Title: DOUBT & TRUST
Pair: Mello x (fem!) Matt/Meadow
Rate: T
Genre: Romance/Drama
Warnings: OOC/AU-ish
© Death Note belongs to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.
-Endings -
"Jika kita hanya menghadap kesamping, lantas kita akan cemburu dan menginginkan milik orang lain, bukan?"
"Kalau melihat kebawah, kita mungkin akan ketakutan saat menyadari betapa lemahnya kita."
"Karena itu, lihatlah selalu kedepan, ke atas."
(untukmu.)
X.X.X.X.X.X...X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.
"percayakah dirimu dengan suatu 'kebetulan', Mihael?"
Saat itu musin gugur, gadis itu duduk dibawah pohon willow tempat kami pertama kali bertemu, kedua matanya yang berbeda warna itu melihat tepat kearahku, dan rambutnya sedikit terbang karena angin musim gugur yang berhembus dengan kencangnya ke arah kami. Aku berdiri dihadapannya, dia tersenyum kepadaku, akupun membalas senyumannya.
"Entahlah, aku tidak perduli dengan semua hal itu...aku tidak percaya." Ujarku. Dia tertawa kecil ketika mendengar jawabanku, kukira dia menertawai jawabanku yang terdengar sangat aneh...
"Ya, akupun juga merasa seperti itu... aku tak percaya kalau pertemuan kita ini hanyalah sebuah 'kebetulan' belaka." Aku melihat dia mengadahkan kepalanya keatas, melihat dedaunan yang jatuh ketanah. "Aku tak menyebut pertemuan kita sebagai 'kebetulan' semata, namun aku menyebutnya sebagai; 'takdir.' "
Ya. Dari sinilah, aku percaya.... kalau pertemuan kami memang sudah takdir.
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X..X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..
"walaupun kau membuat duniamu sendiri, berusaha menjauhi semua kenyataan yang ada, dan realita yang telah menunggumu diujung sana..."
"Semua itu akan datang kepadamu, suka maupun tidak."
"Jadi, berhentilah lari dari kenyataan dan hadapilah takdirmu."
(semua yang telah kita lalui, itu hanya untuk pelarian semata.)
X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X
"Mihael! Mihael! Lihat, lihat! Aku mendapatkan uang!"
Aku mendengar langkah kakinya masuk kedalam apartemen kami yang masih sangat berantakan, aku yang saat itu sedang membenahi peralatan elektronik dengan segera mengalihkan pandanganku padanya. Dia berlari masuk kedalam ruangan, masih memakai sepatu boots yang berbunyi keras ketika menyentuh lantai.
Gadis itu langsung menjatuhkan dirinya padaku, akupun memeluknya dengan erat, dan memendamkan wajahku dipundak kecilnya, bisa kucium wangi rambutnya yang berbau seperti Lavender. Lalu kulepaskan dia secara perlahan-lahan....
"Lihat...uang ini cukup bukan, untuk membeli laptop dan peralatan lainnya?" Dia menunjukan banyak sekali lembaran uang, aku terkejut ketika melihat uang dengan jumlah yang lumayan banyak itu.
"Kau...kau mendapatkannya dari mana, Mead?" tentu saja aku merasa curiga, karena tadi dia pergi katanya untuk mencari sesuatu, dan pulang-pulang dia membawa uang sebanyak itu....
"Ah...ini...sebenarnya ini hasil dari beberapa console game-ku yang aku jual tadi..." dia tersenyum menyeringai. Console game? Apa? Dia menjual console game pemberian terakhir orang tuanya?!
"Apa katamu?! Kau menjual console game pemberian orang tuamu untuk membeli peralatan misi kita?! Kau seharusnya tak perlu melakukan hal itu, aku yang akan mencari uang!" aku tak menyadari kalau aku berteriak cukup kencang sambil memegang pundaknya dengan kuat...
Dia tersenyum kembali, bahkan dia tertawa setelah mendengar kata-kataku... "Tak apa, Mihael. Ini untuk misimu...misi kita, aku tak keberatan. Toh sudah saatnya aku melupakan semua kenangan masa laluku, tak baik menyimpan barang dari masa lampau yang ingin dilupakan terlalu lama..."katanya.
Aku sungguh tak dapat berkata apa-apa lagi, aku langsung memeluknya dengan sangat erat... gadis ini membuatku kagum... mengapa dia bisa dengan semudah itu melepas apa yang dia milki untuk orang lain?
Padahal aku sama sekali tak berharga untuk dia kasihi...
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X
"Cita-cita adalah harapan yang 'ideal' bagi setiap orang, dan merupakan target yang mesti dicapai."
"tapi bagaimana jika ternyata kita gagal menggapai cita-cita?"
"Tidak ada salahnya untuk mencoba sesuatu yang baru dan berani gagal, karena orang yang gagal itu adalah orang yang berhenti untuk mencoba."
(masih percayakah dirimu dengan kata-kataku yang kau bilang bisa membuatmu bahagia?)
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X
"Apa ini...? mengapa tidak bisa berhenti? Hentikan aku, tolong hentikan aku!!"
Sejak bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu, baru pertama kali ini aku melihatnya menangis. Air mata itu jatuh dari kedua matanya yang berbeda warna, aku melihatnya merinding, dia terlihat seperti tak bisa menguasai dirinya sendiri...
"Meadow...sudah cukup, kau sudah memendam semuanya terlalu lama..." ku hapus airmatanya menggunakan jari tanganku, namun air matanya masih tetap mengalir turun, menuruni lekuk pipinya... seakan-akan airmatanya itu telah terbendung lama sekali dan ketika pecah, tak bisa dihentikan.
"Tidak....Mihael, tolong hentikan aku...hentikan air mata ini..." pintanya sambil nangis terisak-isak. Menurutku wajar saja... dia tak pernah menangis kembali selama 5 tahun lebih setelah kematian orang tua dan adiknya, dan hari ini dia menangis... mungkin dia sudah lupa bagaimanakah caranya.
"Tidak... menangislah, Meadow... lepaskan semuanya, lepaskan segala hal yang telah kau kunci rapat-rapat didalam hatimu..." kedua tanganku memegang wajah mungilnya, telapak tanganku dengan seketika jadi basah ketika memegang pipinya, namun aku tak perduli.
Aku menyadari betapa rapuhnya dia, betapa kelam masa lalunya, begitu berat rasa penyesalan yang dia tanggung, namun dia tak mau untuk dikasihani... padahal dia mengkasihani dirinya sendiri...
Aku membawanya mendekat ke tubuhku, dengan cepat dia melingkarkan kedua tangannya dipinggangku, kemudian dia menangis dipundakku. Dia meneriakan hal-hal tak jelas, aku membiarkannya untuk menangis dan berteriak sekencang yang dia mau...
"Menangislah sampai kau puas, Meadow."
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X
"setiap orang, pasti memiliki sisi buruk. Sisi buruk tersebut ditutupi rapat-rapat karena kuatir dijauhi jika diketahui orang lain."
"Manusia lebih gampang menemukan hal-hal buruk daripada menyadari sisi positif dalam diri mereka."
"cintailah diri sendiri sehingga kamu bisa menemukan kelebihanmu."
(masihkah kau perduli, untuk menyimpan beberapa kenangan milik kita?)
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X~Normal POV~
"Papa!" seorang anak kecil berumur 6 tahun langsung menghantam sebuah tempat tidur besar, dia lalu mengoyang-goyangkan seseorang yang sedang tertidur dibalik selimut, sampai orang itu terbangun karena ulahnya.
"Madden... hentikan, ini masih pagi..." Mihael menarik selimutnya hingga menutupi semua tubuhnya, anak kecil yang tadi menganggunya jadi kesal, maka dia menganggunya lagi. "Papa! Papa! Ayo bangun, Mama telah menunggu diluar!!" sahut anak itu, anak yang memiliki rambutberwarna mousy-green pendek dan mata bulat berwarna biru terang.
Akhirnya Mihael menyerah juga kepada puteranya yang masih kecil itu, dia perlahan-lahan bangkit dari atas tempat tidur, Madden langsung turun dari atas tempat tidur dan mulai untuk melingkar dikaki ayahnya yang jangkung.
"Selamat pagi, Papa!" sapa anak itu, Mihael tersenyum padanya, dia langsung mengangkat Madden dengan sangat mudah dan menggendong anak itu sembari berjalan keluar ruangan. "Selamat pagi untukmu juga, Madden." Ucap Mihael sambil memainkan tangan kecil Madden.
Mihael menurunkan Madden ketika dia melihat Meadow sedang duduk dikursi meja makan, sambil meminum segelas kopi panas. Gadis itu mengalihkan pandangannya kepada Mihael dan Madden ketika dia menyadari kehadiran mereka berdua. "Selamat pagi, kalian berdua." Ucapnya dengan senyuman manis diwajah lembutnya.
"Mama!" Madden langsung berlari menghampiri Meadow, Meadow mengangkat puteranya untuk duduk diatas pangkuannya. Mihael tersenyum melihat mereka berdua di kejauhan, kedua 'barang berharganya', kedua 'mimpinya', yang menjadi acuannya untuk terus hidup dan tak menyerah. Mihael tak habis pikir, mengapa dia hampir menyerahkan semua ini demi sesuatu yang tak pasti?
"Mihael, sampai kapan kau mau berdiri disana? Ayo kemari."
"Hmm? Baiklah..."
hidup ini terus berlanjut, suka atau tidak.
Dan orang-orang akan terus berjalan, suka atau tidak.
(fin)
X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X..X.X.X.X.X..X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X.X..X.X
(Music Mode Author: U & I, Letto.)
MATTGASM: ha....haha? akuh doyan ma center textnyah. xD *dibotakin kepalanye* hahaha.... ngga sadar, lagi ngetik spinoffchapter buat ini panpik... soalnya jadi keingetan ma ini panpik pas denger lagu Doubt & Trust-nya Access... (yah scara gitu judulnye sama) iseng amat yah diriku... xP
Last Words: "Toh sudah saatnya aku melupakan semua kenangan masa laluku, tak baik menyimpan barang dari masa lampau yang ingin dilupakan terlalu lama..." ha? Gwa kaga bakal buang lah barang ntu... ini gelang? Buktinya masih awet. XD entah bagaimana nasip Tuan Keju-gua.... ;|
