[Someone POV]

Pada hari itu aku sedang menjalankan Quest yang diberikan oleh kapten Knight kerajaan Alter. Ini adalah yang ke-sekian kalinya dia meminta bantuanku. Bicara jujur, Questnya tidak sulit, tapi karena aku diharuskan untuk melakukan perjalanan bolak balik dari desa ke desa, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan terbilang lama. Ini membosankan. Untuk mengatasi rasa bosan ketika menjalankan Quest, aku mencoba mengubah sudut pandang dan berpikir bahwa ini adalah "Tour Desa Kerajaan Alter".

Dan ternyata, itu berhasil.

Di desa bernama Algord, aku bertemu dengannya. Dia adalah seorang gadis di umur 11~14 tahun. Aku tidak mengetahui umur pastinya karena avatar di Elder Tale biasanya telah di Re-work sedemikian rupa hingga berbeda dari penampilan di dunia nyata. Perlengkapannya sangat dasar dan dia tampak kebingungan melihat sekitar. Sekilas lirik, sudah jelas bahwa dia adalah seorang pemula. Mungkin malah sangat pemula karena jarang ada orang yang memulai di sebuah Village, kebanyakan dari mereka memilih untuk memulainya di City atau Capital.

Yah, dia tidak ada hubungan denganku, jadi mari abaikan. Tapi, dia menghampiriku.

"Tolong ... tolong dengarkan permintaanku!"

Ah~

Berpura-pura menjadi pemula, bersikap menyedihkan untuk mendapatkan simpati, dan akhirnya meminta sesuatu. Aku sangat jengkel dengan orang semacam ini. Elder Tale adalah permainan dimana segala kemungkinan bisa terjadi. Tidak perlu menjadi menyedihkan untuk menikmati dunia ini, kau hanya harus berjuang dan suatu hari nanti usahamu akan terbalas.

Tapi, saat ini aku hanya mengenakan pakaian biasa yang dapat dibeli di toko-toko grosir. Jadi tidak mungkin dia menghampiriku karena tahu aku adalah pemain lama. Lalu, apa yang tujuannya?

"Apa yang kau inginkan?"

"To-tolong bantu aku menyelamatkan seorang NPC."

"Sebuah Quest?"

Ini pola yang umum dimana NPC meminta pemain untuk menyelamatkan warga desa yang melakukan tindakan ceroboh dengan masuk ke dalam hutan penuh monster. Ketika kau menyelesaikan misi tersebut, kau akan mendapatkan hadiah berupa Experience, meningkatkan kedekatan, dan sejumlah besar uang. Jika begitu keadaannya, maka aku sudah salah. Gadis ini bukanlah pemain, melainkan NPC yang memberikan Quest.

"Bu-Bukan. A-Aku adalah pemain, Aku tidak bisa memberikan Quest. Ta-tapi tolong ... tolong bantu aku menyelamatkannya ... hiks ... a-aku akan memberikan semua uangku ... hiks ... tapi ... tolong selamatkan NPC itu ... hiks ... dia ... sahabatku."

"..."

"Hiks aku mohon ... dia adalah sahabat hiks ... pertamaku."

Bukan rahasia lagi bahwa Elder Tale memiliki ke-realistisan yang sangat tinggi hingga dianggap sebagai VRMMORPG terhebat di abad ke-21, alasan itu di dukung dengan adanya AI NPC sangat natural seolah mereka benar-benar nyata. Tapi aku tidak pernah berpikir bahwa ada seseorang yang menganggapnya kenyataan (secara harfiah). Gadis ini ... hanya apa yang dipikirkannya ...

"Aku akan membantumu."

Aku pikir akan ada banyak pemain yang mau membantu seorang gadis muda seperti dia. Namun pada kenyataannya, Algord adalah desa yang tidak terlalu menarik sehingga tak banyak pemain yang berkunjung. Selain itu, ini bukanlah sebuah Quest dimana mereka akan mendapatkan bayaran yang setimpal, jadi sangat wajar jika orang-orang tidak tertarik melakukannya. Adapun masalah lain, tempat dimana NPC itu sendiri tidak normal. Ini bukan lagi hutan, melainkan sebuah dungeon dengan monster level 200 adalah yang terendah.

Kendati demikian, aku tetap melakukannya karena rasa bersalah telah berpikir buruk pada gadis kecil itu. Untungnya, si NPC bersembunyi sepanjang waktu sampai bantuan datang, jadi dia baik-baik saja.

Nama NPC tersebut adalah Layfa, seorang elf muda yang ceria dan hyperactive. Gadis itu (yang meminta tolong) sangat senang karena Lafya selamat.

Syukurlah~

Semenjak kejadian itu, terkadang aku membantu gadis tersebut menyelesaikan Quest dan mengajarkan dasar-dasar permainan. Aku pikir dia akan melewatkan beberapa bagian karena yang aku ajarkan benar-benar detail. Tapi mengejutkannya, dia menyerap semuanya seperti spons kering. Lambat laun, hubungan kami semakin dekat dan karena aku tidak memiliki seorang adik, aku mulai menganggapnya sebagai adikku sendiri.

Ketika membuat Guild, aku mengajaknya bergabung, dan dia menerimanya.

Setelah satu tahun, gadis tersebut menjadi mandiri. Dia menemukan rekan-rekan yang bisa dipercaya dan berpetualang ke segala penjuru. Terkadang dia menghubungiku dan mengatakan bahwa semua pelajaran yang diterimanya benar-benar berguna. Itu membuatku senang bahwa dia bisa menunjukkan hasil kerja kerasnya. Ngomong-ngomong, rekannya adalah laki-laki dan perempuan. Aku tidak mengetahui detailnya, tapi kupikir adikku menyukai si pria dan terlibat persaingan cinta dengan gadis lainnya.

Well, itu bukan masalahku. Selama pria itu tidak menyakiti adikku, aku akan angkat tangan dari masalah mereka.

Lalu suatu hari ... party adikku terbunuh oleh PK ... dan sahabat NPCnya —Layfa mati.

Adikku tidak bermain selama sebulan.

Dan suara yang aku dengar dari telefon sangat serak penuh kesedihan.

Para bajingan brengsek!

Aku menghubungi perempuan yang menjadi rekan party-nya.

"Ku serahkan padamu, tolong dukung dia sampai keadaannya lebih baik."

"Tidak perlu meminta, sudah pasti aku akan mendukungnya."

"Terima kasih."

"Bukan masalah. Dia adalah sahabatku."

"Dan juga rivalmu."

"Iya. Aku tidak bisa menyangkalnya. Hmmm ... aku jadi penasaran."

"Penasaran?"

"Hu'um, jika aku yang memenangkan persaingan ini, apakah kau akan marah padaku karena membuatnya sedih?"

"Aku tidak akan marah padaku."

"Sungguh?"

"Ya. Kau bisa pegang kata-kataku."

"Oh, terima kasih. Kupikir kau akan marah."

"Tapi akan kubunuh pria itu."

Ada jeda setelah aku mengatakannya. Tapi suara perempuan di seberang telepon kembali terdengar.

"Ka-Kau bercanda 'kan?"

"Tentu saja aku bercanda. Tidak mungkin aku membunuhnya karena telah menyakiti hati adikku. Setidaknya, aku harus menyiksanya dulu sampai dia memohon untuk mati."

"..."

"..."

"..."

"Aku bercanda."

"TIDAK, AKU YAKIN KAU SANGAT SERIUS BARUSAN!"

"..."

"KAU TIDAK BISA MEMBALAS, ITU ARTINYA KAU SERIUS!"

"Maaf. Aku harus pergi."

"JANGAN KABUR!"

"Syukurlah dia menemukan teman sepertimu. Itu membuatku tenang."

"JANGAN MENGALIHKAN PEMBICARAAN!"

"Kau ini tidak bisa diajak bercanda."

"ITU KARENA KAU TIDAK TAMPAK SEPERTI SEDANG BERCANDA!"

"Woa~ tenang, jika kau terus teriak, wajahmu akan terlihat lebih tua dari umurmu."

"Ugh, itu menjengkelkan karena kau yang mengatakannya."

"Yah, itu saja yang ingin ku sampaikan. Aku benar-benar harus pergi sekarang."

"Baiklah. Tapi ... aku juga penasaran, apa kau akan melakukan sesuatu pada mereka?"

"Tentu saja. Aku akan menghancurkan mereka sampai ke intinya."

"..."

"..."

"Kau sedang bercanda?"

*Tut Tut Tut ...

Aku berdiskusi dengan anggota Guildku.

Anggota Guildku hanya 5 orang. Selain aku dan adikku, mereka sebenarnya tidak bisa disebut anggota. Ketiga orang itu memaksa masuk ke Guildku dan melakukan apa yang mereka mau. Pada awalnya, kupikir mereka tampak seperti orang-orang bermasalah. Tapi ketika ada anggota Guild mendapat masalah, mereka akan membantu tanpa mengeluh. Dan meskipun aku mengatakan 'melakukan apa yang mereka mau', mereka bertiga tidak pernah menimbulkan masalah pada Guild. Ada pun sisi buruknya, hanya aku yang benar-benar mereka ganggu, kamvret.

Kami membicarakan masalah yang dihadapi oleh adikku dan kami mendapat sebuah kesimpulan.

Musuh kami bukan lah PK sembarangan. Kemampuannya cukup tinggi untuk bisa mengalahkan party adikku dan dia berasal dari Guild PK yang disegani di Niflheim. Jika kami tidak memikirkannya dengan serius, masalah ini akan menjadi berlarut-larut.

Keputusan pun dibuat.

Deklarasi perang.

Kami mengerahkan kekuatan penuh Guild untuk melakukannya. Para Homunculus peringkat rendah akan menyamar dan mencari informasi, sedangkan Homunculus peringkat tinggi mendapat misi pengintaian dan menyelidiki semua detail yang tidak bisa dilakukan Homunculus peringkat rendah. Setelah semua informasi penting didapatkan, anggota Guildku mengevakuasi para NPC Niflheim tanpa disadari.

Untungnya, si jutek punya kemampuan yang sangat praktis. Aku harus memujinya setelah ini selesai. Tapi ... semoga saja dia tidak jadi besar kepala.

Lalu ...

"Pilihlah antara bersujud dan minta maaf atau hancur dan binasa. Kuberi waktu 10 menit untuk memutuskan."

... orang-orang brengsek itu membuat pilihan sesuai perkiraanku.

Aku menghancurkan ibu kota Niflheim dan mencari semua rekan bajingan itu. Membunuh satu bajingan, lalu datang lebih banyak bajingan. Tidak peduli seberapa banyak aku melakukannya, mereka tidak pernah habis. Ini adalah situasi yang gawat. Tapi aku tidak gentar. Semakin banyak jumlah mereka, maka semakin banyak yang bisa kubunuh.

Benar ... tidak perlu memikirkan apa pun.

Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan. Bunuh. Hancurkan.

Negara bebas hukum, Niflheim? 10 Superior? Gudangnya PK? Kekuatan militer yang menjadi ancaman negara lain? Negara terkuat di benua barat? Lalu kenapa?!

Kalian menyakiti adikku!

Kesalahan bawahan adalah kesalahan atasan. Karena atasan tidak bisa mengendalikan bawahannya, jangan salahkan aku jika negara yang kalian buat hancur menerima hukumannya.


Disclaimer : Naruto © Mashashi Kishimoto & High School DxD © Ichie Ishibumi.

Rate : T (semi M)

Terinspirasi dari WN Kuma Kuma Kuma Bear dan LN Infinite Dendrogram


[Issei POV]

Setelah menyapa Party yang kabur dari kawanan Orc Fighter, kami pergi menuju Alessa.

Alessa adalah kota yang berada di perbatasan negara dengan frekuensi serangan monster yang tinggi, sehingga sangat wajar jika temboknya dibangun melebihi yang ada di kota Gaford. Pemandangan dari tembok besar yang membentang memiliki daya tarik tersendiri dan aku bersiul karenanya. Tapi tidak peduli seberapa kuatnya tembok tersebut, ribuan monster dengan tinggi yang bervariasi membuatku berpikir bahwa tembok tersebut masih belum cukup untuk menahan mereka.

Rias Buchou tiba-tiba berkata, "Dengan monster sebanyak itu, aku jadi teringat Event Flood."

"Benar, ini sangat mirip dengan flood," tambah Akeno-san.

Ah, aku jadi mengingatnya.

Event Flood adalah acara dimana monster-monster yang hidup di reruntuhan kuno, [Dungeon] meluap karena kelebihan miasma. Mereka keluar dari situs dan menyerang kota sekitar tanpa memiliki alasan khusus. Pada saat seperti ini, para player akan mendapatkan emergency quest untuk mempertahankan kota dan membunuh tiap monster yang mendekat. Walau terdengar simpel, tapi quest ini benar-benar konyol. Jumlah monster yang menyerang bisa mencapai puluhan ribu, level terendah mereka adalah level 200, dan ada lebih dari 10 UBM[1] di antara mereka dengan peringkat antara Epic dan Legendary. Dengan semua kekuatan itu datang padamu sebagai musuh, adalah hal yang mustahil mempertahankan kota.

[1. Unique Boss Monster]

Untuk mereka yang tidak mengetahui apa pun sampai event ini dimulai, kemungkinan mempertahankan kota tidak lebih dari 10%. Tapi bagi mereka yang sudah mempersiapkan segalanya —mengawasi jika ada tanda-tanda kemunculan flood sebelum emergency quest diberikan, mempersiapkan perlengkapan jauh-jauh hari, dan memanggil para Superior jika memungkinkan— mereka memiliki peluang lebih dari 70% untuk mempertahankan kota.

Event Flood dan kejadian ini agak sama. Namun ...

"Jelas ada perbedaan besar dalam skala keduanya," ujarku jujur.

"Tentu saja, Issei-baka. Di Elder Tale kemunculan monster bisa terjadi dengan mudah karena itu adalah permainan. Tapi di sini, dimana monster perlu berkembang biak agar dapat memperbanyak jumlah, 1.000 sampai 20.000 monster sudah bisa disebut sebagai jumlah yang spektakuler." Akeno-san melanjutkan, "Apalagi mengingat ini adalah kenyataan, orang normal tidak mungkin menghadapkan diri dalam sebuah pertempuran berisiko melawan banyak monster hanya karena poin konstribusi. Nyawa mereka hanya satu, dan setelah meninggal tidak mungkin bisa hidup kembali."

"Tapi tentu saja ada pengecualian," sanggahku.

Origin of Life, potion yang digunakan untuk menghidupkan pemain yang mati dengan jeda kurang dari 1 jam. Potion ini tidak memiliki efek samping dan sering digunakan oleh pemain-pemain tingkat menengah ke atas. Cara pembuatannya cukup rumit dan hanya bisa dibuat oleh mereka yang memiliki [High Rank Job] Alkimia. Harga pasar untuk item ini berkisar 10 juta Gil per potion.

Ada pun item lain yang digunakan untuk revive selain Origin of Life adalah Revive Potion dan Dragon Blood Potion. Keduanya punya perbedaan harga signifikan karena variasi efek yang diberikan. Revive Potion memiliki harga 4 hingga 5 Juta Gil. Dragon Blood Potion punya harga 30 hingga 150 juta Gil. Revive Potion dapat digunakan setelah pemain meninggal kurang dari 4 jam, tapi sebagai gantinya Experience akan berkurang sekitar 20~50%. Sedangkan Dragon Blood Potion memiliki jangka waktu yang sama dengan Origin of Life, tapi sebagai efek tambahan ... semua statistik pemain yang dihidupkan menggunakan Dragon Blood Potion akan bertambah sebesar 10%~50% selama 1 hari dunia nyata -yang sama dengan 4 hari di Elder Tale.

Kemampuan untuk menghidupkan pemain dan NPC tidak hanya berasal dari Potion. Ada metode lain yang bisa digunakan seperti menjadi [High Rank Job], Priest atau Pristess dari Cleric Job Grup atau melakukan ritual kuno yang menukarkan 1 juta Gil untuk sebuah nyawa. Yah, ritual kuno sangat diminati oleh banyak pemain karena murahnya biaya yang diperlukan. Tapi karena tata cara melakukan ritual sangat langka dan rahasia, hanya beberapa orang yang bisa melakukannya.

Mungkin itu saja yang aku ketahui.

Tunggu ...

Setelah aku ingat-ingat kembali, selain cara-cara di atas masih ada satu metode lagi. Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang biasa dan hanya satu dari empat Emperor Elder Tale yang dapat menggunakannya. Ini hanya rumor, tapi sudah banyak yang membuktikannya. [Wrath] yang dulu pernah menghancurkan ibu kota negara bebas hukum - Nilfheim memiliki sebuah item Grade Legendary Ancient karena mendapat MVP[2] ketika melawan Superior UMB dari Underworld, sang King of Titan, Kronos. Item tersebut bernama Ruler of Tartarus, memiliki 4 kemampuan, satu yang sudah di konfirmasi adalah kemampuan untuk menghidupkan pemain, NPC, atau Monster tanpa mendapatkan penalti. Sedangkan sisanya masih dipertanyakan.

[2. Most Valuable Player]

Berbicara tentang Emperor, di Elder Tale ada empat emperor yang kekuatannya tidak tertandingi. Mereka semua adalah pemain yang menyandang gelar superior, baik profesi maupun tahapan [Embryo]-nya. Di dalam Elder Tale tercatat ada lebih dari 10 ribu pemilik [Superior Job] dan seribu [Embryo] di tahap Superior. Dan hanya 4 orang yang berdiri di atas semua orang layaknya kaisar. Mereka sangat spesial, berbeda satu sama lain, dan memiliki ciri khas yang sangat unik.

Emperor pertama adalah[Pride]sang Illusion Master yang bisa mengubah ilusi menjadi kenyataan atau sebaliknya. Emperor kedua adalah [Sloth] sang God yang dapat menciptakan objek imaginatif dari ketiadaan. Emperor ketiga merupakan [Glutton] sang Ability Collector yang memiliki kemampuan untuk menyimpan skill dari setiap makhluk yang dimakan. Dan Emperor terakhir adalah [Wrath] sang Destroyer yang telah mengubah Niflheim menjadi kawan raksasa dengan satu skill.

Seperti julukan yang disebutkan di atas, empat Emperor merupakan pemilik gelar Seven Deadly Sins yang disebut sebagai pemain terburuk di Elder Tale.

Terburuk?

Tentu saja. Memangnya apa kata yang cocok untuk menggambarkannya? [Pride]kuat tapi sangat sombong. Sloth sangat malas dan hanya menyuruh anak buahnya melakukan semua pekerjaan. [Glutton] sangat rakus dan akan memakan apa pun di sekelilingnya untuk mendapatkan skill. Dan [Wrath]... dia adalah yang terburuk. Ketika dia marah, rasionalitas tidak berguna lagi. Dia akan memburumu, menghancurkan, dan mengulanginya lagi lagi lagi lagi lagi lagi lagi lagi sampai kau merasa ketakutan hanya untuk memasuki Elder Tale.

Huh, sekarang bukan saatnya membahas betapa mengerikannya empat kaisar Elder Tale.

"Ya. Untungnya, kita memiliki pengecualian tersebut." ujar Buchou, "Tapi karena barang konsumsi sangat terbatas, kita perlu menghemat dan menggunakan hanya ketika sangat diperlukan."

Seperti yang Rias Buchou katakan, barang konsumsi semacam Origin of Life dan Revive Potion yang kami miliki bukannya tidak terbatas. Total yang masih kami simpan adalah 400 untuk Revive Potion dan 100 untuk Origin of Life. Untuk sesaat, jumlah tersebut tampak banyak. Tapi kami tidak mengetahui cara pembuatan atau pun eksistensi dari kedua ramuan tersebut di dunia ini, membuatnya mustahil untuk dipasok setelah habis. Oleh sebab itu, kami harus menghematnya.

"Itu —menghemat— tidak bisa dihindari," balasku.

"Pokoknya, untuk saat ini kita perlu memikirkan cara mengatasi masalah Alessa. Jumlah monster memang tidak mencapai puluhan ribu, tapi ada perbedaan level yang besar di antara kita."

"Itulah kenapa, aku sudah mengaktifkan Ddraig bahkan sebelum kita mendekati kota. Saat ini, semua statistikku hampir mencapai 4 digit."

"Sangat bagus Issei-kun."

"Dengan begini, kami tidak akan khawatir dengan garis depan," Akeno-san kemudian menambahkan, "Sebagai persiapan, jangan lupa untuk menggunakan Lifesaving Brooch dan Dragon Scale Ward. Meskipun kita telah menutupi kekurangan level menggunakan perlengkapan Grade Mythology, bukan berarti kita perlu mengambil risiko yang tidak perlu."

"Terima kasih Akeno-san, aku sudah memakainya."

Saat dalam perjalanan ke sini, Rias Buchou dan Akeno-san memberitahu aku apa yang sebenarnya terjadi. Menurut Buchou, monster-monster yang kami lawan di Gaford —monster corruption— bukanlah monster biasa. Mereka awalnya adalah monster normal, tapi setelah mendapatkan kekuatan dari Apostle of Darkness, mereka menjadi lebih kuat dan dapat berevolusi ke jenis yang lebih tinggi.

Masalahnya di sini bukan monster-monster itu, melainkan keberadaan para Apostle of Darkness yang bukan sebuah candaan. Mereka ada utusan kejahatan dengan tugas membawa dunia ke kehancurannya. Tujuan akhir mereka adalah membinasakan semua makhluk sesuai dengan keinginan Prince of Darkness dan dalam rangka untuk melakukannya, para Apostle of Darkness tidak akan segan meracuni ratusan ribu hingga jutaan monster.

Tujuan kami adalah mengalahkan Apostle of Darkness dan membela kota. Tapi melihat betapa besar ancaman yang diberikan, mengalahkan Apostle of Darkness menjadi prioritas tertinggi. Aku kemudian menatap pilar kehijauan yang menjulang tinggi dari dalam tembok kota.

"Apakah Buchou pikir pilar itu ada hubungannya dengan Apostle of Darkness?"

"Aku tidak bisa memastikan karena kekurangan informasi. Tapi aku yakin itu perbuatan mereka."

Aku menaikkan alis, jika memang tidak ada informasi, kenapa begitu yakin? Apakah itu normal? Aneh. Seolah mengerti kebingunganku, Akeno-san yang duduk di kursi belakang menjawab dengan bangga.

"Itu yang dinamakan intuisi wanita."

"Intuisi wanita?" Aku bertanya penasaran. Tapi ...

"Fufufu~ aku tidak bisa mengatakannya karena kau tidak mungkin memahaminya, Issei-kun." Akeno-san menjawab seolah aku benar-benar tidak akan memahaminya. Sebagai seseorang yang telah menempuh pendidikan khusus, aku cukup yakin dengan kemampuanku.

"Tapi aku cukup pintar memahami sesuatu, Akeno-san."

"Tidak, kau tidak akan bisa memahaminya," balas Buchou yang duduk di sebelahku dengan percaya diri.

Apa ini? Akeno-san dan Rias Buchou memiliki pendapat yang sama? Apa intuisi wanita adalah kemampuan spesial yang tidak mungkin teorinya aku mengerti? Tidak mungkin. Aku 100% yakin bisa memahaminya.

Rias Buchou kemudian menambahkan, "Jika kau bisa memahaminya, kau pasti tahu perasaan kami padamu."

Hanya itu? Jika begitu adanya, maka sudah dapat dipastikan bahwa aku bisa memahami intuisi wanita 'kan?

"Tentu saja, kalian adalah keluargaku yang berharga. Memangnya ada lagi?" Jawabku yakin.

Karena aku menganggap mereka sebagai keluargaku, sudah tentu mereka juga berpikir demikian 'kan? Aku nyaris menyeringai karena menjawabnya dengan benar huhuhuhu-Huh?

Untuk beberapa alasan, Akeno-san dan Rias Buchou menghela nafas seperti tertekan.

"Akeno, apa kita yang salah di sini?"

"Tidak Buchou, Issei lah yang otaknya bebal."

'Huh?'

"Sudah ku duga. Ini benar-benar membuat frustrasi."

"Ya, jalan kita masih panjang."

"Tunggu sebentar!" Aku berseru pada mereka, "Apa yang kalian bicarakan?"

Akeno-san masih menghembuskan nafas berat, "Lupakan saja Issei. Kau tidak akan paham. Dari pada itu, bisakah kau membawa kita masuk ke kota tanpa bentrok dengan monster? Tujuan kita adalah mencapai pilar hijau itu."

Benar, masalah pilar lebih penting.

"Aku bisa melakukannya, tapi bagaimana dengan penjaga? Mereka pasti curiga jika kita memasuki kota di situasi sekarang."

"Jangan pedulikan. Kota sedang berada di situasi siaga, mereka akan menerima setiap bantuan yang diberikan tanpa mengeluh. Bahkan jika kita berkonflik dengan mereka, kita bisa membuktikan diri bahwa ini dilakukan karena memang diperlukan."

Aku memikirkan ucapan Akeno-san.

'Yang dikatakannya benar.'

"Okay."

Aku menginjak pedal gas dan memacu mobilku lebih cepat lagi menyusuri jalan lain memasuki kota. Monster tampaknya tidak memiliki komandan yang memberi perintah, mereka hanya menyerang gerbang selatan, membiarkan gerbang timur dan barat tanpa tersentuh.

Jika aku menjadi komandan pasukan monster, aku akan mengepung Alessa dari segala sisi dan menggunakan monster besar seperti troll untuk mengangkat senjata pengepungan. Dengan persiapan yang matang, menghancurkan tembok akan menjadi perkara mudah. Namun, itu bukan urusanku. Aku yang saat ini mengendarai mound tipe mobil memutuskan untuk menuju gerbang barat dimana pilar cahaya itu berada di posisi terdekat.

Saat kami sudah memasuki kota, muncullah masalah lain.

"Kita tidak tahu jalan-jalan di sini!"

Aku bertanya pada Akeno-san yang berteriak, "Tidak bisa kah kita lurus saja menuju pilar itu?"

"Tidak bisa Issei-kun. Kita hanya akan menabrak perumahan jika melakukannya."

"Lalu bagaimana?"

"Tenang saja. Sepertinya ada yang akan mengantar kita, berhenti di depan sana Issei," kata Buchou sambil menunjuk ke kejauhan.

Aku mengikuti arah yang ditunjuk Buchou dan melihat ada sepasang (yang tampak seperti) kekasih menuju ke arah kami. Mereka memakai Light Armor dan Leather Armor dengan senjata yang ditarik keluar. Aku pikir itu wajar bagi mereka menjadi sangat waspada mengingat Mound tipe mobil belum ada di zaman ini. Oleh sebab itu, aku menghentikan laju mobilku. Dari sini adalah tugas ketua tim untuk menjelaskan situasinya.

'Jika yang datang hanya laki-laki, tentu saja aku yang harus maju. Tapi karena mereka adalah laki-laki dan perempuan, tidak perlu merasa khawatir.'

Segera, Buchou membuka pintu mobil dan melambaikan tangan pada mereka. Ngomong-ngomong, Mound yang kupakai saat ini bernama DL004[3], buatan orisinal kekaisaran Dryfe yang terkenal akan kemajuan teknologinya. DL004adalah tipe mobil sport yang biasa dipakai untuk rally. Interiornya dimodifikasi dengan sihir dan ada banyak tambahan untuk menunjang kenyamanan player. Selain dari pada itu, DL004 juga dapat melaju hingga kecepatan 450 Km/jam pada medan datar tanpa halangan. Harganya sekitar 500 Juta Gil. Cukup mahal, tapi sepadan dengan semua fasilitas yang diberikan.

[3. Dryfe Lancer 004]

"SI-SIAPA KALIAN!?"

Rias Buchou tidak menjawab, dia mengeluarkan tanda pengenal dari saku dan memperlihatkannya. Walaupun jarak kami agak jauh, perempuan yang bersama laki-laki itu jelasnya adalah seorang Archer. Matanya yang besar menyipit ketika membaca (sebenarnya menyamakan template-nya saja) tanda pengenal Buchou.

"Mereka petualang!"

"Ahhh~ syukurlah!"

Setelah si gadis mengatakannya, si laki-laki menurunkan kewaspadaannya dengan bahu yang rileks.

"Kami Party Blazing Dragon dari kota Gaford. Maksud kedatangan kami adalah untuk menjadi pasukan bantuan. Saat ini hanya party ini yang telah tiba, tapi di belakang kami ada ribuan petualang yang sedang dalam perjalanan ke sini."

"Ri-Ribuan?"

"Ya! Guild Master cabang Gaford memobilisasi 2.000 petualang sebagai bala bantuan, dan dari yang aku dengar ... kerajaan akan mengirim lebih dari 10 ribu orang untuk mempertahankan Alessa yang merupakan garis batas dengan Dark Conrinent."

Mendengar berita yang Buchou sampaikan, kedua petualang itu menunjukkan ekspresi sangat bahagia. Aku bisa memahaminya, tapi ada hal yang lebih penting sekarang.

"Lalu, aku akan mengeluarkan bom hijau dan memberitahu Azazel-sama secepatnya." Si pria berkata sambil mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti bom dari ranselnya.

"Tunggu, sebelum kalian pergi, bisakah kalian menunjukkan jalan menuju pilar hijau di sana?" tanya Buchou sambil menunjuk pilar di kejauhan.

"Kalian akan pergi ke sana?"

"Benar."

Kedua petualang itu saling pandang, lalu berkata, "Kemungkinan tempat itu adalah wilayah musuh, apakah kalian akan tetap pergi?"

"Ya." jawab Buchou mantap.

"Kalau begitu, ak—" belum sempat si laki-laki menyelesaikan ucapannya, petualang perempuan di sampingnya memotong.

"—Tidak Arnold. Aku yang akan menemani mereka ke sana. Lebih baik kau memberi tahu Azazel mengenai bala bantuan dari kerajaan."

"Tempat itu berbahaya, Diana. Tidak mungkin aku membiarkanmu ke sana."

"Justru karena tempat itu berbahaya, aku lah yang harus pergi. Kau adalah kelas warrior sedangkan aku Archer. Jika keadaan menjadi gawat, tentunya kau tahu siapa di antara kita yang memiliki peluang kabur paling besar."

"Tapi Diana ..."

"Jangan khawatir, Arnold. Aku pasti akan kembali."

"Mumumu ... baik ..."

Hei, ini tidak seperti kami sedang menuju ke neraka tahu!

Setelah mengucapkan perpisahan yang sangat dramatis, si Archer —Diana menuntun kami. Dia kemudian menceritakan apa yang terjadi selagi aku mengendarai DL004. Dari apa yang dikatakan Diana, pilar cahaya itu berasal dari panti asuhan yang dikelola oleh seorang nenek bernama Bow. Tempat itu berada di pinggiran dan bangunannya sudah cukup rapuh. Ada bangunan lain di sekitarnya, tapi sepeninggalan para pemiliknya, bangunan-bangunan tersebut menjadi tak lebih dari rumah kosong.

Sekitar 15 menit melaju, akhirnya sampailah kami di daerah pinggiran kota.

"Oh my, saat kupikir tidak ada yang akan datang ... kelompok yang menarik justru muncul," ujar seorang pemuda bersurai pirang yang berdiri di tengah pilar cahaya. Wajahnya tampan, tapi dia punya sinar yang memancarkan kegilaan. Pakaiannya cukup bagus walau telah robek di beberapa bagian. Aku penasaran ...

"Ri-Riser Phenex-sama!"


[Tembok Alessa, Skuad yang mempertahankan dinding]

Tembok kota terus digempur oleh monster tanpa henti. Para pejuang bekerja sangat keras menahan monster-monster yang tidak masuk akal. Selama waktu tersebut, setiap Wizard yang cukup mengisi mananya akan kembali melancarkan sihir sesuai kebutuhan. Adapun ramuan pemulih mana yang disuplai oleh Guild telah berkurang setengahnya. Jika mereka kehabisan ramuan sebelum semua monster dikalahkan, pertarungan akan menjadi lebih sulit.

*Swush! *Sracth! *Craaat!

Tombak yang tergenggam di tangan Azazel mengayun dengan kuat menebas tangan monster yang mencoba untuk menggapai tembok. Tubuh berlapis armor yang kini telah bermandikan cairan merah dan hijau terus bergerak menyerang monster-monster berukuran sedang yang telah menaiki tembok. Dia mengacungkan tombaknya, menusuk kepala seekor goblin ketika mempersiapkan serangan selanjutnya pada seekor Kobold Warrior di sampingnya.

Azazel bertarung seolah-olah tidak ada hari esok, dia berkali-kali menggunakan sihir pendukung, melesat bagaikan binatang buas, dan menyebabkan otot tubuhnya menjerit kesakitan. Seharusnya dia beristirahat, tubuhnya sudah tidak muda lagi, dan batasannya sudah semakin dekat. Tapi dia tidak bisa berhenti sampai semua monster di atas tembok di bersihkan. Azazel harus melakukannya selama tubuhnya masih bisa bergerak.

Di belakangnya, sekelompok unit gabungan penjaga dan petualang mengikuti Azazel dengan mantap. Mereka memang tidak sekuat sang Guild Master mantan petualang peringkat A, tapi dengan kerja sama dan kelebihan dalam jumlah, sedikit demi sedikit mereka mengikis jumlah monster.

Kendati pilar hijau muncul dari pinggiran kota, para petualang dan penjaga hanya menjalankan tugas sesuai dengan perintah. Mereka menyerahkan cara menangani pilar tersebut pada komandan pasukan -Azazel.

Azazel jengkel, 'Sial, tangan kami sudah terlalu penuh.'

Dia ingin mengirimkan pasukan ke panti asuhan untuk memastikan keadaan Baraqiel. Tapi tidak bisa melakukannya, semua orang sangat sibuk menahan monster yang mati-matian menembus tembok. Dia frustrasi, tapi tidak bisa ditunjukkan karena posisinya sebagai komandan.

Azazal kemudian berhenti karena ada seseorang yang berlari padanya.

"Azazel-sama, sebuah kereta hitam yang aneh melaju dengan cepat menuju gerbang barat."

Azazel tidak mengetahui keberadaan kendaraan Issei. Dia berada di garis depan, dimana visinya hanya terfokus pada monster.

"Kereta aneh?"

"Ya. Keretanya tidak ditarik oleh kuda, memiliki bentuk ramping, berkecepatan tinggi, dan keseluruhannya terbuat dari logam. Kami tidak tahu apakah mereka musuh atau bukan, itulah sebabnya kami melaporkannya pada Anda."

Azazel merenung, melihat pertempuran yang terjadi di depannya sejenak, lalu memberi perintah, "Kirim dua personil untuk melakukan pengintaian jarak jauh. Beri mereka bom asap, warna merah untuk musuh dan warna hijau untuk sekutu."

"Baik!" Penjaga itu menjawab dengan tegas. Ia akan beranjak pergi, tapi berhenti karena mengingat sesuatu, "Beberapa personil bertanya mengenai pilar cahaya di pinggiran kota, apakah kita perlu mengirim personil juga ke sana?"

"... Tidak."

Ada jeda pada jawaban Azazel. Penjaga itu ingin bertanya lebih lanjut, tapi diurungkan.

'Tidak ada penjaga, petualang, atau pun wizard yang dapat membuat pilar cahaya tersebut. Tidak salah lagi, itu adalah musuh.' Pikir penjaga tersebut, 'Seharusnya Azazel-sama mengirimkan personil untuk melumpuhkan musuh disana, tapi karena kita sudah terlalu sibuk mengurus monster di depan tembok, tidak akan mungkin mengirim personil yang mampu ke tempat itu.'

"Baik!"

Bersama dengan perginya penjaga itu, Azazel melanjutkan pertarungan. Dia menggenggam tombaknya kuat-kuat dan berlari maju. Namun, beberapa waktu setelah ia memasuki pertempuran kembali, Azazel menangkap siluet seseorang yang memakai armor tidak biasa di belakang kerumunan monster. Tubuhnya mencapai dua meter. Armornya berwarna merah darah dengan desain helm yang unik. Kemudian, sebagai pelengkap dari armor tersebut adalah sebuah sabit besar yang tingginya mencapai 2,5 meter dengan dua sisi tajam yang anehnya menyerupai 'mulut'.

Lalu, karena ke mencolokkan armor yang dikenakannya, sesuatu di belakang sosok tersebut menjadi sulit disadari. Azazel awalnya tidak memperhatikan, tapi di punggung orang itu terdapat 8 pasang sayap berwarna merah transparan yang terdiri dari 4 sayap utama, 2 sayap ukuran sedang di bagian atas, dan 2 sayap kecil di bagian bawah. Keberadaan sayap itu membawa perasaan ilahi untuk yang melihatnya. Namun kontradiksi antara sayap dan sabitnya benar-benar memberikan kesan yang baru. Seolah, figur tersebut memang secara jelas menunjukkan fakta tentang eksistensinya.

"Sh-Shinigam!?"

Kalimat itu terlepas dari mulut seorang penjaga, dan tidak ada yang menolak ide tersebut.

"I-Itu Shinigami!"

"Kenapa a-ada Shi-Shinigami disini!?"

"A-Apa dia musuh?"

"Noel-sama! Apa yang harus kita lakukan?"

Tidak hanya penjaga, para Magic Knight kerajaan juga menemukan bahwa ini adalah situasi yang gawat. Sebelum pertempuran dimulai mereka memang diperintahkan untuk mengikuti arahan Azazel. Tapi karena sejatinya mereka tidak pernah mengalami pertempuran hidup mati dan kondisi dimana keadaan panik hanya tinggal satu langkah lagi, satu-satunya orang yang bisa mereka andalkan adalah Kapten Knight, Noel Farkas.

Semua orang berharap padanya dan itu membuat Noel tertekan. Tapi, saat ini dia bukanlah pemimpinnya, jadi tidak perlu berpikir panjang.

"Tunggu perintah dari Azazel-san!"

"Ha'i!"

Di saat bersamaan, Azazel juga memikirkan ide untuk menangani masalah ini dan mengamati Shinigami. Dia tidak tahu apakah sosok itu adalah musuh atau bukan. Tapi secara pribadi, Azazel memiliki perasaan bahwa memusuhinya akan menjadi masalah besar. Tidak lama setelahnya, sebuah suara berat dengan martabat yang terkandung di dalamnya bergema melalui pikiran semua orang.

"Pilihlah antara menyerah tapi hidup atau melawan tapi binasa. Kalian akan aku beri 10 detik untuk memutuskan."

.

.

.

To Be Continued.


Penjelasan :

Armor yang dikenakan oleh Shinigami adalah armor samurai pada zaman Shogun.


A/N : Halo, terima kasih untuk review kalian di chapter sebelumnya. Di sini, chapter 21 Update. Walau saya tidak yakin ini bisa disebut bagus, semoga Anda menikmatinya. Oh iya, saya mengambil sudut pandang Issei bukan tanpa tujuan. Jika kalian tidak menyukainya, harap di telan bulat-bulat aja dulu (maksa). Sekian :)

By the way, kalau saya bilang bahwa si Shinigami bukan Naruto, apakah kalian percaya? Alasannya?

Saatnya balas pertanyaan ^^


Pertanyaan : Para pendahulu di Edea adalah pemain?

Jawaban : Bukan, mereka bukan pemain.


Pertanyaan : Jika Party Issei adu kekuatan sama Naruto, kuatan mana?

Jawaban : Relatif. Jika itu kekuatan, Naruto sudah jelas bakalan menang.


Pertanyaan : Apakah Arthuria tahu bahwa En adalah beruang di Guild Adventure?

Jawaban : Tidak. Dia tidak tahu. Tapi ... Arthuria sebenarnya cukup berbahaya buat Naruto. Tahu alasannya?


Pertanyaan : Arthuria itu masocist?

Jawaban : Enggak, dia cewek normal kok. Sakit di kakinya benar-benar terasa. Tapi dia gak bisa menunjukkan ekspresi kesakitannya pas digendong sama Naruto. Jaim bro :)


Pertanyaan : Butuh berapa chapter lagi sampai Arc ini selesai?

Jawaban : Chapternya gak jelas. Intinya, untuk mempertahankan Alessa, monster yang menyerang dan pilar cahaya harus disingkirkan.


Pertanyaan : Apa kostum beruang akan berevolusi lagi?

Jawaban : Ya. Makin lama, Evolusinya makin keren huehehehehe~


Pertanyaan : Apa di Elder Tale Naruto punya konflik dengan pemain lain?

Jawaban : Dia bermusuhan sama beberapa Deadly Sins dan anak buahnya.


Pertanyaan : Seumpama defence musuh lebih rendah 1 poin dari serangan Naruto, apakah musuh akan hancur sewaktu kena hantam?

Jawaban : Ya. Meski hanya kalah 1 poin, musuh bisa hancur. Kalau pun ada yang bisa bertahan dari 3 juta damage, kemungkinan besar mereka adalah Superior type defence.


Pertanyaan : Pasukan Issei gak ngerasain kejanggalan pada monster si luar dinding yang habis secara drastis?

Jawaban : Mereka sejatinya gak tahu jumlah asli monster, dan Issei dkk gak memiliki Map Exploration seperti Naruto. Jadi ya, mereka gak menyadarinya.


Pertanyaan : Apa ada orang yang bisa membuat Naruto kewalahan?

Jawaban : Tentu saja ada. Monster dengan level 2.000+ :v


Pertanyaan : Nanti Naruto lawan Raven atau Raiser?

Jawaban : Mari kita lihat di chapter depan :)


Mungkin itu saja, lebih dan kurangnya saya mohon maaf. Sampai ketemu di chapter depan~