Previous chapter...

"Ayo kita menikah."

"Apa?" Baekhyun menoleh terkejut.

"Aku akan menemui ayahmu dan melamarmu."

"Kau pasti sudah gila. Ayah membencimu setengah mati, kau tahu itu kan?"

"Ayahmu boleh menghajarku sepuasnya asalkan aku bisa menikahimu, Baekhyun," kata Chanyeol. Kali ini nada bicaranya berubah serius. "Jangan remehkan perasaanku. Kau dan Jiwon adalah segalanya untukku."

"Tapi aku sudah banyak menyakitimu. Kyungsoo benar, aku tidak pantas untukmu. Yang kuberikan padamu hanya luka, bukan cinta, Chanyeol. Bersamaku kau mungkin tidak akan pernah bahagia."

"Siapa yang peduli?" ujar Chanyeol, menatap lurus ke manik mata Baekhyun. "Aku hanya ingin bersamamu, entah itu bahagia atau menderita. Membesarkan anak kita bersama. Hanya itu yang kuinginkan."

Baekhyun hanya mampu terdiam mencerna kalimat Chanyeol. Sementara pria itu semakin menghapus jarak di antara mereka. Wajahnya semakin mendekat. "K-kau akan m-menyakiti Kyungsoo, C-chanyeol..." ujarnya gelagapan, dengan tangan mendorong dada Chanyeol perlahan.

"Ini adalah keputusan yang terbaik. Dia akan lebih tersakiti jika hidup dalam kepura-puraan," sahut pria itu, semakin menghapus jarak di antara mereka.

Oh Tuhan... apa yang akan pria ini lakukan?

"Bolehkah aku..." tanya pria itu pelan, menyapukan napas hangatnya ke permukaan wajah Baekhyun.

Detik itu juga, seperti mimpi, Chanyeol mempersatukan bibir mereka. Tidak hanya bibir, hati dan perasaan mereka pun ikut bersatu, tercurah dalam sebuah ciuman yang sarat akan makna. Seperti semua beban telah diangkat dari pundak masing-masing. Sakit hati dan luka melebur jadi satu dan menghilang menjadi gumpalan asap tak terlihat. Yang tersisa hanyalah kau dan aku. Itu saja sudah cukup.

"Will you marry me?" tanya Chanyeol di sela-sela ciuman mereka. Dia mengusap lipstik Baekhyun yang sedikit tersemir keluar bibirnya.

Air mata mengalir di kedua pipi gadis itu. Namun yang jelas itu bukanlah airmata kesedihan. Baekhyun mengagguk mantap. "I do. I do."

.

.

.


IF I COULD CHOOSE...

Chapter 21 (last chapter)

Cast :

Baekhyun, Chanyeol, Sehun, Kyungsoo EXO (pairing CHANBAEK, SEBAEK, dan CHANSOO)

Genre :

Romance, Hurt, Sad

Rate :

T/ M / Gender Switch (GS)

FF ini terinspirasi dari sebuah cerita yang pernah aku tonton dari tivi

Tetapi...

Cerita dan alurnya serta dialognya milikku.

.

.

Beware of typos

.

.

Happy reading!

.

.

.


5 years later...

.

"Papa! Bonjour!"

Sehun menoleh ketika seorang bocah perempuan kecil mendorong pintu galeri lukisnya dan menyapanya dengan hangat.

Sehun tersenyum lembut sembari merentangkan tangannya untuk menenggelamkan tuan puteri-nya ke dalam sebuah pelukan hangat. "Bonjour! Apa semalam tidurmu nyenyak, sayang?"

Gadis kecil itu memberikan kecupan di pipi sang ayah kemudian mengangguk kencang. "Tapi saat aku bangun, Papa tidak ada bersamaku," ujarnya mengerucutkan bibir.

"Oh, maafkan Papa, sayang. Ada lukisan yang harus Papa selesaikan karena lusa kita akan mengadakan pameran lukisan di sini," jelas Sehun meskipun dia tahu putri kecilnya ini belum paham sepenuhnya apa yang dia katakan. "Apa kau sudah sarapan?"

Dia mengangguk lagi. "Hari ini aku menjadi anak baik."

"Bagi Papa, setiap hari kau selalu menjadi anak baik."

Gadis kecil itu terkikik senang. "Nahhhh... tadi aku makan tanpa disuapi Mama," ucapnya bangga.

"Wah, anak Papa hebat sekali!" puji Sehun seraya menghujani puterinya dengan kecupan. Lagi-lagi gadis kecil itu terkikik. Geli. "Sekarang, mana Mama?"

"Mama tait dans la douche."

*mama sedang mandi

"Oh benarkah? Kalau begitu, maukah kau duduk di kursi itu selagi Papa merapikan lukisan-lukisan ini?"

"Uh hum."

Sekali lagi, Sehun mengecup pipi puterinya dengan gemas. Oh, betapa bahagia hidupnya kini. Bagaimana tidak? Saat ini, hidupnya terasa begitu sempurna. Dia memiliki seorang istri yang begitu mencintainya dan seorang anak perempuan yang menggemaskan.

Dia tidak bisa meminta lebih dari ini.

Inilah hidupnya sekarang. Setelah menghabiskan hampir satu tahun tinggal di apartemen di tengah kota Paris, Sehun memutuskan untuk membeli sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Rumah dua lantai yang digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus galeri lukisannya di lantai bawah.

Kemudian beberapa bulan setelahnya, dia menikahi Luhan. Gadis yang sudah menjadi pengisi hari-harinya selama di Paris. Lucu sekali, Sehun tidak pernah berpikir dirinya akan jatuh cinta pada Luhan—mantan sekretaris Chanyeol yang sebenarnya sudah lama dikenalnya. Mungkin inilah yang mereka sebut dengan takdir.

Sehun pikir, dirinya tidak akan jatuh cinta lagi. Mengingat kisah cintanya bersama Baekhyun yang tidak berakhir bahagia, hal itu rupanya tidak menjadi penghalang bagi Sehun untuk menemukan cinta yang lain. Yang lebih besar. Yang membuatnya bahagia. Cinta sejati.

Lalu, hadirlah Elena. Puteri kecil yang kehadirannya semakin memperkokoh kebahagiaannya dengan Luhan. Elena memang bukan anak kandungnya. Mereka memutuskan untuk mengadopsi Elena ketika gadis kecil itu masih bayi. Ibu kandung Elena adalah imigran Korea yang sudah lama tinggal di Paris. Saat melahirkan Elena, sang ibu meninggal dan tidak ada keluarga lain yang bisa merawat bayinya. Kemudian, Sehun memutuskan untuk mengadopsi bayi mungil itu.

"Papa," panggil Elena dengan suara imutnya.

Sehun menoleh pada puterinya dan tersenyum. "Ya, sayang?"

"Apa aku mirip Papa?" tanyanya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, jujur saja, Sehun tidak pernah mengiranya. Elena hanya balita tiga tahun. Tapi mengingat dia sudah pandai bicara dan sangat cerdas, Sehun seharusnya tahu, cepat atau lambat, Elena pasti akan bertanya juga. "Tentu saja kau mirip Papa."

"Ng? Hidungku, ya?"

"Bukan, tapi matamu yang indah itu mirip sekali dengan mata Papa," kata Sehun.

"Benarkah?" tanyanya sumringah. "Lalu bagaimana dengan Mama?"

"Mama..." Sehun mengetuk-ketukkan telunjuknya di dagu, bertingkah seolah-olah dirinya sedang berpikir keras. "Entahlah... kau sama sekali tidak mirip Mama."

"Ah pourquoi?"

*kenapa

"Papa akan memberitahumu satu rahasia," kata Sehun, menaruh lukisannya kemudian menghampiri Elena.

Elena menggagguk antusias.

Kemudian Sehun membisikkan sesuatu di telinga puterinya yang membuat gadis kecil itu berteriak senang. "Sungguh?"

"Ya."

"Sungguh? Sungguh? Sungguh?"

"Tentu saja, sayang. Kau tidak mirip Mama karena kau lebih cantik dari Mama."

"Siapa yang lebih cantik dari Mama?" Tiba-tiba saja Luhan sudah ada di dalam galeri. Berdiri sambil melipat tangan di dada dan bibir merengut pura-pura marah.

"Oops, sepertinya kita dalam bahaya, sayang."

.

.

.

Baekhyun membasuh mulutnya beberapa kali dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Astaga, pikirnya. Wajah pucat dan kusut segera menyambut penglihatannya. Ah, ini benar-benar buruk. Tubuhnya terasa lemas dan hampir tidak bisa melakukan apa pun.

Chanyeol yang khawatir pada kondisi Baekhyun, sudah beberapa kali memaksa isterinya itu untuk pergi menemui dokter. Namun dia juga tidak bisa melawan isterinya yang keras kepala—yang selalu berdalih dengan mengatakan 'aku baik-baik saja'.

Tapi ini sudah tiga hari. Dan keadaannya tidak kunjung membaik.

Setelah menghabiskan hampir lima belas menit di dalam kamar mandi, Baekhyun keluar dan segera meraih ponsel-nya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur untuk menghubungi seseorang.

.

.

.

"Apa kabar, bu?" sapa Baekhyun sesaat setelah kedatangan nyonya Park ke apartemen tempat tinggalnya.

"Apa kau baik-baik saja, nak? Kau tampak pucat."

"Akhir-akhir ini aku memang sedikit tidak enak badan, bu," jelas Baekhyun.

"Kau sudah pergi menemui dokter?" tanya mertuanya itu khawatir.

Baekhyun menggeleng. "Hanya perlu istirahat beberapa hari, aku yakin setelah itu aku akan baik-baik saja, bu," ujar Baekhyun tersenyum lemah.

"Aigoo~" desah nyonya Park. "Ibu langsung datang kemari setelah kau menelepon. Ibu benar-benar khawatir, kau tahu."

"Terima kasih ibu sudah mengkhawatirkanku. Sebenarnya aku merasa tidak enak karena meminta ibu untuk merawat Jiwon selama aku sakit."

"Eihh... Jiwon adalah cucuku. Aku tidak akan keberatan merawat cucuku sendiri," sahut nyonya Park.

"Terima kasih, bu. Oh ya, ibu mau minum apa?"

"Tidak perlu. Kau sedang sakit. Ibu bisa ambil sendiri jika haus. Istirahatlah... Kau sudah sarapan?"

"Sudah. Tapi semua makanan yang masuk ke perutku sudah kumuntahkan tadi."

"Kau muntah-muntah, nak?" tanya nyonya Park sedikit terkejut.

"Hmmm," angguk Baekhyun untuk kemudian dia terdiam—tersadar akan sesuatu. Ya Tuhan! Mungkinkah gejala ini...?

.

.

.

"Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Chanyeol sambil mempersilahkan teman sekaligus rekan bisnisnya untuk duduk. "Apa kabar Shanghai?"

"Shanghai selalu luar biasa..." sahut rekan kerjanya, kemudian menarik satu tempat duduk yang bersebrangan dengan Chanyeol. "Kau sendiri bagaimana?"

"Oh, aku tidak pernah sebahagia ini."

"Itu bagus. Tapi, kenapa kau ingin kita bertemu di cafe ini? Kukira kau akan mengajakku makan siang di hotel bintang lima. Mengingat proyek kerjasama kita kan bernilai miliaran dollar..."

Chanyeol berdecak. "Kau tidak ingat? Di cafe ini dulu kita pertama kali bertemu kan?"

Kemudian pria di depannya itu tergelak. "Ah... kau benar. Saat itu kau bertingkah seperti pria yang sedang kebakaran jenggot."

Chanyeol memutar bola matanya.

"Bagaimana kabar Baekhyun dan anak kalian?"

"Mereka berdua baik. Semua baik-baik saja kecuali Jiwon yang selalu merengek, mengatakan bahwa dia merindukan paman Yifan-nya dan ingin pergi ke Shanghai seorang diri untuk menemuimu."

Yifan tersenyum jahil. "Kenapa aku merasa bahwa Jiwon lebih menginginkan diriku sebagai ayahnya dari pada kau, Park Chanyeol?"

"Aishh! Mau mati ya?"

"Lagipula, kalau dilihat baik-baik, Baekhyun lebih cocok denganku dari pada denganmu..." Yifan masih melanjutkan hobinya menggoda Chanyeol. Ini memang menyenangkan. Melihat Chanyeol terbakar cemburu memang tontonan yang seru.

"Yak, Wu Yifan! Awas kau kalau berani mengatakannya lagi!"

Yifan tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Sementara Chanyeol berusaha untuk tidak mencincang kasar temannya itu dan melemparkannya ke laut untuk makan siang hiu putih.

Entah sejak kapan pastinya mereka bisa menjadi teman dekat seperti ini. Padahal awalnya Chanyeol begitu membenci pria di hadapannya itu. Bagaimana tidak? Yifan adalah penghalang bagi hubungannya dengan Baekhyun. Dan sampai saat ini Chanyeol masih belum bisa menerima kenyataan kenapa tuan Byun begitu menyenangi Yifan dan menginginkan pria tinggi itu sebagai menantunya?

Ish!

Tapi rupanya, Yifan benar-benar pria yang baik—seperti yang penah dikatakan Baekhyun dulu. Mereka dipertemukan kembali pada saat yang tak terduga. Ketika Chanyeol melakukan perjalanan bisnis ke Shanghai, di sanalah dia kembali dipertemukan dengan sosok Wu Yifan.

Chanyeol menghabiskan seluruh sore dengan berbincang dengan Yifan. Selain membicarakan tentang proyek yang sedang dikerjakan oleh keduanya, mereka juga membicarakan banyak hal termasuk kehidupan pribadi.

"Kenapa kau masih single sampai saat ini?" tanya Chanyeol. Selama dia mengenal Yifan, dia tidak pernah tahu temannya itu dekat dengan wanita manapun.

"Tidak ada waktu untuk berkencan. Mau bagaimana lagi? Semua wanita akan kabur jika punya kekasih yang lebih senang berkencan dengan pekerjaannya dari pada dengan kekasihnya sendiri."

"Cih, alasan klasik! Wajahmu kan tidak buruk."

"Kau serius? Aku ini super tampan! Bahkan mungkin aku paling tampan di Shanghai!"

Chanyeol mencibir. "Betapa lucunya dunia ini karena pria paling tampan saja sampai saat ini bahkan tidak memiliki kekasih."

"Hmmm..." Yifan menyeringai. "Seandainya dulu kau membiarkanku berkencan dengan Baekhyun, mungkin saat ini ceritanya akan lain..." kata Yifan.

Yes, pikirnya senang ketika Chanyeol merengut mendengar kalimatnya. Chanyeol masuk jebakannya lagi.

"Mungkin saat ini kaulah yang masih single... hahahaha," tambahnya.

"Sial! Kalau saja aku tidak ingat aku punya anak dan istri yang menungguku di rumah, aku sudah menguburmu hidup-hidup, Wu Yifan!"

"Kau tidak akan berani melakukannya..." Yifan meleletkan lidahnya. Mereka berdua persis seperti dua bocah laki-laki yang sedang bertengkar memperebutkan mainan.

"Aish! Aku harus mencarikan seorang wanita untukmu. Kalau tidak, kau akan terus mengincar istriku!"

Setelah menghabiskan minuman terakhirnya, Chanyeol dan Yifan memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Hari sudah sudah terlalu sore. Chanyeol yakin Baekhyun saat ini istrinya sedang menyiapkan makan malam. Baekhyun tidak akan senang kalau dirinya pulang terlambat.

"Kau tidak akan menawariku makan malam di rumahmu?"

"Tidak terima kasih," ujar Chanyeol. "Kau makan di hotel tempat menginapmu saja. Aku tidak mau ambil resiko istriku digoda pria lain."

"Kau... benar-benar posesif ya," komentar Yifan sambil menggeleng tak percaya.

"Jelas saja aku posesif. Kau tidak pernah tahu bagaimana perjuanganku untuk mendapatkannya..."

Tepat ketika mereka berdua sedang berjalan menuju pintu cafe, dari arah luar tiga orang perempuan, masuk sambil berbincang satu sama lain. Mereka berpapasan dan di antara tiga orang itu, satu wajah terasa begitu familiar bagi Chanyeol.

Kyung...soo?

Dia tidak salah lihat kan? Itu sungguh Do Kyungsoo kan?

"Do Kyungsoo!" panggil Chanyeol, dan benar saja, gadis itu langsung menoleh ke arahnya.

Kyungsoo tidak berubah sama sekali. Dia masih tetap cantik dengan mata bulat dan bibir bentuk hatinya yang membuatnya terlihat begitu manis. Yang berubah hanya potongan rambutnya yang kini terlihat lebih pendek. Kyungsoo memotong rambutnya menjadi sebahu. Selain itu, dia tetap sama.

"Park Chanyeol?!" Kyungsoo tak kalah terkejut.

Bagaimana pun, sudah lima tahun berlalu sejak terakhir kali mereka bertemu.

"Apa kabar?" tanya Chanyeol.

"Baik. Kau sendiri bagaimana? Oh, bagaimana kabar Baekhyun dan Jiwon?" balas Kyungsoo ramah setelah menjabat tangan Chanyeol. Kemudian dia menyadari bahwa Chanyeol tidak sendirian. Dia bersama temannya dan Kyungsoo menyempatkan diri untuk melirik pria di samping Chanyeol itu sekilas.

"Kami baik-baik saja. Oh ya, kenalkan ini temanku Wu Yifan," kata Chanyeol memperkenalkan Kyungsoo pada Yifan.

Kyungsoo tertegun sejenak.

Wajah pria itu...

Pria bernama Wu Yifan itu... terlihat familiar.

.

.

.

Kyungsoo membuka matanya yang sembab. Wajahnya terasa kaku karena terlalu banyak menangis tadi malam.

Apakah ini mimpi?

Apakah hubungannya dengan Chanyeol benar-benar berakhir?

Kalau benar ini mimpi, ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya...

Bagaimana bisa...

Oh!

Kyungsoo merutuki airmatanya yang kembali mengalir. Dia benci pada Chanyeol yang sudah mencampakannya. Dia benci pada Baekhyun yang selalu bisa mendapatkan apa pun, sementara dirinya tidak. Terlebih, dia benci pada dirinya sendiri karena sudah begitu lemah.

Ini bukanlah Do Kyungsoo yang selama ini dikenalnya.

Dia bukan gadis lemah. Sejak kecil, ibu mendidiknya untuk menjadi wanita yang kuat dan pekerja keras. Dia berasal dari keluarga miskin, sehingga kesulitan hidup tidak lagi menjadi hal yang menakutkan. Dia sudah terbiasa mendapat cemoohan dari teman-teman karena ibunya seorang pelayan rendahan. Tapi dari semua penderitaan itu, tidak sekali pun Kyungsoo mengeluh dan merasa sedih. Dia tidak pernah putus asa.

Tapi kenapa... hanya karena dia tidak bisa mendapatkan pria yang dicintainya... Kyungsoo menjadi begitu terpuruk?

Chanyeol adalah cinta pertamanya. Juga ciuman pertamanya. Dan juga pria pertama yang pernah menyentuhnya. Chanyeol adalah pria pertama yang Kyungsoo relakan segala yang dia miliki hanya untuk pria itu.

Dan kini Chanyeol sudah tidak bisa lagi dia genggam. Pria itu sudah pergi.

Rasanya sakit sekali. Melebihi rasa sakit dari semua hinaan-hinaan yang pernah dia dapatkan sepanjang hidupnya. Ini bahkan... lebih buruk.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Chanyeol! Itu pasti Chanyeol! Kyungsoo mengumpulkan serpihan-serpihan harapannya, menyusunnya kembali walau tak dapat kembali utuh dan segera menyongsong pintu.

Chanyeol pasti berubah pikiran. Chanyeol pasti menyesal sudah mencampakannya dan kini datang untuk mengais maaf darinya.

Kyungsoo membuka pintu depan lebar-lebar. Namun sosok yang menyambut penglihatannya bukanlah orang yang dia harapkan. Justru, orang itu adalah orang terakhir yang ingin dilihatnya di muka bumi ini.

"Kyungsoo..." sapa Baekhyun.

"Untuk apa kau kemari?" tanya Kyungsoo sengit. "Mau memamerkan bahwa sekarang Park Chanyeol sudah kembali ke dalam pelukanmu?"

"Apa?" Baekhyun terkejut pada betapa dingin dan menusuknya kalimat Kyungsoo barusan. "Dengar, aku datang kemari bukan un—"

"Pergilah. Aku muak melihat wajahmu."

"Kyungsoo..." panggil Baekhyun pelan. Dia tidak ingat Kyungsoo yang dikenalnya bisa bicara sekasar ini. Kyungsoo selama ini selalu menjadi gadis yang penuh sopan santun dan ramah.

"Oh... atau kau datang kemari karena kau ingin mendengar kata 'selamat' langsung dari mulutku? Betapa piciknya seorang Byun Baekhyun ini."

"Kyungsoo, aku tidak mengerti kenapa kau bisa seperti ini... Maksudku... aku datang kemari justru untuk meminta maaf padamu atas nama Chanyeol."

"Minta maaf? Omong kosong!" Kyungsoo memutar bola matanya.

"Aku tahu Chanyeol salah karena sudah mempermainkan perasaanmu, Kyungsoo. Tapi... di sini bukan hanya Chanyeol, tapi aku juga. Semua kekacauan ini berasal dari kami berdua, Kyungsoo. Kau... kau dan Sehun adalah orang yang paling tersakiti, aku tahu itu. Aku benar-benar minta maaf. Seandainya dulu ak—"

"Cukup!" potong Kyungsoo dingin. "Aku tidak ingin mendengar dongeng tidak penting dari mulutmu itu. Pergilah!"

Kyungsoo mendorong tubuh Baekhyun menjauh dan berusaha secepat mungkin menutup pintu. Namun Baekhyun tidak kalah cepat untuk menahan pintu itu agar tidak tertutup sepenuhnya. "Kyungsoo, kumohon. Dengarkan aku. Ini memang bukan tempatku untuk mengatakan ini padamu, tapi Chanyeol sudah menceritakan semuanya. Dia benar-benar tulus padamu. Chanyeol tidak pernah mempermainkanmu. Saat dia mengatakan dia ingin berusaha mencintaimu, dia benar-benar melakukannya. Dia berusaha mencintaimu. Chanyeol..."

Baekhyun tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya karena Kyungsoo sudah terlanjur menutup rapat pintunya.

.

.

.

"Dia benar-benar tulus padamu. Chanyeol tidak pernah mempermainkanmu. Saat dia mengatakan dia ingin berusaha mencintaimu, dia benar-benar melakukannya. Dia berusaha mencintaimu.."

Kalimat Baekhyun terus menari-nari di kepalanya meskipun sudah tiga hari berlalu sejak Baekhyun datang tiba-tiba di depan pintu rumahnya.

"Pria pengecut..." decihnya. "Kau tidak bisa datang dan meminta maaf padaku dengan mulutmu sendiri, Park Chanyeol?"

Kyungsoo menyalakan shower dan air segera mengguyur tubuhnya. Tidak ada satu pun sisi tubuhnya yang tidak terbasahi. Tidak juga dengan pikirannya yang turut basah terguyur air. Namun semua kalimat Baekhyun tetap saja masih mencokol di kepalanya. Semuanya. Dia tidak dapat melupakan semuanya...

Sedang apa Chanyeol dan Baekhyun saat ini?

Apa mungkin saat ini mereka sedang tertawa... menertawakan penderitaannya?

Tapi kemudian Kyungsoo terbangun dengan bau obat-obatan dan karbol yang begitu kental di udara. Dan ketika dia membuka mata, ruangan serba putih segera menyambut penglihatannya. Tubuhnya terasa lemah tak berdaya dan dia tahu dirinya sedang tidak berada di kamar tidurnya. Ini tempat lain.

Rumah sakit.

Apa yang terjadi...?

Kenapa dirinya bisa ada di tempat in—"Ahhh!"

Kyungsoo berusaha untuk bangun, namun sesuatu yang berdenyut nyeri di pergelangan tangannya, membuatnya kembali berbaring. Dia mengangkat sedikit pergelangan tangan kirinya dan menemukan perban membalut area itu.

"Kenapa..."

Tiba-tiba saja ingatannya tentang malam itu kembali. Malam di mana dirinya sedang berada di titik terendah. Merasa tak diinginkan. Dicampakan. Dikhianati. Tak dicintai. Kemudian Kyungsoo tidak bisa mengingat apa pun beberapa saat setelah dirinya menorehkan sebilah pisau di pergelangan tangannya.

"Pasien itu kenapa?"

Sayup-sayup Kyungsoo dapat mendengar percakapan dua orang perawat di luar kamar rawatnya.

"Dia berusaha untuk bunuh diri. Beruntung, rekan kerjanya segera menemukannya dan membawanya kemari tadi malam."

"Ya Tuhann..." kata perawat yang lain. "Kenapa dia melakukan itu?"

"Entahlah... kasihan sekali dia..."

Kyungsoo termenung menatap langit-langit kamar rumah sakit yang putih bersih. Kenapa Tuhan masih menyelamatkannya? Kenapa dirinya tidak dibiarkan mati saja? Lagipula dia sudah kehilangan segalanya. Satu-satunya hal yang dimilikinya saat ini hanyalah belas kasihan dari orang lain, yang bahkan Kyungsoo tidak membutuhkannya sama sekali.

Kyungsoo ingin mati saja agar semua penderitaannya berakhir.

.

.

.

Udara di atap rumah sakit begitu menyegarkan. Angin tak henti-hentinya berhembus menerpa wajahnya. Kyungsoo menghela napas dalam, memejamkan mata. Dia sudah memikirkannya sepanjang malam dan tekadnya sudah bulat.

Dengan susah payah, dia menaiki tembok pagar atap rumah sakit. Mengintip sedikit ke bawah, dia yakin jika tubuhnya mendarat sempurna di tanah setelah melompat dari lantai dua puluh, dia pasti sudah tidak bernyawa lagi. Ini benar-benar cara yang paling mudah untuk mengakhiri hidup.

Selamat tinggal penderitaan...

Selamat tinggal Park Chanyeol...

"Hei, nona."

Kyungsoo mengurungkan niatnya untuk melompat ketika seseorang menghampirinya. Dia benar-benar terkejut. Dia bersumpah sudah memastikan bahwa tidak ada orang lain di sini selain dirinya. Kenapa tiba-tiba pria ini muncul...?

"Kau sedang apa?" tanya pria itu, menatapnya bingung.

"Jangan ganggu aku," kata Kyungsoo dingin. "Kita tidak punya urusan apa-apa."

"Tidak, maksudku... apa yang kau lakukan di situ? Ya Tuhan, tubuh kurusmu bisa terbang tertiup angin kalau kau berdiri di sana. Bagaimana kalau kau jatuh...?"

Kyungsoo menatap geram pria tinggi di sampingnya itu. "Bisakah kau tidak menggangguku dan pergi?"

"Baiklah aku akan pergi. Tapi sebelumnya, bisakah kau mengecek pantatku sebentar?" tanya pria itu.

"Maaf?" Kyungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti. Dia sedang tidak ingin bercanda saat ini.

"Oh, maksudku, bisakah kau mengecek celana belakangku? Sepertinya aku menduduki permen karet. Aku ingin membersihkannya tapi aku tidak tahu di mana tepatnya dia menempel."

Yang benar saja, gerutu Kyungsoo.

Kyungsoo memperhatikan pria itu. Mereka sama-sama mengenakan pakaian rumah sakit. Itu berarti... pria ini juga pasien di sini. Kemudian Kyungsoo melirik perban yang membalut kepalanya, juga tangan kanan pria itu yang dibalut gips. Kalau dilihat-lihat, pria ini keadaannya lebih menyedihkan dibanding dirinya.

Entah kenapa... dan entah alasan apa, Kyungsoo saat ini sudah berdiri di belakang pria itu. Membantu pria malang ini membersihkan permen karet dari celananya.

"Ya Tuhan, terima kasih. Tangan kananku patah. Aku tidak bisa melakukannya tanpamu," kata pria itu sedikit mendramatisir. "Lagi pula, siapa sih yang sudah iseng membuang permen karet sembarangan begini?!"

Kyungsoo merengut marah. "Kau mengacaukan rencanaku."

"Kalau begitu maaf. Tapi, apa aku boleh tahu, memang kau sedang merencakan apa? Yang kulihat kau hanya sedang berdiri di sana tanpa melakukan apapun."

"Sudah, lupakan saja," kata Kyungsoo dingin.

Niatnya untuk bunuh diri lagi sudah menguap di udara gara-gara pria ini.

Menyebalkan, batin Kyungsoo. Kemudian dia meninggalkan atap rumah sakit.

.

.

.

Yifan berpikir keras kenapa dirinya bisa sial sekali. Dalam seminggu terakhir, dia sudah mendapat dua kesialan. Pertama, kencan butanya dengan anak dari rekan bisnis ayahnya tidak berjalan dengan baik. Kedua, tiga hari yang lalu dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Mobil miliknya bertabrakan dengan mobil lain yang melanggar lampu merah dari arah berlawanan. Hasilnya, tangan kanannya patah dan kepalanya terluka karena benturan keras. Mobilnya...ah, sudahlah... Rasanya Yifan ingin sekali menangis kalau mengingat mobil kesayangannya itu sudah tidak bisa diselamatkan.

Sudah tiga hari dirinya mendekam di rumah sakit dan rasanya bosan sekali. Orang yang datang mengunjunginya hanya rekan bisnis dan bawahannya di kantor, itu pun mereka datang hanya untuk sekedar basa-basi—tujuan utama mereka hanya membicarakan masalah bisnis mereka. Orangtuanya bahkan tidak bisa datang memeriksa keadaannya karena sibuk mengurusi cabang perusahaan keluarga mereka di negara lain.

Yifan berulang kali mengganti channel tv namun tak ada satu acara pun yang menarik perhatiannya. Dia melempar remote control di tangannya ke meja dan menghela napas jemu. Tapi tak lama setelahnya, sebuah ketukan di pintu kamar rawatnya terdengar.

"Masuk," ujarnya.

Seorang gadis masuk. Byun Baekhyun. Gadis yang beberapa hari yang lalu dipertemukan dengannya dalam sebuah kencan buta.

"Hai," sapa gadis itu canggung.

"Oh, hai, Baekhyun-ssi."

"Aku datang kemari karena mendengar kau mengalami kecelakaan, Yifan-ssi. Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Yifan tersenyum. "Apa kau hanya akan berdiri saja di sana dan tidak akan duduk?"

"Aku tidak akan lama."

"Pasti Tuan Byun yang menyuruhmu datang kemari, benar kan?"

"T-tidak." Baekhyun menggeleng sedikit kencang. Benar, ayahnya memang menyuruhnya datang kemari untuk menjenguk Yifan. Akan tetapi, Baekhyun datang atas keinginannya sendiri. "Aku datang kemari untuk berterima kasih padamu."

"Ng? Aku tidak melakukan apa pun untukmu."

"Pokoknya, aku ingin berterima kasih."

"Baiklah kalau kau memaksa," kata Yifan tersenyum lebar.

Setelah mendapat kunjungan tak terduga dari Byun Baekhyun, Yifan memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Perawat melarangnya berkali-kali namun Yifan tidak bisa hanya berdiam diri di kamar rawatnya dan mati kebosanan. Tidak ada yang bisa mencegahnya.

"Ah, sial. Kenapa lift nya hanya sampai lantai tujuh belas?" gerutunya ketika dia masih harus mendaki tangga sepanjang tiga lantai lagi untuk mencapai atap rumah sakit.

Tapi ketika dia sudah sampai di atap, rasa kesalnya terbayarkan. Pemandangan Seoul benar-benar indah bila dilihat dari sana. Puas memandangi hamparan bangunan-bangunan di seluruh kota, Yifan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sepotong permen karet. Kemudian dia mencari tempat yang cukup terisolir untuk duduk bersantai.

Namun belum lama dirinya duduk, seorang gadis muncul. Gadis itu tampak sangat kacau, berjalan tersaruk-saruk ke pinggir atap. Dia, dengan susah payah, berusaha memanjat pagar tembok.

Yifan memperhatikan gadis itu dengan perasaan tak menentu. Waswas.

Sebenarnya, apa yang akan gadis itu lakukan?

Itu berbahaya. Kalau gadis itu salah melangkah atau terpeleset, dia bisa jatuh dan mati seketika.

Yifan mengeluarkan permen karet yang sedang dikunyahnya, lalu menempelkan benda lengket itu ke bagian belakang celananya. Setelah itu, dia buru-buru menghampiri gadis itu.

.

.

.

"Aku pulang..."

"Kau sudah pulang, nak? Ayo, ibu sudah siapkan makan malam."

Chanyeol mematung di ruang tengah. "Ibu, kenapa ibu kemari?" tanya Chanyeol, bingung.

"Kenapa? Apa ibu tidak boleh mengunjungi anak dan cucu ibu?"

"T-tidak maksudku... kenapa tiba-tiba..." Chanyeol mengedarkan pandangannya. "Mana Baekhyun?"

Ibu menghela napas. "Istrimu ada di kamarnya. Dia sedang sakit, Chanyeol. Apa kau tahu itu? Seharian ini dia bahkan tidak turun dari tempat tidur."

Chanyeol tidak membuang waktu lagi dan dengan panik memasuki kamar tidurnya. Di sana, di atas tempat tidur Baekhyun sedang berbaring—dengan Jiwon yang turut berbaring di sampingnya sembari memainkan PSP-nya.

"Ayah!" pekik Jiwon sesaat setelah Chanyeol muncul dari balik pintu. Bocah lima tahun itu menaruh PSP-nya dan mulai melompat-lompat dengan girang sambil merentangkan tangannya.

Chanyeol segera membawa Jiwon ke dalam pangkuannya dan menempatkan diri di tepi tempat tidur. "Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol, tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.

Baekhyun hanya menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja. Hanya sedikit tidak enak badan."

Ini aneh. Baekhyun memang terlihat tidak sehat beberapa hari terakhir ini, tapi Chanyeol tidak menyangka akan separah ini jadinya. Baekhyun bahkan tidak bangun dari tempat tidur? Chanyeol pikir Baekhyun hanya terkena flu atau yang lainnya. "Aku akan menelepon dokter pribadi kita."

"Tidak perlu. Aku hanya sedikit lemas dan pusing. Itu saja."

"Tapi ini aneh. Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."

"Apa kalian akau terus mengacuhkanku?" sela Jiwon lucu. Bocah lima tahun itu mengerucutkan bibirnya dengan menggemaskan.

Baekhyun tersenyum lemah melihat tingkah lucu putranya. Andai saja tubuhnya tidak lemas, biasanya dia akan segera memeluk erat Jiwon dan menghujaninya dengan ciuman kupu-kupu.

Chanyeol tertawa pelan. "Aigoo~ yaa... apa jagoan ayah ini sedang merajuk?"

"Ayah selalu begitu. Selalu lebih memperhatikan ibu daripada aku!" protesnya.

"Siapa bilang?" sahut Chanyeol sambil mengecup pipi putranya gemas. "Apa kau tidak lihat siapa yang sedang ada di pangkuan ayah sekarang? Kalau ayah lebih memperhatikan ibu, sekarang yang ada di pangkuan ayah bukan Jiwonnie tapi ibu..."

"Apa ayah membawakan oleh-oleh untukku?" tanyanya berusaha mengalihkan topik.

"Hmmm... entahlah... ayah ingin memastikan sesuatu dulu sebelum memberimu robot iron man itu," kata Chanyeol sambil menatap anaknya lekat-lekat.

"Uh huh," angguk Jiwon.

"Bagaimana sekolahmu? Kau tidak mengerjai teman-temanmu lagi kan, jagoan?"

"Aku tidak pernah mengerjai siapapun!"

"Teman perempuanmu yang menangis waktu itu bagaimana? Kau sudah membuatnya menangis, sayang."

"Aku tidak mengerjai Yuji. Aku hanya mengatakan kalau aku tidak menyukainya dan tidak mau menikah dengannya. Itu saja, yah."

"Mwoya? Apa jagoan ayah ini sangat populer di sekolah?" tanya Chanyeol antusias.

Jiwon mengedikkan bahunya. Terlihat sedikit angkuh—persis seperti ayahnya kalau sedang begitu.

Baekhyun memperhatikan keduanya. Chanyeol dan Jiwon begitu mirip. Sifat-sifat Chanyeol hampir seluruhnya diwariskan pada Jiwon. Hanya saja, sebagian fitur wajah Jiwon didapatkan dari Baekhyun.

Rasanya seperti mimpi. Mempunyai keluarga bahagia seperti ini, dulu terasa seperti mimpi belaka bagi Baekhyun. Tapi sekarang semua itu menjelma menjadi nyata. Hidupnya sudah begitu sempurna. Suami dan anak yang selalu mengisi hari-harinya. Chanyeol yang begitu mencintainya. Seorang anak laki-laki yang begitu menggemaskan.

Baekhyun benar-benar bersyukur atas kebahagiaannya saat ini.

.

.

.

Seminggu kemudian, meski keadaannya sudah lebih baik, tetap saja Baekhyun belum bisa menyingkirkan perasaan yang mengganjal di dadanya. Baekhyun yakin dirinya hamil, tapi dia tidak punya keberanian untuk memastikan hal itu. Bagaimana pun, dirinya dan Chanyeol tidak pernah membicarakan hal ini—tentang menambah anggota baru dalam keluarga kecil mereka.

Chanyeol sedang sibuk-sibuknya mengurus perusahaan. Dan Jiwon masih terlalu kecil untuk mendapatkan seorang adik. Baekhyun dilanda keresahan. Bagaimana jika Chanyeol tidak menginginkan anak ini?

"Kenapa ibu berhenti?" tanya Jiwon sambil menguap lebar.

Baekhyun sedikit tersentak dari lamunannya. Kemudian dia kembali menatap buku dongeng di tangannya. Sampai di mana tadi...? Ah, ya!

"'...tetapi, sayang, kita kan penyihir,' kata Nerlin," Baekhyun melanjutkan ceritanya. "'Mengubah benda-benda menjadi katak memang pekerjaan kita. Keluarga kita telah melakukannya sejak dulu kala...'"

Jiwon terlelap, bahkan sebelum Baekhyun menyelesaikan cerita Keluarga Flood kesukaan putera-nya itu. Menaruh buku cerita di nakas samping tempat tidur, Baekhyun mengusap wajah putera-nya dan mendaratkan sebuah kecupan di dahinya.

"Terima kasih, sayang, sudah lahir ke dunia ini. Ibu sangat beruntung memilikimu..." bisik Baekhyun sambil kembali mendaratkan sebuah kecupan pada putera-nya.

Ketika Baekhyun kembali ke kamarnya dan Chanyeol, dia mendapati suaminya itu baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu tersenyum lebar padanya, namun Baekhyun segera melemparkan tatapannya ke arah lain.

Hhh... sampai saat ini dia belum menceritakan pada Chanyeol tentang kemungkinan dirinya mengandung.

"Jiwonnie sudah tidur?" tanya Chanyeol, menghampiri istrinya dan melingkarkan tangannya di tubuh Baekhyun.

Baekhyun mengangguk kaku. Dia berusaha menyingkirkan tangan Chanyeol dari pinggangnya, dan berusaha menghindar dari serangan bibir Chanyeol pada tengkuk dan pundaknya. Kalau sudah begini...

"Aku rindu padamu. Sudah lama ya kita tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini..."

"K-kau kan sibuk akhir-akhir ini..." kata Baekhyun gugup karena Chanyeol semakin gencar menghujani leher jenjangnya dengan ciuman-ciuman ringan.

"Kalau begitu... malam ini ya..."

"Uhmmm... C-chanyeol, tunggu sebentar." Baekhyun mendorong dada Chanyeol menjauh, menghentikan kegiatan Chanyeol seluruhnya.

Chanyeol mengerutkan dahinya bingung. "Ada apa?"

"A-aku lelah. Aku mau tidur saja."

"Kau masih sakit?" tanya Chanyeol cemas. Dia menempatkan punggung tangannya di dahi Baekhyun.

Tidak biasanya Baekhyun menolak ajakannya untuk bercinta...

"Tidak, aku hanya lelah saja."

Meski kecewa, Chanyeol mengangguk pelan. Berusaha untuk memahami ketidakinginan Baekhyun dan berusaha untuk tidak bersikap egois—mengedepankan kemauannya sendiri.

Baekhyun mengecup pipinya sekilas kemudian mengucapkan 'selamat tidur' padanya.

Chanyeol turut berbaring di samping isterinya namun dia tidak bisa segera memejamkan mata. Tetap saja, dia tidak bisa mengenyahkan penolakan Baekhyun barusan. Dan Chanyeol harus berakhir dengan terjaga sepanjang malam hanya untuk memikirkan hal itu.

Mungkinkah Baekhyun...sudah tidak mencintainya?

Atau mungkin... ada pria lain?

.

.

.

Chanyeol tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Sepanjang hari yang mencokoli kepalanya hanya Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun. Tidak ada yang lain. Kalau sudah begini, suasana hatinya menjadi sangat buruk. Semua prasangka negatif mulai menghantui pikirannya.

"Bawakan aku kopi," ujar Chanyeol pada pesawat telepon yang tersambung pada sekretarisnya.

Chanyeol menyandarkan punggungnya dan memijat pelan dahinya ketika ponsel-nya berbunyi nyaring. Buru-buru Chanyeol menjawab teleponnya. "Halo, sayang?"

"Chanyeol, kau sedang sibuk ya?" tanya Baekhyun di sebrang telepon.

"Ya, aku masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Chanyeol, merasa sedikit membaik karena Baekhyun sudah menghubunginya. Sebuah senyum terulas di bibirnya. "Ada apa, sayang? Kau merindukanku ya? Tidak biasanya kau menelepon."

"Hmm apa kau bisa menjemput Jiwonnie di sekolahnya hari ini?"

"Kau sakit lagi?" tanya Chanyeol khawatir.

"Tidak. Aku hanya ada sedikit urusan, jadi tidak bisa menjemput Jiwonnie."

"B-baiklah, aku akan menjemput Jiwonnie di sekolah."

Setelah menutup telepon, Chanyeol termenung sesaat. Dia sekarang menyesal, kenapa dia tidak bertanya ke mana Baekhyun akan pergi?

Ah, sial!

Chanyeol meraih ponsel-nya lagi dan berniat untuk menghubungi Baekhyun namun sebelum dia melakukannya, ponsel-nya sudah lebih dulu berbunyi. Lagi-lagi sebuah panggilan masuk. Tapi kali ini dari Wu Yifan.

"Mwo?" tanya Chanyeol tanpa minat.

"Begitukah caramu mengatakan 'halo' pada teman baikmu ini? Ck! Menyebalkan!" omel Yifan.

"Aku sedang tidak mood berbicara manis padamu. Ada apa?"

"Aku hanya ingin pendapat saja. Menurutmu, restoran mana yang bagus untuk makan siang?"

"Kau bercanda kan? Kau meneleponku hanya untuk menanyakan restoran sialan mana yang bagus untuk makan siang?!" amuk Chanyeol.

Yifan menghela napas di seberang telepon. Dia sudah paham kalau temannya sudah bersikap seperti ini pasti sesuatu sedang terjadi. Kali ini pasti masalah pekerjaan. "Woi, teman, aku tahu pekerjaan kita tidak mudah. Tapi bisakah kau tidak mengomel seperti itu padaku? Aku butuh saranmu karena hari ini aku akan berkencan."

"Terserah saja lah! Aku tidak bisa memberi saran apa-apa. Aku—"

Chanyeol tertegun. Kenapa bisa ada kebetulan seperti ini? Atau mungkin... ini memang bukan sebuah kebetulan?

Baekhyun dan Yifan...

Mereka...

.

.

.

"Besok ulangtahun ayah," kata Baekhyun pada Chanyeol yang sejak tadi menyantap makan malamnya dalam diam. Tidak biasanya dia seperti ini. "Ayah mengundang kita untuk makan malam bersama di rumahnya."

"Jiwonnie sudah menyiapkan kado yang bagus untuk kakek..." kata Jiwon.

"Oh, ya? Apa itu?" tanya Baekhyun antusias.

"Hmm rahasia. Ibu tidak boleh tahu sebelum kakek membuka kadonya nanti," sahut Jiwon sambil menyilangkan kedua telunjuk di depan bibir mungilnya, membuat tanda X.

Baekhyun mengacak rambut putera-nya gemas. Kemudian dia melirik Chanyeol yang masih bungkam, bahkan tidak merespon ucapannya sama sekali. Sejak pulang dari kantor, Chanyeol sudah seperti ini.

"Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Baekhyun pada suaminya ketika mereka sedang bersiap untuk tidur.

Chanyeol menghela napas dalam, kemudian bergumam singkat. "Tidak."

"Lantas ada apa?" tanya Baekhyun lagi.

Pria itu menatapnya tajam. Ya Tuhan, kapan terakhir kali Chanyeol memberinya tatapan seperti ini...?

"Sudahlah, sebaiknya kita tidur."

Kemudian Chanyeol berbaring memunggunginya, meninggalkan Baekhyun kebingungan sepanjang malam karena perlakuan dinginnya.

.

.

.

Makan malam di keluarga Byun untuk merayakan ulangtahun ayah Baekhyun, hanya diisi oleh celotehan Jiwon. Dia antusias sekali menceritakan kegiatannya di sekolah pada sang kakek. Sementara dua orang dewasa lainnya bungkam satu sama lain.

Tentu saja hal ini tidak luput dari pengamatan tuan Byun.

"Ini ulangtahunku tapi entah kenapa aku merasa seseorang sedang berusaha merusaknya," katanya.

Baekhyun mengangkat wajahnya dan menatap sang ayah dengan perasaan bersalah. Ayahnya pasti bisa merasakan aura pertengkaran antara dirinya dan Chanyeol. Karena memang sejak kedatangan mereka di rumah itu, Chanyeol dan Baekhyun tidak bisa menutupi bahwa terjadi sesuatu antara mereka bedua.

Lebih tepatnya, Chanyeol-lah orang yang tidak bisa diajak kompromi. Pria itu benar-benar menunjukkan wajah murungnya di depan semua orang termasuk ayah Baekhyun.

"Terima kasih makanannya, Yah. Ini benar-benar lezat. Iya, kan, Chanyeol?"

Pria itu bergeming.

Tuan Byun menghela napas dan menatap menantunya itu. "Ada yang ingin kaukatakan padaku, Chanyeol? Sejak tadi kau menatapku tajam seperti itu. Benar-benar tidak sopan."

Baekhyun memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang besar akan segera terjadi kalau salah satu di antara mereka—ayahnya dan Chanyeol, tidak berhenti saling melempar tatapan tajam seperti itu.

Ya Tuhan.

Ini mimpi buruk.

"Jiwonnie, apa kau sudah selesai makan?" tanya Baekhyun. Putera-nya itu mengangguk. "Kalau begitu, sekarang Jiwonnie bersama bibi pelayan pergi melihat kolam ikan baru di teras belakang, mau kan?"

"Ne!" angguknya semangat, kemudian bocah laki-laki itu turun dari kursinya, bersama pelayan menuju ke teras belakang—yang sudah pasti tidak akan bisa mendengar percakapan mereka di ruang makan ini.

Saat Jiwon sudah menghilang dari ruang makan, Chanyeol tidak membuang waktu lagi untuk segera mengutarakan, apa yang sudah memenuhi rongga kepalanya beberapa hari ini. "Aku tahu ayah tidak pernah menyetujui hubunganku dengan Baekhyun. Aku tahu ayah sangat membenciku. Tapi demi Tuhan, apa ini tidak keterlaluan?!"

"Apa maksudmu?"

"Chanyeol, sudah. Kau ini kenap—"

"Ayah kembali menjodohkan Baekhyun dengan Wu Yifan!" Kalimat yang setengah mati menghantui malam-malamnya itu akhirnya bisa dia katakan, dengan lantang.

"Chanyeol!" Baekhyun menatap suaminya tak percaya.

Sebaliknya, tuan Byun menanggapi amarah Chanyeol dengan lebih santai, tidak menunjukkan amarah sama sekali.

"Demi Tuhan, Yah. Aku sangat mencintai Baekhyun. Aku bersumpah aku akan mencintai dan membahagiakan Baekhyun dan Jiwon seumur hidupku. Tidak bisakah ayah melihat ketulusanku selama ini?! Aku selalu menerima bagaimana pun sikap ayah padaku! Tapi kali ini aku tidak bisa diam saja melihat ayah kembali menjodohkan Baekhyun dengan Wu Yifan!"

"Park Chanyeol! Astaga! Apa-apaan kau?!" Baekhyun mengguncang lengan kemeja suaminya. Kenapa Chanyeol bicara melantur seperti itu?

Chanyeol menoleh pada istrinya itu dengan luka yang terlihat jelas dalam sorot matanya. "Kemarin... kau pergi menemui Yifan untuk berkencan kan?!"

Baekhyun terkejut bukan main atas tuduhan tak beralasan suaminya itu. Dia menggeleng kencang, air mata sudah berkumpul di kelopak matanya.

"Jangan bohong padaku, Baekhyun. Kumohon...!" Di sana, Chanyeol pun hampir terpuruk karena lagi-lagi wanita yang dicintainya sudah menyakiti perasaannya.

"Kau sudah salah paham, Chanyeol..."

Tuan Byun lagi-lagi menghela napas. Dia bangkit dari duduknya. "Aku sudah kehilangan selera makanku. Sayang sekali hari ulangtahunku harus berakhir dengan pertengkaran seperti ini. Aku akan menemani cucuku di teras belakang. Kalian berdua, selesaikan masalah kalian baik-baik. Dan kau, Chanyeol," Tuan Byun menatap Chanyeol beberapa saat. "Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau katakan."

Dengan begitu, tuan Byun meninggalkan ruang makan.

Keduanya saling terdiam beberapa saat, hingga Baekhyun kembali membuka suara. "Chanyeol..."

"Kenapa? Kenapa kau selalu menyakitiku?"

"Kau sudah salah paham, Chanyeol," ujar Baekhyun geram. Pada akhirnya dia sudah kehilangan kesabarannya pada suaminya ini. "Aku tidak menyangka kau merusak malam istimewa ini hanya karena kecemburuanmu yang tanpa alasan itu."

"Bagimu, perasaanku ini tidak pernah berharga, kan?" ucap Chanyeol parau. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi meninggalkan Baekhyun.

Astaga!

Baekhyun benar-benar tidak bisa mengerti pria ini!

"Aku hamil!" ujar Baekhyun setengah membentak.

Chanyeol tertegun sesaat, sebelum memutar tubuhnya untuk menatap Baekhyun. "Kau—apa?"

"Kalau kau curiga ke mana aku pergi kemarin, baik, aku akan mengatakannya padamu. Aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandunganku."

Chanyeol menatapnya tak percaya.

"Ya, Tuan Park, kau akan menjadi ayah lagi! Usianya delapan minggu. Kau puas sekarang?"

.

.

.

"Selamat malam, tuan Byun."

"Oh, Wu Yifan! Ada apa kau menelepon? Bukankah saat ini kau sedang berkencan dengan Baekhyun?"

"Baekhyun sudah tidak bersama saya, tuan Byun. Sepertinya anda lupa mengatakan pada saya kalau puteri anda sudah memiliki kekasih."

"Apa maksudmu?"

"Saya tidak ingin melanjutkan semua ini, tuan Byun. Saya merasa bersalah karena kehadiran saya sudah merusak hubungan Baekhyun dan kekasihnya. Saya minta maaf."

"Tunggu, apa yang kau maksud itu Park Chanyeol? Pria itu?"

"Saya tidak tahu siapa orang itu. Tapi, puteri anda dan pria itu sepertinya saling mencintai. Bukankah akan lebih baik jika puteri anda bersama pria yang dicintainya daripada saya yang bahkan belum dikenalnya?"

.

.

.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Baekhyun. Dirinya dan Chanyeol sedang berbaring di tempat tidur, bersiap untuk mengistirahatkan tubuh masing-masing. Hari ini benar-benar hari yang panjang dan menguras perasaan.

Chanyeol yang sedari tadi berbaring dengan wajah yang sangat dekat dengan perut Baekhyun, mendongak dan tersenyum lebar. Dia mengelus perut yang masih rata itu dan tidak berhenti menciuminya. "Aku masih tidak percaya akan menjadi seorang ayah lagi."

Baekhyun ikut tersenyum dan mengusap kepala suaminya.

"Apa kau sudah memeriksakan jenis kelaminnya?"

Baekhyun menggeleng pelan. "Aku ingin kita memeriksakannya bersama."

"Kenapa kau merahasiakannya padaku? Kalau kau memberitahuku lebih awal, mungkin aku tidak akan menuduhmu yang tidak-tidak."

"Ada banyak alasan. Salah satunya karena aku takut kau tidak setuju dengan kehamilan ini. Kau tahu kan Jiwon terlalu kecil untuk mendapatkan adik."

"Menurutku justru sebaliknya. Jiwon sudah cukup besar untuk bisa berperan sebagai kakak yang baik, sayang," ujar Chanyeol. Sekarang mensejajarkan wajahnya dengan Baekhyun dan memberinya kecupan di dahi. Dia benar-benar bahagia. "Lagipula bagaimana bisa aku menolak anugrah yang tak ternilai ini?"

Baekhyun memeluk suaminya itu erat. Oh, betapa dia mencintai pria ini.

"Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, Baekhyun. Terima kasih atas kebahagiaan yang kauberikan. Terima kasih karena sudah melahirkan Jiwon dan bayi dalam kandungan ini... Ya Tuhan, aku benar-benar bahagia saat ini."

Baekhyun mengusap wajah suaminya, tersenyum haru.

Chanyeol menghapus jarak di antara mereka berdua, menyatukan bibir keduanya dalam sebuah ciuman dalam yang sarat akan cinta.

Dan malam itu, menjadi malam yang begitu panjang, yang dihiasi dengan curahan gairah-gairah yang meletup di antara keduanya.

.

.

.

Baekhyun terjaga karena hangatnya sinar mentari menerpa wajahnya. Mengernyit pelan, dia membuka mata dan baru menyadari bahwa semalaman dirinya tidur tanpa busana. Tubuhnya hanya ditutupi oleh sehelai selimut. Chanyeol sudah tidak nampak di sisinya.

"Sudah bangun?" suara berat Chanyeol adalah hal pertama yang didengarnya pagi itu.

Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang masih melilit tubuh atletisnya. Terlihat segar dan menggoda di mata Baekhyun.

"Hmmm jam berapa ini? Aku belum menyiapkan sarapan..."

"Hari ini kita akan pergi ke suatu tempat. Dan kau tidak perlu kuatir, kita akan sarapan di luar. Bagaimana?"

"Ng? Ke suatu tempat? Ke mana?"

"Aku tidak akan memberitahumu sekarang," kata Chanyeol. "Sekarang, bersiap-siaplah. Aku akan membangunkan Jiwonnie dan memandikannya."

.

.

.

"Di mana kita?" tanya Baekhyun ketika Chanyeol membawanya ke sebuah bangunan berlantai tiga.

"Kau akan tahu sebentar lagi."

Baekyun berjalan di samping suaminya yang tengah menggendong Jiwon, memasuki bangunan itu. Kemudian, mereka dibawa ke sebuah ruangan di lantai tiga. Ketika Chanyeol membuka pintu, Baekhyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sebuah ruangan yang cukup luas, yang di dalamnya dipenuhi dengan berbagai instrumen musik, menyambut penglihatannya.

"Aku sudah lama tidak pernah datang ke tempat ini. Maaf kalau tempatnya sedikit kotor."

"Woahh! Ada gitar!" Jiwon memekik senang, meminta turun dari pangkuan ayahnya.

"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Baekhyun menatap suaminya.

Chanyeol tersenyum. "Kau mungkin tidak pernah tahu tentang ini tapi... inilah duniaku sebelumnya."

"Aku tahu."

Kali ini Chanyeol yang dibuat terkejut. "Kau tahu?"

Baekhyun mengangguk. "Sehun bercerita banyak tentangmu dulu."

"Ayah, apa ayah bisa memainkan gitar?" tanya Jiwon sambil melompat senang, telunjuknya menunjuk pada benda berdawai itu.

"Tentu saja," kata Chanyeol.

"Mainkan gitar itu untukku! Untuk ibu! Ayo, Yah! Ayo!" Jiwon menarik tangan ayahnya.

"Arasseo... arasseo..." Chanyeol terkekeh melihat betapa antusias putera-nya itu.

Baekhyun dan Jiwon mengambil tempat duduk, dan menanti Chanyeol memulai permainan gitarnya. Dan ketika Chanyeol untuk pertama kalinya memetik senar gitar itu, Baekhyun merasakan jantungnya berdegup kencang.

i sesang malloneun pyo hyonhal suga obso

gal surok bokcha oreuneun noreul hyanghan ne maeum

i sesang semeuron hearil suga obso

dohedo doheman ganeun kkeut omneun ne sarang

geu nugudo nomankeum narutge

nareurulge han saram obsosso na dapjin anchiman

ojing-no hanaman bogo deutgo sipeun gol

ne ane noreul salge hago sipeun gol

nal bara bwa naye pumeuro wa

You`re my every my everything

You`re my everything love for you

onjena noege igyobon jogi obso

sarangi jimyon jil surok ne gaseumeun hengbokhe

nol hyanghan sarange yuhyogigani obso

man yage itdago hedo mannyoniltenikka

himgyowodo ne gyote isso jwo

naye jonbureul da inneunda hedo nol jikyo julgoya

ojing-no hanaman bogo deutgo sipeun gol

ne ane noreul salge hago sipeun gol

nal bara bwa naye pumeuro wa

You`re my every my everything

You`re my everything love for you

ojing-ne gaseum sok juineun no ppunin gol

naegen choeumija majimagin gol

nol bullo bwa sumswil ttemada nol

You`re my every my everything

You`re my everything love for you

I love you you`re my everything

.

.

.


END


.

.

.

Argggggghhhhhh... finally .

FF ini rampung juga... yeayyyyyyy!

Siapa yang senang akhirnya CHANBAEK bersatu?

Dan...

Tebak sama siapa YIFAN kencan?

Hahahahaha...

Im happy r.n.

Buat reader yang sudah setia membaca dan memberikan review, fav, follow, yaoloh, thanks berat ya guys... review kalian mean a lot for me, really... thank you sooo much.

Last chapter, silahkan hujani dirikuuuuuh ini dengan review kalian ya!

Semoga dalam waktu dekat aku bisa berkarya lagi! Yeay!

Semua berakhir bahagia kan? Bahagia nya gak maksa kan? ^^

Oh ya, tebak lagu yg dinyanyiin CY lagu siapa?

Lastly,

I love you guys

IF I COULD CHOOSE

(14/06/2016 - 12/03/2017)