OMG... Akhirnya bisa update..! XD
Chapter ini sebenarnya mau saya update 2 hari lalu, tapi ga tau kenapa setiap kali upload ada tulisan 'Error Message: File upload was not successful'. Apa ada yang senasib sama saya? Hmm... :/
fuyunoame : halo.. makasih masi setia baca :') Thank you juga buat simpatinya. Jonghyun itu berita paling ngegalauin di akhir tahun, sumpah /sob. Btw, di fic ini, emang aku ada maksud-in Haneul Yoosung Seven itu jadi segitiga. Tapi mungkin ga akan terlalu fokus di Yoosung, sekedar hint aja. Hehehe..
Cr :
1. Smokey Robinson - Just To See Her (sesuai judul). Lagu ini sedikit banyak nyumbang scene di sini. Ceritanya waktu itu lagi hujan, macet, trus denger lagu ini did alem mobil /gapentinglhaya..
2. Waktu Vanderwood cerita soal raja, itu sebenernya dari adegan Jaime cerita ke Brienne di serial Game of Thrones. Gak tau kenapa saya bawa banyak unsur serial tersebut di fic ini = w = Mungkin karena udah kangen lagi sama Bang Gendry.
Anyway.. Moonbucks = parodi dari Starbucks, as told in MM..
Oh.. Kalau diperhatiin, Cover Image fanfic ini berubah ya.. Jadi ada 4 panel. Masing-masing panel ngewakilin MC (Cr gambar buat para owner). Pasti tau kan Haneul yang mana.. XD Buat yang kanan atas, itu MC 3. Kalau di fic ini dia jadi Chaeyoung (adiknya Jumin). Sebenernya, udah dari dulu pengen banget cover imagenya enakei yang ngewakilin MC dalam cerita. Tapi baru kesampaian sekarang. Hehe..
...
Kamarnya bisa dikatakan cukup gelap. Sedikit cahaya matahari muda yang merembes masuk melalui celah antara dua gorden membuatnya sedikit lebih baik. Jam lima subuh saat itu. Matahari belum bersinar terang, namun cukup untuk memperlihatkan lekuk siluet. Kedua tangan diangkat tinggi meraih udara. Helaan tubuh mengikuti, diiringi hembusan nafas yang berat.
Just to see her
Just to touch her
Just to hold her in my arms again one more time
Treadmill rutinitas pertamanya. Handuk kecil hitam sudah melingkari leher, menjuntai dengan kedua ujung yang menyentuh kaos olahraga sleeveless abu-abu. Celana training hitam 7/8 dan sneakers putih adalah zirah untuk kedua kakinya yang mulai menaikki batangan berjalan. Awalnya berjalan di tempat, lalu semakin cepat, semakin cepat, dan kini berlari. Ruang santai yang sepi kini menggemakan hentakkan kaki dan aturan nafas sebaik mungkin. Pandangannya ditujukan ke luar jendela sebesar dinding. Pucuk flamboyan setinggi 1,5 meter di sebelah kanan dan rumah tetangga di seberang adalah opsi satu-satunya. Langit masih berwarna abu kelam. Ia berpikir akan hujan dan tidak mengharapkannya.
If I could feel her warm embrace
See her smiling face
Minum air putih adalah aktivitas selanjutnya. Untuk aktivitas ke-3, Minhyuk berjalan menuju dapur dan tertahan di hadapan rak serambi besar. Rak kayu itu terdiri dari puluhan kotak-kotak tak bersudut dan tak bersisi depan-belakang. Tanaman hias kecil, pigura, hiasan rumah, pewangi, jam digital, speaker mini, music player terletak di sana secara random. Pada pagi yang cukup panjang ini, ia merasa perlu untuk ditemani musik dari sebuah kotak persegi hitam. Untuk mengisi suasana yang sepi itu dan jiwa old schoolnya juga. Sebenarnya.
Just To See Her, Smokey Robinson. Musik sudah menyala, apron di tubuh, dan berbagai macam bahan makanan dari dalam kulkas tersedia di atas meja . Mencincang bawang, memecahkan telur, mencuci lettuce, memotong tomat, membuat saus, mengaduk daging cincang bersama keju dan semua bahan lain dilakukannya dengan sangat terampil. Tidak sedikitpun ada bahan yang tercecer. Mengingat warna keramik dan cat di dapur itu yang serba putih, tidak akan sulit untuk menilai bagaimana bersihnya zona tersebut.
Mesin penghisap asap menyisakan sedikit aroma sedap tumisan bawang bombay untuk diciumnya. Tidak teruntuk para anjing yang duduk di dekat meja kompor. Keduanya duduk rapi sejajar mulai dari yang besar hingga ke yang lebih kecil. Tidak biasanya mereka sudah bangun di jam ini dan terlihat lapar memandang sang majikan. Senyum di wajah Minhyuk terpatri, memunculkan lesung pipi tipis di salah satu sisi.
Can't find anyone to take her place
Air hangat membasuh semuanya : keringat, bau bawang, dan rasa dingin di luar area basah ini. Mandi adalah salah satu aktivitas hidup yang disukainya. Ia akan merasa lebih bersih, segar, dan hangat. Terutama di saat seperti ini. Setelahnya akan ada handuk untuk mengeringkan tubuh, parfum untuk membuatnya segar lebih lama, kemeja putih dan celana panjang beige selaku outfit, ikat pinggang coklat cengkih sebagai aksesoris pertama, dan jam tangan yang dibawa ke ruang makan.
I've got to see her again
Dua mangkuk oranye diisi dengan kadar dryfood dan minyak zaitun yang berbeda. Pada mangkuk dengan jumlah dryfood paling sedikit, Minhyuk menambahkan setengah gelas air putih hangat. Di sebelah mangkuk oranye terdapat dua mangkuk kuning yang ukurannya lebih kecil. Kali ini dryfood warna wortel yang dituangkan dan seperempat bungkus wetfood di mangkuk satunya. Mangkuk kuning diturunkan lebih dulu ke lantai. Mangkuk kuning berisi dryfood untuk Jido si kucing hitam putih dan yang berisi wetfood untuk Oda si kucing coklat kehitaman mungil. Mangkuk oranye menyusul. Yang paling banyak dryfood disajikan untuk Snow sang Samoyed dewasa dan satunya untuk Junsu sang Jindo berwarna karamel. Begitu mereka berempat makan, Minhyuk mencuci tangannya dan menyantap semangkuk sereal coklat berkuah susu yang sudah lebih dulu disajikan. Ia lebih suka sereal itu ketika sedikit melembek. Jadi ia menundanya dengan mengurus pakan para anak bulu terlebih dulu.
Langit kelabu sudah lebih terang, walaupun belum sempurna. Byundai hitam kini melaju keluar dari garasi, lalu pagar rumah. Jalanan masih sepi, menandakan bahwa waktu masih terlalu pagi untuk para karyawan pergi bekerja maupun murid berangkat ke sekolah mereka. Di jam sepagi ini, bukan Oregano Latte yang Lee Minhyuk tuju.
I would do anything
I would go anywhere
…
"Selamat pagi, Kepala Kang." Minhee menyapa selagi membuka pintu.
"Selamat pagi, Asisten Seo."
"Sarapan pagi anda," sodor Minhee dengan senyum dari bibir berselimut lipstik merah bertone oranye. Ponytail, kemeja putih lengan panjang, rok dan sepatu warna krem pucat membuat Seo terlihat sangat sederhana hari ini.
"Terima kasih, Asisten Seo." Berbeda dengan Minhee, hari itu Jaehee mengenakan terusan tunik high neck berwarna abu-abu gelap. Pada bagian lehernya cukup longgar dan berkerut di sedikit sisi sebagai hiasan. Sabuk kain dengan pin metal donat tipis yang satu set melingkari pinggang selaku aksesoris. Yang lainnya, Asisten Kang menggunakan perona pipi berwarna merah muda hari ini.
"Dia sendiri yang mengantarkannya hari ini." Seo Minhee tersenyum malu-malu. Sebenarnya, ia ingin sekali mengatakan betapa beruntungnya Jaehee memiliki kekasih menawan seperti Minhyuk. Namun asisten muda ini merasa itu kurang pantas. Sudah di luar ranah campurnya. Lagipula, apa pula yang akan Jaehee pikirkan jika melihat dirinya tersungging malu selagi memuji sang lelaki dengan cara demikian? Bibir atasannya sedang melebar anggun. Sejahat apa dirinya jika sampai merusak hal paling sederhana ini?
Moonbucks delivery~..
Special for you, the most hardworking woman I've ever known..
There's nothing I wouldn't do
Just to see her again
Awan terlihat tidak senang, juga tidak terkesan. Begitu kelabu dan bergumpal-gumpal. Pada satu sisi, gumpalannya begitu tebal sehingga menyerupai bola kapas. Warnanya terlalu kelabu, menyatu dengan langit yang kurang lebih sama warnanya. Shade kelabu yang lebih terang ada di sisi lain, tapi tidak banyak.
Zen cukup kecewa dengan suasana langit Korea yang seolah-olah tidak menyambut dirinya pulang kampung. Turun dari pesawat bersama para penumpang lain, ia merasa lega karena sudah sampai di 'rumah'. Angin cukup kencang menyapu kulit. Membuat pagi itu menjadi lebih dingin daripada seharusnya.
'Akhirnya.' Lelaki itu menarik nafas dalam-dalam, menyusupkan semua bebauan khas negeri ginseng sampai ke sanubari terdalam. Pelan-pelan, ia hembuskan ampasnya dan diakhiri dengan perasaan puas. "AKHIRNYA TIBA JUGA DI RUMAH..!"
Sunglasses, jaket, topi, celana, dan sepatu hitam merupakan look pokok hari ini. Hoodie tanpa lengan berwarna abu-abu digunakan sebelum jaket, sewarna dengan koper besar yang tengah digeret santai. Atas kemurahan hati –dan akal sehat, menurutnya-, ia memutuskan untuk tidak membuat seisi bandara Hongkong maupun Korea Selatan histeris atas ketampanannya. Dan atas kerendahan hatinya, ia memutuskan untuk naik taksi yang dapat ia peroleh di bandara. Jemputan dari agensi baru akan menyulitkan karena pasti menggunakan penjagaan ketat dan sebagainya.
Menyalakan ponsel, ia bermaksud melakukan selfie di bawah escalator. Tujuannya tidak lain adalah untuk memberi kejutan pada para anggota RFA tercinta mengenai kepulangan tanpa pengumuman ini. Sebenarnya, pihak teater Hongkong masih mengharapkan niat tulus darinya untuk bergabung hingga kemarin. Zen mau tidak mau menolak itu dengan permintaan maaf yang tak kurang banyaknya. Demi agensi di Korea yang sudah memegang kontrak dan Haneul, yang ia masih belum relakan sepenuhnya. Sungguh demi Tuhan, ia merindukan perempuan itu setengah mati.
Latar situasi bandara yang tidak begitu sibuk dan bendera Korea yang menggantung di lantai atas dapat menjadi setting tepat untuk selfie kali ini. Dengan begitu, para anggota RFA dapat dengan jelas menerakan keberadaannya. Baru saja jarinya hendak mengunggah, sebuah notifikasi e-mail muncul di bagian atas ponsel. 'Invitation', judul dari e-mail tersebut.
'Huh? Mint Eye?' Kekecewaan mengerutkan dahi Zen. Sempat ia berpikir sebelumnya bahwa e-mail tersebut merupakan semacam undangan casting, proyek iklan, proyek film, proyek teater, atau hanya sekedar undangan makan malam. 'Spam. Mengganggu saja.'
"Huh, belanja lagi. Uangku lagi," gerutu Vanderwood yang baru saja memasuki pintu dengan tiga kantung belanja besar di tangannya. 'Si bodoh itu lebih baik tidak tidur. Deadline proyeknya tidak sampai seminggu lagi. Belum ada solusinya, apalagi uji coba. Dasar keparat. Seharusnya aku lebih memilih mengurus para newbie saja. Setidaknya mereka penurut.'
Kedua kaki Vanderwood memilih untuk melewati jalanan dinding sebelah kiri, akses langsung ke dapur. Rumah itu bermodel unik, jika Vanderwood boleh berpendapat. Masuk dari pintu utama, kaki akan dipersilahkan menyusuri lorong berlantai kayu putih yang dipernis. Di sebelah kanan lorong itu ia akan dapati tiga hal : satu ruang tamu terbuka dan dua ruang kosong yang tertutup dan dikunci. Di sebelah kiri lorong merupakan dinding luas berhias tiga foto : satu berpiguran besar dan dua berpiguran sedang. Masih di dinding tersebut, terdapat satu ruangan di paling pojok yang merupakan kamar mandi mungil. Hanya ada toilet, tisu, lemari obat, cermin, wastafel, dan penggantung handuk. Berada di sana karena ditujukan untuk tamu? Bisa saji. Cukup bersih, terima kasih pada dirinya sendiri. Di akhir lorong terdapat tiga opsi : jalan dinding di sebelah kiri, tangga turun di bagian tengah, dan jalan dinding di sebelah kanan. Jika jalan dinding kiri yang dipilih, Vanderwood akan menemukan dapur, mini bar, ruang makan, dan kamar mandi layak (bathup, shower, dan sebagainya). Jika jalan dinding di sebelah kanan yang dipilih, maka akan ditemui satu ruangan beraplikasi sistem keamanan ketat di bagian paling pojok dan ruang santai di sebelahnya. Terakhir, tangga yang mengarah ke bawah akan membawanya ke space tempat agen 707 bekerja. Tempat itu seperti kolam di dalam rumah dengan puluhan screen komputer dari berbagai macam ukuran di sebelah kanan. Sofa kembar siam yang saling membelakangi di sebelah kiri. Satu sisinya menghadap home theater dan meja bundar marmer sementara satu sisinya lagi menghadap puluhan screen 707. Terakhir, satu-satunya pintu di samping home theater mengarah pada 'shelter' mobil-mobil mewah milik sang pemilik rumah. Di dalam garasi bawah tanah itu pun terdapat lift yang dapat digunakan untuk naik hingga ke loteng.
Soal kamar, para pendatang dapat menemuinya di lantai dua, yakni satu lantai di atas lantai dapur. Lantai itu hanya berisikan empat kamar, satu ruang serbaguna (yang Seven isi dengan berbagai macam alat pelatih fisik), ruang cuci, balkon, tempat menjemur pakaian, dan akses ke loteng alias gudang penyimpanan barang-barang berukuran besar.
Jalanan dinding dan tangga yang menuju ruang kerja 707 dibingkai pagar minimalis hingga akhir. Dari tempat Vanderwood melangkah sekarang, ia dapat melihat Luciel di bawah sana sedang bekerja -seharusnya. Lelaki berambut merah itu tidak menyapa dan Vandy tidak merasa tersinggung. Ia lebih senang pemuda itu serius dengan tugasnya ketimbang berbasa-basi mengalihkan diri.
Selesai menyimpan tiga kantung belanja, Vanderwood memutuskan untuk istirahat sejenak. Ia pun belum memikirkan hendak memasak apa hari ini. Selagi melemaskan otot lengan, ia berjalan menghampiri 707 yang masih diam di hadapan screen. Jika Vanderwood melihat wajahnya, ekspresi netral 707 tidak terlihat serius sebagaimana mestinya. Ia justru terlihat bermasalah.
"Hei, sudah sampai mana?" Vanderwood memulai.
"Software. Satu software. Gagal," jawab redhead sambil menekan tuts angka dengan kencang. "Mereka sudah mengubah banyak ternyata."
"Maksudmu?"
"Aku harus memecahkan beberapa kode dan bahasanya dulu, baru bisa membuat 'kunci'nya."
"Lalu, sudah sejauh mana kode atau bahasa yang berhasil kau pecahkan?"
707 tersenyum giggly. "Uhm… hehehe."
"… Hehehehe?"
"Hehehe hehehehe. Semuanya."
Bibir brunette mengerut setelah bersyukur dalam hati. Bingung hendak bicara apa. Memarahi anak jenius ini pun tidak ada gunanya. Sudah ada sedikit kemajuan, setidaknya. Mengingat kemampuan 707 ada di atas rata-rata, Vanderwood masih cukup optimis misi ini dapat diselesaikan tepat waktu.
"Vanderwood?"
"Hnn?"
"Pernahkah kau merasa bersalah?"
"Bersalah? Atas apa?!" Walau penasaran, nada yang keluar dari brunette di sana lebih terdengar seperti perintah.
"Atas apa yang kau lakukan," lanjut Seven datar. Juga murung.
"Ke mana arah pembicaraan ini sebenarnya?"
707 menelan ludah sebelum bicara. Matanya tetap pada layar sementara telunjuk kanannya terus menekan tombol kiri pada mouse secara berirama. "Saat siang tadi melakukan surfing, aku membaca tulisan komen di sebuah forum. Anak sekolahan, kutebak. Ia menulis –kurang lebih- : menjadi agen intelijen itu sangat keren. Dengan segudang kasus detektif dan aksi ala film-film Hollywood. Itu yang dipikirkan kebanyakan orang, bukan?"
"Tunggu." Alis coklat Vandy mengerut. Ia mengambil kursi kecil lain dan menatap Seven lekat-lekat. "KAU SEMPAT SURFING..?!"
Seven tidak peduli. "Aku memandang tulisan itu cukup lama. Sambil tersenyum. Aku tidak tahu mengapa aku tersenyum. Mungkin karena ia bilang kalau menjadi agen intelijen itu sangat keren -yang berarti aku sangat keren karenanya- atau karena dia begitu… yah… tidak sepenuhnya salah, bukan? Juga tidak sebenar apa yang ia pikirkan. Aku ingin sekali berkata padanya 'tidak semudah itu, asal kau tahu saja'."
Vanderwood diam, memikirkan kata-kata si junior jenius.
"Seolah dalam pemikiran mereka, intelijen adalah superhero di dunia nyata. Tapi… tidak selalu seperti itu keadaannya. Kita melindungi orang, tentu. Kita melakukan tugas kita, apa yang klien minta, tidak peduli siapa dia dan apa tujuannya. Kadang demi uang. Adapun kita melakukan sesuatu agar dunia menjadi lebih baik, cara melakukannya… God. Ingat Candy? Yang ditugaskan selama 10 tahun di rumah bordil? Tugas intelijennya untuk mengetahui si Bapak Besar, tapi ia tetap harus melakukan 'pekerjaannya di sana' bukan?"
"Dan Candy berhasil," sahut Vanderwood.
"Dan Candy berhasil, tapi siapa yang peduli? Namanya tidak akan tercatut di manapun sebagai pahlawan di bidang human trafficking."
Vanderwood melihat kegundahan Seven di sampingnya. Prinsip moral dan salah-benar pasti pernah membayangi semua yang bekerja di dunia seperti itu. Bahkan dirinya sendiri. Tapi apakah harus dirinya larut dalam gloomy di tengah tuntutan deadline misi yang ada? Pada akhirnya, ia menghela nafas dan menghembuskannya secara teratur. Sangat tak terdengar.
"Dulu di sebuah kerajaan, ada seorang raja yang sudah lama berkuasa. Semakin ia tua, semakin berkurang kebijaksanaannya. Ia terobsesi dengan api dan senang melihat orang terbakar sampai hitam dan menjadi debu. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika ada seseorang yang melawannya, huh? Raja yang penuh tirani, begitu mereka menyebutnya. Ketika seluruh rakyat membencinya, ia menganggap mereka semua pengkhianat. Kemudian ia menitah seorang juru api untuk menyembunyikan ribuan minyak api di bawah tanah : kuil, rumah, kandang, bar, bahkan istananya sendiri.
Raja itu memiliki seorang pengawal yang masih sangat muda. Tugas sang pengawal tak lain dan tak bukan adalah untuk melindungi raja itu sendiri. Ketika pemberontak sedang dalam perjalanan ke kastil, ayah dari sang pengawal tersebut sudah berada di depan gerbang bersama seantero pasukan pengikut. Ayah dari pengawal tersebut merupakan orang terkaya, mantan penasihat sang raja, dan berjanji untuk membantu beliau menghadang para pembelot tersebut.
Sang pengawal tahu betul orang macam apa ayahnya. Ayahnya itu tidak akan pernah memilih pihak yang sudah kalah. Sebagai tanda setia, pengawal tersebut menasihati sang raja untuk memilih mundur dan menyerahkan diri. Begitu pun dengan para penasihatnya yang lain. Raja tidak mendengarkan. Ia malah memilih nasihat orang yang salah.
Ketika pintu gerbang kota dibuka, segenap pasukan dari ayah sang pengawal menyerang kota. Sekali lagi, pengawal tersebut memohon padanya untuk menyerah. Apa yang terjadi?
Sang raja meminta kepada si pengawal untuk membawakan kepala ayahnya. Kepada juru api, ia menitahkan untuk menyulut api dari semua minyak di bawah tanah. Menghanguskan kota, membakar semua orang yang ada. Si pengawal -yang sudah bersumpah untuk melindungi sang raja-, akhirnya membunuh si juru api terlebih dulu. Sang raja berusaha untuk kabur, namun si pengawal berhasil menancapkan pedangnya ke punggung sang raja. Bahkan di saat itu, sang raja masih kuat berteriak. Bukan memohon ampun atau pertolongan, melainkan perintah untuk pembakaran massal tersebut.
Sang raja adalah keturunan naga. Tidak ada api yang terlalu panas untuk mereka. Bisa saja ia berpikir untuk bangkit lagi di tengah kobaran api pembakaran massal tersebut. Si pengawal memastikan itu tidak terjadi dengan menggorok leher sang raja. Saat itulah seseorang memergokinya. Seseorang yang merupakan relasi si pembelot, orang penuh kehormatan, bertujuan untuk mengakhiri tirani sang raja. Lantas, apakah orang tersebut akan percaya jika si pengawal menceritakan semuanya? Apakah ia akan membela si pengawal sekalipun dengan mata kepalanya sendiri ia melihat si pengawal raja sedang menggorok leher orang yang seharusnya dilindungi? Tapi yang terpenting, apa yang terjadi jika si pengawal tersebut tidak melanggar sumpahnya?"
707 terdiam, menopang apple cheeknya dengan tangan kanan. Vandy tahu juniornya masih gelisah.
"Si pengawal tetap hidup. Si Pembantai Raja, pria tanpa kehormatan. Seantero kerajaan menyebutnya demikian. Sekarang, jika seseorang disumpah untuk mengabdi pada seorang pemimpin, melindungi orang yang lemah, dan menjaga nama baik keluarga. Sumpah kepada siapa yang harus ia pertahankan dan ia langar ketika semuanya harus dibuktikan?
Dunia berjalan seperti itu. Kau jenius dan kau tahu. Terkadang ada hasil baik yang hanya bisa dicapai dengan melakukan hal yang buruk. Kau tidak menginginkannya, dunia tidak menginginkannya. Namun seburuk apapun caranya, orang tidak akan peduli selama mereka merasa aman dan nyaman. Memang tidak adil, tapi inilah dunia yang kita tempati. Dunia yang kau dan aku tempati. Tidak akan ada kredit untuk kita. Memang. Dan jika ada kredit? Untuk apa? Untuk dicemooh seperti pembantai raja tersebut? Atau dipuja seperti sang pemergok yang berhasil menciduk siapa pembunuh raja sebenarnya -tanpa berbuat apa-apa-?
Di sisi lain, atas dasar apa kita menilai para klien tersebut? Kita bukan semacam Tuhan atau ahli supranatural yang tahu segala macam niat mereka, hnn?" Vanderwood menghembuskan nafas. Di detik itu ia merasa sudah bicara sangat banyak. Penghentian sejenak sebelum ia kembali bicara. "Jika kau ada di posisi si pengawal sekarang, apa yang akan kau pilih? Memilih sumpahmu -yang memang sudah jadi kewajiban- untuk tetap melindungi sang raja namun membunuh orang tua, membumihanguskan sepenjuru kota, dan membunuh dirimu sendiri? Atau melakukan sumpah yang lain? Melindungi rakyat lemah sekalipun itu melanggar sumpah pada sang raja dan mencoreng nama baikmu untuk selamanya?"
"… Sepertinya aku tahu cerita ini," ujar Seven dengan kening berkerut.
"Tentu saja. Kita selalu menonton Game of Kings bersama-sama."
Kali ini 707 mengangkat alis. Tatapannya masih cukup hampa. "Kau yakin kita melakukan hal yang benar, Agen Vanderwood?"
"Satu-satunya hal paling benar yang aku pegang saat ini adalah memastikan bahwa misi telah diselesaikan secara baik dan tepat waktu. Dan bagimu, menyelesaikan misi secepat mungkin adalah hal paling benar yang dapat kau lakukan saat ini."
Langkah Jaehee di siang ini cukup terburu-buru. Taman sudah cukup ramai oleh anak-anak, para manula, dan karyawan seperti dirinya. Setelah menempuh beberapa meter, ia dapat bernafas lega karena melihat pemandangan dalam jarak tiga meter di depan. Sekaligus terenyuh, tersentuh, terharu, tertegun, atau terkejut?
Jaehee melangkah cepat, berirama. "Minhyuk-ssi?" sapanya bertepatan dengan berhentinya langkah.
Minyuk yang sedang menatap ke bawah menoleh ke atas. Satu tangannya masih mengelus kepala seekor kucing putih jantan besar yang sedang menyantap dryfood. "Oh. Jaehee-ssi?" mata lelaki itu berbinar dan ia berdiri dari kursi taman.
Jaehee membungkuk dan memperhatikan kucing besar itu. Sementara Minhyuk membasuh tangannya dengan gel cleanser, Kang menangkap toples plastik berisikan pakan kucing dekat posisi Minhyuk duduk barusan. Warna di dalam toples tersebut persis dengan pakan yang tengah disantap si kucing putih. "Apa itu makanan kucing?"
Lee mengikuti ke mana arah mata Jaehee tertuju. "Oh. Ya. Ahaha. Aku membawanya kemanapun. Jaga-jaga jika aku bertemu kucing di jalan. Hehehe." Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Seolah Jaehee baru saja memujinya.
…
"Terima kasih untuk roti pitanya tadi pagi," ucap Jaehee.
"Ah. Tidak perlu berterima kasih lagi, Jaehee-ssi. Aku senang melakukannya."
"Memasak?"
"I-iya." Minhyuk melihat ke arah lain. Tersipu. Walau Jaehee sepertinya sudah mulai membuka diri, ia masih merasa malu untuk mengatakan yang sejujurnya secara langsung. Nyalinya baru seujung kuku untuk mengatakan bahwa suatu kesenangan untuk membuat Jaehee tersenyum.
…
Berdua kini mereka duduk di sebuah restoran kecil seberang taman. Usaha Minhyuk untuk mengajak Jaehee 'berkencan' berbuah manis. Memang bukan kencan seharian seperti yang ia harapkan, tapi ini pun tak apa-apa. Makan siang bersama adalah awal yang kecil namun positif. Ia juga mengerti bagaimana sibuknya perempuan itu. Mendapatkan 'ya' pun Minhyuk sudah amat bersyukur.
"Jadi, lusa adalah openingnya?"
Jaehee mengangguk. "Ya. Tidak terasa. Waktu berlalu sangat cepat."
"Pasti sangat melegakan?"
"Ah, seharusnya memang begitu. Tapi aku masih harus mengontrol perkembangannya. Minimal hingga Tuan Han kembali."
"Kudengar konsep kafenya adalah kucing. Sangat menyenangkan untuk minum kopi sambil ditemani beberapa. Terutama bagi mereka yang menyukai kucing sepertiku."
"Oh. Bukan maksud untuk mengecewakan, tapi.. jika kucing hidup yang kau harapkan, maka kau tidak akan menemukannya di sana." Jaehee menyisip teh miliknya.
"Hnn? Bukankah kalau tidak salah Tuan Han menginginkan semacam cat cafe untuk kafenya itu?"
"Ya, memang. Tapi setelah diadakan rapat, Tuan Han berubah pikiran. Beberapa staf berpendapat bahwa tempat seperti itu akan membatasi konsumen. Kafe kucing pun berarti menimbulkan biaya untuk perawatannya."
"Ia setuju pada akhirnya?"
"Secara mengejutkan, iya. Ia tidak pernah begitu sebelumnya. Ia banyak berubah sejak bertemu istrinya. Tidak terlalu keras kepala."
"Pernikahan dapat mengubah seseorang."
"Aku setuju." Jaehee menyisip lagi. "Pada akhirnya hanya lampu berbentuk kucing, cangkir berbentuk kepala kucing, tempat tisu berbentuk kucing, piring bermotif kucing, mixplate berbentuk paw, dan segudang produk bermotif kucing lainnya. Maskot dari kafenya sendiri adalah kucing Tuan Han sendiri." Jaehee menyeruput minumannya lagi. Tenggorokannya terasa kering setelah menyebut kata 'kucing' beberapa kali.
"Apa kau menyukai kucing, Jaehee-ssi?"
Nona muda terlihat tidak menyangka walau tetap tenang. Sebisa mungkin ia menemukan jawaban yang tepat. Minhyuk seorang pecinta kucing sedangkan dirinya bukan. Ingin sekali ia membuat lelaki itu terkesan, tapi berhubung kenangan soal kepribadian buruk Elizabeth 3rd begitu kuat….
"… Mmmm…"
"Ahh..." Kepala lelaki itu mengangguk-angguk paham. "Aku mengerti."
"T-tidak." Jaehee menyanggah. "Uhm… tidak hanya kucing. Anjing, kelinci, apapun. Aku belum pernah memelihara hewan sebelumnya, jadi aku tidak mengerti bagaimana caranya… akrab dengan mereka."
Minhyuk tersenyum. "Aku mengerti. Lagipula, tidak menyukai kucing bukanlah hal kriminal." Lee memperhatikan seorang pemuda di luar sana tengah berjalan di trotoar bersama seekor golden retriever dewasa. "Menyiksa mereka, baru tindakan kriminal."
Sedikit lega tercetus di benak Jaehee, sekaligus membenarkan. Tidak ada masalah karena kurang menyukai sesuatu. Syukurnya Minhyuk pun mengerti itu. Jaehee sendiri tidak pernah mengerti alasan mereka yang mencapai kepuasan melalui penyiksaan terhadap binatang. Seolah benci adalah alasan paling logis dan dibenarkan dalam melakukan pembantaian.
"Kurasa itu hal baik. Kau tidak perlu melihat kucing hidup saat berkunjung ke kafe nanti." Minhyuk menyisip espresso based miliknya.
"Ya. Namun tidak selalu semudah itu. Kucingnya berada di apartemenku sekarang." Jaehee menghembuskan nafas. "Sepertinya lebih baik melihat para kucing itu di kedai kopi ketimbang di apartemen sendiri."
"Kucing bosmu ternyata bukan pengecualian?"
"Bahkan mahasiswa kedokteran hewan pun tidak tahan dengannya."
Minhyuk tersenyum. Nyaris tertawa sebenarnya. "Aku ingin sekali melihatnya. Uhm.. Kau pasti kesulitan mengurusnya."
Lagi, Jaehee menarik nafas dan menghembuskannya dengan kuat. Hingga terlihat kedua bahunya naik dan turun. "Begitulah."
Lee memandang prihatin. "Apa dia merepotkanmu?"
Alis Jaehee terangkat. "Aku tidak tahu cara menjawabnya. Aku tidak… akrab dengan kucing namun ini perintah atasanku. Aku melaksanakannya sebaik mungkin. Tapi…"
"Kau tidak punya waktu untuknya."
Perempuan berkacamata mengangguk. "Aku sempat memberinya makan, mengurus pasir, menjadwalkannya untuk grooming, tapi kurasa itu saja tidak cukup, bukan?" Jaehee mengeluarkan ponselnya, mengotak-atik sebentar, dan memberikannya pada Minhyuk. "Ia kucing ras. Aku tidak tahu jenisnya."
Minhyuk memperhatikan layar ponsel Kang. Foto Elizabeth 3rd yang sekarang ada di sana. "Angora?" gumamnya sambil terenyuh. Kucing bermata biru tersebut sangat lucu sebenarnya. Namun insting kuat Lee menyatakan bahwa kucing tersebut tidak merasa senang. Warna bulunya pun terlihat lebih kusam. "Kau pasti sangat terbebani. Kapan terakhir kali ia grooming?"
Jaehee menggeleng. "Aku tidak ingat. Seminggu… dua minggu yang lalu, mungkin? Ia memang tinggal bersamaku saat ini, tapi aku tidak menampik jika ia terlihat tidak sebaik saat majikannya berada di sini." Jaehee terdiam sejenak. "Aku baru ingat. Dulu, setiap kali Tuan Han berada di luar Seoul, ia akan selalu menitipkan Elizabeth 3rd padaku dan memintaku mengabarinya setiap jam. Apa yang kucing itu lakukan, apa sudah diberi makan, apa air minumnya sudah diganti, apa pasirnya sudah dibersihkan, apa sudah disisir bulunya, apa ada seseorang yang menyentuhnya. Sekarang, ia belum menanyakannya lagi hingga hari ini."
"Kau sangat sibuk." Minhyuk mengembalikan ponsel lawan bicaranya.
"Ya. Aku tahu." Jaehee menerima ponsel itu dengan wajah muram.
Minhyuk berpikir sejenak. "Kalau kau merasa kesulitan mengurusnya, aku bisa membantumu."
"Oh. Jangan. Ini tanggungjawabku," tolak Jaehee sopan.
"Aku tahu, Jaehee-ssi. Menjaganya untuk tetap baik adalah tanggungjawabmu, kurasa. Aku dapat mengasuhnya kalau kau membutuhkan. Di rumahku ada kucing dan anjing. Kau tidak perlu khawatir. Mereka semua akur dan jinak. Aku yakin kucing putih ini tidak akan membuat konflik."
Jaehee cukup sangsi. Tawaran Minhyuk sungguh menggiurkan. Jauh lebih menggiurkan daripada tawarannya untuk membantu proses wawancara kemarin. Sebenarnya. "Umm… aku menyukai ide itu. Pasti akan sangat membantu."
"Katakan saja saat kau mau ia tinggal sebentar di tempatku. Aku akan selalu siap." Minhyuk tersenyum dan meneguk minumannya lagi. "Model pria itu pun kesulitan saat sesi pemotretan, kudengar."
"Zen?"
Minhyuk mengangguk. "Haneul bilang model tersebut perlu beberapa kali mengambil gambar. Aku salut padanya. Ia begitu profesional."
"Benar sekali." Semangat Jaehee timbul. "Ia memiliki alergi terhadap kucing. Saat itu sangat memprihatinkan, tapi kerja kerasnya memang patut dipuji. Hasil fotonya pun tidak buruk."
"Bagus sekali, bahkan. Menurutku." Minhyuk menyisip minumannya lagi. Moccachino, favoritnya.
Zen adalah topik paling menarik yang Jaehee tahu selama hidupnya. Namun di saat yang bersamaan terselip perasaan tidak menyenangkan. Karenanya, ia tidak sungkan untuk bertanya. "Apa kau tahu siapa model itu?"
"Zen?"
Jaehee melayangkan pandangan serius. "Ya. Zen."
"Hmm… awalnya tidak. Ia begitu tampan, jadi aku yakin pernah melihat wajahnya beberapa kali tapi aku tidak sampai mencari tahu siapa namanya. Haneul memperlihatkan fotonya di Picstagram padaku. Yah… Dia gadis berumur 20 tahun, jauh dari keluarganya, hanya aku yang ia kenal, dan ia jatuh cinta. Dia jatuh cinta dan bingung harus bagaimana. Aku menyarankannya beberapa gaun untuk pergi ke sebuah pesta."
"Pesta?" Detak jantung Kang berubah tidak teratur. Sedikit bagian dirinya berharap bahwa ia sungguh bersalah karena sudah berburuk sangka pada Haneul. "Maksudku, pasti sangat menyenangkan untuk bertemu dengan aktor seperti Zen di sebuah pesta. Aku ingin sekali menghadiri pesta seperti itu jika dapat."
Minhyuk tersenyum. "Kau tahu pesta apa itu, Jaehee-ssi."
Senyum profesional Jaehee mengerut. Ada detik di mana ia kecewa pada Haneul karena menceritakan soal RFA pada Minhyuk, tapi…
"Kim Jungyeon."
Jaehee sedikit bingung. "… Eh?"
"Pesta RFA. Aku tahu darinya. Dia adalah barista yang diundang ke pesta beberapa minggu lalu. Temanku sekaligus salah satu founder Oregano Latte. Ia mabuk dan sangat antusias hingga menceritakannya pada kami semua, terutama karena dapat bertemu dengan Jumin Han. C & R membawahi sebuah perusahaan distribusi kopi, bukan? Kurasa itulah yang membuatnya semangat."
Jaehee mencoba mengingat. Memang ada seorang lelaki di pesta waktu itu yang menyinggung soal anak perusahaan C & R. Ia tidak ingat namanya, tapi ia ingat ada satu barista yang memang diundang Haneul pada acara tersebut.
"Jadi, bukan Haneul yang menceritakan soal RFA padaku." Minhyuk melanjutkan seolah tahu isi kepala Jaehee. "Waktu aku tanya pada Haneul soal pesta itu… kau tahu. Gaun harus disesuaikan dengan pesta itu sendiri. Ia bilang pesta itu merupakan acara ulang tahun sebuah perusahaan konglomerat dan ia ditugaskan untuk mewakili Pen Ink Paper. Saat aku mendengar latar tempat, waktu, dan siapa saja yang datang dari Haneul dan Jungyeon, aku yakin bahwa mereka menghadiri pesta yang sama. Tentu, RFA lebih masuk akal untuk Haneul berada di sana. Aneh sekali jika seorang staf editor yang ditugaskan untuk pergi ke sebuah event besar seperti itu, bukan?"
Mata Jaehee belum berkedip. "… Haneul tidak menceritakan apapun padamu?"
Minhyuk mengangguk. "Ia bahkan tidak tahu bahwa aku mengetahuinya."
Seorang pelayan menaruh kudapan Jaehee selagi kedua matanya tidak lepas dari Minhyuk. "Sehandal apa anda memegang rahasia, Minhyuk-ssi?"
"Sehandal menutup aibku sendiri." Kedua mata Minhyuk tidak beralih dari Jaehee yang ada di hadapan. Ketika pelayan menyajikan makanannya, aroma sedap itu tidak terlalu menggiurkan. Kedua mata Asisten Kang yang fokus menatapnya seribu kali jauh lebih menarik. Bibirnya terasa manis dan bukan dari minumannya rasa itu timbul.
…
"Aku harap kau tidak menceritakannya pada siapapun."
Minhyuk menzipper bibirnya dan mengacungkan ibu jempol.
Jaehee melihat dan memutuskan untuk menyusur beberapa pertanyaan. "Jadi, apa yang kau ketahui soal RFA?"
Minhyuk diam saja dan terus berjalan sembari melirik Jaehee. Yang dilirik membalas tatapan dan mengerutkan alis hingga akhirnya lelaki itu kembali bicara. "Kau bilang untuk tidak menceritakannya pada siapapun."
Perempuan itu berdeham. "Aku seseorang. Bukan siapapun."
"Oh ya? Jadi kau siapa?" tanya Minhyuk main-main.
"Minhyuk-ssi."
Yang disebut namanya melengkungkan bibir. Sedikit kecewa ada padanya karena Nona Kang tidak dapat diajak bercanda. "Hmm… apa ya? RFA adalah organisasi amal. Datang ke pestanya dan kau akan bertemu beberapa pengurus serta hasil fotografi yang bagus. Pelelangannya berlangsung selama dua atau tiga jam dan tidak akan terasa selama itu. Jungyeon bilang saat-saat itu begitu menegangkan karena sekalipun kau tidak ikut menawar, kau akan melihat orang-orang kaya ambisius membombardir ruangan dengan penawaran yang semakin tinggi. Apa yang dijual sangat bagus, tapi dapat langsung membuat lututmu bergetar hanya dengan mendengar harga pembukanya saja. Itu yang Jungyeon katakan.
Sekarang… aku tahu ada Haneul, Yoosung, kau, bosmu, dan Zen. Mungkin sang fotografer itu pun terlibat. Aku tidak yakin sebagai apa, tapi menyumbangkan sebuah karya mahal untuk yayasan amal? Tidak semua orang sanggup melakukannya."
"Yoosung.. kau yakin dia bagian dari RFA?" Dalam hati, Jaehee merasa cukup lega. Pengusaha di sampingnya tidak menyebutkan nama Seven maupun Rika. Seven terutama. Peran peretas itu selalu berada di belakang layar. Sekalipun hanya warna rambut peretas itu yang diketahui Minhyuk, maka tidak ada alasan lagi bagi Jaehee untuk mempercayai pengusaha tersebut. Haneul apalagi.
"Awalnya tidak. Hanya saja sangat… unik sewaktu mendapati seorang karyawati perusahaan besar duduk bersama seorang gadis yang kukenal dan ada seorang mahasiswa di antara mereka. Haneul tidak kuliah dan Yoosung bukanlah saudara dari dia maupun karyawati tersebut. Jadi, terangkan padaku, Nona Kang, bagaimana bisa seorang karyawan muda di bawah umur, mahasiswa semester awal, dan-."
Sibuk memperhatikan Minhyuk, Kang tidak memperhatikan langkahnya di jalan yang menurun. Ia akan terbanting ke bumi jika saja Minhyuk tidak refleks menahan tubuhnya akibat terpeleset. Inilah salah satu alasan mengapa Jaehee membenci sepatu berhak jika digunakan untuk berjalan-jalan, tapi… ia ingin terlihat baik. Sempurna. Secara natural, ia ingin Minhyuk melihatnya begitu. Untuk kesopanan? Menjaga penampilan? Tidak. Lebih dari itu. Namun apakah setimpal dengan kejadian memalukan ini?
Jaehee meneguk ludahnya tanpa berkedip. Wajah tampan di depan mata membuatnya terpaku. Apa yang Minhyuk pikirkan saat kedua mata obsidian itu bertemu dengan mata hazel lemon miliknya? Mengapa tubuhnya terasa kaku untuk bangkit berdiri dan lepas dari rangkulan pemuda itu? Terakhir, hidung Jaehee menangkap wangi maskulin yang mengalir dari leher sang pengusaha. Seketika ia berpikir untuk pergi ke toko parfum sepulang kerja nanti, menemukan parfum tersebut, dan memabukkan dirinya sendiri dengan wewangian itu.
Tubuhnya memanas. Jaehee membencinya. Jaehee menyukainya.
Tidak.
Tubuh MEREKA memanas.
Minhyuk menelan ludah. "… wanita yang begitu berkelas..." 'profesional, seksi, dan cerdas,' ingin sekali ia mengatakan itu. "… dapat duduk bersama di satu meja coffee shop?" lanjut Minhyuk. Masih dengan mata obsidian tertuju pada hazel lemon. Pandangan itu turun. "… Pasti ada yang mengikatkan." Naik, turun, ke arah lain, turun lagi, dan ke suatu tempat lain yang bukan pada Jaehee. Ia menjaga pandangannya. "… Anda tidak apa-apa, N-nona Kang?"
"… Oh.. M-maaf." Pertanyaan Minhyuk barusan bagaikan pemecah mantra. Kang muda menyegerakan diri untuk bangkit dan kembali pada posisi normal. Kedua tangan Minhyuk masih di sana untuk membantu sekaligus berjaga-jaga.
Jaehee merasa malu. Jaehee merasa gugup. Jaehee berdeham. "… Terima kasih."
"… Umm.. sama-sama…"
Mereka saling melihat ke arah lain. Cukup lama hingga Jaehee memutuskan untuk memecah suasana. "… Waktu istirahat sudah habis. Saya harus kembali. Terima kasih untuk makan siangnya, Pengusaha Lee." Jaehee memberi bow dalam.
"Oh.. uh.. Minhyuk-ssi, Jaehee-ssi?" pemuda itu mengingatkan.
"Ah, ya. Benar." Jaehee membungkuk lagi. Masih merasa malu. Ia sempat melirik ke atas, melihat lelaki itu memerah dan salah tingkah. Untuk hal itu, dirinya ingin tersenyum senang. Di saat yang sama Jaehee berpikir bahwa ia pun sama merah dan salah tingkahnya. Maka dengan itu ia menahan diri. Agar Lee tidak tersinggung atau agar pemuda tersebut tidak mencurigainya. "Sampai jumpa lagi, Minhyuk-ssi. Berhati-hatilah di jalan."
"T-tentu, Jaehee-ssi."
Jaehee membenarkan kacamatanya dan melangkah cepat. Genggamannya pada purse semakin kuat.
Satu, dua, tiga langkah. Jaehee semakin jauh. Pengusaha Lee memperhatikan dari sana bagaimana wanita berterusan abu-abu itu melangkah dengan anggun dan cekatan. Seprofesional penampilannya. Dari tempatnya, ia berharap wanita itu akan menoleh ke belakang, tersenyum dengan pipi merah muda hangat.
Itu tidak terjadi.
C & R Tower beberapa meter di depan. Waktu makan siang memang sudah usai. Wilayah perkantoran itu kini dibanjiri para karyawan yang juga tengah berjalan ke arah sama. Setengah dari mereka mungkin karyawan di tower C & R. Bahkan mungkin lebih.
Minhyuk terbawa suasana yang cukup membuatnya malu sekaligus menerbangkan. Cukup lama hingga akhirnya ia tersadar dan tidak lagi melihat sosok Nona Kang yang menghilang ditelan kerumunan. Minhyuk seketika mengutuk diri sendiri : mengapa tidak ia kejar eksekutif tersebut dan menemaninya berjalan hingga sampai ke kantor?
13.00
"Red light… Red light…! Ini aku, agen ganda 707..! Kau di mana? Di apartemen, kan? Barusan aku melihatmu lewat koridor ke luar. Kau ke mana?"
Rasanya seperti kriminal dipergoki seperti itu. Walaupun hanya melalui telepon. "Ya. Aku di apartemen. Barusan aku ke luar sebentar untuk buang sampah. Tidak apa-apa, kan?"
"Umm… Oke," balas Seven dengan nada lebih tenang.
"Ada apa Seven?" Haneul mesem-mesem.
I can't hide it
"Um… ah… ung… hmm… ehe.. ada yang menggangguku saat ini."
"Hnn? Ada apa memangnya?"
I can't fight it
"Umm… Ini aneh. Jadi… selama beberapa hari terakhir, aku mendengar suara. Hmm.. kau tahu. Suaramu. Dan… sedikit aneh. Ya. Aneh. Maksudku suaramu. Ya. Suaramu aneh. Saat fokus kerja, jalan-jalan ke luar, aku terus mengingatnya. Terus terdengar dan aku tidak tahu kenapa. Apa mungkin suaramu punya frekuensi yang unik? Ummm…" Dengan tangan kanan memegang ponsel, satu tangan yang tersisa dari 707 digunakan untuk membolak-balik obeng tanpa tujuan jelas. "A-Aku ingin mengujinya suatu hari nanti. Ya. Kurasa."
It's so hard to live without the love she gave to me
"Aneh? Maksudmu… seperti alien, begitu?" Di lain sisi, Haneul tengah membereskan pakaian kotornya untuk dimasukkan ke dalam mesin cuci.
Doesn't she know it
"A-a-ah… bukan. Uhh.. Hanya saja…" Seven menggaruk kepalanya. Tampak bingung dan gelisah. "Aku ingin mendengarnya. Aneh, kan? Lalu-."
"A-ACHOOO..!" Tiba-tiba saja seperti ada yang menggelitik hidungnya untuk bersin. Besar kemungkinan akibat debu dari blus velvet hijau kehitaman yang baru saja dibelinya. "Ah. M-maaf," ucap Haneul dengan suara bass akibat bersin. Telunjuknya menggesek lubang hidung bolak-balik.
"Hahaha.. so cute. Yah, bersinmu pun tidak terdengar buruk. Aku juga senang mendengarnya." Tiga detik Seven mematung. Obeng lepas dari tangannya. "… Ya, Tuhan. Aneh sekali. Tiba-tiba aku merasa… semangat…? Waw. Boleh aku rekam suaramu ini, Haneul?! Aku ingin tahu penyebabnya..!"
Di depan mesin cuci, kali ini Haneul yang mematung. Hatinya hangat sebab tidak menyangka Seven akan bicara begitu. Antara lupa bahwa Seven adalah pranker atau memang dirinya berharap hacker itu serius. "Hnn? A-apa?"
"… O-oh… ah… aku pasti terdengar seperti maniak barusan. Tidak perlu khawatir. Aku memang mengatakannya tapi aku tidak merekam suaramu atau apapun." Telunjuk Seven yang satunya menggaruk pipi.
I tried hard not to show it
Walau terdengar biasa, sebenarnya Haneul kecewa. "O-oh…"
"Kalau sampai ada kejadian aneh menimpamu, bagaimana? Atau sesuatu terjadi dan aku tertangkap dan mereka menemukan file suaramu di hard disk-ku, mereka akan menargetmu. Jadi, aku akan menyimpannya di dalam kepalaku saja. Memoriku bagus, lagipula."
Can't I make her realize that she really needs me again
Haneul tersenyum. Tersipu. "Kau sudah mempromosikan memorimu sebanyak dua kali."
"Masa?"
"Hu-um." Haneul mengangguk. "Barusan dan saat bilang kalau suaraku terngiang terus. Kurasa itu membuktikan betapa bagusnya memorimu." Duduk di sofa, Haneul sangat menikmati panggilan ini.
"Ohoho. Tapi serius. Aku seharusnya fokus pada pekerjaan sekarang, tapi suaramu terus terngiang hari ini. Dan… meneleponmu membuatku merasa lebih tenang."
She brightened up my everyday
"Kau merasa tenang sekarang?"
"Yup."
Made me feel so good in every way
"Apa itu berarti kau akan mengakhiri panggilan ini dan kembali fokus bekerja?"
"Ahh…" Lidah Seven bingung menjawabnya. "Tapi kalau aku menutup panggilannya, suaramu akan terdengar lagi. Uhuhuhu~.. aku harus bagaimana? Apa aku rekam saja ya panggilan ini~?"
Haneul tidak menjawab tapi ia tersipu kembali.
Yang mungkin ditafsirkan berbeda oleh sang intel muda. "Mmm.. aku bercanda. Tetap saja… Aku merasa lebih baik setelah mendengar suaramu. Rasanya ingin tetap seperti ini. Diam dan mendengarkan suaramu."Penyangkalan kembali keluar. "Oh. Aku sedang bicara pada diriku sendiri. Aku sering begitu."
"Tidak apa-apa. Aku juga begitu." Pipi Haneul kemerahan. Mengakui bahwa ia pun senang mendengarkan suara Seven cukup membutuhkan keberanian. Salah satu motivasinya adalah karena Seven merasakan hal yang sama. "Kau tidak perlu malu."
"Kau suka bicara sendiri juga?" Dia salah kaprah. "Tetap saja. Kau pasti tidak akan melakukannya jika sedang berada di telepon seperti sekarang."
Bibir Haneul melebar. "Jadi, apa yang kau mau, agen 707?"
"Entahlah." Seven menggerak-gerakkan tubuhnya sendiri. Gelisah, senang, salah tingkah? "Tiba-tiba aku merasa santai berbicara denganmu seperti ini dan semua kata-kata keluar begitu saja. Aneh. Tidak seperti diriku sama sekali. Aku seharusnya fokus bekerja saat ini, tapi tidak bisa. Apa karena jenuh, ya?"
Mendengar itu membuat Haneul menegakkan punggung. Ia ingat bagaimana hacker ini telah bekerja keras sejak hari kedatangannya. Bahkan mungkin dari sebelum itu. Tiba-tiba ia merasa terenyuh. Dan yang terpenting, ia tidak lagi peduli bagaimana anehnya pemuda berambut merah ini. Haneul merasa nyaman. Yoosung pun berkata benar, pikirnya. Hanya ia dan Seven yang dapat bicara layaknya orang normal satu sama lain. "Seven, kalau bicara seperti ini dapat membantumu… aku akan senang dapat membantumu."
If I could have her back to stay
Mata Seven melebar. "Hnn? JANGAN..! BAHAYA..! Agen rahasia tidak boleh terlalu sering berbicara di telepon..!" Alisnya mengernyit. "… Tapi aku sedang menelepon, berbicara denganmu. Sudah berapa lama? Dua menit?"
I've got to see her again
"Lima menit."
Seven memeriksa layar ponselnya dan terkejut. Haneul berkata benar. Niatnya semula hanya ingin menyapa perempuan ini dan panggilan ditutup. Tidak akan sampai semenit. Berbincang sedikit, tidak akan sampai tiga menit. Namun sekarang malah sudah memasuki menit ke-6. Apa ia begitu menikmatinya?
"OMG. Aku jadi lupa diri. Ini buruk..! Aku harus kembali fokus. Tidak ada waktu lagi. Aku harus kembali bekerja. Sampai nanti."
"SEVEN, TUNGGU-."
PIPIPIP
Namja itu sudah menutup panggilannya lebih dulu.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi saja.
Jika panggilan itu harus berakhir, Haneul ingin agar berakhir dengan baik. Tidak sempat menyampaikannya barusan, Haneul terpikir untuk mengirimi pesan singkat :
'Jangan lupa makan siang. Tetap semangat, Seven. Aku akan selalu ada di sini. Siap membantumu jika kau perlu. Kau pasti bisa..!'
Tombol 'send' sudah ditekan. Haneul menegakkan kepalanya dan ia merasa ada yang kurang. Ada sedikit bimbang, untuk 'ya' atau 'tidak'. Pada akhirnya, jemari itu yang bicara.
'Aku menikmatinya : bicara dan mendengarkan suaramu. Aku menyukainya.'
22.00, waktu Praha.
Di bawah naungan atap mewah dan suasana keemasan, malam ini terasa hangat. Parfum, minyak, keju, logam, emas, wine, dan kulit memenuhi teater. Bukan berarti mereka buruk. Hampir semua kursi berlapis kain merah dipenuhi para lord dan lady, tak peduli dari golongan mana mereka berasal. Toh penampilan mereka semua sama di hari ini. Para wanita dengan gaun panjang, perhiasan, sarung tangan dan para pria di samping mereka yang mengenakan setelan jas.
Semuanya menjadi tidak berarti lagi ketika lampu hanya menyoroti panggung. Aroma-aroma itu masih ada tapi tak dipedulikan. Tidak ada lagi bisik suara perbincangan sejak konduktor memasuki ruangan diiringin tepuk riuh. Bersama dengan puluhan pemegang nada instrumental, ia merangkul seluruh penikmat musik klasik di sana untuk menghayati apa yang mereka bayarkan sebelumnya.
Biola dan cello. Tapi selalu biola yang membuat Suzuya tertegun. Ia selalu tertarik melihat seseorang memainkan biola dan bertanya-tanya bagaimana mereka dapat memainkannya, mempelajarinya. Kali ini ada banyak sekali para pemain biola di bawah sana. Ia yang mengagumi karya Tchaikovsky tidak begitu mengerti dan peduli jikapun ditemukan sebuah kesalahan nada. Semua pemain biola disukainya, tanpa terkecuali.
Jumin lebih menyukai Chopin. Ia suka Tchaikovsky, tapi lebih menyukai Chopin. Pergi ke konser musik klasik hari itu murni untuk menyenangkan dirinya sendiri dan sang istri. Jadi bukanlah ketidaksukaan yang membuatnya kini berada di bawah lampu koridor belakang bilik pertunjukan lantai dua. Ia meninggalkan istrinya yang berada di bilik balkon dalam keadaan takjub dan penuh sukacita akan musik fantasi Sleeping Beauty sementara dirinya menerima telepon dari dunia nyata. Seoul menunggunya.
"Lebih cepat dari yang kuduga, ya," ujar Jumin sambil sesekali melirik ke arah istrinya. Memastikan ia tidak hilang dari tempatnya. Malam itu sang istri menggunakan gaun merah panjang yang memperlihatkan punggung mulusnya. Ingin sekali Jumin membelai dan menciumi punggung itu, jika saja tidak ada yang mengganggunya seperti sekarang. Tangannya dapat bebas bermain di kegelapan seperti ini. Terutama di tempat berbilik di mana hanya ada dua kursi untuk mereka sendiri dan kursi lain di bilik yang lain.
"Entahlah. Memang memberi perbedaan?" alis Jumin mengerut. "Menurutku itu bagus." Ia diam dan mendengarkan suara di seberang sana. Nada tinggi orkestra sedang dimainkan. "Itu bukan masalah. Selama ia mengerjakan semua tugasnya dengan baik, maka tidak ada masalah. Ia profesional dan dapat dipercaya." Diam dan mendengarkan lagi hingga akhirnya sang pemuda korporat terlihat berpikir. "Menurutmu begitu?"
Kali ini Jumin melihat Suzuya menengok ke arahnya. Entah sekedar untuk memastikan apakah suaminya masih ada di sana ataukah memang ia meminta agar segera ditemani. Sang istri menunjukkan senyum dari bibir berbalut lipstick merah darah dan itu membuat Jumin semakin membenci telepon tersebut. "Baiklah. Akan aku pertimbangkan. Sampai nanti."
PIP
Ia mematikan panggilan dan sempat melihat beberapa notifikasi.
Lantas? Ia tidak peduli.
Pria itu memilih untuk menonaktifkan ponselnya dan memeriksa semua notifikasi itu nanti. Sekarang waktunya kembali ke bilik dan menikmati waktu, tiket, pertunjukan, serta punggung halus istrinya. Mungkin Jumin yang terlalu percaya diri : berpikir bahwa Suzuya kesepian dan ingin ditemani olehnya. Namun yang terjadi adalah ketakjuban Suzuya tidak lekas teralihkan dari gerakan lentur tangan-tangan pemain orkestra di depan mata, termasuk sang kondektur yang bersemangat. Bukan karena ia tidak tahu bahwa Jumin sudah kembali ke sisinya. Suzu juga tahu ketika jari-jari lentik jahil sang korporat menggerayangi punggung telanjangnya dan berakhir di pinggang. Dari pinggang, jari-jari itu memutar ke depan, tepatnya bagian perut. Di sana mereka berhenti dan mengelus lembut perut Nyonya Han.
Byundai hitam sudah diparkir dengan sempurna. Di penjelangan sore itu, Minhyuk menyengajakan dirinya selesai lebih awal di kafe. Matahari masih cerah menyambutnya ketika baru saja keluar dari mobil. Ia berasumsi tidak akan terlalu panas untuk berjalan dari tempatnya sekarang menuju satu coffee shop dua meter di depan. Ketika kacamata hitam itu ia lepaskan, Minhyuk sadar bahwa ia merasa gugup.
Geraknya terlihat santai walaupun dari satu langkah ke yang berikutnya selalu tercipta kegelisahan. Ia bertanya banyak dalam dirinya sendiri : siapa dia, apa yang akan aku lakukan, apakah semuanya akan berjalan sesuai rencana, apa rencananya matang, apa dia benar akan datang?
Pertanyaan itu seakan tidak ada habisnya dan memudar seiring dengan semakin dekatnya Minhyuk di tempat tujuan. Pembuluh darahnya dirasakan panas. Ketika pintu kafe itu dibukakan oleh seorang waitress, ia tak membuang kesempatan untuk segera bertanya.
"Apa seseorang sudah menempati meja no 3?"
"Anda Tuan Kang Jaehee?"
Minhyuk mengangguk. Ia ingat tingginya rasa percaya diri ketika mereservasi meja nomor tiga via telepon untuk hari ini. Menggunakan nama 'Kang Jaehee' waktu itu tidak membuatnya merasa bersalah. Sekarang, dengan semua pandangan tertuju padanya, menggunakan nama orang lain sedikitnya menimbulkan rasa bersalah.
"Tamu anda baru saja datang, tuan. Mari saya antarkan?" ajak waitress tersebut untuk menuntun.
Minhyuk mengucapkan terima kasih dan mengikutinya. Jalur lurus ini cukup panjang. Di sisi kirinya terdapat barisan panjang vertikal kursi-kursi kayu putih yang dipernis beserta meja hitam mungil pada setiap set-nya. Di sebelah kanan terdapat meja barista, etalase pastry dan dessert hangat, dan tembok lukis yang dihiasi rak papan lurus bertahta tanaman bunga kerdil, toples biji kopi, serta botol susu vintage.
Cahaya matahari sore merembes masuk melalui jendela dan menciptakan bayangan Minhyuk di ubin abu-abu. Pikirannya dibawa ke beberapa hari silam. Hari yang menjadi alasannya berada di tempat ini sekarang. Hari di mana pagi begitu mendung. Pagi di mana ia meramu daging cincang, keju, dan bawang bombay untuk dijadikan isian roti pita. Tanggal di mana ia bertemu dengan Minhee untuk pertama kali. Sekaligus menjadi hari pertamanya mentraktir sarapan Nona Kang.
Benar.
Kali pertamanya.
…
Jaehee menyebut bahwa menu yang datang setiap paginya selalu berbeda. Roti pita dan Caffe Mocca Moonbucks adalah gagasan utamaku untuk membuka lembaran baru. Menu roti pita ini tidak akan pernah ditemui di coffee shop manapun. Jikapun ada, pasti berbeda rasanya. Caffe Mocca dari Moonbucks memang menu komersil. Namun aku bertaruh, menu kopi seperti ini akan menjadi pilihan ke sekian bagi sang pengirim sarapan sebelumnya.
Jaehee bicara bahwa semua menu tersebut dibungkus brown bag polos. Maka ada dua opsi soal itu : 1) si pengirim ingin tetap anonymous dengan memberikan brown bag polos atau 2) semua sarapan dan kopi tersebut datang dari tempat tak sebernama Moonbucks. Mungkin opsi pertama mengingat Nona Kang pun bercerita bahwa ia pernah mencoba mencari identitas pengirim tersebut. Namun nihil karena baik resepsionis maupun asistennya mendapati orang yang berbeda setiap hari. Kurir bayaran. Tak lebih dan tak kurang. Kurir mana yang tidak tahu identitas penyewanya?
Karena sudah terlanjur mengakui bahwa akulah 'pengirim' sarapannya setiap pagi, maka tidak ada alasan lagi untuk tetap menggunakan brown bag polos tak bermerek. Di hari perdana ini, aku ingin memberikannya yang terbaik. Semoga ia menyukai Moonbucks.
…
"Selamat pagi?" sapaku pada pemuda ini. Ia menatapku bingung seperti sedang mengamati berang-berang di darat. "Apa anda ditugaskan mengantar sarapan untuk Kepala Asisten C & R International, Kang Jaehee hari ini?"
"Ya. Benar," jawabnya sangsi. Mataku dapat membaca raut ragu dan takut darinya.
I would do anything
"Saya asisten barunya." Ya. Aku berbohong. "Ia meminta saya untuk menyampaikan ini pada anda. Yah… karena hanya anda yang tahu siapa pengirimnya." Sebuah amplop oranye kuserahkan padanya. Ia menerima itu dengan ragu selagi satu tangannya yang lain -secara tak sadar- menyodorkan sebuah kantung coklat. Kami seperti berbisnis. "Ia harap anda bisa menyampaikan pesan itu pada pengirim bingkisan ini. Penting sekali bagi atasan saya."
Kurir itu mengangguk. Ia pun pergi dan menganggap tugasnya sudah selesai.
Belum. Belum di detik itu.
…
Meja resepsionis sudah full terisi dan para karyawan yang baru saja datang memenuhi lantai itu. Ada yang masih berada di gerbang keamanan, ada yang mengantri untuk mengakses gerbang masuk, ada yang mengantri lift, berjalan cepat dengan sarapan di tangan atau membicarakan urusan bisnis. Pemandangan sibuk itu melarutkanku yang berdiri menyandar ke pilar di dekat resepsionis. Sekedar berpendapat, pembawaan mereka semua sangatlah sama. Jika melihat Jaehee-ssi, maka aku tidak heran ia dapat bekerja di perusahaan ini. Ataukah perusahaan ini yang justru membuatnya menjadi demikian? Sepertinya tidak ada yang berbeda.
Salah satu dari resepsionis akhirnya memanggil namaku, mempertemukanku dengan asisten Nona Kang untuk kali pertama. Seo Minhee, namanya.
…
Aku selalu berprinsip bahwa mengerjakan sesuatu haruslah didasari oleh keinginan yang kuat dan hati yang tulus. Ada yang berpendapat bahwa seseorang melakukan sesuatu atas dasar kewajiban. Jika dimasukkan ke dalam kamusku, maka aku akan dengan senang hati menuliskannya sebagai kewajiban yang kupilih. Karena dengan begitu, aku akan melakukan keharusan tersebut tanpa terbebani.
Bangun lebih pagi, memasak, pergi ke sebuah coffee shop ternama, mengantarnya ke C & R Tower, bertemu kurir pengantar, menerima brown bag-nyadengan dalih asisten baru, memastikan brown bag milikku yang diterima Minhee, dan mencari seorang tunawisma beruntung untuk kuberikan brown bag dari sang pemberi misterius. Setiap hari memang bukanlah hal mudah. Komitmen, boleh kubilang. Komitmen yang kupilih, sebagaimana prinsipku bicara. Hal ini masuk dalam rutinitasku selama empat hari terakhir. Selalu ada perjuangan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika yang kau inginkan begitu berharga –seperti Nona Kang-, maka perjuangannya tidak mungkin hanya sebatas memberikan bunga.
Ujung dari cerita ini berakhir kemarin. Sepulangnya kurir pengantar kantung coklat, kuperiksa isinya dan menemukan sebuah pesan berbalut amplop putih. Isinya merupakan jawaban atas permintaanku untuk bertemu. Ekspektasiku terpenuhi. Tinggal selangkah lagi untuk mengetahui siapa sosok saingan dermawanku ini.
…
There's nothing I wouldn't do
Just to see her again
Langkahnya tidak lagi lurus. Waitress berbelok di kanan dan Minhyuk masih mengikutinya. Perempuan itu masih berjalan menuntun ketika Lee secara tidak sadar terhenti dan mengangkat kepala yang tertunduk. Matanya terarah ke depan, pada zona meja pesanannya berada.
Meja nomor tiga terletak persis di pinggir jendela. Seseorang duduk di sana. Pria, bertubuh besar, bersetelan rapi hitam-hitam, kedua tangan di atas meja menggenggam ponsel dekat cangkir putih, dan mata fokus menatap layar ponsel yang berjarak kurang lebih 30 cm di depannya.
Awalnya Minhyuk merasa tidak pasti. Namun seiring sekon berlalu, ia sadar bahwa matanya tidak berbohong. Pikirannya pun tidak berdelusi. Pria itu tampan, maskulin melebihi dirinya, penyabet sabuk hitam Tae Kwon Do di usia tiga belas tahun.
Pelayan perempuan itu sudah sampai di meja termaksud, meninggalkan Minhyuk yang masih terdiam tak percaya. Dengan sopan dan nada suara rendah ia meminta perhatian pelanggan yang sedang fokus itu, guna tidak mengganggu pelanggan lain di sekitar sana. Pria tersebut tampak tidak keberatan karena dialihkan. Setelah mendengarkan informasi dari sang waitress, kepalanya mengikuti arah tangan si perempuan tertuju. Bertaruh, ia pun sama tidak percayanya seperti Minhyuk.
Saling memandang dari jarak yang cukup jauh, mereka berdua. Kaki Minhyuk kembali melangkah untuk mendekat. Semakin dekat, semakin nyata apa yang dilihatnya. Minhyuk kenal siapa dia. Kulit bersemu coklat, mata bulat, air wajah serius, rambut rapi tertata, perawakan alfa, dan jika bicara dengannya, kau akan tahu bahwa ia adalah manusia terlogis yang pernah ada. Pembully, sekaligus temannya. Penjaganya, sekaligus musuhnya.
Minhyuk membungkukkan kepala sedikit. "Apa kabar, Im Junsu?"
"H-halo? Um.. selamat malam?"
"Malam, Seven." Jantung Park berdebar kencang. Tangannya berkeringat. Sebenarnya, ia sungguh merasa menyesal akibat mengirimkan pesan terakhir pada sang intel muda.
'Bagaimana jika ia salah paham? Bagaimana jika ia diam-diam mengolok-olokku?'
'Bukan…'
'Bagaimana jika ia membencinya?!'
Haneul tak bisa berhenti memikirkannya.
"Umm.. ah, maaf. Astaga. Bukan. Ummm…" Telinganya dapat mendengar hembusan nafas Seven yang berat. Membuat perempuan itu semakin khawatir.
"Kau baik-baik saja?"
"Baik? Uh. Oh. Ya. YA. Aku baik-baik saja. Ah…. Entahlah. Hanya… Hanya aku benar-benar merasa aneh akhir-akhir ini. Mungkin aku sedang sakit."
"Sakit? Kau pasti kelelahan. Kau sudah makan malam? Sebaiknya-."
"Haneul?"
Ini pertama kalinya Seven memotong dialognya. "Y-ya?"
"Perbincangan kita tadi siang... Apa kau masih ingat?"
Haneul Park memikirkannya. Seven menghubungi hampir tiga kali tadi siang. Entah phone call mana yang pemuda itu maksud. Namun jika ia menanyakannya, maka phone call yang dimaksud adalah yang memiliki poin, bukan? Sesuatu yang penting.
"Aku tidak mau siapapun terlibat masalah karena dekat denganku." Tiba-tiba ia bicara. Cara bicaranya masih akrab, tapi Haneul merasakan sesuatu yang 'menyedihkan'.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri. Terima kasih karena sudah khawatir padaku." Maksud hati memang ia serius untuk mengatakan ini. Namun Seven menganggapnya main-main.
"Bagaimana bisa tidak khawatir?! Hacker itu mungkin sedang mengawasimu sekarang. Atau mungkin hacker yang lain."
"Hacker yang sedang mengawasiku… Apa itu termasuk dirimu?"
Jauh di seberang sana, 707 duduk di balkon saat ini. Ia merasakan angin yang menyapu semua bagian kulit terpampangnya. Ditemani banyak kaleng Dr. Pepper, Luciel berani bersumpah bahwa minuman seperti itu tidak akan dapat membuatnya mabuk. Jadi jelas, rasa panas di beberapa bagian tubuhnya bukanlah efek dari alkohol. "Kau bisa bicara seperti itu karena tidak tahu bahayanya mereka..!" Haneul mendengarkan. "Orang baik sepertimu harus tetap berada di dunia. Hidup, melakukan hal-hal baik. Kau tidak boleh terlibat hal buruk karena orang-orang sepertiku. Bukankah sudah kubilang kalau hacker itu seperti kecoak di internet?!"
Perempuan berponi terdiam. Ia pun ada di balkon saat ini, menatap supermoon yang sedang banyak dibicarakan orang.
"Jadi jangan terlalu akrab dengan hacker. Apalagi agen rahasia. Laki-laki dengan pekerjaan yang bersih dan jujur akan cocok untukmu. Lebih baik lagi jika latar belakangnya normal dan…"
Haneul masih mendengarkan.
"Ahahahah~… duh. Otakku kepenuhan. Jadi melantur begini. Um.. aku tidak bohong soal mendengarkan suaramu, tapi sepertinya ini memberiku efek buruk. Di sisi yang lain. Aku harus menutup sekarang."
Sebenarnya si editor merasa enggan. Tapi bagaimana jika Seven benar-benar butuh istirahat?
"Baiklah."
Tangan Seven masih pada tempatnya. Ada kekuatan yang membuatnya tidak lekas mengakhiri panggilan tersebut. "Uhm… Tidak. Um… bisa kau saja yang mengakhiri panggilan?"
"Hnn? Tidak mau...!"
Bibir Seven tersungging. "Mendengarnya membuatku bersemangat..! Kurasa aku sudah lebih baik sekarang. Terima kasih. Sampai nanti. Bye~.."
Apapun yang terjadi, selalu Seven-lah yang mengakhiri panggilan. Sesenang apapun si redhead. Juga, sebagaimanapun senangnya Haneul, selalu dirinya yang berakhir tidak puas. Ada apa dengannya?
'Ada apa dengan Seven?'
Apa Seven tidak menyukainya?
'Apa Seven butuh waktu?'
Seven…
Oh, Seven…
Setengah berbaring di kursi kayu panjang pada balkonnya. Angin sudah tidak begitu besar, tapi sinar bulan membuatnya menyerpih. Apa yang baru saja ia katakan? Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia cemaskan?
Siang tadi ia merasa senang luar biasa. Siang tadi ia merasa luar biasa. Tadi pun ia berbunga-bunga, namun sedetik kemudian… mengapa?
Oh don't you know its true?
Tiga kaleng Dr. Pepper sudah tergeletak kosong di dekatnya. Dua masih berdiri dan berisi. Satu lagi ada di tangan Seven, diputar ringan. Matanya kosong menatap ke bawah. Tidak fokus.
Pertama kali, ia berharap ada bir di rumahnya.
If I could only
See her again
