Sudah tiga hari Seokjin mendiamkan Namjoon karena dia benar-benar marah pada ahjussi itu.
Tiga hari sebelumnya, Seokjin seperti biasa pulang sekolah bersama Namjoon, ekhm.. suaminya. Namjoon terlihat begitu senang saat itu dan Seokjin tidak tahu kenapa. Dugaannya saat itu Namjoon memang hanya dalam mood yang bagus saat itu, tapi Seokjin rasa dugaannya meleset saat Namjoon mengangkat sebuah panggilan masuk. Dan tahu apa? Yang menghubungi ahjussi itu adalah seorang perempuan bernama Irene.
Awalnya Seokjin pikir perempuan itu hanya salah satu kolega atau klien Namjoon mengingat ahjussi itu merupakan pimpinan perusahaan besar. Tapi Seokjin ingat bahwa Namjoon masih dalam masa cuti dan masih ada sekitar enam hari lagi tersisa.
Lalu telinga Seokjin mendapati kata 'cincin' dan 'sayangku' dari perempuan itu meski samar-samar. Saat itu Seokjin ingin marah, tapi dia juga berpikir kalau mungkin saja Namjoon memiliki alasan jelas untuk itu. Setelah Namjoon selesai dengan panggilannya Seokjin pun bertanya siapa yang menghubungi pria itu.
Tahu apa jawabannya? "Hanya seorang teman lama lelaki."
Cih, sampah! Seokjin bisa lihat nama penelepon dan mendengar suaranya. JELAS SEKALI ITU BUKAN TEMAN LELAKI! Lelaki macam apa yang memiliki suara sehalus dan sefeminim itu? Oke, mungkin ada salah satu adik kelas Seokjin, bernama Jungwoo, memiliki suara yang lembut, tapi tidak nyaring seperti seorang perempuan sejati!
Biar saja ahjussi itu memohon-mohon pada Seokjin untuk berbicara, dibohongi itu lebih sakit daripada didiamkan.
"Bocah, bicaralah padaku. Apa salahku?"
Seokjin tetap bergerak memasukkan buku-buku pelajarannya, menyiapkan bawaan untuk sekolah besok. Dia tutup rapat-rapat telinganya seolah tuli dengan suara Namjoon.
"Bocah.."
Kimia..
Fisika..
"Bocah."
Apalagi? Ah.. astronomi..
"KIM SEOKJIN!"
Seokjin tidak akan marah walaupun dibentak sekeras itu jika dia salah, tapi Seokjin rasa Namjoon tidak memiliki hak apapun untuk membentaknya. Dengan rasa kesal luar biasa, dia mendorong Namjoon keluar dari kamarnya dan mengunci pria itu di luar.
Ya, kamarnya, kamar milik Seokjin sendiri. Sejak turun dari mobil setelah acara telepon sampah, Seokjin tidur di kamarnya, kamar yang Namjoon buat untuknya. Kamar yang Namjoon buat persis dengan kamarnya di rumah orang tuanya hanya demi dirinya.
Kenapa Seokjin jadi memikirkan Namjoon?
"Bocah! Seokjin.. ayolah.."
Tidak, Seokjin tidak ingin dengar. Dengan cepat dia melempar tubuhnya ke atas ranjang dan menggulung dirinya dengan selimut. Seraya berharap dalam hati agar dia bisa tidur malam ini.
.
.
.
Namjoon tidak tahu kenapa Seokjin mendiamkannya. Alasan paling memungkinkan untuk saat ini adalah anak itu marah padanya. Namjoon tahu dia bersikap sangat menyebalkan terkadang pada Seokjin, tapi anak itu tidak pernah benar-benar marah. Ini kali pertama Namjoon menerima amarah hingga didiamkan oleh Seokjin.
Namjoon tidak suka.
Namjoon bahkan bertanya pada December kemungkinan-kemungkinan penyebab amarah Seokjin dan.. Namjoon tidak tahu. Ada terlalu banyak hasil. Bahkan setelah menyaringnya, Namjoon tetap tidak bisa menemukan penyebab amarah Seokjin padanya.
Sebenarnya Namjoon memiliki pilihan lain, tapi gengsinya untuk orang ini terlampau tinggi. Terakhir kali Namjoon bertemu orang ini dia benar-benar kehilangan harga dirinya.
Tapi sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain.
"December, hubungi-.. ck, hubungi Min Yoongi."
"Menghubungi Min Yoongi."
Dia tidak percaya dia melakukan ini..
"Halo? Siapa ini?"
Namjoon menarik nafasnya sebelum membuka suaranya. "Ini.. Namjoon."
"Ada apa?"
Namjoon sangat bersyukur karena bocah putih pucat itu tidak mengungkit kejadian memalukan di taman hiburan. Ya, itu kali terakhir Namjoon bertemu dengan Yoongi, karena Namjoon menghindar sebisa mungkin saat pernikahannya.
"Seokjin marah padaku, kau tahu penyebabnya?"
"Kau suaminya dan kau tidak tahu kenapa? Tidak tahu atau tidak peka?"
Perkiraan Namjoon saat ini Yoongi tahu ada apa dengan Seokjin. Nada bicara si pucat terdengar meremehkannya, apa kesalahan Namjoon sebesar itu?
"Kau orang tua, bicaralah pada Jimin, dia akan mengajarimu. Ck, sudah tahu Seokjin itu sensitif.."
Telinga Namjoon mendengar teriakan Yoongi pada Jimin setelahnya. Sepertinya Namjoon mengganggu jam makan malam pasangan itu, tapi dia tidak peduli, masalahnya dan Seokjin lebih penting baginya.
"Halo?"
"Jimin, Yoongi bilang kau ahli dalam hal.. entahlah.. menenangkan pasanganmu yang sedang marah?" ucap Namjoon ragu.
"Hanya butuh kepekaan sebenarnya. Apa yang terakhir kali hyung katakan pada Seokjin hyung."
Terakhir kali? Namjoon tidak begitu ingat, pikirannya sedikit tertekan dengan amarah Seokjin sekarang hingga rasanya pusing untuk memikirkan hal lain. Tapi kali terakhir Namjoon berbicara dengan Seokjin adalah di mobil. Namjoon ingat itu, tapi dia tidak ingat mereka membicarakan apa.
"Tidak tahu.."
"Ish, sudah tua itu semakin pintar, bukan semakin bodoh! Seokjin hyung marah karena hyung bohong padanya!"
"Bohong?"
"KAU BILANG PADANYA KALAU KAU DIHUBUNGI OLEH TEMAN LELAKI DI SAAT FAKTANYA KAU DIHUBUNGI OLEH PEREMPUAN BERNAMA IRENE!"
Setelah itu Namjoon bisa dengar amukan Yoongi pada Jimin, tapi Namjoon tidak peduli. Setelah menyuruh December memutuskan sambungan, Namjoon berlari ke kamar Seokjin. Dia ketuk sebanyak yang dia bisa, menunggu pintu putih itu dibuka oleh si pengunci.
"Bocah, ayolah.. aku minta maaf oke? Aku punya alasan tersendiri, akan kujelaskan jadi tolong buka pintunya."
Dan pintu itu terbuka, menampakkan Seokjin yang berdiri dengan wajah datar. Tampak seperti muak dengan hanya melihat Namjoon, Namjoon jadi merasa sedih.
"Dua puluh detik."
"A-apa?!"
"Satu.. dua.."
Namjoon menarik nafasnya dan mengeluarkan semuanya dengan cepat. "Oke, aku bohong, tapi kau harus tahu itu untuk kebaikan kita. Dia memang seorang perempuan dan bukan laki-laki, aku salah karena bohong tentang itu. TAPI TIDAK ADA APA-APA DI ANTARA AKU DAN DIA! Dia hanya seorang teman di Amerika dan ahli dalam perbatuan.." dalam satu nafas, Namjoon mengatakannya dalam satu nafas.
"Kau butuh ahli perbatuan?"
Astaga, sebegitu salahnyakah dia sampai Seokjin tidak memanggilnya ahjussi? Ah, fokus Kim Namjoon!
"Ya, aku butuh."
"Untuk apa?"
Namjoon menggeleng, menolak untuk menjawab dan itu membuat Seokjin kembali merasa jengkel. Ingin rasanya Seokjin membuat daging giling dari daging Namjoon sekarang dan memberikannya pada anjing di gang dekat sekolahnya.
"Untuk apa?! Jawab kalau tidak aku pergi!" Seokjin bahkan sekarang melotot pada Namjoon.
Tapi Namjoon tetap pada pendiriannya. Ayolah, alasannya ini menyangkut pada sebuah kejutan, kejutan tidak seru jika dibocorkan. Benar 'kan?
.. ups.
"Ya sudah. Selamat bersenang-senang sendiri, Tuan Senang Menyembunyikan Sesuatu!" Seokjin melangkah pergi dengan cepat. Tentu saja, Namjoon menyusul dengan cepat pula.
"Bocah! Seokjin! Kim-margaku-Seokjin!"
Dan teriakan Namjoon membuat Seokjin berlari sekarang. Itu membuat Namjoon tercengang diam-diam, karena setahunya orang akan berhenti dan menoleh jika dipanggil.
"Kim Seokjin!"
Itu bukan teriakan Namjoon.
Audi R8 berhenti di ujung jalan di depan rumah Namjoon. Namjoon tidak bisa melihat wajah orang yang mengendarai, tapi sepertinya teman Seokjin, karena sekarang suaminya itu masuk ke dalam mobil itu dan pergi entah kemana.
Sekarang Namjoon tahu rasanya benar-benar ditinggalkan.
Kosong, sedih, namun ada amarah terselip di dalamnya.
"Sialan! Dia pergi kemana?!"
.
.
.
TBC
Sering banget ya mama dan papa kita ini bertengkar gara-gara hal kecil. Ckckck..
Hai yang setia menunggu :) terima kasih banyak karena membuatku bertahan dan menyicil cerita ini di setiap kesempatan :)
Untuk sekarang segini dulu ya??
Maaf kalau ada typo :(
Have a nice day! Peace.
