SWEET DREAMS KIM JAEJOONG
Chapter Twenty
For Yunho & Jaejoong
Main cast :
Jung Yunho
Kim Jaejoong
Summary :
Jung Yunho seorang pengusaha berlian yang sangat terobsesi mencari pembunuh kedua orangtuanya. Jung Yunho tidak sengaja bertemu dengan Kim Jaejoong yang pingsan di depan gerbang rumahnya. Jung Yunho membawa Kim Jaejoong ke dalam rumahnya. Setelah mendengarkan cerita Kim Jaejoong, Jung Yunho memutuskan untuk memberi tempat tinggal bagi Kim Jaejoong yang artinya Jung Yunho dan Kim Jaejoong tinggal bersama. Jung Yunho mulai membuka diri terhadap Kim Jaejoong yang ia anggap seorang namja cantik yang polos. Jung Yunho masih melanjutkan pencariannya terhadap pembunuh kedua orangtuanya dibantu dengan sahabat kecilnya Park Yoochun dan Kim Junsu, tapi bagaimana bila suatu hari Jung Yunho mengetahui pembunuh kedua orangtuanya adalah seseorang disekitarnya ?
.
.
.
Setelah menunggu Siwon yang berlutut cukup lama di makam Kibum, Jaejoong memberanikan dirinya mendatangi Siwon. Duduk berdua di sebuah kursi taman di bawah pohon.
Sementara dari kejauhan, Yunho memperhatikan Siwon dan Jaejoong. Yunho juga yang menyuruh agar Jaejoong berbicara berdua dengan Siwon, bagaimanapun Siwon adalah mantan kakak iparnya, walau mereka tidak pernah bertemu.
"Yunho-ssi." suara lembut seorang namja membuyarkan perhatian Yunho.
"Heechul-ssi." balas Yunho.
"Apa kabar?" tanya Heechul.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menanyakan kabarku." jawab Yunho dengan nada bicaranya yang tenang.
"Yunho-ssi, maafkan atas perbuatanku dulu. Aku terpaksa melakukan itu." kata Heechul sambil menerawang kejadian ketika ia diinterogasi di kantor polisi.
Yunho tersenyum sambil berkata "Aku sudah melupakannya."
"O..oh."
Kembali hening. Tidak ada yang memulai percakapan. Ini terkesan sangat kaku dan canggung.
"Apa hubunganmu dengan Jaejoong baik-baik saja?" tanya Heechul kembali.
"Iya, dia sedang mengandung anakku." jawab Yunho dengan wajah senang. Terkesan pamer bahwa ia akan segera memiliki anak.
"Mwo…?"
Yunho hanya terkekeh melihat keterkejutan dari Heechul.
"Se…selamat, Yunho-ssi." Kata Heechul dengan suara bergetarnya.
"Bagaimana dengan hubunganmu sendiri dengan Siwon?"
Heechul tidak menjawab, matanya mengikuti mata Yunho yang memperhatikan Jaejoong dan Siwon dari kejauhan. Hanya bisa menghela napas panjang.
.
.
.
"Ada apa, Jaejoong-ah?" tanya Siwon. Walaupun dia berusaha tersenyum namun tidak dapat menutupi kesedihan yang terpancar dari matanya.
"Siwon-ssi…apa boleh kupanggil Siwon hyung?"
"Ya, itu terdengar lebih baik. Bukankah kamu adik iparku? Akan sangat lucu bila kamu terlalu formal bersamaku."
"Kamu mengetahuinya?" tanya Jaejoong sedikit terkejut. Maksudnya mengajak Siwon berbicara adalah memberitahu jati dirinya. Tanpa disangka Siwon sudah mengetahuinya.
"Ya, tertulis dengan jelas di surat Kibumie."
Siwon menundukkan kepalanya. Kini jelas terpancar kesedihan dimatanya.
"Siwon hyung..."
"Aku sangat menyayangi Kibumie.." lirih Siwon.
"Hyung…"
"Dan dia telah meninggalkanku…"
"Ssst…sudah hyung, hentikan. Kibum hyung pasti akan bersedih melihatmu seperti ini."
"Hm, apa dia akan bersedih juga bila aku menyusulnya?"
Jaejoong kembali terkejut. "Ja…jangan berbicara seperti itu, hyung!"
Siwon hanya tertawa melihat tingkah Jaejoong. "Kamu sama seperti Kibumie." katanya sambil mengelus pipi Jaejoong.
"Karena aku adiknya." balas Jaejoong dengan cepat dan menyingkirkan tangan Siwon dari pipinya. Dia tahu, seseorang jauh disana sedang memperhatikan dengan tatapan mematikan ketika tangan Siwon menyentuh pipinya.
"Ah, aku lupa. Mianhe, Jaejoong-ah." ucap Siwon dengan cepat seperti tersadar sesuatu. "Aku lihat hubunganmu dengan Yunho-ssi baik-baik saja."
"Ya, kami akan memulai hidup baru bersama. Kami akan meninggalkan Seoul. Bersama anak kami dan Changmin. Aku bermaksud untuk pamit kepada Kibumie hyung tadi, tanpa disangka malah ketemu hyung. Jadi aku sekalian mau pamit dengan hyung dan Heechul hyung."
"Kau memiliki anak?" tanya Siwon.
"Ya, aku sedang hamil 3 bulan." kata Jaejoong tanpa beban sambil mengelus perutnya.
"Oh, aku turut senang, Jaejoong-ah. Andaikan aku juga memiliki anak dari Kibumie." lirihnya lagi.
"Hyung, lupakanlah masa lalu itu. Aku tahu itu susah, tapi bila hyung melihat yang sekarang dan tidak pernah menoleh ke belakang, itu adalah hal yang mudah." ucap Jaejoong dengan tulus. Tangannya langsung menggenggam tangan Siwon. "Heechul hyung cukup baik untukmu, Siwon hyung." gumam Jaejoong kemudian.
Siwon seperti tersadar. Dia teringat dengan perlakuan Heechul yang baik terhadapnya selama ini. Selalu menemaninya disaat ia terpuruk. Dengan perhatian yang besar, meminjamkan pundaknya dikala Siwon teringat Kibum. Siwon tidak pernah memperhatikan itu. Dia terlalu sedih mengingat kematian Kibum.
"Sepertinya kau mulai sadar, hyung." kata Jaejoong yang seperti bisa membaca apa yang dipikirkan oleh Siwon.
"Ungh…"
"Sepertinya aku benar? Nah, aku menunggu kabar baik darimu, hyung. Hubungi aku, mungkin melalui Yunho. Aku tidak memiliki ponsel."
Tanpa berkata-kata, Siwon memeluk Jaejoong dengan erat. "Gomawo, Jaejoong-ah." bisik Siwon.
"Aku tidak melakukan apa-apa, hyung."
"Tidak, kau telah menyadarkanku."
"Baiklah, aku menyerah. Bisakah hyung melepaskan pelukan ini? Err..kau tahu alasannya, hyung."
Siwon terkekeh sambil melepaskan pelukannya.
"Jadi, kau akan segera pindah?"
"Setelah anak kami lahir, kami akan ke Gwangju."
"Lalu kapan kalian menikah?"
Jaejoong mengulum senyuman. "Setelah anak ini lahir juga."
"Sepertinya kehadiran anak kalian memiliki pengaruh yang besar."
"Ya, itu yang aku harapkan, hyung. Sudah cukup untuk semuanya. Aku selalu berdoa, agar hidup kami selalu bahagia."
"Ya, aku juga berdoa seperti itu. Selamat tinggal, Jaejoong-ah."
"Hyung jangan mengatakan itu, kita masih akan bertemu lagi."
Siwon mengerutkan keningnya.
"Kamu harus mengunjungiku di Gwangju, hyung. Aku tidak ingin kekerabatan kita putus."
"Oh, aku mengerti."
Jaejoong kembali memeluk Siwon yang dibalas Siwon dengan canggung.
"Anggap saja ini ucapan pamit dariku, hyung."
Setelah dari pemakaman tadi, Siwon mengajak Jaejoong dan Yunho untuk makan siang bersama di rumahnya. Bila dulu yang memasak adalah Kibum, sekarang adalah Heechul.
Heechul merasa senang melihat perubahan dari Siwon. Namja itu tidak bermuka murung lagi. Senyuman telah tampak diwajah tampannya.
Karena penasaran dengan obrolan singkat antara Jaejoong dan Siwon di pemakaman tadi, Heechul mendatangi Jaejoong yang terlihat sedang merapikan meja makan.
"Jaejoong-ah."
"Ya, ada apa hyung?"
"Ada yang ingin kutanyakan kepadamu."
Jaejoong mengerutkan keningnya, tidak berapa lama ia tersenyum. Sepertinya ada yang ingin dia sampaikan juga kepada Heechul.
"Oh, sebentar hyung. Aku masih merapikan meja makan."
"Tidak usah, Jaejoong-ah. Biar pelayan rumah ini saja."
"Tidak apa-apa, sebentar lagi."
"Baiklah bila kamu memaksa. Kau membuatku merasa tidak enak hati. Padahal kamu tamu di rumah ini."
"Hm, hyung sudah membuatkan makan siang untuk kami. Anggaplah ini balas budi dariku ne?"
Heechul menghela napasnya.
"Baiklah, aku akan menunggumu." kata Heechul pasrah.
Heechul memilih menunggu di ruang makan.
"Nah, hyung, apa yang ingin kamu tanyakan kepadaku?"
"Itu…aku melihat perubahan di wajah Siwon. Apa yang kamu katakan kepadanya?"
"Itu rahasia, hyung." jawab Jaejoong dengan senyum misteriusnya.
"Yah, kenapa begitu?"
"Aku terima hubungan hyung dengan Siwon hyung, karena memang ini yang diharapkan oleh Kibumie hyung. Kibumie hyung adalah orang yang baik."
Heechul hanya tersenyum kaku. Entah dia harus merasa senang atau tidak.
"A…ku tidak bermaksud begitu…"
"Bantulah Siwon hyung melupakan kesedihannya perlahan, buatlah ia menganggap dirimu, hyung."
"Huh?"
Heechul bingung dengan maksud Jaejoong.
"Bukankah sudah jelas hyung, Kibumie hyung menyuruhmu ke rumah ini, mendatangi Siwon hyung. Aku rasa Kibumie hyung tidak ingin Siwon hyung merasa sedih, karena ada dirimu. Dan bukankah hyung merasa bahagia di rumah ini? Sepertinya itu adalah sesuatu yang saling menguntungkan. Seperti yang kukatakan tadi, Kibumie hyung adalah orang yang baik."
"Jae…apa mungkin…?"
"Ya, Siwon hyung sudah menyadarinya betapa berartinya dirimu setelah kematian Kibumie hyung."
"Jaejoong…aku tidak tahu harus berkata apa lagi…"
"Oh ya, apa hyung tidak ingin mengunjungi orangtua hyung? Ahjussi dan ahjumma sangat merindukanmu."
"Mwo? Apa kamu mengenal orangtuaku?" tanya Heechul terkejut.
"Tentu saja. Aku tinggal di sebelah apartement mereka. Mereka sangat merindukanmu, hyung."
"Apa kamu membicarakan sesuatu tentangku?"
"Tidak, aku merasa itu adalah privasi, hyung."
"Sebenarnya…aku takut bertemu dengan mereka. Appa pasti menganggap aku anak durhaka karena menghilang tanpa kabar."
"Aniya! Mereka menunggumu kembali, hyung."
"Be…benarkah?"
"Ne, kunjungilah mereka. Keadaan ahjussi sudah membaik."
"Ba…baiklah…"
Heechul langsung memeluk Jaejoong dengan erat tanpa aba-aba, membuat Jaejoong agak termundur sedikit dari kursinya.
"Hyung…anakku terjepit…" gumamnya.
"Astaga! Mianhe!"
Heechul langsung melepaskan pelukannya. "Aku hanya terlalu senang saja." tambahnya.
"Jadi, kamu akan langsung pindah begitu anakmu lahir eoh?"
Heechul sudah mengetahui perihal rencana kepindahan Jaejoong dan Yunho, karena Siwon menceritakannya di perjalanan pulang tadi.
Jaejoong memandang perutnya, tangannya mengelus lembut perutnya. "Ya, anak ini perlu suasana baru."
"Aku pasti akan kesepian sekali."
"Masih ada Siwon hyung yang menemanimu setiap saat, hyung." goda Jaejoong.
"Ya! Itu lain!"
.
.
.
Hari telah menjelang sore, Jaejoong dan Yunho berpamitan untuk pulang. Mungkin setelah ini mereka tidak akan bertemu dalam waktu dekat. Tapi, mereka pasti akan bertemu kembali sesuai janji Siwon yang akan mengunjungi Jaejoong bila ia pindah ke Gwangju.
"Joongie, kita ke rumahku dulu ne?"
"Untuk apa?"
"Yoochun dan Junsu menungguku disana. Yoochun ingin meminta maaf kepadamu."
"Minta maaf?"
"Hum! Sekalian aku juga ingin pamit kepada mereka dan pelayan rumah Jung. Aku ingin tinggal di apartementmu."
"Kau yakin, Yunnie? Apartementku tidak besar."
"Tidak apa-apa, yang penting aku bersamamu dan anak kita."
Jaejoong tersenyum kepada Yunho. Yunho merupakan namja yang sempurna dimatanya.
"Lalu koleksi berlianmu?"
"Mungkin akan kulelang saja. Aku akan menyuruh Junsu untuk mengurusnya. Aku sudah tidak memerlukan bisnis seperti itu lagi."
"Kau bersungguh-sungguh, Yunnie?"
"Ya, bukankah kita memulai dari awal hidup ini?"
Jaejoong terkekeh geli. "Lalu kamu mau usaha apa di Gwangju nanti Yunnie?"
"Melanjutkan perkebunan appa yang sempat terabaikan. Dulu appa adalah produsen sayur-sayuran dan buah-buahan. Ketika ia berpindah ke bisnis berlian, dia melupakan perkebunannya."
"Oh, sepertinya itu ide yang bagus, Yunnie. Aku akan mendukungmu."
"Kau memang istri yang baik, Jaejoongie."
Jaejoong tertunduk malu, pipinya memanas mendengar ucapan Yunho.
"Nah, turunlah. Kita sudah sampai."
"Ya."
Mereka berdua sudah disambut oleh Yoochun dan Junsu. Dan mereka berempat duduk di ruang pribadi Yunho.
Begitu Jaejoong baru saja duduk, Yoochun langsung berlutut di depannya sambil menggenggam tangannya.
"Jaejoong-ssi. Maafkan aku. Aku selama ini selalu mencurigaimu, aku mengaku bersalah. Aku turut berduka atas kematian Kim Kibum." kata Yoochun dengan wajah menyesalnya.
"Bangunlah, Yoochun-ssi. Aku tidak pernah menganggapmu musuh. Masalah yang telah terjadi biarlah terjadi. Jadi, perkenalkan namaku Kim Jaejoong."
Yoochun menatap Jaejoong dengan wajahnya yang bingung begitu juga dengan Junsu. Namun Yunho yang memang mengerti langsung menepuk pundak Yoochun agar dia berdiri dari posisi berlututnya.
"Park Yoochun."
Yoochun melepaskan genggaman tangannya, lalu ia berjabat tangan dengan Jaejoong.
Otak Yoochun yang pintar menyimpulkan bahwa dengan perkenalan mereka tadi, Jaejoong menganggap mereka belum pernah bertemu di hari-hari sebelumnya.
"Jadi, hyung akan pindah ke Gwangju bersama Jaejoong setelah anak kalian melahirkan? Bagaimana dengan rumah ini?" tanya Junsu setelah Yunho menjelaskan arti pertemuan mereka.
"Iya, kami juga bersama Shim Changmin. Adiknya Jaejoong. Kalau rumah ini…"
"Omo! Shim Changmin?! Pemilik toko berlian itu?!" kata Junsu dengan suaranya yang hampir tercekat.
"Kamu mengenalnya, Junsu hyung?" tanya Jaejoong.
"Itu…dia pernah membeli kalung disana." Yoochun langsung memotong sebelum Junsu mengeluarkan suara. Lebih baik ini menjadi rahasia mereka kalau Junsu hampir menembak Changmin hanya karena kalung berlian milik Jaejoong dulu.
"Oh, begitu."
"Ya! Aku belum selesai bicara. Kamu suka sekali memotong pembicaraan orang, Junsu-ah!"
"Mianhe." gumam Junsu. Dia hanya terlalu kaget ketika nama Shim Changmin dilontarkan.
"Jadi, ada kemungkinan rumah ini akan aku jual. Aku tidak akan memecat pelayan yang berada di rumah ini. Mereka boleh mengabdi kepada rumah ini dengan pemilik barunya nanti. Aku akan menggaji pelayan yang berada di rumah ini bila rumah ini belum memiliki pemilik baru. Dan…Junsu…" Yunho mengarah kepada Junsu yang disambut tatapan serius dari Junsu. "Aku ingin kamu melelang semua koleksi berlian yang masih ada. Aku tidak akan melanjutkan bisnis itu lagi."
"Mwo?!"
Sontak Junsu dan Yoochun terpekik.
"Aku akan melanjutkan perkebunan appaku di Gwangju. Aku lebih memilih hidup sebagai orang biasa tapi aku selalu bahagia bersama keluarga kecilku, daripada aku hidup kaya tapi aku kesepian." ucap Yunho dengan tegas.
Junsu dan Yoochun kagum dengan ucapan tegas dari Yunho. Mereka tahu Yunho serius dalam berbicara dan bertindak.
"Kalau hyung memilih begitu, aku tidak bisa menolak. Kami akan mendukungmu, hyung."
"Gomawo, Yoochun-ah."
"Hyung…aku pasti akan merindukan kalian…" lirih Junsu.
"Kau bisa tinggal bersama kami bila kamu mau, Junsu hyung."
Junsu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Masih ada orangtua yang harus kuurus. Aku ingin menjadi anak yang berbakti."
"Kamu masih bisa mengunjungi kami di akhir pekan, Junsu-ah."
"Ne, hyung. Setidaknya aku masih bisa melihat anak kalian lahir sebelum kalian pindah."
Jaejoong berdiri kemudian mendatangi Junsu dan langsung memeluknya dengan erat. "Gomawo." bisik Jaejoong.
Kemudian dia beralih kepada Yoochun, niatnya ingin memeluk Yoochun, tapi ia agak canggung.
"Kamu tidak ingin memelukku?" goda Yoochun.
Jaejoong tersenyum dan langsung memeluk Yoochun. "Aku titip Junsu hyung kepadamu, hyung." bisiknya.
Perkataan Jaejoong tadi membuat wajah Junsu memerah karena malu dan membuat tubuh Yoochun menjadi tegang, kaku dan tidak bisa bergerak.
Yunho dan Jaejoong bersama-sama tertawa melihat tingkah mereka. Mereka berdua sudah menyadari bahwa sebenarnya Yoochun dan Junsu saling menyukai.
"Baiklah, mulai hari ini aku akan pindah ke apartement Jaejoong. Sebaiknya aku pamit kepada Kwon ahjumma dulu. Ayo, Jaejoongie." ajak Yunho yang langsung menarik Jaejoong meninggalkan ruang pribadinya. Meninggalkan Yoochun dan Junsu yang masih dalam keadaan shock-nya.
.
.
.
Yunho dan Jaejoong sudah dalam perjalanan menuju apartement Jaejoong. Masih teringat dibenak Yunho ketika Kwon ahjumma menangis tadi ketika ia berpamitan. Bagaimanapun juga, Kwon ahjumma memiliki peran yang besar bagi kehidupan Yunho.
Yunho merasa keputusan yang ia ambil sudah benar. Yunho berjanji tidak akan melihat ke belakang lagi. Yang sekarang harus ia pikirkan adalah masa depan keluarga kecilnya nanti.
"Yun, kamu ingin anak kita namanya siapa? Aku bingung…" gumam Jaejoong.
Yunho diam seperti berpikir dengan tatapan fokus ke jalanan. "Engh…Yoon-Jae. Jung Yoon-Jae."
"Mwo? Yoon-Jae?"
"Ne, itu bagus. Singkatan nama kita, Yoon untuk Yunho dan Jae untuk Jaejoong."
Jaejoong memukul lengan Yunho dengan pelan. Sebenarnya untuk mengalihkan rasa senangnya. "Aku menyukainya, tapi itu untuk anak laki-laki bukan? Bagaimana bila anak kita perempuan eoh?"
"Aku tidak tahu…aku menginginkan anak laki-laki."
"Ya! Kau tidak bisa menentukan jenis kelamin anakmu, Yunnie!" ucap Jaejoong sedikit kesal.
Karena pemikiran mereka saat ini sedikit bertentangan, Yunho jelas menginginkan anak laki-laki, dan dia menginginkan anak perempuan.
"Jung Ji-Yool."
Jaejoong langsung menoleh ke arah Yunho. Agak menarik leher Yunho dan mengecup pipi Yunho dengan cepat. Yunho tentu saja kaget, hampir saja dia membanting stir mobilnya. Bagaimana bila mobilnya menabrak trotoar atau pengendara lain eoh?
"Jaejoongie!" pekiknya.
Jaejoong hanya tersenyum malu-malu.
"Jung Yoon-Jae dan Jung Ji-Yool. Nama yang bagus, aku menyukainya Yunnie." kata Jaejoong sambil mengusap-usap perutnya yang memasuki bulan keempat itu.
"Ke…kembar?" tanya Yunho tidak percaya.
Jaejoong tidak menjawab pertanyaan Yunho, dia hanya tertawa melihat reaksi Yunho.
"Molla." jawabnya dengan santai.
The End
Give me some review ~
Thank you for your review ~ I'm really appreciate that.
Big thank's to :
Casshipper Jung, Yunjae perfect mPreg, Jaeyun, mikki mikki, CheftyClouds, Kim Eun Sob, shawon20, Isnaeni love Sungmin, Vic89, NaraYuuki, 3240 KKB, Jaejung Love, MaghT, runashine88, Jung-jung, Kim Min Ah, Cherry Yunjae, cindyshim07, KimYcha Kyuu, irengiovanny, ajid yunjae, riska0122, meybi, YunHolic, sissy, missy84, Himawari Ezuki, Jejevan, auhaehae, Jae milk, 95CassieYJ, SimviR, jungri27, dennis park, gege, LEETEUKSEMOX, JungKimCaca, lipminnie, meyy-chaan, Izca RizcassieYJ, dianaes, I was a Dreamer, nope6002, Chris1004, yuuu, dennis park, jema agassi, Minhyunni1318, L Hyemi, Cho Sungkyu, , yunjae shipper, kazamatsu, cathsp, Dipa woon, MermutCS, Juuunchan, UMeWookie, iru iru g, Jung Jaehyun, ifa p arunda , Angel Muaffi, yoon Hyunwoon, abilhikmah, mYesungie Wife, RismaChunnie, Baby Cho Brannick, zhe, holepink, cminsa, Yunjae Believer, diaNAES, De, kim shendy, han eun ji, vampireyunjae, JeJeSalvatore, toki4102, neya lee, fha, anf, Michelle Jung, bearnya jung, NaYun, sarang, minnie, chibiechan01, airuma yuichi, yyyjjj5, hibiki kurenai, PiePilly, DeLoAniman U-know, My beauty jeje, Kim Ri Ha, Na BearBooJae, dan Guest.
Present for :
Yunjae
Yunjae Shipper
#Always Keep The Faith
NB :
1. Terima kasih untuk readers, i cant writing this story without u all.
2. Bdw, butuh EPILOG? :O
Balikpapan, 05 September 2013
ZE.
