Seoul Love Story

.

.

Park Min Rin

.

.

Genre: Romance, Drama

.

.

Rate: T

.

Length: Chaptered

.

.

Disclaimer: KyuMin milik Tuhan. Kyuhyun milik Sungmin dan Sungmin milik Kyuhyun, mereka saling memiliki. Sungjin dan Sasuke milik siapapun(?) yang ingin memiliki(?) mereka, tapi yang pasti Kim Seokjin dan FF abal ini milik saya seutuhnya. :D

.

.

Warning: YAOI, Typo(s), DON'T LIKE DON'T READ! NO BASH! NO PLAGIAT! SLOW UPDATE! DRAMA! KONFLIK! BAD LANGUAGE! Sangat tidak disarankan untuk yang tidak sabaran(?) :D

.

.

.

enJOY~

Chapter 20 (2)

.

~(*o*)~

.

This fict is dedicated..

To the world biggest shipper..

The JOYers..

A/N: (1) Chapter ini bagian kedua dari chapter 20, (2) yang penasaran kelanjutan silahkan dibaca dan tinggalkan review dengan bahasa yang baik dan sopan, (3) jangan berharap full of sweet KyuMin seperti chapter kemarin, FF ini lokasi konflik dear, jadi jangan nodong full of pacar-pacaran(?) #lol (4) yang tanya soal PO buku dan e-book langsung kontak saya via PM FB dan FFn, (5) buat yang baru datang, baru review, atau pun ketinggalan lanjutan FF ini, selamat datang ya :)

.

~(*o*)~

.

Kini Sungmin berdiri di depan pintu rumahnya. Apartemen dengan nomor 73—tempat tinggalnya bersama empat orang adiknya. Untuk kedua kalinya dia tidak menekan bel. Hanya memasukkan kode—menimbulkan bunyi 'tut tut tut tut kling'—lalu pintu terbuka.

Suara TV terdengar cukup keras, kebiasaan si kembar saat menonton acara favorit mereka. Wajar jika penghuni rumah tidak mendengar bunyi khas saat pintu terbuka.

Tatapan Sungmin tertuju pada rak sepatu. Di rumah appa-nya ia bisa keluar masuk menggunakan sepatu maupun sandal, tapi di sini ia harus mengganti sepatu dengan sandal atau tidak menggunakan alas kaki.

Jika di rumah appa-nya hanya ada sepatunya dalam satu rak, di sini ada banyak sepatu berbagai ukuran dalam satu rak. Ada sepatu Seokjin yang lebih besar dari sepatunya, ada sepatu Jimin yang lebih kecil, dan sepatu si kembar yang paling kecil, juga satu-satunya sepatu perempuan milik ibunya.

Terasa sangat berbeda. Namun Sungmin tidak bisa membandingkan keduanya. Di sini terasa hangat karena ada ibu dan saudara-saudaranya. Tapi di rumah yang Kyuhyun sebut istana itu juga terasa hangat karena ayahnya berada di sana. Mungkin orang-orang akan berpikir dia egois. Sungmin memilih ayahnya dan meninggalkan ibu juga saudara-saudaranya.

Kalian hanya belum tahu rasanya memiliki sesuatu yang tidak pernah kalian miliki.

Orang-orang selalu mengoloknya tentang anak haram tanpa ayah, membanggakan bagaimana mereka memiliki ayah sedangkan ia tidak. Lalu saat kau berkesempatan memiliki hal yang kau idam-idamkan, apakah menjadi sebuah kejahatan jika kau benar-benar memilikinya?

Apakah salah jika Sungmin ingin memiliki ibu dan ayahnya di saat bersamaan?

"Eomma, Jungkook-ie mematahkan pensil warnaku!"

Suara berat Taehyung menyentak Sungmin dari lamunannya. Anak itu—Taehyung—dan Jungkook benar-benar kembar tidak identik. Wajah mereka berbeda, kepribadian berbeda, suara mereka juga berbeda. Jungkook punya suara halus, sedangkan Taehyung serak.

"Jungkook-ah..." suara halus serupa suara Jungkook terdengar dari arah dapur. Suara ibunya. Sedetik kemudian suara cempreng Jungkook menyambar keras. "Aniya! Hyung-ie yang menggangguku duluan!"

"Taehyung pinjam pensil warna Jimin hyung dulu, besok eomma temani beli yang baru."

"Jinjja?"

"Ahh eomma~ Pensil warnaku juga patah! Aku juga mau yang baru!"

"Haish! Apa sih yang kalian ributkan?"

Sungmin tersenyum mendengar suara Seokjin. Adiknya itu masih galak, seperti biasanya.

"Jin-ie hyung 'kan sedang pakai earphone, kenapa marah-marah saat mendengar suara Jungkook dan Taehyung?" suara tenang Jimin terdengar. "Aku yang mendengar langsung saja tidak masalah."

"Aku kalah main game gara-gara kalian! Kalian tidak tahu aku bertaruh berapa..."

"Kau ikut taruhan lagi? Appa-mu bilang kau sudah kalah taruhan game online lima kali sebulan ini, Seokjin-ah!" ibunya mengomel dari arah dapur.

"Jangan katakan pada appa soal ini! Kalau appa sampai tahu, aku akan berkeliaran di jalan! Kalian tidak usah mencariku!"

Masih di posisinya, Sungmin diam mendengarkan semua itu. Walaupun sedikit aneh karena tidak ada interaksi seperti ini sebelumnya, tapi Sungmin bersyukur semuanya menjadi lebih baik.

Telepon rumah berbunyi, si kembar kembali ribut soal siapa yang harus mengangkat telepon. Seokjin kembali marah karena adik bungsunya selalu ribut, jadi Jimin yang lagi-lagi dengan tenang mengangkat telepon. Tak lama setelah mengatakan yeoboseyo anak itu berseru heboh.

"Hoookkk! Ajussi?" sebutnya. "Eomma, appa-nya Sungmin hyung telepon! Cepat kemari!"

"Ne?"

Ibunya pasti terlalu terkejut, ia berlari dari dapur tanpa menyadari kehadirannya.

Sungmin masuk lebih jauh ke dalam rumah ketika mendengar ibunya yang tadi mengatakan 'halo' dengan tenang, mulai menaikkan nada suaranya. "Aku bersumpah dia tidak di sini!"

Oh Daniel pasti mengatakan hal buruk dengan kata-kata kasar.

"Oppa! Kau bisa menyuruh seluruh anak buahmu untuk mengacak-acak rumahku jika Sungmin memang di sini! Kenapa kau selalu menuduhku..."

"Eoh? Sungmin hyung?" Jimin yang tengah berdiri menatap Hyuna menyadari kehadiran Sungmin. Si kembar yang sedang menggambar langsung mendongak, menatap Sungmin. Demikian pula dengan Seokjin yang langsung bangkit dari posisi 'kucing malas'nya.

"Dia..." Hyuna yang juga tengah menatapnya menyahut pelan. "...baru saja tiba di sini."

Oh Daniel sepertinya berteriak marah di seberang sana, terlihat jelas karena Hyuna terlonjak kaget sebelum menjauhkan telepon lantas menatapnya. "Appa-mu... ingin bicara."

Sungmin tidak menjawab apapun, dia bergerak mengambil alih telepon kemudian menghadapi kemurkaan ayahnya.

"Halo."

"Apa yang kau lakukan di sana hah? Kau kembali ke sana? Bukankah kau berjanji akan tinggal di sini bersamaku?"

Walaupun sudah memperkirakan, Sungmin masih terkejut akan reaksi ayahnya. "Appa... aku hanya mengunjungi..."

"Dia memaksamu kembali ke sana? Atau kau tidak betah tinggal denganku?"

"Bukan seperti itu."

"Kalau bukan seperti itu pulang sekarang!"

Sungmin melirik ibunya, kemudian adik-adiknya yang juga menatap penasaran padanya. Kekesalannya tiba-tiba memuncak. "Appa! Jangan berlebihan! Aku tidak akan meninggalkanmu! Aku hanya mengunjungi eomma dan adik-adikku. Aku akan kembali ke sana nanti. Jadi, berhenti berteriak padaku atau aku tidak akan kembali ke sana!"

Tidak ada sahutan dari seberang. Jadi Sungmin melanjutkan dengan nada bersalah. "Aku berada di tempat ini. Ini rumah eomma. Tidak ada hal buruk di sini. Appa bisa menemukanku kapan saja. Aku juga akan kembali ke sana nanti. Jadi, appa berhentilah khawatir."

Helaan napas terdengar dari seberang.

"Appa?"

"Hm?"

"Jangan melakukan apapun pada Joon. Tadi aku membentaknya karena melarangku kemari."

"Masih berani kau meminta hal seperti itu? Kau yang akan kumarahi nanti!"

Sungmin tersenyum kecil. Oh Daniel selalu berhati-hati saat bicara dengannya, tapi entah mengapa rasanya menyenangkan dimarahi seperti saat Oh Daniel marah pada Doojoon—kakak yang selalu salah di mata ayahnya.

"Arra. Tolong batalkan jadwal temuku dengan dokter Kang malam ini. Appa juga tidak usah menungguku dan katakan pada Joon untuk membawakan perlengkapan sekolahku besok. Kurasa aku akan menginap di sini."

"Mwo!"

"Ne. Jalja!"

Sungmin segera memutus panggilan padahal ia mendengar ayahnya masih berteriak di ujung sana. Pasti sekarang pria itu sedang marah-marah. Ia sedikit merasa bersalah, kalau suasana hati Oh Daniel memburuk para penghuni rumah yang jadi imbasnya.

"Hyung-ie akan menginap di sini?" suara bahagia Jungkook terdengar. Sungmin menoleh kemudian tersenyum lebar. "Boleh tidak?"

"Tidak boleh! Kembali ke rumahmu sana!" usir Seokjin dengan sadis. Si kembar langsung melemparkan pensil warna pada kakaknya. "Jin-ie hyung saja yang tidur di luar sana! Hush! Hush!"

"Aku selalu membersihkan kamar Sungmin hyung, jadi hyung-ie bisa tidur di sana!" seru Jimin dengan senang. Si kembar ikut berseru kemudian menghambur, memeluk Sungmin.

"Ah hyung, bogoshippo. Kami mau bermain ke rumah Sungmin hyung lagi tapi eomma bilang tidak boleh," adu Taehyung.

"Majayo. Padahal di sana banyak mainan bagus, ada kolam renang, ada taman bunga, kasurnya empuk, kamar mandinya juga luas luas sekali."

"Kalian mau tinggal di sana?" tanya Sungmin membuat suasana berubah hening seketika.

"Jinjja?" Seokjin akhirnya menyahut kaget. "Di rumah itu? Rumah besar yang kemarin?"

"Sungmin-ah, istirahatlah," Hyuna segera menghentikan situasi. Yang benar saja. Situasi tidak mengizinkan mereka untuk berada di sana.

"Eomma waeee? Kami masih ingin bicara dengan Sungmin hyung," protes si kembar.

"Sungmin hyung pasti lelah. Kalian juga harus menyelesaikan tugas."

"Gwaenchana, aku bisa menemani mereka."

Hyuna menatap Sungmin tak percaya. Pertemuan terakhir mereka berlangsung dengan buruk. Sekarang anak ini muncul dan terlihat lebih lunak dibanding biasanya. Sungmin bahkan menatapnya menatapnya lebih sering dibandingkan sebelumnya.

Jadi saat Sungmin tengkurap di lantai, menemani Jungkook dan Taehyung yang menyelesaikan tugas prakarya, Hyuna hanya bisa menyaksikan itu dalam diam.

"Eomma. Buatkan aku sesuatu. Aku lapar."

Hyuna terpekur dalam posisinya. Jantungnya berdegup cepat. Matanya yang semula hanya bersinar sendu perlahan dibanjiri genangan air mata. Seumur tinggal dengannya, Sungmin tidak pernah bicara banyak atau meminta sesuatu seperti ini. Setelah sekian lama, anak itu datang sendiri mengunjunginya lalu bersikap layaknya seorang anak—anak yang merepotkan. Setiap anak dilahirkan memang untuk merepotkan ibunya.

"Eomma, kenapa masih di sini?" tanya si kasar Seokjin. Alisnya bertaut sebal. "Buatkan sesuatu, Sungmin hyung lapar. Sekalian gorengkan kentang untukku."

"Aku mau kentang juga!"

"Aku coklat dingin!"

"Aku mau sosis dan coklat dingin! Kalau lama, kami tidak akan bayar."

Seokjin tergelak mendengar ucapan terakhir Jungkook. Itu ucapannya saat mereka memesan delivery food. Anak-anak itu tertawa dengan bahagia, tampak begitu gembira hingga terasa mengharukan. Hyuna ikut tersenyum kemudian berlalu ke dapur.

"Eomma jangan lupa sausnya!"

"Ne."

Sungmin menoleh, menatap ke arah dapur dan menemukan ibunya diam-diam menyusut air mata. Seolah merasakan ikatan batin, tanpa sadar lapisan air bening mulai mengisi setiap sudut matanya.

Seteleh mendengar cerita Yun ajumma, Sungmin merasa menyesal. Wanita itu menceritakan masa lalu ibunya, tentang ayahnya. Bercerita bagaimana ia bisa ia bisa terlahir, lalu tentang adik-adiknya. Sungmin sungguh tak menyangka hidup ibunya seperti itu.

Seharusnya ia bukan hanya diam menatap punggung ibunya. Seharusnya ia tak ragu saat berpikir untuk memeluk ibunya. Walaupun kenyataan terasa begitu menyakitkan, tapi faktanya perempuan itulah yang memperjuangkan hidupnya.

"Hyung-ie... uro?" suara Taehyung terdengar. Anak itu memang berhadapan dengan Sungmin, jadi dia bisa melihat langsung wajah kakaknya.

"Oh? Hyung-ie wae? Ada yang sakit? Kenapa menangis?" kali ini Jungkook yang bertanya. Bibir bocah kecil itu bahkan sudah maju, bersiap menangis.

Sungmin menatap adik-adiknya, kembali mengingat cerita Yun ajumma. Mereka hidup bersama selama ini, tapi setelah ini mungkin tidak lagi. Memikirkan itu membuat Sungmin tak bisa lagi menahan perasaannya.

Ia bangkit dari posisinya kemudian memeluk si kembar dan Jimin yang berada di dekatnya. Mendengar kakaknya terisak-isak, mereka juga perlahan ikut menangis tanpa tahu apa yang terjadi.

"Waegeurae?" Hyuna setengah berlari dari dapur saat mendengar suara tangis anaknya.

Di sana ia melihat Sungmin tengah menangis sambil memeluk adik-adiknya. Seokjin hanya terdiam di sofa, tangannya menggenggam erat ponsel dan sementara bahunya bergerak naik turun dengan cepat. Terlihat jelas bahwa anak nakal itu tengah berusaha menahan tangisnya.

"Apa yang terjadi, Seokjin-ah? Hyung-mu sakit?" tanya Hyuna pada Seokjin.

Anak itu hanya diam kemudian menyembunyikan wajahnya di lengan sofa. Benar-benar menangis tanpa suara.

"Eomma," panggil Sungmin di sela senggukannya. "Tidak bisakah aku membawa mereka? Tidak bisakah mereka tinggal denganku? Tidakkah bisakah kau memohon agar membiarkan mereka bersamaku? Mereka adikku. Kenapa kau harus mengembalikannya pada orang lain?"

Telapak tangan Hyuna langsung membungkam mulutnya, menahan agar tangisnya tak terdengar.

"Semua ini bukan salahku. Bukan salah kami. Bukan salah eomma juga. Jadi kenapa harus seperti ini?"

Malam yang dimulai dengan tawa itu perlahan berubah menjadi malam penuh tangis. Untuk yang kedua kalinya bagi Sungmin.

...

Yun ajumma mengulurkan sapu tangan pada laki-laki di depannya. Wanita paruh baya itu baru menyelesaikan cerita tentang hubungan Hyuna, Daniel, Siwon, dan Hyunseung. Ia hanya bisa menyampaikan bagian yang Hyuna ceritakan padanya.

Mungkin sangat mengejutkan, ia memahami jika Sungmin sulit menahan emosinya. Air mata anak itu terus mengalir hingga wajahnya berubah sembab. Masih banyak hal yang ingin diceritakannya, karena itu ia membantu Sungmin untuk minum teh. Setidaknya itu sedikit membantu meredakan emosinya.

"Aku baik-baik saja," ucap Sungmin berbohong. Siapa yang akan merasa baik-baik saja setelah tahu bahwa ia terlahir dari hubungan buruk ayah dan ibunya di masa lalu?

Sungmin mulai mengerti kenapa Siwon dan Kibum selalu ribut tentang dirinya. Ia juga memahami mengapa Yesung dan Doojoon sangat membencinya. Seperti yang Yun ajumma katakan, salah paham memang awal dari setiap kemalangan.

"Kau mungkin sudah tahu siapa ayah dari adik-adikmu. Semua dokumen yang disimpan eomma-mu adalah dokumen resmi. Eomma-mu berbohong soal menggunakan dokumen itu untuk memeras ayah kandung adik-adikmu. Sedikit sulit memahami eomma-mu, tapi dia melakukan itu karena merasa serba salah. Dia tak ingin melepas kalian, tapi juga tak bisa mengikat kalian untuk dekat dengannya. Eomma-mu bilang dia merasa hidup sekali pun hanya melihat kalian di sekitarnya."

"Jadi perjanjian seperti apa yang ajumma katakan tadi?"

Setelah satu helaan napas panjang, cerita lama kembali berlanjut.

"Yang harus kau tahu lebih dulu, kau dan adik-adikmu bukan anak haram, apalagi tidak diinginkan oleh ayah kandung kalian. Kau bisa melihat bagaimana Tuan Kim begitu menyayangi Seokjin, sekarang kau juga bisa merasakan hal yang sama. Tuan Oh juga sangat menyayangimu. Kalian anak-anak manis yang penuh cinta. Masalahnya terletak pada situasi yang salah."

Kali ini Yun ajumma menyodorkan dua lembar foto pada Sungmin. "Kau pasti familiar dengan mereka," kata wanita itu. Ya, dua sosok berbeda yang ada pada foto itu adalah Park Haejin, salah satu petinggi Badan Intelejen Negara dan Perdana Menteri Jeon Dong Gun. Sungmin tahu kalau Tuan Park adalah ayah kandung Jimin dan si kembar adalah putra Tuan Jeon.

"Tidak sepertimu, Seokjin dan JungTae lahir karena ibumu melakukan inseminasi. Hyuna sangat terpukul setelah kehilanganmu. Dia stress berat setiap melihat anak kecil. Jadi Tuan Kim membantunya dengan cara itu. Mereka berteman baik selama di Amerika hingga sekarang."

"Lalu Jimin?"

Keheningan menjeda beberapa saat. Sungmin hampir kembali bertanya saat Yun ajumma menatapnya. "Dia sama sepertimu. Eomma-mu bekerja di bar semenjak kembali dari Amerika. Dari sana dia mengenal Tuan Park. Eomma-mu bilang awalnya mereka dekat sebagai teman, lagi pula Tuan Park tidak pernah ingin terikat hubungan. Sampai sekarang dia tidak menikah. Dia tidak mencintai eomma-mu, begitu pula eomma-mu. Hanya terjadi begitu saja, lalu eomma-mu hamil.

"Hubungan mereka berlangsung baik awalnya, Tuan Park tak ingin terikat, eomma-mu juga tidak masalah. Jadi mereka hanya terus berhubungan sebagai teman. Saat Jimin lahir, skandal tentang hubungan mereka mulai tercium publik. Jadi eomma-mu memilih untuk menjauh dan merawat Jimin, tapi Tuan Park tetap bertanggung jawab untuk Jimin. Sebenarnya Tuan Park ingin membawa Jimin sejak awal, tapi karena Seokjin kecil sudah paham kalau dia punya adik, Tuan Park mengizinkan eomma-mu tetap dengan Jimin sampai batas waktu nantinya. Tuan Park orang yang baik dan hubungan mereka juga terjalin baik sampai sekarang."

Sungmin tidak mengerti bagaimana bisa ada hubungan seperti itu. Kau tidak mencintai orang itu, tapi kau hamil anaknya. Adakah yang seperti itu?

Ada! Ibunya dan Tuan Park Haejin! Dan itulah dunia orang dewasa.

"Bagiku kau sudah dewasa. Sudah seharusnya kau tahu apa yang terjadi, Sungmin-ah. Eomma-mu hidup sendiri dengan kondisi yang begitu sulit. Sekali pun tidak bisa dibenarkan, kau tidak boleh memandangnya dari satu sisi."

"Aku berharap tidak pernah menjadi dewasa. Orang dewasa begitu sulit dipahami."

Senyum hangat Yun ajumma terlukis. "Tapi kau memerlukan itu untuk mengenal dunia."

"Ajumma belum menceritakan soal ayah kandung Jungkook dan Taehyung."

"Ah, soal mereka berdua... sebenarnya sedikit rumit. Bisa dikatakan cukup serius. Kau pasti tahu kalau perdana menteri Jeon sudah berkeluarga. Dia memiliki dua anak perempuan. Anak pertamanya bekerja sebagai dokter, anak keduanya masih kuliah di luar negeri."

"Lalu?" tanya Sungmin sambil mengusap matanya yang terus berair.

"Di drama-drama kau pasti tahu banyak konglomerat yang menikah bukan karena cinta."

"Ajumma, aku serius!"

"Nado! Istri Tuan Jeon dan keluarga besarnya sangat serakah. Anak pertamanya tidak tertarik dengan dunia bisnis apalagi politik, anak keduanya lengket sekali dengan ibunya. Perdana menteri tidak bisa percaya siapa pun di keluarganya. Karena itu ia membutuhkan penerus lain yang seratus persen berada di pihaknya."

"Eomma menggoda pria beristri?" tebak Sungmin.

"Ya! Jaga mulutmu! Ibumu bukan orang seperti itu!"

"Lalu?"

"Perdana Menteri Jeon adalah orang yang mensponsori Tuan Park Haejin selama pendidikan, jadi beliau menceritakan masalahnya. Karena Tuan Park tahu tentang Seokjin yang lahir dari inseminasi, beliau yang menyarankan agar perdana menteri meminta bantuan eomma-mu untuk melakukan hal yang sama. Lalu terjadilah seperti itu. Eomma-mu sulit menolak permohonan orang lain, apalagi jika orang itu mengiba padanya. Eomma-mu berani kembali hidup di kota ini setelah Perdana Menteri Jeon menjaminnya tetap aman. Tapi... sampai sekarang aku tidak bisa berhenti kagum."

"Wae?"

Yun ajumma menatap Sungmin serius. "Kehidupan eommamu seperti di drama-drama. Begitu sulit, tapi koneksinya tidak main-main. Ayahmu pengusaha kaya raya, ayah Seokjin salah satu aktor kaya di negara ini, ayah Jimin petinggi lembaga penting negara, lalu ayah Jungkook dan Taehyung ternyata perdana menteri. Tidakkah kau merasa itu sangat..."

"Tidak. Tidak ada yang hebat kalau setelah ini aku tidak bisa bersama mereka."

Raut wajah Yun ajumma berubah sendu. "Aku juga tidak bisa melakukan apapun. Eomma-mu terus mengulur waktu untuk tetap bersama adik-adikmu dan memang sejauh itu dia bisa melakukannya. Biar bagaimana pun ayah kandung adik-adikmu tetap membutuhkan mereka. Selama ini ayah Jimin hidup sendiri, dia juga pasti ingin hidup bersama anaknya. Perdana Menteri Jeon juga akan pensiun sebentar lagi. Eomma-mu bilang JungTae butuh pendidikan yang lebih baik untuk menjadi penerus..."

"Tidak bisakah jika eomma cukup mengenalkan tentang ayah kandung mereka? Lalu biarkan mereka tinggal bersama," sela Sungmin. Air matanya kembali mengalir memikirkan bahwa adik-adiknya akan berpisah satu sama lain, hidup di tempat berbeda, dan tidak lagi tumbuh dengan melihat satu sama lain.

Walaupun ia tinggal bersama mereka tidak selama Seokjin, tapi Sungmin menyayangi adik-adiknya. Mereka bahkan langsung mengenalinya ketika Sungmin pertama kali muncul di keluarga itu. Jimin berteriak memanggil Hyuna sambil mengatakan 'Sungmin hyung pulang ke rumah kita', seolah-olah selama ini eomma-nya mengatakan bahwa mereka memiliki saudara lain yang tidak tinggal dengan mereka.

Sungmin ingat saat itu Jungkook dan Taehyung masih berumur empat tahun. Dua bocah kembar itu memeluk kakinya dan masih cadel saat menyebut namanya.

Jika setelah ini mereka benar-benar pergi, semua yang telah mereka lewatkan selama ini akan terlupakan begitu saja. Untuk Sungmin...

"...aku mencintai mereka."

...adik-adiknya adalah hal yang berharga.

.

~(*o*)~

.

Semalam benar-benar buruk. Paginya Sungmin bangun dengan mata bengkak—yang dihiperbolis—seukuran telur rebus. Dia masih terbaring di kasur lipat sambil mengusap matanya. Sejenak dia mengulet kemudian bangkit dari posisinya. Matanya menatap sekeliling ruangan, tersenyum saat merasakan sensasi familiar. Ini kamarnya. Kamar yang entah berapa lama ditinggalkannya.

Sungmin menoleh ke sebelahnya. Terlihat Jimin sedang menimpakan sebelah kakinya di atas perut Seokjin. Walaupun pendiam, cara tidur anak itu brutal, seolah menunjukkan kalau dalam diamnya dia menyimpan sisi itu. Tatapannya beralih pada kasur, di sana si kembar masih tidur lelap dengan mulut menganga, air liur yang sudah mengering membentuk garis horizontal sepanjang pipi mereka.

Alarm di meja nakas kembali berdering, Sungmin tadi mendengar benda itu berbunyi entah jam berapa. Tanpa berniat mematikannya, ia beranjak mendekati Seokjin kemudian menendang bokongnya.

"Ya, ya, ya. Ireona."

Merasa familiar dengan cara yang dilakukan Sungmin, Kim Seokjin memulai aksi marah-marahnya di pagi hari. "Ah hyung! Ini masih jam 6! Kau bangun saja sendiri, buatkan sarapan untukku."

Dengan kejam Seokjin menyingkirkan kaki Jimin hingga anak itu tersentak kaget. Langsung terduduk dengan mata terbuka lebar. "Aku terlambat," ujarnya refleks. Jimin bahkan langsung berjalan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Sungmin.

Ck, ck, ck, anak itu masih disiplin seperti biasanya.

"Ya Kim Seokjin! Ireona! Ppalli!" kali ini Sungmin serius menendang keras bokong adiknya.

Mendengar keributan, si kembar mulai terganggu. Keributan berlangsung seru. "Jin-ie hyung! Ireona ppalli!" teriak Jungkook dengan suara serak, jelas sekali anak itu ingin melanjutkan tidurnya. "Gara-gara Jin-ie hyung tidak bangun, Sungmin hyung terus marah-marah. Aku masih mengantuk!" imbuh Taehyung. Sepertinya anak itu mengigau.

"HAISH!" Seokjin langsung bangun, menendang kesal selimut lalu melemparkan bantal ke arah adik kembarnya. "Mati kalian!"

"Eomaaaaaaaaaaaaaaa!"

Sungmin hanya bisa terbahak-bahak melihat Seokjin mulai menerjang adik bungsu mereka, sementara dua anak kembar itu hanya bisa berteriak-teriak memanggil ibunya. Walaupun sedikit menyebalkan, tapi begitulah cara mereka berinteraksi dengan bahagia.

Untuk saat ini, Sungmin mengerti. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginannya. Apapun yang terjadi nanti, Kim Seokjin, Park Jimin, Jeon Taehyung, dan Jeon Jungkook tetaplah adiknya. Tidak ada gunanya menangisi atau pun menyesalkan yang telah terjadi.

Yang perlu dilakukan untuk saat ini adalah menikmati semua waktu yang mereka miliki. Sungmin sendiri yang akan menjelaskan situasi mereka pada adik-adiknya. Dia tidak ingin kebahagian mereka harus berubah hanya karena mereka tidak lagi hidup di bawah satu atap.

"Jangan menggigitku!" jerit Seokjin kesakitan, tubuhnya langsung berguling dari atas kasur.

Si kembar nakal langsung melompat dari kasur kemudian berlari keluar kamar Sungmin.

"Eomma! Jin-ie hyung menggigit tanganku."

"Kakiku juga eomma!"

"Ya! Kalian rubah kecil! Penipu!"

Sungmin masih terbahak-bahak sambil melihat Seokjin yang tengah berguling-guling memegangi tangannya. Melihat Sungmin justru asik menertawakan dirinya, Kim Seokjin dan mulut iblisnya kembali berulah. "Eomma! Sungmin hyung menendang perutku! Akh, sakit sekali!"

Tawa Sungmin langsung menghilang. Dia menatap tajam adiknya lalu berujar. "Kemari kau! Biar kutunjukkan menendang itu seperti apa!"

Sebelum Sungmin berhasil menggapainya, Seokjin sudah berlari keluar ruangan, nyaris menabrak Jimin yang baru menyelesaikan mandi kilatnya. "Ah hyung!" protes anak itu.

Sungmin menyusul Seokjin dan langsung terhenti saat melihat adiknya berdiri mematung di ruang tamu. Mood-nya sedikit terganggu melihat apa yang ada di sana.

"Igeo mwoya, appa?" keluhnya pada sosok yang sedang duduk dengan gaya aristokratnya. Di belakang ayahnya tampak Joon dan tiga bodyguard lain.

Oh Daniel menatap Sungmin tajam. "Aku sudah bersabar sejak tadi malam. Dan apa yang terjadi dengan matamu?" tanya pria itu tak suka. Matanya beralih menatap tajam pada Hyuna seolah menyalahkan perempuan itu, padahal sejak tadi dia tak menatap Hyuna sama sekali.

Sungmin berjalan mendekat diikuti Jimin yang berhenti di samping Seokjin. Si kembar sudah duduk melongo di samping eomma-nya. "Tidak apa-apa. Aku menonton drama sedih tadi malam."

"Kau sedang berbohong."

Seokjin bergumam 'woah' tentang Oh Daniel. Sungmin mengalihkan pandangan pada Joon yang menunduk dalam. "Joon-ah, gwaenchana? Appa melakukan sesuatu yang menyakitimu?" pertanyaan Sungmin membuat Daniel beralih menatap sengit pekerjanya.

"Animida. Saya baik-baik saja, tuan muda."

"Geurae. Kau bisa katakan jujur padaku nanti," ucap Sungmin tenang. "Kau membawa seragamku?"

Joon segera menyerahkan seragam Sungmin. "Aku akan bersiap ke sekolah. Appa bisa memarahiku setelah ini," ucap Sungmin kemudian menatap adik-adiknya, terutama Jimin yang sudah selesai mandi. "Bersiaplah ke sekolah."

"Hyung-ie! Lihat Jin-ie hyung. Dia pasti mengganggu kami lagi di kamar mandi," adu Taehyung. Sungmin menatap tajam Seokjin yang memang sedang melotot pada si kembar.

"Arra! Aku akan mandi di tempat Yun ajumma," sahutnya kemudian melangkah keluar rumah. Si kembar terkikik kecil lalu melakukan tos dengan keras.

"Kalian jangan mengganggu Seokjin hyung terus," ucap Hyuna pelan. "Arrasseo eomma," sahut mereka kemudian menatap Oh Daniel. "Sungmin hyung appa, kami mandi dulu," pamit Jungkook. Dua bocah kembar itu melompat turun dari sofa, membungkukkan tubuh dengan sopan lalu berlari ke kamar mandi sambil berteriak. "Hyung-ie, bantu menyalakan air hangatnya."

"Neee," sahut Sungmin. Ia nyaris melangkah ke kamar mandi namun terhenti dan menoleh pada Hyuna. "Eomma, buatkan kopi untuk appa."

"Ye?"

Sungmin menatap ayahnya yang tengah mengerutkan kening tak suka. Ibunya tengah membeliak terkejut. Sungmin tersenyum kecil sebelum melangkah ke kamar mandi.

Oh Daniel hanya bisa menatap punggung putranya yang lenyap ditelan pintu kamar mandi. Sebenarnya ia tak suka saat melihat Sungmin direpotkan dengan adik-adiknya seperti itu. Tapi entah kenapa hal itu justru terlihat menyenangkan karena Sungmin tampak lebih ceria.

"Aku akan membuat kopi," ucap Hyuna. Daniel tersentak kemudian menatap perempuan yang tengah menatap gugup padanya. Ia tidak menjawab apapun bahkan hingga Hyuna berlalu ke dapur. Sayang sekali tubuhnya tidak bisa diajak kompromi. Matanya terus mengikuti pergerakan wanita itu dalam diam.

Oh Daniel menghela napas pelan. Mungkin ini yang dinamakan lidah bisa berbohong, tapi hati tidak bisa berbohong. Walaupun mulutnya berkali-kali meneriakkan agar wanita itu lenyap dari sisinya, namun hatinya selalu menyediakan ruang untuk Kim Hyuna.

...

Sungmin menghabiskan sarapannya di mobil ditemani pertanyaan-pertanyaan dengan nada menginterogasi ala Oh Daniel. Karena Sungmin harus menyelesaikan urusan dengan ayahnya, Joon pergi mengantar adik-adiknya ke sekolah.

Semula Sungmin merasa kesal, ia kagum pada Oh Doojoon yang tahan dengan ayahnya selama ini. Tapi Sungmin tetap tidak ingin meninggalkan laki-laki ini. Ayahnya memang overprotective, tapi inilah cara pria itu menunjukkan kasih sayangnya. Selama ini Oh Daniel belajar memahami apa yang diinginkan Sungmin, jadi sudah seharusnya Sungmin belajar memahami ayahnya.

"Pulang sekolah, langsung pulang."

"Ye," sahut Sungmin tak bisa menutupi kekesalan. Ia bukan kesal karena diatur ayahnya, kekesalannya muncul karena Daniel menginterogasinya seperti tersangka.

"Appa," panggil Sungmin akhirnya. Daniel yang duduk di sebelahnya hanya menoleh. "Kalau appa tidak bisa menghubungiku, hubungi eomma atau Kyuhyun. Aku tidak akan pergi ke tempat di mana appa tidak bisa menemukanku."

Apa yang diceritakan Yun ajumma semalam membuatnya paham mengapa Oh Daniel seperti ini. "Aku dan..." Sungmin menguatkan hati untuk melanjutkan kalimatnya. "Doojoon hyung akan terus berada di sisimu. Jadi appa jangan terlalu khawatir. Appa jangan memikirkan banyak hal buruk. Dokter Kang dan Kyuhyun banyak membantuku untuk memandang dunia dengan lebih baik, jadi appa juga harus melakukan hal yang sama."

Daniel menatap dalam-dalam wajah putranya. Bayi yang tak sempat dilihatnya 17 tahun yang lalu telah tumbuh menjadi pemuda manis yang begitu menyayanginya. Sungmin sudah melewati banyak kesulitan dalam hidupnya, mungkin ini waktu yang ditakdirkan untuk kebahagiannya. "Kau bahagia dengan anak itu? Cho Kyuhyun?"

"Ne," sahut Sungmin sambil mengukir senyum. "Jadi appa, bersikap baiklah pada Kyuhyun."

"Di depan anak itu kau kelihatan galak. Di sini kau tak bisa berhenti tersenyum karena dia," goda ayahnya. Sungmin mengulum bibirnya untuk menahan senyum, sesekali melirik ayahnya yang tengah tersenyum kecil. Senyum satu milyar won—karena senyum ayahnya sangat mahal.

"Appa tidak melarang hubunganku dengan Kyuhyun?" itu pertanyaan yang sejak lama ingin Sungmin tanyakan.

Daniel kembali menatap Sungmin. "Aku tidak berhak melarangmu dengan siapa. Asal kau bahagia, itulah yang terpenting untukku."

Mungkin inilah alasan kenapa anak-anak di luar sana membanggakan soal orang tuanya, menyombongkan diri tentang orang tuanya...

Sungmin melupakan rasa malunya, pemuda berpipi bulat itu menghambur ke dalam pelukan Oh Daniel yang langsung mengusap kepalanya dengan sayang.

"Gomawo appa."

...karena orang tua selalu mendukung kebahagiaan anaknya.

.

~(*o*)~

.

Sejak pagi sekolah berlangsung tenang. Sungmin tidak harus berurusan dengan para trouble maker yang membuat paginya sibuk. Para siswa yang biasanya melanggar aturan, hari ini datang ke sekolah mengenakan pakaian olahraga karena persiapan latihan untuk olimpiade dimulai sejak pagi. Betapa bahagianya jika hari-hari seperti ini terus berlanjut.

Karena itulah kini Henry kembali bergabung satu meja dengan mereka di kantin. Jelas saja karena tidak ada Zhoumi di sana. Kyuhyun dan Zhoumi belum kembali dari latihan.

"Bagaimana kabar hatimu?" tanya Eunhyuk sambil menyuapkan acar lobak ke dalam mulutnya. Satu-satunya gadis dalam meja itu mendesah pelan. "Molla, Zhoumi oppa tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu padaku."

"Kau hanya perlu bersabar, mungkin sebentar lagi. Dia pasti cemburu nanti," komentar Ryeowook setelah menelan makanannya.

Satu-satunya sosok yang sejak tadi diam dan makan dengan tenang mulai melirik Henry. Gadis itu mengoceh tentang keluhannya, dia nyaris lelah membuat Zhoumi melihatnya.

"Kim Henry," panggil Sungmin membuat gadis yang sedang sibuk mengoceh itu langsung meletakkan tangan di depan bibirnya. "Mian oppa, aku tidak akan bicara lagi, oppa bisa makan dengan tenang."

Sungmin terdiam sesaat, biar bagaimana pun aura kakunya tidak bisa lenyap. Henry pasti salah paham, mengira dirinya merasa terganggu. "Aku hanya ingin mengatakan mungkin Zhoumi sunbaenim sedang cemburu padamu sekarang."

"Jinjja?" tanya Ryeowook dan Henry bersamaan. "Aku bilang mungkin," tegas Sungmin kemudian lanjut makan. Henry langsung cemberut sementara Ryeowook menghibur dengan menepuk punggungnya pelan.

Keriuhan di pintu kantin terdengar ke meja mereka. Para siswa yang menjadi calon peserta olimpiade bidang olahraga sudah kembali. Masih mengenakan seragam olahraga dengan rambut yang basah dengan keringat.

Yesung adalah satu-satunya orang sudah berganti seragam. Dia tengah berjalan dengan Shindong. Di belakangnya ada Donghae yang berjalan bersama Doojoon, tampak mengobrol santai sambil tertawa. Donghae yang tertawa, tawa Oh Doojoon sama mahalnya dengan senyum Oh Daniel.

Eunhyuk langsung menoleh. "Mereka datang," ujarnya.

"Mereka?" beo Ryeowook. "Kita membicarakan Zhoumi hyung tadi. Siapa yang kau maksud mereka? Kau sedang menunggu siapa? Lee Donghae?" kejar Ryeowook dengan penasaran.

Eunhyuk mendesis sambil melemparkan kacang polong pada Ryeowook. Sungmin yang duduk di sebelah Eunhyuk langsung melemparkan tatapan menyelidik padanya. "Lee Sungmin, kau tidak serius berpikir aku sedang menunggu Lee Donghae 'kan?"

Bibir Sungmin berkedut, menahan senyum. "Jangan tunjukkan kalau kau memang menunggunya," ledek Sungmin membuat Eunhyuk lagi-lagi melemparkan kacang polong.

"Oppadeul, aku harus pergi sekarang. Orang tidak peka itu pasti kemari! Lihat! Lihat! Kyuhyun sudah menunjuk kemari," bisik Henry dengan panik.

"Kau harus tunjukkan kalau tidak peduli padanya," Sungmin memberikan saran.

"Ah oppa~ aku tidak bisa. Dia sangat... Omo! Omo! Aku pergi sekarang!"

Ryeowook, Eunhyuk, dan Sungmin hanya bisa menatap Henry yang bergerak terburu-buru hingga nyaris tersandung kursi.

"Kim Henry, berhenti di situ," itu suara Zhoumi. Sementara yang dipanggil berusaha menulikan telinga dengan terus berjalan menjauh. "Kim Henry!"

Para penghuni kantin mulai menatap keributan dua orang itu. Bahkan Yesung CS dan Doojoon yang tengah menunggu antrean makan siang ikut mengamati bagaimana Henry menghindari Zhoumi. Namun yang membuat heran, Henry justru berjalan ke arah mereka.

"Doojoon oppa!" seru gadis itu dengan suara nyaring.

Donghae yang berdiri di sebelah Doojoon langsung mengerutkan kening, sementara Yesung yang berada di posisi depan langsung menolehkan kepala. Di dalam pikiran mereka muncul pertanyaan yang sama. Sejak kapan Doojoon dekat dengan gadis itu?

"Dia mulai lagi," gumam Doojoon malas. Ia bahkan hanya bisa melangkah pasrah saat gadis gila itu menyeretnya keluar antrean sambil mengucapkan bualan dengan keras. "Aku sudah siapkan bekal untuk oppa. Ayo makan di tempat lain."

"Kau memanfaatkanku lagi. Kau tidak malu jadi tontonan?" desis Doojoon dengan tajam. Henry balas mendesis dengan sedih. "Mianhae sunbaenim. Tolong aku sekali lagi. Tolong."

"Hyung keumanhae!" Henry mendengar Kyuhyun berseru tepat saat lengannya disergap oleh Zhoumi.

"Kita harus bicara!" bentak Zhoumi sementara Henry meronta-ronta. "Lepas!" pekiknya.

"Tan Zhoumi, jangan bersikap kasar..."

Buagh!

Doojoon belum menyelesaikan kalimatnya ketika merasakan kepalanya terdorong dan telinganya berdengung karena jeritan keras Henry.

"Lagi-lagi di kantin. Mereka selalu ribut di sini!" geram Sungmin sambil menggebrak meja. "Apa sih bagusnya tempat ini?"

"Sunbaenim!" seru Donghae menghampiri Doojoon. Yesung dan Shindong menyusul di belakangnya. Kyuhyun dan Eunhyuk juga bergegas menghampiri Zhoumi. Pria tinggi itu masih mengepalkan tangannya dengan gigi mengatup erat.

Sementara itu Doojoon terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali, menyentuh rahangnya sekali. Sudut bibirnya baik-baik saja, tapi bagian dalam mulutnya terluka hingga mengucurkan darah ke sela-sela bibirnya.

"Kau pasti sangat menginginkan gadis tolol ini hingga kau yang sama tololnya berani menyentuhku," kecam Doojoon dengan sinis. Zhoumi diam membisu, sadar bahwa tindakannya keterlaluan. Sejujurnya dia tidak ingin bertindak sejauh ini. Tapi emosi lebih dulu menguasai pikirannya.

"Kau memukulnya?" tanya Sungmin tiba-tiba muncul. Pertanyaannya sedikit konyol. Namun, tatapannya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun menjelaskan jika pria itu sedang marah besar.

"Kau lihat dia berdarah sebanyak itu. Pelanggaran keras," imbuh Sungmin lalu dengan tenang melemparkan kartu merah pada Zhoumi. "Kau jelas-jelas menolak gadis itu tapi sekarang kau memukul orang lain karena cemburu. Dan kau Kim Henry! Berhenti memanfaatkan orang lain. Jelaskan pada Tan Zhoumi kalau Oh Doojoon tidak ada hubungannya denganmu. Kau hanya belum merasakan betapa hebatnya kesalahpahaman dalam menghancurkan hidupmu."

Doojoon dan Yesung sontak menatap Sungmin. Pemuda bermarga Lee itu balas menatap tajam Doojoon dan Yesung sebelum berlalu meninggalkan kerumunan.

"Sungmin-ah, kau belum menghabiskan makananmu!" seru Ryeowook. Namun sosok yang dipanggil terus berjalan pergi.

"Lee Sungmin, kembali. Selesaikan makananmu!" bentak Kyuhyun.

"Diam kau! Dan jangan mengikutiku!"

Kyuhyun mendesah pelan kemudian menatap Doojoon dan Yesung yang menatap ke arah Sungmin pergi. Sejenak keduanya saling menatap lalu Doojoon yang memutuskan meninggalkan kantin lebih dulu.

...

Saat seseorang mengatakan 'menjauh dariku', adakalanya itu berarti 'jangan menjauhiku'. Sama halnya dengan saat mengatakan 'jangan mengikutiku', kalimat itu bisa berarti 'ikuti aku'. Hal itulah yang dirasakan Sungmin sekarang.

Walaupun mulutnya berkata agar Kyuhyun tak mengikutinya, ia berharap laki-laki itu di sini. Menemaninya dalam diam. Walaupun ia berusaha untuk menguatkan hatinya, apa yang sudah dilaluinya semalam masih terasa menyesakkan dada. Sungmin sudah mengatakan pada dirinya untuk tidak lagi menangis. Jadi dia hanya berdiri diam, menikmati semilir angin di atap sekolah.

Tatapannya menerawang jauh. Ia sudah berjanji untuk menghadapi semuanya. Namun, saat berhadapan dengan Doojoon dan Yesung seperti tadi, keraguan kembali muncul dalam dirinya. Jika sebelumnya Sungmin yakin bahwa ia adalah sepenuhnya korban di sini. Saat ini tidak lagi sama situasinya. Yesung dan Doojoon juga korban kesalahpahaman orang tua mereka.

"Sungmin-ah."

Sungmin tidak menolehkan kepalanya. Ia hanya berdiri diam saat mengenali suara itu. Suara Oh Doojoon.

"Aku kemari untuk minta maaf. Aku tahu pasti sulit bagimu untuk memaafkan semua yang sudah kuperbuat. Tapi aku tulus meminta maaf padamu. Mungkin ini terdengar aneh, tapi aku tulus menyayangimu jauh sebelum aku tahu bahwa kau adikku. Hanya saja, situasi tidak menakdirkan agar aku bisa menunjukkan itu padamu."

"Em," gumam Sungmin merespon.

Di belakang tubuhnya Doojoon tersenyum sendu. "Kau harus tinggal di rumah dengan nyaman. Appa terlihat bahagia saat melihatmu di sekitarnya. Jika keberadaanku mengganggumu, aku akan tinggal di tempat lain. Setidaknya kau harus di sana, appa tidak memiliki siapapun..."

Doojoon ditinggalkan ibunya sejak kecil, lalu hidup dengan ayahnya yang gila kontrol. Sungmin memahami kesulitan pria itu.

Kau menerima lebih banyak cinta. Karena itulah, jangan menutup mata dan telingamu. Walaupun mungkin menyakitkan, cobalah untuk melihat dan mendengarkan mereka lebih banyak.

"Aku mengerti kenapa hyung dan Yesung hyung melakukan itu. Aku tidak dalam posisi menyalahkan siapa pun sekarang. Tapi mungkin..." Sungmin memutar tubuhnya dan menemukan Doojoon di sana. Namun, ada satu sosok lain yang berdiri di belakang tubuh pria itu. Choi Yesung juga di sana, menatapnya dengan mata yang mulai digenangi air bening.

"...tidak akan sama lagi dengan sebelumnya," imbuh Sungmin sambil menundukkan kepalanya. Tubuhnya perlahan gemetar, ia sudah berjanji untuk tidak lagi menangis, namun melihat langsung mereka berdua, secara langsung mengingatkan akan banyak hal buruk yang pernah dialaminya.

"Aku tidak bisa berbohong dengan mengatakan kalau aku baik-baik saja. Rasa sakit itu jelas masih terasa, tapi aku berusaha untuk melupakannya perlahan. Aku berjanji untuk memulai hidup lebih baik. Karena itu aku juga berusaha memahami kalian dan berterimakasih untuk semuanya. Jadi kumohon, jangan terlalu memaksaku untuk kembali seperti semula."

Doojoon hanya menundukkan kepala, sementara Yesung mengerjapkan mata untuk menghalau air matanya.

"Hiduplah seperti ini... di jalan masing-masing..."

Tiga hati untuk tiga rasa yang berbeda. Bagi Yesung ini berarti Sungmin tidak akan kembali pada keluarganya. Bagi Doojoon ini pertanda bahwa perasaannya benar-benar harus diakhiri. Sedangkan bagi Sungmin inilah awal untuk memulai hubungan yang lebih normal.

Pemuda manis itu menatap Doojoon dan Yesung kemudian beranjak pergi. Saat melewati Doojoon Sungmin melihat laki-laki itu menatap ke arah lain namun dari sudut matanya mengalir sebulir air yang segera diusapnya. Sungmin berhenti sesaat di depan Yesung, menatap kakak yang lebih dari 10 tahun hidup bersamanya. "...Kyuhyun benar. Seharusnya aku bersyukur memiliki kalian."

Setelah itu Sungmin berjalan meninggalkan atap. Doojoon menoleh untuk menatap Sungmin, secara tak sengaja tatapannya bertemu dengan Yesung. Dua pemuda tampan itu beradu tatap untuk beberapa waktu. Akhirnya Yesung yang menganggukkan kepala terlebih dahulu. Doojoon balas menganggukkan kepalanya. Gesture yang mereka pahami. Gesture yang mereka gunakan untuk menggambarkan kalau mereka berusaha untuk baik-baik saja.

Sementara itu, Sungmin berjalan ke arah pintu. Ketika melihat Doojoon dengan mulut berdarah, harusnya ia merasa puas karena Zhoumi memukul Doojoon. Atau melihat Yesung yang mengiba maafnya, harusnya ia puas. Sama seperti yang dialaminya dulu, sama seperti yang mereka lakukan padanya dulu, Doojoon dan Yesung pantas mendapatkan itu. Tapi kenapa tidak ada rasa senang sedikit pun dalam hatinya?

Mungkin sejak awal hatinya hanya butuh melepaskan diri dari beban, bukan melegakan hati dengan membalas bebannya.

Dadanya masih bergulat dengan kemarahan dan ketakutan saat Sungmin membuka pintu untuk turun ke kelasnya. Namun, tepat di balik pintu ada sesosok pria jangkung yang berdiri menatapnya, seolah menegaskan kalau ia menunggunya di sana sejak tadi. Cho Kyuhyun.

Sungmin yang sedari tadi berusaha menahan tangisnya, melangkah perlahan ke depan Kyuhyun sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya di bahu pria itu. Menumpahkan air matanya di sana, tersedu-sedu untuk kesesakan yang sejak tadi menghimpit dadanya.

Kyuhyun menempatkan tangannya di punggung Sungmin, mengusap pelan untuk menenangkan kekasihnya.

"Gwaenchana, kau sudah melakukan yang terbaik. Gwaenchana..."

Sebuah barang rusak tidak akan kembali menjadi baru, selihai apapun kau memolesnya. Sama halnya dengan hati manusia. Sekali kau menyakitinya, ia tidak akan kembali seperti semula, sekuat apapun kau mencoba menyembuhkannya.

TBC

Semoga menghibur malam minggu kalian. Saya tahu kok kalian jomblo #dibakarmassa

Saya mau mengucapkan selamat datang dan selamat ulang tahun untuk Lee Sungmin. Walaupun mungkin sekarang situasinya lebih sulit, saya mendoakan yang terbaik untuk Sungmin dan Super Junior. Keep calm, elf-deul. Hwaiting joyers! Sarangeeeeekkk *kisseu*

PS: SLS tamat di chapter 21. Saya posting tidak dalam waktu dekat. Mau saya genapin sekalian 2 tahun sekalian deh umur Seoul Love Story. Haha.

Peluk hangat untuk:
imKM1004, PRISNA CHO, chjiechjie, Orange girls, AngeLeeteuk, dwi-yomi, tsubakiming, Eci95, alietha doll, cupid, jihyunglee137, KyulMin137, Za KyuMin, Harusuki Ginichi - 137411, rheeming, joyers, VincentCho96, ChoLoveForLee, Hazuka Airin, choleebaby, Dina LuvKyumin, cloudsKMS, bangtan in my love, ovallea, nanayukeroo, nadhira, may 'vitamins, Pspnya kyu, Zen Liu, mimikyu, Beauty, winniejoy137, sanmayy88, taniea458, kimteechul, ikakyuminss, suhartini388, safitri805, gyumin4ever, nurhidayani137, ayuyunah, wine0137, daraemondut

Terima kasih untuk supportnya. Mohon maaf untuk kesalahan penulisan.

Selamat malam. Selama beristirahat. Jaga kesehatan selalu.

14 Januari 2017, 20:30 WIB.

Review please~

Terimakasih sudah membaca \(*o*)/