Disclaimer :
Detektif Conan milik Aoyama Gosho
Catatan Penulis :
Terima kasih kepada GeeSouSan, aelitaai, V, Golden, forugoky, ditowijaya7 dan Guest atas komentarnya.
Selamat membaca dan berkomentar!
Aku Memilihmu
By Enji86
Chapter 21 – Pertarungan Dimulai
Akemi yang dari tadi mondar-mandir di kamarnya langsung berhenti ketika dia melihat Shuichi masuk kamar.
"Kau sudah pulang, Sayang," sapa Akemi dengan ringan meskipun jantungnya sebenarnya sedang dag-dig-dug tidak karuan.
"Mmm," sahut Shuichi.
Shuichi melepas jas dan dasinya, lalu duduk di sofa. Dia mengeluarkan laptop dari tas kerjanya dan menghidupkannya.
Akemi bergegas duduk di samping Shuichi.
"Apa saja yang kau lakukan hari ini?" tanya Akemi.
"Bukankah aku sudah bilang padamu tadi pagi kalau aku ada rapat dengan Menteri Transportasi?" sahut Shuichi tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya.
"Oh iya, kau sudah bilang tadi pagi," ucap Akemi sambil tertawa gugup.
Lalu suasana menjadi hening.
"Bagaimana dengan makan siang?" tanya Akemi.
"Aku makan siang di Restoran Kotobuki," jawab Shuichi.
"Sendirian?" tanya Akemi lagi.
"Tidak. Aku makan siang dengan adikmu," jawab Shuichi.
Akemi tidak bisa berkata-kata untuk beberapa lama karena dia begitu bingung. Apa kakak ipar makan siang dengan adik ipar tanpa memberitahu sang istri adalah hal biasa bagi Shuichi?
"Kenapa kau tidak memberi tahuku?" tanya Akemi setelah menemukan suaranya kembali.
"Tentang apa?" Shuichi balik bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Kalau kau akan makan siang dengan Shiho-chan," jawab Akemi dengan tidak sabar.
"Dia memberitahuku dengan mendadak jadi aku tidak sempat memberitahumu," ucap Shuichi.
Lalu suasana kembali hening karena Akemi tidak tahu harus berkata apa. Dia ingin protes, tapi dia akan terlihat tidak rasional kalau dia protes. Shiho adalah adiknya dan Shuichi adalah suaminya. Mereka keluarga. Mereka bisa saja makan siang berdua tanpa dirinya. Lagipula alasan Shuichi tidak memberitahunya cukup masuk akal. Tapi kenapa Shiho tidak memberitahunya kalau Shiho akan mengajak suaminya makan siang?
"Apa kau tahu kalau ayahmu menunjuk adikmu untuk menangani pemilihan perdana menteri?" tanya Shuichi.
"Iya, aku sudah dengar," jawab Akemi dengan agak heran. Apa suaminya sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?
"Adikmu memberitahuku saat makan siang tadi kalau dia ingin aku yang menjadi perdana menteri menggantikan ibuku," ucap Shuichi.
"Eh?" seru Akemi dengan kaget. Sekarang dia tahu kenapa ibu mertuanya tadi bersikap aneh setelah bertemu Shiho.
"Dan aku bersedia. Apa kau keberatan dengan itu?" lanjut Shuchi sambil menatap Akemi
"Tentu saja aku tidak keberatan," ucap Akemi sambil tersenyum. Dia akan menjadi istri perdana menteri jadi kenapa dia harus keberatan? Tapi dia sedikit khawatir dengan ibu mertuanya.
"Tapi bagaimana dengan Ibu?" tanya Akemi dengan kening berkerut.
"Kita akan membujuknya," jawab Shuichi. Lalu dia kembali mengalihkan perhatiannya ke layar laptopnya.
Akemi pun memutuskan untuk tidak mengganggu suaminya lagi. Meskipun masih ada yang terasa mengganjal di hatinya, dia akan mencoba mengabaikannya. Suaminya dan adiknya makan siang bersama untuk membicarakan urusan pekerjaan. Mungkin karena itu mereka tidak memberitahunya.
XXX
Sehari sebelum pendaftaran calon perdana menteri, Shuichi pulang ke rumah keluarganya untuk menemui ibunya. Dia langsung disambut oleh tamparan ibunya saat ibunya melihatnya.
"Kau masih berani datang kemari setelah apa yang kau lakukan padaku," seru Perdana Menteri dengan marah.
Shuichi menatap ibunya seolah tidak ada yang terjadi.
"Besok aku akan mendaftar ke KPU sebagai calon perdana menteri. Akan sangat baik bagiku kalau Ibu mau memberi dukungan..." ucapan Shuichi terhenti karena ibunya menamparnya lagi.
"Beraninya kau," teriak Perdana Menteri.
Shuichi kembali menatap ibunya.
"Semua ketua partai koalisi sudah memberi dukungan kepadaku. Apa Ibu tidak mau bergabung dengan mereka?" ucap Shuichi, masih dengan nada suara yang sama, seolah-olah ibunya tidak pernah menamparnya.
Perdana Menteri kehilangan kata-kata selama beberapa saat, sebelum pertahanannya jebol dan akhirnya dia menangis.
"Kau melakukan ini karena wanita itu, kan? Aku ibumu, Shu. Kenapa kau tega padaku demi wanita itu? Kau anak kesayanganku. Kau selalu patuh padaku dan memenuhi semua harapanku. Tapi wanita itu sudah merusakmu. Untuk pertama kalinya kau melawanku karena wanita itu. Aku seharusnya melenyapkannya saja dari dulu. Aku...," ucap Perdana Menteri sambil mengguncang-guncang tubuh Shuichi.
"Kau salah, Ibu. Aku melakukan ini untukmu," ucap Shuichi sehingga mata Perdana Menteri membesar. Dia melepaskan Shuichi kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Shuichi. Paman, kakak dan adik Shuichi yang dari tadi menonton ikut pergi meninggalkan Shuichi. Namun sebelum pergi, adiknya memberinya semangat dengan mengepalkan tangannya.
Shuichi masih berdiri sendirian di ruang tamu rumah keluarganya selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia melangkah ke pintu depan.
XXX
"Baju apa yang akan kau pakai hari ini, Sayang? Ini hari yang penting untukmu. Apa kau ingin aku memilihkannya?" tanya Akemi dengan riang.
"Adikmu yang akan mengurusnya," sahut Shuichi yang sedang membaca koran dengan hanya memakai jubah mandi.
"Oh," ucap Akemi. Entah kenapa perasaannya agak down mendengarnya. Mungkin karena sebagai istri, dia merasa sudah tugasnya-lah mengurus semua keperluan suaminya. Tapi Shiho sepertinya sudah mengganggu zona nyamannya itu.
Lalu seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Akemi melihat Shiho dan seorang pelayan masuk ke kamarnya setelah dia mempersilahkan mereka masuk. Pelayan itu sepertinya membawa satu set pakaian untuk Shuichi.
"Ini pakaian yang akan dipakai Shuichi-nii-san. Dimana aku harus meletakkannya?" tanya Shiho.
Akemi sudah akan menjawab, tapi Shuichi mendahuluinya.
"Bantu aku berpakaian," ucap Shuichi dengan nada memerintah.
Akemi langsung menoleh kepada suaminya, tapi suaminya tidak menatapnya. Suaminya menatap ke arah Shiho.
Ruangan itu menjadi hening selama beberapa saat sebelum Shuichi memecahkannya.
"Aku akan terlambat," ucap Shuichi dengan tidak sabar sambil tetap menatap Shiho.
Shiho menatap kakaknya dengan tatapan minta maaf sebelum mengambil pakaian Shuichi dari tangan pelayan dan melangkah menghampiri Shuichi setelah menyuruh pelayan itu keluar.
Akemi hanya bisa melongo melihat suaminya dengan santainya melepas jubah mandinya di depan Shiho padahal ia hanya mengenakan boxer. Shiho pun sepertinya tidak terlalu terpengaruh, hanya sebatas rona merah tipis di pipinya, dan dengan sabar membantu Shuichi berpakaian.
"Sempurna," ucap Shiho sambil menatap pantulan Shuichi di cermin. Senyum puas menghiasi bibirnya.
Mereka berdua memang pasangan yang sempurna. Begitulah pikir Shuichi saat dia melihat pantulan dirinya dan Shiho di cermin. Sayangnya mereka bukan pasangan.
Setelah Shiho pergi, Shuichi mengalihkan perhatiannya pada Akemi yang dari tadi tiba-tiba menjadi pendiam.
"Dia yang ingin menjadikanku perdana menteri, jadi dia harus bertanggung jawab dan mengurus semua keperluanku selama masa pemilihan. Kau tidak perlu terlalu memikirkannya," ucap Shuichi.
Akemi hanya menatap Shuichi. Tidak tahu harus berkata apa.
Melihat Akemi hanya diam saja, Shuichi pun kembali membuka mulutnya.
"Aku akan menunggumu di bawah," ucap Shuichi sebelum melangkah pergi dengan koran paginya di tangannya.
Sebenarnya ada apa ini? Akemi benar-benar tidak mengerti.
XXX
Di kantor KPU, kedua calon perdana menteri dan tim pemenangan masing-masing terlihat akrab, meskipun mereka saling tidak menyukai satu sama lain. Lalu saat konferensi pers calon perdana menteri digelar, Amuro berhasil membuat dirinya berdua saja dengan Shiho di suatu tempat. Atau lebih tepatnya Shiho membiarkan dirinya berdua saja dengan Amuro di tempat itu, sementara Kaito mengawasi mereka dari tempat yang tidak terlihat.
"Bagaimana kau bisa melakukan hal itu, Sherry?" tanya Amuro.
"Melakukan apa?" Shiho balik bertanya.
"Dia sudah menikahi kakakmu, tapi kau malah membantunya menjadi perdana menteri," sahut Amuro sehingga Shiho tertawa kecil.
"Sesuatu yang buruk pasti sudah terjadi pada otakmu itu, Bourbon. Kau bilang sendiri kalau Rye adalah kakak iparku. Jadi kenapa kau mempertanyakan kalau aku membantunya?" ucap Shiho dengan geli.
"Jangan berpura-pura, Sherry. Aku tahu kalian dulu berkencan. Itu bukan sekedar gosip," ucap Amuro dengan geram.
Shiho pun geleng-geleng kepala.
"Jadi kau benar-benar ingin tahu bagaimana caranya?" tanya Shiho.
"Jadi kau mengakuinya?" Amuro balik bertanya dengan tajam.
Shiho tersenyum.
"Move on," ucap Shiho.
"Eh," ucap Amuro dengan tertegun.
"You should, too," ucap Shiho. Kemudian dia melangkah pergi sementara Amuro hanya bisa terdiam di tempat.
XXX
"Tim Kudo-kun benar-benar tangguh. Mereka menggunakan jaringan media yang mereka punya dan menolak memasang iklan Rye maupun partai pendukungnya di TV dan media mereka yang lain berapapun bayarannya," ucap Shiho sambil menyeringai setelah dia menerima laporan dari anak buahnya.
"Jaringan media milik Grup Kudo adalah yang terbaik dari semuanya. Mereka mengcover hampir semua penonton TV di Jepang. Kalau kita tidak memasang iklan di sana, kita tidak akan punya kesempatan. Jadi apa yang harus kita lakukan?" ucap Kaito.
"Yah, kita akan tetap memasang iklan di sana," ucap Shiho.
"Bagaimana caranya? Bukankah tadi anda bilang mereka menolak berapapun bayarannya?" tanya Kaito dengan kening berkerut.
"Itulah gunanya kau di sini," jawab Shiho.
"Saya?" tanya Kaito dengan bingung.
"Kita akan membujuk ayahmu," sahut Shiho sambil tersenyum.
XXX
Yusaku terbangun di sebuah kamar yang terlihat seperti kamar hotel yang bertipe president suite. Dia lalu menyadari bahwa dia tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut yang menutupi tubuhnya dari pinggang ke bawah, sementara tangan dan kakinya terikat ke tempat tidur. Dia pun mengerutkan keningnya. Dia sudah diculik, tapi entah kenapa posisinya sekarang membuatnya agak terangsang.
Yusaku melihat siluet seseorang berdiri di jendela membelakanginya. Figur seorang wanita. Dan jantungnya pun berdetak sedikit lebih cepat. Wanita itu lalu berbalik dan melangkah menghampirinya. Dia tidak bisa melihat wanita itu dengan jelas karena silau sehingga dia menyipitkan matanya.
"Kau sudah bangun?" tanya wanita itu dengan senyum manis di bibirnya dan mata Yusaku pun membesar.
Yusaku mengumpat dalam hati saat melihat Shiho yang mengenakan lingerie two-piece renda berwarna hitam dilengkapi dengan topi koboi di kepalanya. Shiho dengan cosplay sexy cowgirl benar-benar diluar imajinasinya. Kalau saja dia bisa memegang Shiho, dia pasti akan membuat Shiho meneriakkan namanya ketika dia menjadikan Shiho miliknya.
Yusaku tahu Shiho sedang menggodanya untuk menyiksanya. Sama seperti yang dia lakukan dulu saat Shiho masih bekerja di Kudo TV. Tapi ini benar-benar tak tertahankan untuknya. Namun, dia tetap berusaha menenangkan dirinya dan menekan nafsunya yang mulai bergelora.
"Kelihatannya kau sudah hampir putus asa, ya?" tanya Yusaku sambil menyeringai.
"Begitukah?" Shiho balik bertanya, masih sambil tersenyum. Lalu dengan tiba-tiba dia menaiki Yusaku. Dia duduk di pinggang Yusaku sehingga Yusaku mengumpat dengan keras sementara seluruh tubuhnya menegang. Dan sesuatu yang berada di antara kedua pahanya pun terbangun dan menyentuh pantat Shiho.
Shiho pun tertawa kecil dan Yusaku kembali mengumpat.
"Jadi siapa yang putus asa sekarang?" tanya Shiho lagi sambil menyeringai.
Yusaku menatap Shiho dengan geram, tapi kemudian dia kembali menenangkan dirinya. Bagaimanapun, dia punya posisi tawar yang lebih tinggi saat ini.
"Satu ronde untuk setiap iklan," ucap Yusaku dengan tenang sambil menyeringai.
Shiho membungkuk dan meletakkan tangannya di kedua sisi kepala Yusaku agar bisa bertatapan dengan Yusaku. Membuat Yusaku menjadi lebih tegang setiap detiknya.
"Kau harus melakukannya lebih baik daripada itu. Kudo-kun akan memberikan Kudo TV padaku tanpa aku perlu mengeluarkan keringat. Jadi kau seharusnya memberi lebih daripada itu," ucap Shiho sambil menyeringai sehingga Yusaku kembali menatap Shiho dengan geram.
"Aku tidak akan membiarkan Shinichi jatuh dalam perangkapmu," ucap Yusaku.
"Tapi dia sudah terperangkap. Apa kau tahu kalau kami sedang bertaruh sekarang?" ucap Shiho sehingga mata Yusaku membesar. "Dan apapun hasilnya, aku akan tetap menang," lanjut Shiho.
"Apa?" ucap Yusaku dengan tajam.
Shiho menegakkan tubuhnya dan turun dari tubuh Yusaku dan tempat tidur.
"Senang bermain denganmu, Paman... atau lebih tepatnya calon ayah mertua," ucap Shiho sambil tersenyum sehingga Yusaku menatapnya dengan tajam. "Sekarang waktunya berbisnis. Seseorang akan bernegosiasi denganmu tentang iklan itu," lanjut Shiho. Dan seorang laki-laki melangkah dari koridor dan berdiri di samping Shiho.
Laki-laki itu memakaikan mantel bulu yang dibawanya kepada Shiho dengan tatapan tidak nyaman sehingga Shiho tersenyum padanya. Yah, tidak setiap hari kau melihat Ojou-sama-mu menggoda ayahmu. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke Yusaku dan membungkuk pada Yusaku.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua dan semoga kita bisa mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak," ucap Shiho. Dia menunduk pada Yusaku lalu melangkah pergi.
"Jadi bagaimana kabarmu, Ayah?" tanya Kaito setelah Shiho pergi sehingga Yusaku hanya bisa mengumpat dalam hati. Wanita itu benar-benar licik seperti ular.
Yusaku selalu ingin punya banyak anak. Tapi dia hanya punya Shinichi. Tidak peduli berapa banyak wanita yang sudah dia tiduri, dia tidak mendapatkan anak lagi. Sampai akhirnya Kaito muncul di hadapannya. Dia tidak tahu kalau Chikage sedang hamil saat dia mencampakkannya. Kalau saja dia tahu, dia pasti tidak akan pernah menelantarkan mereka berdua meskipun dia sangat membenci Atsushi.
Yusaku memang bajingan, tapi dia akan memberikan apapun yang diminta oleh anaknya. Apapun.
XXX
Amuro merasa geram ketika dia melihat iklan Shuichi dan partai pendukungnya di TV. Dan dia bertambah marah setelah bertemu Yusaku. Dia sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya pada Yusaku, tapi Yusaku hanya berkata bahwa ini semua tentang bisnis.
"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan ayahmu," ucap Amuro dengan kesal saat dia sudah keluar dari kantor Yusaku bersama Shinichi.
"Yah, aku tidak pernah setuju dengan idemu untuk mensabotase iklan mereka, jadi...," ucap Shinichi sambil mengangkat bahu.
"Tapi kita pasti akan menang," seru Amuro.
"Dengan cara yang tidak fair?" sahut Shinichi dengan sinis.
"Yah, semuanya adil dalam cinta dan perang," ucap Amuro sehingga Shinichi memutar bola matanya.
"Apakah kau pernah jatuh cinta, Amuro-san?" tanya Shinichi dengan nada penasaran.
Amuro terdiam sejenak untuk berpikir. Saat SMA, dia pernah naksir Akemi, tapi semua orang tahu Akemi menyukai Shuichi yang dibencinya sejak kecil. Lalu saat di akademi, dia sempat tertarik pada Shiho karena Shiho selalu dibully oleh Shuichi yang dibencinya. Namun ternyata Shiho akhirnya pacaran dengan Shuichi sehingga dia jadi membenci Shiho juga.
"Yah, aku tidak yakin," jawab Amuro dengan ragu. Lalu tiba-tiba dia teringat kata-kata Shiho dulu untuk meledeknya saat dia menyinggung tentang Shuichi. Saat itu, mereka berdua masih berteman karena Shiho masih menjadi korban bully Shuichi.
"Kau pasti sangat mencintainya, ya? Kau terus memikirkannya setiap saat padahal dia bahkan tidak tahu tentang keberadaanmu. Aku rasa kau harus menyatakan perasaanmu padanya. Dia belum punya pacar sampai saat ini jadi mungkin kau punya kesempatan," ucap Shiho sambil nyengir dengan nada meledek.
Tubuh Amuro jadi merinding karenanya. Tidak, dia tidak mencintai Shuichi. Dia normal. Dia yakin akan hal itu. Lalu dia teringat pembicaraannya dengan Shiho saat pendaftaran bakal calon perdana menteri. Shiho menyuruhnya untuk move on. Shiho sepertinya sangat yakin kalau dia mencintai Shuichi. Dan itu benar-benar salah besar.
Shinichi pun menaikkan alisnya saat melihat Amuro seperti sedang berkonflik dengan dirinya sendiri.
"Ada apa?" tanya Shinichi.
"Tidak ada apa-apa," sahut Amuro cepat sambil menyingkirkan ide absurd itu dari pikirannya.
Shinichi pun mengangkat bahu dan kembali membuka mulutnya.
"Yah, aku yakin kita pasti bisa menang dengan cara yang adil dan jujur. Percayalah padaku," ucap Shinichi sehingga Amuro memutar bola matanya.
"Terserah," ucap Amuro. Dia tidak habis pikir karena Shinichi begitu naif padahal Shinichi sudah terjun ke dunia politik. Sekarang dia harus kembali memutar otak untuk memastikan kemenangan Shinichi setelah sebelumnya mereka sudah di atas angin saat mereka mensabotase iklan Shuichi dan partai pendukungnya.
Sementara itu, Yusaku memijat keningnya di kantornya setelah Amuro dan Shinichi pergi. Wanita itu sudah menguasai kedua anaknya, tapi yang bisa dia ingat dari wanita itu hanya gambaran wanita itu dengan cosplay sexy cowgirl-nya. Dan tubuhnya selalu bereaksi setiap kali dia teringat momen saat wanita itu mendudukinya, sementara dia tidak berdaya karena kaki dan tangannya terikat ke tempat tidur.
Yusaku sudah berusaha mengajak Kaito pulang ke rumahnya dan akan mengakui Kaito sebagai anaknya, tapi Kaito tidak bersedia. Kaito lebih memilih untuk berada di samping Ojou-sama-nya daripada menjadi seorang Kudo. Tapi Kaito tetap akan menghormati Yusaku sebagai ayahnya dan mengunjunginya sesekali.
Yusaku pun kembali mengumpat dalam hati. Dia harus meniduri seseorang malam ini.
XXX
"Jadi bagaimana kau melakukannya?" tanya Shuichi pada Shiho yang sedang mencampur berbagai macam bahan ke dalam mangkok di depannya. Saat itu mereka sedang berada di dapur.
"Melakukan apa?" Shiho balik bertanya.
"Iklan kita," sahut Shuichi.
"Oh, itu. Kau harus berterima kasih pada Kaito-kun," ucap Shiho sambil mengaduk adonan di dalam mangkok.
"Pelayanmu?" tanya Shuichi sambil mengerutkan keningnya.
"Aku pergi bersamanya untuk bernegosiasi, tapi dia yang mendapatkan kesepakatan itu dengan Grup Kudo," jelas Shiho.
"Bagaimana? Aku tahu dia dulu merupakan artis di Kudo TV. Tapi itu jelas tidak cukup," ucap Shuichi sehingga Shiho tertawa geli.
"Kau terlalu banyak bertanya, Rye," ucap Shiho.
"Aku harus. Dia melepaskan karirnya sebagai artis untuk menjadi pelayanmu. Itu sangat mencurigakan," ucap Shuichi.
"Yah, Kaito-kun adalah urusanku, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang dirinya," ucap Shiho sehingga kening Shuichi semakin berkerut. "Yang perlu kau khawatirkan adalah Bourbon," lanjut Shiho.
"Bourbon? Laki-laki yang mendekatimu saat di akademi? Yang berkulit gelap dan berambut pirang?" tanya Shuichi.
"Yup. Dia satu sekolah denganmu sejak kalian TK, kau tahu?" sahut Shiho.
"Benarkah? Aku tidak ingat," ucap Shuichi dengan kening berkerut sehingga Shiho memutar bola matanya. "Tapi kenapa dia bergabung dengan Gubernur Tokyo?" tanya Shuichi dengan heran.
"Dia sangat mencintaimu, jadi dia akan melakukan segalanya untuk menghancurkanmu," sahut Shiho sambil nyengir sehingga Shuichi menatap Shiho dengan kesal.
"Yang benar saja," ucap Shuichi sambil menyipitkan matanya. "Jadi maksudmu dia dendam padaku karena aku sudah merebutmu darinya sehingga dia bergabung dengan Gubernur Tokyo untuk mengalahkanku?" tanya Shuichi.
"Tidak, Rye. Dia mencintaimu," sahut Shiho sambil tersenyum sehingga Shuichi jadi agak merinding. "Dan dia sangat pintar. Kalau kau lengah sedikit saja, dia akan mengalahkan kita," lanjut Shiho.
"Yah, dia juga lulusan akademi, jadi dia pasti sangat pintar," ucap Shuichi sambil berpikir.
"Begitulah. Sekarang diamlah karena aku akan memakaikan ini padamu," ucap Shiho sambil menyodorkan mangkok di tangannya.
"Apa itu?" tanya Shuichi.
"Masker," jawab Shiho.
"Kenapa aku harus memakai masker?" tanya Shuichi dengan tatapan tidak suka.
"Karena kau jelek," sahut Shiho dengan santai.
"Apa?" ucap Shuichi dengan tajam.
"Kau bisa lihat sendiri. Gubernur Tokyo adalah laki-laki yang sangat tampan karena dia sangat terawat. Kulitnya bersih dan halus seperti bayi. Ibunya seorang aktris jadi dia pasti sudah terbiasa dengan perawatan sejak kecil. Sementara gaya hidupmu sangat buruk dan itu terlihat di wajahmu. Jadi untuk menyainginya sedikit, kau harus kelihatan lebih segar," ucap Shiho.
"Kulitnya bersih dan halus seperti bayi? Bagaimana kau tahu itu?" tanya Shuichi sambil menyipitkan matanya. Kemudian matanya membesar karena teringat pada pesta Shiho. Bukankah dia melihat Shiho berciuman dengan Gubernur Tokyo di sana?
"Aku selalu mengerjakan PR-ku," sahut Shiho sambil nyengir sehingga Shuichi menatapnya dengan geram. "Sekarang diamlah," lanjut Shiho dengan nada memerintah.
Bersambung...
