Epilogue

Enam bulan kemudian…

"Aaahh… aku merindukan Kapten!"

Henry terlihat bersandar bosan di atas kursinya. Ini sudah yang kesekian kalinya sejak sebulan yang lalu. Setiap kali kembali ke markas dan duduk di mejanya, dia akan berteriak bosan.

"Aku di sini. Kenapa kau selalu bilang merindukanku padahal aku ada di sini sih?" Minho berdiri dari kursinya dan melempar sebuah bantal kecil ke wajah Henry.

"Bukan kau, bodoh!" Henry melempar balik bantal tersebut ke arah Minho. Ia terlihat kesal.

"Tapi aku juga seorang Kapten sekarang—ah, Hyung!"

Dari belakang, tiba-tiba saja Jonghyun menginterupsi dengan memukul kepala Minho. "Ups. Sooorry captain!"

"Anak ini masih belum bisa beradaptasi dengan posisinya sekarang. Dia harus diberi pukulan setiap hari agar otaknya bisa bekerja dengan benar."

"Kau benar. Itu sebabnya aku menolak posisi itu. Otakmu akan terbalik hanya dalam waktu tiga bulan. Kyuhyun hyung saja akhirnya menyerah."

"Kyuhyun Hyung setidaknya punya pacar sejak ia dipromosikan menjadi Kapten. Tapi kenapa Minho justru putus dari pacarnya?"

"Kalian berdua mati saja!"

Setelah kejadian heboh yang terjadi selepas persidangan Elizabeth Corner, sebulan kemudian Kyuhyun mengundurkan diri dari anggota kepolisan. Hal itu tentu mengejutkan ketiga anak buahnya. Selama dua minggu posisi Kyuhyun kosong dan kepala polisi yang baru hanya menginginkan jika jabatan yang ditinggalkan Kyuhyun diisi oleh salah satu di antara Henry, Jonghyun, atau Minho. Selama dua minggu itu pula tiga orang tanpa induk ayam tersebut berebut untuk 'menghindari' posisi kapten divisinya.

Tapi perintah tetap saja perintah, harus ada satu orang yang mau menduduki posisi tersebut.

Akhirnya dengan cara konyol, mereka pun menemukan penggantinya.

Choi Minho…

"Aku akan menuntut ketidakadilan ini. Lihat saja. Aku akan menyerang saat kalian lengah!"

oOo

Setelah keluar dari rumah sakit, Moon Saeyoung akhirnya didakwa dengan pasal pembunuhan dan penggelapan dana pemerintah. Pria itu hanya terbukti memberikan perintah pembunuhan terhadap satu orang, yaitu Komisaris Lee Mingyu. Pengadilan tidak menjatuhi hukuman mati karena kekuatan media yang berhasil mengumpulkan kemarahan warga terhadap kelakuan Komisaris Lee yang sangat tidak menjunjung nilai keadilan dan hukum. Melakukan pemerasan terhadapa calon perwira dan menerima uang suap dari para pelaku kriminal yang memiliki banyak uang.

Beberapa bahkan menganggap orang itu pantas mati dan Moon Saeyoung adalah pahlawan.

Pria yang pernah hampir menjadi calon orang nomor satu di Korea Selatan itu akhirnya dijatuhi hukuman seumur hidup dan denda sangat besar untuk semua kerugian yang dialami instansi pemerintahan terkait.

Selain itu, Kim Munsik yang memang didakwa sebagai orang yang menampung penggelapan dana tersebut dihukum selama dua puluh lima tahun dan denda yang menghabiskan seluruh kekayaannya. Sementara itu Andrew dan Albert memenangkan kuasa atas rumah sakit Si Yuen. Rencananya mereka akan kembali mengoperasikan rumah sakit setelah berhasil menemui satu teman mereka lagi. Dokter Oh Song Moo.

Cap Off bersiap melebarkan sayapnya di bawah kendali direktur mereka yang baru menggantikan Nathan Kim. Kini mereka juga akan membuka sebuah universitas untuk para calon dokter dan menggunakan rumah sakit tersebut sebagai fasilitas penunjang pendidikan mereka. Casey akan melakukan pekerjaan lintas negara dan menjadi super sibuk diantara semua orang.

"Kau yakin sudah bisa mulai bekerja?" Kyuhyun sebenarnya tidak perlu jawaban, karena jika dilihat dari penampilan, Sungmin memang sudah terlihat sangat baik-baik saja dan siap untuk menjalankan tugasnya di rumah sakit.

"Tenang saja Tuan Direktur. Aku bahkan sudah bisa memukulmu sekarang."

Kyuhyun tertawa pelan mendengar gurauan Sungmin. Ya. Direktur rumah sakit Cap Off yang baru adalah Cho Kyuhyun. Pekerjaan yang benar-benar 'beresiko' untuk seseorang yang memang selalu menempatkan dirinya dalam bahaya selama bertahun-tahun. Tidak ada yang terlalu berbeda memang. Ia tetap dikelilingi oleh orang-orang licik dan serakah dengan harta. Namun jika sebelumnya Kyuhyun hanya harus menjebloskan orang-orang itu ke dalam penjara, kini pria itu hanya harus mengajak para penyuka uang tersebut untuk duduk bersama dan menjalankan bisnis yang menguntungkan banyak orang. Meletakkan mereka di bawah perintah dan mengawasi agar tidak ada lagi diskriminasi pasien dari kalangan bawah. Satu hal yang selalu Kyuhyun ingat adalah bagaimana Ryeowook pernah mengatakan apa tujuan Cap Off Hospital ini dibangun.

Cap Off… 'Mengakhiri'. Setiap orang yang ingin mengakhiri penderitaan fisiknya akibat sakit berkepanjangan, Cap Off terbuka untuk mereka.

Untuk sejenak Kyuhyun tertegun. Ia begitu merindukan Ryeowook.

"Aku dengar buronan itu sudah ditemukan." Karena Sungmin bisa melihat Kyuhyun berubah melankolis, ia kemudian mencari topik pembicaraan yang lain. "Mati."

"Kau tidak akan mau melihat mayatnya. Kita sama-sama pernah merasakan bagaimana racun itu bekerja pada tubuh manusia. Aku tidak bisa membayangkan orang itu berlari kesana kemari dengan racun berbahaya yang terus tumbuh di dalam tubuhnya."

"Kematian yang mengerikan."

"Dan kita beruntung masih bisa diselamatkan." Dan aku sangat senang karena sampai akhir bisa mempercayai Ryeowook bahwa dia tidak melakukan apapun pada pria bernama Him Cheol itu.

Sungmin melirik jam tangannya, "Sudah waktunya." Ia berdiri dan sekali lagi tersenyum pada Kyuhyun. "Aku harus menemui pasien pertamaku. Aaah… setelah sekian lama."

oOo

Kyuhyun duduk termenung sambil menunggu makan siangnya disajikan. Sejak menerima tawaran untuk bekerja di rumah sakit, Kyuhyun sedikit merasa bosan. Karena yang ia lakukan setiap hari hanyalah menandatangani berkas dan bertemu dengan orang-orang penting dari perusahaan supplier alat-alat rumah sakit. Sesekali Kyuhyun akan menghadiri rapat dengan para dokter jika ada kejadian luar biasa yang menimpa beberapa pasien di rumah sakit. Karena bukan dari kalangan medis, ia hanya memantau bagaimana para tangan-tangan Tuhan ini memutuskan yang terbaik untuk pasien-pasien mereka. Setelah itu ia akan menyetujui biaya yang akan dikeluarkan pihak rumah sakit yang akan digunakan untuk menyelamatkan hidup mereka.

Namun tidak ada yang lebih baik selain memenuhi permintaan kekasihmu sebelum dia pergi, bukan?

Kyuhyun melakukan semua itu hanya untuk seorang Kim Ryeowook.

"Kyuhyun-ah, kau akhir-akhir ini sering sekali melamun." Bibi Minah datang membawa makan siang Kyuhyun. Hal itu membuat pemuda tersebut tersentak dan tersadar dari lamunannya.

"Sendirian lagi? Lain kali bawalah teman-temanmu ke sini. Kau tidak perlu khawatir tempat ini akan roboh seperti dulu jika membawa banyak orang ke dalam. Tempat ini akan kusulap menjadi lebih besar setiap harinya."

Kyuhyun tersenyum. Kedai ayam kalkun Bibi Minah sudah mengalami banyak sekali kemajuan. Ia membeli tanah di kanan kiri dan belakang tempat makan itu dan mencoba membangun tempat yang lebih besar agar bisa menampung pelanggan yang memang setiap hari terus bertambah.

"Dimana paman?" Kyuhyun bertanya karena sedari tadi tidak menemukan sosok pria paruh baya yang sangat cemburuan itu.

"Dia sedang ada urusan dengan seseorang. Kami ditawari untuk membuka cabang di pusat kota."

"Waaah daebak. Bibi, kau benar-benar kaya sekarang."

"Yah~~ kau ini…" Bibi Minah tersipu mendengar pujian Kyuhyun. "Tidak sekaya dirimu yang sekarang terus mengenakan jas mahal ini, anak nakal!"

Mereka tertawa sampai akhirnya Bibi Minah harus menghentikan obrolan karena seorang karyawan memerlukan bantuannya di dapur.

Lagi-lagi ia mengingat kenangannya bersama Ryeowook di kedai itu. Di tempat itulah ia mulai membuka diri dan menceritakan tentang keluarganya kepada Ryeowook. Dan untuk pertama kalinya juga mereka bertengkar karena sedikit kesalahpahaman.

Pria itu tersenyum sendiri saat mengingat betapa sensitifnya topik 'gay' untuknya. Sekarang Kyuhyun merasa sangat konyol karena pernah marah hanya karena Ryeowook membahas penyimpangan seksualnya itu.

[…]

Sudah mulai masuk musim gugur, dan malam hari terasa semakin dingin. Kyuhyun mengeratkan mantelnya dan berjalan menyusuri trotoar jalan kota. Ia berjalan agak sempoyongan karena pengaruh alkohol. Entah sudah berapa botul soju yang masuk ke dalam perutnya tadi. Rasanya ia hanya perlu mencari tempat yang untuk memuntahkan semuanya. Perutnya benar-benar kacau sekarang.

"Dasar berengsek! Lihat-lihat kalau jalan!"

Dari kejauhan Kyuhyun menatap seorang remaja bersama dengan tiga orang laki-laki paruh baya yang sedang mabuk. Jika dilihat dari keributannya, anak itu mungkin tidak sengaja menabrak para pejalan kaki yang sedang mabuk berat itu.

Awalanya Kyuhyun hanya memperhatikan. Namun saat melihat bahwa sepertinya anak laki-laki itu mulai dalam masalah, ia pun menghampiri.

"Ahjussi, jangan seperti ini. Dia tidak sengaja menabrakmu."

Dengan sisa kesadaran yang masih dimilikinya, Kyuhyun berusaha menolong. Anak laki-laki itu kini berada di belakangnya. Jika melihat posturnya, mungkin anak itu baru saja berumur sebelas atau dua belas tahun. Apa yang anak-anak lakukan di luar pada jam seperti ini?

"Siapa lagi kau? Minggir! Aku harus memberikan pelajaran pada bandit kecil itu."

Sebuah pukulan melayang dan hampir mengenai rahang Kyuhyun. Beruntung ia masih bisa menghindar walaupun dengan tubuhnya yang sempoyongan. Namun sepertinya tidak untuk pukulan kedua. Kyuhyun mendapati pelipisnya berdarah karena seseorang lagi yang memukul rupanya menggunakan cincin yang menggores wajahnya.

Karena marah, Kyuhyun akhirnya menghajar satu orang yang paling dekat dengan posisinya berada. Pukulan telak yang langsung melimbungkan lawannya. Pria itu jatuh ke jalanan dan kesulitan untuk bangun lagi.

Merasa di atas angin, Kyuhyun mencoba kembali menyerang. Namun sial karena keseimbangan tubuhnya yang semakin buruk, ia tidak bisa menempatkan pukulan dengan tepat dan berakhir menjatuhkan dirinya sendiri. Kesempatan itu langsung saja digunakan dua orang mabuk tadi yang masih berdiri untuk menyerang. Salah satu dari mereka menginjak perut Kyuhyun hingga pria itu berteriak kesakitan.

"Kita selesaikan saja sekarang. Dasar, menggangu saja!"

Lalu dengan kedua mata yang sudah hampir tidak fokus, Kyuhun melihat salah satu dari mereka mengeluarkan sebilah pisau lipat. Dengan tubuhnya yang benar-benar lemas, ditambah dengan rasa sakit di pelipis dan perutnya, Kyuhyun akhirnya hanya bisa pasrah.

Bugh!

"Aaakh!"

Seseorang berteriak kesakitan. Namun itu bukan suara Kyuhyun. Melainkan satu dari tiga pria paruh baya tadi. Suara tulang remuk dan erangan-erangan kesakitan mewarnai perkelahian yang tidak seimbang itu. Satu persatu tumbang dan mendapatkan luka yang mungkin tidak akan sembuh dalam waktu singkat.

Anak laki-laki yang sedari tadi hanya berdiri ketakutan semakin menampakkan wajah pucat ketika melihat satu lagi orang asing yang datang. Gerakan yang begitu cepat dan tidak bisa dihalau. Dengan tubuh yang tidak terlalu besar itu, dia bisa melumpuhkan dua orang bersenjata tajam dan memiliki postur tubuh yang lebih besar hanya seperti membalikkan kedua telapak tangan.

"Oy, bocah!" pria itu kemudian menatap anak laki-laki tadi. "Cepat kembalikan semuanya!"

oOo

Tidak ada pagi hari yang lebih menyenangkan selain ketika kekasihmu adalah hal pertama yang kau lihat saat membuka mata.

'Pagi' semacam itulah yang yang terjadi pada Kyuhyun saat ini. Wajah Ryeowook tersenyum menjadi pemandangan pertama yang ia tangkap saat beralih dari kegelapan tidur. Seperti mimpi atau fatamorgana. Ketika ia begitu merindukan sang kekasih, saat itu pula Tuhan memberikan penglihatan sosok Kim Ryeowook di hadapannya.

Tapi apakah ini benar hanya mimpi?

.

.

.

Tidak. Karena saat ini hidungnya benar-benar terasa sakit.

"Selamat pagi tukang mabuk? Bagaimana tidurmu?"

Ryeowook bertanya sambil menarik hidung Kyuhyun dan membuat pria itu mengerang kesakitan.

"Aaaahh… sakit… lepaskan!"

Ryeowook tertawa senang melihat hidung yang merah hasil cubitannya itu. Ia bersumpah hal ini adalah yang paling ia rindukan ketika berada di New York. Wajah bangun tidur Kyuhyun yang berminyak dan hidungnya yang memerah karena udara dingin.

Kyuhyun langsung mendudukan dirinya ketika berhasil mengumpulkan kesadaran dan mayakini bahwa yang sedang ada di hadapannya saat ini adalah nyata. Ryeowook ada di hadapannya dan tersenyum. Mudah-mudahan saja memang bukan karena hangover dari mabuk semalam. Karena jika ternyata hanya pengaruh minuman, ia bisa langsung terbang menyusul Ryeowook saat ini juga ke negara paling berpengaruh di dunia itu.

"Ini benar dirimu kan?" Kyuhyun meraih wajah Ryeowook dan mendekatkan pada wajahnya untuk melihat lebih jelas. "Aku tidak sedang bermimpi lagi kan?"

"Waaah… rupanya kau sering memimpikanku ya?" kemudian Ryeowook melingkari kedua tangannya pada leher Kyuhyun. "Ayo beritahu aku. Apa yang kita berdua lakukan di mimpimu itu?"

Butuh beberapa detik bagi Kyuhyun untuk menyadari bahwa Ryeowook sedang menggodanya. Lalu…

"Aaah! Apa-apaan kau?!"

Kyuhyun tertawa melihat reaksi Ryeowook. Ia menyentil dahi kekasihnya. Sangat mengejutkan bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk melakukannya dengan lembut. Hasilnya kini ada tanda kemerahan di kening Ryeowook.

"Sekarang kita seri."

"Kau mati hari ini."

oOo

"Bekerja di rumah sakit seperti sudah mengikis kewaspadaanmu. Semalam itu benar-benar sebuah keberuntungan bahwa aku sedang mengikutimu. Bisa-bisanya kau kalah berkelahi saat menolong seorang bandit kecit"

"Bandit?"

"Dia hampir membawa lari dompet dan ponselmu."

Kini mereka berdua tengah menikmati matahari musim gugur dengan berbaring di kursi panjang balkon apartemen Ryeowook. Saling menghangatkan satu sama lain dengan pelukan.

"Memangnya salah siapa ini? Aku melemah karena sumber energiku sedang pergi dalam waktu yang sangat lama."

Ryeowook begitu bahagia mendengar pengakuan yang terang-terangan dari Kyuhyun. Jadi selama enam bulan berada di Amerika, bukan hanya dirinya saja yang tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan Kyuhyun.

Ryeowook sudah sangat yakin bahwa bukan hanya dirinya saja yang mencintai saat ini.

"Walaupun begitu. Profesi sebagai direktur sepertinya sudah mulai cocok untukmu. Aku menerima laporan yang tanpa cacat setiap minggunya. Investor juga bertambah, bukan hanya dari kalangan pebisnis, tapi sepertinya para veteran dan pelaku dunia hiburan juga ikut menggunakan uangnya untuk Cap Off. Kau tidak menggunakan ketampananmu untuk menarik hati para aktris-aktris itu kan?"

Jika harus jujur, salah satu alasan terbesar mengapa para artis terkenal saat ini ikut andil dalam investasi rumah sakit mereka adalah memang karena sebagian besar dari mereka ingin memiliki hubungan yang lebih dekat dengan direktur rumah sakit tersebut. Tapi Kyuhyun tidak harus melaporkannya. Itu semua hanya kemampuan alami yang dianugrahi Tuhan. Lagipula Ryeowook sudah pasti tahu siapa saja para investor itu. Ia yakin kekasihnya punya cara sendiri untuk menyingkirkan wanita-wanita itu jika memang sudah mulai terlihat berbahaya.

"Mana berani. Ketampanan ini hanya milik Yang Mulia Kim Ryeowook seorang."

Mereka berdua tertawa. Kali ini tawa yang benar-benar tanpa kekhawatiran apapun.

Mimpi buruk terakhir yang mereka terima adalah ketika pada akhirnya Elizabeth menggunakan kesempatan terakhirnya untuk menuntaskan balas dendam. Tiga peluru dilepaskan tepat menuju jantung Ryeowook saat itu. Jika saja Jungsoo tidak melompat dan merelakan punggungnya untuk ditembus oleh timah panas, mungkin hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan hidupnya.

Tapi sebagai gantinya, Jungsoo harus dilarikan ke rumah sakit karena salah satu peluru mengenai tulang belakang yang mengancam nyawanya. Pria itu koma dan berada dalam kondisi kritis. Semua upaya operasi yang dilakukan, jika berhasil tetap mengarah pada kelumpuhan permanen.

Saat itulah Andrew merasa harus turun tangan. Ia memutuskan untuk membawa Jungsoo ke New York dan menjalani serangkaian pemeriksaan. Dalam hal ini Ryeowook harus ikut karena Andrew membutuhkan data lempengan tulang dan saraf yang sama dengan yang ia pasangkan kepada anak angkatnya itu. Dengan begitu, selama proses pengkloningan, Ryeowook adalah 'formula' berjalan yang sangat penting untuk kesembuhan Jungsoo. Karena itulah ia harus meninggalkan Cap Off dan Kyuhyun untuk sementara waktu.

"Bagaimana keadaan Jungsoo hyung?"

"Sangat baik. Ia sudah bisa menggunakan kruk sendiri dan berkeliling rumah sakit."

"Jadi mereka sudah tidak membutuhkanmu lagi? Makanya kau pulang ke sini—aw! Kenapa sih? Aku kan Cuma bertanya."

Ryeowook menyentil dagu Kyuhyun sebelum pria itu bisa menyelesaikan kalimatnya. Saling menggoda seperti ini benar-benar hal yang sangat mereka rindukan selama hampir enam bulan berpisah. Hubungan jarak jauh jika hanya dipikirkan mungkin tidak terlalu buruk. Tapi saat mereka berdua akhirnya harus melakukannya, hanya sampai sini mereka bisa bertahan. Entah apa yang akan terjadi jika perpisahan ini harus berlangsung lebih lama.

"Sebetulnya mereka sudah tidak menahanku sejak satu bulan yang lalu. Hanya saja mengingat bahwa aku juga akan meninggalkan Jungsoo hyung sendirian di negeri orang rasanya sangat tidak tega. Ia begitu mengandalkanku di sana. Kau tahu? Walaupun memiliki pengalaman sekolah di luar negeri, rupanya dia benar-benar tidak pandai bergaul dengan orang asing."

"Benarkah?" Kyuhyun terkikik geli. "Orang itu sangat percaya diri di sini."

"Jangan tertawa. Aku merasa kalau pengalaman belajar di luar negeri itu juga merupakan sebuah trauma yang besar. Aku berusaha memancingnya untuk bercerita. Tapi dia tetap mengalihkan pembicaraan."

"Ada Andrew yang akan membantunya."

Ryeowook menghela napas panjang. "Andrew mulai menyebalkan dengan semua orang. Waktu itu kau, dan sekarang Jungsoo hyung. Dia bertingkah seolah aku adalah miliknya seorang."

"Dia hanya bertingkah layaknya seorang ayah."

Kyuhyun menatap sisi wajah Ryeowook. Walaupun hanya dari sudut itu, ia bisa menebak kekhawatiran yang muncul saat membicarakan Park Jungsoo. Walaupun terlihat arogan, dia benar-benar membuktikan kepeduliannya terhadap Ryeowook sampai akhir. Dulu Kyuhyun sangat yakin, hanya dirinya yang berani mengorbankan diri untuk keselamatan Ryeowook. Tapi saat Kyuhyun melihat Jungsoo melompat untuk menghalau peluru-peluru itu menembus jantung kekasihnya, sejak saat itu pula, jika suatu saat terjadi sesuatu yang buruk menimpanya, ia hanya akan mempercayakan Ryeowook kepada seorang Park Jungsoo.

"Kau sangat beruntung memiliki satu lagi anggota keluarga yang sangat menyayangimu." Ujar Kyuhyun pelan. Ia mencuri aroma rambut Ryeowook yang hangat karena sengatan sinar matahari.

Ryeowook mendongak saat merasakan napas hangat Kyuhyun di kepalanya. "Aku memiliki banyak keberuntungan sekarang. Dan sebagian akan kuberikan kepadamu."

Ryeowook memberikan bibirnya kepada Kyuhyun untuk berlabuh di tempat yang seharusnya. Entah sudah berapa lama benda itu merindukan kehangatnya. Lidah mereka menari dengan irama yang pelan, seolah keduanya kini memiliki waktu yang lebih panjang untuk satu sama lain. Tidak akan pernah berakhir. Karena disinilah Ryeowook dan Kyuhyun menghentikan pencarian cinta mereka.

Cap off…

Love….

oOo

.

.

.

oOo

-Bonus 1-

"Kyuhyun…. Kyuhyun… kau dimana? Lihat apa yang kutemukan di jalan. Anjing ini sangat lucu dan sepertinya ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Bagaimana kalau kita mera—"

Ryeowook berhenti ketika melihat seseorang yang tidak dikenal berada di apartemen Kyuhyun. Seorang wanita paruh baya kini sedang menatapnya dengan sorot mata yang dingin. Begitu banyak hal menakutkan di dunia ini, namun tidak satupun yang membuat Ryeowook merasa terintimidasi seperti sekarang.

Siapa dia?

"A-anda siapa?"

"Kenapa berteriak-teriak seperti itu saat masuk ke dalam rumah? Apa kau tidak diajari sopan santun?"

Ryeowook tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seseorang telah mengatakan dirinya tidak sopan. Ya Tuhan… siapa sebenarnya wanita ini?

"Bibi, kau ini sia—"

"'Aku pulang', itu yang harusnya kau ucapkan ketika baru masuk ke dalam rumah."

"Bu-bukan begitu… tapi bibi ini siapa—"

Namun bukannya mendengarkan, wanita itu justru mengedarkan pandangannya seperti mencari sesuatu. Kemudian setelah matanya menangkap benda yang dimaksud, ia langsung setengah berlari mengambil sebuah kardus bekas yang tidak terlalu besar dan mengisinya dengan selembar handuk yang sudah tidak terpakai. "Taruh dia di sini. Lalu kau cuci tangan. Aku mau kembali ke dapur karena pekerjaanku belum selesai."

Tidak ada yang bisa Ryeowook lakukan selain melakukan sesuai dengan perintah wanita itu. Ia meletakkan anjing kecil tadi ke dalam kardus yang diberikan tadi dan kemudian berjalan dengan ragu untuk membersihkan dirinya.

Di dalam kamar mandi, Ryeowook terus saja memikirkan tentang wanita misterius yang ada di dalam rumah saat ini. Dia terlalu berkharisma untuk seorang yang dibayar untuk bersih-bersih. Lalu jika memang benar, Kyuhyun pasti sudah mengatakannya lebih dulu. Selama ini mereka selalu menggunakan jasa pengurus rumah tangga dari orang yang sama untuk apartemen miliknya dan milik Kyuhyun. Jadi mereka pasti sudah saling mengenal.

Tapi wanita itu…

Ryeowook mengacak-acak rambutnya. Hanya ada satu cara untuk mengetahui siapa sebenarnya wanita tersebut.

[Oh, Ryeowook. Kau sudah ada di rumah? Aku sedang keluar sebentar membeli sesuatu untuk makan malam kita—]

"Kau sudah gila ya?!"

[Ya ampun. Ada apa sih?]

"Kenapa kau membiarkan orang asing masuk ke rumahmu? Lalu kau tahu apa yang dia katakan? Dia bilang aku tidak sopan karena berteriak saat masuk rumah!" Ryeowook sebisa mungkin menahan suaranya agar tidak terdengar dari luar. Wanita tadi bisa saja memergokinya.

[Orang asing?] ada jeda sebentar sebelum Kyuhyun kembali berbicara. [Aaahh… maksudmu ibuku?]

"Apa? IBU?!"

[…]

Ryeowook mengamati wanita itu mondar mandir di dapur dari balik meja makan. Dia menolak mendapat bantuan dari pemuda itu karena alasan 'tidak terbiasa jika melihat seorang laki-laki ada di dapur'. Sesekali ia hanya menggaruk kepala yang tidak gatal dan melihat ke arah ponselnya.

Kenapa Kyuhyun belum juga kembali?

"Kau makan beras organik atau yang biasa saja?"

"Organik."

Ryeowook refleks menjawab karena wanita itu bertanya saat dirinya sedang lengah. Tapi sejauh ini ia menjawab dengan jujur. Wanita paruh baya itu kemudian terlihat berpikir saat melihat dua bungkusan yang ada di hadapannya.

"Ada apa, Bibi?" karena penasaran, akhirnya Ryeowook memberanikan diri untuk bertanya.

"Apa Kyuhyun tidak punya tempat untuk menyimpan beras?"

Mereka hampir tidak pernah makan di rumah Kyuhyun. karena itulah alat di dapurnya tidak begitu lengkap. Hanya ada bahan makanan instan di dalam kulkas. Tapi jika Ryeowook menjelaskan seperti itu, ia takut dimarahi lagi. Jadi ia beranjak ke dapur dan membuka lemari. Dari sana ia mengambil sebuah kardus besar yang ternyata berisi wadah plastik tebal. Bentuknya seperti termos dengan ukuran yang lebih besar. Ia ingat membeli benda ini untuk menyimpan bahan makanan yang jarang digunakan karena design nya yang kedap udara.

Jadi sepertinya cocok untuk wadah beras.

"Apa ini bisa digunakan?" Ryeowook menyerahkan benda tersebut kepada ibunya Kyuhyun. Kemudian lega saat melihat wajah puas wanita itu.

"Kyuhyun bisa makan nasi dari jenis beras apapun. Jadi kuputuskan untuk meninggalkan beras organik saja agar kau bisa ikut makan. Ah, malam ini aku hanya masak nasi untuk Kyuhyun. Anak itu bilang kau hanya makan salad untuk makan malam. Aku menyiapkan satu porsi dengan tambahan rebusan daging ayam. Itu tidak merusak diet-mu kan?"

Ryeowook terpana mendengarnya. Wanita itu bahkan memperhatikan pola makannya sekarang.

"Tapi jangan lupa untuk mengisi perutmu dengan nasi walau hanya sekali. Orang Korea sudah seharusnya makan nasi."

"B-baik, Bibi." Ryeowook seperti ingin menangis saat mulutnya menyetujui perkataan wanita itu untuk kesekian kalinya.

"Tapi… apa tidak apa-apa memelihara anjing di apartemen?"

Namun entah mengapa Ryeowook kembali merasakan kehangatan sebuah 'rumah'. Ia begitu bahagia hanya dengan melihat punggung wanita itu yang kini sibuk memberi makan seekor anak anjing di dalam kardus.

oOo

.

.

.

oOo

-Bonus 2-

"Y-yah!" Yunho berteriak sambil menyusul seseorang di depannya yang berjalan dengan langkah cepat. "Lee Sungmin tunggu! Dengarkan aku dulu!"

Pria yang dikejar itu akhirnya berhenti dan menoleh. Wajah memerah karena kesal. "Apa lagi? Kau mau bilang kalau yang tadi itu juga hanya bercanda?"

"Yaah~ jangan begitu… aku benar-benar tidak bermaksud apa-apa tadi. Hanya saja tadi kau begitu menggemaskan—"

"STOP!" Sungmin mengangkat tangan untuk menghentikan perkataan Yunho. "Sampai kapan kau mau main-main seperti ini denganku? Apa segitu menyenangkannya menggoda seorang gay sepertiku? Apa perilaku menyimpangku ini menurutmu bisa kau jadikan lelucon setiap hari?"

"Bukan begitu—"

"Kau pikir aku senang menjadi seperti ini?!"

Mereka berdua diam. Yunho bahkan tidak berniat untuk membuka suara setelah apa yang Sungmin katakan. Ada rasa bersalah yang kemudian menguasai. Namun hanya sampai pada titik dimana pria itu juga akhirnya harus mempertahankan harga dirinya.

Mengenal Sungmin seperti harga mati yang tidak bisa ia tebus untuk bisa bebas. Sejak kejadian dimana pria itu dua kali hampir kehilangan nyawanya, Yunho semakin yakin untuk terus berada di sisi Sungmin. Mungkin bukan sebagai seorang kekasih. Karena semua itu adalah dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia yang selama ini Yunho tinggali.

Namun sepertinya kali ini Yunho sudah tidak mengenali dunianya sendiri. Ia menjadi terbiasa bersama Sungmin hingga tanpa sadar pusat gravitasinya perlahan berubah.

Kemanapun ia pergi, Sungmin selalu berhasil menariknya untuk kembali. Berkali-kali pria itu mencoba mengabaikan semuanya dan membangun kembali dunianya. Tapi ketika ia melihat wajah Sungmin, dunia itu seakan hilang begitu saja.

Dan kali ini sepertinya memang sudah tidak ada jalan keluar lagi.

Yunho harus memutuskan diantara dua hal…

Masuk ke dalam dunia Sungmin…

Atau tidak menemuinya lagi dan mati penasaran karena tidak memiliki dunia sendiri…

"Memangnya siapa yang melarangmu menjadi seperti ini?"

Akhirnya ia pun memutuskan…

"Kau hanya perlu bertanggung jawab padaku yang sudah memilih duniamu."

Yunho menaruh bibirnya di mulut Sungmin yang sedikit terbuka. Kali ini tidak boleh ada keraguan. Tidak boleh hanya main-main.

"Mhh… Yunho~"

"Kenapa~"

"Bagaimana jika ada yang melihat?"

"Kau ingin pindah ke tempat lain?"

END

Ho ho ho... akhirnya selesai~~~~

Mudah-mudahan tidak ada lagi rahasia diantara kita ya. Jika memang masih ada keraguan-keraguan yang belum terjawab, agaknya memang mungkin harus menjadi sebuah misteri selamanya. hahahaha...

Sepertinya hanya sampai sini kemampuan saya untuk menghadirkan kisah cinta Kyuhyun dan Ryeowook yang rumit kayak benang kusut. walaupun tidak spektakuler untuk ending, tapi saya senang karena bisa memberikan proses yang terbaik dari jalan ceritanya (ini berdasarkan komentar-komentarnya aja sih).

So, akhir kata, Joomoonjin mau ngucapin banyak2 terima kasih untuk para subcriber dan pembaca semua yang sudah meluangkan waktu untuk mengikuti fanfic ini sampai habis. semoga kedepannya saya bisa menghadirkan cerita yang lebih baik, dan tentunya dengan pairing yang lebih HOT lagi.

Kritik dan saran akan selalu terbuka lebar buat improvement story selanjutnya. dan tidak mengurangi rasa hormat, mohon untuk disampaikan dengan baik ya. boleh lewat sini atau langsung search aja fb JooMoonJin. dan mohon maaf untuk setiap kesalahan penulisan ataupun karakter yang tidak berkenan. semuanya 100% hanya fiksi. so have fun aja...

sekali lagi terima kasih untuk semuanya... bye bye... see you kapan-kapan ^^/