tatapannya dengan keteduhan. Gila! Anak ini belajar jadi aktris dimana? Hanya dalam sekejap! Hanya dalam sekejap saudara-saudara sebangsa setanah air, senasib sepenanggungan! Rukia yang sampai tadi masih menghinaku habis-habisan sampai tak bersisa, sekarang menatapku seperti itu… aku merinding sejadi-jadinya, seolah aku baru saja menganiaya dia dan sekarang dia tengah menudingku lewat sorot matanya.
"Jangan melihatku begitu!" gerutuku takut-takut, karena aku takut kata-kataku akan membuatnya menangis, tau sendiri kondisi kejiwaan Rukia tidak stabil. Dalam sekejap dia bisa mengamuk, bisa jadi lembut, atau bahkan bisa memberikan sorot mata seorang korban penganiayaan begini. Padahal dari tadi aku yang jadi objek penderita… Dalam hati aku menangis sampai menganak sungai… mungkin yang SungSun bilang benar, memang nasibku yang tidak bagus. Bertemu Rukia yang justru menjungkir balikkan duniaku sampai seperti ini.
"Sebaiknya kau mengganti pakaianmu dulu. Jika kau pulang, sekalian bawakan pakaian ganti untukku," pinta Rukia, untungnya dia tidak pakai nada menyuruh nona besar seorang Kuchiki Rukia.
"Hah… Sepertinya kau dan aku terlalu dekat. Kau bahkan tidak malu-malu memintaku membawakan pakaian dalammu?" protesku lagi, bicara sepelan mungkin. "Kalau aku pergi, siapa yang akan menjagamu?" sambungku seraya beranjak dari kursi. Rukia tidak menjawabku, dia tengah membuang muka, seolah menyembunyikan wajahnya dariku, dan lagi-lagi telinganya masuk ke panci rebus, merah bukan main.
"Kenapa kau?" aku jadi balik bingung.
"Bawakan saja pakaianku, tidak usah banyak bicara!" serunya sengit, dan aku tersenyum licik, meletakkan kedua tanganku di sisi samping tempat tidur, mengintai wajah Rukia yang semakin aku perhatikan semakin merah, tapi walau bagaimana juga Rukia tidak bisa menyembunyikan wajahnya dariku berhubung tangannya tidak bisa digerakkan.
"Dari tadi kau memutar-mutar kepalamu terus, memangnya tidak sakit? Kalau tidak sakit kenapa lehermu harus dipasang penyangga begini?" ledekku seraya meraih wajahnya, meluruskan kembali posisi wajahnya ke semula, tapi dia tetap menghindari mataku, dan senyumku makin lebar. Melihatnya yang begini, malah membuatku semakin ingin memojokkannya.
"Tentu saja sakit! Makanya cepat pergi sana!" lagi-lagi Rukia bicara dengan nada tinggi, membuat gendang telingaku berdenging hebat.
"Iya, iya! Lagipula kau juga sudah sering telanjang di depanku, kenapa juga masih malu begitu!" protesku tidak habis pikir, dan aku makin mendekatkan wajahku ke wajahnya. Rukia terpaksa menatapku.
"Ma-mau apa kau?" dia tergagap. Ah… manisnya… Rukia yang begini sungguh membuatku gemas, aku ingin menelannya hidup-hidup… Dia selalu jadi galak setiap kali malu. Aku tidak menjawabnya, malah mengangkat alis tinggi-tinggi dan tersenyum lebar layaknya seorang Joker yang siap menyerang lawan.
"Aku? Seharusnya kau tau…" bisikku, membuat kami bertukar udara karena jarak bibir kami begitu dekat. Rukia menutup matanya rapat-rapat, tapi aku mengerem, menikmati wajahnya yang berkerut di sekitar mata, melihat beberapa bekas luka menghiasi wajahnya. Bekas lukanya belum hilang sempurna, tapi aku sudah menambahkan luka lagi padanya. Aku menghela napas dan mengecup dahinya lama, lembut dan perlahan. Sekalipun yang aku rasakan di bibirku bukan kulit Rukia langsung, malah kain perban, aku tetap ingin dia merasakan penyesalan yang aku rasakan lewat kecupanku ini. Aku benar-benar menyesal…
Aku menarik diri, memberi jarak di antara kami, dan Rukia membuka matanya, mengerjap berkali-kali, kaget dan tidak percaya.
"Aku kira kau akan…" gumamnya yang langsung terdiam, dia ragu melanjutkan kalimatnya.
Aku tersenyum nakal. "Apa? Kau terlihat kecewa. Apa kau berharap aku menciummu di sini?" tanyaku seraya menyentuh bibirnya dengan ibu jariku.
"Ti-tidak! Pergi saja sana, Otak Mesum!"
"Aku tau! Mulutmu memang bilang tidak, tapi kau pikir bisa membohongiku?" aku tersenyum dan wajahnya makin merah. Ah, sudahlah aku sudah tidak tahan lagi menghadapi Rukia…
"Aku pergi…" gumamku, dan menutup bibirnya dengan bibirku, melumat bibir mungilnya dalam sekali sapuan bibir. Rukia membeku menatapku, dan aku tersenyum puas. Jurus ampuhku memang tetap mempan seperti apapun Rukia mengamuk padaku, he he he.
Aku berlari keluar dari ruangan, menghindari amukan Rukia.
"OTAK MESUM!"
Aku menutup telinga rapat-rapat, mendengar suara teriakan Rukia bukan masuk dalam toleransi telingaku. Aku tertawa melihat seorang perawat yang tengah mendorong trolly berisi makanan dan beberapa peralatan medis sampai berhenti melangkah, melihatku yang berdiri di depan pintu ruangan Rukia dengan kebingungan yang amat sangat.
"Sarapan untuk pasien Rukia?" tanyaku cepat, melangkah mendekatinya dan sang perawat mengangguk kaku.
"Oh, hati-hati! Pasien sedang tensi tinggi," bisikku di telinga sang perawat, dan seketika wajah si perawat yang terbilang masih mudah dan cantik itu memerah. Ah… aku belum mandi saja pheromone yang aku sebarkan bisa seampuh ini. Kau memang hidung belang kurang ajar yang paling memikat, Ichigo. Aku tersenyum puas.
"Bagaimana keadaan Rukia?"
"Woah… Sialan SungSun! Kau datang seperti Sadako!" umpatku sambil memegangi dada. Habisnya SungSun muncul begitu saja dari belakangku tanpa ada suara sedikitpun, jelas saja aku kena serangan jantung. Untung dia bukan hantu, sekalipun wajahnya pucat pasi seperti hantu begitu.
SungSun tidak memberi respon yang bagus, padahal aku sudah menyebutnya Sadako! Habisnya tampilan SungSun memang mirip Sadako, kurus pucat, rambut panjang, mungkin kalau ada tawaran casting dari Ishida, aku akan merekomendasikan SungSun sebagai Sadako.
"Dia sudah sadar. Kau dengar suara teriakannya tadi, kan?"
SungSun hanya menatapku tajam, tanpa kata dia menghina aksiku.
"Kebetulan kau datang, aku mau mandi dan ambil baju Rukia. Kau bisa menunggu kan? Tidak akan lama," pintaku tanpa memberinya waktu untuk menjawab.
Aku melesat menuju lift, mengabaikan SungSun yang hendak memberikan protes. Aku tersenyum senang, Rukia tidak mengalami luka serius, bahkan dia sudah bisa berdebat denganku, berteriak sampai sekeras itu. Bolehkah aku agak mengendorkan syarafku sekarang? Aku begitu takut saat menggendong Rukia ke rumah sakit, darahnya mengalir begitu banyak, tapi Rukia adalah Rukia. Kekuatan dalam dirinya, adalah satu-satunya penolong yang bisa aku andalkan untuk menyelamatkan diriku sendiri. Entah apa yang akan aku lakukan jika Rukia tidak 'senormal' tadi. Untuk saat ini aku akan memberikan ruangan pada otakku, memberi kelonggaran pada hatiku. Aku akan menyimpan ucapan Gin untuk aku pikirkan nanti, karena teori Rukia memang benar, tapi aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Manusia licik seperti Gin memang suka memainkan hidup orang lain, tapi aku tidak yakin dia hanya mempermainkanku karena ingin menyingkirkanku. Karena jika dia ingin menyingkirkanku dari konspirasinya dengan Rukia, dia bisa saja menyuruh orang lain membunuhku, atau menciptakan sebuah kasus hingga aku terpaksa dipenjara atau ditendang jauh-jauh dari Rukia.
Semakin aku pikirkan otakku makin penuh, bukankah tadi aku mau memberi ruang pada otakku? Kenapa sekarang malah jadi aku berpikir sejauh ini? Sadar, Ichigo! Sadar! Jangan pikirkan apapun, sekarang tinggal pulang, mandi dan kembali dengan membawa pakaian Rukia. Tapi… berapa banyak baju ganti yang harus aku bawa? Apa dia punya cukup pakaian dalam? Haruskah aku ke tempat Nell dan membeli beberapa lagi?
Tunggu dulu!
Memangnya aku ini pembantunya? Apakah tidak aneh kalau seorang pria membeli pakaian dalam wanita? Nanti orang-orang malah berpikir aneh. Mereka bisa saja berpikir aku ini seorang transgender? Abnormal? Kelainan sex? Aurghhh….
Aku menggelengkan kepalaku berkali-kali.
Kenapa semua hal yang berhubungan dengan Rukia selalu membuatku berpikir keras! Sialan, bahkan saat dia terbaring di rumah sakit saja masih bisa membuatku frustasi begini. Monster Kerdil… Kau bahkan menghantuiku lebih parah dari hantu manapun di dunia ini, dan dunia lain!
.
.
.
Matahari sudah terlalu tinggi ketika aku selesai mengepak beberapa pakaian Rukia. Tidak banyak yang aku bawa, beberapa kaos dan celana pendek yang biasa dia pakai selama tinggal di apartemen lama, dan semua pakaian dalamnya yang bersih. Kebiasaan Rukia ya pakai kaos dan celana pendek, kalau nanti tidak terpakai ya biar saja dia simpan, atau kalau perlu dilelang ke para perawat di rumah sakit. Aku yakin mereka akan berdebat begitu tau salah satu anggota dari keluarga bangsawan Kuchiki tidak suka berpakaian mahal, malah pakai kaos dan celana pendek.
Seorang staf hotel memberikanku kunci motor, ya… motor yang semalam aku pakai untuk ke kedai, dan aku biarkan begitu saja di parkiran kedai. Siapa juga yang masih bisa mengingat properti bajingan Gin kalau keadaan Rukia gawat darurat begitu, kalaupun hilang aku tak peduli. Sayang saja tidak hilang, jadi ada bagusnya aku bisa pakai.
Sesuai janji juga aku sudah mengabarkan ke bengkel mengenai keadaan Rukia. Pak Urahara mencecarku dengan berbagai macam pertanyaan, karena cukup lama aku tidak memberi kabar, tapi dia hanya menghela napas pannnnjaaaang dan laaaamaaa, karena kecerobohanku. Anak-anak bengkel titip salam juga untuk Rukia. Aku sempat bicara dengan Renji di telepon tadi, berhubung hanya telepon normal di kamar hotel yang bisa aku pakai, ya aku tidak bisa memberi kabar apapun sekalipun aku pegang ponsel.
Demi Einstain! Thomas Alfa Edison! Galilelo sekalipun! Aku tidak bisa memakainya! Mau diceramahi pakai kultum, kuliah subuh, atau apapun aku tidak akan bisa menggunakan ponsel kalau tidak diajari pelan-pelan! Jadi selama ditelepon aku hanya menghabiskan waktu berdebat dengan Renji sebelum dia menitipkan salam untuk Rukia. Beraninya dia titip salam? Memangnya aku kurir? Kurir saja pakai hitungan jarak dan berat pesan yang disampaikan, masa' aku tidak dapat komisi sama sekali?! Kalau mau titip tuh uang, jangan salam!
Rumah sakit agak sepi, padahal waktu aku masuk semalam masih banyak perawat dan dokter yang lalu lalang. Mungkin siang begini dokter dan pasiennya sibuk nonton drama menjelang sore sambil tiduran, dan akhirnya tidur beneran. Yah… asal jangan tidur selamanya saja!
Aku masuk ke ruang rawat Rukia, dan di sana berdiri SungSun bersama dua orang berpakaian rapi, khas karyawan hotel GI, dan seorang petugas keamanan rumah sakit. Mereka terlihat sedang diskusi serius. Aku menenglengkan kepala, berusaha melihat ke tempat tidur, karena mereka berjajar menutupi tempat tidur. Lho… mana Rukia?
"Ada apa?" tanyaku, dengan tangan perlahan meletakkan tas di atas meja samping tempat tidur Rukia. Air muka SungSun datar seperti biasa, tapi matanya menolak melihatku, dan petugas keamanan terlihat agak panik. "Rukia mana? Di kamar mandi?" aku melangkah ke kamar mandi dan pintunya terbuka begitu saja, reflek aku bergerak untuk menutupi celah pintu, kan tidak lucu kalau mereka melihat Rukia sedang mandi atau buang air kecil.
Hah? Kamar mandi kosong… Perasaanku langsung tidak enak, aku berbalik dan mendapati SungSun menunduk lama, samar aku mendengar dia menghembuskan napas panjang.
"Rukia hilang," katanya sambil mengangkat wajah dan mengembalikan sorot mataku.
"Hilang?" alisku berkerut dalam dan suaraku naik satu tingkat. "Apa maksudmu hilang?" aku mendekati petugas keamanan rumah sakit. "Jelaskan! Apa kalian tidak salah? Mana bisa orang sakit hilang? Dia bergerak saja tidak bisa!" aku tidak bisa meredam emosi yang perlahan naik ke kepala. Ulah apalagi yang dibuat monster kerdil itu, hah? Tidak ada hentinya dia memberikan kejutan. Kalau bagus sih, tidak masalah, kejutan ulang tahun, atau hadiah jalan-jalan ke Eropa atau tiket gratis nonton atau minum sepuasnya di kedai, tapi setiap kali ada kejutan pasti ada saja kejadian tidak mengenakkan. Takut dan cemas merambat naik dari kakiku.
"Seorang perawat memintaku menyelesaikan proses administrasi. Aku hanya meninggalkan Rukia tidak sampai 15 menit, dan saat aku kembali Rukia sudah tidak ada," kata SungSun, terlihat dia juga tidak percaya dengan kata-katanya sendiri.
"Apa kalian sudah benar-benar mencarinya? Rumah sakit ini luas, siapa tau dia iseng jalan-jalan atau dibawa ke ruang rawat lain. Pokoknya banyak kemungkinan, bisa cari dimana saja kan? Ayo!" aku menarik kerah baju seorang karyawan GI hotel, dan kerah seragam si petugas keamanan. Emosiku memuncak karena mereka terlihat begitu santai menghadapi situasi begini. Memangnya mereka tidak tau kalau Rukia baru saja sadar, dia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, lalu bagaimana bisa dia pergi begitu saja? Apa alasannya menghilang? Sampai tadi pagi aku masih meledeknya!
"Percuma, Ichigo!" seru SungSun, dan itu cukup untuk membuatku menghentikan langkahku yang hanya tinggal satu jengkal lagi mencapai pintu. "Aku sudah menghubungi detektif untuk mencari keberadaan Rukia," lanjutnya lagi.
"Detektif? Lelucon apa lagi ini, SungSun?" aku berkata dengan nada menghina, karena aku sudah cukup mengikuti drama kehidupan para bangsawan dan konglomerat yang sedikit-sedikit berhubungan dengan detektif. Dari sepupu lemah Rukia yang namanya Yukio, Kouga, Kuchiki Byakuya, sampai Gin, tidak ada di antara mereka yang tidak pakai detektif, lalu sekarang mereka menggunakan jasa detektif lagi. Sudah aku bilang seharusnya aku jadi detektif, jasaku bisa banyak dipakai dengan bayaran tinggi, dari pada kerja di bengkel? Nah sekarang Rukia hilang juga pakai detektif? Kenapa tidak ke polisi sekalian?
"Aku sudah memeriksa kamera cctv rumah sakit. Rukia dibawa, atau lebih tepatnya dipindahkan oleh beberapa orang dokter, dan rumah sakit ini tidak memiliki identitas mereka. Plat mobil ambulans yang mereka gunakan juga ditutupi, jadi aku harus melacaknya, dan itu perlu waktu. Dari gelagat dokter dan perawat ini, mereka begitu hati-hati memindahkan Rukia. Sebelum memindahkan Rukia menyuntikkan sesuatu pada infus Rukia, dan membuatnya tertidur," jelas SungSun perlahan.
"Ini hanya dugaan sementara…" SungSun terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya, tapi dia memberi isyarat pada dua orang karyawannya dan si petugas keamanan rumah sakit untuk keluar. Aku mendekati SungSun dan darah tidak mengalir ke wajahnya. Warna kulit SungSun memang sudah pucat, tapi kali ini dia benar-benar seperti kain kafan, putih seputih-putihnya.
"Menurutmu siapa yang bisa melakukan semua ini dengan begitu hati-hati dan terencana?" gumam SungSun.
Aku berpikir sejenak dan otakku sudah cukup lelah berpikir dari pagi, ditambah lagi aku sudah ketakutan, khawatir dengan keadaan Rukia, masih lagi disuruh memikirkan hal lain. SungSun mirip Rukia juga nih lama-lama, selalu membuatku berpikir lebih, sudah tau kapasitas otakku tidak sama dengan mereka!
"Gin?" celetukku setelah beberapa saat.
SungSun hampir membuat ujung alisnya bertemu di dahi, dan detik kemudian dia membuang napas putus asa yang begitu panjang. "Untuk apa Pak Direktur melakukannya?"
Aku mengendikkan bahu tidak tau, aku kan hanya asal bicara.
"Aku berpikir ini adalah perbuatan salah satu anggota keluarga Kuchiki. Bisa jadi Kouga, atau bahkan Kuchiki Byakuya," bisiknya pelan, seolah dia tidak ingin dugaannya ini didengar orang lain.
Gelombang di dadaku makin tinggi, membuatku terpaksa mengepalkan tangan karena tidak bisa melampiaskan bermacam-macam emosi yang sedari tadi menggangguku. Sialan… setiap hari, setiap waktu, setiap kali permukaan air tenang, selalu ada ombak lain yang datang dan mengacak-acak semuanya.
Ulah siapa lagi ini?
Aku bahkan belum sempat klarifikasi (cie ileh… kenapa sekarang bahasaku mirip acara gosip selebritis?) masalah pertunangan Ulqui sama Rukia. Aku belum sempat bertemu si stoic Ulqui, terus sekarang Rukia ikut-ikutan menghilang? Dia bahkan masih terluka krn kecelakaan kemarin, mau kemana dia?
"Rumah sakit lain?!" selorohku, SungSun sempat kaget dan mengerjap beberapa kali. "Kalau mereka tidak bermaksud buruk pada Rukia, pasti Rukia dipindahkan ke rumah sakit lain. Tidak mungkin orang terluka begitu mereka biarkan, kan? Buktinya mereka membawa Rukia dengan bantuan dokter dan perawat!" cerocosku, merasa puas dengan ekspresi kaget SungSun. Dia pasti belum berpikir sampai sana. Aish… aku memang cerdas!
"Aku tidak menyangka kau akan berpikir sejauh itu, Ichigo."
Tuh kan, SungSun memujiku. Aku tersenyum puas.
"Tapi aku sudah mengecek seluruh rumah sakit dan tidak ada pasien bernama Rukia," tambahnya dengan wajah putus asa.
"Kau sudah melakukannya? Lalu kenapa kau terlihat keget begitu tadi?" protesku tidak terima.
"Aku hanya keget, dengan otakmu itu ternyata kau bisa berpikir sejauh itu," jawab SungSun. Kata-katanya seperti sedang memuji, tapi rasanya malah kebalikannya, melukai harga diriku, tepat menusuk ulu hatiku. Kecerdasan yang sampai sedetik lalu masih aku banggakan, rontok terbawa arus hinaan SungSun, hah… aku mau jadi penulis skenario saja, kata-kata yang aku gunakan makin bagus.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa aku harus berdiam diri begini? Oh… aku tau! Aku akan coba menghubungi sepupu Rukia!"
SungSun menatapku skeptis. "Memangnya kau punya nomor kontaknya? Kau sudah bisa memakai ponselmu?"
Bang! Tembakan kedua! Kali ini jauh lebih sakit. Serasa harga diriku sudah dijatuhkan ke dasar jurang, sudah begitu jurangnya itu jurang yang sudah digali ratusan kali, jadi rasanya sakit, sakit, sakit, sakit… Aku menggeleng menjawab pertanyaannya yang menusuk tepat di tengah hatiku. Karena kedua pertanyaan itu hanya bisa aku jawab dengan satu kata, yaitu 'tidak'. Aku benci ketidakmampuanku ini! Yang benar saja! Masa' aku hanya berdiam diri? Aku harus melakukan sesuatu, dan berdiskusi dengan SungSun bukanlah 'sesuatu' yang aku maksud! Karena bicara dengannya sama saja aku merendahkan harga diriku tangga demi tangga, tunggu saja sampai aku ke dasar, baru dia berhenti memojokkanku sambil tertawa puas.
Aku menarik laci meja samping tempat tidur, mengambil ponsel Rukia, dan bergegas meninggalkan ruangan 202. Biar saja SungSun berteriak memanggilku, aku akan berusaha dengan caraku sendiri. Kalau SungSun dan si keparat Gin bisa mencari Rukia dengan detektif mereka, aku akan mencari Rukia lewat detektifku sendiri juga. Siapa detektifku? Jangan tanya! Aku pastikan kalian akan kaget nantinya!
.
.
.
Pak Urahara menaik turunkan pandangannya, dan setiap kali dia mengalihkan pandangannya padaku, dia akan menghela napas, memberikan wajah kesusahan dan penuh penyesalan. Dia bertolak pinggang, mengangkat kipas, menaikkan bagian depan topinya yang merosot turun dan menutupi pandangannya. Di sampingnya berdiri Renji, Hanatarou dan Szayel, mereka memberikan wajah sama penuh harap denganku.
"Apa harus aku yang melakukannya? Kau pikir aku bisa? Yang bisa seharusnya perempuan juga!" protes Pak Urahara sambil membuang napas beratnya lagi.
"Tapi kami semua sudah mencobanya, semuanya gagal Pak." Aku mengatupkan tanganku di atas kepala, memohon padanya dengan sepenuh hati, berharap Pak Urahara akan meleleh melihatku yang pasang tampang memelas begini. Anjing tidak makan seminggu saja mungkin kalah sama wajahku saat ini.
"Kami?! Kami?!" Pak Urahara tampak tidak terima dengan ucapanku.
"Ralat! Hanya Renji, Hanatarou dan Szayel. Aku tidak!" sahutku. "Karena aku gaptek!" tandasku, mengakui kelemahan yang luar biasa aku sesali di saat-saat seperti ini.
"Tanggal lahir Rukia?" Pak Urahara mengetukkan kipas di meja
"Sudah!" jawab Szayel.
"Empat angka nomor ponselnya?"
Renji yang menggeleng kali ini.
"Nomor kamar kalian di hotel?"
"Tidak bisa, Pak!"jawab Hanatarou.
"Hmmm…" Pak Urahara berpikir keras, tapi yang dia lakukan kemudian malah menarik pesawat telepon di pojok meja, menekan sebaris nomor secepat kilat. Sambil menunggu tersambung, dia melirikku dan kembali menutup mata sambil membuang napas. Ya elah… memangnya hidupku sebegitunya tidak punya harapan ya? Sampai berkali-kali harus diberi helaan napas?!
"Ah… Yoruichi! Apakah kau libur hari ini?" nada suara Pak Urahara tidak berubah sama sekali. Orang yang mendengar percakapan ini, dan tidak mengenal siapa Yoruichi, mungkin akan berpikir Pak Urahara sedang menelepon teman sesama montirnya. Dimana sih letak bagusnya Pak Urahara, sampai Yoruichi yang seksinya maksimal plus plus mau sama Pak Urahara?
"Oh… oke, aku tung-"
Ucapan Pak Urahara berhenti ketika sosok yang sedang ditelepon muncul di pintu ruangannya. Yoruichi mengenakan baju tanpa lengan dengan celana pendek sepaha, menunjukkan kulit gelapnya yang eksotis, rambutnya dia ikat model ekor kuda… WOW, dia sangat menggiurkan…
"Apa yang kalian lihat, hah?!"
"Adouw…!" empat teriakan kesakitan terdengar bergantian, karena kipas pamungkas Pak Urahara menghantam kepala kami satu per satu. Memangnya pria normal mana yang tidak akan ngiler menganak sungai sampai ke Niagara kalau melihat tampilan Yoruichi sekarang?! Eh… ngomong-ngomong Niagara itu sungai bukan sih?! Apa nama air terjun ya?! Atau sungai yang mengalir jadi air terjun?! Au ah gelap… memangnya aku ahli geografi?!
"Ada apa?" Yoruichi melepas kacamata hitamnya, berjalan dengan legak legok model dan menghampiri Pak Urahara, memberikan sebuah pelukan dan kecupan di bibir secepat kilat.
"Mau…" gumamku tanpa sadar, dan tak ayal lagi satu hentakan kipas mendarat di kepalaku.
Pak Urahara menghela napas berat, memberikan ponsel Rukia yang baru dia pegang lima menit lalu. Dia bahkan tidak berusaha menekan angka di layar ponsel, hanya bertanya ini itu dan akhirnya menelepon Yoruichi.
"Rukia hilang, dan Ichigo membawa ponsel Rukia, tapi dikunci angka sandi. Mereka sudah mencoba semuanya tapi tidak ada yang berhasil, jadi aku pikir hanya sesama perempuan yang bisa berpikir sama dengan penentuan password," tutur Pak Urahara sambil memerhatikan Yoruichi yang tampak berpikir keras.
"Benar sudah coba semua?" Yoruichi lagi-lagi meragukan usaha kami. "Ukuran badan Rukia?" lanjutnya dengan suara datar.
"Sudah…" jawabku buru-buru.
Yoruichi menggeleng pasrah. "Kalian memang laki-laki payah…" gerutunya.
"Kenapa?" tanyaku lagi, bingung…
"Perempuan mana yang menggunakan ukuran badannya sebagai password? 3885, begitu?!" hardik Yoruichi, murka sejadi-jadinya, dan aku merasa melihat naga baru saja menyemburkan api ke wajahku.
"Sebutkan tanggal lahirmu!" Yoruichi menembakku.
"Ha? Kenapa? Aku mau dikasih kado? Juli, tanggal 15! Kalau mau kasih kue jangan lupa lilinnya yang besar, dan jangan terlalu manis, aku tidak suka makanan ma-"
"Sudah!" Yoruichi memberikan ponsel Rukia padaku dan sudah ganti tampilan layarnya. Sekarang hanya gambar pohon kering tanpa daun.
"Eh? Tanggal lahir Ichigo? Beneran? Rukia suka padamu, Ichigo?" kejar Renji dengan tampang tengilnya, sementara Hanatarou seperti akan menangis mendapati ponsel Rukia yang ternyata dipasang password dengan tanggal lahirku.
"Tanggal lahir Rukia?" tanya Yoruichi lagi.
"14 Januari," jawabku cepat, sekalipun masih agak bingung.
Yoruichi mengambil ponselku yang tergeletak di meja, dan detik kemudian mengembalikannya padaku. "Entah siapa yang setting, yang pasti itu cara sederhana agar kalian bisa membuka ponsel satu sama lain. Kalau ada maksud lain, aku juga tidak tau!" tandas Yoruichi. Cara dia menyelesaikan permasalahan yang membuatku pusing dari tadi, terlihat sangat sederhana. Ada kesal juga yang menggerayangi dadaku. Kenapa aku tidak membaliknya dari tadi ya?
Tapi mungkin maksud Rukia memang mau aku dan dia bisa buka ponsel satu sama lain, tapi sayangnya aku tidak bisa cepat belajar cara pakai ponsel. Ajari aku cara bongkar pasang motor Ninja Kawasaki 250 baru aku bisa mengerti dalam sekejap!
Aku harus cari nama Yukio…
Tapi bagaimana cara pakainya?!
"Arrgghhhh! Aku frustasi!" aku menjambak rambut putus asa! Sialan! Ini pertama kalinya aku membenci diri sendiri karena tidak cukup pintar untuk mengikuti perkembangan teknologi diluar dunia mekanik!
"Aku akan mengajarimu, Senior!"
Kepalaku tersentak mendengar suara Szayel, dia terlihat sungguh-sungguh, tapi seditik kemudian dia menyeringai lebar.
"Sebagai gantinya panggil aku Senior sekali saja… Bagaimana?" tanya Szayel sambil mengangkat alis penuh harap.
"Jidatmu!" aku menjitak dahi Szayel tanpa aba-aba lagi. "Kau mau memanfaatkan kelemahanku demi balas dendam hah? Dasar junior tidak tau diri. Kau selama ini cuma tau duduk, menebar pesona dan membiarkan bau kakimu merajalela!" cerocosku tanpa ampun, tidak ragu melayangkan tangan hendak menjitak rambut warna pink menyebalkan milik Szayel.
"Hei Strawberry! Sudah cukup! Apa kau tidak berpikir dari tadi kau membuang waktu hanya untuk meladeni Szayel? Kau bahkan tidak bias menebak password ponsel Rukia yang ternyata sederhananya minta aku bersujud tiga kali!" Renji merangkul leherku dengan tangan besar dan berototnya, sontak aliran napasku terhenti, aku memukul tangannya, melewatkan kesempatan besar untuk menghajar Szayel. Ini memang bukan waktu yang tepat untuku berdebat seperti ini, karena Rukia sedang ada dimana, kondisinya seperti apa, apa dia baik-baik saja, semuanya aku tidak tau, aku buta sama sekali.
"Yukio, kan?" tanya Pak Urahara sambil menarik ponsel dan menggerakkan jarinya dengan cepat di layar ponsel, dan aku menjawabnya dengan sebuah anggukan cengo bin idiot. "Tidak ada nama Yukio di daftar kontak Rukia, atau siapapun yang menggunakan nama Kuchiki. Apa mungkin dia punya nama lain?" tanya Pak Urahara yang tidak juga berhenti menggerakkan ibu jarinya.
Aku berpikir keras, tapi tidak ada satupun nama panggilan yang mungkin Rukia pakai untuk menyimpan nama anggota keluarga Kuchiki.
"Mungkin Rukia menyimpannya dengan nama bangsat, keparat, sialan, anjing, atau makian lagi, gitu?" kataku, dan yang aku dapatkan malah sorot mata mencaci dari semuanya, dan aku langsung berasa jadi terpidana hukuman mati pasca melakukan mutilasi pada seseorang, entah itu potong 8, 12, atau 16 bagian. Memangnya aku jualan ayam potong? Sampai ada pilihan potong 8, 12 atau 16 begitu?!
Rukia begitu membenci keluarganya, sampai tidak ada satupun nama dari keluarganya yang dia simpan di daftar kontak, bahkan tidak juga Kouga. Lalu bagaimana dia bisa tau kalau yang menghubunginya adalah orang-orang itu, apa dia menghapal semua nomor ponsel orang-orang itu? Gila! Memangnya Rukia anaknya Einstain?
"Kau mau mencoba yang lain?" tanya Pak Urahara sambil menunjukkan layar ponsel padaku, dan aku terdiam sejenak, melihat nama Grimmjow terpampang di sana, bahkan lengkap dengan foto si pemilik rambut serbuk pemutih pakaian.
"Percuma aku berusaha mencari tau, kalau pada akhirnya aku bergantung pada antek Si Keparat Gin!" gerutuku seraya menarik ponsel dari tangan Pak Urahara. Aku menirukan gaya Pak Urahara, dan aku melihat hanya ada 3 nama di sana. Pertama namaku, dan dia tidak menyimpannya dengan namaku, dia menulisnya dengan nama Otak Mesum. Rukia belum bisa menerima nama kerenku dalam otaknya. Kenapa aku tau itu nomor ponselku sekalipun aku sendiri tidak hapal nomor ponselku? Jelas saja! Siapa lagi yang mau dia panggil Otak Mesum selain aku?
"Aku pikir ada satu orang yang bisa kau minta tolong, dan aku bisa jamin dia bukan antek siapapun," seloroh Renji seraya menepuk bahuku, seolah menyadarkanku dari perasaan putus asa yang sudah menguasi hampir seluruh hatiku.
Aku bertanya tanpa suara, menatapnya penuh harap. Berharap dia menyebutkan nama yang tepat.
"Ulquiorra!"
Daguku serasa mau jatuh ke tanah, hampir semuanya sependapat denganku, tapi dengan cepat reaksi mereka berubah dan mengangguk mendukung ide Renji.
"Ulquiorra sekarang berstatus calon tunangan Rukia. Dia tidak mungkin antek siapapun, ditambah lagi dia pasti punya akses untuk mencari tau sampai ke keluarga bangsawan Kuchiki. Setelah berulang kali Kuchiki Byakuya berusaha membawa Rukia pulang, kau pasti berpikiran bahwa hilangnya Rukia adalah ulah Kuchiki Byakuya, karena itu kau berusaha mencari nama Yukio. Benar, kan?" Pak Urahara berkata dengan sangat hati-hati, seperti sedang menganalisa ala Detective Conan. Dan tidak ada satu katapun yang tidak benar dari analisanya. Saat ini yang bisa aku cari memang Ulqui, sekalipun aku belum tau sejauh mana dan seperti apa hubungan Ulqui dengan keluarga bangsawan itu. Apa yang menyebabkan dia bisa berujung jadi calon tunangan Rukia.
"Mungkin ini waktunya kau mencari Ulqui, sebelum Rukia dibawa ke tempat yang mungkin tidak bisa kau datangi lagi," gumam Renji dan lagi-lagi menepuk bahuku.
"Kalau mereka membawa Rukia keluar negeri atau Antartika, aku tidak akan kaget. Tau sendiri Kuchiki Byakuya kakunya melebihi es kutub!" tambah Szayel dan Hanatarou mengangguk penuh antusias di sebelahnya. Seolah berkata lewat sorot matanya, 'Pergi sana! Cepat!'
Kepalaku langsung diisi bayangan salju kutub utara, es balok yang berjajar, bahkan beruang kutub yang mungkin mengelilingi Rukia sekarang. Manusia berbadan ringkih begitu disuruh tinggal di tempat dingin, apa tidak mati kedinginan terus jadi tengkorak dalam waktu singkat? Sangking dendamnya keluarga Kuchiki ingin mengasingkan Rukia, sampai mereka mau membawa si kerdil ke Antartika?
"Kalau jam segini, mungkin Ulquiorra sedang jalan pulang," kata Yoruichi, melirik jam tangan berbentuk gelang emas di tangan kirinya.
"Aku dengar dari Pak Kyoraku, Ulquiorra masih menempati apartemennya. Sekalipun kakaknya sering bolak balik mengunjunginya, dia tidak lantas pindah. Kalau aku lihat dari mobil dan tampilan kakaknya, aku yakin mereka bukan dari keluarga biasa," sambung Szayel, membanggakan sumber informasi yang tidak disengaja cukup berguna.
"Memangnya kau sempat bertemu kakaknya?" Hanatarou melontarkan pertanyaannya dengan wajah polos, jelas ini malah membuat hidung Szayel makin panjang menjulang.
"Sekali sih, waktu mengantar Isane pulang," sahut Szayel sambil nyengir lebar.
Dadaku berdegub keras, mencari ketenangan yang aku cari agar aku bisa menghadapi Ulquiorra dengan kepala dingin. Karena jujur saja, sejak aku mendengar kabar kalau Si Stoic itu akan bertunangan dengan Rukia, ada banyak pertanyaan dan asumsi yang berseliweran di kepalaku. Rukia juga pernah berkata aneh, dan seperti merasa aksi tunangan ini bukan sesuatu yang sangat mengagetkan untuknya. Lagi-lagi ini pasti ada sangkut pautnya dengan keluarga besar dan kekayaan yang mungkin dimiliki keluarga bangsawan dan keluarga 'misteri' dari Ulquiorra. Jelas saja aku sebut misteri, kan memang aku belum tau jelas bagaimana kondisi keluarga Ulqui sebenarnya.
"Kalau begitu aku pergi sekarang. Kabari aku jika kalian mendengar sesuatu tentang Rukia atau Ulqui," seruku, sebelum berlari ke tempat parkir motor.
.
.
.
Apartemen Ulqui masih kosong melompong tanpa tanda-tanda ada makhluk hidup di dalamnya. Aku berdiri di koridor apartemen, tepat di depan pintu apartemen Ulqui. Tampilan apartemen sekarang jauh lebih baik, cat dinding sudah kembali seperti bangunan baru, bahkan tangga yang reyot sekarang sudah diganti dengan besi kokoh lengkap dengan cat anti karat. Pak Kyoraku yang terkenal perhitungan begitu, bisa renovasi apartemen murah sampai seperti ini? Aku jadi bertanya-tanya, dari mana dia dapat dana? Padahal dia sering teriak kalau ada yang telat bayar. Yah… aku contohnya! Dan dalam teriakannya, pasti dia akan mengangkat perihal betapa murahnya apartemen ini, dan betapa baiknya dia sampai bersedia memberikan toleransi bayar sampai seminggu. Atau bisa jadi dia menaikkan tariff sewa sampai 50%? Tapi kalau sampai naik. Omaeda pasti tidak akan tinggal di sini lagi. Babi Air (itupun kalau aku boleh pakai sebutan Rukia untuk Omaeda) sebesar Omaeda, tidak akan mengorbankan uang makannya untuk bisa tetap tinggal di sini.
"Ichigo?"
Aku menoleh dan mendapati Mila Rose berdiri di puncak tangga sambil membawa plastik belanjaan dengan logo minimarket sebelah kawasan apartemen. Senyumnya tipis dan terlihat lega, mungkin dia pikir aku sudah hilang selamanya dari peredaran.
"Halo, Mila Rose. Apa kabar? Bagaimana Star- Ukhuk!" kalimatku terpotong di detik Mila Rose bergegas kearahku dan melingkarkan tangannya di punggungku. Jujur saja Mila Rose punya badan berisi yang hampir mirip pegulat, dan sekali saja dia memutuskan untuk mengerahkan tenaga, maka aku akan jadi tempe penyet, tinggal dikasih sambal sama lalap saja. Aku sampai susah bernapas. Gila! Stark bisa-bisanya memilih perempuan begini, seksi sih seksi, tapi kalau bisa mengancam hidup buat apa juga!
"Apa kau mendapat operasi plastik? Kenapa kau tambah tampan? Mana kucing manis bermata birumu?" kicau Mila Rose tanpa sedikitpun menghiraukan napasku yang masih megap-megap pasca pelukan mautnya. Mila Rose mungkin tidak berpikir kalau sikap dan cara bicaranya sangat bertolak belakang. Dia bisa memeluk orang dengan santai, tapi begitu bicara, wajahnya tidak banyak berubah.
"Sepertinya kau tidak lihat berita. Dia kecelakaan dan masuk rumah sakit kemarin," jawabku berat, dan wajah Mila langsung memucat.
"Sayang sekali…" gumamnya sedih. "Jujur saja aku tidak begitu mengenal orang di televisi, tapi sepertinya pacarmu memang betul-betul anak bangsawan. Semenjak kau pindah, banyak orang berjas yang bolak balik ke apartemen ini. Mata mereka terus mengarah ke pintu apartemenmu," jelas Mila dengan badan condong, seolah tidak ingin pembicaraan ini didengar orang lain.
"Ichigo? Kau punya urusan apa di sini?"
Oh akhirnya… Orang yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Ulqui berdiri dengan pose hampir sama seperti Mila tadi, hanya saja Ulqui lebih tanpa ekspresi, datar sedatar-datarnya. Dan satu lagi, kata-katanya selalu tajam, setajam pisau penjual daging yang bisa membelah tulang sapi besar. Bukannya dia merasa beban karena banyak membuatku kena serangan jantung karena berita pertunangannya, dia malah bertanya dengan wajah datar begitu 'Kau punya urusan apa di sini?'. Jidatmu! Ulqui menduduki peringkat satu kalau urusan mengundang emosiku naik ke ubun-ubun.
"Aku masuk dulu, Ichigo! Sepertinya kau mau banyak ngobrol dengan Ulquiorra," Mila melengos pergi begitu saja.
Ulqui masih memakai seragam kantorannya, setelan lengkap dengan jas dan kartu identitas karyawan yang menggantung di leher dengan tali berwarna biru. Dia terlihat agak pucat. Ha? Agak pucat? Bukannya Ulqui memang selalu pucat? Sejak kapan Ulqui punya warna wajah? Aku kasih krayon baru bisa ada warna di wajahnya.
"Aku perlu bicara denganmu," ucapku dengan langkah berat menghampirinya yang tengah membuka kunci pintu apartemen.
Angin sore berhembus kuat, menerbangkan rambut Ulqui yang sudah lebih panjang. Eih?! Kenapa ini jadi seperti adegan di salah satu skenario Ishida? Tunggu dulu! Memangnya apa peduliku kalau angin menerbangkan rambut Ulqui? Mau terbang kek, mau botak kek, bukan urusanku! Memangnya aku ini tokoh film homo yang sedikit-sedikit memperhatikan lawan main prianya? Sialan… virus Ishida benar-benar mulai menyerang alam bawah sadarku.
"Jika kau bertanya tentang pertunangan, kau bertanya pada orang yang salah! Kuchiki Byakuya yang seharusnya kau cari! Terkadang otakmu itu berpikir terlalu sederhana, hanya karena aku muncul hari itu, bukan berarti aku tau sem-"
"Ah… Lidahmu masih saja tajam seperti biasa, Stoic!" potongku sebelum Ulqui terlalu banyak membuang tenaga dengan ocehan tidak jelasnya. Ulqui berdiri kaku di depan pintu apartemen yang sudah menjeblak terbuka lebar, dia bisu menatapku. Aku tau dalam otaknya itu dia sedang berpikir akan membiarkan aku masuk atau tidak, tapi maaf saja aku tidak akan bersikap sopan padanya. Kami teman yang sudah terlalu dekat yang bahkan baku hantam bukan lagi hal tabu. Jadi aku tidak butuh izin darinya untuk bisa masuk.
"Apartemenmu masih seperti biasa," selorohku sambil nyelonong masuk. Mengabaikan tangan lambat Ulqui yang sepertinya mau menahanku. "Aku kira kau sudah pindah ke rumah keluargamu." Aku melempar pantatku di tempat tidur Ulqui. Tempat tidurnya benar-benar empuk, tempat tidur baru sepertinya. Terakhir aku ke sini tempat tidurnya masih lebih keras dari ini.
"Aku tidak akan kembali. Sudah berapa lama kau mengenalku, Strawberry?" tembaknya tepat ke kepalaku.
Aku mengendikkan bahu cuek. Ulqui memang selalu begitu. Memangnya aku tidak tau? Tentu saja aku tau! Tapi kan aku perlu basa basi untuk bicara. Memangnya aku harus langsung ke inti kedatanganku? Makhluk satu ini terlalu kaku!
Ulqui melempar minuman soda tepat ke mukaku, tanpa kode apa-apa. Sial, kalau aku lengah bisa aja tuh kaleng kena jidatku. Belum apa-apa bisa bonyok duluan aku. Untung tingkat waspadaku yang tinggi, aku bisa menangkap kaleng soda.
Ulqui membuka jas dan kemejanya, sekarang dia pakai kaos dalam putih dan celana kerjanya. Ulqui tidak pernah pakai kaos dalam tanpa lengan, makanya sekalipun dia sudah melucuti pakaian sampai tinggal kaos dalam, masih terliha sopan. Yah… mungkin dia tidak mau juga terlihat menyedihkan dengan menggunakan kaos dalam tanpa lengan. Badannya yang lebih bertulang itu akan menjadi bahan tertawaanku, he he he
"Bagaimana keadaan Rukia? Aku dengar dia kecelakaan," tanya Ulqui sambil menenggak minumannya.
Udara mendadak jadi tegang. Tapi kebetulan Si Stoic memulainya, jadi sekalian saja aku lanjutkan. Sepertinya berurusan sama Ulqui tidak ada gunanya pakai basa basi, yang ada nanti malah basi betulan!
"Terakhir kali aku lihat, dia sudah stabil," jawabku tegas.
"Terakhir kali?" ulang Ulqui dengan mata memicing penuh curiga. "Kapan? Memangnya kau tidak bisa melihatnya lagi?"
Benar saja! Bukan cuma lidahnya yang tajam, otaknya juga tajam. Ulqui bisa membaca situasi hanya dari kata-kataku. Jadi aku tidak perlu ribet-ribet menjelaskan lebih detail.
"Mungkin kau sudah dengar kabar terakhir?"
Ulqui menggeleng cepat dan duduk di sofa usang di seberang meja. "Bukannya aku bilang aku dengar Rukia kecelakaan? Aku tidak tau lagi selain itu. Apakah kau tidak mendapat pendidikan peningkatan kecerdasan dari Pak Gin? Otakmu masih dangkal seperti biasa," cerocos Ulqui tanpa hati. Sakit sih mendengarnya, tapi kalau kata lagu… Siapa itu yang nyanyi?
Perempuan?
Iya!
Orang terkenal?
Bisa jadi!
Rambutnya hitam panjang?
Iya!
Cantik?
Iya!
Orang Jepang?
Bukan! Bukan!
Orang Indonesia?
Iya! Iya!
Raisa?
Iya! Iya!
Kok mirip kuis di tv ya?
Ya pokoknya… kalau Raisa bilang, 'Mau dikatakan apa lagi…?' Itu kenyataannya, otakku belum tambah cerdas, tapi aku bisa mengerti pekerjaan kantoran lah sedikit-sedikit. Tapi kan lidah tajam Ulqui tidak perlu memaparkannya segamblang itu? Aku memang tidak sepintar dia, tapi… sakitnya tuh di sini mendengar dia mengatakan aku tidak juga pintar… hiks hiks hiks
"Rukia menghilang dari rumah sakit," selorohku cepat, menelan bulat-bulat sakit hati akibat tembakan Ulqui. Karena aku tidak punya waktu banyak untuk meratapi sakit hati, lagi pula ini belum seberapa kalau mengingat mulut Ulqui yang bisa lebih sadis.
Wajah datar Ulqui berubah, ya bukan berubah seperti Satria Baja Hitam juga! Alisnya berkerut, membuat dahinya bergaris, dan dia langsung meletakkan kaleng yang sudah dia mau tenggak lagi. Bukan kalengnya, tapi isinya! Nanti kalian berpikir Ulqui menenggak kaleng! Dia bukan pemain debus, sirkus, apalagi mentalis. Dia hanya pegawai asuransi. Tapi kalau Ulqui bisa menelan kaleng hebat juga, bisa masuk rekor dunia itu!
"Lalu apakah kau sudah minta bantuan Pak Gin?" tanya Ulqui, menegakkan badan dan menatapku serius. Sampai detik tadi dia masih terlihat santai menanggapiku, tapi sekarang dia 100% memusatkan perhatiannya padaku.
"Kamera CCTV, petugas parkir, perawat, tidak bisa diminta keterangan lebih. Ada beberapa orang berseragam putih membawa Rukia dengan alasan akan memindahkan Rukia ke rumah sakit lain, tapi sudah diperiksa di semua rumah sakit manapun tidak ada nama Rukia." Kepalaku menggeleng berat, memikirkan satu-satunya kemungkinan yang ada.
"Luar negeri?" celetuk Ulqui seketika.
"Mau apa Rukia dipindah ke rumah sakit luar negeri? Memangnya dia sampai sekarat, dan ada penyakit yang kronis? Dia cuma menerima beberapa jahitan dan tidak ada luka dalam. Kenapa juga buang-buang uang membawa dia ke luar negeri?" semburku tidak terima pola pikir ulqui yang tidak masuk akal sama sekali.
"Itu kalau kau yang menculik Rukia!" sahut Ulqui cepat dan pendek, tapi cukup untuk membuatku diam seketika. Benar juga! Kalau aku tidak mungkin buang-buang uang untuk mengobati Rukia yang kondisinya tidak parah, tapi bagaimana jika Kuchiki Byakuya yang membawanya? Dia bisa saja membawa Rukia ke bagian dunia lain. Seperti pembahasan di bengkel tadi, bisa saja Rukia dibawa ke Antartika.
"Siapa yang kau curigai?" Ulqui kembali bertanya, mata bosannya menatapku sambil melipat tangan di dada.
"Aku berusaha mencari akses ke rumah keluarga Kuchiki, karena belakangan ini Kuchiki Byakuya berusaha membuat Rukia kembali ke sana. Tapi semua nihil, di ponsel Rukia tidak ada satupun nomor telepon anggota keluarga Kuchiki. Kalau aku bisa menghubungi Yukio, mungkin aku bisa menyuruh bocah itu mencari tau. Tapi semua jadi buntu karena Rukia tidak menyimpan nomor siapapun di ponsel, dia mungkin punya darah Einstain sampai bisa mengingat nomor ponsel sebegitu banyak!" cerocosku putus asa.
Ulqui diam sejenak melihatku cukup lama, sampai akhirnya dia menutup mata dan terlihat seperti sedang meditasi dengan tangan di dada begitu. "Jadi kau ke sini, berpikir aku bisa membantumu mencari tau?" gumamnya cepat.
"Persis!" jawabku penuh semangat.
Mata Ulqui terbuka dan dia terlihat tidak senang. "Kuchiki Byakuya, orang itu sulit dibaca. Aku bertemu dengannya di hotel GI untuk membicarakan acara pertunangan, dan dia tidak banyak bicara, dia hanya meminta orang tuaku menentukan tanggal dan akan membawa Rukia di hari pertunangan itu. Aku tau Rukia tidak dilibatkan dalam pembicaraan pertunangan ini, tapi bukankah dia terlalu percaya diri bisa memaksa Rukia menerima pertunangan ini?" tutur Ulqui, separuh bercerita dan separuh menganalisa. Aku bisa melihat dia tengah berpikir keras menalarkan perilaku Kuchiki Byakuya, dan aku hanya bisa terbengong melihat usahanya.
"Mungkinkah dia sudah berencana menculik Rukia sejak lama?" katanya lagi, dan aku mengendikkan bahu tidak tau. "Pakai otakmu untuk berpikir, Strawberry! Kau terlalu banyak berfantasi selama onani, otakmu jadi tidak berguna!" semburnya kesal.
"Ya maaf kalau otakku tidak berguna! Makanya aku datang padamu, otakmu kan lebih cerdas!" balasku tidak terima.
Kami sama-sama diam, sekalipun Ulqui terlihat seperti akan membalas perkataanku, tapi dia kembali diam dan tenang. Matanya yang tengah menatap lantai, sesekali terangkat dan melihat ke arahaku, sementara aku duduk santai memerhatikan gerak geriknya. Jujur saja aku tidak bisa berpikir jauh, buntu.
Ulqui meraih sesuatu dari saku celananya, dan begitu aku melihat gerakan tangannya yang secepat kilat. Aku menyadari benda itu adalah ponsel, dia meletakkannya di telinga, dan melihat ke arahku sebentar, lalu turun lagi ke kaleng soda di meja, mengambilnya dengan tangan yang bebas, meneguk isi kaleng sedikit.
Lagaknya membuatku geram. Aku sudah cukup kesal dengan kondisi ini, masih ditambah lagi kenyataan orang-orang di sekitarku begitu pintar menggunakan benda bernama ponsel, membuatku stress mendapati diriku bahkan tidak bisa menggunakan benda canggih itu. Aku berjanji setelah ini, aku akan mengambil les khusus untuk belajar ponsel. Yang pasti bukan dari Szayel, mungkin aku akan menggencet Hanatarou, anak penakut itu lebih tepat aku minta tolong, dia tidak mungkin mengajukan permintaan macam-macam seperti Szayel.
"Iya. Aku ingin bertamu ke rumah keluarga Kuchiki besok," kata Ulqui datar. Dia diam sejenak dan kemudian menggelengkan kepala lambat. "Aku ingin membicarakan perihal konfrensi pers terakhir," lanjut Ulqui tetap tenang.
Aku mendekat dan bertanya lewat bahasa bibir pada Ulqui. Aku duduk di samping Ulqui, menempelkan telinga ke ponsel di tangan Ulqui, berusaha mendengar perkataan orang yang tengah dia ajak bicara.
"Tidak, aku hanya ingin memastikan lagi, karena Kuchiki Rukia sepertinya mengetahui apa-apa. Bukankah ini aneh?" jawab Ulqui cukup rasional. Tapi aku tidak bisa mendengar perkataan orang yang Ulqui ajak bicara. Ulqui menghindar dariku, tapi aku makin mencondongkan badan dan bersandar pada badannya, mungkin badan kurusnya tidak kuat menahan bobot badanku, dia langsung menggeram kesal dan mendorong wajahku dengan tangannya yang masih menggenggam kaleng soda. Alhasil, kaleng yang masih banyak isinya, tumpah dan mengguyur wajahku. Aku gelagapan dan mendorong balik tangan Ulqui.
Kaleng terbalik ke arah Ulqui dan sisa isi kaleng tumpah ke dadanya, hampir saja mengenai ponselnya. Dia memicingkan mata penuh dendam, tapi sebisa mungkin menahan amarah dan tetap mendengarkan orang yang dia ajak bicara. Aku nyengir lebar, mengangkat tangan tinggi tanda menyerah dan menjauh darinya.
"Baiklah. Aku mengerti, terima kasih!" Ulquiorra mengakhiri sambungan, dan menundukkan kepala.
"Apa katanya?" tanyaku takut-takut, masih menjaga jarak.
"Tidak bisakah kau menunggu, Strawberry Idiot!" umpat Ulqui yang tiba-tiba mengangkat kepala dan melayangkan kaleng soda dalam kecepatan 200km/jam. Aku tidak bisa menghindar, seketika itu juga kaleng soda menghantam pelipisku.
"Akh!" erangku begitu nyeri menyebar dari pelipisku, dan beberapa saat kemudian, perlahan tapi pasti pelipisku bengkak, aku menyentuh permukaan berjendol di pelipisku, sakitnya sampai nyut-nyutan.
"Aku sedang bicara dengan pengurus utama rumah keluarga Kuchiki. Kalau sampai mereka mendengar suaramu, mereka akan curiga! Kau hampir membuat usaha ini gagal! Aku seharusnya melempar kaleng lebih keras, mungkin benturan keras akan membuat otakmu sedikit berguna!" umpat Ulqui tanpa penyesalan sama sekali.
Aku meringis pasrah. Tidak bisa membantah kata-kata Ulqui yang tepat. Tapi aku tidak salah juga! Aku hanya ingin tau apa yang mereka bicarakan!
"Tapi tetap saja kau tidak perlu membuatku benjol begini, Stoic!" balasku sengit.
Ulquiorra memejamkan mata dan menarik napas panjang. "Mereka akan mengizinkanku bertamu besok. Aku akan berusaha mencari tau keberadaan Rukia, dan mencari orang yang bisa diajak kerjasama itu. Siapa namanya tadi?"
"Yukio! Dia masih sangat muda, rambutnya pirang dan badannya tidak tinggi. Aku yakin dia akan membantu kita, tapi aku tidak yakin dia bisa membantu Rukia keluar dari rumah keluarga Kuchiki. Karena bocah naïf itu bercita-cita membawa Rukia pulang sekalipun dia tau alasan utama Rukia tidak mau pulang," jelasku.
"Alasan utama?" Ulquiorra mengulang ucapanku.
Mati! Ulquiorra kan tidak tau kalau Rukia menerima perlakuan tidak senonoh dari bajingan Kouga, dan cerita menyedihkan Rukia yang dikurung selama di rumah keluarga Kuchiki. Aku tidak bisa mengatakan kisah pribadi yang Rukia sendiri tidak mengizinkan untuk dibagi dengan siapapun. Yukio sendiripun, aku yakin dia tidak tau kalau Rukia dipaksa menghadapi birahi Kouga selama bertahun-tahun. Bocah itu hanya tau Rukia dituduh, dan berkeyakinan Rukia tidak bersalah.
"Aku bukan sok rahasia-rahasian ya Stoic, tapi lebih baik kalau Rukia langsung yang cerita. Aku tidak mau menambah daftar sebutan dari monster kerdil itu lagi," kataku terang-terangan.
Ulquiorra seolah berkata 'Macam kau saja rahasia-rahasiaan' lewat sorot matanya. Tapi dia mengabaikanku, dan mengganti kaos basahnya dengan kaos lain yang kali ini berlengan panjang. Badan Ulquiorra itu persis tengkorak ditutup kulit, pas dia angkat tangan tadi saja aku bisa melihat tulang iganya berbaris. Lagi upacara tuh tulang iga, atau lagi demo minta si empunya makan banyak. Kayaknya sih demo lebih pas.
"Aku akan memberi kabar setelah aku berkunjung ke rumah keluarga Kuchiki. Kau pulang sana!" katanya sambil duduk dan menjulurkan tangan ke arahku, seperti sedang menagih saja dia.
Aku mengerutkan alis, tidak mengerti apa yang dia minta. Tapi ada hal lain yang lebih menggelitikku, dia barusan menyuruhku pulang? "Kau mengusirku?" tembakku tidak terima.
"Berikan nomor yang bisa aku hubungi dan pulang sana!" tegasnya lagi.
"Sialan kau, Stoic!" aku berlari ke arahnya dan memiting kepalanya di ketiakku, membuat dia meronta dan menyikut perutku. "Begini sikapmu pada teman yang lama tidak minum bersama, hah? Gayamu selangit setelah keluargamu datang berkunjung!" protesku, tanpa henti menjitak kepalanya dan dia makin sering menyikut perutku. Sodokan siku Ulqui tidak sakit sama sekali, jadi aku tidak melepaskannya.
"Lepas! Kau apa-apaan sih!" dia berusaha mengimbangi tenagaku, tapi maaf saja, aku tidak akan mengalah. Cukup sakit hatiku karena kata-katanya yang tajam. Sok melankolis? Aku memang jadi melankolis, apalagi sejak terakhir kali Ulqui datang ke hotel GI dan menyatakan tidak akan mundur dari pertunangannya dengan Rukia.
"Hei, Ulqui!" aku berhenti menjitaknya, berdiri tegak, namun tidak melepaskannya dari ketiakku. "Kenapa kau tidak ingin mundur dari pertunanganmu dengan Rukia? Kau suka padanya?" tanyaku pelan, dan entah mengapa aku merasa tidak tenang, ada cemas yang tidak bisa aku jelaskan begitu mengingat kejadian hari itu.
"Kau kenapa? Mendadak serius begitu? Bukan seperti dirimu saja!" balasnya seraya memutar tanganku dan berhasil lolos dari tanganku. Dia membuka kulkas dan mengambil kaleng lain, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk.
"Kau kira aku tidak kaget tiba-tiba kakakku datang dan mengatakan aku harus pulang untuk bertunangan dengan adik bangsawan Kuchiki," tuturnya seraya duduk dan bersandar pada sofa, berusaha sesantai mungkin.
"Mana aku tau! Kau juga tidak pernah cerita!" jawabku, mengambil tempat di sebelahnya, tapi di ujung lain sofa, sehingga kami cukup memberi jarak.
"Bagaimana aku bisa cerita?! Kau yang pergi begitu saja, dan muncul di berita akan bekerja sama dengan konglomerat pemilik hotel GI. Aku sempat berpikir kau itu kerabat Pak Gin yang hilang seperti drama-drama di tv. Tapi belakangan aku tau semua bermula dari Rukia. Aku tidak tau cerita apa yang dia miliki sampai bisa masuk rumah sakit jiwa, dan bisa tinggal di apartemenmu, bahkan sekarang kalian bekerja di tempat Pak Gin." Ulqui berhenti sebentar dan mengambil ponselnya, mengutak-atik layar cepat tapi kemudian meletakkan ponselnya lagi dan melihatku.
"Aku sudah menyatakan tidak akan kembali ke keluargaku, tapi aku mengalah kali ini. Aku mengikuti skenario mereka, karena aku ingin tau apa yang Kuchiki Byakuya rencanakan. Keluargaku memang bisa mengimbangi nama besar Kuchiki, tapi aku hanya pegawai asuransi dan orang sepertinya pasti tau kalau aku tidak akur dengan keluargaku. Sikapnya yang bersikeras itu membuatku ingin tau alasan sebenarnya di balik pertunangan ini," lanjutnya dengan tatapan kosong melihat dinding apartemen.
Otak lambatku sepertinya baru menangkap pembicaraan ini. "Maksudmu, Kuchiki Byakuya memiliki maksud terselubung dari pertunangan ini?" tanyaku makin pusing, merasa tiap hari ada saja cerita baru yang membuat benang kusut di kepalaku makin kusut.
"Dia bisa saja memilih keluarga dari pejabat, atau tokoh berpengaruh lainnya. Aku sempat bertanya pada kakakku apa alasan keputusan tiba-tiba ini? Tapi kakakku tidak banyak bicara dan memintaku ikut saja. Dia berulang kali berusaha membujukku, tapi aku terus menolak. Begitu kau menghilang dan tiba-tiba muncul di berita, aku memutuskan untuk menerima pertunangan ini. Aku ingin mencari kebenaran. Tapi aku tidak akan sepenuhnya mengikuti kemauan mereka, memangnya aku ini boneka mereka? Hanya manusia bodoh yang mau ikut-ikutan tanpa punya dasar!" katanya lagi, dan matanya mengarah padaku saat melontarkan kalimat terakhir.
"Maksudmu aku bodoh dan ikut-ikutan?" Aku mendelik dan dia mengendikkan bahu santai.
"Sepertinya otakmu tambah pintar sedikit, Ichigo. Aku hanya menyindir kau langsung sadar, biasanya sampai aku menunjuk hidungmupun kau tidak merasa!" dia menarik sudut bibirnya mengejekku.
Entah aku harus merasa senang atau marah mendengar kata-katanya. Sarkasme, benar tidak sih istilah yang aku gunakan? Yang pasti dia memuji tapi juga menjatuhkanku. Dia paling pintar menggunakan kata-kata, sepertinya ilmu yang dia dan Rukia sama. Mungkin mereka belajar dari guru yang sama, atau kalau istilah drama kolosal sih, satu perguruan. Makanya mereka bisa bicara dengan gaya yang sama.
"Tapi kau betulan tidak suka pada Rukia?"
"Kenapa kau terlihat begitu panik? Kau takut aku suka pada Rukia?" tembak Ulqui.
Aku berpikir sebentar. Panik? Aku? Kenapa aku panik? Kenapa aku takut si wajah datar suka sama Rukia?
"Kau takut aku merebut perempuanmu, Strawberry?" tembakan kedua dia daratkan tepat di jantungku, dan aku makin bungkam.
"Dia bukan perempuanmu. Lagi pula siapa kau sampai aku harus jawab aku suka padanya atau tidak?" tandas Ulqui yang terlihat puas mendapatkan sikap bengongku. Wajahnya memang datar, tapi aku berani taruhan dia sedang tertawa puas melihat sikap begoku sekarang.
Ulquiorra bersikeras mengusirku. Sialan orang satu ini. Dia tidak melihat aku perlu istirahat sejenak setelah pontang panting mencari Rukia? Dia hanya meminta ponselku dan kata sandinya, dengan cepat menekan layar dan mengembalikannya padaku. Menyatakan bahwa dia sudah menyimpan nomorku dan sudah menyimpan nomornya di ponselku. Nomor apa yang dia simpan? Nomor sepatu?
Dia bahkan tidak memberikanku kesempatan untuk bicara lebih jauh, dan mendorongku keluar dari apartemennya. Aku terdiam cengo di depan pintu apartemennya, mau menggedornya tapi pasti tetangga lain akan berteriak begitu aku membuat keributan, terlebih lagi Pak Kyoraku. Oh ya! Pak Kyoraku, mungkin aku bisa bertanya tentang orang-orang berjas yang diceritakan Mila Rose.
Tapi baru saja aku berlari ke arah rumah Pak Kyoraku yang tidak jauh dari apartemen, aku melihat tulisan di pintu rumahnya.
SEDANG LIBURAN, BAYAR SEWA VIA TRANSFER. AWAS KALAU TELAT, DENDA 2 KALI LIPAT!
Hah? Liburan? Tidak salah? Wah… makin mencurigakan, bagaimana bisa Pak Kyoraku punya uang banyak dan bisa liburan? Dia menang lotre? Tidak mungkin! Warisan? Bisa jadi! Tapi sepertinya tidak mungkin juga, secara dia hidup sendiri sejak lama.
Akh… simpan pertanyaan itu untuk nanti, sebaiknya aku kembali ke hotel sekarang, siapa tau sudah ada perkembangan dari SungSun.
.
.
.
Hotel GI selalu ramai seperti biasa. Aku tidak mungkin bisa membedakan apa bedanya hotel ini kalau kedatangan artis terkenal ataupun kebakaran, keduanya sama ramainya. Aku memarkir kendaraan asal, dan sopir andalan Gin datang mengambil alih motor tepat setelah aku turun dari motor. Dia seperti telah mendapat informasi bahwa aku akan sampai. Habis bisa-bisanya dia berdiri siaga begitu di depan pintu lobby. Atau jangan-jangan di badanku di pasang pelacak, seperti film Mission Impossible atau Agen 007? Aku merinding seketika.
Si Manusia serba biru menyambutku di depan lift. Yah bukan menyambut sih, wajahnya seperti akan menyambitku malah. Dia menghentikanku yang hendak menutup pintu lift. Aku meliriknya setengah-setengah, sangking tidak sudinya aku melihat manusia serba biru ini, sampai melirikpun setengah porsi.
"Ada perkembangan tentang Rukia?" tanyanya sambil membawa sebuah dokumen di tangannya.
Aku tidak menjawabnya, menekan nomor lantai ruangan SungSun berada. Dia terus melihatku dengan matanya, dan dia menyeringai lebar seketika sambil melipat tangan di dada. Apa-apaan ini? Jangan-jangan manusia ini juga punya gangguan jiwa? Kok wajahnya bisa berubah drastic begitu, mirip Rukia!
"Kau sengaja tidak mau bicara? Kau tidak ingin aku tau, atau takut aku tau dan mengambil tindakan lebih cepat? Terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana bisa karyawan bengkel biasa sepertimu berteman dengan Rukia," katanya sambil bersandar pada dinding lift.
Sontak aku memutar badan ke arahnya. Kata-katanya tidak enak didengar. Dia sengaja mau menantangku? Belum tau kalau aku ini jago berantem. Aku tinju sekali juga sudah nangis sambil berteriak minta tolong!
"Paman Gin selalu memintaku untuk tidak ikut campur, tapi melihat sikapmu aku makin ingin ikut campur, Kledington Ichigo," koarnya lagi. Aku makin terpancing, setiap kata yang keluar dari mulutnya menyulut kemarahan di dasar hatiku. Aku sudah cukup semaput mendapati Rukia hilang, sekarang dia mau menambahkannya? Kalau makan sih nambah enak, bisa kenyang, tapi kalau masalah aku tidak perlu! Aku bahkan belum makan karena sibuk cari informasi ke sana ke sini! Yang pasti bukan mencari alamat, aku mencari informasi! Dan sekarang keponakannya bajingan itu minta aku jadikan santapan. Maaf saja, aku bukan pemakan sesama jenis! Aku berusaha menahan diri.
"Rambutmu saja yang pirang, tapi otakmu tidak terlihat seperti dari Amerika, Eropa ataupun daerah sana," cemoohnya lagi.
Percuma sabar!
Seketika itu juga aku melompat dan mencengkram kerah kemejanya. "Tidak heran, kau dan bajingan Gin berdarah sama. Kalian memiliki sifat sama!" geramku dengan gigi gemeretak menahan kemarahan, dan dia menyeringai menjawab kemarahanku.
"Aku yakin kalian merencanakan sesuatu tentang proyek Kuchiki Co. Apakah aku salah, Kledington?"
Lift berhenti ketika mencapai lantai yang aku tuju. Aku melepaskan cengkraman tanganku, tetap memasang wajah yang sama aku menepuk bahu Grimmjow.
"Rasa ingin taumu terlalu besar, sebaiknya kau simpan itu untuk mengembalikan kepercayaan Rukia padamu dari pada melakukan hal sia-sia. Bajingan bermuka dua sepertimu tidak akan punya peluang besar dimaafkan," tegasku sambil berlalu keluar lift.
Grimmjow membujur kaku, matanya membelalak besar melihat ke depan.
Yes! Aku menang kali ini. Tidak salah Rukia menceritakan kisahnya dengan Grimmjow, jadi berguna untuk menyerang manusia serba biru itu. Lihat saja, sekarang sang tertuduh malah bengong. Kenyataan kalau Rukia tidak bisa memaafkannya mungkin jauh lebih menakutkan baginya. Biar dia rasakan! Memangnya enak dibuang begitu saja tanpa alasan yang jelas.
Pintu ruangan SungSun tidak dikunci dan orang yang aku cari sedang mengetik sesuatu di layar laptop di mejanya. Dia tengah bertelepon ria, dan langsung berhenti ketika aku masuk. Dia tidak suka aku menerobos masuk, aku tau. Tapi biar saja, karena kemudian dia mengakhiri sambungan telepon.
"Aku sudah mengajarimu etika, Ichigo," gumam SungSun penuh amarah.
"Bagaimana Rukia?" tanyaku seraya mengambil tempat di kursi hadap depan mejanya. Dia meletakkan ponsel di meja, terlihat menyerah untuk berdebat lebih jauh mengenai tata karma yang tidak aku tanggapi.
"Polisi masih mencari," jawabnya lebih santai.
"Bandara?" sergahku tidak sabar, mencondongkan badan hingga hidungku hampir menyentuh laptopnya.
"Tidak ada! Semua lokasi transportasi umum sudah ditelusuri, stasiun, terminal, bandara, tidak ada nama Rukia di sana. Jadi kemungkinan dia masih dalam kota. Penculiknya tidak akan sebodoh itu menggunakan transportasi umum," sanggah SungSun, memberikan sorot mata merendahkan padaku.
"Aku hanya takut dia dibawa ke luar negeri. Baguslah kalau kau sudah menyelidiki sampai ke bandara," sahutku santai. Tidak mungkin menanggapi nada tinggi SungSun dengan nada yang sama. Sekarang ini hanya SungSun yang masih bisa aku ajak bicara baik-baik. Aku tidak mungkin mengharapkan orang lain bisa sehandal SungSun untuk memberikan informasi.
"Sebaiknya sekarang kau istirahat. Besok akan ada tinjauan lapangan juga meeting mengenai iklan untuk proyek ini. Kau harus hadir, jika selama ini kau hanya sekedar pendamping, besok kau harus menghandle semua sendiri. Grimmow tidak bisa ikut, begitu juga aku. Kau harus bertemu dengan Kuchiki Kouga sendiri ke tinjauan lapangan, dan meeting konsep iklan dengan model Inoue Orihime juga produser Hisagi Shuhei dan penulis Ishida Uryuu," cerocos SungSun tanpa memberikan jeda padaku untuk meresponnya. Dia terus saja mengetik sesuatu di laptopnya, tapi mulutnya juga berkoar, apa dia punya dua otak yang fungsinya berbeda? Bisa-bisanya melakukan dua aktivitas yang berlainan begitu dalam waktu bersamaan.
"Aku sendirian? Kau menyuruhku terjun ke medan perang sendirian?" serbuku tidak terima.
Yang benar saja! Masa aku disuruh bertemu bajingan Kouga sendirian? Aku sih tidak masalah, tapi jangan salahkan aku kalau aku lepas kendali seketika. Terakhir kali saja aku hampir menghajarnya kalau bukan Rukia yang menahanku. Apa kali ini Gin benar-benar ingin menjebloskan aku ke jurang karena Rukia tidak ada?
Kalau Kouga sih belum seberapa, tapi setelahnya aku harus menghadapi Orihime dan pasangan homo itu sekaligus? Memangnya aku ini sudah tidak punya otak? Yang benar saja!
"Aku juga punya pekerjaan lain. Bukan hanya proyek ini yang harus aku tangani, masih lagi aku harus mencari keberadaan Rukia. Seharusnya kau cukup bersyukur aku tidak menambah tugas lain untukmu. Bawa dokumen ini, sisanya akan aku email. Pelajari malam ini, dan jangan membuat kesalahan sekecil apapun. Kau tidak punya kuasa memutuskan apapun, kau hanya perlu mendengar dan mencatat hal yang penting, sisanya diputuskan oleh Pak Gin."
Auh… telingaku berdenging. Wanita ini cerewet dan tidak mengenal kata istirahat. Dia terus saja bicara menyuruhku melakukan ini itu, tapi apa dia sadar dimana batas kemampuanku? Aku bisa karena Rukia memaksaku, nah sekarang tidak ada Rukia, jadi aku tidak punya kebutuhan untuk memaksa diri.
"Jika kau macam-macam, aku tidak akan memberitahu apapun tentang Rukia," ancam SungSun dengan mata terangkat dari layar laptop, dan mengetuk dokumen yang masih tergeletak di mejanya, mengisyaratkanku untuk mengambilnya.
"Kau ini cenayangan atau apa sih? Tau saja isi pikiran orang!" gerutuku sambil mengambil dokumen di meja, membaca sampul depan file yang berbahan plastik, tertulis TIME TABLE.
Aku membuka lembar selanjutnya dan melihat garis juga kolom yang membentuk kotak-kotak yang diwarnai berbeda-beda untuk setiap penjelasan.
"Kau akan membahas five first task plan, detailnya akan aku kirimkan ke email. Tunggu lima menit lagi. Kau bisa membuka email, kan?"
Aku terbengong. Tadi makanan apa yang disebutkan SungSun? Faif apa?
"Kau baca five first task plan, lima baris awal dari jadwal itu, itu yang akan kau bahas besok dengan Kuchiki Kouga!" tegas SungSun agak kesal, dan aku mengangguk mengerti. Coba dari tadi dia pakai bahasa sederhana begitu, aku kan tidak perlu buat tampang bego dan membuat harga diriku jatuh.
"Kau bisa-"
"Bisa!" potongku cepat. "Kalau cuma buka email aku sudah bisa!" kataku lagi, tidak mau dia menusukku dua kali di tempat yang sama. Sakitnya tuh… buat aku mau makan banyak! Aku lapar…
"Tapi kenapa kau bahkan tidak bisa menggunakan ponsel?"
Oh No! Jangan bahas masalah ponsel terkutuk lagi! Lama-lama bahas itu, aku bisa benar-benar memasukkan ponsel ke daftar benda yang wajib dihindari.
Wanita berambut hitam panjang ini memang tidak pernah melepaskan mangsanya begitu bisa menangkapnya, dan sekarang aku menjadi bulan-bulanannya. Haruskah aku buat pengakuan dosa? Oke, aku akui aku tidak pintar, lulus ujian persamaan saja tidak bisa. Aku tidak pernah mengenal teknologi canggih selain urusan montir. Puas? Eurgh… Lagi emosi begini makan orang enak kayaknya!
"Kau kan berjanji akan mengajariku, jadi aku tidak bisa melakukan banyak hal karena siapa?" tembakku, dan dia terlihat tersinggung mendapati kata-kata tajam balik padanya. Ho Ho Ho… satu pukulan berhasil mengenai wajah SungSun. Yah… tidak telak telak bangetlah kekalahanku.
"Sepintar apapun pengajar, semua tergantung dari kemampuan otak si murid," sahut SungSun sinis.
Ouch… yang ini jauh lebih menyakitkan.
"Sudahlah! Aku tidak mau meladenimu!" kataku akhirnya, tidak ingin melanjutkan pembicaraan tidak penting ini dan bangun dari kursi, berbalik meninggalkan meja SungSun
"Oh ya, satu lagi!" aku memutar badan lagi, SungSun mengangkat wajah dari layar laptop.
"Sebaiknya kau perhatikan keponakan direktur tersayangmu itu. Dia sepertinya sedang mengorek informasi tentang rencana ini. Kalau sampai rencana balas dendam ini gagal total karena keponakannya sendiri, bukankah Gin malu?" ucapku santai tapi mengancam, dan SungSun tidak memberikan reaksi lebih selain diam dan kembali menatap layar laptopnya.
Aku kembali ke kamar, membuka baju yang luar biasa lengket. Kalau begini ceritanya, aku bisa jadi ketan ragi! Badan mengeluarkan aroma asam yang bisa buat orang sekampung pingsan. Bisa sih aku buat aroma terapi, tapi terapi kematian. Asem… Asem…
Mandi, makan dan istirahat. Badanku sudah kaku dan berteriak minta rebahan.
.
.
.
Sudah tiga hari berlalu sejak Rukia menghilang, dan belum ada perkembangan apapun.
Kenapa?
Jangan tanya aku! Salahkan Gin yang tidak bisa menggunakan koneksi sebegitu luasnya! Aku kan cuma karyawan yang tidak punya kuasa apa-apa.
Ulqui juga tidak bisa menerobos pengawalan rumah besar keluarga Kuchiki. Dia memang sempat datang ke rumah keluarga Kuchiki, tapi dia hanya sampai di ruang tamu dan bertemu Kuchiki Byakuya. Dia sempat cerita kalau gerak geriknya diperhatikan 100% oleh kepala keluarga berhati es balok itu. Bahkan saat numpang buang air kecil, dia diantar pelayan dengan alasan takut Ulqui tersesat. Nah, itu kan gila! Sebesar apa sih rumah itu, sampai orang ke kamar mandi aja sampai nyasar?!
Ulqui pulang dengan tangan kosong, tapi dia tetap yakin Rukia ada di rumah itu. Karena tidak mungkin ada pengawalan sebegitu ketat kalau rumah hanya dihuni orang biasa. Yah… kecuali rumah itu memang biasa begitu, alias banyak pengawal dan sipir seperti penjara. Gila! Itu rumah apa rutan?!
Aku berusaha menghubungi bocah pirang sepupu Rukia, tapi pertemuan yang aku lakukan selalu dihadiri bajingan Kouga, tidak ada Yukio sama sekali. Padahal terakhir kali di hotel GI bocah itu muncul. Untung kondisi semaput begini, aku tidak perlu bertemu pasangan homo dan Orihime. Pembahasan iklan terpaksa ditunda sampai minggu depan. Baguslah!
Argh… otakku buntu! Aku tidak bisa tidur sama sekali!
Sebelumnya aku tidak bisa nonton film porno karena ada Rukia, tapi sekarang tidak ada Rukiapun aku tidak punya hasrat menonton film. Semua tenagaku terkuras di kantor, selalu pulang di atas jam 8. Aku kerja sudah seperti orang benar saja! Tidak ada yang membantuku, SungSun tidak, apalagi manusia dengan cat biru mengalir di badan, alias Grimmjow.
Gin… Keparat itu sengaja membuatku terkekang sepenuhnya di sini, tidak ada peluang untuk menyelinap keluar dan mencari informasi tentang Rukia dari tempat lain. Orang-orang di bengkel juga tidak punya kabar apapun. Renji sampai meminta ayahnya, yang tidak lain adalah dokter di rumah sakit besar untuk ikut membantu, tapi semuanya nihil.
Argh… Capek…
Aku membanting badan di sofa, melihat layar laptop yang lupa aku matikan sebelum berangkat tadi pagi. Ada tampilan tanda, kalau Rukia sih menyebutnya noti.. apa sih dia bilang waktu itu? Noti… Notifikasi? Nah itu! Ada notifikasi di layar laptop. Menunjukkan ada dua email baru masuk.
Email jam segini? Paling juga SungSun, siapa lagi yang gila kerja sampai jam segini kalau bukan sekretaris bertangan besi seperti SungSun.
Aku menggeliatkan badan, menguap besar meregangkan otot yang kaku, kelamaan duduk pantatku bisa sedatar jalanan baru aspal!
Sambil membuka kancing kemeja, aku berjalan ke dapur, haus, mau minum. Tapi belum sampai kulkas, telepon kamar bunyi nyaring. Apa lagi sekarang?
Kepalaku sudah cukup penuh, badanku juga capek! Mending aku kerja di bengkel, pulang tinggal tidur tidak perlu berpikir keras perencanaanlah, koordinasilah, cek progresslah, semua itu makanan aneh untuk otakku! Sekarang sudah pulang juga masih diteror? Teror mata sapi aku suka! Teror pekerjaan justru membuatku mau muntah.
"Apa?" sahutku kesal sambil menempelkan gagang telepon ke telinga.
"Kau belum mengirim laporan kunjungan hari ini," suara SungSun datar tapi menuntut. Sumpah, aku bisa membayangkan dia tengah mengepalkan tangan menahan kesal. Dia kan paling tidak bisa melihat sikap tidak sopanku, padahal dia sudah susah payah mengajarkan tata krama.
Aku menggaruk kepala frustasi sambil mendesis kesal.
"Iya! Aku baru sampai! Tidak cukup memintanya lewat email, kau masih menerorku di telepon?!" semburku tanpa menahan sedikitpun emosi yang sudah arisan di kepala.
"Email? Meminta laporanmu lewat email tidak akan efektif! Buang-buang waktu! Kirimkan laporanmu dalam satu jam, atau aku kirimkan orang untuk menyeretmu ke ruanganku," tandas SungSun sebelum mengakhiri pembicaraan dengan bantingan keras gagang telepon.
Sialan! Kupingku sampai berdenging.
Tunggu dulu! Dia bilang tidak mengirimkan email, lalu email siapa…
Aku kembali ke layar laptop dan menegaskan pandanganku ke notifikasi di pojok kanan bawah layar laptop.
Tiga email baru dari Rukia.
Rukia?
Rukia kirim email?
Sontak aku menarik laptop agar sepenuhnya menghadapku, dan aku melihat email pertama dikirim lima belas menit lalu, email kedua lima menit kemudian, dan email yang terakhir baru saja masuk semenit lalu.
Ini beneran Rukia yang kirim? Bagaimana mungkin?
Aku menggenggam mouse dan membuka email pertama.
Kalau dari alamatnya sih memang alamat email Rukia, ditujukan untukku, tanpa tembusan ke siapapun.
Isi pesannya antara membuatku lega dan bingung...
Aku di rumah keluarga Kuchiki. Saat aku bangun aku sudah di kamar lamaku. Kakak pasti yang membawaku, tapi aku belum bertemu dengannya sampai sekarang. Aku baik-baik saja, dan jangan bertindak bodoh.
Rukia
Kenapa dia mengingatkanku jangan bertindak bodoh?
Memangnya aku ini bodoh-bodoh amat ya? Keterlaluan sekali dia mengancamku dengan kata-kata begitu. Lega sih tau dia baik-baik saja, tapi pesan jangan bertindak bodohnya itu yang buat sebuah batu mengganjal di hatiku. Bukannya dia minta dijemput atau diselamatkan dari rumah hantu dan terkutuk itu, dia malah bilang jangan bertindak bodoh? Bukannya dia membenci rumah itu sampai ke tulang? Atau mungkin gara-gara kecelakaan itu, kepalanya terbentur hebat dan dia jadi lupa kalau dia benci rumah keluarga Kuchiki dan seluruh isinya?
Seharusnya dokter memeriksa dia lebih lama. Bisa gawat urusannya kalau otaknya error betulan.
Nanti dulu urusan ke dokternya, aku menggerakkan kursor mouse ke email kedua.
Pengirim dan tujuannya masih sama.
Subyek : Data untuk Pak Gin
Untuk Gin? Kalau memang dia mau kirim email untuk Gin, kenapa juga dia kirim kepadaku? Bukan langsung ke Gin atau SungSun, jadi aku tidak perlu menjadi burung beo baginya!
Isi pesannya:
Berikan data ini kepada Pak Gin, dia akan tau apa yang harus dia lakukan.
Aku akan berusaha mencari informasi lain selama aku berada di rumah Kuchiki.
Usahakan semua berjalan sesuai rencana.
Rukia
Ada dua lampiran dalam email kali ini.
Pertama adalah Rapat Umum Pemegang Saham Kuchiki Co. dan yang kedua adalah Daftar Pemegang Saham Updated 2015
Apa-apaan ini?
Rukia mencari informasi di rumah keluarga Kuchiki tentang Kuchiki Co.?
Bahkan dalam kondisi tidak sehat dia masih berusaha menjalankan misi balas dendamnya?
Kau ini perempuan monster betulan Rukia!
Aku membuka file pertama, isi halaman lebih dari 20, aku baru baca dua lembar pertama sudah pusing, akhirnya aku tutup dan pindah ke dokumen kedua, kali ini bentuknya excel dan aku melihat table yang berisi nama, alamat, juga angka yang nolnya berbaris.
I… ini daftar pemegang saham Kuchiki Co.? Apa yang akan Rukia lakukan pada daftar ini?
Seketika itu juga aku merasa salah satu adegan di film aksi, dan aku salah satu aktor yang tengah mengumpulkan data sebelum menyerang musuh. Bulu tengkukku berdiri secepat kilat.
Apakah ini alasanmu mengatakan kau baik-baik saja dan memintaku tidak bertindak bodoh, Rukia?
Kau menjadikan dirimu sendiri sebagai umpan, dan menggeledah rumah keluarga yang kau benci agar bisa mencari bahan untuk aksi balas dendammu? Memangnya kau ini Charlie Angels? Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini? Apa kau tidak memikirkan resikonya? Di rumah itu banyak penjaga, mereka bisa kapan saja menangkapmu sedang mengacak-acak kamar Kuchiki Byakuya.
Hatiku mengerut, cemas memikirkan bagaimana Rukia akan menghadapi mereka semua sendirian.
Kau selalu bilang aku ini bodoh, tapi apa kau tidak jauh lebih bodoh sekarang?
Aku menyandarkan diri sepenuhnya di kursi, lelah yang sudah ditanggung badanku sekarang makin parah. Semua tenagaku hilang begitu aku membaca email Rukia. Tanganku bergerak mengusap wajah sambil menarik napas panjang. Belum cukup Rukia membuatku kalang kabut karena menghilang tiba-tiba, begitu aku tau keberadaannyapun aku bukan tenang malah makin sepaneng! Monster Kerdil! Seberapa jauh kau membuatku tidak tenang?!
Tangan kiriku menopang kepala di atas meja, malas menggerakkan tangan kanan untuk membuka email terakhir, paling isinya dokumen lain untuk balas dendamnya.
Kali ini dia mengirimnya tanpa subyek, entah lupa atau apa.
Aku peringatkan kau jangan bertindak bodoh!
Secepatnya serahkan dokumen ini pada Pak Gin. Tinggalkan dulu perseteruan kalian berdua. Untuk bisa menyelesaikan balas dendamku, kau harus menahan diri. Bukankah kau sudah berjanji akan membantuku hingga akhir?
Aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan semua usahaku. Lagi pula, semakin baik kau bekerjasama, semakin cepat kau berurusan dengan Pak Gin. Aku hanya perlu melihat seluruh keluarga Kuchiki jatuh miskin dan dibuang ke jalanan.
Bersabarlah hingga hari itu.
Jangan coba macam-macam, Otak Mesum!
Rukia
Aku menghela napas lebih panjang dan berat dari sebelumnya.
Apa-apaan Rukia? Dia punya nyali besar sampai berani mengancamku?
Kau mau aku memenuhi janjiku? Kau mau aku membantumu sampai akhir?
Pria sejati tidak akan mengingkari janjinya, lagipula kau sudah mempertaruhkan penisku dalam perjanjian setanmu, kan?
Mana bisa aku jadi pria sejati tanpa penis.
Semakin cepat acara balas dendam ini, semakin cepat aku tidak perlu lagi melihat si keparat Gin!
Oke!
Aku membalas email terakhir Rukia dengan kata-kata singkat.
Aku mengerti, Kerdil!
Sebelum memindahkan file lampiran ke memori card, dan mengancingkan kemejaku lagi, berjalan ke ruangan Gin sekalipun kakiku berat bukan main. Memangnya siapa yang mau dan sukarela bertemu keparat itu? Suka saja tidak, apalagi rela! Cih! Tidak sudi!
Perlu diingat aku melakukan ini karena ancaman tak berguna Rukia, juga sumpah tak berperikelaki-lakiannya itu, hiks hiks...
Penisku...
Hah... kalau dipikir-pikir, mungkin balas dendam yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang.
.
.
.
Xx - - Brainless - - xX
September 16, 2015
No more words from me.
At least, this chapter faster than I thought.
Sorry for typos.
