Author: Hallo lagi para pembaca! Saya di sini hanya mau berterima kasih dan meminta maaf.

Pertama-tama, makasih sekali untuk para peng-review FF ini. Saya sangat berterima kasih atas segalanya.

Juga para teman-teman saya yang tak henti-hentinya mendukung atau memberi inspirasi untuk saya.

Terima kasih! (Membungkuk)

Mohon maaf bila ada kesalahan teknis apapun. Di manapun. Kapanpun.

Saya juga minta maaf kalau anda-anda sekalian ingin meng-flame saya akan segala kebodohan, keteledoran, ataupun ketidak sengajaan saya yang membuat para pembaca tidak nyaman.

Mohon kritik, saran, ataupun pujian *GAMPAR*.

Saya selaku Author baru yang super geblek. Memohon maaf.

Oh iya, saya juga kaget dengan kecepatan para pembaca membaca FF saya.

2 hari yang lalu, 30 menit setelah saya mengupload chap 19-20, review baru langsung muncul tak sampai 1 jam kemudian.

Saya takjub!

Well, let the story... Begin!

Ajaibnya, aku tidak sakit keesokan harinya. Aku hanya batuk.

Di sekolah, aku pakai syal agar hangat. Hhhh, sekarang aku benar-benar tampak seperti orang sakit. Bahkan beberapa anak terang-terangan menanyakan kesehatanku. Aku hanya menjawab "Batuk." Dengan tersenyum.

Kukira, kemarin sudah cukup buruk dengan melihat Yukiko dan Daisuke. Tapi, hari ini, aku malah bingung. Melihat Yukiko setiap jam pelajaran, melihat Daisuke yang sering bermain bersama Kou, dan pikiran yang menghantuiku untuk menjauhi Yukiko. Aku... Mulai agak kesepian.

Saat istirahat, aku jajan. Waktu kembali dari kantin, di tangga menuju lantai tiga, tiba-tiba ada seorang cewek yang jatuh sambil melingkarkan tangannya di leherku. Dia menjerit saat menabrakku, dengan cukup keras. Kami terjatuh. Anak-anak di koridor itu mendekati kami. Awwww, bokongku lumayan sakit! Haruskah aku ke ruang kesehatan dan minta... Tje-Fuk? Apapun deh, demi bokong merlin! Sakit sekali!

Anak-anak di sekitarku berisik menanyakan apa kami baik-baik saja. Aku membuka mata. Aku jatuh terduduk, dengan si cewek tadi masih memelukku. Dan si cewek itu ada di pahaku. OMG... Posisi kami sangat tidak pantas! Si cewek tadi menjauhkan dirinya sedikit. Tapi tidak melepas tangannya yang ada di leherku. Dia tersenyum, "Terima kasih telah menolongku, Senpai!" Ucapnya sambil mengecup bibirku. GUAAAAAAH! THE HECK? Anak-anak lain terkesiap. Ku dorong cewek itu.

Aku memasang muka tak percaya, dengan sedikit campuran rasa jijik. "Apa yang kau kira kau lakukan?" Tanyaku sambil agak marah. Senyum cewek tadi makin lebar, "Maaf, Senpai. Aku terlalu senang. Hihi.." Katanya samil mengedipkan mata padaku. GRRRRRRRR... Untung dia keburu berdiri dan pergi, kalo kagak, udah gua tonjok muka imut lo!

Aku berdiri. Masih agak syok. Membenarkan baju. Dan melewati berbelas-belas anak yang menjadi sanksi tragedi tadi. Ya, TRAGEDI. Sebelum aku naik, setidaknya aku mesti tahu siapa cewek menyebalkan barusan, "Siapa DIA?" Tanyaku dengan agak sebal pada salah satu anak cowok di sekitar kami. "A...Ah, dia namanya Rise Kujikawa, Senpai. Dia juga masuk S.S. fans club. Dan setahuku... Dia gadis terimut di sini. Dia di kelas 2-2." Jawabnya setelah sadar.

Aku mengangguk dan segera naik. Bel berdering. Aghhhh... Rumor tersebar cepat, kau tahu? Mau tahu kenapa tiba-tiba aku bilang begitu? Karena... BESOKNYA BANYAK ANAK-ANAK YANG MENANYAKAN APAKAH AKU PACARNYA RISE KUJIKAWA? BLEH! GA PAKE JAWAB AKU ASAL NAIK KE KELAS. Sialnya, teman-temanku juga sudah pasti tahu. Saat istirahat, Kanji, Teddie, Naoto ke kelas kami. Mereka berkumpul bersama Chie dan Yosuke. Dan langsung to the point...

Tampaknya gossip itu makin parah. Masa Kanji bertanya, "Senpai, apa benar kau kemarin bercumbu dengan Rise Kujikawa?" Tanyanya mewakili seluruh murid. Anak-anak di kelasku yang mendengar, langsung menajamkan kuping. Aku memukul dahiku dengan tangan. Pelan-pelan aku menjelaskan segalanya pada mereka. Dan menambahkan nada jengkel spesial pada kata, "Aku tidak bercumbu dengannya. Bahkan aku tidak melakukan apa-apa. Dia yang menciumku."

Akhirnya dengan mengeluarkan seluruh kesabaranku, aku berhasil meyakinkan mereka kalau aku tidak melakukan apa-apa selain sebagai korban. Untunglah, mereka teman yang sangat baik. Mereka percaya akan apa yang kukatakan. Bel berdering dan adik kelas kami harus kembali. Saat mereka keluar, Yosuke membisikkan sesuatu di telingaku, "Pulang sekolah jangan kemana-mana. Ikutlah denganku." Aku bingung, tapi mengangguk saja.

Pulang sekolah. Samegawa River. Dekat sekolah.

Yosuke membawaku ke ujung sungai ini. Dekat bebatuan yang biasanya tempat orang-orang memancing. Kami tak duduk. Kami berdiri berhadapan. Aku samar-samar tahu apa yang akan Yosuke lakukan. Berbicara serius denganku.

Yosuke: Mari kita langsung saja. Aku mau bicara denganmu.

Aku: (Mengangguk)

Yosuke: (Serius) Apa kau menganggapku teman? Apa kau tidak menganggap Chie, Kanji, Teddie, dan Naoto sebagai temanmu?

Aku: (Menggaruk rambut, walaupun tak gatal)

Yosuke: Kau tahu. Ada saatnya di mana kau membutuhkan seseorang. Dan seorang teman selalu ada di sisimu.

Aku: (Speechless)

Yosuke: Kau terluka bukan? Mengapa kau tak mencoba membagi sakitmu? Kau tahu, aku selalu di sini, Souji.

Aku: (Menunduk)

Yosuke: Berhentilah menutup diri. Aku... Tak tahan melihat raut wajah sakitmu setiap hari.

Aku: (Agak terkejut)

Yosuke: Ya, hanya aku yang melihat. Setiap Yukiko berjalan keluar saat pulang, setiap nama Daisuke di sebut, setiap pelajaran yang membuatmu teringat akan Yukiko atau Daisuke. Kau terluka...

Aku: (Masih menunduk)

Yosuke: Bila kau kutanya, kau selalu menampakkan topengmu, dan berkata bahwa kau baik-baik saja. (Raut wajah terluka) Demi tuhan... Aku temanmu, Souji...

Aku: (Menatap wajahnya) Maaf...

Yosuke: (Menunduk) Lalu bagaimana dengan yang lain? Berilah aku alasan.

Aku: (Untuk pertama kalinya, menggigit bibir) Aku... Sudah cukup beruntung memiiki kalian...

Yosuke: (Masih menunduk, menunggu)

Aku: Aku... Tak mau kalian tau... Karena itu hanya akan merepotkan kalian... Aku... Mengira kalian... Terlalu baik untukku. Dan orang macam apa yang akan merepotkan kawan-kawan yang paling di cintainya...?

Yosuke: (Menatapku)

Aku: (Pertahanan runtuh. Puluhan rasa sakit yang ku pendam, terpancar di wajah) Aku tak sanggup berkata-kata.. Aku ingin menyimpan sakitnya. Hanya untukku... Ternyata... Susah...

Yosuke: (Menonjokku, agak keras) Dungu! Tentu saja...

Aku: (Membiarkan darah menetes, menunduk)

(Author: Nih gara-gara nonjok Souji, anak-anak yang lewat sungai ini, nengok.)

Lalu Yosuke memelukku. Aku... Ternyata melukai perasaannya dengan berdiam diri. "Maaf, Yosuke." Ucapku. Dan samar-samar aku mendengar Yosuke mengucapkan... "Yeah..."

Setelah itu, kami belum berhenti berbicara.

Yosuke: (Udah ngak meluk, posisi awal) Sekarang, beri tahu aku segalanya.

Aku: (Menelan ludah) Hmmm.. Mari kumulai dengan hal yang sudah kalian tahu.

Yosuke: (Mengangguk)

Aku: Aku suka Yukiko. Dan entah Yukiko menyukaiku atau tidak.

Yosuke: (Mengangguk)

Aku: Tiba-tiba Daisuke datang. Seperti yang kita semua ketahui.

Yosuke: Yeah.

Aku: Dan beberapa hari yang lalu, aku melihat mereka... Kau tahu..

Yosuke: (Tahu aku tak mau menyebutkannya, dan terkejut)

Aku: Well, sehabis itu... Seperti yang kubilang.. Aku mundur.

Yosuke: (Terkejut) Kau... Akan menyerah begitu saja?

Aku: Bukannya begitu... Aku tak mau Yukiko bingung antara aku atau Daisuke. Lebih baik dia sama Daisuke, kalau dia suka Daisuke.

Yosuke: (Tampak memikirkan sesuatu)

Ada jeda singkat.

Yosuke: Kau tahu... Kemarin, Chie berbicara dengan Yukiko. Sama seperti kita sekarang..

Aku: (Terkejut)

Yosuke: Yeah... Dan kau tahu.. Yukiko menangis.

Aku: (Makin terkejut)

Yosuke: Dan Chie bertanya, ada apa... Yukiko menjawab...

Aku: (Menunggu)

Yosuke: Dia telah jatuh cinta...

Aku: (Syok)

Yosuke: Pada cinta pertamanya... Saat masih kecil..

Aku: (Membeku)

Yosuke: Katanya... Cintanya ada pada musim gugur.

Aku: (Tak mampu melakukan apapun selain berkedip dan bernafas)

Dan lalu, Yosuke berjalan pergi. Meninggalkanku untuk berfikir. "Yosuke." Aku memanggilnya. Yosuke menoleh. "Did you know anything else?" Kataku. Omong-omong, aku keceplosan pakai bahasa inggris. Yosuke tersenyum misterius sambil kembali berjalan, "No, I don't know anything." Jawabnya.

Aku masih beku di tempatku. Berfikir.

Jika Yukiko telah jatuh cinta pada... Cinta pertamanya saat masih kecil...

Siapakah gerangan?

Aku duduk di batu dekat situ. Setelah kiranya setengah jam, baru aku berdiri mau pulang.

KRING KRING! Ada bunyi sepeda anak kecil di dekat situ.

Tiba-tiba aku membelak...

Sepeda.

Sakura di mana-mana..

Musim gugur...

Dan... Masa kecil...

It... Itu... Bukankah... 5 tahun yang lalu?