Birthday Arc List:
-Hibari Kyoya (May 5th)
-Rokudo Mukuro (June 9th)
A/N;
Mukuro akan menjadi yang terakhir – bukan bukan, bukan fanfiction ini akan berakhir. Drabble dengan tema ulang tahun akan berakhir sampai Mukuro. Setelahnya akan kembali ke normal.
.
Disclaimer: Amano Akira-sama
.
MILLE AMORE DRABBLES
HIBARI KYOYA's BUON COMPLEANNO Arc
.
By: Miharu Midorikawa
.
5 Mei.
Hari yang spesial bagi gadis manis itu – setidaknya.
Dia yakin pasti orang yang berulang tahun hari ini lupa akan hal ini.
Mau bagaimana lagi? Pacarnya yang merangkap title sebagai Ketua Komite Kedisiplinan ini sangat sibuk oleh kegiatan mendisiplinkan murid-murid SMP Namimori – walaupun memang dia sering terlihat sedang tidur siang dia atap sekolah atau di bawah pohon di belakang sekolah. Tapi percayalah, dia melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun (Ya, 'walaupun' lagi, plis, dia bukan orang yang sempurna seperti yang sering ada di anime dan manga), 'korban'nya sering babak belur setelah berurusan dengannya.
Gadis itu bangga karena bisa menaklukkan si Ketua Komite Kedisiplinan itu –
Sang Hibari Kyoya.
Biasanya, gadis ini mempunyai sikap ulet dan rajin.
Tetapi hari ini dia membuat kesalahan fatal.
Lupa membawa hadiah ulang tahun untuk pacarnya itu.
Kan kampret.
...
Kakinya dia hentakkan ke lantai dengan gelisah sambil menggigit kuku jempol tangannya, ekspresinya pun terlihat gelisah bercampur takut. Matanya juga melirik kesana kemari tidak jelas, menganggap guru dan pelajaran di kelas hanyalah sebuah mitos belaka. Teman sekelas nya pun – Gokudera, Yamamoto dan Tsuna – sweatdrop melihat tingkah laku temannya itu.
Gokudera pun merobek kertas lalu meremas-remasnya sampai membentuk bola lalu melemparnya ke arah gadis itu, dan – SUKSES! Kertas itu tepat mendarat ke kepalanya.
"OI!"
Dengan refleks dia berteriak.
"[Nama]! Diam sedikit! Coba ke depan dan kerjakan soal ini." Bentak pak Guru yang sedang mengajar matematika di depan.
"Sial." Gadis itu mendecih kesal dan terpaksa ke depan untuk mengerjakan soal.
...
"Ne, [Nama]-chan. Kamu kenapa?" Tanya Tsuna – orang ter-uke dan ter-imut yang pernah gadis itu temui. Terkadang dia ingin memakan si Tuna ini.
"Apa kau tahu hari ini hari ulang tahunnya Hibari?"
"Eh? Benarkah?" [Nama] mengangguk.
"Memangnya kenapa kalau si Hibari ulang tahun?" Tanya Gokudera dengan judes seperti biasanya, "Maa maa, jangan seperti itu Gokudera. Mungkin saja [Nama] ingin memberikan hadiah untuknya." Ucap Yamamoto dengan tawa khasnya.
Gadis itu memalingkan pandangannya kearah luar jendela, "Ya. Memang. Aku ingin memberikannya hadiah."
"Tuh kan."
"Terus kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?" Tanya Tsuna lagi.
"HADIAHNYA KETINGGALAN DI RUMAAAAAH!" [Nama] merengek dan mulai membantingkan kepalanya ke atas meja dengan keras, sumveh, mereka bertiga saja bingung ini anak mau diapain. Tak lama kemudian, Gokudera lalu memukul kepala gadis itu dengan keras, "HEI!"
"Diem napa?! Berisik tau!"
"YA SORI DEH!"
"Maa maa, kalian berdua cepat baikkan. Jangan bertengkar." Yamamoto pun mencoba untuk melerai anjing dan kucing itu.
"Diam kau!" Bentak [Nama] dan Gokudera bersamaan.
Yamamoto ngicep.
...
Sepulang sekolah.
Dimana hampir semua murid sudah pulang ke rumah masing-masing dan yang masih ada di sekitar hanya murid yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Tapi berbeda dengan gadis ini, tidak ada kegiatan apapun tapi berdiam diri di sekolah – katanya sih males mengikuti klub apapun.
Di lorong yang sepi hanya bisa terdengar suara langkah kaki darinya, dan langkah kaki itu pun berhenti tepat di depan pintu dengan plat nama [Komite Kedisiplinan]. Matanya terus menatap ke depan pintu dengan hati yang dag-dig-dug.
"Yosh."
Tok tok tok!
"Masuk."
'Omigod langsung di jawab!'
Pintu itu dibukanya dengan perlahan dan di sanalah sang Ketua Komite Kedisiplinan Namimori sedang duduk di belakang meja yang penuh dengan berbagai kertas. Angin sepoi-sepoi dari salah satu jendela yang dibuka menghembaskan surai hitam malamnya lelaki itu, mata steel grey nya terpaku kepada lembaran-lembaran putih yang dia pegang.
"Hibari-san?"
"Apa?"
"Selamat ulang tahun!"
Keheningan melanda.
"Hi-Hibari-san?"
Tiba-tiba Hibari menaruh pulpen yang tadi digunakan di sebelahnya dan merentangkan tangannya ke depan gadis itu.
"Mana hadiahnya?"
'Yaampun! Ni anak langsung minta hadiah...'
"U-Uh... soal itu – "
"Hm?"
"Aku lupa membawanya."
"Yasudah."
'Eh?'
Hibari kembali mengambil pulpennya dan mulai mengerjakan dokumen-dokumen tersebut tanpa memperhatikan gadis yang sedang beridiri di depannya dengan muka syok. [Nama] pun mulai gelisah sendiri, 'Apa maksudnya tadi? Apa aku harus pulang sekarang? Terus hadiahnya gimana? Apa sekarang dia membenciku?!'
Gadis itu meneguk salivanya gugup.
"H-Ho... Jadi begitu rupanya sikapmu kepada diriku, Hibari?" Panggil gadis itu tanpa suffiks apapun pada nama si Ketua.
"Ha?" Dan itu berhasil menarik perhatian di Skylark.
"Benarkah kau tidak menginginkan apapun dariku? Kau pasti menyesal nantinya." Ucapnya lagi dengan angkuh – plis, dilihat sekilas angkuh, lihat tangannya; penuh dengan keringat dingin sedangkan kakinya gemetaran.
"Kau berani berkata seperti itu kepadaku, Herbivore?" Geramnya sambil perlahan mengambil kedua tonfa kesayangannya. Sepertinya jiwa [Nama] sedikit lagi akan copot dari tubuhnya, "H-Hmph! Tentu. Kau pikir semua orang tunduk kepadamu?"
Hibari memberinya death glare yang mampu membuat seisi ruangan sesak walaupun jendela yang daritadi terbuka dengan inosen tetap menyalurkan udara segar dari luar.
[Nama] lama-lama tak tahan dipandang seperti itu, rasanya seperti ditelanjangi bulat-bulat.
Yak, dan dia sudah pada batasnya.
"U-Uhh... KYOYA NO BAKA! BAKA! BAAAKAAA!" Dengan itu dia langsung berlari keluar ruangan dengan membanting pintu. Sedangkan Hibari diam mematung dan ngicep melihat sosok pacarnya yang seberti bocah itu. Tapi setelah beberapa saat, dia menyadari sesuatu kemudian menutupi bagian mukanya dengan tangannya untuk menutupi semburat pink yang muncul.
"KYOYA."
"Khh..."
...
"[Nama]-chan, kamu kenapa lagi?" Tanya Tsuna cemas.
"Gak apa-apa."
"Matamu kayak panda loh!" Jelas Yamamoto sambil menunjuk ke mata gadis itu yang sekarang sudah tampak lingkaran hitam.
"Hm, gak peduli."
"Ada apa-apa ya sama si Hibari?"
'Sialan lu, Gokudera!'
Tetapi [Nama] tidak memberikan reksi berlebih dan kembali berjalan menelusuri koridor sekolah, kemudian dia memasuki ruangan kelasnya. Tanpa meperhatikan sekitar, dia berjalan lurus menuju tempat duduknya di ujung saat dia duduk, bel tanda masuk pun berbunyi, para murid langsung berhamburan memasuki kelas karena takut disiksa oleh Hibari – di sekolah ini yang paling ditakuti oleh para murid itu bukan guru, melainkan Hibari Kyoya.
"Yak, ayo mulai home room-nya!"Ucap seorang pria berumur 30-an yang tak lain adalah wali kelas.
Saat murid lain menjawab – kecuali [Nama] dan Gokudera, tiba-tiba pintu kelas terbuka dengan keras, seketika semua orang yang berada di kelas langsung menatap ke arah pintu yang sekarang sudah di buka. Dan di sanalah sang Ketua Kedisiplinan dengan angkuhnya berdiri sambil mengobservasi seluruh kelas.
Saat dia melangkahkan kakinya, semua orang yang ada langsung meneguk salivanya dan berpikir untuk apa dia ke sini. Tak lama kemudian dia berhenti tepat di depan [Nama].
"Hi-Hibari-san?"
"Ikut aku." Lalu Hibari menarik gadis itu dengan mengenggam kerah bajunya, "Hi-Hibari-san?!"
Matanya pun tertuju kepada ketiga sahabatnya yang sedang terduduk manis di kursi masing-masing, 'Tsuna! Yamamoto! Gokudera!' [Nama] memberikan sinyal SOS menlalui pandangan mata, tapi sayangnya kali ini mereka sedang tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi Hibari. Tsuna dan Yamamoto hanya bisa tersenyum, sedangkan Gokudera memberinya jempol dengan senyum yang sumingrah.
'Pengkhianat!'
BLAM!
Dan pintu pun tertutup.
Keheningan melanda.
"Uhh, baik anak-anak, mari kita lanjutkan – buka buku kalian halaman 69."
...
"Hi-Hibari! Lepaskan! Sakit!" Rengek gadis itu yang masih diseret oleh Hibari. Tetapi lelaki itu hanya diam dan setelah sampai di ruangan Komite Kedisiplinan, dia mendorong [Nama] sampai tubuh gadis itu terjatuh ke sofa merah yang berada di tengah ruangan.
"Adududuh..."
"Apa maksud tindakanmu kemarin, Herbivore?"
Ah, gawat. Hibari terlihat marah sekali.
"Ke-Kemarin? Maksudmu yang mana ya?"
"Jawab."
[Nama] bungkam mulut begitu juga Hibari.
Tapi tentunya saja [Nama] kalah dalam pertandingan saling menatap dalam kesunyian itu.
"I-Itu, sa-saat kamu bilang tidak butuh hadiah ulang tahun, aku pikir... Hibari-san memang tidak butuh d-dan, entah kenapa hatiku sakit..." Ucapnya dengan pelan sambil menutupi mukanya yang memerah bercampur gelisah.
"Aku tidak pernah bilang bahwa aku tidak butuh."
"Ta-Tapi – "
"Herbivore – "
"Su-Sudahlah! Aku akan kembali ke kelas!" [Nama] membalikkan tubuhnya untuk beranjak dari sofa tersebut, tetapi sepasang tangan yang hangat merangkulnya dari belakang untuk kembali duduk di sofa. [Nama] membelalakkan matanya saat Hibari memeluknya dari belakang. Ah.. sudah berapa lama ya dia tidak di peluk seperti ini?
"Hi-Hibari-san?"
"Kyoya."
"Hah?"
"Panggil aku Kyoya, dan hal yang kemarin kuanggap tidak ada." Hibari menyandarkan kepalanya di bahu [Nama], degup hati gadis itu sekarang semakin tidak beraturan, bahkan telinganya pun sampai merah.
"Ke-Kenapa?"
"Tak ada alasan penting. Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunku." Tangannya semakin kuat memeluk tubuh gadis yang berstatus pacarnya itu.
"U-Un, aku mengerti, K-Kyoya..."
"Hn. Mulai sekarang panggil aku seperti atau, kamikorosu." Hibari mengatakan kalimat terakhir tepat di samping telinga [Nama] – refleks, tubuhnya langsung merinding mendengar suara seduktif dan berat dari pacarnya itu. Melihat reaksi [Nama] yang lucu, Hibari lalu mengecup pelan tengkuk [Nama].
"Hiee!"
"Hn." [Nama] bisa merasakan Hibari sedang menyeringai dengan rasa kemenangan di belakangnya. Melihat reaksi yang seperti itu, Hibari makin ingin menjahili gadis itu. Sekali lagi dia mendaratkan ciuman di tengkuknya.
Satu lagi di telinga kanan.
Lalu telinga kiri.
Dan yang terakhir, Hibari menjilat bagian samping leher gadis itu dari atas sampai ke bawah dengan perlahan.
"U-Uhh..."
"Hn." Satu lagi seringaian kemenangan dari sang Hibari Kyoya.
"KYOYAAAA!"
To Be Continued
A/N;
Maaf lama semuanya, setelah ini akan muncul Mukuro, dan setelah nanas, akan muncul kembarannya – si Melon Mesum A.K.A Daemon Spade.
By the way, happy belated birthday, Adek Kyoya~!
Ya, Kyoya adalah adik saya yang manis dan tsundere.
Selamat bertemu di chapter selanjutnya, terima kasih telah membaca fanfiksi ini :)
