Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya, penulis tidak mengambil keuntungan material apapun dari pembuatan karya transformatif ini.


history

soft glow hugging the lamp
and our fingers
leave traces
in the air
following where the light
leads us
it is in the corner
we find shadow
greeting us
with fresh,
but long-forgotten memories

#

Gilbert masih memakai jas, Erzsi pun masih dengan pakaian formalnya. Namun mereka sama-sama berbaring, menghadap langit-langit, melupakan bahwa mereka masih sama-sama memakai sepatu.

Gilbert mengulurkan tangannya ke udara. Di bawah punggung Erzsi, tempat tidur dengan linen aroma basil itu berubah-ubah menjadi rumput, jalan berbatu, punggung bukit, tepi sungai yang basah, lantai yang berdebu.

Sampai sejauh ini, entah seribu kali atau sejuta kali tempat tidur itu mengubah wujud dalam imaji di kepalanya, bagi Erzsi, semuanya masih kita.

Lampu remang-remang di samping tempat tidur bercerita tentang malam yang sunyi. Satu-satunya lampu ruangan yang dinyalakan di tengah-tengah langit-langit bercerita tentang petugas kebersihan hotel yang menemukan buku-buku yang berserakan di lantai, kertas-kertas di atas tempat tidur.

"Erzsi."

"Ya?"

Tidak ada lanjutan lagi.

Erzsi menoleh. Bayang-bayang terbentuk di dinding dari tangan Gilbert yang masih bermain-main di udara, seolah sedang melukis sesuatu di atas sana.

Di bayang-bayang itu ia melihat kedamaian. Melihat Gilbert yang tidak lagi lari. Gilbert yang memutuskan untuk berbuat sesuatu, bukan Gilbert yang menghindarinya.

Berabad-abad lalu, sejarah (—untuknya sendiri) dimulai dari Gilbert yang ingin lebih dari sekadar menjadi pangeran hutan tempat mereka bermain.

Erzsi pun berpaling, menghadap lelaki itu, lantas menyatukan tangan mereka di udara.

#