Rewrite The Stars

By: the autumn evening

Pairing: Sasuke/Sakura

Rating: T

Disclaimer: I do not own Naruto. Title is from Anne-Marie James Arthur's song

Warning: AU. Multi chapters. SASUSAKU. Slight!SasuIno. Past!GaaSaku. Klise. Typos (do tell if you find any). AbsurdButAdorable!Sakura.

Summary:

Pemuda Misterius bertanya, "Siapa yang sedang kau pandangi?" Tanyanya padaku yang sedang terpaku memandang seorang Pemuda Tampan dari kejauhan

"Aku tidak sedang memandangi. Aku sedang mengagumi—dari jauh."

Pemuda itu jelas tidak percaya dengan sanggahanku, karena selanjutnya dia mengatakan; "Orang menyebutnya menguntit."

o

O

o

Chapter 20

At Least I Don't Love You (Yet)

O

O

O

Koridor penuh dengan siswa. Aku berdiri di ujung gedung sains dan menulikan telingaku dari bisik- bisik ingin tahu atau tatapan menuduh. Mereka mungkin tahu aku sebagai saudara tiri Sasuke atau siswa baru yang baru gabung di tim cheers. Aku merasakan ketidaknyamanan di dadaku saat aku melangkah maju. Tidak sulit untuk sampai pada tujuanku. Tentu saja dia membuatku lebih mudah dengan berjalan ke arahku.

"Hai," sapaku.

Matanya mengerling saat dia perlahan mengarahkanku ke pinggir koridor. Aku melihat mata birunya dan ikut tersenyum melihat wajah ramahnya.

"Ada apa?"

Aku terkekeh mendnegar pertanyaan tanpa basa basinya. "Aku butuh bantuanmu."

Dia mengelus dagunya sambil memamerkan senyum lebarnya. "Tentu saja. Katakan apa itu dan aku akan usahakan sebisaku."

Aku menarik nafas dalam dan bersiap-siap. "Sasuke. Kau sudah dengar rumornya?"

"Sepertinya semua orang dengar." Dia menyandar pada loker merah dan menyilangkan lengan di dada. Aku tersenyum lemah.

"Ya. Tentu saja semua sudah dengar." Gumamku. Setidaknya aku berhutang penjelasan padanya kalau dia mau membantuku. Kami tidak sedekat itu, tapi ada ikatan tak terlihat di antara kami. Lemah, tapi ada. "Apa kau tahu di mana dia sekarang?" Tanyaku akhirnya.

Dia menatapku, "Kenapa kau pikir aku tahu di mana dia?"

Aku mengedikan bahu. "Kau pernah tinggal bersamanya." Aku menjeda, menyusun kata-kata. "Aku pikir kau tahu sesuatu tempat yang biasa dia tuju saat sedang down."

Keheningan mencekik leherku, namun saat dia akhirnya bicara, aku menghela nafas.

"Pantai," jawabnya. "Dia biasanya mengendai motornya di tengah malam dan pergi. Dia ke pantai kalau sedang ingin sendiri."

Aku mengangguk, dan menatap wajahnya lebih dalam. Keceriaan yang biasa tidak ada di sana. Kenapa semua orang terlihat depresi akhir-akhir ini?

"Bagaimana kau bisa tahu?" Aku memang berpikir dia tahu, namun bagaiama caranya dia bisa tahu ?

Naruto tersenyum miring. "Aku yang memberitahunya tentang tempat itu."

O

O

O

"Haruno Sakura" senyumnya lebar memamerkan gigi dan matanya tajam menatap mataku. Terlalu intens.

Aku bergerak gugup, konsentrasi matanya membuat kulitku merinding tak menyenangkan dan membuatku ingin menyembunyikan kepalaku di bawah bantal. Namun aku hanya bisa membalas senyumnya dan mencoba tetap menegakan tubuhku.

"Hai," kataku lirih. Aku mencoba untuk tidak mengernyit saat dia mendekat dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga. Oh, ha... cuma itu? Aku sedikit merasa bersalah karena terlalu waspada di hadapannya. Mungkin instingku salah kali ini. Mungkin aku harus mendengarkan apa kata orang bahwa dia baik.

Kalau kata mereka dia baik, bukankah itu artinya dia memang baik? Lalu kenapa aku masih saja meragukannya?

"Kau sangat cantik, kau tahu?" Katanya perlahan, seperti dia ingin aku tahu betapa dia sungguh-sungguh dengan mengulur dan memberi jeda pada tiap kata.

Aku mencoba untuk tidak menatapnya datar dan mencengekram gelangku erat.

O

O

O

Aku berlari kencang. Paru-paruku terbakar dan aku merasakan rasa sakit yang tajam seperi jarum menusuki kakiku. Rambutku menempel di wajah, aku hanya bisa berpikir tentang Sasuke dan Ino. Bagaimana kalau— bagaima kalau apa yang dikatakan Shion dan Sara benar? Bagaimana kalau aku mengatakan sesuatu yang membuat Ino memutuskan Sasuke?

Aku mengambil ponselku dari saku. Shizune. Dia pasti tahu apa yang harus aku lakukan.

"Shizune," panggilku sambil menyandar pada pohon terdekat. Kepalaku terasa ringan karena aliran darah yang kencang di sana dan tenggorokanku kering. Aku menunduk menatap sepatuku dan terkejut saat mendengar suara yang menyahutku dari seberang.

"Shizune sedang bicara dengan guru." Kata suara rendah itu, "Ini siapa?"

Mataku melebar saat mengingat suara itu. Aku berpegangan pada pohon dan mencoba bernafas teratur. "Sasori?" tanyaku.

Jeda sebentar. "Haruno Sakura."

Aku memejamkan mata, sudah kuduga. "Hai,"

"Wow, sudah lama sekali aku tidak mendengar— bagaimana kabarmu?"

Aku tersenyum, mengesampingkan apa yang aku alami, mengesampingkan apa yang dia lihat, Sasori adalah orang baik. Walau dia adalah sahabat dari orang yang mengacaukan hidupku. Tapi yang lalu biarlah berlalu. Aku sudah mencoba dengan keras untuk melupakannya.

"Aku baik," jawabku seceria mungkin, "kau sendiri?"

"Aku juga."

Kami diam, aku mendengarkan dia bernafas, dan suara lain di latar belakangnya—mungkin suara Shizune dan Guru. Kalau Sasori menjawab telepon Shizune, itu artinya mereka sudah pacaran. Kami lama tidak mengobrol, kenapa Shizune tidak memberitahuku?

Aku mengigit bibir bawahku dan menghela nafas. "Bisa sampaikan padanya untuk meneleponku balik?"

"Tentu saja, Sakura."

Aku tertawa, "Sampai jumpa, Sasori." Aku menutup sambungan dan sesaat termenung. Aku sempat terdistraksi oleh Shizune sebelum aku mengingat kembali misiku."

O

O

O

"Ugh. Dia cantik sekali. Aku benci dia."

"Kenapa dia pake baju jelek itu? Apa dia mau buktikan kalau dia cantik pakai apapun?"

"Dia mencoba merebut pacar Temari. Aku dengar dia memojokannya di kamar mandi."

"Aku dengar dia jalang. Seseorang bilang dia murahan."

"Aku dengar dia pernah aborsi, dua kali!"

"Pelacur."

"Jalang."

"Aku benci dia"

O

O

O

Aku menemukannya.

Aku tidak akan berpura-pura. Aku lelah karena aku berlari menyusulnya. Aku tersesat. Aku memanggil taksi dan naik bus. Aku mencari dan mencari dan mencari, dan aku tidak menemukannya agar aku bisa berjalan perlahan mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Walau sisi rasionalku menyuruhku begitu.

Aku tidak akan memberinya waktu untuk bicara saat aku membolos kedua kalinya untuknya. Aku tidak mengorbankan wakuku melakukan apa yang aku lakukan untuk sembarang orang. Well, mungkin tergantung apakah orang itu sungguh membutuhkan seseorang. Dan saat ini, Sasuke membutuhkan orang lain entah dia senang atau tidak. Aku berlari ke arahnya dan berhenti di belakangnya.

"Kau membolos sekolah!" Aku berteriak. Aku pikir Sasuke terkena serangan jantung, jika melihat ekspresi shock-nya saat melihatku... yang kemudian berubah marah. Oke, mungkin aku mengganggunya yang sedang ingin sendirian menatap laut. "Nilai itu penting."

"Kemarin kau tidak komplain." Ketusnya, "saat kita menbolos untuk beli donat, jadi diam."

Aku tidak akan mundur. Aku melipat lengan di depan dada dan mendudukan diri di hadapannya. Dia harus menatap mataku. Aku akan menyuruhnya untuk bangkit dan mengejar Ino, karena itulah yang harus dia lakukan. Dia harus menbuktikan pada Ino bahwa dia akan memperjuangkannya. Karena kalau tidak, bagaimana hubungan bisa bertahan?

"Kau keluar jam enam pagi tadi," kataku tenang.

Dia tidak menatapku, "Stalker."

"Kita tinggal di rumah yang sama!"

"Dengar, Sakura. Kau pasti akan tetap di sini karena kau tidak punya tumpangan." Bagaimana dia bisa tahu? "Jadi, kalau kau masih mau di sini, bisa tolong diam dan duduk saja?"

Karena dia sedang sedih, aku menurutinya namun aku tidak bisa berhenti memelototinya. Menghela nafas, aku mendudukan diri dalam jarak cukup jauh darinya. Dia duduk di sebuah batu, dengan tatapan lurus ke depan. Aku menghela nafas, bahkan melihat Sasuke demikian, aku masih tidak bisa turut bersedih untuknya.

Dan itu menbuatku ingin menangis.

O

O

O

Suara terpekik kaget terdengar dan aku mencoba untuk tidak mengernyit saat aku mendengar langkah kaki mendekatiku. Aku tersenyum malu pada Mama Tsunade yang merengut menatapku. Dia menyingkap rambut yang mulai kaku dari wajahku dan menatap tepat di mataku.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanyanya, "siapa—siapa yang begitu kejamnya melemparimu dengan... oh Tuhan, apa ini susu? Dan... telur..?

Aku mengedikan bahu dan tersenyum. "Mama, tidak apa-apa. Ini tidak bahaya." Aku menenangkannya. "Ini bukan, apa-apa, lihat? Teman sekelasku selalu melakukan ini satu sama lain. Hanya bercandaan." Aku terkekeh dan mencolek pipinya karena Mama terlihat sangat khawatir dan aku ingin membuatnya berhenti merengut. Aku kuat. Bukankah dia yang mengajariku untuk jadi kuat?

Well, aku mengajari diriku sendiri untuk kuat.

Aku tidak mengedipkan mata saat Mama meraih lenganku. Lebam di kulitku terasa sakit karena sentuhannya, tapi aku tidak mengatakan atau bereaksi apapun. Aku belajar caranya diam.

"Ayo bersihkan tubuhmu lebih dulu," gumamnya.

"Tidak apa-apa, Ma." Dengan lembut aku melepaskan pegangannya, dan menghindari tatapannya. "Aku bersihkan sendiri. Aku sudah cukup besar untuk menjaga diri sendiri."

O

O

O

"Aku bicara dengan Ino semalam."

Aku tidak melihat Sasuke, aku menatap lurus ke depan dan memeluk kakiku dan menumpukan dagu ke lutut. Aku berusaha untuk tidak gemetar. "Apa yang dia katakan?" tanyaku.

"Dia memberitahu kenapa dia putus denganku. Dia bilang dia membantuku, dan bahwa dia tidak tahan jika melihat aku berubah dan dia tidak. Dia bilang mungkin kami butuh waktu untuk menyelesaikan ini." Sasuke tertawa pendek. "Membantu apa? Aku berubah bagaimana?" Ekspresinya masam.

"Sepanjang penjelasannya, aku hanya berdiri dan menerimanya karena aku tidak tahu apa yang dia bicarakan."

Saat itu, aku merasakan jantungku berdegup kencang, dan tiba- tiba saja aku tahu apa yang harus aku katakan. Karena untuku, semua masuk akal. Aku tahu kenapa Ino putus dengan Sasuke. Itu karena aku, aku terlalu bodoh mencoba untuk membuat diriku sendiri percaya bahwa aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah mereka.

Ini salahku, dan aku tidak takut mengakui kebenarannya.

"Ini semua salahku." Kataku, dengan suara tidak sekuat yang aku harapkan. Aku mencoba untuk tidak memukul kepalaku. Aku harus tegas, Sasuke harus mengerti. "Aku mengobrol dengannya sebelum dia memutuskanmu. Dia bertanya beberapa hal padaku, aku tidak menyuruhnya memutuskanmu, tapi entahlah. Mungkin aku menyiratkannya, bahwa aku adalah ancaman." Aku mengangguk. "Dia mungkin tahu apa yang kita lakukan 'hari itu' dan—"

"Sebentar." Sasuke menaikan tangannya, dia menatapku tidak percaya. "Memang apa yang kita lakukan 'hari itu'?" Tanyanya sarkastik, wajahnya tiba-tiba memerah marah dan aku takut untuk meneruskan.

Ada apa dengannya? "Um, kau tahu lah, hari saat aku memberitahumu—"

"Kita tidak melakukan apapun," katanya tajam. "Semuanya adalah interaksi inosen, tidak ada yang terjadi."

Aku menatapnya aneh, aku masih tidak tahu harus terluka atau tidak mendengar responnya. "Well, dia tahu bahwa kau tidak sepenuhnya inosen." Kataku, mencoba mengatur ekspresiku. Sasuke mendengus dan menyilangkan tangan di dada. "Maksudku, Sasuke, aku secara tidak langsung mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu!" Aku menunjuknya gusar. "Apa itu tidak berarti apapun?"

Mata Sasuke seperti melubangiku. "Yeah, well, dan kau juga tahu perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan." Kata Sasuke, "tapi kita tidak melakukan apapun, aku tidak selingkuh. Aku mengabaikan perasaanku padamu m dan tidak melakukan apapun. Ino tidak tahu apa yang terjadi, karena memang tidak ada yang terjadi."

"Dia tidak buta, Sasuke!" Aku berteriak. Kalimat Sara dan Shion tiba-tiba mencakar dadaku. "Sasuke, dia bisa melihat cara kita berinteraksi. Kita tinggal di rumah yang sama, bagaimana bisa dia tidak merasa terancam?" Aku mencoba membuat Sasuke mengerti dari sudut pandang Ino. Karana Ino baik dan dia pantas untuk dicintai dan kemabli bersama Sasuke.

"Itu karena kita saudara tiri!" Sasuke berteriak balik. "Karena perasaan ini terlarang, karena orang tua kita menikah. Kita tidak bisa mengekspresikan perasaan kita, karena itu akan menghancurkan apa yang ayahku dan ibuku bangun. Dia tidak perlu merasa terancam kalau saja dia mempercayai aku akan setia padanya. Karena aku tidak akan pernah bisa bersamamu karena ini—salah."

Aku menatapnya, mencoba mencerna kalimatnya. Rahangnya mengatup erat dan tangannya mengepal. Aku melihat urat nadi timbul di lehernya. Matanya membakar mataku.

"Ini salah," aku menyetujui, "mungkin kita hanya terbawa suasana." Lanjutku kosong. Mungkin aku benar, mungkin yang kami rasakan hanya perasaan sementara. Banyak orang saling menyukai di luar sana lalu move on dengan yang lainnya, bukan? Kalau kau sering menghabiskan waktu dengan seseorang, pada akhirnya kau akan menyukai orang itu. Kehadiran Sasuke di hidupku, dan aku di hidupnya menimbulkan perasaan ini pada diri kami. Hanya itu penjelasan logis yang bisa otakku pikirkan saat aku menatap tanganku. Aku mencarinya, berlari menyusulnya, walau aku tahu Dia mungkin sedang ingin sendirian. Apa hal ini memiliki makna lebih?

Tapi yang membuat aku paling takut adalah aku mencemaskannya. Walau aku tidak bisa bersedih untuknya, aku masih merasa resah di dada.

Aku menahan keinginan untuk bangkit dan berlari. Aku menatap wajahnya yang gundah dan tersenyum melihatnya.

"Ini menyebalkan." Katanya, aku dapat merasakan frustasi yang dia rasakan.

Aku terkekeh kecil, rasa berat di dadaku semakin jelas. "Setidaknya kita tidak sampai saling cinta," aku bercanda, "kalau iya, akan lebih buruk."

Sasuke mendengus, menyandar pada ke dua tangan yang menumpu di atas pasir, kami berdua menatap garis laut yang bertemu langit. "Yeah. Tamat kalau sampai begitu."

O

O

O

AN: Paragraf bertulisan miring di chapter ini adalah flashback, yaa.

Terimakasih suda membaca.

Kritik, saran dan pendapat silahkan sampikan lewat review.

-with cherry on top-