A/N : Hei, kalian udah nonton belum episode Boruto 57 kemarin? Ada moment BoruSara-nya loh dan itu manis banget Emang sama seperti di movie-nya pas Sarada bilang mata Boruto lebih biru dari milik Nanadaime. Tapi di anime lebih cute lagi tau ga sih?
Dan pas Boruto hampir kalah di ujian chunin, dia punya 2 alasan untuk tidak kalah. 1. Sarada, 2. Ayahnya. So sweet kali ya Yang belum nonton, coba nonton deh. Tiap episode banyak banget moment BoruSara-nya
#fangirlingan
Cus, silahkan dibaca chapter 20 !
Sebelumnya...
Boruto berpikir sejenak, mungkin Sarada sedang punya masalah. Ia harus tahu dan membantu semampunya. Boruto melirik Sumire sekilas, kemudian pergi menyusul Sarada.
Meninggalkan Sumire terdiam. Ia tahu, Sarada sedang sakit hati akibat ucapannya tentang masa lalu bersama Boruto. Ia tidak ingin menyakiti gadis itu. Sumire hanya ingin Sarada tahu bahwa—
"Gue ngerasa kejam banget, tapi... gue harus ngelakuin itu."
—ia masih punya rasa istimewa untuk Boruto.
HAPPY READING
Boruto berjalan cepat di koridor, mengekor jauh di belakang Sarada. Dari belakang, Boruto bisa melihat Sarada sedang menutup wajahnya dengan tangan. Entah, ada apa dengan cewek itu, pikir Boruto. Setahunya, kemarin Sarada baik-baik saja walaupun sempat marah karena Boruto ikut dalam aksi tawuran. Namun, hari ini?
Apa ada suatu hal yang terjadi?
Sarada berbelok ke toilet siswi. Boruto terhenti di depan pintu toilet berwajah bingung. Satu, dua siswi yang baru keluar toilet juga memandang Boruto heran dan sedikit takut. Mereka tertunduk-tunduk saat Boruto menatap mereka seperti macan yang sedang memantau mangsanya.
"Sewot amat sih ngeliatinnya?" Boruto mengoceh sebal. "Gue emang ganteng, tapi nggak usah kabur juga karena ketampanan gue."
"Padahal dia yang ngeliatinnya sewot banget."
"Apa lo bilang?"
"Ampun, Bor!" Siswi-siswi itu berlari cepat sebelum Boruto berhasil menerkamnya.
Boruto menjadi ingat satu hal. "Ah, kok gue malah ladeni mereka, sih? Sarada!"
Boruto teringat alasannya mengapa ia sekarang berdiri di depan toilet siswi. Ia mengintip ke dalam, tetapi Sarada tidak terlihat. Beberapa murid lain yang lewat berbisik.
"Boruto tuh lihat! Berulah lagi dia."
"Kayaknya mau ngintipin celana dalam cewek."
"Mesum, ya?"
Walaupun hanya bisik-bisik, tetapi telinga Boruto bisa mendengar cibiran itu dengan jelas. Ia berbalik dan memberi tatapan keji pada tiga murid perempuan yang lewat tadi.
"Ngomong lagi, gue perkosa lo tiga-tiganya!" ancam Boruto.
Ketiga murid itu langsung berlari ketakutan. Padahal Boruto tidak serius mengatakannya. Jika ada cewek yang harus ia perkosa, satu-satunya yang Boruto inginkan hanyalah Sarada. Itu pun jika ayahnya Sarada, Sasuke tidak datang untuk membunuh Boruto sebelum ia berhasil melakukannya.
Telinga Boruto kembali merapat ke daun pintu. Ada isakan kecil terdengar.
"Dia nangis?" gumam Boruto.
Di belakangnya, seseorang menepuk pundak Boruto.
"Mau ngapain lo?"
"Astagfirullah!" Boruto berjinjit saking kagetnya. "Lo kalo mau ngagetin, bilang-bilang dulu dong! Jantung gue sampe salto-salto nih!"
"Ya kali ada, ngagetin orang bilang-bilang?" Chocho memandang Boruto curiga. "Lagian ngapain lo di toilet cewek? Mau ngintip, ya?"
"Iya, emang."
"Gue aduin ke Pak Ibiki lo biar dapet skorsing lagi. Atas tuduhan tindak cabul bin mesum bin hentai bin porno siswa laki-laki terhadap siswi paling cantik di sekolah, Akimichi Chocho."
Boruto menarik telinga Chocho sampai gadis itu tertunduk.
"Amit-amit!" teriak Boruto. "Kalau ceweknya Sarada gue mau, kalo itu lo gue mah mending ngintip Pak Gay lagi telanjang!"
Chocho pura-pura kaget. Ia menutup mulut dengan tangan. "Astaga... lo homo?"
Sekali lagi, Boruto menarik telinga Chocho membuat gadis gembul itu meringis.
"Gue seratus persen laki, karena gue cinta Sarada!"
"Cie, yang sudah tjintah!" Chocho tersenyum miring. "Terus kalo gitu lo ngapain di sini?"
"Gue ngintipin Sarada, tadi dia menghindar gitu pas ada gue di kelas, nggak tahu kenapa?"
"Lo ngapain dia lagi?" tuding Chocho sembari memajukan jari telunjuk di depan wajah Boruto.
"Gue nggak ngapa-ngapain, ya." Boruto menepis tangan Chocho.
"Awas lo nyakitin Sarada lagi!"
Boruto menghela napas. "Emang gue pernah nyakitin dia?"
"Dih! Pake nggak peka segala."
"Selalu deh cowok yang disalahin."
"Emang! Karena cowok itu salah, cewek selalu bener!"
"Pantes Sarada suka ngambekan, pasti belajarnya dari lo, ya 'kan?" Boruto menunjuk pintu toilet dengan dagu. "Lo tanyain gih, Sarada kenapa? Habis itu kasih tahu gue."
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?"
"Lo mau gue bikin kurus? Sana masuk!"
Chocho cemberut. "Kalo itu sih dengan senang hati gue mau. Yaudah deh, gue tanyain Saradanya dulu."
Begitu Chocho masuk ke toilet, Boruto bersandar ke pintu dengan kedua tangan di dalam saku celana. Kalau yang didengarnya itu benar, tadi memang ada suara isak tangis. Lalu, Boruto berpikir mengapa Sarada menangis? Apa ia berbuat salah lagi? Atau, ada masalah lain?
Boruto menggaruk rambutnya yang jabrik. "Cewek itu emang kayak TTS, bikin bingung. Ngeselinnya, tetap bikin kita penasaran sama jawabannya."
..o0o..
Masih jelas di kepala Sarada ucapan Sumire tadi. Tentang betapa perhatiannya Boruto yang dulu pada gadis pecinta warna ungu itu. Dan yang paling parah Sumire bercerita langsung di depan Sarada tentang ciuman pertamanya adalah Boruto.
"Kenapa gue jadi lemah gini? Baru tahu sedikit masa lalu Boruto udah serapuh ini." Sarada menyalakan keran di wastafel, membuka kacamata lalu membasuh muka. Ia memandang pantulan dirinya di cermin. "Apa cewek lemah kayak gue... pantes buat jadi pacar cowok kuat macam Boruto?"
"Ya, panteslah!" Chocho merangkul Sarada dari belakang, tersenyum pada Sarada melalui cermin. "Karena lo Uchiha Sarada yang paling pinter di kelas, baik hati, anak Om Sasuke yang paling cantik dan satu hal lagi yang paling penting."
"Apa?"
Chocho mengacungkan jempol di samping Sarada. "Karena lo sahabat terbaik gue. So, gue yakin lo juga yang terbaik buat jadi pacar Boruto."
"Chocho...," Sarada membalik badan dan memeluk sahabat gembulnya itu—sambil menangis. "Gue mau nangis rasanya."
"Lo kenapa, sih? Kok kayaknya banyak pikiran banget?" ucap Chocho sambil mengelus punggung Sarada.
"Gue kadang ngerasa lebay, tapi ini memang sakit banget."
"Boruto berulah lagi?"
Sarada menggeleng. Ia bersandar di wastafel sambil menunduk; memandang ke lantai. "Gue udah cerita kan kalo Sumire itu mantannya Boruto?"
"Iya, terus?"
"Begitu gue tahu mantan Boruto secantik itu, jujur gue agak minder. Tapi gue tetap percayain diri kalo Boruto memang sudah move on dari mantannya itu dan beneran sayang sama gue. Tapi...," Sarada menghela napasnya, pelan. "... tadi pagi waktu gue ngobrol sama Sumire soal Boruto, gue baru nyadar kalo Boruto itu dulunya perhatian banget sama Sumire."
"Namanya juga orang pernah pacaran, jadi wajar dong kalo dulunya mereka saling perhatian."
Sarada menggeleng. "Tapi perhatian Boruto ke Sumire itu lebih daripada perhatian yang dia berikan ke gue. Gue ngerasa... nggak ada apa-apanya. Bahkan, Boruto pernah cium bibir Sumire, gue aja nggak pernah dia cium!"
"Jadi, lo mau Boruto cium bibir lo, gitu?'
Muka Sarada sudah memerah, ia menggeleng cepat. "Nggak, bukan gitu! Maksudnya gimana, ya? Pokoknya, perlakuan Boruto ke Sumire itu lebih, lebih, lebih daripada ke gue. Gue bingung! Tolongin gue, Chocho. Gue baru pertama kali ini pacaran, labil banget ngadepin masalah ginian! Gue galau!"
Tangan Chocho mencubit pipi Sarada dengan gemas. "Um, kacian banget cih cahabat gue ini. Jangan galau, dong!"
Sarada berusaha menyingkirkan tangan Chocho di wajahnya. Menjadi agak kesal. "Gue serius tahu!"
"Maaf, maaf!" kata Chocho sembari tertawa, ia paling senang melihat Sarada sekalut ini soal cinta. Maklum saja, sepengetahuan Chocho, sahabat berkacamatanya itu memang paling susah jatuh cinta dan paling tidak suka saat diajak membahas perihal cowok.
Boruto adalah nama cowok pertama yang masuk daftar curhatan Sarada selama ini. Padahal dulu Sarada selalu menceritakan yang buruk-buruk soal Boruto. Semakin lama, Sarada justru menceritakan kebaikan Boruto yang ia dapat selama ini pada Chocho. Dan sejak saat itu juga Chocho sadar, dari hari ke hari Sarada telah jatuh cinta pada si biang kerok itu.
Chocho bersedekap di depan Sarada. "Semua hal negatif yang lo pikirin itu kan hasil dari prasangka buruk lo sendiri. Lo belum dengar langsung dari Borutonya, 'kan?"
Sarada menggeleng lesu. "Belum."
"Nah, kao gitu lo harus mastiin langsung sama Boruto. Kedudukan lo di hati dia dan Sumire saat ini bagi Boruto itu apa! Lo harus berani tanyain itu ke dia."
"Tapi, gue nggak berani... gue malu."
"Cowok itu kalo nggak dikasih tahu, nggak bakalan peka. Serius deh! Dan gue yakin, Boruto itu beneran suka sama lo. Buktinya aja, dari semester satu sampai dia sekarang gencar banget ngedeketin lo. Ya, 'kan?"
"Mungkin gue emang harus mastiin itu..."
"Bener!" Chocho mengangguk-anggukan kepala.
"Lagian, gue kepikiran masa lalu Boruto yang menyakitkan banget buat anak seusia dia dulu."
"Maksudnya?"
Kemarin, Boruto menceritakan sedikit masa lalunya pada Sarada. Tentang mengapa ibunya meninggal dan mengapa Boruto membenci ayahnya sendiri. Dari jauh hari, Sarada memang sangat ingin tahu Boruto lebih jauh. Namun setelah tahu, ia menjadi sedih dan merasa bersalah.
"Nggak seharusnya selama ini gue benci sama Boruto," kata Sarada lemah, "dan nggak seharusnya gue ngeluh sama kehidupan di rumah soal Papa yang jarang pulang. Dibanding gue, hidup Boruto lebih susah dan gue nggak pernah denger dia ngeluh selama ini."
"Emangnya masa lalu Boruto kayak gimana?"
"Pokoknya dia sudah melewati masa-masa sulit di masa lalunya, soal masalah keluarga. Maaf, gue nggak bisa cerita ke lo."
Chocho mengangguk paham. "Nggak pa-pa, yang penting lo juga harus tegar."
"Hm?"
"Iya dong! Kalo lo jadi lemah, siapa yang mau nyemangatin Boruto coba di saat dia rapuh? Boruto pasti senang banget kalo penyemangat dia itu... lo."
Mendengar ucapan Chocho, dua sudut bibir Sarada terangkat. Ia senang sekali memiliki sahabat seperti Chocho. Yang lucu, super percaya diri, kadang nyeleneh, tetapi juga bisa bersikap dewasa di saat tertentu. Yang selalu berada di sisi Sarada tiap kali ia membutuhkan nasihat. Dan Sarada berjanji dalam hati, ia akan berada di tempat yang sama jika Chocho sedang membutuhkan bantuannya.
"Mm, makasih, ya. Lo emang yang terbaik," ujar Sarada lalu memeluk Chocho—sangat erat.
"Gue nggak bisa na-pas!"
Sarada menjauh. "Oh, maaf. Abis lo gemesin, sih!"
"Haduh! Gue jadi lupa kalo mau pipis dari tadi."
"Sana lo, bau!"
Mereka berdebat kecil. Lalu kembali tertawa. Di luar toilet, Boruto masih berdiri. Tertunduk dalam dan sedikit merenung. Ia sudah mendengar semuanya dari luar. Terlintas bayangan masa lalu tentang kedua orangtuanya. Seperti yang Sarada katakan, itu memang menyakitkan. Lalu, Sumire. Boruto tidak yakin masih menyayangi gadis itu.
Yang pasti Boruto sudah tahu. Sarada akhirnya cemburu. Ia senang sekali bisa mengetahui hal ini. Bukankah cemburu itu tanda cinta? Setidaknya kali ini Boruto bisa memastikan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Boruto jadi sedikit menyesal telah mengatai Chocho tadi. Ia tersenyum simpul sembari berjalan menuju ke kelas sebelum bel masuk berbunyi lima detik kemudian.
"Gue bersyukur, Sarada belajar banyak dari sahabat kayak Chocho."
TBC
