tadaima!
gomen bwat lamaaaa bangeet ga update! #bow#
bwat yg udah nunggu, arigatou gozaimasu #bow
ok... tanpa banyak basa basi lagi, here is it...
Chapter 19 Taman bermain X jalan-jalan
Review last chapter: setelah satu minggu keadaan Kurapika semakin membaik dan Kuroro memutuskan untuk mengajak mereka ke taman, di taman mereka bertemu dengan Lucy, teman sekelas Al. Selain mengajak ke taman, Kuroro menjanjikan untuk mengajak Al ke taman bermain.
.
.
.
Esok paginya
Suasana pagi di apartemen Kurapika dan Kuroro sudah sangat ramai. Celotehan Al dan Ares memenuhi ruangan. Al yang sudah tidak sabar ingin pergi jalan-jalan terus mengikuti Kurapika yang tengah menyiapkan semua keperluan mereka untuk hari ini.
"mama... mama... kapan kita pergi?" tanya Al penuh antusias.
"nanti kita pergi jam 9"
"jam 9? Jam 9 itu kapan?"
"2 jam lagi kita berangkat ya"
"2 jam itu berapa lama?" Al semakin tidak sabar.
"huft... nanti kalau sudah siap kita berangkat ya"
"ayo sekarang"
"belum... papa juga masih di kamar"
"papa!... papa!... papa!" teriak Al sambil berlari ke kamar. Ia menggedor-gedor pintu kamar saat ia tahu ia tak bisa masuk.
Cklek!
Pintu kamar terbuka dan Kuroro muncul dari balik pintu. Ia sudah selesai mandi dan telah siap.
"ayo pergi sekarang" pinta Al langsung.
"nanti... taman bermainnya belum buka kalau sekarang"
"suruh buka... paman Zaburo bisa buka pintu"
"tapi bukan paman Zaburo yang jaga di sana"
"siapa?"
"entah" Kuroro menggendong sulungnya itu dan berjalan mendekati Ares yang ada di ruang tengah.
"hey... Kurapika... kau sedang apa?"
"aku sedang menyiapkan makanan dan susu untuk Ares... kau bisa bantu aku siapkan baju mereka?"
"baiklah... mana tasnya?"
"ada di kamar mereka... ambil saja baju yang mudah di pakai"
"ok" Kuroro menaruh Al di sofa dan segera berlalu menuju kamar anak-anak.
"Al... sarapan dulu yuk..." Kurapika yang sudah selesai segera mendekati Al.
"um!" Al segera lompat dari sofa dan berlari ke meja makan.
Kurapika mendekati Ares dan segera menggendong bayi itu. Ia menduduk kan Ares di tempat biasa dan mulai menyuapinya.
"kau juga sarapan lah" tegur Kurapika saat ia melihat sosok Kuroro yang keluar kamar sambil membawa tas kecil.
"yah... aku akan sarapan"
"sudah ku buat kan kopi... aku tak tahu berapa banyak gula yang kau pakai jadi ku biarkan itu tetap pahit" jelas Kurapika.
"arigatou" Kuroro duduk di depan Kurapika dan mulai memasuk kan gula ke dalam kopinya. Dua sendok.
"sarapan hari ini hanya roti bakar?"
"aku tak sempat menyiapkan yang lain... lagi pula bukan kah kemarin kau bilang masakan ku tak enak?"
Kuroro tak berkomentar dan mulai makan.
.
Skip time
.
Mereka kini sedang di dalam mobil. Al semakin aktif bertanya tentang banyak hal yang ia lihat. Semua yang terlihat di matanya bagaikan dunia baru untuknya.
"huft... anak mu benar-benar bawel Kurapika" Kuroro membawa mobil dan memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan Al yang tak pernah habis.
"ini masanya ia ingin tahu... semua hal pasti menarik untuknya jadi wajar saja kalau ia terus bertanya" Kurapika menjawab dengan tenang.
"ku rasa waktu kecil kau juga bawel sepertinya"
"mungkin"
"papa... papa... itu apa?" Al kembali bertanya.
"mana?" Kuroro melihat ke arahnya lewat spion.
"itu" Al menunjuk jauh keluar mobil tak pasti apa yang ia tunjuk.
"itu... hmmm... ah! Itu badut" Kuroro mencoba menebak apa yang kira-kira menarik perhatian Al.
"Al mau lihat itu"
"di taman bermain juga banyak ko"
"mau!" Al semakin tak sabar.
.
Skip time
.
Antrian untuk masuk taman bermain sudah sangat ramai meskipun hari masih pagi. Banyak orang dan keluarga yang sudah mengantri tiket masuk.
"masih pagi tapi suasana sudah sangat ramai" Kuroro melihat sekitar. Ia ikut mengantri sambil menggendong Al.
"ini kan akhir minggu, jadi wajar kalau taman bermain sangat ramai" Kurapika yang menunggu di luar antrian sambil mendorong kereta bayi milik Ares. Ia melihat ke depan, mencoba melihat berapa banyak lagi antrian yang tersisa.
"yah... sepertinya aku salah memilih hari untuk kita" Kuroro maju perlahan.
"ini waktu yang paling tepat... sekolah Al hanya libur di akhir minggu"
"yah..." Kuroro kembali maju. Sebentar lagi giliran mereka dan Al sudah semakin bawel. Anak itu tampak sangat senang saat melihat wahana permainan yang ada di dalam. Beberapa kali kaki mungilnya menendang-nendang Kuroro karena terlalu ingin berlari ke dalam.
"tiket untuk berapa orang, tuan?" tanya salah seorang penjaga kepada Kuroro.
"aku punya tiket ini... bagaimana cara kerjanya?" Kuroro menunjukan tiket gratis yang di berikan Shal padanya.
"ah... anda pemenang yang beruntung itu ya? Selamat tuan" petugas itu memberi salam.
Kuroro yang tak terlalu mengerti apa yang di maksud petugas itu hanya membalas ucapan selamat darinya dengan tenang.
"tiket ini berlaku untuk satu keluarga yang terdiri dari 4 orang... dan tiket hanya berlaku sepanjang tahun ini, tiket ini di kenakan pada anggota keluarga yang berumur di atas 3 tahun... kalau boleh tahu, berapa umur anak anda yang besar tuan?"
"umurnya 3 tahun 5 bulan" jawab Kuroro tenang, ia masih saja menahan Al yang selalu ingin kabur.
"baiklah kalau begitu... tiket ini akan di pakai untuk 3 orang" petugas itu siap memberi stempel pada tiket yang di berikan Kuroro tadi.
"bagaimana dengan bayi kami?" Kuroro melihat petugas itu.
"bagi anak yang berusia di bawah 3 tahun akan mendapat tiket gratis tuan" jawab petugas itu ramah sambil memberi stempel. Seorang petugas lain memberikan 4 buah gelang yang ada lambang taman bermain sebagai tanda pengenal mereka. Kuroro memakai gelang itu di tangannya dan Al, begitu juga dengan Kurapika. Namun karena gelang itu masih terlalu besar untuk tangan mungil Ares, Kurapika memakaikannya di pergelangan tangan bayi itu.
Mereka pun masuk taman bermain. Saat melihat semua wahana yang tersedia di dalam, tubuh mungil Al tak bisa lagi di tahan, ia segera melompat turun dari gendongan Kuroro dan segera berlari kesana kemari, di ikuti oleh Kuroro. Kurapika geleng-geleng melihat tingkah polah Al, ia mendorong kereta bayi Ares dengan santai sambil melihat-lihat keramaian di sekitar. Sudah lama ia tak bersantai. Celotehan riang Ares dengan bahasa bayi miliknya itu menambah ramai suasana.
"hei... Kurapika!... jangan melamun... nanti kalau kalian hilang aku juga yang repot"
"siapa yang melamun? Aku hanya sedang melihat keramaian di sini"
"mama! Ayo main" Al melihat Kurapika. Ia sudah berada di gendongan Kuroro lagi.
"kakak Al mau naik apa?"
"hmmmm... itu!" anak itu tampak berpikir keras sambil melihat-lihat wahana yang ada. Akhirnya ia menunjuk sebuah bom bom car yang ada di sebrang mereka.
Kuroro berjalan ke arah yang di tunjukan oleh anak sulungnya itu, sedangkan Kurapika berjalan ke arah lain menuju sebuah papan besar dengan denah taman bermain yang terpasang di sana. Kurapika memperhatikan denah itu baik-baik dan kembali mendekati Kuroro.
"hey... aku akan ke tempat bermain bayi" ucap gadis pirang itu saat mendekati Kuroro yang tengah mengantri.
"eh? Yah... tempatnya jauh?"
"ada di dekat wahana bianglala" Kurapika menggeleng perlahan kemudian menunjuk roda besar yang berputar pelan itu.
"ok... hati-hati... aku akan menelepon mu saat kami sudah selesai di sini"
Kurapika mengangguk pelan kemudian berlalu meninggalkan Al dan Kuroro. Ia berjalan santai mendekati sebuah gedung yang tak terlalu besar tapi cukup penuh warna dan menarik perhatian. Sesekali ia bercengkrama dengan bayi kecilnya itu.
.
.
Skip time
.
.
Kuroro mengambil ponsel hitam dari saku celana panjang hitamnya. Ia menekan sebuah nomor yang sudah ia hafal seakan nomor itu sering ia hubungi, menunggu beberapa detik pun ia mendengar suara 'tuuut' dari seberang sana tanda nomor itu aktif. Namun tak lama ia mendengar sebuah nada dering yang tak asing di sekitarnya, nada dering dari nomor yang ia tuju. Lelaki itu melihat sekitar, mencari sumber suara, lalu ia mendapat sosok yang ia cari. Gadis berambut pirang pendek berjalan mendekatinya, Kuroro segera mendakati sosok itu sambil menggendong sulungnya.
"aku pikir kau masih di tempat bayi... aku baru saja mau menghubungi mu"
Sosok gadis itu hanya diam. Kuroro ikut diam dan menatap gadis itu, bertanya tentang apa yang terjadi bukan lah pilihan yang tepat saat ini, gadis pirang itu tak akan bicara banyak padanya saat ini.
"kita cari wahana yang bisa mereka mainkan berdua" putus Kuroro kemudian. Ia melihat sebuah selebaran yang berisi peta wahana yang tadi sempat ia ambil saat mereka berpisah.
"di sebelah sana ada playground untuk istirahat... lebih baik kita ke sana" Kuroro menunjuk ke arah timur mereka dan berjalan. Kurapika mengikutinya dari belakang. Mereka tak banyak bicara, hanya terdengar celotehan anak-anak.
Mereka sampai di playground itu. Kuroro menurunkan Al dan Kurapika juga menurunkan Ares dan manaruhnya di sebuah karpet busa, ia menaruh beberapa mainan kesukaan Ares di sana, bayi itu pun mulai sibuk membalik kan tubuhnya dan bermain bersama mainannya, sedangkan sang kakak segera main ke arena mandi bola. Kurapika duduk d bangku yang berada di dekat sana, tak lama Kuroro pun ikut bergabung.
Kesunyian sempat menguasai mereka untuk beberapa waktu, tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan. Kuroro lebih memilih untuk melanjutkan membaca buku yang ia bawa dari rumah dan Kurapika lebih memilih untuk memperhatikan tingkah polah Ares yang begitu menggemaskan. Hanya suara dari kertas yang terdengar di antara mereka.
"hey... Kuroro..." Kurapika mulai membuka pembicaraan.
Tak ada jawaban dari Kuroro, ia masih membaca bukunya.
"menurutmu... Ares itu anak yang bagaimana?" walaupun Kuroro tak menjawabnya, ia tahu betul pria bermata onyx itu mendengarnya.
"dia bayi yang lincah... dan bawel"
"dia bayi biasa kan? Dia normal kan?"
Kuroro melirik ke arah gadis pirang itu. Kurapika masih melihat ke arah Ares. Pria bermata onyx itu menutup bukunya.
"sebenarnya apa yang terjadi?" kini ia menghadap gadis itu.
Kurapika menarik nafas panjang.
"tadi saat kami di tempat bermain bayi semua mata tertuju pada kami... awalnya aku tak ambil pusing karena aku sudah terbiasa, tapi lama kelamaan mereka semakin menyebalkan... bahkan mereka menjauhkan anak-anak mereka dari Ares... mereka melihat Ares dengan tatapan takut, jijik dan mencibir... bahkan mereka langsung mengambil mainan yang di sentuh Ares... apa yang salah dengan Ares? dia anak yang manis"
"lalu?"
"aku benci tatapan mereka itu terutama dengan sikap mereka"
"apa kau melihat ekspresi Ares saat mereka melakukannya itu padanya?"
"karena dia belum paham, dia hanya tersenyum.. senyum yang paling manis"
Kuroro bersandar ke punggung kursi dan ikut melihat Ares. Tak lama ia menepuk kepala Kurapika dengan bukunya, pelan.
"hei! Kenapa kau pukul kepala ku?" protes gadis itu.
"ternyata kau benar-benar bodoh ya, Kurapika"
"maksud mu?"
"yang kau takuti sebenarnya adalah kalau nanti saat Ares besar akan semakin banyak orang yang menolak kehadirannya karena matanya dan ia tak bisa bertahan dengan semua itu"
"... mungkin..."
"apa kau sayang Ares?"
"pertanyaan bodoh, tentu aku sayang dia... dia anak ku... walau aku tak melahirkannya, tapi aku sayang padanya"
"apa matanya mengganggu mu?"
Kurapika menggeleng mantap.
"begitu pun aku dan Al... kami sayang Ares... dan itu sudah cukup baginya... kami punya nasib yang sama sebagai anak yang terbuang dan tak di harapkan dunia... kami hanya butuh pengakuan satu orang... tak peduli dunia benci kami, satu orang sudah cukup bagi kami"
Kurapika terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah pria bermata onyx itu.
"untuk kali ini, aku setuju dengan mu"
"itulah tugas seorang istri... setuju dengan perkataan suaminya"
"jangan besar kepala, bodoh"
"sepertinya aku harus mengajarimu cara berbicara yang baik, nona"
"tidak, terima kasih" gadis pirang itu segera berdiri dan berjalan ke arah Ares untuk segera menggendongnya dan menaruhnya di keretanya lagi.
"ayo kita main lagi... jangan buang-buang waktu di sini"
"baik, nyonya Lucifer"
.
.
Skip time
.
.
Malam telah datang di kota Yorkshin. Mobil sedan hitam Kuroro kini melaju cepat kembali ke arah apartemen mereka. Keadaan mobil masih sama seperti saat mereka berangkat pagi tadi. Celotehan Al masih terdengar di sela-sela deruman mesin mobil, tapi kali ini tak terlalu banyak ia tanya, karena pemandangan yang tersuguh untuknya kali ini hanya kerlip lampu malam kota. Mereka pulang setelah acara makan malam. Mobil hitam Kuroro sudah memasuki arena parkir apartemen.
"papa... gendong" rengek Al saat mobil berhenti dan Kuroro membuka pintu. Al sudah membuka tangannya lebar-lebar untuk di gendong.
"kakak Al capek ya?" Kuroro segera menggendongnya.
Al hanya mengangguk pelan, ia mengucek-kucek matanya dan segera bersandar ke bahu ayahnya. Begitu pun dengan Ares yang berada di dalam gendongan Kurapika. Bayi mungil itu segera mencari posisi ternyamannya di dalam gendongan gadis pirang itu. Kedua pasangan muda itu menunggu sampai kedua anaknya mendapat posisi nyaman di dalam gendongan mereka masing-masing baru mulai jalan.
Mereka masuk ke lobby apartemen dan menyapa penjaga yang tengah bertugas, kali ini bukan zaburo. Mereka segera berjalan ke arah lift yang akan mengantar segera ke apartemen mereka.
"biarkan anak-anak tidur di kamar utama ya malam ini" Kurapika segera mencegah saat ia melihat Kuroro mau membawa Al ke kamarnya.
"seperti yang anda minta, nyonya" Kuroro segera mengalihkan langkahnya dan berjalan ke kamar utama.
Kurapika berjalan ke ruang tamu, Ares masih ada di gendongannya. Ia duduk sambil memangku bayi mungil itu. Ia mengelus rambut bayi itu penuh kasih, beberapa kali ia membisik kan kata-kata yang hanya ia tahu. Cium dan kening tak pernah lepas dari kecupan lembut gadis bermata seindah saphire itu.
"mama sayang kamu, sayang... tumbuh lah jadi anak yang kuat" bisiknya lagi sebelum akhirnya ia mendaratkan kecupan hangatnya di pipi kanannya bayi yang tengah tertidur pulas itu. Sebuah senyum mungil terukir di wajahnya saat bisikan itu di berikan.
"apa tak sebaiknya kau juga membaringkan Ares? Kasian dia" tanya Kuroro saat ia keluar kamar. Pria bermata onyx itu sudah mandi dan mengganti bajunya dengan sebuah kaus putih dan celana panjang hitam, handuk kecil melingkar di lehernya, rambut hitamnya sedikit basah.
"yah... aku juga akan mandi" Kurapika bangkit dan segera berjalan ke kamar utama. Kuroro melihat gadis itu dan berjalan ke arah dapur. Ia membuka laci dan menyalakan kompor. Sebuah kopi atau teh hangat akan menjadi teman yang baik untuknya malam ini. Dia cukup lelah dengan kegiatan mereka hari ini. Di senderkannya tubuhnya di dekat kulkas, ia melipat tangan di depan dada dan menutup mata. Ia mencoba mengingat apa saja yang telah ia alami. Ini kali pertama untuknya mengalami yang seperti ini, ia sibuk lari kesana kemari mengejar sulungnya, namun ia merasa begitu santai dan nyaman.
"kau mau teh atau kopi?" tanyanya saat melihat Kurapika keluar kamar. Gadis itu sudah selesai mandi dan mengganti baju dengan piyama.
"tidak, terima kasih... aku hanya butuh segelas air" ia melangkah ke dapur dan mengambil segelas air lalu ikut bergabung dengan Kuroro di ruang tamu.
"apa anak-anak tidur nyenyak?"
"yah... aku juga sudah mengganti popok Ares... jadi dia masih bisa tetap tidur tenang setidaknya sampai tengah malam nanti"
"baguslah"
"yah... terima kasih untuk hari ini... anak-anak terlihat senang"
"berterima kasih lah pada Shal... dia yang memberikan tiket itu pada ku" jawab Kuroro sambil menyeruput kopinya.
"kalau begitu sampai kan terima kasih ku padanya"
"baiklah" Kuroro mengambil buku yang sedari tadi ia bawa dan mulai membacanya.
Kesunyian kembali tercipta di antara mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang membuka pembicaraan. Hanya suara lembaran kertas dari buku yang di baca Kuroro yang terdengar.
Puk!
Kepala Kurapika bersender pelan ke bahu bidang Kuroro. Pria itu menghentikan kegiatan bacanya dan melihat gadis pirang itu. Gadis itu tak bergerak, ia masih memegang gelasnya, di lihat dari nafasnya yang pelan dan teratur bisa di pastikan bahwa gadis itu sudah masuk ke dunia mimpi. Kuroro menarik nafas panjang dan menaruh bukunya di meja. Ia sedikit membungkuk kan tubuhnya untuk memastikan gadis itu benar-benar tidur.
"huft... seharusnya kau tahu nona... kalau kau tak boleh terlalu lengah seperti ini di hadapan pria... terlebih lagi pria dewasa seperti ku atau kau akan habis, nona" ucap Kuroro pelan saat ia benar-benar yakin Kurapika tertidur.
"hmm..." hanya lenguhan pelan yang seakan menjadi jawaban dari gadis itu. Ia membenarkan kepalanya di bahu Kuroro agar lebih nyaman. Kuroro segera mengamankan gelas yang masih di genggam Kurapika agar tidak jatuh dan pecah, setelah itu ia menggendong gadis itu pelan.
"ehhhmmm..." Kurapika kembali melenguh pelan. Perlahan ia melingakarkan tangannya ke leher Kuroro dan menyenderkan kepalanya ke dada Kuroro.
"kau tetap saja seorang gadis saat tertidur seperti ini" Kuroro membiarkannya dan berjalan ke kamar utama. Ia membaringkan Kurapika di tempat tidur.
Grep!
Tangan Kuroro tertahan saat ia hendak pergi. Pria itu menengok ke arah Kurapika yang menahan tangannya. Gadis itu membuka matanya perlahan, tapi ia tak sepenuhnya sadar.
"... mata Ares indah... benar kan?" Kurapika berbicara di ambang kesadarannya.
"yah... mata scarlet kalian begitu indah" jawab Kuroro tenang. Ia duduk di pinggir tempat tidur.
"... apa karena itu... kau membunuh semua klan ku?..."
Kuroro tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya diam dan menatap gadis pirang itu lekat-lekat sampai akhirnya gadis itu kembali di jemput ke dunia mimpi.
"mata kalian terlalu indah... karena itu aku tak mau banyak yang melihat dan mengambilnya dari sisi ku" bisik Kuroro pelan. Ia melepaskan tangan Kurapika pelan dan menyelimutinya. Kemudian mencium dahi kedua anaknya.
"oyasumi" ia pun naik tempat tidur dan mematikan lampu.
~contenyu~~
untuk semua yang masih bersedia baca chappy baru story ni arigatou gozaimasu... akhirnya setelah sekian lama qiessa berhasil update juga... sebenernya qiessa siapin bonus chappy untuk membalas yang masih setia nunggu, tapi karna 1 n lain hal blum smpet d updte dlu..
smoga kalian suka n berkenan untuk review cerita ini
