Started by a Mission
By Narchambault
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
E
/
Pekarangan bunga di kala senja itu sangat indah.
Langit oranye kemerahan itu menghiasi indahnya senja itu. Matahari hendak beristirahat di peradabannya, enggan menampakan sinar perkasanya lagi. Awan putih bagai menghiasi panorama indah di langit. Bulan sabit telah bersiap untuk bersinar kala malam menjemput dan gelap menyelimuti. Bintang-bintang sudah berlomba-lomba menunjukkan dirinya dan cahayanya.
Angin sejuk menghembuskan napasnya di senja hari itu, membuat bunga-bunga indah di pekarangan itu berdansa ke kanan dan ke kiri. Rerumputan hijau pun ikut menikmati kesejukkan itu, beberapa terbawa angin di angkasa, menyambut senja dan malam.
Hatake Obito memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, menikmati kesejukkan dan ketenangan di sekitarnya.
Senyum tipis terlukis di wajah tampannya itu.
Rambut silvernya bergerak mengikuti arah angin, membuat rambutnya itu lebih acak-acakan dari sebelumnya.
Ia merentangkan tangannya lebih jauh, masih berbaring di rerumputan. Lalu ia menghembuskan napasnya halus.
Obito membuka kedua matanya, menampilkan iris emerald yang diwariskan dari ibunya.
Obito bangkit dari posisinya semula, bertumpu dangan satu tangan dan tangan lainnya bersandar pada lututnya. Ia menatap langit indah di atasnya sejenak, kemudian menoleh ke sampingnya.
Ia tersenyum sesaat, sebelum mengeluarkan suaranya, memecah kesunyian itu,
"Kau menikmatinya juga, Ciciue?"
Hatake Kakashi membuka mata onyx-nya yang tampak lelah.
Wajahnya masih tertutup oleh masker, seperti biasanya. Mata kirinya—yang terdapat bola mata Sharingan—tertutup, dan hitai-ate miliknya tak digunakan seperti biasanya.
Ia melepas rompi Jonin-nya, menyisakan baju donker yang biasa ia pakai sehari-hari.
Tangan kirinya tampak dibalut oleh perban yang terlihat baru saja diganti.
Pria itu duduk di atas kursi roda yang tampak tak nyaman.
Hatake yang lebih tua itu membalas tatapan putranya, kemudian tersenyum, "Ya, sepertinya begitu."
Obito tersenyum, kemudian bangkit dari posisinya semula dan berjalan ke arah ayahnya itu. Ia memposisikan dirinya di belakang kursi roda milik Kakashi, kemudian menggenggam gagangnya. Lalu, Obito mendorong kursi roda tersebut, mengajak Kakashi 'berjalan-jalan' di sekitar pekarangan bunga di senja hari itu.
"Apa Ciciue baik-baik saja?" tanya Obito.
Kakashi berpikir sejenak, menarik napas dalam-dalam, kemudian menggeleng seraya tertawa kecil, "Jantungku sempat berhenti, tentu saja aku tidak baik-baik saja."
Obito tertawa bersama ayahnya.
Sudah lama sekali…
Obito masih membawa ayahnya berjalan-jalan, senyum bahagia terlukis di wajahnya.
Sementara Kaksahi memainkan jemarinya, seperti hanya itulah yang dapat ia lakukan saat ini selain melamun.
Namun, memang matanya kini menerawang jauh. Raganya memang berada disana, namun pikirannya terbang kemana-mana.
Hening panjang menyelimuti mereka berdua.
Hanya suara derap langkah di rerumputan yang mengiringi perjalanan mereka dan angin sejuk yang berhembus.
""Maaf,""
Keduanya mengucapkan kata-kata itu secara bersamaan.
Kakashi sedikit terkejut, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah putranya, yang sama terkejutnya.
Obito memalingkan wajahnya, salah tingkah.
Kakashi tersenyum, "Kenapa kau meminta maaf?"
Wajah Obito bersemu merah. Matanya menolak untuk menatap Kakashi.
Walau begitu, ia tetap melanjutkan,
"… Karena aku sempat membencimu, berkata kasar padamu, dan banyak hal negatif yang kulakukan padamu…"
Senyuman Kakashi memudar.
"Aku tahu kau hanya ingin menyelamatkanku… Tapi aku tidak bisa menahan kebencian itu. Aku payah… Maafkan aku."
Kakashi tersenyum pahit, "Bukankah seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Obito?"
Obito menundukkan kepalanya, "Tapi…"
"Semua ini terjadi karena kesalahanku, bukan?"
Mereka berdua terdiam.
Obito tidak mungkin menyalahkan Kakashi saat ini. Bagaimana pun juga, Kakashi-lah yang menyelamatkannya—mengorbankan nyawanya untuknya.
"Ah, sudah lama sekali sejak terakhir kita kesini, Obito…" gumam Kakashi kemudian.
Obito tersadar dari lamunannya, kemudian melihat sekeliling pekarangan bunga tersebut.
Ia tersenyum, "Saat itu aku masih sangat kecil, bukan?"
Kakashi mengangguk, "Tempat ini menjadi tempat favoritku untuk membawamu jalan-jalan."
Obito tertawa kecil, "Lucu ketika kini justru aku yang membawamu berjalan-jalan, Ciciue."
Kakashi tertawa, setuju dengan perkataan Obito.
Kemudian, senyum Obito memudar. Wajahnya kembali serius. Ia membuka mulutnya untuk mengatakkan sesuatu, namun ia ragu. Lalu ia membukanya kembali, dan dengan sedikit keberanian, ia mengatakannya,
"Jangan pergi lagi, oke, Ciciue..?"
Kakashi mendongakkan kepalanya, menatap Obito yang tengah menatapnya sekarang.
Wajahnya benar-benar mirip dengan Sakura…
Kakashi menyentuh tangan Obito di belakangnya, kemudian menepuknya pelan, "Bukankah aku tidak punya alasan lagi untuk pergi, nak?"
Obito menyunggingkan senyum simpul.
Ia mendorong kursi roda ayahnya lebih semangat.
"Setelah ini, kau harus mentraktirku ramen, Ciciue!"
Sakura menyeka keringat di lehernya.
Wanita itu menghela napas, kemudian tersenyum. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, dan melihat sekeliling, tampak puas dengan hasil kerjanya membersihkan rumah.
"Haah, akhirnya selesai!" serunya lega, kemudian bibirnya mengerucut kesal, "Obito dan Kakashi benar-benar payah, melarikan diri dari tugas-tugasnya!"
Sakura melempar handuk kecil yang semula ia selempangkan pada bahu kirinya ke atas sofa.
Kemudian hidungnya menangkap aroma-aroma tak sedap.
Kedua matanya membelalak.
"Astaga, masakannya!"
Buru-buru Sakura berlari ke arah dapur, dan menemukan asap hitam yang menggumpal.
Sakura mematikan api kompornya, dan menatap miris masakannya yang kini tak berbentuk itu.
Ia mengusap dahinya.
"Bodoh…"
Suara pintu yang terbuka terdengar oleh Nyonya Hatake itu. Sakura menghela napas pasrah. Ia pun mengabaikan masakannya yang sudah tak layak makan itu dan berjalan ke ruang tamu.
"Tadaima—bau apa ini?!"
Obito menutup hidung mancungnya dengan tangan kanannya. Wajahnya mengecut, dan tangannya yang lain dikibaskan, layaknya mencoba mengusir aroma tak sedap itu.
Sakura muncul dari arah dapur, menghela napas, "Okaeri…"
Obito menatap ibunya sejenak, "Masakannya gosong?"
Sakura mengangguk, "Ibu akan pergi berbelanja lagi. Obito, kau jaga rumah." Ujarnya kemudian. Sakura melihat sekeliling, mencari sesuatu.
Obito menggelengkan kepalanya, "Tidak usah repot-repot, kita makan ramen saja hari ini. Aku akan membelikannya," Obito memutar tubuhnya untuk pergi kembali.
"Eh, Obito! Dimana ayahmu?"
Obito terdiam sejenak, kemudian menepuk dahinya.
"Aku lupa! Hahaue, Ciciue menunggumu di pekarangan bunga yang biasa kita kunjungi saat aku masih kecil, aku meninggalkannya disana. Ciciue bilang ingin membicarakan sesuatu dengan Hahaue."
Sakura mengernyitkan dahinya, "Apa?"
Obito mengibaskan tangannya, "Kalau begitu, cepat kesana, Hahaue! Aku akan beli ramen sebentar."
"Obito! Bagaimana dengan rumah—"
"Memangnya rumahnya akan kabur? Sudahlah, Hahaue, jangan khawatir, aku hanya sebentar, kok," ujar Obito, tersenyum pada ibunya, "lagipula, Ciciue sudah menunggu."
Seperti yang Obito instruksikan, Sakura pergi ke sana.
Sakura tak menyangka tempat itu begitu indah sejak pertama kali ia datang ke sana.
Mungkin karena mataharinya? Karena langitnya? Angin sejuk yang berhembus?
Atau karena pria yang duduk di kursi roda di sana yang tengah memandang langit senja?
Sakura tersenyum.
Ia melangkahkan kakinya mendekat.
"Menikmati harimu, Kakashi-sensei?"
Kakashi menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, kemudian tersenyum, mendengar panggilan itu kembali diucapkan oleh mantan muridnya yang kini menjadi istrinya itu.
Sakura tertawa kecil, kemudian berjalan lebih mendekat sehingga kini ia berhadapan dengan Kakashi.
Kakashi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum seraya menatap Sakura dengan tatapan lembut.
Sakura menyipitkan matanya, memandang Kakashi dengan aneh, kemudian tertawa canggung, "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Kakashi, tidak melepaskan pandangannya, masih terdiam. Senyum tipis tersembunyi dibalik maskernya, namun senyumnya mampu terbaca oleh Sakura melalui mata onyxnya.
Sakura mengangkat alisnya, menunggu jawaban.
Kakashi melebarkan senyumannya hingga matanya menyipit, "Aku hanya suka memandangimu, itu saja."
Perkataannya sukses membuat pipi Sakura memerah.
Sakura menghela napas, "Ada-ada saja," ujarnya, lalu terkekeh kecil, "ada apa kau ingin menemuiku disini, hm? Kau tahu kalau dirumah masakanku gosong, ya?" lanjutnya.
Kakashi mengangkat alisnya, "Gosong? Jadi kita makan ramen hari ini?" tanya Kakashi. Sakura mengangkat pundaknya, kemudian mengangguk.
"Ini salahmu mengajak Obito pergi, aku jadi harus bersih-bersih sendirian,"
Kakashi menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang menyuruhmu memasak sambil bersih-bersih." Balas Kakashi.
Sakura mengalihkan pandangannya, kemudian tersenyum, "Kau mengalihkan pembicaraan."
Kakashi menggeleng, "Aku tidak mengerti apa maksudmu."
"Tujuanmu memanggilku kemari, Kakashi…" ujarnya lagi.
Kakashi tidak menjawab lagi. Malah, ia kembali memandangi Sakura dengan tatapan itu.
Tatapan tajam yang membuat wanita mana pun luluh dibuatnya. Walau dengan satu mata onyx-nya, ia mampu memancarkan kharisma yang besar. Dan kini, ia menatap Sakura dengan tatapan itu, dengan senyuman penuh arti.
Sakura tidak mengerti mengapa Kakashi memandanginya seperti itu.
Senyum Kakashi membesar ketika melihat wajah kebingungan Sakura.
Sakura menghela napas, "Apa, sih?"
Kakashi terdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya, "Kau semakin cantik,"
Sakura terdiam sejenak. Senyum malu-malu terlukis di wajahnya.
Mereka seperti pasangan baru yang sedang kasmaran, melempar gombal sana-sini dan membuat sang wanita blushing dan salah tingkah sepanjang waktu.
Atau mungkin, memang momen ini lah yang tak sempat mereka dapatkan di waktu lampau. Dimana semuanya tampak diterjang badai.
Sakura memang mencintai pria ini sejak dulu.
Dan dimulai dari misi terselubung, Sakura mulai menyadarinya. Segala komplikasi yang mereka hadapi di waktu lampau, tidak merubah perasaannya terhadap pria ini.
Hatake Kakashi.
Suaminya.
Sakura tertawa kecil, kemudian melangkah mendekat, "Baik, baik, kau bisa katakan itu sebanyak mungkin di rumah. Sekarang, ayo kita pulang. Hari mulai gelap—"
"Tunggu." Kakashi menghentikan langkahnya ketika Sakura hanya berjarak beberapa senti dari kursi rodanya.
Sakura mengernyitkan dahinya, "Ada apa?"
Kakashi mengalihkan pandangannya, ragu-ragu.
"Ada sesuatu…" gumam Kakashi pelan, tidak cukup bagi Sakura untuk mendengarnya.
"Apa?" tanya Sakura, mencondongkan wajahnya agar dapat mendengar lebih jelas. Kakashi menatap Sakura sesaat, ragu-ragu.
Kemudian, ia menghela napas, mengumpulkan nyalinya.
"Ada sesuatu yang harus kukatakan, dan kutanyakan. Seharusnya aku mengatakan ini sejak awal… Dan, seharusnya hal ini patut kutanyakan padamu secara benar… Dan aku butuh jawabanmu…" Kakashi memulai. Sakura memasang tampang kebingungan. Namun, senyum tipis tampak tersungging di bibirnya.
"Apa?"
Kakashi menunduk, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
Kini, Kakashi tampak seperti anak gadis kasmaran yang salah tingkah ketika bertemu dengan senpai yang di idolakannya.
Sakura tertawa dalam hati.
Kakashi mengangkat wajahnya.
Ia meraih sesuatu dari kantungnya.
"Aku mencintaimu, Sakura. Maukah kau menikah denganku?"
Kakashi membuka kotak kecil tersebut dengan tangan kanannya, menampilkan sebuah cincin indah dengan kristal kecil berwarna biru di tengah-tengahnya.
Wajah Sakura bersemu merah.
Keheningan melanda mereka berdua saat itu.
Matahari mulai tenggelam, meninggalkan mereka berdua. Angin sepoy-sepoy tampak menghiasi momen itu. Rumput-rumput tampak beberapa berterbangan di angkasa. Bunga-bunga di pekarangan itu tampak cantik dihembus angin. Rambut silver dan pink masing-masing bergerak sesuai arah hembusan angin.
Sakura tak menyadari bahwa sedari tadi napasnya tertahan di tenggorokannya.
Kemudian bulir air mata mulai muncul di pelupuk matanya. Ia berusaha mati-matian menahannya.
Satu kata terucap dari mulutnya, kemudian, ia memeluk prianya itu.
"Baka!"
Kakashi tidak percaya akhir bahagia, atau bahagia selama-lamanya.
Tapi… Kakashi menemukan kebahagiaannya saat ini.
Ini bukanlah akhir bahagia.
Namun suatu kisah bahagia yang menjadi pemanis kisah hidupnya, ketika ia bertemu dengan ayahnya, lagi…
Dan dari seluruh misi-misi yang ia jalankan sebagai seorang shinobi elite…
… Yang satu ini adalah misi favoritnya.
Dan Kakashi benar-benar bersyukur,
Kami-sama benar-benar memberinya kesempatan.
F I N
/
a/n : YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEAH
TAMAT MAS-MAS MBAK-MBAK SEKALIAN.
Okay the Epilogue over here is very unamusing, I believe…
Tapi, aduh lega banget akhirnya fic ini selesai juga. Rasanya seperti hutang-hutang saya selama ini terbayar (Ya, author punya banyak dosa telah mengabaikan fic ini dua tahun.)
Okaaaayy, saya mau berterimakasih kepada para readers yang sudah mengikuti jalan ceritanya dari awal sampe akhir. Fic ini dibuat saat saya masih SMP, dan sekarang saya sudah dapat kuliah, dan saya sangat terrrharu (?) (dasar author melankolis)
Dari tulisan di chapter satu yang sangat alay dan banyak typo dan banyak EYD yang ga beraturan, sampe sekarang yang saya mulai belajar EYD dan mungkin typonya berkurang, tapi saya yakin banyak bat typonya tapi gapapa im so hepi(?) *digampar*
Dari alur ceritanya yang (menurut saya) childish sampe kini saya mulai mengerti arti kehidupan dan mencoba berpikir kritis dalam menulis alur cerita(ngomong apasihhh orang sama aja :"))
YAA TERIMAKASIH TEMAN-TEMAN YANG SUDAH MEREVIEW HINGGA REVIEWNYA SUDAH LIMA RATUS YEEEHAAAA kemon jadikan ceban beybi (author sinting.)
I must admit, that there are times that I lost some of my KakaSaku feels, so I can't write the next chapter without those feels or else this fic would be so awful.
Soooo I'm sorry for those who wait patiently, tapi saya sangat senanggg ada yang menunggu update-annya. Ah, terharu ()
Ah, banyak ngomong, ya… Gajelas pula. Yasudah, babaii!
