ACE
Ketika kau merasa bahwa yang kau miliki merupakan kelemahan terbesar musuhmu,
Kau salah,
Semua orang tau bahwa aku hanya kelemahannya yang coba disembunyikan dari semua tekanan tapi mereka tidak pernah tau kenapa aku ada dalam posisi ini.
Bukan karena kedudukanmu
Tapi itu adalah keinginanku,
Aku berikan kau kesempatan dan akan membuatmu berdamai dengannya,
Namun kau lebih memilih untuk mempertahankan keputusanmu,
Menemuinya dalam peperangan.
Maka, Wu Yifan bersiaplah menerima kedatangannya karena perintah dariku.
King, mulailah memainkan peranmu,
dan buat dia menyesal.
This is Ace
.
.
.
.
Wu dengan
Byun Baekhyun, Do Kyungsoo dan Zhang Yixing
.
.
.
Crime for mafia life and other
Romance, BxB, typo (s)
Don't plagiat
.
Rated M
.
.
D'Xp ft Luce original idea
.
Luce with Ace
D'Xp with HeartBreaker
.
.
Queen
.
.
.
"Huwwaaaaaaaaa. . ."
Tangisan memekakkan telinga mengundang semua atensi orang yang ada di sekitarnya, melihat dan menaruh perhatian penuh pada sosok mungil berbalut baju tebal musim dingin yang terduduk jatuh di atas aspal. Membuatnya seperti gulungan kepompong yang berlindung dari udara dingin menusuk tulang.
Plakk
Bukan, perhatian yang di dapat justru pukulan di sisi pipi kirinya. Membuat bola mata berair itu kian berkaca kaca memproduksi lebih banyak lagi air mata kala rasa panas menjalar disana.
"Anak menyusahkan! Apa bisamu hanya menangis hah!"
Yang lebih tua berteriak tanpa peduli jika anak kecil di depannya tengah menahan sakit di lutut karena terpeleset di aspal licin jalanan kota Shanghai. Di tariknya pergelangan lemah itu dengan kasar memaksa berdiri meski si kecil merintih kesakitan.
"Cepat bangun! Kenapa kau lebih mirip ayahmu! Menyusahkan!"
"Ibu jahat!"
Setelah berseru tantang karena terus di bentak kaki kaki kecil itu berlari semampu yang dia bisa, tanpa tau kemana arah yang dia tuju. Hingga bibir kecil itu kembali terisak,mendudukkan tubuh lelahnya di tanah basah.
"Hiks . .hiks. .i-bu . hiks. .jahat."
"Kau kenapa?"
Bola mata basah milik si kecil berpendar mendongak menatap pada obyek yang tengah berjongkok di depannya dengan sebuah kue hangat di kedua tangannya. Bola mata sayu menatap penasaran dan bibir cherry mengunyah makanannya lucu.
"Hiks . . .hiks. .pergi!"
Bola mata coklat itu berkedip kedip menatapnya tidak mengerti pada sosok kecil puppy yang kembali menyembunyikan wajahnya di kedua lutut. Tersenyum kecil menampilkan dimplenya sosok kecil itu membagi kue yang masih mengepul hangat di tangannya menjadi dua bagian menyebarkan bau enak mengusik penciuman di kecil.
"Ini. ."
Mendongak, berbinar kecil menatap makanan yang ada di hadapannya, seolah lupa dengan tangisan detik yang lalu keduanya larut untuk mulai menikmati kue hangat dengan lelehan saus coklat. Hingga tangan salah satunya bergerak nakal mengusapkan setitik coklat di pipi si kecil yang langsung memasang wajah cemberut lucu.
"Hehehe kau lucu!"
"Huh!"
"Aku zhang yixing, siapa namamu?"
.
.
.
"Ba-baekhyun. ."
"Baiklah! Mari mulai berteman!"
.
.
.
"Baekkie . . .umng maaf."
"Eoh, kenapa hyung minta maaf?"
"Kita. . .tidak bisa bertemu lagi. . .maaf."
"Itu. . .artinya baekkie akan sendiri lagi?"
". . ."
". . ."
"Maaf. . .baba mengatakan bahwa aku tidak lagi menginap di tempat nainai mulai besok."
". . ."
"Ma-"
"Tidak apa hyung! Jika kita bisa bertemu lagi kita pasti akan bertemu! Aku tidak apa."
"Baekkie?"
"Hyung! Aku yakin kita akan bertemu lagi."
"Umn! Aku juga yakin!"
"Umn!"
Setelahnya kedua anak kecil manis itu saling mengaitkan kedua jari kelingkingnya dalam tautan kecil. Dan mulai tertawa kecil kembali melakukan berbagai macam permainan yang dapat membuat keduanya tertawa bahagia. Meskipun mereka bermain tidak jauh dari pengawasan orang orang berbaju hitam namun kedua anak kecil itu tetap saja mudah terlarut dalam permainannya.
.
.
.
.
Brakk
"Yakk, park chanyeol apa ini caramu menjaga kekasihmu hah!" teriak Baekhyun begitu menemukan Chanyeol dalam kamarnya.
Sementara, Chanyeol menatap penuh keterkejutan Baekhyun justru menatap dengan bola mata memicing. Amarah jelas tercetak dari mimik wajah si puppy, bagaimana dia harus menerima ide gila kekasihnya yang jelas jelas akan berdampak buruk baginya.
Chanyeol mendekati Baekhyun berniat menjelaskan maksud, "Baek-"
"Apa hah! Mau menyembunyikanku menjadi anak buah kakak tirimu?!" seru Baekhyun menatap Chanyeol nyalang.
"Aku muak denganmu yeol! Jika kau tidak lagi bisa mempertahankanku kenapa tidak bilang saja, hah!" tambah Baekhyun, menangkis tangan Chanyeol yang hendak menyentuhnya.
"Baek. . .kumohon tenanglah. .dengarkan dulu." mohon Chanyeol.
"Apa lagi yang harus aku dengarkan sialan! Kau lelaki paling brengsek yang pernah aku temui -hiks kau- kenapa begitu tega padaku hiks." tangisan Baekhyun tidak dapat dia tahan lagi, jika mengerti seperti ini dia lebih baik mundur sejak dahulu.
Mendengar perkataan kekasihnya membuat Chanyeol panik seketika berusaha menggapai tubuh mungil itu kedalam dekapannya, "Sayang tenanglah. . ."
"Jangan sentuh aku sialan! Jika kau masih tetap memintaku berada di mansion ibumu aku lebih baik pulang dan kita tidak akan bertemu lagi." hindar Baekhyun menjauh dari jangkauan Chanyeol.
"Aku memintamu disana bukan tanpa alasan sayang, sungguh dengarkan aku." jelas Chanyeol.
"Tidak mau! Kau tidak peduli padaku lagi, kau tidak memikirkan perasaanku lagi." marah Baekhyun.
"Maaf baek. . .Aku memang tidak peduli apapun lagi setelah mereka mengusirku karena yang aku pedulikan cuma dirimu baek. Kau satu satunya yang aku miliki sekarang. Aku hanya memikirkan bagaimana aku bisa menjaga kekasihku dari ancaman mereka dan menyembunyikan kekasihku dari jangkauan mereka, sementara aku berusaha membalas perbuatannya." Chanyeol menarik lengan Baekhyun yang sedang sibuk mengusap air matanya.
Masih dengan sesenggukan bola mata si mungil menatap keyakinan yang ada dalam sorot mata kekasihnya, "Jadi. . hiks . .kau tidak akan meninggalkanku?"
"Tentu tidak sayang, kau justru aman disana. Mereka belum pernah melihatmu bersamaku dengn begitu kau akan mudah disana. Mereka akan menganggapmu sebagai sekutu dan dapat memantau ku dari sini. kita masih bisa bertemu secara diam diam, meski tidak sesering ini." Dibawanya tubuh kecil itu mendekat mengusap lelehan air mata dan memberikan kecupan kecil di kedua kelopak mata indah itu untuk berhenti menangis.
"Hiks. .Aku fikir kau akan membuangku hiks dan tidak peduli padaku seperti ibu dulu hiks. .Aku takut yeol . .Aku takut." Baekhyun memeluk erat tubuh di depannya dan menumpahkan segala rasa takut yang bersarang dalam benaknya.
"Ssttt . . .aku tidak mungkin membuang kekasihku ini. Jadi hentikan segala fikiran negatifmu, karena ini hanya sementara sampai aku mampu membalas mereka sepenuhnya, mengerti!" diberikannya usapan usapan penenang dlpada punggung kecil itu.
"Cepat jemput aku kalau begitu!" sahut Baekhyun cepat.
"Tentu! Itu sudah pasti. Akan aku singkirkan mereka dan segala penguat kedudukan dari wu. Dan aku akan menjemputmu sayang."
Rencana Chanyeol benar benar berjalan, memasukkan Baekhyun dalam lingkungan Wu sedikit demi sedikit dengan perlahan. Tiffany tau akan hal itu langsung mengiyakan kala seorang bawahan membawa Baekhyun sebagai calon anak buah Wu. Dia kenal wajah cantik pemuda Byun itu dan diam diam mengawasi setiap pergerakannya.
Dan siapa sangka jika masuknya Baekhyun justru membuat Yifan salut dengan pola kerjanya dan menjadikan tangan kanannya karena tingkahnya yang supel dan setiap pekerjaan yang selesai dengan hasil sempurna. Awalnya, Tiffany menyergit tidak suka, namun saat tau jika interaksi mereka sangat baik untuk rencana anaknya dia membiarkan hal itu berlanjut.
"Byun," panggil Yifan.
"Ya hyung?" Baekhyun mendongak menatap pimpinananya.
"Ada seseorang yang ingin aku kenalkan kepadamu." ujar Yifan menatap ke arah pintu masuk.
"Eoh?"
"Xing er, kemarilah."
.
.
Dan hari itu adalah dimana Baekhyun merasa amat sangat menyesal. Menemukan hyung kecilnya yang sangat dia rindukan ada bersama target permainan dari kekasihnya.
'Akan aku hancurkan yifan dan segala wujud pendukungnya serta semua orang terdekatnya.'
"Baek, apa kau tau bahwa Yixing dan aku sudah menjalin hubungan lebih dari satu bulan yang lalu?"
"Yixing hyung?"
"Kau. . .bagaimana eh-"
"Kalian saling mengenal?"
"Dia hyung kecilku dulu, aku merindukanmu hyung."
"Baekkie. . .aku tidak menyangka kita bertemu disini."
.
.
.
.
.
.
Brak!
"PARK CHANYEOL!"
Teriakan Baekhyun begitu memasuki ruangannya membuat kegiatan Chanyeol seketika terhenti. Menatap penuh atensi pada sosok mungil yang ada di depannya dengan raut wajah tak terbaca.
"Kau bilang jika aku menolak untuk masuk kedalam permainanmu maka kau akan menggunakan orang lain untuk menggantikan posisiku?" tanya Baekhyun, menatap Chanyeol tidak sabar.
"Kau tidak perlu khawatir lagi baek, aku akan-"
"TIDAK!"
Chanyeol menatap penuh kernyitan tidak mengerti dengan sikap kekasihnya sendiri. Meninggalkan meja kerjanya Chanyeol melangkah meraih wajah Baekhyun namun si puppy sudah melangkah mundur lebih dahulu.
"Baek, katakan ada apa dengamu?" tanya Chanyeol.
"Biar aku yang melakukannya!" seru Baekhyun cepat.
"Aku sudah memiliki orang yang tepat untuk memata matai mereka juga mengawasi tunangan dari yifan dan kedudukanmu akan aman disana." jelas Chanyeol.
"Biarkan aku yang melakukannya yeol, kumohon!" pinta Baekhyun dengan wajah memohon.
"Katakan ada apa denganmu?!" sahut Chanyeol menatap intens pada pemuda di depannya.
"Yixing hyung."
"Jangan sakiti yixing hyung. . ."
"Apa?"
"Jangan gunakan yixing hyung untuk menghancurkan wu yifan!"
Mendengar perkataan dari kekasihnya untuk tidak menggunakan Zhang Yixing sebagai alat untuk melemahkan musuhnya membuat Chanyeol menyergit tidak setuju, "Kenapa aku harus melakukannya?"
"Karena. . . .yixing hyung adalah hyung kecilku yang selalu aku ceritakan padamu dulu. Kumohon . . .hiks. .yeol."
Mengabaikan penjelasan dari si mungil Chanyeol membalikkan tubuhnya membelakangi Baekhyun, "Aku tidak bisa."
"Park chanyeol!" cegah Baekhyun.
"Aku harus melukainya untuk melemahkan wu yifan." balas Chanyeol.
"Maaf baek-" tambahnya lagi.
Baekhyun menunduk, tau jika ini sia sia. Namun dia yakin jika ini bukan satu satunya cara, "Lakukan dengan cara lain. . ."
"Apa maksudmu?"
"Bukankah yang kau inginkan adalah hancurnya penyongkong kekuatan wu yifan? Lalu kenapa kau tidak menghancurkan ikatan penguat mereka?"
Maka yang akan Baekhyun ambil adalah menghancurkannya dari sisi lain. Bukan wujud keberadaan seseorang tapi ikatannya. Karena ikatan mereka yang menguatkan keduanya, dan lagi. Baekhyun tidak akan mungkin setuju dengan status hubungan dari keduanya.
"Hancurkan pernikahan mereka dan keluarkan yixing hyung dari sana."
Karena dengan terpisahnya kedua keluarga besar maka kedudukan Wu Yifan sebagai pewaris akan hancur, jauhkan keduanya dan pisahkan mereka.
"Korea selatan."
"Kenapa disana?
"Karena keluarga yixing hyung ingin memperluas jaringannya hingga seoul."
"Jadi seoul?"
"Aku tau siapa yang akan mau membantumu yeol,"
.
.
.
.
.
.
"Oh sehun,"
.
.
Dan sekarang ketika semua permainan sudah hampir menuju akhir perjalanannya. Chanyeol termenung menunggu kelanjutan dari satu pion terpentingnya.
Queen.
.
.
.
.
.
"Aku bilang lepas!"
"Lepas!"
Yifan memerintahkan kedua anak buahnya untuk tetap menyeret Yixing meskipun dia memberontak sekuat tenaga. Hingga sampai pada pintu kayu yang ada di ujung ruangannya.
"Bawa dia kemari," perintah Yifan lagi,memasuki ruangan dengan menyeret yixing di belakangnya.
Menatap pada penghuni ruangan yang sedang dusuk terikat di tengah ruangan kosong ini,Yifan menatap Baekhyun yang mulai menarik wajahnya menatap kedatangannya.
"Kau bilang aku tdak bisa mendapatkannya bukan?" tanya Yifan melihat bola mata Baekhyun terbelalak menatap lelaki di belakangnya.
"Baek- baekhyun?" Yixing terdiam sejenak menatap sama tidak percayanya pada Baekhyun yang terikat kuat di kursi.
"Yixing hyung!" Baekhyun mengalihkan tatapannya pada Yifan dengan pandangan membunuh.
"Sialan! Urusanmu dengannya bukan dengan yixing hyung!" umpat Baekhyun tidak terima dengan Yixing yang sudah ada di depannya dengan kedua tangan di cekal erat dua orang bawahan Wu.
"Hahahahahahaha."
Yifan tertawa puas beralih menatap Yixing yang masih terbelalak terkejut, "Kau tau xing er? Adik kecilmu ini siapa?"
Yixing tidak mampu menjawab pertanyaan Yifan dan hanya menatap tidak mengerti.
"Kekasih dari wu chanlei"
Terkejut, akan sebuah fakta yang tidak pernah dia fikirkan. Yixing tau sekali siapa Chanlei yang selalu dibicarakan banyak orang meskipun dia sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Dan tidak menyangka bahwa Byun Baekhyun yang selama ini dia sayangi, adik kecilnya dulu adalah kekasih dari Wu Chanlei, adik tiri Wu Yifan yang berusaha keras untuk merebut kekuasaannya.
"Jangan gunakan yixing hyung dalam masalahmu wu yifan!" desis Baekhyun.
"Kau sudah berani padaku?" tanya Yifan.
"Akhh!"
Bukan, itu bukan suara Baekhyun yang keluar melainkan Yixing. Dimana Baekhyun menatap dengan bola mata membola, "WU YIFAN!"
Menatap tidak kalah nyalangnya Yifan mengeratkan cekikan di leher putih Yixing hingga membuatnya merintih semakin kesakitan, "Dan kau bilang aku tidak boleh melampiaskannya pada kalian setelah kalian berdua mengkhianatiku, hah!"
"LEPASKAN YIXING HYUNG!" teriak Baekhyun.
"Suruh dia keluar kalau begitu!" perintah Yifan.
"KAU! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU JIKA MELUKAINYA!"
"Itu bukan urusanmu! Kita pergi."
"HYUNG! TIDAK, LEPASKAN! SIALAN KAU WU YIFAN. JANGAN BAWA HYUNGKU! BRENGSEK, LEPASKAN AKU!"
Namun, Yifan justru kembali keluar dan menutup ruangannya setelah menyentak tangannya dari leher Yixing yang sudah memerah.
.
.
.
Yuan memasuki ruangan Baekhyun setelah kepergian Yifan dengan tatapan senang, melihat ekspresi wajah Baekhyun yang cukup membuatnya terhibur. Baekhyun memalingkan wajahnya setelah tau siapa yang memasuki ruangannya.
"Sebenarnya ada satu pertanyaan yang terus melekat di benakku sejak aku melihatmu pertama kalinya." ujar Yuan melipat kedua tangannya di depan dada.
Baekhyun menatap tanpa minat dan Yuan justru tertawa senang, "Apa chanlei terlalu takut dengan kakak tirinya sampai memasangkan mu dalam tubuh musuhnya sendiri?"
"Tutup mulutmu, nenek sihir." umpat Baekhyun menatap tak kalah nyalang pada wanita di depannya.
Yuan kembali tertawa, "Apa susahnya untuk menyatakan kalah dan menyerah?"
Setelahnya Yuan justru menatap sengit pada Baekhyun dan menarik rambut bagian belakangnya dalam sekali hentakan membuatnya mendongak. Namun bukannya sebuah jawaban yang dia dapat tapi tatapan membunuh dengan aura yang kelam begitu dingin yang tidak pernah Baekhyun tunjukkan pada orang lain.
Membuat Yuan memundurkan langkahnya kebelakang dengan bola mata terbelalak kaget.
"Kau fikir aku takut dengan gertakan yang kau berikan?" menyentak marah, Yuan melayangkan sebuah tamparan ke wajah Baekhyun.
"Siksa dia dan buat dia mengaku dimana chanlei berada!" desis Yuan menatap Baekhyun nyalang, kemudian pergi meninggalkannya dengan dua orang anak buah yang mulai menghajarnya.
'Akan aku buat kau menyesal, byun.'
.
.
.
Dug!
"Akhh!"
Yifan menatap tajam pada Yixing yang masih kekeh dengan pilihannya. Apa susahnya untuk mengatakan iya atas pilihan yang di tawarkannya. Meringis akan rasa sesak frustasi menghadapi tunangannya yang amat keras kepala ini.
"Katakan. Cukup katakan kau akan kembali seperti semula xing!"
Namun Yixing tetaplah menolak dengan gelengan lemah, menunduk tidak bisa menatap Yifan yang ada di atasnya, memenjarakannya dengan kedua tangan dan kaki di ikat di atas ranjang. Membuat Yifan mendongak menatap langit langit kamar dan menghela nafas lelah lalu menatap kebawah lagi dan meninju wajah Yixing hingga keluar darah dari salah satu lubang hidung Yixing.
Di dongakkan wajah penuh luka lebam itu menatap kelereng hitam Yifan dalam lautan amarah dan kecewa, "Apa yang sudah dilakukan si brengsek kim itu padamu?"
"Sampai tidak ada lagi tempat untukku?"
Yixing tidak berucap sepatah katapun, menatap dengan pandangan lemah. Ini terhitung sudah hari ketiga. Dan Yifan seperti belum puas untuk menyiksanya.
"Aarrghh. . .geh. .aakh!"
Leher putih itu di cengkeramannya kuat hingga menutup saluran pernafasan si kecil membuatnya memberontak dalam keadaannya saat ini. Yifan menatap dengan gertakan gigi dengan penuh nafsu memhabisi keras kepala seorang Zhang Yixing.
"Gah!"
"Uhhuk . .ukh."
"Kenapa kau tidak bisa kembali padaku hah!"
Tes
Tes
Tes
"Aku menginginkanmu yixing er. . ."
Hancur sudah pertahanan seorang Wu Yifan, amarahnya juga rasa sakit, frustasi dan kecewa meleburkan segala ketegarannya. Menunduk dan melepaskan segala emosinya menunjukkan kehancurannya di depan Yixing.
Tercekat, akan rasa dingin dari tetesan air mata di atasnya, Yixing mendongak menatap tidak percaya pada Yifan yang menangis di atasnya. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang karena seolah nama Kim Junmyeon sudah terpatri di dalam sana.
"Maaf. . ." gumanan kecil itu keluar dari bibir cherry.
Tersentak kecil kala tangan besar Yifan mengusap hati hati permukaan pipinya, "Apa karena aku tidak bisa membahagiakanmu?"
Yixing menatap sendu pada sosok yang sejak tadi menduduki pinggangnya, menggeleng pelan. Yang sebenarnya Yixing juga tidak tau kenapa di amat mempertahankan keputusannya untuk tidak kembali kepada tunangannya.
"Apa karena honglei baba juga showluo ge yang melarangmu?"
Dan lagi pertanyaan Yifan di balas gelengan lemah olehnya. Meskipun Yifan tau jika hubungannya dengan keluarga Zhang tidak pernah bisa membaik dalam proporsi apapun.
"Aku tau kau begitu di jaga oleh keluargamu, yang bahkan jika di andaikan aku menyentuhmu seujung rambutpun tidak mereka bolehkan."
Bergelung dalam kesunyian Yifan sebenarnya menyayangkan atas hasil perbuatan dimana luka lebam menghiasi pelipis, tulang pipi, juga ujung bibir Yixing. Terdiam menatap bibir cherry Yixing sebuah memori merusak emosinya menatap tajam untuk sepersekian detik.
"Tapi aku tidak tau kenapa justru Showluo ge membiarkan kim dapat menyentuhmu sesukanya!"
Foto foto akan kedekatan Kim juga Yixing yang tertangkap kamera mengingatkan Yifan akan rasa sakit dan kecewa dalam benaknya.
"Kau tidak mau mengelak? Jadi semua itu benar?"
Dan jawaban yang di berikan Yixing dengan gestur tubuhnya yang memalingkan muka enggan bersitatap dengan Yifan membuat emosi pimpinan Wu itu memuncak. Jemari jemari dingin itu merambat naik ke dada Yixing membuka tiap kancing kemeja yang melekat padanya, mengabaikan tatapan panik juga pekikan Yixing yang berkata tidak ataupun jangan. Bola mata kelam itu kosong menatap pada obyek yang berada dalam jangkauannya.
"Kau yang memaksaku melakukannya yixing er."
Yixing menatap takut dengan tubuh gemetar terlebih ketika celana yang tengah melekat di tubuhnya ikut dibuka dan tanpa perasaan Yifan menyobeknya dengan sebilah pisau yang ada di nakas samping tempat tidurnya.
"TIDAK! GE, HENTIKAN!"
Namun teriakan Yixing di anggap angin lalu untuk Yifan dan setelah kain fabrik terakhir yang melekat di melindungi tubuh bagian bawahnya hilang, Yifan mengarahkan ujung pisaunya menekan leher putih Yixing.
"Ku fikir, pertunangan kita masih berlaku xing er. Bukankah aku lebih legal akan kepemilikan tubuhmu."
Yifan tersenyum puas kala menatap wajah pucat pasi Yixing dan tubuh yang mulai gemetar, ketika dia hanya menyisakan kemeja yang tidak sepenuhnya menutupi tubuh bagian atasnya.
Laci nakas samping ranjang ditariknya nemampakkan benda benda laknat yang membuat Yixing memberontak, menarik narik sekuat tenaga tangannya yang terikat di kepala ranjang, tanpa peduli rasa perih di pergelangannya yang bergesekan langsung dengan tali hingga memerah.
Sementara Yifan menikmati saat dimana Yixing melakukan usaha sia sianya, kembali ke ranjang dengan sebuah vibrator di tangannya.
"Kumihon ge, hiks . . Jangan ge. .hiks."
Yixing merengek ketakutan saat jemari lebar Yifan bermain main dengan benda itu, dia tau bahkan sangat tau akan hal itu berlanjut kemana namun dia masih tidak menyangka bahwa Yifan gege-nya akan berbuat sampai seperti ini.
"AARRGGH!"
Dan teriakan Yixing menandakan permainan dari Wu Yifan telah dimulai.
"Nikmati permainanku sayang."
.
.
.
.
.
Taehyung keluar dari ruangan kerja Junmyeon dengan langkah kaki berat dan mimik wajah sendu. Jhope yang menunggu di ruang tengah dengan Jungkook menatap kedatangan dengan wajah sama sendunya.
Setelah hilangnya Yixing saat itu semua berubah 180 derajat, Junmyeon yang bahkan tidak bisa bersuara sedikitpun, Jongin yang semakin tidak bisa dikendalikan dan Minseok yang terus menerus meminta untuk pulang di setiap waktu terapinya. Bahkan Taekwoon yang selalu bisa meredakan keadaan menjadi diam tidak berkutik.
Hingga saat ini Junmyeon bahkan juga terus berkutat dalam ruangannya. Mengurung diri dengan segala dokumen dan jaringan untuk dapat menemukan little lamb. Semua orang sadar jika pergerakan Wu saat ini tidak main main dan bahkan ketika kemarin Taehyung dan Jungkook berkunjung melihat Minseok di rumah sakit, mereka melihat Showluo yang mengantarkan Victoria untuk berpamitan dengan Minseok untuk kembali ke China.
Cukup menunjukkan bahwa Zhang Showluo menganggap hal ini sangat serius hingga menyuruh saudara kembali ke tanah kelahirannya. Dan justru itu semakin memancing kepanikan banyak pihak, bahkan Jungkook yang akan terus berkutat di depan komputernya sepanjang malam. Membuat Taehyung ikut mengkhawatirkan kesehatannya.
Brakk
Junmyeon keluar dari ruangannya dengan setelan jas berbalut long coat panjang berwarna hitam. Mengabaikan panggilan Jhope maupun Taehyung. Dan setelahnya memacu mobil dengan kecepatan penuh keluar dari mansion. Jhope segera menyambar kunci mobil untuk mengikuti kemana gerangan pimpinan Kim itu pergi.
.
.
.
Sebuah mansion dengan gaya artistik eropa menjadi tempat berhentinya mobil audi Junmyeon membuat Jhope hanya mampu mengamati dari luar mansion.
Berdiam diri dalam mobil mengawasi. Sementara Junmyeon melangkahkan kakinya keluar mobil dan masuk setelah sebelumnya nampak seorang pelayan menyambutnya.
Setelah bergulat dengan banyak hal Junmyeon sadar bahwa ada satu orang yang dapat dia datangi untuk mempertanyakan dimana keberadaan Yixing.
Park Chanyeol.
Lelaki dengan balutan kemeja biru laut itu tengah bersandar di kursi sofanya ketika Junmyeon masuk kedalam ruangan kerjanya. Sehun tidak ada disana, hanya ada Chanyeol dan bidak bidak catur yang berdiri beberapa. Namun satu hal yang membuat Junmyeon tersenyum menyeringai kala melihat keadaan ruangan kerja Chanyeol nampak hampir sama dengannya, berantakan.
Jelas terlihat beberapa gelas kaca yang terbanting di dekat meja kerja. Lalu lampu meja yang sudah hancur di lantai. Ternyata tidak jauh beda.
Mungkin ini juga alasan Sehun tidak ada disini, melarikan diri dari kemarahan seorang Park Chanyeol.
Tap
Tap
"Aku tidak tau apa yang terjadi dengan ruanganmu, park!" komentar Junmyeon melangkahkan kakinya memasuki lebih dalam ruangan kerja Chanyeol.
Bukan sebuah kemarahan atau ucapan dingin seorang Park Chanyeol namun tawa lepas menanggapi perkataan Junmyeon.
"Hahahahahahahaha, apakah kau sedang bertanya pada dirimu sendiri hyung?" tanya Chanyeol dengan senyum menyebalkan.
Shit!
Senjata makan tuan, huh!
Junmyeon mendengus mendengar hasil dari pertanyaannya, berniat mengejek namun ternyata dia salah mengira.
"Aku sama hancurnya sepertimu hyung. . .oh ayolah." ungkap Chanyeol tanpa mau menutupi kebenarannya.
Junmyeon berdecih, "Jika kau merasa hancur kenapa masih berdiam diri disini?"
"Duduklah hyung lalu kita nikmati segelas wine merahku? Berminat?" tawar Chanyeol menatap Junmyeon dengan pandangan mata menggoda.
"Enyah kau!" desis Junmyeon.
"Hahahahaha." tawa Chanyeol melihat ekspresi wajah Junmyeon.
"Kau butuh pelampiasan hyung? Aku tau amarahmu jauh berkali kali lipat dariku."
Ungkapan Chanyeol menyadarkan Junmyeon untuk beberapa detik bahwa dia terlalu terbawa suasana, meskipun keadaannya saat ini benar benar mudah sekali terpancing emosi. Menghela nafas untuk mempertahankan emosinya.
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
Chanyeol terdiam menatap gelas kaca di depannya yang sudah terisi dengan wine merah kesukaannya lalu tanpa berkata apapun melemparkannya ke arah barisan botol wine dalam jejeran etalase hingga pecah dan hancur.
Well, siapa yang bilang membutuhkan pelampiasan?
"Ini permainannya,"
Junmyeon terdiam memerhatikan emosi yang terpancar jelas dari raut wajah seorang Park, "Dia menyekap kekasihku juga banyak orang lainnya lalu menghilangkan jejak di korea seolah dia sudah tidak ada disini."
Jadi, seorang Park Chanyeol juga sudah kecolongan?
Oh, ini hal yang mengejutkan untuk Junmyeon ketahui, tapi raut wajah kelam itu berubah cepat menatap Junmyeon dengan senyum mengembang tanpa rasa emosi yang tadi berkobar.
"Kita beri kesempatan untuk mereka hyung lagipula masih banyak yang perlu kita pikirkan."
"Aku tau kau kemari karena menagih ucapanku di hari itu-"
"Dan hyung. . .kau bisa pegang ucapanku."
.
.
.
.
.
.
"Akan aku hancurkan pernikahan mereka dan juga wu yifan."
Junmyeon tidak tau kenap dia mau percaya dengan lelaki yang dia anggap gila di depannya ini. Lihat tingkahnya.
Namun satu hal yang Junmyeon yakini, Park Chanyeol tidak akan diam saja dan selalu ada yang dapat membawanya pada target permainannya seperti dahulu ketika dia memerangkap Kim dan Zhang dalam sebuah pertemuan.
.
.
.
"Apa hari ini aku boleh pulang?"
Hakyeon menatap lelah pada Minseok yang menanyakan padanya hal yang sama untuk kesekian kalinya. Showluo melangkahkan kakinya mendekat ke arah ranjang Minseok yang baru saja beristirahat dari terapinta beberapa jam yang lalu.
"Apa yang begitu kau harapkan setelah sampai di rumah?"
Pertanyaan Showluo yang terkesan menantang Minseon membuat Kim tertua itu menunduk, tidak mengerti dengan apa yang harus dia katakan.
"Apa kau masih belum tau juga jika semua orang yang ada disini berusaha membuatmu untuk kembali pulih?" tanya Showluo lagi.
Dan Jongdae menghela nafas melihatnya.
Puk
Tangan Showluo menepuk pundak Kim tertua yang sudah dia anggap adiknya sendiri. Meskipun keberadaan Yixing saat ini benar benar membuatnya marah juga panik namun dia tidak pernah lupa pada adiknya yang satu ini. Lagipula dia sudah meminta Victoria kembali ke Changsa menemui Baba untuk menyampaikan informasi ini. Dan lagi dia masih menunggu kabar dari Chenle juga Renjun.
"Kau harus sembuh dulu xiuminie."
Dan panggilan kecil dari pewaris utama Zhang membuat Minseok menatap dengan bola mata berkaca kaca.
"Aku menyesal . . . Kemarin Kyungsoo dan sekarang yixing hiks . . .hyung. . .maaf."
Jongdae membawa kekasihnya dalam pelukan penenang, tau akan apa yang dia tahan selama ini. Semua orang sekarang memang sedang dalam masa terendah mereka. Dan tanpa diketahui oleh semua orang dalam ruangan itu seorang pemuda tengah menutup pintu kamar inap Minseok dengan pelan.
Menyisakan satu amarah yang semakin mendalam.
Wu melakukan banyak kesalahan dengan melukai semua orang, berawal dari Minseok, Kyungsoo hingga Yixing.
Jongin melangkahkan kakinya ke arah keluar rumah sakit menuju basement tempat dia memarkirkan mobilnya. Dan Tuan Kim tau akan hal itu. Melirik Taekwoon yang ada di belakangnya lalu membalikkan tubuhnya.
"Penjelasan yang kau ucapkan tadi sudah keseluruhannya?" tanya Tuan Kim.
"Sudah tuan, ini bukan hal yang serius jadi tuan muda sudah dipastikan kesembuhannya namun harus ada yang selalu didekatnya setiap saat." balas Taekwoon.
"Lalu jika aku menugaskanmu untuk menjaganya apa kau siap?" tanya Tuan Kim lagi.
"Saya bersedia tuan, kapanpun itu."
"Siapkan perlengkapanmu. Kalian akan berangkat besok."
Ayah mana tidak akan turun tangan ketika melihat anak anaknya dalam keadaan seperti ini. Karena hal ini juga Tuan Kim kembali dari California untuk menemui anaknya. Karena dia tau jika keberadaan semua keluarga akan memanas dalam konflik Wu.
Bersiaplah.
.
.
.
.
.
.
"Dasar keras kepala!" desis seoarang anak buah hendak kembali melayangkan balok kayu pada kaki Baekhyun.
"Cukup! Kita hanya ditugaskan untuk menyiksanya bukan membuatnya lumpuh." seorang salah satu dari mereka menahannya.
"Kita tinggalkan dia dulu."
Dan setelahnya suara pintu tertutup akan kepergian anak buah Wu membuat Baekhyun mengangkat wajahnya yang penuh dengan lebam dan darah di pelipis, sudut bibi robek.
Baekhyun menatap pintu dengan pandangan bola mata yang seolah dapat membunuh siapapun yang bersitatap dengannya, "Kau akan mati besok, Yuan!"
"Aku berjanji bahwa kau akan mati di tanganku."
Kedua tangan terikat itu bergerak gerak kecil dibalik tubuhnya, menggeserkan kulit yang memerah karena tali ikatan tangan tanpa peduli akan rasa sakitnya. Hingga sebuah gelang yang terselip di antara ikatan ikatan itu dapat terlepas.
Tangan kiri Baekhyun semakin gencar menggerakkan ke kanan dan ke kiri sebisa dia membuat longgar ikatannya, sedangkan tangan kanannya tetap di tempat dan menariknya berlawanan arah tanpa peduli pergelangan itu berubah menjadi pedih merah dan berdarah. Jemari lentiknya berhasil meraih gelang besi dengan sebuah pisau kecil bergerigi sebagai hiasannya yang hanya sepanjang 5 cm lalu tanpa menunggu lama menyelipkan sebuah jemari kedalam lingkaran gelang itu dan menariknya hingga lepas.
Baekhyun tersenyum menyeringai, seolah dengan putusnya gelang miliknya dia bisa bebas dari sini meski pergelangannya sebelah kiri tengah meneteskan darah dan rasa pedih teramat.
Namun yang memang bisa membuatnya keluar dari sini meski dia tidak tau apa pisau geriginya yang tidak terlalu tajam mampu memutuskan ikatan ini. Dan satu hal yang membuatnya tersenyum semakin lembar adalah-
"Park chanyeol, cepat kemari dan bunuh mereka semua." desis Baekhyun.
"Lakukan dengan caramu, karena aku-"
.
.
.
.
"Tidak akan menahanmu lagi, untuk membunuhnya."
Dan gps yang terpasang dalam gelang milik Baekhyun mulai mengaktifkan keberadaannya. Hingga tersambung kedalam komputer seseorang yang sudah bersiap menunggu perintahnya.
Park Chanyeol menatap gps yang menyala dengan senyuman mengembang, "Akhirnya kau menyerah dengan caramu sayang, tapi tidak apa karena keinginanmu sekarang ini adalah perintah untukku."
.
.
.
.
.
.
Junmyeon menghentikan langkah kakinya keluar dari basement rumah sakit, berdecak pelan kala Jhope benar benar masih setia membuntutinya.
"Ck, keluarlah sebelum aku melempar kepalamu dengan sepatuku jhope!"
Tertawa pelan dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Jhope keluar dari balik mobil audi Junmyeon. Membuat Junmyeon menghela nafas dibuatnya.
"Kufikir hyung tidak mau bicara atau menegurku lagi." ucap Jhope menyamai langkah Junmyeon di sampingnya.
"Maaf jika itu menggangumu." balas Junmyeon pelan.
Jhope menghentikan langkahnya seketika, mendengar pimpinan Kim meminta maaf karena hal kecil membuatnya terdiam mencerna yang baru saja terjadi, ini hal yang langka.
"Apa kau akan diam seperti patung disana?" tanya Junmyeon jengah dengan sikap Jhope.
"E-eh, tunggu hyung."
.
.
.
.
"Kau datang,"
Junmyeon memasuki ruangan Minseok dengan Jhope di belakangnya, "Bagaimana keadaanmu sekarang hyung?"
"Sudah baik junmyeon dan kurasa tubuhku sudah benar benar normal sekarang." jawab Minseok dengan memberenggut.
"Dia merasa menjadi orang yang tidak normal beberapa hari yang lalu sepertinya." goda Taekwoon yang baru saja masuk kedalam ruangan Minseok. Mengundang kekehan pelan dari Junmyeon.
Melihat hyung tertua sudah menunjukkan keadaan yang membaik membuat Junmyeon merasa sedikit lebih baik dari sebelumnya. Dan sebenarnya sedikit menyesal karena selama tiga hari dia tidak sering sering berada di rumah sakit karena sibuk melacak keberadaan Yixing dan Kyungsoo.
Namun sekarang semua sudah lebih membaik dan mungkin ini juga saatnya untuk memulai menentukan langkah mereka.
Cklek
Junmyeon menutup pintu kamar inap Minseok pelan, menatap kesamping kursi tunggu luar ruangan dimana Showluo duduk disana, menghela nafas Junmyeon berjalan mendekat dan duduk disamping pewaris utama Zhang yang masih sibuk dengan teleponnya.
"Baiklah renjun coba kirimkan orang untuk memastikan keberadaan mereka sebelum kita kesana."
Klik.
"Hyung." panggil Junmyeon duduk mencondongkan tubuhnya kedepan dengan kedua siku menunpu di pahanya.
"Maaf. . .aku tidak bisa bertemu denganmu selama tiga hari karena kejadian itu. . .aku merasa-"
"Aku juga ada disini bersamamu junmyeon,"
"Aku tau, tapi hyung aku merasa gagal akan janjiku padamu untuk menjaganya."
Showluo tersenyum mahfum, "Kau memang sudah berjanji padaku untuk menjaganya. Jadi aku hanya tinggal menunggumu untuk mengambilnya kembali."
"Meskipun ini adalah pertunangan dua keluarga namun aku pribadi tidak penah menyetujuinya, aku yakin kau tau alasanku." tambah Showluo.
"Hyung. . .masih percaya padaku?" tanya Junmyeon tidak percaya.
"Aku sebenarnya sangat protektif terhadap Yixing, tapi harus aku akui jika. . .kau harapanku junmyeon dan mungkin kau orang pertama yang aku percaya untuk dekat dengan adikku."
Junmyeon tau jika dia sudah masuk terlalu dalam dan tidak bisa kembali ke tempatnya semula. Maka dia akan melanjutkannya meski di depan dia harus berhadapan dengan ikatan suci yang sudah melingkar di jemari tunangan Wu.
Setidaknya, lebih baik dibanding sumpah dan janji suci di depan pastur gereja.
.
.
.
.
"Sepertinya ada seseorang yang ingin aku temui, junmyeon kau berminat mengantarku?"
.
.
Junmyeon mengemudikan mobilnya dengan pikiran terpusat oleh perkataan Chanyeol yang menelponnya tadi, dan Showluo nampak menyetujui hal itu. Membawa kedua pimpinan muda itu bersiap akan apa yang akan sebentar lagi mereka temui di mansion Kim. Karena hal itu mobil audi di pacu Junmyeon untuk segera sampai di mansion mereka.
Renjun dan Chenle sudah berdiri menunggu kedatangan mobil Junmyeon yang membawa Showluo ikut serta dan tidak menunggu lama mobilnya sudah memasuki kawasan mansion Kim.
Junmyeon dan Showluo keluar lalu mulai melangkahkan kakinya mendekat. Yang ketika mereka memasuki ruang keluarga sudah disambut oleh Jhope, Taehyung, Jungkook. Chanyeol dan Jongdae ada disana sedang membahas sesuatu yang nampaknya serius lalu Jongin mulai turun dari kamarnya dengan raut tegas.
Renjun dan Chenle mengekor di belakang Junmyeon dan Showluo lalu menyerahkan sebuah tablet untuk pewaris utama Zhang, yang langsung di perhatikan dengan serius oleh Showluo.
"Katakan padaku sekarang." perintah Junmyeon menarik atensi Jongdae dan Chanyeol.
Jungkook membalikkan layar laptopnya menghadap Junmyeon yang duduk di seberang meja, "Ini beberapa foto keberadaan Wu dan anak buahnya sehari yang lalu."
"Boseong?" tanya Junmyeon, menyergit melihat denah yang di tunjukkan Jungkook.
Sementara Chanyeol menyeringai melihat kerja Jungkook. Lumayan juga. Sementara Showluo hanya memperhatikan dalam diam dan dia sadar sepenuhnya akan ekspresi wajah Chanyeol.
Dasar.
Sementara Chenle dan Renjun saling berpandangan, mereka berdua membenarkan apa yang dikatakan oleh Jungkook namun tidak mengerti dengan reaksi pandangan dari Showluo.
"Aku tidak yakin dengan hal itu,"
Ucapan Chanyeol mengundang kernyitan mendalam pada Jhope dan Taehyung juga Chenle dan Renjun. Well, wajar karena mereka tau bagaimana mereka memperoleh data itu dan melihat bagaimana sulitnya. Sementara Jomgdae dan Junmyeon terdiam memperhatikan Chanyeol berbicara.
"Jeju!" balas Chanyeol singkat.
"Bagaiman kau bisa yakin?" tanya Jungkook penasaran.
"Aku kenal siapa yang kita hadapi."
Jongin yang sedari tadi duduk di pinggiran sofa bersuara, "Mereka ingin memecah kita,"
"Membuat kita berfikir bahwa itu benar namun itu hanya sebuah jebakan." tambah Jongin.
"Jongin-" Jongdae hendak bertanya namun ditahan.
"Aku sudah mendapatkannya. . ." sela Jongin dengan tatapan mata menunduk.
"Apa maksudmu?" tanya Junmyeon.
Jongin mengeluarkan sebuah kertas foto hitam putih yang dibaliknya sudah bertuliskan 'boseong' dan foto itu adalah dimana terlihat sebuah tangan penuh dengan darah.
Junmyeon mengepalkan tangannya kuat, namun Jongin kembali berucap dengan raut emosi tenang, "Aku tau kau lebih mengerti dan faham tentang saudara tirimu, jadi katakan!"
Chanyeol menyeringai melihatnya, "Boseong adalah tempat dimana kalian akan menemukan Kyungsoo disana, aku tidak tau siapa yang akan ada disana namun dapat dipastikan jika yifan menunggu kedatangan orang yang paling dia tunggu."
Jongin berdecih, "Itu sudah pasti kau . . . .dan junmyeon hyung."
"Aku yang akan menyelamatkan kyungsoo sendiri." putus Jongin.
"Aku tidak mengizinkanmu." tegas Junmyeon.
"Aku akan tetap berangkat-" sahut Jongin terpotong.
"Biarkan aku ikut," sela Jungkook.
"Foto itu sudah seperti undangan untuk kita, dapat dipastikan jika memang yifan menginginkan kita untuk kesana." ucap Jongdae.
"Tapi dengan jeju- Aku yakin jika byun baekhyun yang kau maksudkan disitu." tambah Jongdae.
Double Shit!
Jongdae menyeringai saat tau wajah keruh Chanyeol saat ini. Jongdae tebak jika Chanyeol mendapat informasi itu dari gps yang dia pasang untuk kekasih mungilnya. Karena kemungkinan dia memiliki mata mata saat ini sangat nihil, karena Jongdae tau setelah tertangkapnya Baekhyun. Wu menjaga ketat siapa dan darimana latar belakang anak buahnya.
Oh, seseorang tolong katakan pada Chanyeol untuk mengingatkan bahwa Kim nomer dua memiliki segala macam informasi dan pemikiran jeniusnya.
Dan sebuah fakta yang tidak diketahui Chanyeol adalah, selama dia menjadikan Jongdae kartu as miliknya dia juga harus merelakan Jongdae mengetahui segala kisah masa kelamnya. Sambil menyelam minum air, mungkin itu cocok.
Showluo tersenyum tipis melihatnya.
"Memang benar jika baekhyun ada disana, namun wu yifan juga tidak akan jauh jauh dari zhang yixing."
Sekarang ganti Chanyeol yang tersenyum puas melihat ekspresi wajah Showluo dan Junmyeon yang berubah sepersekian detik.
Kena kau!
"Mereka memilih pulau kecil jeju untuk persembunyian, mengatur dan mengawasi siapa saja yang masuk kedalam teritori mereka."
Tak
Dan foto foto aktifitas anak buah Yifan tertangkap kamera ada disana. Dan juga Yuan,wanita itu terlihat keluar dari dalam mobil dan masuk pada salah satu rumah.
"Jhope, kalian bertiga ikutlah dengan Jongin."
Perintah Junmyeon membuat mereka bertiga dan Jongin menatap ke arah Junmyeon, "Jangan konyol hyung, lalu siapa yang akan bersamamu?"
Junmyeon tersenyum mendengar Jongin berucap reflek dengan pandangan khawatirnya, "Aku akan pergi dengan Chanyeol."
Jongin berdecih melihat kebiasaan hyungnya. Sementara Jongdae terkekeh menepuk pundak Jongin. Meskipun semarah apapun namun si kecil Kim akan tetap mengkhawatirkan hyungnya.
"Setidaknya aku tau jika adikku akan kalian selamatkan. Aku akan dibelakangmu Junmyeon." tegas Showluo.
"Kami juga akan ikut denganmu hyung."
Dan seluruh pandangan mata tertuju pada sosok Ten, Taeyong, Doyoung juga Jeno yang berdiri di depan pintu masuk ruangan.
"Ayo bersiap!"
Dan Junmyeon tersenyum melihat ekspresi wajah anak didik appanya. Beralih menatap Jongdae, "Jaga Minseok hyung, jongdae."
"Tentu hyung."
Karena perjalanannya kali ini mungkin akan berlangsung lama dan panjang. Mengingat Wu cukup pandai memilih lokasi yang bisa di tempuh lebih dari berjam jam.
.
.
.
.
.
.
.
Yifan masih terdiam di sofa depan ranjang dimana Yixing di ikat, menyaksikan tubuh polos tanpa benang itu menggeliat dan bergerak menggoda karena tumbukan dari vibrator yang bersarang dalam tubuhnya. Tubuh polos itu sudah basah berlelehkan sperma yang sudah kesekian kalinya keluar.
Bangkit mendekati ranjang, Yifan mengambil sebilah pisau yang ada di atas meja nakas dan memotong tali yang terbentang di kaki ranjang namun tidak melepas ikatan di kedua kaki kecil Yixing. Menatap dengan wajah mengeras lalu kembali memotong tali yang terbentang untuk mengikat kedua tangan Yixing dan mengikatnya menjadi satu hingga kedua pergelangan tangan itu justru semakin tidak memiliki ruang untuk bergerak.
"Bangun!"
Tanpa peduli rasa perih yang dirasakan Yixing,pergelangan tangan yang sudah terikat menjadi satu itu di tarik paksa untuk membuatnya duduk meski saat ini dia tidak bisa berkonsentrasi dengan sekitar karena vibrator dalam lubangnya senantiasa menumbuk tanpa ampun dan dapat dia yakini bahwa itu akan menimbulkan luka lecet yang parah. Yifan melipat kedua kaki Yixing memaksanya terduduk di pangkuannya, menghadapnya.
"Aahh. .aakhh!"
"Panggil namaku dan memohonlah untukku xingie. . "
"Ti. .akkh tidak, kau. .akkhh bukan . .yifan aakhh!"
"Kenapa kau keras kepala!"
Dan tanpa perasaan Yifan melesakkan giginya pada leher putih Yixing mengigitnya, mengoyaknya dengan gigi gigi putihnya hinga rasa asin terkecap di lidahnya. Belum puas dengan satu karya buatannya Yifan mengingit lagi sisi leher yang lain meninggalkan banyak luka disana.
"Hiks. . .aaakkhh. . .hiks. .junmyeon. .hiks."
Sret
"Aakkhh!"
Yifan menatap marah pada Yixing yang jelas jelas memanggil nama Junmyeon di hadapannya hingga dia menjambak rambut belakangnya hingga membuat Yixing mendongak sakit, "Kenapa justru nama si brengsek itu yang kau sebut hah!"
"Kau bukan. . .wu yifan. .yang aku kenal! AKHH!"
Yifan menarik kedua ikatan tangan Yixing ke atas lalu membenturkan tubuh kecil itu pada headboard dengan keras hingga menimbulkan debuman dan rintihan Yixing.
"Cukup panggil dan memohonlah padaku maka semua akan baik baik saja xing er!"
"Ti-aahh. .dak!"
Bukk
Sebuah pukulan telak dilayangkan Yifan hingga membuat Yixing terpelanting di atas ranjang, "Kau tau, aku lebih berminat menghajarmu daripada melakukan ini yixing."
Mencabut vibrator yang bersarang dalam tubuhnya, bukannya merasa lega Yixing justru merasa lemas seketika dan menurut saja saat lengannya di tarik hingga berhadapan dengan Yifan kembali.
Menancapkan kukunya untuk mencekik leher Yixing kembali, "Kau tau jika kemarahanku adalah hal yang buruk untukmu yixing."
"Kembali padaku sekarang juga!"
"Tid-aakhh tidakk! Kembalikan ukh . . aku pada jun-"
Bukk!
Prang!
Tubuh lemahnya kembali menerima pukulan di sisi wajah hingga terlempar ke pinggir ranjang dan tersungkur ke lantai setelah menjatuhkan gelas kaca.
Yixing terisak kecil, tubuh sakit, perih dan sobek bagian bawah tubuhnya dan sekarang lengan juga jemarinya harus ikut terkena tancapan serpihan kecil gelas kaca.
"Junmyeon. . .hiks. . .hiks."
Yifan kembali menyeret Yixing untuk bangkit dan melemparkannya ke atas ranjang, "Apa. kau benar benar berharap pada Junmyeon?"
"Dia tidak akan kemari, dia akan lebih menyelamatkan adik kecilnya dibanding denganmu."
"K-kau apakan . .kyungsoo?"
"Membuatnya sekarat. Lalu mungkin dia akan memilih untuk menyelamatkannya daripada kemari dan-"
Yixing menatap Yifan marah dan melayangkan pukulan pukulan lemah pada dada bidang lelaki Wu di depannya itu,
"Tidak mungkin!"
"Diam!"
"Kau bukan wu yifan yang ku kenal! Hiks! Pergi! Hiks aku membencimu!"
"Junmyeon akan kemari hiks junmyeon hiks. ."
Yifan membuka sisa baju yang melekat di tubuhnya lalu menatap Yixing tajam. Kemarahannya memuncak dan dia benar benar marah pada Yixing, Tidak peduli akan melukai si kecil lebih dalam lagi dalam sekali hentak membalikkan tubuhnya hingga terngkurap di atas ranjang, menekuk kedua lututnya dan melesakkan kejantanannya dalam sekali hentak.
"AAKKH!"
Memacunya tanpa peduli hole itu telah lecet dan hanya mengejar kepuasan sendiri. Menulikan segala pendengarannya akan pekikan, rintihan sakit dan teriakan pilu Yixing. Tidak peduli akan penolakan bahkan panggilan si kecil yang terus memanggil nama Junmyeon.
.
.
.
"Kau bukan wu yifan. . .bukan wu yifan. . .bukan wu yifan. . .bukan wu yifan. . ."
Yixing terus berguman di tengah ambang ketidak sadarannya. Setelahnya bola mata si kecil terpejam karena kelelahan dan pingsan. Yifan mendekap erat tubuh kecil itu melepaskan satu persatu tali ikatan di tangannya dan kaki Yixing. Lalu membaringkan tubuh lemah dalam perlindungan selimut yang menutupinya.
"Kembalilah padaku dan kita akan hidup bahagia sayang."
Tanpa tau jika kegiatannya telah disaksikan sepasang mata dari tadi, berdiri di ujung pintu. Meremat kemejanya di bagian dada dengan mata memanas dan tubuh lemas.
"Hiks. . .gege. . .hiks."
.
.
.
.
.
.
Cklek
Tap
Tap
Tap
Baekhyun menatap tajam pada pemuda yang melangkah mendekat padanya, "Jika kau kemari atas perintah wu yifan, jangan harap kau mendapat jawaban yang kau inginkan dariku."
Seokjin -pemuda tadi- duduk bersimpuh di depan Baekhyun dengan wajah frustasi dan memohon.
Bruk
"Aku akan mengabdi untukmu hyung. . . ."
Baekhyun hanya menatapnya dengan dahi berkerut dalam. Menunggu kelanjutan perkataannya.
"Tapi kumohon. . . .selamatkan yixing hyung."
"Brengsek! Apa yang dilakukan oleh orang keparat itu!"
Seokjin terdiam dengan pandangan masih menunduk. Tidak mampu menjelaskan lebih detail lagi bagaimana teriakan Yixing terus menggema dari ruang kamar utama.
Menggeleng lemah, Seokjin menatap Baekhyun sekali lagi, "Aku yakin jika baekhyun hyung dapat memanggil chanlei untuk kemari, jadi hyung kumohon kabulkan permintaanku. Dan aku akan membantu hyung untuk keluar dari sini."
Memejamkan kedua bola matanya sebentar. Baekhyun kembali membukanya dan menatap tajam pada Seokjin.
"Dibanding dengan itu, lepaskan ikatanku dan bawa aku pada seseorang yang ada di dalam rumah ini. Cepat!" perintah Baekhyun.
.
.
.
.
.
"Hiks. . .hiks. ."
Tao masih mengusap kasar lelehan air matanya di atas ranjang dengan pandangan menunduk. Hatinya sakit kala melihat Yifan bersama dengan Yixing meskipun dia melakukannya karena kemarahan namun Tao tetap tidak bisa terima akan hal itu. Bagaimana dia dengan segal pengorbanannya selama ini terasa sia sia kala melihat mereka bersama dan ucapan Yifan akan masa depan mereka.
Cklek.
"Menyesali perbuatanmu?"
Ucapan dari seseorang yang baru saja masuk kedalam kamarnya membuat Tao tersentak kecil dan terbelalak takut kala tau jika Baekhyun ada disana dapat berjalan bebas ke arahnya.
"Huang zitao, budak tahanan dari zhang showluo yang dibebaskan dengan satu syarat menjauhkan wu yifan dari zhang yixing bagaimanapun caranya, telah gagal menjalankan tugasnya dan sekarang tengah menangis saat melihat keduanya bersatu."
Penjelasan panjang Baekhyun membuat Tao semakin terbelalak dan berdiri menjauhi ranjang. Tidak percaya bahwa Baekhyun yang selama ini lucu dan bersahabat tanpa menaruh kecurigaan kepadanya justru mengetahui asal usulnya dengan sangat jelas.
Brakk
Baekhyun sekali gerak mencengkeram leher Tao dan membenturkan tubuhnya ke lemari pakaian dibelakangnya lalu mendesis rendah penuh dengan amarah, "Kenapa kau biarkan mereka berdua bersama? Apa kau tidak pernah berfikir jika gege kesayanganmu itu akan berbalik dan meninggalkanmu?"
"DAN KENAPA KAU TIDAK MENJALANKAN PERINTAH ZHANG DENGAN BAIK, HAH!"
Setelahnya, tubuh Tao di benturkan sekali lagi dan melepas cengkeramannya hingga tubuh Tao terperosot tanpa tenaga kebawah.
"Jauhkan mereka sebelum aku membuat kalian menyesal."
Setelahnya, Baekhyun meninggalkannya begitu saja tanpa peduli punggung kecil itu terluka lagi.
.
.
.
.
.
"Jika tuan berkenan saya bersedia untuk menemani Jongdae hyung dan Minseok hyung dalam perjalanannya ke kanada."
Dan Tuan Kim menatap baik baik manik hitam pemuda tinggi di depannya. Mencari kesungguhan dalam senyum menawannya juga kejujuran di dalamnya. Meski, beliau tidak punya banyak pilihan untuk menolaknya.
Sang pemuda tersenyum, selain karena dia tau banyak apa yang Tuan Kim inginkan dia juga memiliki kunci untuk mempermudah langkah mereka.
TBC
A/n:
Jujur dan maaf,
Jujur. Ini sungguh sulit untuk saya pribadi, karena setiap rated m baik action maupun mature content membuat saya cukup membutuhkan waktu dan mood yang sangat mendukung.
Maaf. Saya banyak tertekan oleh banyak hal dan chap ini bagi saya sangat penting, maaf ini membuat pikiran saya tidak bisa fokus total untuk menyelesaikan cepat. Maaf karena ini harus saya lakukan untuk sebuah totalitas.
Maaf untuk D'Xp yang saya tinggalin gitu aja chatingnya juga maaf buat Kitti nunna yang pm nya ga saya buka apalagi balas. Saya ada di pedalaman dan bermasalah sinyal.
See you again guys, thanks. Nextnya, kemungkinan jika terlalu panjang dari ideal penjelasan yang saya rasa, saya akan buat menjadi 2 part. Tunggu saya di hari senin.
Selangkah menuju ending,
Next chap:
chapter 22 : The day.
Thanks buat, Name D'Xp & Aakjendol karena uda bisa nebak,
Queen & King utu ga beda jauh ya kukukuku.
So, guys coba tebak yang di bawah ini.
Dialog terakhir itu milik siapa?
Thanks guys buat kemaren maaf ga bisa balas satu satu untuk chap ini:
Guest
Guest
viviyeer
micopark
MinieZhang
RainEXO
Geraldine XOXO
Aakjendol
Minge-ni
Name D' Xp
ChennyChen
D' eXcrusius Paripachuka
adindallss
angsongsaening
KittiToKitti
Review please~
HeartBreaker by D' eXcrusius Paripachuka
Ace by Pearl Luce.
.
.
Luce,
With love
30 Januari 2017
