DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini, dan semua lagu yang judulnya tercantum dalam fic ini juga bukan punya saya.
Catatan Author: Next update is here!
Well, saya sih fine fine aja kalau nggak ada readers yang meminta saya untuk bikin sidestory yang menjelaskan tentang apa yang terjadi di akhir chapter 20. Setidaknya, saya bisa menambahkan hint tentang hal itu diawal chapter ini, jadi baca dengan cermat ya, kalau memang readers mau tahu apa yang terjadi.
Warning: some words will refer to something… overrated.
.
Intro: Sepasang kekasih sedang berdiri berpelukan didalam sebuah kamar. Mereka sama-sama memejamkan mata, hanya saja, sang gadis tak bisa menghentikan air matanya yang kini mengalir dipipinya. Dengan lembut, sang pemuda terus berusaha menenangkan kekasihnya dengan membelai rambut merah panjang gadis itu.
Gadis itu tersenyum, masih dengan air mata yang terus mengalir dipipinya, "Janji ya, kau benar-benar akan serius berjuang untuk menjadi pemain di tim nasional. Aku akan selalu mendukungmu dimanapun dan kapanpun."
"Kau juga ya," balas sang pemuda dengan tenang sambil terus membelai rambut kekasihnya yang lembut, "Kau juga harus rajin kuliah."
Mereka lalu saling melepaskan diri dan berciuman. Bukan ciuman pertama mereka, tapi mereka merasa bahwa ciuman mereka kali ini berbeda. Lebih terasa dekat…
'A passionate kiss starts everything new…'
.
(Opening Song 'Ojamajo Girlband': 'Egao no Mirai he' by MAHO-Do – Original Version by Yuki Matsuura)
Ojamajo Girlband
.
Welcome to the University!
Sebuah bus sedang melaju dengan agak cepat dari arah kota Misora menuju ke Tokyo. Lebih tepatnya, bus MAHO-Do sedang dalam perjalanan menuju ke Tokyo, ke sebuah rumah bergaya minimalis yang akan menjadi rumah asrama bagi Doremi dkk mulai saat ini.
Setelah mereka lulus SMA, mereka memang sudah tidak lagi menjadi majominarai dan tinggal di Maho-dou, tapi atas usul Mirai, mereka memutuskan untuk tetap menggunakan bus Maho-dou – yang kini disebut sebagai bus MAHO-Do – sebagai alat transportasi mereka yang akan membawa mereka kemanapun mereka pergi, karena pada dasarnya, bus Maho-dou awalnya hanyalah sebuah bus tua yang diperbaharui oleh Doremi, Hazuki dan Aiko menjadi pengganti Maho-dou mereka sementara bangunan Maho-dou yang asli dikuasai oleh Majoruka hampir sepuluh tahun yang lalu, jadi mereka bebas menentukan untuk tetap memakainya atau tidak.
"Welcome to Tokyo…" gumam Momoko sambil memperhatikan jalanan yang dilaluinya bersama dengan para personil MAHO-Do lainnya, "Aku sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah asrama yang akan kita tinggali."
"Tenang saja, Momo-chan. Sebentar lagi kita akan sampai di rumah itu," sahut Aiko sambil terus berkonsentrasi mengemudikan bus MAHO-Do, "Rasanya menyenangkan sekali bisa tinggal serumah dengan kalian semua lagi…"
Onpu dan Momoko mengangguk, sementara Doremi dan Hazuki hanya terdiam membisu. Mereka berdua terhanyut dalam pemikiran mereka masing-masing.
'Tetsuya…' pikir Doremi, 'Aku masih tak menyangka bahwa… hal itu akan terjadi… Malam itu, kau dan aku… Kita…'
'Hah, untungnya apa yang terjadi malam itu… terjadi setelah aku lulus dari sekolah…' pikir Hazuki, 'Aku tak bisa membayangkan, bagaimana jadinya kalau mereka tahu bahwa aku… sudah melakukan itu dengan… Masaru-kun…'
Kedua gadis itu menghela napas secara bersamaan, membuat Aiko, Onpu dan Momoko menoleh kearah mereka dengan heran.
Onpu lalu menepuk bahu mereka berdua dan bertanya, "Apa kalian masih memikirkan apa yang terjadi di malam terakhir kita tinggal di Maho-dou? Doremi-chan? Hazuki-chan?"
"Ah, Onpu-chan," sahut mereka yang akhirnya tersadar dari lamunan masing-masing. Mereka sama-sama tersipu mengetahui apa yang dimaksud Onpu dengan 'yang terjadi di malam terakhir mereka tinggal di Maho-dou' tersebut, yang juga merupakan alasan kenapa sejak tadi mereka tidak menanggapi apa yang Aiko, Onpu dan Momoko bicarakan barusan.
"Apa kalian sekarang merasa menyesal atas apa yang terjadi saat itu?" tanya Onpu lebih lanjut, "Yah… memang sih, kalian tidak pernah berpikir untuk melakukan hal itu sebelumnya. Kalian tidak pernah menginginkan hal itu terjadi sekarang sekarang ini, tapi menurutku… wajar-wajar saja kalau kalian melakukan hal itu dengan mereka kemarin. Setidaknya, hal itu bisa menjadi hadiah perpisahan yang manis untuk kalian dari mereka."
"Memang sih, tapi… justru karena hal itu, aku jadi khawatir," jawab Doremi, "Bagaimana kalau ada orang lain selain kita yang mengetahui kalau kami telah…"
"Kalian kan masih bisa mempercayakan rahasia itu kepada kami," sahut Aiko sambil terus menyetir, "Kami tidak akan pernah menceritakannya kepada siapapun."
"Tapi, bagaimana kalau apa yang terjadi saat itu nantinya akan berakibat buruk terhadap kami sendiri?" tanya Hazuki, "Bagaimana kalau hal itu menyebabkanku…"
"Kalian berdua akan baik-baik saja. Percayalah padaku," potong Momoko, "Aku juga merasa bahwa malam itu waktu yang tepat dan aman. Both of you will be alright."
"Mudah-mudahan saja…" Doremi menghela napas. Ia lalu memulai pembicaraan lain, "Tokoro de, Onpu-chan, apa di Universitas Tokyo nanti, akan ada artis lain yang juga melanjutkan studinya disana?"
"Entahlah, Doremi-chan. Pihak manajemen tidak pernah membicarakan hal itu denganku," jawab Onpu, "Memangnya… ada apa?"
"Tidak. Tidak ada apa-apa, hanya saja… tiba-tiba aku ingat kalau… mantan tunangan Tetsuya dan keempat orang temannya itu tinggal di Tokyo."
"Oh, maksudnya orang yang waktu itu sengaja menyenggolmu sampai terjatuh di kafe kan?" Aiko menyahut dengan kesal, mengingat apa yang terjadi di kafe beberapa waktu yang lalu, "Kuharap sih, kita tidak akan bertemu dengan dia dan teman-temannya di kampus nanti."
"Justru aku berharap supaya aku bisa bertemu dengan Karen-chan disana," ujar Onpu, "Kalian tahu sendiri kan, kalau Karen-chan juga… salah satu dari mereka, dan diantara mereka berlima, hanya Karen-chan yang jelas-jelas tidak menganggap kita sebagai musuh."
"Ah, aku juga baru ingat kalau salah satu diantara mereka adalah… Karen," sahut Doremi, "Kalau aku tidak salah ingat, dia itu gadis yang ikut audisi film bersamamu saat kau pertama kali pindah ke Misora dulu kan? Peserta audisi yang saat itu demam panggung dan akhirnya kausembuhkan dengan menggunakan sihir?"
Onpu mengangguk.
"Oh, aku ingat sekarang!" seru Momoko, "Pasti orang bernama Karen itu adalah salah seorang diantara kelima personil 'The Sweet Notes' yang berambut coklat panjang. Kulihat saat itu, hanya dia yang terlihat sangat menyesal melihat kelakuan teman-temannya."
"Memang dialah orang yang kumaksud, Momo-chan," Onpu tersenyum, "Kalian tahu? Sebelum aku pindah ke Hokkaido, aku sempat sekelas dengan Karen-chan."
Mereka terus membicarakan tentang 'The Sweet Notes' sampai pada akhirnya mereka tiba di rumah yang mereka tuju.
.
"Onee-chan, bagaimana keadaan kalian sekarang? Kalian sudah sampai di rumah asrama yang akan kalian tinggali kan?"
"Kami baik-baik saja. Ya, kami memang sudah sampai, dan menurutku… rumahnya juga bagus. Kurasa… kami akan betah tinggal disini."
Sore harinya, Pop menelepon Doremi dan menanyakan padanya tentang kabar kesemua personil MAHO-Do di rumah asrama mereka yang baru.
"Tapi kau juga harus ingat ya, onee-chan, jangan buat masalah di rumah asrama kalian," ujar Pop yang mulai menceramahi sang kakak, "Jangan sampai rumah itu terbakar hanya gara-gara kecerobohan onee-chan."
"Chotto Poppu, aku tidak akan pernah menyebabkan hal semacam itu terjadi disini," protes Doremi, "Kuakui aku memang ceroboh, tapi bukan berarti kecerobohanku akan menimbulkan bencana semacam itu."
"Baiklah. Aku percaya," sahut Pop yang kemudian tersenyum, "Sampaikan salamku kepada yang lainnya ya?"
"Tentu, tapi kau juga harus sampaikan salamku kepada otousan dan okasan ya?" balas Doremi.
"Makasetoite!" seru Pop.
Sementara itu, keempat personil MAHO-Do lainnya sedang sibuk membereskan kamar mereka masing-masing. Berbeda dengan kamar mereka di Maho-dou yang interiornya menyerupai kamar mereka di rumah masing-masing, kamar baru mereka terkesan jauh lebih modern dan dilengkapi dengan komputer.
Setelah mereka berempat selesai berbenah, merekapun berkumpul di ruang santai untuk mengobrol.
"Aku jadi penasaran. Bagaimana ya, keadaannya nanti saat kita sudah mulai kuliah di Universitas Tokyo?" ujar Onpu, "Pasti akan sangat menyenangkan."
"Kalau tidak salah, ada satu mata kuliah khusus yang akan kita ikuti bersama-sama kan? Mata kuliah olah vokal dan koreografi?" tanya Momoko, "Tapi, Onpu-chan, kenapa kita semua harus mengikuti mata kuliah khusus? Jurusan yang kuikuti di kampus kan tidak ada hubungannya sama sekali dengan menyanyi dan berkoreografi."
"Sebenarnya sih, kita mengikutinya bukan sebagai mata kuliah. Hanya sebagai kegiatan ekstrakurikuler," jawab Onpu, "Sama saja seperti saat kita mengikuti klub musik di SD Misora dulu."
"Kurasa aku mengerti maksudnya, kenapa kita harus mengikuti latihan olah vokal dan koreografi," ujar Hazuki, "Sekarang ini kan, kita masih tergabung di MAHO-Do, dan dalam hal ini, kita harus berlatih lebih giat lagi supaya penampilan kita kedepannya bisa lebih baik dari sebelumnya."
"Itu benar, Hazuki-chan. Kita membutuhkan latihan yang lebih banyak lagi sekarang. Kalian tahu sendiri kan, kalau sekarang, album perdana kita sudah keluar, dan itu artinya, kita akan sering ikut konser tur kemana-mana," sahut Onpu, "Dalam konser tur tersebut, kita harus menampilkan yang terbaik."
"Aku mengerti sekarang," ujar Aiko, "Setidaknya, dengan begini kita bisa terus berlatih sama-sama. Ini lebih baik kalau dibandingkan dengan saat sebelum kita lulus SMA kemarin: hanya dua atau tiga diantara kita berlima yang bisa berlatih bersama di sekolah."
"Minna, apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Doremi yang sudah menyelesaikan pembicaraannya dengan Pop lewat telepon, "Kelihatannya, kalian sedang membicarakan hal yang serius."
"Kami hanya sedang membicarakan tentang latihan olah vokal dan koreografi yang akan kita ikuti di kampus," jawab Momoko, "Doremi-chan, menurutmu… apa kita perlu mengikuti latihan itu?"
"Tentu saja. Setidaknya, walaupun sekarang kita sudah sering tampil dimana-mana, kita masih membutuhkan latihan yang cukup supaya kita bisa tampil lebih baik lagi dari sebelumnya," ujar Doremi, "Justru sekarang, latihan tersebut membuatku berpikir… Apa para personil 'The Sweet Notes' juga akan mengikuti latihan itu bersama dengan kita? Lagipula kan, latihan itu bukan hanya dikhususkan untuk kita. Setidaknya, latihan itu juga merupakan sebuah mata kuliah bagi sebagian mahasiswa lainnya di kampus, sementara sebagian yang lain juga menganggapnya sebagai kegiatan ekstrakurikuler seperti kita."
"Tapi Doremi-chan, kita kan masih belum tahu apa mereka juga kuliah di Universitas Tokyo atau tidak," sahut Aiko, "Yah, tapi kalau boleh jujur sih, aku berharap kalau kita tidak harus bertemu dengan mereka di kampus. Mereka pasti akan terus-terusan berulah. Kauingat kan kejadian di kafe waktu itu, saat pertama kali kita bertemu dengan mereka beberapa waktu yang lalu?"
"Baiklah, aku ingat kejadian itu," Doremi menghela napas, "Tapi… apa salah kalau mereka juga kuliah di Universitas Tokyo dan ikut latihan itu bersama dengan kita? Mereka kan juga punya hak untuk kuliah di mana saja mereka mau."
"Ya… aku hanya takut kalau mereka akan membuat masalah lagi dengan kita."
"Ai-chan, mereka berbuat begitu karena mereka menganggap kita sebagai saingan 'The Sweet Notes'. Kalau kita ingin supaya mereka tidak membuat masalah lagi, kita hanya harus meyakinkan mereka kalau kita bukanlah saingan mereka."
"Baiklah. Kurasa kau ada benarnya juga, Doremi-chan," Aiko menghela napas, "Kuharap sih, mereka tidak akan sampai melakukan tindakan kriminal hanya untuk membuat kita kalah saing dengan mereka…"
Pembicaraan merekapun terus berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan membuat mereka memasuki kamar tidur mereka masing-masing.
.
Suatu pagi, di Universitas Tokyo…
"Duh, Akari-chan dimana sih? Dia kan yang punya ide supaya kita semua datang lebih pagi dan mengerjakan semua ini…" keluh seorang gadis berambut brunette pendek yang sedang berada di dalam sebuah ruangan kelas. Ia menghela napas, "Apa kita harus melaksanakan rencana Akari-chan tanpa ada campur tangan dari dia sendiri?"
"Mell-chan, kupikir sebaiknya kita tidak usah menjalankan rencana Akari-chan," sahut seorang gadis lainnya yang juga berada dalam kelas itu, "Tak bisakah kita membiarkan mereka juga masuk ke kelas ini dan berlatih bersama dengan kita?"
"JANGAN BANYAK PROTES, KAREN-CHAN!" seru si rambut pendek yang ternyata adalah salah satu personil 'The Sweet Notes', Melissa, "Kita akan tetap menjalankan rencana ini."
Hari ini adalah beberapa hari setelah hari pertama di tahun ajaran baru, dan pagi ini, latihan olah vokal dan koreografi akan mulai berlangsung. Lebih tepatnya, hari ini adalah hari pertama diadakannya latihan tersebut.
"Aku tidak peduli kalau kalian ingin mem-bully mahasiswa lain dalam kelas ini, tapi yang pasti, kalian jangan mem-bully mereka," lanjut Karen, masih bersikeras mencegah teman-temannya, "Mereka itu sama saja dengan kita."
"Kau…"
"Mell-chan, aku tidak peduli siapa yang mencetuskan ide gila ini, tapi yang pasti, kita tidak boleh menjalankan rencana itu!" potong Karen yang terus berusaha mencegah perbuatan ketiga temannya, "Minna, ini salah. Kita tidak boleh melakukan hal ini."
Tapi ketiga teman Karen tetap tak menggubris teguran sang gadis berambut coklat panjang tersebut. Akhirnya ia menyerah. Karen menghela napas lalu berjalan keluar kelas dengan bosan, "Baik, aku tak akan menjamin kalau seandainya kalian nanti dihukum karena apa yang sekarang sedang kalian lakukan. Aku tidak ikut campur dalam hal ini."
Hanya setelah ia berjalan beberapa langkah dari pintu kelas, Karen berpapasan dengan Hazuki. Ia bertanya kepada sang gadis berkacamata, "Ah, kau temannya Onpu-chan di MAHO-Do kan?"
"Ah, kau Morino Karen kan?" tebak Hazuki. Ia tersenyum, "Senang bertemu denganmu disini.
Hazuki lalu bertanya, "Apa teman-temanmu di 'The Sweet Notes' juga kuliah disini?"
"Ya, kami semua kuliah disini, dan… kami juga akan ikut latihan olah vokal dan koreografi bersama dengan kalian hari ini."
Hazuki menghela napas, "Semoga saja tidak ada keributan di kelas nanti…"
"Aku ragu kalau keributan tidak akan terjadi nantinya…" kali ini, giliran Karen yang menghela napas, "Ah, ngomong-ngomong, aku harus memanggilmu apa?"
"Panggil saja aku 'Hazuki-chan'."
Mereka lalu memutuskan untuk mengobrol disebuah bangku taman.
"Doremi-chan sedang memarkirkan bus kami di tempat parkir, sementara Ai-chan, Onpu-chan dan Momo-chan sama-sama ada urusan masing-masing, jadi… aku berniat untuk masuk kelas duluan," Hazuki mengutarakan alasan kenapa ia berjalan kearah kelas sendirian saja tadi, saat ia bertemu dengan Karen, "Oh iya, Karen-chan, kenapa kau meragukan soal… keributan akan terjadi atau tidak?"
"Habisnya, kau tahu sendiri kan, teman-temanku di 'The Sweet Notes' seperti apa?" sahut Karen, "Sekarang ini saja, mereka berencana untuk menjahili kalian di kelas."
"Eh?"
Sementara mereka sedang mengobrol, tiga orang personil 'The Sweet Notes' yang sedang berada di kelas, Melissa, Yumi dan Aleyna masih saja sibuk mempersiapkan beberapa jebakan untuk para personil MAHO-Do yang mereka ketahui akan ikut berlatih bersama mereka dalam kelas itu pagi ini.
"Sayangnya, Karen-chan tidak ikut bersenang-senang dengan kita hari ini," ujar Yumi sambil melanjutkan apa yang dilakukannya, "Hah, biarlah. Dalam hal ini, memang hanya Karen-chan yang tidak sehati dengan kita semua."
"Ah, minna, kalian teruskan persiapannya ya? Aku ingin ke toilet sebentar," tutur Aleyna sambil berjalan keluar kelas, "Setelah aku selesai nanti, aku janji akan membantu kalian lagi."
"Silakan saja, Aleyna-chan," sahut Melissa, "Kalau perlu, kau juga boleh mengambil seember air dari sana, supaya rencana kita sukses."
"Tentu saja, Mell-chan. Aku akan melakukannya dengan senang hati," Aleyna melambaikan tangannya lalu berjalan ke toilet, "Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan."
Kembali kepada Hazuki dan Karen, yang kini sedang membicarakan tentang kehidupan percintaan para personil MAHO-Do. Karen merasa sedikit tidak percaya saat Hazuki memberitahukan padanya bahwa salah satu temannya di 'The Sweet Notes', Akari, pernah dijodohkan oleh neneknya dengan Kotake yang notabene adalah tunangan Doremi. Tampaknya, Akari tidak memberitahu keempat sahabatnya tentang kedatangannya di kota Misora bersama dengan neneknya saat ia dan neneknya itu menyambangi rumah Kotake disana.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, Aiko bergabung dengan mereka, "Baik, siapa yang kita temukan disini: Hazuki-chan sedang bercakap-cakap dengan…"
"Namaku Morino Karen, tapi kau bisa memanggilku 'Karen-chan'," potong Karen dengan nada bersahabat.
"Aku tahu, dan jujur saja, aku lebih senang bertemu denganmu ketimbang kalau aku harus bertemu dengan teman-temanmu. Sekarang aku semakin yakin kalau apa yang dikatakan Onpu-chan tentangmu itu benar. Kau orang yang baik," Aiko tersenyum, "Namaku Senoo Aiko, dan kau panggil saja aku 'Ai-chan'."
"Baiklah, Ai-chan. Senang bertemu denganmu."
"Aku juga senang," sahut Momoko yang kemudian ikut bergabung, "Aku juga boleh ikut berkumpul disini kan?"
"Tentu saja, Momo-chan," Hazuki menjawab pertanyaan Momoko dengan senyum di wajahnya, "Apa Doremi-chan sudah memarkirkan bus MAHO-Do di tempat yang aman?"
"Ya, dia sudah memarkirkan bus itu," sahut Onpu yang juga ikut berkumpul bersama dengan yang lainnya, "Tapi katanya sih, ada urusan penting yang harus dikerjakannya sekarang."
"Yah, aku tidak tahu ini kebetulan atau bukan, tapi sampai sekarang, Akari-chan belum datang juga ke kampus," ujar Karen, "Aku hanya takut kalau dia merencanakan sesuatu yang lain untuk mengerjai teman kalian."
"Kira-kira, apa yang mungkin dilakukannya untuk mengerjai Doremi-chan?" sahut Hazuki sambil berpikir keras, "Hmm… banyak kemungkinan…"
"Hmm…" kelima gadis itu sama-sama berpikir. Karen memang bukanlah salah satu dari kelima personil MAHO-Do, tapi tetap saja, ia tidak ingin Akari dan teman-temannya yang lain di 'The Sweet Notes' melakukan hal yang merugikan orang lain, yang akhirnya juga pasti akan merugikan diri mereka sendiri. Akhirnya, Aiko memutuskan untuk mendatangi Doremi di tempat parkir, memastikan bahwa sahabatnya itu baik-baik saja dan tidak sedang dikerjai oleh Akari.
Di tempat parkir, Doremi melihat Akari sedang bersama seorang nenek, dan wanita tua itu bukanlah nenek Akari sendiri, melainkan seseorang yang bisa dikatakan sangat asing.
Yang mengejutkan, Akari terlihat sedang mengobati kaki nenek itu yang kelihatannya terluka parah. Kemungkinan nenek itu adalah seorang korban tabrak lari yang dibawa Akari ke kampusnya hanya untuk diobati lukanya.
Dan itulah yang dimaksud Doremi kepada Onpu dengan 'urusan penting yang harus dikerjakannya' tersebut. Ia ingin mengawasi gerak-gerik Akari pagi ini, dan dari apa yang dilihatnya, Doremi menyimpulkan bahwa Akari tidak sepenuhnya jahat seperti apa yang teman-temannya duga.
'Yappari! Sejahat-jahatnya Akari, aku yakin dia punya sisi baik. Kalau tidak begitu, mana mungkin dia mau menolong nenek itu dan mengobatinya begini? Dia pasti teringat dengan neneknya sendiri saat bertemu dengan nenek korban kecelakaan itu…' pikir Doremi, 'Dan aku yakin, suatu saat nanti, kami pasti bisa berteman baik.'
"Doremi-chan, sedang apa kau disini?" tanya Aiko yang sekarang sudah berada disebelah Doremi, "Kau sedang lihat apa sih?"
"Sssh. Ai-chan, jangan berisik," sahut Doremi dengan suara pelan, "Coba lihat itu, Ai-chan. Akari sedang mengobati seorang nenek yang jadi korban tabrak lari pagi tadi."
"Jadi?" tanya Aiko, "Kurasa hal itu bukanlah bukti yang kuat untuk menyimpulkan bahwa ia adalah gadis yang baik."
"Ai-chan…"
"Baru saja aku dan yang lainnya bertemu dengan Karen-chan, dan dia bilang, Akari menyuruh teman-temannya di 'The Sweet Notes' untuk mengerjai kita di kelas," jelas Aiko, "Sia-sia saja dia berbuat baik terhadap nenek itu, tapi tetap saja berpikir untuk mengerjai kita semua."
"Ai-chan, aku kan sudah bilang kemarin, kalau mereka melakukan itu semua karena mereka masih menganggap kita sebagai saingan mereka. Mereka masih menganggap kalau MAHO-Do adalah saingan 'The Sweet Notes'. Belum lagi… mereka sudah duluan meluncurkan album tapi belum kunjung terkenal juga, sementara kita… baru meluncurkan album tahun ini, tapi…"
"Sudah banyak dielu-elukan orang?" potong Karen dengan pelan sambil berjalan kearah Doremi dan Aiko, "Yah, kurasa memang… teman-temanku membenci kalian karena hal itu."
Doremi dan Karen kemudian saling berkenalan, masih berusaha supaya Akari tidak melihat mereka. Karen menceritakan tentang rencana teman-temannya kepada Doremi.
"Begitu ya…" ujar Doremi setelah mendengar penjelasan dari Karen. Ia lalu berpikir sejenak dan akhirnya mengambil keputusan, "Kurasa aku punya ide untuk membalik keadaan. Mereka tidak akan punya kesempatan untuk mengerjai kita."
"Eh?" tanya Aiko tidak mengerti, "Apa maksudmu, Doremi-chan?"
Doremi menjawab sambil berjalan menuju ke lorong kampus, "Kita harus membicarakan ini semua dengan yang lain."
.
"Apa? ! Karen-chan, kau serius?" tanya Yumi tidak percaya mendengar pengumuman yang baru saja Karen jelaskan kepadanya, juga Melissa dan Aleyna di dalam kelas, "Latihan pertama akan diadakan di ruang olahraga? Bukannya latihan pertama yang akan kita ikuti adalah latihan olah vokal, bukan latihan koreografi?"
"Aku juga tidak tahu. Tadi aku bertemu dengan dosen pelatih, dan beliau bilang, latihan pertama kita akan diadakan di ruang olahraga," jawab Karen dengan nada meyakinkan, "Jujur saja, aku juga bingung mendengar pengumuman itu…"
"Ah, sial! Padahal kita sudah susah payah menyiapkan ini semua," geram Yumi sambil memandangi jebakan-jebakan yang sudah disiapkannya bersama Melissa dan Aleyna di sekeliling ruangan kelas tempat ia berada sekarang, "Kenapa sih, perubahan itu harus diadakan mendadak?"
"Setidaknya, hal itu membuat kami terhindar dari rencana jahil kalian," sahut Onpu yang memandangi mereka dari luar pintu kelas, "Kalian tidak punya waktu sama sekali untuk menaruh jebakan satupun di ruang olahraga."
"Ini pasti gara-gara kalian kan?" tanya Akari yang baru saja selesai dengan urusannya tadi sambil berjalan menghampiri kelas tersebut. Lebih tepatnya, ia bertanya kepada para personil MAHO-Do, "Pasti kalian yang menyarankan supaya kita berlatih di ruang olahraga supaya jebakan yang sudah disiapkan teman-temanku menjadi sia-sia belaka."
"Yah, kami memang sudah tahu tentang rencanamu mengerjai kami di ruang kelas, Akari, tapi bukan hanya itu saja yang membuat kami meyakinkan dosen pelatih kita untuk melakukan latihan pertama di ruang olahraga," sahut Doremi tenang, "Kami juga ingin membuat latihan pertama ini menjadi latihan yang santai. Setidaknya, kita bisa duduk di lantai bersama-sama, kalau kita berlatih disana."
"Pokoknya kami tidak ingin duduk di lantai bersama dengan kalian!" seru Melissa, Yumi dan Aleyna secara bersamaan, "Kami menolak!"
"Honestly, aku juga sebenarnya tidak ingin duduk bersama dengan kalian, tapi… mau bagaimana lagi?" ujar Momoko, "Mau tidak mau, kami harus mengikuti latihan olah vokal dan koreografi ini. Latihan ini benar-benar sangat penting bagi kami."
"Kalau aku sih, boleh-boleh saja aku melewatkan latihan ini, tapi menurutku, aku juga perlu mengikutinya," sahut Onpu.
Saat Akari, Melissa, Yumi dan Aleyna ingin memprotes perkataan Momoko dan Onpu, belpun berbunyi, pertanda bahwa mereka harus segera bergegas ke ruang olahraga untuk memulai latihan olah vokal dan koreografi.
.
Sore harinya, di rumah asrama MAHO-Do…
Para personil MAHO-Do sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Doremi sedang berada di dalam kamarnya, berbicara dengan Kotake lewat telepon. Momoko sedang mencoba resep kue yang baru dilihatnya dalam buku resepnya di dapur. Tiga personil lainnya sedang mengerjakan tugas kuliah mereka masing-masing di dalam kamar.
Saat mereka sudah selesai dengan urusan masing-masing, mereka berkumpul di ruang santai untuk minum teh.
"Momo-chan, rupanya sekarang kau mencoba resep baru lagi ya?" tanya Aiko sambil menunjuk kearah sepiring besar penuh kue kering yang dibawa Momoko dari dapur, "Kali ini, kue apa yang kaubuat?"
"Aku sedang mencoba membuat cookies kacang merah," jawab Momoko yang kemudian meletakkan sepiring kue yang dibawanya diatas sebuah meja, "Aku ingin kalian mencobanya."
"Baik, ayo kita coba," ajak Doremi. Mereka berlima lalu mengambil masing-masing satu keping cookies dan memakannya, "Itadakimasu!"
"Wah, Momo-chan, cookies ini enak!" seru Onpu, "Yah, tidak mengherankan sih, karena kau yang membuatnya. Semua kue yang kaubuat selalu terasa enak."
"Thank you, Onpu-chan!" balas Momoko.
Mereka terus menikmati cookies buatan Momoko yang dipadu dengan secangkir teh sambil membicarakan tentang apa saja. Doremi bercerita tentang percakapannya dengan Kotake lewat telepon tadi, dan berkata bahwa Kotake masih terus giat berlatih sepak bola di karantina pelatihan calon pemain tim nasional. Hazuki juga bercerita tentang email dari Masaru yang diterimanya, yang mengabarkan bahwa Masaru baik-baik saja di Jerman.
Dan tentu saja, mereka juga membicarakan tentang apa yang terjadi di kampus pagi ini.
Malamnya, Doremi masih memikirkan tentang apa yang dilihatnya tadi pagi: Akari menolong seorang nenek yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
'Sekarang aku percaya, suatu saat nanti, hubungan antara MAHO-Do dengan 'The Sweet Notes' akan terjalin dengan baik…' pikirnya.
Sementara itu, disebuah rumah lain yang letaknya tak jauh dari rumah asrama MAHO-Do, seorang gadis berambut merah yang lain juga sedang memikirkan apa yang terjadi pagi tadi di kampus. Ia lalu menyadari bahwa Doremi mencoba mendamaikan hubungan antara MAHO-Do dan 'The Sweet Notes' secara tidak langsung dengan cara memindahkan latihan tadi pagi ke ruang olahraga.
'Mungkinkah akan lebih baik kalau aku berteman dengan mereka?'
.
Sabtu pagi…
Doremi sedang berlari, mencoba menyusul keempat sahabatnya yang terlebih dulu berlari menyusuri jalan di dekat rumah asrama mereka.
"Mou, minna ijiwaru!" keluh Doremi sambil terus berlari, "Kalian malah tidak mau menungguku."
"Makanya, kau jangan terbiasa bangun telat, Doremi-chan," sahut Aiko, "Bukan lari pagi namanya, kalau aku dan yang lain menunggumu dulu."
"Baiklah, terserah kalian."
Pagi ini, Doremi memang terlambat bangun. Ia baru mulai lari pagi saat keempat sahabatnya hampir selesai berlari.
Itulah sebabnya, saat Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko memasuki rumah asrama untuk istirahat, Doremi tidak ikut masuk ke rumah dan masih saja berlari.
Setelah beberapa lama, Doremi mulai bosan dan akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan berkeliling kompleks perumahan. Saat itulah ia bertemu dengan seseorang.
"Akari?"
Gadis berambut pendek itu menoleh kearah seseorang yang memanggilnya dari luar gerbang rumahnya. Akari memang sedang duduk di teras rumahnya saat Doremi melewati jalan di depan rumah tersebut.
Doremi lalu mengajak Akari untuk mengobrol disebuah taman bunga yang berada di kompleks perumahan tempat mereka tinggal. Pada awalnya Akari menolak ajakan tersebut, tapi pada akhirnya ia menerimanya juga. Kedua gadis berambut merah itu akhirnya bergegas menuju taman bunga dan duduk disebuah bangku taman yang berada disana.
"Begini, Akari…" Doremi memulai pembicaraan, "Aku memergokimu saat sedang menolong seorang nenek di kampus pagi itu, di hari pertama kita mengikuti latihan olah vokal dan koreografi bersama-sama…"
"Saat aku melihat nenek itu menjadi korban tabrak lari, aku langsung teringat akan nenekku sendiri, makanya aku langsung menolongnya, tak peduli walaupun aku tidak mengenal nenek itu sama sekali," potong Akari, "Aku sangat menyayangi nenekku, meskipun beliau terkadang mengeluh padaku tentang kekuranganku. Sebagai seorang cucu, aku sangat menyayanginya."
"Aku dapat melihatnya dari caramu merawat nenek yang kemarin itu, kau sangat peduli padanya," puji Doremi, "Tapi… kenapa kau masih menganggapku dan para sahabatku sebagai sainganmu? Yah… aku tahu bahwa kami juga girlband, sama seperti kau dan teman-temanmu, tapi hal itu bukan berarti kita harus bersaing dengan keras kan? Bukan berarti kita harus berselisih paham begini kan?"
Keduanya terdiam selama beberapa saat.
Akari baru saja ingin menanggapi perkataan Doremi saat tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Rupanya Doremi menerima SMS dari Aiko yang berisi ajakan untuk pulang.
"Baiklah, kelihatannya, aku tidak bisa berlama-lama disini. Para sahabatku sudah menungguku untuk sarapan," ujar Doremi sambil bangkit berdiri dari bangku taman tempat ia duduk bersama dengan Akari, "Aku hanya ingin kau mempertimbangkan saranku, supaya MAHO-Do dan 'The Sweet Notes' bisa berteman baik."
"…"
"Sore jaa, mata ne, Akari," sapa Doremi yang kemudian keluar dari taman tersebut dan berjalan pulang menuju rumah asrama MAHO-Do.
'Berteman dengan mereka…' pikir Akari sambil memperhatikan punggung Doremi yang berjalan dihadapannya, 'Apa memang itu yang seharusnya kami lakukan?'
'Aku tidak mengerti…'
.
(Ending Song 'Ojamajo Girlband': 'Zutto Friend' by MAHO-Do – Original Version by Nakatsukasa Masami)
Catatan Author: Dan satu lagi chapter selesai diupdate!
Chapter selanjutnya akan menceritakan tentang hal yang kurang lebih hampir sama dengan apa yang terjadi di beberapa chapter sebelumnya, jadi jangan dilewatkan ya? ^^
