"Hai, Jeon Wonwoo-shi" sapa JongUp dengan senyuman miring

Wonwoo yang menyadari gelagat aneh dari JongUp berusaha untuk bersikap tenang.

"Ada apa?" Wonwoo membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan JongUp. Dan Wonwoo baru menyadari sesuatu bahwa di dalam Toilet tidak ada satu orang pun selain mereka berdua.

Wonwoo sedang bersikap waspada terhadap orang yang ada dihadapannya sekarang karena Wonwoo tahu bahwa JongUp mempunyai reputasi yang kurang bagus disekolah. Jadi Wonwoo dapat mengambil kesimpulan bahwa JongUp yang tidak pernah berbicara dengannya tiba – tiba menyapanya pasti ada sesuatu yang tidak beres pada JongUp. Sedangkan JongUp dapat menangkap gelagat waspada dari Wonwoo.

"Wow... aku bisa melihat jika kau sedang bersikap waspada terhadapku. Apa aku sebegitu nya menakutkan jika dilihat?" JongUp menatap tajam kearah Wonwoo.

"Apa mau mu?" Wonwoo mencoba untuk tetap tenang walaupun sekarang dia benar – benar harus pada JongUp

"Hanya masalah kecil yang harus segera diselesaikan dengan cepat." Setelah mengatakannya, JongUp memukul ulu hati Wonwoo dengan keras hingga membuat Wonwoo mengerang dan kemudian pingsan di dekapan JongUp.

"Dengan ini aku akan mengakhirinya dan juga menghancurkan mereka dengan tangan ku sendiri." JongUp menatap sinis kearah Wonwoo yang sudah tak sadarkan diri.

"Selamat Tinggal untuk keluarga Jeon tercinta"

SOONWOO TWINS

Author : Jung Minwoo96

Nilai: ? (Dinilai sendiri saja ya... karena Author pun ndak tahu berapa yang harus dinilai untuk FF ini. hehehehehehe)

Cast:

Wonwoo

Soonyoung

Mingyu

Seokmin

Kibum

Donghae

Jun

Woozi

Cast yang lain menyusul tergantung jalan cerita!

Disclaimer : Semua Cast hanya milik Tuhan YME dan orang tua mereka. saya hanya menggunakan nama mereka karena saya sangat menyukai mereka. Cerita murni dari saya pribadi, tapi Inspirasinya dari berbagai macam – macam Author favorit, ff favorit saya, manga jepang favorite, Drakor, Drama jepang dan lain - lain.

Genre: Romantis, Brothership, Friendship, Family

Warning : BL/YAOI, jika ada Typo's atau GJ mohon dimakhlumi karena ini karya pertama saya sebagai penulis, hehehehehe.

Happy Reading!

Chapter20

Soonyoung, Mingyu, Seokmin, Jun, dan Woozi berlari ke seluruh penjuru sekolah untuk mencari Wonwoo. Setelah Jun dan Wonwoo berpisah di depan kelas, sampai sekarang Wonwoo belum menyusul mereka di kantin. Handphone Wonwoo juga tidak menjawab panggilan Soonyoung atau Mingyu. Akhirnya mereka mencari Wonwoo dengan panik karena khawatir, tidak biasanya Wonwoo mengabaikan dan tidak menjawab panggilan dari Soonyoung atau Mingyu.

"Hyung, coba kau bertanya pada beberapa siswa, siapa tahu mereka melihat Wonwoo hyung. Jika kita hanya mencarinya saja, tidak akan membuahkan hasil." Usul Mingyu yang panik. Karena beberapa kali pun Mingyu menghubungi Wonwoo tetap tidak dijawab.

"Kau benar."

Tidak beberapa lama kemudian, mereka melihat Seungkwan berjalan bersama Minghao kearah mereka.

"Seungkwan" panggil Jun

"Oh... Jun hyung. Ada apa? Kelihatannya kalian sedang panik" ucap Seungkwan ketika ada di hadapan mereka.

"Kau lihat Wonwoo" gusar Soonyoung

"Wonwoo hyung?" Seungkwan mengerutkan keningnya tanda berfikir.

"Tadi aku melihat dia dibawa oleh seorang Sunbae. Katanya dia pingsan di toilet kemudian dibawa ke UKS."

"MWO?" pekik mereka terkejut

"Pingsan?" Woozi mencoba untuk membenarkan ucapan Seungkwan

"Ne, katanya Sunbae itu melihat Wonwoo hyung pingsan kemudian membawa Wonwoo hyung ke UKS." Jelas Seungkwan.

"Kenapa kau tidak bilang pada ku jika kau melihat Wonwoo dibawa oleh orang asing?" Soonyoung sedikit panik, bagaimana mungkin Wonwoo bisa pingsan? Dia baik – baik saja tadi. Batin Soonyoung

"Aku ingin memberitahu kalian hyung, tapi Sunbae itu bilang jika nanti setelah dari UKS dia kan memberitahu kalian."

"Kau tahu bagaimana ciri – ciri Sunbae itu?" tanya Soonyoung penasaran.

"Hyung, kenapa kau menanyakan itu? Lebih baik kita ke UKS sekarang melihat kondisi Wonwoo hyung." Mingyu sudah sangat ingin berlari ke arah UKS untuk melihat Wonwoo.

"Diam kau!" sentak Soonyoung

"Bagaimana ciri – cirinya?" Jun mengulang kembali pertanyaan dari Soonyoung

"Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci karena hanya melihatnya sekilas, tapi aku pernah melihat jika dia siswa yang seangkatan dengan Soonyoung hyung, Wonwoo hyung, Jun hyung dan Woozi hyung" Seungkwan mencoba mengingat kembali wajah orang yang membawa Wonwoo.

Mendengar penuturan Seungkwan, Soonyoung sudah tahu siapa yang membawa Wonwoo.

"JongUp" gumam Soonyoung yang masih dapat didengar semua orang yang didekatnya.

"JongUp? Kau yakin?" Jun mulai bersuara.

"Hanya nama itu yang terlintas di kepala ku saat mendengar Seungkwan menjelaskannya" Soonyoung sudah ingin berlari kearah yang berlawanan denga arah UKS namun Mingyu menahannya.

"Hyung, kau mau kemana? Arah UKS di sana." Mingyu menunjuk arah UKS.

"Aku yakin Wonwoo tidak akan ada disana." Jawab Soonyoung yakin.

"Ada apa sebenarnya?" Seungkwan yang heran melihat keanehan dari lima orang yang ada dihadapanya.

Belum sempat Soonyoung menjawabnya, tiba – tiba Handphone Soonyoung berbunyi tanda ada pesan masuk.

From : WONWOO

Cepat lah datang ke gedung belakang yang tidak terpakai jika kau ingin melihat saudara kembarmu.

Datang lah sendiri!

Jika kau tidak datang sendiri maka aku jamin kau tidak bisa lagi melihat Saudara kembar mu tersayang.

Melihat pesan Teks yang tertera membuat Soonyoung tersulut emosi. Sekarang dia yakin bahwa Wonwoo memang di bawa oleh JongUp. Dan dia memakai Handphone Wonwoo untuk mengirimkan pesan agar nomor telponnya tidak diketahui. Dasar licik. Soonyoung menggenggam handphonenya dengan kesal.

"Ada apa?" tanya Seokmin penasaran.

Belum selesai Soonyoung menjawabnya, pesan masuk ada lagi. Namun kali ini berupa sebuah Foto. Dan betapa terkejutnya Soonyoung melihat foto itu, foto itu menampilkan Wonwoo didudukkan disebuah kursi, di ikat, dan mulutnya dibungkam dengan sebuah kain. Di bawah foto tertulis sebuah teks

AKU TIDAK MAIN – MAIN. JIKA KAU MASIH INGIN MELIHATNYA MAKA KAU HARUS MENURUTI KEMAUANKU, JEON SOONYOUNG.

"DASAR BRENGSEK!" umpat Soonyoung penuh amarah. Hal itu tentu saja membuat semua orang kaget.

"Ada apa Soonyoung-ah?" tanya Jun sambil mengambil handphone Soonyoung dari tangannya, ketika melihat nya Jun sangat terkejut.

"Jadi benar dia yang melakukannya." Jun mencoba untuk tidak mempercayai bukti yang sudah ada di hadapannya.

Karena penasaran Mingyu pun merebut handphone itu untuk mengetahui nya, dan betapa terkejutnya dia melihat Wonwoo seperti itu. Begitu pula dengan Seokmin, Woozi, Seungkwan dan Minghao yang melihat nya.

"Wonwoo hyung" pekik Mingyu panik.

"Kenapa bisa begini?" sambung Mingyu

"Yang pasti dia hanya ingin aku datang sendiri." Soonyoung sudah merebut kembali handphonenya dan bersiap untuk lari, namun Seokmin menahan tangan Soonyoung.

"Hyung jangan gegabah." Seokmin berusaha membuat Soonyoung tenang, namun seperti nya hal itu tidak berhasil.

"Dia hanya ingin aku datang sendiri. Jadi aku akan datang sendiri." Soonyoung menekan setiap kata – katanya.

"Tapi Hyung... kau tidak bisa melawan sendirian. Bagaimana jika disana bukan hanya dia sendirian tapi bersama dengan anak buahnya? Jika seperti itu kau tidak bisa melawannya sendiri hyung."

"Kau fikir aku peduli. Aku tidak akan pernah peduli. Aku akan melawan mereka, yang terpenting sekarang adalah keselamatan Wonwoo." Soonyoung sudah mulai emosi melihat Seokmin mencegahnya

"TAPI AKU PEDULI PADAMU!" sentak Seokmin membuat Soonyoung dan semua orang terkejut.

"Aku sekarang adalah namjachingu mu, hyung. Jadi aku berhak melindungimu." Sambung Seokmin

"Aku juga berhak melindungi Wonwoo." Soonyoung mulai berargumen dengan Seokmin. Seokmin menghembuskan nafasnya kasar.

"Kau memang berhak melindungi Wonwoo hyung, karena kau saudaranya. Tapi Mingyu juga berhak akan hal itu karena dia adalah namjachingu Wonwoo hyung. Jun hyung dan Woozi hyung juga berhak melindungi Wonwoo hyung karena mereka adalah sahabat kalian. jadi kita semua punya hak melindungi Wonwoo hyung. Kau tidak sendiri hyung. Kau punya banyak orang yang akan melindungi Wonwoo hyung. Jadi kau harus tenang, jangan gegabah atau kau akan mencelakakan Wonwoo hyung."

Seokmin mencoba membuat Soonyoung tenang, namun kali ini sepertinya berhasil karena Seokmin dapat melihat Soonyoung mengedarkan tatapannya pada yang lain, dan emosi Soonyoung sedikit reda.

Soonyoung terlihat menghembuskan nafasnya keras, dia benar – benar frustasi dan gelisah. Dia saat ini sangat mengkhawatirkan Wonwoo. Seokmin menggenggam tangan Soonyoung lembut.

"Hyung, kita harus berfikir dengan kepala dingin. Kita harus tenang. Jika kita gegabah maka Wonwoo hyung juga akan dalam kesulitan. Kita buat rencana, eoh? Kau harus tenang, karena Wonwoo hyung sedang menunggu mu menyelamatkan dia." Seokmin membelai lembut pipi chubby Soonyoung.

***SOONWOO TWINS***

Wonwoo memandang orang yang sedang berdiri dihadapannya dengan tajam. Sedangkan orang yang sedang berdiri hanya memandangnya sinis, dia adalah JongUp.

"Kenapa kau memandang ku seperti itu, manis?" JongUp tersenyum sinis kearah Wonwoo. Sedangkan Wonwoo hanya mampu menatapnya saja, karena sekarang posisinya tidak bisa bergerak dan mulutnya di sumpal dengan kain agar tidak bisa berbicara.

"Oh... apa kau mau mengatakan sesuatu padaku?" JongUp bertanya dengan wajah yang dibuat – buat. Wonwoo hanya mampu mengalihkan pandanganya dengan kesal. Dia benar – benar ingin menendang JongUp ke ujung dunia agar tidak berdiri dihadapannya.

Wonwoo dapat melihat disekelilingnya, bukan hanya dirinya dan JongUp tapi beberapa orang berbadan besar dan berpakaian serba hitam berdiri disudut – sudut ruangan untuk berjaga – jaga. Wonwoo sangat mengkhawatirkan Soonyoung, bagaimana jika Soonyoung benar – benar menyelamatkannya sendirian? Bagaimana Soonyoung mampu menghadapi semua orang yang ada disini? Bagaimana jika nanti dia terluka karena menyelamatkan dirinya? Pertanyaan – pertanyaan dan kekhawatiran itulah yang sedang menghantui pikiran Wonwoo.

Secara tiba – tiba JongUp mengambil kursi dan duduk dihadapan Wonwoo, hal itu tentu saja membuat Wonwoo tersadar dari lamunannya. Lalu dengan kasar JongUp membuka sumpal kain yang ada dimulut Wonwoo.

"Sebenarnya apa mau mu?" kalimat itulah yang pertama kali keluar dari mulut Wonwoo.

"Apa kau benar – benar tidak tahu apa yang ingin ku lakukan jika melihat kondisimu terdesak seperti ini?" JongUp menatap sinis kearah Wonwoo.

"Kita tidak pernah bicara, aku tidak pernah benar – benar mengenalmu. Hanya mendengar jika kau adalah pembuat masalah disekolah. Apa untungnya kau melakukan hal ini padaku? Aku dan Soonyoung tidak pernah mengusik hidupmu." Wonwoo menekan setiap perkataannya.

Hal itu tentu saja membuat JongUp tersulut emosi, dengan kerasnya JongUp mengayunkan tanganya ke arah Wonwoo.

PLAK!

Terdengar sangat keras. Wonwoo merasakan kepalanya pening seketika, sakit dan perih di pipinya.

"Kau bilang apa? Tidak mengusik hidupku?" JongUp mengapit dagu Wonwoo dengan kuat, hingga Wonwoo kesakitan.

"KALIAN TELAH MENGUSIK HIDUPKU! KALIAN PENGHANCUR HIDUP KU" teriak JongUp dihadapan Wonwoo.

"Mengusik apa? Penghancur apa? Bahkan aku tidak pernah berbicara dengan mu. Lalu apa salahku hingga kau melakukan ini padaku?" Wonwoo tidak mau kalah beradu argumen dengan JongUp.

Melihat sikap melawan Wonwoo, JongUp kembali melayangkan tamparan ke wajah Wonwoo hingga Wonwoo terjatuh bersama kursi yang dia duduki. Kali ini Wonwoo merasakan sudut bibirnya berdarah dan kembali merasakaan Kepalanya pening, dari situ dia tahu betapa kuatnya tamparan JongUp padanya.

Dengan kasarnya JongUp menarik tubuh dan menarik rambutnya hingga Wonwoo mengerang kesakitan. Wonwoo benar – benar tidak bisa berkutik karena dirinya dalam keadaan terikat.

"Kau memang tidak pernah berbicara dengan ku, aku hanya menggunakanmu untuk menghancurkan keluargamu sendiri." JongUp tertawa dengan senang melihat wajah terkejut Wonwoo.

"Kau memang tidak mempunyai kesalahan terhadapaku, tapi kau sangat bermanfaat untuk menghancurkan semuanya, kau bagaikan bom waktu yang sewaktu – waktu bisa menghancurkan segalanya hanya dengan sekali serang. Bagaimana seru kan?" JongUp memasang wajah kemenangan

"Apa maksudmu?" Wonwoo benar – benar bingung sekarang, apa yang sedang dibicarakan oleh JongUp.

"Jadi kau benar – benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?" melihat wajah bingung Wonwoo membuat JongUp dengan senang hati menceritakan semuanya.

"Baiklah aku akan menjelaskannya. Tapi setelah ini kau akan sangat bermanfaat untukku" JongUp tersenyum penuh kemenangan, dengan kasar JongUp menarik Wonwoo beserta dengan kursi yang dia duduki. JongUp duduk di hadapan Wonwoo dengan sangat santai.

"Awalnya aku sangat dendam pada Soonyoung. Ketika dia merebut ketua klub dance yang seharusnya adalah milikku. Setelah itu, semua yang ku inginkan selalu menjadi milik Soonyoung termasuk Yeoja yang ku cintai. Yeoja yang ku cintai hampir saja telanjang di depan umum. Dan kau tahu apa sebab nya kan!" JongUp memberikan jeda sambil menatap Wonwoo tajam

"Itu semua karena mu. Hanya karena dirimu, Yeoja yang ku cintai hampir telanjang di depan umum dan pada akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Karena dirimu hal itu terjadi."

Mendengar kata – kata JongUp membuat Wonwoo teringat akan kejadian di Aula sekolah, dimana ada tiga Yeoja yang hampir ditelanjangi di Aula sekolah karena merencanakan untuk melecehkannya bersama dengan tiga sunbae mereka.

"Sejak saat itu aku sangat membenci kalian berdua terutama Kau. Rasa benci dan dendam ku pada Soonyoung bertambah kuat dan yang membuat ku sangat membenci kalian adalah karena kalian berasal dari keluarga Jeon. Keluarga Jeon yang hampir membuat perusahaan Appa ku bangkrut. Kibum Sajangnim membuat semua investor membatalkan perjanjian denga perusahan Appa ku, hal itu membuat saham perusahaan jatuh dan mengalami kerugian" membicarakan itu membuat JongUp emosi, lalu menatap Wonwoo dengan nyalang dan penuh amarah

"Sampai aku tahu jika kelemahan terbesar Soonyoung adalah Kau. Sejak saat itu aku selalu merencakan hal – hal yang akan selalu mencelakaimu."

"Mencelakaiku?" Wonwoo mengerutkan keningnya bingung

"Hm... Mencelakaimu. Apa kau tidak sadar jika semua kejadian yang menimpamu di sekolah itu adalah sengaja? Ya... semua yang terjadi padamu bukanlah kecelakaan tapi itu semua murni rencana yang sudah ku susun dengan sangat rapi. Hingga kau maupun Soonyoung tidak menyadarinya."

Mendengar pengakuan dari JongUp membuat Wonwoo membelalakkan matanya. Dia benar – benar terkejut.

"Mulai dari pecahan kaca yang hampir menimpa mu, telapak tangan mu yang hampir dihancurkan oleh Tzuyu, Kau yang tertipa barang – barang digedung olah raga, kecelakaan di kantin hingga yang terakhir jatuh dari tangga. Semua itu adalah rencanaku."

"Aku yang meminta Zuho untuk memecahkan kaca saat kau melintas diatas ruang musik. Aku juga yang meminta Jihyo untuk menghasut Tzuyu. Aku yang memanfaatkan keadaan keuangan Jinsub agar dia mau membuat kecelakaan di gedung olah raga, lalu petugas minuman palsu yang ku sewa untuk membuat kekacauan di kantin hingga memanfaatkan kepolosan Taeyang dan Minho untuk mendorongmu jatuh dari tangga"

JongUp tersenyum penuh kemenangan kearah Wonwoo saat melihat Wonwoo memasang wajah terkejutnya atas semua pengakuan JongUp.

"Tapi di kejadian Zuho, jika aku tidak membuang sampah ke belakang sekolah apa yang akan kau lakukan? Sepertinya kejadian itu hanya kebetulan. Jika aku tidak membuang sampah waktu itu kau tidak akan bisa menjalankan rencanamu kan." Wonwoo mencoba tetap tenang walaupun sebenarnya dia masih terkejut dengan semuanya, dadanya bergemuruh penuh ketakutan. Dia tidak menyangkan jika orang yang ada dihadapannya ini benar – benar merencanakan semuanya tanpa ada kecurigaan sedikitpun.

JongUp tertawa ketika mendengar penuturan Wonwoo.

"Kau pikir itu adalah kebetulan? Apa kau pikir aku tidak merencanakannya matang – matang? Kau ingat siapa yang menyuruhmu untuk membuang sampah waktu itu?" JongUp mencoba membuat Wonwoo mengingat kejadian itu.

Wonwoo mengerutkan keningnya lalu tiba – tiba dia terkejut ketika sadar akan satu hal, jika waktu itu dia tahu siapa yang memintanya untuk membuang sampah. Dia ingat bahwa ada sebuah suara dari bangku belakang yang memintanya untuk membuang sampah ke belakang sekolah dan itu adalah Changkyun.

"Kalau kau tidak ingat maka aku akan mengingatkanmu. Yang meminta mu untuk membuang sampah waktu itu adalah Changkyun. Lim Changkyun. Aku yang meminta dia untuk melakukannya. Dia tidak tahu jika aku memanfaatkannya dan dengan polosnya dia meminta mu untuk membuang sampah. Padahal jika Changkyun ingat, hari itu bukan giliranmu untuk membuang sampah." JongUp tersenyum sinis

"Jika Changkyun mengetahui bahwa gara – gara dia, kau hampir celaka. Apa yang akan dilakukan Changkyun ya? Pasti dia akan sangat sedih mendengarnya. Apalagi Changkyun salah satu teman baik mu di kelas kan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana wajah bersalah Changkyun, itu pasti sangat menyenangkan jika dilihat, pastinya akan sangat dramatis sekali" JongUp memasang wajah sedih yang dibuat – buat. Lalu tertawa penuh kemenangan.

Wonwoo memasang wajah kesalnya, dia berusaha untuk membuka ikatan tangan dan juga kaki nya namun sia – sia.

"Jika kau melakukan itu maka aku akan memastikan kau tidak akan bisa lepas dari Shownu hyung dan Kihyun hyung. Mereka selalu berusaha menjaga dan membahagiakan Changkyun. Jika sedikit saja kau melukainya maka ku pastikan kau tidak lepas dari mereka berdua." Wonwoo masih terus berusaha melepaskan ikatan nya.

"Apa kau sedang mengancamku?" JongUp memasang wajah ketakutan yang buat – buat.

"Aku tidak sedang mengancam mu, JongUp-shi. Aku juga tidak main – main. Apa kau lupa jika dua orang itu juga sangat berpengaruh di Pledis Art School? Dan apa kau juga lupa jika orang tua mereka salah satu pemegang saham di perusahan Appamu" Wonwoo tersenyum sinis membalas JongUp

"Jika mereka tahu kau memanfaatkan Changkyun dan menyakitinya, kau bisa membayangkan kan apa yang akan terjadi padamu dan perusahaanmu."

Mendengar penuturan Wonwoo membuat JongUp emosi dan melayangkan pukulan ke wajah Wonwoo hingga Wonwoo kembali terjatuh bersama dengan kursinya.

"Jangan coba – coba mengancamku, Jeon Wonwoo!" JongUp menarik rambut hitam Wonwoo dengan kasar hingga Wonwoo kesakitan.

"Tapi... sebelum semua itu terjadi kau akan ku buat menderita." JongUp tertawa terbahak saat melihat wajah kesakitan Wonwoo.

"Tuan JongUp, dia sudah datang." Tiba – tiba salah satu anak buah dari JongUp membisikkan sesuatu.

Mendengar itu JongUp tersenyum sinis sambil memandang Wonwoo.

"Apa dia datang sendiri?"

"Ne, Tuan. Dia datang sendiri."

Senyuman JongUp semakin lebar mendengar hal itu. Dengan kasar JongUp melepaskan tarikannya pada rambut Wonwoo. Dan membuat Wonwoo kembali di posisinya semula.

Tidak lama setelah itu JongUp dan Wonwoo mendengar suara langkah kaki yang menggema di ruangan.

"Soonyoung-ah" gumam Wonwoo lirih

"Kau benar – benar datang sendiri sesuai dengan permintaanku ya... Jeon Soonyoung" ucap JongUp saat melihat Soonyoung berjalan kearahnya dengan angkuh. Soonyoung hanya menatap JongUp dengan pandangan datar. Lalu Soonyoung menatap Wonwoo yang terduduk dengan keadaan terikat dibelakang JongUp. Soonyoung sedikit terkejut melihat wajah Wonwoo yang terluka

"Kau melukainya? Berani sekali kau melukai Wonwoo." Soonyoung cukup geram akan hal itu.

"Ah... Mianhae. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya sedikit kesal dengannya, akhirnya ku lampiaskan saja." JongUp memasang wajah bersalah yang dibuat – buat. Hal itu sangat menyebalkan dimata Soonyoung.

"Kau berjanji untuk tidak menyakitinya, kenapa kau lakukan itu?" Soonyoung mulai terpancing emosi melihat JongUp.

"Kapan aku berkata seperti itu? Aku hanya mengatakan jika kau masih ingin melihatnya maka kau harus menuruti kemauanku. Aku hanya mengatakan itu, aku tidak mengatakan untuk tidak menyakitinya kan." JongUp berjalan mendekati Soonyoung lalu tersenyum sinis padanya.

"Ya... hitung – hitung sebagai balasan karena kau beberapa bulan terakhir ini menyelidiki ku. Aku begitu kesal karena kau sangat ingin tahu tentang ku" JongUp berjalan memutari Soonyoung.

"Apa maksudmu?" Soonyoung mencoba tenang. Dengan congkaknya JongUp tertawa

"Apa kau fikir aku bodoh? Aku tahu selama ini kau meminta bantuan Minho dan Taeyang untuk menyelidiku dan juga kejadian – kejadian yang menimpa saudara kembarmu itu disekolah, apa aku salah Jeon Soonyoung?" JongUp berdiri dihadapan Soonyoung.

Soonyoung menatap curiga kearah JongUp, dan tengah berfikir apakah Minho dan Taeyang sudah mengkhianatinya?

"Oh... jangan Khawatir! Minho dan Taeyang tidak sedang mengkhianatimu" ucap JongUp seolah – olah membaca apa yang tengah Soonyoung fikirkan.

"Aku mengetahuinya sendiri. Apa kau fikir aku tidak mempunyai orang – orang handal yang selalu mengawasi gerak – gerikmu? Aku tahu apa yang selalu kau lakukan Jeon Soonyoung." sambung JongUp.

"Apa sebenarnya mau mu? Kau ingin balas dendam?" Soonyoung menggunakan nada yang sakratis

"Kau sangat pengecut. Tidak berani melawanku sendiri, tapi menggunakan Wonwoo untuk menghancurkan semuanya. Kau licik." Sambung Soonyoung sinis.

JongUp berdecik kesal "Aku hanya memanfaatkan saja. Apa kau tidak tahu jika Wonwoo-mu itu seperti Bom waktu, yang sewaktu – waktu bisa menghancurkan segalanya."

Setelah mengatakan itu JongUp melayangkan pukulan ke arah Soonyoung hingga Soonyoung tersungkur jatuh.

"Soonyoung-ah" pekik Wonwoo panik, dia berusaha melepaskan ikatannya namun tetap saja tidak berhasil. Sedangkan Soonyoung berusaha untuk berdiri kembali.

"Aku tidak akan mengulur – ulur waktu. Dihadapan Saudara mu ini, aku akan menghabisimu sekarang juga. Aku akan menyelesaikannya hari ini. Aku ingin lihat bagaimana hancurnya keluarga Jeon jika salah satu penerusnya sudah mati" JongUp mengisyaratkan kepala anak buahnya untuk maju dan mengepung Soonyoung.

Melihat situasi itu membuat Wonwoo tidak tenang, Wonwoo berusaha membuka ikatan talinya.

"Mingyu... Seokmin... Jun... Woozi... Kalian dimana? Kenapa kalian membiarkan Soonyoung datang sendiri?" batin Wonwoo panik saat Soonyoung sudah bersiap – siap untuk melawan beberapa anak buah JongUp yang berjumlah tujuh orang.

Soonyoung memasang kuda – kuda untuk melawan orang – orang yang tengah mengepungnya.

"Berusahalah untuk mengulur waktu, hyung. Kami akan mengikutimu dari belakang, tapi sedikit jauh, agar mereka tidak curiga jika kami juga tahu bahwa Wonwoo hyung diculik."

Soonyoung teringat apa yang dikatakan Seokmin sebelum dia pergi untuk menyelamatkan Wonwoo.

"Kami akan melihat situasi dari kejauhan. Jika kami sudah mengetahui keadaan sekitar maka kami akan segera datang." Ucap Jun menyakinkan Soonyoung

"Kita akan berpencar untuk melihat sekeliling gedung. Apakah gedung itu dijaga atau tidak. Jika dijaga maka tugas kami adalah membereskan penjagaan dulu baru bisa masuk ke gedung" Mingyu menambahkan untuk menyusun strategi.

"Sebisa mungkin ulur waktu nya agar kami juga bisa membereskan yang diluar. Karena aku yakin JongUp tidak mungkin membiakan keadaan diluar tanpa penjagaan" Woozi memegang tongkat bisbol untuk senjata.

"Aku dan Seungkwan akan melapor pada polisi." Minghao ikut andil dalam rencana menyelamatkan Wonwoo.

"Kau punya rencana sendiri hyung?" tanya Seokmin pada Soonyoung, karena dari tadi dia hanya diam memperhatikan rencana yang mereka buat.

"Tentu. Aku sudah menyiapkan ini dari awal untuk menjebak JongUp tapi ternyata dia terlebih dahulu yang bergerak maka rencanaku akan sangat berguna." Soonyoung menatap Seokmin dengan yakin.

"Kau harus hati – hati, hyung. Kami akan segera menolongmu dan Wonwoo hyung" ucap Seokmin sebelum Soonyoung pergi.

"Semoga kalian tidak terlambat datang sebelum aku benar – benar mati disini" batin Soonyoung sambil menunggu penyerangan.

Tidak lama kemudian satu persatu anak buah JongUp mulai menyerang Soonyoung, Soonyoung dengan sigap dan gesit melawan dan melumpuhkan satu persatu anak buah JongUp.

Melihat situasi terburuk membuat JongUp sedikit panik kemudian berjalan kearah Wonwoo, berdiri dibelakang Wonwoo.

JongUp dapat melihat jika sekarang anak buahnya tersisa tiga orang untuk melawan Soonyoung.

"Jeon Soonyoung" panggil JongUp, hal itu tentu saja membuat Soonyoung mengalihkan perhatiannya kearah JongUp. Betapa terkejutnya Soonyoung melihat JongUp berdiri dibelakang Wonwoo dan tengah mengarahkan pisau di leher Wonwoo. Wonwoo terlihat waspada pada benda yang tengah menempel pada lehernya ini, dia harus hati – hati atau pisau itu akan menggores lehernya.

"Apa yang kau lakukan? Jauhkan benda itu dari Wonwoo" geram Soonyoung. JongUp hanya tersenyum sinis menatap Soonyoung yang panik.

"Lihatlah! Kau begitu panik kan, ini lah yang ku bilang bahwa dia adalah Bom waktu yang akan menghancurkan segalanya."

"Kau benar – benar licik." Soonyoung mengepalkan tanganya kuat, dia sudah sangat ini menghajar JongUp sekarang.

"Jika kau masih ingin melihatnya, maka jangan melawan."

Wonwoo terkejut dengan ucapan JongUp. Dia tahu apa yang akan terjadi jika Soonyoung tidak melawan.

"Jangan dengarkan dia! kau harus melawan, Soonyoung-ah. Tidak ada jaminan jika kau tidak melawan aku tidak akan terluka. Jangan percaya apa yang dikatakan JongUp" Wonwoo berusaha memberi peringatan pada Soonyoung, agar Soonyoung tidak percaya pada ucapan JongUp.

"Diam kau, Jeon Wonwoo!" geram JongUp semakin menekan pisau itu dileher Wonwoo.

"Aku baik – baik saja. Jadi kau harus melawan. Dia tidak bisa dipercaya, Soonyoung-ah." Wonwoo kembali mengucapkan kata – kata perlawanan.

"AKH!" Pekik Wonwoo nyaring, JongUp mengoreskan sebuah luka di lengan kiri Wonwoo. Tidak dalam tapi tetap saja menyakitkan.

"WONWOO!" Seru Soonyoung

"Jangan sakiti dia!" sambung Soonyoung panik, dia khawatir melihat wajah Wonwoo yang kesakitan.

"Jika kau tidak ingin melihat dia terluka maka jangan melawan. Atau kau mau melihat darah segar keluar dari dalam tubuhnya." Ucap JongUp sambil mengangkat dagu Wonwoo dengan ujung pisau yang sudah ada darahnya.

"Aku tidak pernah main – main. Jika sudah seperti ini apa kau bisa bilang baik – baik saja, Jeon Wonwoo-shi?" bisik JongUp sambil tersenyum sinis kearah Wonwoo yang tengah kesakitan.

"Psikopat!" umpat Wonwoo sambil memandang tajam JongUp, JongUp yang tidak terima diumpat seperti itu melayangkan pukulan yang sangat kuat hingga sudut bibir Wonwoo yang sebelah lagi terluka.

"KU BILANG JANGAN SAKITI DIA!" teriak Soonyoung tidak terima, Soonyoung sudah ingin mendekat namun langkahnya terhenti oleh ketiga orang yang berdiri dihadapannya.

"Ups... Maaf! Tangan ku Refleks!" JongUp menggangkat kedua tangannya sambil tersenyum.

Soonyoung panik, cemas, dan khawatir. Dia melirik pintu keluar, tapi tidak ada tanda – tanda Seokmin, Mingyu, Jun dan Woozi muncul. Apakah mereka juga kewalahan menghadapi anak buah JongUp. Itulah yang dipikirkan Soonyoung.

BUK! Tiba – tiba satu pukulan mendarat pada wajah Soonyoung hingga membuat Soonyoung tersungkur.

"Andwe!" Wonwoo melihat bagaimana Soonyoung tersungkur dihadapannya.

Ketiga anak buah JongUp bergantian menghajar Soonyoung, tubuhnya dibuat bulan – bulanan oleh ketiga orang tersebut, Soonyoung benar – benar tidak melawan. Wonwoo menyaksikan bagaimana Soonyoung dihajar habis – habisan dan menjadi pelampiasan.

"Andwe! Andwe! Soonyoung-ah... kau harus melawan. Soonyoung-ah" teriak Wonwoo sambil menangis. Sedangkan JongUp tertawa penuh kemenangan.

"Mingyu, Seokmin, Jun, Woozi... ku mohon tolong aku! Ku Mohon selamatkan Soonyoung." batin Wonwoo sambil terus berharap ke empat orang itu datang dan menyelamatkan mereka.

Wonwoo benar – benar merasakan hati nya sakit melihat tubuh Soonyoung penuh dengan luka. Dia masih berusaha melepaskan ikatannya, walaupun sudah sedikit longgar namun ikatan itu belum juga terlepas.

"Soonyoung-ah..." gumam Wonwoo sambil menangis.

Soonyoung sudah tidak sanggup berdiri namun dia masih sadar, dia dapat melihat Wonwoo menangis sambil terus berusaha membuka ikatan pada tubuhnya.

"Soonyoung-ah"

Suara Wonwoo masih bisa didengar oleh Soonyoung namun dia sudah tidak sanggup berdiri, tubuhnya sudah sangat sakit. Soonyoung berusaha meringsut kearah Wonwoo namun punggungnya secara tiba – tiba diinjak oleh salah satu anak buat JongUp. Soonyoung hanya mampu mengerang, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak.

"Bagaimana Wonwoo-shi? Aku benar kan?" ucap JongUp sambil menggenggam pundak Wonwoo lalu mendekatkan wajahnya pada telinga Wonwoo.

"Lihatlah! Kau benar – benar Bom waktu. Yang bisa menghancurkan semua. Hanya demi dirimu Soonyoung rela tidak melawan dan membiarkan dirinya babak belur. Sungguh pemandangan yang indah." JongUp memeluk leher Wonwoo.

"Jika kedua orang tua kalian tahu, aku yakin mereka pasti akan sangat terkejut melihatnya. Aku benar – benar tidak sabar untuk melihatnya, bagaimana hancurnya keluarga Jeon. Dan yang menghancurkan nya adalah Kau. Kau lah yang menghancurkannya" sambung JongUp. Wonwoo sudah menangis mendengarnya, kata – kata itu sangat menyakitkan baginya apalagi dia melihat dihadapannya Soonyoung sedang tidak berdaya.

"Jika bukan karena kau, Soonyoung tidak mungkin terluka. Jika bukan karena menyelamatkan mu Soonyoung tidak akan datang kemari. Karena kau, Soonyoung tidak berdaya. Karena kau kedua orang tua kalian akan sedih dengan semua ini, karena kau semua keluarga mu menderita. Kau lah penderitaan terbesar mereka, Jeon Wonwoo-shi." JongUp mengulang kembali kata – kata yang menyakitkan bagi Wonwoo.

"Jangan... mengatakan apapun... untuk menyakitinya... dasar... brengsek!" umpat Soonyoung pelan, namun hal itu tentu saja masih bisa didengar oleh JongUp dan Wonwoo.

"Dengan keadaan seperti itu pun kau masih bisa mengumpati ku, luar biasa!" JongUp bertepuk tangan.

Tiga anak buahnya sudah ingin menarik Soonyoung untuk berdiri, namun JongUp menjegahnya.

"Tunggu! Biarkan aku yang menyelesaikannya. Aku ingin mengakhiri ini dengan tangan ku sendiri." Mendengar perintah seperti itu membuat ketiga anak buahnya mundur agar JongUp dapat melakukan apapun yang dia inginkan.

JongUp tersenyum penuh kemenangan kearah Wonwoo.

"Lihatlah, demi dirimu... dia bahkan masih bisa bertahan hanya untuk mengumpatiku. Aku akan menunjukkan akhir dari semua ini dihadapanmu." JongUp menyeret kursi yang tadi ada dihadapan Wonwoo.

Wonwoo dapat melihat bahaya yang akan menghampiri Soonyoung, dengan sekuat tenaga Wonwoo melepaskan ikatan yang ada di kakinya dan hasilnya ikatan di bagian kakinya terlepas namun tidak dengan ikatan di tangannya. Wonwoo sibuk melepaskan ikatan tangannya, hingga dia tidak melihat bahwa JongUp sudah berada dihadapan Soonyoung.

"Apakah aku akan mati ditangan orang ini?" batin Soonyoung sambil menatap JongUp, lalu menatap pintu masuk. berharap Seokmin, Mingyu, Jun, dan Woozi segera datang. Sayup – sayup Soonyoung dapat mendengar suara langkah.

"Semoga kalian tidak terlambat!" Soonyoung memejamkan matanya saat melihat JongUp sudah bersiap mengayunkan kursinya.

Saat Wonwoo mengangkat kepalanya, saat itu pula dia dapat melihat JongUp mengayunkan kursi sekuat tenaga kearah Soonyoung yang sudah tidak berdaya. Dengan gerakan cepat Wonwoo berlari kearah Soonyoung dan...

BRAAAKKK!

Kursi itu menghantam dengan keras punggung Wonwoo. Wonwoo tepat waktu berlari kearah Soonyoung untuk melindunginya.

Merasa tidak merasakan sakit ditubuhnya, membuat Soonyoung membuka matanya dan melihat Wonwoo tergeletak di sampingnya dengan wajah yang kesakitan. Kursi yang dihantamkan juga sudah tidak berbentuk lagi, hancur berantakan.

"Won... Woo" panggil Soonyoung lemah.

"Waaaah... waahhh... drama keluarga yang mengharukan." Ejek JongUp

Soonyoung sudah tidak mengindahkan ejekan JongUp yang dia pikirkan saat ini adalah kondisi Wonwoo yang tengah kesakitan di sampingnya.

"Wonwoo... Wonwoo-ah... kau bisa mendengarkanku?" bisik Soonyoung sambil meringsut memeluk kepala Wonwoo. Namun Wonwoo hanya merintih kesakitan. Soonyoung dapat merasakan kening Wonwoo berdarah.

Tiba – tiba terdengar langkah memasuki gedung dengan terburu – buru.

"ANGKAT TANGAN! PENYERAHLAH! KAMI SUDAH MENGEPUNG TEMPAT INI!" teriak seseorang sambil mengarahkan pistol.

Mingyu, Seokmin, Jun dan Woozi datang bersama beberapa polisi yang mengawal mereka. Mereka berempat terlihat babak belur dan kelelahan.

"Sial! Kalian memanggil polisi rupanya." Umpat JongUp saat tahu dirinya sudah terlalu asyik menyiksa Soonyoung dan Wonwoo sampai tidak sadar bahaya yang menghampirinya.

"Cepat kalian kabur dari sini!" bisik JongUp kepada ketiga anak buahnya sedangkan dirinya sudah bersiap untuk kabur meninggalkan beberapa anak buahnya yang terkapar karena melawan Soonyoung tadi.

"JANGAN KABUR! ATAU KALIAN AKAN DITEMBAK!" salah satu polisi memberi peringatan.

Namun peringatakan itu tidak diindah kan oleh JongUp. JongUp berhasil kabur namun salah satu polisi mengetahuinya.

DOR!

Satu tembakan peringatakan dilepaskan untuk menghentikan JongUp, tembakan itu mengenai kaki JongUp namun hal itu tidak membuat JongUp berhenti. Dia berhasil bersembunyi dan kabur. Sedangkan ketiga anak buahnya sudah dikepung di luar gedung.

Mingyu, Seokmin, Jun dan Woozi menghampiri Soonyoung dan Wonwoo yang sudah tidak berdaya di tengah – tengah ruangan.

"Wonwoo hyung"

"Soonyoung hyung"

Mingyu dan Seokmin terlihat panik, karena melihat Wonwoo dan Soonyoung tengah berada diambang kesadaran. Soonyoung yang tengah memeluk Wonwoo sedangkan Wonwoo tengah meringis kesakitan.

"Wonwoo... Wonwoo... Wonwoo..." rancau Soonyoung, beberapa detik kemudian Wonwoo merasakan kepalanya terasa berat dan pandangannya mengabur lalu semuanya menjadi gelap.

"Wonwoo hyung" pekik Mingyu khawatir.

Seokmin dan Mingyu melepaskan pelukan Soonyoung, lalu Mingyu mengangkat tubuh lemah Wonwoo dan membawanya keluar.

"Wonwoo... Wonwoo..." rancau Soonyoung sambil menangis

"Iya, Hyung... kita akan membawa kalian berdua kerumah sakit." Seokmin berbisik pada Soonyoung. Soonyoung berasakan tubuhnya diangkat dan dibawa keluar.

Soonyoung masih dapat melihat punggung Mingyu yang berlari sambil membawa Wonwoo, lalu mengalihkan pandangannya kearah Seokmin yang tengah menggendongnya. Dia dapat melihat wajah Seokmin terluka dan melihat kekhawatiran tersirat di wajah orang yang dia cintai ini.

"Mianhae...Seokmin-ah" bisik Soonyoung sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.

***SOONWOO TWINS***

"Bagimana keadaan mereka berdua, Appa?" tanya Mingyu saat Zhoumi keluar dari ruang UGD. Seokmin, Jun, dan Woozi berdiri disamping Mingyu dengan cemas.

"Mereka baik – baik saja, walaupun tadi sempat kritis." Jelas Zhoumi

Mereka berempat bernafas lega saat mendengarkannya

"Tapi Wonwoo harus mendapat donor darah."

"Apa Wonwoo hyung kehilangan banyak darah?" Mingyu kembali cemas. Zhoumi menggelengkan kepalanya

"Sebenarnya keadaan Wonwoo tidak separah Soonyoung, dia tergores dilengan kiri dan keningnya. tapi darah yang merembes keluar tidak dikatakan sedikit juga tidak dibisa dikatakan banyak, namun Wonwoo tetap harus mendapatkan donor darah. Rumah sakit ini kehabisan stok golongan darah yang sama dengan Wonwoo, yang digunakan sekarang adalah stok terakhir. Jadi kita harus cepat mendapatkan donor darah." Zhoumi menjelaskan dengan tenang agar ke empat orang yang ada di hadapannya tidak terlalu panik.

"Tadi aku sudah menghubungi Donghae Eomma dan Kibum Appa, mereka akan segera kesini." Jun berusaha tidak panik.

"Tidak bisa Jun, Donghae Eomma baru saja memberitahu ku jika mereka terjebak macet. Jadi mereka tidak bisa segera kesini."Penjelasan Woozi membuat ke empat orang tersebut terkejut. Woozi menunjukkan pesan yang Donghae kirimkan.

"MWO?"

"Apa golongan darah Wonwoo hyung?" Mingyu bertanya pada Zhoumi dengan buru – buru.

"O, sedangkan yang berdarah O hanya Kibum. Kita harus menunggu Kibum datang."

"Apa masih cukup waktu menunggu kedatangan Kibum Appa?" Woozi sedikit khawatir akan hal itu.

"Sepertinya tidak. Karena kantung darah Wonwoo sudah mulai habis dan kita harus segera mendapatkan donor darah."

Mingyu sudah terduduk lemas, dia ingin menyumbangkan darahnya tapi golongan darahnya tidak cocok dengan Wonwoo.

"Tidak perlu menunggu Kibum, Zhoumi-ah" tiba – tiba sebuah suara membuat mereka berlima mengalihkan perhatiannya. Semua orang terkejut ketika tahu orang yang membuat mereka terkejut.

"Eomma"

"Heechul hyung"

Pekik Mingyu dan Zhoumi bersamaan, Heechul menghampiri mereka berlima sambil tersenyum.

"Dari mana Eomma tahu aku disini?"

"Eomma memasang GPS di handphone mu, karena kau tidak mengangkat telpon dari Eomma walaupun Eomma menghubungi mu berulang kali. Eomma khawatir"

"Maaf Eomma. Aku khawatir dengan Wonwoo hyung." Mingyu menunduk menyesal karena membuat Eommanya khawatir. Heechul tersenyum sambil mengelus kepala Mingyu yang tertunduk.

"Aku akan menyumbangkan darah ku untuk Wonwoo, Zhoumi-ah" Heechul menghampiri Zhoumi.

Mendengar itu membuat Zhoumi sedikit bimbang, apakah dia harus menerima donor darah dari Heechul atau tidak.

"Aku tahu kau sedang bimbang, tapi ini bukan waktunya untuk berfikir seperti itu. Yang harus dipikirkan sekarang adalah keselamatan Wonwoo. Wonwoo lebih penting sekarang. Apa aku tidak boleh menyelamatkan keponakanku?" Heechul memandang Zhoumi yang sekarang tengah memandangnya bimbang.

"Aku yang sekarang bukan lah Kim Heechul yang dulu. Aku bukan lagi orang yang kau temui tujuh belas tahun yang lalu, yang pernah ingin melenyapkan bayi yang ada di kandungan Donghae. Aku sudah berubah, Zhoumi-ah. Jadi percayalah padaku, aku tidak akan menyakiti mereka lagi." Heechul berusaha menyakinkan Zhoumi.

Dengan pertimbangan yang lama, akhirnya Zhoumi menyetujui donor darah dari Heechul. Karena yang terpenting sekarang adalah Wonwoo.

"Baiklah!" Zhoumi menghembuskan nafasnya kasar, dia benar – benar harus berfikir sebagai dokter bukan sebagai teman lama seorang Kim Heechul.

Zhoumi mengarahkan Heechul untuk pemeriksaan sebelum darahnya benar – benar diambil dan didonorkan pada Wonwoo.

**30 MENIT KEMUDIAN***

Heechul duduk bersama Mingyu, Seokmin, Jun, dan Woozi di ruang tunggu ICU, mereka belum boleh masuk untuk menengok keadaan Soonyoung dan Wonwoo. Karena kedua orang tua mereka belum datang.

Tidak berapa lama kemudian mereka mendengar suara derap kaki memenuhi ruang tunggu ICU, mereka melihat Kibum dan Donghae berlari secara terburu – buru. Sesampainya di depan ruang ICU mereka berdua terkejut melihat keberadaan Heechul, seketika langkah Kibum dan Donghae seperti terhenti. Heechul tersenyum melihat itu, dia tahu hal ini tidaklah mudah namun dia juga tidak ingin menghindar terus menerus.

"Keadaan Wonwoo dan Soonyoung sudah baik – baik saja, kalian tidak usah cemas." Suara Heechul mampu membuyarkan keterkejutan Kibum dan Donghae.

"Heechul hyung..." panggil Donghae tercekat, dia sudah sangat merindukan Heechul tapi dia juga takut Kibum marah jika dia menghampiri Heechul begitu saja.

Kibum sebenarnya masih sedikit membenci Heechul namun ketika melihat Mingyu berada disamping Heechul membuatnya teringat akan janjinya yang berusaha untuk memberi kesempatan pada Heechul dan membuka pintu maaf bagi Heechul. Kibum terlihat mengatur nafasnya perlahan.

"Terima kasih" ucap Kibum tiba – tiba, yang membuahkan keterkejutan bagi semua orang terutama Donghae dan Heechul.

"Jun tadi memberi tahu jika kau mendonorkan darah untuk Wonwoo sebelum kami datang, jadi aku mengucapkan terimakasih banyak karena telah menyelamatkan anak kami." Kibum berbicara tenang mencoba untuk menata perasaannya ketika melihat Heechul. Jujur saja Kibum masih sedikit trauma melihat Heechul, trauma akan Heechul yang akan menyakiti orang – orang yang dia cintai.

"Sama – sama." Heechul tersenyum tulus pada Kibum.

Kibum menoleh kearah Donghae, dia dapat melihat jika Donghae sangat merindukan hyung angkatnya itu. Kibum menepuk bahu Donghae pelan.

"Kenapa kau diam saja, tidak ingin memeluknya? Bukan kah kau sangat merindukan hyung mu" bisik Kibum yang membuat Donghae menoleh kearahnya penuh haru, melihat hal itu Kibum tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.

Donghae perlahan berjalan ke arah Heechul, lalu tersenyum ketika hyung nya itu membelai lembut rambutnya.

"Entah kenapa seiring bertambah usia mu, kau semakin manis Donghae-ah"

"Heechul hyung, Bogoshipo." Donghae memeluk

"Nado Bogoshipo" balas Heechul sambil tersenyum.

Kebahagian itu tidak berlangsung lama, hingga tiba – tiba beberapa perawat masuk dengan terburu – buru dan melihat Zhoumi juga tengah berlari dengan panik.

"Zhoumi hyung, ada apa?" tanya Kibum cemas, begitu pula dengan semua orang yang sangat cemas ketika melihat Zhoumi panik.

"Soonyoung kritis. Ginjalnya sepertinya sedang kambuh. Dan kami harus melakukan tindakan cuci darah sebelum terlambat." Zhoumi hendak masuk ruang ICU namun Seokmin menahannya.

"Zhoumi Appa... lakukan operasinya." Seokmin sudah mulai panik

Namun sebelum Zhoumi menjawab seorang perawat muncul dari balik pintu ruang ICU.

"Dokter... detak jantung pasien semakin lemah." Seru perawat dengan tergesa – gesa.

"Kita akan bicarakan nanti, yang terpenting adalah aku harus melakukan cuci darah pada Soonyoung."

Zhoumi akhirnya masuk ke ruang ICU. Semua orang yang berada di ruang tunggu sangat cemas dan berharap Soonyoung baik – baik saja.

*** 1 jam kemudian ***

Zhoumi keluar dari ICU dengan wajah yang lega kemudian melepas maskernya

"Bagaimana keadaan Soonyoung?" tanya Donghae panik.

"Dia sudah baik – baik saja. Kalian tenang aja. Sekarang keadaan Soonyoung dan Wonwoo sudah membaik. Kita harus membiarkan mereka berdua istirahat."

"Zhoumi Appa, kenapa tidak melakukan operasi saja. Aku siap mendonorkan ginjal ku pada Soonyoung hyung" ucap Seokmin. Hal itu membuat Jun, Mingyu, Woozi dan Heechul terkejut sedangkan Kibum dan Donghae menatap sedih kearah Seokmin.

"Itu tidak bisa dilakukan secara sembarang, Seokmin-ah. Harus ada prosedurnya." Zhoumi dengan tenang menjelaskan

"Prosedur persetujuan? Aku sudah mendapatkan dari Appa dan Eomma juga Kibum Appa dan Donghae Eomma, hanya tinggal persetujuan Soonyoung hyung. Tapi melihat kondisi Soonyoung hyung, sepertinya tidak ada waktu lagi untuk melakukan itu Appa. Aku juga sudah melakukan Tes kesehatan. "

Mendengar nada bicara Seokmin yang sedikit emosi membuat Zhoumi memandanganya penuh kesedihan.

"Kalian semua ikutlah keruangan ku." Hanya kalimat itu yang bisa Zhoumi ucapakan saat ini. Akhirnya semua orang mengikuti Zhoumi keruangannya.

Sesampainya diruangannya, Zhoumi langsung mengambil dokumen yang ada dilaci meja kerjanya.

"Aku sudah menghubungi Donghae dan Kibum, Seokmin-ah. Hal ini lah yang membuat ku tidak bisa melakukan tindakan operasi tadi." Ucap Zhoumi sambil menyerahkan dokumen ber map warna merah pada Seokmin.

"Apa ini Appa?" Seokmin mengerutkan keningnya bingung, namun tetap menerima dokumen itu.

"Hasil tes kesehatanmu beberapa waktu yang lalu. Dari tes dan laporan itu menjelaskan bahwa..." ucap Zhoumi menggantung saat Seokmin membuka dokumennya.

"Ginjalmu tidak cocok dengan Soonyoung" sambung Zhoumi lirih.

Seokmin sangat terkejut dengan penuturan Zhoumi dengan segera dia membaca dengan seksama, dan benar adanya jika hasilnya ginjalnya tidak cocok dengan Soonyoung.

"Alasan itulah yang membuat ku tidak bisa melakukan tindakan pendonoran ginjal mu pada Soonyoung."

"Andwe! Ini tidak benar Appa, pasti ada yang salah! Tidak mungkin ginjalku tidak cocok dengan Soonyoung hyung. Lalu bagaimana aku bisa menyelamatkan Soonyoung hyung." Rancau Seokmin sedih.

Donghae menghampiri Seokmin lalu memeluknya. Memberi ketenangan bagi Seokmin yang terpukul

"Tenanglah! Semua akan baik – baik saja. Pasti Tuhan punya rencana sendiri untuk Soonyoung. kita berdoa saja untuk kesembuhannya." Donghae mengelus punggung yang bergetar itu dengan lembut.

"Soonyoung hyung... Mianhae. Aku tidak bisa mengurangi rasa sakit mu." Batin Seokmin.

"Sekarang yang harus dipikirkan adalah kesembuhan Soonyoung dan Wonwoo. Kita harus mendampingi mereka berdua dan berada disamping mereka." Kibum mencoba untuk menghibur Seokmin.

"Sekarang yang dibutuhkan Soonyoung adalah dukungan dari kita semua terutama dukungan Wonwoo. Kita harus membuat mereka bahagia." Jun pun ikut menghibur Seokmin, karena dia tahu hal ini tidak lah mudah dihadapi sendiri.

Seokmin hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, dia harus kuat untuk orang yang dia cintai. Dia harus tegar untuk orang yang dia cintai. Dia harus sabar untuk orang yang dia cintai.

"Aku akan membahagiakan mu, Soonyoung hyung. Dengan cara ku sendiri." Batin Seokmin tersenyum, Donghae melepaskan pelukannya dan mengelus kepala Seokmin lembut.

Tanpa mereka semua ketahui ada seseorang yang mengetahui pembicaraan mereka di luar ruangan Zhoumi, dan orang itu adalah JongUp.

JongUp sengaja mengobati kakinya yang ditembak di tempat rumah sakit dimana Soonyoung dan Wonwoo dirawat. Setelah lolos dari polisi, dia bersembunyi dan mengikuti mobil Mingyu yang membawa Soonyoung dan Wonwoo.

"Jadi Soonyoung tengah sakit keras, jadi dia akan mati." Bisik JongUp sambil tersenyum sinis.

"Tapi bagaimana jika kematiannya dipercepat saja." Sambung JongUp sambil meninggalkan tempat dengan jalan yang timpang.

"Sebelum mempercepat kematian Soonyoung, aku akan membuat keluarga itu menderita dengan memanfaatkan Wonwoo. Jika terjadi sesuatu pada Wonwoo maka keluarga itu akan menderita."

"Yang pasti aku akan membalaskan tembakan satu peluru dengan bom waktu yang sewaktu waktu akan meledak, lihat saja nanti!" Batin JongUp sambil menatap ruang ICU dengan tajam, penuh dendam, amarah dan kebencian.

***TBC***

APA YANG AKAN DILAKUKAN JONGUP UNTUK SI KEMBAR JEON?

AKANKAH RENCANA JONGUP BERHASIL?

Tunggu di chapter selanjutnya...

Bagaimana chapter 20 ini?

Aku Update pagi lagi karena ada waktu luang untuk update. Jadi ditunggu Reviewnya ya... GOMAPTA.

Seru ndak?

Author kembali lagiiiiii...#lambai2tangan#

Z roFour : Gomawo sudah mau mereview. dan Gomawo sudah mau menunggu satu bulan untuk kelanjutan chapter ini. ditunggu ya reviewnya untuk chapter ini karena reviewnya sangat membantu ku untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Setiap membaca review nya aku selalu bersemangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Gomapta. Ditunggu reviewnya ya...

ECCEDENVY: Gomapta sudah mau mereview. ditunggu reviewnya ya, karena setiap review yang masuk membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Gomapta

Tyna89Meanie : Hayoooo coba tebak siapa yang disukai sama Zelo. Hehehehehhe... terimakasih sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Shyoon17 : Sabar... sabar... sabar... tahan nafas lalu keluarkan perlahan. Kalau sama JongUp harus banyak bersabar ya...okey! tebak dong? Siapa yang disukai sama Zelo. Hehehhehehe. terimakasih sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Park RinHyun-Uchiha : OMMO! Panggilan darurat. Harus manggil siapa nih? ? . Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter selanjutnya. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Nakamichan: Kenapa ndak pernah review. Padahal itu lhooo yang membuat ku semangat untuk update. Why? Padahal kalau banyak yang review aku ingin update cepat lhooo. Tapi karena berhubung yang mereview Cuma sedikit makanya aku kasih jarak agak lama. Hehehehhehe. Itu sih alasannya kenapa aku update 1 bulan sekali. Tapi di luar itu terimakasih ya sudah mau baca walaupun ndak review. Tapi untuk sekarang dan selanjutnya tolong tinggalkan jejaknya ya... karena itu lah yang membuat ku semangat untuk menulis. Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Guest 1 : Aku akan dapat hidayah kalau para silent reader juga dapat hidayah buat review. Karena hal itulah yang membuat ku semangat lhoooo... hehehhehe. Aku kasih jarak agak lama itu biar reviewnya agak banyakan gitu lhoooo... biar seneng hati ku karena banyak yang suka cerita ku. Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Salsha6104 : Gomawo sudah menunggu. Terimakasih masih setia membaca dan meninggalkan reviewnya untuk FF ini. Hehehehhe. Gomawo sudah di review , Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Guest 2 : Why? Why? Why? Kenapa di chapter sebelumnya ndak review sih? Padahal kemarin tuh kamu tak tungguin lhoooo tapi ndak muncul – muncul. Kan sedih aku nya. huwaaaaa... jahat ih. Padahal alasanku update 1 bulan sekali tuh biar reviewnya banyak. Kalau reviewnya banyak kan aku jadi sngat amat semangat melanjutkannya. Eh... malah kamu nya ndak nongol sampai chpater ini kemarin di update. Tapi... Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Louii : Hahahahhahaha bener bngt negara api sudah mulai menyerang. Jadi siapkan hati untuk menerima semua ini ya... Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

mell demon x item: Iya udah di lanjut nih... gimana? Menarik ndak? Seru ndak? Ottoke? Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

Umay : Okey... termaafkan karena review. Walaupun telat sih tapi terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca dan mereview di sela – sela kegiatan yang sibuk. Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

raka1719 : Hai juga... terimakasih sudah menyukai cerita ku. Tapi kenapa di chapter – chapter sebelumnya ndak direview? Why? Kali ini termaafkan karena kamu udah mau review hehehehhehe, sekarang dan selanjutnya tolong tinggalkan jejaknya ya... hal itu lah yang membuat ku semangat melanjutkan cerita selanjutnya. Sebenarnya aku juga mau update cepat tapi berhubung review ku Cuma sedikit jadi aku kasih jarak agak lama biar reviewnya agak banyakan gitu. Hehehhehheh. Gomawo sudah di review, reviewnya membuat ku semangat untuk melanjutkan chapter ini. Ditunggu reviewnya ya... Gomapta.

dark casper : Terimakasih sudah memuji bahwa ceritanya seru dan mengharukan. Terimkasih sudah mereview. Ditunggu reviewnya juga ya... Gomapta.

Seoksoonship : kenapa telat mereview? why? Lagi sibuk banget ya? Terimakasih karena sudah menunggu. Aku juga menunggu reviewnya karena hal itu yang membuat ku semangat lhoooooo... jadi Ditunggu reviewnya juga ya... Gomapta

Untuk para reader yang sudah review chapter 19 (Z roFour, ECCEDENVY, Tyna89Meanie, Shyoon17, Park RinHyun-Uchiha, Nakamichan, Guest 1, Salsha6104, Guest 2, Louii, mell demon X item , Umay, raka1719, dark casper, Seoksoonship) makasih banget yaaaaa...Reviewnya. Review dari kalian lah yang membuat ku semangat untuk melanjutkan chpater ini, jadi untuk menambah semangat ku biasanya aku selalu membaca berulang kali agar selalu merasakan bahwa cerita ku selalu ditunggu – tunggu oleh para Reader yang mau review. Terimakasih juga masukan dan semangatnya. Kalian sangat membantu ku melanjutkan menulis chapter selanjutnya. GOMAPTA.

Jarak untuk update next chapter paling lama 1 bulan sekali, jika Reviewnya banyak mungkin aku bisa berubah fikiran untuk cepat update heheheheh... karena alasanku memberikan jeda 1 bulan adalah review ku masih sedikit jadi aku berfikir mungkin kalau di kasih jarak 1 bulan reviewnya akan nambah. Hehehhehe... tapi aku tetap mensyukuri apa yang sudah ada. Jadi mohon dimaklumi dan maaf atas ketidak nyamannya. Dan Kamsahamida sudah mau menunggu.

Di chapter 20 ini aku berusaha untuk memperbaikinya. Kalau masih ada Typo/GJ tolong dimaklumi karena author hanya manusia biasa.

Dan mohon para pembaca tercinta tolong tinggalkan review nya ya untuk chapter 20 ini, untuk mempercepat next chapter nya.

Sekali lagi terimakasih buat reader yang sudah mau review (Z roFour, ECCEDENVY, Tyna89Meanie, Shyoon17, Park RinHyun-Uchiha, Nakamichan, Guest 1, Salsha6104, Guest 2, Louii, mell demon X item , Umay, raka1719, dark casper, Seoksoonship). Makasih banyak. Gomawo. Kamsahamida. Arigato. Thank You. Ditunggu Review nya.

Terimakasih yang sudah baca cerita saya dan meluangkan waktunya untuk membaca! #Tebar kiss bye#

PPYONG!