Sasuke berjalan menuju mobilnya yang terparkir di tempat parkir rumah sakit. Sore ini ia baru saja melakukan konsultasi bersama dokter Shizune dan wanita itu mengatakan kalau ia bisa melakukan operasi tanggal satu bulan depan. Dokter itu juga menyerahkan dokumen untuk ditandatangani pihak keluarga dan ia merasa bimbang antara meminta Sakura untuk menandatanganinya atau meminta ibunya.

Dokter itu telah memberikan perincian harga pada Sasuke jika ia memilih operasi dengan lokal atau anestesi umum, dan Sasuke memilih anestesi umum meski ia harus membayar lebih mahal. Ia tak ingin mengakuinya, namun sebetulnya ia merasa takut kalau ia akan merasa trauma jika ia bisa melihat apa yag terjadi saat proses operasi. Dan setelah itu ia hanya perlu membayar uang muka sekaligus mengembalikan formulir serta menunggu petunjuk tambahan dari dokter.

Ponsel Sasuke mendadak berdering dan ia menatap nama penelpon sekilas sebelum mengangkatnya.

"Moshi-moshi."

"Kau sudah makan? Kalau kau sempat, maukah kau makan malam bersamaku? Tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa, sih," ucap Sakura dengan gugup saat memulai percakapan.

Sasuke merasa heran dengan wanita itu yang mendadak menelponnya dan mengajaknya makan malam bersama. Bukankah wanita itu tidak senang berada di tempat umum bersamanya? Jangan-jangan wanita itu salah menelpon?

"Kau yakin ingin makan bersamaku?"

"Tentu saja. Kali ini biarkan aku membayar, ya. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena sudah mentraktir orang tuaku waktu itu."

"Bukankah itu memang kewajiban seorang suami, hn?"

"Tidak, tuh. Walaupun kau suami sungguhanku sekalipun kau tetap tidak wajib bertanggung jawab untuk orang tua istri. Kau hanya bertanggung jawab atas orang tuamu sendiri, bukan orang tuaku atau orang tua siapapun. Oke?"

Sasuke merasa heran, mengapa wanita itu bersikukuh untuk membalas budi dengan mentraktirnya? Padahal ia sendiri tidak merasa keberatan kalau Sakura tidak mentraktirnya.

"Pilihlah restoran yang kau inginkan. Mumpung masih tanggal dua belas nih, hehe."

"Simpan uangmu. Biar aku yang membayar."

"Tidak! Pokoknya aku yang akan mentraktirmu."

Sakura terdengar sangat bersikeras dan Sasuke terlalu malas untuk berdebat. Maka akhirnya ia memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran cepat saji yang menjual gyudon. Setidaknya, makanan cepat saji disana masih lebih baik ketimbang makanan sejenis burger atau ayam goreng ala negara Barat yang jelas bukan favoritnya.

"Oke. Kalau begitu aku akan berangkat sekarang dari kantor."

"Hn."

Sakura mematikan telepon dan Sasuke segera memasukkan ponsel ke saku celananya dan segera melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada.

.

.

Sakura duduk berhadapan dengan Sasuke dengan semangkuk gyudon, beberapa jenis gorengan dan minuman dihadapan masing-masing. Mereka berdua kembali makan dalam keheningan meski beberapa orang di meja sekitar mereka tampak berbicara satu sama lain.

Sakura agak terkejut dengan dirinya sendiri yang mendadak merasa ingin makan malam bersama Sasuke. Ia yakin kalau ia begitu karena sedang tak ingin makan malam sendirian, dan ia juga merasa tidak enak hati karena Sasuke sudah mentraktir orang tuanya.

Namun Sakura lebih heran dengan restoran pilihan Sasuke. Ia tak mengira kalau Sasuke akan memilih restoran semacam ini, sebuah restoran yang termasuk tidak berkelas untuk kalangan menengah atas seperti Sasuke. Padahal awalnya Sakura sudah mengira kalau Sasuke akan memilih restoran berkonsep fine dining di lantai teratas gedung pencakar langit yang sedang populer, atau di tempat lainnya yang memiliki konsep sejenis.

"Ternyata kau suka makanan seperti ini?"

Sasuke menganggukan kepala. Ia tidak terlalu memusingkan apa yang ia konsumsi selama makanan itu tidak manis, masih layak makan dan rasanya tidak parah-parah amat. Bahkan Sasuke sudah merasa senang jika diberikan onigiri dengan tomat sebagai isian.

Sakura tak tahu kalau Sasuke sebetulnya sengaja memilih restoran ini. Restoran ini adalah restoran yang sangat murah dimana harga per menu tak lebih dari tujuh ratus yen. Sasuke merasa kalau tak seharusnya ia membiarkan Sakura membayarinya di restoran mahal. Ia merasa tidak enak hati sehingga memilih restoran seperti ini.

"Bagaimana denganmu? Apa yang kau sukai?"

"Eh? Aku?" Sakura terkejut karena Sasuke menanyakan dirinya. "Aku suka apapun selama tidak pedas. Tapi aku lebih suka makanan manis, sih."

Sasuke tak menjawab lagi. Namun dalam hati ia berusaha mengingatnya dan berjanji pada dirinya sendiri untuk membawakan makanan kesukaan wanita itu sepulang kerja. Tak ada alasan spesifik baginya untuk melakukan hal itu, ia hanya merasa ingin melakukannya saja.

.

.

"Sakura, bisakah kau menandatangani ini untukku?" ucap Sasuke seraya menyerahkan formulir yang diberikan dokter itu pada Sakura.

Sakura menatap sebuah map dengan tulisan dan logo rumah sakit. Ia segera membuka map itu dan mendapati sebuah surat pernyataan untuk pihak keluarga.

"Ini surat pernyataan untuk operasimu?"

"Hn/"

Sakura segera membuka tasnya dan mengeluarkan pen. Ia membuka tutup pen dan mulai menandatangani kertas itu di bagian kolom nama penanggung jawab serta menuliskan namanya. Selain itu ada pula kolom dimana ia harus menuliskan nama, nomor telepon yang bisa dihubungi dan relasinya dengan pasien.

Sakura segera menuliskan relasinya sebagai istri Sasuke walau dalam hati ia merasa ingin tertawa. Padahal setelah operasi itu selesai dan Sasuke diperbolehkan pulang dari rumah sakit, statusnya sebagai istri Sasuke juga akan berubah. Sehingga pernyataan di surat itu sebagai istri Sasuke seolah merupakan pernyataan terakhir sebelum berpisah.

Sebetulnya Sasuke ingin meminta ibu atau kakaknya untuk menandatangani pernyataan itu, atau kalau perlu meminta Naruto yang bertanda tangan. Namun ia tak ingin orang-orang merasa keheranan karena ia tak menyuruh istrinya sendiri dan malah menyuruh orang lain sehingga membuat orang berpandangan aneh terhadap Sakura.

Dalam hati Sasuke benar-benar berharap kalau operasinya akan berjalan lancar sehingga pihak rumah sakit tidak perlu menghubungi Sakura dan malah merepotkan wanita itu.

Sakura menyentuh kertas itu di dalam map itu dan merasa heran karena terdapat selembar kertas lagi di dalam map itu.

Sasuke menyadari kalau Sakura merasa bingung dan ia langsung berkata, "Langsung tanda tangani saja kertas yang satu lagi."

Ucapan Sasuke malah membuat Sakura merasa penasaran dengan isi kertas itu. Ia segera menarik kertas dan menandatangani kertas itu seraya membaca isinya dengan cepat. Ia juda mendapati tanda tangan Sasuke di bagian kolom lainnya.

Sakura benar-benar terkejut dengan isi surat itu. Inti dari surat itu berisi pernyataan yang berupa kesediaan pihak pasien dan keluarga untuk mendonorkan seluruh organ tubuh pasien yang dapat didonorkan jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Sakura tak pernah menjalani operasi, begitupun dengan orang tuanya. Namun ia belum pernah mendengar kalau pasien harus menandatangani surat pernyataan semacam itu sebelum operasi.

"Rumah sakit macam apa ini?! Bagaimana bisa pasien dipaksa menandatangani surat semacam ini? Kau seolah dipaksa memikirkan kematian ketika yang seharusnya kau pikirkan adalah kesembuhanmu!" ucap Sakura dengan nada meninggi.

Sasuke tak mengira kalau reaksi Sakura akan seperti ini ketik membaca surat itu. Semula ia menyuruh Sakura untuk langsung menandatanganinya agar wanita itu tidak membaca isinya. Ia merasa tidak nyaman jika orang lain mengetahui donasi yang ingin ia lakukan.

"Kau tidak mendengarku, hn?"

"Bagaimana bisa kau menyuruhku menandatangani sesuatu yang bahkan tak kuketahui isinya? Bagaimana kalau isinya malah merugikanku?"

"Itu tidak akan merugikanmu."

Sakura mengangguk. Tentu saja ia tidak akan rugi, toh bukan organ tubuhnya yang akan diambil. Namun ia khawatir kalau keluarga Sasuke akan menyalahkannya karena menandatangani dokumen itu jika mereka ternyata keberatan dengan donor organ ketika ia sendiri tidak tahu kalau ia pernah menandatangani dokumen.

"Rumah sakit itu aneh. Kurasa kau harus berhati-hati, bisa saja mereka berniat melakukan malpraktik dengan menyuruhmu menandatangani pernyataan semacam itu dan menjual organ-organ tubuhmu jika terjadi sesuatu padamu," ucap Sakura dengan sinis secara refleks.

Sasuke mengerti maksud Sakura, namun ia segera menggelengkan kepala dan berniat menjahili wanita itu sedikit.

"Jadi sekarang kau mengkhawatirkanku, hn?"

Sakura kehilangan kata-kata. Ia merasa malu karena ucapannya terkesan mempedulikan lelaki itu. Ia tak ingin terkesan seperti wanita genit yang mendadak bersikap baik pada lelaki itu, terlebih setelah tau lelaki itu akan menjalani operasi.

"Jangan salah paham. Aku hanya tak ingin siapapun menjadi korban dari praktik penipuan semacam itu, tahu. Kau tahu kalau penjualan organ tubuh semakin marak, kan? Dan kurasa rumah sakit paling memiliki kesempatan karena mereka bisa menjualnya langsung pada pasien dengan harga tinggi tanpa melalui perantara."

Sasuke tersenyum tipis mendengar ucapan Sakura. Sepertinya wanita itu benar-benar seorang ekonom sejati hingga mampu memikirkan kemungkinan-kemungkinan berasa ekonomi seperti itu walaupun ia sendiri belum pernah mendengar kasus semacam itu.

"Aku bahkan belum pernah mendengar modus semacam itu. Apa kau berniat melakukannya seandainya kau bukan seorang akuntan, hn?"

Sakura meringis. Seandainya ia menjadi dokter, ia tak akan melakukan hal gila semacam itu demi sejumlah uang. Ia percaya hukum karma itu memang ada, dan bisa saja ia menjadi korban penipuan yang lebih parah jika ia melakukan hal seperti itu.

Sakura berdecak kesal, "Ckck… Aku bukan orang rendahan yang mau menipu dengan cara seperti itu. Apa yang kuucapkan itu memang hanya kemungkinan, tapi bisa saja menjadi kenyataan. Iya, kan?"

Sasuke mendadak mengangkat tangannya secara refleks. Ia kembali meletakkan jari tengah dan telunjuknya di kening wanita itu, dan kali ini lebih lama daripada sebelumnya.

"Mereka tidak memaksaku. Aku mengajukan keinginanku dan mereka memintaku membuat surat itu," jelas Sasuke dengan nada yang lebih lembut.

Penjelasan Sasuke membuat Sakura terkejut, terlebih lagi dengan ucapan yang terdengar begitu lembut dan senyum tipis yang menghiasi bibir lelaki itu. Senyum lelaki itu tampak samar, dan kini bahkan sudah menghilang, namun ia merasa kalau senyum lelaki itu benar-benar menawan.

Sepertinya ucapan Ino memang benar. Sasuke pastilah orang yang baik hingga bisa memikirkan hal seperti ini dan mau memperlakukannya dengan baik meskipun ia sudah bersikap sangat kasar selama sebulan terakhir. Atau mungkin juga lelaki itu terlalu baik hingga menjadi tolol.

"Kau benar-benr mengejutkan. Aku tak mengerti apa yang kau pikirkan saat membuat permintaan seperti itu. Bukankah seharusnya kau memikirkan apa yang akan kau lakukan seandainya operasimu berhasil?"

"Kalau operasiku gagal, organ itu juga sudah tidak berguna untukku," sahut Sasuke tanpa berniat menjelaskan secara detil.

Ia tak suka menjelaskan alasan dibalik tindakannya, jika berkaitan dengan hal-hal yang baik menurut orang lain. Ia hanya berpikir kalau selama ini ia sudah menjadi beban dan aib bagi orang di sekelilingnya dan tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya. Maka ia ingin melakukan sesuatu yang berguna di akhir hidupnya.

"Mana mungkin kau akan mati hanya karena operasi telinga? Dasar aneh."

Sasuke tidak menjawab. Sebetulnya ia bermaksud membuat pernyataan semacam itu untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu padanya. Kalaupun operasinya berhasil, ia akan membawa surat pernyataan itu di dompetnya sehingga pihak rumah sakit bisa langsung tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu padanya.

"Lagipula aku yakin kami-sama juga tak akan cepat-cepat memanggilmu sebelum kau berhasil operasi dan setidaknya terlihat normal. Lalu kau bisa menunjukkannya pada otou-sama mu."

Detik berikutnya Sakura menepuk bibirnya. Ia meringis dan merutuki ketololannya yang tanpa sadar membeberkan kalau ia sebetulnya tahu mengenai kondisi keluarga Sasuke. Ia merasa ingin menangis saat ini, ia takut dianggap sebagai orang yang tidak bisa dipercaya.

"Mengapa aku harus menunjukkan pada otou-sama?" Sasuke berpura-pura untuk memancing Sakura. Ia yakin kalau wanita itu mengetahui sesuatu.

"Umm… kulihat sepertinya ayahmu tidak menyukaimu. Dan kupikir itu ada hubungannya dengan kondisimu, karena…" Sakura merasa tak enak melanjutkannya. "Aku pun sempat begitu."

Sasuke memilih bepura-pura percaya meski instingnya mengatakan kalau Sakura sedang menutupi sesuatu. Ia agak yakin kalau hal itu berkaitan dengan perubahan sikap Sakura, namun ia memutuskan untuk tak bertanya.

"Kau begitu ingin melihatku jika aku terlihat normal setelah operasi nanti, hn?"

Pertanyaan Sasuke agak aneh, namun ia menganggukan kepala. Ia berpikir apakah Sasuke akan tampak berbeda dan terlihat semakin tampan tanpa alat bantu pendengaran yang selama ini ia gunakan? Sakura yakin kalau lelaki itu bisa membaca apa yang ia pikirkan hingga bertanya seperti itu.

"Tentu saja. Aku merasa sangat penasaran hingga ingin cepat-cepat melihatnya. Aku ingin tahu apakah kau akan terlihat berbeda nanti? Siapa tahu saja kau malah jadi lebih enak dilihat."

Sakura tak ingin mengakuinya, namun sebetulnya ia juga berharap agar Sasuke pada akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan setelah operasinya berhasil. Ia hanya tak ingin lelaki itu menderita lebih lama lagi. Menurutnya Sasuke sangat pantas mendapatkan kebahagiaan.

Sakura selalu terbayang-bayang dengan cerita Itachi mengenai masa lalu Sasuke setiap kali melihat lelaki itu. Dan ia merasa semakin bersalah serta ingin merengkuh lelaki itu.

Entah apa yang merasuki Sakura, ia segera memeluk Sasuke. Ia merasa malu jika dianggap wanita aneh atau murahan dan ingin segera melepaskan pelukannya, namun tubuhnya malah tak ingin melepaskan pelukan itu. Ia memilih untuk membiarkan dirinya memeluk Sasuke sejenak, toh setelah perjanjian berakhir mereka tak akan bertemu lagi.

Sasuke terkejut dengan apa yang dilakukan Sakura. Tubuhnya mematung selama beberapa saat, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Tak ada yang pernah memeluknya seperti ini selain Naruto, ibu dan kakaknya, sehingga ia merasa sangat canggung. Namun pada akhirnya ia meletakkan kedua tangannya di punggung Sakura. Diluar dugaan, perasaan Sasuke terasa lebih baik setelah menerima pelukan dari Sakura.

"Nanti akan kutunjukkan padamu," jawab Sasuke seraya berbisik di telinga wanita berambut merah muda itu.

-TBC-


Author's Note :


Maaf kalau gaya bahasa nya mendadak aneh & feel nya ga dapet kyk chapter sebelumnya.

Kali ini aku lagi writer block. Mendadak aku kehabisan ide untuk ngembangin romance nya.

Selama ini aku terlalu banyak buat cerita romance, jadinya aku mulai merasa kalau romance di fanfict yang 1 & lainnya punya begitu banyak kesamaan. Jadinya aku bingung nentuin scene nya biar ga monoton buat kalian, terutama kalian yang udah baca fanfict ku yang lainnya.

Kemungkinan waktu update bakal ditunda sementara sampai writer block ku ilang, tergantung sikon juga. Mengenai ending, kemungkinan besar ga akan lewat 30 chapter.